Sudah hampir 10 menit Via berdiri
didepan cermin mematut dirinya, atau lebih tepatnya penampilan barunya dengan
seragam baru pemberian Alvin beberapa hari yang lalu. Sesekali Via berputar,
sesekali juga ia memiringkan tubuhnya untuk memastikan bahwa tidak ada yang
salah dengan penampilannya hari ini. Dan setengah dari dirinya masih sangat
berharap bahwa semua ini adalah mimpi dan akan segera kembali seperti semula
saat nanti ia terbangun.
Tapi kemudian Via
terduduk lesu dipinggir tempat tidurnya saat sepenuh dirinya meyakini bahwa
semua ini bukanlah mimpi. Ini benar-benar adalah sebuah kenyataan yang harus ia
terima. Mulai hari ini, dia bukan lagi siswi SMA Patuh Karya. Dan mulai hari
ini ia telah resmi tercatat sebagai salah satu siswi Speranza High School. Sekolah
yang selama ini tidak pernah ada dalam bayangannya untuk bisa ia masuki. Via
menopang wajahnya diatas kedua tangannya, apapun akan Via lakukan asal dia bisa
melarikan diri dari kenyataan yang sekarang sedang ia hadapi.
Jika ia tidak
bisa melarikan diri seperti apa yang ia inginkan, minimal ia ingin bisa membaca
rencana licik Alvin dibalik semua ini. Kenapa Pria Arrogant itu melakukan semua
ini secara mendadak? Apa nanti Alvin dan kawan-kawannya akan mem-bully nya habis-habisan seperti di
Sinetron kebanyakan? Via langsung menggelengkan kepalanya saat pikiran aneh itu
menyapa otaknya. Tidak, Via tidak akan membiarkan Alvin mem-bully nya. Dan jika Alvin berani
melakukan hal itu padanya, maka Via tidak akan segan-segan melayangkan
sepatunya diwajah sengak cowok songong itu.
Kedua mata Via
tahu-tahu tertuju pada seragam Putih Abu nya yang tergantung malang dibelakang
pintu. Harusnya sekarang Via mengenakan seragam itu, bukan malah mengenakan
seragam yang menurutnya sangat ribet dan sok keren ini. Via menghela napas
panjangnya lalu bangkit. Sudahlah, tidak ada gunanya lagi ia menyesali diri
seperti ini, toh semuanya sudah terjadi bukan? Dia mau protes seperti apapun
juga tetap tidak akan bisa mengubah apa yang terjadi hari ini dan untuk
seterusnya?
Cklek! Suara
pintu kamarnya yang terbuka langsung membuat Via menoleh kearah pintu. Dari
balik pintu, menyembullah Bunda dengan senyumannya yang selalu tampak
menenangkan.
“Anak Bunda
cantik banget pake seragam itu…” pujinya seraya berjalan menghampiri Via. Via
langsung cemberut. ‘Cantik apanya? Aneh sih iya’ Komentar Via dalam hati.
Bunda mengusap
pelan blazer hitam yang berlambang huruf ‘S’ itu dengan penuh kebanggan, kedua
tangan Bunda lalu beralih membelai lembut rambut sebahu Via yang ia kuncir ekor
kuda.
“Kalo kamu tidak
bisa menerima dengan ikhlas apa yang saat ini kamu dapatkan, setidaknya
berusahalah untuk melihat hikmah dibalik semua ini. Bunda yakin, suatu saat
nanti, kamu pasti akan merasa sangat bersyukur karna bisa masuk ke Speranza
High School”
“Kenapa Via harus
bersyukur?” Via mengernyit. Heran.
Kali ini Bunda
tidak menjawab pertanyaan Via. Ia hanya tersenyum lalu menarik pelan wajah Via
dan mencium keningnya dengan sayang.
“Rio udah
nungguin kamu didepan tuh. Udah sana cepetan, jangan bikin Rio nunggu lama”
“K… Kak Rio udah
dateng, Bund?” Tanya Via takut-takut. Bunda hanya mengangguk lalu melangkah
keluar dari kamar Via.
Rio? Rio sudah
datang? Lalu apa kata Rio nanti saat melihat Via keluar dari rumahnya dengan
mengenakan seragam yang sama seperti yang ia kenakan? Darimana Via harus mulai
menjelaskan semuanya? Ify juga masih belum tahu apa-apa tentang masalah ini,
dan hari ini, Ify pasti kalang kabut mencari Via disekolah.
