Hari Pertama
(Sabtu)
Sivia agak sedikit tercengang
melihat pemandangan yang kini ada dihadapannya. Awalnya Sivia berfikir bahwa
Alvin akan membawanya pulang kerumahnya yang besar dan megah juga dengan halaman
super luas lengkap dengan taman kecil yang menghiasi pekarangan rumahnya, namun
ternyata Sivia salah. Alvin malah membawanya kesebuah Rumah Singgah Sederhana.
Rumah Singgah itu berdiri dengan kokoh diatas halamannya yang cukup luas.
Sebuah banner yang bertuliskan
“Rumah Kita” dengan desain yang lumayan menarik
tertempel dengan rapi diatas pintu. Sivia masih terpana menyaksikan
semua itu, sulit ia percaya, bahwa seorang Alvin yang terlihat mentereng
tinggal dirumah Singgah itu. Benarkah? Sivia tidak henti-henti bertanya dalam
hati.
“Heh turun lo buruan!!” dan perintah
sinis dari Alvin itu langsung membuyarkan keterpanaan Sivia.
Sivia mengerjap cepat lalu dengan
segera turun dari atas motor Alvin.
“jangan bilang lo tinggal disini”
ucap Sivia tak percaya.
Alvin tersenyum sinis lantas
berkata,
“iya gue tinggal disini, emangnya
kenapa?”
Sivia menggeleng tak percaya,
“gue nggak percaya kalo lo tinggal
disini”
“nggak urus” sahut Alvin dengan
cepat. Siviapun langsung mengerucutkan bibirnya.
Alvin turun dari atas motornya lalu
melenggang dengan santai melewati Sivia yang saat itu masih dalam keadaan
setengah terpana. Harus Sivia akui, bahwa Alvin ini adalah sosok cowok
misterius, dan meski sangat berat dan bertentangan dengan batinnya, Sivia
merasa sedikit penasaran dengan Alvin. Catat hanya ‘sedikit’ merasa penasaran.
Merasa bahwa Sivia tidak
mengikutinya, Alvinpun menghentikan langkahnya lalu menengok kebelakang. Alvin
mendesah tak sabar lalu memasang raut wajah tak percaya. Buat apa cewek tengik
itu masih berdiri disana? Apa Alvin harus mempersilahkannya jalan terlebih
dahulu seperti seorang pengawal yang mempersilahkan Tuan Puterinya? Cuih,
sampai matipun Alvin tidak akan melakukan hal konyol itu pada cewek yang juga
konyol itu. Jika Alvin sampai melakukan hal itu, maka Alvin lah cowok terkonyol
yang pernah hidup dimuka bumi ini.
Alvin melipat kedua tangannya
didepan dada, ia memasang wajah angkuhnya lalu dengan nada meninggi berkata
pada Sivia,
“buat apa lo masih disana? Ayo ikut
gue masuk!!”
Untuk yang kedua kalinya Sivia
kembali membuyarkan keterpanaannya. Ia menggeleng beberapa kali lalu berlari
kecil menghampiri Alvin.
“sabar dikit kek… kenapa sih lo
seneng banget ngebentak-bentak gue?”
Alvin dan Sivia berjelan beriringan
memasuki rumah singgah.
“suka-suka gue”
^_^
Dari salah satu sudut ruangan
disebuah restaurant tampak seorang Pria Dewasa dan seorang Wanita Dewasa
berusia sekitar 35 tahun tengah duduk berhadapan sambil sesekali menyantap
hidangan pesanan mereka masing-masing. Sepasang kekasih itu terlihat sangat
serius membicarakan suatu hal.
“Denita, apa kita langsung menikah
saja tanpa persetujuan dari Alvin?” Tanya Pria yang berwajah sedikit mirip
dengan Alvin itu. Dialah Farish Sindhunata, Papa Alvin.
Wanita yang bernama Denita itu
kontan saja melepaskan sendok dan garpunya manakala mendengarkan ucapan dari
kekasihnya –calon suaminya lebih tepat- Ia menatap Pria yang duduk dihadapannya
itu dengan kedua alis bertaut. Tak lama kemudian wanita itupun menggeleng
lantas berkata,
“tidak Mas, kita tidak akan pernah
menikah sebelum mendapatkan restu dari Alvin, biar bagaimanapun Alvin itu
adalah anak mu Mas, dan nanti akan menjadi anakku juga, kamu fikir aku mau
dimusuhi oleh anak yang nantinya akan menjadi anakku, tidak Mas…”
“Denita ayolah, kamu hanya tidak tau
bagaimana Alvin, dia itu keras kepala, dan jika Alvin sudah berkata tidak, maka
selamanya akan tetap tidak”
“tapi bukan berarti kita tidak bisa
meluluhkan hatinya kan, Mas? Alvin hanya butuh sedikit waktu, itu saja. Bersabarlah
sebentar!”
