“ayo,Vi kok bengong?” ucap Gabriel.
Sivia membuyarkan pandangannya, ia
tertawa kecil dan tentu saja terlihat bingung,
“ha…iya..iya,
Maaf Kak, tapi….” Sebelum Sivia melanjutkan perkataannya, Alvin menstater
motornya lantas berkata,
“gue
duluan,Vi….” Alvin pun menjalankan motornya dengan kecepatan yang lumayan
tinggi. Untuk yang kesekian kalinya, Alvin dibuat cemburu oleh Sivia.
Sivia
menatap kepergian Alvin yang waktu itu nyaris menghilang dari pandangannya.
Setelah cukup lama memandangi Alvin, Gabriel kembali berkata,
“ayo
Vi, masuk!” Sivia terkesiap, ia menggelengkan kepalanya lalu memasuki mobil
Gabriel.
“tadinya
kamu mau pulang sama Alvin ya…? Aku gak ganggu?” Tanya Gabriel pada Sivia
sebelum ia menjalankan mobilnya. Sivia tersenyum seraya menggeleng dengan ragu,
“enggak
kok Kak… tadinya emang iya aku mau pulang sama Alvin, tapi Alvin emang sahabat
yang pengertian…” Gabriel tersenyum, ia membelai lembut rambut Sivia dan
kembali bertanya,
“kamu
mau langsung pulang ato jalan-jalan dulu?”
“emmm…
terserah Kakak aja deh…” jawab Sivia seraya tersenyum sangat manis.
“ya
udah, kita jalan-jalan dulu aja ya, entar aku yang bilang ke Tante Uchie…”
Sivia mengangguk berkali-kali dan menyutujui ucapan Gabriel itu.
@_@
“PITZZA….”
Ucap Sivia dengan suara lantang seraya mengulurkan sekotak pitza untuk Alvin
yang waktu itu tengah duduk ditepi kolam renangnya sambil membaca sebuah Buku
Paket Biology. Alvin menutup Buku Paketnya lalu menatap Sivia,
“kemana
aja lo…? Lo lupa kalo minggu kemaren Bu Erny mau ngasih kita ulangan Biology…?”
“inget
kok gue, tapi tadi Kak Iel ngajakin gue jalan, ya gue gak enak aja nolak ajakan
dia…” Alvin menggeleng berkali-kali dan kembali berusaha focus pada Buku
bacaannya. Sivia membuka Kotak Pitza itu tepat dihadapan Alvin, tapi Alvin tak
bergeming, ia tetap focus dengan Buku Biologynya, Sivia menghela nafas panjang
lantas berkata,
“tadi
waktu gue jalan sama Kak Iel, gue keinget ama lo terus beliin lo Pitza deh, lo
makan ya…” bujuk Sivia, Alvin menggeleng pasti, Sivia langsung cemberut,
“lo
gak ngehargain gue banget sih Vin, gue kan udah beli ini khusus buat lo…”
rengek Sivia dengan nada memelas. Alvin masih tetap tak bergeming.
“ALVIN
JAHAT….” Pekik Sivia lalu beranjak dari samping Alvin. Ia melepaskan pitza itu
dimeja yang ada disamping Alvin. Beberapa saat setelah kepergian Sivia, Alvin
menutup Buku Paket Biologynya dan melihat Pitza yang ditinggalkan oleh Sivia.
Alvin
melihat kesekeliling dan memastikan apakah Sivia masih ada dikawasan rumahnya atau
tidak. Setelah yakin bahwa Sivia benar-benar pergi, secara perlahan Alvin
mengangkat tangannya lalu mencoba meraih sepotong Pitza yang dibawakan oleh
Sivia. Saat Alvin akan berhasil menagambil sepotong Pitza, tiba-tiba saja Sivia
mengejutkannya, Sivia memeluk Alvin dari belakang,
“DOORRR….
AHAHAHA… KETAHUAN KAN LO…” teriak Sivia diiringi dengan suara tawanya yang
lumayan kencang. Alvin menggaruk kepalanya dan berusaha menutupi rasa malunya
pada Sivia.
