Wednesday, May 1, 2013

2

Seperti Sebuah Bintang Part 4




            “Ma, untuk seminggu ini kayaknya Via bakalan pulang telat terus” ucap Sivia pada Mamanya sehati-hati mungkin ketika mereka sarapan bersama pagi itu.
            Mama mengalihkan perhatiannya pada Sivia,
            “lho kenapa emang?”
            “Via harus nyelesein tugas penelitian sama Ify dan Shilla, Ma…” alibi Sivia. Dalam hati ia langsung merutuki Alvin. Ini semua gara-gara Alvin. Seumur-umur ini baru pertama kali Sivia membohongi Mamanya, dan itu gara-gara cowok angkuh macam Alvin. Sivia bersumpah tidak akan pernah sudi memaafkan cowok terkutuk itu.
            Mama mengangguk paham lalu kembali menyantap makanannya. Saat itu juga Sivia langsung menghela nafas lega.
            “Kak Via” panggil Marsha tiba-tiba.
            “hmm…” sahut Sivia tanpa minat.
            “Kak Cakka udah punya cewek belom, Kak…?”
            Mendengar pertanyaan yang Marsha ajukan kontan saja Sivia langsung menyemburkan susu yang baru saja masuk kemulutnya. Sivia benar-benar tersedak plus terkejut bukan main mendengarkan pertanyaan Adik Semata Wayangnya itu. Jangan-jangan Marsha sudah menjadi salah satu korban pesona Cakka yang menurut Sivia sangat menjijikan itu.
            “ngapain lo nanya kayak gitu?” Tanya Sivia yang mendadak judes. Marsha langsung mengerucutkan mulutnya.
            “yee… emangnya nggak boleh? Lagian kan Marsha Cuma nanya aja, Kak”
            “lo suka ya sama Cakka?” tuding Sivia sengit.
            “iihhh… udah dibilangin juga Marsha Cuma nanya doang…”
            Kali ini Sivia melirik kearah Mama. Ia menatap Mama dengan pandangan berharap. Berharap Mama segera membereskan sikap Marsha ini. Sivia mengerti bahwa saat ini Marsha sedang memasuki usia ABG, dan memang sudah saatnya juga Marsha tertarik pada lawan jenisnya, tapi bukan sama Cakka juga kali. Marsha baru berusia 12 tahun, sementara Cakka? Aduuhh jangan sampai deh.
            “Marsha, inget kamu masih 12 tahun, sekolah yang bener jangan mikirin cowok dulu” nasihat Mama.
            “tuh kan Mama pake ikut-ikutan Kak Via lagi, serius tadi tuh Marsha Cuma nanya aja”
            “terus kalo Cakka belom punya cewek lo mau apa?” sinis Sivia.
            “ya nggak apa-apa, Cuma aja kan kalo seandainya Marsha beneran naksir Kak Cakka ya wajar-wajar aja, Kak Cakka cakep kayak gitu juga, udah gitu keren lagi…”
            “Marsha stop!!” kata Sivia tegas sambil melirik tajam kearah Marsha. Melihat lirikan tajam Kakaknya, Marsha langsung bungkam seketika. Jika sudah marah begini, Sivia pasti akan terlihat lebih seram daripada Singa Betina yang mengamuk karna anaknya tengah diburu oleh para pemuburu yang bengis.


