Sunday, May 5, 2013

0

MY DIARY Part 10



“NO…NO…NO…. saya gak mau Pak!” tolak Alvin mentah-mentah tanpa basa basi apapun.Sivia langsung cemberut dan seperti biasa Sivia memanyunkan bibirnya. Pak Dave melipat kedua tangannya didada lantas berkata pada Alvin,
            “Kenapa kamu gak mau……?” Tanya Pak Dave pada Alvin,
            “ya gak mau aja Pak… masa’ saya harus duet sama Si O’on, bisa-bisa ancur pak semuanya, bukan hanya martabat saya yang ancur, tapi nama sekolah kita juga pasti bakalan ancur…” jawab Alvin asal-asalan.
            “Alvin, kamu ini sembarangan aja…! Pokoknya kamu tidak boleh protes, Kamu akan tetep duet sama Sivia, ngerti kamu….??”
            “YESSSS….” Teriak Sivia sekencang-kencangnya.Ia terlihat begitu girang tak alang kepalang. Alvin mengangkat tangannya dan kembali berusaha merubah fikiran Pak Dave,
            “Pak, emangnya gak ada yang lain apa…? Saya kan masih bisa duet sama Shilla, Shilla kan pacar saya, jadi secara otomatis kalo saya duet sama Shilla, feel nya akan lebih dapet lagi Pak….”
            “feel…feel… tau apa kamu soal feel? Ini bukan masalah feel, tapi ini masalah kecocokan suara kamu sama Sivia, feel bisa dicari belakangan, asal suara sesuai….”
            “yaahh Pak….ato kalo gitu sama Ify aja deh! Suara Ify kan beda-beda tipis sama Sivia, improvisasi mereka juga sama-sama hebatnya…. Sama Ify aja ya Pak, please….!” Ucap Alvin dengan nada memohon,
            “emangnya ada apa sih dengan Sivia? Kenapa kaya’nya kamu anti banget sama Sivia….??” Tanya Pak Dave tiba-tiba mengalihkan topic, dengan spontan Alvin menjawab,
            “Sivia lemot sih Pak….” Semua yang ada diruang music langsung tertawa terbahak-bahak mendengarkan jawaban Alvin yang super konyol itu. Sivia hanya bisa pasrah mendengarkan sindiran Alvin yang lumayan pedas itu.
            “alasan kamu itu klise! Bapak sudah tidak mau dengar alasan apa-apa lagi dari kamu! Kamu akan tetep duet sama Sivia, apapun yang terjadi, perlombaan Cuma tinggal 2 minggu lagi, latihan yang giat, sabtu sore sama minggu sore Bapak tunggu kalian disini untuk latihan…”
            Lagi-lagi Alvin tersentak, berarti pada hari sabtu nanti, Alvin benar-benar menghabiskan waktunya bersama Sivia, cewek yang paling dia benci. Dari sekarang, Alvin sudah miris membayangkan nasib nya, bagaimana ia harus menghabiskan waktu bersama Sivia seharian, dari pagi hingga malam. Alvin tak sanggup! Tapi mau tak mau suka tak suka, Alvin harus tetap melakukan hal itu demi nama baik sekolahnya juga demi perjanjian yang ia buat dengan Mama Sivia. Pak Dave dengan diikuti oleh semua siswapun meninggalkan ruang music. Yang ada didalam ruang music kini hanya ada Alvin dan Shilla. Ketika melihat bahwa Alvin dan Shilla hanya berdua saja, Cakkapun berdiri didepan ruang music untuk mengawasi gerak gerik Alvin dan Shilla.
            Shilla yang mengerti dengan apa yang Alvin rasakan akhirnya merangkul Alvin, ia mengusap-usap dada Alvin dan berusaha menenangkan hatinya.
            “udahlah Vin, semuanya gak seperti apa yang kamu bayangin kok! Via cewek yang baik, ya walopun kita semua tau, kalo Via itu rada-rada lemot, tapi ya udahlah, kamu jangan jadiin itu Big Problem….”
            “tapi kan Shill…..”
            “anggep kamu ngelakuin semua ini demi aku Vin, kamu sayang kan sama aku….?” Alvin menatap Shilla dengan tatapan memicing, tak lama Alvin meraih tangan Shilla lalu menciumnya,
            “jelas lah aku sayang sama kamu…”
            “jadi kamu bersedia kan duet sama Sivia demi aku….??” Alvin menghela nafas panjang, tak lama Alvinpun akhirnya mengangguk dengan terpaksa. Shilla tertawa kecil seraya mengacak rambut Alvin,
            “ahahaha….makasih ya Vin….?”
            “apa sih yang gak buat kamu…” Alvin tersenyum pahit. Shilla menarik pipi Alvin dengan gemes.
            “Shill….” Panggil Alvin setengah berbisik seraya menatap mata Shilla dalam-dalam. Melihat tatapan Alvin, Shilla langsung menghentikan tawanya.
            “kenapa, Vin….?”
            “kamu tau gak? Aku merasa beruntung banget punya pacar kaya’ kamu, kamu itu pengertian, baik, perhatian sama aku, cerdas, cantik pula….tapi yang terpenting, kamu tu setia sama aku, makasiih ya….”
            Ketika Alvin mengatakan bahwa dia setia, sebuah rasa bersalah langsung terlintas dibenak Shilla. Ia benar-benar merasa bersalah terhadap Alvin. Karna pada kenyataan yang sesungguhnya, Shilla tak pernah setia pada Alvin, Shilla telah menusuk Alvin dari belakang.
            “sayang, kamu kenapa diem?” Tanya Alvin dengan nada cemas sambil memegang wajah Shilla, Shilla menggeleng dengan senyum yang ia paksakan,
            “gak apa-apa kok, Vin….” Alvin mendekatkan wajahnya dengan wajah Shilla. Suasana hening seketika, wajah mereka semakin dekat, dan saat bibir Alvin akan menyentuh bibir Shilla, tiba-tiba saja Shilla menghindar dengan buru-buru memalingkan wajahnya. Alvin heran. Ada apa dengan Shilla? Fikir Alvin.
            “udah siang Vin, kita pulang yuk…!” ucap Shilla setenang mungkin seraya bangkit dari tempat duduknya.
            “tapi Shill….”
            “udaaahh….ayo kita pulang!” ajak Shilla sambil menarik-narik pergelangan tangan Alvin dan membawanya keluar dari ruang music.

