Hari ini genap satu minggu
Via bersekolah di Speranza High School. Dan selama seminggu terakhir ini, Via
selalu menjalani hari-harinya yang membosankan disekolah itu. Setiap saat Via
rasanya ingin kabur, setiap saat Via rasanya ingin kembali ke sekolahnya yang
dulu, tapi keadaan yang ada sekarang benar-benar memenjaranya pada posisi yang
paling tidak mengenakan seumur hidupnya. Sementara ia menjalani hari-harinya
yang membosankan disekolah, Via juga diharuskan menjalani setiap waktunya yang
selalu menyebalkan di Apartement Alvin.
Berada disamping Alvin setiap harinya justru membuat
perasaannya semakin tidak menentu sejak kejadian didapur seminggu yang lalu.
Alvin mungkin tidak menyadarinya, tapi setiap hari Via selalu merasa bahwa ada
yang berbeda dengan hatinya. Semua sikap jahil Alvin dan semua sikap
menyebalkannya justru membuat Via terkadang merindukannya saat Alvin tidak ada
bersamanya. Dan ini semua benar-benar tidak beres.
Lepas dari masalah Alvin, selama seminggu terakhir ini
Rio benar-benar mendiamkan Via. Dan selama mereka bersahabat, ini kali
pertamanya Rio betah mendiamkan Via selama hampir seminggu lamanya. Dan hal ini
membuat Via rasanya ingin jujur saja pada Rio.
Sementara itu, kedekatan yang terjalin antara Via dan Iel
disekolah semakin hari semakin lengket saja. Tanpa bisa Via pungkiri, Via mulai
merasa nyaman jika sedang bersama Iel. Tapi itu sama sekali tidak menandakan
bahwa ia menyimpan perasaan yang special pada cowok berwajah manis itu. Via
akui bahwa ia memang benar menyukai Iel, tapi rasa sukanya hanya sebatas rasa
suka seorang teman terhadap temannya yang lain. Dan jika bukan karna Iel yang
selalu menemaninya disekolah, mungkin sudah dari awal Via memutuskan untuk
angkat kaki dari sekolah ini.
Dan pagi ini, saat Via keluar dari dalam rumahnya, ia
langsung dikejutkan oleh sosok Rio yang sudah berdiri dengan manis disamping
Honda Jazz silvernya, tepat didepan pagar rumah Via. Via membelalak tak percaya
dengan apa yang saat ini ia lihat.
“Pagi Via…” sapa Rio sambil melambaikan tangannya.
“K… Kak Rio?”
Rio tersenyum lalu mengangguk, “Maafin gue ya?” ujar Rio
penuh kesungguhan. Via tersenyum lega detik itu juga. Ia lalu berlari kearah
Rio lantas memeluk sahabatnya itu seerat mungkin.
“Harusnya gue yang minta maaf” lirih Via sambil tetap
memeluk Rio. Rio mengangguk beberapa kali, ia membelai lembut rambut sebahu Via
yang terurai lalu kemudian mengurai pelukan mereka.
“Udah. Sekarang kita berangkat ya? Kan gak seru kalo
telat”
Via mengangguk antusias dengan seulas senyuman yang
semakin membuatnya terlihat manis pagi ini. Hari ini ia baikan dengan Rio, bagi
Via, tidak ada yang lebih menyenangkan dari itu.
♥♥♥
“Via!” merasa ada yang memanggil namanya, Via langsung
menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang. Saat itu juga ia mendapati Iel
yang berjalan sedikit cepat menghampirinya.
“Kak Iel?”
“Mau ke Kafetaria?”
Via hanya mengangguk sambil tersenyum canggung.
“Samaan yuk!” ajak Iel.
“Boleh deh” kata Via. Iel tersenyum senang, ia lalu
meraih tangan Via lantas menggandengnya dan berjalan santai kearah kafetaria.
