Wednesday, May 8, 2013

0

Seperti Sebuah Bintang Part 12 "Insiden Kecil Di Birthday Party Pricilla"






“Semuanya pun akan berjalan seperti seharusnya….”


                Alvin memberhentikan Ferarri hitamnya ditempat parkir yang sudah dipersiapkan untuk para tamu undangan. Sebelum keluar dari dalam mobil mewahnya Alvin sempat melirik sejenak kearah Sivia. Dan Alvin bisa melihat dengan sangat jelas kegusaran yang terpeta pada wajah manis Gadis itu.
            Sivia meremas kuat-kuat gaun yang ia kenakan. Semenjak Ferari hitam milik Alvin memasuki kawasan hotel berbintang itu, sejak saat itulah Sivia terlihat semakin gusar. Sivia takut kalau-kalau nanti didalam ia akan bertemu dengan Cakka. Apa yang harus ia katakan pada Cakka nanti jika Cakka bertanya padanya? Dan bagaimana Sivia harus menjelaskan semuanya pada Cakka jika nanti didalam pesta Alvin mengakuinya sebagai pacar didepan semua tamu undangan? 2 pertanyaan itu terus memenuhi otak Sivia. Dalam keadaan yang serba genting, Sivia berusaha mencari jawaban yang pas untuk Cakka. Tapi memang dasar otaknya saja yang tidak bisa diajak kompromi saat ini.
            Semua kegugupan yang Sivia rasakan seolah membekukan daya fikirnya. Sivia benar-benar blank!
            Sivia tiba-tiba kaget ketika sebuah tangan menggenggam erat jemari tangannya dengan lembut. Dengan cepat Sivia menoleh kearah Alvin yang saat itu langsung menyambutnya dengan sebuah senyuman yang entah kenapa terlihat – sebenarnya Sivia enggan mengakui ini- begitu mempesona.
            “santé aja. Ada gue kok” ucap Alvin dengan lembut. Selembut genggaman tangannya pada jemari Sivia. Dan jujur saja, sejak pertama kali mengenal Pria Tengik ini, ini kali pertamanya Alvin berkata selembut itu padanya.
            Untuk beberapa detik berikutnya mereka sama-sama larut dalam tatapan mata mereka masing-masing. Deg… mendadak debaran aneh yang amat tak biasa itu tiba-tiba mengusik dada mereka masing-masing. Sivia mendesah pelan. Rasanya ia ingin sekali membuang tatapannya dari wajah Si Kunyuk ini, tapi magnet kuat dari wajah Alvin justru menariknya semakin lekat menatap mata Pria itu.
            Tidak jauh beda dari apa yang Sivia rasakan saat ini, Alvin juga merasakan hal yang sama dan secara pelan tapi pasti Alvin mulai mengakui bahwa malam ini Si Jelek ini sudah benar-benar membuatnya terpana. Alvin tersenyum tipis. Dan suasana hening masih membungkus kebersamaan mereka didalam mobil itu.
            Sivia akhirnya tersadar. Ia buru-buru menarik tangannya dari genggaman Alvin lantas mengalihkan tatapannya kearah lain. Cukup, sudah cukup Sivia terlihat bodoh dihadapan Kunyuk satu ini.

