Waktu sudah menunjukan pukul 05.30
WIB. Sivia terbangun dari tidurnya saat ia mendengar jam bekernya berbunyi.
Sivia bangkit lalu merentangkan kedua tangannya. Perhatian Sivia tertuju pada
Diary nya yang terletak diatas meja lampunya. Sivia heran, seiingatnya tadi
malam Sivia tidak meletakkan Diarynya diatas meja, lalu kenapa sekarang
tiba-tiba Diary nya ada diatas meja? Sivia terlihat berfikir, tak lama,
“pasti
Mama yang udah mindahin….” Kata Sivia berusaha cuek lalu segera bergegas
kekamar mandi untuk mempersiapkan dirinya pagi ini.
Langkah
Sivia terhenti didepan kaca, ia mendekat kearah kaca lalu memperhatikan
wajahnya baik-baik. Saat memperhatikan wajahnya tiba-tiba saja Sivia teringat
akan sesuatu, ia menyentuh keningnya lalu mengingat sesuatu,
Flash
Back Sivia;
Alvin
tersenyum, ia memperbaiki aturan selimut Sivia. Setelah selesai memperbaiki
aturan selimut Sivia, Alvinpun mendaratkan sebuah kecupan hangat tepat dikening
Sivia.
“good night Princess Lemotku….”
Flash
Back Off….
Sivia
menggelengkan kepalanya berkali-kali seraya menampar-nampar pelan wajahnya.
“itu
pasti Cuma mimpi, iya Cuma mimpi, mimpi yang gak akan pernah bisa berubah jadi
kenyataan….” Ucap Sivia pada dirinya sendiri. Ia tersenyum kecil lalu
melanjutkan perjalanannya menuju kamar mandi.
^_^
Alvin
keluar dari kamarnya dengan wajah yang Nampak ceria. Keceriaannya pagi ini
seolah mampu menutupi kegalauan hatinya. Alvin bersiul seraya berjalan kearah
meja makan. Alvin mengambil segelas susu yang sudah disediakan oleh Bundanya
lalu meminumnya sambil berdiri,
“kamu
gak sarapan dulu?” Tanya Bunda,
“gak
ah Bund, pagi ini Alvin ada urusan mendadak, jadi gak sempet buat sarapan,
Alvin berangkat ya Bunda….” Kata Alvin seraya menyalami Bundanya lalu berjalan
keluar rumahnya.
Bunda
heran, bukannya kemarin Alvin terlihat sangat galau karna masalahnya dengan
Shilla dan Cakka, lalu kenapa semenjak pulang dari rumah Sivia tadi malam Alvin
tidak terlihat galau lagi. Benar-benar aneh! Fikir Bunda sambil tersenyun
sendiri, beliau menggelengkan kepalanya beberapa kali.
^_^
Seusai
sarapan, Sivia langsung keluar dari rumahnya setelah menerima SMS dari
seseorang. Sivia terlihat tergesa-gesa
keluar dari rumahnya, bahkan Mama dan Kak Irsyad sempat heran melihat Sivia
yang nampak terburu-buru seperti itu. Sebelum Sivia keluar dari rumah, Mamapun
memanggilnya,
“Via….!”
Sivia langsung menghentikan larinya, lalu menoleh kebelakang,
“ada
apa Ma….??”
“jangan
lupa, entar malem kamu ada les sama Kak Alvin….” Kata Mama mengingatkan bahwa
malam ini Sivia ada jadwal les Privat.
Saat mendengar nama Alvin dibawa-bawa, raut wajah Sivia yang tadinya ceria
tiba-tiba saja berubah jadi murung. Sivia menghela nafas berat lantas berkata,
“Via
gak akan lupa kok Ma….” Siviapun melanjutkan larinya. Mama bingung, tidak
biasanya Sivia seperti itu. Biasanya setiap kali ia mendengar nama Alvin, Sivia
langsung heboh sendiri, tapi kali ini? Entahlah, Mama benar-benar bingung.
Sivia
menghampiri Gabriel yang waktu itu tengah menunggunya didepan gerbang rumahnya.
