Sivia serta merta melonjak kegirangan,
Gabriel kembali memberikan tepuk yang sangat meriah.Alvin langsung memasang
wajah pasrah, sementara Shilla ia langsung mengangkat kedua jempolnya untuk
Alvin.Gabriel mendekati Sivia lalu mengajaknya untuk tos.
Saat
Alvin keluar dari ruang music dan hendak pergi ketoilet, Siviapun mengejarnya
dan berhenti tepat dihadapan Alvin,Alvin menghentikan langkahnya seraya melipat
kedua tangannya didada, Sivia tersenyum sangat manis, sementara Alvin, ia hanya
menunjukan ekspresi yang biasa-biasa saja.
“mau
apa lagi lo?” Tanya Alvin sinis,
“makasih
ya Kakak ganteng, KALO KAYA’ GINI VIA MAKIN SUKA SAMA KAK ALVIN, I LOVE YOU KAK
ALVIN…..”
Untuk
yang kesekian kalinya Alvin kembali tercengang karna ucapan Sivia, setelah mendengarkan
ucapan Sivia pada Alvin, sontak saja seluruh isi ruangan berteriak heboh,
Gabriel berusaha keras menahan tawanya meskipun ia sedikit merasa cemburu atas
pengakuan Sivia terhadap Alvin.
“ELOOOOO…..!!!
Errgghhh,, gue kesel sama lo tau gak…” ucap Alvin gemes lalu meninggalkan
ruangan music. Sivia heran, dengan kepolosannya yang keterlaluan itu, ia mulai
berfikir, kenapa sih setiap Sivia menyatakan perasaanya pada Alvin, Alvin
selalu saja marah-marah gak jelas? Apa caranya yang salah? Atau caranya terlalu
Lebay? Sivia bingung sendiri, namun kemarahan Alvin padanya tak lantas membuat
Sivia sakit hati, kecewa ataupun menyerah mendapatkan perhatian dari Alvin, ia
tetap berusaha, dan untuk hari-hari kedepan, ia akan terus mencoba hingga
kelak, Alvin akan luluh padanya.
^_^
“ku
mencintaimu…lebih dari apapun,
Meskipun
tiada satupun orang yang tahu..
Kumencintaimu
sedalam-dalam hatiku,
Meskipun
engkau hanya kekasih gelapku…
Kutau
kutakkan slalu ada untukmu…
Disaat
engkau merindukan diriku…
Kutau
kutakkan bisa memberikanmu…waktu
Yang
panjang dalam hidupmu….
Yakinlah
bahwa engkau adalah cintaku….
Yang
kucari selama ini dalam hidupku…
Dan
hanya padamu kuberikan sisa cintaku yang panjang dalam hidupku…
Kumencintaimu..lebih
dari apapun, meskipun
Tiada
satu orangpun yang tahu…
Kumencintaimu….sedalam-dalam
hatiku…
Meskipun
engkau hanya kekasih gelapku,,,,,
Hu
woo..ho….”
Shilla
menyanyikan lagu itu seraya memainkan sebuah gitar, saat itu didalam ruang
music hanya ada Shilla dan Cakka, tak ada yang lainnya, saat Shilla sedang
bernyanyi, Cakka mendengarkannya dengan sebaik-baiknya, ia duduk dihadapan
Shilla, dan sepanjang Shilla bernyanyi, Cakka tak sedikitpun mengalihkan
perhatiannya dari Shilla.
Melihat
Cakka yang terus menatapnya dan tak menyadari bahwa Shilla telah selesai
bernyanyi, Shillapun melepaskan gitarnya, ia tersenyum pada Cakka lalu memeluk
Cakka.
“aku
janji Kka, walopun kamu Cuma jadi yang kedua dalam hidup aku, tapi didalem hati
aku kamu selalu jadi yang pertama, dan akan selalu jadi yang pertama, untuk
saat ini, aku bener-bener belum bisa mutusin Alvin, kamu ngerti kan Kka….?”