Sumpah demi
apapun, Via semakin membenci makhluk angkuh bernama Calvin Adryan Bramantya
yang sok kuasa itu.
♥♥♥
Ify menghentikan
langkahnya sesaat sebelum ia memasuki jaguar hitam milik Iel ketika ia
merasakan ponsel yang ada disaku kemejanya bergetar. Ify merogoh ponselnya lalu
membaca pesan singkat yang ternyata dikirimkan oleh Via.
=========================
From:
MyBBF_Via
Fy… hari ini
gue resmi tercatat
Sebagai salah satu siswi di Speranza.
Gue terpaksa
pindah. Alesannya
Nanti gue
jelasin. Gue tunggu lo
di B-Café sepulang sekolah.
=========================
Dan kebingungan
langsung melanda Ify sesaat setelah ia membaca SMS yang dikirimkan oleh Via.
Ify memutar ponselnya dengan pikirannya yang merembet kemana-mana. Kenapa
mendadak begini?
“TIN TIN TIN….”
Suara klakson yang sengaja dibunyikan oleh Iel langsung menyentak Ify dan
membuatnya terkesiap hingga tertarik dari lamunanya. Ify kontan melihat kearah
Iel yang saat itu sudah duduk dengan manis dibelakang kemudi seraya menatapnya
dengan pandangan bertanya.
“Kenapa begong
disana, Fy? Ayo masuk! Nanti gue telat lho. Jarak sekolah lo sama sekolah gue
gak main-main kan, Fy?”
“Iya Kak”
Ify buru-buru
memasuki mobil Iel dan segera duduk disampingnya dengan pikiran yang masih
tidak beraturan. Semua ini masih sangat mengejutkan bagi Ify. Bagaimana mungkin
Via bisa tiba-tiba pindah ke Speranza? Yang Ify tahu selama ini Via tidak
pernah sekalipun punya keinginan untuk bersekolah disana, lalu kenapa sekarang
Via tiba-tiba meng-SMS nya dan mengatakan bahwa ia telah resmi tercatat sebagai
salah satu siswi di Speranza High School? Dan Ify benar-benar merasa ada yang
tidak beres dibalik semua ini.
“Lo kenapa sih,
Fy? Dari tadi kerjaannya bengong terus” Tanya Iel sambil tetap focus
mengemudikan jaguar hitamnya, ia merasa
sedikit heran dengan tingkah Ify pagi ini. Sepanjang perjalanan Ify hanya diam
dan terlihat berpikir.
Ify terkesiap, ia
berusaha membuang semua pikiran aneh yang tiba-tiba menghantui otaknya. Ia lalu
menatap Iel sambil tersenyum.
“Hari ini lo
bakal dapet hadiah tengah semester disekolah lo, Kak” kata Ify penuh teka-teki.
Beberapa hari yang lalu, Iel sempat menceritakan pertemuan demi pertemuannya
dengan Via pada Ify, dan berulang-ulang kali, Iel selalu dan selalu
menceritakan hal yang sama pada Ify hingga Ify nyaris bosan mendengarnya, dan
dari sana Ify tahu, bahwa Kakaknya ini pasti sedang jatuh cinta pada sahabat
dekatnya itu.
“Maksud lo?”
Tanya Iel tak paham.
“Nanti juga lo
pasti tahu”
♥♥♥
Rio terkejut
bukan main saat melihat Via keluar dari dalam rumahnya dengan mengenakan
seragam yang sama dengan dirinya. Susah payah Rio berusaha meyakinkan
pengalihatannya dan memastikan bahwa tidak ada yang salah dengan kedua matanya.
Atau… apa semua ini tidak nyata? Apa semua ini hanya mimpi?
Sementara Via
yang sejak tadi berdiri canggung didepan pintu langsung menggaruk belakang
tengkuknya saat melihat reaksi Rio yang Nampak kaget melihat penampilan
barunya. Via menghela napas panjangnya, ia lalu menegakkan tubuhnya dan berusaha
bersikap senormal mungkin dihadapan Rio.
“SURPRISEEEEE!!!”
Pekik Via sambil memasang wajah seceria mungkin. Namun apa yang Via lakukan itu
justru terlihat aneh dimata Rio. Dengan kata lain, acting Via gagal total.
Menyadari bahwa
aktingnya sama sekali tidak berhasil, senyum yang tadinya merekah diwajah
manisnya langsung menghilang tanpa bekas. Ragu-ragu Via melangkahkan kakinya
berjalan perlahan menghampiri Rio yang berdiri disamping Honda Jazz Silvernya.
