Wednesday, May 22, 2013

0

MY DIARY Part 16 Bag.1



 Rio menepuk pelan keningnya lantas bergumam,
            “runyam deh masalahnya…!”
            “Kak Alvin bener-bener jahat tau gak? Dan kali ini, untuk yang kesekian kalinya, Kak Alvin nyakitin Via lagi, dan apa Kak Alvin tau, ini adalah luka terparah dan tersakit yang pernah Kak Alvin toreh dihati Via… MAKASIH…!!” Siviapun membuang kotak makanan yang sedari tadi ia bawa ia dihadapan Alvin. Alvin terlihat bingung, namun saat ini ia juga tidak bisa melakukan apa-apa. Alvin menatap kotak makanan yang baru saja Sivia buang.
            “parah lo Vin! Lo bisa kan sebelum ngomong itu difikir-fikir dulu? Sekarang kalo udah kaya’ gini gimana coba? Lo Cuma bisa diem aja?” kata Rio emosi. Belum reda emosi Rio pada Alvin, secara tiba-tiba Gabriel melayangkan sebuah pukulan keras tepat diwajah Alvin.
            Shilla yang merasa shock atas perlakukan Gabriel terhadap Alvin langsung melerai mereka berdua,
            “Iel lo apa-apaan sih? Norak tau gak lo…!”
            “udah deh Shill, lo gak usah ikut campur, ini urusan gue sama COWOK MUNAFIK ini…” ucap Gabriel memberi penekanan pada kata Cowok Munafik. Alvin tak melawan sedikitpun dan tidak membantah ucapan Gabriel sama sekali, Alvin sadar bahwa apa yang Gabriel ucapkan adalah sebuah kenyataan, kenyataan yang tak bisa ia hindari. Alvin memang cowok munafik yang selalu bersembunyi dibalik rasa gengsinya.
            “katanya lo orang pinter, tapi orang pinter kelakuannya udah kaya’ orang yang gak pernah makan bangku sekolahan, mau lo apa sih Vin…? Kenapa kaya’nya lo seneeng banget nyakitin Via? Dia ada salah apa Vin sama Lo…? SEKALI LAGI LO NYAKITIN DIA, GUE GAK AKAN SEGAN-SEGAN BUAT REBUT DIA DARI LO, LO ITU GAK PANTES BUAT VIA TAU GAK…?” Hardik Gabriel. Alvin yang sedari tadi bungkam, akhirnya menunduk lantas mengambil kotak makanan yang sudah dibuang oleh Sivia, dan tanpa menghiraukan siapapun, Alvin berlari keluar kantin untuk mengejar Sivia.
            Saat Gabriel berniat akan mengikuti Alvin, Rio langsung menahannya dengan buru-buru menghalangi jalannya.
            “Yo, biarin gue lewat! Gue mau liat Alvin mau ngapain Via lagi!”
            “udah deh Yel, lo yang harusnya gak usah ikut campur, biarkan mereka selesaikan masalah mereka dengan cara mereka dan tanpa campur tangan dari kita…”
            “tapi Yo….”
            “Gabriel Stevent Damanik, kali ini lo harus dengerin gue!” ucap Rio dengan tegas. Gabriel akhirnya mengalah juga.

