Seperti Sebuah Bintang Part9“CAKKA, I’M
SORRY!!”
Setibanya di Rumah Singgah Sivia
langsung turun dari atas motor Alvin tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sivia
masih sangat salah tingkah dengan kejadian tadi. Tidak beda jauh dari Sivia,
Alvinpun demikian. Sepanjang perjalanan menuju rumah Singgah tadi Alvin terus
saja diam seribu bahasa. Sebenarnya Alvin sama seperti Sivia, sama-sama salah
tingkah, hanya saja Alvin tidak ingin terlalu menunjukan kesalahtingkahannya
itu pada Sivia. Alvin berusaha bersikap wajar demi menjaga image nya
dihadapannya gadis itu.
Sivia memasuki rumah singgah seraya
menundukan wajahnya sedalam mungkin. Bahkan Sivia sampai tidak memperhatikan
keadaan sekitar. Tanpa sengaja Sivia menabrak Rafli yang saat itu akan keluar
bersama Bagas, Difa, Fatah, dan Gilang untuk bermain bola. Rafli heran. Tidak
biasanya Sivia diam seperti ini. Meskipun baru 3 hari mengenal Sivia, tapi
Rafli tau betul bagaimana Sivia ini. Bahkan Rafli sudah sangat terbiasa dengan
kebawelan Gadis yang ia panggil dengan panggilan Kakak Cantik itu. Merasa heran
dengan tingkah aneh Sivia hari ini Rafli pun bertanya.
“lho, Kak Via kenapa? Kok tumben
diem gini? Ada masalah?” Tanya Rafli sambil menahan tangan Sivia.
Sivia menggeleng beberapa kali.
Ketika mendengar derap langkah Alvin yang sudah memasuki rumah Singgah,
Siviapun buru-buru menoleh kearah Alvin. Dan benar saja, kedua mata Sivia
langsung menangkap sosok Alvin yang saat itu sudah berdiri dengan tegak dipintu
dengan raut wajah coolnya yang seperti biasa. Sivia menegak ludahnya
dalam-dalam. Untuk yang pertama kalinya Sivia melihat Alvin begitu mempesona.
Apa karna efek kecelakaan tadi?
Beberapa detik kemudian Sivia
buru-buru mengalihkan tatapannya dari Alvin dan segera melepaskan tangannya
dari genggaman Rafli. Siviapun berlari kecil menuju ruangan yang biasa ia
gunakan ketika sedang berada dirumah Singgah. Ruangan itu sudah bisa disebut
sebagai kamar Sivia.
Sesaat setelah kepergian Sivia,
Rafli pun mengalihkan tatapannya pada Alvin yang saat itu masih betah berdiri
dipintu dengan gaya cool nya yang khas. Memasukan kedua tangannya pada kedua
kantong celananya, dan menatap kosong kedepan.
“Kak Via kenapa, Kak?” Tanya Rafli
heran.
Dengan santai Alvin mengangkat kedua
bahunya, berusaha masa bodoh dengan pertanyaan yang baru saja Rafli lemparkan.
Lalu beberapa saat kemudian Alvinpun berjalan santai melewati Rafli Dan
Kawan-Kawan. Rafli pun semakin heran dibuatnya. Kali ini Rafli menatap
kawan-kawannya secara bergantian dengan pandangan bertanya, tapi yang ditatap
malah lebih begoknya dari Rafli sekarang.
^_^
Sivia mengunci pintu ruangannya lalu
segera berlari kearah cermin. Sivia menatap bayangan wajahnya lekat-lekat
didalam cermin. Perlahan Sivia menyentuh bibirnya, dan perlahan juga ingatan
Sivia kembali terseret pada ‘kecelakaan’ yang benar-benar meruntuhkan nyali nya
dihadapan Alvin itu.
Sivia menggeleng beberapa kali
sambil mengacak-acak rambutnya yang sama sekali tak berdosa lalu merutuki
kebodohan yang telah ia sendiri perbuat.
“ergh….!! Begok, begok, begok…. Tadi
tuh ciuman pertama lo, Vi. Kenapa harus sama Alvin? Kenapa nggak sama cowok
yang bener-bener elo sayang aja? Isshhhh….” Batin Sivia tanpa sedikitpun
mengalihkan perhatiannya dari cermin.
