“Hari-haripun
berlalu bersama sang waktu yang terus bergulir dan meninggalkan sebongkah
kenangan yang belakangan terasa manis. Pertemuan singkat itu, akan menyeret
kedua insan ini pada rentetan kisah panjang nan rumit. Mereka akan berjalan
bersama dengan bergandengan tangan, menghadapi segala rintangan yang
menghadang, melewati jalan terjal yang begitu mengoyakkan semangat, melawan
apapun yang telah siap melempar mereka pada jurang keputusasaan. Maka
dengarkanlah ini…. Bersiaplah untuk sebuah perjalanan. Kisah mereka telah
dimulai hari ini… Antara Alvin, Sivia, dan sebuah Bintang….. (Cakka)”
Hari ke-5 (Kamis)
“Pel sebelah sini juga! Belum bersih
ituuu” ucap Alvin sambil menunjuk kearah ruang TV. Padahal Sivia sudah 2 kali
bolak balik membersihkan ruang TV tapi dengan menyebalkannya Alvin masih saja
mengatakan kalau ruang TV masih kotor.
Sivia mendesis kesal lalu menatap
benci kearah Alvin yang saat itu tengah duduk berselonjor diatas sofa dengan
arah mata yang terfokus pada televise yang sedang menyala. Alvin duduk dengan
santainya sambil memakan kacang.
Sivia membuang nafas kesal lalu
kembali berjalan kearah ruang TV dan mengepelnya ulang dengan kejengkelan yang
sudah mencapai puncak klimaks. Sekali lagi Sivia melirik kearah wajah yang amat
sangat menyebalkan itu. Sivia benci, benar-benar benci. Apalagi jika mengingat
kejadian kemarin siang rasanya Sivia ingin sekali membunuh pria menyebalkan
yang ada dihadapannya saat ini.
Dengan setengah hati Sivia mengulang
kembali pekerjaan yang seharusnya tidak ia ulangi. Sivia mengepel dengan
langkah mundur dan tanpa sengaja melewati depan TV. Alvin berkoar kembali,
“Heh, lo nggak liat majikan lo lagi
nonton TV apa? Dasar Pembantu somplak lu!
Minggir”
Tanpa berkata apa-apa Sivia langsung
minggir dari depan TV. Dan saat Sivia berbalik Alvin malah sengaja melempar
beberapa kulit kacang ke lantai.
“itu kotor lagi. Cepet bersihin!!”
Dengan setengah hati Sivia
mengumpulkan kulit-kulit kacang yang berserakan dilantai yang sengaja
dilemparkan oleh Alvin.
“Jongkok! Gue nggak bisa liat TV
ini….”
Oh my God, kenapa harus ada Pria
semenyebalkan Alvin yang hidup didunia ini? Alvin memang begok atau pura-pura
begok sih sebenarnya? Alvin hanya tidak tahu saja bagaimana rasanya jadi Sivia.
Seenaknya saja dia main perintah-perintah.
Sivia yang merasa bosan akhirnya
melepaskan gagang pel yang sedari tadi ia pegang. Ia menatap Alvin dengan
tatapan pembunuh sambil berkacak pinggang. Dua buah tanduk seakan muncul diatas
kepala Sivia, dan kedua matanya mulai berubah warna menjadi merah. Tidak lupa
juga taringnya muncul. Sivia berjalan mendekati Alvin dengan tatapan bengis.
Alvin melepas kacangnya lalu membenahi posisi duduknya.
“heh, mau apa lo, Jelek?” Tanya
Alvin yang mulai merasa ketakutan.
“GUE MAU BUNUH LO KUNYUK, AAAAAA…..”
Teriak Sivia sambil menerkam tubuh Alvin.
“HAHAHAHAHAHA…..” Suara tawa Alvin
yang lumayan kencang langsung menarik Sivia dari khayalan gilanya. Tentu saja
kejadian munculnya tanduk, mata merah dan taring hingga saat Sivia menerkam
Alvin hanyalah khayalan Sivia saja dan tidak benar-benar terjadi.
