“NO…NO…NO…. saya gak mau Pak!” tolak
Alvin mentah-mentah tanpa basa basi apapun.Sivia langsung cemberut dan seperti
biasa Sivia memanyunkan bibirnya. Pak Dave melipat kedua tangannya didada
lantas berkata pada Alvin,
“Kenapa
kamu gak mau……?” Tanya Pak Dave pada Alvin,
“ya
gak mau aja Pak… masa’ saya harus duet sama Si O’on, bisa-bisa ancur pak semuanya,
bukan hanya martabat saya yang ancur, tapi nama sekolah kita juga pasti bakalan
ancur…” jawab Alvin asal-asalan.
“Alvin,
kamu ini sembarangan aja…! Pokoknya kamu tidak boleh protes, Kamu akan tetep
duet sama Sivia, ngerti kamu….??”
“YESSSS….”
Teriak Sivia sekencang-kencangnya.Ia terlihat begitu girang tak alang kepalang.
Alvin mengangkat tangannya dan kembali berusaha merubah fikiran Pak Dave,
“Pak,
emangnya gak ada yang lain apa…? Saya kan masih bisa duet sama Shilla, Shilla
kan pacar saya, jadi secara otomatis kalo saya duet sama Shilla, feel nya akan
lebih dapet lagi Pak….”
“feel…feel…
tau apa kamu soal feel? Ini bukan masalah feel, tapi ini masalah kecocokan
suara kamu sama Sivia, feel bisa dicari belakangan, asal suara sesuai….”
“yaahh
Pak….ato kalo gitu sama Ify aja deh! Suara Ify kan beda-beda tipis sama Sivia,
improvisasi mereka juga sama-sama hebatnya…. Sama Ify aja ya Pak, please….!”
Ucap Alvin dengan nada memohon,
“emangnya
ada apa sih dengan Sivia? Kenapa kaya’nya kamu anti banget sama Sivia….??”
Tanya Pak Dave tiba-tiba mengalihkan topic, dengan spontan Alvin menjawab,
“Sivia
lemot sih Pak….” Semua yang ada diruang music langsung tertawa terbahak-bahak
mendengarkan jawaban Alvin yang super konyol itu. Sivia hanya bisa pasrah
mendengarkan sindiran Alvin yang lumayan pedas itu.
“alasan
kamu itu klise! Bapak sudah tidak mau dengar alasan apa-apa lagi dari kamu!
Kamu akan tetep duet sama Sivia, apapun yang terjadi, perlombaan Cuma tinggal 2
minggu lagi, latihan yang giat, sabtu sore sama minggu sore Bapak tunggu kalian
disini untuk latihan…”
Lagi-lagi
Alvin tersentak, berarti pada hari sabtu nanti, Alvin benar-benar menghabiskan
waktunya bersama Sivia, cewek yang paling dia benci. Dari sekarang, Alvin sudah
miris membayangkan nasib nya, bagaimana ia harus menghabiskan waktu bersama
Sivia seharian, dari pagi hingga malam. Alvin tak sanggup! Tapi mau tak mau
suka tak suka, Alvin harus tetap melakukan hal itu demi nama baik sekolahnya
juga demi perjanjian yang ia buat dengan Mama Sivia. Pak Dave dengan diikuti
oleh semua siswapun meninggalkan ruang music. Yang ada didalam ruang music kini
hanya ada Alvin dan Shilla. Ketika melihat bahwa Alvin dan Shilla hanya berdua
saja, Cakkapun berdiri didepan ruang music untuk mengawasi gerak gerik Alvin
dan Shilla.
Shilla
yang mengerti dengan apa yang Alvin rasakan akhirnya merangkul Alvin, ia
mengusap-usap dada Alvin dan berusaha menenangkan hatinya.
“udahlah
Vin, semuanya gak seperti apa yang kamu bayangin kok! Via cewek yang baik, ya
walopun kita semua tau, kalo Via itu rada-rada lemot, tapi ya udahlah, kamu
jangan jadiin itu Big Problem….”
“tapi
kan Shill…..”
“anggep
kamu ngelakuin semua ini demi aku Vin, kamu sayang kan sama aku….?” Alvin
menatap Shilla dengan tatapan memicing, tak lama Alvin meraih tangan Shilla
lalu menciumnya,
“jelas
lah aku sayang sama kamu…”
“jadi
kamu bersedia kan duet sama Sivia demi aku….??” Alvin menghela nafas panjang,
tak lama Alvinpun akhirnya mengangguk dengan terpaksa. Shilla tertawa kecil
seraya mengacak rambut Alvin,
“ahahaha….makasih
ya Vin….?”
“apa
sih yang gak buat kamu…” Alvin tersenyum pahit. Shilla menarik pipi Alvin
dengan gemes.
