Saturday, May 4, 2013

0

Seperti Sebuah Bintang Part 10 "DagDigDug Jdaarrrr.... Kunyuk Sialaaannn!!!"

Seperti Sebuah Bintang Part 10 “DagDigDug Jdaaarr…. Kunyuk Sialan!!!”


Hari ke-4 (Selasa)

===========================
Your Massage:

Heh… hari ini lo nggak usah
Jemput gue! Gue mau brngkt
Bareng Cakka. Lo tenang
Aja, gue nggak akan kabur kok…

===========================
From: KunyuK

Pede lu! Siapa juga yg mau
Jemput lo?! GAUSAH
KEPEDEAN KALO JADI CEWEK!!
NTAR NGGAK LAKU-LAKU
MAMPUS LO!!!
Lo jadi perawan tua, gue
Sukurin :p

===========================


            “AAAAAAA….. KUNYUK RESEEEEEEEEE!!!! AWAS LO NANTI!!!” Teriak Sivia sekencang-kencangnya didalam kamarnya saat ia membaca pesan terakhir dari Alvin.
            Mulai hari ini Sivia sudah memutuskan untuk memperbaiki hubungannya dengan Cakka yang selama beberapa hari terakhir ini mulai merenggang, dan tadi dia hanya bermaksud memberitahukan kepada Alvin supaya tidak mejemputnya karna ia ingin berangkat kesekolah bersama Cakka saja, tapi Si Kunyuk itu malah salah pengertian.
            Kalau tidak ingat dia tidak memiliki Handphone lagi selain yang ada ditangannya saat ini, mungkin Sivia sudah membanting Handphone itu ke lantai lalu menginjak-injaknya, sekalian juga Sivia ingin membanting serta menginjak-injak cowok rese yang telah memberikannya Handphone itu.
            Dengan kekesalan yang sudah mencapai ubun-ubun, Sivia memukul-mukulkan Handphone tak  berdosa itu beberapa kali pada kasur busanya. Untung Cuma dikasur.
            “Kak, lo ngapain sih pake tereak-tereak segala?? Itu Kak Cakka udah didepan nungguin lo” ucap Marsha dari arah pintu.
            Sivia langsung menormalkan sikapnya lalu menegakan kepalanya untuk melihat Marsha.
            “iya, ini Kakak juga udah mau turun kok”
            “KELAMAAN LO!!”
            Dengan tak berprasaan sama sekali Marshapun membanting pintu kamar Kakaknya dengan keras. Tapi tunggu dulu, tadi bukannya Marsha ngomong elo-gue ke Sivia? Ups… Sivia baru menyadarinya ternyata. Sejak kapan anak itu berubah kurang ajar pada Kakaknya?
            “MARSHAAA…..?? TADI LO NGOMONG APA KE GUE?? BALIK LO CEPETAN!! MINTA MAAF! DASAR ADEK KURANG ASEM LO” Teriak Sivia lagi dengan volume suara yang tidak kalah kencangnya dengan teriakannya yang pertama tadi.
            Tapi orang diteriaki sekarang sedang asyik mendengarkan music melalu i-podnya dengan menggunakan earphone, alhasil Marsha sama sekali tidak mendengarkan suara teriakan Kakaknya itu.