^_^

            Sabtu sore, sekitar pukul 15.30 Sivia telah bersiap-siap untuk pergi kesekolah. Ini adalah latihan pertamanya dengan Alvin. Sivia menatap dirinya dicermin seraya tersenyum-senyum sendiri membayangkan wajah Alvin. Sesekali Sivia memperbaiki aturan rambutnya. Siviapun berkata pada dirinya sendiri,
            “aaaa…senengnya, hari ini Via bakal malmingan bareng Kak Alvin, abis dari sekolah, les privat deh….HWAAAA VIA SENEENGG banget….”kata Sivia sambil melonjak kegirangan. Sivia tak pernah tahu bahwa apa yang ia rasakan sekarang amat sangat berbanding terbalik dengan apa yang Alvin rasakan. Siviapun bersenang-senang diatas penderitaan Alvin.
            Sivia mengambil boneka Doranya lalu keluar dari kamarnya. Saat menuruni anak tangga, Mama langsung menghampiri Sivia,
            “Via, hari ini kamu ada latihan kan sama Alvin buat lomba nyanyi….?”
            “iya Ma, kenapa emang??”
            “tadi Mama udah ngomong sama Bundanya Alvin, malam ini kamu akan pulang sama Alvin, sekalian juga kan malam ini kamu ada les privat sama Alvin…..”
            “YANG BENER MA….? VIA BAKAL PULANG BARENG SAMA KAK ALVIN….??” Tanya Sivia antusias.
            “iya sayaang…. Ya udah, kamu berangkat gih sana, tuh Kak Irsyad udah nungguin kamu dari tadi…”
            “Kak Irsyad Ma…? Emang kapan Kak Irsyad pulang??”
            “tadi waktu kamu tidur siang! Udah sana buruan, entar Kakak kamu marah-marah lagi….”
            “iya deh Ma….Via berangkat ya…” Siviapun mencium punggung tangan Mamanya lalu bergegas keluar dari rumah.