“Shill….”
Panggil Alvin setengah berbisik seraya menatap mata Shilla dalam-dalam. Melihat
tatapan Alvin, Shilla langsung menghentikan tawanya.
“kenapa,
Vin….?”
“kamu
tau gak? Aku merasa beruntung banget punya pacar kaya’ kamu, kamu itu
pengertian, baik, perhatian sama aku, cerdas, cantik pula….tapi yang
terpenting, kamu tu setia sama aku, makasiih ya….”
Ketika
Alvin mengatakan bahwa dia setia, sebuah rasa bersalah langsung terlintas
dibenak Shilla. Ia benar-benar merasa bersalah terhadap Alvin. Karna pada
kenyataan yang sesungguhnya, Shilla tak pernah setia pada Alvin, Shilla telah
menusuk Alvin dari belakang.
“sayang,
kamu kenapa diem?” Tanya Alvin dengan nada cemas sambil memegang wajah Shilla,
Shilla menggeleng dengan senyum yang ia paksakan,
“gak
apa-apa kok, Vin….” Alvin mendekatkan wajahnya dengan wajah Shilla. Suasana
hening seketika, wajah mereka semakin dekat, dan saat bibir Alvin akan
menyentuh bibir Shilla, tiba-tiba saja Shilla menghindar dengan buru-buru
memalingkan wajahnya. Alvin heran. Ada apa dengan Shilla? Fikir Alvin.
“udah
siang Vin, kita pulang yuk…!” ucap Shilla setenang mungkin seraya bangkit dari
tempat duduknya.
“tapi
Shill….”
“udaaahh….ayo
kita pulang!” ajak Shilla sambil menarik-narik pergelangan tangan Alvin dan
membawanya keluar dari ruang music.
^_^
Sabtu
sore, sekitar pukul 15.30 Sivia telah bersiap-siap untuk pergi kesekolah. Ini
adalah latihan pertamanya dengan Alvin. Sivia menatap dirinya dicermin seraya
tersenyum-senyum sendiri membayangkan wajah Alvin. Sesekali Sivia memperbaiki
aturan rambutnya. Siviapun berkata pada dirinya sendiri,
“aaaa…senengnya,
hari ini Via bakal malmingan bareng Kak Alvin, abis dari sekolah, les privat
deh….HWAAAA VIA SENEENGG banget….”kata Sivia sambil melonjak kegirangan. Sivia
tak pernah tahu bahwa apa yang ia rasakan sekarang amat sangat berbanding
terbalik dengan apa yang Alvin rasakan. Siviapun bersenang-senang diatas
penderitaan Alvin.
Sivia
mengambil boneka Doranya lalu keluar dari kamarnya. Saat menuruni anak tangga,
Mama langsung menghampiri Sivia,
“Via,
hari ini kamu ada latihan kan sama Alvin buat lomba nyanyi….?”
“iya
Ma, kenapa emang??”
“tadi
Mama udah ngomong sama Bundanya Alvin, malam ini kamu akan pulang sama Alvin,
sekalian juga kan malam ini kamu ada les privat sama Alvin…..”
“YANG
BENER MA….? VIA BAKAL PULANG BARENG SAMA KAK ALVIN….??” Tanya Sivia antusias.
“iya
sayaang…. Ya udah, kamu berangkat gih sana, tuh Kak Irsyad udah nungguin kamu
dari tadi…”
“Kak
Irsyad Ma…? Emang kapan Kak Irsyad pulang??”
“tadi
waktu kamu tidur siang! Udah sana buruan, entar Kakak kamu marah-marah lagi….”
“iya
deh Ma….Via berangkat ya…” Siviapun mencium punggung tangan Mamanya lalu
bergegas keluar dari rumah.
^_^
“KAK
ALVIIINNN…..” Teriak Sivia tepat didepan telinga Alvin. Alvin yang waktu itu
terlihat sibuk menghapal lagu pun terkejut. Alvin langsung melepaskan teks yang
sedari tadi ia pegang. Alvin melihat kearah Sivia dengan tatapan yang lumayan
sangar.
“elo
kenapa sih Vi ngagetin gue segala? Lo fikir gue akan kaget gitu ngeliat lo
dateng….?? NGAREP LO….”
“iihhh…Kak
Alvin ini…Via baru juga dateng langsung dimarahin aja…” protes Sivia,
“suka-suka
gue! Udah sana mending lo siep-siep aja deh, bentar lagi Pak Dave dateng” tanpa
berkata apa-apa Sivia duduk disamping Alvin. Lagi dan lagi Alvin memarahi
Sivia,
“Heh…ngapain
lo duduk dideket gue segala? Kaya’ gak ada tempet duduk laen aja….? Udah sono,
mending lo jauh-jauh dari gue, enek tau gak gue deket-deket sama lo….” Usir
Alvin seraya mengibas-ngibaskan tangannya. Sivia memasang wajah cemberut lalu
hengkang dari samping Alvin. Setelah Sivia pergi, Alvin kembali focus pada
lirik lagu yang harus dia hapalkan.
