Setelah selama 1 jam pingsan tak
sadarkan dirinya akhirnya Sivia membuka kedua matanya juga. Orang pertama yang
Sivia lihat tentu saja adalah Alvin. Alvin berdiri disamping ranjang milik Novi
yang kini Sivia tempati. Sivia merasakan kepalanya sedikit berdenyut, Sivia
meringis pelan lalu berusaha untuk duduk diatas ranjang.
Sementara Alvin, melihat kondisi
Sivia yang begitu menyedihkan ia sama sekali tidak mau ambil pusing. Alvin
tetap berdiri seraya melipat kedua tangannya didada, Alvin terus menatap Sivia
dengan arti pandangan yang tak terbaca.
“maaf udah nyusahin lo!” lirih Sivia
pelan. Alvin bisa mendengar dengan sangat jelas Sivia berusaha keras menahan
rasa sakit yang mendera sekujur tubuhnya.
Alvin menghela nafas berat, tanpa
berkata apa-apa ia membuka laci meja yang ada disamping ranjang milik Novi lalu
mengambil sebuah kotak obat. Alvin duduk disamping Sivia. Tanpa berkata apapun
pada Sivia, Alvin mengambil secarik kapas lalu meneteskannya dengan beberapa
tetes cairan obat merah.
“lo beneran marah?” Tanya Sivia
pelan, “gue kan udah minta maaf” lanjut Sivia.
Tanpa sedikitpun menggubris
perkataan Sivia, Alvin meraih lengan sebelah kanan Sivia dengan gerakan yang
lumayan cepat, Sivia meringis pelan. dasar tak berperasaan!!
Alvin mengoleskan obat merah itu pada
luka yang terdapat disiku sebelah kanan Sivia. Tanpa sengaja Alvin sedikit
menekan kapas itu pada luka Sivia.
“awww… sakit Kunyuk!!”
“Manja banget sih lo! Tahan dikit
kenapa sih??” ucap Alvin agak emosi. Sivia langsung tertunduk diam. Apa Alvin
semarah itu padanya?
Dilubuk hatinya yang terdalam, Alvin
merasa sedikit menyesal karna telah membentak Sivia seperti barusan. Tapi Alvin
sudah terlanjur melakukannya dan sangat tidak mungkin bagi Alvin untuk menarik
kembali apa yang telah ia keluarkan dari mulutnya.
Hening kembali tercipta. Alvin sibuk
mengobati luka pada siku sebelah kanan Sivia, sementara Sivia, ia sibuk dengan
fikirannya sendiri. Saat ini Sivia benar-benar berharap Tuhan akan berbaik hati
menghapus minggu-minggu terberat dalam hidupnya ini.
Sivia yang merasa tidak sanggup
menahan luapan emosinya akhirnya menangis juga. Sivia tersedu sambil berusaha
keras menahan isakkannya. Meski sangat pelan, tapi Alvin bisa mendengar suara
isakan Sivia, dan bersamaan dengan itu Alvin telah selesai mengobati luka pada
siku Sivia. Alvin melirik kearah Sivia yang waktu itu masih menunduk dalam.
“lo nangis?” Tanya Alvin dengan
takut-takut. Hening. Beberapa detik kemudian tiba-tiba….
“HWAAAAAAA…… MAMAAAAA…. CAKKAA….. HIKS
HIKS HIKSS HIKSS HIKSS HIKSS….” Sivia malah menangis sekencang-kencangnya
dihadapan Alvin. Alvinpun jadi bingung sendiri dibuatnya.
Melihat tingkah Sivia yang seperti
anak kecil, Alvin Cuma bisa menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak gatal.
Semakin lama tangis Sivia semakin kencang. Niat Alvin untuk marah pada Gadis
yang ada didepannya ini langsung surut seketika.
“HIKS..HIKS… HIKS…. LO JAHAT BANGET
SIH SAMA GUE?? LO NGGAK TAU APA TADI NYAWA GUE NYARIS MELAYANG, HIKS… HIKS…
SUMPAH YA LO NGESELIN BANGET, HWAAAAAAA…..”
