Friday, May 17, 2013

0

MY DIARY Part 13



“Vin, aku tahu, seribu kata maaf yang aku dan Cakka ucapkan gak akan mampu menebus semua kesalahan yang kita perbuat, aku sadar, aku udah salah banget sama kamu Vin, aku udah berdosa sama kamu…. Tapi aku juga gak tau harus ngelakuin apa…? Disatu sisi aku sayang banget sama Cakka, tapi disisi lain, aku gak bisa dengan mudah nyakitin kamu yang sangat sayang sama aku dan yang udah berkorban banyak buat aku, aku bingung…. Aku…”
            “cukup Shill… sekarang kamu langsung aja ke point, mau apa kamu nemuin aku…?” sela Alvin tiba-tiba ditengah perkataan Shilla. Saat itu Shilla sedang mengajak Alvin berbicara 4 mata dikantin sekolah. Shilla terdiam sejenak, ia menghela nafas panjang lantas menjawab pertanyaan Alvin,
            “aku Cuma mau minta, tolong jangan sangkut pautin masalah kita ini dengan CRAG, CRAG gak boleh pecah Cuma gara-gara kebodohan aku….”
            “terus….???”
            “jangan keluarkan Cakka dari CRAG, Pliss Alvin jangan keluarkan Cakka dari CRAG….” Air mata Shilla menetes secara perlahan. Alvin mengangguk berkali-kali, tanpa melihat kearah Shilla, Alvin berkata,
            “itu urusan aku, dan bukan urusan kamu….” Ucap Alvin dingin,
            “Vin, kamu jangan kaya’ gini Vin…! Aku yang akan pergi dari kehidupan kalian, aku janji aku akan menghilang dari kehidupan kalian, tapi pliss, jangan keluarkan Cakka dari CRAG, jangan…..pliss Vin, plisss…” ucap Shilla memohon dihadapan Alvin, kali ini Alvin menatap Shilla lekat-lekat, tak lama Alvin berkata,
            “kenapa harus Cakka Shill, kenapa harus dia….? Aku yang cinta sama kamu, aku yang rela ngorbanin segalanya buat kamu, tapi kenapa sekarang kamu malah memohon buat Cakka dihadapan aku…? Kenapa? Apa kurangnya aku? Dan apa kelebihannya Cakka yang gak aku miliki Shill, APAA….???” Mendengar pertanyaan Alvin, Shilla menggeleng berkali-kali, air matanya semakin deras menetes,
            “kamu sempurna Vin, bahkan lebih dari sekedar sempurna, tapi masalahnya disini, aku gak bisa maksain hati aku, aku sayang sama Cakka, Cuma dia yang aku cinta, aku Cuma mau kamu ngerti Vin…. Satu hal yang gak pernah kamu sadari ALVIN….” Kali ini Alvin menatap Shilla tajam dengan tatapan bertanya, Shilla melanjutkan perkataannya,
            “kamu gak pernah sadar, bahwa kamu mulai mencintai Sivia, ALVIN….” Alvin tersentak, bagaimana bisa Shilla berkata seperti itu sementara ia sendiri tak menyadari akan hal itu? Alvin menggeleng berkali-kali dan mulai membuat sebuah bantahan dalam hatinya,
            “gak… aku gak pernah mencintai Sivia, dan kamu jangan sekalipun membawa-bawa Sivia dalam masalah ini, ngerti kamu….?”
            “semakin kamu mengelak, semakin aku yakin kalo kamu bener-bener mencintai Sivia, kamu mencintai dia Alvin, aku bisa lihat itu dengan jelas dari mata kamu, ok, kamu bisa aja menghindar dari aku, tapi kamu gak akan pernah bisa menghindar dari hati kamu, cepat ato lambat, kamu pasti akan sadar, bahwa kamu mencintai Sivia, SANGAT MENCINTAI SIVIA….”
            “STOOOPPPP…. Kamu gak usah sok tau lagi, gak usah sok tau tentang perasaan aku sama Sivia….” Itulah kata-kata terakhir Alvin sebelum akhirnya ia meninggalkan Shilla. Selepas kepergian Alvin, Shilla langsung tersenyum dengan air yang menetes dari kedua pelupuk mata indahnya,
            “kamu mencintai dia Vin, sangat mencintai dia…. Aku yakin…” lirih Shilla.


