Monday, May 6, 2013

0

Seperti Sebuah Bintang Part 11 "Hari-Haripun Berlalu"






“Hari-haripun berlalu bersama sang waktu yang terus bergulir dan meninggalkan sebongkah kenangan yang belakangan terasa manis. Pertemuan singkat itu, akan menyeret kedua insan ini pada rentetan kisah panjang nan rumit. Mereka akan berjalan bersama dengan bergandengan tangan, menghadapi segala rintangan yang menghadang, melewati jalan terjal yang begitu mengoyakkan semangat, melawan apapun yang telah siap melempar mereka pada jurang keputusasaan. Maka dengarkanlah ini…. Bersiaplah untuk sebuah perjalanan. Kisah mereka telah dimulai hari ini… Antara Alvin, Sivia, dan sebuah Bintang….. (Cakka)”



Hari ke-5 (Kamis)

            “Pel sebelah sini juga! Belum bersih ituuu” ucap Alvin sambil menunjuk kearah ruang TV. Padahal Sivia sudah 2 kali bolak balik membersihkan ruang TV tapi dengan menyebalkannya Alvin masih saja mengatakan kalau ruang TV masih kotor.
            Sivia mendesis kesal lalu menatap benci kearah Alvin yang saat itu tengah duduk berselonjor diatas sofa dengan arah mata yang terfokus pada televise yang sedang menyala. Alvin duduk dengan santainya sambil memakan kacang.
            Sivia membuang nafas kesal lalu kembali berjalan kearah ruang TV dan mengepelnya ulang dengan kejengkelan yang sudah mencapai puncak klimaks. Sekali lagi Sivia melirik kearah wajah yang amat sangat menyebalkan itu. Sivia benci, benar-benar benci. Apalagi jika mengingat kejadian kemarin siang rasanya Sivia ingin sekali membunuh pria menyebalkan yang ada dihadapannya saat ini.
            Dengan setengah hati Sivia mengulang kembali pekerjaan yang seharusnya tidak ia ulangi. Sivia mengepel dengan langkah mundur dan tanpa sengaja melewati depan TV. Alvin berkoar kembali,
            “Heh, lo nggak liat majikan lo lagi nonton TV apa?  Dasar Pembantu somplak lu! Minggir”
            Tanpa berkata apa-apa Sivia langsung minggir dari depan TV. Dan saat Sivia berbalik Alvin malah sengaja melempar beberapa kulit kacang ke lantai.
            “itu kotor lagi. Cepet bersihin!!”
            Dengan setengah hati Sivia mengumpulkan kulit-kulit kacang yang berserakan dilantai yang sengaja dilemparkan oleh Alvin.
            “Jongkok! Gue nggak bisa liat TV ini….”
            Oh my God, kenapa harus ada Pria semenyebalkan Alvin yang hidup didunia ini? Alvin memang begok atau pura-pura begok sih sebenarnya? Alvin hanya tidak tahu saja bagaimana rasanya jadi Sivia. Seenaknya saja dia main perintah-perintah.
            Sivia yang merasa bosan akhirnya melepaskan gagang pel yang sedari tadi ia pegang. Ia menatap Alvin dengan tatapan pembunuh sambil berkacak pinggang. Dua buah tanduk seakan muncul diatas kepala Sivia, dan kedua matanya mulai berubah warna menjadi merah. Tidak lupa juga taringnya muncul. Sivia berjalan mendekati Alvin dengan tatapan bengis. Alvin melepas kacangnya lalu membenahi posisi duduknya.
            “heh, mau apa lo, Jelek?” Tanya Alvin yang mulai merasa ketakutan.
            “GUE MAU BUNUH LO KUNYUK, AAAAAA…..” Teriak Sivia sambil menerkam tubuh Alvin.
            “HAHAHAHAHAHA…..” Suara tawa Alvin yang lumayan kencang langsung menarik Sivia dari khayalan gilanya. Tentu saja kejadian munculnya tanduk, mata merah dan taring hingga saat Sivia menerkam Alvin hanyalah khayalan Sivia saja dan tidak benar-benar terjadi.
            Sivia mendengus kesal. Ia segera membereskan alat pel nya lalu segera hengkang dari tempat yang menurutnya sangat menyiksa itu. Saat tahu bahwa Sivia sudah pergi, Alvinpun menghentikan suara tawanya sejenak dan mengalihkan perhatiannya dari arah TV. Alvin tersenyum simpul ketika melihat Sivia yang sudah nyaris hilang dari pandangannya.
            “rasain lo!! Emangnya enak apa gue kerjain??”

