Saturday, April 19, 2014

0

If Mr.Arrogant In Love (Saat Cinta Datang Tanpa Bilang-Bilang) -Chapter 5A-





Sudah hampir 10 menit Via berdiri didepan cermin mematut dirinya, atau lebih tepatnya penampilan barunya dengan seragam baru pemberian Alvin beberapa hari yang lalu. Sesekali Via berputar, sesekali juga ia memiringkan tubuhnya untuk memastikan bahwa tidak ada yang salah dengan penampilannya hari ini. Dan setengah dari dirinya masih sangat berharap bahwa semua ini adalah mimpi dan akan segera kembali seperti semula saat nanti ia terbangun.
            Tapi kemudian Via terduduk lesu dipinggir tempat tidurnya saat sepenuh dirinya meyakini bahwa semua ini bukanlah mimpi. Ini benar-benar adalah sebuah kenyataan yang harus ia terima. Mulai hari ini, dia bukan lagi siswi SMA Patuh Karya. Dan mulai hari ini ia telah resmi tercatat sebagai salah satu siswi Speranza High School. Sekolah yang selama ini tidak pernah ada dalam bayangannya untuk bisa ia masuki. Via menopang wajahnya diatas kedua tangannya, apapun akan Via lakukan asal dia bisa melarikan diri dari kenyataan yang sekarang sedang ia hadapi.
            Jika ia tidak bisa melarikan diri seperti apa yang ia inginkan, minimal ia ingin bisa membaca rencana licik Alvin dibalik semua ini. Kenapa Pria Arrogant itu melakukan semua ini secara mendadak? Apa nanti Alvin dan kawan-kawannya akan mem-bully nya habis-habisan seperti di Sinetron kebanyakan? Via langsung menggelengkan kepalanya saat pikiran aneh itu menyapa otaknya. Tidak, Via tidak akan membiarkan Alvin mem-bully nya. Dan jika Alvin berani melakukan hal itu padanya, maka Via tidak akan segan-segan melayangkan sepatunya diwajah sengak cowok songong itu.
            Kedua mata Via tahu-tahu tertuju pada seragam Putih Abu nya yang tergantung malang dibelakang pintu. Harusnya sekarang Via mengenakan seragam itu, bukan malah mengenakan seragam yang menurutnya sangat ribet dan sok keren ini. Via menghela napas panjangnya lalu bangkit. Sudahlah, tidak ada gunanya lagi ia menyesali diri seperti ini, toh semuanya sudah terjadi bukan? Dia mau protes seperti apapun juga tetap tidak akan bisa mengubah apa yang terjadi hari ini dan untuk seterusnya?
            Cklek! Suara pintu kamarnya yang terbuka langsung membuat Via menoleh kearah pintu. Dari balik pintu, menyembullah Bunda dengan senyumannya yang selalu tampak menenangkan.
            “Anak Bunda cantik banget pake seragam itu…” pujinya seraya berjalan menghampiri Via. Via langsung cemberut. ‘Cantik apanya? Aneh sih iya’ Komentar Via dalam hati.
            Bunda mengusap pelan blazer hitam yang berlambang huruf ‘S’ itu dengan penuh kebanggan, kedua tangan Bunda lalu beralih membelai lembut rambut sebahu Via yang ia kuncir ekor kuda.
            “Kalo kamu tidak bisa menerima dengan ikhlas apa yang saat ini kamu dapatkan, setidaknya berusahalah untuk melihat hikmah dibalik semua ini. Bunda yakin, suatu saat nanti, kamu pasti akan merasa sangat bersyukur karna bisa masuk ke Speranza High School”
            “Kenapa Via harus bersyukur?” Via mengernyit. Heran.
            Kali ini Bunda tidak menjawab pertanyaan Via. Ia hanya tersenyum lalu menarik pelan wajah Via dan mencium keningnya dengan sayang.
            “Rio udah nungguin kamu didepan tuh. Udah sana cepetan, jangan bikin Rio nunggu lama”
            “K… Kak Rio udah dateng, Bund?” Tanya Via takut-takut. Bunda hanya mengangguk lalu melangkah keluar dari kamar Via.
            Rio? Rio sudah datang? Lalu apa kata Rio nanti saat melihat Via keluar dari rumahnya dengan mengenakan seragam yang sama seperti yang ia kenakan? Darimana Via harus mulai menjelaskan semuanya? Ify juga masih belum tahu apa-apa tentang masalah ini, dan hari ini, Ify pasti kalang kabut mencari Via disekolah.
            Sumpah demi apapun, Via semakin membenci makhluk angkuh bernama Calvin Adryan Bramantya yang sok kuasa itu.


