Wednesday, May 22, 2013

0

Love, Love & Love Part 2



“ayo,Vi kok bengong?” ucap Gabriel. Sivia  membuyarkan pandangannya, ia tertawa kecil dan tentu saja terlihat bingung,
            “ha…iya..iya, Maaf Kak, tapi….” Sebelum Sivia melanjutkan perkataannya, Alvin menstater motornya lantas berkata,
            “gue duluan,Vi….” Alvin pun menjalankan motornya dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Untuk yang kesekian kalinya, Alvin dibuat cemburu oleh Sivia.
            Sivia menatap kepergian Alvin yang waktu itu nyaris menghilang dari pandangannya. Setelah cukup lama memandangi Alvin, Gabriel kembali berkata,
            “ayo Vi, masuk!” Sivia terkesiap, ia menggelengkan kepalanya lalu memasuki mobil Gabriel.
            “tadinya kamu mau pulang sama Alvin ya…? Aku gak ganggu?” Tanya Gabriel pada Sivia sebelum ia menjalankan mobilnya. Sivia tersenyum seraya menggeleng dengan ragu,
            “enggak kok Kak… tadinya emang iya aku mau pulang sama Alvin, tapi Alvin emang sahabat yang pengertian…” Gabriel tersenyum, ia membelai lembut rambut Sivia dan kembali bertanya,
            “kamu mau langsung pulang ato jalan-jalan dulu?”
            “emmm… terserah Kakak aja deh…” jawab Sivia seraya tersenyum sangat manis.
            “ya udah, kita jalan-jalan dulu aja ya, entar aku yang bilang ke Tante Uchie…” Sivia mengangguk berkali-kali dan menyutujui ucapan Gabriel itu.


