Seperti Sebuah Bintang Part 10 “DagDigDug
Jdaaarr…. Kunyuk Sialan!!!”
Hari ke-4
(Selasa)
===========================
Your Massage:
Heh… hari ini lo nggak usah
Jemput gue! Gue mau brngkt
Bareng Cakka. Lo tenang
Aja, gue nggak akan kabur kok…
===========================
From: KunyuK
Pede lu! Siapa juga yg mau
Jemput lo?! GAUSAH
KEPEDEAN KALO JADI CEWEK!!
NTAR NGGAK LAKU-LAKU
MAMPUS LO!!!
Lo jadi perawan tua, gue
Sukurin :p
===========================
“AAAAAAA….. KUNYUK RESEEEEEEEEE!!!!
AWAS LO NANTI!!!” Teriak Sivia sekencang-kencangnya didalam kamarnya saat ia
membaca pesan terakhir dari Alvin.
Mulai hari ini Sivia sudah
memutuskan untuk memperbaiki hubungannya dengan Cakka yang selama beberapa hari
terakhir ini mulai merenggang, dan tadi dia hanya bermaksud memberitahukan
kepada Alvin supaya tidak mejemputnya karna ia ingin berangkat kesekolah
bersama Cakka saja, tapi Si Kunyuk itu malah salah pengertian.
Kalau tidak ingat dia tidak memiliki
Handphone lagi selain yang ada ditangannya saat ini, mungkin Sivia sudah
membanting Handphone itu ke lantai lalu menginjak-injaknya, sekalian juga Sivia
ingin membanting serta menginjak-injak cowok rese yang telah memberikannya
Handphone itu.
Dengan kekesalan yang sudah mencapai
ubun-ubun, Sivia memukul-mukulkan Handphone tak
berdosa itu beberapa kali pada kasur busanya. Untung Cuma dikasur.
“Kak, lo ngapain sih pake
tereak-tereak segala?? Itu Kak Cakka udah didepan nungguin lo” ucap Marsha dari
arah pintu.
Sivia langsung menormalkan sikapnya
lalu menegakan kepalanya untuk melihat Marsha.
“iya, ini Kakak juga udah mau turun
kok”
“KELAMAAN LO!!”
Dengan tak berprasaan sama sekali
Marshapun membanting pintu kamar Kakaknya dengan keras. Tapi tunggu dulu, tadi
bukannya Marsha ngomong elo-gue ke Sivia? Ups… Sivia baru menyadarinya
ternyata. Sejak kapan anak itu berubah kurang ajar pada Kakaknya?
“MARSHAAA…..?? TADI LO NGOMONG APA
KE GUE?? BALIK LO CEPETAN!! MINTA MAAF! DASAR ADEK KURANG ASEM LO” Teriak Sivia
lagi dengan volume suara yang tidak kalah kencangnya dengan teriakannya yang
pertama tadi.
Tapi orang diteriaki sekarang sedang
asyik mendengarkan music melalu i-podnya dengan menggunakan earphone, alhasil
Marsha sama sekali tidak mendengarkan suara teriakan Kakaknya itu.
^_^
“dasar kepedan! Lo fikir lo siapa
ngomong kayak gitu ke gue? SOK PENTING banget sih lo jadi cewek??” dumel Alvin
seraya memakan nasi gorengnya dengan kecepatan super tinggi. Bahkan belum
sempat Alvin menelan nasi gorengnya, ia malah kembali memasukan sesendok penuh
nasi goreng kedalam mulutnya yang sebenarnya sudah mencapai ambang maksimal.
Tidak puas hanya dengan nasi goreng,
dengan bengis Alvin kembali menegak setengah gelas susu sebelum ia menelan
kunyahannya. Mama yang melihat keganjilan pada sikap Alvin pada pagi hari
itupun merasa heran sendiri.
“Alvin, kalo makan pelan-pelan
sayang, nanti kese –“
“UHUK…UHUK…UHUKKK….” Belum selesai
ucapan Mama, Alvin malah sudah tersedak terlebih dahulu.
