Wednesday, May 1, 2013

0

Seperti Sebuah Bintang Part5 "First Sight"





Hari Pertama (Sabtu)

            Sivia agak sedikit tercengang melihat pemandangan yang kini ada dihadapannya. Awalnya Sivia berfikir bahwa Alvin akan membawanya pulang kerumahnya yang besar dan megah juga dengan halaman super luas lengkap dengan taman kecil yang menghiasi pekarangan rumahnya, namun ternyata Sivia salah. Alvin malah membawanya kesebuah Rumah Singgah Sederhana. Rumah Singgah itu berdiri dengan kokoh diatas halamannya yang cukup luas.
            Sebuah banner yang bertuliskan “Rumah Kita” dengan desain yang lumayan menarik  tertempel dengan rapi diatas pintu. Sivia masih terpana menyaksikan semua itu, sulit ia percaya, bahwa seorang Alvin yang terlihat mentereng tinggal dirumah Singgah itu. Benarkah? Sivia tidak henti-henti bertanya dalam hati.
            “Heh turun lo buruan!!” dan perintah sinis dari Alvin itu langsung membuyarkan keterpanaan Sivia.
            Sivia mengerjap cepat lalu dengan segera turun dari atas motor Alvin.
            “jangan bilang lo tinggal disini” ucap Sivia tak percaya.
            Alvin tersenyum sinis lantas berkata,
            “iya gue tinggal disini, emangnya kenapa?”
            Sivia menggeleng tak percaya,
            “gue nggak percaya kalo lo tinggal disini”
            “nggak urus” sahut Alvin dengan cepat. Siviapun langsung mengerucutkan bibirnya.
            Alvin turun dari atas motornya lalu melenggang dengan santai melewati Sivia yang saat itu masih dalam keadaan setengah terpana. Harus Sivia akui, bahwa Alvin ini adalah sosok cowok misterius, dan meski sangat berat dan bertentangan dengan batinnya, Sivia merasa sedikit penasaran dengan Alvin. Catat hanya ‘sedikit’ merasa penasaran.
            Merasa bahwa Sivia tidak mengikutinya, Alvinpun menghentikan langkahnya lalu menengok kebelakang. Alvin mendesah tak sabar lalu memasang raut wajah tak percaya. Buat apa cewek tengik itu masih berdiri disana? Apa Alvin harus mempersilahkannya jalan terlebih dahulu seperti seorang pengawal yang mempersilahkan Tuan Puterinya? Cuih, sampai matipun Alvin tidak akan melakukan hal konyol itu pada cewek yang juga konyol itu. Jika Alvin sampai melakukan hal itu, maka Alvin lah cowok terkonyol yang pernah hidup dimuka bumi ini.
            Alvin melipat kedua tangannya didepan dada, ia memasang wajah angkuhnya lalu dengan nada meninggi berkata pada Sivia,
            “buat apa lo masih disana? Ayo ikut gue masuk!!”
            Untuk yang kedua kalinya Sivia kembali membuyarkan keterpanaannya. Ia menggeleng beberapa kali lalu berlari kecil menghampiri Alvin.
            “sabar dikit kek… kenapa sih lo seneng banget ngebentak-bentak gue?”
            Alvin dan Sivia berjelan beriringan memasuki rumah singgah.
            “suka-suka gue”