^_^

            Disalah satu sudut ruangan mewah dihotel berbintang ini terlihat Cakka tengah berkumpul bersama Gabriel, Irsyad, Obiet, dan Debo. Masing-masing dari mereka memegang gelas minuman mereka sendiri-sendiri. Bersama alunan irama music pesta yang menghentak, Cakka, Gabriel, Irsyad, Obiet dan Debo menggerak-gerakkan badan mereka dengan begitu asyiknya.
            Rio, Deva, Ray, dan Ozy tiba-tiba datang dan ikut berkumpul bersama mereka. Cakka dan kawan-kawanpun menerima kehadiran mereka dengan sangat bersahabat. Meskiupn ditengah lapangan mereka adalah musuh, tapi diluar itu mereka tetap terlihat akrab.
            “eh iya, Alvin mana?” Tanya Ozy pada kawan-kawannya.
            Ray menegak minumannya lalu menjawab pertanyaan Ozy.
            “belom datang, masih diluar kali, katanya malem ini Alvin akan memperkenalkan seseorang yang special”
            “siapa?” Tanya Deva penasaran.
            “gue juga nggak tau” jawab Ray seraya mengangkat kedua bahunya.
            Mendengar nama Alvin dibawa-bawa mendadak ekspresi wajah Cakka langsung berubah keruh. Entah kenapa Cakka merasa sangat terganggu ketika mendengar nama itu. Cakka juga tidak mengerti dengan apa yang dia rasakan saat ini.
            “Sivia nggak jadi ikut, Kka?” pertanyaan dari Gabriel itu langsung membuat Cakka terkesiap. Cakka membuyarkan lamunannya lalu berusaha menormalkan ekspresi wajahnya.
            “nggak. Dia nggak mau ikut katanya!” jawab Cakka sekenanya.
            “Itu Alvin” ujar Ozy tiba-tiba seraya menunjuk kearah pintu.
            Secara bersamaan mereka semuapun melihat kearah pintu. Dan seperti tersambar petir disiang bolong, itulah yang Cakka rasakan saat ini ketika melihat Sivia berjalan bersama Alvin dengan begitu serasinya dan lengan Sivia melingkar pada siku Alvin.
            Seluruh perhatian seisi ruangan itu langsung tertuju pada kedua sosok muda mudi yang begitu tampak serasi itu. Entah sadar atau tidak, Sivia menggandeng lengan Alvin dengan begitu eratnya. Alvin memberikan senyum terbaiknya pada setiap mata yang kini mengarah padanya.
            Sebelum memasuki ruangan ini, Alvin sudah bisa menebak apa yang akan terjadi. Decak kagum serta bisikan-bisikan yang berisi pujian sayup-sayup menyapa indera pendengar Alvin dan Sivia. Sivia menunduk malu.
            Mendadak Cakka merasakan suhu tubuhnya berubah panas. Matanya menatap tajam kearah kedua sosok yang semakin lama semakin mendekati posisinya sekarang.
            Dan Pricilla yang awalnya terlihat begitu bahagia dihari ulang tahunnya yang ke-17 ini tiba-tiba merasakan seluruh tulang-tulangnya seperti dipresto. Pricilla seakan tidak sanggup lagi berdiri diatas kedua kakinya sendiri manakala melihat Pria yang begitu ia cintai selama bertahun-tahun datang ke Hari Specialnya bersama seorang Gadis yang kemungkinan besar adalah kekasihnya. Senyum yang sejak tadi mengembang diwajah Gadis Cantik itu tiba-tiba menghilang. Pricilla merasakan tangannya bergemetaran hebat.
            Seluruh anggota Gank nya menatapnya dengan prihatin. Dengan perlahan Pricilla menjatuhkan gelas yang ada ditangannya. Kedua matanya mulai terasa panas dan telah siap merembeskan air mata.
            Sivia menghela nafas panjang lantas memberanikan dirinya untuk menegakkan wajahnya. Dan…. Tatapan tajam Cakka langsung menyambutnya kala itu. Sivia menghentikan langkahnya sejenak, Alvin yang menyadarinya juga ikut menghentikan langkahnya.
            Alvin melihat arah tatapan Sivia yang tertuju pada Cakka. Alvin tersenyum miring. Ini kesempatan mas baginya untuk membalas perlakuan tidak menyenangkan yang Cakka tunjukan padanya tempo hari.
            Alvin mengelus lembut tangan Sivia yang masih melingkari lengannya.
            “tenang aja, dia nggak akan marah kok. Kecuali, memang ada satu hal yang dia sembunyikan” kata Alvin dengan makna tersamar. Mereka pun kembali melanjutkan langkah mereka.
            “Hay semua” sapa Alvin pada semua kawan-kawannya termasuk Cakka dan kawan-kawannya. Cakka masih betah menatap Sivia.
            “ini dia Vin someone special yang mau lo kenalin ke kita?” Tanya Ray seraya melirik nakal kearah Sivia. Alvin hanya mengangguk dengan senyuman yang semakin melebar.
            “Hay, kenalin gue Ray” kata Ray sambil mengulurkan tangannya dihadapan Sivia. Sivia yang sejak tadi hanya menunduk saja sampai tidak menyadari bahwa Ray mengajaknya berkenalan. Uluran tangan Ray menggantung lumayan lama diudara.
            Alvin berdehem pelan. Sivia pun langsung mengangkat wajahnya dan membalas uluran tangan Ray,
            “gu… gue Via…” jawab Sivia sedikit gugup.
            “gue ke toilet bentar ya semua…” pamit Cakka pada semuanya secara tiba-tiba.
            Tanpa menunggu jawaban apapun dari semuanya Cakka langsung saja menarik dirinya dari tempat itu. Cakka berjalan kearah toilet tanpa sedikitpun menoleh kebelakang. Sivia tau Cakka kecewa. Dan ini entah ini untuk yang keberapa kalinya Sivia membuat Sahabatnya itu kecewa? Dan lagi-lagi ini semua karna Alvin.

