Sivia
mengangkat wajahnya lalu mendapati Alvin yang waktu itu berada diatas motornya.
Sivia tersenyum dengan wajah polosnya lalu bangkit dari duduknya,
“Kak Alvin kemana aja? Via cemas tau
gak sama Kak Alvin, Via fikir Kak Alvin kenapa-napa…”
“lo gak usah deh sok cemas sama gue,
lagian ngapain sih lo pake nungguin gue segala? Udah tau gue pergi, kenapa lo
malah nunggu…?? Kenapa lo gak pulang duluan aja? Lo kan masih bisa naek taksi
ato angkot ato bus, ato apalah itu terserah lo….”
“takutnya kalo Via pulang, entar Kak
Alvin balik lagi nyariin Via terus Via gak ada ditempat, terus Kak Alvin capek
nyari-nyariin Via, kan kasian Kak Alvinnya…” Alvin sedikit terhenyuk mendengar
penjelasan Sivia. Padahal sudah jelas-jelas Alvin meninggalkan Sivia hanya demi
Shilla, tapi Sivia tetap saja mencemaskannya dan sama sekali tidak memikirkan
dirinya sendiri.
“emangnya lo gak punya HP ya?”
“punya…” jawab Sivia singkat,
“ya terus kenapa lo gak telpon ato
sms gue??”
“Via kan gak punya nomernya Kak
Alvin….” Jawab Sivia lagi dengan apa adanya,
“ya kenapa lo gak minta…?” sentak
Alvin, Sivia sampai terkejut, Sivia menunduk sedalam-dalamnya lantas menjawab
Alvin dengan terbata-bata,
“Vi…Via ta..takut, kalo Via
mi..minta nomer Kak Alvin, Kak Alvin ma..malah ma..marahin Via….” Alvin
menghela nafas panjang. Rasa bersalah bercampur dengan kesal serta rasa
menyesal memenuhi benaknya.
“ya udah, pasang jaket itu buruan!
Kita pulang sekarang!” bentak Alvin lagi. Sivia masih menunduk dalam, isakkan
Sivia terdengar pelan ditelinga Alvin. Apa mungkin Sivia menangis karna Alvin
terlalu keras padanya?
“Via…!” panggil Alvin pelan. Sivia
tak menjawab, isakkannya semakin jelas terdengar ditelinga Alvin. Alvin
menunduk berusaha melihat wajah Sivia, dengan ragu Alvin mengangkat dagu Sivia
lalu melihat Sivia yang waktu itu sudah berlinang air mata.
“lo kenapa nangis??” Tanya Alvin,
kali ini dengan nada yang lumayan lembut,
“hik..hik…Via takut, Via takut kalo
Kak Alvin marah-marahin Via kaya’ gitu, hik..hik…” Alvin tersentak, ia mengusap
wajahnya dan menampakkan raut kebingungan yang teramat sangat. Semua tau bahwa
Alvinlah yang terlalu keras pada Sivia.
Dibalik sikap galak Alvin pada
Sivia, namun Alvin tetap saja memiliki sisi lembut yang ia sendiri tak bisa
hindari. Antara ragu-ragu dan tidak Alvin menarik Sivia kedalam pelukannya.
Siviapun menyandarkan kepalanya didada Alvin yang ia rasakan sangat nyaman lalu
melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Alvin. Alvin menyeka air mata Sivia
seraya berkata,
“Maafin Kak Alvin ya kalo Kak Alvin
udah bikin Via takut, tapi Kak Alvin gak ada niat kok buat bikin Via takut ato
marah-marahin Via, Kak Alvin Cuma kesel aja dan sedikit cemas sama Via, lagian
ngapain sih Via nungguin Kak Alvin sampe malem kaya’ gini…? Lain kali gak usah
cemas lagi ya sama Kak Alvin, gak usah fikirin Kak Alvin lagi, fikirin diri Via
sendiri, Kak Alvin gak apa-apa kok….” Bukannya berhenti menangis, isakkan Sivia
malah semakin kuat dan keras. Alvin mengusap punggung Sivia beberapa kali untuk
menenangkannya,
“udah gak usah nangis lagi, Kak
Alvin kan udah minta maaf….” Alvin membelai lembut rambut Sivia,
“Kak Alvin beneran udah gak marah
lagi sama Via…?” Tanya Sivia yang sudah bisa sedikit lebih tenang. Alvin
mengangguk pasti,
“iya, Kak Alvin udah gak marah lagi
sama Via… tapi Via udah maafin Kak Alvin kan…?” Tanya Alvin seraya melepaskan
pelukannya dari Sivia. Sivia mengangguk berkali-kali seraya tersenyum sangat
manis. Alvin tertawa kecil, ia mengusap puncak kepala Sivia lalu mengambil
jaketnya yang ada ditangan Sivia.