@_@

            “PITZZA….” Ucap Sivia dengan suara lantang seraya mengulurkan sekotak pitza untuk Alvin yang waktu itu tengah duduk ditepi kolam renangnya sambil membaca sebuah Buku Paket Biology. Alvin menutup Buku Paketnya lalu menatap Sivia,
            “kemana aja lo…? Lo lupa kalo minggu kemaren Bu Erny mau ngasih kita ulangan Biology…?”
            “inget kok gue, tapi tadi Kak Iel ngajakin gue jalan, ya gue gak enak aja nolak ajakan dia…” Alvin menggeleng berkali-kali dan kembali berusaha focus pada Buku bacaannya. Sivia membuka Kotak Pitza itu tepat dihadapan Alvin, tapi Alvin tak bergeming, ia tetap focus dengan Buku Biologynya, Sivia menghela nafas panjang lantas berkata,
            “tadi waktu gue jalan sama Kak Iel, gue keinget ama lo terus beliin lo Pitza deh, lo makan ya…” bujuk Sivia, Alvin menggeleng pasti, Sivia langsung cemberut,
            “lo gak ngehargain gue banget sih Vin, gue kan udah beli ini khusus buat lo…” rengek Sivia dengan nada memelas. Alvin masih tetap tak bergeming.
            “ALVIN JAHAT….” Pekik Sivia lalu beranjak dari samping Alvin. Ia melepaskan pitza itu dimeja yang ada disamping Alvin. Beberapa saat setelah kepergian Sivia, Alvin menutup Buku Paket Biologynya dan melihat Pitza yang ditinggalkan oleh Sivia.
            Alvin melihat kesekeliling dan memastikan apakah Sivia masih ada dikawasan rumahnya atau tidak. Setelah yakin bahwa Sivia benar-benar pergi, secara perlahan Alvin mengangkat tangannya lalu mencoba meraih sepotong Pitza yang dibawakan oleh Sivia. Saat Alvin akan berhasil menagambil sepotong Pitza, tiba-tiba saja Sivia mengejutkannya, Sivia memeluk Alvin dari belakang,
            “DOORRR…. AHAHAHA… KETAHUAN KAN LO…” teriak Sivia diiringi dengan suara tawanya yang lumayan kencang. Alvin menggaruk kepalanya dan berusaha menutupi rasa malunya pada Sivia.
            “apaan sih lo…?” Tanya Alvin sinis seraya melepaskan pelukan Sivia. Sambil terus tertawa Sivia kembali duduk disamping Alvin. Ia mengambil sepotong Pitza untuk Alvin dan berusaha menyuapi Alvin, Alvin menggeleng,
            “makan aja kali,Vin, gak usah malu…” sekali lagi Alvin menggeleng, kali ini ia menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya. Sivia menarik-narik tangan Alvin hingga terlepas dari mulutnya,
            “makan nih, makan…” Paksa Sivia. Siviapun akhirnya berhasil memasukan Pitza itu kedalam mulut Alvin, dengan malu-malu Alvin mengunyah pitza itu. Sivia tersenyum,
            “enakkan….??” Tanya Sivia,
            “biasa aja…” jawab Alvin cuek,
            “beuhhh.. tadi aja  waktu gue pergi lo langsung embat tuh pitza…” sindir Sivia,
            “lumayan enak sih, tapi karna ada elo disini, kelezatan dari pitza ini jadi enyah deh…”
            “sok lo…” ucap Sivia seraya menoyor pelan kepala Alvin.
            “heh, jangan sembarang noyor dong lo…”
            “iishh… eh..eh, gue mau juga dong pitzanya…”
            “ogah…elo kan udah ngasih nih pitza buat gue, terus kenapa pake diminta lagi…?”
            “yaelah Vin, gue minta dikit doang masa’ gak boleh sih…?” Alvin menggeleng. Sivia langsung melipat kedua tangannya didada lalu menoleh kearah lain. Alvin menjulurkan sepotong pitza dihadapan Sivia, Sivia menoleh kearah Alvin dan menatapnya dengan tatapan heran,
            “ayo makan!” ucap Alvin, Sivia tersenyum lalu menerima suapan dari Alvin,
            “hehehe…enak Vin…”
            Saat sedang menyuapi Sivia Pitza, Alvin melihat sedikit saus tepat diatas bibir Sivia. Alvinpun mengelap saus itu menggunakan tangannya,
            “makan hati-hati dong Bu, gak usah cepet-cepet jadi belepotan kan…?” Sivia hanya tertawa kecil. Melihat Sivia yang begitu riang dan ceria Alvin bergumam dalam hati,

            ‘asal bisa ngeliat lo senyum terus, asal bisa ngedenger tawa nyaring lo tiap waktu, gue rela sakit hati Vi ngeliat lo sama Iel, bahagia lo adalah bahagia gue meskipun mungkin kebahagiaan lo itu akan menorehkan banyak luka dihati gue….’


@_@

            Sivia,Ify, Shilla,Pricilla dan Febby tengah menyaksikan Alvin dan anak-anak 11 Multimedia cowok lainnya yang saat itu tengah bermain basket  ditengah lapangan. Pak Wowo hari ini sedang menghadiri sebuah acara seminar diGedung Wanita, jadilah jam pelajaran penjaskes hari ini kosong. Sivia dan kawan-kawannya lebih memilih duduk dipinggir lapangan untuk menyaksikan permainan Basket anak-anak cowok dari kelas mereka. Setiap yang berhasil memasukan bola, mereka pasti akan bersorak kegirangan, tapi bagi yang tidak berhasil memasukan bola, mereka pasti meledek.
            Cakka yang kesal atas ulah mereka sempat mengusir mereka, tapi mereka berlima tak peduli, mereka tetap bertahan dipinggir lapangan.
            “GO ALVIIINNNNNN…..!!!!!” teriak Sivia sekencang-kencangnya dari pinggir lapangan memberi semangat untuk Alvin. Alvin melihat kearah Sivia lalu memberikan Sivia senyuman yang sangat manis. Melihat senyuman Alvin itu, Sivia merasa ada yang berbeda, tapi sudahlah, Sivia tidak mau terlalu memikirkan hal itu, Alvin kan sahabatnya.
            Saat akan mengoper bola pada Rio, tanpa sengaja bola yang Alvin lempar mengenai kepala Pricilla yang saat itu sedang duduk bersama Sivia,Ify,Shilla, dan Febby. Pricilla meringis kesakitan, ia menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.
            “parah lo Vin…” ucap Cakka. Alvin berdecak lantas mendekati Pricilla.
            “Prissy, lo gak apa-apa kan…?” Tanya Alvin dengan nada sedikit cemas, tapi Pricilla hanya diam sambil terus menutupi wajahnya. Sivia berkata pada Alvin,
            “payah lo,Vin, ngoper bola aja gak bisa, gue gak mau tau, pokoknya lo harus tanggung jawab. Rayu Prissy sampe dia gak nangis lagi…”
            “yaahh…Vi, gue kan gak sengaja…” ucap Alvin memelas, Sivia menampakkan wajah tak peduli.