^_^

            “Kak Alvin….Kak…” ucap Sivia yang saat itu dalam keadaan setengah sadar. Mama langsung mendekati Sivia,
            “Via, kamu udah sadar sayang….??” Tanya Mama panic. Dengan perlahan Sivia membuka matanya dan mendapati dirinya sudah ada didalam kamarnya. Sivia dengan dibantu oleh Mama bangkit dari tidurnya lantas duduk diatas ranjangnya,
            “kenapa Via bisa ada disini Ma…? Tadi bukannya Via masih disekolah nungguin angkot…?” Tanya Sivia yang tak bisa mengingat apapun yang terjadi. Sebelum menjawab pertanyaan Sivia, Mama mengambilkan gelas minuman untuk Sivia lalu memberikannya pada Sivia. Sivia menerima gelas itu lantas meminumnya. Mama membelai lembut rambut Sivia lantas berkata,
            “tadi Kak Iel yang nganterin kamu pulang, kata Kak Iel tadi kamu tiba-tiba pingsan, kamu kenapa sih sayang? Cerita sama Mama ya….?” Pinta Mama, tapi Sivia malah menggeleng,
            “enggak ah Ma, Via gak mau cerita…”
            “loh kok gitu….?” Tanya Mama lagi, Sivia terdiam sejenak, tak lama kemudian ia malah memeluk Mama lalu menangis terisak seperti anak kecil.
            “hik…hik..hik…Kak Alvin Ma, Kak Alvin marah-marah sama Via, Kak Alvin bilang, Kak Alvin gak akan pernah suka sama Via, sampai kapanpun gak akan pernah Ma… Via sedih, Via sediihhh banget….”
            “ya ampun Via, kamu gak usah sesedih ini kali… yang namanya perasaan itu gak bisa dipaksain sayang, memangnya kamu mau apa Kak Alvin nerima cinta kamu karna terpaksa? Kalo Mama jadi kamu, Mama sih gak mau… pelan-pelan aja sayang, kalo Kak Alvin adalah jodoh kamu, kelak Kak Alvin pasti akan jadi milik kamu dan siapapun gak akan bisa ngubah takdir itu, percaya sama Mama….”
            “itu artinya, suatu saat Kak Alvin bisa cinta sama Via…?? Emangnya bisa Ma…? Tapi Via rasa itu gak mungkin…hik..hik…”
            “gak ada yang gak mungkin didunia ini sayang…”


^_^

“namaku cinta… ketika bersama berbagi rasa
Untuk selamanya…
Nama ku cinta…ketika kita bersama berbagi rasa
Sepanjang usia…
Hingga tiba saatnya akupun melihat..
Cintaku yang khianat…
Cintaku berkhianat…
Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi….
Aku tenggelam dalam lautan luka dalam…
Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang
Aku tanpamu…. Butiran debu…