^_^

            Ketika bel tanda istirahat berbunyi Sivia terlihat risau, dan kenyataanya semakin dekat jam pulang semakin Sivia merasa risau. Bagaimana tidak, saat jam pulang nanti Alvin bersama Tim Basket sekolahnya akan melakukan spraing di SMA Pancasila, dan setelah sparing usai, Alvin akan menyeret Sivia pulang kerumahnya untuk dijadikan Babu. Aduuh, bagaimana ini? Bagaimana Sivia harus memberikan alasan pada Cakka nanti? Kalau Cakka curiga bisa-bisa semakin runyam urusannya.
            Tentu Cakka tidak akan tinggal diam melihat Sivia diperlakukan seperti ini oleh Alvin, apalagi oleh seseorang yang baru Sivia kenal. Sivia menumpuk tangannya diatas meja lalu menopang dagunya dengan pasrah. Alasan apa yang harus ia berikan pada Cakka nanti?
            “heh, kenapa lo nggak keluar?” Tanya Cakka yang secara tiba-tiba sudah duduk disamping Sivia. Sivia yang merasa terkesiap langsung mengangkat wajahnya dan buru-buru melihat kearah Cakka.
            Cakka menatap Sivia dengan salah satu alis terangkat. Cakka menunggu jawaban apa yang akan Sivia berikan padanya. Sivia mulai terlihat gelagapan,
            “emmm…. Nggak apa-apa kok, Kka. Gue lagi males keluar aja” alibi Sivia,
            “tumben? Dari tadi jug ague perhatiin lo Cuma diem aja selama jam pelajaran berlangsung, kayak ada sesuatu yang lo fikirin…” kata Cakka curiga dan dengan tatapan menyelidik. “ada apa?” lanjut Cakka.
            Sivia menggeleng beberapa kali sambil tersenyum masam.
            “nggak ada apa-apa kok, Kka”
            “jangan bohong!”
            “gue nggak bohong. Beneran deh, Sueerr!!" kata Sivia sembari mengacungkan kedua jarinya.
            Cakka mengangguk paham. Meski merasa agak sedikit sanksi atas sikap Sivia, tapi Cakka berusaha untuk mempercayainya. Toh selama ini jika memang terjadi sesuatu padanya, Sivia selalu jujur pada Cakka, jadi kenapa Cakka harus curiga pada Sivia?
            “oya, kenapa 2 hari ini nomer HP lo nggak pernah aktif?”
            Deg.. pertanyaan yang satu ini yang paling Sivia hindari dari Cakka, tapi sekarang ternyata Cakka malah melemparkan pertanyaan itu padanya. Sivia berfikir cepat, mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan Cakka.
            “VIA…” Panggil Cakka sedikit keras. Sivia yang melamun akhirnya tertarik kembali dari lamunannya setelah mendengarkan panggilan Cakka yang lumayan keras itu. Entah untuk yang keberapa kalinya, Sivia kembali terlihat gelagapan,
            “eh” kaget Sivia.
            “HP Lo kemana?” ulang Cakka, tapi kali ini dengan pertanyaan yang lebih singkat.
            “HP?” Sivia balik bertanya.
            “iya HP….” Cakka mulai tak sabar.
            Sivia menghela nafas berat. Duuhh… kenapa sih Cakka harus nanyain HP yang sudah menjadi almarhum itu?
            “HP gue hilang, Kka…” jawab Sivia berbohong.
            Cakka sedikit terkejut,
            “HAA…? Hilang? Hilang dimana? Kok bisa?”
            “kemaren ilang di Mall pas gue lagi jalan-jalan sama Ify dan Shilla. Mungkin jatuh” jawab Sivia berusaha terdengar meyakinkan.
            Cakka mengangguk beberapa kali lalu mengusap puncak kepala Sivia dengan lembut. Saat itu entah kenapa Sivia merasa bahwa ada sesuatu yang lain dari sikap yang Cakka tunjukan padanya.
            “ya udah nggak apa-apa, ntar diganti”
            Sivia hanya menganggukan kepalanya sambil melirik kearah Cakka yang waktu itu tersenyum begitu manis padanya.


^_^

@SMA Bintang Bangsa (Jam Istirahat)