            “rayu..rayu…rayu…” ucap semua anak-anak Multimedia kompak. Alvin semakin bingung, Sivia berusaha keras menahan tawanya.
            “Vi…” panggil Alvin,
            “rayu cepetan!” hardik Sivia.
            Alvin menggaruk kepalanya, dengan ragu ia mengangkat wajah Pricilla menggunakan kedua tangannya. Saat itu ia mendapati Pricilla yang tengah menangis. Melihat sikap Alvin pada Pricilla yang terlihat romantis itu, anak-anak Multimedia semakin heboh.
            Alvin menyeka air mata Pricilla lantas bertanya,
            “lo gak apa-apakan…?” Pricilla menggeleng, tanpa Alvin sadari, apa yang telah ia lakukan itu membuat jantung Pricilla berdegup sangat kencang.
            “gue minta maaf ya..? tadi gue bener-bener gak sengaja…” ucap Alvin tulus,
            “gak apa-apa….” Lirih Pricilla dengan suara parau.
            Alvin merogoh kantong celananya dan menemukan sebuah Lolipop. Huh untung saja! Fikir Alvin. Pricilla memang sangat menyukai Lolipop. Alvin memberikan lollipop itu untuk Pricilla sebagai tanda permintaan maafnya,
            “ini buat lo! Gue minta maaf ya….”
            “terima…terima….terima…” ucap anak-anak Multimedia kompak, Alvin protes,
            “yeeee… terima, terima, lo semua fikir gue lagi nembak Prissy…?”
            “tembak aja lagi,Vin…” goda Sivia, semuanya semakin heboh, sementara wajah Pricilla sudah semakin memerah karna rasa malunya yang bercampur dengan rasa gugupnya.
            “Viaaaa…” sungut Alvin kesal. Tak lama Alvin kembali mengalihkan perhatiannya pada Pricilla,
            “lo maafin gue kan..?” Tanya Alvin sekali lagi. Dengan malu-malu Pricilla mengangguk, Alvin tersenyum puas.
            “ya udah, diterima dong lolipopnya…!” Pricilla pun menerima Lolipop pemberian Alvin, setelah itu Alvin dan Pricilla bersalaman sebagai tanda bahwa mereka sudah berdamai. Saat melihat Alvin dan Pricilla bersalaman, Sivia bergumam dalam hati,
            ‘hmmmm….. kaya’nya, Alvin sama Prissy cocok nih, gak ada salahnya juga gue comblangin mereka, toh semenjak putus dari Shilla beberapa tahun yang lalu Alvin gak pernah terlihat punya gebetan… ok…’

