Setelah membersihkan luka Alvin yang
lumayan parah dan mengoleskannya dengan obat merah, Shilla membalut luka Alvin
dengan sangat hati-hati dan telaten menggunakan perban. Sedari tadi, sejak
Shilla membawanya ke UKS untuk mengobati lukanya, Alvin tak mengeluarkan
sepatah katapun untuk Shilla.
“beres…”
kata Shilla setelah ia selesai membalut luka Alvin. Sama seperti tadi, Alvin
hanya diam, ia tak sedikitpun menanggapi ucapan Shilla.
Shilla
terdiam sejenak, ia menatap Alvin lantas menarik nafas panjang, senyum manis
itu terlukis diwajahnya. Tak lama menatap Alvin, Shilla menggeleng beberapa
kali seraya tertawa kecil,
“Vin…
mau sampe kapan kamu sadar kalo kamu tuh sebenernya cinta ama Via…??” tanya
Shilla pada akhirnya memecah keheningan. Alvin tersentak, ia menatap Shilla
dengan sangat tajam. Lancang sekali Shilla berkata seperti itu padanya.
Tak
peduli meski Alvin menatapnya dengan tajam seperti itu, Shilla tetap tersenyum
tenang. Dan kali ini Shilla memegang kedua pundak Alvin lantas berkata,
“Vin,
aku udah lumayan lama kenal sama kamu, aku tahu semua tentang kamu, aku tau
semua sifat-sifat kamu, aku tau gimana jeleknya kamu, bagusnya kamu gimana, aku
hafal semuanya Vin, bahkan sekarang ini, detik ini, aku tau, sangat tau malah
kalo kamu lagi mikirin Via…”
“ck….”
Alvin berdecak dan memasang wajah bosan, atau lebih tepatnya memasang wajah
kebingungan. Alvin menyingkirkan kedua tangan Shilla dari pundaknya.
“udah
deh Shill… gak usah sok tau lagi, bisa gak…? Lagian kamu kenapa sih
berani-beraninya deketin aku lagi? Kamu tau kan, kalo aku lagi marah banget
sama kamu dan Cakka, ato jangan-jangan kamu udah lupa, kalo kamu udah
SELINGKUHIN aku sama SAHABAT aku sendiri….?” Tegas Alvin dengan memberikan
tekanan pada beberapa kata. Shilla tetap terlihat tenang meskipun ia merasa
sedikit tertohok oleh ucapan Alvin.
“sekarang
itu topic kita lain Vin, topic kita sekarang tuh tentang perasaan kamu ke Sivia
yang sebenernya….”
“dan
kamu jangan mengalihkan masalah deh Shill dengan membawa-bawa topic gak penting
itu, kamu fikir aku udah lupa sama semua penghianatan kamu, BUSUK KAMU
SHILL…..”
“sekarang
aku Tanya sama kamu, sekarang itu yang lagi ngalihin permasalahan siapa? Kamu
Vin, bukan aku… sejak awal aku tahu kamu tuh ada rasa sama Sivia, kamu gak bisa
hindarin itu, gak akan pernah bisa, mau gimanapun kamu usaha, kamu tetep gak
akan bisa menghindar dari perasaan kamu ke Sivia… KAMU SAYANG SAMA DIA….”
Alvin
bangkit dari hadapan Shilla lalu pergi meninggalkan Shilla begitu saja tanpa
mengucapkan sepatah kalimatpun. Benar apa yang Shilla katakan, sampai kapanpun
Alvin tidak akan pernah bisa menghindari perasaannya pada Sivia. Tuhan telah
terlanjur menganugerahkan rasa itu dihati Alvin. Mungkin saat ini, Alvin hanya
belum menyadari tentang bagaimana perasaannya yang sesungguhnya pada Sivia,
tapi suatu saat nanti Alvin akan menyadari semuanya.
^_^
Alvin
menghentinkan motornya saat ia melihat Sivia yang waktu itu tengah berdiri di
Halte depan sekolah. Sivia pasti sedang menunggu Bus. Alvin menatap Sivia
lumayan lama. Saat menyadari bahwa Alvin sedang memperhatikannya, Sivia melihat
kearah Alvin sejenak lantas mengalihkan perhatiannya dan berpura-pura tidak
melihat Alvin.
‘Duuhh…
Kak Alvin ngapain sih pake natap Via kaya’ gitu…? Via kan jadi salting…’ batin
Sivia seraya tetap berusaha terlihat sesantai mungkin.