“Kak Rio…”
Panggil Via pelan sambil menyentuh salah satu pundak Rio. Rio terkesiap dan
langsung membuyarkan keterpanaannya.
“Elo? Bagaimana
bisa?” Hanya itu dua pertanyaan yang bisa keluar dari kerongkongan Rio yang
entah kenapa mendadak tercekat.
Via mulai gusar.
Dan kegusaran itu langsung melemparkannya pada posisi dilematik. Apa yang harus
ia katakan pada Rio? Alasan apa yang harus ia layangkan? Atau apa Via harus
jujur dan mengatakan apa yang sebenarnya pada Rio? Apa ada jaminan setelah ini
bahwa Rio tidak akan mencemaskannya?
Karna tidak juga
menemukan sebuah titik temu, Via akhirnya memilih untuk berbohong, setidaknya
hanya untuk saat ini. Mungkin nanti ia akan jujur pada Rio, tapi tidak
sekarang.
“Gue… Gue
diem-diem ngajuin beasiswa ke Speranza tanpa sepengatahuan lo, Kak. Dan akhirnya…
akhirnya beasiswa gue diterima dan –“
“Elo bohong!”
potong Rio sebelum Via menyelesaikan penjelasannya yang terbata. Tanpa berkata
lebih banyak lagi, Rio sudah bisa membaca semuanya dari bahasa tubuh Via. Rio
mengenal Via sejak ia berusia 5 tahun, jadi bagaimana mungkin Rio tidak bisa
membaca gelagat aneh dari sahabat dekat yang sudah ia anggap seperti Adik
kandungnya ini?
Via menghela
napasnya pelan, harusnya sejak ia awal ia tahu bahwa membohongi Rio bukanlah
perkara gampang. Mungkin Via pandai membohongi siapa saja, tapi tidak dengan
Rio.
“Kak, gue… Gue –“
“Jangan sekalipun
lo ngomong sama gue sebelum lo mau ngejelasin semua ini dengan sejujur-jujurnya”
Kata Rio sedikit emosi. Ia lalu membuka pintu mobilnya dan membantingnya
sedikit keras sesaat setelah ia mendudukan dirinya di jok depan.
Mendengar suara
hantaman pintu mobil Rio cukup membuat Via tersentak, dan rasa bersalah itu
kian melingkupi dirinya. Saat ini, Via tidak lagi bisa berpikir dengan jernih,
Rio pernah beberapa kali marah padanya, tapi tidak pernah sekalipun Rio
terlihat sekecewa dan seputus asa seperti sekarang ini. Rio memang paling tidak
suka dibohongi, dan Via tahu betul hal itu sejak awal.
“Masuk!” Titah
Rio dingin. Via yang tidak ingin melawan lagi langsung mengikuti perintah Rio. Ia
memasuki mobil Rio lalu duduk disamping Rio dengan tidak nyaman. Dan selama
perjalanan mereka menuju ke sekolah, Rio benar-benar membuktikan perkataannya. Ia
tidak sedikitpun membuka suara dan memilih tak acuh saat Via berusaha
mengajaknya untuk berbicara.
Via membuang
napasnya putus asa. Harus kah ia jujur?
♥♥♥
Speranza High School…
“Kamu kenapa sih,
Kka? Dari tadi dieeemm aja” protes Shilla pada Cakka –Kekasihnya- saat mereka
baru saja keluar dari dalam mobil Cakka. Shilla mengangkat tangan kanannya lalu
menyentuh pipi Cakka. “Kamu kalo ada masalah cerita dong sama aku” Pinta Shilla
dengan lembut.
Cakka menggeleng
pelan, ia meraih tangan kanan Shilla yang tadi bertengger dipipi mulusnya lalu
menggenggam tangan Shilla lembut. Cakka berusaha tersenyum dan memilih untuk
tidak menceritakan masalahnya pada Shilla. Cakka tidak ingin Shilla
mencemaskannya. Toh buat Cakka, ia sudah terlalu biasa dengan masalah yang
sekarang sedang ia hadapi.
“Aku gak ada
masalah apa-apa kok, Shill”
“Bohong”
“Trust me!” ujar Cakka
bersungguh-sungguh. Tapi hal itu tidak lantas membuat Shilla langsung
meng-iyakan. 2 tahun menjalin hubungan dengan Cakka cukup membuat Shilla mengenal
Cakka dengan sangat baik.
