Friday, May 17, 2013

0

MY DIARY part 14



Waktu sudah menunjukan pukul 05.30 WIB. Sivia terbangun dari tidurnya saat ia mendengar jam bekernya berbunyi. Sivia bangkit lalu merentangkan kedua tangannya. Perhatian Sivia tertuju pada Diary nya yang terletak diatas meja lampunya. Sivia heran, seiingatnya tadi malam Sivia tidak meletakkan Diarynya diatas meja, lalu kenapa sekarang tiba-tiba Diary nya ada diatas meja? Sivia terlihat berfikir, tak lama,
            “pasti Mama yang udah mindahin….” Kata Sivia berusaha cuek lalu segera bergegas kekamar mandi untuk mempersiapkan dirinya pagi ini.
            Langkah Sivia terhenti didepan kaca, ia mendekat kearah kaca lalu memperhatikan wajahnya baik-baik. Saat memperhatikan wajahnya tiba-tiba saja Sivia teringat akan sesuatu, ia menyentuh keningnya lalu mengingat sesuatu,

Flash Back Sivia;
Alvin tersenyum, ia memperbaiki aturan selimut Sivia. Setelah selesai memperbaiki aturan selimut Sivia, Alvinpun mendaratkan sebuah kecupan hangat tepat dikening Sivia.

            “good night Princess Lemotku….”

Flash Back Off….

            Sivia menggelengkan kepalanya berkali-kali seraya menampar-nampar pelan wajahnya.
            “itu pasti Cuma mimpi, iya Cuma mimpi, mimpi yang gak akan pernah bisa berubah jadi kenyataan….” Ucap Sivia pada dirinya sendiri. Ia tersenyum kecil lalu melanjutkan perjalanannya menuju kamar mandi.

^_^
            Alvin keluar dari kamarnya dengan wajah yang Nampak ceria. Keceriaannya pagi ini seolah mampu menutupi kegalauan hatinya. Alvin bersiul seraya berjalan kearah meja makan. Alvin mengambil segelas susu yang sudah disediakan oleh Bundanya lalu meminumnya sambil berdiri,
            “kamu gak sarapan dulu?” Tanya Bunda,
            “gak ah Bund, pagi ini Alvin ada urusan mendadak, jadi gak sempet buat sarapan, Alvin berangkat ya Bunda….” Kata Alvin seraya menyalami Bundanya lalu berjalan keluar rumahnya.
            Bunda heran, bukannya kemarin Alvin terlihat sangat galau karna masalahnya dengan Shilla dan Cakka, lalu kenapa semenjak pulang dari rumah Sivia tadi malam Alvin tidak terlihat galau lagi. Benar-benar aneh! Fikir Bunda sambil tersenyun sendiri, beliau menggelengkan kepalanya beberapa kali.