Sejujurnya Via merasa sangat tidak nyaman dengan apa yang Iel lakukan itu,
ditambah lagi semua yang ada ditempat itu terus memperhatikan mereka, hal itu
semakin membuat Via merasa tidak nyaman dan ingin melepaskan tangannya dari
kungkungan Iel. Tapi rasa tidak tega jika harus mengecewakan cowok itu
tiba-tiba menghinggapinya dan membuatnya mau tidak mau menerima gandengan itu.
Sepanjang perjalanan menuju kafetaria, Via berusaha mengubur dalam-dalam rasa
tidak nyamannya.
Sedangkan Alvin yang sejak tadi memperhatikan mereka dari
kejauhan hanya bisa diam mematung dengan pikiran serta reaksi tak terbacanya.
Tadinya ia ingin memanggil Via dan sedikit mengerjainya, tapi saat melihat Iel
yang telah lebih dulu menghampirinya, Alvin langsung membatalkan niatnya.
“Hay, Alv!” tegur Rio yang tiba-tiba muncul bersama
Cakka. Rio menepuk pelan pundak Alvin dan membuat Alvin terkesiap.
“Eh lo!” kata Alvin reflex.
“lo lagi ngeliatin apa sih?” Tanya Rio penasaran sambil
mengikuti arah pandangan Alvin, dan Rio merasa heran saat disana tidak ada
siapapun atau apapun, lalu apa yang sedang Alvin perhatikan? Tanyanya dalam
hati.
“Gak ngeliatin apa-apa kok?”
“Yakin?” Tanya Cakka skeptis dengan salah satu alis
terangkat. Alvin berdecak kesal, kedua orang ini benar-benar sok ikut campur
urusannya.
“Ck… udah ah! Gue mau pergi dulu, dan lo berdua jangan
gangguin gue!” sinis Alvin lalu melangkah pergi meninggalkan kedua sahabatnya.
Beberapa saat setelah kepergian Alvin, Rio dan Cakka
langsung saling melirik satu sama lain. Rio mengangkat kedua alisnya lalu
bertanya, “Dia kenapa sih?”
“Tau! Lagi PMS kali” jawab Cakka asal sambil mengangkat
kedua pundaknya tak peduli.
♥♥♥
Alvin duduk santai disofa ruang tamunya sambil sibuk
memainkan handphone touch screen-nya,
tapi disela kesibukannya itu Alvin sesekali menatap Via melalui sudut matanya,
Via sedang sibuk mengepel ruangan. Via tampak kualahan, dan keringat sebesar
biji jagung mulai mengucur didahinya. Via beristirahat untuk mengambil napas
sejenak. Dan saat Via tanpa sengaja menoleh kearahnya, Alvin buru-buru
mengalihkan pandangannya dan kembali berkutat dengan layar ponselnya. Via
sedikit mengernyit ketika melihat tingkah Alvin yang sedikit ganjil.
“Tumben lo gak keluar?” Tanya Via berusaha terdengar cuek
lalu kembali melanjutkan pekerjaannya mengepel lantai. Alvin mendengus.
“Bukan urusan lo… BABU!” Jawabnya jutek. Via hanya
menghela napas panjang sambil menutup kedua matanya sejenak. Dalam hati ia
menyesali diri, buat apa juga ia bertanya seperti itu pada Alvin? Oke, kali ini
Via akui bahwa dia memang bodoh.
“Angkat kaki lo!” kata Via dengan nada sedikit memerintah
saat ia akan mengepel bagian lantai tepat dibawah kedua kaki Alvin. Alvin
menurut saja tanpa berkata banyak.
“Pembantu kurang ajar!” Gerutunya pelan yang langsung
disambut oleh Via dengan sebuah delikan tajam. Seperti biasa, Alvin Nampak tak peduli
dan Nampak tak bersalah. Dan hal itu semakin membuat Via mengerut dada,
berusaha menahan sabar.
“Ehem… Lo ada apa sama Iel? Kayaknya deket banget” Alvin
sebenarnya tidak ingin bertanya seperti itu, tapi entah apa yang mendorongnya
hingga ia mampu mengalahkan logikanya dan mengikuti kata hatinya. Ada sedikit
nada sinis dan tak peduli yang membubui pertanyaan Alvin tadi hingga membuat
Via tidak perlu repot-repot merasa kegeeran.