Kelamaan Sivia akhirnya merasa bosan
juga. Ia pun berteriak pelan.
“aarrgghh…. Sial!!” Sivia menggebrak
meja yang ada dihadapannya dengan kekuatan penuh.
Alvin yang saat itu melewati ruangan
Sivia tanpa sengaja mendengar suara teriakan Sivia. Alvin menghentikan
langkahnya sejenak seraya melihat kearah pintu ruangan Sivia.
“Konyol! Haha…” ujar Alvin sambil
tertawa sinis lantas melanjutkan langkahnya.
^_^
“Bi Ratna, minta tolong icipin dong
kuah sop Via! Garamnya pas nggak?” ucap Sivia pada Bi Ratna yang saat itu
tengah sibuk menggoreng ikan. Tak lupa juga Sivia mematikan api kompornya.
Karna takut ikan gorengannya gosong
Bi Ratna buru-buru menggeleng. Tapi ketika Bi Ratna melihat Alvin yang saat itu
memasuki dapur untuk mengambil air minum, Bi Ratna pun berkata.
“suruh Den Alvin aja!”
Mendengar namanya dibawa-bawa Alvin
langsung menghentikan langkahnya dan menatap kedua orang yang tengah sibuk
memasak itu.
“Den Alvin, sini!” panggil Bi Ratna
sambil tetp focus menggoreng ikan.
Tanpa berkata banyak Alvin pun
mendekat dan berdiri disamping Sivia.
“ada apa, Bi?” Tanya Alvin.
“coba icipin kuah sop nya Via dulu.
Ayo Via, kasih Den Alvin icipin”
Dan untuk yang pertama kalinya Sivia
merasakan debaran yang begitu hebat saat Alvin berada didekatnya. Tapi Sivia
meyakini, bahwa semua debaran aneh yang terjadi ini hanya semata-mata karna
efek kecelakaan tadi. Sivia masih salah tingkah dan sedikit malu pada Alvin
hingga akhirnya ia merasakan debaran aneh seperti itu. Ya… Sivia yakin dengan
itu.
Dengan gerogi Sivia meraih sendok
yang ada dihadapannya lalu mengambil sesendok Kuah Sup yang akan Alvin cicipi.
Sivia berusaha menahan tangannya agar tidak gemetar, namun sayang Sivia tidak
berhasil. Tangannya terangkat sambil bergetar hebat.
Alvin yang menyadari gerakan aneh
Siviapun memegangi tangan Sivia yang terangkat dan siap menyuapinya untuk
mencicipi kuah sup. Dengan gerakan cepat, Alvin mencicipi kuah sup buatan
Sivia. Dan dengan gerakan cepat pula, Alvin melepaskan tangan Sivia. Saat
itulah Sivia langsung bernafas lega.
Alvin berusaha merasakan kuah sup
itu sebaik-baiknya. Setelah yakin dengan rasa yang ia dapatkan, mulutnya pun
mulai berucap memberi komentar.
“kurang garam!” komentar Alvin
singkat, padat, jelas, dan…. Dingin pastinya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Alvin
langsung keluar dari dapur begitu saja.
‘begok lo, Vi…’ Sivia merutuki diri
dalam hati.
^_^
Selama seharian penuh Sivia tidak
melihat penampakan Alvin di Rumah Singgah. Bahkan tadi Alvin tidak ikut makan
siang bersama. Dan entah kenapa, hari ini Sivia merasa sangat kesepian. Sekalipun
tadi Alvin ada bersamanya walaupun hanya sebentar Sivia tetap saja merasa
sendirian. Apalagi semenjak ‘Kecelakaan’ itu Alvin benar-benar menghindarinya.
Bosan. Itu yang benar-benar Sivia
rasakan sekarang ini. Anak-anak Rumah Singgah sedang sibuk mengulang pelajaran
mereka disekolah dengan dibimbing oleh Rizky dan Dayat dihalaman depan. Tadi
Sivia sempat melihat-lihat, tapi karna tenaganya tidak terlalu dibutuhkan,
Sivia akhirnya lebih memilih untuk masuk kembali kedalam rumah Singgah.
