Thursday, April 10, 2014

1

If Mr.Arrogant In Love (Saat Cinta Datang Tanpa Bilang-Bilang) -Chapter 3-



Kadar kejengkelan Alvin semakin bertambah saat ia melihat sosok kehadiran Iel berada ditengah-tengah antara Rio dan Cakka. Alvin berpikir sejenak, apa ini maksud Rio memintanya untuk datang kemari? Alvin mencengkram kuat kedua tangannya. Satu pertanyaan lain timbul di otaknya, apa Rio dan Cakka sengaja ingin menyatukan Alvin dan Iel kembali? Tidak, Alvin tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Alvin menghela napas beratnya, ia lantas mengayunkan langkahnya mendekat kearah meja dimana Iel, Rio dan Cakka sedang duduk bersama sambil tertawa lepas.
            Menyadari kehadiran Alvin, mereka bertiga langsung menghentikan tawa mereka. Lebih-lebih Rio, mendadak ia berubah menjadi sebuah patung bernyawa. Atas permintaan Iel, tadi Rio nekad meng-SMS Alvin dan memintanya untuk datang ke B-CafĂ©, diawal Rio sempat menolak permintaan itu, tapi karna Iel terus mendesak dan terus meyakinkan Rio bahwa semuanya akan baik-baik saja, akhirnya dengan terpaksa Rio menerima permintaan Iel.
            Alvin menatap Rio dengan beragah-agahan, sementara Iel tetap menampakkan senyumannya yang selalu tampak tenang.
            “Jadi ini alesannya lo nyuruh gue kesini? Lo tau? Ini semua Cuma buang-buang waktu gue aja” ucap Alvin berusaha terdengar tenang, namun yang dapat tertangkap oleh pendengar adalah lebih kepada sebuah bentakan pelan yang sarat akan emosi.
            “Alv, ini semua gak seperti apa yang lo pi –“
            “Lo diem Cakka, gue gak butuh pendapat lo!” potong Alvin tiba-tiba yang langsung membuat Cakka bungkam.
            Kini Rio pasrah jika harus jadi sasaran kemarahan Alvin. Dengan emosi yang meluap tidak terkendali, Alvin menarik kerah kemeja Rio hingga membuat cowok berwajah manis itu berdiri. Dari awal bukannya Rio tidak sadar bahwa Iel hanya menjadikannya umpan, Rio sadar, bahkan sangat sadar. Tapi Rio hanya berusaha mempercayai Iel. Karna pada kenyataannya, Rio ingin melihat Alvin dan Iel bisa berdamai dan bersahabat kembali seperti seharusnya.
            Menyadari ada sebuah ketidakberesan yang terjadi disalah satu meja CafĂ©, Via langsung berlari kecil menghampiri beberapa rekan kerjanya yang berdiri dibelakang meja counter menyaksikan pertengkaran antara Alvin dan Rio. Via menyelak diantara beberapa rekan kerjanya, dan kedua mata Via langsung membelalak maksimal saat melihat Rio –sahabat karibnya- sedang berada dalam cengkraman Alvin.
            “Apa sekarang lo mulai berpihak sama dia? HAH?” Bentak Alvin keras dan seakan tidak mengijinkan Rio untuk membuka suara. Dan tepat saat kepalan tangan Alvin hendak mendarat dengan mulus diwajah Rio, Iel yang sejak tadi hanya duduk dan menonton langsung berdiri dan menahan tangan Alvin hingga menggantung diudara.
            “Kalo mau nyalahin orang, jangan salahin Rio! Dan kalo lo mau mukul orang, jangan pukul Rio, tapi gue!”
            “Lo gak usah ikut campur! Dan lo musti tau, kalo disini, lo bukan siapa-siapa. Catet tuh!”
            “Gue berhak ikut campur! Ini masalah kita, gak ada hubungannya sama Rio. Gue yang nyuruh Rio minta lo dateng kesini”
            Emosi Alvin pada Rio bisa sedikit mereda saat mendengarkan pengakuan Iel baru saja. Alvin pun dengan perlahan melepaskan cengkramannya pada kerah kemeja Rio. Saat itu juga, Rio langsung menghela napas lega.
            “Terus maksud lo apa?” kali ini Alvin menatap tajam kearah Iel.
            “Karna kalo gue yang minta lo buat dateng kesini, lo udah pasti bakalan nolak, dan lo –“
            “Dengan menjadikan Rio sebagai kambing hitam?” sela Alvin sebelum Iel menyelesaikan perkataannya.
            “Lo coba-coba mau ngadu domba gue sama sahabat-sahabat gue? Dan setelah lo ngerebut perhatian Bokap gue, sekarang lo mau rebut sahabat-sahabat gue juga? Iya? Itu yang lo mau??” cecar Alvin yang sudah benar-benar merasa muak dengan semuanya.
            “Lo salah paham Alvin. Gue Cuma mau perbaiki hubungan kita, itu aja! Gue juga mau lo balik kerumah”
            “Hubungan kita? Hubungan apa maksud lo? Persahabatan atau persaudaraan?”
            “Alv…”
            “Kalo lo mau semuanya kembali normal, suruh Nyokap lo ninggalin Bokap gue”
            “APA??”
            “Jelaskan omongan gue?!”