♥♥♥

            Ify menghentikan langkahnya sesaat sebelum ia memasuki jaguar hitam milik Iel ketika ia merasakan ponsel yang ada disaku kemejanya bergetar. Ify merogoh ponselnya lalu membaca pesan singkat yang ternyata dikirimkan oleh Via.

=========================
From: MyBBF_Via
Fy… hari ini gue resmi tercatat
Sebagai  salah satu siswi di Speranza.
Gue terpaksa pindah. Alesannya
Nanti gue jelasin. Gue tunggu lo
di  B-CafĂ© sepulang sekolah.

=========================

            Dan kebingungan langsung melanda Ify sesaat setelah ia membaca SMS yang dikirimkan oleh Via. Ify memutar ponselnya dengan pikirannya yang merembet kemana-mana. Kenapa mendadak begini?
            “TIN TIN TIN….” Suara klakson yang sengaja dibunyikan oleh Iel langsung menyentak Ify dan membuatnya terkesiap hingga tertarik dari lamunanya. Ify kontan melihat kearah Iel yang saat itu sudah duduk dengan manis dibelakang kemudi seraya menatapnya dengan pandangan bertanya.
            “Kenapa begong disana, Fy? Ayo masuk! Nanti gue telat lho. Jarak sekolah lo sama sekolah gue gak main-main kan, Fy?”
            “Iya Kak”
            Ify buru-buru memasuki mobil Iel dan segera duduk disampingnya dengan pikiran yang masih tidak beraturan. Semua ini masih sangat mengejutkan bagi Ify. Bagaimana mungkin Via bisa tiba-tiba pindah ke Speranza? Yang Ify tahu selama ini Via tidak pernah sekalipun punya keinginan untuk bersekolah disana, lalu kenapa sekarang Via tiba-tiba meng-SMS nya dan mengatakan bahwa ia telah resmi tercatat sebagai salah satu siswi di Speranza High School? Dan Ify benar-benar merasa ada yang tidak beres dibalik semua ini.
            “Lo kenapa sih, Fy? Dari tadi kerjaannya bengong terus” Tanya Iel sambil tetap focus mengemudikan jaguar hitamnya, ia  merasa sedikit heran dengan tingkah Ify pagi ini. Sepanjang perjalanan Ify hanya diam dan terlihat berpikir.
            Ify terkesiap, ia berusaha membuang semua pikiran aneh yang tiba-tiba menghantui otaknya. Ia lalu menatap Iel sambil tersenyum.
            “Hari ini lo bakal dapet hadiah tengah semester disekolah lo, Kak” kata Ify penuh teka-teki. Beberapa hari yang lalu, Iel sempat menceritakan pertemuan demi pertemuannya dengan Via pada Ify, dan berulang-ulang kali, Iel selalu dan selalu menceritakan hal yang sama pada Ify hingga Ify nyaris bosan mendengarnya, dan dari sana Ify tahu, bahwa Kakaknya ini pasti sedang jatuh cinta pada sahabat dekatnya itu.
            “Maksud lo?” Tanya Iel tak paham.
            “Nanti juga lo pasti tahu”


