Friday, May 10, 2013

0

Seperti Sebuah Bintang Part 13 "Gue Nggak Cemburu!!"







                “Vi, bangun, Vi…” ujar Cakka  sambil menggoyangkan pundak Sivia beberapa kali. Sivia melenguh pelan dalam keadaan setengah sadar. Dan ketika matanya dengan samar-samar menangkap siluet Cakka, kedua mata Sivia langsung melebar. Tidak butuh waktu yang lama, Sivia langsung mengubah posisinya yang semula berbaring menjadi duduk.
            “CAKKA….??” Pekik Sivia dengan raut wajah tak percaya.
            Bagaimana tidak? Baru semalam ia bertengkar hebat dengan Cakka, dan bahkan tidak tanggung-tanggung Sivia meninggalkan Cakka begitu saja dipesta bersama Alvin, tapi pagi ini, Cakka malah datang kerumahnya dan membangunkannya.
            Cakka tersenyum lebar pada Sivia. Dan Cakka benar-benar bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa antara dirinya dengan Sivia. Sivia terpana untuk sejenak.
            “udah nggak usah bengong gitu! Mandi cepetan!! Gue mau ngajak lo jalan-jalan hari ini” kata Cakka yang langsung menarik Sivia dari keterpanaannya. Sivia terkesiap, ia menggelengkan kepalanya beberapa kali.
            Melihat ekspresi Sivia yang menurut Cakka sangat lucu, Cakka pun terkekeh geli. Ia mengangkat tangan sebelah kananya lalu mengacak poni Sivia dengan gemes.
            “nggak.. nggak ntar dulu…” kata Sivia seraya menyingkirkan tangan Cakka dari atas kepalanya. Sivia menggenggam kuat tangan Cakka lalu melanjutkan perkataanya.
            “bukannya semalem elo—“
            “marah sama lo?” sambar Cakka dengan cepat. Sivia langsung menangguk dengan wajah yang sok lugu.
            Lagi-lagi Cakka terkekeh geli, ia mengangkat tangannya yang beberapa saat lalu Sivia angkat. Cakka pun mengecup punggung tangannya sendiri, membalik gumpalan tangan mereka yang bersatu lantas mengecup cepat punggung tangan Sivia,
            “sebenernya gue masih sangat marah sama lo, tapi kan kita semua tau gimana elo kalo gue marah sama elo, lo bakalan sakit, haha iya kan?” ucap Cakka dengan sedikit bergurau. Sivia langsung cemberut dan melepaskan begitu saja genggaman tangannya dari tangan Cakka.
            “sialan lo! Gue serius” ucap Sivia keki sambil membuang mukanya kearah lain.
            “hahaha… ok, ok…” Cakka memegang dagu Sivia lalu membalik wajahnya hingga berhadapan dengannya.
            “lo tau kenapa gue nggak marah sama lo?” Tanya Cakka yang mendadak serius sambil menatap lurus kearah kedua mata Sivia. Sivia mengangguk ingin tahu.
            “karna gue ngerasa, cowok kurang ajar dan nggak tau etika bernama Alvin Jonathan itu—“ Cakka terlihat ragu melanjutkan perkataannya. Bukan karna apapun, hanya saja Cakka merasa takut apa  yang akan dia ucapkan nanti adalah kenyataan yang sebenarnya.
