“Vi, bangun, Vi…” ujar Cakka sambil menggoyangkan pundak Sivia beberapa
kali. Sivia melenguh pelan dalam keadaan setengah sadar. Dan ketika matanya
dengan samar-samar menangkap siluet Cakka, kedua mata Sivia langsung melebar.
Tidak butuh waktu yang lama, Sivia langsung mengubah posisinya yang semula
berbaring menjadi duduk.
“CAKKA….??” Pekik Sivia dengan raut
wajah tak percaya.
Bagaimana tidak? Baru semalam ia
bertengkar hebat dengan Cakka, dan bahkan tidak tanggung-tanggung Sivia
meninggalkan Cakka begitu saja dipesta bersama Alvin, tapi pagi ini, Cakka
malah datang kerumahnya dan membangunkannya.
Cakka tersenyum lebar pada Sivia.
Dan Cakka benar-benar bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa antara
dirinya dengan Sivia. Sivia terpana untuk sejenak.
“udah nggak usah bengong gitu! Mandi
cepetan!! Gue mau ngajak lo jalan-jalan hari ini” kata Cakka yang langsung
menarik Sivia dari keterpanaannya. Sivia terkesiap, ia menggelengkan kepalanya beberapa
kali.
Melihat ekspresi Sivia yang menurut
Cakka sangat lucu, Cakka pun terkekeh geli. Ia mengangkat tangan sebelah
kananya lalu mengacak poni Sivia dengan gemes.
“nggak.. nggak ntar dulu…” kata
Sivia seraya menyingkirkan tangan Cakka dari atas kepalanya. Sivia menggenggam
kuat tangan Cakka lalu melanjutkan perkataanya.
“bukannya semalem elo—“
“marah sama lo?” sambar Cakka dengan
cepat. Sivia langsung menangguk dengan wajah yang sok lugu.
Lagi-lagi Cakka terkekeh geli, ia
mengangkat tangannya yang beberapa saat lalu Sivia angkat. Cakka pun mengecup
punggung tangannya sendiri, membalik gumpalan tangan mereka yang bersatu lantas
mengecup cepat punggung tangan Sivia,
“sebenernya gue masih sangat marah
sama lo, tapi kan kita semua tau gimana elo kalo gue marah sama elo, lo bakalan
sakit, haha iya kan?” ucap Cakka dengan sedikit bergurau. Sivia langsung
cemberut dan melepaskan begitu saja genggaman tangannya dari tangan Cakka.
“sialan lo! Gue serius” ucap Sivia
keki sambil membuang mukanya kearah lain.
“hahaha… ok, ok…” Cakka memegang
dagu Sivia lalu membalik wajahnya hingga berhadapan dengannya.
“lo tau kenapa gue nggak marah sama
lo?” Tanya Cakka yang mendadak serius sambil menatap lurus kearah kedua mata
Sivia. Sivia mengangguk ingin tahu.
“karna gue ngerasa, cowok kurang
ajar dan nggak tau etika bernama Alvin Jonathan itu—“ Cakka terlihat ragu
melanjutkan perkataannya. Bukan karna apapun, hanya saja Cakka merasa takut
apa yang akan dia ucapkan nanti adalah
kenyataan yang sebenarnya.
Dan meski bisa membaca semuanya dengan sangat
jelas, tentang perasaan Sivia kepada Alvin, tentang tatapan mata mereka
masing-masing ketika saling memandang, tentang gerak tubuh mereka yang berbeda
saat sedang bersama, dan tentang semua hal yang ada pada diri Alvin dan Sivia,
Cakka tahu betul bahwa ada banyak cinta yang mungkin belum mereka sadari bahkan
mereka tepikan diantara semua itu. Dan Cakka sangat takut akan semua itu, tapi
ia sama sekali tidak memiliki alasan apapun untuk menyangsikannya.