Saat
Alvin berniat menghampiri Sivia, tiba-tiba saja Gabriel datang menghampiri
Sivia menggunakan motornya. Alvin kalah cepat dari Gabriel. Gabriel
menghentikan motornya tepat disamping Sivia,
“Kakak
anter pulang yuk!” ajak Gabriel sambil tersenyum sangat manis. Sivia terlihat
berfikir keras. Sesekali ia menatap Alvin yang saat itu terlihat sedikit
kecewa.
“ayo!”
ajak Gabriel sekali lagi. Sivia yang memang sudah tidak bisa lagi menolak
ajakan Gabriel akhirnya mengangguk dengan ragu dan menerima ajakan Gabriel
dengan sangat terpaksa. Ketika Sivia akan menaiki motor Gabriel, Ia pun
melempar tatapannya pada Alvin. Alvin terlihat kesal.
“gue
duluan ya Vin….” Kata Gabriel saat ia melewati Alvin. Beberapa saat setelah
Gabriel dan Sivia menghilang dari pandangannya, Alvin langsung mengacak
rambutnya seraya mengerang,
“errghh….!”
^_^
Alvin
menceburkan tubuhnya dikolam renang. Ia berusaha meredam segala kegalauan yang
kini melandanya dengan berenang. Biasanya disaat-saat seperti ini Alvin selalu
menceritkan masalahnya pada Bunda, tapi untuk kali ini Alvin tidak bisa
bercerita dengan Bunda, karna sekarang Bunda sedang ke Singapore untuk
menyelesaikan beberapa tugasnya dari kantor.
Berenang
bukannya mampu membuat Alvin merasa jauh lebih baik tapi justru sebaliknya.
Kebimbangan dihati Alvin semakin lama semakin memuncak, otakknya pun dipenuhi
oleh gadis lemot yang selalu membuatnya kesal itu. Alvin merasa heran dengan
dirinya sendiri, biasanya ia tak pernah seperti ini.
Alvin
yang merasa bosan berenang akhirnya memutuskan untuk berhenti berenang. Dan
sekarang Alvin malah duduk melamun ditepi kolam renangnya. Fikirannya jelas
tertuju pada Sivia.
‘gue
kenapa sih? Kenapa sejak kemaren gue ngerasa ada yang aneh sama gue? Apa
jangan-jangan bener apa yang Shilla bilang, apa jangan-jangan gue bener-bener
suka sama si Lemot itu…? Ya Tuhan…. Kenapa harus begini…?’ Tanya Alvin pada
dirinya sendiri lantas kembali menceburkan tubuhnya dikolam renang.
^_^
Waktu
sudah menunjukan pukul 19.30. Alvin terlihat berdiri dengan tegak didepan pintu
rumah Sivia. Alvin ragu, apakah ia harus masuk atau kembali saja kerumahnya.
Setelah cukup lama berfikir, Alvin akhirnya memutuskan untuk masuk saja kerumah
Sivia.
Sebesar
apapun masalah Alvin dengan Sivia saat ini, ia harus tetap professional.
Bukankah sekarang Alvin sedang bertindak sebagai Guru Les Privat Sivia? Tidak
seharusnyakan Alvin mencampur adukan masalah pribadinya dengan pekerjaannya?
Apapun yang terjadi Alvin harus tetap berlaku Profesional seperti apa yang Bundanya
ajarkan. Maka Alvin pun menghela nafas panjangnya, dengan keyaikanan yang sudah
ia kumpulkan, Alvinpun mengetuk pintu rumah Sivia. Tak lama menunggu, pembantu
rumah Siviapun membukakan pintu untuk Alvin dan mempersilahkan Alvin masuk.
Alvin
memasuki rumah Sivia dengan perasaan yang tak karuan. Sebelumnya Alvin tak
pernah merasa seperti itu. Saat tiba diruang tengah, Alvin mendapati Sivia yang
waktu itu terlihat sibuk membaca LKS Kimia nya. Alvin tahu pasti, bahwa Sivia
hanya berpura-pura sibuk saja. Alvin berusaha terlihat biasa-biasa saja.
Alvin
melepas buku-buku yang ia bawa dihadapan Sivia lantas duduk dihadapan Sivia.
Dengan santai Alvin berkata,
“Ayo
kita belajar!”
“hemm….”
Jawab Sivia cuek tanpa sedikitpun menatap Alvin. Rupanya Sivia benar-benar
ngambek! Fikir Alvin.