“apaan
sih lo…?” Tanya Alvin sinis seraya melepaskan pelukan Sivia. Sambil terus
tertawa Sivia kembali duduk disamping Alvin. Ia mengambil sepotong Pitza untuk
Alvin dan berusaha menyuapi Alvin, Alvin menggeleng,
“makan
aja kali,Vin, gak usah malu…” sekali lagi Alvin menggeleng, kali ini ia menutup
mulutnya menggunakan kedua tangannya. Sivia menarik-narik tangan Alvin hingga
terlepas dari mulutnya,
“makan
nih, makan…” Paksa Sivia. Siviapun akhirnya berhasil memasukan Pitza itu
kedalam mulut Alvin, dengan malu-malu Alvin mengunyah pitza itu. Sivia tersenyum,
“enakkan….??”
Tanya Sivia,
“biasa
aja…” jawab Alvin cuek,
“beuhhh..
tadi aja waktu gue pergi lo langsung
embat tuh pitza…” sindir Sivia,
“lumayan
enak sih, tapi karna ada elo disini, kelezatan dari pitza ini jadi enyah deh…”
“sok
lo…” ucap Sivia seraya menoyor pelan kepala Alvin.
“heh,
jangan sembarang noyor dong lo…”
“iishh…
eh..eh, gue mau juga dong pitzanya…”
“ogah…elo
kan udah ngasih nih pitza buat gue, terus kenapa pake diminta lagi…?”
“yaelah
Vin, gue minta dikit doang masa’ gak boleh sih…?” Alvin menggeleng. Sivia
langsung melipat kedua tangannya didada lalu menoleh kearah lain. Alvin
menjulurkan sepotong pitza dihadapan Sivia, Sivia menoleh kearah Alvin dan
menatapnya dengan tatapan heran,
“ayo
makan!” ucap Alvin, Sivia tersenyum lalu menerima suapan dari Alvin,
“hehehe…enak
Vin…”
Saat
sedang menyuapi Sivia Pitza, Alvin melihat sedikit saus tepat diatas bibir
Sivia. Alvinpun mengelap saus itu menggunakan tangannya,
“makan
hati-hati dong Bu, gak usah cepet-cepet jadi belepotan kan…?” Sivia hanya
tertawa kecil. Melihat Sivia yang begitu riang dan ceria Alvin bergumam dalam
hati,
‘asal
bisa ngeliat lo senyum terus, asal bisa ngedenger tawa nyaring lo tiap waktu,
gue rela sakit hati Vi ngeliat lo sama Iel, bahagia lo adalah bahagia gue
meskipun mungkin kebahagiaan lo itu akan menorehkan banyak luka dihati gue….’
@_@
Sivia,Ify,
Shilla,Pricilla dan Febby tengah menyaksikan Alvin dan anak-anak 11 Multimedia
cowok lainnya yang saat itu tengah bermain basket ditengah lapangan. Pak Wowo hari ini sedang
menghadiri sebuah acara seminar diGedung Wanita, jadilah jam pelajaran
penjaskes hari ini kosong. Sivia dan kawan-kawannya lebih memilih duduk
dipinggir lapangan untuk menyaksikan permainan Basket anak-anak cowok dari
kelas mereka. Setiap yang berhasil memasukan bola, mereka pasti akan bersorak
kegirangan, tapi bagi yang tidak berhasil memasukan bola, mereka pasti meledek.
Cakka
yang kesal atas ulah mereka sempat mengusir mereka, tapi mereka berlima tak
peduli, mereka tetap bertahan dipinggir lapangan.
“GO
ALVIIINNNNNN…..!!!!!” teriak Sivia sekencang-kencangnya dari pinggir lapangan
memberi semangat untuk Alvin. Alvin melihat kearah Sivia lalu memberikan Sivia
senyuman yang sangat manis. Melihat senyuman Alvin itu, Sivia merasa ada yang
berbeda, tapi sudahlah, Sivia tidak mau terlalu memikirkan hal itu, Alvin kan
sahabatnya.