^_^

Hari ke-6 (Jum’at)

            Satu SMA Bintang Bangsa dihebohkan oleh berita Pesta Ulang Tahun Pricilla yang rencananya akan diselenggarakan besok malam secara meriah dan besar-besaran. Seluruh siswa siswi SMA Bintang Bangsa diundang tanpa terkecuali, termasuk beberapa Guru yang juga sangat dekat dengan Pricilla. Tidak hanya dari SMA Bintang Bangsa saja, tapi Pricilla juga mengundang beberapa orang dari SMA Pancasila termasuk Cakka bersama Team Basketnya juga anggota Cheers SMS Pancasila.
            Semuanya sudah dipersiapkan dengan sangat matang. Tujuan Pricilla satu-satu nya dalam mengadakan pesta besar-besaran ini adalah sebenarnya hanya untuk menarik perhatian Alvin. Pricilla optimis dan bahkan sempat gembar gembor pada anggota Gank nya, bahwa dimalam Ulang Tahunnya yang ke-17 nanti Alvin akan menembaknya dengan cara yang amat sangat romantic dan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Entah darimana Pricilla bisa mendapat keyakinan sebesar itu.
            Disaat berita menghebohkan itu sukses menggemparkan Satu SMA BinSa juga SMA ‘Musuh’ mereka, Alvin yang katanya menjadi sasaran utama Pricilla dalam pesta ini malah tidak tau apa-apa. Bahkan mungkin tidak pernah ingin tahu.
            Ray yang biasanya menjadi biang gossip di Team malah tidak berkata apa-apa saat ia dan kawan-kawannya berkumpul di Kantin ketika jam Istirahat.
            Dan ketika Alvin dan kawan-kawannya tengah asyik menikmati makan siang mereka, secara tiba-tiba Pricilla datang khusus untuk memberikan Alvin undangan secara langsung.
            “Hay Alv!” sapa Pricilla dengan senyum manisnya yang semakin membuat terlihat anggun. Melihat kedatangan Pricilla, Ray, Deva dan Ozy langsung terpana seketika.
            “apa?” sahut Alvin dingin.
            “nih…” ujar Pricilla sambil menjulurkan sebuah undangan dihadapan Alvin.
            Alvin melirik sejenak kearah undangan itu lalu merenggutnya dari tangan Pricilla dengan secepat kilat.
            “apaan nih?” Tanya Alvin sambil menunjukan undangan itu dihadapan Pricilla.
            “itu undangan buat lo. Besok malem gue bakal ngerayain Pesta Ulang Tahun gue yang ke-17, dan gue bener-bener berharap banget lo bisa dateng dipesta gue…” jawab Pricilla penuh harap.
            Alvin menghela nafas panjang. Ia melepaskan undangan itu begitu saja diatas meja, lalu dengan gaya cuek nya yang khas Alvin berkata pada Pricilla.
            “liat nanti aja kalo gue nggak sibuk”
            Terbersit sebuah rasa kecewa dalam benak Pricilla. Tapi Pricilla harus benr-benar bisa memastikan kalau Alvin akan menghadiri pestanya sesuai rencana yang sudah ia susun dengan sangat rapih.