Walapun berat dan akan sangat melukai
perasaannya lagi, Cakka harus mengakui, bahwa Sivia, Sahabat Bawel kesayangan
ini telah jatuh cinta. Dan sial nya, ini adalah cinta pertama bagi Sivia.
Cakka menghela nafas panjang. Sivia menanti
kelanjutan ucapan Cakka dengan tak sabar,
“telah membuat Gadis Bawel gue jatuh cinta”
lanjut Cakka. Ada nada kesakitan dan ketidak sanggupan disana, tapi Sivia sama
sekali tidak peka.
Sivia tersentak hebat. Bahkan jika Cakka tidak
mengatakannya pagi ini, mungkin Sivia tidak akan pernah menyadari kemungkinan
besar yang telah terjadi padanya selama seminggu terakhir ini. Kemungkinan besar bahwa ia telah
jatuh cinta pada Kunyuk itu.
Sivia ingin protes, tapi rasanya sulit sekali
mengeluarkan pembelaan atas hati nya saat ini. Cakka membaca semuanya dengan
sangat tepat.
“gu… gue…”
“udaahh…. Nggak usah nyari alesan! Lo fikir
gue begok?? Mending sekarang mandi deh. Nanti gue akan kasi lo waktu buat
curhat ke gue. Lo mandi sekarang dan gue tunggu dibawah, dan oya, gue punya ini
buat lo…” kata Cakka sambil menyerahkan sebuah baju kaos berwarna merah untuk
Sivia.
Sivia menerima baju kaos pemberian Cakka.
“coba deh lo buka!” pinta Cakka.
Sivia membentangkan baju kaos berwarna merah
itu dihadapannya. Dan Sivia sedikit tergelitik ketika membaca tulisan yang terpampang
di bagian depan baju itu. Tulisannya berbunyi: “GUE SAHABAT CAKKA SELAMANYA”
Sivia tertawa kecil. Ada rasa haru yang
menyelinap di hati kecilnya saat menerima kaos pemberian Cakka. Tidak cukup
sampai disitu saja Cakka membuat Sivia terharu, kali ini Cakka berdiri
dihadapan Sivia lantas menunjukan baju kaos yang sama dengan baju Sivia yang ia
kenakan saat ini.
“lo lihat baju gue!”
Sivia membaca tulisan yang terpampang pada
baju Cakka yang berbunyi: “GUE SAHABAT SIVIA SELAMANYA”
Sivia yang tidak sanggup lagi menahan seluruh
perasaan haru yang memenuhi hatinya saat ini langsung bangkit dari tempat
tidurnya. Ia berjalan kearah Cakka lantas memeluk erat tubuh sahabatnya itu.
Kedua pundak Sivia bergetar menahan isak.
“gue sayang elo, Kka… gue beruntuuuunggg
banget punya sahabat kayak lo, hiks… lain kali gue akan usaha lebih keras lagi
buat nggak bikin lo kecewa lagi sama gue, gue janji akan usaha, Kka, gue
janji…”
Cakka mengangguk beberapa kali. Ia berusaha
tersenyum meski rasa sakit itu mulai menjajah hatinya. Cakka pun membalas
pelukan Sivia. Pelukan persahabatan. Dalam hati Cakka berujar,
“cukup sahabat, Vi! Gue nggak akan
lagi nuntut lebih dari elo. Sekalipun nanti Alvin bisa dapetin lo, gue ikhlas,
dan meskipun gue benci Alvin, tapi gue yakin kalo Cuma dia yang bisa bahagiain
lo, Cuma dia, bukan gue ato yang lainnya…”
^_^
Alvin kesal dan nyaris saja
membanting handphonenya ke lantai. Bagaimana tidak kesal? Sudah 3 kali Alvin
coba menghubungi Sivia tapi Sivia tidak juga menjawab panggilannya. Alvin
terduduk disofa. Kelamaan ia mulai berfikir, buat apa juga Alvin menghubungi Si
Jelek itu?