Dengan nafas yang tak teratur, Sivia berkata pada Gabriel,
“Maaf
ya Kak… Via lama…”
“gak
apa-apa kali Vi, gue juga baru aja dateng kok, ya udah naik yuk! Entar kita
telat lagi…” ajak Gabriel. Siviapun tersenyum lantas menaiki motor Gabriel.
Tanpa membuang-buang waktu lagi Gabriel langsung menjalankan motornya.
“Kak
Iel….” Panggil Sivia pelan. Gabriel tercengang, selama beberapa lama mengenal
Sivia, baru kali ini Sivia memanggilnya dengan panggilan Kak Iel, biasanya
Sivia selalu memanggil Gabriel dengan panggilan Kakak Item. Gabriel tersenyum
sendiri tapi buru-buru menjawab panggilan Sivia,
“ada
apa Vi….?”
“makasih
ya Kak buat yang kemaren, kalo kemaren gak ada Kakak, Via gak tau deh apa yang
akan terjadi sama Via selanjutnya, Kakak emang penyelamat….”
“sama-sama
Vi, udah sewajarnya Kakak nolong kamu, lagian kan waktu itu yang ada disana
Cuma Kakak, kalo disana ada yang lainnya juga, pasti mereka yang akan nolongin
kamu…” Sivia hanya tersenyum kecil. Tiba-tiba saja fikirannya tertuju pada
seseorang, seseorang yang entah sedang memikirkan dirinya atau tidak, seseorang
yang entah sampai kapan bisa mencintainya, seseorang yang selalu ia buat kesal,
seseorang yang selalu memarahinya, dan seseorang yang sudah menyakiti
perasaannya dengan begitu dalam, ya…. Siapa lagi kalau bukan Alvin.
^_^
Beberapa
saat setelah Gabriel dan Sivia pergi, Alvinpun datang kerumah Sivia. Rupanya
itulah yang dimaksud Alvin dengan urusannya, urusannya pagi ini ternyata adalah
menjemput Sivia. Semalaman penuh Alvin memikirkan rencananya itu hingga
akhirnya tibalah ia pada sebuah kepastian bahwa pagi ini ia akan menjemput
Sivia dan meminta maaf pada Sivia atas semua ucapannya yang telah menyakiti
perasaan Sivia kemarin.
Sebelum
memasuki gerbang rumah Sivia, Alvin mengeluarkan sebuah cokelat dari kantong
jaketnya. Cokelat itulah yang akan ia berikan pada Sivia sebagai tanda
permintaan maafnya.
Saat
memasuki pekarangan rumah Sivia, Alvin menemukan Mama yang waktu itu terlihat
tengah menyiram bunga. Alvin menghampiri Mama,
“pagi
Tante….?” Sapa Alvin. Mama yang merasa terkejut dengan panggilan itu langsung
menghentikan aktifitasnya menyiram bunga, Mama menoleh kebelakang dan mendapati
Alvin yang waktu itu berdiri dengan tegak dibelakangnya seraya tersenyum sangat
manis,
“pagi
juga Vin… tumben pagi-pagi udah kesini…??” Tanya Mama heran. Karna tidak
biasanya Alvin datang kerumahnya pagi-pagi seperti ini, pasti ada hal yang
sangat penting yang membuatnya harus datang pagi-pagi seperti ini.
“Via
nya ada Tante…?” Tanya Alvin. Mama terdiam sejenak untuk mengingat bahwa
beberapa saat yang lalu Sivia telah berangkat kesekolah bersama Gabriel.
“Via
udah berangkat sama Iel, baruu aja, yaa sekitar 4 menit yang lalu lah….” Jawab
Mama apa adanya. Sedikit rasa kecewa menyelinap dibenak Alvin, dalam hati Alvin
bergumam,
‘kaya’nya
Via udah mulai deket sama Iel… percuma aja kalo gitu…’
Melihat
Alvin yang diam saja, Mama heran, ia berusaha memanggil Alvin namun sayang
Alvin tidak mendengar panggilannya.
“Vin…
Alvin…” panggil Mama lebih kencang lagi, seketika Alvin terkesiap,
“eh
iya Tante….??”
“kamu
kok diem? Kenapa?”
“gak
apa-apa kok Tan… ya udah Alvin pamit ya Tan…”
“iya
Vin, hati-hati dijalan ya?” Alvinpun menyalami Mama. Dengan perasaan kecewa
yang semakin memenuhi batinnya Alvin berjalan gontai keluar dari pekarangan
rumah Sivia.