^_^

            Tidak jauh beda dari SMA BinSa, SMA Pancasila pun tidak kalah hebohnya dari SMA BinSa saat ini. Bagaimana tidak? Setelah selama bertahun-tahun bermusuhan akhirnya hari ini untuk yang pertama kalinya SMA BinSa mulai membuka diri untuk berdamai. Meski yang diundang keacara Pesta Pricilla hanya team Basket juga team cheers SMA Pancasila, tapi mereka semua benar-benar merasakan bahwa angin perdamaian tengah bertiup dengan lembut. Ditambah lagi dengan pertandingan Basket yang akan diadakan minggu depan, lengkaplah sudah jalan untuk kedua sekolah ini berdamai.
            “lo mau ikut nggak bareng gue?” Tanya Cakka pada Sivia yang saat itu tengah asyik menyantap Mie Ayam pesanannya. Tidak lupa juga Cakka menyodorkan undangan yang telah dikirimkan oleh Pricilla untuknya.
            Sivia menggeleng dengan pasti dan menolak mentah-mentah ajakan dari Cakka itu. Sivia sangat membenci SMA BinSa termasuk semua makhluk-makhluk yang tergabung didalamnya termasuk diantaranya adalah Alvin. Dan Sivia bersumpah, tidak akan pernah turut campur dalam segala hal apapun mengenai SMA BinSa apalagi sampai menghadiri Pesta Ulang Tahun Pricilla, si Kapten Cheers SMA BinSa yang amat popular dimana-mana itu. Dan Sivia tau betul bagaimana Cakka mengetahui tentang ‘KEANTIAN’ nya pada SMA BinSa, lalu kenapa sekarang Cakka malah menawarinya untuk ikut menghadiri pesta itu? Benar-benar tidak masuk akal bagi Sivia.
            “lo nggak nyesel?? Nanti acaranya seru banget lho! Ada artis juga yang dateng…” Cakka masih saja berusaha mengeluarkan rayuan mautnya untuk Gadis yang sangat sulit diyakinkan ini. Sekali lagi Sivia mengangguk pasti dengan mulut penuh oleh Mie Ayam.
            “GUE-NGGAK-PEDULI” ucap Sivia pelan tapi tegas. Cakka menegak ludahnya sendiri. Sepertinya akan sulit mengajak Gadis ini untuk menghadiri pesta itu.
            “beneran?” Cakka mendekatkan wajahnya kearah Sivia.
            Kelamaan Sivia akhirnya merasa bosan juga. Ia melepaskan sendok dan garpunya lalu menatap Cakka bengis. Sivia mengangkat jari telunjuknya lalu menggunakannya untuk mendorong pelan kening Cakka hingga jarak wajah mereka agak sedikit menjauh.
            “Cecak Nuraga—“
            “Cakka” ralat Cakka dengan cepat. Sivia pun menampakkan raut masa bodoh.
            “elo nggak ngerti bahasa Indonesia ya? Tadi gue bilang apa? GUE NGGAK MAU, KENAPA MASIH LO PAKSA JUGAAAA…??” Teriak Sivia pada akhirnya dan membuat Cakka harus dengan terpaksa menutup kedua telinganya.
            Setelah merasa lega karna bisa meneriaki pria cerewet yang ada dihadapannya, Sivia kembali dengan ritual memakan Mie Ayamnya yang sempat terganggu oleh ajakan Cakka yang menurutnya sangat amat tidak penting itu.
            Cakka melipat kedua tangannya didada lalu menatap Sivia dengan tatapan yang sedikit sebal.
            “kalo nggak mau bilang aja nggak mau. Nggak usah ada acara tereak-tereak kayak gitu juga kali…” dumel Cakka pelan.
            Cakka memperhatikan baik-baik wajah Sivia yang masih saja asyik sendiri dengan mie ayamnya. Cakka menopang dagunya lalu tersenyum kecil. Tanpa sadar Cakka menatap wajah Sivia lama.