^_^

            Alvin berusaha mencari keberadaan Sivia, tapi hingga jauh waktu ia tak juga menemukan sosok Sivia. Rasa penyesalan bercampur dengan rasa kesal terhadap dirinya sendiri semakin memenuhi benak Alvin. Sungguh saat ini ia benar-benar ingin segera menemui Sivia dan meminta maaf atas semua ucapannya.
            Alvin tak menyerah, ia masih mencari Sivia seraya membawa kotak makanan milik Sivia. Alvin mencari Sivia hampir diseluruh penjuru sekolah, tapi ia tak juga menemukan Sivia. Tak lama bel tanda masukpun berbunyi, saat itulah Alvin langsung mengerang. Kenapa juga bel harus berbunyi? Alvin kan belum menemukan Sivia. Alvin tidak melanjutkan pencariannya. Ia memutuskan untuk masuk kelas saja.
            “gimana? Lo udah temuin Via..? lo udah minta maaf?” Tanya Rio pada Alvin yang baru saja memasuki kelas. Sebelum menjawab pertanyaan Rio, Alvin menjatuhkan tubuhnya dikursi. Raut putus asa dan raut penyesalan yang teramat sangat mewarnai wajah tampan Alvin. Secara perlahan Alvin menggeleng lantas berkata,
            “belom Yo….” Mendengar jawaban Alvin, Rio langsung menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong. Rio menghela nafas panjang.

^_^

            Sekitar 15 menit pelajaran Matematika berlangsung, Sivia memasuki kelas. Ify menatap Sivia heran. Kemana saja anak itu? Fikir Ify.
            “darimana saja kamu?” Tanya Pak Bambang.
            “maaf Pak saya telat…” jawab Sivia tanpa semangat.
            “saya Tanya kamu darimana saja, kenapa malah minta maaf…?” kali ini Sivia terdiam, ia tak menjawab pertanyaan dari Pak Bambang.
            “sekarang kamu keluar dari kelas saya! Berdiri dibawah tiang bendera lalu hormat bendera sampe jam saya selesai!” tanpa melakukan perlawanan sedikitpun dan tanpa melakukan pembelaan pada dirinya sendiri Sivia mengikuti perintah Pak Bambang.
            Ia keluar dari kelas dan berjalan kelapangan upacara untuk melaksanakan hukumannya. Saat tiba ditengah lapangan Sivia langsung melakukan hormat bendera. Siviapun menjadi pusat perhatian Semua siswa-siswi yang saat itu sedang berada diluar kelas. Beberapa dari siswa-siswi itu menertawai Sivia, bahkan ada juga diantara mereka yang menertawai Sivia secara terang-terangan.
            Sivia tak peduli, ia tetap melaksanakan hukumannya. Rasa malunya saat dihukum tak sebanding dengan sakit hatinya terhadap Alvin.
            “hahahaha…. Itu kan si cewek lemot dari kelas X.2, dia pasti dihukum karna kelemotannya…” cibir seorang siswa dan langsung disambut oleh tawa beberapa siswa yang lainnya. Sivia memejamkan matanya, secara perlahan, butiran-butiran bening itu terjatuh dari kedua pelupuk matanya.
            Dari kelasnya yang terletak dilantai 3, Rio melihat Sivia yang sedang dihukum. Rio segera menepuk pundak Alvin yang saat itu sedang focus dengan catatan Biology nya.
            “Vin…Vin…” panggil Rio,
            “apa?” jawab Alvin cuek tanpa sedikitpun melihat kearah Rio,
            “lo liat deh!” kata Rio seraya menunjuk kearah luar jendela.
            “emang apaan?” Tanya Alvin lagi yang masih tetap focus mencatat,
            “itu coba lo liat, Via dihukum…!” mendengar nama Sivia dibawa-bawa Alvin langsung melihat keluar jendela. Alvin tersentak ketika mendapati Sivia tengah melakukan hormat bendera. Alvin membanting pulpennya lalu berlari kearah jendela. Rio dan Gabriel mengikutinya. Tak lama setelah memperhatikan Sivia dari jendela, Alvinpun bergegas keluar dari kelas untuk menyusul Sivia. Gabriel juga yang merasa perlu menyusul Sivia langsung ditahan oleh Rio,
            “lo mau kemana?” Tanya Rio,
            “gue mau lihat Via….”
            “udah deh, biar Alvin aja yang lihat…”

