“ma..maaf
Kak…Via gak sengaja….!” Ucap Sivia seraya bangkit dari duduknya lalu mengelap
baju Alvin menggunakan sebuah sapu tangan. Alvin menepis tangan Sivia dengan
kasar,
“sudah…sudah…
lo kenapa sih? Dari tadi pagi Cuma bisa nyari masalah sama gue, kenapa sih? Lo
dendem sama gue?apa sebelumnya kita pernah ketemu dan elo ada dendem ama gue??”
cerocos Alvin dihadapan Sivia yang waktu itu hanya bisa menunduk saja. Ify
menoel pundak Sivia, dengan pelan ia berbisik,
“elo
sih? Udah gue bilangin juga….” Sivia tak bergeming. Alvin serta merta membuka
seragam osisnya, dan kini Alvin hanya menggunakan kaos oblong berwarna putih
dan bertuliskan huruf A yang sangat besar dan mencolok pada bagian dadanya.
Alvin melempar baju seragamnya pada Sivia, dengan sigap Sivia menangkap baju
Alvin.
“dasar
trouble maker lo….” Itulah ucapan terakhir Alvin sebelum ia dan kawan-kawannya
meninggalkan kantin. Tanpa Sivia sadari, salah seorang teman Alvin,Gabriel,
terus saja menatapnya seraya tersenyum sendiri.
Beberapa saat setelah Alvin dan
kawan-kawannya pergi….
“Fy,
itu Kak Alvin bener-bener marah ya sama Via…?” Mendengarkan pertanyaan Sivia,
Ify menggeleng berkali-kali seraya mendecakkan lidahnya,
“lo
masih bisa nanya kaya’ gitu? Ya jelaslah Kak Alvin marah sama lo… lagian elonya
sih, nyebelin banget…”
“tapi
Via kan Cuma mau minta maaf sama Kak Alvin, emangnya salah ya….?”
“niat
lo buat minta maaf ke Kak Alvin sama sekali gak salah, tapi cara lo yang
salah,, ngapain lo pake acara numpahin bakso lo dibaju Kak Alvin…?”
“Via
kan gak sengaja….”
“tapi
buktinya sekarang Kak Alvin semakin marah kan sama lo? Makin enek kan ngeliat
lo…?” ucap Ify sedikit emosi,
“Ify,
kok jadi ikut-ikutan marah sama Via….?Via kan takutt…”
“isshhh…”
kesal Ify hampir menoyor kepala Sivia.
^_^
Dear Diary;
Tadi
Via ketemu ama kakak senior yang super ganteng,,, dan pas pertama ketemu, Via
ngerasa udah suka ama dia, tapiii….Via malah bikin dia kesel, malah bikin dia
marah ama Via dan mungkin malah bikin dia benci sama Via…. Hmmmm…
Gak
lama Via tau kalo namanya tu “KAK ALVIN”,,,, hmmmm… nama yang sangat indah,
orangnya juga ganteng…
Tadi
saking marahnya, Kak Alvin sampe ngelempar sergam OSISnya ke Via, tapi sumpah
ya,, wangi parfumnya itu haruuummm banget, menyejukan…
Kalo
Via minta maaf lagi sama Kak Alvin, kira-kira dimaafin gak ya…?? Pokoknya,
besok Via harus minta maaf lagi sama Kak Alvin, HARUS….
Sivia.A
Sivia
menutup buku hariannya lalu merebahkan tubuhnya diatas kasur. Sebelum
memejamkan mata, Sivia sempat mengingat-ingat wajah Alvin, wajah yang sudah
berhasil membuatnya merasakan bagaimana itu cinta pertama. Sesekali Sivia
tersenyum sendiri, wajah Alvin terus terlintas saat ia memejamkan mata sehingga
Sivia susah untuk tidur.