Sivia mendengus kesal. Ia segera
membereskan alat pel nya lalu segera hengkang dari tempat yang menurutnya
sangat menyiksa itu. Saat tahu bahwa Sivia sudah pergi, Alvinpun menghentikan
suara tawanya sejenak dan mengalihkan perhatiannya dari arah TV. Alvin
tersenyum simpul ketika melihat Sivia yang sudah nyaris hilang dari
pandangannya.
“rasain lo!! Emangnya enak apa gue
kerjain??”
^_^
Hari ke-6 (Jum’at)
Satu SMA Bintang Bangsa dihebohkan
oleh berita Pesta Ulang Tahun Pricilla yang rencananya akan diselenggarakan
besok malam secara meriah dan besar-besaran. Seluruh siswa siswi SMA Bintang
Bangsa diundang tanpa terkecuali, termasuk beberapa Guru yang juga sangat dekat
dengan Pricilla. Tidak hanya dari SMA Bintang Bangsa saja, tapi Pricilla juga
mengundang beberapa orang dari SMA Pancasila termasuk Cakka bersama Team
Basketnya juga anggota Cheers SMS Pancasila.
Semuanya sudah dipersiapkan dengan sangat
matang. Tujuan Pricilla satu-satu nya dalam mengadakan pesta besar-besaran ini
adalah sebenarnya hanya untuk menarik perhatian Alvin. Pricilla optimis dan
bahkan sempat gembar gembor pada anggota Gank nya, bahwa dimalam Ulang Tahunnya
yang ke-17 nanti Alvin akan menembaknya dengan cara yang amat sangat romantic
dan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Entah darimana Pricilla bisa
mendapat keyakinan sebesar itu.
Disaat berita menghebohkan itu
sukses menggemparkan Satu SMA BinSa juga SMA ‘Musuh’ mereka, Alvin yang katanya
menjadi sasaran utama Pricilla dalam pesta ini malah tidak tau apa-apa. Bahkan
mungkin tidak pernah ingin tahu.
Ray yang biasanya menjadi biang
gossip di Team malah tidak berkata apa-apa saat ia dan kawan-kawannya berkumpul
di Kantin ketika jam Istirahat.
Dan ketika Alvin dan kawan-kawannya
tengah asyik menikmati makan siang mereka, secara tiba-tiba Pricilla datang
khusus untuk memberikan Alvin undangan secara langsung.
“Hay Alv!” sapa Pricilla dengan
senyum manisnya yang semakin membuat terlihat anggun. Melihat kedatangan
Pricilla, Ray, Deva dan Ozy langsung terpana seketika.
“apa?” sahut Alvin dingin.
“nih…” ujar Pricilla sambil
menjulurkan sebuah undangan dihadapan Alvin.
Alvin melirik sejenak kearah
undangan itu lalu merenggutnya dari tangan Pricilla dengan secepat kilat.
“apaan nih?” Tanya Alvin sambil
menunjukan undangan itu dihadapan Pricilla.
“itu undangan buat lo. Besok malem
gue bakal ngerayain Pesta Ulang Tahun gue yang ke-17, dan gue bener-bener
berharap banget lo bisa dateng dipesta gue…” jawab Pricilla penuh harap.
Alvin menghela nafas panjang. Ia
melepaskan undangan itu begitu saja diatas meja, lalu dengan gaya cuek nya yang
khas Alvin berkata pada Pricilla.
“liat nanti aja kalo gue nggak
sibuk”
Terbersit sebuah rasa kecewa dalam
benak Pricilla. Tapi Pricilla harus benr-benar bisa memastikan kalau Alvin akan
menghadiri pestanya sesuai rencana yang sudah ia susun dengan sangat rapih.
^_^
Tidak jauh beda dari SMA BinSa, SMA
Pancasila pun tidak kalah hebohnya dari SMA BinSa saat ini. Bagaimana tidak?