            “Alvin…” panggil seseorang dari kejauhan. Mendengar panggilan itu Alvin dan kawan-kawannya yang terdiri Rio, Ray, Deva, dan Ozy menghentikan langkah mereka dan secara bersamaan menoleh kebalakang.
            Pricilla gadis tercantik dan terpopuler di SMA Bintang Bangsa yang merupakan Kapten cheers SMA Bintang Bangsa, dan yang juga merupakan salah satu pengagum berat Alvin berlari kecil menghampiri Alvin.
            “ada apa?” Tanya Alvin dingin saat Pricilla sudah berdiri dihadapannya.
            “gue mau Tanya sesuatu, boleh?” Tanya Pricilla sedikit ragu. Alvin berdecak pelan lalu buru-buru menjawab pertanyaan dari Pricilla,
            “iya, tapi cepet ya? Gue masih ada urusan soalnya”
            “kemaren malem gue nelfon lo, tapi yang ngangkat cewek, cewek itu ngaku sebagai pacar lo, dan kalo nggak salah inget namanya Sivia. Dia beneran cewek lo?”
            Mendengar pertanyaan yang Pricilla lemparkan mendadak Alvin kaget sekaget-kagetnya. Jadi Si Gadis Tengik itu telah lancang mengaku bahwa dirinya adalah pacar Alvin? Oh My God, bener-bener nekad itu cewek. Bukan hanya Alvin yang kaget, tapi juga kawan-kawannya.
            “lo beneran udah punya cewek?” Tanya Ray pelan. tapi Alvin tidak sedikitpun menggubris pertanyaan Ray.
            Yang Alvin fikirkan saat ini hanyalah pengakuan mengejutkan yang Sivia sampaikan pada Pricilla. Alvin paham, Sivia melakukan semua ini pasti untuk mengerjai Alvin dihadapan para fansnya. Alvin mengangguk beberapa kali lantas tersenyum licik. Kali ini Alvin telah memiliki sebuah rencana untuk mengerjai balik cewek tengik itu.
            “bahkan semua fans lo udah tau kalo cewek bernama Sivia itu adalah pacar lo, dan beberapa diantara mereka mengaku patah hati atas pengakuan dari Sivia, makanya sekarang gue mau konfirmasi ke elo, beneran Sivia cewek lo?” Tanya Pricilla sekali lagi.
            Alvin mengangguk beberapa kali. Senyum licik itu masih mengembang diwajah tampannya.
            “iya bener, dia cewek gue” jawab Alvin singkat, padat, jelas, dan cukup mematahkan hati gadis cantik yang ada didepannya ini. Pricilla mengangguk lesu. Bagaimanapun keadaannya sekarang, Pricilla harus berusaha terlihat baik-baik saja dihadapan Alvin.
            “udah? Cuma itu yang mau lo tanyain?” Tanya Alvin cuek.
            Rio, Ray, Deva, dan Ozy yang mendengarkan pengakuan dari Alvin itu hanya bisa melongo. Mereka nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar dari mulut seorang Alvin Jonathan. Bagaimana tidak? Alvin yang katanya seorang Bintang Sekolah dan memiliki segudang fans yang cantik-cantik telah memiliki seorang pacar, dan parahnya mereka yang sangat dekat dengan Alvin tidak tahu menau soal itu.
            Sekali lagi Pricilla mengangguk lesu dan berlalu begitu saja dari hadapan Alvin dan kawan-kawannya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
            Beberapa saat setelah kepergian Pricilla,
            “lo beneran udah punya cewek? Dia anak sekolah mana? Gue nggak pernah dengar namanya disini” cerocos Ozy dihadapan Alvin.
            Alvin tersenyum penuh misteri,
            “dia anak Pancasila”
            “WHAATTTT…..???” Kaget Rio, Ray, Deva dan Ozy secara serentak.
            Setelah sukses membuat kawan-kawannya terkejut setengah mati Alvinpun hengkang dari hadapan kawan-kawannya sambil tersenyum puas.
            Dan Alvin sengaja mejawab tantangan dari Sivia itu. Sivia fikir memangnya Cuma dia apa yang bisa mengerjai Alvin? Dan ini juga merupakan peluang mas bagi Alvin. Dengan mengakui Sivia sebagai pacarnya maka dengan begitu para Fans-fans nya yang menurut Alvin sangat  amat mengganggunya itu tidak akan mengejar-ngejarnya lagi, dan dengan begitu juga Alvin bisa hidup dengan tenang. Alvin tertawa lepas dalam hati.
            “elo kan yang udah nantangin gue, Vi?” batin Alvin seraya terus berjalan.