            Hmm… kapan Cakka akan sadar, bahwa selamanya Sivia hanya akan menjadi sahabatnya. Tidak akan pernah lebih dari sekedar sahabat. Seharusnya sejak awal Cakka tahu, bahwa menjatuhkan hatinya pada Sivia adalah sebuah kesalahan fatal yang tidak seharusnya ia lakukan. Cakka ingin menyesali segalanya tapi terlambat. Perasaan nya pada Gadis ini sudah terlanjur mengalir jauh, dan Cakka tidah tahu bagaimana caranya untuk menghentikan aliran itu. Diam-diam dalam hati Cakka selalu berharap, bahwa kelak –entah kapanpun itu- Sivia akan merasakan apa yang dia rasakan dan bersedia untuk membalas perasaannya. Sesederhana itu.
            Saat Sivia mengangkat wajahnya, Cakka pun buru-buru mengalihkan perhatiannya kearah lain sebelum Sivia menyadari bahwa sedari tadi Cakka terus saja memperhatikannya. Sivia tersenyum lebar sambil memegagni perutnya.
            “kenyaanggg…..”
            “kalo udah sama makan aja gue dilupain” kata Cakka sebal sambil mengaduk-aduk Es teh manis pesanannya.
            “emang buat apa gue harus inget elo terus? Elo aja sekarang udah jarang banget beliin gue cokelat…”
            “nggak ada hubungannya baweeellll!!!” kata Cakka gemas sambil menarik hidung Sivia. Sivia buru-buru menepis tangan Cakka dari hidungnya.
            “iihhhh…. Elo doyan banget sih narik-narik hidung gue perasaan? Ngefans ya sama hidung gue yang seksi ini…?” ujar Sivia bangga sambil  memegangi hidungnya. Cakka diam, jika sudah mulai narsis seperti ini Cakka pasti akan sangat malas meladeni Sivia.
            Tiba-tiba Cakka teringat sesuatu. Ia baru ingat bahwa kemarin ia sudah membelikan sebuah handphone baru untuk Sivia. Sebenarnya Cakka ingin memberikannya kemarin, hanya saja Cakka lupa.
            “eh Vi, gue ada sesuatu buat lo”
            “APAA…? APAA? APA?” Tanya Sivia antusias.
            “tunggu!” kata Cakka lalu merogoh kantong celananya.
            “cokelat ya?” terka Sivia. Cakka menggeleng cepat, Sivia langsung mengerucutkan bibirnya.
            Bersamaan saat Cakka akan mengeluarkan Handphone itu dari kantongnya, Sivia malah mengeluarkan handphone pemberian Alvin lalu membukanya dihadapan Cakka. Cakka melirik sejenak kearah Handphone yang terlihat sangat unik itu.
            “itu HP lo, Vi?” Tanya Cakka ragu. Sivia mengangguk pasti seraya tersenyum lebar.
            “iya… hehe keren kan? Ini Si Alvin yang ngasih, nggak tau juga tuh anak kenapa mendadak baek banget ke gue” ucapan dari Sivia  itu tanpa sadar telah menimbulkan luka kecil yang lambat laun akan semakin bertambah didinding hati Cakka. Cakka pun akhirnya mengulurkan niatnya untuk memberikan Handphone pada Sivia.
            Sebelum Cakka benar-benar mengeluarkan Handphone itu dari kantong celananya, Cakka malah memasukannya kembali. Cakka tersenyum dan berusaha keras menyembunyikan kemirisannya dihadapan Sivia.
            “eh, tadi katanya mau ngasih sesuatu. Mana?” tagih Sivia sambil mengulurkan tangannya dihadapan Cakka.
            Cakka menggeleng pelan. kedua alis Sivia langsung bertaut. Heran.
            “kok?”
            “ternyata gue lupa bawa barangnya” Cakka tersenyum pahit.
            Satu hal yang mungkin tidak akan pernah Sivia sadari jika bukan Cakka sendiri yang mengakuinya. Satu hal itu adalah, Sivia telah membuat Cakka terluka, membuat Cakka kecewa.
            “halah… bilang aja lo emang nggak ada niat buat ngasih gue”
            “serius barangnya ketinggalan” Cakka berusaha meyakinkan.
            “tau deh ah” Sivia beringsut dari kursinya lalu pergi meninggalkan Cakka tanpa berkata apapun. Sivia ngambek.
            “Via tunggu! Lo jangan ngambek dong…” Cakka bangkit lalu berusaha mengejar langkah Sivia.


