Kadar kejengkelan Alvin semakin bertambah saat ia
melihat sosok kehadiran Iel berada ditengah-tengah antara Rio dan Cakka. Alvin
berpikir sejenak, apa ini maksud Rio memintanya untuk datang kemari? Alvin
mencengkram kuat kedua tangannya. Satu pertanyaan lain timbul di otaknya, apa
Rio dan Cakka sengaja ingin menyatukan Alvin dan Iel kembali? Tidak, Alvin
tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Alvin menghela napas beratnya, ia
lantas mengayunkan langkahnya mendekat kearah meja dimana Iel, Rio dan Cakka
sedang duduk bersama sambil tertawa lepas.
Menyadari kehadiran Alvin, mereka
bertiga langsung menghentikan tawa mereka. Lebih-lebih Rio, mendadak ia berubah
menjadi sebuah patung bernyawa. Atas permintaan Iel, tadi Rio nekad meng-SMS
Alvin dan memintanya untuk datang ke B-Café, diawal Rio sempat menolak
permintaan itu, tapi karna Iel terus mendesak dan terus meyakinkan Rio bahwa
semuanya akan baik-baik saja, akhirnya dengan terpaksa Rio menerima permintaan
Iel.
Alvin menatap Rio dengan
beragah-agahan, sementara Iel tetap menampakkan senyumannya yang selalu tampak
tenang.
“Jadi ini alesannya lo nyuruh gue
kesini? Lo tau? Ini semua Cuma buang-buang waktu gue aja” ucap Alvin berusaha
terdengar tenang, namun yang dapat tertangkap oleh pendengar adalah lebih
kepada sebuah bentakan pelan yang sarat akan emosi.
“Alv, ini semua gak seperti apa yang
lo pi –“
“Lo diem Cakka, gue gak butuh
pendapat lo!” potong Alvin tiba-tiba yang langsung membuat Cakka bungkam.
Kini Rio pasrah jika harus jadi
sasaran kemarahan Alvin. Dengan emosi yang meluap tidak terkendali, Alvin
menarik kerah kemeja Rio hingga membuat cowok berwajah manis itu berdiri. Dari
awal bukannya Rio tidak sadar bahwa Iel hanya menjadikannya umpan, Rio sadar,
bahkan sangat sadar. Tapi Rio hanya berusaha mempercayai Iel. Karna pada
kenyataannya, Rio ingin melihat Alvin dan Iel bisa berdamai dan bersahabat
kembali seperti seharusnya.
Menyadari ada sebuah ketidakberesan
yang terjadi disalah satu meja Café, Via langsung berlari kecil menghampiri
beberapa rekan kerjanya yang berdiri dibelakang meja counter menyaksikan
pertengkaran antara Alvin dan Rio. Via menyelak diantara beberapa rekan
kerjanya, dan kedua mata Via langsung membelalak maksimal saat melihat Rio
–sahabat karibnya- sedang berada dalam cengkraman Alvin.
“Apa sekarang lo mulai berpihak sama
dia? HAH?” Bentak Alvin keras dan seakan tidak mengijinkan Rio untuk membuka
suara. Dan tepat saat kepalan tangan Alvin hendak mendarat dengan mulus diwajah
Rio, Iel yang sejak tadi hanya duduk dan menonton langsung berdiri dan menahan
tangan Alvin hingga menggantung diudara.
“Kalo mau nyalahin orang, jangan
salahin Rio! Dan kalo lo mau mukul orang, jangan pukul Rio, tapi gue!”
“Lo gak usah ikut campur! Dan lo
musti tau, kalo disini, lo bukan siapa-siapa. Catet tuh!”
“Gue berhak ikut campur! Ini masalah
kita, gak ada hubungannya sama Rio. Gue yang nyuruh Rio minta lo dateng kesini”
Emosi Alvin pada Rio bisa sedikit
mereda saat mendengarkan pengakuan Iel baru saja. Alvin pun dengan perlahan
melepaskan cengkramannya pada kerah kemeja Rio. Saat itu juga, Rio langsung
menghela napas lega.