^_^

            Dari salah satu sudut ruangan disebuah restaurant tampak seorang Pria Dewasa dan seorang Wanita Dewasa berusia sekitar 35 tahun tengah duduk berhadapan sambil sesekali menyantap hidangan pesanan mereka masing-masing. Sepasang kekasih itu terlihat sangat serius  membicarakan suatu hal.
            “Denita, apa kita langsung menikah saja tanpa persetujuan dari Alvin?” Tanya Pria yang berwajah sedikit mirip dengan Alvin itu. Dialah Farish Sindhunata, Papa Alvin.
            Wanita yang bernama Denita itu kontan saja melepaskan sendok dan garpunya manakala mendengarkan ucapan dari kekasihnya –calon suaminya lebih tepat- Ia menatap Pria yang duduk dihadapannya itu dengan kedua alis bertaut. Tak lama kemudian wanita itupun menggeleng lantas berkata,
            “tidak Mas, kita tidak akan pernah menikah sebelum mendapatkan restu dari Alvin, biar bagaimanapun Alvin itu adalah anak mu Mas, dan nanti akan menjadi anakku juga, kamu fikir aku mau dimusuhi oleh anak yang nantinya akan menjadi anakku, tidak Mas…”
            “Denita ayolah, kamu hanya tidak tau bagaimana Alvin, dia itu keras kepala, dan jika Alvin sudah berkata tidak, maka selamanya akan tetap tidak”
            “tapi bukan berarti kita tidak bisa meluluhkan hatinya kan, Mas? Alvin hanya butuh sedikit waktu, itu saja. Bersabarlah sebentar!”
            “2 tahun Denita, 2 tahun aku berusaha sabar dengan sikap anak itu, tapi sampai sekarang apa balasannya? Yang Alvin mau itu aku kembali lagi dengan Mamanya, dan kamu tau itu tidak mungkin kan? Aku sudah terlanjur mencintaimu, Denita”
            Denita menghela nafas beratnya. Ia berusaha terlihat tetap tenang dihadapan kekasihnya. Jujur saja, saat ini Denita sedang dalam keadaan gusar, sama seperti Farish, bahkan mungkin Denita jauh lebih gusar dibandingkan dengan Farish, tapi Denita tau, ia harus tetap berusaha tenang dan tetap berkepala dingin dalam menghadapi semua masalah ini. Denita percaya bahwa semua masalah pasti memiliki jalan keluarnya masing-masing, termasuk dengan masalahnya ini.
            Denita menumpuk tangannya diatas tangan Farish. Dengan lembut Denita menggenggam erat jemari tangan Farish,
            “kamu tidak perlu takut, Mas, semuanya sudah ada yang mengatur” Denita menyunggingkan sebuah senyuman. Dan seketika itu juga Farish pun akhirnya dapat merasakan sebuah ketenangan.


^_^

            “Kak Alvin, Puteri Cantik ini siapa?” Tanya Gilang setelah cukup lama mengamati Sivia dari ujung kaki hingga rambut.
            Tak hanya Gilang, tapi seluruh Adik angkat Alvin yang menghuni Rumah Singgah ini merasa heran ketika pertama kali Sivia memasuki Rumah mereka. Mereka semua dengan kompak memperhatikan Gadis Cantik yang tau-tau dibawa oleh Alvin.
            “ini Kak Sivia, pembantu baru kita disini” jawab Alvin dengan santainya.
            Semua yang mendengarkan penuturan Alvin langsung terkejut. Masa kah ada pembantu secantik itu? Sementara Sivia, ia berusaha sabar dengan sikap menyebalkan yang ditunjukan oleh Alvin itu.
            “HAAA…?? PEMBANTU?? NGGAK MUNGKIN” Ucap semuanya dengan kompak. Bahkan saking kompaknya Sivia saja sampai terkagum-kagum.
