Rio menepuk pelan keningnya lantas bergumam,
“runyam
deh masalahnya…!”
“Kak
Alvin bener-bener jahat tau gak? Dan kali ini, untuk yang kesekian kalinya, Kak
Alvin nyakitin Via lagi, dan apa Kak Alvin tau, ini adalah luka terparah dan
tersakit yang pernah Kak Alvin toreh dihati Via… MAKASIH…!!” Siviapun membuang
kotak makanan yang sedari tadi ia bawa ia dihadapan Alvin. Alvin terlihat
bingung, namun saat ini ia juga tidak bisa melakukan apa-apa. Alvin menatap
kotak makanan yang baru saja Sivia buang.
“parah
lo Vin! Lo bisa kan sebelum ngomong itu difikir-fikir dulu? Sekarang kalo udah
kaya’ gini gimana coba? Lo Cuma bisa diem aja?” kata Rio emosi. Belum reda
emosi Rio pada Alvin, secara tiba-tiba Gabriel melayangkan sebuah pukulan keras
tepat diwajah Alvin.
Shilla
yang merasa shock atas perlakukan Gabriel terhadap Alvin langsung melerai
mereka berdua,
“Iel
lo apa-apaan sih? Norak tau gak lo…!”
“udah
deh Shill, lo gak usah ikut campur, ini urusan gue sama COWOK MUNAFIK ini…”
ucap Gabriel memberi penekanan pada kata Cowok Munafik. Alvin tak melawan
sedikitpun dan tidak membantah ucapan Gabriel sama sekali, Alvin sadar bahwa
apa yang Gabriel ucapkan adalah sebuah kenyataan, kenyataan yang tak bisa ia
hindari. Alvin memang cowok munafik yang selalu bersembunyi dibalik rasa
gengsinya.
“katanya
lo orang pinter, tapi orang pinter kelakuannya udah kaya’ orang yang gak pernah
makan bangku sekolahan, mau lo apa sih Vin…? Kenapa kaya’nya lo seneeng banget
nyakitin Via? Dia ada salah apa Vin sama Lo…? SEKALI LAGI LO NYAKITIN DIA, GUE
GAK AKAN SEGAN-SEGAN BUAT REBUT DIA DARI LO, LO ITU GAK PANTES BUAT VIA TAU
GAK…?” Hardik Gabriel. Alvin yang sedari tadi bungkam, akhirnya menunduk lantas
mengambil kotak makanan yang sudah dibuang oleh Sivia, dan tanpa menghiraukan
siapapun, Alvin berlari keluar kantin untuk mengejar Sivia.
Saat
Gabriel berniat akan mengikuti Alvin, Rio langsung menahannya dengan buru-buru
menghalangi jalannya.
“Yo,
biarin gue lewat! Gue mau liat Alvin mau ngapain Via lagi!”
“udah
deh Yel, lo yang harusnya gak usah ikut campur, biarkan mereka selesaikan
masalah mereka dengan cara mereka dan tanpa campur tangan dari kita…”
“tapi
Yo….”
“Gabriel
Stevent Damanik, kali ini lo harus dengerin gue!” ucap Rio dengan tegas.
Gabriel akhirnya mengalah juga.
^_^
Alvin
berusaha mencari keberadaan Sivia, tapi hingga jauh waktu ia tak juga menemukan
sosok Sivia. Rasa penyesalan bercampur dengan rasa kesal terhadap dirinya
sendiri semakin memenuhi benak Alvin. Sungguh saat ini ia benar-benar ingin
segera menemui Sivia dan meminta maaf atas semua ucapannya.
Alvin
tak menyerah, ia masih mencari Sivia seraya membawa kotak makanan milik Sivia.
Alvin mencari Sivia hampir diseluruh penjuru sekolah, tapi ia tak juga
menemukan Sivia. Tak lama bel tanda masukpun berbunyi, saat itulah Alvin
langsung mengerang. Kenapa juga bel harus berbunyi? Alvin kan belum menemukan
Sivia. Alvin tidak melanjutkan pencariannya. Ia memutuskan untuk masuk kelas
saja.
