Alvin tersenyum simpul, ia menepuk
tangannya beberapa kali seraya berjalan mendekati Cakka dan Shilla. Pada saat
yang bersamaan Febby dan Pricilla memasuki ruang music, lalu disusul oleh
Gabriel dan Sivia, semuanya heran dan berfikir keras, apa yang telah
terjadi….??
Alvin
menghentikan langkahnya tepat dihadapan Cakka dan Shilla, Alvin menatap Shilla
lekat-lekat yang saat itu hanya bisa menunduk dalam, sesekali juga Alvin
mengalihkan perhatiannya pada Cakka. Cakka tak bisa berkata apa-apa, ia juga
sudah tak bisa membela dirinya lagi. Bagaimana ia harus membela diri jika Alvin
mengkapnya basahnya seperti ini.
“Vin…
lo dengerin gue…” kata Cakka berusaha memegang pundak Alvin dan menjelaskan
semuanya, tapi apa yang malah Alvin lakukan, ia menepis tangan Cakka dengan
keras lalu menatap Cakka tajam,
“gue
gak mau denger apa-apa dari lo! Lo itu gak lebih dari seorang penghianat nan
pengecut yang bisanya Cuma nusuk SAHABATNYA dari belakang, gue salah apa sama lo
Kka….? Kenapa lo harus kaya’ gini….? KENAPAA….??” Sentak Alvin.
Gabriel
yang mulai paham dengan apa yang terjadipun langsung menunduk dalam seperti
Shilla. Sivia terlihat gusar, ia seolah ingin menghampiri Alvin, namun Gabriel
langsung mencekal lengannya seraya menggeleng berkali-kali.
Menanggapi
kediaman Cakka, emosi Alvin semakin meluap hebat. Sekali lagi Alvin berteriak
dihadapan Cakka,
“LO
JANGAN DIEM AJA! JAWAB GUE! KENAPA LO NGELAKUIN INI?? KENAPA LO SELINGKUH SAMA
CEWEK GUE?? CEWEK YANG SANGAT GUE SAYANG….???”
“ada
apa sih sebenernya…??” Tanya Febby dan Pricilla yang belum mengetahui apapun.
Tak ada seorangpun yang menjawab pertanyaan mereka.
Cakka
masih diam sementara emosi Alvin sudah meluap hebat, tak bisa dibendung lagi.
Alvin mengepalkan tangannya dan tanpa berfikir panjang langsung mendaratkan
tinjunya tepat diwajah Cakka. Cakka tak melawan, Shilla tetap diam tak
bergeming.
“kenapa
lo Cuma bisa diem Kka…? KENAPA???” Rio memasuki ruang music, ia tersentak saat
mendapati kedua sahabatnya tengah bertengkar hebat. Ketika Alvin akan kembali
menghajar Cakka, Rio langsung berlari kearah Alvin dan Cakka untuk menghentikan
semuanya.
“Alvin
lo kenapa sih….??” Tanya Rio seraya menahan lengan Alvin,
“lepasin
gue Rio! Biarin gue hajar penghianat itu, gue mau habisin dia, gue gak akan
biarin dia hidup….”
“ADA
APA SIH SEBENERNYA….???” Tanya Rio lagi.
“CAKKA
UDAH SELINGKUH SAMA SHILLA, DIA UDAH NUSUK GUE DARI BELAKANG….”
“APAAA….???”
Kali ini Rio semakin tersentak, ia benar-benar tak bisa mempercayai dengan apa
yang baru saja ia dengar dari mulut Alvin. Secara perlahan Rio melepaskan
tangan Alvin, kali ini Rio menatap Cakka dan Shilla secara bergantian,
“apa
bener yang Alvin bilang Kka….??” Cakka mengangguk pelan, Alvin kembali
mendaratkan pukulannya diwajah Cakka, pukulan Alvin yang lumayan keras itu
sukses membuat Cakka terjatuh tepat didepan kaki Alvin.