Dan meski bisa membaca semuanya dengan sangat jelas, tentang perasaan Sivia kepada Alvin, tentang tatapan mata mereka masing-masing ketika saling memandang, tentang gerak tubuh mereka yang berbeda saat sedang bersama, dan tentang semua hal yang ada pada diri Alvin dan Sivia, Cakka tahu betul bahwa ada banyak cinta yang mungkin belum mereka sadari bahkan mereka tepikan diantara semua itu. Dan Cakka sangat takut akan semua itu, tapi ia sama sekali tidak memiliki alasan apapun untuk menyangsikannya.
Walapun berat dan akan sangat melukai perasaannya lagi, Cakka harus mengakui, bahwa Sivia, Sahabat Bawel kesayangan ini telah jatuh cinta. Dan sial nya, ini adalah cinta pertama bagi Sivia.
Cakka menghela nafas panjang. Sivia menanti kelanjutan ucapan Cakka dengan tak sabar,
“telah membuat Gadis Bawel gue jatuh cinta” lanjut Cakka. Ada nada kesakitan dan ketidak sanggupan disana, tapi Sivia sama sekali tidak peka.
Sivia tersentak hebat. Bahkan jika Cakka tidak mengatakannya pagi ini, mungkin Sivia tidak akan pernah menyadari kemungkinan besar yang telah terjadi padanya selama seminggu  terakhir ini. Kemungkinan besar bahwa ia telah jatuh cinta pada Kunyuk itu.
Sivia ingin protes, tapi rasanya sulit sekali mengeluarkan pembelaan atas hati nya saat ini. Cakka membaca semuanya dengan sangat tepat.
“gu… gue…”
“udaahh…. Nggak usah nyari alesan! Lo fikir gue begok?? Mending sekarang mandi deh. Nanti gue akan kasi lo waktu buat curhat ke gue. Lo mandi sekarang dan gue tunggu dibawah, dan oya, gue punya ini buat lo…” kata Cakka sambil menyerahkan sebuah baju kaos berwarna merah untuk Sivia.
Sivia menerima baju kaos pemberian Cakka.
“coba deh lo buka!” pinta Cakka.
Sivia membentangkan baju kaos berwarna merah itu dihadapannya. Dan Sivia sedikit tergelitik ketika membaca tulisan yang terpampang di bagian depan baju itu. Tulisannya berbunyi: “GUE SAHABAT CAKKA SELAMANYA”
Sivia tertawa kecil. Ada rasa haru yang menyelinap di hati kecilnya saat menerima kaos pemberian Cakka. Tidak cukup sampai disitu saja Cakka membuat Sivia terharu, kali ini Cakka berdiri dihadapan Sivia lantas menunjukan baju kaos yang sama dengan baju Sivia yang ia kenakan saat ini.
“lo lihat baju gue!”
Sivia membaca tulisan yang terpampang pada baju Cakka yang berbunyi: “GUE SAHABAT SIVIA SELAMANYA”
Sivia yang tidak sanggup lagi menahan seluruh perasaan haru yang memenuhi hatinya saat ini langsung bangkit dari tempat tidurnya. Ia berjalan kearah Cakka lantas memeluk erat tubuh sahabatnya itu. Kedua pundak Sivia bergetar menahan isak.
“gue sayang elo, Kka… gue beruntuuuunggg banget punya sahabat kayak lo, hiks… lain kali gue akan usaha lebih keras lagi buat nggak bikin lo kecewa lagi sama gue, gue janji akan usaha, Kka, gue janji…”
Cakka mengangguk beberapa kali. Ia berusaha tersenyum meski rasa sakit itu mulai menjajah hatinya. Cakka pun membalas pelukan Sivia. Pelukan persahabatan. Dalam hati Cakka berujar,
“cukup sahabat, Vi! Gue nggak akan lagi nuntut lebih dari elo. Sekalipun nanti Alvin bisa dapetin lo, gue ikhlas, dan meskipun gue benci Alvin, tapi gue yakin kalo Cuma dia yang bisa bahagiain lo, Cuma dia, bukan gue ato yang lainnya…”


