Wednesday, May 1, 2013

0

Seperti Sebuah Bintang Part7 "Cakka Terbakar Cemburu"




            Setelah selama 1 jam pingsan tak sadarkan dirinya akhirnya Sivia membuka kedua matanya juga. Orang pertama yang Sivia lihat tentu saja adalah Alvin. Alvin berdiri disamping ranjang milik Novi yang kini Sivia tempati. Sivia merasakan kepalanya sedikit berdenyut, Sivia meringis pelan lalu berusaha untuk duduk diatas ranjang.
            Sementara Alvin, melihat kondisi Sivia yang begitu menyedihkan ia sama sekali tidak mau ambil pusing. Alvin tetap berdiri seraya melipat kedua tangannya didada, Alvin terus menatap Sivia dengan arti pandangan yang tak terbaca.
            “maaf udah nyusahin lo!” lirih Sivia pelan. Alvin bisa mendengar dengan sangat jelas Sivia berusaha keras menahan rasa sakit yang mendera sekujur tubuhnya.
            Alvin menghela nafas berat, tanpa berkata apa-apa ia membuka laci meja yang ada disamping ranjang milik Novi lalu mengambil sebuah kotak obat. Alvin duduk disamping Sivia. Tanpa berkata apapun pada Sivia, Alvin mengambil secarik kapas lalu meneteskannya dengan beberapa tetes cairan obat merah.
            “lo beneran marah?” Tanya Sivia pelan, “gue kan udah minta maaf” lanjut Sivia.
            Tanpa sedikitpun menggubris perkataan Sivia, Alvin meraih lengan sebelah kanan Sivia dengan gerakan yang lumayan cepat, Sivia meringis pelan. dasar tak berperasaan!!
            Alvin mengoleskan obat merah itu pada luka yang terdapat disiku sebelah kanan Sivia. Tanpa sengaja Alvin sedikit menekan kapas itu pada luka Sivia.
            “awww… sakit Kunyuk!!”
            “Manja banget sih lo! Tahan dikit kenapa sih??” ucap Alvin agak emosi. Sivia langsung tertunduk diam. Apa Alvin semarah itu padanya?
            Dilubuk hatinya yang terdalam, Alvin merasa sedikit menyesal karna telah membentak Sivia seperti barusan. Tapi Alvin sudah terlanjur melakukannya dan sangat tidak mungkin bagi Alvin untuk menarik kembali apa yang telah ia keluarkan dari mulutnya.
            Hening kembali tercipta. Alvin sibuk mengobati luka pada siku sebelah kanan Sivia, sementara Sivia, ia sibuk dengan fikirannya sendiri. Saat ini Sivia benar-benar berharap Tuhan akan berbaik hati menghapus minggu-minggu terberat dalam hidupnya ini.
            Sivia yang merasa tidak sanggup menahan luapan emosinya akhirnya menangis juga. Sivia tersedu sambil berusaha keras menahan isakkannya. Meski sangat pelan, tapi Alvin bisa mendengar suara isakan Sivia, dan bersamaan dengan itu Alvin telah selesai mengobati luka pada siku Sivia. Alvin melirik kearah Sivia yang waktu itu masih menunduk dalam.
            “lo nangis?” Tanya Alvin dengan takut-takut. Hening. Beberapa detik kemudian tiba-tiba….
            “HWAAAAAAA…… MAMAAAAA…. CAKKAA….. HIKS HIKS HIKSS HIKSS HIKSS HIKSS….” Sivia malah menangis sekencang-kencangnya dihadapan Alvin. Alvinpun jadi bingung sendiri dibuatnya.
            Melihat tingkah Sivia yang seperti anak kecil, Alvin Cuma bisa menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak gatal. Semakin lama tangis Sivia semakin kencang. Niat Alvin untuk marah pada Gadis yang ada didepannya ini langsung surut seketika.
            “HIKS..HIKS… HIKS…. LO JAHAT BANGET SIH SAMA GUE?? LO NGGAK TAU APA TADI NYAWA GUE NYARIS MELAYANG, HIKS… HIKS… SUMPAH YA LO NGESELIN BANGET, HWAAAAAAA…..”
            “Stttt…. Lo jangan tereak!! Nanti orang-orang ngira gue ngapa-ngapain lo lagi”
            “emang lo ngapa-ngapain gue, hiks..hiks…hiks….” kali ini Sivia memelankan suara tangisannya.
            “udah ya lo jangan nangis, nanti gue beliin ice cream buat lo!”
            Mendengar perkataan Alvin yang terakhir mendadak Sivia langsung menghentikan tangisannya. Ia melirik tajam kearah Alvin. Awalnya Alvin berfikir bahwa Sivia akan menangis lagi, tapi ternyata….
            “seriuss…..?”
            Mendengar pertanyaan singkat Sivia, Alvin langsung mangap sambil memasang ekspresi tak percaya.