Sivia
duduk didepan piano seraya terus memperhatikan Alvin yang tak sedikitpun
menghiraukannya. Dalam hati Sivia berujar,
‘Kak
Alvin kenapa sih? Kaya’nya eneeekk banget ama Via…iihhh… emangnya Via
semenyebalkan Sweaper ya yang selalu ganggu Dora ditengah petualangannya….??’
Sivia
mengangkat boneka Dora yang sedari tadi ia bawa, kemudian dengan polosnya dan
dengan lugunya, Sivia berbicara dengan boneka Doranya, suara Sivia lumayan
kencang,
“Dora,
kenapa sih Kak Alvin selalu jutek sama Via? Via kan sayang sama Kak Alvin,
sayaaangg banget….” Mendengar ucapan Sivia, Alvin langsung berbalik dan melihat
kearah Sivia, entah kenapa Alvin merasa sedikit terharu mendengarkan ucapan
Sivia baru saja. Tanpa ada yang tahu, Alvin tersenyum kecil pada Sivia,
“Dora,
nanti kalo Dora ketemu sama Sweaper, bilanginnya kalo Via nyariin dia, Via mau
minta tolong ama Sweaper…. Tau gak Via mau minta tolong apa ama Sweaper??” kali
ini senyum Alvin sedikit melebar, ia menutup mulutnya menggunakan teks lagu
yang sejak tadi ia pegang. Sivia melanjutkan ucapannya,
“Via
mau minta tolong ama sweaper buat nyuriin Via hatinya Kak Alvin… hihihi… kan
seru tuh kalo Kak Alvin bisa suka sama Via….”
“BERISIK
LO!” Pekik Alvin tiba-tiba. Sivia langsung terdiam dan memeluk boneka Doranya
seerat mungkin. Alvin kembali dengan kesibukan awalnya yaitu menghapalkan lagu,
sementara Sivia, ia kembali memperhatikan Alvin.
Tak
lama memperhatikan Alvin, Siviapun mengalihkan perhatiannya pada piano yang ada
didepannya. Untuk membunuh jenuh Siviapun memutuskan untuk memainkan piano
sambil menyanyikan sebuah lagu. Jemari terampil Sivia mulai menekan tuts-tuts
piano dan memainkan sebuah lagu… inilah bait-bait lagu yang Sivia nyanyikan:
“Adakah….Waktu
yang tak berbatas… untukku….
Merasa
bahagia…. Saat…saat aku jatuh cinta…
Saat
ku terbang jauh kesana….”
Alvin
kembali melihat kearah Sivia…..
“Selalu
denganmu…
Kasih
selamanya….
Selalu
denganmu…. Cintaku bersama….
Kau
lah matahari dalam hidupku….
Dan
kaulah cahaya bulan dimalamku…
Hadirmu
selalu akan kutunggu….
Cintamu
akan selalu kurindu”
Untuk yang
kedua kalinya, Alvin begitu kagum mendengarkan suara indah Sivia. Entah sadar
atau tidak, setiap kali mendengarkan suara merdu Sivia menyanyikan sebuah lagu,
Alvin selalu merasa berbunga, dan ia merasa hatinya begitu damai. Apakah itu
tanda-tanda cinta yang enggan Alvin sadari…?
“Selalu
denganmu…Kasihku selamanya….
Selalu
denganmu…. Cintaku bersama….
Tahukah
kau diriku tak sanggup
Hidup
bila kau jauh dariku…
Ku
ingin dipelukmu…selaluuu…..
Hadirmu
selalu akan kutunggu….
Cintamu
akan selalu kurindu….
Dan
tiada lagi batas ruang waktuuu…
Tahukah
kau diriku tak sanggup
Hidup
bila kau jauh dariku…
Ku
ingin dipelukmu…selaluuu…..
Tuhan
tempatkan rasa cintaku ini…. Hanya untuknya…
Selalu
setia selama-lamanya….
Tahukah
kau diriku tak sanggup
Hidup
bila kau jauh dariku…Ku ingin dipelukmu…selaluuu…..”
Setelah menyelesaikan lagu itu,
Siviapun menghentikan permainan pianonya. Sivia menoleh kebalakang dan
mendapati Alvin yang waktu itu masih cengo. Sivia menatap Alvin heran.