♥♥♥

            Rio terkejut bukan main saat melihat Via keluar dari dalam rumahnya dengan mengenakan seragam yang sama dengan dirinya. Susah payah Rio berusaha meyakinkan pengalihatannya dan memastikan bahwa tidak ada yang salah dengan kedua matanya. Atau… apa semua ini tidak nyata? Apa semua ini hanya mimpi?
            Sementara Via yang sejak tadi berdiri canggung didepan pintu langsung menggaruk belakang tengkuknya saat melihat reaksi Rio yang Nampak kaget melihat penampilan barunya. Via menghela napas panjangnya, ia lalu menegakkan tubuhnya dan berusaha bersikap senormal mungkin dihadapan Rio.
            “SURPRISEEEEE!!!” Pekik Via sambil memasang wajah seceria mungkin. Namun apa yang Via lakukan itu justru terlihat aneh dimata Rio. Dengan kata lain, acting Via gagal total.
            Menyadari bahwa aktingnya sama sekali tidak berhasil, senyum yang tadinya merekah diwajah manisnya langsung menghilang tanpa bekas. Ragu-ragu Via melangkahkan kakinya berjalan perlahan menghampiri Rio yang berdiri disamping Honda Jazz Silvernya.
            “Kak Rio…” Panggil Via pelan sambil menyentuh salah satu pundak Rio. Rio terkesiap dan langsung membuyarkan keterpanaannya.
            “Elo? Bagaimana bisa?” Hanya itu dua pertanyaan yang bisa keluar dari kerongkongan Rio yang entah kenapa mendadak tercekat.
            Via mulai gusar. Dan kegusaran itu langsung melemparkannya pada posisi dilematik. Apa yang harus ia katakan pada Rio? Alasan apa yang harus ia layangkan? Atau apa Via harus jujur dan mengatakan apa yang sebenarnya pada Rio? Apa ada jaminan setelah ini bahwa Rio tidak akan mencemaskannya?
            Karna tidak juga menemukan sebuah titik temu, Via akhirnya memilih untuk berbohong, setidaknya hanya untuk saat ini. Mungkin nanti ia akan jujur pada Rio, tapi tidak sekarang.
            “Gue… Gue diem-diem ngajuin beasiswa ke Speranza tanpa sepengatahuan lo, Kak. Dan akhirnya… akhirnya beasiswa gue diterima dan –“
            “Elo bohong!” potong Rio sebelum Via menyelesaikan penjelasannya yang terbata. Tanpa berkata lebih banyak lagi, Rio sudah bisa membaca semuanya dari bahasa tubuh Via. Rio mengenal Via sejak ia berusia 5 tahun, jadi bagaimana mungkin Rio tidak bisa membaca gelagat aneh dari sahabat dekat yang sudah ia anggap seperti Adik kandungnya ini?
            Via menghela napasnya pelan, harusnya sejak ia awal ia tahu bahwa membohongi Rio bukanlah perkara gampang. Mungkin Via pandai membohongi siapa saja, tapi tidak dengan Rio.
            “Kak, gue… Gue –“
            “Jangan sekalipun lo ngomong sama gue sebelum lo mau ngejelasin semua ini dengan sejujur-jujurnya” Kata Rio sedikit emosi. Ia lalu membuka pintu mobilnya dan membantingnya sedikit keras sesaat setelah ia mendudukan dirinya di jok depan.
            Mendengar suara hantaman pintu mobil Rio cukup membuat Via tersentak, dan rasa bersalah itu kian melingkupi dirinya. Saat ini, Via tidak lagi bisa berpikir dengan jernih, Rio pernah beberapa kali marah padanya, tapi tidak pernah sekalipun Rio terlihat sekecewa dan seputus asa seperti sekarang ini. Rio memang paling tidak suka dibohongi, dan Via tahu betul hal itu sejak awal.
            “Masuk!” Titah Rio dingin. Via yang tidak ingin melawan lagi langsung mengikuti perintah Rio. Ia memasuki mobil Rio lalu duduk disamping Rio dengan tidak nyaman. Dan selama perjalanan mereka menuju ke sekolah, Rio benar-benar membuktikan perkataannya. Ia tidak sedikitpun membuka suara dan memilih tak acuh saat Via berusaha mengajaknya untuk berbicara.
            Via membuang napasnya putus asa. Harus kah ia jujur?