“2 tahun Denita, 2 tahun aku
berusaha sabar dengan sikap anak itu, tapi sampai sekarang apa balasannya? Yang
Alvin mau itu aku kembali lagi dengan Mamanya, dan kamu tau itu tidak mungkin
kan? Aku sudah terlanjur mencintaimu, Denita”
Denita menghela nafas beratnya. Ia
berusaha terlihat tetap tenang dihadapan kekasihnya. Jujur saja, saat ini
Denita sedang dalam keadaan gusar, sama seperti Farish, bahkan mungkin Denita
jauh lebih gusar dibandingkan dengan Farish, tapi Denita tau, ia harus tetap
berusaha tenang dan tetap berkepala dingin dalam menghadapi semua masalah ini.
Denita percaya bahwa semua masalah pasti memiliki jalan keluarnya
masing-masing, termasuk dengan masalahnya ini.
Denita menumpuk tangannya diatas
tangan Farish. Dengan lembut Denita menggenggam erat jemari tangan Farish,
“kamu tidak perlu takut, Mas,
semuanya sudah ada yang mengatur” Denita menyunggingkan sebuah senyuman. Dan
seketika itu juga Farish pun akhirnya dapat merasakan sebuah ketenangan.
^_^
“Kak Alvin, Puteri Cantik ini
siapa?” Tanya Gilang setelah cukup lama mengamati Sivia dari ujung kaki hingga
rambut.
Tak hanya Gilang, tapi seluruh Adik
angkat Alvin yang menghuni Rumah Singgah ini merasa heran ketika pertama kali
Sivia memasuki Rumah mereka. Mereka semua dengan kompak memperhatikan Gadis
Cantik yang tau-tau dibawa oleh Alvin.
“ini Kak Sivia, pembantu baru kita
disini” jawab Alvin dengan santainya.
Semua yang mendengarkan penuturan
Alvin langsung terkejut. Masa kah ada pembantu secantik itu? Sementara Sivia,
ia berusaha sabar dengan sikap menyebalkan yang ditunjukan oleh Alvin itu.
“HAAA…?? PEMBANTU?? NGGAK MUNGKIN”
Ucap semuanya dengan kompak. Bahkan saking kompaknya Sivia saja sampai
terkagum-kagum.
Rumah Singgah yang diberikan nama
Rumah Kita ini dibangun oleh Mama Alvin sekitar setahun silam. Alvin dan Mama
nya yang memang sangat perihatin dengan nasib anak-anak terlantar mulai
mengumpulkan beberapa anak jalanan serta anak putus sekolah untuk kemudian
dikumpulkan dirumah singgah ini. Dirumah Kita ini, para anak terlantar yang
berhasil Alvin dan Mamanya kumpulkan mulai dididik untuk bisa menjalankan
kehidupan yang lebih layak lagi. Ada sekitar 10 anak yang tinggal diRumah Kita,
2 diantaranya sudah menginjak usia 16 tahun, sama seperti Alvin, mereka adalah
Dayat dan Rizky. Hanya saja mereka tidak satu sekolah dengan Alvin. Dan seluruh
biaya sekolah ke-10 anak terlantar itu dibiayai penuh oleh Papa Alvin, dan itu
masih sampai sekarang.
Sepulang sekolah, Alvin membantu
beberapa Adik angkatnya untuk mengamen. Hasil mengamen itu mereka tabung untuk
masa depan mereka. Dan Alvin tidak pernah sedikitpun merasa malu bisa membantu
adik-adik angkatnya itu. Malahan Alvin bangga karna ia bisa sedikit berguna
untuk orang lain. Dan dibalik semua sikap angkuh Alvin, ternyata ia memiliki
hati yang baik dan sifap seperti seorang Malaikat.
Selain mengamen tentu saja Alvin
mengajarkan banyak hal pada adik-adik angkatnya. Mulai dari bermain music,
melukis sampai membuat prakrya. Dan hasil Prakrya mereka itu kadang bisa mereka
jual dengan harga yang tidak main-main. Mama Alvin bahkan membayar seorang Guru
Seni untuk membantu anak-anak terlantar itu. Untuk bermain music, Alvin sendiri
yang langsung turun tangan untuk mengajari adik-adiknya.