^_^

Hari ke-7 (Sabtu)

            “Kak Sivia mana?” Tanya Alvin pada semua adik asuhnya saat ia baru saja memasuki rumah singgah.
            “lagi ganti baju” jawab Cindai.
            Saat Alvin akan berniat menyusul Sivia kekamarnya, Sivia malah keluar sendiri. Alvin berjalan cepat menghampiri Sivia. Saat jaraknya sudah dekat dengan Sivia, tanpa berkata apapun Alvin langsung saja menarik pergelangan tangan Sivia dan membawanya keluar dari rumah singgah.
            “heh, lo mau bawa gue kemana?” Tanya Sivia.
            “nanti juga lo bakalan tau sendiri” jawab Alvin sekenanya sambil tetap menarik pergelangan tangan Sivia. Sivia pasrah dan mengikuti perkataan Alvin begitu saja.
            Alvin menaiki Ninja Merahnya lalu memasang Helmnya. Tanpa banyak bicara, Alvin langsung memberikan isyarat pada Sivia agar segera menaiki motornya. Siviapun menaiki motor Alvin. Seperti Alvin, Sivia juga tidak banyak bicara.
            Setelah Sivia menaiki motornya, Alvin menggas motornya secara tiba-tiba. Sivia yang terkejut secara reflex langsung memeluk erat pinggang Alvin. Tanpa menghiraukan Sivia yang masih sangat terkejut, Alvinpun menjalankan motornya dengan kecepatan maksimal. Sivia mengomel dalam hati. Kenapa cowok songong ini senang sekali membuatnya jantungan?
            Setelah selama 15 menit diperjalanan, Alvinpun menghentikan laju motornya didepan sebuah mall.
            “turun lo!” sinis Alvin.
            “kita mau ngapain sih disini??”
            “nggak usah banyak bacot! Gue bilang turun ya turun!” ucap Alvin semakin sinis.
            Sivia mengalah, ia pun akhirnya turun dari atas motor Alvin dengan suasana hati yang benar-benar dongkol. Kalau saja boleh, rasanya Sivia ingin sekali membunuh cowok ini.