^_^

            “haha… dasar anak kecil!! Disogok pake ice cream langsung seneng” cibir Alvin saat melihat Sivia yang begitu lahap memakan ice creamnya. Sore itu Alvin dan Sivia tengah berjalan beriringan disebuah taman. Sivia melirik sejenak kearah Alvin. Sebuah senyum meremehkan langsung Alvin sunggingkan untuk Sivia.
            Sivia menghela nafas panjang dan kembali memakan ice creamnya dengan begitu lahapnya. Sivia lebih memilih untuk tidak mau ambil pusing dengan perkataan cowok menyebalkan yang ada disampingnya ini.
            Alvin dan Sivia duduk secara bersamaan direrumputan sambil menikmati langit yang mulai tampak berwarna jingga dan berangsur gelap. Hening untuk beberapa lama. Nyatanya baik Alvin maupun Sivia sama-sama merasa malas membuka obrolan, bukan karna apapun, tetapi karna mereka tidak tau harus membahas apa.
            “elo sendiri yang bangun rumah Singgah itu?” Tanya Sivia yang mulai merasa bosan dengan suasana kaku yang membungkus kebersamaan mereka senja itu.
            “bukan gue, tapi Nyokap gue…” jawab Alvin sekenanya. Sivia tersenyum,
            “biar gue tebak, Nyokap lo itu pasti orang nya baik banget”
            Alvin tersenyum sinis lalu melirik kearah Sivia.
            “iya lah”
            “tapi kok anaknya nggak ada baik-baiknya?” Tanya Sivia lagi dengan wajah sok bego. Senyum yang mengembang diwajah Alvin mendadak hilang. Setelah menatap wajah Sivia beberapa detik Alvinpun sedikit mendekatkan wajahnya dengan wajah Sivia. Sivia yang terkejut langsung menjauhkan wajahnya dari wajah Alvin. Langit senja itu semakin menampakkan gelapnya. Alvin menatap kedua manik mata Gadis itu sedalam mungkin. Melihat tatapan Alvin yang lumayan menciutkan nyali itu Siviapun hanya bisa menegak ludahnya sendiri.
            “biar gue tebak, lo itu orangnya pasti bawel banget” Alvin mendesah pelan “dan… manja” lanjut Alvin dengan raut tak berdosanya. Sivia langsung mengerucutkan bibirnya.
            “satu lagi… elo itu SOK TAHU!!” Ucap Alvin kembali dengan memberikan penekanan pada kata Sok Tahu.
            “terus…. Terus aja lo ngeledek gue, kayaknya kalo lo nggak ngeledekin gue sehari aja hidup lo nggak bakalan tenang, terus aja… gue ikhlas kok, ikhlas seikhlas-ikhlasnya….” Kata Sivia yang terdengar sudah benar-benar pasrah.
            Alvin yang tidak ingin memperpanjang masalah lagi akhirnya bangkit dari duduknya. Alvin menghela nafas panjang lalu berkata pada Sivia,
            “pulang yuk! Elo biar gue anter” Alvin berjalan santai menjauhi Sivia sambil memasukan kedua tangannya pada kantong jeansnya. Untuk sejenak Sivia tercengang. Apa?? Alvin mau mengantarnya pulang? Apa tidak salah.
            Menyadari bahwa Sivia masih betah duduk diatas rerumputan Alvinpun membalik badannya dan melihat kearah Sivia.
            “elo nggak budeg kan? Ato lo emang mau gue tinggal??” Tanya Alvin retoris dengan nada sedikit mengancam. Sivia terkesiap lalu buru-buru mengejar langkah Alvin.