^_^

            “dasar kepedan! Lo fikir lo siapa ngomong kayak gitu ke gue? SOK PENTING banget sih lo jadi cewek??” dumel Alvin seraya memakan nasi gorengnya dengan kecepatan super tinggi. Bahkan belum sempat Alvin menelan nasi gorengnya, ia malah kembali memasukan sesendok penuh nasi goreng kedalam mulutnya yang sebenarnya sudah mencapai ambang maksimal.
            Tidak puas hanya dengan nasi goreng, dengan bengis Alvin kembali menegak setengah gelas susu sebelum ia menelan kunyahannya. Mama yang melihat keganjilan pada sikap Alvin pada pagi hari itupun merasa heran sendiri.
            “Alvin, kalo makan pelan-pelan sayang, nanti kese –“
            “UHUK…UHUK…UHUKKK….” Belum selesai ucapan Mama, Alvin malah sudah tersedak terlebih dahulu.
            “Lek….” Lanjut Mama dengan nada yang sangat pelan.
            “UHUK..UHUK..UHUK….” Alvin buru-buru meraih segelas air putih yang Mamanya sodorkan lalu meminumnya cepat-cepat.
            Alvin merasakan rasa panas bercampur perih yang kini memenuhi rongga dadanya. Alvin menepuk dadanya beberapa kali dengan raut wajah yang benar-benar terlihak begok. Mama bangkit, ia berdiri dibelakang Alvin lalu mengusap-usap pelan punggung Alvin untuk mengurangi rasa perih didadanya.
            “kamu ada masalah? Masalah apa sih sampe makan kok kayak orang kesetanan?”
            Alvin menggeleng cepat.
            “nggak ada, Ma… nggak ada…”
            “ya udah, makanya laen kali hati-hati”


^_^

            Cakka dan Sivia berjalan beriringan dikoridor. Sesekali mereka terlihat tertawa bersama, sesekali Sivia mengerucutkan bibirnya dengan sebal ketika Cakka meledeknya, sesekali juga Sivia malah tersenyum-senyum sendiri ketika Cakka harus dengan terpaksa memujinya supaya tidak ngambek lagi. Cakka lebih mendekat lagi kearah Sivia lantas merangkul pundak Gadis Bawel itu dengan erat.
            Sejak kemarin Cakka sudah memutuskan untuk menghapus perasaan cinta nya pada Sivia. Cakka juga akan berusaha untuk menghilangkan keinginannya memiliki Gadis itu. Cakka tahu semua itu tidak mudah, sama sekali tidak gampang, tapi Cakka harus bisa mengerti bahwa selamanya ia tidak akan pernah bisa memiliki Sivia dalam bentuk ikatan hubungan apapun kecuali persahabatan. Dan memang seharusnya sejak awal Cakka menyadari itu.
            Dengan gemas Cakka mengacak poni Sivia, saat itu juga Sivia langsung cemberut ditempat.
            “Cakka Nuragaaaa…..!! lo seneng banget sih ngacak-ngacak poni gue?”
            “hahahahaha…. Suka-suka gue lah” balas Cakka dengan menyebalkannya lantas berlari menjauhi Sivia.
            “heh, Cecak jangan lari lo!!”
            Siviapun berlari mengejar Cakka yang saat itu nyaris tiba dikelas. Tapi ups…. Ketika Cakka akan memasuki kelas, tanpa sengaja ia bertabrakan dengan seorang cewek yang waktu itu akan keluar dari kelas. Mereka sama-sama meringis pelan dan sama-sama terjatuh dengan posisi duduk.
            “awww…” rintih Agni seraya mengusap-usap lengannya.
            Cakka tersadar dan langsung bangkit dari jatuhnya.
            “sorry… sorry… gue nggak sengaja”
            Cakka mendekati Agni lalu mengulurkan tangannya dihadapan Cewek Tomboy itu. Agni melirik sejenak kearah tangan Cakka yang terulur. Tidak lama Agni pun tersenyum kecil lalu menerima uluran tangan Cakka. Dengan sigap Cakka menarik tangan Agni untuk membantunya berdiri, dan kali ini Cakka dan Agni sudah berdiri berhadapan.
            “sekali lagi gue minta maaf ya, Ag…?”
            “nggak apa-apa, gue juga yang ceroboh kok tadi” balas Agni  disertai dengan sebuah senyuman manis yang membuatnya semakin terlihat ayu.
            “Cak….” Sivia menghentikan langkahnya saat ia melihat Cakka tengah bersama dengan seorang cewek yang asing dalam pengelihatan Sivia.
            “Kka….” Lanjut Sivia pelan. kali ini pandangan matanya tertuju pada Agni yang juga memberikan senyuman manis padanya. Wajar saja jika Sivia tidak mengenali Agni, kemarin kan Sivia bolos bersama Alvin.
            “Hallo….” Sapa Agni dengan ramah sambil melambaikan tangannya dihadapan Sivia.
            “ha.. hallo juga…” balas Sivia yang masih merasa heran dengan Agni.
            “kenalin gue Agni. Gue anak baru disini, gue pindahan dari Jogja” ucap Agni memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya dihadapan Sivia.
            Sivia yang masih heran langsung saja menjabat tangan Agni seraya menyebutkan namanya.
            “gue Sivia, tapi panggil Via aja… Elo anak baru dikelas ini…?”
            “iya. Elo kemaren nggak masuk ya?” Tanya Agni lagi. Kali ini jabatan tangan mereka sudah terlepas.
            “iya, kemaren gue nggak masuk, hehe…” Jawab Sivia sambil nyengir. Senyuman Agni semakin melebar.
            Secara perlahan Sivia menoleh kearah Cakka. Siviapun melirik Cakka dengan lirikan nakal dengan kedua alis yang sengaja ia naik turunkan.
            “apaan sih?” Cakka tidak paham.
            Sivia akhirnya mendekatkan bibirnya pada telinga Cakka. Kali ini giliran Agni yang dibuat heran.
            “cewek ini boleh juga buat elo…” bisik Sivia pelan dan langsung kabur begitu saja dari samping Cakka.

