“Vin, aku tahu, seribu kata maaf yang
aku dan Cakka ucapkan gak akan mampu menebus semua kesalahan yang kita perbuat,
aku sadar, aku udah salah banget sama kamu Vin, aku udah berdosa sama kamu….
Tapi aku juga gak tau harus ngelakuin apa…? Disatu sisi aku sayang banget sama
Cakka, tapi disisi lain, aku gak bisa dengan mudah nyakitin kamu yang sangat
sayang sama aku dan yang udah berkorban banyak buat aku, aku bingung…. Aku…”
“cukup
Shill… sekarang kamu langsung aja ke point, mau apa kamu nemuin aku…?” sela
Alvin tiba-tiba ditengah perkataan Shilla. Saat itu Shilla sedang mengajak
Alvin berbicara 4 mata dikantin sekolah. Shilla terdiam sejenak, ia menghela
nafas panjang lantas menjawab pertanyaan Alvin,
“aku
Cuma mau minta, tolong jangan sangkut pautin masalah kita ini dengan CRAG, CRAG
gak boleh pecah Cuma gara-gara kebodohan aku….”
“terus….???”
“jangan
keluarkan Cakka dari CRAG, Pliss Alvin jangan keluarkan Cakka dari CRAG….” Air
mata Shilla menetes secara perlahan. Alvin mengangguk berkali-kali, tanpa
melihat kearah Shilla, Alvin berkata,
“itu
urusan aku, dan bukan urusan kamu….” Ucap Alvin dingin,
“Vin,
kamu jangan kaya’ gini Vin…! Aku yang akan pergi dari kehidupan kalian, aku
janji aku akan menghilang dari kehidupan kalian, tapi pliss, jangan keluarkan
Cakka dari CRAG, jangan…..pliss Vin, plisss…” ucap Shilla memohon dihadapan
Alvin, kali ini Alvin menatap Shilla lekat-lekat, tak lama Alvin berkata,
“kenapa
harus Cakka Shill, kenapa harus dia….? Aku yang cinta sama kamu, aku yang rela
ngorbanin segalanya buat kamu, tapi kenapa sekarang kamu malah memohon buat
Cakka dihadapan aku…? Kenapa? Apa kurangnya aku? Dan apa kelebihannya Cakka
yang gak aku miliki Shill, APAA….???” Mendengar pertanyaan Alvin, Shilla
menggeleng berkali-kali, air matanya semakin deras menetes,
“kamu
sempurna Vin, bahkan lebih dari sekedar sempurna, tapi masalahnya disini, aku
gak bisa maksain hati aku, aku sayang sama Cakka, Cuma dia yang aku cinta, aku
Cuma mau kamu ngerti Vin…. Satu hal yang gak pernah kamu sadari ALVIN….” Kali
ini Alvin menatap Shilla tajam dengan tatapan bertanya, Shilla melanjutkan
perkataannya,
“kamu
gak pernah sadar, bahwa kamu mulai mencintai Sivia, ALVIN….” Alvin tersentak,
bagaimana bisa Shilla berkata seperti itu sementara ia sendiri tak menyadari
akan hal itu? Alvin menggeleng berkali-kali dan mulai membuat sebuah bantahan
dalam hatinya,
“gak…
aku gak pernah mencintai Sivia, dan kamu jangan sekalipun membawa-bawa Sivia
dalam masalah ini, ngerti kamu….?”
“semakin
kamu mengelak, semakin aku yakin kalo kamu bener-bener mencintai Sivia, kamu
mencintai dia Alvin, aku bisa lihat itu dengan jelas dari mata kamu, ok, kamu
bisa aja menghindar dari aku, tapi kamu gak akan pernah bisa menghindar dari
hati kamu, cepat ato lambat, kamu pasti akan sadar, bahwa kamu mencintai Sivia,
SANGAT MENCINTAI SIVIA….”
“STOOOPPPP….
Kamu gak usah sok tau lagi, gak usah sok tau tentang perasaan aku sama Sivia….”
Itulah kata-kata terakhir Alvin sebelum akhirnya ia meninggalkan Shilla.
Selepas kepergian Alvin, Shilla langsung tersenyum dengan air yang menetes dari
kedua pelupuk mata indahnya,
“kamu
mencintai dia Vin, sangat mencintai dia…. Aku yakin…” lirih Shilla.