            Alvin menyanyikan lagu itu seraya memainkan sebuah piano. Selama bernyanyi, Alvin mengingat semua kebersamaannya dengan Shilla juga kenangan-kenangan indah mereka dan penghianatan Shilla padanya. Seusai menyelesaikan lagu itu Alvin langsung menghela nafas beratnya. Apapun yang terjadi kini, ia berusaha untuk kuat dan tidak meneteskan air mata sedikitpun untuk Shilla, seseorang yang sudah menghancurkan segalanya.
            “udah cukup Vin… lupain semuanya! Lupain Shilla, lo gak boleh terpuruk Cuma gara-gara cewek penghianat itu, lo harus kuat, harus tetep jadi Alvin yang sebelum-sebelumnya, seperti kataa….” Alvin tak melanjutkan perkataannya karena ingatannya langsung tertuju pada cewek lemot itu, cewek yang selama ini selalu membuatnya kesal dan marah-marah tak jelas. Alvin juga ingat, betapa tadi ucapannya pada Sivia sangat kasar, tak seharusnya Alvin berkata seperti itu pada cewek yang sangat menyukainya, biar bagaimanapun Alvin harus tetap menghargai perasaan Sivia.
            “eergghh….” Alvin mengerang seraya menghentakkan tangannya pada piano yang ada dihadapannya, Alvin memegangi kepalanya lalu menunduk sedalam-dalamnya. Perlakuannya pada Sivia tadi membuat Alvin semakin merasa bingung.
            Bunda yang sedari tadi memperhatikan Alvinpun hanya bisa tersenyum, beliau mendekati Alvin lantas memeluk anak semata sewayangnya itu dari belakang. Bunda mengusap-usap pelan dada Alvin lantas berkata,
            “Bunda tahu, jagoan Bunda pasti lagi dilemma! Cerita ya sama Bunda…” Alvin melepaskan pelukan Bunda lantas berdiri dihadapan Bunda. Alvin menatap Bunda sejenak lalu menarik pergelangan tangan Bunda. Alvin mengajak Bunda duduk disofa. Bunda hanya mengikuti Alvin tanpa banyak bicara.
            “Bunda…. Shilla selingkuh Bund…” Alvin akhirnya membuka ceritanya. Bunda sedikit terkejut dengan cerita Alvin, Bunda mengangkat kedua alisnya heran,
            “dan Bunda tau gak Shilla selingkuh sama siapa?”
            “memangnya siapa??”
            “Cakka Bund, Shilla selingkuh sama Sahabat Alvin sendiri, dan yang Alvin gak habis fikir, kenapa mereka tega ngelakuin ini dibelakang Alvin, Alvin bener-bener kecewa sama mereka Bunda, terutama Cakka, dan sekarang Alvin ngerasa bener-bener benci sama Cakka, Alvin nyesel udah jadi sahabatnya Cakka….”
            “husss… kamu gak boleh ngomong gitu sayang! Sejelek apapun kelakuan Cakka terhadap kamu, seharusnya kamu sebagai sahabat yang baik berusaha untuk mengerti dan memaafkan…”
            “Bunda, Alvin tu Cuma manusia biasa Bunda, Alvin bukan malaikat yang sempurna yang tidak memiliki rasa benci dan kecewa terhadap siapapun, kalo Bunda nuntut Alvin kaya’ gitu ya Alvin gak bisa dong Bund….” Mendengar ucapan Alvin, Bunda tersenyum tenang, Bunda kembali berkata,
            “tapi kamu anak Bunda yang selalu pengertian… kamu udah 17 tahun Vin, kamu bukan anak kecil lagi, Bunda sering bilang sama kamu, bahwa sesuatu terjadi itu pasti memiliki sebuah alas an, dan Mama percaya, Cakka sama Shilla punya alas an untuk itu….”
            “dan alasannya itu karna mereka saling mencintai dan….”
            “tidak ingin mengecewakan kamu kan….??” Lanjut Bunda, Alvin terdiam sejenak,
            “itu artinya mereka masih fikirin perasaan kamu Vin, tapi mereka juga sama-sama gak bisa buat nahan perasaan mereka, dan perlu kamu tau, cinta bisa membuat seseorang melakukan apa saja… tapi disini permasalahannya bukan disitu Vin, masalahnya adalah, apa kamu rela persahabatan yang kamu bangun sama Cakka sejak kamu masih kanak-kanak hancur Cuma karna cinta….?” Alvin menunduk dalam,
            “denger Bunda,Bunda ngerti, kamu sakit, kamu marah, kamu kecewa, Bunda tau itu, tapi bukan berarti kamu harus menghancurkan persahabatan kamu juga kan…? Marahlah semarah-marahnya, kecewalah jika itu yang bisa membuat perasaan kamu lebih lega, tapi jangan pernah membenci apalagi menyimpan dendam, itu gak baik sayang, dulu kamu sendirikan yang bilang, sahabat bisa marah tapi tidak akan pernah bisa membenci! Lampiaskanlah kemarahan dan kekecewaan kamu sama Cakka, tapi setelah itu berusahalah untuk memaafkan…”
            “tapi Bund…itu semua gak segampang seperti apa yang Bunda fikirin…”
            “dan itu gak sesulit seperti apa yang kamu bayangin…”
            “Bunda….”
“ letakkan persahabatan ditempat tertinggi, jadikan persahabatan jauh lebih penting dari segalanya…. Ingat Vin, dibalik semua ini Tuhan pasti memiliki rencana indah buat kamu, rencana indah yang nantinya akan membuat kamu tersenyum dan berkata, terimakasih Tuhan… percaya sama Bunda….”
Alvin terdiam dan merenungkan baik-baik nasihat dari Bunda. Alvin menunduk, karena Bunda kebimbangannya bisa sedikit terkurangi. Perkataan Bunda yang paling Alvin fikirkan adalah saat Bunda berkata bahwa dibalik semua masalah ini Tuhan pasti memiliki rencana indah untuk Alvin, rencana indah yang nantinya akan membuat Alvin tersenyum. Benarkah? Jika benar, lantas apakah rencana indah yang telah disusun oleh Tuhan untuk Alvin….??
“sekarang kamu mandi gih….” Ucap Bunda tiba-tiba, Alvin terkesiap,
“kenapa Alvin harus mandi? Alvin gak ada rencana buat kemana-mana hari ini Bund…”
“Via sakit, sebaiknya kamu jenguk dia…” mendengar ucapan Bunda Alvin terkejut. Apa benar Sivia sakit?
“Vi…Via sakit?? Kok bisa? Tadi dia kan masuk sekolah kok tiba-tiba sakit?”
“pulang sekolah tadi, sehabis kalian latihan vocal Via tiba-tiba pingsan didepan gerbang sekolah, tapi untung ada Iel, Iel yang bawa Via pulang…”
“yang bener Bund….??” Tanya Alvin berusaha meyakinkan,
“buat apa juga Bunda bohong…?? Ya udah sana buruan mandi” Alvin tak berkata apa-apa lagi, ia diam berfikir, Sivia pingsan dan jatuh sakit itu pasti karna ucapannya pada Sivia tadi. Dan sekarang Alvin benar-benar merasa menyesal, ia tak menyangka bahwa semuanya akan separah ini. Alvinpun sudah bertekad, bahwa hari ini juga ia harus minta maaf pada Sivia.