♥♥♥

Speranza High School…

            “Kamu kenapa sih, Kka? Dari tadi dieeemm aja” protes Shilla pada Cakka –Kekasihnya- saat mereka baru saja keluar dari dalam mobil Cakka. Shilla mengangkat tangan kanannya lalu menyentuh pipi Cakka. “Kamu kalo ada masalah cerita dong sama aku” Pinta Shilla dengan lembut.
            Cakka menggeleng pelan, ia meraih tangan kanan Shilla yang tadi bertengger dipipi mulusnya lalu menggenggam tangan Shilla lembut. Cakka berusaha tersenyum dan memilih untuk tidak menceritakan masalahnya pada Shilla. Cakka tidak ingin Shilla mencemaskannya. Toh buat Cakka, ia sudah terlalu biasa dengan masalah yang sekarang sedang ia hadapi.
            “Aku gak ada masalah apa-apa kok, Shill”
            “Bohong”
            Trust me!” ujar Cakka bersungguh-sungguh. Tapi hal itu tidak lantas membuat Shilla langsung meng-iyakan. 2 tahun menjalin hubungan dengan Cakka cukup membuat Shilla mengenal Cakka dengan sangat baik.
                I always believe in you, Kka, tapi kamu yang gak pernah bisa ngasih kepercayaan sama aku, dan ini sama sekali gak fair buat aku. I am your girl, Cakka. So, from now on you can trust me?” Tanya Shilla yang lebih mengarah kepada sebuah permintaan kecil dengan sedikit perih.
            Cakka tersenyum pahit detik itu juga, ia sendiripun bingung bagaimana harus menceritakan semuanya pada Shilla. Cakka memegang bagian belakang kepala Shilla, mendorongnya lembut lalu mengecup keningnya dengan penuh sayang.
            Thanks for everything, Ashilla… tapi maaf, aku butuh waktu buat sendiri” Cakka lalu melangkah terlebih dahulu dan meninggalkan Shilla sendirian dibelakang.
            Shilla memejamkan matanya dan kembali berusaha –entah untuk yang keberapa kalinya- memberikan kepercayaannya dengan utuh pada Cakka. Shilla menepikan semua ego nya dan rasa perih yang perlahan menghujani dadanya.
            It's your risk, Shilla… suruh siapa lo pacaran sama cowok tertutup?” protes Shilla pada dirinya sendiri yang sebenarnya hanya ingin menghibur dirinya saja. Shilla lalu menghela napas dan melangkah meninggalkan areal parkir sekolah.


♥♥♥

            Rio berjalan dengan langkah terburu dan sama sekali tidak menghiraukan Via yang berjalan dibelakangnya dengan susah payah sambil berusaha mengejar langkahnya.
            “Kak Rio, tungguin gue! Jangan tinggalin gue, gue belom tau betul seluk beluk sekolah ini. KAK RIOOOOO!!!” Rengek Via seperti anak kecil yang meminta untuk diberikan permen, tapi Rio sama sekali tidak peduli dan tetap melangkah dengan cueknya.
            Dan sial! Karna tidak memperhatikan jalan disekitarnya, Via sampai tidak menyadari bahwa ada sebuah undakan didepan koridor. Kakinya tersengkat lalu tersungkur kedepan hingga jatuh tepat didepan kaki seseorang yang berdiri dengan angkuh didepan koridor.
            “AWWW”
            Ringisan Via yang cukup keras akhirnya menarik perhatian semua siswa-siswi yang ada dikoridor, sedangkan Rio yang menjadi target kejarannya, yang secara tidak langsung menjadi tokoh utama dari kejadian memalukan ini sudah menaiki tangga tanpa sekalipun menoleh kebelakang. Mati-matian Via berusaha menahan malu saat beberapa dari siswa siswi itu secara terang-terangan menertawakan kebodohannya, ada juga dari mereka yang terlihat berbisik-bisik saat melihat wajah asing yang tiba-tiba muncul disekolah mereka sambil mengejar-ngejar Rio, salah satu Prince Charming disekolah itu.
            “Dasar bodoh! Bisa-bisanya lo ngelakuin tindakan memalukan dihari pertama lo disekolah ini” cibir seseorang yang berdiri dengan angkuh dihadapan Via tanpa sedikitpun memiliki niat untuk menolong.
            Merasa mengenal suara itu, Via pun mengangkat wajahnya. Dan ia langsung berdecak kesal saat mendapati Alvin yang sedang menatapnya dengan tatapan meremehkan.
            “Puas lo ngeliat gue menderita kayak gini?” sinis Via sambil mengusap seragamnya, ia bahkan belum berdiri dan masih terduduk dibawah kaki Alvin. Alvin tersenyum miring, ekor matanya tiba-tiba saja menangkap Iel yang saat itu sedang berjalan kearah koridor. Targetnya sudah tiba.
            Saat langkah Iel semakin mendekat, Alvin pun berpikir cepat. Lalu tanpa berkata apa-apa, Alvin menarik lengan Via dengan kasar hingga membuat Gadis itu berdiri. Karna tarikan Alvin yang cukup keras, Via akhirnya limbung dan secara reflex melingkarkan kedua tangannya dipinggang Alvin. Apa yang terjadi itu semakin menarik perhatian semua orang, termasuk Iel. Beberapa dari mereka menatap kearah Alvin dan Via dengan pandangan tidak percaya. Sedangkan Iel, ia langsung menghentikan langkahnya didepan koridor saat melihat adegan berpelukan dihadapannya. Iel berpikir sejenak, apa ini hadiah tengah semester yang Ify maksudkan?
            Via membelalak saat menyadari apa yang baru saja terjadi. Dan saat Via akan melepaskan pelukannya dari Alvin, Alvin malah menahannya dan semakin merapatkan tubuh mereka. Dan yang lebih mengejutkan lagi, Alvin menggunakan salah satu tangannya untuk membelai lembut rambut Via.
            “Makanya lain kali lo hati-hati, gak usah ceroboh kayak gini lagi” Ucap Alvin yang mendadak lembut dan sukses membuat Via yang tidak mengetahui apapun terheran-heran setengah mati.
            “Heh! Lo apa-apaan sih? Lepas gak??” ucap Via setengah berbisik, tapi Alvin tidak peduli. Ia tetap memeluk Via seraya menatap Iel dengan sengit.
            Iel membuang napasnya dengan kasar, ia lalu melangkah cepat melewati Alvin dan Via tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Jantungnya sudah terlanjur terpukul telak melihat adegan berpelukan itu.
            Beberapa saat setelah kepergian Iel, Alvin langsung mendorong tubuh Via dengan kasar hingga Gadis itu terlepas dengan paksa dari pelukannya. Via mengernyit.
            “Apa-apaan sih lo?!”
            “Suka-suka gue mau ngapain aja. Lo kan babu gue.” jawab Alvin cuek lalu berbalik meninggalkan Via sendiri dikoridor.
            Setelah Alvin menghilang dianak tangga, Via lalu mengedarkan pandangannya kesegala arah dan mendapati tatapan-tatapan sinis iri, dan sengit yang tengah mengarah padanya. Via mengangkat kedua bahu lalu berjalan dengan tak acuh tanpa menghiraukan keadaan sekitar yang sudah cukup panas dengan adegan berpelukan tadi.
            Satu pertanyaan timbul dibenak semua orang yang melihat adegan tadi.