^_^
“Kak
Alvin….Kak…” ucap Sivia yang saat itu dalam keadaan setengah sadar. Mama
langsung mendekati Sivia,
“Via,
kamu udah sadar sayang….??” Tanya Mama panic. Dengan perlahan Sivia membuka
matanya dan mendapati dirinya sudah ada didalam kamarnya. Sivia dengan dibantu
oleh Mama bangkit dari tidurnya lantas duduk diatas ranjangnya,
“kenapa
Via bisa ada disini Ma…? Tadi bukannya Via masih disekolah nungguin angkot…?”
Tanya Sivia yang tak bisa mengingat apapun yang terjadi. Sebelum menjawab
pertanyaan Sivia, Mama mengambilkan gelas minuman untuk Sivia lalu
memberikannya pada Sivia. Sivia menerima gelas itu lantas meminumnya. Mama
membelai lembut rambut Sivia lantas berkata,
“tadi
Kak Iel yang nganterin kamu pulang, kata Kak Iel tadi kamu tiba-tiba pingsan,
kamu kenapa sih sayang? Cerita sama Mama ya….?” Pinta Mama, tapi Sivia malah
menggeleng,
“enggak
ah Ma, Via gak mau cerita…”
“loh
kok gitu….?” Tanya Mama lagi, Sivia terdiam sejenak, tak lama kemudian ia malah
memeluk Mama lalu menangis terisak seperti anak kecil.
“hik…hik..hik…Kak
Alvin Ma, Kak Alvin marah-marah sama Via, Kak Alvin bilang, Kak Alvin gak akan
pernah suka sama Via, sampai kapanpun gak akan pernah Ma… Via sedih, Via
sediihhh banget….”
“ya
ampun Via, kamu gak usah sesedih ini kali… yang namanya perasaan itu gak bisa
dipaksain sayang, memangnya kamu mau apa Kak Alvin nerima cinta kamu karna
terpaksa? Kalo Mama jadi kamu, Mama sih gak mau… pelan-pelan aja sayang, kalo
Kak Alvin adalah jodoh kamu, kelak Kak Alvin pasti akan jadi milik kamu dan
siapapun gak akan bisa ngubah takdir itu, percaya sama Mama….”
“itu
artinya, suatu saat Kak Alvin bisa cinta sama Via…?? Emangnya bisa Ma…? Tapi
Via rasa itu gak mungkin…hik..hik…”
“gak
ada yang gak mungkin didunia ini sayang…”
^_^
“namaku
cinta… ketika bersama berbagi rasa
Untuk
selamanya…
Nama
ku cinta…ketika kita bersama berbagi rasa
Sepanjang
usia…
Hingga
tiba saatnya akupun melihat..
Cintaku
yang khianat…
Cintaku
berkhianat…
Aku
terjatuh dan tak bisa bangkit lagi….
Aku
tenggelam dalam lautan luka dalam…
Aku
tersesat dan tak tahu arah jalan pulang
Aku
tanpamu…. Butiran debu…
Alvin
menyanyikan lagu itu seraya memainkan sebuah piano. Selama bernyanyi, Alvin
mengingat semua kebersamaannya dengan Shilla juga kenangan-kenangan indah
mereka dan penghianatan Shilla padanya. Seusai menyelesaikan lagu itu Alvin
langsung menghela nafas beratnya. Apapun yang terjadi kini, ia berusaha untuk
kuat dan tidak meneteskan air mata sedikitpun untuk Shilla, seseorang yang
sudah menghancurkan segalanya.
“udah
cukup Vin… lupain semuanya! Lupain Shilla, lo gak boleh terpuruk Cuma gara-gara
cewek penghianat itu, lo harus kuat, harus tetep jadi Alvin yang
sebelum-sebelumnya, seperti kataa….” Alvin tak melanjutkan perkataannya karena
ingatannya langsung tertuju pada cewek lemot itu, cewek yang selama ini selalu
membuatnya kesal dan marah-marah tak jelas. Alvin juga ingat, betapa tadi
ucapannya pada Sivia sangat kasar, tak seharusnya Alvin berkata seperti itu
pada cewek yang sangat menyukainya, biar bagaimanapun Alvin harus tetap
menghargai perasaan Sivia.
“eergghh….”
Alvin mengerang seraya menghentakkan tangannya pada piano yang ada
dihadapannya, Alvin memegangi kepalanya lalu menunduk sedalam-dalamnya.
Perlakuannya pada Sivia tadi membuat Alvin semakin merasa bingung.