“biar gak kedinginan Via pake jaket
Kak Alvin ya…?” kata Alvin seraya memasangkan jaketnya pada Sivia dengan penuh
perhatian. Setelah jaket itu terpasang, Siviapun menaiki motor Alvin.
“pegangan yang erat yaa? Kak Alvin
mau ngajak Via ngebut!” Sivia hanya mengangguk lalu memeluk Alvin erat.
Alvinpun menjalankan motornya dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Sivia
semakin mengeratkan pelukannya pada Alvin lalu meletakkan dagunya diatas pundak
sebelah kiri Alvin. Sepanjang perjalanan Alvin mengajak Sivia bercanda, dan
untuk yang pertama kalinya mereka terlihat begitu dekat dan sangat akrab. Entah
hal itu bisa terjadi lagi atau tidak pada hari-hari berikutnya. Sesekali Alvin
terlihat menarik hidung Sivia dengan gemes, sesekali juga Alvin terlihat
menyentuh lembut wajah Sivia. Dan entah sadar atau tidak, Alvin menggunakan
tangan yang satunya untuk memegang kedua tangan Sivia yang waktu itu
mencengkram erat tubuhnya.
Sekitar 15 menit kemudian, tibalah
Alvin dan Sivia didepan gerbang rumah Sivia. Sivia langsung turun dari motor
Alvin. Sebelum pamit pada Sivia, Alvin sempat berkata,
“Handphone Via mana? Kak Alvin
pinjem bentar boleh…?” Tanya Alvin seraya mengulurkan tangannya. Sivia membuka
tasnya lantas mengambil Handphonenya dan menyerahkannya pada Alvin,
“nih Kak! Emang mau ngapain??”
“udah, entar juga Via tau sendiri…”
Alvin mengambil Handphone Sivia. Ia terlihat sedang mengetik beberapa nomer.
Tak lama Alvin menekan tombol ok seraya berkata,
“beres! Nih HP nya Via…” Siviapun
menerima Handphonenya dari Alvin,
“ada apa Kak…?” Tanya Sivia
penasaran,
“tadi Kak Alvin udah ngesave nomer
Kak Alvin di Handphone Via! Jangan dihapus ya? Dan inget kalo ada apa-apa
telfon Kak Alvin, biar kejadian kaya’ tadi gak keulang lagi, okey…?”
“okey Kak… oya Kak emangnya malem
ini kita gak belajar….?”
“belajarnya besok pagi aja! Sekarang
Via istirahat, Via pasti capek dari sore nungguin Kak Alvin…”
“iya Kak….”
“ya udah Kak Alvin pulang ya…?” saat
Alvin sudah bersiap-siap akan menjalankan motornya, Sivia malah mencekal lengan
Alvin,
“Kak tunggu!”
“kenapa Via….?” Tanpa Alvin
duga-duga, Sivia mendaratkan sebuah kecupan hangat tepat dipipi sebelah kiri
Alvin, dengan perlahan Sivia berbisik didepan telinga Alvin,
“I LOVE YOU KAK…..” Siviapun berlari
dan memasuki gerbang ruamhnya. Secara perlahan Alvin menyentuh pipinya yang
Sivia cium tadi, Alvin tersenyum simpul lalu menjalankan motornya.
^_^
Dear Diary….
Ini malam minggu terindah buat Via, karna pada
malam minggu kali ini, Via menghabiskannya sama Kak Alvin…. Oya Diary, tadi Via
sempet nangis gara-gara Kak Alvin marahin Via habis-habisan, tapi setelahnya
Kak Alvin minta maaf sama Via, bahkan Kak Alvin sampe meluk Via….
