Thursday, May 2, 2013

0

Seperti Sebuah Bintang Part 9 "Cakka, I'm Sorry"



Seperti Sebuah Bintang Part9“CAKKA, I’M SORRY!!”


                Setibanya di Rumah Singgah Sivia langsung turun dari atas motor Alvin tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sivia masih sangat salah tingkah dengan kejadian tadi. Tidak beda jauh dari Sivia, Alvinpun demikian. Sepanjang perjalanan menuju rumah Singgah tadi Alvin terus saja diam seribu bahasa. Sebenarnya Alvin sama seperti Sivia, sama-sama salah tingkah, hanya saja Alvin tidak ingin terlalu menunjukan kesalahtingkahannya itu pada Sivia. Alvin berusaha bersikap wajar demi menjaga image nya dihadapannya gadis itu.
            Sivia memasuki rumah singgah seraya menundukan wajahnya sedalam mungkin. Bahkan Sivia sampai tidak memperhatikan keadaan sekitar. Tanpa sengaja Sivia menabrak Rafli yang saat itu akan keluar bersama Bagas, Difa, Fatah, dan Gilang untuk bermain bola. Rafli heran. Tidak biasanya Sivia diam seperti ini. Meskipun baru 3 hari mengenal Sivia, tapi Rafli tau betul bagaimana Sivia ini. Bahkan Rafli sudah sangat terbiasa dengan kebawelan Gadis yang ia panggil dengan panggilan Kakak Cantik itu. Merasa heran dengan tingkah aneh Sivia hari ini Rafli pun bertanya.
            “lho, Kak Via kenapa? Kok tumben diem gini? Ada masalah?” Tanya Rafli sambil menahan tangan Sivia.
            Sivia menggeleng beberapa kali. Ketika mendengar derap langkah Alvin yang sudah memasuki rumah Singgah, Siviapun buru-buru menoleh kearah Alvin. Dan benar saja, kedua mata Sivia langsung menangkap sosok Alvin yang saat itu sudah berdiri dengan tegak dipintu dengan raut wajah coolnya yang seperti biasa. Sivia menegak ludahnya dalam-dalam. Untuk yang pertama kalinya Sivia melihat Alvin begitu mempesona. Apa karna efek kecelakaan tadi?
            Beberapa detik kemudian Sivia buru-buru mengalihkan tatapannya dari Alvin dan segera melepaskan tangannya dari genggaman Rafli. Siviapun berlari kecil menuju ruangan yang biasa ia gunakan ketika sedang berada dirumah Singgah. Ruangan itu sudah bisa disebut sebagai kamar Sivia.
            Sesaat setelah kepergian Sivia, Rafli pun mengalihkan tatapannya pada Alvin yang saat itu masih betah berdiri dipintu dengan gaya cool nya yang khas. Memasukan kedua tangannya pada kedua kantong celananya, dan menatap kosong kedepan.
            “Kak Via kenapa, Kak?” Tanya Rafli heran.
            Dengan santai Alvin mengangkat kedua bahunya, berusaha masa bodoh dengan pertanyaan yang baru saja Rafli lemparkan. Lalu beberapa saat kemudian Alvinpun berjalan santai melewati Rafli Dan Kawan-Kawan. Rafli pun semakin heran dibuatnya. Kali ini Rafli menatap kawan-kawannya secara bergantian dengan pandangan bertanya, tapi yang ditatap malah lebih begoknya dari Rafli sekarang.