Bukan kah memang sudah seharusnya ia
tidak berurusan lagi dengan Sivia? Toh juga urusannya sudah selesai dengan
gadis itu semenjak tadi malam. Lalu kenapa pagi ini Alvin masih berusaha
menghubungi Sivia? Dan kenapa juga tiba-tiba Alvin memiliki niat untuk mengajak
Sivia jalan-jalan bersama adik-adik asuhnya? Apa semua itu… ergh… tidak! Alvin
tidak akan pernah mengakuinya. Sampai kapanpun dia tidak mungkin jatuh cinta
pada Sivia. Ya… Alvin yakin dengan itu.
“jangan berfikir lo hebat, Vi…”
gumam Alvin pelan lalu segera beranjak dari kamarnya.
^_^
Sivia memandang bayangan wajahnya
dicermin sambil tersenyum sendiri. Pagi ini Sivia terlihat sangat cantik. Ia
mengenakan baju kaos merah yang tadi Cakka berikan padanya. Baju kaos merah itu
padukan dengan hotpants berwarna hitam.
Baju pemberian Cakka yang agak sedikit kebasaran untuk ukuran tubuhnya itu Sivia
masukan kedalam hotpants nya. Sivia menguncir rambutnya yang panjang keatas
dengan poni lurusnya yang tetap menjuntai di keningnya. Sivia meraih kaca mata
hitam yang ada dihadapannya lalu meletak
kannya diatas kepalanya.
“cantik” ujar Sivia pada dirinya
sendiri. Sivia berbalik dan berjalan kearah tempat tidur untuk mengambil tas
nya. Setelah merasa siap, Sivia pun keluar dari kamarnya untuk menyusul Cakka
yang saat itu menunggunya.
Ketika keluar dari kamarnya, Sivia
menyempatkan diri untuk membuka handphonenya. Sivia kaget bercampur heran karna
ia menerima 3 panggilan tak terjawab dari Alvin. Kedua alis Sivia bertaut, dan
ia menghentikan langkahnya untuk sejenak.
“ngapain si Kunyuk nelfon??” Tanya
Sivia pada dirinya sendiri. Ketika Sivia akan berniat untuk menelfon balik
Alvin, tiba-tiba ia teringat Cakka yang hari ini mengajaknya jalan-jalan. Sejak
tadi, Sivia sudah memutuskan bahwa hari
minggu ini akan ia habiskan sepenuhnya bersama Cakka, dan siapapun tidak
boleh menganggunya.
Sivia mengangguk yakin. Meski ia
rasa berat Sivia akhirnya menonaktifkan handphonenya lalu memasukannya kedalam
tas. Dengan yakin, Sivia melanjutkan langkahnya dan menuruni anak tangga.
“YUHUUUU….. Gue udah siap Cakka…”
ucap Sivia antusias saat ia sudah menuruni anak tangga. Cakka tersenyum. Harus
ia akui, bahwa pagi ini Sivia terlihat sangat cantik.
“lo dandannya lama amat sih? Udah
kayak panganten aja!” protes Cakka yang berusaha menutupi keterpanaanya akan
kecantikan Sivia pagi ini. Sivia berjalan mendekati Cakka lalu bergelayut manja
dipundaknya,
“tapi gue cantik kan??”
Cakka membuang mukanya kearah lain
sejenak seraya menggaruk keningnya yang sama sekali tidak gatal. Beberapa saat
kemudian, Cakka kembali mengalihkan perhatiannya pada Sivia.
“itu menurut lo!” kata Cakka sambil
menurunkan kaca mata Sivia dari atas
kepalanya hingga terbingkai dengan rapi diwajahnya. Siviapun langsung
mengerucutkan bibirnya.
“ya udah, jalan yuk!!”
^_^
Hari ini Cakka membawa Sivia pergi
jalan-jalan mengelilingi Dufan selama seharian penuh. Dan ketika sudah tiba
ditempat itu dan mencoba beberapa Wahana yang memacu adrenalin Cakka dan Sivia
seakan melupakan masalah-masalah yang datang menghampiri mereka selama seminggu
belakangan ini.