            Setelah puas menumpahkan emosinya, Alvin lalu berbalik dan pergi meninggalkan B-CafĂ© dan meninggalkan berjuta-juta kebingungan yang seakan-akan merong-rong otak Iel tanpa henti. Iel yang merasa lemas atas ucapan Alvin tadi langsung terduduk dikursi dengan pikirannya yang sudah benar-benar berserak kemana-mana.
            Cakka yang memang sejak awal bisa menebak bahwa ide Iel ini tidak akan berjalan mulus seperti apa dipikirkan oleh Iel diawal langsung menggebrak pelan meja cafĂ© dan membuat Iel maupun Rio langsung mengangkat wajah mereka dan menatap Cakka.
            “Udah gue bilang kan diawal? Gue tahu tujuan lo baik, Yel. Gue tau lo Cuma pengen perbaiki semuanya, tapi harusnya lo sadar kondisi apa yang sekarang sedang lo hadapi. Dan lo harusnya tahu, kalo yang lo hadapi itu adalah seorang Calvin Bramantya, sosok Arrogant yang paling keras kepala sedunia. Dan seorang Calvin Bramantya gak akan bisa tersentuh dengan cara drama seperti ini. Gue pikir lo udah ngenal Alvin sepenuhnya, tapi ternyata… gue salah”
            Sama seperti Alvin, Cakka berbalik lalu pergi meninggalkan B-CafĂ©. Tapi sebelum Cakka sempat mengayunkan langkahnya, Rio buru-buru melemparkan sebuah pertanyaan.
            “Lo mau kemana, Kka?”
            “Gue mau susul Alvin, dan lo tetep disini sama Iel. Gue harap lo bisa bikin Iel sadar dengan apa yang baru saja dia lakuin”
            Dan sebelum Rio membalas perkataannya, Cakka malah sudah pergi dengan langkah terburu. Rio hanya menghela napas panjang lalu mengalihkan tatapannya pada Via yang saat itu tengah menatapnya dengan tatapan prihatin.

            ‘Hari ini lo udah bikin kesabaran gue habis, Alvin….’ Bathin Iel ditengah-tengah kekalutan yang kini sedang melandanya.