^_^

            Sivia mengunci pintu ruangannya lalu segera berlari kearah cermin. Sivia menatap bayangan wajahnya lekat-lekat didalam cermin. Perlahan Sivia menyentuh bibirnya, dan perlahan juga ingatan Sivia kembali terseret pada ‘kecelakaan’ yang benar-benar meruntuhkan nyali nya dihadapan Alvin itu.
            Sivia menggeleng beberapa kali sambil mengacak-acak rambutnya yang sama sekali tak berdosa lalu merutuki kebodohan yang telah ia sendiri perbuat.
            “ergh….!! Begok, begok, begok…. Tadi tuh ciuman pertama lo, Vi. Kenapa harus sama Alvin? Kenapa nggak sama cowok yang bener-bener elo sayang aja? Isshhhh….” Batin Sivia tanpa sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari cermin.
            Kelamaan Sivia akhirnya merasa bosan juga. Ia pun berteriak pelan.
            “aarrgghh…. Sial!!” Sivia menggebrak meja yang ada dihadapannya dengan kekuatan penuh.
            Alvin yang saat itu melewati ruangan Sivia tanpa sengaja mendengar suara teriakan Sivia. Alvin menghentikan langkahnya sejenak seraya melihat kearah pintu ruangan Sivia.
            “Konyol! Haha…” ujar Alvin sambil tertawa sinis lantas melanjutkan langkahnya.


^_^

            “Bi Ratna, minta tolong icipin dong kuah sop Via! Garamnya pas nggak?” ucap Sivia pada Bi Ratna yang saat itu tengah sibuk menggoreng ikan. Tak lupa juga Sivia mematikan api kompornya.
            Karna takut ikan gorengannya gosong Bi Ratna buru-buru menggeleng. Tapi ketika Bi Ratna melihat Alvin yang saat itu memasuki dapur untuk mengambil air minum, Bi Ratna pun berkata.
            “suruh Den Alvin aja!”
            Mendengar namanya dibawa-bawa Alvin langsung menghentikan langkahnya dan menatap kedua orang yang tengah sibuk memasak itu.
            “Den Alvin, sini!” panggil Bi Ratna sambil tetp focus menggoreng ikan.
            Tanpa berkata banyak Alvin pun mendekat dan berdiri disamping Sivia.
            “ada apa, Bi?” Tanya Alvin.
            “coba icipin kuah sop nya Via dulu. Ayo Via, kasih Den Alvin icipin”
            Dan untuk yang pertama kalinya Sivia merasakan debaran yang begitu hebat saat Alvin berada didekatnya. Tapi Sivia meyakini, bahwa semua debaran aneh yang terjadi ini hanya semata-mata karna efek kecelakaan tadi. Sivia masih salah tingkah dan sedikit malu pada Alvin hingga akhirnya ia merasakan debaran aneh seperti itu. Ya… Sivia yakin dengan itu.
            Dengan gerogi Sivia meraih sendok yang ada dihadapannya lalu mengambil sesendok Kuah Sup yang akan Alvin cicipi. Sivia berusaha menahan tangannya agar tidak gemetar, namun sayang Sivia tidak berhasil. Tangannya terangkat sambil bergetar hebat.
            Alvin yang menyadari gerakan aneh Siviapun memegangi tangan Sivia yang terangkat dan siap menyuapinya untuk mencicipi kuah sup. Dengan gerakan cepat, Alvin mencicipi kuah sup buatan Sivia. Dan dengan gerakan cepat pula, Alvin melepaskan tangan Sivia. Saat itulah Sivia langsung bernafas lega.
            Alvin berusaha merasakan kuah sup itu sebaik-baiknya. Setelah yakin dengan rasa yang ia dapatkan, mulutnya pun mulai berucap memberi komentar.
            “kurang garam!” komentar Alvin singkat, padat, jelas, dan…. Dingin pastinya.
            Tanpa berkata apa-apa lagi, Alvin langsung keluar dari dapur begitu saja.

            ‘begok lo, Vi…’ Sivia merutuki diri dalam hati.