^_^

            Seseorang menghalangi langkah Alvin ketika hendak memasuki gedung sekolahnya. Alvin menghentikan langkahnya lalu menatap dingin kea rah Pria yang kini menghalangi jalannya. Pria itu adalah Farish Sindunata. Papa Alvin sendiri. Ketika pertama kali melihat Pria ini menghalangi jalannya, Alvin sudah tahu pasti apa maksud kedatangannya menemui Alvin disekolah.
            “Papa mau bicara sama kamu, Vin” ucap Farish dengan tegas. Alvin berdecak pelan lalu menatap tajam kearah mata Papa nya.
            “kalo ini menyangkut masalah pernikahan Papa dengan Wanita itu, aku nggak mau tau, Papa boleh marah, Papa boleh ngehukum aku, tapi aku sudah nggak mau tau lagi apapun yang meyangkut tentang masalah Papa juga wanita bernama Denita itu…”
            “Alvin, yang sopan kamu kalau bicara dengan orang tua”
            “dan kalo Papa kesini Cuma buat maksa aku buat mau kenalan sama Wanita itu, aku nggak mau” tukas Alvin cepat yang seakan enggan menghiraukan setiap ucapan dari Papanya.
            “Alvin, kamu….” Ucap Farish dengan emosi tertahan.
            “ini sekolahan Pa, aku rasa kita nggak pantes aja buat ngomongin masalah ini disekolah, dan aku rasa Papa cukup pinter untuk memahami semuanya”
            Suara Bel tanda masuk yang berdering dengan nyaring seakan membebaskan Alvin dari obrolan yang lumayan panas itu. Perlahan Alvin menghela nafas panjang dan kembali berkata pada Papa nya.
            “udah bel, Pa. Aku masuk dulu. Lebih baik sekarang Papa balik kekantor, karna aku rasa Wanita itu sudah nungguin Papa disana!”
            Dengan gaya santainya yang seperti biasa, Alvin berjalan melewati Papanya begitu saja. Kali ini Farish sudah tidak bisa lagi menahan emosinya. Kesabarannya selama 2 tahun terakhir ini dalam menghadapi kebekuan Alvin ternyata tidak membuahkan apa-apa. Anak itu tidak bisa dibiarkan lagi. Mungkin dengan sedikit tindakan bisa membuatnya luluh dan tunduk kembali kepada Papanya seperti dulu.
            Farish menggenggam kuat-kuat jemari tangannya bersama emosinya yang semakin lama semakin memenuhi kepalanya sampai ke ubun-ubun.