Saat
akan mengoper bola pada Rio, tanpa sengaja bola yang Alvin lempar mengenai
kepala Pricilla yang saat itu sedang duduk bersama Sivia,Ify,Shilla, dan Febby.
Pricilla meringis kesakitan, ia menutup wajahnya menggunakan kedua telapak
tangannya.
“parah
lo Vin…” ucap Cakka. Alvin berdecak lantas mendekati Pricilla.
“Prissy,
lo gak apa-apa kan…?” Tanya Alvin dengan nada sedikit cemas, tapi Pricilla
hanya diam sambil terus menutupi wajahnya. Sivia berkata pada Alvin,
“payah
lo,Vin, ngoper bola aja gak bisa, gue gak mau tau, pokoknya lo harus tanggung
jawab. Rayu Prissy sampe dia gak nangis lagi…”
“yaahh…Vi,
gue kan gak sengaja…” ucap Alvin memelas, Sivia menampakkan wajah tak peduli.
“rayu..rayu…rayu…”
ucap semua anak-anak Multimedia kompak. Alvin semakin bingung, Sivia berusaha
keras menahan tawanya.
“Vi…”
panggil Alvin,
“rayu
cepetan!” hardik Sivia.
Alvin
menggaruk kepalanya, dengan ragu ia mengangkat wajah Pricilla menggunakan kedua
tangannya. Saat itu ia mendapati Pricilla yang tengah menangis. Melihat sikap
Alvin pada Pricilla yang terlihat romantis itu, anak-anak Multimedia semakin
heboh.
Alvin
menyeka air mata Pricilla lantas bertanya,
“lo
gak apa-apakan…?” Pricilla menggeleng, tanpa Alvin sadari, apa yang telah ia
lakukan itu membuat jantung Pricilla berdegup sangat kencang.
“gue
minta maaf ya..? tadi gue bener-bener gak sengaja…” ucap Alvin tulus,
“gak
apa-apa….” Lirih Pricilla dengan suara parau.
Alvin
merogoh kantong celananya dan menemukan sebuah Lolipop. Huh untung saja! Fikir
Alvin. Pricilla memang sangat menyukai Lolipop. Alvin memberikan lollipop itu
untuk Pricilla sebagai tanda permintaan maafnya,
“ini
buat lo! Gue minta maaf ya….”
“terima…terima….terima…”
ucap anak-anak Multimedia kompak, Alvin protes,
“yeeee…
terima, terima, lo semua fikir gue lagi nembak Prissy…?”
“tembak
aja lagi,Vin…” goda Sivia, semuanya semakin heboh, sementara wajah Pricilla
sudah semakin memerah karna rasa malunya yang bercampur dengan rasa gugupnya.
“Viaaaa…”
sungut Alvin kesal. Tak lama Alvin kembali mengalihkan perhatiannya pada
Pricilla,
“lo
maafin gue kan..?” Tanya Alvin sekali lagi. Dengan malu-malu Pricilla
mengangguk, Alvin tersenyum puas.
“ya
udah, diterima dong lolipopnya…!” Pricilla pun menerima Lolipop pemberian
Alvin, setelah itu Alvin dan Pricilla bersalaman sebagai tanda bahwa mereka
sudah berdamai. Saat melihat Alvin dan Pricilla bersalaman, Sivia bergumam
dalam hati,
‘hmmmm…..
kaya’nya, Alvin sama Prissy cocok nih, gak ada salahnya juga gue comblangin
mereka, toh semenjak putus dari Shilla beberapa tahun yang lalu Alvin gak
pernah terlihat punya gebetan… ok…’
@_@
Setelah
jam pelajaran olahraga usai dan sebelum bel tanda pergantian pelajaran berbunyi,
Sivia terlihat duduk disebuah bangku panjang yang ada dibawah sebuah pohon
besar yang cukup rindang. Secara tiba-tiba Alvin datang, ia duduk disamping
Sivia dan menjulurkan sebotol minuman isotonic untuk Sivia. Sivia menoleh
kearah Alvin.