            Rumah Singgah yang diberikan nama Rumah Kita ini dibangun oleh Mama Alvin sekitar setahun silam. Alvin dan Mama nya yang memang sangat perihatin dengan nasib anak-anak terlantar mulai mengumpulkan beberapa anak jalanan serta anak putus sekolah untuk kemudian dikumpulkan dirumah singgah ini. Dirumah Kita ini, para anak terlantar yang berhasil Alvin dan Mamanya kumpulkan mulai dididik untuk bisa menjalankan kehidupan yang lebih layak lagi. Ada sekitar 10 anak yang tinggal diRumah Kita, 2 diantaranya sudah menginjak usia 16 tahun, sama seperti Alvin, mereka adalah Dayat dan Rizky. Hanya saja mereka tidak satu sekolah dengan Alvin. Dan seluruh biaya sekolah ke-10 anak terlantar itu dibiayai penuh oleh Papa Alvin, dan itu masih sampai sekarang.
            Sepulang sekolah, Alvin membantu beberapa Adik angkatnya untuk mengamen. Hasil mengamen itu mereka tabung untuk masa depan mereka. Dan Alvin tidak pernah sedikitpun merasa malu bisa membantu adik-adik angkatnya itu. Malahan Alvin bangga karna ia bisa sedikit berguna untuk orang lain. Dan dibalik semua sikap angkuh Alvin, ternyata ia memiliki hati yang baik dan sifap seperti seorang Malaikat.
            Selain mengamen tentu saja Alvin mengajarkan banyak hal pada adik-adik angkatnya. Mulai dari bermain music, melukis sampai membuat prakrya. Dan hasil Prakrya mereka itu kadang bisa mereka jual dengan harga yang tidak main-main. Mama Alvin bahkan membayar seorang Guru Seni untuk membantu anak-anak terlantar itu. Untuk bermain music, Alvin sendiri yang langsung turun tangan untuk mengajari adik-adiknya.
            “ayo kenalan sama ‘MBOK’ baru kalian” ucap Alvin seraya memberi penekanan pada kata Mbok.
            Sivia langsung melotot tajam kearah Alvin, tapi yang dipelototi malah cuek-cuek saja dan nggak bereaksi apa-apa.
            Dengan senyum riangnya Alvin berjalan mendekati Sivia lalu mengulurkan tangannya dihadapan Sivia,
            “Hay Kakak Cantik, kenalin namaku Gilang…”
            Sivia tersenyum dan berusaha memasang wajah semanis mungkin,
            “Sivia, tapi panggil aja Kak Via…”
            “mau banget lo dipanggil Kakak perasaan” celetuk Alvin yang tiba-tiba saja sewot. Tapi Sivia sudah terlanjur malas untuk meladeni Alvin.
            “aku Rafli, Kak Via…” ucap salah seorang anak yang berwajah manis itu sambil menyalami tangan Sivia.
            Melihat wajah Rafli, Sivia terlihat berfikir sejenak. Ia seperti pernah melihat wajah anak manis ini, tapi dimana? Sivia berusaha memutar ingatannya, tapi hingga beberapa lama, ia tak juga bisa mengingat. Daya ingat Sivia emang agak sedikit payah.
            “kayak pernah lihat” Sivia mengujar dalam hati.
            Gilang, Rafli, Fatah, Cindai, Dinda, Novi, Difa, dan Bagas, itulah ke-8 nama-nama adik angkat Alvin yang sudah berkenalan dengan Sivia. Sementara 2 nya lagi yaitu Dayat dan Rizky belum pulang dari sekolah. Setelah berkenalan dengan ke-8 anak-anak yang menurut Sivia lumayan asyik itu, Alvin langsung berkata dengan nada yang lumayan sinis pada Sivia.
            “udah kenalan kan? Sekarang waktunya lo kerja”
            “iya, tapi gue ganti baju bentar. Kamar mandi dimana?”
            “dibelakang” jawab Alvin dengan singkat. Tanpa banyak bicara lagi Sivia langsung bergegas ke kamar mandi untuk mengganti bajunya.