“Lek….” Lanjut Mama dengan nada yang
sangat pelan.
“UHUK..UHUK..UHUK….” Alvin buru-buru
meraih segelas air putih yang Mamanya sodorkan lalu meminumnya cepat-cepat.
Alvin merasakan rasa panas bercampur
perih yang kini memenuhi rongga dadanya. Alvin menepuk dadanya beberapa kali
dengan raut wajah yang benar-benar terlihak begok. Mama bangkit, ia berdiri
dibelakang Alvin lalu mengusap-usap pelan punggung Alvin untuk mengurangi rasa
perih didadanya.
“kamu ada masalah? Masalah apa sih
sampe makan kok kayak orang kesetanan?”
Alvin menggeleng cepat.
“nggak ada, Ma… nggak ada…”
“ya udah, makanya laen kali
hati-hati”
^_^
Cakka dan Sivia berjalan beriringan
dikoridor. Sesekali mereka terlihat tertawa bersama, sesekali Sivia
mengerucutkan bibirnya dengan sebal ketika Cakka meledeknya, sesekali juga
Sivia malah tersenyum-senyum sendiri ketika Cakka harus dengan terpaksa
memujinya supaya tidak ngambek lagi. Cakka lebih mendekat lagi kearah Sivia
lantas merangkul pundak Gadis Bawel itu dengan erat.
Sejak kemarin Cakka sudah memutuskan
untuk menghapus perasaan cinta nya pada Sivia. Cakka juga akan berusaha untuk
menghilangkan keinginannya memiliki Gadis itu. Cakka tahu semua itu tidak
mudah, sama sekali tidak gampang, tapi Cakka harus bisa mengerti bahwa
selamanya ia tidak akan pernah bisa memiliki Sivia dalam bentuk ikatan hubungan
apapun kecuali persahabatan. Dan memang seharusnya sejak awal Cakka menyadari
itu.
Dengan gemas Cakka mengacak poni
Sivia, saat itu juga Sivia langsung cemberut ditempat.
“Cakka Nuragaaaa…..!! lo seneng
banget sih ngacak-ngacak poni gue?”
“hahahahaha…. Suka-suka gue lah”
balas Cakka dengan menyebalkannya lantas berlari menjauhi Sivia.
“heh, Cecak jangan lari lo!!”
Siviapun berlari mengejar Cakka yang
saat itu nyaris tiba dikelas. Tapi ups…. Ketika Cakka akan memasuki kelas,
tanpa sengaja ia bertabrakan dengan seorang cewek yang waktu itu akan keluar
dari kelas. Mereka sama-sama meringis pelan dan sama-sama terjatuh dengan
posisi duduk.
“awww…” rintih Agni seraya
mengusap-usap lengannya.
Cakka tersadar dan langsung bangkit
dari jatuhnya.
“sorry… sorry… gue nggak sengaja”
Cakka mendekati Agni lalu
mengulurkan tangannya dihadapan Cewek Tomboy itu. Agni melirik sejenak kearah
tangan Cakka yang terulur. Tidak lama Agni pun tersenyum kecil lalu menerima
uluran tangan Cakka. Dengan sigap Cakka menarik tangan Agni untuk membantunya
berdiri, dan kali ini Cakka dan Agni sudah berdiri berhadapan.
“sekali lagi gue minta maaf ya,
Ag…?”
“nggak apa-apa, gue juga yang
ceroboh kok tadi” balas Agni disertai
dengan sebuah senyuman manis yang membuatnya semakin terlihat ayu.
“Cak….” Sivia menghentikan
langkahnya saat ia melihat Cakka tengah bersama dengan seorang cewek yang asing
dalam pengelihatan Sivia.
“Kka….” Lanjut Sivia pelan. kali ini
pandangan matanya tertuju pada Agni yang juga memberikan senyuman manis
padanya. Wajar saja jika Sivia tidak mengenali Agni, kemarin kan Sivia bolos
bersama Alvin.