^_^
Dear Diary;
      Kak Alvin terlalu sering nyakitin Via, karna terlalu sering, bahkan Via sampe gak inget berapa kali Kak Alvin nyakitin Via…. Tapi kenapa Via gak pernah bisa benci sama Kak Alvin walopun Via tahu kalo Kak Alvin udah nyakitin Via berkali-kali…
      Untuk kali ini Via bener-bener ngerasa sakit hati sama Kak Alvin, padahal kan Via Cuma mau ngehibur Kak Alvin, tapi kenapa Kak Alvin malah bentak-bentak Via dan ngucapin kata-kata yang nyakitin Via banget…?? Kak Alvin emang gak pernah ngehargain perasaan Via, gak pernah juga ngehargain Via yang sangat sayang sama dia dan selalu berusaha ada disamping dia saat dia lagi ada masalah, jika ngehargain perasaan Via aja Kak Alvin udah gak bisa, gimana mungkin Kak Alvin bisa ngertiin Via….??
      Tuhan… Via bener-bener sayang sama Kak Alvin, Via gak bisa benci sama Kak Alvin… Via tahu, Via gak pantes buat Kak Alvin… mana mungkin pantes? Via kan gak cantik, gak pinter, suka bikin Kak Alvin kesel, sebel, jengkel, marah-marah, udah gitu Via lemot lagi…. Via nyadar diri kok…
      Diary… mulai sekarang Via udah memutuskan, Via gak akan ngejer-ngejer Kak Alvin lagi, Via udah nyerah sama Kak Alvin, Via udah capek, mungkin dengan Via berhenti ngejer-ngejer Kak Alvin, Kak Alvin bisa lebih seneng dan ngerasa bebas… Via akan lakkuin apapun yang bisa bikin Kak Alvin bahagia termasuk itu BERHENTI NGEJER KAK ALVIN….
      Tuhaann…. Kuatkan Via…..  T.T


                  Sivia A


            Air mata Sivia menetes diatas buku diary nya. Sivia memeluk Diarynya erat, isakkannya mulai terdengar. Malam ini Sivia telah mengambil sebuah keputusan yang benar-benar berat. Sivia sendiri tidak yakin dengan apa yang sudah ia putuskan. Apa Sivia bisa jauh dari Alvin? Apa Sivia bisa berhenti mengejar Alvin? Dan yang terpenting adalah, apa Sivia bisa melupakan Alvin? Orang pertama yang sudah membuatnya jatuh cinta, orang pertama yang bisa membuat jantungnya selalu berdegub kencang tak menentu?