♥♥♥

            “Jadi, semenjak Bokap nya Alvin nikah sama Nyokapnya Iel, Alvin udah bukan kayak Alvin yang dulu lagi. Dia bener-bener beda, dan itu semua karna sampe sekarang, Alvin belum rela posisi Maminya tergantikan gitu aja sama Mama nya Iel…” Rio akhirnya mengakhiri ceritanya dan menjawab semua rasa penasaran yang sejak tadi memenuhi ruang diotak Via. Dan sekarang Via baru mengerti, kenapa Alvin yang super duper sengak itu begitu arrogant.
            “Kalo emang kayak gitu ceritanya, terus kenapa Ify gak pernah cerita kalo dia punya Kakak Tiri super arrogant bernama Calvin Adryan Bramantya?” Tanya Via yang masih merasa sedikit bingung. Meskipun sudah kenal dekat dengan Ify selama hampir setahun belakangan ini, tapi tidak pernah sekalipun Ify menceritakan masalah keluarganya dihadapan Via. Itulah yang membuat Via bingung saat tiba-tiba ia tahu, bahwa Alvin yang arrogant itu ternyata Kakak Tiri Ify.
            “Buat apa? Buat apa Ify cerita tentang hal itu sementara selama ini Alvin gak pernah nganggep dia ada? Mungkin selama ini yang elo kenal itu adalah, Ify yang ceria, Ify yang bahagia dan gak pernah punya masalah, tapi asal lo tau, Ify Cuma pura-pura tegar, dan Ify Cuma berusaha nutupin kerapuhannya dia selama ini dengan berpura-pura tegar. Untuk itu gue minta sama lo buat selalu jaga perasaan Ify”
            Via hanya mengangguk sebagai tanda setuju.

            “Satu lagi, Via! Dan ini harus gue wanti-wanti banget ke elo” kata Rio sambil menatap Via dengan pandangan seserius mungkin.
            “Apa? Muka lo kok mendadak serius gitu sih, Kak? Jangan bikin gue tegang kek!”
            “Lo sekarang udah tau siapa itu Calvin Bramantya, dan perlu lo tau, yang namanya Calvin Bramantya itu sama sekali gak bisa ketebak gimana orangnya. Dia bisa ngelakuin hal-hal gak terduga yang gak pernah orang lain pikirin sebelumnya, jadi please banget gue minta ke elo, jangan sekalipun lo cari masalah ataupun terlibat masalah sama dia, dan lo harus janji sama gue”
            ‘MAMPUS LO, VIA!!’ Itulah tiga kata yang langsung Via teriakan didalam hatinya manakala Rio memintanya berjanji untuk tidak membuat masalah apalagi terlibat masalah dengan Alvin. Rasanya Via ingin lenyap dari muka bumi ini detik ini juga.
            Melihat ketegangan yang terpancar dengan jelas diwajah manis sahabatnya membuat Rio heran dan langsung menyentuh wajah Via dengan tangan kananya.
            “Lo kenapa? Kok mendadak tegang gitu? Jangan bilang –“
            “GAK KOK GAK! GUE GAK ADA MASALAH SAMA ALVIN, MALAHAN GUE GAK KENAL DIA SAMA SEKALI” Sela Via yang tiba-tiba memotong ucapan Rio. Via hanya takut melihat reaksi Rio jika ia tahu kalau saat ini Via sedang terlibat masalah besar dengan Alvin.
            Are you sure, Via?” Tanya Rio skeptis.
            Yes. I’m sure, Kak Mario…”
            Rio hanya menganggukan-anggukan kepala dan menurunkan tangan kanannya dari wajah Via. Saat itu, Via langsung menghela napas lega, tapi hal itu tidak lantas membuat perasaan Via tenang. Bagaimana ini?

            KAK RIOOOOO…. Tapi gue udah terlanjur terlibat masalah sama Mister Arrogant itu, hiks hiks hikss….’ Isak Via dalam hati sambil memukul-mukul pelan kepalanya sendiri.