^_^

            Alvin menghentikan Vespa nya tepat didepan gerbang rumah Sivia. Siviapun segera turun dari atas Vespa antic milik Alvin. Arah tatapan Alvin menyapu seluruh bagian rumah Sivia yang terlihat lumayan mewah.
            “udah sana lo pulang!” Usir Sivia.
            Alvin buru-buru mengalihkan perhatiannya dan menatap gadis yang ada didepannya ini dengan pandangan sinis.
            “elo nggak pernah diajarin ngucapin makasih ya sama Guru PKN lo pas lo SD?”
            Sivia memasang wajah pura-pura berfikir, dan jujur saja, Alvin malah merasa muak melihat ekspresi Sivia yang menurutnya sangat mengesalkan itu. Sebelum Sivia sempat membalas ucapan Alvin, tiba-tiba saja seorang cowok yang tak lain dan tak bukan adalah Cakka keluar dari gerbang rumah Sivia. Cakka agak sedikit heran melihat Sivia yang sedang bersama Alvin.
            “Via?” Sivia menoleh cepat kearah Cakka.
            “Cakka…??” Cakka berjalan mendekati posisi Alvin dan Sivia.
            “lo dari mana aja, Vi…? Dari tadi gue telfon nomer lo malah nggak aktif terus?” ucap Cakka cemas.
            “sorry Kka… sorry banget, handphone gue emang sering lowbat, maklumlah Kka, HP dikasih minjem ama Shilla, masih untung ada yang gue pake”
            “ya ampun siku lo kenapa, Vi…?” Tanya Cakka yang semakin panic melihat kondisi siku Sivia yang terbungkus rapi oleh balutan perban.
            Siviapun mendadak gelagapan, ia bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan Cakka itu. Dalam waktu secepat itu Sivia berfikir keras untuk mencari jawaban yang tepat untuk Cakka.
            “i… ini….”
            Alvin yang ingin sekali menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi langsung saja ditahan oleh Sivia. Sivia tidak mau Alvin sampai buka mulut dihadapan Cakka, sekali saja Alvin buka mulut, maka selamanya Cakka tidak akan pernah membiarkan Alvin mendekati Sivia.
            “tadi dia…”
            “nggak usah, lo nggak usah ngomong apa-apa!” sela Sivia dengan cepat.
            Kali ini Cakka menatap kedua orang yang dihadapannya secara bergantian dengan tatapan yang mencurigakan. Cakka menghela nafas beratnya, entah kenapa Cakka merasa bahwa Sivia terluka karna Alvin, dan entah kenapa juga rasanya Cakka ingin menuduh Alvin dan menghajar Alvin habis-habisan. Cakka mengenal Sivia sudah lama, dan Cakka tau betul Sivia sedang menyenbunyikan sesuatu melalui gelagatnya yang aneh.
            Cakka menggenggam kuat-kuat jemari tangan kananya. Ekspresi Cakka sudah berbeda jauh dari ekspresinya semula. Dan tanpa Sivia duga-duga Cakka langsung melayangkan sebuah pukulan yang lumayan keras tepat pada pipi sebelah kanan Alvin. Alvin tersentak bukan main,
            “ini semua karna elo kan? Elo kan nyebapin Via sampe dia kayak gini?” kata Cakka murka. Alvin belum sempat mengeluarkan pembelaan, karna ia sendiripun masih sangat shock menerima pukulan yang mendadak itu.
            Dan ketika Cakka akan menghadiahi pukulan untuk yang kedua kalinya untuk Alvin, Sivia buru-buru menahan tangan Cakka dengan segenap kekuatan yang ia miliki.