Sumpah, Via seneeng
banget malem ini… Via Cuma berharap, semoga Kak Alvin terus bersikap seperti
ini sama Via, dan Via juga akan berusaha buat gak lemot lagi biar Kak Alvin gak
kesel lagi ama Via… Via akan berubah buat Kak Alvin…. :)
Pokoknya Via LOVE BANGET
deh sama Kak Alvin…. Hihihi
Sivia.A
^_^
“APAAA….??
Jadi lo sama Prissy pura-pura pacaran Cuma mau bikin Ify cemburu…?? Waah parah
lo bro! lo itu sampe bikin Ify sedih banget tau gak….?” Ucap Alvin pada Rio
saat Rio menceritakan yang sebenarnya pada Alvin. Rio hanya mengangguk dengan
santai, tak ada sedikitpun rasa bersalah pada Ify yang terlukis diwajah
manisnya,
“ya
terus sampai kapan lo mau ngerjain Ify…? Ha…??”
“Sampai
gue ngerasa kalo utang Ify udah lunas sama gue…”
“utang
apaan?” Tanya Alvin penasaran,
“lo
lupa waktu malem Prom Night itu Ify gak dateng dan ngehancurin semua rencana
indah gue yang udah gue siepin dari jauh-jauh hari….?”
“inget
sih… tapi lo gak perlu kali pake ngerjain Ify kaya’ gini… Ify tu paling gak
suka dibohongin Yo, kalo sampe dia tau lo udah ngebohongin dia, Ify pasti
bakalan marah banget sama lo….”
“tapi
Ify gak akan bisa marah sama gue…lo liat aja… Etapi, lo kok kaya’ nya tau Ify
banget sih….??” Tanya Rio pada Alvin dengan tatapan yang penuh dengan
kecurigaan. Alvin tersenyum kecil,
“eehh…lo
gak usah berfikir yang macem-macem kali, lo tau kan kalo Ify itu adek kelas
kesayangan gue? Dia berasal dari keluarga yang sederhana tapi otaknya luar
biasa, gue Cuma sebatas mengangumi Ify kok, lo nyante aja, gue kan udah ada
Shilla….”
“Sivia
gimana….?” Gurau Rio. Alvin langsung mendecakkan lidahnya.
“Ck….
Ngapain sih lo nanya-nanyain tuh cewek lemot…?” kesal Alvin,
“gak
usah pura-pura lo, lo fikir gue gak tahu kalo malem minggu kemaren lo jalan
sama dia…?”
“jalan
apaan? Orang udah jelas-jelas gue jalan ama Shilla, gue Cuma nganterin dia
kali….”
“nganterin
sih nganterin, tapi gak perlu sampe meluk anak gadis orang kali….” Alvin
terkejut, darimana Rio tahu tentang semua itu. Malam itu Alvin yakin bahwa tak
ada seorangpun yang melihatnya bersama Sivia, lantas Rio tau darimana…?
“eh…diem-diem
lu, jangan ember! Lagian lo tau darimana sih…?”
“ada
deeh…ahahaha….”
“kalo
sampe berita ini kesebar, lo orang pertama yang gue tuduh, dan gue gak akan
segan-segan buat ngasih tau Ify kalo ternyata lo udah ngerjain dia….”
“cieee…
jadi lo ngancem nih ceritanya….?? Ehem…ehem…” Alvin langsung membekap mulut Rio
seraya berkata,
“lo
itu gak bisa jaga mulut banget sih? Entar ada yang denger….”
^_^
Saat
sedang berjalan dipinggir lapangan Alvin melihat Sivia yang waktu itu Nampak
serius membaca sebuah LKS Biology didepan kelasnya. Tanpa sadar dan tanpa ada
yang melihat, Alvin tersenyum kecil pada Sivia. Sejak malam itu Alvin merasa
ada sesuatu yang aneh pada dirinya, sesuatu yang enggan ia akui, sesuatu yang
akhir-akhiran ini selalu membuatnya tersenyum jika melihat Sivia.
Alasan-alasan
tak penting yang dulu selalu membuatnya merasa enggan mendekati Sivia perlahan
menghilang ditelan waktu. Alvin berfikir, buat apa ia terus-terusan membenci
Sivia? Buat apa juga dia melarang Sivia untuk menyukainya, bukankah menyukai
itu adalah hak-hak tiap orang, lalu kenapa Alvin harus melarang Sivia untuk
menyukai dan mengangumi sosok dirinya?