♥♥♥

            Sesuai perjanjiannya dengan Septian, sore ini Via akan mulai bekerja sebagai ‘Pembantu’ di Apartement Alvin. Septian bahkan sudah memberikan alamatnya, ia juga sudah memberitahu Alvin sebelumnya melalui telfon kalau hari ini Via akan datang ke Apartement nya. Via hanya tinggal datang dan menyelesaikan tugasnya. Pekerjaan yang seharusnya ia lakukan di CafĂ© dialihkan sepenuhnya ke Apatermenet Alvin. Dan selama liburan ini, Via akan bekerja full dari pagi hingga jam 8 malam di Apartement Alvin. Sementara saat nanti ia kembali masuk sekolah, Via akan melakukan pekerjaan dari jam pulang sekolah hingga malam.
            Via ataupun Septian sendiri sama sekali tidak bisa memperkirakan akan sampai kapan Via bekerja sebagai ‘Pembantu’ di Apartement Alvin. Semuanya tergantung pada Alvin, dan hal ini lah yang membuat Via jengkel setengah mati. Membayangkan berada disamping Alvin saja selama seharian penuh, Via sudah ngeri, apalagi sekarang jika ia tuntut benar-benar bersama Alvin selama seharian penuh, Via tidak pernah tahu bagaimana nasibnya setelah ini. Belum lagi perkataan-perkataan Rio kemarin padanya semakin membuat Via ingin segera kabur saja dari sisi Alvin.
            “Ketuk. Gak. Ketuk. Gak. Ketuk… argghhh!!!” Via menghela napas panjangnya. Ia berusaha bersikap setenang mungkin lalu mengangkat tangannya hendak mengetuk pintu Apartement Alvin.
            Sebelum kepalan tangan kanan Via mendarat dipintu, tiba-tiba saja pintu itu terbuka dan menampakkan Alvin yang saat itu sudah terlihat rapi dan keren sambil menenteng Helm full face merahnya, Via seketika membeku ditempat. Alvin sedikit mengernyit ketika melihat tangan Via yang terkepal dan terangkat seolah-olah ingin memukulnya.
            “Kenapa lo? Mau mukul gue?”
            Via menggeleng cepat. “Gak!” jawabnya singkat dan cepat.
            “terus?”
            “Mau ngetok pintu!”
            Alvin terkekeh pelan seakan mencibir. ‘Wiihhh…. Bisa ketawa juga nih cowok?’ Bathin Via.
            “Lo gak liat ada bel disamping pintu? Ato lo emang gak pernah liat gimana bentuk bel sebelumnya? Dasar Udik!!” cerca Alvin diujung kalimatnya. Dan kekehan pelan yang tadi mengawali ucapannya seakan menghilang tanpa sisa.
            Via hanya melengos dan berusaha untuk tidak memulai perseteruan diantara mereka. Memangnya apa lagi yang lebih menyebalkan bagi Via selain harus dipaksa jadi pembantu seperti ini?
            “Oke. Karna gue gak punya banyak waktu buat cewek gak penting kayak lo, gue langsung aja jelasin apa yang harus lo lakuin hari ini. Jadi sekarang, gue mau keluar selama kurang lebih 2 jam, dan gue gak mau tau, saat gue balik nanti, Apartement gue harus sudah bersih dan rapi, dan saat gue pulang nanti, gue mau makanan sudah terhidang dimeja makan. Kalo itu gak lo lakuin dengan baik maka gue akan –“
            “Lo tenang aja! Gue cukup kompeten kok”
            Alvin tersenyum miring. “Gak diragukan! Aura dan naluri pembokat lo keliatan banget kok” Ucap Alvin sarkatis dan jelas-jelas sudah mendiskreditkan Via.
            Sialan! Awas saja nanti, jangan salahkan siapa-siapa kalau nanti Via membubuhkan racun tikus dimakanannya.
            “Ya udah, sekarang gue cabut dulu. Dan satu lagi… Good luck, MY NEW BABU!”
            Alvin lalu berjalan melewati Via begitu saja. Tapi tahu-tahu Alvin menghentikan langkahnya lalu berbalik saat sebuah ingatan menyapa otaknya.

            “sekarang lo udah tau kan, gimana uang bisa mengendalikan segalanya? SEGALANYA, Via…”

            Via hanya memejamkan mata dan berusaha untuk meredam segala emosinya. Sudah cukup ia terjebak dalam situasi paling tidak mengenakan seumur hidupnya ini.