“gimana?
Lo udah temuin Via..? lo udah minta maaf?” Tanya Rio pada Alvin yang baru saja
memasuki kelas. Sebelum menjawab pertanyaan Rio, Alvin menjatuhkan tubuhnya
dikursi. Raut putus asa dan raut penyesalan yang teramat sangat mewarnai wajah
tampan Alvin. Secara perlahan Alvin menggeleng lantas berkata,
“belom
Yo….” Mendengar jawaban Alvin, Rio langsung menatap lurus kedepan dengan
tatapan kosong. Rio menghela nafas panjang.
^_^
Sekitar
15 menit pelajaran Matematika berlangsung, Sivia memasuki kelas. Ify menatap
Sivia heran. Kemana saja anak itu? Fikir Ify.
“darimana
saja kamu?” Tanya Pak Bambang.
“maaf
Pak saya telat…” jawab Sivia tanpa semangat.
“saya
Tanya kamu darimana saja, kenapa malah minta maaf…?” kali ini Sivia terdiam, ia
tak menjawab pertanyaan dari Pak Bambang.
“sekarang
kamu keluar dari kelas saya! Berdiri dibawah tiang bendera lalu hormat bendera
sampe jam saya selesai!” tanpa melakukan perlawanan sedikitpun dan tanpa
melakukan pembelaan pada dirinya sendiri Sivia mengikuti perintah Pak Bambang.
Ia
keluar dari kelas dan berjalan kelapangan upacara untuk melaksanakan
hukumannya. Saat tiba ditengah lapangan Sivia langsung melakukan hormat
bendera. Siviapun menjadi pusat perhatian Semua siswa-siswi yang saat itu
sedang berada diluar kelas. Beberapa dari siswa-siswi itu menertawai Sivia,
bahkan ada juga diantara mereka yang menertawai Sivia secara terang-terangan.
Sivia
tak peduli, ia tetap melaksanakan hukumannya. Rasa malunya saat dihukum tak
sebanding dengan sakit hatinya terhadap Alvin.
“hahahaha….
Itu kan si cewek lemot dari kelas X.2, dia pasti dihukum karna kelemotannya…”
cibir seorang siswa dan langsung disambut oleh tawa beberapa siswa yang
lainnya. Sivia memejamkan matanya, secara perlahan, butiran-butiran bening itu
terjatuh dari kedua pelupuk matanya.
Dari
kelasnya yang terletak dilantai 3, Rio melihat Sivia yang sedang dihukum. Rio
segera menepuk pundak Alvin yang saat itu sedang focus dengan catatan Biology
nya.
“Vin…Vin…”
panggil Rio,
“apa?”
jawab Alvin cuek tanpa sedikitpun melihat kearah Rio,
“lo
liat deh!” kata Rio seraya menunjuk kearah luar jendela.
“emang
apaan?” Tanya Alvin lagi yang masih tetap focus mencatat,
“itu
coba lo liat, Via dihukum…!” mendengar nama Sivia dibawa-bawa Alvin langsung
melihat keluar jendela. Alvin tersentak ketika mendapati Sivia tengah melakukan
hormat bendera. Alvin membanting pulpennya lalu berlari kearah jendela. Rio dan
Gabriel mengikutinya. Tak lama setelah memperhatikan Sivia dari jendela,
Alvinpun bergegas keluar dari kelas untuk menyusul Sivia. Gabriel juga yang
merasa perlu menyusul Sivia langsung ditahan oleh Rio,
“lo
mau kemana?” Tanya Rio,
“gue
mau lihat Via….”
“udah
deh, biar Alvin aja yang lihat…”
^_^
“BUBAR
LO SEMUA!! NGAPAIN LO PADA DISINI??” Teriak Alvin pada semua siswa-siswi yang
saat itu tengah menertawai Sivia. Semua yang tadinya menertawai Sivia dan
mencemo’oh Sivia habis-habisan langsung bungkam setelah kedatangan Alvin.