“SEKARANG
JAWAB GUE! KENAPA LO LAKUIN ITU?? KENAPAA????”
“KARNA
GUE CINTA SAMA SHILLA, DAN KARNA SHILLA JUGA CINTA SAMA GUE….” Jawab Cakka pada
akhirnya, Shilla memejamkan matanya sejenak, air matanya menetes secara
perlahan. Alvin mengangguk paham, ia menghela nafas panjang lantas berkata,
“MANIS
YA KELAKUAN KALIAN BERDUA……??” Ketika Alvin kembali ingin menyerang Cakka yang
saat itu tak melawan sedikitpun, Shilla langsung menahan Alvin, dengan linangan
air mata dan isakkan yang cukup kuat, Shilla berkata,
“hentikan
Vin…..hik..hik…”
“kamu
jahat Shill…. Kenapa kamu hancurkan semuanya? Kalo emang kamu udah gak cinta
lagi sama aku, kenapa kamu gak ngomong sejak awal, kenapa harus seperti ini?
SANDIWARA KAMU SELAMA INI BENAR-BENAR SUKSES SHILL, PUAS KAMU, PUAS KAMU UDAH
MAININ PERASAAAN AKU….??”
Tanpa
ada yang menduga, Shilla langsung berlutut dihadapan Alvin. Semuanya tersentak
termasuk Alvin dan Cakka.
“aku
berlutut dihadapan kamu Vin, semua yang ada disini menjadi saksi atas
pengakuanku, aku berlutut memohon maaf dari kamu Vin, aku yang jahat, aku yang
gak bisa jaga cinta yang udah kamu berikan, aku bener-bener minta maaf…. Selama
ini aku Cuma gak bisa bohongin perasaan aku bahwa ternyata yang aku cinta
adalah Cakka bukan kamu….”
“TERUS
KENAPA KAMU GAK JUJUR…??”
“karna
aku belum siap nyakitin kamu…..”
“DAMN!
Kamu bener-bener jahat Shilla, memangnya kamu fikir dengan kamu menyembunyikan semua itu aku gak sakit, aku
sakit Shill, dan aku ngerasa jadi manusia paling begok didunia ini karna udah
percaya sama kamu…. dan mulai sekarang, gue gak mau lagi lihat kalian berdua….
GUE BENCI SAMA KALIAN…..” kata Alvin seraya menunjuk Cakka dan Shilla secara
bergantian.
Dengan
emosinya yang masih meluap dan belum teredam Alvin meninggalkan ruang music.
Saat melewati Sivia, Sivia mencekal lengan Alvin dan menatap Alvin penuh Tanya.
Tak lama menatap Sivia, Alvin menarik lengannya dengan kasar dari genggaman
Sivia lantas melanjutkan perjalanannya.
“Kak
Alvin….” Panggil Sivia seraya mengejar Alvin.
Beberapa
saat setelah kepergian Alvin dan Sivia, Rio dan Gabrielpun menghampiri Cakka
dan Shilla.
^_^
“AARGGGHHH….CAKKA
SHILLA…. LO BERDUA EMANG PENGHIANAT, GUE BENCI SAMA KALIAN, GUE BENCIIII…..”
Teriak Alvin sekencang-kencangnya dihalaman belakang sekolah. Sivia yang saat
itu berdiri tepat dibelakang Alvin merasa ragu-ragu untuk mendekati Alvin.
Sivia menghela nafas panjang dan berusaha meyakinkan hatinya, setelah ia merasa
yakin, Sivia melangkahkan kakinya dengan mantap lalu menepuk pelan pundak Alvin
dari belakang,
“Kak
Alvin, sabar ya….” Lirihnya pelan. Alvin yang saat itu sudah berlinang air
matapun berusaha menghapus air matanya saat ia menyadari bahwa ia tak sendiri
ditempat itu.
“ngapain
lo kesini….?” Tanya Alvin dingin. Sivia menurunkan tangannya dari pundak Alvin
lantas melangkah kedepan Alvin. Kali ini Sivia sudah berdiri tepat dihadapan
Alvin,
“Kak
Alvin jangan sedih ya Kak…? Via kan jadi ikutan sedih ngeliat Kak Alvin sedih….