Bunda
yang sedari tadi memperhatikan Alvinpun hanya bisa tersenyum, beliau mendekati
Alvin lantas memeluk anak semata sewayangnya itu dari belakang. Bunda
mengusap-usap pelan dada Alvin lantas berkata,
“Bunda
tahu, jagoan Bunda pasti lagi dilemma! Cerita ya sama Bunda…” Alvin melepaskan
pelukan Bunda lantas berdiri dihadapan Bunda. Alvin menatap Bunda sejenak lalu
menarik pergelangan tangan Bunda. Alvin mengajak Bunda duduk disofa. Bunda
hanya mengikuti Alvin tanpa banyak bicara.
“Bunda….
Shilla selingkuh Bund…” Alvin akhirnya membuka ceritanya. Bunda sedikit
terkejut dengan cerita Alvin, Bunda mengangkat kedua alisnya heran,
“dan
Bunda tau gak Shilla selingkuh sama siapa?”
“memangnya
siapa??”
“Cakka
Bund, Shilla selingkuh sama Sahabat Alvin sendiri, dan yang Alvin gak habis
fikir, kenapa mereka tega ngelakuin ini dibelakang Alvin, Alvin bener-bener
kecewa sama mereka Bunda, terutama Cakka, dan sekarang Alvin ngerasa
bener-bener benci sama Cakka, Alvin nyesel udah jadi sahabatnya Cakka….”
“husss…
kamu gak boleh ngomong gitu sayang! Sejelek apapun kelakuan Cakka terhadap
kamu, seharusnya kamu sebagai sahabat yang baik berusaha untuk mengerti dan
memaafkan…”
“Bunda,
Alvin tu Cuma manusia biasa Bunda, Alvin bukan malaikat yang sempurna yang
tidak memiliki rasa benci dan kecewa terhadap siapapun, kalo Bunda nuntut Alvin
kaya’ gitu ya Alvin gak bisa dong Bund….” Mendengar ucapan Alvin, Bunda
tersenyum tenang, Bunda kembali berkata,
“tapi
kamu anak Bunda yang selalu pengertian… kamu udah 17 tahun Vin, kamu bukan anak
kecil lagi, Bunda sering bilang sama kamu, bahwa sesuatu terjadi itu pasti
memiliki sebuah alas an, dan Mama percaya, Cakka sama Shilla punya alas an
untuk itu….”
“dan
alasannya itu karna mereka saling mencintai dan….”
“tidak
ingin mengecewakan kamu kan….??” Lanjut Bunda, Alvin terdiam sejenak,
“itu
artinya mereka masih fikirin perasaan kamu Vin, tapi mereka juga sama-sama gak
bisa buat nahan perasaan mereka, dan perlu kamu tau, cinta bisa membuat
seseorang melakukan apa saja… tapi disini permasalahannya bukan disitu Vin,
masalahnya adalah, apa kamu rela persahabatan yang kamu bangun sama Cakka sejak
kamu masih kanak-kanak hancur Cuma karna cinta….?” Alvin menunduk dalam,
“denger
Bunda,Bunda ngerti, kamu sakit, kamu marah, kamu kecewa, Bunda tau itu, tapi
bukan berarti kamu harus menghancurkan persahabatan kamu juga kan…? Marahlah
semarah-marahnya, kecewalah jika itu yang bisa membuat perasaan kamu lebih
lega, tapi jangan pernah membenci apalagi menyimpan dendam, itu gak baik
sayang, dulu kamu sendirikan yang bilang, sahabat bisa marah tapi tidak akan
pernah bisa membenci! Lampiaskanlah kemarahan dan kekecewaan kamu sama Cakka,
tapi setelah itu berusahalah untuk memaafkan…”
“tapi
Bund…itu semua gak segampang seperti apa yang Bunda fikirin…”
“dan
itu gak sesulit seperti apa yang kamu bayangin…”
“Bunda….”
“
letakkan persahabatan ditempat tertinggi, jadikan persahabatan jauh lebih
penting dari segalanya…. Ingat Vin, dibalik semua ini Tuhan pasti memiliki
rencana indah buat kamu, rencana indah yang nantinya akan membuat kamu
tersenyum dan berkata, terimakasih Tuhan… percaya sama Bunda….”
Alvin
terdiam dan merenungkan baik-baik nasihat dari Bunda. Alvin menunduk, karena
Bunda kebimbangannya bisa sedikit terkurangi. Perkataan Bunda yang paling Alvin
fikirkan adalah saat Bunda berkata bahwa dibalik semua masalah ini Tuhan pasti
memiliki rencana indah untuk Alvin, rencana indah yang nantinya akan membuat
Alvin tersenyum. Benarkah? Jika benar, lantas apakah rencana indah yang telah
disusun oleh Tuhan untuk Alvin….??