^_^

            Selama seharian penuh Sivia tidak melihat penampakan Alvin di Rumah Singgah. Bahkan tadi Alvin tidak ikut makan siang bersama. Dan entah kenapa, hari ini Sivia merasa sangat kesepian. Sekalipun tadi Alvin ada bersamanya walaupun hanya sebentar Sivia tetap saja merasa sendirian. Apalagi semenjak ‘Kecelakaan’ itu Alvin benar-benar menghindarinya.
            Bosan. Itu yang benar-benar Sivia rasakan sekarang ini. Anak-anak Rumah Singgah sedang sibuk mengulang pelajaran mereka disekolah dengan dibimbing oleh Rizky dan Dayat dihalaman depan. Tadi Sivia sempat melihat-lihat, tapi karna tenaganya tidak terlalu dibutuhkan, Sivia akhirnya lebih memilih untuk masuk kembali kedalam rumah Singgah. Sementara semua pekerjaan sudah ia selesaikan sebelum sore tiba. Sivia menghela nafas panjang. Kalau disini ada Si Kunyuk itu, setidaknya Sivia tidak akan merasa sekesepian seperti sekarang ini.
            Sivia akhirnya lebih memilih untuk masuk kedalam ruangannya. Sivia duduk ditepi ranjangnya lalu membuka tasnya. Daripada tidak ada kerjaan sama sekali Sivia akhirnya memutuskan untuk belajar saja. Apa lagi tadi untuk yang pertama kalinya Sivia bolos sekolah, dan sudah barang tentu Sivia akan ketinggalan pelajaran hari ini. Merasa dirugikan, sudah jelas. Tapi Sivia tidak bisa berbuat apa-apa. Toh dia tidak akan pernah bisa mengubah apa yang telah terjadi.
            Sivia sedikit terkejut melihat Handphone yang tadi Alvin berikan padanya kini berada didalam tasnya. Bukannya tadi Alvin mengambil kembali handphone itu? Sivia yang tidak mau ambil pusing lagi dengan tingkah aneh Alvin hari ini akhirnya meraih handphone itu lalu membukanya dan memeriksa isi nya. Sivia menerima sebuah pesan dari Alvin. Sivia tertawa dalam hati, ternyata Alvin sudah menyimpan nomernya sendiri di handphone nya dengan nama ‘Alvin Ganteng’. Sebenarnya Sivia merasa agak sedikit tidak terima.

==================
From : ‘Alvin Ganteng’

Kalo semua krjaan lo
Udh beres lo
Boleh pulang lebih awal.
Gausah tunggu gue!

==================

            Sivia tersenyum sinis ketika membaca kalimat terakhir Alvin dipesan itu. “Dasar pede!” Sivia mendesis sinis.
            Dan yang membuat Sivia lagi-lagi tercengang adalah 3 digit ekor nomer HP Alvin yang ternyata sama dengan ekor nomer HP nya. 9-9-9. Alvin seperti sudah mempersiapkan segalanya dengan sangat matang.