Karna
Sivia tidak bisa juga tidur, akhirnya ia pun bangkit dari tidurnya, matanya
tertuju pada baju seragam Alvin yang ia gantung dilemarinya. Tadi siang Sivia
sudah meminta Bi Ijah untuk mencuci baju Alvin sebersih mungkin, setelah baju
itu kering Siviapun menyetrikanya sendiri dengan ketelitian tingkat tinggi.
Ketika Mama bertanya itu baju siapa, Sivia hanya tersenyum.
Sivia
berjalan kearah lemari lalu mengambil baju Alvin. Sivia kembali tersenyum saat
memandangi baju seragam Osis milik Alvin.
“OSIS….??kaya’nya
seru tuh kalo Via ikut…”
^_^
Pagipun
tiba, pagi ini Sivia bangun lebih awal dari biasanya. Setelah semuanya siap,
Siviapun turun kelantai bawah untuk sarapan pagi bersama Mama nya dan Kakaknya.
Sivia duduk disamping Irsyad.
“Kak,
Via berangkat sama Kak Irsyad ya…?” kata Sivia pada Irsyad seraya mengoleskan
selai cokelat pada rotinya.
“ogah…lo
berangkat aja sendiri,, lo kan udah SMA, masa’ mau ngekooor aja sama gue…?”
“Irsyad
jangan gitu dong sama adek kamu..” bela Mama, Sivia langsung menjulurkan
lidahnya saat melihat Irsyad, Sivia merasa menang karna sudah dibela Mama.
“iya..ya…Mama
terus-terusan aja belain dan manjain Via…. Sekarang liat aja, makin hari Via
bukannya makin dewasa ehh malah makin kekanak-kanankan….” Kata Irsyad yang
langsung disambut oleh rengekan dari Sivia.
“tuuh
kan Mama,,,, Kak Irsyad gitu sih ama Via….”
“tuhh
kan Mama,,,,Via masiiih aja manja…”
“KAKAK….”
“ADEK….”
Sebelum
perseteruan antara Sivia dan Irsyad semakin menjadi, Mamapun segera melerai
mereka.
“sudah,
sudah kalian itu kenapa sih? Berantem terus kerjaannya, sekarang mendingan
habisin sarapan kalian terus berangkat…”
“Kak
Irsyad sih ah…”
“elo
tuh….”
“Irsyad,,,Sivia,
habisin sarapan kalian Mama bilang….”
^_^
“eh
Yo, baju Osis lo ada 2 kan…??” Tanya Alvin pada Rio melalui telfon sembari
sibuk mengobrak-abrik lemarinya.
“haa..??
sejak kapan gue punya baju Osis 2? Emangnya baju Osis lo kemana…?”
“kan
kemarin gue lempar ke cewek lemot itu….” Tawa Rio mulai terdengar, Alvin
langsung cemberut,
“hahahaha….”
“kenapa
lo ketawa? Ada yang lucu..?”
“gak
ada…hahaha… lagian elo sih, sok-sokkan ngelempar baju Osis lo kecewek lemot
itu, sekarang elo juga kan yang rugi akhirnya…”
“lo
gak usah ceramahin gue deh,, kalo emang gak punya ya udah,,, banyak bacot lu…”
kesal Alvin lalu menutup telfonnya. Alvinpun melempar handphonenya kekasurnya
lalu kembali mengobrak-abrik lemarinya berharap ia bisa menemukan baju Osisnya
yang satu lagi.
^_^
Alvin
pasrah! Ia tak menemukan seragam Osisnya yang satu lagi. Pak Duta pasti akan
menghukumnya gara-gara tidak menggunakan seragam Osis, apalagi Alvin adalah
seorang ketua Osis, hal itu tentu akan membuatnya semakin diberatkan.
Alvin
memarkirkan motornya, sebelum keluar dari tempat parkir,Alvin malah diam
melamun sambil duduk diatas motornya. Alvin sedang berfikir, alasan apa yang akan
ia berikan pada Pak Duta sang Pembina Osis.