Sementara semua pekerjaan sudah ia selesaikan sebelum sore tiba. Sivia menghela
nafas panjang. Kalau disini ada Si Kunyuk itu, setidaknya Sivia tidak akan merasa
sekesepian seperti sekarang ini.
Sivia akhirnya lebih memilih untuk
masuk kedalam ruangannya. Sivia duduk ditepi ranjangnya lalu membuka tasnya.
Daripada tidak ada kerjaan sama sekali Sivia akhirnya memutuskan untuk belajar
saja. Apa lagi tadi untuk yang pertama kalinya Sivia bolos sekolah, dan sudah
barang tentu Sivia akan ketinggalan pelajaran hari ini. Merasa dirugikan, sudah
jelas. Tapi Sivia tidak bisa berbuat apa-apa. Toh dia tidak akan pernah bisa
mengubah apa yang telah terjadi.
Sivia sedikit terkejut melihat
Handphone yang tadi Alvin berikan padanya kini berada didalam tasnya. Bukannya
tadi Alvin mengambil kembali handphone itu? Sivia yang tidak mau ambil pusing
lagi dengan tingkah aneh Alvin hari ini akhirnya meraih handphone itu lalu
membukanya dan memeriksa isi nya. Sivia menerima sebuah pesan dari Alvin. Sivia
tertawa dalam hati, ternyata Alvin sudah menyimpan nomernya sendiri di
handphone nya dengan nama ‘Alvin Ganteng’. Sebenarnya Sivia merasa agak sedikit
tidak terima.
==================
From :
‘Alvin Ganteng’
Kalo semua
krjaan lo
Udh beres lo
Boleh pulang
lebih awal.
Gausah
tunggu gue!
==================
Sivia tersenyum sinis ketika membaca
kalimat terakhir Alvin dipesan itu. “Dasar pede!” Sivia mendesis sinis.
Dan yang membuat Sivia lagi-lagi
tercengang adalah 3 digit ekor nomer HP Alvin yang ternyata sama dengan ekor
nomer HP nya. 9-9-9. Alvin seperti sudah mempersiapkan segalanya dengan sangat
matang.
^_^
Alvin mendrible bola basket yang ada
ditangannya dengan penuh semangat. Beberapa saat kemudian Alvinpun melakukan
lay-up lalu shooting. Dan tepat sekali, bola itu memasuki ring dengan sempurna.
Pak Randy yang sejak tadi berdiri ditepi lapangan menyaksikan anak-anak
didiknya yang tengah focus berlatih demi menghadapi pertandingan persahabatan
minggu depan pun berjalan ketengah lapangan sambil bertepuk tangan beberapa
kali.
Pak Randy menghampiri Alvin. Beliau
menepuk pelan pundak Alvin lantas berkata,
“hebat! Kalo latihan kalian seperti
ini terus, saya yakin kalian akan memenangkan pertandingan persahabatan minggu
depan”
“amiinnn….” Ucap Alvin, Rio, Deva,
Ozy, dan Ray dengan kompak.
Setelah merasa cukup lelah dengan
latihannya selama sejam ini, Alvinpun memutuskan untuk beristirahat sejenak
ditepi lapangan. Alvin duduk disebuah bangku panjang yang terdapat dipinggir
lapangan. Alvin membuka tas nya lalu mengambil botol minuman yang sengaja ia
persiapkan dari Rumah Singgah.
“haus banget keliatannya, Alv?”
Tanya seorang cewek yang tiba-tiba saja muncul dihadapan Alvin. Alvin melirik
sejenak kearah cewek itu lalu melepaskan botol minumannya dibawah bangku.
Cewek itu adalah Kapten Cheers SMA
BinSa yang tidak lain dan tidak bukan adalah Pricilla. Sebenarnya sudah sejak
lama Pricilla menyimpan hati untuk Alvin, hanya saja selama ini Pricilla
mencoba untuk tidak mengungkapkan perasaannya pada Alvin. Pricilla tahu betul
bagaimana sifat Alvin, dan Pricilla sangat mengerti bahwa Alvin adalah sosok
cowok yang tidak suka dikejar-kejar oleh cewek.