            “Ada hubungan apa sih sisiwi baru ini dengan Alvin, Rio, dan Iel?”


♥♥♥

            Hari ini Via benar-benar sendirian disekolah barunya. Dan ia semakin membenci Alvin karna ulahnya yang seenaknya memindahkan Via kesekolah ini. Dan Via semakin membenci Alvin, saat Alvin hampir selalu menampakkan wajah tak berdosanya. Rasanya Via ingin mencakar muka angkuh itu habis-habisan. Via yang geram tanpa sengaja memukulkan kepalan tangannya diatas meja Kafetaria sehingga membuat semua perhatian lagi-lagi tertuju padanya. Menyadari dengan apa yang baru saja terjadi, Via langsung tersenyum canggung pada semua yang memperhatiannya sambil menggumamkan kata maaf dengan pelan.
            Dan Via sedikit merasa terselamatkan saat kedua matanya menangkap siluet Rio yang saat itu memasuki Kafetaria. Via tersenyum lebar lalu melambaikan tangannya kearah Rio, tapi Rio malah terus berjalan tanpa sedikitpun menghiraukannya. Dan dengan cueknya, Rio melewati meja Via begitu saja dan menghampiri Alvin bersama Cakka yang duduk dimeja pojok.
            “Kak Rio rese” gerutu Via pelan sambil menunduk sedalam-dalamnya.
            “Tapi gue gak rese dong” kata seseorang yang tiba-tiba saja datang lalu meletakkan 1 kaleng minuman bersoda diatas meja, ia lalu duduk dihadapan Via lalu melipat kedua tangannya diatas meja.
            Menyadari bahwa ia tidak lagi sendiri di Kafetaria yang membosankan itu, Via pun mengangkat wajahnya, dan senyuman manis super mematikan milik Iel langsung menyambutnya, dengan santainya Iel melambaikan tangannya.
            “Hay… Via…” sapanya dengan bersahabat.
            “Kak Iel?”
            “Iya gue…” Via hanya mengangguk sambil menggaruk kepala bagian belakangnya yang sama sekali tidak gatal.
            By the way, kok lo bisa masuk Speranza sih?” Tanya Iel yang memang merasa penasaran sejak pertama kali melihat kehadiran Via pagi tadi.
            “Gue dapet beasiswa, Kak” jawab Via seadanya, dan Via berharap itu cukup untuk Iel. Iel mengangguk paham lalu meneguk minuman kalengnya. Sepertinya Iel tidak terlalu mau tahu dengan alasan kenapa Via bisa mendapatkan beasiswa dadakan masuk ke sekolah ini. Tapi diam-diam Iel pasti akan mencari tahu alasan yang sebenarnya.
            “Lo udah cerita sama Ify?” Tanya Iel –lagi-
            “Udah kok, Kak… udah”
            Dan selanjutnya, Via yang awalnya agak risih dengan Iel akhirnya terlihat begitu menikmati kebersamaannya dengan Iel karna obrolan-obrolan menyenangkan yang Iel suguhkan. Via yang tadinya hanya cemberut kini bisa tertawa lepas karna kehadiran Iel. Dan Alvin yang sejak tadi diam-diam memperhatikan mereka dari meja pojok langsung mencengkram kuat salah satu tangannya, menahan emosi. Alvin telah merasa, bahwa Iel selangkah lebih maju dari dirinya, dan Alvin tidak akan pernah membiarkan hal itu bertahan lama.