@_@

            Setelah jam pelajaran olahraga usai dan sebelum bel tanda pergantian pelajaran berbunyi, Sivia terlihat duduk disebuah bangku panjang yang ada dibawah sebuah pohon besar yang cukup rindang. Secara tiba-tiba Alvin datang, ia duduk disamping Sivia dan menjulurkan sebotol minuman isotonic untuk Sivia. Sivia menoleh kearah Alvin.
            “buat gue?” Tanya Sivia,
            “buat siapa lagi…?” Sivia cemberut lalu menerima minuman pemberian Alvin.
            “thanks ya…?” Alvin hanya tersenyum. Mereka diam sejenak sambil menikmati minuman mereka masing-masing.
            “Vin….” Panggil Sivia yang akhirnya memecah keheningan,
            “apa?”
            “gue boleh ngomong sesuatu…?” Tanya Sivia,
            “memangnya ada undang-undang yang melarang lo ngomong sama gue..?” ucap Alvin asal,
            “gue serius Alvin….”
            “ya udah ngomong aja lagi…”
            “Vin, kaya’nya Prissy suka sama lo.. lo mau gue comblangin sama dia..?” mendengarkan ucapan Sivia, Alvin langsung tersedak dan menyemburkan minumannya. Sivia menepuk-nepuk punggung Alvin,
            “pelan-pelan dong lo kalo minum…” omel Sivia, Alvin menghela nafas panjang, kali ini ia menatap Sivia,
            “udah gila kali ya lo, maen comblangin aja…” kesal Alvin,
            “emangnya gak boleh gue nyomblangin lo ama Prissy, lagian elo sih, semenjak putus dari Shilla lo gak pernah nyari cewek laen, helllooo… mau jadi jomblo seumur hidup apa lo…? Shilla aja sekarang udah pacaran sama Si Cakka….”
            “tapi gue gak suka sama Prissy…” ucap Alvin tegas,
            “tapi Prissy suka sama lo….”
            “darimana lo tau kalo Prissy suka sama gue…?”
            “yaelah Vin, gak peka banget sih lo jadi cowok… udah jelas-jelas ada cewek yang suka ama lo, malah lo cuekin… lo masih SUKA ya sama Shilla…?” pancing Sivia,
            “enggak…” jawab Alvin apa adanya,
            “terus kenapa lo gak nyari cewek laen..”
            “males…”
            “lo pasti boong…”
            “terserah elo,,, yang jelas saat ini, gue lagi suka sama seorang cewek yang selama ini deket sama gue…” Sivia mulai terlihat bersemangat, Sivia tak mengerti bahwa cewek yang Alvin maksud adalah dirinya.
            “terus, elo udah bilang ke cewek itu kalo lo suka sama dia…?” Tanya Sivia, Alvin menggeleng,
            “kenapa lo gak bilang..?”
            “karna dia udah punya pacar…” Sivia terdiam sejenak, ia terlihat berfikir, siapakah yang Alvin maksud? Fikirnya.
            “kalo boleh tau, siapa cewek itu…?” Tanya Sivia sekali lagi, Alvin menatap mata Sivia dalam seraya berkata,
            “cewek ituuu……”
            “dan cewek itu adalah…?” sambut Sivia,
            “cewek itu adalah….”