^_^

            Alvin kesal dan nyaris saja membanting handphonenya ke lantai. Bagaimana tidak kesal? Sudah 3 kali Alvin coba menghubungi Sivia tapi Sivia tidak juga menjawab panggilannya. Alvin terduduk disofa. Kelamaan ia mulai berfikir, buat apa juga Alvin menghubungi Si Jelek itu?
            Bukan kah memang sudah seharusnya ia tidak berurusan lagi dengan Sivia? Toh juga urusannya sudah selesai dengan gadis itu semenjak tadi malam. Lalu kenapa pagi ini Alvin masih berusaha menghubungi Sivia? Dan kenapa juga tiba-tiba Alvin memiliki niat untuk mengajak Sivia jalan-jalan bersama adik-adik asuhnya? Apa semua itu… ergh… tidak! Alvin tidak akan pernah mengakuinya. Sampai kapanpun dia tidak mungkin jatuh cinta pada Sivia. Ya… Alvin yakin dengan itu.
            “jangan berfikir lo hebat, Vi…” gumam Alvin pelan lalu segera beranjak dari kamarnya.


^_^

            Sivia memandang bayangan wajahnya dicermin sambil tersenyum sendiri. Pagi ini Sivia terlihat sangat cantik. Ia mengenakan baju kaos merah yang tadi Cakka berikan padanya. Baju kaos merah itu padukan dengan  hotpants berwarna hitam. Baju pemberian Cakka yang agak sedikit kebasaran untuk ukuran tubuhnya itu Sivia masukan kedalam hotpants nya. Sivia menguncir rambutnya yang panjang keatas dengan poni lurusnya yang tetap  menjuntai di keningnya. Sivia meraih kaca mata hitam yang ada dihadapannya  lalu meletak kannya diatas kepalanya.
            “cantik” ujar Sivia pada dirinya sendiri. Sivia berbalik dan berjalan kearah tempat tidur untuk mengambil tas nya. Setelah merasa siap, Sivia pun keluar dari kamarnya untuk menyusul Cakka yang saat itu menunggunya.
            Ketika keluar dari kamarnya, Sivia menyempatkan diri untuk membuka handphonenya. Sivia kaget bercampur heran karna ia menerima 3 panggilan tak terjawab dari Alvin. Kedua alis Sivia bertaut, dan ia menghentikan langkahnya untuk sejenak.
            “ngapain si Kunyuk nelfon??” Tanya Sivia pada dirinya sendiri. Ketika Sivia akan berniat untuk menelfon balik Alvin, tiba-tiba ia teringat Cakka yang hari ini mengajaknya jalan-jalan. Sejak tadi, Sivia sudah memutuskan bahwa hari  minggu ini akan ia habiskan sepenuhnya bersama Cakka, dan siapapun tidak boleh menganggunya.
            Sivia mengangguk yakin. Meski ia rasa berat Sivia akhirnya menonaktifkan handphonenya lalu memasukannya kedalam tas. Dengan yakin, Sivia melanjutkan langkahnya dan menuruni anak tangga.
            “YUHUUUU….. Gue udah siap Cakka…” ucap Sivia antusias saat ia sudah menuruni anak tangga. Cakka tersenyum. Harus ia akui, bahwa pagi ini Sivia terlihat sangat cantik.
            “lo dandannya lama amat sih? Udah kayak panganten aja!” protes Cakka yang berusaha menutupi keterpanaanya akan kecantikan Sivia pagi ini. Sivia berjalan mendekati Cakka lalu bergelayut manja dipundaknya,
            “tapi gue cantik kan??”
            Cakka membuang mukanya kearah lain sejenak seraya menggaruk keningnya yang sama sekali tidak gatal. Beberapa saat kemudian, Cakka kembali mengalihkan perhatiannya pada Sivia.
            “itu menurut lo!” kata Cakka sambil menurunkan kaca mata Sivia  dari atas kepalanya hingga terbingkai dengan rapi diwajahnya. Siviapun langsung mengerucutkan bibirnya.