“Bukan urusan lo… TUAN” Kata Via menirukan nada bicara
Alvin tadi, “Arrogant” lanjut Via
dalam hati. Alvin sebenarnya dongkol setengah mati dengan jawaban yang kelewat
‘kurang ajar’ itu, tapi karna Alvin tidak mau Via berpikir macam-macam tentang
dirinya karena melanjutkan perdebatan tidak penting ini, Alvin akhirnya
mengubur dalam-dalam rasa dongkolnya.
Alvin menghela napas panjang dan berusaha menekan rasa
kesalnya sebisa mungkin. Alvin lalu bangkit dari sofa dan bersiap-siap untuk
pergi, entah kemana.
“Gue keluar dulu! Dan lo, gak boleh pulang sebelum gue
balik!” kata Alvin santai namun penuh dengan nada memerintah seperti biasanya;
Tidak ingin dibantah.
Dan sebelum Via sempat melayangkan protes, Alvin malah
sudah berbalik dan berjalan kearah pintu keluar. Via menatap punggung Alvin
dengan tatapan sebal dan seakan ingin menerkamnya hidup-hidup. Tapi kemudian
Via tertegun saat tiba-tiba ia merasa, bahwa ia tidak terlalu merasa asing
dengan cara jalan itu. Via yakin bahwa ia pernah melihat seorang cowok dengan
cara berjalan bahkan gesture yang
sama. Tapi dimana? Siapa?
♥♥♥
“Apa? Jadi Via gak kerja lagi disini?” Rio benar-benar
terkejut saat mendengar penjelasan dari Septian. Sore ini Rio sengaja datang ke
B-Café untuk menjemput Via. Diam-diam ia sudah memiliki rencana untuk mengajak
Via melewati malam minggu bersama, Rio baru ingat bahwa sudah cukup lama mereka
tidak melewati malam minggu bersama, untuk itulah Rio datang. Ia sengaja tidak
memberitahukan Via bahwa sore ini ia akan menjemput Via di B-Café, alasannya
tentu saja ia ingin memberikan kejutan untuk Via, tapi apa yang ia dengar
sekarang dari Septian malah membuatnya terkejut setengah mati. Via sudah tidak
bekerja lagi di B-Café, tapi anehnya Via sama sekali tidak menceritakan apapun
pada Rio.
“Bukan berhenti untuk seterusnya, Yo. Cuma sementara kok”
ralat Septian saat melihat reaksi Rio yang benar-benar kaget.
“Tapi kenapa?”
“Gue pikir lo udah tau! Elo kan sahabatnya Via, Yo” kata
Septian sedikit heran.
“Via gak cerita apapun sama gue” jawab Rio sedikit lesu.
“Via membuat sedikit masalah dengan Alvin, Alvin marah
dan akhirnya menjadikan Via pembantu di Apartementnya untuk sementara”
Kedua mata Rio membelalak maksimal. Benar-benar sulit ia
percaya apa yang baru saja Septian katakan. Ingin rasanya Rio untuk tidak
percaya, tapi tingkah Via yang belakangan ini ia rasa aneh benar-benar menjadi
penguat atas ucapan Septian itu.
“Gue butuh penjelasan lebih rinci, Sep!”
♥♥♥
Ify hanya menatap Rio yang duduk didepannya yang terlihat
tampak gusar. Sejak mereka pertama kali datang ke restoran itu, yang Rio
lakukan hanyalah memeriksa ponselnya tanpa henti. Rio juga terlihat
berkali-kali menghubungi nomor seseorang. Tapi karna nomor yang ia hubungi
sedang dalam keadaan tidak aktif Rio makin gusar.