^_^

            Alvin mendrible bola basket yang ada ditangannya dengan penuh semangat. Beberapa saat kemudian Alvinpun melakukan lay-up lalu shooting. Dan tepat sekali, bola itu memasuki ring dengan sempurna. Pak Randy yang sejak tadi berdiri ditepi lapangan menyaksikan anak-anak didiknya yang tengah focus berlatih demi menghadapi pertandingan persahabatan minggu depan pun berjalan ketengah lapangan sambil bertepuk tangan beberapa kali.
            Pak Randy menghampiri Alvin. Beliau menepuk pelan pundak Alvin lantas berkata,
            “hebat! Kalo latihan kalian seperti ini terus, saya yakin kalian akan memenangkan pertandingan persahabatan minggu depan”
            “amiinnn….” Ucap Alvin, Rio, Deva, Ozy, dan Ray dengan kompak.
            Setelah merasa cukup lelah dengan latihannya selama sejam ini, Alvinpun memutuskan untuk beristirahat sejenak ditepi lapangan. Alvin duduk disebuah bangku panjang yang terdapat dipinggir lapangan. Alvin membuka tas nya lalu mengambil botol minuman yang sengaja ia persiapkan dari Rumah Singgah.
            “haus banget keliatannya, Alv?” Tanya seorang cewek yang tiba-tiba saja muncul dihadapan Alvin. Alvin melirik sejenak kearah cewek itu lalu melepaskan botol minumannya dibawah bangku.
            Cewek itu adalah Kapten Cheers SMA BinSa yang tidak lain dan tidak bukan adalah Pricilla. Sebenarnya sudah sejak lama Pricilla menyimpan hati untuk Alvin, hanya saja selama ini Pricilla mencoba untuk tidak mengungkapkan perasaannya pada Alvin. Pricilla tahu betul bagaimana sifat Alvin, dan Pricilla sangat mengerti bahwa Alvin adalah sosok cowok yang tidak suka dikejar-kejar oleh cewek.
Pricilla tidak sama seperti fans-fans Alvin yang lainnya, yang selalu menyatakan cintanya secara frontal dihadapan Alvin dan yang selalu terang-terangan mengejar cinta Alvin. Tidak, Pricilla sama sekali tidak seperti itu. Selama ini Pricilla selalu berupaya untuk bisa meraih Alvin tanpa perlu melakukan hal-hal aneh yang biasanya dilakukan oleh fans-fans Alvin yang lainnya. Dan meski sampai sekarang upayanya belum membuahkan hasil apa-apa, Pricilla tetap berusaha untuk bersabar.
Tanpa menghiraukan reaksi enggan yang Alvin tunjukan atas kehadirannya itu, Pricilla duduk dengan santai disamping Alvin. Pricilla melirik kearah Alvin seraya tersenyum,
“gimana latihan hari ini?” Tanya Pricilla yang berniat membuka obrolan sore itu.
Alvin terdengar menghela nafas panjang. Sepertinya Alvin menganggap bahwa gadis yang ada disampingnya saat ini benar-benar sangat membosankan. Sekalipun Pricilla tidak pernah menyatakan perasaannya yang sesungguhnya pada Alvin, Alvin tahu betul bahwa Gadis Cantik ini diam-diam menyuakinya. Tapi Alvin lebih memilih untuk memperdulikan perasaan Pricilla. Sama sekali tidak perduli.
“menurut lo gimana?” Tanya Alvin kembali. Dingin.
Pricilla langsung terdiam saat Alvin menyerangnya balik dengan sebuah pertanyaan. Suasana hening diantara mereka berduapun sudah tidak bisa terhindarkan lagi. Mereka sama-sama diam, sama-sama sibuk dengan fikiran mereka masing-masing.
2 menit kemudian Alvin bangkit dari samping Pricilla. Dan tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Gadis itu, Alvin berlalu begitu saja.