^_^

            “Shill, nih HP lo, makasih udah ngasih gue minjem” kata Sivia seraya menyerahkan Handphone Shilla yang selama beberapa hari ini ia pinjam saat jam pulang sekolah tiba. Dengan senang hati Shilla menerima Handphonenya.
            “ok, sama-sama Sivia sayaaangg….! Tunggu dulu, emangnya lo udah punya HP baru?”
            Sivia mengangguk pasti lalu mengeluarkan Handphonenya dari saku  seragamnya. Shilla benar-benar tercengang ketika melihat Handphone baru Sivia. Bagaimana tidak? Sejak pertama kali Shilla melihat iklan Handphone itu diinternet, sejak saat itulah Shilla sangat menginginkan Handphone itu. Berkali-kali ia meminta Gabriel untuk membelikan untuknya, tapi Gabriel selalu saja tidak punya waktu.
            “Gilaaa… ini Handphone lo, Vi…? Siapa yang ngasih? Cakka yaa?”
            “bukan Cakka” jawab Sivia cepat.
            “terus siapa?? You know what? Ini Handphone copule, dan sampai saat ini Handphone ini Cuma ada sepasang di Indonesia, lo beruntung banget tau, Vi…? Siapa yang ngasih?” kali ini Shilla mengalihkan perhatiannya pada Sivia.
            Tidak beda jauh seperti Shilla tadi, kali ini giliran Sivia yang tercengang. Benar-benar tercengang. Sivia bahkan baru tahu kalau Handphone yang Alvin berikan adalah handphone couple dan Cuma ada sepasang di Indonesia. Jika baru saja Shilla tidak memberi tahunya, mungkin selamanya Sivia tidak akan pernah tahu menau tentang Handphone ini. Dan pertanyaannya adalah, buat apa Alvin membelikan handphone couple ini untuknya? Jika mau, Alvin bisa saja kan memberikan Handphone itu pada pacarnya atau pada cewek yang dia sayang?
            Sivia mengerjap lantas menggelengkan kepalanya beberapa kali.
            “Heh, Sivia! Siapa yang ngasih?” Shilla mengulang pertanyaannya.
            “emmm… nyokap gue yang beliin, buat Marsha satu, dan buat gue satu…” alibi Sivia.
            Ia sengaja tidak mengatakan yang sebenarnya pada Shilla. Karna jika Sivia mengatakan yang sebenarnya pada Si Ember itu, pasti urusannya akan menjadi sangat runyam.
            “masa sih?” Tanya Shilla tak percaya dengan pandangan menyelidik.