Alvin
mulai menyampaikan Materi yang malam ini ia ajarkan pada Sivia. Sivia berusaha
focus meskipun ia rasa sulit. Sesekali Sivia mendesah tak kentara. Alvin yang
dapat menangkap kerisauan Siviapun melepaskan buku paket yang sedari tadi ia
pegang. Dengan ragu Alvin meletakkan tangannya tepat diatas telapak tangan
Sivia. Kontan saja Sivia merasa terkejut dengan apa yang Alvin lakukan, ia
langsung melempar tatapannya pada Alvin yang waktu itu juga tengah menatapnya
dengan tatapan bertanya,
“Via
kenapa? Kaya’nya lagi gak focus. Ayo dong focus!” kata Alvin selembut mungkin.
Tapi apa yang malah Sivia lakukan? Ia menarik tangannya dari genggaman Alvin
seraya berkata dengan nada yang lumayan sinis,
“Ck…
ini juga udah focus…” kali ini Sivia berpura-pura sibuk dengan membaca buku
catatannya. Alvin menggeleng pelan. Ia tak menyangka bahwa Sivia bisa sedingin
itu padanya.
‘Via
kaya’nya bener-bener marah sama gue… hmmm… apa dia belom baca diary nya ya…??’
batin Alvin seraya menatap Sivia.
Semakin
lama Alvin merasa semakin resah. Ia benar-benar merasa tak tahan dengan
kecuekan Sivia padanya. Tak lama Alvin bangkit dari hadapan Sivia lantas
berjalan pelan kearah jendela. Sivia tak bergeming.
“Via….
Kak Alvin minta maaf ya sama Via…?” ucap Alvin pelan namun terdengar sangat
jelas. Alvin berdiri membelakangi Sivia dan melihat keluar jendela. Alvin
kembali melanjutkan perkataannya,
“Kak
Alvin tau, Kak Alvin yang salah, Kak Alvin yang keterlaluan sama Via, gak
seharusnya Kak Alvin bicara kasar sama Via, tapi sungguh waktu itu Kak Alvin
bener-bener lagi kacau banget, Kak Alvin gak nyangka kalo Via akan semarah ini
sama Kak Alvin….” Sivia masih diam, tidak memberikan tanggapan apapun.
“dan
masalah perasaan Via Ke Kak Alvin, Kak Alvin bukannya gak ngehargain perasaan
Via, Kak Alvin hargain perasaan Via, sangat hargain, tapi Via mesti tau, Kak
Alvin belum bisa terima perasaan Via gitu aja, Kak Alvin masih harus berfikir…
Kak Alvin gak bisa larang Via buat suka sama Kak Alvin, tapi Kak Alvin juga gak
bisa nerima Via, Via tau kan, apapun itu, jika dipaksakan pasti hasil akhirnya
adalah luka…. Dan Kak Alvin gak mau kita nanti sama-sama terluka…” keheningan
masih tercipta.
“sekarang
Kak Alvin mau jujur sama Via… Kak Alvin….” Alvin menghela nafas sejenak “Kak
Alvin ngerasa udah mulai suka sama Via, tapi untuk saat ini Kak Alvin belum
benar-benar yakin sama perasaan Kak Alvin, pliss kasi Kak Alvin waktu buat
ngeyakinin hati Kak Alvin, dan Kak Alvin Cuma mau minta ke Via…” Alvin kembali
memotong ucapannya, “Kak Alvin Cuma mau minta Via bersabar, bersabar buat
nungguin Kak Alvin, dan satu lagi, Kak Alvin minta…. Pliss jangan lupain Kak
Alvin, tunggu Kak Alvin, Vi….” Kata Alvin dengan nada memohon.
Alvinpun
membalik badannya. Saat berbalik Alvin mendapati Sivia yang waktu itu tengah
tertidur pulas sembari terduduk. Sivia meletakkan kepalanya diatas meja.
Ternyata sedari tadi, Sivia tak sedikitpun mendengarkan ucapan Alvin. Alvin
mendesah. Ia berjalan mendekati Sivia lantas duduk disamping Sivia yang waktu itu
sudah terlelap.
Alvin
menatapi Sivia. Ia tersenyum kecil saat melihat wajah polos gadis Lemotnya yang
kini sudah berubah karna kesalahan yang ia sendiri lakukan. Alvin mengusap
puncak kepala Sivia lantas berkata,
“jadi
dari tadi Via gak dengerin omongan Kak Alvin…? Via pasti capek banget ya hari
ini…??”
