“Semuanya pun akan berjalan
seperti seharusnya….”
Alvin memberhentikan Ferarri hitamnya
ditempat parkir yang sudah dipersiapkan untuk para tamu undangan. Sebelum
keluar dari dalam mobil mewahnya Alvin sempat melirik sejenak kearah Sivia. Dan
Alvin bisa melihat dengan sangat jelas kegusaran yang terpeta pada wajah manis
Gadis itu.
Sivia
meremas kuat-kuat gaun yang ia kenakan. Semenjak Ferari hitam milik Alvin
memasuki kawasan hotel berbintang itu, sejak saat itulah Sivia terlihat semakin
gusar. Sivia takut kalau-kalau nanti didalam ia akan bertemu dengan Cakka. Apa
yang harus ia katakan pada Cakka nanti jika Cakka bertanya padanya? Dan
bagaimana Sivia harus menjelaskan semuanya pada Cakka jika nanti didalam pesta
Alvin mengakuinya sebagai pacar didepan semua tamu undangan? 2 pertanyaan itu
terus memenuhi otak Sivia. Dalam keadaan yang serba genting, Sivia berusaha
mencari jawaban yang pas untuk Cakka. Tapi memang dasar otaknya saja yang tidak
bisa diajak kompromi saat ini.
Semua
kegugupan yang Sivia rasakan seolah membekukan daya fikirnya. Sivia benar-benar
blank!
Sivia
tiba-tiba kaget ketika sebuah tangan menggenggam erat jemari tangannya dengan
lembut. Dengan cepat Sivia menoleh kearah Alvin yang saat itu langsung
menyambutnya dengan sebuah senyuman yang entah kenapa terlihat – sebenarnya Sivia
enggan mengakui ini- begitu mempesona.
“santé aja.
Ada gue kok” ucap Alvin dengan lembut. Selembut genggaman tangannya pada jemari
Sivia. Dan jujur saja, sejak pertama kali mengenal Pria Tengik ini, ini kali
pertamanya Alvin berkata selembut itu padanya.
Untuk
beberapa detik berikutnya mereka sama-sama larut dalam tatapan mata mereka
masing-masing. Deg… mendadak debaran aneh yang amat tak biasa itu tiba-tiba
mengusik dada mereka masing-masing. Sivia mendesah pelan. Rasanya ia ingin
sekali membuang tatapannya dari wajah Si Kunyuk ini, tapi magnet kuat dari
wajah Alvin justru menariknya semakin lekat menatap mata Pria itu.
Tidak jauh
beda dari apa yang Sivia rasakan saat ini, Alvin juga merasakan hal yang sama
dan secara pelan tapi pasti Alvin mulai mengakui bahwa malam ini Si Jelek ini
sudah benar-benar membuatnya terpana. Alvin tersenyum tipis. Dan suasana hening
masih membungkus kebersamaan mereka didalam mobil itu.
Sivia
akhirnya tersadar. Ia buru-buru menarik tangannya dari genggaman Alvin lantas
mengalihkan tatapannya kearah lain. Cukup, sudah cukup Sivia terlihat bodoh
dihadapan Kunyuk satu ini.
^_^
Disalah satu
sudut ruangan mewah dihotel berbintang ini terlihat Cakka tengah berkumpul
bersama Gabriel, Irsyad, Obiet, dan Debo. Masing-masing dari mereka memegang
gelas minuman mereka sendiri-sendiri. Bersama alunan irama music pesta yang
menghentak, Cakka, Gabriel, Irsyad, Obiet dan Debo menggerak-gerakkan badan
mereka dengan begitu asyiknya.
Rio, Deva,
Ray, dan Ozy tiba-tiba datang dan ikut berkumpul bersama mereka. Cakka dan
kawan-kawanpun menerima kehadiran mereka dengan sangat bersahabat. Meskiupn ditengah
lapangan mereka adalah musuh, tapi diluar itu mereka tetap terlihat akrab.
“eh iya,
Alvin mana?” Tanya Ozy pada kawan-kawannya.
Ray menegak
minumannya lalu menjawab pertanyaan Ozy.