^_^

            “gimana keadaan Via, Tan?” Tanya Alvin pada Mama saat ia pergi menjenguk Sivia kerumahnya pada malam harinya.
            “Via udah agak baikan kok Vin, sekarang dia lagi tidur dikamarnya…” jawab Mama seraya tersenyum. Alvin menunduk dalam,
            “maafin Alvin ya Tante, ini semua karna Alvin, Via sakit gara-gara Alvin….”
            “Alvin, kamu jangan ngomong kaya’ gitu dong….”
            “Alvin yakin, Via pasti udah cerita semuanya sama Tante, Alvin bener-bener nyesel Tan…”
            “ya udahlah Vin, Tante ngerti kok, perasaan gak pernah bisa dipaksain, kamu gak usah ngerasa bersalah lagih deh….”
            “oya Tan, Alvin boleh liat kondisi Via sekarang?”
            “boleh! Kamu masuk aja kekamarnya, kamu tau kan dimana kamarnya Via…??”
            “tau kok Tan…”
            “ya udah, kamu masuk aja sendiri kekamarnya Via…”
            “iya Tante…”
            Alvinpun menaiki anak tangga untuk mencapai kamar Sivia. Selepas kepergian Alvin kekamar Sivia, Mama hanya bisa menggeleng pelan seraya tersenyum.
            “dasar anak muda jaman sekarang! Ada-ada aja ulahnya…” ucap Mama pada dirinya sendiri.

^_^
            Dengan ragu Alvin membuka kamar Sivia, setelah pintu terbuka, Alvin mendapati Sivia yang waktu itu tengah terlelap seraya memeluk diarynya. Alvin melangkahkan kakinya lebih dalam lagi kekamar Sivia. Alvin berjalan perlahan mendekati tempat tidur Sivia, tak terasa Alvin kini sudah berdiri disamping tempat tidur Sivia.
            Alvin duduk dipinggir tempat tidur Sivia, Alvin menatap wajah polos Sivia seraya mengingat semua kekonyolan-kekonyolan yang Sivia ciptakan dengan kelemotannya. Sesekali Alvin tertawa kecil mengingat betapa ia sering marah-marah karna kelemotan Sivia yang bisa dibilang sudah keterlaluan.
            ‘gue udah keterlaluan banget sama lo selama ini Vi… maafin gue yaa…? Tapi jujur, terkadang, kelemotan lo itu bisa menjadi hiburan tersendiri buat gue…’ ujar Alvin dalam hati. Tanpa sadar secara perlahan Alvin mengangkat tangannya lalu meletakkannya diatas kepala Sivia. Alvin membelai lembut rambut Sivia seraya terus menatap wajahnya.
            Saat tengah membelai rambut Sivia, tiba-tiba saja perhatian Alvin tertuju pada Buku Diary yang ada dipelukan Sivia. Entah darimana datangnya rasa penasaran yang tiba-tiba menyeruak dibenak Alvin. Alvin mengambil secara perlahan buku Diary Sivia lalu membacanya.
            Alvin tersenyum sendiri saat membaca lembar demi lembar buku diary Sivia, semuanya berisi tentang dirinya, tentang perasaan Sivia pada Alvin, Alvin juga tersenyun dan nyaris tertawa saat mendapati fotonya yang ditempel oleh Sivia dibuku diarynya, Alvin menggeleng berkali-kali. Saat membaca catatan terakhir Sivia, yang Sivia tulis hari ini, tiba-tiba saja senyum yang sedari tadi mengembang diwajah Alvin lenyap seketika.

Diary… mulai sekarang Via udah memutuskan, Via gak akan ngejer-ngejer Kak Alvin lagi, Via udah nyerah sama Kak Alvin, Via udah capek, mungkin dengan Via berhenti ngejer-ngejer Kak Alvin, Kak Alvin bisa lebih seneng dan ngerasa bebas… Via akan lakkuin apapun yang bisa bikin Kak Alvin bahagia termasuk itu BERHENTI NGEJER KAK ALVIN….
      Tuhaann…. Kuatkan Via…..  T.T

            Itulah catatan terakhir Sivia yang membuat senyum Alvin menghilang secara tiba-tiba. Entah kenapa Alvin merasa takut kalau-kalau Sivia benar-benar melupakannya. Alvin kembali menatap wajah polos Sivia yang masih terlelap.
            ‘lo pasti capek Vi selama ini…sekali lagi gue minta maaf…’ batin Alvin. Ia pun meraih pulpen yang ada dimeja lampu Sivia. Alvin membuka halaman terakhir buku diary Sivia, pada halaman terakhir itu, Alvin menuliskan sesuatu untuk Sivia. Setelah selesai menulis, Alvin menutup buku diary Sivia lalu meletakkannya dimeja lampu Sivia.
            Alvin tersenyum, ia memperbaiki aturan selimut Sivia. Setelah selesai memperbaiki aturan selimut Sivia, Alvinpun mendaratkan sebuah kecupan hangat tepat dikening Sivia.

            “good night Princess Lemotku….”


                                    BERSAMBUNG……

0 comments:

Post a Comment