“Stttt…. Lo jangan tereak!! Nanti
orang-orang ngira gue ngapa-ngapain lo lagi”
“emang lo ngapa-ngapain gue,
hiks..hiks…hiks….” kali ini Sivia memelankan suara tangisannya.
“udah ya lo jangan nangis, nanti gue
beliin ice cream buat lo!”
Mendengar perkataan Alvin yang
terakhir mendadak Sivia langsung menghentikan tangisannya. Ia melirik tajam
kearah Alvin. Awalnya Alvin berfikir bahwa Sivia akan menangis lagi, tapi
ternyata….
“seriuss…..?”
Mendengar pertanyaan singkat Sivia,
Alvin langsung mangap sambil memasang ekspresi tak percaya.
^_^
“haha… dasar anak kecil!! Disogok
pake ice cream langsung seneng” cibir Alvin saat melihat Sivia yang begitu
lahap memakan ice creamnya. Sore itu Alvin dan Sivia tengah berjalan beriringan
disebuah taman. Sivia melirik sejenak kearah Alvin. Sebuah senyum meremehkan
langsung Alvin sunggingkan untuk Sivia.
Sivia menghela nafas panjang dan
kembali memakan ice creamnya dengan begitu lahapnya. Sivia lebih memilih untuk
tidak mau ambil pusing dengan perkataan cowok menyebalkan yang ada disampingnya
ini.
Alvin dan Sivia duduk secara
bersamaan direrumputan sambil menikmati langit yang mulai tampak berwarna
jingga dan berangsur gelap. Hening untuk beberapa lama. Nyatanya baik Alvin
maupun Sivia sama-sama merasa malas membuka obrolan, bukan karna apapun, tetapi
karna mereka tidak tau harus membahas apa.
“elo sendiri yang bangun rumah
Singgah itu?” Tanya Sivia yang mulai merasa bosan dengan suasana kaku yang
membungkus kebersamaan mereka senja itu.
“bukan gue, tapi Nyokap gue…” jawab
Alvin sekenanya. Sivia tersenyum,
“biar gue tebak, Nyokap lo itu pasti
orang nya baik banget”
Alvin tersenyum sinis lalu melirik
kearah Sivia.
“iya lah”
“tapi kok anaknya nggak ada
baik-baiknya?” Tanya Sivia lagi dengan wajah sok bego. Senyum yang mengembang
diwajah Alvin mendadak hilang. Setelah menatap wajah Sivia beberapa detik
Alvinpun sedikit mendekatkan wajahnya dengan wajah Sivia. Sivia yang terkejut
langsung menjauhkan wajahnya dari wajah Alvin. Langit senja itu semakin
menampakkan gelapnya. Alvin menatap kedua manik mata Gadis itu sedalam mungkin.
Melihat tatapan Alvin yang lumayan menciutkan nyali itu Siviapun hanya bisa
menegak ludahnya sendiri.
“biar gue tebak, lo itu orangnya
pasti bawel banget” Alvin mendesah pelan “dan… manja” lanjut Alvin dengan raut
tak berdosanya. Sivia langsung mengerucutkan bibirnya.
“satu lagi… elo itu SOK TAHU!!” Ucap
Alvin kembali dengan memberikan penekanan pada kata Sok Tahu.
“terus…. Terus aja lo ngeledek gue,
kayaknya kalo lo nggak ngeledekin gue sehari aja hidup lo nggak bakalan tenang,
terus aja… gue ikhlas kok, ikhlas seikhlas-ikhlasnya….” Kata Sivia yang
terdengar sudah benar-benar pasrah.