“belom
datang, masih diluar kali, katanya malem ini Alvin akan memperkenalkan
seseorang yang special”
“siapa?”
Tanya Deva penasaran.
“gue juga
nggak tau” jawab Ray seraya mengangkat kedua bahunya.
Mendengar
nama Alvin dibawa-bawa mendadak ekspresi wajah Cakka langsung berubah keruh.
Entah kenapa Cakka merasa sangat terganggu ketika mendengar nama itu. Cakka
juga tidak mengerti dengan apa yang dia rasakan saat ini.
“Sivia nggak
jadi ikut, Kka?” pertanyaan dari Gabriel itu langsung membuat Cakka terkesiap.
Cakka membuyarkan lamunannya lalu berusaha menormalkan ekspresi wajahnya.
“nggak. Dia
nggak mau ikut katanya!” jawab Cakka sekenanya.
“Itu Alvin”
ujar Ozy tiba-tiba seraya menunjuk kearah pintu.
Secara
bersamaan mereka semuapun melihat kearah pintu. Dan seperti tersambar petir
disiang bolong, itulah yang Cakka rasakan saat ini ketika melihat Sivia
berjalan bersama Alvin dengan begitu serasinya dan lengan Sivia melingkar pada
siku Alvin.
Seluruh
perhatian seisi ruangan itu langsung tertuju pada kedua sosok muda mudi yang
begitu tampak serasi itu. Entah sadar atau tidak, Sivia menggandeng lengan
Alvin dengan begitu eratnya. Alvin memberikan senyum terbaiknya pada setiap
mata yang kini mengarah padanya.
Sebelum memasuki
ruangan ini, Alvin sudah bisa menebak apa yang akan terjadi. Decak kagum serta
bisikan-bisikan yang berisi pujian sayup-sayup menyapa indera pendengar Alvin
dan Sivia. Sivia menunduk malu.
Mendadak Cakka
merasakan suhu tubuhnya berubah panas. Matanya menatap tajam kearah kedua sosok
yang semakin lama semakin mendekati posisinya sekarang.
Dan Pricilla
yang awalnya terlihat begitu bahagia dihari ulang tahunnya yang ke-17 ini
tiba-tiba merasakan seluruh tulang-tulangnya seperti dipresto. Pricilla seakan
tidak sanggup lagi berdiri diatas kedua kakinya sendiri manakala melihat Pria
yang begitu ia cintai selama bertahun-tahun datang ke Hari Specialnya bersama
seorang Gadis yang kemungkinan besar adalah kekasihnya. Senyum yang sejak tadi
mengembang diwajah Gadis Cantik itu tiba-tiba menghilang. Pricilla merasakan
tangannya bergemetaran hebat.
Seluruh anggota
Gank nya menatapnya dengan prihatin. Dengan perlahan Pricilla menjatuhkan gelas
yang ada ditangannya. Kedua matanya mulai terasa panas dan telah siap
merembeskan air mata.
Sivia
menghela nafas panjang lantas memberanikan dirinya untuk menegakkan wajahnya. Dan….
Tatapan tajam Cakka langsung menyambutnya kala itu. Sivia menghentikan
langkahnya sejenak, Alvin yang menyadarinya juga ikut menghentikan langkahnya.
Alvin
melihat arah tatapan Sivia yang tertuju pada Cakka. Alvin tersenyum miring. Ini
kesempatan mas baginya untuk membalas perlakuan tidak menyenangkan yang Cakka
tunjukan padanya tempo hari.
Alvin
mengelus lembut tangan Sivia yang masih melingkari lengannya.
“tenang aja,
dia nggak akan marah kok. Kecuali, memang ada satu hal yang dia sembunyikan”
kata Alvin dengan makna tersamar. Mereka pun kembali melanjutkan langkah
mereka.
“Hay semua”
sapa Alvin pada semua kawan-kawannya termasuk Cakka dan kawan-kawannya. Cakka
masih betah menatap Sivia.
“ini dia Vin
someone special yang mau lo kenalin ke kita?” Tanya Ray seraya melirik nakal
kearah Sivia. Alvin hanya mengangguk dengan senyuman yang semakin melebar.