“Hallo….” Sapa Agni dengan ramah
sambil melambaikan tangannya dihadapan Sivia.
“ha.. hallo juga…” balas Sivia yang
masih merasa heran dengan Agni.
“kenalin gue Agni. Gue anak baru
disini, gue pindahan dari Jogja” ucap Agni memperkenalkan dirinya sambil
mengulurkan tangannya dihadapan Sivia.
Sivia yang masih heran langsung saja
menjabat tangan Agni seraya menyebutkan namanya.
“gue Sivia, tapi panggil Via aja… Elo
anak baru dikelas ini…?”
“iya. Elo kemaren nggak masuk ya?”
Tanya Agni lagi. Kali ini jabatan tangan mereka sudah terlepas.
“iya, kemaren gue nggak masuk,
hehe…” Jawab Sivia sambil nyengir. Senyuman Agni semakin melebar.
Secara perlahan Sivia menoleh kearah
Cakka. Siviapun melirik Cakka dengan lirikan nakal dengan kedua alis yang
sengaja ia naik turunkan.
“apaan sih?” Cakka tidak paham.
Sivia akhirnya mendekatkan bibirnya
pada telinga Cakka. Kali ini giliran Agni yang dibuat heran.
“cewek ini boleh juga buat elo…”
bisik Sivia pelan dan langsung kabur begitu saja dari samping Cakka.
^_^
Seseorang menghalangi langkah Alvin
ketika hendak memasuki gedung sekolahnya. Alvin menghentikan langkahnya lalu
menatap dingin kea rah Pria yang kini menghalangi jalannya. Pria itu adalah
Farish Sindunata. Papa Alvin sendiri. Ketika pertama kali melihat Pria ini
menghalangi jalannya, Alvin sudah tahu pasti apa maksud kedatangannya menemui
Alvin disekolah.
“Papa mau bicara sama kamu, Vin”
ucap Farish dengan tegas. Alvin berdecak pelan lalu menatap tajam kearah mata
Papa nya.
“kalo ini menyangkut masalah
pernikahan Papa dengan Wanita itu, aku nggak mau tau, Papa boleh marah, Papa
boleh ngehukum aku, tapi aku sudah nggak mau tau lagi apapun yang meyangkut
tentang masalah Papa juga wanita bernama Denita itu…”
“Alvin, yang sopan kamu kalau bicara
dengan orang tua”
“dan kalo Papa kesini Cuma buat
maksa aku buat mau kenalan sama Wanita itu, aku nggak mau” tukas Alvin cepat
yang seakan enggan menghiraukan setiap ucapan dari Papanya.
“Alvin, kamu….” Ucap Farish dengan
emosi tertahan.
“ini sekolahan Pa, aku rasa kita
nggak pantes aja buat ngomongin masalah ini disekolah, dan aku rasa Papa cukup
pinter untuk memahami semuanya”
Suara Bel tanda masuk yang berdering
dengan nyaring seakan membebaskan Alvin dari obrolan yang lumayan panas itu.
Perlahan Alvin menghela nafas panjang dan kembali berkata pada Papa nya.
“udah bel, Pa. Aku masuk dulu. Lebih
baik sekarang Papa balik kekantor, karna aku rasa Wanita itu sudah nungguin
Papa disana!”
Dengan gaya santainya yang seperti
biasa, Alvin berjalan melewati Papanya begitu saja. Kali ini Farish sudah tidak
bisa lagi menahan emosinya. Kesabarannya selama 2 tahun terakhir ini dalam
menghadapi kebekuan Alvin ternyata tidak membuahkan apa-apa. Anak itu tidak
bisa dibiarkan lagi. Mungkin dengan sedikit tindakan bisa membuatnya luluh dan
tunduk kembali kepada Papanya seperti dulu.