^_^

            Sudah hampir 30 menit Sivia menunggu kepulangan Cakka. Tapi hingga selama itu Cakka  belum juga menampakkan dirinya. Dalam hati sebenarnya Sivia sangat risau memikirkan Cakka. Hari ini Cakka pasti akan marah besar padanya karna Sivia sudah nekad bolos bersama Alvin. Tapi Sivia sudah memikirkan semuanya dengan matang, Sivia sudah merasa siap lahir bathin jika nanti Cakka memarahinya habis-habisan, dan Sivia bersumpah tidak akan membantah apapun yang nantinya akan Cakka ucapkan padanya.
            “masih nungguin Cakka, Vi…?” Tanya Mas Elang yang baru saja turun dari lantai 2 rumahnya. Mas Elang ini adalah Kakak Kandung dari Cakka.
            Sivia langsung mengangguk beberapa kali saat mendengarkan pertanyaan yang Mas Elang ajukan padanya. Mas Elang berjalan mendekati sofa yang saat ini Sivia duduki. Jika ingat dulu Mas Elang ini pernah menjadi Cinta Monyetnya, Sivia pasti akan merasa lucu sendiri.
            Mas Elang duduk disamping Sivia seraya memainkan gitarnya. Siviapun mulai memperhatikan tangan terampil Mas Elang yang saat itu dengan begitu lincahnya memetik gitar kesayangannya.
            “belakangan ini Mas El perhatiin kamu jarang sama Cakka? Kenapa?” Tanya Mas Elang pada Sivia sambil tetap focus dengan permainan gitarnya.
            Sivia menegak ludahnya dalam-dalam ketika mendengarkan pertanyaan dari Mas Elang. Sebelumnya Sivia tidak pernah menyangka bahwa Mas Elang akan menanyakan hal itu padanya. Karna kebingungan bagaimana harus menjawab pertanyaan Mas Elang, Siviapun menggaruk bagian belakang kepalanya yang sebenarnya sama sekali tidak gatal.
            Mas Elang mendesah panjang, ia menghentikan sejenak permainan gitarnya lalu melirik kearah Sivia. Mas Elang tersenyum kecil,
            “berusahalah untuk peka dengan perasaan siapapun”
            Sivia terkesiap mendengarkan ucapan Mas Elang baru saja. Ada sebuah makna tersirat dibalik ucapannya. Dan jujur saja, Sivia merasa tidak mengerti sama sekali dengan apa yang Mas Elang ucapkan.
            “ma… maksud Mas El?” Tanya Sivia sedikit ragu.
            Mas Elang tersenyum tenang, namun bukannya menjawab pertanyaan Sivia, Mas Elang malah meraih kembali gitarnya lalu memainkannya,
            “nanti juga kamu bakalan ngerti”
            Beberapa saat setelah Mas Elang berkata seperti itu, Cakka pun memasuki rumahnya. Cakka langsung menghentikan langkahnya ketika melihat Sivia yang saat itu duduk bersama Mas Elang diruang tengah. Sivia tersenyum pada Cakka lantas berdiri,
            “Kka, gue disini nungguin lo dari tadi tau?”
            Cakka membuang tatapannya kearah lain. Ia terdengar menghela nafas sejenak lantas melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga tanpa sedikitpun menghiraukan ucapan Sivia baru saja.
            “Cakka!” panggil Sivia sedikit keras. Tapi seperti tadi, Cakka tidak sedikitpun menghiraukan ucapan Sivia. Cakka benar-benar marah besar pada Sivia.
            Sivia mengejar langkah Cakka kelantai 2 rumahnya. Sementara Mas Elang, ia hanya bisa tersenyum melihat tingkah kedua orang itu. Mas Elang lebih memilih untuk tidak ikut campur urusan Cakka dan Sivia. Mas Elang melanjutkan permainan gitarnya yang sempat terhenti.
            Sivia semakin mempercepat langkahnya, setelah jaraknya dengan Cakka lumayan dekat, Sivia pun mencekal pergelangan tangan Cakka dan menggenggamnya seerat mungkin.
            “Kka, tunggu!!” Cakka menghentikan langkahnya lalu menoleh enggan kearah Sivia.
            “lo marah sama gue?”
            “….” Cakka terdiam,
            “gue minta maaf… gue yang salah”
“…..”  Cakka masih terdiam,
“Kka, pliss lo jangan diem kayak gini. Gue lebih suka lo marahin gue dari pada lo diem kayak gini, gue nggak bisa Kka ngeliat lo diem kayak gini…”
“…..”
“Cakka, gue bener-bener minta maaf sama lo, Kka. Gue janji nggak akan kayak gitu lagi Kka, gue janji, tapi pliss lo jangan diemin gue kayak gini….”
Dalam satu gerakan cepat, Cakka melepaskan genggaman erat tangan Sivia dari pergelangan tangannya. Setelah cukup lama terdiam, akhirnya Cakka buka suara,
“lo berubah, Vi. Dan lo tau? Gue kehilangan sahabat gue”
“Kka….” Lirih Sivia.
“lo pasti capek kan hari ini udah maen seharian sama Alvin? Mending sekarang lo pulang, terus istirahat, nanti kita bicarakan lagi masalah ini…”
“jadi elo beneran marah sama gue?” Tanya Sivia dengan suara bergetar. Sejak awal Sivia memang sudah menduga kalau Cakka pasti akan marah besar dengan ulahnya hari ini, hanya saja Sivia tidak pernah menduga bahwa Cakka akan semarah ini padanya.
“gue nggak marah sama lo”
“Kka….”
“pliss Vi, sekarang mending lo pulang aja!”
Cakka akhirnya melangkah pergi meninggalkan Sivia sendiri. Cakka memasuki kamarnya, sementara Sivia, ia sudah tidak memiliki daya lagi untuk tetap menahan Cakka dan mendengarkan semua penjelasannya. Air mata yang sejak tadi Sivia tahan akhirnya menetes juga. Benarkah Cakka sampai semarah itu padanya?
Setibanya didalam kamar, Cakka langsung melempar tasnya ke lantai lalu memberantakkan seprei kasurnya. Cakka mengerang putus asa, ia mengacak rambutnya lantas terduduk pasrah disamping kasurnya.
“apa lo nggak ngerti juga Vi…?? Gue cemburu ngeliat lo sama Alvin. Gue cemburu….” Ucap Cakka pada dirinya sendiri. Tidak lama kemudian Cakkapun meninju udara untuk meluapkan semua emosi yang selama beberapa hari terakhir ini berusaha mati-matian ia pendam.
Hari ini kesabaran Cakka sudah habis. Mungkin terlalu cepat, tapi Cakka sudah terlanjur lelah dengan semuanya.


