Saturday, May 18, 2013

0

MY DIARY Part 15



Setelah membersihkan luka Alvin yang lumayan parah dan mengoleskannya dengan obat merah, Shilla membalut luka Alvin dengan sangat hati-hati dan telaten menggunakan perban. Sedari tadi, sejak Shilla membawanya ke UKS untuk mengobati lukanya, Alvin tak mengeluarkan sepatah katapun untuk Shilla.
            “beres…” kata Shilla setelah ia selesai membalut luka Alvin. Sama seperti tadi, Alvin hanya diam, ia tak sedikitpun menanggapi ucapan Shilla.
            Shilla terdiam sejenak, ia menatap Alvin lantas menarik nafas panjang, senyum manis itu terlukis diwajahnya. Tak lama menatap Alvin, Shilla menggeleng beberapa kali seraya tertawa kecil,
            “Vin… mau sampe kapan kamu sadar kalo kamu tuh sebenernya cinta ama Via…??” tanya Shilla pada akhirnya memecah keheningan. Alvin tersentak, ia menatap Shilla dengan sangat tajam. Lancang sekali Shilla berkata seperti itu padanya.
            Tak peduli meski Alvin menatapnya dengan tajam seperti itu, Shilla tetap tersenyum tenang. Dan kali ini Shilla memegang kedua pundak Alvin lantas berkata,
            “Vin, aku udah lumayan lama kenal sama kamu, aku tahu semua tentang kamu, aku tau semua sifat-sifat kamu, aku tau gimana jeleknya kamu, bagusnya kamu gimana, aku hafal semuanya Vin, bahkan sekarang ini, detik ini, aku tau, sangat tau malah kalo kamu lagi mikirin Via…”
            “ck….” Alvin berdecak dan memasang wajah bosan, atau lebih tepatnya memasang wajah kebingungan. Alvin menyingkirkan kedua tangan Shilla dari pundaknya.
            “udah deh Shill… gak usah sok tau lagi, bisa gak…? Lagian kamu kenapa sih berani-beraninya deketin aku lagi? Kamu tau kan, kalo aku lagi marah banget sama kamu dan Cakka, ato jangan-jangan kamu udah lupa, kalo kamu udah SELINGKUHIN aku sama SAHABAT aku sendiri….?” Tegas Alvin dengan memberikan tekanan pada beberapa kata. Shilla tetap terlihat tenang meskipun ia merasa sedikit tertohok oleh ucapan Alvin.
            “sekarang itu topic kita lain Vin, topic kita sekarang tuh tentang perasaan kamu ke Sivia yang sebenernya….”
            “dan kamu jangan mengalihkan masalah deh Shill dengan membawa-bawa topic gak penting itu, kamu fikir aku udah lupa sama semua penghianatan kamu, BUSUK KAMU SHILL…..”
            “sekarang aku Tanya sama kamu, sekarang itu yang lagi ngalihin permasalahan siapa? Kamu Vin, bukan aku… sejak awal aku tahu kamu tuh ada rasa sama Sivia, kamu gak bisa hindarin itu, gak akan pernah bisa, mau gimanapun kamu usaha, kamu tetep gak akan bisa menghindar dari perasaan kamu ke Sivia… KAMU SAYANG SAMA DIA….”
            Alvin bangkit dari hadapan Shilla lalu pergi meninggalkan Shilla begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kalimatpun. Benar apa yang Shilla katakan, sampai kapanpun Alvin tidak akan pernah bisa menghindari perasaannya pada Sivia. Tuhan telah terlanjur menganugerahkan rasa itu dihati Alvin. Mungkin saat ini, Alvin hanya belum menyadari tentang bagaimana perasaannya yang sesungguhnya pada Sivia, tapi suatu saat nanti Alvin akan menyadari semuanya.