Alvin yang tidak ingin memperpanjang
masalah lagi akhirnya bangkit dari duduknya. Alvin menghela nafas panjang lalu
berkata pada Sivia,
“pulang yuk! Elo biar gue anter”
Alvin berjalan santai menjauhi Sivia sambil memasukan kedua tangannya pada
kantong jeansnya. Untuk sejenak Sivia tercengang. Apa?? Alvin mau mengantarnya
pulang? Apa tidak salah.
Menyadari bahwa Sivia masih betah
duduk diatas rerumputan Alvinpun membalik badannya dan melihat kearah Sivia.
“elo nggak budeg kan? Ato lo emang mau
gue tinggal??” Tanya Alvin retoris dengan nada sedikit mengancam. Sivia
terkesiap lalu buru-buru mengejar langkah Alvin.
^_^
Alvin menghentikan Vespa nya tepat
didepan gerbang rumah Sivia. Siviapun segera turun dari atas Vespa antic milik
Alvin. Arah tatapan Alvin menyapu seluruh bagian rumah Sivia yang terlihat
lumayan mewah.
“udah sana lo pulang!” Usir Sivia.
Alvin buru-buru mengalihkan
perhatiannya dan menatap gadis yang ada didepannya ini dengan pandangan sinis.
“elo nggak pernah diajarin ngucapin
makasih ya sama Guru PKN lo pas lo SD?”
Sivia memasang wajah pura-pura
berfikir, dan jujur saja, Alvin malah merasa muak melihat ekspresi Sivia yang
menurutnya sangat mengesalkan itu. Sebelum Sivia sempat membalas ucapan Alvin,
tiba-tiba saja seorang cowok yang tak lain dan tak bukan adalah Cakka keluar
dari gerbang rumah Sivia. Cakka agak sedikit heran melihat Sivia yang sedang
bersama Alvin.
“Via?” Sivia menoleh cepat kearah
Cakka.
“Cakka…??” Cakka berjalan mendekati
posisi Alvin dan Sivia.
“lo dari mana aja, Vi…? Dari tadi
gue telfon nomer lo malah nggak aktif terus?” ucap Cakka cemas.
“sorry Kka… sorry banget, handphone gue
emang sering lowbat, maklumlah Kka, HP dikasih minjem ama Shilla, masih untung
ada yang gue pake”
“ya ampun siku lo kenapa, Vi…?”
Tanya Cakka yang semakin panic melihat kondisi siku Sivia yang terbungkus rapi
oleh balutan perban.
Siviapun mendadak gelagapan, ia
bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan Cakka itu. Dalam waktu secepat itu
Sivia berfikir keras untuk mencari jawaban yang tepat untuk Cakka.
“i… ini….”
Alvin yang ingin sekali menjelaskan
apa yang sebenarnya terjadi langsung saja ditahan oleh Sivia. Sivia tidak mau
Alvin sampai buka mulut dihadapan Cakka, sekali saja Alvin buka mulut, maka
selamanya Cakka tidak akan pernah membiarkan Alvin mendekati Sivia.
“tadi dia…”
“nggak usah, lo nggak usah ngomong
apa-apa!” sela Sivia dengan cepat.
Kali ini Cakka menatap kedua orang
yang dihadapannya secara bergantian dengan tatapan yang mencurigakan. Cakka
menghela nafas beratnya, entah kenapa Cakka merasa bahwa Sivia terluka karna
Alvin, dan entah kenapa juga rasanya Cakka ingin menuduh Alvin dan menghajar
Alvin habis-habisan. Cakka mengenal Sivia sudah lama, dan Cakka tau betul Sivia
sedang menyenbunyikan sesuatu melalui gelagatnya yang aneh.
Cakka menggenggam kuat-kuat jemari
tangan kananya. Ekspresi Cakka sudah berbeda jauh dari ekspresinya semula. Dan
tanpa Sivia duga-duga Cakka langsung melayangkan sebuah pukulan yang lumayan
keras tepat pada pipi sebelah kanan Alvin. Alvin tersentak bukan main,
“ini semua karna elo kan? Elo kan
nyebapin Via sampe dia kayak gini?” kata Cakka murka. Alvin belum sempat mengeluarkan
pembelaan, karna ia sendiripun masih sangat shock menerima pukulan yang
mendadak itu.