Bisa membuat Sivia tertawa lepas dan
riang gembira seperti saat ini adalah kewajiban bagi Cakka yang harus ia
lakukan kapanpun sepanjang hidupnya.
Setelah puas mencoba wahana Hysteria
yang membuat Sivia mual-mual setelah turun, Cakka dan Sivia pun berjalan sambil
bergandengan tangan untuk mencari wahana lain yang ingin mereka coba lagi.
Sivia menggandeng lengan Cakka
dengan erat sambil memakan sebuah Ice Cream cokelat kesukaannya. Sesekali Sivia
terlihat menyuapi Cakka Ice Cream itu, sesekali juga mereka terlihat tertawa lepas dengan begitu riangnya.
Dan tanpa mereka berdua sadari, ada
sebuah tatapan tajam nan sinis yang tengah mengarah pada mereka. Alvin
merasakan isi kepalanya mendidih dan hatinya terbakar manakala melihat Sivia
berjalan sambil menggandeng lengan Cakka dengan begitu eratnya. Rasa cemburu
itu semakin membakar hatinya ketika melihat Sivia yang tertawa lepas bersama
Cakka. Alvin menggenggam kuat-kuat jemari tangannya. Entah kenapa Alvin merasa
dipermainkan oleh Gadis itu.
Posisi Alvin yang jaraknya lumayan
jauh dari posisi Cakka dan Sivia sekarang membuat Sivia sama sekali tidak
menyadari bahwa Alvin sedang memperhatikannya dengan tatapan kesakitan. Cakka
dan Sivia pun melewati Alvin begitu saja. Dan tepat ketika mereka melewati
Alvin, Cakka tengah mengusap bibir Sivia yang belepotan akibat ice cream yang
ia makan dengan sembarang. Setelah mengusap bibir Sivia, Cakkapun mengacak poni
dengan gemes.
Alvin menghela nafas panjang. Ia berusaha
meyakinkan dirinya sendiri bahwa perasaan yang ia rasakan saat ini bukanlah
perasaan bodoh nan aneh bernama cemburu. Alvin juga berusaha meyakinkan kepada
dirinya sendiri, bahwa dia tidak sedang Jatuh Cinta pada Gadis Jelek itu. Tidak
dan tidak akan pernah!
“nggak… gue nggak cemburu. Dan gue
nggak mungkin cemburu” ujar Alvin sambil berusaha meredam rasa sakit yang
seolah menyengat jantungnya.
“Kak Alviiinnn!!” panggilan dari
Novi itu langsung membuat Alvin terkesiap. Sekali lagi Alvin menghela nafas
panjang lantas menoleh kearah Novi,
“Kakak kemana aja sih? Dari tadi
kita nyariin Kakak” kata Novi seraya berjalan mendekati Alvin. Alvin menggeleng
beberapa kali,
“nggak, Kakak nggak kemana-mana kok.
Tadi abis dari toilet, baruuu aja Kakak mau nyusul kalian” alibi Alvin yang
berusaha terlihat santai dihadapan Novi.
Novi yang merasa ada yang tidak
beres dari sikap Kakak angkatnya ini langsung melihat kebelakang Alvin.
“itu kak Via kan? Tapi sama siapa? Sama
cowoknya?” Tanya Novi dengan polosnya ketika melihat Sivia yang waktu itu
berjalan bersama Cakka.
Tidak ingin Novi semakin
mencurigainya, Alvinpun buru-buru mendorong pelan pundak Novi dan membawanya
menyingkir dari tempat itu.
^_^
Jam ditangan Cakka sudah menunjukan
pukul 17.30. Mataharipun sudah bersiap-siap hendak kembali keperaduannya.