Setelah selama bertahun-tahun bermusuhan akhirnya hari ini untuk yang pertama
kalinya SMA BinSa mulai membuka diri untuk berdamai. Meski yang diundang
keacara Pesta Pricilla hanya team Basket juga team cheers SMA Pancasila, tapi
mereka semua benar-benar merasakan bahwa angin perdamaian tengah bertiup dengan
lembut. Ditambah lagi dengan pertandingan Basket yang akan diadakan minggu
depan, lengkaplah sudah jalan untuk kedua sekolah ini berdamai.
“lo mau ikut nggak bareng gue?”
Tanya Cakka pada Sivia yang saat itu tengah asyik menyantap Mie Ayam
pesanannya. Tidak lupa juga Cakka menyodorkan undangan yang telah dikirimkan
oleh Pricilla untuknya.
Sivia menggeleng dengan pasti dan
menolak mentah-mentah ajakan dari Cakka itu. Sivia sangat membenci SMA BinSa
termasuk semua makhluk-makhluk yang tergabung didalamnya termasuk diantaranya
adalah Alvin. Dan Sivia bersumpah, tidak akan pernah turut campur dalam segala
hal apapun mengenai SMA BinSa apalagi sampai menghadiri Pesta Ulang Tahun
Pricilla, si Kapten Cheers SMA BinSa yang amat popular dimana-mana itu. Dan
Sivia tau betul bagaimana Cakka mengetahui tentang ‘KEANTIAN’ nya pada SMA
BinSa, lalu kenapa sekarang Cakka malah menawarinya untuk ikut menghadiri pesta
itu? Benar-benar tidak masuk akal bagi Sivia.
“lo nggak nyesel?? Nanti acaranya
seru banget lho! Ada artis juga yang dateng…” Cakka masih saja berusaha
mengeluarkan rayuan mautnya untuk Gadis yang sangat sulit diyakinkan ini.
Sekali lagi Sivia mengangguk pasti dengan mulut penuh oleh Mie Ayam.
“GUE-NGGAK-PEDULI” ucap Sivia pelan
tapi tegas. Cakka menegak ludahnya sendiri. Sepertinya akan sulit mengajak
Gadis ini untuk menghadiri pesta itu.
“beneran?” Cakka mendekatkan
wajahnya kearah Sivia.
Kelamaan Sivia akhirnya merasa bosan
juga. Ia melepaskan sendok dan garpunya lalu menatap Cakka bengis. Sivia
mengangkat jari telunjuknya lalu menggunakannya untuk mendorong pelan kening
Cakka hingga jarak wajah mereka agak sedikit menjauh.
“Cecak Nuraga—“
“Cakka” ralat Cakka dengan cepat.
Sivia pun menampakkan raut masa bodoh.
“elo nggak ngerti bahasa Indonesia
ya? Tadi gue bilang apa? GUE NGGAK MAU, KENAPA MASIH LO PAKSA JUGAAAA…??”
Teriak Sivia pada akhirnya dan membuat Cakka harus dengan terpaksa menutup
kedua telinganya.
Setelah merasa lega karna bisa
meneriaki pria cerewet yang ada dihadapannya, Sivia kembali dengan ritual
memakan Mie Ayamnya yang sempat terganggu oleh ajakan Cakka yang menurutnya
sangat amat tidak penting itu.
Cakka melipat kedua tangannya didada
lalu menatap Sivia dengan tatapan yang sedikit sebal.
“kalo nggak mau bilang aja nggak
mau. Nggak usah ada acara tereak-tereak kayak gitu juga kali…” dumel Cakka
pelan.
Cakka memperhatikan baik-baik wajah
Sivia yang masih saja asyik sendiri dengan mie ayamnya. Cakka menopang dagunya
lalu tersenyum kecil. Tanpa sadar Cakka menatap wajah Sivia lama.