♥♥♥

            Via cukup kualahan membersihkan Apartement Alvin yang luasnya minta ampun itu. Belum lagi keadaan Apartement Alvin  yang seperti kapal pecah semakin membuat Via lelah setengah mati menyelesaikan pekerjaannya. Dan Via sangat bersyukur, karna dimenit-menit terakhir ia bisa menyelesaikan semua tugasnya dengan sebaik mungkin. Ya… meskipun sebagai bayarannya napasnya  harus putus-putus, tapi Via cukup puas dengan hasil kerjanya hari ini.
            Via terduduk dimeja makan sesaat setelah ia menyiapkan makan malam untuk Alvin. Via lalu melirik jam tangannya yang saat itu sudah menunjukan pukul 19.30. Via tersenyum kecil, setengah jam lagi ia bisa terbebas dari hari yang sangat menyebalkan ini.
            “Wiihhh… Naluri pembokat lo bener-bener gak setengah-setengah ternyata” cibir seseorang dari belakang Via.
            Via kontan menoleh lalu mendapati Alvin yang saat itu sudah berdiri dengan manis dibelakangnya.
            “Elo?! Bikin kaget aja”
            Alvin tidak membalas ucapan Via, ia berjalan dengan tenang kearah meja lalu duduk dan mencoba masakan perdana ‘Babu’ barunya. Via melipat kedua tangannya diperut lalu membuang tatapannya kearah lain.
            “Hueek… ini sup atau apa? Tawar banget” komentar Alvin sesaat setelah ia mencicipi sup buatan Via. Via mengernyit. Heran.
            “Tawar gimana? Tadi pas gue cicipin rasanya baek-baek aja” Ucap Via dengan nada protes.
            “HEH BABU! Lo kalo ngomong sama majikan bisa sopanan dikit kan? Atau lo mau gue pe –“
            “Ini udah jam 8, saatnya gue pulang kan?” potong Via buru-buru sebelum Alvin menyelesaikan ucapannya. Alvin menghela napas kesal lalu membanting sendoknya diatas meja. Dan sebelum Alvin benar-benar memuntahkan emosinya, Via langsung memasang langkah seribu dan membuat Alvin dongkol.

            “Awas lo besok! Jangan panggil gue Calvin Adryan Bramantya kalo gue gak bisa nyiksa lo lebih dari ini” Desis Alvin sinis penuh dengan aura dendam.


♥♥♥

Setengah jam kemudian, Alvin berjalan kearah balkon. Dan ia sedikit kaget ketika melihat Via yang masih berdiri didepan gedung apartementnya. Alvin semakin mempertajam pengelihatannya dan memastikan bahwa cewek yang berdiri itu benar-benar adalah Via. Melihat Via yang tidak juga beranjak dari sana, tiba-tiba saja terjadi perdebatan yang lumayan sengit jauh didasar hatinya. Satu sisi lamat-lamat meneriakan rasa kasiannya pada Gadis itu, tapi sisi lainnya yang tentu saja lebih dominan seakan memintanya untuk tetap diam ditempat tanpa perlu melakukan apapun juga. Alvin tersenyum mencibir.
            “Bodo! Bukan urusan gue dia masih disana apa gak”
            Sekitar 5 menit berselang, tiba-tiba sebuah mobil yang begitu familiar bagi Alvin berhenti tepat disamping Via. Dari dalam mobil itu keluarlah Iel. Yang membuat Alvin merasa janggal adalah, Iel tersenyum begitu manis pada Via seraya berjalan menghampirinya. Dan meskipun dari jarak yang lumayan jauh, Alvin dapat melihat sebuah pancaran yang berbeda dari sorot mata Iel ketika menatap Via yang justru terlihat sedikit enggan dengan kehadirannya. Alvin memang tidak bisa mendengar pembicaraan mereka, tapi Alvin tahu pasti bahwa Iel sedang menawarkan untuk mengantar Via pulang. Tapi… sejak kapan mereka saling kenal?
            Dan saat keanehan itu semakin terasa, sebuah ide licik tiba-tiba menyapa otak Alvin. Bertahun-tahun ia mengenal sosok seorang Ariel Nata Pratama, bagaimana mungkin Alvin tidak bisa membaca tatapan mata laki-laki itu? Bertahun-tahun sempat begitu dekat dengan Iel, bagaimana mungkin Alvin tidak mengetahui apapun tentang gerak tubuh Iel yang benar-benar Nampak berbeda. Dan semua itu, tatapan mata Iel, gerak tubuh Iel, bahkan sampai senyumannya yang Nampak lain itu pernah Alvin lihat dulu saat Iel untuk yang pertama kalinya jatuh cinta pada saat mereka baru menginjak tahun pertama mereka di SMP. Dan Alvin tau persis, bahwa saat ini Iel sedang jatuh cinta pada Via, pembantu barunya.
            Seringai licik itu langsung mengotori wajah tampannya dalam hitungan detik. Alvin segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.