^_^
            Alvin menghentinkan motornya saat ia melihat Sivia yang waktu itu tengah berdiri di Halte depan sekolah. Sivia pasti sedang menunggu Bus. Alvin menatap Sivia lumayan lama. Saat menyadari bahwa Alvin sedang memperhatikannya, Sivia melihat kearah Alvin sejenak lantas mengalihkan perhatiannya dan berpura-pura tidak melihat Alvin.
            ‘Duuhh… Kak Alvin ngapain sih pake natap Via kaya’ gitu…? Via kan jadi salting…’ batin Sivia seraya tetap berusaha terlihat sesantai mungkin.
            Saat Alvin berniat menghampiri Sivia, tiba-tiba saja Gabriel datang menghampiri Sivia menggunakan motornya. Alvin kalah cepat dari Gabriel. Gabriel menghentikan motornya tepat disamping Sivia,
            “Kakak anter pulang yuk!” ajak Gabriel sambil tersenyum sangat manis. Sivia terlihat berfikir keras. Sesekali ia menatap Alvin yang saat itu terlihat sedikit kecewa.
            “ayo!” ajak Gabriel sekali lagi. Sivia yang memang sudah tidak bisa lagi menolak ajakan Gabriel akhirnya mengangguk dengan ragu dan menerima ajakan Gabriel dengan sangat terpaksa. Ketika Sivia akan menaiki motor Gabriel, Ia pun melempar tatapannya pada Alvin. Alvin terlihat kesal.
            “gue duluan ya Vin….” Kata Gabriel saat ia melewati Alvin. Beberapa saat setelah Gabriel dan Sivia menghilang dari pandangannya, Alvin langsung mengacak rambutnya seraya mengerang,
            “errghh….!”

^_^

            Alvin menceburkan tubuhnya dikolam renang. Ia berusaha meredam segala kegalauan yang kini melandanya dengan berenang. Biasanya disaat-saat seperti ini Alvin selalu menceritkan masalahnya pada Bunda, tapi untuk kali ini Alvin tidak bisa bercerita dengan Bunda, karna sekarang Bunda sedang ke Singapore untuk menyelesaikan beberapa tugasnya dari kantor.
            Berenang bukannya mampu membuat Alvin merasa jauh lebih baik tapi justru sebaliknya. Kebimbangan dihati Alvin semakin lama semakin memuncak, otakknya pun dipenuhi oleh gadis lemot yang selalu membuatnya kesal itu. Alvin merasa heran dengan dirinya sendiri, biasanya ia tak pernah seperti ini.
            Alvin yang merasa bosan berenang akhirnya memutuskan untuk berhenti berenang. Dan sekarang Alvin malah duduk melamun ditepi kolam renangnya. Fikirannya jelas tertuju pada Sivia.
            ‘gue kenapa sih? Kenapa sejak kemaren gue ngerasa ada yang aneh sama gue? Apa jangan-jangan bener apa yang Shilla bilang, apa jangan-jangan gue bener-bener suka sama si Lemot itu…? Ya Tuhan…. Kenapa harus begini…?’ Tanya Alvin pada dirinya sendiri lantas kembali menceburkan tubuhnya dikolam renang.