^_^

            Ternyata Cakka sama sekali tidak ke toilet. Ia telah berbohong pada semuanya. Cakka hanya ingin keluar saja dari ruangan yang membuat dadanya terasa sesak itu. Cakka juga tidak ingin melihat lebih jauh lagi kebersamaan yang terjalin antara Alvin dan Sivia.
            Cakka benar-benar kecewa pada Sivia. Semenjak mengenal Alvin, Sivia sering sekali membuat hati Cakka kecewa, bahkan tak jarang juga Sivia sering berbohong padanya. Sebelum mengenal Alvin dalam hidupnya mana pernah Sivia seperti itu padanya? Tapi kenapa Alvin harus hadir dan menghancurkan segalanya? Apa nanti Alvin juga akan merebut Sivia dari Cakka?
            Cakka menggenggam kuat-kuat jemari tangannya. Cakka tidak akan pernah membiarkan Alvin begitu saja. Cakka harus melakukan sebuah tindakan agar ia tidak terus menerus kecewa seperti sekarang ini dan sebelum-sebelumnya.

^_^

            Alvin dan Sivia menggerakan badan mereka kekiri dan kekanan sambil mengikuti alunan irama music dansa yang mengalun dengan lembut didalam ruangan besar yang cukup mewah itu. Meskipun saat ini Sivia ada bersama Alvin, tapi fikirannya melayang jauh entah kemana. Sejak Cakka melihatnya memasuki ruangan ini bersama Alvin, Cakka tidak mengeluarkan sepatah katapun untuknya. Bahkan sampai sekarang, Cakka belum juga kembali semenjak ia pamit ke toilet. Sivia memejamkan matanya sejenak, ia benar-benar bersalah pada Cakka. Seharusnya Sivia tidak mengecewakan Cakka seperti ini.
            “please Kka, lo jangan marah… please gue bisa jelasin semuanya, gue akan bikin lo mengerti…” Sivia membantin sambil tetap focus dengan gerakan dansanya.
            Tiba-tiba saja Sivia merasakan Alvin memutar tubuhnya beberapa kali lalu dengan sigap kembali menangkapnya dengan tangannya yang melingkar dipinggul Sivia. Sivia sedikit kaget karna jarak wajahnya dengan jarak wajah Alvin kini hanya beberapa centi saja. Alvin tersenyum jengah.
            “lo kefikiran Cakka?” Tanya Alvin. Sivia mengangguk pelan. kali ini Alvin tersenyum miris.
            “lo sadar nggak sih kalo Si Cakka itu suka sama lo?” Sivia melotot tajam ketika mendengarkan ucapan Alvin barusan.
            “jangan asal ngomong lo! Gue sama Cakka itu sahabat” jelas Sivia.
            “Sahabat? Yakin tuh si Cakka nggak ada rasa apa-apa ke elo?”
            “jangan sok tahu!”
            Lagi-lagi Alvin memutar tubuh Sivia beberapa kali dan langsung menangkapnya dengan sigap.
            “berarti elo yang nggak peka jadi cewek!”
            Kali ini Sivia menatap Alvin dengan tatapan benci. Ternyata selain songong dan menjengkelkan, Alvin juga memiliki sifat lain yang tidak kalah menyebalkannya dengan sifat-sifatnya yang lain yaitu: SOK TAHU.