^_^

            Dan saat-saat yang Sivia takuti akhirnya tiba juga. Bel tanda pulang berdering dengan nyaring. Kerisauan yang sejak tadi Sivia rasakan kini semakin membuncah hebat. Jika bisa Sivia ingin menghapus hari ini dalam hidupnya, dan jika bisa ingin sekali rasanya Sivia memusnahkan Alvin dari peredaran. Tanpa sadar Sivia memukulkan tangannya diatas meja, pukulan Sivia yang lumayan keras itu membuat Ify yang duduk disampingnya langsung terlonjak kaget.
            “ngagetin banget sih lo, Vi! Lo kenapa sih?” Tanya Ify kesal sembari memasukan buku-bukunya kedalam tas. Sivia Cuma nyengir lalu menjawab pertanyaan Ify.
            “hehe… nggak apa-apa kok, Fy…”
            “lo aneh tau nggak hari ini” kata Ify tak habis fikir. Tapi Sivia hanya diam, tidak sedikitpun merespon perkataan Ify tadi.
            “ayo Girl’s kita pulang” ucap Shilla antusias yang baru saja hadir ditengah-tengah Sivia dan Ify.
            “ayo” Ify pun bangkit dari tempat duduknya.
            Saat Ify dan Shilla hendak melangkah keluar kelas, merekapun membatalkan niat saat sadar bahwa Sivia masih diam ditempat.
            “Heh Via! Lo kok diem?? Ayo pulang” ajak Shilla sedikit maksa.
            “ka.. kalian duluan aja, gue masih mau nungguin Cakka”
            Shilla dan Ify saling melirik sejenak lalu melanjutkan perjalanan mereka yang sempat terhenti.
            “Via… Via… kenapa lo nggak jadian aja sih sekalian ama Cakka…?” gumam Shilla nggak jelas. Sivia yang bisa mendengar dengan jelas gumaman Shilla tersebut langsung berteriak keras dari dalam kelas,
            “JANGAN SEMBARANGAN LO SHILLAMPIR….!!!”
            Mendengar teriakan Sivia, tawa Ify dan Shilla langsung pecah seketika. Mereka memang paling senang mengganggu Sivia seperti itu.


^_^
            Merasa bosan didalam kelas sendirian Siviapun memutuskan untuk menyusul Cakka dilapangan basket. Sudahlah, tidak ada gunanya juga Sivia mencoba menghindar dari Alvin, toh nanti Alvin akan menemukannya juga. Dan takutnya nanti kalau Sivia coba-coba untuk menghindar, Alvin malah mengerjainya lebih parah dari ini.
            Tibalah Sivia dilapangan basket, tapi ia tidak menemukan sosok Cakka disana.
            “Cakka mana, Yel?” Tanya Sivia pada Gabriel yang waktu itu sedang memasang sepatu latihannya.
            “masih diruang ganti” jawab Gabriel sekenanya sambil tetap focus mengikat tali sepatunya.
            “ohh…”
            Siviapun duduk disamping Gabriel dan menunggu Cakka disana. Sambil menunggu Cakka Sivia mengedarkan pandangannya kesegala arah untuk mencari sosok Alvin, siapa tau saja Alvin sudah tiba disekolahnya. Tapi tunggu dulu, buat apa Sivia susah-susah mencari cowok terkutuk itu? Bukannya malah bagus kalau Alvin tidak datang, dengan begitu kan Sivia bisa bebas dari Alvin hari ini?
            “gue kepalangan dulu ya, Vi…?” pamit Gabriel pada Sivia setelah urusannya beres dengan sepatunya.
            “eh iya” jawab Sivia sekenanya. Gabrielpun berlari ketengah lapangan dan bergabung bersama kawan-kawannya, Debo, Obiet, dan Irsyad.
            “Hay sayang… nungguin gue yah?” ucap seorang cowok yang secara tiba-tiba saja muncul disamping Sivia. Tidak hanya itu, cowok itu dengan santainya merangkul pundak Sivia tanpa minta ijin terlebih dahulu.
            Menyadari bahwa seseorang yang ada disampingnya kini adalah Alvin, Sivia buru-buru menyingkirkan lengan Alvin yang melingkari pundaknya.
            “isshhh, apaan sih lo? Dateng-dateng udah maen rangkul aja, udah gitu pake manggil sayang lagi, ihhh…” protes Sivia keki.
            Alvin tersenyum miring dan semakin mendekatkan posisinya dengan Sivia. Tanpa peduli Sivia yang sudah sangat risih dengan kehadirannya, Alvin kembali merangkul pundak Sivia. Sivia meronta dari rangkulan Alvin, tapi Alvin tetap keras kepala.
            “emang salah ya gue manggil lo sayang? Lo kan cewek gue?” ucapan Alvin itu kontan saja membuat Sivia tersentak. Sivia melirik tajam kearah Alvin, kedua bola matanya nyaris meloncat keluar saking kagetnya.
            “lepas ihh…” kesal Sivia sambil menyingkirkan tangan Alvin.
            “ooo… gue lupa, elo kan babu gue, bukan cewek gue…” kata Alvin yang mulai cari penyakit.
            “suka suka lo deh…” Sivia berusaha tidak ambil pusing.
            “tapi kok difans-fans gue lo ngakunya jadi cewek gue sih?” Tanya Alvin –lagi- dengan tampang sok begok.
            Kali ini Sivia bingung bagaimana harus membalas perkataan Alvin. Dalam sekejab saja Alvin sukses membuat Sivia bungkam.
            “sekali lagi lo ngeluarin suara bener-bener gue sumpel mulut lo pake sepatu gue” ancam Sivia sok sadis. Alvinpun pura-pura bergidik ngeri.
            “hiii sereemmm”