^_^

            “KAK ALVIIINNN…..” Teriak Sivia tepat didepan telinga Alvin. Alvin yang waktu itu terlihat sibuk menghapal lagu pun terkejut. Alvin langsung melepaskan teks yang sedari tadi ia pegang. Alvin melihat kearah Sivia dengan tatapan yang lumayan sangar.
            “elo kenapa sih Vi ngagetin gue segala? Lo fikir gue akan kaget gitu ngeliat lo dateng….?? NGAREP LO….”
            “iihhh…Kak Alvin ini…Via baru juga dateng langsung dimarahin aja…” protes Sivia,
            “suka-suka gue! Udah sana mending lo siep-siep aja deh, bentar lagi Pak Dave dateng” tanpa berkata apa-apa Sivia duduk disamping Alvin. Lagi dan lagi Alvin memarahi Sivia,
            “Heh…ngapain lo duduk dideket gue segala? Kaya’ gak ada tempet duduk laen aja….? Udah sono, mending lo jauh-jauh dari gue, enek tau gak gue deket-deket sama lo….” Usir Alvin seraya mengibas-ngibaskan tangannya. Sivia memasang wajah cemberut lalu hengkang dari samping Alvin. Setelah Sivia pergi, Alvin kembali focus pada lirik lagu yang harus dia hapalkan.
            Sivia duduk didepan piano seraya terus memperhatikan Alvin yang tak sedikitpun menghiraukannya. Dalam hati Sivia berujar,
            ‘Kak Alvin kenapa sih? Kaya’nya eneeekk banget ama Via…iihhh… emangnya Via semenyebalkan Sweaper ya yang selalu ganggu Dora ditengah petualangannya….??’
            Sivia mengangkat boneka Dora yang sedari tadi ia bawa, kemudian dengan polosnya dan dengan lugunya, Sivia berbicara dengan boneka Doranya, suara Sivia lumayan kencang,
            “Dora, kenapa sih Kak Alvin selalu jutek sama Via? Via kan sayang sama Kak Alvin, sayaaangg banget….” Mendengar ucapan Sivia, Alvin langsung berbalik dan melihat kearah Sivia, entah kenapa Alvin merasa sedikit terharu mendengarkan ucapan Sivia baru saja. Tanpa ada yang tahu, Alvin tersenyum kecil pada Sivia,
            “Dora, nanti kalo Dora ketemu sama Sweaper, bilanginnya kalo Via nyariin dia, Via mau minta tolong ama Sweaper…. Tau gak Via mau minta tolong apa ama Sweaper??” kali ini senyum Alvin sedikit melebar, ia menutup mulutnya menggunakan teks lagu yang sejak tadi ia pegang. Sivia melanjutkan ucapannya,
            “Via mau minta tolong ama sweaper buat nyuriin Via hatinya Kak Alvin… hihihi… kan seru tuh kalo Kak Alvin bisa suka sama Via….”
            “BERISIK LO!” Pekik Alvin tiba-tiba. Sivia langsung terdiam dan memeluk boneka Doranya seerat mungkin. Alvin kembali dengan kesibukan awalnya yaitu menghapalkan lagu, sementara Sivia, ia kembali memperhatikan Alvin.
            Tak lama memperhatikan Alvin, Siviapun mengalihkan perhatiannya pada piano yang ada didepannya. Untuk membunuh jenuh Siviapun memutuskan untuk memainkan piano sambil menyanyikan sebuah lagu. Jemari terampil Sivia mulai menekan tuts-tuts piano dan memainkan sebuah lagu… inilah bait-bait lagu yang Sivia nyanyikan:

“Adakah….Waktu yang tak berbatas… untukku….
Merasa bahagia…. Saat…saat aku jatuh cinta…
Saat ku terbang jauh kesana….”

Alvin kembali melihat kearah Sivia…..

“Selalu denganmu…
Kasih selamanya….
Selalu denganmu…. Cintaku bersama….
Kau lah matahari dalam hidupku….
Dan kaulah cahaya bulan dimalamku…
Hadirmu selalu akan kutunggu….
Cintamu akan selalu kurindu”

Untuk yang kedua kalinya, Alvin begitu kagum mendengarkan suara indah Sivia. Entah sadar atau tidak, setiap kali mendengarkan suara merdu Sivia menyanyikan sebuah lagu, Alvin selalu merasa berbunga, dan ia merasa hatinya begitu damai. Apakah itu tanda-tanda cinta yang enggan Alvin sadari…?

“Selalu denganmu…Kasihku selamanya….
Selalu denganmu…. Cintaku bersama….
Tahukah kau diriku tak sanggup
Hidup bila kau jauh dariku…
Ku ingin dipelukmu…selaluuu…..
Hadirmu selalu akan kutunggu….
Cintamu akan selalu kurindu….
Dan tiada lagi batas ruang waktuuu…
Tahukah kau diriku tak sanggup
Hidup bila kau jauh dariku…
Ku ingin dipelukmu…selaluuu…..
Tuhan tempatkan rasa cintaku ini…. Hanya untuknya…
Selalu setia selama-lamanya….
Tahukah kau diriku tak sanggup
Hidup bila kau jauh dariku…Ku ingin dipelukmu…selaluuu…..”