“Terus maksud lo apa?” kali ini
Alvin menatap tajam kearah Iel.
“Karna kalo gue yang minta lo buat
dateng kesini, lo udah pasti bakalan nolak, dan lo –“
“Dengan menjadikan Rio sebagai
kambing hitam?” sela Alvin sebelum Iel menyelesaikan perkataannya.
“Lo coba-coba mau ngadu domba gue
sama sahabat-sahabat gue? Dan setelah lo ngerebut perhatian Bokap gue, sekarang
lo mau rebut sahabat-sahabat gue juga? Iya? Itu yang lo mau??” cecar Alvin yang
sudah benar-benar merasa muak dengan semuanya.
“Lo salah paham Alvin. Gue Cuma mau
perbaiki hubungan kita, itu aja! Gue juga mau lo balik kerumah”
“Hubungan kita? Hubungan apa maksud
lo? Persahabatan atau persaudaraan?”
“Alv…”
“Kalo lo mau semuanya kembali
normal, suruh Nyokap lo ninggalin Bokap gue”
“APA??”
“Jelaskan omongan gue?!”
Setelah puas menumpahkan emosinya,
Alvin lalu berbalik dan pergi meninggalkan B-Café dan meninggalkan berjuta-juta
kebingungan yang seakan-akan merong-rong otak Iel tanpa henti. Iel yang merasa
lemas atas ucapan Alvin tadi langsung terduduk dikursi dengan pikirannya yang
sudah benar-benar berserak kemana-mana.
Cakka yang memang sejak awal bisa
menebak bahwa ide Iel ini tidak akan berjalan mulus seperti apa dipikirkan oleh
Iel diawal langsung menggebrak pelan meja café dan membuat Iel maupun Rio
langsung mengangkat wajah mereka dan menatap Cakka.
“Udah gue bilang kan diawal? Gue
tahu tujuan lo baik, Yel. Gue tau lo Cuma pengen perbaiki semuanya, tapi
harusnya lo sadar kondisi apa yang sekarang sedang lo hadapi. Dan lo harusnya
tahu, kalo yang lo hadapi itu adalah seorang Calvin Bramantya, sosok Arrogant
yang paling keras kepala sedunia. Dan seorang Calvin Bramantya gak akan bisa
tersentuh dengan cara drama seperti ini. Gue pikir lo udah ngenal Alvin
sepenuhnya, tapi ternyata… gue salah”
Sama seperti Alvin, Cakka berbalik
lalu pergi meninggalkan B-Café. Tapi sebelum Cakka sempat mengayunkan
langkahnya, Rio buru-buru melemparkan sebuah pertanyaan.
“Lo mau kemana, Kka?”
“Gue mau susul Alvin, dan lo tetep
disini sama Iel. Gue harap lo bisa bikin Iel sadar dengan apa yang baru saja
dia lakuin”
Dan sebelum Rio membalas
perkataannya, Cakka malah sudah pergi dengan langkah terburu. Rio hanya
menghela napas panjang lalu mengalihkan tatapannya pada Via yang saat itu
tengah menatapnya dengan tatapan prihatin.
‘Hari
ini lo udah bikin kesabaran gue habis, Alvin….’ Bathin Iel ditengah-tengah
kekalutan yang kini sedang melandanya.
♥♥♥
“Jadi, semenjak Bokap nya Alvin
nikah sama Nyokapnya Iel, Alvin udah bukan kayak Alvin yang dulu lagi. Dia
bener-bener beda, dan itu semua karna sampe sekarang, Alvin belum rela posisi
Maminya tergantikan gitu aja sama Mama nya Iel…” Rio akhirnya mengakhiri
ceritanya dan menjawab semua rasa penasaran yang sejak tadi memenuhi ruang
diotak Via. Dan sekarang Via baru mengerti, kenapa Alvin yang super duper
sengak itu begitu arrogant.