“ngomong
apa gue sama Pak Duta entar?? Ini semua gara-gara cewek lemot kemaren….gue berharap gak pernah
ketemu lagi sama tuh cewek yang lemotnya minta ampun…”
Alvin
mendecakkan lidahnya, lalu dengan berat hati iapun melangkahkan kakinya keluar
dari tempat parkir. Baru saja Alvin keluar dari tempat parkir, tiba-tiba saja….
“Kak
Alvinnn….” Alvin menghentikan langkahnya. Sivia menghampirinya dengan nafas
yang tersengal,Alvin menatap Sivia heran,
“mau
ngapain lagi lo…?” Tanya Alvin galak,
“hoosh..hoosh..hooshh…belom
juga apa-apa Via udah digalakin…” jawab Sivia dengan nafas yang ngos-ngosan.
“ya
terus lo mau apa….?” Tanya Alvin lagi, kali ini dengan nada lebih lembut. Sivia
tersenyum, Ia membuka tas karungnya lalu mengambil seragam Osis milik Alvin.
Sivia menyerahkan seragam itu pada pemiliknya,
“ini
baju Kak Alvin, udah Via cuci kok, sekalian ini bekel makan siang Via buat Kak
Alvin aja….” Sivia juga menyerahkan sekotak nasi gorengnya untuk Alvin. Alvin menatap
Sivia penuh Tanya,
“apaan
nih…?” Tanya Alvin lagi dan lagi seraya menunjukan kotak makanan itu dihadapan
Sivia,
“duuh,
Kakak ini kenapa sih? Dari tadi Cuma bisa nanyaaa doang, gak bosen apa…? Itu
udah jelas-jelas kotak makanan, masiih aja nanya itu apaan… dasar Kak Alvin
LEMOT….” Alvin tercengang. Sivia mengatakannya lemot?? Apa gak salah??
“nenek-nenek
peyot juga tau kalo ini kotak makanan,, tapi buat apa lo kasih ke gue…?”
“NENEK
PEYOT?? Emangnya tadi Via bilang mau ngasih kotak makanan ini ke nenek peyot??
Perasaan gak pernah deh…”
“iiihhhh…
otak lo kok gak nge-loading-loading sih dari kemaren..? otak lo banyak virusnya
ya? Otak lo belom diinstal ulang ya…??” Alvin mulai kesal. Dengan tampang yang
tetap polos Sivia berkata,
“emangnya
otak Via ini computer apa?? Untung aja Kak Alvin ganteng…”
“maksud
lo…?”
“ya
kalo Kak Alvin jelek kan gak lucu… masa’ muka udah jelek terus otak lemot…?”
“ELOOO….”
“tuu
kan marah-marah lagi…Kak Alvin emang lemot kok, masa’ Cuma ngebedain otak Via
sama computer aja gak bisa?? Ckck…parah..jangan-jangan IQ nya Kakak jongkok
ya…?”
“sialan
lo ngatain IQ gue jongkok,,,, IQ lo tuh
yang tiarap…!!!”
“baru
denger kalo IQ bisa tiarap….” Alvin menghela nafas panjang, ia menyerahkan
kembali kotak makanan itu pada Sivia,
“ambil
nih kotak makanan lo…gue gak butuh..” ketika Alvin berjalan, Siviapun
mengikutinya,
“tapi
makanan ini sebagai tanda permintaan maaf Via sama Kak Alvin…” kata Sivia
seraya berjalan mengikuti Alvin yang ada disampingnya.
“udah..udah…lo
gak usah pake minta maaf deh,,, enek tau gak gue ngeliat lo, jauh-jauh sono….
Hus,hus….” Usir Alvin sembari memasang seragam Osisnya.
“yaaahh…Kak
Alvin kok gitu sih??” ucap Sivia dengan nada kecewa,
“suka-suka
gue….” Alvin semakin mempercepat langkahnya lalu meninggalkan Sivia tanpa
mengucapkan terimakasih terlebih dahulu pada Sivia karna Sivia sudah
mengembalikan seragam Osisnya.