Cakka melepaskan pelukan Shilla darinya, ia memegang wajah Shilla menggunakan
kedua tangannya lantas berkata,
“aku
ngertiin kamu kok Shill…jadi kamu jangan cemas ya…?” Shilla mengangguk dan
kembali memeluk Cakka dengan erat.
^_^
Tak
terasa 3 bulan sudah Sivia bersekolah diSMA PATUH KARYA dan tak terasa juga, 3
bulan sudah Sivia bergabung bersama ekskul music SMA PATUH KARYA. Selama 3
bulan terakhir ini Sivia selalu berusaha mendekati Alvin, meskipun Alvin selalu
saja sebal dan selalu marah-marah padanya, Sivia tak peduli, ia tetap mengejar
Alvin.
Maka
malam Prom Night pun tiba. Pada malam Prom Night nanti OSIS akan mengadakan pemilihan
Prince dan Princess SMA PATUH KARYA tahun 2012, mereka rutin melakukan acara
itu setiap tahunnya, dan Sivia sudah bermimpi bahwa yang akan jadi Prince SMA
PATUH KARYA nanti adalah Alvin dan yang akan jadi Princessnya adalah dirinya
sendiri.
Ify
sempat mengatakan Sivia gila karna impiannya yang tak masuk akal itu, tapi
seperti biasanya, dengan kepolosannya dan kelugunanya yang sudah mencapai
stadium akhir, Sivia tak peduli, ia begitu yakin dengan mimpinya itu.
Pada
jam istirahat pagi itu, Sivia dan Ify terlihat tengah duduk disebuah bangku
panjang yang ada didepan kelas mereka. Sivia duduk seraya memakan snacknya,
sementara Ify, ia duduk sambil membaca sebuah novel terjemahan dari Pranciss.
Saat
melihat Alvin dan kawan-kawannya melewati lapangan basket, Sivia langsung
mengejar mereka. Sivia meninggalkan Ify sendiri, karna saking fokusnya, Ify
sampai tidak sadar bahwa Sivia telah hengkang dari sampingnya.
“Kak
Alvin,Kak Alvin….” Panggil Sivia seraya memakan Chitato yang ukurannya paling
jumbo. Alvin menghentikan langkahnya, dan dengan malas ia berkata pada Sivia,
“lo
kenapa lagi sih?”
“Kak,Via
mau cerita sesuatu sama Kakak….”
“apaan…?”
Tanya Alvin tanpa minat sama sekali, sementara Sivia, dengan minat penuh, ia
menarik pergelangan tangan Alvin lalu membawanya kepinggir lapangan, Alvin
sempat heran,
“sini
deh Kak…!”
“Heh,Lemot,
lo apa-apaan sih? Gue risih tau gak dipegang-pegang sama lo….” Omel Alvin, tapi
Sivia tak sedikitpun menghiraukan ucapan Alvin. Saat tiba ditepi lapangan,
Siviapun memaksa Alvin untuk duduk disebuah bangku panjang yang terletak
dibawah pohon palem yang rindang.
“tau
gak Kak, semalem Via mimpi apa?” Tanya Sivia basa basi, dengan cuek Alvin
menjawab,
“ya
lo mau mimpi apa kek, emangnya apa urusannya sama gue??”
“iihh..Kak
Alvin mah gitu, dengerin dulu ngapa cerita Via…” ucap Sivia seraya cemberut,
Alvin mendecakkan lidahnya,
“ya
udah buruan cerita,,,” ucap Alvin kesal pada akhirnya, Sivia mengatur posisi
duduknya dengan manis dan memulai ceritanya yang Nampak tak penting,
“tau
gak Kak, semalem Via mimpi, kalo yang jadi Prince and Princess SMA PATUH KARYA
tahun 2012 itu Kak Alvin sama Via….” Mendengarkan cerita Sivia, Alvin langsung
tersentak,
“WHAT….??”