“Kalo emang kayak gitu ceritanya, terus
kenapa Ify gak pernah cerita kalo dia punya Kakak Tiri super arrogant bernama
Calvin Adryan Bramantya?” Tanya Via yang masih merasa sedikit bingung. Meskipun
sudah kenal dekat dengan Ify selama hampir setahun belakangan ini, tapi tidak
pernah sekalipun Ify menceritakan masalah keluarganya dihadapan Via. Itulah
yang membuat Via bingung saat tiba-tiba ia tahu, bahwa Alvin yang arrogant itu
ternyata Kakak Tiri Ify.
“Buat apa? Buat apa Ify cerita
tentang hal itu sementara selama ini Alvin gak pernah nganggep dia ada? Mungkin
selama ini yang elo kenal itu adalah, Ify yang ceria, Ify yang bahagia dan gak
pernah punya masalah, tapi asal lo tau, Ify Cuma pura-pura tegar, dan Ify Cuma
berusaha nutupin kerapuhannya dia selama ini dengan berpura-pura tegar. Untuk
itu gue minta sama lo buat selalu jaga perasaan Ify”
Via hanya mengangguk sebagai tanda
setuju.
“Satu lagi, Via! Dan ini harus gue
wanti-wanti banget ke elo” kata Rio sambil menatap Via dengan pandangan
seserius mungkin.
“Apa? Muka lo kok mendadak serius
gitu sih, Kak? Jangan bikin gue tegang kek!”
“Lo sekarang udah tau siapa itu
Calvin Bramantya, dan perlu lo tau, yang namanya Calvin Bramantya itu sama
sekali gak bisa ketebak gimana orangnya. Dia bisa ngelakuin hal-hal gak terduga
yang gak pernah orang lain pikirin sebelumnya, jadi please banget gue minta ke elo, jangan sekalipun lo cari masalah
ataupun terlibat masalah sama dia, dan lo harus janji sama gue”
‘MAMPUS
LO, VIA!!’ Itulah tiga kata yang langsung Via teriakan didalam hatinya
manakala Rio memintanya berjanji untuk tidak membuat masalah apalagi terlibat
masalah dengan Alvin. Rasanya Via ingin lenyap dari muka bumi ini detik ini
juga.
Melihat ketegangan yang terpancar
dengan jelas diwajah manis sahabatnya membuat Rio heran dan langsung menyentuh
wajah Via dengan tangan kananya.
“Lo kenapa? Kok mendadak tegang
gitu? Jangan bilang –“
“GAK KOK GAK! GUE GAK ADA MASALAH
SAMA ALVIN, MALAHAN GUE GAK KENAL DIA SAMA SEKALI” Sela Via yang tiba-tiba
memotong ucapan Rio. Via hanya takut melihat reaksi Rio jika ia tahu kalau saat
ini Via sedang terlibat masalah besar dengan Alvin.
“Are
you sure, Via?” Tanya Rio skeptis.
“Yes.
I’m sure, Kak Mario…”
Rio hanya menganggukan-anggukan kepala
dan menurunkan tangan kanannya dari wajah Via. Saat itu, Via langsung menghela
napas lega, tapi hal itu tidak lantas membuat perasaan Via tenang. Bagaimana
ini?
‘KAK
RIOOOOO…. Tapi gue udah terlanjur terlibat masalah sama Mister Arrogant itu,
hiks hiks hikss….’ Isak Via dalam hati sambil memukul-mukul pelan kepalanya
sendiri.
♥♥♥
Sesuai perjanjiannya dengan Septian,
sore ini Via akan mulai bekerja sebagai ‘Pembantu’ di Apartement Alvin. Septian
bahkan sudah memberikan alamatnya, ia juga sudah memberitahu Alvin sebelumnya
melalui telfon kalau hari ini Via akan datang ke Apartement nya. Via hanya
tinggal datang dan menyelesaikan tugasnya. Pekerjaan yang seharusnya ia lakukan
di Café dialihkan sepenuhnya ke Apatermenet Alvin. Dan selama liburan ini, Via
akan bekerja full dari pagi hingga jam 8 malam di Apartement Alvin. Sementara
saat nanti ia kembali masuk sekolah, Via akan melakukan pekerjaan dari jam
pulang sekolah hingga malam.