            “ya udah, jalan yuk!!”


^_^

            Hari ini Cakka membawa Sivia pergi jalan-jalan mengelilingi Dufan selama seharian penuh. Dan ketika sudah tiba ditempat itu dan mencoba beberapa Wahana yang memacu adrenalin Cakka dan Sivia seakan melupakan masalah-masalah yang datang menghampiri mereka selama seminggu belakangan ini.
            Bisa membuat Sivia tertawa lepas dan riang gembira seperti saat ini adalah kewajiban bagi Cakka yang harus ia lakukan kapanpun sepanjang hidupnya.
            Setelah puas mencoba wahana Hysteria yang membuat Sivia mual-mual setelah turun, Cakka dan Sivia pun berjalan sambil bergandengan tangan untuk mencari wahana lain yang ingin mereka coba lagi.
            Sivia menggandeng lengan Cakka dengan erat sambil memakan sebuah Ice Cream cokelat kesukaannya. Sesekali Sivia terlihat menyuapi Cakka Ice Cream itu, sesekali juga mereka terlihat  tertawa lepas dengan begitu riangnya.
            Dan tanpa mereka berdua sadari, ada sebuah tatapan tajam nan sinis yang tengah mengarah pada mereka. Alvin merasakan isi kepalanya mendidih dan hatinya terbakar manakala melihat Sivia berjalan sambil menggandeng lengan Cakka dengan begitu eratnya. Rasa cemburu itu semakin membakar hatinya ketika melihat Sivia yang tertawa lepas bersama Cakka. Alvin menggenggam kuat-kuat jemari tangannya. Entah kenapa Alvin merasa dipermainkan oleh Gadis itu.
            Posisi Alvin yang jaraknya lumayan jauh dari posisi Cakka dan Sivia sekarang membuat Sivia sama sekali tidak menyadari bahwa Alvin sedang memperhatikannya dengan tatapan kesakitan. Cakka dan Sivia pun melewati Alvin begitu saja. Dan tepat ketika mereka melewati Alvin, Cakka tengah mengusap bibir Sivia yang belepotan akibat ice cream yang ia makan dengan sembarang. Setelah mengusap bibir Sivia, Cakkapun mengacak poni dengan gemes.
            Alvin menghela nafas panjang. Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa perasaan yang ia rasakan saat ini bukanlah perasaan bodoh nan aneh bernama cemburu. Alvin juga berusaha meyakinkan kepada dirinya sendiri, bahwa dia tidak sedang Jatuh Cinta pada Gadis Jelek itu. Tidak dan tidak akan pernah!
            “nggak… gue nggak cemburu. Dan gue nggak mungkin cemburu” ujar Alvin sambil berusaha meredam rasa sakit yang seolah menyengat jantungnya.
            “Kak Alviiinnn!!” panggilan dari Novi itu langsung membuat Alvin terkesiap. Sekali lagi Alvin menghela nafas panjang lantas menoleh kearah Novi,
            “Kakak kemana aja sih? Dari tadi kita nyariin Kakak” kata Novi seraya berjalan mendekati Alvin. Alvin menggeleng beberapa kali,
            “nggak, Kakak nggak kemana-mana kok. Tadi abis dari toilet, baruuu aja Kakak mau nyusul kalian” alibi Alvin yang berusaha terlihat santai dihadapan Novi.
            Novi yang merasa ada yang tidak beres dari sikap Kakak angkatnya ini langsung melihat kebelakang Alvin.
            “itu kak Via kan? Tapi sama siapa? Sama cowoknya?” Tanya Novi dengan polosnya ketika melihat Sivia yang waktu itu berjalan bersama Cakka.
            Tidak ingin Novi semakin mencurigainya, Alvinpun buru-buru mendorong pelan pundak Novi dan membawanya menyingkir dari tempat itu.