“Hay,
kenalin gue Ray” kata Ray sambil mengulurkan tangannya dihadapan Sivia. Sivia
yang sejak tadi hanya menunduk saja sampai tidak menyadari bahwa Ray
mengajaknya berkenalan. Uluran tangan Ray menggantung lumayan lama diudara.
Alvin
berdehem pelan. Sivia pun langsung mengangkat wajahnya dan membalas uluran
tangan Ray,
“gu… gue Via…”
jawab Sivia sedikit gugup.
“gue ke
toilet bentar ya semua…” pamit Cakka pada semuanya secara tiba-tiba.
Tanpa menunggu
jawaban apapun dari semuanya Cakka langsung saja menarik dirinya dari tempat
itu. Cakka berjalan kearah toilet tanpa sedikitpun menoleh kebelakang. Sivia
tau Cakka kecewa. Dan ini entah ini untuk yang keberapa kalinya Sivia membuat
Sahabatnya itu kecewa? Dan lagi-lagi ini semua karna Alvin.
^_^
Ternyata Cakka
sama sekali tidak ke toilet. Ia telah berbohong pada semuanya. Cakka hanya
ingin keluar saja dari ruangan yang membuat dadanya terasa sesak itu. Cakka juga
tidak ingin melihat lebih jauh lagi kebersamaan yang terjalin antara Alvin dan
Sivia.
Cakka
benar-benar kecewa pada Sivia. Semenjak mengenal Alvin, Sivia sering sekali
membuat hati Cakka kecewa, bahkan tak jarang juga Sivia sering berbohong
padanya. Sebelum mengenal Alvin dalam hidupnya mana pernah Sivia seperti itu
padanya? Tapi kenapa Alvin harus hadir dan menghancurkan segalanya? Apa nanti
Alvin juga akan merebut Sivia dari Cakka?
Cakka
menggenggam kuat-kuat jemari tangannya. Cakka tidak akan pernah membiarkan Alvin
begitu saja. Cakka harus melakukan sebuah tindakan agar ia tidak terus menerus
kecewa seperti sekarang ini dan sebelum-sebelumnya.
^_^
Alvin dan
Sivia menggerakan badan mereka kekiri dan kekanan sambil mengikuti alunan irama
music dansa yang mengalun dengan lembut didalam ruangan besar yang cukup mewah
itu. Meskipun saat ini Sivia ada bersama Alvin, tapi fikirannya melayang jauh
entah kemana. Sejak Cakka melihatnya memasuki ruangan ini bersama Alvin, Cakka
tidak mengeluarkan sepatah katapun untuknya. Bahkan sampai sekarang, Cakka
belum juga kembali semenjak ia pamit ke toilet. Sivia memejamkan matanya
sejenak, ia benar-benar bersalah pada Cakka. Seharusnya Sivia tidak
mengecewakan Cakka seperti ini.
“please Kka, lo jangan marah…
please gue bisa jelasin semuanya, gue akan bikin lo mengerti…” Sivia membantin sambil tetap focus dengan
gerakan dansanya.
Tiba-tiba
saja Sivia merasakan Alvin memutar tubuhnya beberapa kali lalu dengan sigap kembali
menangkapnya dengan tangannya yang melingkar dipinggul Sivia. Sivia sedikit
kaget karna jarak wajahnya dengan jarak wajah Alvin kini hanya beberapa centi
saja. Alvin tersenyum jengah.
“lo
kefikiran Cakka?” Tanya Alvin. Sivia mengangguk pelan. kali ini Alvin tersenyum
miris.
“lo sadar
nggak sih kalo Si Cakka itu suka sama lo?” Sivia melotot tajam ketika
mendengarkan ucapan Alvin barusan.
“jangan asal
ngomong lo! Gue sama Cakka itu sahabat” jelas Sivia.
“Sahabat? Yakin
tuh si Cakka nggak ada rasa apa-apa ke elo?”
“jangan sok
tahu!”
Lagi-lagi
Alvin memutar tubuh Sivia beberapa kali dan langsung menangkapnya dengan sigap.
“berarti elo
yang nggak peka jadi cewek!”