Disekolah Alvin memang sangat disegani oleh kawan-kawannya, ia adalah seorang
ketua osis yang tegas dan mampu mengatur kawan-kawannya.
Mendengar
suara Alvin, Sivia tak sedikitpun bergeming. Yang ia rasa sekarang, kepalanya
malah pusing, pandangannya mulai berkunang-kunang. Mungkin karna terlalu lama
berdiri ditengah cuaca yang begitu panas, ditambah lagi, pagi tadi Sivia belum
sempat sarapan karna takut telat. Baru saja Alvin menghampiri Sivia, tiba-tiba
saja Sivia jatuh pingsan tak sadarkan diri tepat dihadapan Alvin, sebisa
mungkin Alvin berusaha menahan tubuh lemah Sivia. Alvin melihat wajah Sivia
yang saat itu Nampak sangat pucat, keringat bercucuran diseluruh tubuh Sivia.
“Via…?
Via kenapa? Bangun Vi..! Viaa…” kata Alvin seraya menampar-nampar pelan wajah
Sivia dengan lembut. Tanpa berfikir panjang lagi, Alvin langsung mengangkat
tubuh Sivia dan membawanya ke UKS.
‘maafin
Kak Alvin, Vi, maafin karna Kak Alvin Cuma bisa nyakitin Via, maafin juga karna
Kak Alvin Cuma bisa ngasih luka buat Via…’ batin Alvin seraya berjalan keruang
UKS.
^_^
Alvin
menatap wajah polos Sivia yang saat itu masih belum sadarkan diri. Sudah hampir
setengah jam Alvin menatapi wajah Sivia, namun tak ada sedikitpun rasa jenuh
dihatinya. Ia malah sangat menikmati detik-detik yang terlewati saat ia menatap
wajah si Lemot itu. Alvin meraih tangan Sivia lantas menggenggamnya seerat
mungkin. Tangan yang satunya lagi Alvin gunakan untuk membelai lembut rambut
Sivia.
Alvin
mengecup hangat tangan Sivia yang saat itu berada dalam genggamannya dan
setelah itu Alvinpun berkata,
“Maafin
Kak Alvin ya Vi…? Kak Alvin tahu, kata maaf aja gak akan bisa nebus semua
kesalahan Kak Alvin sama Via, tapi saat ini Cuma itu yang bisa Kak Alvin
lakukan…” Alvin bangkit dari kursinya sejenak lantas mengecup kening Sivia,
setelah melakukan itu Alvinpun mengusap puncak kepala Sivia,
“Kak
Alvin janji, akan berusaha bahagiain Via, apapun akan Kak Alvin lakukan untuk
ngembaliin keceriaan Via lagi…” tak lama setelah Alvin berkata seperti itu,
Siviapun tersadar, ia membuka kedua matanya secara perlahan lantas berkata,
“Via
lagi dimana?”
“Via…”
panggil Alvin dengan antusias seraya mendekatkan wajahnya dengan wajah Sivia
tanpa melepaskan tangan Sivia dari genggamannya.
“Via
sekarang lagi di UKS! Tadi Via pingsan…” jawab Alvin dengan pelan. Sivia
menatap wajah Alvin yang kala itu hanya berjarak beberapa centi saja dari
wajahnya. Bahkan saking dekatnya jarak wajah mereka, hidung mereka nyaris
bersentuhan. Kini kedua bola mata mereka bertemu, mereka saling pandang tanpa
bicara.
Setelah
sekitar 10 detik berada dalam posisi sedekat itu, Sivia akhirnya tersadar, ia
menggelengkan kepalanya beberapa kali lalu melepaskan tangannya dari genggaman
Alvin. Alvin bersikeras, ia enggan melepaskan tangan Sivia,
“Kak
Alvin lepas!” kata Sivia dengan suara sedikit bergetar. Alvin menggeleng sambil
menatap Sivia lurus. Kali ini Sivia menoleh kearah lain,
“ngapain
Kak Alvin disini?” Tanya Sivia pada akhirnya,
“Kak
Alvin disini mau minta maaf sama Via!”