Pricilla tidak sama seperti fans-fans Alvin yang lainnya,
yang selalu menyatakan cintanya secara frontal dihadapan Alvin dan yang selalu
terang-terangan mengejar cinta Alvin. Tidak, Pricilla sama sekali tidak seperti
itu. Selama ini Pricilla selalu berupaya untuk bisa meraih Alvin tanpa perlu
melakukan hal-hal aneh yang biasanya dilakukan oleh fans-fans Alvin yang
lainnya. Dan meski sampai sekarang upayanya belum membuahkan hasil apa-apa,
Pricilla tetap berusaha untuk bersabar.
Tanpa menghiraukan reaksi enggan yang Alvin tunjukan atas
kehadirannya itu, Pricilla duduk dengan santai disamping Alvin. Pricilla
melirik kearah Alvin seraya tersenyum,
“gimana latihan hari ini?” Tanya Pricilla yang berniat
membuka obrolan sore itu.
Alvin terdengar menghela nafas panjang. Sepertinya Alvin
menganggap bahwa gadis yang ada disampingnya saat ini benar-benar sangat
membosankan. Sekalipun Pricilla tidak pernah menyatakan perasaannya yang
sesungguhnya pada Alvin, Alvin tahu betul bahwa Gadis Cantik ini diam-diam
menyuakinya. Tapi Alvin lebih memilih untuk memperdulikan perasaan Pricilla.
Sama sekali tidak perduli.
“menurut lo gimana?” Tanya Alvin kembali. Dingin.
Pricilla langsung terdiam saat Alvin menyerangnya balik
dengan sebuah pertanyaan. Suasana hening diantara mereka berduapun sudah tidak
bisa terhindarkan lagi. Mereka sama-sama diam, sama-sama sibuk dengan fikiran
mereka masing-masing.
2 menit kemudian Alvin bangkit dari samping Pricilla. Dan
tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Gadis itu, Alvin berlalu begitu saja.
^_^
Sudah hampir 30 menit Sivia menunggu
kepulangan Cakka. Tapi hingga selama itu Cakka belum juga menampakkan dirinya. Dalam hati
sebenarnya Sivia sangat risau memikirkan Cakka. Hari ini Cakka pasti akan marah
besar padanya karna Sivia sudah nekad bolos bersama Alvin. Tapi Sivia sudah
memikirkan semuanya dengan matang, Sivia sudah merasa siap lahir bathin jika
nanti Cakka memarahinya habis-habisan, dan Sivia bersumpah tidak akan membantah
apapun yang nantinya akan Cakka ucapkan padanya.
“masih nungguin Cakka, Vi…?” Tanya
Mas Elang yang baru saja turun dari lantai 2 rumahnya. Mas Elang ini adalah
Kakak Kandung dari Cakka.
Sivia langsung mengangguk beberapa
kali saat mendengarkan pertanyaan yang Mas Elang ajukan padanya. Mas Elang
berjalan mendekati sofa yang saat ini Sivia duduki. Jika ingat dulu Mas Elang
ini pernah menjadi Cinta Monyetnya, Sivia pasti akan merasa lucu sendiri.
Mas Elang duduk disamping Sivia
seraya memainkan gitarnya. Siviapun mulai memperhatikan tangan terampil Mas
Elang yang saat itu dengan begitu lincahnya memetik gitar kesayangannya.
“belakangan ini Mas El perhatiin
kamu jarang sama Cakka? Kenapa?” Tanya Mas Elang pada Sivia sambil tetap focus
dengan permainan gitarnya.
Sivia menegak ludahnya dalam-dalam
ketika mendengarkan pertanyaan dari Mas Elang. Sebelumnya Sivia tidak pernah
menyangka bahwa Mas Elang akan menanyakan hal itu padanya. Karna kebingungan
bagaimana harus menjawab pertanyaan Mas Elang, Siviapun menggaruk bagian
belakang kepalanya yang sebenarnya sama sekali tidak gatal.