^_^

            Sepulang sekolah, Sivia langsung pergi ke rumah Singgah dengan diantarkan oleh Ify. Seperti  biasa, Sivia mengajak Ify bekerja sama supaya tidak ada satu orangpun yang tahu bahwa selama seminggu ini Sivia bekerja sebagai pembantu dirumah singgah milik Alvin.
            Ify hanya mengantar Sivia sampai gerbang saja. Setelah mengantar Sivia, Ify pun langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal.
            Sivia memasuki rumah singgah dengan riang dan dengan suasana hati yang benar-benar gembira. Sivia juga menyenandungkan lagu Rasa Ini dari miliknya Vierra. Entah karna apa? Sivia belum menyadarinya dan mungkin belum mengerti dengan hatinya saat ini.
            Susana Rumah Singgah siang ini benar-benar sangat sepi. Kemana para penghuninya? Fikir Sivia. Setelah mengedarkan pandangannya kesagala arah, Siviapun melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Tapi sekotak cokelat yang waktu itu sedang nganggur diatas meja membuat Sivia kembali menghentikan langkahnya.
            Sebuah senyuman manis langsung mengembang diwajah Manis Sivia ketika melihat cokelat itu. Sivia ini memang adalah seorang pecinta cokelat. Bahkan ia menyebut sampai dirinya ‘COKELATHOLIC’. Dan kegilaannya pada cokelat sering kali mendapat protes keras dari dari Mama nya juga Marsha. Jika sudah berhadapan dengan cokelat, Sivia pasti tidak akan menghiraukan siapapun.
            Sivia berjalan cepat menghampiri meja itu dengan senyuman yang masih betah tersungging diwajahnya. Sivia terduduk dilantai, lantas seperti orang kesurupan Sivia membuka kotak cokelat itu dan mencomot isinya satu persatu.
            Alvin membelalak lebar-lebar ketika melihat sekotak cokelatnya tengah disantap oleh si Jelek itu. Alvin menghela nafas beberapa kali lalu berjalan menghampiri Sivia.
            “Heh! Suruh siapa lo makan cokelat gue?” sinis Alvin seraya berkacak pinggang.
            Sivia terkejut. Ia menghentikan aktifitasnya memakan cokelat lalu secara perlahan menoleh kebalakang. Dan wajah sangar Alvin saat itu langsung menyambut Sivia.
            “hehehe… elo yang punya?” Tanya Sivia dengan mulut penuh. Mulutnya sampe kotor dimana-mana terkena cokelat. Alvin sampai tidak habis fikir ketika melihat pemandangan yang saat ini ada didepan matanya.
            “iya, gue yang punya! Lagian, lo udah kayak maling aja tau?”
            Sivia mengelap mulutnya menggunakan tangannya lalu berdiri disamping Alvin.
            “Jorok!” pekik Alvin. Sivia malah cuek-cuek saja.
            “gue fikir tadi nggak ada yang punya, makanya gue makan aja nih cokelat. Asal lo tau aja ya? Gue ini cokelatholic tau, paling nggak bisa liat cok—“
            Sivia langsung menghentikan ocehannya seketika saat tangan Alvin dengan begitu cepatnya memegang kedua sisi dagunya seraya berkata,
            “muntahin nggak cokelat gue! Muntahin! Gue nggak relay a cokelat gue dimakan sama cewek Jelek, Bawel, dan nggak jelas kayak lo. Buruan muntahin!!”
            “gimana bisa… emmmmm…” ucap Sivia tak jelas karna saat ini Alvin sudah setengah membekap mulutnya. Sivia memukul-mukul pelan tangan Alvin yang membekap mulutnya agar terlepas, namun sayang tidak berhasil.
            “Kunyuk lepassss!! Eemmm….” Jerit Sivia. Alvin menggeleng jahil.
            “lo mau gue lepasin nggak?” Tanya Alvin yang masih saja menahan Sivia. Mendengar pertanyaan Alvin, Sivia buru-buru mengangguk.