“ayo kenalan sama ‘MBOK’ baru kalian”
ucap Alvin seraya memberi penekanan pada kata Mbok.
Sivia langsung melotot tajam kearah
Alvin, tapi yang dipelototi malah cuek-cuek saja dan nggak bereaksi apa-apa.
Dengan senyum riangnya Alvin
berjalan mendekati Sivia lalu mengulurkan tangannya dihadapan Sivia,
“Hay Kakak Cantik, kenalin namaku
Gilang…”
Sivia tersenyum dan berusaha
memasang wajah semanis mungkin,
“Sivia, tapi panggil aja Kak Via…”
“mau banget lo dipanggil Kakak
perasaan” celetuk Alvin yang tiba-tiba saja sewot. Tapi Sivia sudah terlanjur
malas untuk meladeni Alvin.
“aku Rafli, Kak Via…” ucap salah
seorang anak yang berwajah manis itu sambil menyalami tangan Sivia.
Melihat wajah Rafli, Sivia terlihat
berfikir sejenak. Ia seperti pernah melihat wajah anak manis ini, tapi dimana?
Sivia berusaha memutar ingatannya, tapi hingga beberapa lama, ia tak juga bisa
mengingat. Daya ingat Sivia emang agak sedikit payah.
“kayak pernah lihat” Sivia mengujar
dalam hati.
Gilang, Rafli, Fatah, Cindai, Dinda,
Novi, Difa, dan Bagas, itulah ke-8 nama-nama adik angkat Alvin yang sudah
berkenalan dengan Sivia. Sementara 2 nya lagi yaitu Dayat dan Rizky belum
pulang dari sekolah. Setelah berkenalan dengan ke-8 anak-anak yang menurut
Sivia lumayan asyik itu, Alvin langsung berkata dengan nada yang lumayan sinis
pada Sivia.
“udah kenalan kan? Sekarang waktunya
lo kerja”
“iya, tapi gue ganti baju bentar.
Kamar mandi dimana?”
“dibelakang” jawab Alvin dengan
singkat. Tanpa banyak bicara lagi Sivia langsung bergegas ke kamar mandi untuk
mengganti bajunya.
^_^
Cakka menatap Gitar warna pink yang
terletak disudut kamar Sivia. Gitar itu adalah Gitar pemberian Cakka sendiri
sebagai hadiah ulang tahun Sivia yang ke-14. Tiba-tiba saja ingatannya
menyeretnya ke masa 3 tahun silam saat ia untuk yang pertama kalinya mengajari
Sivia bermain gitar. Cakka tersenyum. Sejak sejam yang lalu Cakka sudah berada
didalam kamar Sivia untuk menunggu Princess Bawelnya itu, tapi hingga jauh
waktu ia menunggu, Sivia tidak juga menampakkan dirinya. Cakka cemas, semoga
tidak terjadi apa-apa pada Si Bawel itu.
Cakka bangkit dari tepi ranjang
Sivia lantas berjalan perlahan mendekati Gitar Pink kesayangan Sivia. Cakka
meraih gitar itu lalu duduk disebuah sofa yang terdapat didalam kamar Sivia,
secara perlahan tangan terampil Cakka mulai memetik senar gitar itu dan
memainkan sebuah lagu.
Tiba-tiba bayangan saat Sivia lebih
memilih menaiki motor Alvin dibandingkan dengan motor Cakka menyelinap diingatan
Cakka. Cakka menghentikan permainan gitarnya. Sebuah perasaan ngilu kembali
mengusik ketenangan hatinya. Cakka melepaskan gitar itu dan berusaha berfikir
jernih. Cakka tidak ingin berfikir yang macam-macam tentang sahabatnya itu, dan
Cakka berusaha yakin, Sivia pasti memiliki urusan yang lumayan penting dengan
Alvin. Dan masalah itu urusan apa, Cakka percaya bahwa nanti Sivia akan
menceritakan semuanya padanya.
Lalu sekarang kenapa Cakka harus
cemas? Toh Sivia tidak akan kemana-mana, Sivia akan selalu ada bersamanya, dan
Sivia tetap akan menjadi….. sahabatnya.