^_^

            Cakka menatap Gitar warna pink yang terletak disudut kamar Sivia. Gitar itu adalah Gitar pemberian Cakka sendiri sebagai hadiah ulang tahun Sivia yang ke-14. Tiba-tiba saja ingatannya menyeretnya ke masa 3 tahun silam saat ia untuk yang pertama kalinya mengajari Sivia bermain gitar. Cakka tersenyum. Sejak sejam yang lalu Cakka sudah berada didalam kamar Sivia untuk menunggu Princess Bawelnya itu, tapi hingga jauh waktu ia menunggu, Sivia tidak juga menampakkan dirinya. Cakka cemas, semoga tidak terjadi apa-apa pada Si Bawel itu.
            Cakka bangkit dari tepi ranjang Sivia lantas berjalan perlahan mendekati Gitar Pink kesayangan Sivia. Cakka meraih gitar itu lalu duduk disebuah sofa yang terdapat didalam kamar Sivia, secara perlahan tangan terampil Cakka mulai memetik senar gitar itu dan memainkan sebuah lagu.
            Tiba-tiba bayangan saat Sivia lebih memilih menaiki motor Alvin dibandingkan dengan motor Cakka menyelinap diingatan Cakka. Cakka menghentikan permainan gitarnya. Sebuah perasaan ngilu kembali mengusik ketenangan hatinya. Cakka melepaskan gitar itu dan berusaha berfikir jernih. Cakka tidak ingin berfikir yang macam-macam tentang sahabatnya itu, dan Cakka berusaha yakin, Sivia pasti memiliki urusan yang lumayan penting dengan Alvin. Dan masalah itu urusan apa, Cakka percaya bahwa nanti Sivia akan menceritakan semuanya padanya.
            Lalu sekarang kenapa Cakka harus cemas? Toh Sivia tidak akan kemana-mana, Sivia akan selalu ada bersamanya, dan Sivia tetap akan menjadi….. sahabatnya.
            Meski sebenarnya hati kecil Cakka mengharapkan lebih dari itu, meski sebenarnya Cakka menginginkan Sivia sepenuhnya untuk menjadi pengisi relungnya, tak hanya itu, tapi Cakka juga menginginkan hati Gadis itu juga cintanya yang utuh, tapi sepertinya Cakka harus bisa lebih bersabar lagi, karna sampai detik ini Sivia tidak pernah sedikitpun menunjukan rasa ketertarikannya pada Cakka, dan Cakka sadar sesadar-sadarnya bahwa Sivia hanya menganggapnya sebagai sahabat, dan mungkin tidak akan pernah bisa lebih dari sahabat.