“I always believe in you, Kka, tapi kamu yang gak pernah bisa ngasih
kepercayaan sama aku, dan ini sama sekali gak fair buat aku. I am your girl,
Cakka. So, from now on you can trust me?” Tanya Shilla
yang lebih mengarah kepada sebuah permintaan kecil dengan sedikit perih.
Cakka tersenyum pahit detik itu juga, ia sendiripun
bingung bagaimana harus menceritakan semuanya pada Shilla. Cakka memegang
bagian belakang kepala Shilla, mendorongnya lembut lalu mengecup keningnya
dengan penuh sayang.
“Thanks for
everything, Ashilla… tapi maaf, aku butuh waktu buat sendiri” Cakka lalu
melangkah terlebih dahulu dan meninggalkan Shilla sendirian dibelakang.
Shilla memejamkan matanya dan kembali berusaha –entah untuk
yang keberapa kalinya- memberikan kepercayaannya dengan utuh pada Cakka. Shilla
menepikan semua ego nya dan rasa perih yang perlahan menghujani dadanya.
“It's your risk, Shilla… suruh siapa lo pacaran sama cowok tertutup?” protes Shilla pada
dirinya sendiri yang sebenarnya hanya ingin menghibur dirinya saja. Shilla lalu
menghela napas dan melangkah meninggalkan areal parkir sekolah.
♥♥♥
Rio berjalan
dengan langkah terburu dan sama sekali tidak menghiraukan Via yang berjalan dibelakangnya
dengan susah payah sambil berusaha mengejar langkahnya.
“Kak Rio,
tungguin gue! Jangan tinggalin gue, gue belom tau betul seluk beluk sekolah
ini. KAK RIOOOOO!!!” Rengek Via seperti anak kecil yang meminta untuk diberikan
permen, tapi Rio sama sekali tidak peduli dan tetap melangkah dengan cueknya.
Dan sial! Karna tidak
memperhatikan jalan disekitarnya, Via sampai tidak menyadari bahwa ada sebuah
undakan didepan koridor. Kakinya tersengkat lalu tersungkur kedepan hingga
jatuh tepat didepan kaki seseorang yang berdiri dengan angkuh didepan koridor.
“AWWW”
Ringisan Via yang
cukup keras akhirnya menarik perhatian semua siswa-siswi yang ada dikoridor, sedangkan
Rio yang menjadi target kejarannya, yang secara tidak langsung menjadi tokoh
utama dari kejadian memalukan ini sudah menaiki tangga tanpa sekalipun menoleh
kebelakang. Mati-matian Via berusaha menahan malu saat beberapa dari siswa
siswi itu secara terang-terangan menertawakan kebodohannya, ada juga dari
mereka yang terlihat berbisik-bisik saat melihat wajah asing yang tiba-tiba
muncul disekolah mereka sambil mengejar-ngejar Rio, salah satu Prince Charming disekolah itu.
“Dasar bodoh! Bisa-bisanya
lo ngelakuin tindakan memalukan dihari pertama lo disekolah ini” cibir
seseorang yang berdiri dengan angkuh dihadapan Via tanpa sedikitpun memiliki
niat untuk menolong.
Merasa mengenal
suara itu, Via pun mengangkat wajahnya. Dan ia langsung berdecak kesal saat
mendapati Alvin yang sedang menatapnya dengan tatapan meremehkan.
“Puas lo ngeliat
gue menderita kayak gini?” sinis Via sambil mengusap seragamnya, ia bahkan
belum berdiri dan masih terduduk dibawah kaki Alvin. Alvin tersenyum miring,
ekor matanya tiba-tiba saja menangkap Iel yang saat itu sedang berjalan kearah
koridor. Targetnya sudah tiba.
Saat langkah Iel
semakin mendekat, Alvin pun berpikir cepat. Lalu tanpa berkata apa-apa, Alvin
menarik lengan Via dengan kasar hingga membuat Gadis itu berdiri. Karna tarikan
Alvin yang cukup keras, Via akhirnya limbung dan secara reflex melingkarkan
kedua tangannya dipinggang Alvin. Apa yang terjadi itu semakin menarik
perhatian semua orang, termasuk Iel. Beberapa dari mereka menatap kearah Alvin
dan Via dengan pandangan tidak percaya. Sedangkan Iel, ia langsung menghentikan
langkahnya didepan koridor saat melihat adegan berpelukan dihadapannya. Iel
berpikir sejenak, apa ini hadiah tengah semester yang Ify maksudkan?