            “kalo gitu lo harus ikutin ucapan gue dengan bener! Kalo nggak gue nggak akan ngelepasin lo”
            Sekali lagi Sivia mengangguk pasrah. Apa sajalah, asal Si Kunyuk ini mau melepaskannya dan kalau bisa membiarkannya memakan cokelat ini sepuasnya. Sivia menatap sedih kearah kotak cokelat itu.
            “sekarang lo ikutin gue, follow me!! Ehemmm….”
            “kelamaan lu!!” dalam satu sentakan kuat, Sivia langsung menginjak kaki Alvin sekencang-kencangnya. Alvin meringis pelan dan tanpa sadar melepaskan Sivia begitu saja.
Sivia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Siviapun menggunakan kesempatan itu untuk kabur. Sivia berlari dan berusaha mencari tempat persembunyian yang aman. Ketika melihat sebuah kamar yang pintunya terbuka, Sivia langsung memasuki kamar itu tanpa berfikir panjang lagi. Dan tanpa Sivia tahu, kamar yang sekarang ia masuki ini adalah kamar milik Alvin.
Sivia telah memasukan dirinya sendiri ke kandang Singa.
Sivia bersembunyi disamping sebuah meja belajar seraya menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya. Sivia nyaris-nyaris tidak bernafas karna takut ketahuan oleh Alvin. Kejadian inipun kembali mengingatkan Sivia saat Alvin mengejar-ngejarnya di Mall beberapa waktu lalu.
Sivia semakin menahan nafasnya kuat-kuat saat ia mendengar suara seseorang menutup pintu. Kunyuk, itu pasti Si Kunyuk!
“dasar Jelek! Lo udah makan cokelat gue tanpa ijin, nginjek kaki gue tanpa ampun, dan sekarang malah masuk kamar gue dengan sembarangan. Bener-bener nyari mati ya lo?” Tanya Alvin yang tiba-tiba saja sudah berdiri dengan tegak dihadapan Sivia yang saat itu masih terduduk dilantai.
Secara perlahan Sivia mengangkat wajahnya lalu mendapati Alvin yang waktu itu tengah menatapnya dengan tatapan pembunuh. Takut-takut Sivia bangkit dari duduknya.
“Hay… Vin” sapa Sivia dengan muka sok bego. Alvin mengangguk beberapa kali tanpa sedikitpun melepaskan tatapannya dari wajah Gadis itu. Mendadak Alvin memiliki sebuah ide yang menurutnya sangat brilian untuk mengerjai si Jelek ini.
“gu… gue… ke..kerja dulu ya?” ucap Sivia yang tiba-tiba saja berubah gagap.
Meskipun sebenarnya jantungnya sudah meloncat-loncat tidak karuan karna ketakutan, tapi Sivia berusaha untuk tetap terlihat biasa saja dihadapan Alvin. Saat Sivia hendak melewatinya, dengan sigap Alvinpun langsung mencekal pergelangan tangan Sivia dan menggenggamnya dengan seerat mungkin.
“mau kemana lo?” Tanya Alvin dingin.
“da.. dapur…” jawab Sivia cepat.
“enak aja lo maen pergi-pergi aja setelah apa yang lo lakuin ke gue hari ini…” kata Alvin dengan nada sok serius. Matanya menatap tajam tepat kearah kedua bola mata Sivia.
Jantung Sivia semakin meloncat-loncat tidak karuan manakala melihat tatapan tajam Alvin. Alvin tersenyum licik. Ini sudah saatnya ia menjalankan rencana liciknya untuk mengerjai Sivia.
Alvin menarik pergelangan Sivia dengan keras lalu melepaskannya begitu saja hingga tubuh Sivia terlempar ketempat tidur. Sivia semakin ketakutan. Apa yang akan Alvin perbuat padanya?
Alvin berjalan pelan kearah tempat tidur. Sebenarnya Alvin ingin sekali tertawa ketika melihat wajah Sivia yang sudah mulai pucat pasi, tapi Alvin berusaha menahan. Rencananya harus sukses.