^_^
            Waktu sudah menunjukan pukul 19.30. Alvin terlihat berdiri dengan tegak didepan pintu rumah Sivia. Alvin ragu, apakah ia harus masuk atau kembali saja kerumahnya. Setelah cukup lama berfikir, Alvin akhirnya memutuskan untuk masuk saja kerumah Sivia.
            Sebesar apapun masalah Alvin dengan Sivia saat ini, ia harus tetap professional. Bukankah sekarang Alvin sedang bertindak sebagai Guru Les Privat Sivia? Tidak seharusnyakan Alvin mencampur adukan masalah pribadinya dengan pekerjaannya? Apapun yang terjadi Alvin harus tetap berlaku Profesional seperti apa yang Bundanya ajarkan. Maka Alvin pun menghela nafas panjangnya, dengan keyaikanan yang sudah ia kumpulkan, Alvinpun mengetuk pintu rumah Sivia. Tak lama menunggu, pembantu rumah Siviapun membukakan pintu untuk Alvin dan mempersilahkan Alvin masuk.
            Alvin memasuki rumah Sivia dengan perasaan yang tak karuan. Sebelumnya Alvin tak pernah merasa seperti itu. Saat tiba diruang tengah, Alvin mendapati Sivia yang waktu itu terlihat sibuk membaca LKS Kimia nya. Alvin tahu pasti, bahwa Sivia hanya berpura-pura sibuk saja. Alvin berusaha terlihat biasa-biasa saja.
            Alvin melepas buku-buku yang ia bawa dihadapan Sivia lantas duduk dihadapan Sivia. Dengan santai Alvin berkata,
            “Ayo kita belajar!”
            “hemm….” Jawab Sivia cuek tanpa sedikitpun menatap Alvin. Rupanya Sivia benar-benar ngambek! Fikir Alvin.
            Alvin mulai menyampaikan Materi yang malam ini ia ajarkan pada Sivia. Sivia berusaha focus meskipun ia rasa sulit. Sesekali Sivia mendesah tak kentara. Alvin yang dapat menangkap kerisauan Siviapun melepaskan buku paket yang sedari tadi ia pegang. Dengan ragu Alvin meletakkan tangannya tepat diatas telapak tangan Sivia. Kontan saja Sivia merasa terkejut dengan apa yang Alvin lakukan, ia langsung melempar tatapannya pada Alvin yang waktu itu juga tengah menatapnya dengan tatapan bertanya,
            “Via kenapa? Kaya’nya lagi gak focus. Ayo dong focus!” kata Alvin selembut mungkin. Tapi apa yang malah Sivia lakukan? Ia menarik tangannya dari genggaman Alvin seraya berkata dengan nada yang lumayan sinis,
            “Ck… ini juga udah focus…” kali ini Sivia berpura-pura sibuk dengan membaca buku catatannya. Alvin menggeleng pelan. Ia tak menyangka bahwa Sivia bisa sedingin itu padanya.
            ‘Via kaya’nya bener-bener marah sama gue… hmmm… apa dia belom baca diary nya ya…??’ batin Alvin seraya menatap Sivia.
            Semakin lama Alvin merasa semakin resah. Ia benar-benar merasa tak tahan dengan kecuekan Sivia padanya. Tak lama Alvin bangkit dari hadapan Sivia lantas berjalan pelan kearah jendela. Sivia tak bergeming.
            “Via…. Kak Alvin minta maaf ya sama Via…?” ucap Alvin pelan namun terdengar sangat jelas. Alvin berdiri membelakangi Sivia dan melihat keluar jendela. Alvin kembali melanjutkan perkataannya,
            “Kak Alvin tau, Kak Alvin yang salah, Kak Alvin yang keterlaluan sama Via, gak seharusnya Kak Alvin bicara kasar sama Via, tapi sungguh waktu itu Kak Alvin bener-bener lagi kacau banget, Kak Alvin gak nyangka kalo Via akan semarah ini sama Kak Alvin….” Sivia masih diam, tidak memberikan tanggapan apapun.
            “dan masalah perasaan Via Ke Kak Alvin, Kak Alvin bukannya gak ngehargain perasaan Via, Kak Alvin hargain perasaan Via, sangat hargain, tapi Via mesti tau, Kak Alvin belum bisa terima perasaan Via gitu aja, Kak Alvin masih harus berfikir… Kak Alvin gak bisa larang Via buat suka sama Kak Alvin, tapi Kak Alvin juga gak bisa nerima Via, Via tau kan, apapun itu, jika dipaksakan pasti hasil akhirnya adalah luka…. Dan Kak Alvin gak mau kita nanti sama-sama terluka…” keheningan masih tercipta.
            “sekarang Kak Alvin mau jujur sama Via… Kak Alvin….” Alvin menghela nafas sejenak “Kak Alvin ngerasa udah mulai suka sama Via, tapi untuk saat ini Kak Alvin belum benar-benar yakin sama perasaan Kak Alvin, pliss kasi Kak Alvin waktu buat ngeyakinin hati Kak Alvin, dan Kak Alvin Cuma mau minta ke Via…” Alvin kembali memotong ucapannya, “Kak Alvin Cuma mau minta Via bersabar, bersabar buat nungguin Kak Alvin, dan satu lagi, Kak Alvin minta…. Pliss jangan lupain Kak Alvin, tunggu Kak Alvin, Vi….” Kata Alvin dengan nada memohon.
            Alvinpun membalik badannya. Saat berbalik Alvin mendapati Sivia yang waktu itu tengah tertidur pulas sembari terduduk. Sivia meletakkan kepalanya diatas meja. Ternyata sedari tadi, Sivia tak sedikitpun mendengarkan ucapan Alvin. Alvin mendesah. Ia berjalan mendekati Sivia lantas duduk disamping Sivia yang waktu itu sudah terlelap.
            Alvin menatapi Sivia. Ia tersenyum kecil saat melihat wajah polos gadis Lemotnya yang kini sudah berubah karna kesalahan yang ia sendiri lakukan. Alvin mengusap puncak kepala Sivia lantas berkata,
            “jadi dari tadi Via gak dengerin omongan Kak Alvin…? Via pasti capek banget ya hari ini…??”
            Secara perlahan Alvin mengangkat kepala Sivia, dan dengan sangat hati-hati Alvin merebahkan kepala Sivia diatas pundaknya. Alvin merangkul pundak Sivia lantas melingkarkan kedua tangan Sivia dipinggangnya. Kini rangkulan itu sudah berubah menjadi sebuah pelukan hangat yang membuat Sivia merasa sangat nyaman. Tapi tetap saja Sivia menganggap bahwa semua itu hanyalah mimpinya saja. Bagaimana tidak? saat itu Sivia tengah terlelap, tapi meskipun ia sedang terlelap, Sivia dapat merasakan hangatnya pelukan itu.
            “mungkin belum saatnya Via tahu tentang perasaan Kak Alvin… Kak Alvin janji, suatu saat Via pasti akan tau, Kak Alvin janji…” ucap Alvin setengah berbisik lalu mendaratkan kecupan hangat pada puncak kepala Sivia.