^_^
Sivia
memasuki kelas dengan wajah tanpa ekspresi. Tidak biasanya Sivia seperti itu.
Biasanya setiap memasuki kelas Sivia selalu tampak ceria, dan dengan
kelemotannya ia akan membuat beberapa temannya menjadi kesal, selain kesal, ada
juga beberapa dari teman-teman kelas Sivia menganggap bahwa Sivia lucu dengan
kelemotannya itu. Tapi pagi ini mereka tidak mendapati Sivia yang ceria, Sivia
yang selalu membuat keributan dengan kelemotannya.
Sivia
duduk disamping Ify yang waktu itu terlihat focus membaca LKS Sejarah. Sivia
menumpuk tangannya diatas meja lantas menenggelamkan wajahnya. Menyadari bahwa
Sivia tidak seperti biasanya, Ify mengalihkan perhatiannya sejenak dari LKS
Sejarahnya, ia menepuk pelan pundak Sivia lalu bertanya,
“Vi,
lo kenapa? Kok mukanya disembunyiin gitu? Jerawat lo lagi numbuh ya….?” Sivia
tak menjawab Ify, ia hanya menggeleng dengan posisi yang tetap, ia tidak
menatap Ify sedikitpun.
“terus
lo kenapa? Ada masalah? Masalah apa? Lo dimarahin sama Bokap Nyokap lo lagi?
Atau Kak Irsyad ngejailin lo lagi? Atau…..” belum selesai rentetan pertanyaan
yang Ify ajukan, Siviapun menghela nafas panjang seraya mengangkat wajahnya.
Ify tercengang ketika ia melihat Sivia meneteskan air mata.
“Via
lo nangis….?” Tanya Ify cemas seraya memegang pundak Sivia, Sivia menepis
tangan Ify dari pundaknya lantas berkata,
“Via
gak mau diganggu dulu!” lirih Sivia diiringi dengan isakkan pelan. Siviapun
bangkit dari bangkunya lantas hengkang begitu saja dari samping Ify. Ify
semakin heran, sebuah tanda Tanya besar mulai muncul diotaknya. Ada apa dengan
sahabatnya yang lemot itu sebenarnya?
“Via
tunggu gue!” ucap Ify seraya mengikuti Sivia.
^_^
Saat
sedang mengikuti Sivia, tiba-tiba saja Ify bertabrakan dengan seseorang. Mereka
sama-sama terjatuh kelantai,
“awww….”
Rintih Ify pelan.
“sorry….”
Ucap seseorang yang ternyata adalah Rio. Rio bangkit lalu mendekati Ify. Ia
mengulurkan tangannya untuk Ify. Melihat tangan Rio yang terulur, Ify malah
tertegun memandanginya. Rio heran karna Ify hanya diam saja,
“kamu
gak apa-apa kan Fy….?” Tanya Rio. Mendengar suara lembut itu, Ify langsung
tersadar dari lamunannya.
“eh…aku
gak apa-apa kok Kak….” Ify pun menyambut uluran tangan Rio, Rio menggenggam
tangan Ify dengan erat.
Karna
tarikan tangan Rio terlalu kuat, Ify nyaris saja terjatuh. Rio dengan sigap
menahan tubuh Ify hingga Ify tidak terjatuh. Tangan kanan Rio melingkari
pinggang Ify, sementara Ify, ia langsung memegang kedua sisi kerah baju Rio
dengan kedua tangannya. Rio tersenyum simpul, senyuman Rio sukses menimbulkan
sebuah getaran didada Ify, semakin lama getaran itu semakin kencang.
Perlahan
Rio mengangkat tangan kirinya dan berusaha menyentuh wajah Ify. Saat tangan
lembut Rio nyaris saja menyentuh wajah Ify, tiba-tiba saja sebuah suara
memanggil nama Rio dari kejauhan,
“Rio….!”
Suara itu adalah milik Pricilla. Rio segera melepaskan Ify, sebisa mungkin Rio
dan Ify berusaha terlihat biasa saja dihadapan Pricilla. Kali ini Pricilla
sudah berada dihadapan Rio dan Ify.