Lama-lama Ify akhirnya merasa bosan saat ia rasa Rio
mengabaikannya. Tadi sore, sekitar pukul 17.00, Rio datang kerumahnya untuk
menjemput, dan Rio tidak pernah tahu bagaimana bahagianya Ify saat ia mengajak
Ify untuk menghabiskan malam minggu bersama, tapi apa yang Ify dapati disini
sama sekali jauh dari harapannya. Sejak 10 menit yang lalu, Rio tidak sekalipun
mengajaknya mengobrol atau melakukan apapun, Rio hanya sibuk sendiri dan
seolah-olah Ify tidak pernah ada bersamanya. Ify menghela napas berat, lalu apa
gunanya ia disini?
“Kalo Kak Rio lagi sibuk, aku pulang aja ya?” putus Ify
pada akhirnya. Rio yang sejak tadi menekuri ponselnya langsung mengangkat
wajahnya. Ia akhirnya sadar bahwa kejenuhan itu mulai merangkul Ify saat ia
melihat ekspresi gadis cantik berdagu tirus itu. Rio mengusap wajahnya dengan
sedikit frustasi.
“Sorry, Fy. Gue dari tadi Cuma berusaha nelfon Via, tapi
nomer tuh anak lagi gak aktif! Lo tau kenapa?” Tanya Rio yang merasa
benar-benar buntu kali ini.
Ify diam sejenak. Via lagi, Via lagi!
“Jadi Kak Rio ngajakin ketemuan Cuma untuk nanyain kenapa
nomor Via gak aktif?” ada nada sedikit marah yang terdengar jelas dari
pertanyaan itu, dan Rio bisa menangkapnya.
“Gak gitu juga, Fy… Cuma aja… cuma aja gue –“
Ify bangkit dari kursinya sambil meraih tasnya yang
terletak diatas meja. Rio menatap Ify dengan kedua alis bertaut. Heran.
“Lo mau kemana, Fy?”
“Gue mau pulang. Gue gak bisa jalan sama orang yang hati
dan pikirannya gak nyatu sama tubuhnya” sindir Ify dengan keras lalu melangkah
keluar dari restoran sambil berusaha meredam sakit hatinya. Kapan Rio akan
sadar kalau Ify menyimpan harapan lebih padanya?
“Ify!” Rio mengejar langkah Ify. Dan tepat saat mereka
tiba diluar restoran, Rio langsung mencekal pergelangan tangan Ify dan sedikit
menariknya hingga mau tak mau Ify akhirnya berbalik, menatap Rio dengan
pandangan nanar. Tanpa bisa Ify tahan, sebulir air matanya turun membasahi pipi
putihnya.
“Fy… Lo nangis? Kenapa?” Tanya Rio cemas. Ia lalu
mengangkat salah satu tangannya dan menyeka air mata Ify dengan lembut. “Gue
minta maaf kalo emang gue salah” ujar Rio meminta maaf tanpa tahu kesalahan apa
yang telah ia lakukan hingga membuat gadis ini menangis. Ify lalu menurunkan
tangan Rio dari wajahnya dan menggenggamnya sekilas.
“makin kesini gue makin jenuh
sama perasaan ini. gue jenuh nunggu hati yang gak pernah buat gue, gue jenuh
nyimpen harapan yang terlampau tinggi buat seseorang yang bahkan gak pernah
nganggep gue ada. sejak awal harusnya gue sadar, kalo gue emang gak pernah
keliatan dimata lo!” ungkap Ify dengan perih. Setelah sekian lama memendam perasaannya,
akhirnya hari ini Ify memilih untuk jujur dan mengatakan kebenaran perasaannya
pada Rio. Entah bagaimana reaksi Rio selanjutnya, Ify tidak ingin
membayangkannya.
“Ify, elo…” Rio tak melanjutkan
perkataannya. Ia masih sulit mencerna semuanya.
“Iya Kak. Gue suka sama lo, bukan
Cuma suka, tapi gue sayang banget sama lo, Kak”
Lidah Rio benar-benar kelu kali ini.
Ia tidak tahu harus berkata apa. Pengakuan Ify sudah cukup membuatnya sangat
terkejut.