^_^
            Sivia terbangun saat Mama menyibak kordennya dan membuka jendela kamarnya. Sinar matahari pagi menerpa tubuh Sivia. Sivia bangkit dan terduduk diatas kasurnya dalam keadaan setengah sadar. Mama mendekati Sivia,
            “ayo cepet mandi sana! Liat matahari udah tinggi, nanti kamu telat lagi kesekolah…”
            “Ma… yang bawa Via kekamar siapa? Bukannya semalem Via belajar sama Kak Alvin diruang tengah…?” mendengar pertanyaan Sivia, Mama menggeleng beberapa kali seraya tertawa kecil. Mama membelai lembut rambut Sivia lalu berkata,
            “semalem waktu lagi belajar, kamu malah ninggalin Kak Alvin tidur… mungkin Kak Alvin BT terus pulang…”
            “jadi semalem Via ketiduran Ma…? Masa’ sih? Via kok gak sadar…?”
            “ya namanya juga lagi ketiduran, emangnya ada orang yang ketiduran dalam keadaan sadar? Semalem tuh Kak Alvin yang bawa kamu kekamar kamu….”
            “ja..jadi semalem tuh Kak Alvin gendong Via? Sampe kamar Ma…?” Tanya Sivia sekali lagi.
            “ya lagian masa’ Kak Alvin mau nyeret-nyeret kamu sih? Ya udah, mandi buruan, nanti kamu telat lagi…” Mamapun keluar dari kamar Sivia.
            Bukannya segera bergegas kekamar mandi untuk bersiap-siap, Sivia malah duduk melamun diatas tempat tidurnya. Ia berusaha mengingat-ingat kejadian semalam, namun sayang Sivia tak bisa mengingat apapun. Sivia menyentuh bibirnya secara perlahan lantas berkata pada dirinya sendiri,
            “apa semalem Kak Alvin nyium Via…? Tapi gak mungkin deh, tapi Via ngerasa kalo semalem tuh Kak Alvin nyium Via… apa itu Cuma mimpi? Kalo Cuma mimpi, kenapa Via masih ngerasain semuanya dengan jelas…? Eergghh… tau ah, Via bingung…” Siviapun bangkit dari tempat tidurnya lantas beranjak kekamar mandi.

^_^
            Sivia menatap kotak makanan yang ada ditangannya. Senyum manis itu kembali merekah diwajah cantiknya. Kotak makanan yang Sivia bawa itu berisi Tiramisu, salah satu makanan kesukaan Alvin. Sivia sudah memasang rencana bahwa hari ini juga ia akan minta maaf pada Alvin. Sivia merasa bahwa sudah saatnya ia mengakhiri kecuekannya pada Alvin. Sivia juga tak mau munafik karna membohongi perasaannya sendiri, Sivia jujur pada dirinya sendiri bahwa ia sama sekali tak bisa jauh dari Alvin, sama sekali tak bisa.
            Sivia pergi kekelas Alvin, namun sayang Sivia tak menemui Alvin dikelasnya, yang ia temui malah Shilla. Saat Sivia akan pergi dari kelas Alvin tiba-tiba saja Shilla memanggilnya.
            “Vi…” mendengar panggilan Shilla, mau tak mau Sivia harus menghentikan langkahnya. Sivia berbalik dan menatap Shilla yang waktu itu sudah berdiri dibelakangnya dengan tegak,
            “eehh…. Kak Shilla…??” ucap Sivia dengan senyum yang dipaksakan.
            “nyari Alvin ya…?” Tanya Shilla. Sivia tersentak, tapi tak lama ia langsung mengangguk,
            “hehe…i..iya, kok Kak Shilla tau sih?”
            “tau dong! Ikut Kak Shilla yuk!” ajak Shilla seraya menarik pergelangan tangan Sivia. Sivia yang memang tidak bisa menolak ajakan Shillapun akhirnya dengan pasrah mengikuti Shilla.