^_^
“LANGKAH
TEGAK MAJUUUU…..JALAN…” Alvin memberi aba-aba pada adik kelasnya saat latihan
baris-berbaris. Diantara keempat adik kelasnya yang ia bimbing terlihat Sivia
yang Nampak kewalahan menerima aba-aba dari Alvin.
“BALIK
KANAAANNNNN……GERAK….” Keempat adik kelas Alvinpun balik kanan dengan cara yang
benar, tapi Sivia malah melakukannya dengan cara yang salah, Alvin mendekati
Sivia dan mulai marah-marah.
“elo
itu gimana sih?? Masa’ balik kanan aja lo gak bisa…?”
“ya
mau gimana lagi? Via kan gak bisa balik
kanan? Masa’ mau dipaksain…? Jawab Sivia sesantai mungkin. Alvin menggeleng
berkali-kali lantas berkata,
“sekarang
liat kaki gue! Dan ikutin gue!” Sivia mengangguk.
“kaki
kiri kedepan, kaki kanan kesamping, dan tutup….” Ucap Alvin seraya memberi
contoh pada Sivia, tapi Sivia tetap saja tak bisa. Meski hampir 5 kali
mengulang Sivia tetap saja tidak bisa, Alvin kembali mengoceh,
“sumpah,
putus asa gue sama elo….belajar balik kanan aja susaah banget…”
“emangnya
balik kanannya gak bisa diganti ama balik kiri aja ya Kak…?” Tanya Sivia dengan
tampang bodoh,
“balik
kiri mana ada dongooo….??” Kesal Alvin,
“seharusnya
kalo balik kanan ada, balik kiri juga ada dong…”
“itu
kan seharusnya, tapi ini gak seharusnya…”
“kalo
ini gak seharusnya, ngapain harus dilatih…??”
Saat
itu datanglah Gabriel, ia menghampiri Alvin yang waktu itu hampir putus asa
menghadapi kelemotan Sivia.
“weiitz
bro, lo jangan marah-marah dong… cewek cantik gini lo marah-marahin…”
“bagus
lo ada disini! Sekarang lo urus nih cewek lemot karna gue udah nyerah…”
“tapi
gue kan pegang kelompok teratai putih..”
“kita
tukeran aja deh, gue gak sanggup disini…”
“ya
udah deh…terserah lo…” setelah menyerahkan Sivia begitu saja pada Gabriel,
Alvin langsung pergi, ada sedikit rasa kecewa terbesit dibenak Sivia.
Gabriel
tersenyum sangat manis seraya melambaikan tangannya untuk Sivia, tapi Sivia
malah biasa-biasa saja dan tidak menunjukan reaksi apapun.
“hay
cantik…” sapa Gabriel,
“hay
Kakak item…” balas Sivia. Gabriel terkejut tapi kemudian ia berkata,
“gak
apa-apa item, yang penting item manis…iya kan…? Ahahay…”
“mana
ada orang yang item-manis?? Emangnya kecap…?” Tanya Sivia polos. Gabriel sudah
tidak tau harus berkata apa lagi pada Sivia yang polos, tapi justru kepolosan
Sivia itulah yang membuat Gabriel diam-diam menyukai Sivia.
^_^
Saat
sedang sibuk melatih kelompok teratai putih latihan baris-berbaris, tiba-tiba
saja ada seseorang yang menutup kedua mata Alvin dari belakang, Alvin yang
terkejut langsung berkata,
“siapa
sih…?”
“coba
tebak siapa? Hihihi….” Suara lembut itu sudah tidak asing lagi terdengar
ditelinga Alvin, suara lembut yang hampir selama 3 minggu terakhir ini tak
pernah ia dengar. Alvin tersenyum, ia meraih tangan sang gadis lalu dengan
perlahan melepas tangan sang gadis dari wajahnya,Alvin membalik badannya dan
melihat sosok gadis cantik yang selama 3 minggu terakhir ini sangat ia
rindukan,
“SHILLA…..”
pekik Alvin dengan nada antusias.
BERSAMBUNG…..


0 comments:
Post a Comment