Cakka dan Sivia duduk ditepi pantai
dengan ditemani oleh suara deburan ombak juga angin yang bertiup lembut. Seharian
ini benar-benar menjadi hari yang paling menyenangkan bagi Sivia, apalagi
selama seminggu ini Sivia tidak pernah merasakan bagaimana rasanya santai
semenjak Alvin menjadikannya babu dirumah singgah. Tapi, setelah seminggu
berlalu, dan setelah sehari tidak bertemu dengan Alvin, entah kenapa Sivia
merasa ada sebagian dirinya yang hilang. Meski agak menjengkelkan, tapi Sivia
harus mengakui ini. Dia merindukan Kunyuk itu.
“gue semalem Cuma acting sama Alvin,
Kka…” kata Sivia membuka obrolan senja itu.
“gue nggak beneran pacaran sama
Alvin, kemaren Alvin minta tolong ke gue, dia minta gue buat pura-pura jadi
pacarnya dihari ulang tahun Pricilla, lo pasti mau tau kan alesannya apa?”
Sivia melirik kearah Cakka,
“Pricilla suka sama Alvin, tapi
Alvin nggak mau. Pricilla terus aja ngejer-ngejer Alvin dan akhirnya Alvin
ngerasa bosen, makanya dia sampe minta gue buat pura-pura jadi pacarnya supaya
Pricilla ngejahuin dia, itu aja kok, Kka, dan gue nggak ada niat sedikitpun
buat bikin lo kecewa karna nolak ajakan lo dan malah nerima ajakan Alvin… dan
apa lo mau tau sesuatu lagi, Kka? Apa lo mau tau kenapa seminggu ini gue
berubah aneh?”
Sivia sudah memikirkan semuanya
matang-matang. Sivia akan memberitahukan yang sebenarnya pada Cakka, apapun
resikonya. Yang jelas Sivia tidak ingin menyembunyikan apa-apa lagi dari Cakka.
“selama seminggu ini gue dijadiin
pembantu sama Alvin dirumah singgahnya…”
“APAA…??” Kaget Cakka. Raut murka
tampak jelas tergambar diwajah tampannya.
“please dengerin gue dulu, setelah
ini lo boleh marah-marah, lo mau bunuh Alvin juga gue persilahkan” ujar Sivia
cepat sebelum Cakka benar-benar naik pitam. Cakka kembali membenahi posisinya
dan berusaha menenangkan emosinya.
“seminggu yang lalu, untuk pertama
kalinya gue ketemu sama Alvin, HP gue jatoh ketengah jalan, dan motor Alvin
malah ngelindes HP gue, alhasil HP gue ancur. Waktu itu, Alvin bener-bener
minta maaf sama gue, dan dia keliatannya binguung banget waktu liat gue nangis…”
Sivia tersenyum sejenak ketika mengingat ekspresi Alvin ketika itu. Sivia pun
melanjutkan ceritanya,
“akhirnya gue pura-pura minjem HP
Alvin dengan alesan gue mau nelfon Mama, dan Alvin ngasih gitu aja HP nya ke
gue, waktu Alvin lengah, gue langsung bawa HP nya kabur, gue naek bus, Alvin
berusaha ngejer gue tapi nggak berhasil. Dan pada suatu hari, gue kembali
ketemu sama Alvin, gue berusaha kabur dari dia, berusaha sembunyi, tapi dia
malah nemuin gue. Alvin minta HP nya gue balikin, awalnya gue nggak mau, gue
malah nantang dia, ya jelaslah gue kalah karna nantangin cowok selicik Alvin.
Alvin berusaha ngerebut HP itu dari tangan gue, tapi sial HP itu malah jatoh
dari tangan gue dan saat itu giliran HP Alvin yang kelindes oleh mobil. Alvin
bener-bener marah, dia ngancem akan ngelaporin gue ke polisi atas tuduhan
pencurian, ya gue takut, karna sebelumnya gue nggak pernah berurusan sama
polisi. Akhirnya Alvin bilang, dia nggak akan ngelaporin gue ke polisi, tapi
dengan satu syarat….”