            “Maaf, Vi, karna gue udah egois…” gumam Cakka pelan.


^_^

            “itu kerjaan-kerjaan lo selama seminggu ini, dan gue butuh tanda tangan lo sebagai tanda persetujuan lo” ucap Alvin sok galak seraya menyodorkan selembar kertas HVS berisi kontrak kerja mereka selama seminggu yang diketik dengan rapih oleh Alvin sendiri, bahkan Alvin sudah terlebih dahulu membubuhkan tanda tangannya.
            “perlu ya sampe kayak gini? Lo tenang aja, tanpa pake beginian jug ague nggak bakalan kabur” sinis Sivia sambil menyodorkan kembali kertas itu pada Alvin. Sivia melipat kedua tangannya didada lalu membuang mukanya kearah jendela. Pandangan Siviapun tertuju pada adik-adik angkat Alvin yang saat itu tengah asyik bermain dihalaman.
            “dan lo fikir gue bakal segampang itu percaya sama peniupu kelas kakap kayak lo”
            Sivia melotot tajam mendengar ucapan Alvin, kali ini Sivia melirik tajam kearah Alvin.
            “heh, lo jangan sembarangan ngomong ya? Lo itu nggak kenal gue jadi gimana bisa lo ngomong kayak gitu ke gue” protes Sivia yang benar-benar tidak terima dengan ucapan Alvin barusan.
            “tapi gue nggak ngerasa sembarangan ngomong” Alvin bangkit dari sofa yang sedari tadi ia duduki dan berjalan perlahan menghampiri Sivia yang duduk disebrangnya.
Sivia berusaha tenang meski sebenarnya hatinya sudah dagdigdug nggak karuan saat Alvin berdiri didepannya lalu menjongkok dengan jarak wajah yang begitu dekat dengan wajahnya.
“lo lupa gimana lo bawa hp gue kabur dihari pertama kita ketemu? Dan lo lupa juga, gimana lo berusaha kabur dari gue pas kita bertemu lagi untuk yang kedua kalinya? setelah semua kelicikan lo itu, lo fikir gue bakalan sudi percaya sama lo?” Sivia menelan ludah mendengarkan setiap kalimat demi kalimat yang Alvin lemparkan padanya.
Deguban jantung Sivia semakin tak beraturan ketika Alvin semakin mendekatkan wajahnya. Kedua bola mata Alvin menatap tajam kearah kedua mata indah milik Sivia. Hening. Sivia merasakan desauan hangat nafas Alvin yang kini menerpa wajahnya dan menimbulkan semburat warna merah merona pada kedua pipi chubby-nya. Sivia berharap bahwa Alvin tidak mendengarkan suara deguban jantungnya yang semakin lama semakin kencang saja menggedor dadanya. Alvin tersenyum sinis, tanpa Sivia sadari, Alvin sekuat tenaga berusaha menahan tawanya yang nyaris meledak ketika melihat ekspresi cewek yang ada didepannya ini.
Alvin yang isengpun kini memiringkan wajahnya dan bersikap seolah-olah ia ingin mencium Sivia. Dalam hati Sivia berdoa semoga Alvin tidak menciumnya. Dan Sivia sudah berfikir untuk segera menendang selangkangan Alvin jika nanti Alvin berani merenggut first kiss nya. Cowok ini akan benar-benar mati, gumam Sivia dalam hati.
“kalo lo nggak mau gue cium, buruan tanda tangan!!” bisik Alvin pelan lantas menjauhkan wajahnya dari wajah Sivia. Tenggorokan Sivia seketika tercekat. Tadi Alvin nyaris saja membunuhnya.
Alvin meraih tangan Sivia lalu menyerahkan paksa sebuah bolpoint untuk Sivia. Tanpa berkata banyak, Sivia langsung menerima bolpoint itu. Dan seakan terhipnotis, Sivia langsung menandatangi kertas yang Alvin sodorkan tadi. Alvin berbalik lalu tersenyum licik.
“Kak Alvin, genteng nya pecah” ucap Gilang yang tiba-tiba saja masuk keruang tengah. Pandangan Alvin dan Sivia langsung tertuju pada Gilang.
“kok bisa pecah?” Tanya Alvin,
“tadi Fatah nendang bolanya terlalu kenceng, Kak, terus kena genteng deh” jawab Gilang apa adanya.
“apa perlu Fatah yang disuruh merbaiki genteng nya?” Tanya Gilang lagi.
Alvin terlihat berfikir. Tidak lama niat mengerjai Siviapun timbul diotaknya, Alvin berbalik lalu melirik nakal kearah Sivia yang saat itu masih duduk dengan manis disofa. Menyadari ada yang aneh dari tatapan Alvin, Siviapun mulai merasakan sebuah firasat buruk.
“nggak perlu! Biar Kak Via aja yang merbaiki gentengnya” ucap Alvin sambil tetap melirik Sivia. Sivia kontan saja terkejut mendengarkan ucapan Alvin barusan. Dengan setengah percaya, setengah tidak Sivia langsung menunjuk wajahnya sendiri.
“GUE??”