^_^

            Alvin berjalan cepat dan tangannya masih betah menggenggam erat pergelangan tangan Sivia. Sivia ingin protes, tapi rasanya percuma saja. Toh Alvin tidak akan pernah sudi menghiraukannya.
            Alvin membawa Sivia memasuki sebuah Butik yang ternyata adalah milik Mamanya. Saat Alvin membuka pintu, beberapa pelayan disana langsung menundukan kepalanya sambil mengucapkan selamat datang. Tapi Alvin tidak sedikitpun menghiraukannya. Seorang pelayan mengikuti Alvin dan Sivia dengan setia dari belakang.
            Setelah cukup lama menggenggam erat tangan Sivia, Alvinpun akhirnya melepaskannya. Alvin segera memilih Gaun yang kira-kira cocok dikenakan oleh Sivia. Alvin meraih sebuah gaun tanpa lengan berwarna hitam. Alvin mengangkat gaun itu dan menyandingkannya dengan Sivia yang saat itu masih berdiri dengan raut wajah begok. Alvin menggeleng cepat, ia merasa Gaun Hitam itu tidak cocok untuk Sivia.
            Setelah memakan waktu selama hampir 1 jam, Alvin akhirnya menemukan sebuah gaun yang pas untuk Sivia. Alvin menjatuhkan pilihannya pada sebuah Gaun Baby Doll yang dalam rancangannya menggunakan gaya strapless. Gaun itu memiliki perpaduan warna antara hitam dan putih. Dan jika dikenakan oleh Sivia, mungkin Gaun itu akan sampai diatas lututnya.
            Melihat Gaun tanpa lengan yang ditunjukan oleh Alvin, Sivia buru-buru menggeleng tidak setuju. Selama ini Sivia tidak pernah menggunakan gaun yang terlalu terbuka seperti itu. Tetapi Alvin sudah terlanjur tertarik pada Gaun itu. Alvin melemparkan Gaun itu kearah Sivia.
            “gue nggak suka gaun ini” ucap Sivia sambil menangkap Gaun yang baru saja dilemparkan oleh Alvin. Sivia memeluk gaun itu seerat mungkin.
            Mendengar pendapat yang dilontarkan oleh Sivia, Alvin berjalan cepat menghampiri Sivia. Ia berdiri tepat didepan gadis itu. Tanpa berkata apapun, Alvin langsung saja mendekatkan wajahnya dengan wajah Sivia. Semakin lama semakin dekat, Sivia pun berjalan mundur satu langkah sambil menatap tepat kearah kedua bola mata Alvin.
            “gue nggak minta pendapat lo!” bisik Alvin pelan didepan wajah Sivia. Siviapun hanya bisa menegak ludahnya dalam-dalam ketika melihat tatapan Alvin yang lumayan menciutkan nyalinya.
            Alvin berbalik dan berjalan mendekati sebuah box sepatu yang sudah dipersiapkan di butik itu. Dengan teliti Alvin mulai memilihkan sebuah sepatu untuk Sivia. Dan pilihan Alvin akhirnya jatuh pada sebuah wedges berwarna putih dengan hiasan pita hitam diatasnya. Alvin menoleh kearah Sivia yang masih berdiri ditempatnya semula.
            “heh, jelek, sini lo!!”
            Tanpa bisa melawan lagi, Sivia menyerahkan Gaun itu pada seorang pelayan yang sejak tadi setia mengikutinya. Sivia berjalan pasrah menghampiri Alvin. Entah kemana lagi Alvin akan membawanya pergi hari ini?
            “duduk lo!” perintah Alvin sambil melirik kearah bangku yang ada disampingnya.
            Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Sivia duduk dibangku itu. Dan secara mengejutkan Alvin duduk dibawah Sivia dengan posisi bertekuk lutut. Orang-orang yang tidak tahu tentu akan mengira mereka sepasang kekasih. Alvin menunduk lalu membuka sepatu yang Sivia kenakan saat ini. Lalu seperti Sang Pangeran yang memasangkan sepatu kaca di kaki Cinderella, Alvin memasangkan sepatu itu untuk Sivia. Sivia terkesima dengan apa yang Alvin lakukan padanya. Bahkan saking terkesimanya, Sivia sampai menutup mulutnya menggunakan sebelah tangannya. Para pelayan Butik yang melihat adegan mengesankan yang dipertontonkan oleh Alvin dan Sivia langsung saling melirik sambil tersenyum satu sama lain.