Hmm… kapan Cakka akan sadar, bahwa
selamanya Sivia hanya akan menjadi sahabatnya. Tidak akan pernah lebih dari
sekedar sahabat. Seharusnya sejak awal Cakka tahu, bahwa menjatuhkan hatinya
pada Sivia adalah sebuah kesalahan fatal yang tidak seharusnya ia lakukan.
Cakka ingin menyesali segalanya tapi terlambat. Perasaan nya pada Gadis ini
sudah terlanjur mengalir jauh, dan Cakka tidah tahu bagaimana caranya untuk
menghentikan aliran itu. Diam-diam dalam hati Cakka selalu berharap, bahwa
kelak –entah kapanpun itu- Sivia akan merasakan apa yang dia rasakan dan
bersedia untuk membalas perasaannya. Sesederhana itu.
Saat Sivia mengangkat wajahnya,
Cakka pun buru-buru mengalihkan perhatiannya kearah lain sebelum Sivia
menyadari bahwa sedari tadi Cakka terus saja memperhatikannya. Sivia tersenyum
lebar sambil memegagni perutnya.
“kenyaanggg…..”
“kalo udah sama makan aja gue
dilupain” kata Cakka sebal sambil mengaduk-aduk Es teh manis pesanannya.
“emang buat apa gue harus inget elo
terus? Elo aja sekarang udah jarang banget beliin gue cokelat…”
“nggak ada hubungannya
baweeellll!!!” kata Cakka gemas sambil menarik hidung Sivia. Sivia buru-buru
menepis tangan Cakka dari hidungnya.
“iihhhh…. Elo doyan banget sih
narik-narik hidung gue perasaan? Ngefans ya sama hidung gue yang seksi ini…?”
ujar Sivia bangga sambil memegangi
hidungnya. Cakka diam, jika sudah mulai narsis seperti ini Cakka pasti akan
sangat malas meladeni Sivia.
Tiba-tiba Cakka teringat sesuatu. Ia
baru ingat bahwa kemarin ia sudah membelikan sebuah handphone baru untuk Sivia.
Sebenarnya Cakka ingin memberikannya kemarin, hanya saja Cakka lupa.
“eh Vi, gue ada sesuatu buat lo”
“APAA…? APAA? APA?” Tanya Sivia
antusias.
“tunggu!” kata Cakka lalu merogoh
kantong celananya.
“cokelat ya?” terka Sivia. Cakka
menggeleng cepat, Sivia langsung mengerucutkan bibirnya.
Bersamaan saat Cakka akan
mengeluarkan Handphone itu dari kantongnya, Sivia malah mengeluarkan handphone
pemberian Alvin lalu membukanya dihadapan Cakka. Cakka melirik sejenak kearah
Handphone yang terlihat sangat unik itu.
“itu HP lo, Vi?” Tanya Cakka ragu.
Sivia mengangguk pasti seraya tersenyum lebar.
“iya… hehe keren kan? Ini Si Alvin
yang ngasih, nggak tau juga tuh anak kenapa mendadak baek banget ke gue” ucapan
dari Sivia itu tanpa sadar telah
menimbulkan luka kecil yang lambat laun akan semakin bertambah didinding hati
Cakka. Cakka pun akhirnya mengulurkan niatnya untuk memberikan Handphone pada
Sivia.
Sebelum Cakka benar-benar
mengeluarkan Handphone itu dari kantong celananya, Cakka malah memasukannya
kembali. Cakka tersenyum dan berusaha keras menyembunyikan kemirisannya
dihadapan Sivia.
“eh, tadi katanya mau ngasih
sesuatu. Mana?” tagih Sivia sambil mengulurkan tangannya dihadapan Cakka.
Cakka menggeleng pelan. kedua alis
Sivia langsung bertaut. Heran.
“kok?”
“ternyata gue lupa bawa barangnya”
Cakka tersenyum pahit.
Satu hal yang mungkin tidak akan
pernah Sivia sadari jika bukan Cakka sendiri yang mengakuinya. Satu hal itu
adalah, Sivia telah membuat Cakka terluka, membuat Cakka kecewa.