Via ataupun Septian sendiri sama
sekali tidak bisa memperkirakan akan sampai kapan Via bekerja sebagai
‘Pembantu’ di Apartement Alvin. Semuanya tergantung pada Alvin, dan hal ini lah
yang membuat Via jengkel setengah mati. Membayangkan berada disamping Alvin
saja selama seharian penuh, Via sudah ngeri, apalagi sekarang jika ia tuntut
benar-benar bersama Alvin selama seharian penuh, Via tidak pernah tahu
bagaimana nasibnya setelah ini. Belum lagi perkataan-perkataan Rio kemarin
padanya semakin membuat Via ingin segera kabur saja dari sisi Alvin.
“Ketuk. Gak. Ketuk. Gak. Ketuk…
argghhh!!!” Via menghela napas panjangnya. Ia berusaha bersikap setenang
mungkin lalu mengangkat tangannya hendak mengetuk pintu Apartement Alvin.
Sebelum kepalan tangan kanan Via
mendarat dipintu, tiba-tiba saja pintu itu terbuka dan menampakkan Alvin yang
saat itu sudah terlihat rapi dan keren sambil menenteng Helm full face merahnya, Via seketika membeku
ditempat. Alvin sedikit mengernyit ketika melihat tangan Via yang terkepal dan
terangkat seolah-olah ingin memukulnya.
“Kenapa lo? Mau mukul gue?”
Via menggeleng cepat. “Gak!”
jawabnya singkat dan cepat.
“terus?”
“Mau ngetok pintu!”
Alvin terkekeh pelan seakan
mencibir. ‘Wiihhh…. Bisa ketawa juga nih
cowok?’ Bathin Via.
“Lo gak liat ada bel disamping
pintu? Ato lo emang gak pernah liat gimana bentuk bel sebelumnya? Dasar Udik!!”
cerca Alvin diujung kalimatnya. Dan kekehan pelan yang tadi mengawali ucapannya
seakan menghilang tanpa sisa.
Via hanya melengos dan berusaha
untuk tidak memulai perseteruan diantara mereka. Memangnya apa lagi yang lebih
menyebalkan bagi Via selain harus dipaksa jadi pembantu seperti ini?
“Oke. Karna gue gak punya banyak
waktu buat cewek gak penting kayak lo, gue langsung aja jelasin apa yang harus
lo lakuin hari ini. Jadi sekarang, gue mau keluar selama kurang lebih 2 jam,
dan gue gak mau tau, saat gue balik nanti, Apartement gue harus sudah bersih
dan rapi, dan saat gue pulang nanti, gue mau makanan sudah terhidang dimeja
makan. Kalo itu gak lo lakuin dengan baik maka gue akan –“
“Lo tenang aja! Gue cukup kompeten
kok”
Alvin tersenyum miring. “Gak
diragukan! Aura dan naluri pembokat lo keliatan banget kok” Ucap Alvin sarkatis
dan jelas-jelas sudah mendiskreditkan Via.
Sialan! Awas saja nanti, jangan
salahkan siapa-siapa kalau nanti Via membubuhkan racun tikus dimakanannya.
“Ya udah, sekarang gue cabut dulu.
Dan satu lagi… Good luck, MY NEW
BABU!”
Alvin lalu berjalan melewati Via
begitu saja. Tapi tahu-tahu Alvin menghentikan langkahnya lalu berbalik saat
sebuah ingatan menyapa otaknya.
“sekarang lo udah tau kan, gimana
uang bisa mengendalikan segalanya? SEGALANYA, Via…”
Via hanya memejamkan mata dan
berusaha untuk meredam segala emosinya. Sudah cukup ia terjebak dalam situasi
paling tidak mengenakan seumur hidupnya ini.
♥♥♥
Via cukup kualahan membersihkan
Apartement Alvin yang luasnya minta ampun itu. Belum lagi keadaan Apartement Alvin
yang seperti kapal pecah semakin membuat
Via lelah setengah mati menyelesaikan pekerjaannya. Dan Via sangat bersyukur,
karna dimenit-menit terakhir ia bisa menyelesaikan semua tugasnya dengan sebaik
mungkin. Ya… meskipun sebagai bayarannya napasnya harus putus-putus, tapi Via cukup puas dengan
hasil kerjanya hari ini.