^_^
            “BUBAR LO SEMUA!! NGAPAIN LO PADA DISINI??” Teriak Alvin pada semua siswa-siswi yang saat itu tengah menertawai Sivia. Semua yang tadinya menertawai Sivia dan mencemo’oh Sivia habis-habisan langsung bungkam setelah kedatangan Alvin. Disekolah Alvin memang sangat disegani oleh kawan-kawannya, ia adalah seorang ketua osis yang tegas dan mampu mengatur kawan-kawannya.
            Mendengar suara Alvin, Sivia tak sedikitpun bergeming. Yang ia rasa sekarang, kepalanya malah pusing, pandangannya mulai berkunang-kunang. Mungkin karna terlalu lama berdiri ditengah cuaca yang begitu panas, ditambah lagi, pagi tadi Sivia belum sempat sarapan karna takut telat. Baru saja Alvin menghampiri Sivia, tiba-tiba saja Sivia jatuh pingsan tak sadarkan diri tepat dihadapan Alvin, sebisa mungkin Alvin berusaha menahan tubuh lemah Sivia. Alvin melihat wajah Sivia yang saat itu Nampak sangat pucat, keringat bercucuran diseluruh tubuh Sivia.
            “Via…? Via kenapa? Bangun Vi..! Viaa…” kata Alvin seraya menampar-nampar pelan wajah Sivia dengan lembut. Tanpa berfikir panjang lagi, Alvin langsung mengangkat tubuh Sivia dan membawanya ke UKS.
            ‘maafin Kak Alvin, Vi, maafin karna Kak Alvin Cuma bisa nyakitin Via, maafin juga karna Kak Alvin Cuma bisa ngasih luka buat Via…’ batin Alvin seraya berjalan keruang UKS.