Sivia mengangguk pasti sambil menunjukan wajah bodohnya.
“ogaah
deh,,, lo aja sono sendiri,, ngapain ngajakin gue? Hiii….serem gue…”
“iihh…Kak
Alvin kok bilang serem, emangnya muka Via kaya’ hantu apa?”
“emang
muka lo kaya’ hantu….udah ah gue mau pergi..!!” baru saja Alvin meninggalkan
Sivia, ia malah kembali lagi, melihat Alvin yang kembali dengan pedenya Sivia
berkata,
“Kak
Alvin kok balik lagi?? Pasti mau ngajak Via ikutan sama Kak Alvin…”
“idih….pede
gila lo, orang gue balik buaaattt……” Alvin tak melanjutkan ucapannya, ia malah
merebut snack milik Sivia lalu berlari.
“Kak
Alvin Via ikuutttt….” Rengek Sivia.
^_^
Ify
masih focus dengan novelnya dan belum menyadari bahwa Sivia sudah tidak ada
disampingnya. Seseorang duduk disamping Ify lalu menggenggam tangan Ify dengan
erat namun lembut, Ify yang menyangka bahwa seseorang yang menggenggam
tangannya adalah Siviapun menarik tangannya seraya berdecak kesal, tanpa
melihat Rio, Ify berkata,
“Ck…lo
kenapa sih maen pegang-pegang aja? Udah deh lo gak usah ganggu gue….” Rio
tersenyum, ia menatap Ify lebih dalam lagi. Tak lama Rio kembali meraih tangan
Ify, kali ini Ify menghentikan bacaannya, ia menghela nafas panjang sejenak
lalu menghembuskan nafasnya dengan cepat, Ify mengalihkan perhatiannya dari
novelnya seraya berkata,
“Via,
lo apa-apaaaann…si…??” Ify tak melanjutkan ucapannya setelah ia melihat
ternyata Riolah yang ada disampingnya. Rio tertawa kecil, Ify menunduk, ia
menggaruk kepalanya yang tak gatal gara-gara malu,
“eh,Kak
Rio….?” Ucap Ify pelan, Rio mengambil novel yang ada ditangan Ify, Rio melihat
novel itu sejenak lalu kembali menatap Ify yang saat itu masih menunduk.
“Fy,
nanti kamu ke Prom ama siapa? Sama aku bisa?” Tanya Rio, pertanyaan Rio sukses
membuat Ify tercengang. Apa Ify tidak salah dengar? Seorang pangeran mengajak
seorang Cinderella datang ke Prom? Ify menggeleng,
“Kak…Kak
Rio gak salah ngajakin aku….?” Rio tersenyum. Ify memang berasal dari keluarga
yang sederhana, bahkan ia sekolah diPatuh Karya karena beasiswa,Ify
cantik,pintar dan berwawasan luas, dan hal itulah yang membuat Rio sejak awal
sudah menetapkan pilihan hatinya pada gadis sederhana itu,hanya saja Rio
membutuhkan banyak waktu untuk menyakini hatinya bahwa ia memang benar-benar
jatuh cinta pada Ify.
Menanggapi
pertanyaan Ify, Rio menggeleng, senyum itu tetap terlukis diwajah manisnya,
“ya
yakinlah….emang aku ada tampang becanda ya…?” Kali ini Ify memberanikan dirinya
untuk menatap Rio,
“tapi
aku gak punya gaun yang bagus Kak,,, dan aku gak mau malu-maluin Kakak diacara
Prom nanti, gak mau Kak…” jawab Ify seraya menggeleng, sekali lagi Rio
tersenyum,
“memangnya
kamu diharusin ya pake Gaun buat dateng diacara Prom…?” Ify menggeleng,
“ya
udah kalo gitu, apalagi yang harus kamu takutin…?”
“ta..tapi
Kak….??”