            “Cakka udah!! Lagian lo apa-apaan sih maen pukul segala? Alvin nggak salah, gue yang salah, gue yang teledor makanya bisa sampe luka kayak gini”
            Seperti orang yang kesetanan Cakka sama sekali enggan menghiraukan penjelasan Sivia. Ia hanya menatap Alvin tajam lantas kembali berkata pada Alvin.
            “asal lo tahu, sebelum Sivia ngenal lo beberapa hari yang lalu dia nggak pernah sampe luka kayak gini… gue tau ini pasti ulah lo! Kemana aja lo bawa Via seharian ini? HAAA…?”
            “lo jangan salahin gue, tapi salahin kebodohannya dia!” ucap Alvin yang kelamaan bosan atas tudingan yang Cakka lemparkan pada dirinya. Sivia menunduk dalam, dan Sivia tau pasti bahwa apa yang Alvin ucapkan itu adalah kenyataan yang sebenarnya.
            “CEWEK LO INI nyaris aja mati ketabrak truk kalo gue nggak segera nologin dia. Masih untung Cuma siku nya terluka, coba kalo dia mati??” lanjut Alvin emosi yang tak kalah kalapnya dari Cakka sekarang. Tidak lupa juga Alvin memberikan penekanan pada kata Cewek Lo.
            Kali ini Cakka melirik tajam kearah Sivia,
            “bener apa yang dikatakan cowok ini, Via?” Sivia mengangguk pasrah.
            Suasana mendadak hening seketika. Cakka, Sivia dan Alvin sama-sama diam dan sibuk dengan fikiran mereka masing-masing. Kelamaan Alvin akhirnya merasa bosan juga, ia berdecak kesal lalu pamit pada Sivia dengan nada suara yang terdengar dipaksakan. Entah untuk apa? Jika Alvin mau sebenarnya ia bisa saja pergi seenaknya tanpa pamit pada Gadis itu, tapi saat ini Alvin benar-benar sedang memiliki sebuah rencana yang ia khususkan untuk Cakka.
            “Heh Jelek! Gue pulang dulu… MAKASIH BUAT HARI INI….” Kata Alvin seraya melirik tajam kearah Cakka. Alvin yang sejak awal berniat untuk memancing reaksi Cakka ternyata sukses berat. Cakka kena umpannya, karna hanya beberapa detik saja setelah Alvin berkata seperti itu, reaksi Cakka langsung berubah drastic. Dalam hati Alvin tersenyum licik. Merasa belum puas dengan semuanya, Alvin kembali angkat bicara.
            “inget! Lo masih punya hutang 5 hari sama gue. Selama 5 hari ini LO ADALAH MILIK GUE, dan tentu lo tahu kan apa akibatnya jika lo berani-berani kabur dari gue??” mendengar ucapan Alvin yang ia sampaikan dengan nada mengancam, Sivia hanya bisa mengangguk sambil menunduk dalam. Alvin tersenyum sinis. Tiba-tiba tangan kanan Alvin terangkat lalu membelai lembut rambut panjang Sivia.
            “anak manis”
            Alvin akhirnya menjalankan Vespa nya. Sekali lagi Alvin tersenyum licik. Rencananya kali ini pasti akan berjalan dengan mulus. Entah kenapa Alvin merasa bahwa ia harus bisa menjatuhkan Cakka. Dan Alvinpun sudah bertekad akan selalu menjatuhkan Cakka dalam hal apapun.
            Melihat kecemasan yang Cakka yang tunjukan pada Sivia tadi, Alvin bisa membaca dengan sangat jelas bahwa ada sebuah cinta yang tersemubunyi dibalik sikap Cakka itu. Dan Alvin bersumpah akan merebut Sivia dari Cakka.
            Alvin memang selalu seperti itu. Jika seseorang berani membuatnya sakit hati, maka Alvin tidak akan segan-segan untuk melakukan apa saja yang bisa membuat seseorang tersebut jatuh terpuruk.