“buat
gue?” Tanya Sivia,
“buat
siapa lagi…?” Sivia cemberut lalu menerima minuman pemberian Alvin.
“thanks
ya…?” Alvin hanya tersenyum. Mereka diam sejenak sambil menikmati minuman
mereka masing-masing.
“Vin….”
Panggil Sivia yang akhirnya memecah keheningan,
“apa?”
“gue
boleh ngomong sesuatu…?” Tanya Sivia,
“memangnya
ada undang-undang yang melarang lo ngomong sama gue..?” ucap Alvin asal,
“gue
serius Alvin….”
“ya
udah ngomong aja lagi…”
“Vin,
kaya’nya Prissy suka sama lo.. lo mau gue comblangin sama dia..?” mendengarkan
ucapan Sivia, Alvin langsung tersedak dan menyemburkan minumannya. Sivia
menepuk-nepuk punggung Alvin,
“pelan-pelan
dong lo kalo minum…” omel Sivia, Alvin menghela nafas panjang, kali ini ia
menatap Sivia,
“udah
gila kali ya lo, maen comblangin aja…” kesal Alvin,
“emangnya
gak boleh gue nyomblangin lo ama Prissy, lagian elo sih, semenjak putus dari
Shilla lo gak pernah nyari cewek laen, helllooo… mau jadi jomblo seumur hidup
apa lo…? Shilla aja sekarang udah pacaran sama Si Cakka….”
“tapi
gue gak suka sama Prissy…” ucap Alvin tegas,
“tapi
Prissy suka sama lo….”
“darimana
lo tau kalo Prissy suka sama gue…?”
“yaelah
Vin, gak peka banget sih lo jadi cowok… udah jelas-jelas ada cewek yang suka
ama lo, malah lo cuekin… lo masih SUKA ya sama Shilla…?” pancing Sivia,
“enggak…”
jawab Alvin apa adanya,
“terus
kenapa lo gak nyari cewek laen..”
“males…”
“lo
pasti boong…”
“terserah
elo,,, yang jelas saat ini, gue lagi suka sama seorang cewek yang selama ini
deket sama gue…” Sivia mulai terlihat bersemangat, Sivia tak mengerti bahwa
cewek yang Alvin maksud adalah dirinya.
“terus,
elo udah bilang ke cewek itu kalo lo suka sama dia…?” Tanya Sivia, Alvin
menggeleng,
“kenapa
lo gak bilang..?”
“karna
dia udah punya pacar…” Sivia terdiam sejenak, ia terlihat berfikir, siapakah
yang Alvin maksud? Fikirnya.
“kalo
boleh tau, siapa cewek itu…?” Tanya Sivia sekali lagi, Alvin menatap mata Sivia
dalam seraya berkata,
“cewek
ituuu……”
“dan
cewek itu adalah…?” sambut Sivia,
“cewek
itu adalah….”
“Siviaaaa,
Alvinnnn…. Pak Kholid udah dateng tuh…” panggil Ify dari kejauhan. Sivia dan
Alvin langsung menoleh kearah Ify.
“ayo
kita masuk kelas” ajak Alvin seraya beranjak dari duduknya, saat Alvin akan melangkah pergi, Sivia
mencekal lengannya,
“siapa
cewek itu?” Tanya Sivia yang sudah sangat penasaran, Alvin menggeleng,
“ya
udah kali,Vi, kapan-kapan gue kasi tau deh, sekarang kita kekelas aja, Pak
Kholid udah masuk kelas, kita harus hargain guru dong…”
“tapi
lo harus janji, kalo lo akan ngasih tau gue siapa cewek itu?” Alvin mengangguk,
“pasti!”