Meski sebenarnya hati kecil Cakka
mengharapkan lebih dari itu, meski sebenarnya Cakka menginginkan Sivia
sepenuhnya untuk menjadi pengisi relungnya, tak hanya itu, tapi Cakka juga
menginginkan hati Gadis itu juga cintanya yang utuh, tapi sepertinya Cakka
harus bisa lebih bersabar lagi, karna sampai detik ini Sivia tidak pernah
sedikitpun menunjukan rasa ketertarikannya pada Cakka, dan Cakka sadar
sesadar-sadarnya bahwa Sivia hanya menganggapnya sebagai sahabat, dan mungkin
tidak akan pernah bisa lebih dari sahabat.
“Maaf, Vi, karna gue udah egois…”
gumam Cakka pelan.
^_^
“itu kerjaan-kerjaan lo selama
seminggu ini, dan gue butuh tanda tangan lo sebagai tanda persetujuan lo” ucap
Alvin sok galak seraya menyodorkan selembar kertas HVS berisi kontrak kerja
mereka selama seminggu yang diketik dengan rapih oleh Alvin sendiri, bahkan
Alvin sudah terlebih dahulu membubuhkan tanda tangannya.
“perlu ya sampe kayak gini? Lo
tenang aja, tanpa pake beginian jug ague nggak bakalan kabur” sinis Sivia
sambil menyodorkan kembali kertas itu pada Alvin. Sivia melipat kedua tangannya
didada lalu membuang mukanya kearah jendela. Pandangan Siviapun tertuju pada
adik-adik angkat Alvin yang saat itu tengah asyik bermain dihalaman.
“dan lo fikir gue bakal segampang
itu percaya sama peniupu kelas kakap kayak lo”
Sivia melotot tajam mendengar ucapan
Alvin, kali ini Sivia melirik tajam kearah Alvin.
“heh, lo jangan sembarangan ngomong
ya? Lo itu nggak kenal gue jadi gimana bisa lo ngomong kayak gitu ke gue”
protes Sivia yang benar-benar tidak terima dengan ucapan Alvin barusan.
“tapi gue nggak ngerasa sembarangan
ngomong” Alvin bangkit dari sofa yang sedari tadi ia duduki dan berjalan
perlahan menghampiri Sivia yang duduk disebrangnya.
Sivia berusaha tenang meski sebenarnya hatinya sudah
dagdigdug nggak karuan saat Alvin berdiri didepannya lalu menjongkok dengan
jarak wajah yang begitu dekat dengan wajahnya.
“lo lupa gimana lo bawa hp gue kabur dihari pertama kita
ketemu? Dan lo lupa juga, gimana lo berusaha kabur dari gue pas kita bertemu
lagi untuk yang kedua kalinya? setelah semua kelicikan lo itu, lo fikir gue
bakalan sudi percaya sama lo?” Sivia menelan ludah mendengarkan setiap kalimat
demi kalimat yang Alvin lemparkan padanya.
Deguban jantung Sivia semakin tak beraturan ketika Alvin
semakin mendekatkan wajahnya. Kedua bola mata Alvin menatap tajam kearah kedua
mata indah milik Sivia. Hening. Sivia merasakan desauan hangat nafas Alvin yang
kini menerpa wajahnya dan menimbulkan semburat warna merah merona pada kedua
pipi chubby-nya. Sivia berharap bahwa Alvin tidak mendengarkan suara deguban
jantungnya yang semakin lama semakin kencang saja menggedor dadanya. Alvin
tersenyum sinis, tanpa Sivia sadari, Alvin sekuat tenaga berusaha menahan
tawanya yang nyaris meledak ketika melihat ekspresi cewek yang ada didepannya
ini.
Alvin yang isengpun kini memiringkan wajahnya dan bersikap
seolah-olah ia ingin mencium Sivia. Dalam hati Sivia berdoa semoga Alvin tidak menciumnya.
Dan Sivia sudah berfikir untuk segera menendang selangkangan Alvin jika nanti
Alvin berani merenggut first kiss nya. Cowok ini akan benar-benar mati, gumam
Sivia dalam hati.
“kalo lo nggak mau gue cium, buruan tanda tangan!!” bisik
Alvin pelan lantas menjauhkan wajahnya dari wajah Sivia. Tenggorokan Sivia
seketika tercekat. Tadi Alvin nyaris saja membunuhnya.