            “Lo juga suka sama Cakka?” Tanya Alvin dan semakin membuat Sivia jengkel. Sivia menghela nafas panjang, ia berusaha menahan emosinya sekuat ia mampu.
            “udah gue bilang, Cakka sahabat gue. Gue nggak mungkin suka sama sahabat gue sendiri! Ngerti?” ucap Sivia dengan tegas.
            Alvin mengangguk beberapa kali sambil tersenyum jahil. Dalam satu gerakan cepat, Alvin menarik pinggang Sivia hingga jarak diantara mereka semakin dekat saja.
            Deg… deguban itu kembali mengusik dada Sivia. Alvin menatap kedua manik mata Sivia setajam mungkin. Sivia yang tidak ingin terlihat bodoh malah dengan beraninya menatap balik Alvin. Tatapan Alvin semakin lekat dan menimbulkan gemuruh didada Sivia. Merasa tertantang oleh Gadis yang ada dihadapannya saat ini Alvinpun mendekatkan keningnya dengan kening Sivia.
            “kalo lo nggak suka sama Cakka, berarti lo suka sama…. GUE” Ucap Alvin pede. Sivia mendesis sinis lantas mendorong pelan tubuh Alvin hingga sedikit jauh dari posisinya sekarang.
            “lo terlalu banyak omong” Sivia pergi dari hadapan Alvin tanpa sedikitpun menoleh kebelakang.
            Alvin tersenyum. Ia memegang dadanya dan merasakan detakan jantungnya berdegup dengan kencang. Mungkinkah itu cinta?

^_^

            “Febb, elo ikut gue sekarang” ujar Alvin seraya menarik lengan Febby yang saat itu tengah berkumpul bersama kawan-kawannya. Febby ini adalah salah satu anggota Gank Pricilla.
            “apa-apaan sih lo, Vin? Ihh…” kesal Febby sambil menarik lengannya dari genggaman Alvin.
            “elo MC kan diacara ini?” Tanya Alvin sedikit nyolot.
            “iya” jawab Febby yang tidak kalah nyolotnya dari Alvin. Febby masih sangat kesal pada Alvin, karna Alvin sudah seenaknya melukai hati Sahabatnya dihari ulang tahunya yang ke-17 ini.
            “gue mau minta tolong sama lo”
            “apaan?”
            “sini kuping lo”
            Dengan setengah hati Febby mendekatkan dirinya dengan Alvin. Febby melipat kedua tangannya didada dan berusaha mendengarkan bisikan Alvin sebaik mungkin.

Tidak lama kemudian….

            “WHAATTTT…?? Sakit jiwa lo, Vin…! Nggak, gue nggak mau” tolak Febby mentah-mentah sesaat setelah ia mendengarkan bisikan Alvin. Alvin tersenyum licik, sepertinya ia harus mengeluarkan cara ampuhnya untuk meluluhkan hati Gadis ini.
            “lo masih berminat kan buat ngedapetin hatinya Rio?”
            Dan benar saja, Febby langsung luluh ketika mendengar Alvin membawa-bawa nama Rio. Febby melirik sebal kearah Alvin. Kenapa cowok ini tau sekali apa yang Febby inginkan? Dasar penjilat!