Mas Elang mendesah panjang, ia
menghentikan sejenak permainan gitarnya lalu melirik kearah Sivia. Mas Elang
tersenyum kecil,
“berusahalah untuk peka dengan
perasaan siapapun”
Sivia terkesiap mendengarkan ucapan
Mas Elang baru saja. Ada sebuah makna tersirat dibalik ucapannya. Dan jujur
saja, Sivia merasa tidak mengerti sama sekali dengan apa yang Mas Elang
ucapkan.
“ma… maksud Mas El?” Tanya Sivia
sedikit ragu.
Mas Elang tersenyum tenang, namun
bukannya menjawab pertanyaan Sivia, Mas Elang malah meraih kembali gitarnya
lalu memainkannya,
“nanti juga kamu bakalan ngerti”
Beberapa saat setelah Mas Elang
berkata seperti itu, Cakka pun memasuki rumahnya. Cakka langsung menghentikan
langkahnya ketika melihat Sivia yang saat itu duduk bersama Mas Elang diruang
tengah. Sivia tersenyum pada Cakka lantas berdiri,
“Kka, gue disini nungguin lo dari
tadi tau?”
Cakka membuang tatapannya kearah
lain. Ia terdengar menghela nafas sejenak lantas melanjutkan langkahnya menaiki
anak tangga tanpa sedikitpun menghiraukan ucapan Sivia baru saja.
“Cakka!” panggil Sivia sedikit
keras. Tapi seperti tadi, Cakka tidak sedikitpun menghiraukan ucapan Sivia.
Cakka benar-benar marah besar pada Sivia.
Sivia mengejar langkah Cakka
kelantai 2 rumahnya. Sementara Mas Elang, ia hanya bisa tersenyum melihat
tingkah kedua orang itu. Mas Elang lebih memilih untuk tidak ikut campur urusan
Cakka dan Sivia. Mas Elang melanjutkan permainan gitarnya yang sempat terhenti.
Sivia semakin mempercepat
langkahnya, setelah jaraknya dengan Cakka lumayan dekat, Sivia pun mencekal
pergelangan tangan Cakka dan menggenggamnya seerat mungkin.
“Kka, tunggu!!” Cakka menghentikan
langkahnya lalu menoleh enggan kearah Sivia.
“lo marah sama gue?”
“….” Cakka terdiam,
“gue minta maaf… gue yang salah”
“…..” Cakka masih
terdiam,
“Kka, pliss lo jangan diem kayak gini. Gue lebih suka lo
marahin gue dari pada lo diem kayak gini, gue nggak bisa Kka ngeliat lo diem
kayak gini…”
“…..”
“Cakka, gue bener-bener minta maaf sama lo, Kka. Gue janji
nggak akan kayak gitu lagi Kka, gue janji, tapi pliss lo jangan diemin gue
kayak gini….”
Dalam satu gerakan cepat, Cakka melepaskan genggaman erat
tangan Sivia dari pergelangan tangannya. Setelah cukup lama terdiam, akhirnya
Cakka buka suara,
“lo berubah, Vi. Dan lo tau? Gue kehilangan sahabat gue”
“Kka….” Lirih Sivia.
“lo pasti capek kan hari ini udah maen seharian sama Alvin?
Mending sekarang lo pulang, terus istirahat, nanti kita bicarakan lagi masalah
ini…”
“jadi elo beneran marah sama gue?” Tanya Sivia dengan suara
bergetar. Sejak awal Sivia memang sudah menduga kalau Cakka pasti akan marah
besar dengan ulahnya hari ini, hanya saja Sivia tidak pernah menduga bahwa
Cakka akan semarah ini padanya.
“gue nggak marah sama lo”
“Kka….”
“pliss Vi, sekarang mending lo pulang aja!”
Cakka akhirnya melangkah pergi meninggalkan Sivia sendiri.
Cakka memasuki kamarnya, sementara Sivia, ia sudah tidak memiliki daya lagi
untuk tetap menahan Cakka dan mendengarkan semua penjelasannya. Air mata yang
sejak tadi Sivia tahan akhirnya menetes juga. Benarkah Cakka sampai semarah itu
padanya?
Setibanya didalam kamar, Cakka langsung melempar tasnya ke
lantai lalu memberantakkan seprei kasurnya. Cakka mengerang putus asa, ia
mengacak rambutnya lantas terduduk pasrah disamping kasurnya.