            Alvin tersenyum puas karna wedges putih pilihannya ternyata pas dan sangat cocok dikaki Sivia. Kali ini Alvin mengubah posisinya yang semula bertekuk lutut menjadi duduk. Alvin melipat kedua tangannya lantas meletakkannya diatas kedua lututnya. Alvin mendongak dan melihat kearah Sivia yang masih menatapnya dengan pandangan tak percaya. Untuk yang pertama kalinya, Alvin memberikan senyum termanisnya pada gadis itu. Deg… debaran itu mulai terdengar pelan dan kelamaan kencang didada Sivia.
            “dasar jelek! Nyari gaun sama sepatu yang pas buat lo aja susahnya minta ampun. Gini nih kalo cewek jelek, mau di pake’in apapun tetep aja nggak matching” cibir Alvin, dan untuk beberapa saat kemudian langsung memamerkan senyum sinisnya.
            Sivia mendesis kesal. Dan tanpa babibu lagi langsung menjitak kepala Alvin.
            “wadaw… sakit Jelek!” ringis Alvin.
            “suruh siapa lo ngeledek gue??” Tanya Sivia sinis.
            “emang faktanya kayak gitu” Alvin semakin mencibir.
            Sivia membuang nafas kesal. Ok, terserah si Kunyuk ini saja mau berkata apapun. Sivia tidak akan peduli sama sekali. Yang terpenting sekarang bagi Sivia adalah kemana Alvin akan membawanya. Sivia berusaha mendinginkan kepalanya yang sejak tadi sudah sangat panas gara-gara ulah menyebalkan Alvin.
            “sebenernya maksud dan tujuan lo apa sih ngajakin gue kesini? Terus pake beli gaun sama sepatu segala?”
            Alvin tersenyum sinis.
            “male mini lo jadi pacar gue ya?” pertanyaan Alvin itu kontan saja membuat Sivia kaget setengah mati.
            Apa? Tadi Alvin bilang apa? Jadi pacarnya? Enak saja, sampai kiamat juga Sivia tidak akan pernah mau jadi pacar Alvin. Sampai bumi yang bulat ini jadi kotak sekalipun, Sivia tetap tidak akan pernah sudi menjadi pacar Alvin.
            Alvin tersenyum sinis. Ia bisa membaca dengan sangat jelas apa yang terlintas di otak Sivia saat ini juga. Alvin tertawa kecil lalu bangkit dari duduknya. Ia berdiri dihadapan Sivia yang masih terduduk, Alvin memegang kedua bahu Gadis itu lalu menunduk untuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Gadis itu.
            “lo nggak usah kepedean! Gue jadi males kali jadi pacar lo” ujar Alvin seraya menyentuh lembut hidung Sivia dengan jari tangannya. Sivia langsung manyun.
            “terus…?” Tanya Sivia polos.
            Alvin menurunkan tangannya dari kedua pundak Sivia dan sedikit menjauh dari posisi Sivia sekarang.
            “Cuma pura-pura aja kok”
            “Hah?” Sivia semakin bingung.
            “disekolah gue ada seorang cewek yang suka sama gue. Cewek ini udah lama ngincer gue, tapi gue nggak mau. Semuanya udah gue lakuin supaya dia ngejauh, tapi dia nggak ngejauh juga dan malah makin cinta sama gue, dan male mini dia ulang tahun, dia mint ague buat dateng, sebenernya gue males, tapi male mini gue harus ngebuktiin ke dia, kalo gue udah punya cewek supaya dia bener-bener ngejauhin gue…”
            “terus apa hubungannya sama gue? Kenapa harus gue?” Alvin berbalik dan menatap Sivia dengan teduh.
            “karna gue nggak ada pilihan lain selain elo? Ini kan hari terakhir lo jadi pembantu gue, dan anggep saja ini sebagai kerjaan terakhir lo…” ada nada berbeda dalam ucapan Alvin yang terakhir itu. Tapi Sivia tidak menyadarinya sama sekali.
            Sivia mengangguk paham.
            “cewek itu siapa sih?”
            “Agatha Pricilla. Kapeten Cheers BinSa, elo tentu tau kan?”
            “WHAAATT….??”
            Sivia kaget sekaget-kagetnya mendengar jawaban Alvin. Agatha Pricilla? Baru kemarin juga Cakka memintanya untuk menemaninya datang ke pesta Pricilla, tapi Sivia menolak secara mentah-mentah. Dan sekarang malah Alvin yang memintanya. Haduuhh… runyam kan permasalahannya? Bisa-bisa Cakka salah paham nanti.
            Sebelum Sivia sempat menolak dan memberikan alibi, Alvin malah sudah menarik tangannya dan membawanya berjalan kearah meja kasir.