Sivia tersenyum mendengarkan jawaban Alvin lalu melangkah terlebih dahulu
menuju kelas. Alvin terus menatap Sivia dari kejauhan,
‘kalo
aja lo tau kalo cewek itu adalah elo,Vi…kalo aja gue bisa masuk kedalam hidup
lo lebih dari sahabat… cewek itu adalah elo Vi, Cuma elo yang gue sayang,
selamanya Cuma elo yang gue mau…’ batin Alvin.
Menyadari
bahwa Alvin tak ada bersamanya, Sivia menghentikan langkahnya, ia menoleh
kebelakang dan melihat Alvin yang waktu itu diam ditempat, Sivia memanggil
Alvin,
“ALVIIINNN….kenapa
diem? ayo…!” teriak Sivia sambil mengulurkan tangannya. Alvin tersenyum lalu
berlari menghampiri Sivia. Alvin menyambut uluran tangan Sivia dan
menggenggamnya erat. Mereka berjalan beriringan menuju kelas.
“Alvin
jongkok deh!” pinta Sivia ditengah-tengah perjalanan mereka menuju kelas, Alvin
heran, keningnya langsung mengkerut,
“kenapa
gue mesti jongkok?” Tanya Alvin,
“udah
jongkok aja!” Alvin yang sudah tidak bisa lagi menolak keinginan Siviapun
akhirnya mengikuti permintaan Sivia. Saat Alvin sudah jongkok, Sivia langsung
menaiki puggungnya,
“gendong
gue sampe kedepan kelas…!”
“Via,
lo kan berat…!”
“jangan
banyak omong…” Alvin sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dengan terpaksa, ia
menggendong Sivia sampai kedepan kelasnya.
@_@
Sivia
menaiki motor Alvin secara tiba-tiba. Alvin yang merasa terkejut atas kehadiran
Sivia secara tiba-tiba pun protes,
“lo
kaya’ hantu ya lama-lama? Muncul secara tiba-tiba…”
“suka-suka
gue dong! Cepetan capcus!!”
“yakin
Kak Iel gak jemput lo?” Tanya Alvin memastikan,
“yakin
gue! Kak Iel lagi nganterin Mamanya arisan”
“ya
udah deh…” Alvinpun menjalankan motornya dengan kecepatan standart.
Sebelum
pulang kerumah mereka, Alvin dan Sivia sempat mampir disebuah Mall. Mau tidak
mau Sivia terpaksa mengikuti Alvin ke Mall. Alvin dan Sivia memasuki sebuah
toko Buku. Rencananya Alvin akan membeli beberapa buah buku sebagai bahan
bacaannya menjelang ujian kenaikan kelas.
Saat
sedang memilih-milih buku, Alvin melihat Gabriel yang waktu itu juga sedang
memilih-milih buku. Alvin heran, bukannya tadi Sivia mengatakan bahwa Gabriel
sedang mengantar Mamanya pergi arisan, lalu kenapa sekarang Gabriel ada ditoko
buku? Dan yang lebih mengejutkan lagi, Alvin melihat seorang gadis menghampiri
Gabriel. Apa mungkin gadis itu adalah adiknya Gabriel, kalau gadis itu adalah
adiknya, lantas kenapa mereka terlihat begitu mesra? Alvin menggeleng
berkali-kali,
‘gak….Via
gak boleh lihat itu, dia pasti akan kecewa banget kalo sampe dia lihat….’ Batin
Alvin. Sivia mengejutkan Alvin dari belakang,
“WOOYYY….
Bukunya udah ketemu belum?” Tanya Sivia. Alvin terkesiap,
“eh…!
Vi, ki..kita pulang yuk…” ajak Alvin sambil menarik pergelangan tangan Sivia
dan membawanya keluar dari toko Buku.
“tapi
Bukunya….” Alvin tak menggubris ucapan Sivia, ia tetap menarik-narik Sivia
membawanya keluar dari toko buku itu sebelum Sivia melihat kelakukan pacarnya
yang sangat ia sayangi itu. Benarkah Gabriel selingkuh dibelakang Sivia?
BERSAMBUNG…..


0 comments:
Post a Comment