Farish menggenggam kuat-kuat jemari
tangannya bersama emosinya yang semakin lama semakin memenuhi kepalanya sampai
ke ubun-ubun.
^_^
“Shill, nih HP lo, makasih udah
ngasih gue minjem” kata Sivia seraya menyerahkan Handphone Shilla yang selama
beberapa hari ini ia pinjam saat jam pulang sekolah tiba. Dengan senang hati
Shilla menerima Handphonenya.
“ok, sama-sama Sivia sayaaangg….!
Tunggu dulu, emangnya lo udah punya HP baru?”
Sivia mengangguk pasti lalu
mengeluarkan Handphonenya dari saku seragamnya. Shilla benar-benar tercengang
ketika melihat Handphone baru Sivia. Bagaimana tidak? Sejak pertama kali Shilla
melihat iklan Handphone itu diinternet, sejak saat itulah Shilla sangat
menginginkan Handphone itu. Berkali-kali ia meminta Gabriel untuk membelikan
untuknya, tapi Gabriel selalu saja tidak punya waktu.
“Gilaaa… ini Handphone lo, Vi…?
Siapa yang ngasih? Cakka yaa?”
“bukan Cakka” jawab Sivia cepat.
“terus siapa?? You know what? Ini
Handphone copule, dan sampai saat ini Handphone ini Cuma ada sepasang di
Indonesia, lo beruntung banget tau, Vi…? Siapa yang ngasih?” kali ini Shilla
mengalihkan perhatiannya pada Sivia.
Tidak beda jauh seperti Shilla tadi,
kali ini giliran Sivia yang tercengang. Benar-benar tercengang. Sivia bahkan
baru tahu kalau Handphone yang Alvin berikan adalah handphone couple dan Cuma
ada sepasang di Indonesia. Jika baru saja Shilla tidak memberi tahunya, mungkin
selamanya Sivia tidak akan pernah tahu menau tentang Handphone ini. Dan
pertanyaannya adalah, buat apa Alvin membelikan handphone couple ini untuknya?
Jika mau, Alvin bisa saja kan memberikan Handphone itu pada pacarnya atau pada
cewek yang dia sayang?
Sivia mengerjap lantas menggelengkan
kepalanya beberapa kali.
“Heh, Sivia! Siapa yang ngasih?”
Shilla mengulang pertanyaannya.
“emmm… nyokap gue yang beliin, buat
Marsha satu, dan buat gue satu…” alibi Sivia.
Ia sengaja tidak mengatakan yang
sebenarnya pada Shilla. Karna jika Sivia mengatakan yang sebenarnya pada Si
Ember itu, pasti urusannya akan menjadi sangat runyam.
“masa sih?” Tanya Shilla tak percaya
dengan pandangan menyelidik.
^_^
Sepulang sekolah, Sivia langsung
pergi ke rumah Singgah dengan diantarkan oleh Ify. Seperti biasa, Sivia mengajak Ify bekerja sama supaya
tidak ada satu orangpun yang tahu bahwa selama seminggu ini Sivia bekerja sebagai
pembantu dirumah singgah milik Alvin.
Ify hanya mengantar Sivia sampai gerbang
saja. Setelah mengantar Sivia, Ify pun langsung melajukan mobilnya dengan
kecepatan maksimal.
Sivia memasuki rumah singgah dengan
riang dan dengan suasana hati yang benar-benar gembira. Sivia juga
menyenandungkan lagu Rasa Ini dari miliknya Vierra. Entah karna apa? Sivia
belum menyadarinya dan mungkin belum mengerti dengan hatinya saat ini.
Susana Rumah Singgah siang ini
benar-benar sangat sepi. Kemana para penghuninya? Fikir Sivia. Setelah
mengedarkan pandangannya kesagala arah, Siviapun melanjutkan langkahnya yang
sempat terhenti. Tapi sekotak cokelat yang waktu itu sedang nganggur diatas
meja membuat Sivia kembali menghentikan langkahnya.