“apa lo nggak ngerti juga Vi…?? Gue cemburu ngeliat lo sama
Alvin. Gue cemburu….” Ucap Cakka pada dirinya sendiri. Tidak lama kemudian
Cakkapun meninju udara untuk meluapkan semua emosi yang selama beberapa hari
terakhir ini berusaha mati-matian ia pendam.
Hari ini kesabaran Cakka sudah habis. Mungkin terlalu cepat,
tapi Cakka sudah terlanjur lelah dengan semuanya.
^_^
Sepulangnya dari rumah Cakka
tiba-tiba saja Sivia merasakan sakit yang lumayan menyiksa dibagian kepalanya.
Sivia memegangi kepalanya lantas duduk disofa. Wajahnya sudah terlihat pucat
pasi, sekujur tubuhnya seakan tidak berfungsi lagi. Mungkin karna pertengkarannya
dengan Cakka tadi. Marsha yang baru saja keluar dari dalam kamarnya langsung
menghampiri Sivia.
“Kak Via kenapa, Kak?” Tanya Marsha
panic sambil berjalan mendekati Sivia. Marsha duduk disamping Sivia lalu
memegangi pundak sebelah kiri Sivia. Marsha agak sedikit terkejut ketika
melihat wajah Sivia yang sudah dalam keadaan pucat.
“Kak Via…?”
“Sha… telfonin Mama” pinta Sivia
dengan lemah.
“i…iya Kak, Kakak tunggu yah?”
Marsha buru-buru berlari kearah meja
telfon lalu menguhungi Mama nya yang saat itu masih berada dikantor. Setelah menghubungi
Mama nya, Marsha pun memanggil Bi Nining untuk membantunya membawa Sivia
kedalam kamarnya.
^_^
Saat ini tubuh lemah Sivia sudah
terbaring diatas tempat tidur. Tadi Bi Nining sudah memberikannya obat penurun
demam, dan sepertinya Sivia sudah terlihat sedikit lebih baik.
10 menit kemudian, Mama bersama Om
Farish pun datang. Mereka berdua langsung memasuki kamar Sivia dan mendapati
Marsha yang waktu itu dengan setia menemani Sivia. Mama bersama Om Farish berjalan
mendekati Sivia dan Marsha,
“Via kenapa, Sha…?” Tanya Mama panic
lalu duduk ditepi ranjang Sivia.
“Marsha juga nggak tau, Ma. Tadi
sepulang Kak Via dari rumah Kak Cakka, Kak Via nya udah kayak gini…” jelas
Marsha pada Mama.
Mama membelai lembut rambut panjang
Sivia. Tidak lama beliau paham, pasti Puteri Sulungnya ini sudah bertengkar
dengan Cakka hingga sakit seperti ini. Sejak kecil Sivia memang terlalu sering
seperti ini. Jika sudah bertengkar dengan Cakka pasti Sivia akan langsung
terkena demam.
“Sha, coba kamu panggil Kak Cakka
dirumahnya” pinta Mama sambil tetap membelai lembut rambut Sivia,
“baik, Ma…”
Beberapa saat setelah kepergian
Marsha, Farish pun mendekati Denita. Ia memegang kedua pundak Denita dan
berusaha menguatkan hatinya.
“tidak apa-apa kok, Mas… Via emang
terlalu sering kayak gini. Via ini emang paling nggak bisa berantem sama Cakka,
kalo mereka berantem ya kayak gini kejadiannya” jelas Denita tanpa sedikitpun
mengalihkan tatapannya dari wajah Sivia.
Sekitar 5 menit kemudian, Marsha pun
datang bersama Cakka yang saat itu terlihat tidak kalah panic nya dari Marsha
dan Denita saat ini. Cakka berlari kecil mendekati Sivia yang masih terbaring
lemah diatas tempat tidur.
“Via…” panggil Cakka pelan.
Denita pun langsung menyingkir dari
samping Sivia dan membiarkan Cakka saja yang duduk ditepi ranjang Sivia. Cakka
memegangi kening Sivia yang masih terasa panas.