Secara
perlahan Alvin mengangkat kepala Sivia, dan dengan sangat hati-hati Alvin
merebahkan kepala Sivia diatas pundaknya. Alvin merangkul pundak Sivia lantas
melingkarkan kedua tangan Sivia dipinggangnya. Kini rangkulan itu sudah berubah
menjadi sebuah pelukan hangat yang membuat Sivia merasa sangat nyaman. Tapi
tetap saja Sivia menganggap bahwa semua itu hanyalah mimpinya saja. Bagaimana
tidak? saat itu Sivia tengah terlelap, tapi meskipun ia sedang terlelap, Sivia
dapat merasakan hangatnya pelukan itu.
“mungkin
belum saatnya Via tahu tentang perasaan Kak Alvin… Kak Alvin janji, suatu saat
Via pasti akan tau, Kak Alvin janji…” ucap Alvin setengah berbisik lalu
mendaratkan kecupan hangat pada puncak kepala Sivia.
^_^
Sivia
terbangun saat Mama menyibak kordennya dan membuka jendela kamarnya. Sinar
matahari pagi menerpa tubuh Sivia. Sivia bangkit dan terduduk diatas kasurnya
dalam keadaan setengah sadar. Mama mendekati Sivia,
“ayo
cepet mandi sana! Liat matahari udah tinggi, nanti kamu telat lagi kesekolah…”
“Ma…
yang bawa Via kekamar siapa? Bukannya semalem Via belajar sama Kak Alvin
diruang tengah…?” mendengar pertanyaan Sivia, Mama menggeleng beberapa kali
seraya tertawa kecil. Mama membelai lembut rambut Sivia lalu berkata,
“semalem
waktu lagi belajar, kamu malah ninggalin Kak Alvin tidur… mungkin Kak Alvin BT
terus pulang…”
“jadi
semalem Via ketiduran Ma…? Masa’ sih? Via kok gak sadar…?”
“ya
namanya juga lagi ketiduran, emangnya ada orang yang ketiduran dalam keadaan
sadar? Semalem tuh Kak Alvin yang bawa kamu kekamar kamu….”
“ja..jadi
semalem tuh Kak Alvin gendong Via? Sampe kamar Ma…?” Tanya Sivia sekali lagi.
“ya
lagian masa’ Kak Alvin mau nyeret-nyeret kamu sih? Ya udah, mandi buruan, nanti
kamu telat lagi…” Mamapun keluar dari kamar Sivia.
Bukannya
segera bergegas kekamar mandi untuk bersiap-siap, Sivia malah duduk melamun
diatas tempat tidurnya. Ia berusaha mengingat-ingat kejadian semalam, namun
sayang Sivia tak bisa mengingat apapun. Sivia menyentuh bibirnya secara
perlahan lantas berkata pada dirinya sendiri,
“apa
semalem Kak Alvin nyium Via…? Tapi gak mungkin deh, tapi Via ngerasa kalo
semalem tuh Kak Alvin nyium Via… apa itu Cuma mimpi? Kalo Cuma mimpi, kenapa
Via masih ngerasain semuanya dengan jelas…? Eergghh… tau ah, Via bingung…”
Siviapun bangkit dari tempat tidurnya lantas beranjak kekamar mandi.
^_^
Sivia
menatap kotak makanan yang ada ditangannya. Senyum manis itu kembali merekah
diwajah cantiknya. Kotak makanan yang Sivia bawa itu berisi Tiramisu, salah
satu makanan kesukaan Alvin. Sivia sudah memasang rencana bahwa hari ini juga
ia akan minta maaf pada Alvin. Sivia merasa bahwa sudah saatnya ia mengakhiri
kecuekannya pada Alvin. Sivia juga tak mau munafik karna membohongi perasaannya
sendiri, Sivia jujur pada dirinya sendiri bahwa ia sama sekali tak bisa jauh
dari Alvin, sama sekali tak bisa.
Sivia
pergi kekelas Alvin, namun sayang Sivia tak menemui Alvin dikelasnya, yang ia
temui malah Shilla. Saat Sivia akan pergi dari kelas Alvin tiba-tiba saja
Shilla memanggilnya.
“Vi…”
mendengar panggilan Shilla, mau tak mau Sivia harus menghentikan langkahnya.
Sivia berbalik dan menatap Shilla yang waktu itu sudah berdiri dibelakangnya
dengan tegak,
“eehh….
Kak Shilla…??” ucap Sivia dengan senyum yang dipaksakan.
“nyari
Alvin ya…?” Tanya Shilla. Sivia tersentak, tapi tak lama ia langsung
mengangguk,
“hehe…i..iya,
kok Kak Shilla tau sih?”
“tau
dong! Ikut Kak Shilla yuk!” ajak Shilla seraya menarik pergelangan tangan Sivia.