Sebuah senyuman manis langsung
mengembang diwajah Manis Sivia ketika melihat cokelat itu. Sivia ini memang
adalah seorang pecinta cokelat. Bahkan ia menyebut sampai dirinya
‘COKELATHOLIC’. Dan kegilaannya pada cokelat sering kali mendapat protes keras
dari dari Mama nya juga Marsha. Jika sudah berhadapan dengan cokelat, Sivia
pasti tidak akan menghiraukan siapapun.
Sivia berjalan cepat menghampiri
meja itu dengan senyuman yang masih betah tersungging diwajahnya. Sivia
terduduk dilantai, lantas seperti orang kesurupan Sivia membuka kotak cokelat
itu dan mencomot isinya satu persatu.
Alvin membelalak lebar-lebar ketika
melihat sekotak cokelatnya tengah disantap oleh si Jelek itu. Alvin menghela
nafas beberapa kali lalu berjalan menghampiri Sivia.
“Heh! Suruh siapa lo makan cokelat
gue?” sinis Alvin seraya berkacak pinggang.
Sivia terkejut. Ia menghentikan
aktifitasnya memakan cokelat lalu secara perlahan menoleh kebalakang. Dan wajah
sangar Alvin saat itu langsung menyambut Sivia.
“hehehe… elo yang punya?” Tanya
Sivia dengan mulut penuh. Mulutnya sampe kotor dimana-mana terkena cokelat.
Alvin sampai tidak habis fikir ketika melihat pemandangan yang saat ini ada
didepan matanya.
“iya, gue yang punya! Lagian, lo
udah kayak maling aja tau?”
Sivia mengelap mulutnya menggunakan
tangannya lalu berdiri disamping Alvin.
“Jorok!” pekik Alvin. Sivia malah
cuek-cuek saja.
“gue fikir tadi nggak ada yang
punya, makanya gue makan aja nih cokelat. Asal lo tau aja ya? Gue ini
cokelatholic tau, paling nggak bisa liat cok—“
Sivia langsung menghentikan
ocehannya seketika saat tangan Alvin dengan begitu cepatnya memegang kedua sisi
dagunya seraya berkata,
“muntahin nggak cokelat gue!
Muntahin! Gue nggak relay a cokelat gue dimakan sama cewek Jelek, Bawel, dan
nggak jelas kayak lo. Buruan muntahin!!”
“gimana bisa… emmmmm…” ucap Sivia
tak jelas karna saat ini Alvin sudah setengah membekap mulutnya. Sivia
memukul-mukul pelan tangan Alvin yang membekap mulutnya agar terlepas, namun
sayang tidak berhasil.
“Kunyuk lepassss!! Eemmm….” Jerit
Sivia. Alvin menggeleng jahil.
“lo mau gue lepasin nggak?” Tanya
Alvin yang masih saja menahan Sivia. Mendengar pertanyaan Alvin, Sivia
buru-buru mengangguk.
“kalo gitu lo harus ikutin ucapan
gue dengan bener! Kalo nggak gue nggak akan ngelepasin lo”
Sekali lagi Sivia mengangguk pasrah.
Apa sajalah, asal Si Kunyuk ini mau melepaskannya dan kalau bisa membiarkannya
memakan cokelat ini sepuasnya. Sivia menatap sedih kearah kotak cokelat itu.
“sekarang lo ikutin gue, follow me!!
Ehemmm….”
“kelamaan lu!!” dalam satu sentakan
kuat, Sivia langsung menginjak kaki Alvin sekencang-kencangnya. Alvin meringis
pelan dan tanpa sadar melepaskan Sivia begitu saja.
Sivia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Siviapun
menggunakan kesempatan itu untuk kabur. Sivia berlari dan berusaha mencari
tempat persembunyian yang aman. Ketika melihat sebuah kamar yang pintunya
terbuka, Sivia langsung memasuki kamar itu tanpa berfikir panjang lagi. Dan
tanpa Sivia tahu, kamar yang sekarang ia masuki ini adalah kamar milik Alvin.