^_^

            “HALLO SEMUANYAAA….!!! Masih semangaattt??” pekik Febby dari atas panggung dengan begitu cerianya. Dengan serempak semua yang menghadiri pesta itupun menjawab pertanyaan basa basi dari Febby. Alvin tersenyum penuh kemenangan saat itu juga.
            “OK, kalo begitu, malam ini, aka nada sepasang kekasih yang ingin mempersembahkan sebuah lagu untuk kita semua yang ada dipesta ini, mau tau siapaaaaa???”
            “IYAAAAA…..” Jawab semuanya kompak.
            “OK, langsung kita panggilkan, ini dia….. ALVIN DAN SIVIAAAAA….”
            Sivia yang saat itu tengah meminum jus jeruknya langsung menyemburkan minumannya sebelum sempat ia telan. Sivia kaget, benar-benar kaget. Ini pasti ulah Si Kunyuk itu lagi. Sivia melirik sengit kearah Alvin yang saat itu berdiri tidak jauh dari posisinya sekarang, Alvin langsung melambaikan tangannya kearah Sivia seraya menaik turunkan kedua alisnya.

^_^

            Saat ini Alvin dan Sivia sudah duduk berdampingan diatas panggung. Alvin memegang sebuah gitar seraya menatap Sivia dengan sebuah senyuman. Sementara Sivia, ia malah membalas tatapan Alvin dengan tatapan benci. Untuk yang kesekian kalinya, rasanya Sivia ingin sekali membunuh Kunyuk satu ini.
            Alvin memetik gitarnya dan beberapa saat kemudian mulai menyanyikan sebuah lagu. Pricilla yang merasa tidak tahan lagi melihat pemandangan yang lumayan menghancurkan hatinya itupun lebih memilih untuk meninggalkan pestanya. “BYEE…” Alvin mengucap dalam hati dengan penuh kemenangan.

Alvin:   Kau datang dan jantungku berdegup kencang
Kau buatku terbang melayang
Tiada ku sangka getaran ini ada Saat jumpa yang pertama…”

Sivia:    Mataku tak dapat terlepas darimu Perhatikan setiap tingkahmu
Tertawa pada setiap candamu Saat jumpa yang pertama…”
AlVia:   Could it be love, could it be love Could it be, could it be,
could it be love Could it be love, could it be love
Could this be something that i never had….
Could it be love