“Kenapa Kak Alvin ngeliat Via kaya’
gitu amat?” Tanya Sivia yang tidak menyadari bahwa Alvin masih kagum dengan
suara indahnya. Alvin membuyarkan lamunannya, ia berusaha terlihat biasa saja
dihadapan Sivia,
“gak apa-apa….” Jawab Alvin setenang
mungkin,
“owh….Via fikir Kak Alvin bakal
marah-marah lagi sama Via gara-gara tadi Via nyanyi….”
Alvin tak menjawab Sivia. Beberapa
saat kemudian Pak Dave bersama seorang Guru Vokal memasuki ruang music. Pak
Dave meminta maaf pada Alvin dan Sivia karna beliau sudah telat 10 menit. Tanpa
basa basi lagi latihan pertamapun dimulai. Alvin tak pernah menyangka
sebelumnya, bahwa si Lemot Sivia yang oon nya minta ampun dan tidak pernah
serius dalam segala hal ternyata begitu serius saat sedang berlatih vocal.
Alvin tak pernah melihat Sivia seserius itu sebelumnya. Dalam hati diam-diam
Alvin mulai mengangumi sosok Sivia,
‘ternyata lo kalo serius kaya’ gitu
cakep juga….! Ya..ya..lo emang cakep, sayang aja lo lemot plus nyebelin…..’
^_^
“Kak Alvin, tiba-tiba Via kebelet!
Via ketoilet bentar ya Kak, bentaarr aja!” ucap Sivia pada Alvin saat mereka
baru memasuki areal parkir. Alvin bedecak kesal lantas berkata pada Sivia,
“ada-ada aja lu ye….? Ya udah sana
buruan! Entar keburu malem….”
“iya Kak! Janji deh Cuma bentaran doang….”
“iye sana! Banyak bacot lu…”
Siviapun bergegas ketoilet. Alvin mendekati motornya. Baru saja Alvin akan
menaiki motornya, tiba-tiba saja Handphonenya bergetar, ia menerima sebuah SMS
yang ternyata dari Shilla.
<<<<<<<>>>>>>>>>>>>>
By;Shilla
Vin, kmu udh
selese latian kn…?
Bisa jemput
aku gk skrg ditempat
Latian
balet??
<<<<<<<<<<<<>>>>>>>>>>>
Tanpa berfikir panjang lagi Alvin
langsung pergi menjemput Shilla ketempat latihan Baletnya dan Alvinpun
melupakan janjinya untuk pulang bersama Sivia.
Sekitar 2 menit kemudian, Sivia
menyusul Alvin ketempat parkir, namun ternyata setibanya disana Sivia tidak
menemukan siapa-siapa. Dalam hati ia bertanya-tanya, kemana Alvin? Apa mungkin
Alvin meninggalkannya?
Sivia memutuskan untuk menunggu
Alvin didepan tempat parkiran. Namun hingga 1 jam menunggu, Alvin tak juga
menampakkan dirinya. Sivia semakin gelisah, hari sudah malam, namun ia tetap
menunggu Alvin tanpa beranjak sedikitpun dari tempat itu.
“Duuh Kak Alvin kemana sih…?? Via
kan takut sendiri…” ucap Sivia pada dirinya sendiri.
^_^
“oya Vin, malem ini kamu harus
ngelesin Sivia kan….?” Tanya Shilla saat ia baru turun dari motor Alvin.
Mendengar nama Sivia, Alvinpun baru ingat bahwa tadi ia sudah janji pada Mama
Sivia untuk pulang bersama Sivia. Alvin menepuk keningnya sendiri seraya
berkata,
“ya ampun… kok gue bisa lupa ya….?”
“kenapa Vin…?” Tanya Shilla heran,
“Sivia nungguin aku disekolah….ya
udah Shill, aku gak jadi mampir ya…aku pergi ya Shill…” ucap Alvin panic lalu
segera menjalankan motornya menuju sekolah.Alvin menjalankan motornya dengan
kecepatan maksimal. Sepanjang perjalanan Alvin berfikir bahwa Sivia pasti sudah
pulang.
^_^
Jam ditangan Sivia sudah menunjukan
pukul 19.30. Angin malam yang berhembus lumayan kencang menerpa tubuh Sivia,
Siviapun kedinginan karenanya. Sivia melipat kedua tangannya seraya menggiggil
kedinginan.
“Via harus kuat! Kak Alvin pasti
akan dateng….” Kata Sivia berusaha menghibur dirinya. Sivia yang merasakan
pegal dipergelangan kakinya karna terlalu lama berdiripun memutuskan untuk
duduk. Sivia terduduk lalu menenggelamkan wajahnya dilututnya. Tak lama
kemudian, Sivia merasakan ada seseorang yang melempar jaket ketubuhnya, Sivia
terkesiap,
“dasar cewek bodoh…. Pake jaket itu
buruan dan cepet naek ke motor gue!” Sungut cowok itu….
BERSAMBUNG…..


0 comments:
Post a Comment