“Yo,
kamu datengnya lama banget sih? Daritadi aku nungguin kamu tau gak….” Mendengar
ucapan Pricilla, Ify langsung menunduk dalam, berusaha menutupi kepedihan
hatinya.
“ma..maaf….”
kata Rio dengan terbata. Pandangan mata Rio tertuju pada Ify yang waktu itu
masih menunduk. ‘Sukses’ pekik Rio dalam hati.
Pricilla
menggandeng tangan Rio, pemandangan itu semakin menyesakkan dada Ify. Mata Ify
mulai terasa panas, air matanya sudah berada dipelupuk mata dan sudah siap
untuk merembes keluar.
“ya
udah kita kekelas yuk!” ajak Pricilla, “Fy, kita duluan ya…?” lanjut Pricilla.
Ify berusaha menabahkan hatinya. Ia mengangkat wajahnya dan berusaha tersenyum,
“iya….”
Jawab Ify. Pricillapun tersenyum lantas membawa Rio kembali kekelas.
^_^
Saat
keluar dari toilet Sivia berpapasan dengan Alvin. Ketika mereka sama-sama
saling melihat dan kedua bola mata mereka bertemu dalam jarak yang lumayan
jauh, Alvin dan Sivia memelankan langkah mereka. Kini jarak mereka sudah dekat,
Alvin menghentikan langkahnya, tapi tidak dengan Sivia, ia tetap berjalan dan
berusaha untuk tidak memperdulikan Alvin yang waktu itu sudah termakan oleh
rasa menyesal yang teramat sangat.
Antara
yakin atau tidak, Alvin memejamkan kedua matanya, ia menghela nafas panjang
berusaha membuang jauh-jauh semua rasa gengsi yang selama ini telah memenjaranya.
Alvin berusaha meyakini hatinya, dengan sigap ia mencekal pergelangan tangan
Sivia. Menyadari behwa tangannya kini sudah ada dalam genggaman Alvin, Sivia
menghentikan langkahnya.
“a…ada
apa Kak…hik…?” isakkan itu terdengar lagi. Seraya tetap menggengam erat tangan
Sivia, Alvin berdiri dihadapan Sivia,
“Via
marah sama Kakak….?” Tanya Alvin. Sivia menggeleng seraya menunduk dalam. Ia
sama sekali tidak memiliki nyali yang cukup untuk menatap wajah Alvin. Sivia
takut jika ia menatap wajah Alvin rasa itu akan semakin tumbuh dalam hatinya
dan menyulitkannya untuk bisa melupakan Alvin.
“Hey….”
Kata Alvin setengah berbisik sambil mengangkat dagu Sivia. Aneh, ketika melihat
wajah Sivia Alvin merasa ada yang berbeda dengan hatinya.
“lihat
Kakak, tatap mata Kak Alvin….!” Sivia menggeleng dan kembali menunduk. Kali ini
Alvin mengangkat wajah Sivia,
“apa
kali ini Kak Alvin udah bener-bener nyakitin hati Via…? Iya? Apa Kak Alvin udah
keterlaluan banget sama Via…?” sama seperti tadi, Sivia menggeleng,
“maafin
Kak Alvin ya? Kemarin itu Kak Alvin bener-bener lagi kacau banget, Kak Alvin
gak sadar sama apa yang Kak Alvin omongin, Kak Alvin gak ada niat buat marahin
apalagi bikin Via sakit hati…. Via maafin Kak Alvin kan….?” Lagi-lagi Sivia
menggeleng, air matanya semakin deras menetes.
Alvin
menyeka air mata Sivia seraya memperbaiki aturan rambut Sivia dengan penuh
perhatian. Alvin memegang wajah Sivia menggunakan kedua tangannya,
“Via
ngomong dong! Jangan diem aja! Please…. Jangan bikin Kak Alvin semakin merasa bersalah
sama Via….”
“buat
apa Via ngomong Kak…? Semua omongan Via kan gak pernah ada benernya buat kakak,
dan semua apa yang Via lakuin selalu aja salah dimata Kakak….” Ucap Sivia pada
akhirnya. Ucapan Sivia itu sukses menohok dada Alvin.