“halah… bilang aja lo emang nggak
ada niat buat ngasih gue”
“serius barangnya ketinggalan” Cakka
berusaha meyakinkan.
“tau deh ah” Sivia beringsut dari
kursinya lalu pergi meninggalkan Cakka tanpa berkata apapun. Sivia ngambek.
“Via tunggu! Lo jangan ngambek
dong…” Cakka bangkit lalu berusaha mengejar langkah Sivia.
^_^
Hari ke-7 (Sabtu)
“Kak Sivia mana?” Tanya Alvin pada
semua adik asuhnya saat ia baru saja memasuki rumah singgah.
“lagi ganti baju” jawab Cindai.
Saat Alvin akan berniat menyusul
Sivia kekamarnya, Sivia malah keluar sendiri. Alvin berjalan cepat menghampiri
Sivia. Saat jaraknya sudah dekat dengan Sivia, tanpa berkata apapun Alvin
langsung saja menarik pergelangan tangan Sivia dan membawanya keluar dari rumah
singgah.
“heh, lo mau bawa gue kemana?” Tanya
Sivia.
“nanti juga lo bakalan tau sendiri”
jawab Alvin sekenanya sambil tetap menarik pergelangan tangan Sivia. Sivia
pasrah dan mengikuti perkataan Alvin begitu saja.
Alvin menaiki Ninja Merahnya lalu
memasang Helmnya. Tanpa banyak bicara, Alvin langsung memberikan isyarat pada
Sivia agar segera menaiki motornya. Siviapun menaiki motor Alvin. Seperti
Alvin, Sivia juga tidak banyak bicara.
Setelah Sivia menaiki motornya,
Alvin menggas motornya secara tiba-tiba. Sivia yang terkejut secara reflex
langsung memeluk erat pinggang Alvin. Tanpa menghiraukan Sivia yang masih
sangat terkejut, Alvinpun menjalankan motornya dengan kecepatan maksimal. Sivia
mengomel dalam hati. Kenapa cowok songong ini senang sekali membuatnya
jantungan?
Setelah selama 15 menit
diperjalanan, Alvinpun menghentikan laju motornya didepan sebuah mall.
“turun lo!” sinis Alvin.
“kita mau ngapain sih disini??”
“nggak usah banyak bacot! Gue bilang
turun ya turun!” ucap Alvin semakin sinis.
Sivia mengalah, ia pun akhirnya
turun dari atas motor Alvin dengan suasana hati yang benar-benar dongkol. Kalau
saja boleh, rasanya Sivia ingin sekali membunuh cowok ini.
^_^
Alvin berjalan cepat dan tangannya
masih betah menggenggam erat pergelangan tangan Sivia. Sivia ingin protes, tapi
rasanya percuma saja. Toh Alvin tidak akan pernah sudi menghiraukannya.
Alvin membawa Sivia memasuki sebuah
Butik yang ternyata adalah milik Mamanya. Saat Alvin membuka pintu, beberapa
pelayan disana langsung menundukan kepalanya sambil mengucapkan selamat datang.
Tapi Alvin tidak sedikitpun menghiraukannya. Seorang pelayan mengikuti Alvin
dan Sivia dengan setia dari belakang.
Setelah cukup lama menggenggam erat
tangan Sivia, Alvinpun akhirnya melepaskannya. Alvin segera memilih Gaun yang
kira-kira cocok dikenakan oleh Sivia. Alvin meraih sebuah gaun tanpa lengan
berwarna hitam. Alvin mengangkat gaun itu dan menyandingkannya dengan Sivia
yang saat itu masih berdiri dengan raut wajah begok. Alvin menggeleng cepat, ia
merasa Gaun Hitam itu tidak cocok untuk Sivia.