“gue
harus kasi hadiah buat Via, biar dia semakin giat belajar!” ucap Alvin pada
dirinya saat melihat Sivia begitu serius. Alvin berfikir sejenak, tak lama ia
memutuskan untuk membelikan sebuah Ice Cream buat Sivia. Alvin tahu kalau Sivia
begitu menyukai ice cream. Alvinpun melangkah kearah kantin untuk membelikan
sebuah Ice Cream buat Sivia.
“Cewek,
sendiri aja….??” Goda Iel sembari duduk disamping Sivia, dengan polosnya dan
tanpa mengalihkan perhatiannya dari LKS Sivia menjawab Gabriel,
“udah
tau Via sendiri aja, masih aja ditanya, Kakak item payah…” sungut Sivia, raut
wajah Gabriel yang tadinya cerah langsung berubah keruh.
“Kakak
item boleh duduk disini…?” Tanya Gabriel sekali lagi dengan menirukan gaya
bicara Sivia yang terdengar sangat imut dan manja. Dengan wajah tanpa dosanya
lagi-lagi Sivia menjawab,
“emangnya
ada aturan sekolah yang ngelarang Kakak Item buat duduk disamping Via…? Duduk
aja lagi Kak….” Gabriel pun duduk disamping Sivia, ia memulai basa basinya,
“lagi
ngapain Vi….?”
“emang
keliatannya Via lagi ngapain? Nonton Film dora…?”
“enggak!
Lo kan lagi baca LKS….?”
“Udah
tau lagi baca LKS, kok malah nanya sih….?” Gabriel langsung terdiam, tak lagi
mengeluarkan kata-kata apapun. Gabriel melihat kearah LKS yang dibaca oleh
Sivia lantas ikut membacanya.
Tanpa
tahu, ternyata waktu itu Alvin melihat Gabriel mendekati Sivia. Alvin serta
merta menyembunyikan Ice Cream yang sudah ia beli untuk Sivia dibelakangnya.
Alvin tersenyum kecil, perasaannya tak karuan, Alvin juga sama sekali tidak
mengerti dengan apa yang ia rasakan sekarang. Secara perlahan Alvin melangkah
mundur lalu pergi sebelum ia sempat menyerahkan Ice Cream itu pada Sivia.
^_^
“sekarang
udah saatnya kamu milih Shill…! Kamu tau betapa gak enaknya aku berada diposisi
seperti ini, masa’ kita mau pacaran aja mesti kucing-kucingan segala dari
Alvin? Aku capek Shill….” Eluh Cakka pada Shilla saat dirinya dengan Shilla
tengah berdua didalam ruang music. Shilla meraih tangan Cakka lalu
menggenggamnya erat,
“aku
Cuma minta kamu sabar Kka, ada saatnya Alvin akan tahu, tapi gak sekarang…”
Cakka berdecak kesal lantas menarik tangannya dari genggaman Shilla.
“tapi
aku udah gak tahan lagi Shill dengan semua ini… kamu mesti tahu, tiap kali
ngeliat kamu sama Alvin hati ini seperti terbakar, kamu gak bisa rasakan
sakitnya kan Shill….?”
“Kka,
cukup kamu tahu, bahwa yang aku cinta itu Cuma kamu, aku gak mencintai Alvin,
sama sekali gak mencintai Alvin, Cuma aja sekarang aku ngerasa belum siap buat
bongkar semuanya dihadapan Alvin, aku belum siap ngeliat Alvin kecewa setelah
tahu kalau ternyata aku dan SAHABAT KARIB nya ternyata berselingkuh
dibelakangnya, CRAG akan menjadi taruhannya Kka….” Ucap Shilla dengan tangisan
yang coba ia tahan. Shilla memang selalu berusaha untuk tegar apapun yang
terjadi.
“Ooo….
Jadi ini yang kalian berdua lakukan selama ini dibelakang gue? HEBAT YA KALIAN…
BRAVO BUAT CAKKA DAN SHILLA….” Ucap seseorang dengan nada sinis dari arah
pintu. Secara bersamaan Cakka dan Shilla menoleh kearah pintu dan betapa
terkejutnya mereka setelah mereka melihat seseorang yang berdiri dengan tegak
dipintu.
“ALVIN….!”
Ujar Cakka dan Shilla secara bersamaan dan nada tak percaya….
BERSAMBUNG…..


0 comments:
Post a Comment