^_^
            Seusai sarapan, Sivia langsung keluar dari rumahnya setelah menerima SMS dari seseorang.  Sivia terlihat tergesa-gesa keluar dari rumahnya, bahkan Mama dan Kak Irsyad sempat heran melihat Sivia yang nampak terburu-buru seperti itu. Sebelum Sivia keluar dari rumah, Mamapun memanggilnya,
            “Via….!” Sivia langsung menghentikan larinya, lalu menoleh kebelakang,
            “ada apa Ma….??”
            “jangan lupa, entar malem kamu ada les sama Kak Alvin….” Kata Mama mengingatkan bahwa malam ini  Sivia ada jadwal les Privat. Saat mendengar nama Alvin dibawa-bawa, raut wajah Sivia yang tadinya ceria tiba-tiba saja berubah jadi murung. Sivia menghela nafas berat lantas berkata,
            “Via gak akan lupa kok Ma….” Siviapun melanjutkan larinya. Mama bingung, tidak biasanya Sivia seperti itu. Biasanya setiap kali ia mendengar nama Alvin, Sivia langsung heboh sendiri, tapi kali ini? Entahlah, Mama benar-benar bingung.
            Sivia menghampiri Gabriel yang waktu itu tengah menunggunya didepan gerbang rumahnya. Dengan nafas yang tak teratur, Sivia berkata pada Gabriel,
            “Maaf ya Kak… Via lama…”
            “gak apa-apa kali Vi, gue juga baru aja dateng kok, ya udah naik yuk! Entar kita telat lagi…” ajak Gabriel. Siviapun tersenyum lantas menaiki motor Gabriel. Tanpa membuang-buang waktu lagi Gabriel langsung menjalankan motornya.
            “Kak Iel….” Panggil Sivia pelan. Gabriel tercengang, selama beberapa lama mengenal Sivia, baru kali ini Sivia memanggilnya dengan panggilan Kak Iel, biasanya Sivia selalu memanggil Gabriel dengan panggilan Kakak Item. Gabriel tersenyum sendiri tapi buru-buru menjawab panggilan Sivia,
            “ada apa Vi….?”
            “makasih ya Kak buat yang kemaren, kalo kemaren gak ada Kakak, Via gak tau deh apa yang akan terjadi sama Via selanjutnya, Kakak emang penyelamat….”
            “sama-sama Vi, udah sewajarnya Kakak nolong kamu, lagian kan waktu itu yang ada disana Cuma Kakak, kalo disana ada yang lainnya juga, pasti mereka yang akan nolongin kamu…” Sivia hanya tersenyum kecil. Tiba-tiba saja fikirannya tertuju pada seseorang, seseorang yang entah sedang memikirkan dirinya atau tidak, seseorang yang entah sampai kapan bisa mencintainya, seseorang yang selalu ia buat kesal, seseorang yang selalu memarahinya, dan seseorang yang sudah menyakiti perasaannya dengan begitu dalam, ya…. Siapa lagi kalau bukan Alvin.

^_^
            Beberapa saat setelah Gabriel dan Sivia pergi, Alvinpun datang kerumah Sivia. Rupanya itulah yang dimaksud Alvin dengan urusannya, urusannya pagi ini ternyata adalah menjemput Sivia. Semalaman penuh Alvin memikirkan rencananya itu hingga akhirnya tibalah ia pada sebuah kepastian bahwa pagi ini ia akan menjemput Sivia dan meminta maaf pada Sivia atas semua ucapannya yang telah menyakiti perasaan Sivia kemarin.
            Sebelum memasuki gerbang rumah Sivia, Alvin mengeluarkan sebuah cokelat dari kantong jaketnya. Cokelat itulah yang akan ia berikan pada Sivia sebagai tanda permintaan maafnya.
            Saat memasuki pekarangan rumah Sivia, Alvin menemukan Mama yang waktu itu terlihat tengah menyiram bunga. Alvin menghampiri Mama,
            “pagi Tante….?” Sapa Alvin. Mama yang merasa terkejut dengan panggilan itu langsung menghentikan aktifitasnya menyiram bunga, Mama menoleh kebelakang dan mendapati Alvin yang waktu itu berdiri dengan tegak dibelakangnya seraya tersenyum sangat manis,
            “pagi juga Vin… tumben pagi-pagi udah kesini…??” Tanya Mama heran. Karna tidak biasanya Alvin datang kerumahnya pagi-pagi seperti ini, pasti ada hal yang sangat penting yang membuatnya harus datang pagi-pagi seperti ini.
            “Via nya ada Tante…?” Tanya Alvin. Mama terdiam sejenak untuk mengingat bahwa beberapa saat yang lalu Sivia telah berangkat kesekolah bersama Gabriel.
            “Via udah berangkat sama Iel, baruu aja, yaa sekitar 4 menit yang lalu lah….” Jawab Mama apa adanya. Sedikit rasa kecewa menyelinap dibenak Alvin, dalam hati Alvin bergumam,
            ‘kaya’nya Via udah mulai deket sama Iel… percuma aja kalo gitu…’
            Melihat Alvin yang diam saja, Mama heran, ia berusaha memanggil Alvin namun sayang Alvin tidak mendengar panggilannya.
            “Vin… Alvin…” panggil Mama lebih kencang lagi, seketika Alvin terkesiap,
            “eh iya Tante….??”
            “kamu kok diem? Kenapa?”
            “gak apa-apa kok Tan… ya udah Alvin pamit ya Tan…”
            “iya Vin, hati-hati dijalan ya?” Alvinpun menyalami Mama. Dengan perasaan kecewa yang semakin memenuhi batinnya Alvin berjalan gontai keluar dari pekarangan rumah Sivia.