Kali ini
Sivia menatap Alvin dengan tatapan benci. Ternyata selain songong dan
menjengkelkan, Alvin juga memiliki sifat lain yang tidak kalah menyebalkannya
dengan sifat-sifatnya yang lain yaitu: SOK TAHU.
“Lo juga suka
sama Cakka?” Tanya Alvin dan semakin membuat Sivia jengkel. Sivia menghela
nafas panjang, ia berusaha menahan emosinya sekuat ia mampu.
“udah gue
bilang, Cakka sahabat gue. Gue nggak mungkin suka sama sahabat gue sendiri! Ngerti?”
ucap Sivia dengan tegas.
Alvin
mengangguk beberapa kali sambil tersenyum jahil. Dalam satu gerakan cepat,
Alvin menarik pinggang Sivia hingga jarak diantara mereka semakin dekat saja.
Deg… deguban
itu kembali mengusik dada Sivia. Alvin menatap kedua manik mata Sivia setajam
mungkin. Sivia yang tidak ingin terlihat bodoh malah dengan beraninya menatap
balik Alvin. Tatapan Alvin semakin lekat dan menimbulkan gemuruh didada Sivia. Merasa
tertantang oleh Gadis yang ada dihadapannya saat ini Alvinpun mendekatkan
keningnya dengan kening Sivia.
“kalo lo
nggak suka sama Cakka, berarti lo suka sama…. GUE” Ucap Alvin pede. Sivia
mendesis sinis lantas mendorong pelan tubuh Alvin hingga sedikit jauh dari
posisinya sekarang.
“lo terlalu
banyak omong” Sivia pergi dari hadapan Alvin tanpa sedikitpun menoleh
kebelakang.
Alvin
tersenyum. Ia memegang dadanya dan merasakan detakan jantungnya berdegup dengan
kencang. Mungkinkah itu cinta?
^_^
“Febb, elo
ikut gue sekarang” ujar Alvin seraya menarik lengan Febby yang saat itu tengah
berkumpul bersama kawan-kawannya. Febby ini adalah salah satu anggota Gank
Pricilla.
“apa-apaan
sih lo, Vin? Ihh…” kesal Febby sambil menarik lengannya dari genggaman Alvin.
“elo MC kan
diacara ini?” Tanya Alvin sedikit nyolot.
“iya” jawab
Febby yang tidak kalah nyolotnya dari Alvin. Febby masih sangat kesal pada
Alvin, karna Alvin sudah seenaknya melukai hati Sahabatnya dihari ulang tahunya
yang ke-17 ini.
“gue mau
minta tolong sama lo”
“apaan?”
“sini kuping
lo”
Dengan setengah
hati Febby mendekatkan dirinya dengan Alvin. Febby melipat kedua tangannya
didada dan berusaha mendengarkan bisikan Alvin sebaik mungkin.
Tidak lama kemudian….
“WHAATTTT…??
Sakit jiwa lo, Vin…! Nggak, gue nggak mau” tolak Febby mentah-mentah sesaat
setelah ia mendengarkan bisikan Alvin. Alvin tersenyum licik, sepertinya ia
harus mengeluarkan cara ampuhnya untuk meluluhkan hati Gadis ini.
“lo masih
berminat kan buat ngedapetin hatinya Rio?”
Dan benar
saja, Febby langsung luluh ketika mendengar Alvin membawa-bawa nama Rio. Febby
melirik sebal kearah Alvin. Kenapa cowok ini tau sekali apa yang Febby
inginkan? Dasar penjilat!
^_^
“HALLO
SEMUANYAAA….!!! Masih semangaattt??” pekik Febby dari atas panggung dengan
begitu cerianya. Dengan serempak semua yang menghadiri pesta itupun menjawab
pertanyaan basa basi dari Febby. Alvin tersenyum penuh kemenangan saat itu
juga.
“OK, kalo
begitu, malam ini, aka nada sepasang kekasih yang ingin mempersembahkan sebuah
lagu untuk kita semua yang ada dipesta ini, mau tau siapaaaaa???”
“IYAAAAA…..”