Kali ini Cakka melirik kearah Sivia.
Cakka bisa melihat dengan sangat jelas kedua mata Sivia mulai berkaca-kaca.
“gue harus jadi pembantunya selama
seminggu. Gue shock dan nggak terima sebenernya, tapi gue harus mau. Dengan terpaksa
gue terima syarat itu. Awalnya gue fikir Alvin akan ngejadiin gue pembantu
dirumahnya, tapi ternyata gue salah, Alvin malah ngebawa gue kerumah singgah
miliknya, gue jadi pembantu disana. Awalnya, gue sempet ngeluh, tapi setelah
hari-hari berlalu, gue bisa nikmatin semuanya dengan ikhlas. Anak-anak dirumah
Singgah itu bener-bener menyadarkan gue bahwa hidup ini butuh diperjuangkan. Mereka
semua nggak seberuntung gue, gue masih punya Mama yang sayang ama gue, tapi mereka? Mereka nggak
punya siapa-siapa, yang mereka punya Cuma semangat untuk hidup, dan secara
nggak langsung, Si Alvin yang lo bilang cowok kurang ajar dan nggak tau etika
udah bikin gue belajar banyak tentang makna kehidupan, dan dia—“
“bikin lo jatuh cinta kan, Vi?”
sambar Cakka dengan cepat. ucapan yang ia sendiri ucapkan baru saja seolah
menjelma menjadi sebuah silet yang menyayat jantungnya. Sivia terdiam untuk
beberapa saat. Entahlah, dia juga sama sekali tidak mengerti dengan apa yang ia
rasakan saat ini.
Yang Sivia tahu hanyalah, belakangan
ini jika ia berada disamping Alvin, ia merasa sangat nyaman dan… tidak pernah
ingin berada jauh dari Kunyuk itu.
Sivia mengangkat kedua bahunya,
“Maybe…”
Tiba-tiba Cakka memegang kedua
pundak Sivia. Lalu dalam satu gerakan cepat Sivia membalik badan Sivia hingga
berhadapan dengannya.
“sekarang tatap mata gue, dan bilang
kalo lo nggak pernah jatuh cinta sama Alvin” pinta Cakka dengan suara sedikit
bergetar. Sivia menggeleng beberapa kali, Cakka terus mendesaknya.
“please, sekarang juga tatap mata gue,
dan bilang kalo lo sangat benci sama Alvin…”
Sivia menghela nafas panjang, ia
menegakkan kepalanya lalu dengan berani menatap kedua mata Cakka. Sivia
berusaha meyakinkan hatinya. Beberapa saat kemudian…
“Gue jatuh cinta sama dia, Kka….”
Cakkapun akhirnya menghela kan nafas
kesakitannya. Entah untuk yang keberapa kalinya….
^_^
3
Hari kemdian….
3 hari tidak pernah bertemu dengan
Alvin, Sivia benar-benar merasa ada yang hilang dari dalam dirinya. Hari ini
sepulang sekolah, tanpa mengganti seragam sekolahnya, Sivia langsung pergi
kerumah singgah untuk menemui Kunyuk itu. Bahkan Sivia nekad menyetir mobil
sendiri padahal ia belum mahir dalam mengendarai mobil. Sivia tidak peduli
bagaimanapun penilaian Alvin nantinya, yang Sivia tau, ia harus menemui Alvin
untuk melampiaskan rasa kangennya itu.
Sebelum kerumah singgah, tadi Sivia
sempat mampir kerestoran Jepang untuk membeli masakan Jepang kesukaan Alvin. Dengan
ini Sivia yakin, Alvin pasti akan sangat senang. Sivia sudah sangat tidak sabar
untuk bertengkar lagi dengan Kunyuk itu.
Setibanya dirumah singgah, Sivia
malah tidak menemui Alvin. Anak-anak Rumah Singgah bilang Alvin belum pulang
tapi sebentar lagi akan pulang. Sivia akhirnya memutuskan untuk menunggu Alvin
dirumah Singgah sambil membimbing anak-anak itu belajar.