^_^

            Setelah dari butik Mama nya, Alvin membawa Sivia memasuki sebuah salon kecantikan yang merupakan salon langganan Mamanya. Alvin langsung menyerahkan Sivia begitu saja pada Si Pemilik Salon yang biasa Alvin panggil dengan panggilan Kak Winda itu.
            “Kak Winda, dandanin cewek ini secantik mungkin. Tapi jangan sampe menor ya? Nanti jam 7 aku bakalan jemput dia..”
            Sivia menahan tangan Alvin,
            “lo mau kemana?”
            “udah lo tenang aja, lo aman kok disini” Alvin melepaskan genggaman tangan Sivia dari tangannya.
            “ayo, Sivia! Pertama-tama kamu Spa dulu ya?”
            Kak Winda pun menarik pelan lengan Sivia dan membawanya memasuki sebuah ruangan khusus untuk Spa.
            Rencana Alvin mala mini pasti akan sukses berat.


^_^

            Ketika waktu sudah menujukan tepat pukul 18.00, Alvin pun sudah kembali lagi ke salon untuk menjemput Sivia. Malam ini Alvin benar-benar terlihat mempesona. Ia menggunakan kemeja putih yang dilapisi oleh jas hitam yang senada dengan warna Gaun yang dikenakan oleh Sivia.
            Alvin duduk disofa dan menunggu Sivia dengan sabar. Alvin meraih majalah yang ada diatas meja lalu membacanya untuk membunuh jenuh.

Sekitar 3 menit kemudian…..
            “Heh, Kunyuk!!” panggil Sivia yang tiba-tiba saja sudah berdiri dihadapan Alvin.
            Merasa ada yang memanggilnya, Alvin langsung mengangkat wajahnya dari majalah yang ia baca. Seketika Alvin langsung terpesona melihat kecantikan Sivia yang benar-benar luar biasa mala mini. Alvin menatap Sivia dari ujung kaki hingga rambut. Alvin berusaha keras menyembunyikan keterpanaannya, tapi tak berhasil.
            Gaun dan sepatu yang tadi Alvin pilihkan ternyata sangat cocok untuk Sivia. Sivia semakin terlihat cantik dengan make up natural yang menghiasi wajah manisnya. Rambutnya yang panjang dibuat keriting gantung oleh Kak Winda, dan poni yang menjuntai didahinya semakin membuatnya terlihat manis.
            Kelamaan Sivia akhirnya merasa risih juga ditatap seperti itu oleh Alvin.
            “gue tau gue cantik, tapi natapnya nggak usah sampe kayak gitu juga kali…” ucap Sivia santai sambil pura-pura membuang tatapannya kearah lain.
            Alvin terkesiap, ia menggelengkan kepalanya beberapa kali lalu berdehem.
            “kita udah telat banget. Jalan yuk!” ujar Alvin seraya melirik jam tangannya. Alvin bangkit dari sofa lalu berjalan menghampiri Sivia.
            Saat tiba dihadapan Sivia, Alvin langsung mengulurkan tangan kananya dihadapan Gadis itu sambil menatap kedua matanya sedalam mungkin. Sivia sedikit terkejut. Ia melirik sejenak kearah tangan Alvin yang terulur lalu menyambutnya dengan ragu. Alvin menggenggam jemari tangan Sivia erat.
            Alvin dan Sivia pun berjalan beriringan meninggalkan salon. Mereka telah bersiap untuk sandiwara malam ini. Sandiwara yang akan mengawali segalanya. Tentang kisah mereka, sebuah harapan juga…. Sebuah Bintang….


                                    BERSAMBUNG…

0 comments:

Post a Comment