Via terduduk dimeja makan sesaat
setelah ia menyiapkan makan malam untuk Alvin. Via lalu melirik jam tangannya
yang saat itu sudah menunjukan pukul 19.30. Via tersenyum kecil, setengah jam
lagi ia bisa terbebas dari hari yang sangat menyebalkan ini.
“Wiihhh… Naluri pembokat lo
bener-bener gak setengah-setengah ternyata” cibir seseorang dari belakang Via.
Via kontan menoleh lalu mendapati
Alvin yang saat itu sudah berdiri dengan manis dibelakangnya.
“Elo?! Bikin kaget aja”
Alvin tidak membalas ucapan Via, ia
berjalan dengan tenang kearah meja lalu duduk dan mencoba masakan perdana
‘Babu’ barunya. Via melipat kedua tangannya diperut lalu membuang tatapannya
kearah lain.
“Hueek… ini sup atau apa? Tawar
banget” komentar Alvin sesaat setelah ia mencicipi sup buatan Via. Via
mengernyit. Heran.
“Tawar gimana? Tadi pas gue cicipin
rasanya baek-baek aja” Ucap Via dengan nada protes.
“HEH BABU! Lo kalo ngomong sama
majikan bisa sopanan dikit kan? Atau lo mau gue pe –“
“Ini udah jam 8, saatnya gue pulang
kan?” potong Via buru-buru sebelum Alvin menyelesaikan ucapannya. Alvin
menghela napas kesal lalu membanting sendoknya diatas meja. Dan sebelum Alvin
benar-benar memuntahkan emosinya, Via langsung memasang langkah seribu dan
membuat Alvin dongkol.
“Awas lo besok! Jangan panggil gue
Calvin Adryan Bramantya kalo gue gak bisa nyiksa lo lebih dari ini” Desis Alvin
sinis penuh dengan aura dendam.
♥♥♥
Setengah jam kemudian, Alvin berjalan kearah
balkon. Dan ia sedikit kaget ketika melihat Via yang masih berdiri didepan
gedung apartementnya. Alvin semakin mempertajam pengelihatannya dan memastikan
bahwa cewek yang berdiri itu benar-benar adalah Via. Melihat Via yang tidak
juga beranjak dari sana, tiba-tiba saja terjadi perdebatan yang lumayan sengit
jauh didasar hatinya. Satu sisi lamat-lamat meneriakan rasa kasiannya pada
Gadis itu, tapi sisi lainnya yang tentu saja lebih dominan seakan memintanya
untuk tetap diam ditempat tanpa perlu melakukan apapun juga. Alvin tersenyum
mencibir.
“Bodo! Bukan urusan gue dia masih
disana apa gak”
Sekitar 5 menit berselang, tiba-tiba
sebuah mobil yang begitu familiar bagi Alvin berhenti tepat disamping Via. Dari
dalam mobil itu keluarlah Iel. Yang membuat Alvin merasa janggal adalah, Iel
tersenyum begitu manis pada Via seraya berjalan menghampirinya. Dan meskipun
dari jarak yang lumayan jauh, Alvin dapat melihat sebuah pancaran yang berbeda
dari sorot mata Iel ketika menatap Via yang justru terlihat sedikit enggan
dengan kehadirannya. Alvin memang tidak bisa mendengar pembicaraan mereka, tapi
Alvin tahu pasti bahwa Iel sedang menawarkan untuk mengantar Via pulang. Tapi…
sejak kapan mereka saling kenal?
Dan saat keanehan itu semakin
terasa, sebuah ide licik tiba-tiba menyapa otak Alvin. Bertahun-tahun ia
mengenal sosok seorang Ariel Nata Pratama, bagaimana mungkin Alvin tidak bisa
membaca tatapan mata laki-laki itu? Bertahun-tahun sempat begitu dekat dengan
Iel, bagaimana mungkin Alvin tidak mengetahui apapun tentang gerak tubuh Iel yang
benar-benar Nampak berbeda. Dan semua itu, tatapan mata Iel, gerak tubuh Iel,
bahkan sampai senyumannya yang Nampak lain itu pernah Alvin lihat dulu saat Iel
untuk yang pertama kalinya jatuh cinta pada saat mereka baru menginjak tahun
pertama mereka di SMP. Dan Alvin tau persis, bahwa saat ini Iel sedang jatuh
cinta pada Via, pembantu barunya.