“Udah lama gue suka sama lo meskipun
gue gak pernah tahu perasaan lo yang sebenernya kayak apa ke gue”
“Fy –“
“Gue gak butuh jawaban Kak. Gue Cuma
mau nyatain perasaan gue, gue Cuma mau lo tau. Itu aja”
Melihat reaksi Rio yang hanya
terdiam, Ify mengangguk pasrah, ia tersenyum miris lalu melepaskan tangan Rio
yang berada dalam genggamannya.
“Jangan dipikirin Kak. Gue gak
apa-apa kok” kata Ify berusaha terlihat baik-baik saja, meskipun sebenarnya
keadaan hatinya saat ini jauh dari kata baik-baik saja.
“Gue pulang ya, Kak? Nanti gue coba
hubungi Via, kalo ada kabar, gue pasti akan langsung ngasih tau lo”
Saat Ify akan berbalik pergi, Rio
kembali mencekal pergelangan tangannya.
“Gue anter”
Ify menggeleng lemah. Ia menarik
pelan tangannya dari cekalan Rio seraya berkata,
“Gue mau pulang sendiri”
Lalu tanpa bisa Rio tahan lagi, Ify
akhirnya pulang sendiri bersama kepingan-kepingan hatinya yang telah terserak
kemana-mana. Bahkan sekarang, Ify sudah tidak dapat lagi merasakan bentuk
hatinya. Dengan kediamannya, Rio telah benar-benar menghancurkan hati Ify.
Sekarang semuanya sudah jelas, perkiraan Ify selama ini yang mengira bahwa Rio
memiliki rasa yang sama dengannya ternyata salah. Ternyata Rio tidak pernah
membalas perasaannya. Dan cintanya pada Rio hanyalah perasaan cinta bertepuk
sebelah tangan.
♥♥♥
Via sedang sibuk membereskan
buku-buku pelajaran Alvin yang terlihat berantakkan diatas meja belajarnya.
Sambil membereskan meja belajar Alvin, Via terus saja menggerutu tidak jelas. Dan
saat membereskan meja, tanpa sengaja Via menjatuhkan sebuah buku agenda
berwarna hitam. Via berdecak, ia lalu sedikit berjongkok untuk mengambil buku agenda
itu dilantai. Tapi selembar foto yang terselip dibuku agenda itu dan sedikit
mencuat dari tempatnya mendadak membuat Via merasa penasaran.
Iseng-iseng Via sedikit menarik foto
itu hingga terambil dari tempatnya. Via tersenyum lebar saat mengetahui bahwa
itu adalah foto semasa kecil Alvin. Dalam foto itu, Alvin masih mengenakan
seragam TK nya. Dan yang membuat Via tergelak hingga akhirnya terbahak adalah,
dalam foto itu Alvin nyengir lebar sambil memamerkan beberapa giginya yang
ompong. Kali ini Via sudah tidak bisa lagi meredam tawanya. Ia tertawa terbahak
sambil memegangi foto Alvin. Wajah Alvin difoto itu benar-benar terlihat sangat
lucu dan menggemaskan.
“HAHAHAHAHAHAHA….”
Saking fokusnya mentertawakan foto
semasa kecil Alvin, Via sampai tidak menyadari bahwa Alvin telah pulang dan
memasuki apartementnya. Alvin mengernyit saat melihat Via tertawa bahkan sampai
terbahak begitu.
“Lo kenapa?” Tanya Alvin yang merasa
sedikit aneh. Via kontan menoleh kearah Alvin. Namun bukannya menghentikan
tawanya, suara tawa Via malah semakin menjadi saat melihat kehadiran Alvin.
“HAHAHAHAHAHAHAHA….”
Alvin semakin kesal dibuatnya. Alvin
menggeram marah. Tanpa sengaja perhatian Alvin tertuju pada selembar foto yang
ada ditangan Via. Alvin mengernyit, dan ia langsung terlonjak kaget saat
mengetahui bahwa foto yang ada ditangan Via saat itu adalah foto paling
memalukan yang pernah ia punya. Alvin menatap Via dengan tatapan membunuh.