Jawab semuanya kompak.
“OK,
langsung kita panggilkan, ini dia….. ALVIN DAN SIVIAAAAA….”
Sivia yang
saat itu tengah meminum jus jeruknya langsung menyemburkan minumannya sebelum
sempat ia telan. Sivia kaget, benar-benar kaget. Ini pasti ulah Si Kunyuk itu
lagi. Sivia melirik sengit kearah Alvin yang saat itu berdiri tidak jauh dari
posisinya sekarang, Alvin langsung melambaikan tangannya kearah Sivia seraya
menaik turunkan kedua alisnya.
^_^
Saat ini
Alvin dan Sivia sudah duduk berdampingan diatas panggung. Alvin memegang sebuah
gitar seraya menatap Sivia dengan sebuah senyuman. Sementara Sivia, ia malah
membalas tatapan Alvin dengan tatapan benci. Untuk yang kesekian kalinya,
rasanya Sivia ingin sekali membunuh Kunyuk satu ini.
Alvin
memetik gitarnya dan beberapa saat kemudian mulai menyanyikan sebuah lagu.
Pricilla yang merasa tidak tahan lagi melihat pemandangan yang lumayan
menghancurkan hatinya itupun lebih memilih untuk meninggalkan pestanya. “BYEE…”
Alvin mengucap dalam hati dengan penuh kemenangan.
Alvin: “Kau datang dan
jantungku berdegup kencang
Kau buatku terbang melayang
Tiada ku sangka getaran ini ada
Saat jumpa yang pertama…”
Sivia: “Mataku tak dapat
terlepas darimu Perhatikan setiap tingkahmu
Tertawa pada setiap candamu Saat
jumpa yang pertama…”
AlVia: Could it be love, could it
be love Could it be, could it be,
could it be love Could it be
love, could it be love
Could this be something that i never had….
Could it be love…
Could it be love…
Sebelum
Alvin dan Sivia menyelesaikan lagu itu, secara tiba-tiba dan mengejutkan Cakka
menaiki panggung lalu menarik lengan Sivia dalam satu gerakan cepat. semua yang
ada disana tentu saja merasa sangat kaget dengan apa yang Cakka lakukan itu.
“lo
ikut gue pulang sekarang, Vi!”
Ketika
Cakka akan membawa Sivia menuruni Panggung, Alvinpun langsung mencekal
pergelangan tangan Sivia. Posisi Sivia saat ini berada ditengah-tengah antara
Cakka dan Alvin. Cakka memegang pergelangan tangan kanan Sivia, sementara Alvin
memegang pergelangan tangan kiri Sivia.
Hening
untuk beberapa saat. Alvin dan Cakka saling menatap tajam satu sama lain. Dan Sivia
sama sekali tidak pernah menduga sebelumnya bahwa ia akan berada dalam keadaan
seperti ini. Diperebutkan oleh 2 cowok tampan. Cowok yang satunya adalah
Sahabat kentalnya sejak ia masih kecil, sementara yang satunya adalah musuh
bebuyutannya yang belakangan ini tanpa ia sadari telah berhasil mencuri
hatinya.
Alvin
tersenyum sinis dan beberapa detik kemudian langsung berkata,
“Via
cewek gue, dan elo nggak berhak bawa dia pulang tanpa seijin gue”
Kedua
mata Sivia langsung membelalak ketika mendengarkan penuturan Alvin. Sivia
melirik cepat kearah Alvin.
“Cakka
Nuraga… elo tuh Cuma sahabatnya dia, dan gue pacarnya, jadi –“
Dalam
satu sentakan kuat, Alvin menarik Sivia hingga dekat dengannya lantas
merangkulnya dihadapan Cakka. Susana semakin menegang.
“gue
lebih berhak atas dia dibanding elo…”
Cakka
menggenggam kuat-kuat jemari tangannya. Hatinya seakan terbakar manakala
mendengarkan ucapan Alvin barusan. Cakka menghela nafas panjang, berusaha
meredam emosinya yang semakin lama semakin mencapai puncak klimaks.