            “sekali lo lengah maka Sivia akan jadi milik gue…” Ucap Alvin dengan begitu yakinnya.


^_^

            “Cakka elo tadi apa-apaan sih? Ngapain coba mukul Alvin kayak tadi? Lo tau, gue nggak suka sama sikap keras lo itu? Dan gue tau betul, Cakka sahabat gue bukan sosok yang keras kayak tadi, dan yang sangat gue tau, sosok yang mukul Alvin tadi itu bukan sahabat gue, itu bukan Cakka yang gue kenal” kata Sivia pada Cakka dengan suara sedikit bergetar.
            Cakka hanya mendengarkan saja apa yang Sivia ucapkan, dan Cakka sama sekali tidak berniat untuk membantah setiap perkataan Sivia. Dan untuk yang pertama kalinya, Cakka membuat Sivia menangis.
            “gue kecewa sama lo, Kka… gue tau lo cemas sama gue, tapi gue nggak suka dengan sikap lo tadi”
            “sekarang lo pulang! Gue mau sendiri” lanjut Sivia dengan tegas.
            Saat Sivia akan memasuki gerbang rumahnya, secara tiba-tiba Cakka mencekal pergelangan tangannya lalu membawa Sivia kedalam pelukannya. Cakka memeluk Sivia seerat mungkin. Dengan pelan mulutnya berucap,
            “maaf. Gue janji nggak akan kayak gitu lagi” ucap Cakka tulus.
            “janji?” ulang Sivia dengan pelan.
            Cakka mengangguk beberapa kali seraya membelai lembut rambut Sivia,
            “iya gue janji. Dan maaf juga karna gue udah bikin nangis, lain kali gue nggak akan bikin lo nangis lagi”
            Secara perlahan Sivia akhirnya membalas pelukan Cakka. Pelukan yang entah kenapa terasa begitu berbeda bagi Sivia. Beberapa saat kemudian Cakka melepaskan pelukannya dari Sivia, ia memegang kedua pipi Sivia lalu menyeka air mata Sivia dengan lembut. Cakka menggeleng dengan isyarat: “Jangan nangis lagi”. Sivia pun tersenyum dan kembali memeluk Cakka.


^_^

            Setelah mengantarkan Sivia pulang, Alvin terlihat tengah jalan-jalan sendiri disebuah Mall. Iseng-iseng Alvinpun mampir disebuah toko handphone. Sudah beberapa hari terakhir ini Alvin tidak memegang Handphone, dan Mama nya selalu saja menekan Alvin untuk segera membeli handphone baru supaya beliau gampang menghubungi Alvin jika terjadi sesuatu.
            “silahkan dulu diliat-liat” kata Pelayan itu dengan ramah pada Alvin. Alvin hanya melirik sebentar kearah pelayan wanita itu lalu tersenyum.
            Alvinpun menyapu tatapannya kearah etalase yang didalamnya terdapat berbagai macam model serta merk Handphone terbaru. Sebuah Handphone kembar yang berbeda dari handphone yang lainnya tiba-tiba saja menarik perhatian Alvin. “Unik” Alvin membatin sambil tersenyum.
            “bisa lihat yang ini?” ucap Alvin sambil menunjuk salah satu dari kedua handphone itu. Alvin menunjuk Handphone yang berwarna biru. HP itu bermodel buka tutup dengan warna biru muda yang menarik. Dan diatas handphone itu terdapat aksen gambar anak panah yang hendak terlepas dari busurnya.
            “oo… ini Handphone couple, Mas. Kalo Mas mau beli handphone ini berarti Mas harus beli kedua nya” pelayan itu menjelaskan pada Alvin.
            “handphone couple?” Tanya Alvin heran.
            “iya, untuk saat ini Handphone ini Cuma ada sepasang di Indonesia, mungkin Mas juga berniat  membelikan handphone ini untuk pacarnya”
            Alvin berfikir cepat. tiba-tiba saja fikirannya tertuju pada Handphone Sivia yang sering lowbat dan sering juga menyusahkan Sivia. Alvin jadi teringat perkataan Sivia tadi pada Cakka.