Dan ketika Cakka akan menghadiahi
pukulan untuk yang kedua kalinya untuk Alvin, Sivia buru-buru menahan tangan
Cakka dengan segenap kekuatan yang ia miliki.
“Cakka udah!! Lagian lo apa-apaan
sih maen pukul segala? Alvin nggak salah, gue yang salah, gue yang teledor
makanya bisa sampe luka kayak gini”
Seperti orang yang kesetanan Cakka
sama sekali enggan menghiraukan penjelasan Sivia. Ia hanya menatap Alvin tajam
lantas kembali berkata pada Alvin.
“asal lo tahu, sebelum Sivia ngenal
lo beberapa hari yang lalu dia nggak pernah sampe luka kayak gini… gue tau ini
pasti ulah lo! Kemana aja lo bawa Via seharian ini? HAAA…?”
“lo jangan salahin gue, tapi salahin
kebodohannya dia!” ucap Alvin yang kelamaan bosan atas tudingan yang Cakka
lemparkan pada dirinya. Sivia menunduk dalam, dan Sivia tau pasti bahwa apa
yang Alvin ucapkan itu adalah kenyataan yang sebenarnya.
“CEWEK LO INI nyaris aja mati
ketabrak truk kalo gue nggak segera nologin dia. Masih untung Cuma siku nya
terluka, coba kalo dia mati??” lanjut Alvin emosi yang tak kalah kalapnya dari
Cakka sekarang. Tidak lupa juga Alvin memberikan penekanan pada kata Cewek Lo.
Kali ini Cakka melirik tajam kearah
Sivia,
“bener apa yang dikatakan cowok ini,
Via?” Sivia mengangguk pasrah.
Suasana mendadak hening seketika.
Cakka, Sivia dan Alvin sama-sama diam dan sibuk dengan fikiran mereka
masing-masing. Kelamaan Alvin akhirnya merasa bosan juga, ia berdecak kesal
lalu pamit pada Sivia dengan nada suara yang terdengar dipaksakan. Entah untuk
apa? Jika Alvin mau sebenarnya ia bisa saja pergi seenaknya tanpa pamit pada
Gadis itu, tapi saat ini Alvin benar-benar sedang memiliki sebuah rencana yang
ia khususkan untuk Cakka.
“Heh Jelek! Gue pulang dulu… MAKASIH
BUAT HARI INI….” Kata Alvin seraya melirik tajam kearah Cakka. Alvin yang sejak
awal berniat untuk memancing reaksi Cakka ternyata sukses berat. Cakka kena
umpannya, karna hanya beberapa detik saja setelah Alvin berkata seperti itu,
reaksi Cakka langsung berubah drastic. Dalam hati Alvin tersenyum licik. Merasa
belum puas dengan semuanya, Alvin kembali angkat bicara.
“inget! Lo masih punya hutang 5 hari
sama gue. Selama 5 hari ini LO ADALAH MILIK GUE, dan tentu lo tahu kan apa
akibatnya jika lo berani-berani kabur dari gue??” mendengar ucapan Alvin yang
ia sampaikan dengan nada mengancam, Sivia hanya bisa mengangguk sambil menunduk
dalam. Alvin tersenyum sinis. Tiba-tiba tangan kanan Alvin terangkat lalu
membelai lembut rambut panjang Sivia.
“anak manis”
Alvin akhirnya menjalankan Vespa
nya. Sekali lagi Alvin tersenyum licik. Rencananya kali ini pasti akan berjalan
dengan mulus. Entah kenapa Alvin merasa bahwa ia harus bisa menjatuhkan Cakka.
Dan Alvinpun sudah bertekad akan selalu menjatuhkan Cakka dalam hal apapun.