“gak
ada tapi-tapian, pokoknya besok malam, aku jemput kamu kerumah kamu, aku gak mau tau, kamu harus mau dateng sama
aku,okey, dan nanti pulang sekolah, aku mau nganter kamu pulang….satu lagi,
TIDAK ADA PENOLAKAN….” Sebelum Ify sempat membela diri, Rio bangkit dari
samping Ify, ia mengusap puncak kepala Ify beberapa kali lalu meninggalkan Ify.
^_^
Ify
sudah pulang bersama Rio beberapa menit yang lalu, sementara Sivia, ia harus
lebih sabar lagi karna nasib beruntung sedang tak berpihak padanya. Irsyad
sedang sibuk dikampusnya, jadi Irsyad tidak bisa menjemput adiknya yang paling
lemot sedunia itu.
Dihalte
depan sekolah, Sivia terlihat tengah menunggu bus bersama beberapa kawannya
yang lain, sesekali Sivia memanyunkan bibirnya karna Bus yang ia tunggu-tunggu
tak kunjung-kunjung datang. Sivia melipat kedua tangannya didada dan berusaha
untuk sabar.
Sementara
ditempat lain, Alvin terlihat sedang bertengkar dengan Shilla. Mereka
bertengkar didepan tempat parkiran, tepat saat Alvin akan mengantar Shilla
pulang.
“kamu
kenapa sih Shill belain cewek lemoot itu teruuuss?? Jangan-jangan kamu setuju
ya ngeliat aku pacaran sama dia??”
“bukan
gitu Vin, tapi kamu itu terlalu jutek sama Via, kan kesian dianya…”
“udah
ah Shill, aku jadi males sama kamu, kamu pacaran aja sekalian sama cewek lemot
itu….” Kesal Alvin. Shilla menggeleng berkali-kali, dan membiarkan Alvin
meninggalkannya. Dari kejauhan Cakka melambaikan tangannya untuk Shilla, Shilla
tersenyum lalu berlari kearah Cakka.
^_^
Sial
seribu sial, saat Alvin baru tiba digerbang tiba-tiba saja ban motornya pecah,
dan yang membuat Alvin semakin sial lagi, jarak bengkel dengan sekolahnya
lumayan jauh, dan bisa dikatakan sangat jauh. Belum reda kekesalan Alvin pada
Shilla, sekarang lagi-lagi ban sepeda motornya pecah. Alvin turun dari motornya
dan berusaha menghubungi Cakka, namun sayang Handphone Cakka sedang dalam
keadaan tidak aktif, tadi Rio sedang mengantar Ify, sementara Gabriel ia sudah
pulang lebih awal untuk mengikuti pertandingan basket antar sekolah.
Dengan
sangat terpaksa Alvin harus meninggalkan motornya disekolah, setelah meletakkan
motornya ditempat parkiran kembali,Alvinpun menelpon bengkel untuk memperbaiki
ban motornya yang pecah. Karna Alvin harus buru-buru jadi terpaksa untuk hari
ini saja, Alvin harus pulang menggunakan bus. Dalam hati Alvin sempat mengeluh,
tapi mau bagaimana lagi?
Bus
itu hampir berangkat, untung Alvin cepat-cepat menaikinya, jika tidak, mungkin
Alvin harus pulang dengan berjalan kaki, atau paling tidak ia harus menunggu
montir datang kesekolahnya untuk memperbaiki ban motornya yang pecah. Didalam
bus Alvin kembali kesal karna ia tidak mendapatkan tempat duduk, dengan
terpaksa Alvin harus berdiri.
“Kak
Alvin..?” ucap seorang yang cewek yang ada disamping Alvin. Cewek itu adalah
Sivia.Alvin berdiri tepat disamping tempat duduk yang Sivia duduki sekarang.