Sekitar 15 menit kemudian, Alvin
akhirnya pulang. Sivia yang saat itu kebetulan melihat Alvin memasuki rumah
singgah langsung bangkit dari duduknya dengan senyuman manis yang merekah indah
dibibir mungilnya.
Sivia berjalan menghampiri Alvin
dengan langkah yang pasti, tapi Alvin malah menunjukan ekspresi dinginnya.
Sivia yang berfikir Alvin memang begitu akhirnya lebih memilih untuk
mengabaikan ekspresi dingin Alvin.
“Heh Kunyuk! Lo amat sih pulangnya? Kemana
aja??” Tanya Sivia saat sudah berada dihadapan Alvin. Alvin diam, tidak
menjawab sedikitpun pertanyaan Sivia.
“tau nggak, tadi gue mampir ke
restoran Jepang, gue beli masakan kesukaan lo, lo suka sushi kan?”
Alvin masih diam. Mendadak ingatan
Alvin kembali terseret pada kejadian 3 hari yang lalu, saat Alvin melihat Sivia
berjalan dengan Cakka sambil tertawa lepas.
“Heh Kunyuk, lo gagu ya? Dari tadi
gue Tanya kok nggak jawab sih, rese lo—“
“ngapain lo kesini lagi??” Tanya Alvin
sinis sebelum Sivia menyelesaikan perkataanya. Sivia terdiam sejenak. Bingung bagaimana
harus menjawab pertanyaan Alvin. Mendadak suasana rumah Singgah berubah hening.
Seluruh perhatian yang ada diruangan itu langsung tertuju pada Alvin dan Sivia.
“gu… gue…”
“gue Tanya ngapain lo kesini lagi? Bukannya
urusan lo sama gue udah beres ya? Ato jangan-jangan lo mau gue jadiin babu
lagi??” ucap Alvin tidak kalah sinisnya dari perkataannya yang tadi.
Sivia menghela nafas panjang. Ternyata
Alvin tidak pernah menginginkan kehadirannya sama sekali. Lalu sekarang buat
apa Sivia datang kesini?
“lo nggak suka gue kesini??”
“NGGAK!” Jawab Alvin cepat. Mendengar
jawaban yang Alvin lemparkan, dada Sivia seakan terhantam. Menyesakkan.
Sivia mengangguk beberapa kali. Ia berusaha
keras menahan air matanya agar tidak menetes setitikpun. Tidak, Sivia tidak
ingin meneteskan air mata untuk seseorang yang tidak pernah menginginkan
kehadirannya.
“Fine kalo kayak gitu. Untuk alesan
apapun, gue nggak akan balik lagi kesini buat nemuin lo…”
“PINTER!” Ujar Alvin sambil menunjuk
kearah wajah Sivia.
Sivia menggigit bagian bawah
bibirnya sekuat mungkin. Ia hanya merindukan Si Kunyuk ini, hanya itu. Tapi kenapa
justru Alvin malah seperti ini padanya? Beberapa detik kemudian, Sivia langsung
berlari meninggalkan rumah singgah dengan perasaan yang remuk. Ternyata Sivia
telah salah menjatuhkan hatinya pada Pria itu. Dan jatuh cinta pada Alvin
adalah kesalahan terfatal yang termaafkan yang pernah Sivia lakukan.
“nggak… gue nggak cemburu! Dan gue
nggak pernah jatuh cinta sama Si Jelek itu… sekali lagi, GUE NGGAK CEMBURU….
Dan gue tau gue nggak cemburu!” Batin Alvin berusaha meyakinkan hatinya dan
menepikan segala rasanya saat ini.
Semuanya hanya butuh waktu. Sedikit waktu
lagi dan semuanya akan baik-baik saja…
BERSAMBUNG…


0 comments:
Post a Comment