Setelah memakan waktu selama hampir
1 jam, Alvin akhirnya menemukan sebuah gaun yang pas untuk Sivia. Alvin
menjatuhkan pilihannya pada sebuah Gaun Baby Doll yang dalam rancangannya
menggunakan gaya strapless. Gaun itu memiliki perpaduan warna antara hitam dan
putih. Dan jika dikenakan oleh Sivia, mungkin Gaun itu akan sampai diatas
lututnya.
Melihat Gaun tanpa lengan yang
ditunjukan oleh Alvin, Sivia buru-buru menggeleng tidak setuju. Selama ini Sivia
tidak pernah menggunakan gaun yang terlalu terbuka seperti itu. Tetapi Alvin
sudah terlanjur tertarik pada Gaun itu. Alvin melemparkan Gaun itu kearah
Sivia.
“gue nggak suka gaun ini” ucap Sivia
sambil menangkap Gaun yang baru saja dilemparkan oleh Alvin. Sivia memeluk gaun
itu seerat mungkin.
Mendengar pendapat yang dilontarkan
oleh Sivia, Alvin berjalan cepat menghampiri Sivia. Ia berdiri tepat didepan
gadis itu. Tanpa berkata apapun, Alvin langsung saja mendekatkan wajahnya
dengan wajah Sivia. Semakin lama semakin dekat, Sivia pun berjalan mundur satu
langkah sambil menatap tepat kearah kedua bola mata Alvin.
“gue nggak minta pendapat lo!” bisik
Alvin pelan didepan wajah Sivia. Siviapun hanya bisa menegak ludahnya
dalam-dalam ketika melihat tatapan Alvin yang lumayan menciutkan nyalinya.
Alvin berbalik dan berjalan
mendekati sebuah box sepatu yang sudah dipersiapkan di butik itu. Dengan teliti
Alvin mulai memilihkan sebuah sepatu untuk Sivia. Dan pilihan Alvin akhirnya
jatuh pada sebuah wedges berwarna putih dengan hiasan pita hitam diatasnya.
Alvin menoleh kearah Sivia yang masih berdiri ditempatnya semula.
“heh, jelek, sini lo!!”
Tanpa bisa melawan lagi, Sivia
menyerahkan Gaun itu pada seorang pelayan yang sejak tadi setia mengikutinya.
Sivia berjalan pasrah menghampiri Alvin. Entah kemana lagi Alvin akan
membawanya pergi hari ini?
“duduk lo!” perintah Alvin sambil
melirik kearah bangku yang ada disampingnya.
Tanpa mengeluarkan sepatah katapun,
Sivia duduk dibangku itu. Dan secara mengejutkan Alvin duduk dibawah Sivia
dengan posisi bertekuk lutut. Orang-orang yang tidak tahu tentu akan mengira
mereka sepasang kekasih. Alvin menunduk lalu membuka sepatu yang Sivia kenakan
saat ini. Lalu seperti Sang Pangeran yang memasangkan sepatu kaca di kaki
Cinderella, Alvin memasangkan sepatu itu untuk Sivia. Sivia terkesima dengan
apa yang Alvin lakukan padanya. Bahkan saking terkesimanya, Sivia sampai
menutup mulutnya menggunakan sebelah tangannya. Para pelayan Butik yang melihat
adegan mengesankan yang dipertontonkan oleh Alvin dan Sivia langsung saling
melirik sambil tersenyum satu sama lain.
Alvin tersenyum puas karna wedges
putih pilihannya ternyata pas dan sangat cocok dikaki Sivia. Kali ini Alvin
mengubah posisinya yang semula bertekuk lutut menjadi duduk. Alvin melipat
kedua tangannya lantas meletakkannya diatas kedua lututnya. Alvin mendongak dan
melihat kearah Sivia yang masih menatapnya dengan pandangan tak percaya. Untuk
yang pertama kalinya, Alvin memberikan senyum termanisnya pada gadis itu. Deg…
debaran itu mulai terdengar pelan dan kelamaan kencang didada Sivia.