^_^

            Tanpa bisa menolak lagi, kali ini Sivia harus mengikuti perintah Alvin jika tidak mau diseret kekantor polisi atas tuduhan pencurian. Sebenarnya agak keterlaluan juga Alvin menyuruhnya untuk memperbaiki genting. Tapi mau bagaimana lagi?
            Dengan was-wasa Sivia menaiki tangga yang sudah Alvin persiapkan untuknya. Baru saja Sivia menaikkan salah satu kakinya, ia sudah merasakan gemetaran yang luar biasa.
            “kelamaan lu ye?” ucap Alvin tak sabar. Tapi Sivia tidak sedikitpun menggubris ucapan Alvin itu. Ia kembali berusaha menaikkan salah satu kakinya.
            “Kakak, kasian tau Kak Via nya, udah sini biar Bagas aja yang kerjain” bisik Bagas didepan telinga Alvin.
            “udahlah Bagas, kita liat aja dulu keberanian dia, toh Kakak nggak beneran nyuruh dia, Kakak Cuma ngerjain dia” bisik Alvin tanpa rasa bersalah sama sekali.
            5 menit kemudian Sivia akhirnya berhasil menapaki seluruh anak tangga. Alvin telah benar-benar berhasil mengerjainya. Dalam hati Alvin tertawa lepas.
            Tiba-tiba saja Sivia merasakan seluruh tubuhnya bergetar hebat, ia berusaha menahan tubuhnya agar tidak terjatuh kebawah. Namun usaha Sivia gagal total. Gemetaran hebat yang ia rasakan ternyata mampu mengalahkan pertahannya. Semuanya terjadi begitu cepat, Sivia terjatuh. Semua yang menyaksikan adegan yang lumayan berbahaya itu terkejut secara bersamaan tak terkecuali Alvin.
            “AAAAAA…..” Teriak Sivia sekencang-kencangnya.
            Ternyata Tuhan masih menyayangi Sivia, karna sebelum Sivia benar-benar jatuh tergeletak ditanah, dengan sigap Alvin menangkap tubuhnya. Siviapun akhirnnya terjatuh tepat digendongan Alvin. Alvin menghirup nafas lega saat itu juga. Kedua tangan kekar Alvin menahan tubuh Sivia. Sementara kedua tangan Sivia melingkar dengan kuat dileher Alvin.
            Sivia memejamkan kedua matanya sekuat mungkin. Beberapa kali  bibir munglinya merapalkan berbagai macam kalimat yang tidak jelas juntrungannya.
            “Tuhan, Via masih hidupkan? Via belum mau mati Tuhan. Via masih mau hidup. Via masih mau bahagiain Mama sama Marsha, Via masih mau bareng-bareng sama Cakka, Via masih mau bikin Ify sama Shilla kesel….”
            Entah sadar atau tidak, Alvin menatap wajah Sivia lekat-lekat, ternyata jika diperhatikan lebih seksama lagi, Sivia ini nggak jelek-jelek amat. Lihatlah wajahnya yang mulus tanpa cela, lihatlah alisnya yang tebal, matanya yang sipit dan pipi chubby-nya yang sangat menggemaskan. Tanpa sadar Alvin tersenyum.
            Merasa bahwa nyawanya masih baik-baik saja, Siviapun membuka kedua matanya, saat itu juga tatapan matanya langsung tertumbuk pada kedua bola mata Alvin yang masih betah menulusuri setiap lekuk kecantikannya.
            Siviapun akhirnya dengan berani mengadu pandangannya dengan Alvin. Kedua mata mereka nyaris tak berkedip, saat itu juga waktu seolah berhenti beredetak. Mereka merasa tak ada siapapun yang mampu mengusik mereka saat ini, bahkan deru angin yang lalu pun tak mampu.
            Alvin dan Sivia masih bertahan mengadu pandangan mereka, bersamaan dengan itu Sivia merasakan deguban jantungnya kembali tak tenang. Seumur-umur, ini baru pertama kalinya Sivia menatap seorang cowok bahkan sampai sedalam itu. Tenggorokan Sivia semakin tercekat manakala kedua bola mata Alvin semakin dalam menatap kedua bola matanya. Ada rasa tak wajar yang tak mampu mereka jelaskan ketika saling bertatapan, rasa yang entah kapan akan mereka sadari.
            “Kak Via nggak apa-apa kan?” Pertanyaan dari Difa itu kontan saja membuat Alvin dan Sivia terkesiap.
            Mereka sama-sama tertarik dari keterpanaan mereka masing-masing.
            “lepasin gue, ihhh….” Kata Sivia seraya memukul pelan dada bidang Alvin.
            Tanpa mau berfikir panjang lagi, Alvin langsung saja melepaskan tubuh Sivia hingga Sivia terjatuh ketanah. Sivia merasakan seluruh tubuhnya remuk saat itu juga.
            “ALVIIINNNNNN….. LO JAHAT AMAT SIH?” Jerit Sivia dengan histeris sambil memegangi pinggangnya yang terasa sakit.
            “Begok… elo kan yang nyuruh gue buat ngelepasin lo?” jawab Alvin yang seolah tak terima disalahkan seperti itu.
            “iya… tapi apa nggak ada cara yang lebih lembut lagi?” kesal Sivia yang merasa benar-benar sakit hati atas perlakuan Alvin.
            “nggak kalo buat cewek kayak lo” itulah ucapan terakhir Alvin sebelum akhirnya ia kembali masuk kedalam rumah singgah.