“maafin gue, Vi… maaf udah bikin lo
kayak gini…” lirih Cakka pelan seraya meraih tangan kanan Sivia lalu
menggenggamnya seerat mungkin.
“Kka…” panggil Denita sambil
memegang pundak Cakka.
“iya Tan…?”
“baik-baik ya sama Via? Jangan
berantem lagi, kamu kan udah sering janji sama Tante untuk selalu ngejaga Via…”
“iya Tan, Cakka tau. Maafin Cakka
ya?” ucap Cakka dengan tulus lalu kembali mengalihkan perhatiannya pada Gadis
Bawel itu.
Denita dan Farish saling menatap
satu sama lain. Merasa Cakka dan Sivia butuh waktu waktu untuk berdua saja,
merekapun memutuskan untuk meninggalkan Cakka dan Sivia berdua. Mereka
sama-sama mengangguk lalu keluar bersama Marsha dari kamar Sivia.
Cakka memegang kepala Sivia lalu
mendekatkan wajahnya dengan wajah Sivia yang saat itu masih memejamkan matanya.
“hey Bawel nya gue… bangun dong! Gue
minta maaf ya sama lo? Tapi jangan kayak gini lagi, dan lo jangan sakit lagi…”
bisik Cakka pelan tepat didepan wajah Sivia.
Tidak berselang lama setelah Cakka
membisiki Sivia, Sivia pun akhirnya membuka kedua matanya secara perlahan.
Sivia tersenyum melihat Cakka yang saat itu sudah berada disampingnya.
“Kka…?” panggil Sivia dengan lemah.
“iya, Vi… gue ada disini”
“maafin gue ya, Kka..?”
Cakka menggeleng beberapa kali,
“nggak, lo nggak perlu minta maaf.
Elo nggak salah, gue yang keterlaluan sama lo, maafin gue ya?”
“Cakka…”
“sttt…” Cakka meletakkan jari
telunjuknya tepat didepan hidung Sivia.
“lo nggak usah ngomong apa-apa lagi
ya? Sekarang lo istirahat aja biar besok lo bisa sehat lagi dan bisa berangkat
kesekolah bareng gue…”
Sivia mengangguk beberapa kali
sambil berusaha untuk tersenyum. Sekarang Sivia merasa sudah lebih baik.
“Kka, lo mau gue sembuh kan?” Tanya
Sivia tiba-tiba. Cakka mengangguk pasti.
“kalo lo mau gue sembuh, gue minta
lo nyanyi ya buat gue…?”
“apapun yang lo minta bakalan gue
penuhi, Vi… asal lo sehat lagi”
Tanpa berkata banyak lagi, Cakka
langsung meraih gitar milik Sivia yang ia letakkan disamping meja lampunya.
Beberapa saat kemudian, jemari terampil Cakka mulai memainkan senar gitar itu
dan telah siap menyanyikan sebuah lagu untuk Sivia.
“melihat tawamu… mendengar
senandungmu…
Terlihat jelas dimataku warna-warna
indahmu…
Menatap langkahmu…. Meratapi kisah
hidupmu…
Terlihat jelas bahwa hatimu anugerah
terindah yang pernah ku miliki…
Ho wo…ooo…
Sifatmu nan selalu redakan ambisiku
Tepikan khilafku dari bunga yang
layu…
Saat kau disisiku kembali dunia
ceria…
Tegaskan bahwa kamu… anugerah
terindah yang pernah ku miliki…”
“gimana bisa gue marah lama-lama
sama lo sementara lo kayak gini, Vi…? Apa mulai sekarang gue harus belajar
ikhlas ngelepasin lo? Ato mungkin mulai sekarang, gue harus bisa sadar, bahwa
selamanya elo akan Cuma jadi sahabat gue, dan apapun nggak akan bisa ngubah
itu… elo adalah Bintang dalam hidup gue, bintang yang selalu bersinar terang,
yang selamanya sinar lo hanya bisa gue lihat dari kejauhan tanpa pernah bisa
meraih lo. Gue Cuma sahabat, selamanya Cuma sahabat. Maaf… karna gue sempat
menginginkan lebih dari lo… gue sayang lo, Via…..”
BERSAMBUNG….


0 comments:
Post a Comment