Sivia telah memasukan dirinya sendiri ke kandang Singa.
Sivia bersembunyi disamping sebuah meja belajar seraya
menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya. Sivia nyaris-nyaris tidak
bernafas karna takut ketahuan oleh Alvin. Kejadian inipun kembali mengingatkan
Sivia saat Alvin mengejar-ngejarnya di Mall beberapa waktu lalu.
Sivia semakin menahan nafasnya kuat-kuat saat ia mendengar
suara seseorang menutup pintu. Kunyuk, itu pasti Si Kunyuk!
“dasar Jelek! Lo udah makan cokelat gue tanpa ijin, nginjek
kaki gue tanpa ampun, dan sekarang malah masuk kamar gue dengan sembarangan.
Bener-bener nyari mati ya lo?” Tanya Alvin yang tiba-tiba saja sudah berdiri
dengan tegak dihadapan Sivia yang saat itu masih terduduk dilantai.
Secara perlahan Sivia mengangkat wajahnya lalu mendapati
Alvin yang waktu itu tengah menatapnya dengan tatapan pembunuh. Takut-takut
Sivia bangkit dari duduknya.
“Hay… Vin” sapa Sivia dengan muka sok bego. Alvin mengangguk
beberapa kali tanpa sedikitpun melepaskan tatapannya dari wajah Gadis itu.
Mendadak Alvin memiliki sebuah ide yang menurutnya sangat brilian untuk
mengerjai si Jelek ini.
“gu… gue… ke..kerja dulu ya?” ucap Sivia yang tiba-tiba saja
berubah gagap.
Meskipun sebenarnya jantungnya sudah meloncat-loncat tidak
karuan karna ketakutan, tapi Sivia berusaha untuk tetap terlihat biasa saja
dihadapan Alvin. Saat Sivia hendak melewatinya, dengan sigap Alvinpun langsung
mencekal pergelangan tangan Sivia dan menggenggamnya dengan seerat mungkin.
“mau kemana lo?” Tanya Alvin dingin.
“da.. dapur…” jawab Sivia cepat.
“enak aja lo maen pergi-pergi aja setelah apa yang lo lakuin
ke gue hari ini…” kata Alvin dengan nada sok serius. Matanya menatap tajam
tepat kearah kedua bola mata Sivia.
Jantung Sivia semakin meloncat-loncat tidak karuan manakala
melihat tatapan tajam Alvin. Alvin tersenyum licik. Ini sudah saatnya ia
menjalankan rencana liciknya untuk mengerjai Sivia.
Alvin menarik pergelangan Sivia dengan keras lalu
melepaskannya begitu saja hingga tubuh Sivia terlempar ketempat tidur. Sivia
semakin ketakutan. Apa yang akan Alvin perbuat padanya?
Alvin berjalan pelan kearah tempat tidur. Sebenarnya Alvin
ingin sekali tertawa ketika melihat wajah Sivia yang sudah mulai pucat pasi,
tapi Alvin berusaha menahan. Rencananya harus sukses.
Dengan cepat Alvin menjatuhkan tubuhnya tepat diatas tubuh
Sivia. Saat itu Sivia merasa bahwa jantungnya berhenti berfungsi untuk beberapa
saat. Alvin semakin menatap mata Sivia dalam-dalam, lantas sepersekian detik
kemdian Alvin memamerkan senyum maut andalannya yang begitu mempesona. Deg….
Sebuah debaran tak biasa yang berbeda dari debaran-debaran sebelumnya mendadak
mengusik dada Sivia. Tatapan itu, senyuman itu… Sivia nyaris tak bisa bernafas
lagi karenanya.
“ma… mau apa lo?” Tanya Sivia dengan nada suara setengah
berbisik. Alvin semakin memperlebar senyumannya.