Alvin meraih tangan Sivia lalu menyerahkan paksa sebuah
bolpoint untuk Sivia. Tanpa berkata banyak, Sivia langsung menerima bolpoint
itu. Dan seakan terhipnotis, Sivia langsung menandatangi kertas yang Alvin
sodorkan tadi. Alvin berbalik lalu tersenyum licik.
“Kak Alvin, genteng nya pecah” ucap Gilang yang tiba-tiba
saja masuk keruang tengah. Pandangan Alvin dan Sivia langsung tertuju pada Gilang.
“kok bisa pecah?” Tanya Alvin,
“tadi Fatah nendang bolanya terlalu kenceng, Kak, terus kena
genteng deh” jawab Gilang apa adanya.
“apa perlu Fatah yang disuruh merbaiki genteng nya?” Tanya
Gilang lagi.
Alvin terlihat berfikir. Tidak lama niat mengerjai Siviapun
timbul diotaknya, Alvin berbalik lalu melirik nakal kearah Sivia yang saat itu
masih duduk dengan manis disofa. Menyadari ada yang aneh dari tatapan Alvin,
Siviapun mulai merasakan sebuah firasat buruk.
“nggak perlu! Biar Kak Via aja yang merbaiki gentengnya” ucap
Alvin sambil tetap melirik Sivia. Sivia kontan saja terkejut mendengarkan
ucapan Alvin barusan. Dengan setengah percaya, setengah tidak Sivia langsung
menunjuk wajahnya sendiri.
“GUE??”
^_^
Tanpa bisa menolak lagi, kali ini
Sivia harus mengikuti perintah Alvin jika tidak mau diseret kekantor polisi
atas tuduhan pencurian. Sebenarnya agak keterlaluan juga Alvin menyuruhnya
untuk memperbaiki genting. Tapi mau bagaimana lagi?
Dengan was-wasa Sivia menaiki tangga
yang sudah Alvin persiapkan untuknya. Baru saja Sivia menaikkan salah satu
kakinya, ia sudah merasakan gemetaran yang luar biasa.
“kelamaan lu ye?” ucap Alvin tak
sabar. Tapi Sivia tidak sedikitpun menggubris ucapan Alvin itu. Ia kembali
berusaha menaikkan salah satu kakinya.
“Kakak, kasian tau Kak Via nya, udah
sini biar Bagas aja yang kerjain” bisik Bagas didepan telinga Alvin.
“udahlah Bagas, kita liat aja dulu
keberanian dia, toh Kakak nggak beneran nyuruh dia, Kakak Cuma ngerjain dia”
bisik Alvin tanpa rasa bersalah sama sekali.
5 menit kemudian Sivia akhirnya
berhasil menapaki seluruh anak tangga. Alvin telah benar-benar berhasil
mengerjainya. Dalam hati Alvin tertawa lepas.
Tiba-tiba saja Sivia merasakan
seluruh tubuhnya bergetar hebat, ia berusaha menahan tubuhnya agar tidak
terjatuh kebawah. Namun usaha Sivia gagal total. Gemetaran hebat yang ia
rasakan ternyata mampu mengalahkan pertahannya. Semuanya terjadi begitu cepat,
Sivia terjatuh. Semua yang menyaksikan adegan yang lumayan berbahaya itu
terkejut secara bersamaan tak terkecuali Alvin.
“AAAAAA…..” Teriak Sivia
sekencang-kencangnya.
Ternyata Tuhan masih menyayangi
Sivia, karna sebelum Sivia benar-benar jatuh tergeletak ditanah, dengan sigap
Alvin menangkap tubuhnya. Siviapun akhirnnya terjatuh tepat digendongan Alvin.
Alvin menghirup nafas lega saat itu juga. Kedua tangan kekar Alvin menahan
tubuh Sivia. Sementara kedua tangan Sivia melingkar dengan kuat dileher Alvin.
Sivia memejamkan kedua matanya
sekuat mungkin. Beberapa kali bibir
munglinya merapalkan berbagai macam kalimat yang tidak jelas juntrungannya.
“Tuhan, Via masih hidupkan? Via
belum mau mati Tuhan. Via masih mau hidup. Via masih mau bahagiain Mama sama
Marsha, Via masih mau bareng-bareng sama Cakka, Via masih mau bikin Ify sama Shilla
kesel….”
Entah sadar atau tidak, Alvin
menatap wajah Sivia lekat-lekat, ternyata jika diperhatikan lebih seksama lagi,
Sivia ini nggak jelek-jelek amat. Lihatlah wajahnya yang mulus tanpa cela,
lihatlah alisnya yang tebal, matanya yang sipit dan pipi chubby-nya yang sangat
menggemaskan. Tanpa sadar Alvin tersenyum.