“Kembaliin foto gue!” pinta Alvin
dengan tegas.
“Hahahaha… sumpah ya, Vin… Lo disini
ngegemesin banget!!” ujar Via sambil memperlihatkan foto itu pada Alvin. Dan
saat tangan Alvin dengan cepat hendak menyambar foto itu, gerakan tangan Via malah
lebih cepat lagi untuk menghindar. Alvin semakin tajam menatap Via.
“Balikin gak?!” bentak Alvin yang
langsung disambut oleh gelengan mantap dari Via.
“Kalo foto ini gue tempel di Mading
besok senin pasti seru” kata Via yang tanpa sadar mulai mencari penyakit.
“Lo berani ngelakuin itu?”
“Kenapa gak? Lo aja lebih dari tega
sama gue” ujar Via menantang.
Alvin tersenyum miring, sepertinya
ia harus melakukan jurus terakhirnya untuk memberi pelajaran pada Si Keras
Kepala ini. Dan saat Via lengah, Alvin meraih salah satu tangan Via,
mendorongnya sedikit keras lalu memojokannya didinding. Dan ini sudah untuk
yang kedua kalinya Alvin melakukan hal ini padanya. Via berusaha untuk tidak
gentar. Toh ia yakin bahwa Alvin hanya mengerjainya saja, persis seperti apa
yang ia lakukan seminggu yang lalu.
“Lo serahin foto itu atau lo mau
gue…”
“Lo mau apa? Hah? Gue gak takut ya??
Jurus lo ini B-A-S-I!” Cecar Via sambil sedikit mencodongkan wajahnya kearah
Alvin. Sebisa mungkin Via berusaha meredam detak jantungnya yang mulai bekerja
diatas maksimal.
“Jangan menentang gue!” kata Alvin
serius. Dan saat Via menangkap bahwa tidak ada setitikpun sinar ketidakseriusan
dimata Alvin, Via langsung menelan ludahnya dalam-dalam. Bukanhkah Alvin ini
sangat tidak terduga orangnya?
“Serahin sekarang juga!” Alvin
berbisik pelan seraya mendekatkan wajahnya dengan Via, dan agar lebih
meyakinkan lagi, Alvin sedikit memiringkan wajahnya dan bersikap seolah-olah ia
ingin mencium Via.
Saat wajah Alvin semakin mendekat
dan nyaris menghapus jarak diantara mereka, Via serta-merta menahan kening
Alvin dengan jari telunjuknya.
“Jangan mendekat lagi! Nih foto lo.
Ambil sana” Via akhirnya menyerahkan foto itu dan membuat Alvin memamerkan
senyuman licik penuh kemenangan miliknya.
“Lo sangat gampang dimainin
ternyata” kata Alvin dengan nada mencibir sambil berlalu pergi.
Via yang kali ini benar-benar kesal
akhirnya buka suara.
“Lo itu emang gak ketebak orangnya.
Dan yang gue denger dari orang banyak, lo bisa ngelakuin apapun yang lo mau”
“Tapi gak dengan suka rela ngasih
ciuman gue buat cewek kayak lo. Lo pikir lo cukup menarik apa?”
“Maksud lo?!”
Alvin berbalik menatap Via lalu
sedikit mencodongkan wajahnya kearah Via, Via reflex menjauhkan wajahnya dari
wajah Alvin.
“Gue gak napsu sama cewek yang gak
ada bentuknya kayak lo! Lo itu gak jelas mana muka, mana pipi, jadi gak usah
sok cantik deh jadi cewek!”
“WHAAATTT???”
♥♥♥
Alvin tersenyum puas saat melihat
Via keluar dari apartementnya sambil membanting pintu sekeras mungkin. Beberapa
saat setelah Via keluar, Alvin langsung tertawa karna merasa puas telah
mengerjai cewek yang menurutnya sangat keras kepala itu. Dan Alvin langsung
membungkam tawanya saat tiba-tiba pintu apartementnya terbuka kembali dan
menampakkan kepala Via yang menyembul dari balik pintu.