“dasar jelek! Nyari gaun sama sepatu
yang pas buat lo aja susahnya minta ampun. Gini nih kalo cewek jelek, mau di
pake’in apapun tetep aja nggak matching” cibir Alvin, dan untuk beberapa saat
kemudian langsung memamerkan senyum sinisnya.
Sivia mendesis kesal. Dan tanpa
babibu lagi langsung menjitak kepala Alvin.
“wadaw… sakit Jelek!” ringis Alvin.
“suruh siapa lo ngeledek gue??”
Tanya Sivia sinis.
“emang faktanya kayak gitu” Alvin
semakin mencibir.
Sivia membuang nafas kesal. Ok,
terserah si Kunyuk ini saja mau berkata apapun. Sivia tidak akan peduli sama
sekali. Yang terpenting sekarang bagi Sivia adalah kemana Alvin akan
membawanya. Sivia berusaha mendinginkan kepalanya yang sejak tadi sudah sangat
panas gara-gara ulah menyebalkan Alvin.
“sebenernya maksud dan tujuan lo apa
sih ngajakin gue kesini? Terus pake beli gaun sama sepatu segala?”
Alvin tersenyum sinis.
“male mini lo jadi pacar gue ya?”
pertanyaan Alvin itu kontan saja membuat Sivia kaget setengah mati.
Apa? Tadi Alvin bilang apa? Jadi
pacarnya? Enak saja, sampai kiamat juga Sivia tidak akan pernah mau jadi pacar
Alvin. Sampai bumi yang bulat ini jadi kotak sekalipun, Sivia tetap tidak akan
pernah sudi menjadi pacar Alvin.
Alvin tersenyum sinis. Ia bisa
membaca dengan sangat jelas apa yang terlintas di otak Sivia saat ini juga.
Alvin tertawa kecil lalu bangkit dari duduknya. Ia berdiri dihadapan Sivia yang
masih terduduk, Alvin memegang kedua bahu Gadis itu lalu menunduk untuk
mensejajarkan wajahnya dengan wajah Gadis itu.
“lo nggak usah kepedean! Gue jadi
males kali jadi pacar lo” ujar Alvin seraya menyentuh lembut hidung Sivia
dengan jari tangannya. Sivia langsung manyun.
“terus…?” Tanya Sivia polos.
Alvin menurunkan tangannya dari
kedua pundak Sivia dan sedikit menjauh dari posisi Sivia sekarang.
“Cuma pura-pura aja kok”
“Hah?” Sivia semakin bingung.
“disekolah gue ada seorang cewek
yang suka sama gue. Cewek ini udah lama ngincer gue, tapi gue nggak mau.
Semuanya udah gue lakuin supaya dia ngejauh, tapi dia nggak ngejauh juga dan
malah makin cinta sama gue, dan male mini dia ulang tahun, dia mint ague buat
dateng, sebenernya gue males, tapi male mini gue harus ngebuktiin ke dia, kalo
gue udah punya cewek supaya dia bener-bener ngejauhin gue…”
“terus apa hubungannya sama gue?
Kenapa harus gue?” Alvin berbalik dan menatap Sivia dengan teduh.
“karna gue nggak ada pilihan lain
selain elo? Ini kan hari terakhir lo jadi pembantu gue, dan anggep saja ini
sebagai kerjaan terakhir lo…” ada nada berbeda dalam ucapan Alvin yang terakhir
itu. Tapi Sivia tidak menyadarinya sama sekali.
Sivia mengangguk paham.
“cewek itu siapa sih?”
“Agatha Pricilla. Kapeten Cheers
BinSa, elo tentu tau kan?”
“WHAAATT….??”
Sivia kaget sekaget-kagetnya
mendengar jawaban Alvin. Agatha Pricilla? Baru kemarin juga Cakka memintanya
untuk menemaninya datang ke pesta Pricilla, tapi Sivia menolak secara
mentah-mentah. Dan sekarang malah Alvin yang memintanya. Haduuhh… runyam kan
permasalahannya? Bisa-bisa Cakka salah paham nanti.