            “Via, elo kok belom pu—“ Cakka tidak melanjutkan perkataannya saat melihat Sivia tidak sendiri ditepi lapangan. Ada seorang cowok yang menemaninya disana. Siviapun bangkit dari samping Alvin lalu melangkah mendekati Cakka.
            “Cakka… syukur deh lo dateng” melihat kedatangan Cakka, Sivia seolah mendapatkan mukjizat dari Tuhan. Mukjizat karna telah terselamatkan dari situasi yang ‘tidak kondusif’.
            “lo kenal dia? Dia siapa?” Tanya Cakka pada Sivia sambil sesekali melirik kearah Alvin yang waktu itu masih duduk dengan manis diatas bangku panjang yang terdapat ditepi lapangan basket.
            “dia Alvin, kapten Tim Basket BinSa”
            Cakka mengangguk paham. Ia melirik kearah Alvin dan berusaha mengamati Alvin sebaik mungkin. Ternyata ini dia yang namanya Alvin? Ini dia Kapten Tim Basket SMA BinSa yang katanya pertahananya paling kuat diantara yang lainnya? Cakka jadi ingin tahu seberapa hebat kemampuan Alvin ini? Dan Cakka ingin menguji kehebatan Alvin.
            Tapi Cakka masih sedikit heran, kenapa Sivia bisa mengenal Alvin? Cakkapun mengalihkan perhatiannya dari Alvin dan kembali melihat kearah Sivia,
            “kok lo bisa kenal dia?” Tanya Cakka dengan tatapan menyelidik.
            Sebelum Sivia buka mulut, Alvin langsung bangkit dari tempat duduknya, ia berdiri disamping Sivia lalu dengan santainya merangkul pundak Sivia dihadapan Cakka,
            “ya jelas kenal lah, orang dia ini cew—“
            Sebelum Alvin kembali berkoar tentang status palsunya Sivia buru-buru menyikut perut Alvin tanpa ampun, dan itu lumayan sakit.
            “uughh…” ringis Alvin dengan suara tertahan.
            “lepasin gue, ihhh…” kesal Sivia seraya menyingkirkan lengan Alvin dari pundaknya. Siviapun menggandeng lengan Cakka dan membawanya pergi dari tempat itu sebelum Alvin kembali berkoar dan menyebarkan kenyataan yang sebenarnya.
            “ayo Kka, kita pergi! Cowok Gila kayak gini nggak usah lo pusingin”