^_^

            Waktu sudah menunjukan pukul 18.00, Siviapun segera bersiap-siap untuk pulang. Ia kembali mengganti pakaian santainya dengan seragam sekolah. Hari ini Alvin benar-benar telah menyiksa Sivia habis-habisan. Mulai dari disuruh masak, untung saja Sivia pintar masak, jadinya kan Alvin nggak ada alasan buat memprotes hasil masakannya. Lalu disuruh menyapu dan mengepel seluruh ruangan, disuruh menyapu halaman, menyiram tanaman, de el el. Pokoknya hari ini adalah hari yang paling melelahkan seumur hidup Sivia.
            “Alvin, anterin gue pulang dong” pinta Sivia dengan ragu. Sebenarnya Sivia tau bahwa Alvin tidak mungkin mau mengantarnya pulang, tapi kenapa Sivia masih saja memintanya? Ok, kali ini Sivia memang begok.
            “sejak kapan pembantu ngasih perintah ke majikan?” Tanya Alvin retoris sambil tetap focus membaca buku paket Biologinya.
            Sivia mendesah pelan, tanpa berkata apa-apa lagi, ia langsung balik kanan dan pergi. Alvin mengangkat wajahnya sejenak dari buku paket Biologi yang sejak tadi ia baca. Ekor matanya langsung menangkap siluet Sivia yang saat itu nyaris menghilang dari pandangannya. Alvin tersenyum miring lalu kembali melanjutkan bacaannya yang sempat tertunda.
            Sudah hampir jam setengah 7 malam, tapi hingga sekarang Sivia belum juga mendapatkan sebuah taxi atau kendaraan umum lainnya yang bisa membawanya pulang kerumah. Sivia menghentakkan kedua kakinya secara bergantian ditanah. Hari ini benar-benar menyebalkan.
            Pada akhirnya Siviapun memutuskan untuk menelpon Cakka. Sivia mengambil ponsel yang sengaja dipinjamkan Shilla untuknya. Dengan segera Sivia mencari nomer Cakka lalu menelpon sahabatnya itu. Sivia tidak perlu menunggu lama, karna beberapa detik kemudian Cakka langsung mengangkat telfonnya.
            “Hallo Kka?”
            “…..”
            “bisa jemput gue nggak sekarang?”
            “…..”
            “iya, ntar gue sms-in aja alamatnya…”
            “…..”
            “gue nggak kenapa-napa kok, gue baik-baik aja”
            “…….”
            “iya serius… udah jemput gue buruan, gue udah laper ini…”
            “…..”
            “ya udah Bye… thanks ya Kka…”
            Siviapun mematikan sambungan telfonnya. Kali ini Sivia bisa sedikit lebih tenang. Tapi Sivia kembali bingung, nanti apa yang harus ia katakan pada Cakka jika ia bertanya Sivia melakukan apa saja dengan Alvin hari ini? Duuhh…. Sivia bingung.
            Sesekali Alvin melihat keluar, memastikan apakah Gadis itu sudah pulang atau belum. Tapi hingga setengah jam berlalu, Sivia masih betah berdiri didepan gerbang. Alvin berfikir sejenak, tidak ada salahnya juga ia mengantar Sivia pulang? Toh sekalian Alvin juga pulang. Alvin berdecak pelan lalu memasuki ruang tengah untuk mengambil jaket berserta kunci motornya.
            Alvin keluar dari rumah singgah sambil bersiul-siul dan memainkan kunci motornya dijari tangannya, tapi mendadak Alvin menghentikan langkahnya saat melihat seorang cowok menghampiri Sivia menggunakan motor Cagiva-nya.
            “Cakka, untung lo dateng… lo emang penyelamat gue Kka…” ucap Sivia antusias sambil memeluk pundak Cakka.
            “lo ngapain aja sih disini seharian?” Tanya Cakka. Siviapun melepaskan pelukannya dari Cakka lantas berkata,
            “ceritanya nanti aja ya? Gue laper banget soalnya” ucap Sivia dengan tampang memelas yang sebenarnya hanya ingin mengalihkan topic.
            Cakka membelai lembut rambut panjang Sivia dengan raut wajah yang cemas. Ia takut terjadi sesuatu pada Gadis Bawelnya itu.
            “ya udah, ntar kita mampir bentar ya dirumah makan?”
            Cakka membuka jaketnya lalu memasangkannya dengan penuh perhatian pada tubuh Sivia.
            “lo pake ini ya biar nggak dingin”
            Sivia hanya menurut saja. Setelah Cakka memasangkan jaket itu ditubuhnya, Siviapun langsung menaiki motor Cakka. Ia memeluk tubuh Cakka seerat mungkin lantas menelengggamkan wajah cantiknya pada bahu Cakka sebelum akhirnya Cakka melajukan motornya dengan kecepatan standart.
            Melihat pemandangan yang lumayan romantic itu Alvin tersenyum tipis, lantas berjalan perlahan menghampiri motornya.
            “seenggaknya lo nggak perlu ngerepotin gue malem ini…” ucap Alvin senang lalu menjalankan motornya dan meninggalkan rumah singgah dengan suasana hati yang tak terjelaskan.