            “Hallo Pak Jaffar? Ini saya Calvin Bramantya. Saya mau minta pengajuan beasiswa untuk sisiwi bernama Viana Aurora dari SMA Patuh Karya. Tolong diurus secepatnya!”
            Hanya dalam satu jentikan jari dibawah nama besar seorang Johan Bramantya, Alvin bisa melakukan apapun yang dia inginkan. Untuk sejenak Alvin merasa bersyukur karna telah terlahir menjadi Putera seorang Johan Bramantya dan menyandang nama besar Papanya dibelakang namanya.
           

♥♥♥

            “Kalo ada orang yang bisa gue musnahin dari muka bumi ini, maka orang itu adalah Calvin Bramantya. Udah nyerempet gue, ngehina-hina gue, dan sekarang… dia malah seenak udel jadiin gue pembokatnya dia. Dikiranya dia siapa apa? Anak presiden?” Gerutu Via selama menunggu taksi didepan gedung Apartement Alvin.
            Sudah setengah jam ia berdiri ditempat itu menunggu sebuah taksi, tapi hingga sekarang belum tampak satu pun taksi yang terlihat olehnya, dan karna hal itu, Via makin jengkel.
            Via berpikir cepat untuk mendapatkan sebuah bantuan yang bisa membawanya pulang kerumah, dan saat nama Rio terbersit dikepalanya, Via langsung tersenyum. Ia pun segera merogoh ponsel nya dikantong jeansnya. Dan saat ia akan menekan nomor Rio, tiba-tiba saja Via terdiam dan mengingat ucapan Rio padanya kemarin.
            “Lo sekarang udah tau siapa itu Calvin Bramantya, dan perlu lo tau, yang namanya Calvin Bramantya itu sama sekali gak bisa ketebak gimana orangnya. Dia bisa ngelakuin hal-hal gak terduga yang gak pernah orang lain pikirin sebelumnya, jadi please banget gue minta ke elo, jangan sekalipun lo cari masalah ataupun terlibat masalah sama dia, dan lo harus janji sama gue”
            Via menggelengkan kepalanya beberapa kali. Gak, Rio gak boleh tahu kalau saat ini Via sedang terlibat masalah dengan Alvin. Karna jika Rio tau tentang hal itu, sudah dapat dipastikan Rio akan sangat mencemaskannya. Via pun kembali memasukan ponselnya kedalam kantong jeansnya dan memutuskan untuk menunggu taksi.