Mending Kak Alvin gak usah fikirin Kak Shilla lagi yang udah nyakitin Kak
Alvin, Kak Alvin harus tetep kuat seperti sebelum-sebelumnya….” Sivia berusaha
memberi semangat untuk Alvin, tapi apa yang malah Alvin katakan? Sungguh diluar
dugaan Sivia,
“lo
gak usah sok nasehatin gue deh, lo fikir dengan Shilla ngehianatin gue dan lo dateng
secara tiba-tiba buat sok-sokkan ngehibur gue, gue bakalan luluh dan jadi suka
gitu sama lo? Lo salah besar Sivia, apapun yang terjadi dan sampai kapanpun
itu, gue gak akan pernah suka sama lo, dan gak akan pernah suka sama lo…..”
“Kak
Alvin….” Ucap Sivia tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut
Alvin. Sungguh Sivia sama sekali tidak memiliki niat apapun pada Alvin, semua
apa yang Alvin tuduhkan itu salah besar. Tapi saat ini juga Alvin sedang dalam
keadaan yang sangat kacau, ia tak sadar dengan apa yang ia ucapkan pada Sivia.
“bukan
gitu Kak….”
“udah
deh, enek tau gak gue ngeliat muka lo terus… sekarang mending lo pergi dari
sini, biarin gue sendiri….” Usir Alvin.
“Kak….”
“PERGIII….GUE
BILANG PERGIIIII…..” Teriak Alvin sekencang-kencangnya. Sivia yang merasa sudah
tak tahan lagi dengan Alvinpun akhirnya menangis, ia berlari dari sana dan
meninggalkan Alvin sendiri. Beberapa saat kemudian, Alvin berlutut, ia mengacak
rambutnya lantas kembali berteriak sekencang-kencangnya,
“AAARGGGHHHHH…….”
^_^
“Kau
membuat ku berantakkan…..
Kau
membuat ku tak karuan…..
Kau
membuat ku tak berdaya kau menolakku,
Acuhkan
diriku…..
Bagaimana
caranya untuk….
Meruntuhkan
kerasnya hatimu….
Kusadari….
Ku tak sempurna…
Ku
tak seperti yang kau inginkan…..
Kau
hancurkan aku dengan sikapmu…..
Tak
sadarkah kau telah menyakitiku….
Lelah
hati ini meyakinkanmu….
Cinta
ini membunuhku…..”
Sivia
menyanyikan lagu seraya memainkan sebuah piano. Saat itu Sivia sedang berada
didalam diruang music menunggu kedatangan Pak Dave juga Alvin. Hari ini Pak
Dave meminta Alvin dan Sivia untuk langsung latihan setelah pulang sekolah.
Perlombaan tinggal sebentar lagi dan semuanya harus benar-benar dipersiapkan
secara matang.
Tanpa
Sivia sadari ternyata Alvin mendengarkan nyanyiannya dari balik pintu. Alvin
menatap Sivia dengan sedih, ia baru menyadari bahwa tak seharusnya ia berbuat
kasar pada Sivia seperti tadi, padahal Sivia memiliki niat yang baik untuk
menghiburnya. Alvin mengela nafas berat, rasa penyesalan kini pun telah
membelenggunya dan membuatnya sulit bernafas. Alvin telah bertekad, bahwa hari
ini juga ia akan minta maaf pada Sivia.
“loh
Alvin kok kamu diem? Kok gak langsung masuk aja….?” Tanya Pak Dave tiba-tiba
dari belakang Alvin. Alvin terkesiap,
“eh,
Pak Dave….”
“iya
kenapa kamu gak masuk….?”
“ini
juga mau masuk Pak…..” Alvin dan Pak Davepun akhirnya masuk secara bersamaan.