“Ngapain lo balik lagi?” Tanya Alvin
berusaha terdengar galak.
“Boleh minta tolong anterin pulang
gak? Ini udah jam 9, jarang ada angkot yang lewat jam segini didaerah ini”
Alvin mengernyit. Belum genap
sebulan bekerja dengan Alvin, cewek itu sudah berani-beraninya meminta Alvin
untuk mengantarkannya pulang. Hey come
on! Terus Alvin harus setuju gitu?
“Taksi banyak tuh! Kenapa gak naik
taksi aja?”
“Thanks buat saran lo, tapi duit gue
gak cukup kalo harus pake ongkos taksi. Bye!”
Via kembali menghilang dibalik
pintu. Alvin berpikir untuk beberapa saat. Setelah cukup lama berdebat dengan
ego nya, Alvin akhirnya tiba pada sebuah keputusan final. Maka sebelum ia
berubah pikiran, Alvin buru-buru bangkit dari sofa nya yang nyaman, ia meraih
jaket serta kunci mobilnya lalu segera menyusul Via, hendak mengantarnya
pulang.
“Begok lo, Via! Begok, begok,
begoookk… Ngapain lo pake acara balik dan minta dianter pulang sama Alvin, udah
jelas ditolak lah” Via menggerutu tidak jelas dipinggir jalan sambil sesekali
menghempaskan kakinya secara bergantian ditanah. Kali ini Via benar-benar
menyesali diri atas kebodohannya tadi. Harusnya sejak awal ia tahu bahwa Alvin
tidak akan pernah berkata “IYA” saat meminta untuk diantarkan pulang, lalu apa
yang membuat ia dengan berani kembali ke apartement Alvin dan meminta supaya
Alvin mau mengantarnya pulang? Hal itu tentu saja akan membuatnya semakin
terlihat bodoh dimata Alvin.
Sebuah jaguar hitam yang cukup
familiar dimata Via tiba-tiba saja berhenti tepat disampingnya. Via terdiam
sejenak dan menatap jaguar hitam itu. Tidak perlu repot-repot menebak, Via
sudah tahu bahwa jaguar hitam itu adalah mobil milik Iel.
“Via? Kok disini? Ngunjungin temen
lo lagi?” Tanya Iel beberapa saat setelah ia membuka kaca jendela mobilnya.
Via menggaruk belakang tengkuknya
yang tidak gatal sambil tersenyum canggung. Tidak lama Via lalu mengangguk.
“Gue anter pulang yuk! Tapi sebelumnya
temenin gue jalan-jalan dulu ya?” pinta Iel seakan tanpa beban. Via yang memang
merasa suntuk dan butuh hiburan dengan jalan-jalan keliling kota langsung
menyetujui permintaan Iel dengan mengangguk. Iel tersenyum puas lalu
mempersilahkan Via memasuki mobilnya.
Disaat yang bersamaan, Alvin keluar
dari gedung apartement dengan menggunakan Lamborghini putihnya. Alvin menatap
Via yang memasuki mobil Iel. Tidak lama, Alvin pun menghempaskan kedua
tangannya diatas setir lalu segera memutar balik mobilnya dan membatalkan
niatnya diawal. Sekali lagi Iel mengalahkannya.
♥♥♥
Tidak terasa hampir satu jam sudah
Via dan Iel berjalan-jalan keliling kota menikmati suasana malam minggu. Setelah
merasa puas berjalan-jalan keliling kota, Via dan Iel memutuskan untuk singgah
disebuah warung kaki lima dipinggir jalan. Mereka duduk berhadapan disebuah
meja setelah memesan 2 porsi mie ayam berikut es teh manis yang sebenarnya
merupakan makanan favorit Iel. Dan seumur-umur Via tidak pernah menyangka,
bahwa seorang Ariel Nata Pratama, anak dari Pemilik sekaligus kepala sekolah di
Speranza High School ternyata sudah terbiasa makan di warung kaki lima seperti
ini tanpa rasa gengsi sedikitpun, seuatu kebiasaan yang tidak mungkin dilakukan
oleh seorang Calvin Bramantya. Sejenak Via terkagum melihat kerendahan hati
Iel.