^_^
            “Vin, gue perhatiin, kaya’nya akhir-akhiran ini lo lagi galau banget ya…?” Tanya Rio pada Alvin saat mereka berdua tengah sarapan bersama dikantin. Alvin berdecak,
            “ck…sok tau lo…”
            “tapi bener kan…? Emangnya lo lagi galau kenapa? Gara-gara siapa? Lo masih mikirin masalah lo sama Cakka dan Shilla ya…? Ya udah kali Vin, yang lalu biarin aja berlalu, gak usah lo inget-inget lagi, kasian tau Cakka nya lo cuekin terus, dia sampe malu ngumpul bareng sama kita…lo maafin dia apa susahnya sih??”
            “udah deh Yo, gue lagi males bahas masalah itu! Dan lagian gue lagi gak mikirin masalah itu kok, males tau gak gue mikirin hal gak penting kaya’ gitu…”
            “ya terus kalo gak masalah itu, emangnya lo lagi mikirin masalah apa? Lo lagi ada masalah? Ama siapa?” Tanya Rio lagi. Belum sempat Alvin menjawab pertanyaan Rio, seseorang malah mendahuluinya,
            “ama Sivia…!” jawab seseorang yang ternyata adalah Gabriel. Gabriel menjawab pertanyaan Rio dengan sangat santai seraya duduk disamping Alvin dan dihadapan Rio.
            “ya kan…??” Tanya Gabriel pada Alvin sambil merangkul Alvin.
            “Ck… lo juga pake ikut-ikutan sok tau!” kata Alvin sembari menyingkirkan tangan Gabriel dari pundaknya.
            “udah deh Vin, lo ngaku aja kali…! Keliatan kok, kalo lo lagi mikirin Sivia, gimana gak? Udah 2 hari belakangan ini Via kan cuek sama lo! Hmmm…. Jangan-jangan lo udah mulai suka ya sama Via…??” Gabriel mulai melepaskan umpan untuk Alvin. Alvin mulai terlihat salah tingkah dan sedikit canggung. Alvin tak bisa membantah tapi ia juga tak bisa membenarkan tuduhan Gabriel itu, karna ia sendiripun masih ragu dengan perasaannya pada Sivia.
            Melihat Alvin yang hanya diam saja, Gabriel kembali memancing Alvin, memaksanya mengakui perasaannya,
            “ngaku aja kali Vin, kalo suka bilang suka, kalo gak bilang gak! Kalo lo suka bagus, tapi kalo lo gak suka, biar Via buat gue aja, gimana…??” Gabriel mengajukan pertanyaan itu bukan karna ia memiliki niat jahat pada Alvin, tapi itu semata-mata ia lakukan supaya Alvin mau mengakui perasaannya, itu saja. Alvin yang akhirnya terpancing dengan ucapan Gabrielpun berkata,
            “kalo lo mau ambil aja sana! Lo fikir gue suka sama cewek lemot itu? Sorry sorry aja ya? Kaya’ gak ada cewek laen aja perasaan. Dan mesti lo tau, Sivia itu bukan tipe gue, lagian cowok mana sih yang mau sama cewek lemot dan Blo’on macam Sivia? gue rasa Cuma cowok gak waras aja yang suka sama dia….” Kata-kata Alvin begitu tajam dan terkesan sangat merendahkan Sivia, tapi sungguh, semua apa yang keluar dari mulut Alvin sama sekali tak sesuai dengan isi hatinya yang sebenarnya. Alvin hanya berusaha menghindar dari perasaannya pada Sivia.
            “jadi lo bener-bener gak suka sama Via…??” Tanya Gabriel sekali lagi,
            “iya gue gak suka sama Sivia! Sekali lagu gue tegaskan, Sivia bukan tipe gue, apapun yang terjadi gue gak akan pernah suka sama dia, PAHAM LO….??”


            “KAK ALVIN….???” Ucap seseorang dari belakang Alvin. Mendengar suara itu, Alvin dan Gabriel langsung menoleh kebelakang. Betapa terkejutnya mereka saat mereka melihat Sivia dan Shilla berdiri dibelakang mereka. Saat itu Sivia sudah benar-benar berurai air mata, bagaimana tidak? Kata-kata Alvin begitu tajam menusuk hati Sivia. Alvin tertegun tak percaya saat melihat Sivia,


            “VIAAA…???”


                                    BERSAMBUNG…..

0 comments:

Post a Comment