Akan
tetapi, Cakka tidak berhasil meredam segalanya. Rasa kecewa, cemburu, marah,
dan segala emosi yang tidak bisa jelaskan dengan kata-kata sudah terlanjur
menguasai sebagian dirinya. Cakka yang tidak bisa mengendalikan diri lagi
langsung saja melayangkan pukulan yang lumayan keras tepat diwajah Alvin. Reflex,
Alvinpun melepaskan pergelangan tangan Sivia yang sejak tadi ia genggam dengan
erat. Melihat adegan yang lumayan membahayakan itu, Sivia langsung membekap
mulutnya menggunakan kedua tanganya.
Alvin
mengusap darah segar menetes dari tepi bibirnya. Alvin menegakan tubuhnya, ia
menyingkirkan Sivia agar menjauh dari posisinya dan Cakka sekarang. Dan tanpa
berkata apa-apa lagi, Alvin langsung membalas pukulan Cakka itu. Saat ini tepi
bibir mereka sama-sama meneteskan darah.
Dan
saat Cakka akan kembali memukul Alvin, dengan cepat Sivia mendekat lalu berdiri
dihadapan Alvin untuk melindunginya dari pukulan Cakka. Entah kenapa tiba-tiba
Sivia melakukan hal itu.
“BERHENTI
KALIAAAANNNNN!!!” Teriak Sivia sambil menyilangkan kedua tangannya didepan
wajahnya. Alvin tersentak dengan apa yang Sivia lakukan. Sivia melindunginya.
Alvin terpana untuk beberapa saat.
“kalian
berdua kenapa sih? Apa kalian nggak bisa akur sekaliiiiii aja? Gue capek
ngeliat kalian kayak gini terus, kalian ngerti nggak sih??” ucap Sivia putus
asa.
Sivia
menghela nafas panjangnya. Ia mengangguk beberapa kali dan menghapus setetes
air matanya yang nyaris terjatuh membasahi pipi mulusnya.
“ato
sekarang terserah kalian berdua aja! Kalo mau berantem aja… bilaperlu saling
bunuh sekalian, gue nggak akan peduli….”
Sivia
pun menuruni panggung seraya berusaha keras menahan air matanya supaya tidak
terjatuh. Melihat Sivia yang semakin jauh, tiba-tiba Alvin terkesiap. Ia berlari
mengejar Sivia. Dan ketika jaraknya sudah sangat dekat dengan Sivia, Alvin langsung
menarik pergelangan tangan Sivia dan membawanya keluar dari ruangan itu. Cakka
hanya diam ditempat dan tidak berniat melakukan apapun. Ia pasrah, benar-benar
pasrah. Mungkin Sivia telah benar-benar jatuh cinta pada Alvin, dan Cakka harus
bisa menerima semuanya dengan lapang dada.
^_^
Alvin
membawa Sivia kesebuah danau yang biasa Alvin kunjungi jika ia sedang merasa
galau atau sejenisnya. Dan Sivia tidak melawan sama sekali ketika Alvin membawa
ketempat itu.
Alvin
dan Sivia berdiri berdampingan didepan mobil Alvin yang sengaja Alvin parkirkan
tidak jauh dari danau itu. Mata mereka sama-sama menatap hampa kedepan. Fikiran
mereka pun sama-sama menerawang jauh. Mereka berdua sama-sama tidak mengerti
dengan apa yang mereka rasakan saat ini setelah selama seminggu penuh selalu
bersama-sama.
Selama
10 menit berada ditepi danau, selama itu pula mereka sama-sama saling berdiam
diri dan tidak mengeluarkan sepatah katapun. Hanya suara desauan angin malam
yang berhembus dengan lembut diantara mereka. Hening.
Sivia
mulai merasa kedinginan akibat angin malam yang menerpa tubuhnya. Sivia memeluk
erat tubuhnya menggunakan kedua tangannya sambil sesekali menggigil kedinginan.
Karna itu, Sivia semakin membenci Gaun pilihan Alvin yang saat ini ia kenakan. Sebenarnya
Sivia ingin protes lagi, tapi kan saat ini dia lagi ngambek, gengsi dong kalau
harus menegur Alvin terlebih dahulu. Yang ada Kunyuk itu malah semakin besar
kepala nantinya.