Merasa bahwa nyawanya masih
baik-baik saja, Siviapun membuka kedua matanya, saat itu juga tatapan matanya
langsung tertumbuk pada kedua bola mata Alvin yang masih betah menulusuri
setiap lekuk kecantikannya.
Siviapun akhirnya dengan berani
mengadu pandangannya dengan Alvin. Kedua mata mereka nyaris tak berkedip, saat
itu juga waktu seolah berhenti beredetak. Mereka merasa tak ada siapapun yang
mampu mengusik mereka saat ini, bahkan deru angin yang lalu pun tak mampu.
Alvin dan Sivia masih bertahan
mengadu pandangan mereka, bersamaan dengan itu Sivia merasakan deguban
jantungnya kembali tak tenang. Seumur-umur, ini baru pertama kalinya Sivia
menatap seorang cowok bahkan sampai sedalam itu. Tenggorokan Sivia semakin
tercekat manakala kedua bola mata Alvin semakin dalam menatap kedua bola
matanya. Ada rasa tak wajar yang tak mampu mereka jelaskan ketika saling
bertatapan, rasa yang entah kapan akan mereka sadari.
“Kak Via nggak apa-apa kan?” Pertanyaan
dari Difa itu kontan saja membuat Alvin dan Sivia terkesiap.
Mereka sama-sama tertarik dari
keterpanaan mereka masing-masing.
“lepasin gue, ihhh….” Kata Sivia
seraya memukul pelan dada bidang Alvin.
Tanpa mau berfikir panjang lagi,
Alvin langsung saja melepaskan tubuh Sivia hingga Sivia terjatuh ketanah. Sivia
merasakan seluruh tubuhnya remuk saat itu juga.
“ALVIIINNNNNN….. LO JAHAT AMAT SIH?”
Jerit Sivia dengan histeris sambil memegangi pinggangnya yang terasa sakit.
“Begok… elo kan yang nyuruh gue buat
ngelepasin lo?” jawab Alvin yang seolah tak terima disalahkan seperti itu.
“iya… tapi apa nggak ada cara yang
lebih lembut lagi?” kesal Sivia yang merasa benar-benar sakit hati atas
perlakuan Alvin.
“nggak kalo buat cewek kayak lo”
itulah ucapan terakhir Alvin sebelum akhirnya ia kembali masuk kedalam rumah
singgah.
^_^
Waktu sudah menunjukan pukul 18.00,
Siviapun segera bersiap-siap untuk pulang. Ia kembali mengganti pakaian
santainya dengan seragam sekolah. Hari ini Alvin benar-benar telah menyiksa
Sivia habis-habisan. Mulai dari disuruh masak, untung saja Sivia pintar masak,
jadinya kan Alvin nggak ada alasan buat memprotes hasil masakannya. Lalu
disuruh menyapu dan mengepel seluruh ruangan, disuruh menyapu halaman, menyiram
tanaman, de el el. Pokoknya hari ini adalah hari yang paling melelahkan seumur
hidup Sivia.
“Alvin, anterin gue pulang dong”
pinta Sivia dengan ragu. Sebenarnya Sivia tau bahwa Alvin tidak mungkin mau
mengantarnya pulang, tapi kenapa Sivia masih saja memintanya? Ok, kali ini
Sivia memang begok.
“sejak kapan pembantu ngasih
perintah ke majikan?” Tanya Alvin retoris sambil tetap focus membaca buku paket
Biologinya.
Sivia mendesah pelan, tanpa berkata
apa-apa lagi, ia langsung balik kanan dan pergi. Alvin mengangkat wajahnya
sejenak dari buku paket Biologi yang sejak tadi ia baca. Ekor matanya langsung
menangkap siluet Sivia yang saat itu nyaris menghilang dari pandangannya. Alvin
tersenyum miring lalu kembali melanjutkan bacaannya yang sempat tertunda.
Sudah hampir jam setengah 7 malam,
tapi hingga sekarang Sivia belum juga mendapatkan sebuah taxi atau kendaraan
umum lainnya yang bisa membawanya pulang kerumah. Sivia menghentakkan kedua
kakinya secara bergantian ditanah. Hari ini benar-benar menyebalkan.