Seringai licik itu langsung
mengotori wajah tampannya dalam hitungan detik. Alvin segera mengambil
ponselnya dan menghubungi seseorang.
“Hallo Pak Jaffar? Ini saya Calvin
Bramantya. Saya mau minta pengajuan beasiswa untuk sisiwi bernama Viana Aurora
dari SMA Patuh Karya. Tolong diurus secepatnya!”
Hanya dalam satu jentikan jari
dibawah nama besar seorang Johan Bramantya, Alvin bisa melakukan apapun yang
dia inginkan. Untuk sejenak Alvin merasa bersyukur karna telah terlahir menjadi
Putera seorang Johan Bramantya dan menyandang nama besar Papanya dibelakang
namanya.
♥♥♥
“Kalo ada orang yang bisa gue
musnahin dari muka bumi ini, maka orang itu adalah Calvin Bramantya. Udah
nyerempet gue, ngehina-hina gue, dan sekarang… dia malah seenak udel jadiin gue
pembokatnya dia. Dikiranya dia siapa apa? Anak presiden?” Gerutu Via selama
menunggu taksi didepan gedung Apartement Alvin.
Sudah setengah jam ia berdiri ditempat
itu menunggu sebuah taksi, tapi hingga sekarang belum tampak satu pun taksi
yang terlihat olehnya, dan karna hal itu, Via makin jengkel.
Via berpikir cepat untuk mendapatkan
sebuah bantuan yang bisa membawanya pulang kerumah, dan saat nama Rio terbersit
dikepalanya, Via langsung tersenyum. Ia pun segera merogoh ponsel nya dikantong
jeansnya. Dan saat ia akan menekan nomor Rio, tiba-tiba saja Via terdiam dan
mengingat ucapan Rio padanya kemarin.
“Lo sekarang udah tau siapa itu Calvin
Bramantya, dan perlu lo tau, yang namanya Calvin Bramantya itu sama sekali gak
bisa ketebak gimana orangnya. Dia bisa ngelakuin hal-hal gak terduga yang gak
pernah orang lain pikirin sebelumnya, jadi please banget gue minta ke elo,
jangan sekalipun lo cari masalah ataupun terlibat masalah sama dia, dan lo
harus janji sama gue”
Via menggelengkan kepalanya beberapa
kali. Gak, Rio gak boleh tahu kalau saat ini Via sedang terlibat masalah dengan
Alvin. Karna jika Rio tau tentang hal itu, sudah dapat dipastikan Rio akan
sangat mencemaskannya. Via pun kembali memasukan ponselnya kedalam kantong
jeansnya dan memutuskan untuk menunggu taksi.
♥♥♥
Iel langsung
menghentikan laju jaguar hitamnya saat ia melihat sosok Via berdiri sendiri
dipinggir jalan. Sepertinya Gadis yang sejak pertama kali bertemu dengannya
sudah berhasil merebut hatinya itu sedang menunggu sebuah kendaraan umum.
Iel membuka kaca jendela mobilnya,
dan tatapan heran yang dilemparkan oleh Via langsung menyambutnya.
“Hay… Via” sapanya sedikit canggung
seraya melambaikan tangannya.
“Kak Iel?”
“Emmm… lo ngapain disini
malem-malem?” Tanya Iel sambil melirik Gedung Apartement yang menjulang tinggi
dihadapannya. ‘Ini kan Apartement
Almarhum Mami nya Alvin’ lanjutnya dalam hati.
“Ta… tadi… tadi gue abis ngunjungin
temen, Kak. Iya, abis ngunjungin temen…”
Iel tampak berpikir, ia lalu keluar
dari dalam mobilnya dan berjalan menghampiri Via dengan seulas senyum yang
menghiasi wajah manisnya.