Melihat kecemasan yang Cakka yang
tunjukan pada Sivia tadi, Alvin bisa membaca dengan sangat jelas bahwa ada
sebuah cinta yang tersemubunyi dibalik sikap Cakka itu. Dan Alvin bersumpah
akan merebut Sivia dari Cakka.
Alvin memang selalu seperti itu.
Jika seseorang berani membuatnya sakit hati, maka Alvin tidak akan segan-segan
untuk melakukan apa saja yang bisa membuat seseorang tersebut jatuh terpuruk.
“sekali lo lengah maka Sivia akan
jadi milik gue…” Ucap Alvin dengan begitu yakinnya.
^_^
“Cakka elo tadi apa-apaan sih?
Ngapain coba mukul Alvin kayak tadi? Lo tau, gue nggak suka sama sikap keras lo
itu? Dan gue tau betul, Cakka sahabat gue bukan sosok yang keras kayak tadi,
dan yang sangat gue tau, sosok yang mukul Alvin tadi itu bukan sahabat gue, itu
bukan Cakka yang gue kenal” kata Sivia pada Cakka dengan suara sedikit
bergetar.
Cakka hanya mendengarkan saja apa
yang Sivia ucapkan, dan Cakka sama sekali tidak berniat untuk membantah setiap
perkataan Sivia. Dan untuk yang pertama kalinya, Cakka membuat Sivia menangis.
“gue kecewa sama lo, Kka… gue tau lo
cemas sama gue, tapi gue nggak suka dengan sikap lo tadi”
“sekarang lo pulang! Gue mau sendiri”
lanjut Sivia dengan tegas.
Saat Sivia akan memasuki gerbang
rumahnya, secara tiba-tiba Cakka mencekal pergelangan tangannya lalu membawa
Sivia kedalam pelukannya. Cakka memeluk Sivia seerat mungkin. Dengan pelan
mulutnya berucap,
“maaf. Gue janji nggak akan kayak
gitu lagi” ucap Cakka tulus.
“janji?” ulang Sivia dengan pelan.
Cakka mengangguk beberapa kali
seraya membelai lembut rambut Sivia,
“iya gue janji. Dan maaf juga karna
gue udah bikin nangis, lain kali gue nggak akan bikin lo nangis lagi”
Secara perlahan Sivia akhirnya
membalas pelukan Cakka. Pelukan yang entah kenapa terasa begitu berbeda bagi
Sivia. Beberapa saat kemudian Cakka melepaskan pelukannya dari Sivia, ia
memegang kedua pipi Sivia lalu menyeka air mata Sivia dengan lembut. Cakka
menggeleng dengan isyarat: “Jangan nangis lagi”. Sivia pun tersenyum dan
kembali memeluk Cakka.
^_^
Setelah mengantarkan Sivia pulang,
Alvin terlihat tengah jalan-jalan sendiri disebuah Mall. Iseng-iseng Alvinpun
mampir disebuah toko handphone. Sudah beberapa hari terakhir ini Alvin tidak
memegang Handphone, dan Mama nya selalu saja menekan Alvin untuk segera membeli
handphone baru supaya beliau gampang menghubungi Alvin jika terjadi sesuatu.
“silahkan dulu diliat-liat” kata
Pelayan itu dengan ramah pada Alvin. Alvin hanya melirik sebentar kearah
pelayan wanita itu lalu tersenyum.
Alvinpun menyapu tatapannya kearah
etalase yang didalamnya terdapat berbagai macam model serta merk Handphone
terbaru. Sebuah Handphone kembar yang berbeda dari handphone yang lainnya
tiba-tiba saja menarik perhatian Alvin. “Unik” Alvin membatin sambil tersenyum.
“bisa lihat yang ini?” ucap Alvin
sambil menunjuk salah satu dari kedua handphone itu. Alvin menunjuk Handphone
yang berwarna biru. HP itu bermodel buka tutup dengan warna biru muda yang
menarik. Dan diatas handphone itu terdapat aksen gambar anak panah yang hendak
terlepas dari busurnya.