^_^

            Sivia memasuki kelas dengan wajah tanpa ekspresi. Tidak biasanya Sivia seperti itu. Biasanya setiap memasuki kelas Sivia selalu tampak ceria, dan dengan kelemotannya ia akan membuat beberapa temannya menjadi kesal, selain kesal, ada juga beberapa dari teman-teman kelas Sivia menganggap bahwa Sivia lucu dengan kelemotannya itu. Tapi pagi ini mereka tidak mendapati Sivia yang ceria, Sivia yang selalu membuat keributan dengan kelemotannya.
            Sivia duduk disamping Ify yang waktu itu terlihat focus membaca LKS Sejarah. Sivia menumpuk tangannya diatas meja lantas menenggelamkan wajahnya. Menyadari bahwa Sivia tidak seperti biasanya, Ify mengalihkan perhatiannya sejenak dari LKS Sejarahnya, ia menepuk pelan pundak Sivia lalu bertanya,
            “Vi, lo kenapa? Kok mukanya disembunyiin gitu? Jerawat lo lagi numbuh ya….?” Sivia tak menjawab Ify, ia hanya menggeleng dengan posisi yang tetap, ia tidak menatap Ify sedikitpun.
            “terus lo kenapa? Ada masalah? Masalah apa? Lo dimarahin sama Bokap Nyokap lo lagi? Atau Kak Irsyad ngejailin lo lagi? Atau…..” belum selesai rentetan pertanyaan yang Ify ajukan, Siviapun menghela nafas panjang seraya mengangkat wajahnya. Ify tercengang ketika ia melihat Sivia meneteskan air mata.
            “Via lo nangis….?” Tanya Ify cemas seraya memegang pundak Sivia, Sivia menepis tangan Ify dari pundaknya lantas berkata,
            “Via gak mau diganggu dulu!” lirih Sivia diiringi dengan isakkan pelan. Siviapun bangkit dari bangkunya lantas hengkang begitu saja dari samping Ify. Ify semakin heran, sebuah tanda Tanya besar mulai muncul diotaknya. Ada apa dengan sahabatnya yang lemot itu sebenarnya?
            “Via tunggu gue!” ucap Ify seraya mengikuti Sivia.

^_^
            Saat sedang mengikuti Sivia, tiba-tiba saja Ify bertabrakan dengan seseorang. Mereka sama-sama terjatuh kelantai,
            “awww….” Rintih Ify pelan.
            “sorry….” Ucap seseorang yang ternyata adalah Rio. Rio bangkit lalu mendekati Ify. Ia mengulurkan tangannya untuk Ify. Melihat tangan Rio yang terulur, Ify malah tertegun memandanginya. Rio heran karna Ify hanya diam saja,
            “kamu gak apa-apa kan Fy….?” Tanya Rio. Mendengar suara lembut itu, Ify langsung tersadar dari lamunannya.
            “eh…aku gak apa-apa kok Kak….” Ify pun menyambut uluran tangan Rio, Rio menggenggam tangan Ify dengan erat.
            Karna tarikan tangan Rio terlalu kuat, Ify nyaris saja terjatuh. Rio dengan sigap menahan tubuh Ify hingga Ify tidak terjatuh. Tangan kanan Rio melingkari pinggang Ify, sementara Ify, ia langsung memegang kedua sisi kerah baju Rio dengan kedua tangannya. Rio tersenyum simpul, senyuman Rio sukses menimbulkan sebuah getaran didada Ify, semakin lama getaran itu semakin kencang.
            Perlahan Rio mengangkat tangan kirinya dan berusaha menyentuh wajah Ify. Saat tangan lembut Rio nyaris saja menyentuh wajah Ify, tiba-tiba saja sebuah suara memanggil nama Rio dari kejauhan,
            “Rio….!” Suara itu adalah milik Pricilla. Rio segera melepaskan Ify, sebisa mungkin Rio dan Ify berusaha terlihat biasa saja dihadapan Pricilla. Kali ini Pricilla sudah berada dihadapan Rio dan Ify.
            “Yo, kamu datengnya lama banget sih? Daritadi aku nungguin kamu tau gak….” Mendengar ucapan Pricilla, Ify langsung menunduk dalam, berusaha menutupi kepedihan hatinya.
            “ma..maaf….” kata Rio dengan terbata. Pandangan mata Rio tertuju pada Ify yang waktu itu masih menunduk. ‘Sukses’ pekik Rio dalam hati.
            Pricilla menggandeng tangan Rio, pemandangan itu semakin menyesakkan dada Ify. Mata Ify mulai terasa panas, air matanya sudah berada dipelupuk mata dan sudah siap untuk merembes keluar.
            “ya udah kita kekelas yuk!” ajak Pricilla, “Fy, kita duluan ya…?” lanjut Pricilla. Ify berusaha menabahkan hatinya. Ia mengangkat wajahnya dan berusaha tersenyum,
            “iya….” Jawab Ify. Pricillapun tersenyum lantas membawa Rio kembali kekelas.