Sebelum Sivia sempat menolak dan
memberikan alibi, Alvin malah sudah menarik tangannya dan membawanya berjalan
kearah meja kasir.
^_^
Setelah dari butik Mama nya, Alvin
membawa Sivia memasuki sebuah salon kecantikan yang merupakan salon langganan
Mamanya. Alvin langsung menyerahkan Sivia begitu saja pada Si Pemilik Salon
yang biasa Alvin panggil dengan panggilan Kak Winda itu.
“Kak Winda, dandanin cewek ini
secantik mungkin. Tapi jangan sampe menor ya? Nanti jam 7 aku bakalan jemput
dia..”
Sivia menahan tangan Alvin,
“lo mau kemana?”
“udah lo tenang aja, lo aman kok
disini” Alvin melepaskan genggaman tangan Sivia dari tangannya.
“ayo, Sivia! Pertama-tama kamu Spa
dulu ya?”
Kak Winda pun menarik pelan lengan
Sivia dan membawanya memasuki sebuah ruangan khusus untuk Spa.
Rencana Alvin mala mini pasti akan
sukses berat.
^_^
Ketika waktu sudah menujukan tepat
pukul 18.00, Alvin pun sudah kembali lagi ke salon untuk menjemput Sivia. Malam
ini Alvin benar-benar terlihat mempesona. Ia menggunakan kemeja putih yang
dilapisi oleh jas hitam yang senada dengan warna Gaun yang dikenakan oleh
Sivia.
Alvin duduk disofa dan menunggu
Sivia dengan sabar. Alvin meraih majalah yang ada diatas meja lalu membacanya
untuk membunuh jenuh.
Sekitar 3
menit kemudian…..
“Heh, Kunyuk!!” panggil Sivia yang
tiba-tiba saja sudah berdiri dihadapan Alvin.
Merasa ada yang memanggilnya, Alvin
langsung mengangkat wajahnya dari majalah yang ia baca. Seketika Alvin langsung
terpesona melihat kecantikan Sivia yang benar-benar luar biasa mala mini. Alvin
menatap Sivia dari ujung kaki hingga rambut. Alvin berusaha keras
menyembunyikan keterpanaannya, tapi tak berhasil.
Gaun dan sepatu yang tadi Alvin
pilihkan ternyata sangat cocok untuk Sivia. Sivia semakin terlihat cantik
dengan make up natural yang menghiasi wajah manisnya. Rambutnya yang panjang
dibuat keriting gantung oleh Kak Winda, dan poni yang menjuntai didahinya
semakin membuatnya terlihat manis.
Kelamaan Sivia akhirnya merasa risih
juga ditatap seperti itu oleh Alvin.
“gue tau gue cantik, tapi natapnya
nggak usah sampe kayak gitu juga kali…” ucap Sivia santai sambil pura-pura
membuang tatapannya kearah lain.
Alvin terkesiap, ia menggelengkan
kepalanya beberapa kali lalu berdehem.
“kita udah telat banget. Jalan yuk!”
ujar Alvin seraya melirik jam tangannya. Alvin bangkit dari sofa lalu berjalan
menghampiri Sivia.
Saat tiba dihadapan Sivia, Alvin
langsung mengulurkan tangan kananya dihadapan Gadis itu sambil menatap kedua
matanya sedalam mungkin. Sivia sedikit terkejut. Ia melirik sejenak kearah
tangan Alvin yang terulur lalu menyambutnya dengan ragu. Alvin menggenggam
jemari tangan Sivia erat.
Alvin dan Sivia pun berjalan
beriringan meninggalkan salon. Mereka telah bersiap untuk sandiwara malam ini.
Sandiwara yang akan mengawali segalanya. Tentang kisah mereka, sebuah harapan
juga…. Sebuah Bintang….
BERSAMBUNG…


0 comments:
Post a Comment