^_^

            Sepulangnya dari rumah Cakka tiba-tiba saja Sivia merasakan sakit yang lumayan menyiksa dibagian kepalanya. Sivia memegangi kepalanya lantas duduk disofa. Wajahnya sudah terlihat pucat pasi, sekujur tubuhnya seakan tidak berfungsi lagi. Mungkin karna pertengkarannya dengan Cakka tadi. Marsha yang baru saja keluar dari dalam kamarnya langsung menghampiri Sivia.
            “Kak Via kenapa, Kak?” Tanya Marsha panic sambil berjalan mendekati Sivia. Marsha duduk disamping Sivia lalu memegangi pundak sebelah kiri Sivia. Marsha agak sedikit terkejut ketika melihat wajah Sivia yang sudah dalam keadaan pucat.
            “Kak Via…?”
            “Sha… telfonin Mama” pinta Sivia dengan lemah.
            “i…iya Kak, Kakak tunggu yah?”
            Marsha buru-buru berlari kearah meja telfon lalu menguhungi Mama nya yang saat itu masih berada dikantor. Setelah menghubungi Mama nya, Marsha pun memanggil Bi Nining untuk membantunya membawa Sivia kedalam kamarnya.

^_^

            Saat ini tubuh lemah Sivia sudah terbaring diatas tempat tidur. Tadi Bi Nining sudah memberikannya obat penurun demam, dan sepertinya Sivia sudah terlihat sedikit lebih baik.
            10 menit kemudian, Mama bersama Om Farish pun datang. Mereka berdua langsung memasuki kamar Sivia dan mendapati Marsha yang waktu itu dengan setia menemani Sivia. Mama bersama Om Farish berjalan mendekati Sivia dan Marsha,
            “Via kenapa, Sha…?” Tanya Mama panic lalu duduk ditepi ranjang Sivia.
            “Marsha juga nggak tau, Ma. Tadi sepulang Kak Via dari rumah Kak Cakka, Kak Via nya udah kayak gini…” jelas Marsha pada Mama.
            Mama membelai lembut rambut panjang Sivia. Tidak lama beliau paham, pasti Puteri Sulungnya ini sudah bertengkar dengan Cakka hingga sakit seperti ini. Sejak kecil Sivia memang terlalu sering seperti ini. Jika sudah bertengkar dengan Cakka pasti Sivia akan langsung terkena demam.
            “Sha, coba kamu panggil Kak Cakka dirumahnya” pinta Mama sambil tetap membelai lembut rambut Sivia,
            “baik, Ma…”
            Beberapa saat setelah kepergian Marsha, Farish pun mendekati Denita. Ia memegang kedua pundak Denita dan berusaha menguatkan hatinya.
            “tidak apa-apa kok, Mas… Via emang terlalu sering kayak gini. Via ini emang paling nggak bisa berantem sama Cakka, kalo mereka berantem ya kayak gini kejadiannya” jelas Denita tanpa sedikitpun mengalihkan tatapannya dari wajah Sivia.
            Sekitar 5 menit kemudian, Marsha pun datang bersama Cakka yang saat itu terlihat tidak kalah panic nya dari Marsha dan Denita saat ini. Cakka berlari kecil mendekati Sivia yang masih terbaring lemah diatas tempat tidur.
            “Via…” panggil Cakka pelan.
            Denita pun langsung menyingkir dari samping Sivia dan membiarkan Cakka saja yang duduk ditepi ranjang Sivia. Cakka memegangi kening Sivia yang masih terasa panas.
            “maafin gue, Vi… maaf udah bikin lo kayak gini…” lirih Cakka pelan seraya meraih tangan kanan Sivia lalu menggenggamnya seerat mungkin.
            “Kka…” panggil Denita sambil memegang pundak Cakka.
            “iya Tan…?”