^_^

            Saat keluar dari toilet Sivia berpapasan dengan Alvin. Ketika mereka sama-sama saling melihat dan kedua bola mata mereka bertemu dalam jarak yang lumayan jauh, Alvin dan Sivia memelankan langkah mereka. Kini jarak mereka sudah dekat, Alvin menghentikan langkahnya, tapi tidak dengan Sivia, ia tetap berjalan dan berusaha untuk tidak memperdulikan Alvin yang waktu itu sudah termakan oleh rasa menyesal yang teramat sangat.
            Antara yakin atau tidak, Alvin memejamkan kedua matanya, ia menghela nafas panjang berusaha membuang jauh-jauh semua rasa gengsi yang selama ini telah memenjaranya. Alvin berusaha meyakini hatinya, dengan sigap ia mencekal pergelangan tangan Sivia. Menyadari behwa tangannya kini sudah ada dalam genggaman Alvin, Sivia menghentikan langkahnya.
            “a…ada apa Kak…hik…?” isakkan itu terdengar lagi. Seraya tetap menggengam erat tangan Sivia, Alvin berdiri dihadapan Sivia,
            “Via marah sama Kakak….?” Tanya Alvin. Sivia menggeleng seraya menunduk dalam. Ia sama sekali tidak memiliki nyali yang cukup untuk menatap wajah Alvin. Sivia takut jika ia menatap wajah Alvin rasa itu akan semakin tumbuh dalam hatinya dan menyulitkannya untuk bisa melupakan Alvin.
            “Hey….” Kata Alvin setengah berbisik sambil mengangkat dagu Sivia. Aneh, ketika melihat wajah Sivia Alvin merasa ada yang berbeda dengan hatinya.
            “lihat Kakak, tatap mata Kak Alvin….!” Sivia menggeleng dan kembali menunduk. Kali ini Alvin mengangkat wajah Sivia,
            “apa kali ini Kak Alvin udah bener-bener nyakitin hati Via…? Iya? Apa Kak Alvin udah keterlaluan banget sama Via…?” sama seperti tadi, Sivia menggeleng,
            “maafin Kak Alvin ya? Kemarin itu Kak Alvin bener-bener lagi kacau banget, Kak Alvin gak sadar sama apa yang Kak Alvin omongin, Kak Alvin gak ada niat buat marahin apalagi bikin Via sakit hati…. Via maafin Kak Alvin kan….?” Lagi-lagi Sivia menggeleng, air matanya semakin deras menetes.
            Alvin menyeka air mata Sivia seraya memperbaiki aturan rambut Sivia dengan penuh perhatian. Alvin memegang wajah Sivia menggunakan kedua tangannya,
            “Via ngomong dong! Jangan diem aja! Please…. Jangan bikin Kak Alvin semakin merasa bersalah sama Via….”
            “buat apa Via ngomong Kak…? Semua omongan Via kan gak pernah ada benernya buat kakak, dan semua apa yang Via lakuin selalu aja salah dimata Kakak….” Ucap Sivia pada akhirnya. Ucapan Sivia itu sukses menohok dada Alvin.
            “Kak Alvin gak pernah salah, gak pernah salah sama sekali…. Via yang salah, Via yang begok, Via yang selalu nyusahin Kak Alvin… tapi Kak Alvin jangan cemas, Via gak apa-apa kok, Via udah biasa sama semua perlakuan Kak Alvin selama ini, dan Via gak pernah bisa marah sama Kak Alvin, gak akan pernah bisa…..”
            “Via….” Secara perlahan Alvin menurunkan kedua tangannya dari wajah Sivia,