^_^

            Sparing siang itu dimenangkan oleh SMA BinSa. Kali ini Cakka sudah tidak meragukan kemampuan Alvin lagi dalam permainan Basket. Dalam hati Cakka memuji kemampuan Alvin yang begitu lihai, dan Cakka mengakui kehebatan Alvin itu. Untuk itulah, mulai hari ini Cakka bertekad untuk bisa mengalahkan Alvin. Apapun akan Cakka lakukan untuk bisa mengalahkan Alvin.
            Sehabis Sparing Cakka langsung menghampiri Alvin bersama Tim nya yang saat itu tengah beristirahat ditepi lapangan.
            “selamet ya?” ucap Cakka dengan sportif seraya mengulurkan tangannya dihadapan Alvin yang saat itu sedang dalam posisi duduk, sementara Cakka dalam posisi berdiri.
            Alvin melihat sejenak kearah tangan Cakka yang terulur. Alvin tersenyum meremehkan lalu membalas uluran tangan Cakka. Cakkapun menarik tangan Alvin dan membantunya berdiri. Kali ini posisi mereka sudah sejajar. Ada sebuah keterpaksaan dalam senyuman yang Alvin suguhkan untuk Cakka.
            “Thanks” jawab Alvin singkat.
            “tapi gue udah bersumpah akan ngalahin lo dipertandingan nanti” ucap Cakka dengan yakin. Alvin tersenyum miring, ia tertawa kecil lantas berkata pada Cakka,
            “kita lihat saja nanti!”


^_^

            Sivia berdiri didepan gerbang untuk menunggu Alvin yang saat itu tengah mengambil motornya diparkiran. Sivia sangat berharap bahwa Cakka yang akan keluar duluan, karna dengan begitu Sivia bisa kabur bersama Cakka, dan tentu saja Alvin tidak akan menemukannya. Sudah hampir 5 menit, tapi baik Cakka ataupun Alvin belum juga menampakkan batang hidung mereka. Sivia semakin risau. Ingin sekali rasanya ia kabur sejauh-jauhnya dari Alvin detik ini juga. Dan Sivia sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana sengsaranya ia nanti selama seminggu ia menjadi babunya Alvin. Mimpi buruk!!
            Dan Tuhan pun mengabulkan permohonan Sivia, karna beberapa saat kemudian Cakka keluar dari gerbang sekolah dengan menggunakan motor Cagiva-nya. Cakka menghentikan laju motornya tepat disamping Sivia.
            “ayo, Vi…”
            Sivia mengangguk. Dan saat ia hendak menaiki motor Cakka, tiba-tiba saja Alvin datang dengan Ninja Merah nya. Sivia menunduk lesu. Cakka menatap Alvin dengan pandangan bertanya, sementara Alvin, ia memerkan senyum liciknya pada kedua orang yang ada dihadapannya ini.
            “cepetan naek! Udah siang ini, ato lo mau gue tinggal?” kata Alvin dengan sesantai mungkin.
            Cakkapun melirik tajam kearah Sivia. Pandangannya seolah mengisyaratkan sebuah pertanyaan untuk Sivia, “ada apa ini sebenernya?”
            Dan Sivia bersumpah demi apapun itu, ia takut menatap kedua mata Cakka.
            “dalam hitungan ketiga lo nggak naek juga, elo beneran gue tinggal, dan elo ha—“
            “iya… iya gue naek” ucap Sivia dengan sangat terpaksa.
            Dengan setengah hati Siviapun menaiki motor Alvin. Sebelum Alvin melajukan motornya Sivia sempat berkata pada Cakka.
            “gue duluan ya, Kka…?”
            Alvinpun menjalankan motornya dengan kecepatan maksimal.

            “PENYIKSAAN DIMULAI!!!” Teriak Alvin dalam hati.

Alvin dan Sivia pergi dan meninggalkan sebuah hati yang saat itu juga tengah terbakar cemburu. Cakka menatap tajam ke arah 2 orang yang saat itu nyaris hilang dari pandangannya. Cakka mencengkram kuat jemari tangannya. Sakit… benar-benar sakit yang ia rasakan. Cakka sangat yakin, bahwa ada yang tidak beres dengan semua ini.



                                    BERSAMBUNG…


2 comments:

  1. Kak, aku mau request. Aku suka banget sama karya kakak yang ini "Seperti sebuah bintang". Tapi aku kesulitan untuk membacanya di blog, kalau di posting di Wattpad aja gimana kak? Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf baru baca komennya setelah hampir 5 tahun. Saya lupa password hehehe 😁 "Seperti Sebuah Bintang" memang akan segera saya posting di wattpad. Kalo memang masih berminat, mohon ditunggu ya. Bisa nanti dibaca di akun wattpad @yoursadending. Tentu saja ceritanya akan dibikin dalam versi yang lebih baik tanpa mengesampinkan plot dan konflik utamanya. Terima kasih sudah membaca 😇

      Delete