“sekarang
kamu mandi gih….” Ucap Bunda tiba-tiba, Alvin terkesiap,
“kenapa
Alvin harus mandi? Alvin gak ada rencana buat kemana-mana hari ini Bund…”
“Via
sakit, sebaiknya kamu jenguk dia…” mendengar ucapan Bunda Alvin terkejut. Apa
benar Sivia sakit?
“Vi…Via
sakit?? Kok bisa? Tadi dia kan masuk sekolah kok tiba-tiba sakit?”
“pulang
sekolah tadi, sehabis kalian latihan vocal Via tiba-tiba pingsan didepan
gerbang sekolah, tapi untung ada Iel, Iel yang bawa Via pulang…”
“yang
bener Bund….??” Tanya Alvin berusaha meyakinkan,
“buat
apa juga Bunda bohong…?? Ya udah sana buruan mandi” Alvin tak berkata apa-apa
lagi, ia diam berfikir, Sivia pingsan dan jatuh sakit itu pasti karna ucapannya
pada Sivia tadi. Dan sekarang Alvin benar-benar merasa menyesal, ia tak
menyangka bahwa semuanya akan separah ini. Alvinpun sudah bertekad, bahwa hari
ini juga ia harus minta maaf pada Sivia.
^_^
Dear Diary;
Kak Alvin terlalu sering
nyakitin Via, karna terlalu sering, bahkan Via sampe gak inget berapa kali Kak
Alvin nyakitin Via…. Tapi kenapa Via gak pernah bisa benci sama Kak Alvin
walopun Via tahu kalo Kak Alvin udah nyakitin Via berkali-kali…
Untuk kali ini Via
bener-bener ngerasa sakit hati sama Kak Alvin, padahal kan Via Cuma mau
ngehibur Kak Alvin, tapi kenapa Kak Alvin malah bentak-bentak Via dan ngucapin
kata-kata yang nyakitin Via banget…?? Kak Alvin emang gak pernah ngehargain
perasaan Via, gak pernah juga ngehargain Via yang sangat sayang sama dia dan
selalu berusaha ada disamping dia saat dia lagi ada masalah, jika ngehargain
perasaan Via aja Kak Alvin udah gak bisa, gimana mungkin Kak Alvin bisa
ngertiin Via….??
Tuhan… Via bener-bener
sayang sama Kak Alvin, Via gak bisa benci sama Kak Alvin… Via tahu, Via gak
pantes buat Kak Alvin… mana mungkin pantes? Via kan gak cantik, gak pinter,
suka bikin Kak Alvin kesel, sebel, jengkel, marah-marah, udah gitu Via lemot
lagi…. Via nyadar diri kok…
Diary… mulai sekarang Via
udah memutuskan, Via gak akan ngejer-ngejer Kak Alvin lagi, Via udah nyerah
sama Kak Alvin, Via udah capek, mungkin dengan Via berhenti ngejer-ngejer Kak
Alvin, Kak Alvin bisa lebih seneng dan ngerasa bebas… Via akan lakkuin apapun
yang bisa bikin Kak Alvin bahagia termasuk itu BERHENTI NGEJER KAK ALVIN….
Tuhaann…. Kuatkan
Via….. T.T
Sivia A
Air
mata Sivia menetes diatas buku diary nya. Sivia memeluk Diarynya erat,
isakkannya mulai terdengar. Malam ini Sivia telah mengambil sebuah keputusan
yang benar-benar berat. Sivia sendiri tidak yakin dengan apa yang sudah ia
putuskan. Apa Sivia bisa jauh dari Alvin? Apa Sivia bisa berhenti mengejar
Alvin? Dan yang terpenting adalah, apa Sivia bisa melupakan Alvin? Orang
pertama yang sudah membuatnya jatuh cinta, orang pertama yang bisa membuat
jantungnya selalu berdegub kencang tak menentu?
^_^
“gimana
keadaan Via, Tan?” Tanya Alvin pada Mama saat ia pergi menjenguk Sivia
kerumahnya pada malam harinya.
“Via
udah agak baikan kok Vin, sekarang dia lagi tidur dikamarnya…” jawab Mama
seraya tersenyum. Alvin menunduk dalam,
“maafin
Alvin ya Tante, ini semua karna Alvin, Via sakit gara-gara Alvin….”
“Alvin,
kamu jangan ngomong kaya’ gitu dong….”