♥♥♥

            “ALVIN!” Panggil Via dari kejauhan saat melihat Alvin yang berjalan di koridor ketika jam pulang sekolah tiba. Merasa ada yang memanggil namanya, Alvin menghentikan langkahnya lalu menoleh kebelakang, tepat saat itu juga, Via sudah berdiri dihadapannya dengan desauan napas yang tidak teratur.
            “Gue mau ngomong sama lo” jeda sesaat untuk mengambil napas. “Ini penting!” lanjutnya kemudian.
            Alvin mengernyit, ia menatap kesekeliling untuk beberapa saat lalu kembali menatap Via.
            “Gue Kakak kelas lo disini. Jadi bisa kan lo lebih sopan dikit?”
            Whatever! Gue gak peduli. Gue udah terlanjur kesel sama semua kelakuan lo yang suka seenaknya itu. Lagian gue jadi babu Cuma di Apartement lo aja, diluar itu? Gue bebas, dan sekarang gue perlu ngomong sama lo!”
            Alvin mengangkat salah satu alisnya, sepertinya Gadis ini benar-benar ingin menantangnya.
            “Apa?” Tanya Alvin dingin sambil melipat kedua tangannya didepan dada.
            “Gue ijin telat setengah jam. Ada urusan yang harus gue selesein”
            “Gak bisa!” jawab Alvin tegas tanpa perlu berpikir. Via Nampak terkejut, tapi ia berusaha bersikap senormal mungkin. Via menghela napas beberapa kali lalu menatap Alvin dengan muak.
            “Terserah mau lo ijinin apa gak, gue gak peduli! Dengan atau tanpa ijin dari lo gue tetep pergi”
            “Elo –“
            “Sampe ketemu di Apartement lo setengah jam lagi. Kalo lo mau marah, sebaiknya lo tahan dulu selama setengah jam. Setelah gue dateng ke Apartement lo nanti, terserah lo mau ngapain aja, gue gak akan ngelawan. Oke, Bye KAK ALVIN!” Kata Via dengan penekanan penuh pada dua kata terakhirnya. Via lalu berlari dan pergi meninggalkan Alvin dengan berjuta-juta emosi yang sudah siap untuk ia muntahkan.
            “VIA! LO KEMBALI SEKARANG JUGA! INI PERINTAH” Teriak Alvin yang malah tidak gubris apapun oleh Via. Dan saat Via benar-benar menghilang dari pandangannya, Alvin langsung meninju udara untuk melampiaskan kekesalannya.
            Tapi ditengah-tengah kemarahannya pada Via, Alvin tiba-tiba mengingat ucapan Via tadi.
            “Sampe ketemu di Apartement lo setengah jam lagi. Kalo lo mau marah, sebaiknya lo tahan dulu selama setengah jam. Setelah gue dateng ke Apartement lo nanti, terserah lo mau ngapain aja, gue gak akan ngelawan. Oke, Bye KAK ALVIN!”
            Seringai licik langsung menghiasi wajah tampannya detik itu juga. Alvin tersenyum penuh kemenangan.

            “Oke, gue akan ngelakuin apapun yang gue mau tanpa perlu susah-susah ngadepin elo yang keras kepala. Elo kan yang mau ini semua?”



                                    To Be Continued…



0 comments:

Post a Comment