^_^

            Alvin menatap wajah polos Sivia yang saat itu masih belum sadarkan diri. Sudah hampir setengah jam Alvin menatapi wajah Sivia, namun tak ada sedikitpun rasa jenuh dihatinya. Ia malah sangat menikmati detik-detik yang terlewati saat ia menatap wajah si Lemot itu. Alvin meraih tangan Sivia lantas menggenggamnya seerat mungkin. Tangan yang satunya lagi Alvin gunakan untuk membelai lembut rambut Sivia.
            Alvin mengecup hangat tangan Sivia yang saat itu berada dalam genggamannya dan setelah itu Alvinpun berkata,
            “Maafin Kak Alvin ya Vi…? Kak Alvin tahu, kata maaf aja gak akan bisa nebus semua kesalahan Kak Alvin sama Via, tapi saat ini Cuma itu yang bisa Kak Alvin lakukan…” Alvin bangkit dari kursinya sejenak lantas mengecup kening Sivia, setelah melakukan itu Alvinpun mengusap puncak kepala Sivia,
            “Kak Alvin janji, akan berusaha bahagiain Via, apapun akan Kak Alvin lakukan untuk ngembaliin keceriaan Via lagi…” tak lama setelah Alvin berkata seperti itu, Siviapun tersadar, ia membuka kedua matanya secara perlahan lantas berkata,
            “Via lagi dimana?”
            “Via…” panggil Alvin dengan antusias seraya mendekatkan wajahnya dengan wajah Sivia tanpa melepaskan tangan Sivia dari genggamannya.
            “Via sekarang lagi di UKS! Tadi Via pingsan…” jawab Alvin dengan pelan. Sivia menatap wajah Alvin yang kala itu hanya berjarak beberapa centi saja dari wajahnya. Bahkan saking dekatnya jarak wajah mereka, hidung mereka nyaris bersentuhan. Kini kedua bola mata mereka bertemu, mereka saling pandang tanpa bicara.
            Setelah sekitar 10 detik berada dalam posisi sedekat itu, Sivia akhirnya tersadar, ia menggelengkan kepalanya beberapa kali lalu melepaskan tangannya dari genggaman Alvin. Alvin bersikeras, ia enggan melepaskan tangan Sivia,
            “Kak Alvin lepas!” kata Sivia dengan suara sedikit bergetar. Alvin menggeleng sambil menatap Sivia lurus. Kali ini Sivia menoleh kearah lain,
            “ngapain Kak Alvin disini?” Tanya Sivia pada akhirnya,
            “Kak Alvin disini mau minta maaf sama Via!”
            “minta maaf buat apa?” Tanya Sivia dingin,
            “buat semua kesalahan yang udah Kak Alvin lakukan!”
            “Via udah terlanjur sakit hati sama Kak Alvin, butuh waktu lama buat bisa maafin Kak Alvin…”
            “selama apapun waktunya, Kak Alvin tunggu”
            “butuh waktu seabad!” jawab Sivia polos,
            “mau sepuluh ribu abad pun Kak Alvin tunggu…”
            “siapa bilang sepuluh ribu abad? Satu juta abad lagi baru Via mau maafin Kak Alvin”
            “sepuluh juta abad pun Kak Alvin gak peduli!”
            “satu milyar ab…” ucapan Sivia terpotong saat bibir Alvin menyentuh lembut bibirnya. Sivia shock. 3 detik kemudian, Siviapun mendorong tubuh Alvin hingga jauh darinya. Sivia bangkit dari tidurnya lantas berkata,
            “Kak Alvin apa-apaan sih? Tega banget ngelakuin itu sama Via…”
            “Via….”
            “sekarang Kak Alvin pergi dari sini! Biarin Via sendiri!” hardik Sivia. Alvin menggeleng lalu kembali mendekati Sivia,
            “PERGI VIA BILANG, PERGIIIIII….” Hardik Sivia semakin keras. Bukannya mengikuti ucapan Sivia untuk segera pergi Alvin malah memeluk Sivia. Sivia berusaha keras untuk bisa terlepas dari pelukan Alvin, tapi semakin keras usaha Sivia, Alvin malah semakin erat memeluknya.
            “kalo Kak Alvin gak mau pergi, biarin Via aja yang pergi! Lepasin Via Kak, lepasss…” pinta Sivia dengan suara memohon.
            “gak akan! Gak akan pernah, seenggaknya sampe Via mau maafin Kak Alvin…” lirih Alvin,
            “tapi Via gak akan bisa maafin Kak Alvin setelah apa yang Kak Alvin lakuin ke Via selama ini…” Alvin diam dan tidak membalas ucapan Sivia. Sivia yang sudah mulai putus asa akhirnya menyerah dalam pelukan Alvin. Secara perlahan dan ragu-ragu Sivia membalas pelukan Alvin.

^_^

            Pagi itu Sivia Nampak terburu-buru. Saat waktu sudah menunjukan 06.45 Sivia semakin terlihat terburu-buru. Dengan gerak cepat ia membereskan buku-bukunya dan memasukannya kedalam tas.
            “VIA BURUAAANNN!! LAMA AMAT SIH LO??” Teriak Kak Irsyad dari lantai bawah.
            “IYA KAK, INI JUGA UDAH MAU TURUN….” Jawab Sivia. Saat Sivia akan melangkah keluar, tanpa sengaja Sivia menjatuhkan Diary nya yang saat itu berada dimeja lampunya. Sivia menghentikan langkahnya setelah mengetahui Diary nya terjatuh. Diary Sivia terbuka pas dihalaman terakhir, halaman yang pernah Alvin tulis dulu. Sivia heran, perasaan dia tidak pernah menulis dihalaman terakhir, lantas siapakah yang menulis halaman terakhir Diary nya? Sivia mengurungkan niatnya untuk keluar dari kamar. Secara perlahan ia terduduk dan mengambil Diary nya yang terjatuh.
            “ini siapa yang nulis?” Tanya Sivia pada dirinya sendiri lantas mulai membaca tulisan Alvin yang berisi…..

                                                            Dear: Princess Lemotku….





                     Bersambung…..

0 comments:

Post a Comment