            “Via mungkin punya satu alasan buat benci sama Kak Alvin, tapi ada beribu-ribu bahkan berjuta-juta alasan yang membuat Via gak bisa benci sama Kak Alvin, yang membuat Via gak bisa marah sama Kak Alvin…. Kak Alvin tau kan kalo Via sayang banget sama Kak Alvin? Dan Via tau kalo Kak Alvin gak akan pernah bisa sayang sama Via dan Kak Alvin pasti nganggep kalo rasa sayang Via itu Cuma benalu buat Kak Alvin, benalu yang harus Kak Alvin singkirkan…”
            “Via gak gitu… dengerin Kak Alvin dong…” ujar Alvin seraya meraih kedua tangan Sivia lantas menggenggamnya erat, Sivia menggeleng,
            “Kak Alvin jangan takut, jangan cemas, karna sejak kemarin Via udah janji sama diri Via sendiri, kalo Via akan berusaha ngelupain Kak Alvin, apapun dan gimanapun caranya, Via pasti bisa ngelupain Kak Alvin…. Via gak akan ganggu Kak Alvin lagi dengan perasaan Via yang gak penting ini….”
            “Via….”
            “Via balik kekelas dulu ya Kak….” Secara perlahan Sivia menarik tangannya dari genggaman Alvin, secara perlahan pula genggaman tangan mereka terlepas.
            Sivia berjalan gontai seraya terisak. Berkali-kali Alvin berusaha memanggilnya, tapi berkali-kali juga Sivia berusaha melawan keinginan hatinya untuk menoleh kebelakang.
            “Via….VIA…. DENGERIN GUE DULU… SIVIA AZIZAH GUE MOHON….” Pinta Alvin dengan nada setengah berteriak.
            ‘Via udah capek Kak, bener-bener capek… mungkin batas kesanggupan Via Cuma sampe disini aja…. Tapi Kak Alvin mesti tau, Via gak akan pernah nyesel karna Via pernah jatuh cinta dan sayang banget sama Kak Alvin, Via gak akan pernah nyesel….’ Batin Sivia seraya terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun kebelakang.
            Perlahan Sivia akhirnya menghilang dari pandangan Alvin. Sivia bersembunyi dibalik fondasi yang terletak didepan perpustakaan. Disana Sivia menumpahkan tangisannya.
            “hik…hik…hik…hik…hik…Kak Alvin…Hik…hik…Kak Alvin…” Sivia memangis sejadi-jadinya, secara perlahan ia menjatuhkan tubuhnya. Tubuh ringkih Sivia kini sudah terduduk tak berdaya dilantai.
            “AARGGGGHHHHHHH……” Teriak Alvin sekencang-kencangnya. Karna Alvin tidak bisa mengontrol emosinya lagi, Alvinpun mengepalkan tangannya lalu melayangkan tinjunya dengan kekuatan penuh pada tembok yang ada dihadapannya. Akibat tindakan bodoh Alvin itu, tangannyapun terluka dan mengeluarkan darah. Tapi saat ini Alvin sudah tidak bisa lagi merasakan rasa sakit. Ia telah mati rasa dari semua rasa sakit yang ada, entah itu tubuhnya atapun hatinya sudah tak mampu lagi merasakan sakit. Alvin telah benar-benar mati rasa.
            Saat Alvin kembali akan melayangkan tinjunya pada tembok yang sama dan dengan tangannya yang sudah terluka parah, tiba-tiba saja seseorang datang lalu menahan tangan Alvin.
            “HENTIKAN!!!” Hardik gadis cantik itu. Gadis cantik yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Alvin…..



                        BERSAMBUNG…..

0 comments:

Post a Comment