“oo… ini Handphone couple, Mas. Kalo
Mas mau beli handphone ini berarti Mas harus beli kedua nya” pelayan itu
menjelaskan pada Alvin.
“handphone couple?” Tanya Alvin
heran.
“iya, untuk saat ini Handphone ini
Cuma ada sepasang di Indonesia, mungkin Mas juga berniat membelikan handphone ini untuk pacarnya”
Alvin berfikir cepat. tiba-tiba saja
fikirannya tertuju pada Handphone Sivia yang sering lowbat dan sering juga
menyusahkan Sivia. Alvin jadi teringat perkataan Sivia tadi pada Cakka.
Flash Back
Alvin:
“lo dari mana aja, Vi…? Dari tadi gue telfon nomer lo malah
nggak aktif terus?” ucap Cakka cemas.
“sorry Kka… sorry banget, handphone gue emang sering
lowbat, maklumlah Kka, HP dikasih minjem ama Shilla, masih untung ada yang gue
pake”
Flash Back
Off~
Alvin langsung membuyarkan
ingatannya dan segera mengalihkan perhatiannya pada Handphone yang satunya
lagi. Handphone yang satunya lagi berwarna Pink dan memiliki aksen gambar hati
diatasnya. Jika kedua handphone itu disandingkan, kesannya seolah-olah anak
panah itu hendak terlapas dari busurnya dan menancap tepat pada hati itu. Alvin
agak sedikit geli membayangkannya. Tapi Alvin dengan cepat akhirnya memutuskan
untuk menjatuhkan pilihannya pada Handphone Couple itu.
“ya udah, saya ambil handphone
couple ini”
“ooo… baiklah. Oya, sebagai
hadiahnya, Mas mendapatkan 2 buah gantungan Handphone..”
Alvin hanya mengangguk mengiyakan
pelayan Toko itu.
^_^
Hari ke-3
(Senin)
Pagi itu saat Sivia baru saja keluar
dari gerbang rumahnya ia dikejutkan oleh keberadaan Alvin. Melihat Sivia yang
keluar dari gerbang rumahnya Alvin langsung memamerkan senyum maut andalannya
sambil melambaikan tangannya kearah Sivia.
Sivia yang terkejut bercampur heran
langsung menghentikan langkahnya. Dia benar Alvin? Tapi buat apa Si Kunyuk satu
itu pagi-pagi sudah nangkring didepan rumah Sivia?
“pagi Jelek….” Sapa Alvin dengan
seenaknya.
Sivia yang masih terkejut berjalan
perlahan menghampiri Alvin.
“elo ngapain disini?” Tanya Sivia
heran.
“menurut lo?” Tanya Alvin balik.
Sivia berdecak sinis. Apa-apaan nih anak? Ditanya kok malah nanya balik?
Sivia melipat kedua tangannya didada
lantas berkata,
“ya mana gue tau lo mau ngapain
disini. Emang elo kira gue dukun apa yang bisa baca fikiran lo?” Tanya Sivia
sedikit senewen.
Alvin tersenyum lalu meraih tangan
Sivia, saat itu Alvin tau bahwa Cakka sedang memperhatikan mereka dari halaman
rumahnya. Tapi Sivia tidak menyadarinya.
“bareng yuk!” ajak Alvin dengan nada
sedikit menggoda,
Sivia buru-buru menarik tangannya
dari genggaman Alvin. Cowok satu ini memang benar-benar aneh. Ups salah, maksud
Sivia, sangat-sangat aneh.
“lo kenapa sih? Aneh banget perasaan…?”
Tanya Sivia sambil bergidik.
Dalam satu gerakan cepat Alvin
menarik pergelangan tangan Sivia hingga dekat dengannya. Cakka yang melihatnya
seolah-olah Alvin ingin mencium Sivia, tapi sebenarnya kenyataan tidak seperti
itu. Cakka menghela nafas beratnya lalu mengalihkan perhatiannya sejenak.