            Sebelum Alvin dan Sivia menyelesaikan lagu itu, secara tiba-tiba dan mengejutkan Cakka menaiki panggung lalu menarik lengan Sivia dalam satu gerakan cepat. semua yang ada disana tentu saja merasa sangat kaget dengan apa yang Cakka lakukan itu.
            “lo ikut gue pulang sekarang, Vi!”
            Ketika Cakka akan membawa Sivia menuruni Panggung, Alvinpun langsung mencekal pergelangan tangan Sivia. Posisi Sivia saat ini berada ditengah-tengah antara Cakka dan Alvin. Cakka memegang pergelangan tangan kanan Sivia, sementara Alvin memegang pergelangan tangan kiri Sivia.
            Hening untuk beberapa saat. Alvin dan Cakka saling menatap tajam satu sama lain. Dan Sivia sama sekali tidak pernah menduga sebelumnya bahwa ia akan berada dalam keadaan seperti ini. Diperebutkan oleh 2 cowok tampan. Cowok yang satunya adalah Sahabat kentalnya sejak ia masih kecil, sementara yang satunya adalah musuh bebuyutannya yang belakangan ini tanpa ia sadari telah berhasil mencuri hatinya.
            Alvin tersenyum sinis dan beberapa detik kemudian langsung berkata,
            “Via cewek gue, dan elo nggak berhak bawa dia pulang tanpa seijin gue”
            Kedua mata Sivia langsung membelalak ketika mendengarkan penuturan Alvin. Sivia melirik cepat kearah Alvin.
            “Cakka Nuraga… elo tuh Cuma sahabatnya dia, dan gue pacarnya, jadi –“
            Dalam satu sentakan kuat, Alvin menarik Sivia hingga dekat dengannya lantas merangkulnya dihadapan Cakka. Susana semakin menegang.
            “gue lebih berhak atas dia dibanding elo…”
            Cakka menggenggam kuat-kuat jemari tangannya. Hatinya seakan terbakar manakala mendengarkan ucapan Alvin barusan. Cakka menghela nafas panjang, berusaha meredam emosinya yang semakin lama semakin mencapai puncak klimaks.
            Akan tetapi, Cakka tidak berhasil meredam segalanya. Rasa kecewa, cemburu, marah, dan segala emosi yang tidak bisa jelaskan dengan kata-kata sudah terlanjur menguasai sebagian dirinya. Cakka yang tidak bisa mengendalikan diri lagi langsung saja melayangkan pukulan yang lumayan keras tepat diwajah Alvin. Reflex, Alvinpun melepaskan pergelangan tangan Sivia yang sejak tadi ia genggam dengan erat. Melihat adegan yang lumayan membahayakan itu, Sivia langsung membekap mulutnya menggunakan kedua tanganya.
            Alvin mengusap darah segar menetes dari tepi bibirnya. Alvin menegakan tubuhnya, ia menyingkirkan Sivia agar menjauh dari posisinya dan Cakka sekarang. Dan tanpa berkata apa-apa lagi, Alvin langsung membalas pukulan Cakka itu. Saat ini tepi bibir mereka sama-sama meneteskan darah.
            Dan saat Cakka akan kembali memukul Alvin, dengan cepat Sivia mendekat lalu berdiri dihadapan Alvin untuk melindunginya dari pukulan Cakka. Entah kenapa tiba-tiba Sivia melakukan hal itu.
            “BERHENTI KALIAAAANNNNN!!!” Teriak Sivia sambil menyilangkan kedua tangannya didepan wajahnya. Alvin tersentak dengan apa yang Sivia lakukan. Sivia melindunginya. Alvin terpana untuk beberapa saat.
            “kalian berdua kenapa sih? Apa kalian nggak bisa akur sekaliiiiii aja? Gue capek ngeliat kalian kayak gini terus, kalian ngerti nggak sih??” ucap Sivia putus asa.
            Sivia menghela nafas panjangnya. Ia mengangguk beberapa kali dan menghapus setetes air matanya yang nyaris terjatuh membasahi pipi mulusnya.
            “ato sekarang terserah kalian berdua aja! Kalo mau berantem aja… bilaperlu saling bunuh sekalian, gue nggak akan peduli….”
            Sivia pun menuruni panggung seraya berusaha keras menahan air matanya supaya tidak terjatuh. Melihat Sivia yang semakin jauh, tiba-tiba Alvin terkesiap. Ia berlari mengejar Sivia. Dan ketika jaraknya sudah sangat dekat dengan Sivia, Alvin langsung menarik pergelangan tangan Sivia dan membawanya keluar dari ruangan itu. Cakka hanya diam ditempat dan tidak berniat melakukan apapun. Ia pasrah, benar-benar pasrah. Mungkin Sivia telah benar-benar jatuh cinta pada Alvin, dan Cakka harus bisa menerima semuanya dengan lapang dada.