Flash Back Alvin:

“lo dari mana aja, Vi…? Dari tadi gue telfon nomer lo malah nggak aktif terus?” ucap Cakka cemas.
            “sorry Kka… sorry banget, handphone gue emang sering lowbat, maklumlah Kka, HP dikasih minjem ama Shilla, masih untung ada yang gue pake”

Flash Back Off~

            Alvin langsung membuyarkan ingatannya dan segera mengalihkan perhatiannya pada Handphone yang satunya lagi. Handphone yang satunya lagi berwarna Pink dan memiliki aksen gambar hati diatasnya. Jika kedua handphone itu disandingkan, kesannya seolah-olah anak panah itu hendak terlapas dari busurnya dan menancap tepat pada hati itu. Alvin agak sedikit geli membayangkannya. Tapi Alvin dengan cepat akhirnya memutuskan untuk menjatuhkan pilihannya pada Handphone Couple itu.
            “ya udah, saya ambil handphone couple ini”
            “ooo… baiklah. Oya, sebagai hadiahnya, Mas mendapatkan 2 buah gantungan Handphone..”
            Alvin hanya mengangguk mengiyakan pelayan Toko itu.


^_^

Hari ke-3 (Senin)

            Pagi itu saat Sivia baru saja keluar dari gerbang rumahnya ia dikejutkan oleh keberadaan Alvin. Melihat Sivia yang keluar dari gerbang rumahnya Alvin langsung memamerkan senyum maut andalannya sambil melambaikan tangannya kearah Sivia.
            Sivia yang terkejut bercampur heran langsung menghentikan langkahnya. Dia benar Alvin? Tapi buat apa Si Kunyuk satu itu pagi-pagi sudah nangkring didepan rumah Sivia?
            “pagi Jelek….” Sapa Alvin dengan seenaknya.
            Sivia yang masih terkejut berjalan perlahan menghampiri Alvin.
            “elo ngapain disini?” Tanya Sivia heran.
            “menurut lo?” Tanya Alvin balik. Sivia berdecak sinis. Apa-apaan nih anak? Ditanya kok malah nanya balik?
            Sivia melipat kedua tangannya didada lantas berkata,
            “ya mana gue tau lo mau ngapain disini. Emang elo kira gue dukun apa yang bisa baca fikiran lo?” Tanya Sivia sedikit senewen.
            Alvin tersenyum lalu meraih tangan Sivia, saat itu Alvin tau bahwa Cakka sedang memperhatikan mereka dari halaman rumahnya. Tapi Sivia tidak menyadarinya.
            “bareng yuk!” ajak Alvin dengan nada sedikit menggoda,
            Sivia buru-buru menarik tangannya dari genggaman Alvin. Cowok satu ini memang benar-benar aneh. Ups salah, maksud Sivia, sangat-sangat aneh.
            “lo kenapa sih? Aneh banget perasaan…?” Tanya Sivia sambil bergidik.
            Dalam satu gerakan cepat Alvin menarik pergelangan tangan Sivia hingga dekat dengannya. Cakka yang melihatnya seolah-olah Alvin ingin mencium Sivia, tapi sebenarnya kenyataan tidak seperti itu. Cakka menghela nafas beratnya lalu mengalihkan perhatiannya sejenak.
            “lo mau berangkat bareng gue, ato lo mau gue seret ke kantor polisi?” bisik Alvin pelan didepan telinga Sivia.