^_^

            Jam ditangan Cakka sudah menunjukan pukul 17.30. Mataharipun sudah bersiap-siap hendak kembali keperaduannya.
            Cakka dan Sivia duduk ditepi pantai dengan ditemani oleh suara deburan ombak juga angin yang bertiup lembut. Seharian ini benar-benar menjadi hari yang paling menyenangkan bagi Sivia, apalagi selama seminggu ini Sivia tidak pernah merasakan bagaimana rasanya santai semenjak Alvin menjadikannya babu dirumah singgah. Tapi, setelah seminggu berlalu, dan setelah sehari tidak bertemu dengan Alvin, entah kenapa Sivia merasa ada sebagian dirinya yang hilang. Meski agak menjengkelkan, tapi Sivia harus mengakui ini. Dia merindukan Kunyuk itu.
            “gue semalem Cuma acting sama Alvin, Kka…” kata Sivia membuka obrolan senja itu.
            “gue nggak beneran pacaran sama Alvin, kemaren Alvin minta tolong ke gue, dia minta gue buat pura-pura jadi pacarnya dihari ulang tahun Pricilla, lo pasti mau tau kan alesannya apa?” Sivia melirik kearah Cakka,
            “Pricilla suka sama Alvin, tapi Alvin nggak mau. Pricilla terus aja ngejer-ngejer Alvin dan akhirnya Alvin ngerasa bosen, makanya dia sampe minta gue buat pura-pura jadi pacarnya supaya Pricilla ngejahuin dia, itu aja kok, Kka, dan gue nggak ada niat sedikitpun buat bikin lo kecewa karna nolak ajakan lo dan malah nerima ajakan Alvin… dan apa lo mau tau sesuatu lagi, Kka? Apa lo mau tau kenapa seminggu ini gue berubah aneh?”
            Sivia sudah memikirkan semuanya matang-matang. Sivia akan memberitahukan yang sebenarnya pada Cakka, apapun resikonya. Yang jelas Sivia tidak ingin menyembunyikan apa-apa lagi dari Cakka.
            “selama seminggu ini gue dijadiin pembantu sama Alvin dirumah singgahnya…”
            “APAA…??” Kaget Cakka. Raut murka tampak jelas tergambar diwajah tampannya.
            “please dengerin gue dulu, setelah ini lo boleh marah-marah, lo mau bunuh Alvin juga gue persilahkan” ujar Sivia cepat sebelum Cakka benar-benar naik pitam. Cakka kembali membenahi posisinya dan berusaha menenangkan emosinya.
            “seminggu yang lalu, untuk pertama kalinya gue ketemu sama Alvin, HP gue jatoh ketengah jalan, dan motor Alvin malah ngelindes HP gue, alhasil HP gue ancur. Waktu itu, Alvin bener-bener minta maaf sama gue, dan dia keliatannya binguung banget waktu liat gue nangis…” Sivia tersenyum sejenak ketika mengingat ekspresi Alvin ketika itu. Sivia pun melanjutkan ceritanya,
            “akhirnya gue pura-pura minjem HP Alvin dengan alesan gue mau nelfon Mama, dan Alvin ngasih gitu aja HP nya ke gue, waktu Alvin lengah, gue langsung bawa HP nya kabur, gue naek bus, Alvin berusaha ngejer gue tapi nggak berhasil. Dan pada suatu hari, gue kembali ketemu sama Alvin, gue berusaha kabur dari dia, berusaha sembunyi, tapi dia malah nemuin gue. Alvin minta HP nya gue balikin, awalnya gue nggak mau, gue malah nantang dia, ya jelaslah gue kalah karna nantangin cowok selicik Alvin. Alvin berusaha ngerebut HP itu dari tangan gue, tapi sial HP itu malah jatoh dari tangan gue dan saat itu giliran HP Alvin yang kelindes oleh mobil. Alvin bener-bener marah, dia ngancem akan ngelaporin gue ke polisi atas tuduhan pencurian, ya gue takut, karna sebelumnya gue nggak pernah berurusan sama polisi. Akhirnya Alvin bilang, dia nggak akan ngelaporin gue ke polisi, tapi dengan satu syarat….”
            Kali ini Cakka melirik kearah Sivia. Cakka bisa melihat dengan sangat jelas kedua mata Sivia mulai berkaca-kaca.
            “gue harus jadi pembantunya selama seminggu. Gue shock dan nggak terima sebenernya, tapi gue harus mau. Dengan terpaksa gue terima syarat itu. Awalnya gue fikir Alvin akan ngejadiin gue pembantu dirumahnya, tapi ternyata gue salah, Alvin malah ngebawa gue kerumah singgah miliknya, gue jadi pembantu disana. Awalnya, gue sempet ngeluh, tapi setelah hari-hari berlalu, gue bisa nikmatin semuanya dengan ikhlas. Anak-anak dirumah Singgah itu bener-bener menyadarkan gue bahwa hidup ini butuh diperjuangkan. Mereka semua nggak seberuntung gue, gue masih punya Mama yang  sayang ama gue, tapi mereka? Mereka nggak punya siapa-siapa, yang mereka punya Cuma semangat untuk hidup, dan secara nggak langsung, Si Alvin yang lo bilang cowok kurang ajar dan nggak tau etika udah bikin gue belajar banyak tentang makna kehidupan, dan dia—“
            “bikin lo jatuh cinta kan, Vi?” sambar Cakka dengan cepat. ucapan yang ia sendiri ucapkan baru saja seolah menjelma menjadi sebuah silet yang menyayat jantungnya. Sivia terdiam untuk beberapa saat. Entahlah, dia juga sama sekali tidak mengerti dengan apa yang ia rasakan saat ini.
            Yang Sivia tahu hanyalah, belakangan ini jika ia berada disamping Alvin, ia merasa sangat nyaman dan… tidak pernah ingin berada jauh dari Kunyuk itu.
            Sivia mengangkat kedua bahunya,
            “Maybe…”
            Tiba-tiba Cakka memegang kedua pundak Sivia. Lalu dalam satu gerakan cepat Sivia membalik badan Sivia hingga berhadapan dengannya.
            “sekarang tatap mata gue, dan bilang kalo lo nggak pernah jatuh cinta sama Alvin” pinta Cakka dengan suara sedikit bergetar. Sivia menggeleng beberapa kali, Cakka terus mendesaknya.
            “please, sekarang juga tatap mata gue, dan bilang kalo lo sangat benci sama Alvin…”
            Sivia menghela nafas panjang, ia menegakkan kepalanya lalu dengan berani menatap kedua mata Cakka. Sivia berusaha meyakinkan hatinya. Beberapa saat kemudian…

            “Gue jatuh cinta sama dia, Kka….”

            Cakkapun akhirnya menghela kan nafas kesakitannya. Entah untuk yang keberapa kalinya….