“lo
lagi,lo lagi….” Eluh Alvin, Sivia tersenyum lantas berdiri dari tempat
duduknya,
“kasian
Kak Alvin berdiri,, mending Kak Alvin aja deh yang duduk, biar Via yang
berdiri…” ucap Sivia pada Alvin seikhlas mungkin.Alvin sempat tidak percaya dengan
apa yang Sivia ucapkan.
“ayo
Kak Alvin duduk!” ucap Sivia sekali lagi, karna rasa gengsinya,Alvinpun
menggeleng, selain itu ia juga merasa tak enak, bukankah ia adalah cowok dan
Sivia adalah cewek, seharusnya Alvin yang lebih kuat berdiri daripada Sivia.
“gak
perlu! Gue kuat kok berdiri…” sinis Alvin. Tanpa Alvin duga, Sivia mendudukan
paksa Alvin ditempat duduknya, setelah berhasil mendudukan Alvin, Siviapun
tersenyum,
“nah
begini kan bagus….jadi Kak Alvin gak capek deh…” Alvin menatap Sivia heran.
Segitunya Via suka sama Alvin sampai-sampai ia rela memberikan tempat duduknya
untuk Alvin.
Tak
berapa lama Alvin duduk ditempat duduk Sivia, tiba-tiba saja Alvin melihat
seorang Nenek-nenek yang waktu itu berdiri, sama seperti Sivia, dengan sangat
ikhlas Alvin mengorbankan tempat duduknya demi nenek-nenek itu. Alvin bangkit
dari duduknya lalu menghampiri nenek-nenek itu.
“Nenek,
Nenek duduk aja ya…” Sivia semakin mengagumi Alvin setelah melihat ketulusan
Alvin pada Nenek-nenek itu. Nenek-nenek itu tersenyum puas, dan dengan senang
hati ia duduk ditempat duduk yang tadi Alvin duduki.
Sementara
Alvin ia beridiri disamping Sivia yang waktu itu juga sedang beridiri, Sivia
membisiki sesatu ditelinga Alvin,
“Kak
Alvin kok ngasih tempet duduk Kak Alvin ke Nenek-nenek itu, kan kasian kalo Kak
Alvin harus berdiri…”
“yang
lebih kasian itu nenek-nenek itu, jadi udah deh gak usah ngomong macem-macem
lagi…”
Sivia
mengikuti ucapan Alvin, yang ia lakukan sekarang hanya diam seraya memandangi
wajah tampan Alvin. Menyadari bahwa Sivia sedang menatapnya, Alvinpun berkata,
“kenapa
lo natap gue kaya’ gitu amat? Ada yang aneh ama muka gue??”
“Kak
Alvin itu ganteng, baik pula lagi,Via makin Fall in love nih sama Kak Alvin….”
Tanpa berfikir panjang,Alvin langsung menoyor kepala Sivia,
“ngomong
apaan sih lo…? Lo gak usah bilang kaya’ gitu lagi ke gue, mau semiliyar kali
lagi lo ngomong kaya’ gitu, gue gak akan suka sama lo, paham lo….??” Sivia
langsung cemberut,
“awas
loh! Ntar Kak Alvin kemakan sama omongan sendiri….” Ucap Sivia menakut-nakuti,
Alvin tertawa kecil, ia seolah meremehkan ucapan Sivia,
“gue
gak akan kemakan sama omongan sendiri…lagian gue mana mungkin bisa suka sama
lo, secara lo bukan tipe gue banget… udah gitu, lo LEMOT lagi….”
“terserah
Kak Alvin mau ngomong apa aja, yang penting Via suka sama Kak Alvin, weekkkss…”
ucap Sivia sambil menjulurkan lidahnya, Alvin langsung bergidik ngeri.
Bus
yang membawa Alvin dan Sivia juga penumpang yang lain tiba-tiba saja mengerem
secara mendadak, hal itu membuat Alvin
yang berdiri disamping Siviapun tanpa sengaja mencium pipi Sivia, Sivia
tercengang, benarkah Alvin menciumnya??
BERSAMBUNG….


0 comments:
Post a Comment