“Kak
Alvin gak pernah salah, gak pernah salah sama sekali…. Via yang salah, Via yang
begok, Via yang selalu nyusahin Kak Alvin… tapi Kak Alvin jangan cemas, Via gak
apa-apa kok, Via udah biasa sama semua perlakuan Kak Alvin selama ini, dan Via
gak pernah bisa marah sama Kak Alvin, gak akan pernah bisa…..”
“Via….”
Secara perlahan Alvin menurunkan kedua tangannya dari wajah Sivia,
“Via
mungkin punya satu alasan buat benci sama Kak Alvin, tapi ada beribu-ribu
bahkan berjuta-juta alasan yang membuat Via gak bisa benci sama Kak Alvin, yang
membuat Via gak bisa marah sama Kak Alvin…. Kak Alvin tau kan kalo Via sayang
banget sama Kak Alvin? Dan Via tau kalo Kak Alvin gak akan pernah bisa sayang
sama Via dan Kak Alvin pasti nganggep kalo rasa sayang Via itu Cuma benalu buat
Kak Alvin, benalu yang harus Kak Alvin singkirkan…”
“Via
gak gitu… dengerin Kak Alvin dong…” ujar Alvin seraya meraih kedua tangan Sivia
lantas menggenggamnya erat, Sivia menggeleng,
“Kak
Alvin jangan takut, jangan cemas, karna sejak kemarin Via udah janji sama diri
Via sendiri, kalo Via akan berusaha ngelupain Kak Alvin, apapun dan gimanapun
caranya, Via pasti bisa ngelupain Kak Alvin…. Via gak akan ganggu Kak Alvin
lagi dengan perasaan Via yang gak penting ini….”
“Via….”
“Via
balik kekelas dulu ya Kak….” Secara perlahan Sivia menarik tangannya dari
genggaman Alvin, secara perlahan pula genggaman tangan mereka terlepas.
Sivia
berjalan gontai seraya terisak. Berkali-kali Alvin berusaha memanggilnya, tapi
berkali-kali juga Sivia berusaha melawan keinginan hatinya untuk menoleh
kebelakang.
“Via….VIA….
DENGERIN GUE DULU… SIVIA AZIZAH GUE MOHON….” Pinta Alvin dengan nada setengah
berteriak.
‘Via
udah capek Kak, bener-bener capek… mungkin batas kesanggupan Via Cuma sampe
disini aja…. Tapi Kak Alvin mesti tau, Via gak akan pernah nyesel karna Via
pernah jatuh cinta dan sayang banget sama Kak Alvin, Via gak akan pernah
nyesel….’ Batin Sivia seraya terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun
kebelakang.
Perlahan
Sivia akhirnya menghilang dari pandangan Alvin. Sivia bersembunyi dibalik
fondasi yang terletak didepan perpustakaan. Disana Sivia menumpahkan
tangisannya.
“hik…hik…hik…hik…hik…Kak
Alvin…Hik…hik…Kak Alvin…” Sivia memangis sejadi-jadinya, secara perlahan ia
menjatuhkan tubuhnya. Tubuh ringkih Sivia kini sudah terduduk tak berdaya
dilantai.
“AARGGGGHHHHHHH……”
Teriak Alvin sekencang-kencangnya. Karna Alvin tidak bisa mengontrol emosinya
lagi, Alvinpun mengepalkan tangannya lalu melayangkan tinjunya dengan kekuatan
penuh pada tembok yang ada dihadapannya. Akibat tindakan bodoh Alvin itu,
tangannyapun terluka dan mengeluarkan darah. Tapi saat ini Alvin sudah tidak
bisa lagi merasakan rasa sakit. Ia telah mati rasa dari semua rasa sakit yang
ada, entah itu tubuhnya atapun hatinya sudah tak mampu lagi merasakan sakit.
Alvin telah benar-benar mati rasa.
Saat
Alvin kembali akan melayangkan tinjunya pada tembok yang sama dan dengan
tangannya yang sudah terluka parah, tiba-tiba saja seseorang datang lalu
menahan tangan Alvin.
“HENTIKAN!!!”
Hardik gadis cantik itu. Gadis cantik yang sedari tadi memperhatikan
gerak-gerik Alvin…..
BERSAMBUNG…..


0 comments:
Post a Comment