“Temen lo tinggal disini?” tanyanya
sekali lagi.
“Iya, Kak” jawab Via, berusaha
tampak meyakinkan.
“Lagi nunggu kendaraan umum?”
Kali ini Via hanya mengangguk.
“Emmm… gua anter yuk!”
“Apa? Gak usah Kak, nanti
ngerepotin” tolak Via halus.
“Ngerepotin gimana, Via? Gue sama
sekali gak ngerasa direpotin kok. Lagian elo kan sahabatnya Rio, gue juga
sahabatnya Rio, jadi gak ada salahnya kan kalo kita temenan?”
‘Sahabat
macem apaan tuh yang tega jadiin sahabatnya umpan disaat genting?’ Cibir
Via dalam hati.
“Via…” panggil Iel sambil
melambaikan pelan tangannya didepan wajah Via.
“Eh iya, Kak?” Via sedikit
terkesiap.
“Mau kan gue anter pulang?”
Kali ini giliran Via yang terlihat
berpikir. Ya sudahlah, daripada dia menunggu taksi berlama-lama disini dan
menghabiskan uangnya hanya untuk ongkos taksi, jadi masih lebih baik kan kalau
dia menerima tawaran Iel? Toh cowok ini terlihat seperti cowok baik-baik. Via
akhirnya mengangguk dan membuat senyuman Iel kian melebar.
Iel lalu membuka pintu mobilnya dan
mempersilakan Via masuk layaknya seorang pengawal Istana yang mempersilakan
Tuan Puterinya. Via hanya terkekeh geli lalu memasuki jaguar hitam Iel.
“Elo Kakaknya Ify? Kok gue gak
pernah liat lo?” Tanya Via saat dirinya dan Iel sedang dalam perjalanan.
“Emmm… 2 tahun lalu gue pindah ke
Paris karna suatu alesan. Oya, Lo kenal Ify?” Jawab dan tanya Iel sambil melirik kearah Via. Viapun mengangguk.
“Iya. Gue kenal Ify sejak pertama
kali masuk SMA, dan sekarang kita sahabatan. By the way, Paris keren gak? Udah lama gue punya mimpi pengen ke
Paris”
Iel terpaku sejenak akan kepolosan
gadis yang ada disampingnya ini. Ia pernah dekat dan menjalin hubungan dengan
beberapa orang gadis di Paris, tapi tidak pernah sekalipun Iel merasa senyaman
ini bila berada didekat seorang Gadis. Apa kah mungkin, Iel tidak hanya
menyukai gadis ini? Apa mungkin ada perasaan lebih dari sekedar suka yang
diam-diam terselip jauh didasar hatinya?
Dan saat mendengar perkataan Via
yang menyatakan dirinya punya impian pergi ke Paris, entah kenapa Iel ingin
mewujudkannya suatu saat nanti.
“Gue gak bisa gambarin gimana
kerennya Paris kalo lo gak pergi sendiri kesana”
Via menghela napas panjangnya lalu
sedikit cemberut. Dan ekspresi yang Via tunjukan itu justru membuat Iel gemas
dan ingin mencium kedua pipi chubby nya.
“Ke Paris? Impossible…” katanya sedikit putus asa sambil menatap hampa
kedepan. Iel tersenyum tanpa sedikitpun mengalihkan perhatiannya pada Via.
“Suatu saat gue akan bawa lo ke
Paris”
Via yang terkejut akan perkataan
ceplos yang baru saja keluar dari mulut Iel kontan menoleh kearah Iel lalu
menatap Iel dengan sedikit membelalak. Via berusaha mencari setitik kebohongan
atau gurauan dikedua mata elang itu, tapi ternyata yang Via dapatkan justru
sangat menyentakkannya. Tidak ada setitikpun guruan apalagi kebohongan disana.
Yang ada hanya…. Sebuah kesungguhan.
‘Oke…
gue berharap kali ini gue yang kegeeran…’ Bathin nya lalu segera melepaskan
pandangannya dari Iel.
To Be Continued…



join back my blog yess :) on http://caramelisataste.blogspot.com/
ReplyDelete