Sivia
melirik sejenak kearah Sivia. Melihat Sivia yang menggigil seperti itu, Alvin
langsung membuka jas nya lalu memasangkannya pada tubuh si Jelek itu.
“eh…”
Sivia terkesiap lalu menoleh kearah Alvin.
“lo
pake tuh biar nggak kedinginan” ucap Alvin dingin.
“makasih…”
ucap Sivia nyolot sambil membenahi jas yang dipasangkan oleh Alvin barusan.
“emang
ada gitu orang ngucapin makasih sambil nyolot kaya lo?” Alvin mulai sewot.
“ada,
kalo sama cowok songong, angkuh, sok tahu, plus nggak tau diri kayak lo, gue
tuh nggak habis fikir ya? Kenapa ada cow—“
“gue
minta maaf” sambar Alvin cepat. Sivia bahkan tidak percaya dengan apa yang baru
saja ia dengar.
“apa?
Lo bilang apa? Minta maaf??”
“perlu
gue bertekuk lutut dihadapan lo?”
Sivia
menggeleng cepat.
“lo
tuh jahat banget tau nggak Vin sama gue? Jujur ya, semenjak gue kenal sama lo,
gue selalu aja berantem sama Cakka, dan asal lo tau ya, sebelum gue kenal elo,
gue nggak pernah berantem serius sama Cakka…”
“kenapa
sih lo malah bahas Cakka…?”
“kenapa?
Lo nggak suka??”
“IYA
GUE NGGAK SUKA!!” Sahut Alvin cepat yang langsung membuat Sivia bungkam.
Setelah
selama beberapa detik saling beradu pandang dengan tatapan yang sama-sama
tajam, Sivia akhirnya menyerah. Ia membuang mukanya kearah lain. Bingung harus
bicara apa lagi dengan Alvin.
Beberapa
saat kemudian, Sivia merasakan Alvin menarik lengannya. Dan dengan gerakan yang
cepat, Alvin langsung menyandarkan kepala Si Jelek itu pada dada bidangnya.
Sivia tersentak dan mulai merasakan debaran-debaran aneh itu menyerang dadanya
dan menimbulkan getaran yang dahsyat dijantungnya. Untuk yang pertama kalinya
Alvin memeluk tubuhnya dengan begitu erat.
“mungkin
ini hari terakhir gue ngeliat lo. Ini hari terakhir gue bisa ngerjain lo sesuka
hati gue, ini hari terakhir gue—“ Alvin menggantungkan kalimatnya. Ia terdengar
menghela nafas sejenak lalu melanjutkan perkataannya,
“ini
hari terakhir gue bisa bareng-bareng lo, gue—“ lagi-lagi Alvin menggantungkan
kalimatnya. Sivia menunggu untuk beberapa saat, tapi Alvin tidak juga
melanjutkan perkataannya.
Alvin
akhirnya memilih untuk melepaskan Sivia dari pelukannya. Alvin menoleh kearah
lain dan kembali menunjukan kecuekannya pada Gadis itu. Alvin bersikap
seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka.
Entah
mendapatkan dorongan dari mana, secara tiba-tiba Sivia berjinjit lalu mengecup
pipi Alvin dengan lembut. Kedua mata Alvin melebar. Tapi Alvin harus tetap
bersikap wajar didepan gadis ini.
“gue
mau pulang…” ujar Sivia dengan cepat. Sivia berjalan kesamping mobil Alvin,
membuka pintunya lantas memasukinya.
Alvin
masih diam ditempat. Ia memegangi pipi sebelah kananya yang baru saja dicium
oleh Sivia. Alvin tersenyum tipis lalu segera menyusul Sivia kedalam mobilnya.
Mungkinkah
semua debaran-debaran aneh yang mereka rasakan adalah sebuah pertanda cinta? Apakah
cinta itu mulai merasuki hati mereka masing-masing…?? Biar waktu yang akan
menjawab semuanya.
could it be love…
Could this be something that i never had…. (Raissa)
BERSAMBUNG…


0 comments:
Post a Comment