Saat
Alvin dan Pak Dave memasuki ruang music, Sivia langsung menghentikan permainan
pianonya. Ia bangkit dari duduknya lalu memberikan senyuman untuk Pak Dave,
ketika melihat Alvin, senyum yang terlukis diwajah cantik Sivia langsung sirna
seketika. Sivia menunduk dalam, untuk yang pertama kalinya ia merasa sakit hati
pada Alvin.
Alvin
dan Sivia duduk berseblahan disebuah bangku. Pak Dave berdiri dihadapan mereka
lantas berkata,
“Ok,
Alvin dan Sivia, jadi pada perlombaan nanti, lagu yang akan kalian bawakan itu
adalah lagu dari Melly Goeslow feat Evan yang judulnya Tentang Dia, perlu
kalian ketehui, lagu ini memiliki tingkat kesulitan yang cukup, jadi tetap
berhati-hati, pembagian suara harus benar-benar kalian perhatikan, kalian harus
bisa memecah suara kalian….” Ucap Pak Dave memberi nasihat. Selama Pak Dave
berbicara, sesekali Alvin mencuri pandang kearah Sivia yang saat itu tak
sedikitpun menghiraukannya.
“Baik
Pak….” Ucap Alvin dan Sivia serentak,
“mungkin
hari ini pelatih vocal kalian akan datang agak telat, jadi silahkan kesempatan
itu kalian pergunakan untuk mempelajari lagu yang akan kalian nyanyikan, dan
besok Johan Jaffar salah seorang koreografer akan melatih koreo kalian biar
kalian tidak terlihat kaku diatas panggung….”
^_^
Selama
latihan berlangsung, Sivia tak sedikitpun menghiraukan Alvin. Alvin paham,
Sivia pasti marah padanya karna ucapannya tadi. Alvin mengakui kesalahannya dan
ia merasa sangat menyesal dengan apa yang sudah ia ucapkan pada Sivia. Satu jam
kemudian latihan usai. Sivia terlihat sibuk membereskan barang-barangnya, saat
Alvin akan mengucapkan sesuatu pada Sivia, Sivia malah bangkit dari samping
Alvin lantas pergi begitu saja. Alvin menunjuk Sivia dengan wajah kebingungan.
“Vi…Via…”
panggil Alvin pelan tanpa suara. Alvin menggaruk kepalanya dan langsung berlari
untuk menyusul Sivia keluar. Saat Alvin akan keluar dari ruang music seseorang
malah menghalangi jalannya,
“Vin,
kita bisa ngomong? Sebentar aja….”
“apalagi
Shill….??” Tanya Alvin pada seseorang yang ternyata adalah Shilla.
^_^
Sivia
merasakan sakit dikepalanya, kelamaan sakit itu semakin terasa. Pengelihatan
Sivia mulai berkunang-kunang, ia merasakan semuanya berputar semakin lama
semakin kencang. Sivia memegangi kepalanya.
Gabriel
yang saat itu akan keluar dari gerbang sekolah dengan motornya langsung
menghampiri Sivia saat ia melihat Sivia, Gabriel berhenti tepat disamping
Sivia,
“Via,
Kakak anter yuk!” ajak Gabriel seraya tersenyum sangat manis. Sivia
menghentikan langkahnya namun tak menjawab pertanyaan Gabriel. Sivia merasa
kondisinya semakin lemah saja, dan Sivia sudah tak sanggup lagi berdiri diatas
kedua kakinya. Gabriel yang merasa aneh dengan kondisi Siviapun memegang lengan
Sivia, seraya menatap wajah Sivia yang tampak pucat Gabriel bertanya,
“Via,
lo kenapa….???” Sebelum sempat menjawab pertanyaan Gabriel, Sivia malah jatuh
pingsan tak sadarkan diri. Gabriel sebisa mungkin menahan tubuh lemah Sivia,
“Via
bangun…! Via kenapa? Ayo bangun…VIAAA….???” Ucap Gabriel dengan panic……
BERSAMBUNG……


0 comments:
Post a Comment