“minta
maaf buat apa?” Tanya Sivia dingin,
“buat
semua kesalahan yang udah Kak Alvin lakukan!”
“Via
udah terlanjur sakit hati sama Kak Alvin, butuh waktu lama buat bisa maafin Kak
Alvin…”
“selama
apapun waktunya, Kak Alvin tunggu”
“butuh
waktu seabad!” jawab Sivia polos,
“mau
sepuluh ribu abad pun Kak Alvin tunggu…”
“siapa
bilang sepuluh ribu abad? Satu juta abad lagi baru Via mau maafin Kak Alvin”
“sepuluh
juta abad pun Kak Alvin gak peduli!”
“satu
milyar ab…” ucapan Sivia terpotong saat bibir Alvin menyentuh lembut bibirnya.
Sivia shock. 3 detik kemudian, Siviapun mendorong tubuh Alvin hingga jauh
darinya. Sivia bangkit dari tidurnya lantas berkata,
“Kak
Alvin apa-apaan sih? Tega banget ngelakuin itu sama Via…”
“Via….”
“sekarang
Kak Alvin pergi dari sini! Biarin Via sendiri!” hardik Sivia. Alvin menggeleng
lalu kembali mendekati Sivia,
“PERGI
VIA BILANG, PERGIIIIII….” Hardik Sivia semakin keras. Bukannya mengikuti ucapan
Sivia untuk segera pergi Alvin malah memeluk Sivia. Sivia berusaha keras untuk
bisa terlepas dari pelukan Alvin, tapi semakin keras usaha Sivia, Alvin malah
semakin erat memeluknya.
“kalo
Kak Alvin gak mau pergi, biarin Via aja yang pergi! Lepasin Via Kak, lepasss…”
pinta Sivia dengan suara memohon.
“gak
akan! Gak akan pernah, seenggaknya sampe Via mau maafin Kak Alvin…” lirih
Alvin,
“tapi
Via gak akan bisa maafin Kak Alvin setelah apa yang Kak Alvin lakuin ke Via
selama ini…” Alvin diam dan tidak membalas ucapan Sivia. Sivia yang sudah mulai
putus asa akhirnya menyerah dalam pelukan Alvin. Secara perlahan dan ragu-ragu
Sivia membalas pelukan Alvin.
^_^
Pagi
itu Sivia Nampak terburu-buru. Saat waktu sudah menunjukan 06.45 Sivia semakin
terlihat terburu-buru. Dengan gerak cepat ia membereskan buku-bukunya dan
memasukannya kedalam tas.
“VIA
BURUAAANNN!! LAMA AMAT SIH LO??” Teriak Kak Irsyad dari lantai bawah.
“IYA
KAK, INI JUGA UDAH MAU TURUN….” Jawab Sivia. Saat Sivia akan melangkah keluar,
tanpa sengaja Sivia menjatuhkan Diary nya yang saat itu berada dimeja lampunya.
Sivia menghentikan langkahnya setelah mengetahui Diary nya terjatuh. Diary
Sivia terbuka pas dihalaman terakhir, halaman yang pernah Alvin tulis dulu. Sivia
heran, perasaan dia tidak pernah menulis dihalaman terakhir, lantas siapakah
yang menulis halaman terakhir Diary nya? Sivia mengurungkan niatnya untuk
keluar dari kamar. Secara perlahan ia terduduk dan mengambil Diary nya yang
terjatuh.
“ini
siapa yang nulis?” Tanya Sivia pada dirinya sendiri lantas mulai membaca
tulisan Alvin yang berisi…..
Dear: Princess Lemotku….
Bersambung…..


0 comments:
Post a Comment