^_^

            Setelah merasa cukup kenyang, Cakka dan Siviapun melanjutkan perjalanan mereka yang sempat tertunda. Mereka berdua tidak langsung pulang kerumah, melainkan mereka singgah dulu dibukit yang menjadi tempat favorit mereka sejak mereka masih kanak-kanak. Kebetulan juga malam itu adalah malam minggu, dan malam minggu memang saatnya untuk Cakka dan Sivia menyambangi bukit mereka.
            Tadi saat mereka tangah makan malam bersama, Sivia sempat menjelaskan apa yang telah terjadi pada Cakka, akan tetapi Sivia terpaksa harus berbohong pada Cakka. Karna jika tidak begitu, Cakka pasti langsung marah besar dan langsung menemui Alvin untuk menghajarnya habis-habisan. Sivia tidak ingin semua itu terjadi sekalipun ia sangat membenci Alvin. “tadi gue abis ngunjungin anak-anak terlantar dirumah singgah milik Alvin” itulah alasan yang Sivia lontarkan untuk Cakka. Cakka berusaha mempercayai Sivia sepenuhnya.
            Sekitar 10 menit kemudian tibalah Cakka dan Sivia dibukit. Kali ini mereka sudah berdampingan diatas bukit sambil menatap milyaran bintang yang bertebaran diatas angkasa luas. Hening untuk beberapa saat, belum ada satupun dari mereka yang berinisiatif untuk membuka pembicaraan. Cakka yang mulai merasa tak nyaman dengan situasi beku ini akhirnya berusaha mencairkan situasi.
            “kok lo bisa kenal sama Alvin? Kenal dimana?”
            Senyum yang sejak tadi merekah diwajah Sivia mendadak musnah ketika mendengarkan pertanyaan yang Cakka ajukan. Sivia tidak ingin membohongi Cakka lagi. Sudah cukup semuanya.
            “ada bintang jatuh, Kka…” ujar Sivia senang seraya menunjuk keatas langit. Siviapun akhirnya terselamatkan dari pertanyaan Cakka.
            Seperti biasa jika melihat bintang jatuh, Sivia buru-buru memejamkan matanya lalu membuat sebuah permohonan.
            “aku mau Alvin yang rese itu dikutuk Tuhan, terserah deh mau dikutuk jadi apa aja, mau jadi kodok kek, monyet kek, lutung kek, yang penting Alvin dikutuk, dan aku minta juga supaya Cakka nggak curiga sama aku, supaya Cakka nggak nanya-nanya lagi ke aku, aku nggak mau bohongin Cakka lagi, Tuhan, serius deh…” pinta Sivia dengan bersungguh-sungguh.
            Selama Sivia memejamkan matanya dan membuat permohonan, Cakka terus menatap wajah Sivia dari samping tanpa henti. Dalam hati Cakka bertanya-tanya, kenapa Sivia harus mencoba menghindari pertanyaan yang satu itu? Apa ada sesuatu yang Sivia sembunyikan? Yang Cakka tidak boleh ikut campur sama sekali didalamnya? Tapi kenapa? Toh selama ini Sivia selalu terbuka pada Cakka. Dan Sivia berubah semenjak kehadiran Alvin dihidupnya. Cakka mendesah tak kentara, ada apa sebenarnya antara Alvin dan Sivia? Kenapa Cakka begitu takut Alvin akan merebut Sivia darinya?
            “aku nggak mau kehilangan Sivia Tuhan, tolong jangan jauhkan dia dariku” itulah permohonan kecil yang Cakka ucapkan dalam hati. Sebuah Permohonan kecil yang begitu berarti bagi seorang Cakka.
            Setelah mengucapkan semua permohonanya, Sivia langsung menoleh kesamping dan mendapati Cakka yang saat itu masih menatapnya. Sivia tersenyum lantas berkata,
            “tadi bikin permohonan apa?”
            Pertanyaan dari Sivia membuat Cakka terkesiap. Cakka menggeleng beberapa kali,
            “nggak… gue nggak bikin permohonan apa-apa” jawab Cakka dengan pelan. kedua alis Sivia bertaut. Heran.
            Cakka mengalihkan perhatiannya dari wajah Sivia. Ia menatap hampa kedepan sambil memeluk kedua lututnya. Secara tiba-tiba dan mengejutkan Sivia memeluk pundak Cakka dari samping, Siviapun merebahkan kepalanya diatas pundak Cakka.
            “tadi permohonan gue banyaaakkk banget, lo mau tau nggak salah satunya apa?” Cakka mengangguk tanpa suara.
            “gue minta sayap sama Tuhan…”
            “kenapa minta sayap?” Tanya Cakka yang masih menatap hampa kedepan.
            “karna gue pengen bisa terbang, biar kalo gue mau kemana-mana lo nggak perlu capek-capek buat nganter terus ngejemput gue, gue nggak mau nyusahin lo lagi, Kka…” ucap Sivia dengan tulus.
            “gue sayang lo, Kka, dan lo sahabat terbaik dan terhebat yang pernah gue milikin, gue nggak mau kehilangan lo…”
            “gue juga sayang lo, Vi… sayang banget malah” ujar Cakka yang berusaha keras menyembunyikan kegetiran hatinya. “dan gue sangat mencintai lo… lebih dari sekedar sahabat” lanjut Cakka dalam hati.


                                                BERSAMBUNG…

0 comments:

Post a Comment