Sivia yang memang tidak bisa menolak ajakan Shillapun akhirnya dengan pasrah
mengikuti Shilla.
^_^
“Vin,
gue perhatiin, kaya’nya akhir-akhiran ini lo lagi galau banget ya…?” Tanya Rio
pada Alvin saat mereka berdua tengah sarapan bersama dikantin. Alvin berdecak,
“ck…sok
tau lo…”
“tapi
bener kan…? Emangnya lo lagi galau kenapa? Gara-gara siapa? Lo masih mikirin
masalah lo sama Cakka dan Shilla ya…? Ya udah kali Vin, yang lalu biarin aja
berlalu, gak usah lo inget-inget lagi, kasian tau Cakka nya lo cuekin terus,
dia sampe malu ngumpul bareng sama kita…lo maafin dia apa susahnya sih??”
“udah
deh Yo, gue lagi males bahas masalah itu! Dan lagian gue lagi gak mikirin
masalah itu kok, males tau gak gue mikirin hal gak penting kaya’ gitu…”
“ya
terus kalo gak masalah itu, emangnya lo lagi mikirin masalah apa? Lo lagi ada
masalah? Ama siapa?” Tanya Rio lagi. Belum sempat Alvin menjawab pertanyaan
Rio, seseorang malah mendahuluinya,
“ama
Sivia…!” jawab seseorang yang ternyata adalah Gabriel. Gabriel menjawab pertanyaan
Rio dengan sangat santai seraya duduk disamping Alvin dan dihadapan Rio.
“ya
kan…??” Tanya Gabriel pada Alvin sambil merangkul Alvin.
“Ck…
lo juga pake ikut-ikutan sok tau!” kata Alvin sembari menyingkirkan tangan
Gabriel dari pundaknya.
“udah
deh Vin, lo ngaku aja kali…! Keliatan kok, kalo lo lagi mikirin Sivia, gimana
gak? Udah 2 hari belakangan ini Via kan cuek sama lo! Hmmm…. Jangan-jangan lo
udah mulai suka ya sama Via…??” Gabriel mulai melepaskan umpan untuk Alvin.
Alvin mulai terlihat salah tingkah dan sedikit canggung. Alvin tak bisa
membantah tapi ia juga tak bisa membenarkan tuduhan Gabriel itu, karna ia
sendiripun masih ragu dengan perasaannya pada Sivia.
Melihat
Alvin yang hanya diam saja, Gabriel kembali memancing Alvin, memaksanya
mengakui perasaannya,
“ngaku
aja kali Vin, kalo suka bilang suka, kalo gak bilang gak! Kalo lo suka bagus,
tapi kalo lo gak suka, biar Via buat gue aja, gimana…??” Gabriel mengajukan
pertanyaan itu bukan karna ia memiliki niat jahat pada Alvin, tapi itu semata-mata
ia lakukan supaya Alvin mau mengakui perasaannya, itu saja. Alvin yang akhirnya
terpancing dengan ucapan Gabrielpun berkata,
“kalo
lo mau ambil aja sana! Lo fikir gue suka sama cewek lemot itu? Sorry sorry aja
ya? Kaya’ gak ada cewek laen aja perasaan. Dan mesti lo tau, Sivia itu bukan
tipe gue, lagian cowok mana sih yang mau sama cewek lemot dan Blo’on macam
Sivia? gue rasa Cuma cowok gak waras aja yang suka sama dia….” Kata-kata Alvin
begitu tajam dan terkesan sangat merendahkan Sivia, tapi sungguh, semua apa
yang keluar dari mulut Alvin sama sekali tak sesuai dengan isi hatinya yang
sebenarnya. Alvin hanya berusaha menghindar dari perasaannya pada Sivia.
“jadi
lo bener-bener gak suka sama Via…??” Tanya Gabriel sekali lagi,
“iya
gue gak suka sama Sivia! Sekali lagu gue tegaskan, Sivia bukan tipe gue, apapun
yang terjadi gue gak akan pernah suka sama dia, PAHAM LO….??”
“KAK
ALVIN….???” Ucap seseorang dari belakang Alvin. Mendengar suara itu, Alvin dan
Gabriel langsung menoleh kebelakang. Betapa terkejutnya mereka saat mereka
melihat Sivia dan Shilla berdiri dibelakang mereka. Saat itu Sivia sudah
benar-benar berurai air mata, bagaimana tidak? Kata-kata Alvin begitu tajam
menusuk hati Sivia. Alvin tertegun tak percaya saat melihat Sivia,
“VIAAA…???”
BERSAMBUNG…..


0 comments:
Post a Comment