Pada akhirnya Siviapun memutuskan
untuk menelpon Cakka. Sivia mengambil ponsel yang sengaja dipinjamkan Shilla
untuknya. Dengan segera Sivia mencari nomer Cakka lalu menelpon sahabatnya itu.
Sivia tidak perlu menunggu lama, karna beberapa detik kemudian Cakka langsung
mengangkat telfonnya.
“Hallo Kka?”
“…..”
“bisa jemput gue nggak sekarang?”
“…..”
“iya, ntar gue sms-in aja
alamatnya…”
“…..”
“gue nggak kenapa-napa kok, gue
baik-baik aja”
“…….”
“iya serius… udah jemput gue buruan,
gue udah laper ini…”
“…..”
“ya udah Bye… thanks ya Kka…”
Siviapun mematikan sambungan
telfonnya. Kali ini Sivia bisa sedikit lebih tenang. Tapi Sivia kembali
bingung, nanti apa yang harus ia katakan pada Cakka jika ia bertanya Sivia
melakukan apa saja dengan Alvin hari ini? Duuhh…. Sivia bingung.
Sesekali Alvin melihat keluar,
memastikan apakah Gadis itu sudah pulang atau belum. Tapi hingga setengah jam
berlalu, Sivia masih betah berdiri didepan gerbang. Alvin berfikir sejenak,
tidak ada salahnya juga ia mengantar Sivia pulang? Toh sekalian Alvin juga
pulang. Alvin berdecak pelan lalu memasuki ruang tengah untuk mengambil jaket
berserta kunci motornya.
Alvin keluar dari rumah singgah
sambil bersiul-siul dan memainkan kunci motornya dijari tangannya, tapi
mendadak Alvin menghentikan langkahnya saat melihat seorang cowok menghampiri
Sivia menggunakan motor Cagiva-nya.
“Cakka, untung lo dateng… lo emang
penyelamat gue Kka…” ucap Sivia antusias sambil memeluk pundak Cakka.
“lo ngapain aja sih disini
seharian?” Tanya Cakka. Siviapun melepaskan pelukannya dari Cakka lantas
berkata,
“ceritanya nanti aja ya? Gue laper
banget soalnya” ucap Sivia dengan tampang memelas yang sebenarnya hanya ingin
mengalihkan topic.
Cakka membelai lembut rambut panjang
Sivia dengan raut wajah yang cemas. Ia takut terjadi sesuatu pada Gadis
Bawelnya itu.
“ya udah, ntar kita mampir bentar ya
dirumah makan?”
Cakka membuka jaketnya lalu
memasangkannya dengan penuh perhatian pada tubuh Sivia.
“lo pake ini ya biar nggak dingin”
Sivia hanya menurut saja. Setelah
Cakka memasangkan jaket itu ditubuhnya, Siviapun langsung menaiki motor Cakka.
Ia memeluk tubuh Cakka seerat mungkin lantas menelengggamkan wajah cantiknya
pada bahu Cakka sebelum akhirnya Cakka melajukan motornya dengan kecepatan
standart.
Melihat pemandangan yang lumayan
romantic itu Alvin tersenyum tipis, lantas berjalan perlahan menghampiri
motornya.
“seenggaknya lo nggak perlu
ngerepotin gue malem ini…” ucap Alvin senang lalu menjalankan motornya dan
meninggalkan rumah singgah dengan suasana hati yang tak terjelaskan.
^_^
Setelah merasa cukup kenyang, Cakka
dan Siviapun melanjutkan perjalanan mereka yang sempat tertunda. Mereka berdua
tidak langsung pulang kerumah, melainkan mereka singgah dulu dibukit yang
menjadi tempat favorit mereka sejak mereka masih kanak-kanak. Kebetulan juga
malam itu adalah malam minggu, dan malam minggu memang saatnya untuk Cakka dan
Sivia menyambangi bukit mereka.
Tadi saat mereka tangah makan malam
bersama, Sivia sempat menjelaskan apa yang telah terjadi pada Cakka, akan
tetapi Sivia terpaksa harus berbohong pada Cakka. Karna jika tidak begitu,
Cakka pasti langsung marah besar dan langsung menemui Alvin untuk menghajarnya
habis-habisan. Sivia tidak ingin semua itu terjadi sekalipun ia sangat membenci
Alvin. “tadi gue abis ngunjungin anak-anak terlantar dirumah singgah milik
Alvin” itulah alasan yang Sivia lontarkan untuk Cakka. Cakka berusaha
mempercayai Sivia sepenuhnya.