♥♥♥

            Iel langsung menghentikan laju jaguar hitamnya saat ia melihat sosok Via berdiri sendiri dipinggir jalan. Sepertinya Gadis yang sejak pertama kali bertemu dengannya sudah berhasil merebut hatinya itu sedang menunggu sebuah kendaraan umum.
            Iel membuka kaca jendela mobilnya, dan tatapan heran yang dilemparkan oleh Via langsung menyambutnya.
            “Hay… Via” sapanya sedikit canggung seraya melambaikan tangannya.
            “Kak Iel?”
            “Emmm… lo ngapain disini malem-malem?” Tanya Iel sambil melirik Gedung Apartement yang menjulang tinggi dihadapannya. ‘Ini kan Apartement Almarhum Mami nya Alvin’ lanjutnya dalam hati.
            “Ta… tadi… tadi gue abis ngunjungin temen, Kak. Iya, abis ngunjungin temen…”
            Iel tampak berpikir, ia lalu keluar dari dalam mobilnya dan berjalan menghampiri Via dengan seulas senyum yang menghiasi wajah manisnya.
            “Temen lo tinggal disini?” tanyanya sekali lagi.
            “Iya, Kak” jawab Via, berusaha tampak meyakinkan.
            “Lagi nunggu kendaraan umum?”
            Kali ini Via hanya mengangguk.
            “Emmm… gua anter yuk!”
            “Apa? Gak usah Kak, nanti ngerepotin” tolak Via halus.
            “Ngerepotin gimana, Via? Gue sama sekali gak ngerasa direpotin kok. Lagian elo kan sahabatnya Rio, gue juga sahabatnya Rio, jadi gak ada salahnya kan kalo kita temenan?”
            ‘Sahabat macem apaan tuh yang tega jadiin sahabatnya umpan disaat genting?’ Cibir Via dalam hati.
            “Via…” panggil Iel sambil melambaikan pelan tangannya didepan wajah Via.
            “Eh iya, Kak?” Via sedikit terkesiap.
            “Mau kan gue anter pulang?”
            Kali ini giliran Via yang terlihat berpikir. Ya sudahlah, daripada dia menunggu taksi berlama-lama disini dan menghabiskan uangnya hanya untuk ongkos taksi, jadi masih lebih baik kan kalau dia menerima tawaran Iel? Toh cowok ini terlihat seperti cowok baik-baik. Via akhirnya mengangguk dan membuat senyuman Iel kian melebar.
            Iel lalu membuka pintu mobilnya dan mempersilakan Via masuk layaknya seorang pengawal Istana yang mempersilakan Tuan Puterinya. Via hanya terkekeh geli lalu memasuki jaguar hitam Iel.
            “Elo Kakaknya Ify? Kok gue gak pernah liat lo?” Tanya Via saat dirinya dan Iel sedang dalam perjalanan.
            “Emmm… 2 tahun lalu gue pindah ke Paris karna suatu alesan. Oya, Lo kenal Ify?” Jawab dan tanya Iel  sambil melirik kearah Via. Viapun mengangguk.
            “Iya. Gue kenal Ify sejak pertama kali masuk SMA, dan sekarang kita sahabatan. By the way, Paris keren gak? Udah lama gue punya mimpi pengen ke Paris”
            Iel terpaku sejenak akan kepolosan gadis yang ada disampingnya ini. Ia pernah dekat dan menjalin hubungan dengan beberapa orang gadis di Paris, tapi tidak pernah sekalipun Iel merasa senyaman ini bila berada didekat seorang Gadis. Apa kah mungkin, Iel tidak hanya menyukai gadis ini? Apa mungkin ada perasaan lebih dari sekedar suka yang diam-diam terselip jauh didasar hatinya?
            Dan saat mendengar perkataan Via yang menyatakan dirinya punya impian pergi ke Paris, entah kenapa Iel ingin mewujudkannya suatu saat nanti.
            “Gue gak bisa gambarin gimana kerennya Paris kalo lo gak pergi sendiri kesana”
            Via menghela napas panjangnya lalu sedikit cemberut. Dan ekspresi yang Via tunjukan itu justru membuat Iel gemas dan ingin mencium kedua pipi chubby nya.
            “Ke Paris? Impossible…” katanya sedikit putus asa sambil menatap hampa kedepan. Iel tersenyum tanpa sedikitpun mengalihkan perhatiannya pada Via.

            “Suatu saat gue akan bawa lo ke Paris”

            Via yang terkejut akan perkataan ceplos yang baru saja keluar dari mulut Iel kontan menoleh kearah Iel lalu menatap Iel dengan sedikit membelalak. Via berusaha mencari setitik kebohongan atau gurauan dikedua mata elang itu, tapi ternyata yang Via dapatkan justru sangat menyentakkannya. Tidak ada setitikpun guruan apalagi kebohongan disana. Yang ada hanya…. Sebuah kesungguhan.

            ‘Oke… gue berharap kali ini gue yang kegeeran…’ Bathin nya lalu segera melepaskan pandangannya dari Iel.


                                                To Be Continued…



1 comment:

  1. join back my blog yess :) on http://caramelisataste.blogspot.com/

    ReplyDelete