^_^

            Alvin membawa Sivia kesebuah danau yang biasa Alvin kunjungi jika ia sedang merasa galau atau sejenisnya. Dan Sivia tidak melawan sama sekali ketika Alvin membawa ketempat itu.
            Alvin dan Sivia berdiri berdampingan didepan mobil Alvin yang sengaja Alvin parkirkan tidak jauh dari danau itu. Mata mereka sama-sama menatap hampa kedepan. Fikiran mereka pun sama-sama menerawang jauh. Mereka berdua sama-sama tidak mengerti dengan apa yang mereka rasakan saat ini setelah selama seminggu penuh selalu bersama-sama.
            Selama 10 menit berada ditepi danau, selama itu pula mereka sama-sama saling berdiam diri dan tidak mengeluarkan sepatah katapun. Hanya suara desauan angin malam yang berhembus dengan lembut diantara mereka. Hening.
            Sivia mulai merasa kedinginan akibat angin malam yang menerpa tubuhnya. Sivia memeluk erat tubuhnya menggunakan kedua tangannya sambil sesekali menggigil kedinginan. Karna itu, Sivia semakin membenci Gaun pilihan Alvin yang saat ini ia kenakan. Sebenarnya Sivia ingin protes lagi, tapi kan saat ini dia lagi ngambek, gengsi dong kalau harus menegur Alvin terlebih dahulu. Yang ada Kunyuk itu malah semakin besar kepala nantinya.
            Sivia melirik sejenak kearah Sivia. Melihat Sivia yang menggigil seperti itu, Alvin langsung membuka jas nya lalu memasangkannya pada tubuh si Jelek itu.
            “eh…” Sivia terkesiap lalu menoleh kearah Alvin.
            “lo pake tuh biar nggak kedinginan” ucap Alvin dingin.
            “makasih…” ucap Sivia nyolot sambil membenahi jas yang dipasangkan oleh Alvin barusan.
            “emang ada gitu orang ngucapin makasih sambil nyolot kaya lo?” Alvin mulai sewot.
            “ada, kalo sama cowok songong, angkuh, sok tahu, plus nggak tau diri kayak lo, gue tuh nggak habis fikir ya? Kenapa ada cow—“
            “gue minta maaf” sambar Alvin cepat. Sivia bahkan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
            “apa? Lo bilang apa? Minta maaf??”
            “perlu gue bertekuk lutut dihadapan lo?”
            Sivia menggeleng cepat.
            “lo tuh jahat banget tau nggak Vin sama gue? Jujur ya, semenjak gue kenal sama lo, gue selalu aja berantem sama Cakka, dan asal lo tau ya, sebelum gue kenal elo, gue nggak pernah berantem serius sama Cakka…”
            “kenapa sih lo malah bahas Cakka…?”
            “kenapa? Lo nggak suka??”
            “IYA GUE NGGAK SUKA!!” Sahut Alvin cepat yang langsung membuat Sivia bungkam.
            Setelah selama beberapa detik saling beradu pandang dengan tatapan yang sama-sama tajam, Sivia akhirnya menyerah. Ia membuang mukanya kearah lain. Bingung harus bicara apa lagi dengan Alvin.
            Beberapa saat kemudian, Sivia merasakan Alvin menarik lengannya. Dan dengan gerakan yang cepat, Alvin langsung menyandarkan kepala Si Jelek itu pada dada bidangnya. Sivia tersentak dan mulai merasakan debaran-debaran aneh itu menyerang dadanya dan menimbulkan getaran yang dahsyat dijantungnya. Untuk yang pertama kalinya Alvin memeluk tubuhnya dengan begitu erat.
            “mungkin ini hari terakhir gue ngeliat lo. Ini hari terakhir gue bisa ngerjain lo sesuka hati gue, ini hari terakhir gue—“ Alvin menggantungkan kalimatnya. Ia terdengar menghela nafas sejenak lalu melanjutkan perkataannya,
            “ini hari terakhir gue bisa bareng-bareng lo, gue—“ lagi-lagi Alvin menggantungkan kalimatnya. Sivia menunggu untuk beberapa saat, tapi Alvin tidak juga melanjutkan perkataannya.
            Alvin akhirnya memilih untuk melepaskan Sivia dari pelukannya. Alvin menoleh kearah lain dan kembali menunjukan kecuekannya pada Gadis itu. Alvin bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka.
            Entah mendapatkan dorongan dari mana, secara tiba-tiba Sivia berjinjit lalu mengecup pipi Alvin dengan lembut. Kedua mata Alvin melebar. Tapi Alvin harus tetap bersikap wajar didepan gadis ini.
            “gue mau pulang…” ujar Sivia dengan cepat. Sivia berjalan kesamping mobil Alvin, membuka pintunya lantas memasukinya.
            Alvin masih diam ditempat. Ia memegangi pipi sebelah kananya yang baru saja dicium oleh Sivia. Alvin tersenyum tipis lalu segera menyusul Sivia kedalam mobilnya.


                        Mungkinkah semua debaran-debaran aneh yang mereka rasakan adalah sebuah pertanda cinta? Apakah cinta itu mulai merasuki hati mereka masing-masing…?? Biar waktu yang akan menjawab semuanya.

            could it be love… Could this be something that i never had…. (Raissa)



                                                BERSAMBUNG…

0 comments:

Post a Comment