Sekitar 10 menit kemudian tibalah
Cakka dan Sivia dibukit. Kali ini mereka sudah berdampingan diatas bukit sambil
menatap milyaran bintang yang bertebaran diatas angkasa luas. Hening untuk
beberapa saat, belum ada satupun dari mereka yang berinisiatif untuk membuka
pembicaraan. Cakka yang mulai merasa tak nyaman dengan situasi beku ini akhirnya
berusaha mencairkan situasi.
“kok lo bisa kenal sama Alvin? Kenal
dimana?”
Senyum yang sejak tadi merekah
diwajah Sivia mendadak musnah ketika mendengarkan pertanyaan yang Cakka ajukan.
Sivia tidak ingin membohongi Cakka lagi. Sudah cukup semuanya.
“ada bintang jatuh, Kka…” ujar Sivia
senang seraya menunjuk keatas langit. Siviapun akhirnya terselamatkan dari
pertanyaan Cakka.
Seperti biasa jika melihat bintang
jatuh, Sivia buru-buru memejamkan matanya lalu membuat sebuah permohonan.
“aku mau Alvin yang rese itu dikutuk
Tuhan, terserah deh mau dikutuk jadi apa aja, mau jadi kodok kek, monyet kek,
lutung kek, yang penting Alvin dikutuk, dan aku minta juga supaya Cakka nggak
curiga sama aku, supaya Cakka nggak nanya-nanya lagi ke aku, aku nggak mau bohongin
Cakka lagi, Tuhan, serius deh…” pinta Sivia dengan bersungguh-sungguh.
Selama Sivia memejamkan matanya dan
membuat permohonan, Cakka terus menatap wajah Sivia dari samping tanpa henti.
Dalam hati Cakka bertanya-tanya, kenapa Sivia harus mencoba menghindari
pertanyaan yang satu itu? Apa ada sesuatu yang Sivia sembunyikan? Yang Cakka
tidak boleh ikut campur sama sekali didalamnya? Tapi kenapa? Toh selama ini
Sivia selalu terbuka pada Cakka. Dan Sivia berubah semenjak kehadiran Alvin
dihidupnya. Cakka mendesah tak kentara, ada apa sebenarnya antara Alvin dan
Sivia? Kenapa Cakka begitu takut Alvin akan merebut Sivia darinya?
“aku nggak mau kehilangan Sivia Tuhan,
tolong jangan jauhkan dia dariku” itulah permohonan kecil yang Cakka
ucapkan dalam hati. Sebuah Permohonan kecil yang begitu berarti bagi seorang
Cakka.
Setelah mengucapkan semua
permohonanya, Sivia langsung menoleh kesamping dan mendapati Cakka yang saat
itu masih menatapnya. Sivia tersenyum lantas berkata,
“tadi bikin permohonan apa?”
Pertanyaan dari Sivia membuat Cakka
terkesiap. Cakka menggeleng beberapa kali,
“nggak… gue nggak bikin permohonan
apa-apa” jawab Cakka dengan pelan. kedua alis Sivia bertaut. Heran.
Cakka mengalihkan perhatiannya dari
wajah Sivia. Ia menatap hampa kedepan sambil memeluk kedua lututnya. Secara
tiba-tiba dan mengejutkan Sivia memeluk pundak Cakka dari samping, Siviapun
merebahkan kepalanya diatas pundak Cakka.
“tadi permohonan gue banyaaakkk
banget, lo mau tau nggak salah satunya apa?” Cakka mengangguk tanpa suara.
“gue minta sayap sama Tuhan…”
“kenapa minta sayap?” Tanya Cakka
yang masih menatap hampa kedepan.
“karna gue pengen bisa terbang, biar
kalo gue mau kemana-mana lo nggak perlu capek-capek buat nganter terus
ngejemput gue, gue nggak mau nyusahin lo lagi, Kka…” ucap Sivia dengan tulus.
“gue sayang lo, Kka, dan lo sahabat
terbaik dan terhebat yang pernah gue milikin, gue nggak mau kehilangan lo…”
“gue juga sayang lo, Vi… sayang
banget malah” ujar Cakka yang berusaha keras menyembunyikan kegetiran hatinya.
“dan gue sangat mencintai lo… lebih dari sekedar sahabat” lanjut Cakka dalam
hati.
BERSAMBUNG…


0 comments:
Post a Comment