            Sivia semakin kesal pada Kunyuk satu ini, tapi mau bagaimana lagi? Daripada Alvin menyeretnya kekantor polisi mending Sivia buru-buru menerima ajakannya. Toh tidak ada ruginya juga bagi Sivia. Tapi bagaimana dengan Cakka?
            “ya udah ya udah, tapi gue pamit dulu ama Cakka” ucap Sivia pasrah. Saat Sivia akan berjalan kerumah Cakka, lagi-lagi Alvin mencekal pergelangan tanganya.
            “nggak usah pake pamit, dia udah tau kok” ujar Cakka sambil melirik kearah Cakka yang waktu itu masih berdiri dihalaman rumahnya. Siviapun mengikuti arah pandangan Alvin, dan benar saja Sivia melihat Cakka yang waktu itu berdiri dihalaman rumahnya seraya menatapnya dengan tatapan tak terbaca.
            “KKA… SIVIA BIAR BERANGKAT BARENG GUE! LO TENANG AJA, DIA AKAN BAIK-BAIK AJA KOK SAMA GUE!!” Teriak Alvin dengan berani.
            Kali ini Alvin menatap Sivia tajam dan memberikan isyarat pada Sivia supaya Sivia segera menaiki motornya. Sivia yang sudah tidak bisa menolak lagi akhirnya menaiki motor Alvin dengan sejuta kekesalan yang memenuhi benaknya.
            “Kka… gue duluan ya?” ucap Sivia takut-takut seraya melirik kearah Cakka yang waktu itu masih menatapnya dengan tatapan tak terbaca.
            Cakka tidak menjawab apapun juga tidak melakukan apapun. Cakka hanya diam ditempat berusaha meredam rasa cemburunya.
            “pegangan!” perintah Alvin. Sivia menggeleng cepat.
            “fine” secara tiba-tiba dan mengejutkan Alvin menggas motornya. Sivia yang terkejut kontan saja memeluk erat tubuh Alvin. Alvin tersenyum licik. Rencananya pasti sukses berat.
            Beberapa saat setelah kepergian Alvin dan Sivia, Cakkapun menggenggam kuat-kuat jemari tangannya lalu meninju udara untuk meluapkan emosinya.
            “ergh… sial!!”

^_^

            Sivia heran karna Alvin melalui jalan yang selama ini tidak pernah sekalipun Sivia lewati. Seharusnya tadi Alvin mengambil pilihan untuk lurus saja, tapi Alvin malah belok kiri. Sivia mulai takut, kemana Kunyuk ini akan membawanya?
            “heh… Kunyuk, lo salah jalan tau!” kata Sivia sambil menepuk pelan pundak Alvin. Alvin kembali mengeluarkan senyum liciknya.
            “gue nggak salah jalan kok” jawab Alvin santai.
            “tapi ini bukan jalan kesekolah gue”
            “siapa bilang gue mau bawa lo kesekolah lo??”
            “TERUSSS….??” Kaget Sivia.
            “gue hari ini mau ngajakin lo bolos”
            “WHAAATTTT……” Kali ini Sivia tidak hanya kaget, tapi sangat kaget.
            Alvin semakin mempercepat kecepatan laju motornya. Sivia yang sebelumnya tidak pernah sekalipun diajak ngebut oleh seseorang merasa ketakutan. Tanpa sadar Sivia semakin mempererat pelukannya pada Alvin. Siviapun menenggelamkan wajahnya pada bahu kekar milik Alvin. Alvin tersenyum senang,

            “hari ini gue akan bikin lo jatuh cinta sama gue….” Batin Alvin sambil tetap focus dengan jalanan yang ada didepannya.





                                    BERSAMBUNG….

0 comments:

Post a Comment