“Alvin
yakin, Via pasti udah cerita semuanya sama Tante, Alvin bener-bener nyesel
Tan…”
“ya
udahlah Vin, Tante ngerti kok, perasaan gak pernah bisa dipaksain, kamu gak
usah ngerasa bersalah lagih deh….”
“oya
Tan, Alvin boleh liat kondisi Via sekarang?”
“boleh!
Kamu masuk aja kekamarnya, kamu tau kan dimana kamarnya Via…??”
“tau
kok Tan…”
“ya
udah, kamu masuk aja sendiri kekamarnya Via…”
“iya
Tante…”
Alvinpun
menaiki anak tangga untuk mencapai kamar Sivia. Selepas kepergian Alvin kekamar
Sivia, Mama hanya bisa menggeleng pelan seraya tersenyum.
“dasar
anak muda jaman sekarang! Ada-ada aja ulahnya…” ucap Mama pada dirinya sendiri.
^_^
Dengan
ragu Alvin membuka kamar Sivia, setelah pintu terbuka, Alvin mendapati Sivia
yang waktu itu tengah terlelap seraya memeluk diarynya. Alvin melangkahkan
kakinya lebih dalam lagi kekamar Sivia. Alvin berjalan perlahan mendekati
tempat tidur Sivia, tak terasa Alvin kini sudah berdiri disamping tempat tidur
Sivia.
Alvin
duduk dipinggir tempat tidur Sivia, Alvin menatap wajah polos Sivia seraya
mengingat semua kekonyolan-kekonyolan yang Sivia ciptakan dengan kelemotannya.
Sesekali Alvin tertawa kecil mengingat betapa ia sering marah-marah karna kelemotan
Sivia yang bisa dibilang sudah keterlaluan.
‘gue
udah keterlaluan banget sama lo selama ini Vi… maafin gue yaa…? Tapi jujur,
terkadang, kelemotan lo itu bisa menjadi hiburan tersendiri buat gue…’ ujar
Alvin dalam hati. Tanpa sadar secara perlahan Alvin mengangkat tangannya lalu
meletakkannya diatas kepala Sivia. Alvin membelai lembut rambut Sivia seraya
terus menatap wajahnya.
Saat
tengah membelai rambut Sivia, tiba-tiba saja perhatian Alvin tertuju pada Buku
Diary yang ada dipelukan Sivia. Entah darimana datangnya rasa penasaran yang
tiba-tiba menyeruak dibenak Alvin. Alvin mengambil secara perlahan buku Diary
Sivia lalu membacanya.
Alvin
tersenyum sendiri saat membaca lembar demi lembar buku diary Sivia, semuanya
berisi tentang dirinya, tentang perasaan Sivia pada Alvin, Alvin juga tersenyun
dan nyaris tertawa saat mendapati fotonya yang ditempel oleh Sivia dibuku
diarynya, Alvin menggeleng berkali-kali. Saat membaca catatan terakhir Sivia,
yang Sivia tulis hari ini, tiba-tiba saja senyum yang sedari tadi mengembang
diwajah Alvin lenyap seketika.
Diary… mulai sekarang Via udah memutuskan, Via gak akan
ngejer-ngejer Kak Alvin lagi, Via udah nyerah sama Kak Alvin, Via udah capek,
mungkin dengan Via berhenti ngejer-ngejer Kak Alvin, Kak Alvin bisa lebih
seneng dan ngerasa bebas… Via akan lakkuin apapun yang bisa bikin Kak Alvin
bahagia termasuk itu BERHENTI NGEJER KAK ALVIN….
Tuhaann…. Kuatkan
Via….. T.T
Itulah
catatan terakhir Sivia yang membuat senyum Alvin menghilang secara tiba-tiba.
Entah kenapa Alvin merasa takut kalau-kalau Sivia benar-benar melupakannya.
Alvin kembali menatap wajah polos Sivia yang masih terlelap.
‘lo
pasti capek Vi selama ini…sekali lagi gue minta maaf…’ batin Alvin. Ia pun
meraih pulpen yang ada dimeja lampu Sivia. Alvin membuka halaman terakhir buku
diary Sivia, pada halaman terakhir itu, Alvin menuliskan sesuatu untuk Sivia.
Setelah selesai menulis, Alvin menutup buku diary Sivia lalu meletakkannya
dimeja lampu Sivia.
Alvin
tersenyum, ia memperbaiki aturan selimut Sivia. Setelah selesai memperbaiki
aturan selimut Sivia, Alvinpun mendaratkan sebuah kecupan hangat tepat dikening
Sivia.
“good
night Princess Lemotku….”
BERSAMBUNG……


0 comments:
Post a Comment