Dengan cepat Alvin menjatuhkan tubuhnya tepat diatas tubuh Sivia. Saat itu Sivia merasa bahwa jantungnya berhenti berfungsi untuk beberapa saat. Alvin semakin menatap mata Sivia dalam-dalam, lantas sepersekian detik kemdian Alvin memamerkan senyum maut andalannya yang begitu mempesona. Deg…. Sebuah debaran tak biasa yang berbeda dari debaran-debaran sebelumnya mendadak mengusik dada Sivia. Tatapan itu, senyuman itu… Sivia nyaris tak bisa bernafas lagi karenanya.
“ma… mau apa lo?” Tanya Sivia dengan nada suara setengah berbisik. Alvin semakin memperlebar senyumannya.
“gue mau lo bayar semuanya… semua yang udah lo lakuin ke gue tadi…” Alvin mengangkat tangan kanannya lalu membelai lembut kening Sivia.
Sivia memejamkan matanya kuat-kuat dan menutup mulutnya rapat-rapat. Demi apapun, selama beberapa hari terakhir ini mengenal Alvin, Sivia belum pernah melihat Alvin semengerikan seperti sekarang ini.
“aduuhh… Kunyuukk!! Lo mau ngapain gue siiihhh??” Tanya Sivia putus asa. Alvin tertawa sinis.
“haha… coba deh Tanya Kediri lo sendiri. Menurut lo, apa yang akan terjadi jika seorang cowok dan seorang cewek Cuma berdua aja didalam kamar yang sepi?”
Sivia menggeleng berkali-kali. Ucapan Alvin barusan seakan menjadi terror yang paling mengerikan seumur hidupnya. Kali ini Alvin menyentuh lembut bibir Sivia dengan menggunakan jari tangannya.
“lo inget? Baru kemaren bibir mungil lo ini nyentuh bibir gue, dan gue yakin, itu adalah first kiss lo kan?”
Sekali lagi Sivia hanya bisa menggeleng tanpa mampu mengeluarkan sepatah katapun. Desaun hangat nafas Alvin membuat seluruh tubuhnya bergetar hebat.
“jadi sekarang, gimana kalo kita ulang lagi adegan kemaren dengan lebih romantis lagi…?”
“nggak mau!” lirih Sivia putus asa. Alvin meringis pelan dan kembali menatap Gadis Bawel itu lekat-lekat,
“lo tenang aja! Gue akan buat ini menjadi second kiss terindah dalam hidup lo”
Alvin akhirnya mendekatkan wajahnya dengan wajah Sivia. Sivia yang merasa tidak memiliki daya lagi untuk membrontak akhirnya memilih untuk pasrah saja. Sivia memejamkan kedua matanya kuat-kuat sementara wajah Alvin semakin lama semakin mendekati wajahnya.
Alvin memiringkan posisi wajahnya sedikit, dan saat bibirnya nyaris menyentuh bibir Sivia, Alvinpun menghentikan pergerakan wajahnya. Tanpa dia sendiri sadari, kedua matanya menulusuri setiap lekuk kecantikan paras Sivia dalam jarak yang amat sangat dekat, dan ternyata gadis ini lumayan mempesona. Alvin tersenyum kecil. Setelah selama 5 detik menatap keindahan Gadis Bawel itu, Alvin pun berbisik pelan tepat didepan wajah Sivia,
“sayang, gue nggak berminat sama sekali buat nyium cewek kayak lo. GUE NGGAK TERTARIK…”
Alvinpun langsung bangkit dari atas Sivia dan keluar begitu saja dari dalam kamarnya. Sivia membuang nafas kesal beberapa kali. Sivia mengubah posisinya yang semula berbaring menjadi duduk. Sivia menatap benci kearah Alvin yang saat itu nyaris menghilang diambang pintu.
“KUNYUK RESEEEEEE…..!!! NYEBELIN, NGESELIN…. AAAAAAA” Teriak Sivia sekencang-kencangnya lalu melempar 2 buah bantal kearah pintu.
Beberapa detik kemudian, kepala Alvin kembali menyembul dari balik pintu.
“lo beresin tuh kamar!!” ucap Alvin galak dan kembali menghilang.
Lagi-lagi Sivia melempar semua bantal yang ada dihadapannya kearah pintu. Sivia muak, dan kali ini Sivia sudah tidak peduli dan tidak mau ambil pusing lagi dengan semua kelakuan Si Kunyuk itu. Sivia benciiii…. Sangat benciiiii sama Makhluk bernama Alvin Jonathan Sindunata itu. Sivia bersumpah akan membalas perlakuannya hari ini.



                        BERSAMBUNG….

0 comments:

Post a Comment