“gue mau lo bayar semuanya… semua yang udah lo lakuin ke gue
tadi…” Alvin mengangkat tangan kanannya lalu membelai lembut kening Sivia.
Sivia memejamkan matanya kuat-kuat dan menutup mulutnya rapat-rapat. Demi apapun, selama
beberapa hari terakhir ini mengenal Alvin, Sivia belum pernah melihat Alvin
semengerikan seperti sekarang ini.
“aduuhh… Kunyuukk!! Lo mau ngapain gue siiihhh??” Tanya Sivia
putus asa. Alvin tertawa sinis.
“haha… coba deh Tanya Kediri lo sendiri. Menurut lo, apa yang
akan terjadi jika seorang cowok dan seorang cewek Cuma berdua aja didalam kamar
yang sepi?”
Sivia menggeleng berkali-kali. Ucapan Alvin barusan seakan
menjadi terror yang paling mengerikan seumur hidupnya. Kali ini Alvin menyentuh
lembut bibir Sivia dengan menggunakan jari tangannya.
“lo inget? Baru kemaren bibir mungil lo ini nyentuh bibir
gue, dan gue yakin, itu adalah first kiss lo kan?”
Sekali lagi Sivia hanya bisa menggeleng tanpa mampu mengeluarkan
sepatah katapun. Desaun hangat nafas Alvin membuat seluruh tubuhnya bergetar
hebat.
“jadi sekarang, gimana kalo kita ulang lagi adegan kemaren
dengan lebih romantis lagi…?”
“nggak mau!” lirih Sivia putus asa. Alvin meringis pelan dan
kembali menatap Gadis Bawel itu lekat-lekat,
“lo tenang aja! Gue akan buat ini menjadi second kiss
terindah dalam hidup lo”
Alvin akhirnya mendekatkan wajahnya dengan wajah Sivia. Sivia
yang merasa tidak memiliki daya lagi untuk membrontak akhirnya memilih untuk pasrah
saja. Sivia memejamkan kedua matanya kuat-kuat sementara wajah Alvin semakin
lama semakin mendekati wajahnya.
Alvin memiringkan posisi wajahnya sedikit, dan saat bibirnya
nyaris menyentuh bibir Sivia, Alvinpun menghentikan pergerakan wajahnya. Tanpa
dia sendiri sadari, kedua matanya menulusuri setiap lekuk kecantikan paras
Sivia dalam jarak yang amat sangat dekat, dan ternyata gadis ini lumayan
mempesona. Alvin tersenyum kecil. Setelah selama 5 detik menatap keindahan
Gadis Bawel itu, Alvin pun berbisik pelan tepat didepan wajah Sivia,
“sayang, gue nggak berminat sama sekali buat nyium cewek
kayak lo. GUE NGGAK TERTARIK…”
Alvinpun langsung bangkit dari atas Sivia dan keluar begitu
saja dari dalam kamarnya. Sivia membuang nafas kesal beberapa kali. Sivia
mengubah posisinya yang semula berbaring menjadi duduk. Sivia menatap benci
kearah Alvin yang saat itu nyaris menghilang diambang pintu.
“KUNYUK RESEEEEEE…..!!! NYEBELIN, NGESELIN…. AAAAAAA” Teriak
Sivia sekencang-kencangnya lalu melempar 2 buah bantal kearah pintu.
Beberapa detik kemudian, kepala Alvin kembali menyembul dari
balik pintu.
“lo beresin tuh kamar!!” ucap Alvin galak dan kembali
menghilang.
Lagi-lagi Sivia melempar semua bantal yang ada dihadapannya
kearah pintu. Sivia muak, dan kali ini Sivia sudah tidak peduli dan tidak mau
ambil pusing lagi dengan semua kelakuan Si Kunyuk itu. Sivia benciiii…. Sangat
benciiiii sama Makhluk bernama Alvin Jonathan Sindunata itu. Sivia bersumpah
akan membalas perlakuannya hari ini.
BERSAMBUNG….


0 comments:
Post a Comment