           
            Setelah menyelesaikan lagu itu, Siviapun menghentikan permainan pianonya. Sivia menoleh kebalakang dan mendapati Alvin yang waktu itu masih cengo. Sivia menatap Alvin heran.
            “Kenapa Kak Alvin ngeliat Via kaya’ gitu amat?” Tanya Sivia yang tidak menyadari bahwa Alvin masih kagum dengan suara indahnya. Alvin membuyarkan lamunannya, ia berusaha terlihat biasa saja dihadapan Sivia,
            “gak apa-apa….” Jawab Alvin setenang mungkin,
            “owh….Via fikir Kak Alvin bakal marah-marah lagi sama Via gara-gara tadi Via nyanyi….”
            Alvin tak menjawab Sivia. Beberapa saat kemudian Pak Dave bersama seorang Guru Vokal memasuki ruang music. Pak Dave meminta maaf pada Alvin dan Sivia karna beliau sudah telat 10 menit. Tanpa basa basi lagi latihan pertamapun dimulai. Alvin tak pernah menyangka sebelumnya, bahwa si Lemot Sivia yang oon nya minta ampun dan tidak pernah serius dalam segala hal ternyata begitu serius saat sedang berlatih vocal. Alvin tak pernah melihat Sivia seserius itu sebelumnya. Dalam hati diam-diam Alvin mulai mengangumi sosok Sivia,
            ‘ternyata lo kalo serius kaya’ gitu cakep juga….! Ya..ya..lo emang cakep, sayang aja lo lemot plus nyebelin…..’

^_^

            “Kak Alvin, tiba-tiba Via kebelet! Via ketoilet bentar ya Kak, bentaarr aja!” ucap Sivia pada Alvin saat mereka baru memasuki areal parkir. Alvin bedecak kesal lantas berkata pada Sivia,
            “ada-ada aja lu ye….? Ya udah sana buruan! Entar keburu malem….”
            “iya Kak! Janji deh Cuma bentaran doang….”
            “iye sana! Banyak bacot lu…” Siviapun bergegas ketoilet. Alvin mendekati motornya. Baru saja Alvin akan menaiki motornya, tiba-tiba saja Handphonenya bergetar, ia menerima sebuah SMS yang ternyata dari Shilla.

<<<<<<<>>>>>>>>>>>>> 
By;Shilla
Vin, kmu udh selese latian kn…?
Bisa jemput aku gk skrg ditempat
Latian balet??

<<<<<<<<<<<<>>>>>>>>>>> 

            Tanpa berfikir panjang lagi Alvin langsung pergi menjemput Shilla ketempat latihan Baletnya dan Alvinpun melupakan janjinya untuk pulang bersama Sivia.
            Sekitar 2 menit kemudian, Sivia menyusul Alvin ketempat parkir, namun ternyata setibanya disana Sivia tidak menemukan siapa-siapa. Dalam hati ia bertanya-tanya, kemana Alvin? Apa mungkin Alvin meninggalkannya?
            Sivia memutuskan untuk menunggu Alvin didepan tempat parkiran. Namun hingga 1 jam menunggu, Alvin tak juga menampakkan dirinya. Sivia semakin gelisah, hari sudah malam, namun ia tetap menunggu Alvin tanpa beranjak sedikitpun dari tempat itu.
            “Duuh Kak Alvin kemana sih…?? Via kan takut sendiri…” ucap Sivia pada dirinya sendiri.


^_^

            “oya Vin, malem ini kamu harus ngelesin Sivia kan….?” Tanya Shilla saat ia baru turun dari motor Alvin. Mendengar nama Sivia, Alvinpun baru ingat bahwa tadi ia sudah janji pada Mama Sivia untuk pulang bersama Sivia. Alvin menepuk keningnya sendiri seraya berkata,
            “ya ampun… kok gue bisa lupa ya….?”
            “kenapa Vin…?” Tanya Shilla heran,
            “Sivia nungguin aku disekolah….ya udah Shill, aku gak jadi mampir ya…aku pergi ya Shill…” ucap Alvin panic lalu segera menjalankan motornya menuju sekolah.Alvin menjalankan motornya dengan kecepatan maksimal. Sepanjang perjalanan Alvin berfikir bahwa Sivia pasti sudah pulang.

^_^

            Jam ditangan Sivia sudah menunjukan pukul 19.30. Angin malam yang berhembus lumayan kencang menerpa tubuh Sivia, Siviapun kedinginan karenanya. Sivia melipat kedua tangannya seraya menggiggil kedinginan.
            “Via harus kuat! Kak Alvin pasti akan dateng….” Kata Sivia berusaha menghibur dirinya. Sivia yang merasakan pegal dipergelangan kakinya karna terlalu lama berdiripun memutuskan untuk duduk. Sivia terduduk lalu menenggelamkan wajahnya dilututnya. Tak lama kemudian, Sivia merasakan ada seseorang yang melempar jaket ketubuhnya, Sivia terkesiap,
            “dasar cewek bodoh…. Pake jaket itu buruan dan cepet naek ke motor gue!” Sungut cowok itu….



                                    BERSAMBUNG…..


0 comments:

Post a Comment