            “baik-baik ya sama Via? Jangan berantem lagi, kamu kan udah sering janji sama Tante untuk selalu ngejaga Via…”
            “iya Tan, Cakka tau. Maafin Cakka ya?” ucap Cakka dengan tulus lalu kembali mengalihkan perhatiannya pada Gadis Bawel itu.
            Denita dan Farish saling menatap satu sama lain. Merasa Cakka dan Sivia butuh waktu waktu untuk berdua saja, merekapun memutuskan untuk meninggalkan Cakka dan Sivia berdua. Mereka sama-sama mengangguk lalu keluar bersama Marsha dari kamar Sivia.
            Cakka memegang kepala Sivia lalu mendekatkan wajahnya dengan wajah Sivia yang saat itu masih memejamkan matanya.
            “hey Bawel nya gue… bangun dong! Gue minta maaf ya sama lo? Tapi jangan kayak gini lagi, dan lo jangan sakit lagi…” bisik Cakka pelan tepat didepan wajah Sivia.
            Tidak berselang lama setelah Cakka membisiki Sivia, Sivia pun akhirnya membuka kedua matanya secara perlahan. Sivia tersenyum melihat Cakka yang saat itu sudah berada disampingnya.
            “Kka…?” panggil Sivia dengan lemah.
            “iya, Vi… gue ada disini”
            “maafin gue ya, Kka..?”
            Cakka menggeleng beberapa kali,
            “nggak, lo nggak perlu minta maaf. Elo nggak salah, gue yang keterlaluan sama lo, maafin gue ya?”
            “Cakka…”
            “sttt…” Cakka meletakkan jari telunjuknya tepat didepan hidung Sivia.
            “lo nggak usah ngomong apa-apa lagi ya? Sekarang lo istirahat aja biar besok lo bisa sehat lagi dan bisa berangkat kesekolah bareng gue…”
            Sivia mengangguk beberapa kali sambil berusaha untuk tersenyum. Sekarang Sivia merasa sudah lebih baik.
            “Kka, lo mau gue sembuh kan?” Tanya Sivia tiba-tiba. Cakka mengangguk pasti.
            “kalo lo mau gue sembuh, gue minta lo nyanyi ya buat gue…?”
            “apapun yang lo minta bakalan gue penuhi, Vi… asal lo sehat lagi”
            Tanpa berkata banyak lagi, Cakka langsung meraih gitar milik Sivia yang ia letakkan disamping meja lampunya. Beberapa saat kemudian, jemari terampil Cakka mulai memainkan senar gitar itu dan telah siap menyanyikan sebuah lagu untuk Sivia.

“melihat tawamu… mendengar senandungmu…
Terlihat jelas dimataku warna-warna indahmu…
Menatap langkahmu…. Meratapi kisah hidupmu…
Terlihat jelas bahwa hatimu anugerah terindah yang pernah ku miliki…

Ho wo…ooo…

Sifatmu nan selalu redakan ambisiku
Tepikan khilafku dari bunga yang layu…
Saat kau disisiku kembali dunia ceria…
Tegaskan bahwa kamu… anugerah terindah yang pernah ku miliki…”


            “gimana bisa gue marah lama-lama sama lo sementara lo kayak gini, Vi…? Apa mulai sekarang gue harus belajar ikhlas ngelepasin lo? Ato mungkin mulai sekarang, gue harus bisa sadar, bahwa selamanya elo akan Cuma jadi sahabat gue, dan apapun nggak akan bisa ngubah itu… elo adalah Bintang dalam hidup gue, bintang yang selalu bersinar terang, yang selamanya sinar lo hanya bisa gue lihat dari kejauhan tanpa pernah bisa meraih lo. Gue Cuma sahabat, selamanya Cuma sahabat. Maaf… karna gue sempat menginginkan lebih dari lo… gue sayang lo, Via…..”





                                    BERSAMBUNG….
           

           

0 comments:

Post a Comment