“lo mau berangkat bareng gue, ato lo
mau gue seret ke kantor polisi?” bisik Alvin pelan didepan telinga Sivia.
Sivia semakin kesal pada Kunyuk satu
ini, tapi mau bagaimana lagi? Daripada Alvin menyeretnya kekantor polisi
mending Sivia buru-buru menerima ajakannya. Toh tidak ada ruginya juga bagi
Sivia. Tapi bagaimana dengan Cakka?
“ya udah ya udah, tapi gue pamit
dulu ama Cakka” ucap Sivia pasrah. Saat Sivia akan berjalan kerumah Cakka,
lagi-lagi Alvin mencekal pergelangan tanganya.
“nggak usah pake pamit, dia udah tau
kok” ujar Cakka sambil melirik kearah Cakka yang waktu itu masih berdiri
dihalaman rumahnya. Siviapun mengikuti arah pandangan Alvin, dan benar saja
Sivia melihat Cakka yang waktu itu berdiri dihalaman rumahnya seraya menatapnya
dengan tatapan tak terbaca.
“KKA… SIVIA BIAR BERANGKAT BARENG
GUE! LO TENANG AJA, DIA AKAN BAIK-BAIK AJA KOK SAMA GUE!!” Teriak Alvin dengan
berani.
Kali ini Alvin menatap Sivia tajam
dan memberikan isyarat pada Sivia supaya Sivia segera menaiki motornya. Sivia
yang sudah tidak bisa menolak lagi akhirnya menaiki motor Alvin dengan sejuta
kekesalan yang memenuhi benaknya.
“Kka… gue duluan ya?” ucap Sivia
takut-takut seraya melirik kearah Cakka yang waktu itu masih menatapnya dengan
tatapan tak terbaca.
Cakka tidak menjawab apapun juga
tidak melakukan apapun. Cakka hanya diam ditempat berusaha meredam rasa
cemburunya.
“pegangan!” perintah Alvin. Sivia
menggeleng cepat.
“fine” secara tiba-tiba dan
mengejutkan Alvin menggas motornya. Sivia yang terkejut kontan saja memeluk
erat tubuh Alvin. Alvin tersenyum licik. Rencananya pasti sukses berat.
Beberapa saat setelah kepergian
Alvin dan Sivia, Cakkapun menggenggam kuat-kuat jemari tangannya lalu meninju
udara untuk meluapkan emosinya.
“ergh… sial!!”
^_^
Sivia heran karna Alvin melalui
jalan yang selama ini tidak pernah sekalipun Sivia lewati. Seharusnya tadi
Alvin mengambil pilihan untuk lurus saja, tapi Alvin malah belok kiri. Sivia
mulai takut, kemana Kunyuk ini akan membawanya?
“heh… Kunyuk, lo salah jalan tau!”
kata Sivia sambil menepuk pelan pundak Alvin. Alvin kembali mengeluarkan senyum
liciknya.
“gue nggak salah jalan kok” jawab
Alvin santai.
“tapi ini bukan jalan kesekolah gue”
“siapa bilang gue mau bawa lo kesekolah
lo??”
“TERUSSS….??” Kaget Sivia.
“gue hari ini mau ngajakin lo bolos”
“WHAAATTTT……” Kali ini Sivia tidak
hanya kaget, tapi sangat kaget.
Alvin semakin mempercepat kecepatan
laju motornya. Sivia yang sebelumnya tidak pernah sekalipun diajak ngebut oleh
seseorang merasa ketakutan. Tanpa sadar Sivia semakin mempererat pelukannya
pada Alvin. Siviapun menenggelamkan wajahnya pada bahu kekar milik Alvin. Alvin
tersenyum senang,
“hari ini gue akan bikin lo jatuh
cinta sama gue….” Batin Alvin sambil tetap focus dengan jalanan yang ada
didepannya.
BERSAMBUNG….


0 comments:
Post a Comment