            “Siviaaaa, Alvinnnn…. Pak Kholid udah dateng tuh…” panggil Ify dari kejauhan. Sivia dan Alvin langsung menoleh kearah Ify.
            “ayo kita masuk kelas” ajak Alvin seraya beranjak dari  duduknya, saat Alvin akan melangkah pergi, Sivia mencekal lengannya,
            “siapa cewek itu?” Tanya Sivia yang sudah sangat penasaran, Alvin menggeleng,
            “ya udah kali,Vi, kapan-kapan gue kasi tau deh, sekarang kita kekelas aja, Pak Kholid udah masuk kelas, kita harus hargain guru dong…”
            “tapi lo harus janji, kalo lo akan ngasih tau gue siapa cewek itu?” Alvin mengangguk,
            “pasti!” Sivia tersenyum mendengarkan jawaban Alvin lalu melangkah terlebih dahulu menuju kelas. Alvin terus menatap Sivia dari kejauhan,
            ‘kalo aja lo tau kalo cewek itu adalah elo,Vi…kalo aja gue bisa masuk kedalam hidup lo lebih dari sahabat… cewek itu adalah elo Vi, Cuma elo yang gue sayang, selamanya Cuma elo yang gue mau…’ batin Alvin.
            Menyadari bahwa Alvin tak ada bersamanya, Sivia menghentikan langkahnya, ia menoleh kebelakang dan melihat Alvin yang waktu itu diam ditempat, Sivia memanggil Alvin,
            “ALVIIINNN….kenapa diem? ayo…!” teriak Sivia sambil mengulurkan tangannya. Alvin tersenyum lalu berlari menghampiri Sivia. Alvin menyambut uluran tangan Sivia dan menggenggamnya erat. Mereka berjalan beriringan menuju kelas.
            “Alvin jongkok deh!” pinta Sivia ditengah-tengah perjalanan mereka menuju kelas, Alvin heran, keningnya langsung mengkerut,
            “kenapa gue mesti jongkok?” Tanya Alvin,
            “udah jongkok aja!” Alvin yang sudah tidak bisa lagi menolak keinginan Siviapun akhirnya mengikuti permintaan Sivia. Saat Alvin sudah jongkok, Sivia langsung menaiki puggungnya,
            “gendong gue sampe kedepan kelas…!”
            “Via, lo kan berat…!”
            “jangan banyak omong…” Alvin sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dengan terpaksa, ia menggendong Sivia sampai kedepan kelasnya.

@_@

            Sivia menaiki motor Alvin secara tiba-tiba. Alvin yang merasa terkejut atas kehadiran Sivia secara tiba-tiba pun protes,
            “lo kaya’ hantu ya lama-lama? Muncul secara tiba-tiba…”
            “suka-suka gue dong! Cepetan capcus!!”
            “yakin Kak Iel gak jemput lo?” Tanya Alvin memastikan,
            “yakin gue! Kak Iel lagi nganterin Mamanya arisan”
            “ya udah deh…” Alvinpun menjalankan motornya dengan kecepatan standart.

            Sebelum pulang kerumah mereka, Alvin dan Sivia sempat mampir disebuah Mall. Mau tidak mau Sivia terpaksa mengikuti Alvin ke Mall. Alvin dan Sivia memasuki sebuah toko Buku. Rencananya Alvin akan membeli beberapa buah buku sebagai bahan bacaannya menjelang ujian kenaikan kelas.
            Saat sedang memilih-milih buku, Alvin melihat Gabriel yang waktu itu juga sedang memilih-milih buku. Alvin heran, bukannya tadi Sivia mengatakan bahwa Gabriel sedang mengantar Mamanya pergi arisan, lalu kenapa sekarang Gabriel ada ditoko buku? Dan yang lebih mengejutkan lagi, Alvin melihat seorang gadis menghampiri Gabriel. Apa mungkin gadis itu adalah adiknya Gabriel, kalau gadis itu adalah adiknya, lantas kenapa mereka terlihat begitu mesra? Alvin menggeleng berkali-kali,
            ‘gak….Via gak boleh lihat itu, dia pasti akan kecewa banget kalo sampe dia lihat….’ Batin Alvin. Sivia mengejutkan Alvin dari belakang,
            “WOOYYY…. Bukunya udah ketemu belum?” Tanya Sivia. Alvin terkesiap,
            “eh…! Vi, ki..kita pulang yuk…” ajak Alvin sambil menarik pergelangan tangan Sivia dan membawanya keluar dari toko Buku.
            “tapi Bukunya….” Alvin tak menggubris ucapan Sivia, ia tetap menarik-narik Sivia membawanya keluar dari toko buku itu sebelum Sivia melihat kelakukan pacarnya yang sangat ia sayangi itu. Benarkah Gabriel selingkuh dibelakang Sivia?



                                    BERSAMBUNG…..

0 comments:

Post a Comment