^_^

3 Hari kemdian….

            3 hari tidak pernah bertemu dengan Alvin, Sivia benar-benar merasa ada yang hilang dari dalam dirinya. Hari ini sepulang sekolah, tanpa mengganti seragam sekolahnya, Sivia langsung pergi kerumah singgah untuk menemui Kunyuk itu. Bahkan Sivia nekad menyetir mobil sendiri padahal ia belum mahir dalam mengendarai mobil. Sivia tidak peduli bagaimanapun penilaian Alvin nantinya, yang Sivia tau, ia harus menemui Alvin untuk melampiaskan rasa kangennya itu.
            Sebelum kerumah singgah, tadi Sivia sempat mampir kerestoran Jepang untuk membeli masakan Jepang kesukaan Alvin. Dengan ini Sivia yakin, Alvin pasti akan sangat senang. Sivia sudah sangat tidak sabar untuk bertengkar lagi dengan Kunyuk itu.
            Setibanya dirumah singgah, Sivia malah tidak menemui Alvin. Anak-anak Rumah Singgah bilang Alvin belum pulang tapi sebentar lagi akan pulang. Sivia akhirnya memutuskan untuk menunggu Alvin dirumah Singgah sambil membimbing anak-anak itu belajar.
            Sekitar 15 menit kemudian, Alvin akhirnya pulang. Sivia yang saat itu kebetulan melihat Alvin memasuki rumah singgah langsung bangkit dari duduknya dengan senyuman manis yang merekah indah dibibir mungilnya.
            Sivia berjalan menghampiri Alvin dengan langkah yang pasti, tapi Alvin malah menunjukan ekspresi dinginnya. Sivia yang berfikir Alvin memang begitu akhirnya lebih memilih untuk mengabaikan ekspresi dingin Alvin.
            “Heh Kunyuk! Lo amat sih pulangnya? Kemana aja??” Tanya Sivia saat sudah berada dihadapan Alvin. Alvin diam, tidak menjawab sedikitpun pertanyaan Sivia.
            “tau nggak, tadi gue mampir ke restoran Jepang, gue beli masakan kesukaan lo, lo suka sushi kan?”
            Alvin masih diam. Mendadak ingatan Alvin kembali terseret pada kejadian 3 hari yang lalu, saat Alvin melihat Sivia berjalan dengan Cakka sambil tertawa lepas.
            “Heh Kunyuk, lo gagu ya? Dari tadi gue Tanya kok nggak jawab sih, rese lo—“
            “ngapain lo kesini lagi??” Tanya Alvin sinis sebelum Sivia menyelesaikan perkataanya. Sivia terdiam sejenak. Bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan Alvin. Mendadak suasana rumah Singgah berubah hening. Seluruh perhatian yang ada diruangan itu langsung tertuju pada Alvin dan Sivia.
            “gu… gue…”
            “gue Tanya ngapain lo kesini lagi? Bukannya urusan lo sama gue udah beres ya? Ato jangan-jangan lo mau gue jadiin babu lagi??” ucap Alvin tidak kalah sinisnya dari perkataannya yang tadi.
            Sivia menghela nafas panjang. Ternyata Alvin tidak pernah menginginkan kehadirannya sama sekali. Lalu sekarang buat apa Sivia datang kesini?
            “lo nggak suka gue kesini??”
            “NGGAK!” Jawab Alvin cepat. Mendengar jawaban yang Alvin lemparkan, dada Sivia seakan terhantam. Menyesakkan.
            Sivia mengangguk beberapa kali. Ia berusaha keras menahan air matanya agar tidak menetes setitikpun. Tidak, Sivia tidak ingin meneteskan air mata untuk seseorang yang tidak pernah menginginkan kehadirannya.
            “Fine kalo kayak gitu. Untuk alesan apapun, gue nggak akan balik lagi kesini buat nemuin lo…”
            “PINTER!” Ujar Alvin sambil menunjuk kearah wajah Sivia.
            Sivia menggigit bagian bawah bibirnya sekuat mungkin. Ia hanya merindukan Si Kunyuk ini, hanya itu. Tapi kenapa justru Alvin malah seperti ini padanya? Beberapa detik kemudian, Sivia langsung berlari meninggalkan rumah singgah dengan perasaan yang remuk. Ternyata Sivia telah salah menjatuhkan hatinya pada Pria itu. Dan jatuh cinta pada Alvin adalah kesalahan terfatal yang termaafkan yang pernah Sivia lakukan.

            “nggak… gue nggak cemburu! Dan gue nggak pernah jatuh cinta sama Si Jelek itu… sekali lagi, GUE NGGAK CEMBURU…. Dan gue tau gue nggak cemburu!” Batin Alvin berusaha meyakinkan hatinya dan menepikan segala rasanya saat ini.

            Semuanya hanya butuh waktu. Sedikit waktu lagi dan semuanya akan baik-baik saja…



                        BERSAMBUNG…


0 comments:

Post a Comment