“Gak nyangka ya, anak Bu Kepsek
ternyata doyan makan ditempat kayak gini” Ledek Via sesaat sebelum ia
menyuapkan Mie Ayamnya. Iel hanya tersenyum lalu berkata,
“Anak Bu Kepsek juga manusia, Via. Inget
itu!”
“Hahaha iya deh. Gue gak berani
banyak omong, nanti yang ada lo malah gak mau traktir gue lagi” Via lalu
meleletkan lidahnya dan malah membuat Iel gemas setengah mati. Ah.. Andai ia
bisa menjadikan Gadis ini lebih dari sekedar temannya.
“Kak Iel…”
“Hmm”
“Kak Iel kan waktu itu sempet cerita
kalo Kak Iel pernah tinggal di Paris selama 2 tahun. Inget gak?”
“Inget lah. Terus kenapa?” Iel
melepaskan sendok beserta garpunya. Ia lalu menopang dagunya pada kedua telapak
tangannya yang sengaja ia angkat.
“Gue mau denger Kak Iel ngomong pake
bahasa Prancis dong. Pleaseeeee!!”
pinta Via dengan wajah memelas. Iel terkekeh geli dan menepuk pelan puncak
kepala Via. Jangankan hanya berbicara dalam bahasa Prancis, apapun akan Iel
lakukan demi gadis yang sudah mencuri hatinya sejak pertama kali mereka bertemu
itu. Gadis yang merupakan satu-satunya pemilik tunggal hatinya untuk saat ini.
“Lo mau gue ngomong apa?”
“Terserah Kak Iel aja. Isi hati juga
boleh…” kedua mata Via tampak berbinar.
“Isi hati, emmm…” Iel tampak
berpikir. Iapun menghela napas panjang dan sedikit membenahi posisi duduknya.
Iel lalu menatap kedua bola mata Via sedalam mungkin, dan dengan penuh
kesungguhan, Iel berkata,
“depuis
que j'ai rencontré, je
vous ai aimé. et même aujourd'hui, lorsque nous avons adopté
les jours ensemble, j'ai
finalement convaincu, que Je t'aime, non seulement, mais Je t'aime, et je veux que
tu sois quelqu'un de spécial dans
ma vie.” ( Sejak pertama kali bertemu aku sudah menyuakimu.
Dan semakin hari, saat kita selalu melewati hari-hari bersama aku akhirnya
yakin, bahwa aku tidak hanya menyukaimu, tapi aku mencintaimu dan ingin kamu
menjadi seseorang yang special dalam hidupku) Ujar Iel mantap juga dengan logat
Prancis yang tepat dan pasih. Via terpana dan sedikit ternganga, bukan karna
kemampuan Iel berbahasa Prancis, tapi karna Via sama sekali blank dengan apa yang baru saja Iel ucapkan.
“Itu artinya apa?” Tanya Via dengan
polosnya.
Iel tersenyum penuh arti tanpa
melepaskan tatapan matanya dari kedua bola mata Via. “Artinya… Via jelek” Iel
langsung menjulurkan lidahnya pada akhir kalimatnya. Via langsung cemberut
detik itu juga.
“Gue emang buta bahasa Prancis, Kak.
Tapi gue tau kali arti kalimatnya gak mungkin sesingkat itu”
“Kalo gak percaya, cari aja sendiri
sana di kamus”
“KAK IEEELLLLL….” Rengek Via manja
yang disambut oleh semburan tawa dari Iel. Selama beberapa tahun belakangan
ini, ini baru pertama kalinya Iel merasa selepas ini ketika tertawa. Dan Iel
merasa sangat bersyukur karna Tuhan telah memberikannya kesempatan untuk
mengenal seseorang yang sangat special seperti Via.
To Be Continued…


0 comments:
Post a Comment