Via membelalak
saat menyadari apa yang baru saja terjadi. Dan saat Via akan melepaskan
pelukannya dari Alvin, Alvin malah menahannya dan semakin merapatkan tubuh
mereka. Dan yang lebih mengejutkan lagi, Alvin menggunakan salah satu tangannya
untuk membelai lembut rambut Via.
“Makanya lain
kali lo hati-hati, gak usah ceroboh kayak gini lagi” Ucap Alvin yang mendadak
lembut dan sukses membuat Via yang tidak mengetahui apapun terheran-heran
setengah mati.
“Heh! Lo apa-apaan
sih? Lepas gak??” ucap Via setengah berbisik, tapi Alvin tidak peduli. Ia tetap
memeluk Via seraya menatap Iel dengan sengit.
Iel membuang napasnya
dengan kasar, ia lalu melangkah cepat melewati Alvin dan Via tanpa mengeluarkan
sepatah katapun. Jantungnya sudah terlanjur terpukul telak melihat adegan
berpelukan itu.
Beberapa saat
setelah kepergian Iel, Alvin langsung mendorong tubuh Via dengan kasar hingga
Gadis itu terlepas dengan paksa dari pelukannya. Via mengernyit.
“Apa-apaan sih
lo?!”
“Suka-suka gue
mau ngapain aja. Lo kan babu gue.” jawab Alvin cuek lalu berbalik meninggalkan
Via sendiri dikoridor.
Setelah Alvin
menghilang dianak tangga, Via lalu mengedarkan pandangannya kesegala arah dan
mendapati tatapan-tatapan sinis iri, dan sengit yang tengah mengarah padanya.
Via mengangkat kedua bahu lalu berjalan dengan tak acuh tanpa menghiraukan
keadaan sekitar yang sudah cukup panas dengan adegan berpelukan tadi.
Satu pertanyaan
timbul dibenak semua orang yang melihat adegan tadi.
“Ada hubungan apa sih sisiwi baru ini
dengan Alvin, Rio, dan Iel?”
♥♥♥
Hari ini Via
benar-benar sendirian disekolah barunya. Dan ia semakin membenci Alvin karna
ulahnya yang seenaknya memindahkan Via kesekolah ini. Dan Via semakin membenci
Alvin, saat Alvin hampir selalu menampakkan wajah tak berdosanya. Rasanya Via
ingin mencakar muka angkuh itu habis-habisan. Via yang geram tanpa sengaja
memukulkan kepalan tangannya diatas meja Kafetaria sehingga membuat semua
perhatian lagi-lagi tertuju padanya. Menyadari dengan apa yang baru saja
terjadi, Via langsung tersenyum canggung pada semua yang memperhatiannya sambil
menggumamkan kata maaf dengan pelan.
Dan Via sedikit
merasa terselamatkan saat kedua matanya menangkap siluet Rio yang saat itu
memasuki Kafetaria. Via tersenyum lebar lalu melambaikan tangannya kearah Rio,
tapi Rio malah terus berjalan tanpa sedikitpun menghiraukannya. Dan dengan
cueknya, Rio melewati meja Via begitu saja dan menghampiri Alvin bersama Cakka
yang duduk dimeja pojok.
“Kak Rio rese”
gerutu Via pelan sambil menunduk sedalam-dalamnya.
“Tapi gue gak
rese dong” kata seseorang yang tiba-tiba saja datang lalu meletakkan 1 kaleng
minuman bersoda diatas meja, ia lalu duduk dihadapan Via lalu melipat kedua
tangannya diatas meja.
Menyadari bahwa
ia tidak lagi sendiri di Kafetaria yang membosankan itu, Via pun mengangkat
wajahnya, dan senyuman manis super mematikan milik Iel langsung menyambutnya,
dengan santainya Iel melambaikan tangannya.
“Hay… Via…”
sapanya dengan bersahabat.
“Kak Iel?”
“Iya gue…” Via
hanya mengangguk sambil menggaruk kepala bagian belakangnya yang sama sekali
tidak gatal.
“By the way, kok lo bisa masuk Speranza
sih?” Tanya Iel yang memang merasa penasaran sejak pertama kali melihat
kehadiran Via pagi tadi.
“Gue dapet
beasiswa, Kak” jawab Via seadanya, dan Via berharap itu cukup untuk Iel. Iel
mengangguk paham lalu meneguk minuman kalengnya. Sepertinya Iel tidak terlalu
mau tahu dengan alasan kenapa Via bisa mendapatkan beasiswa dadakan masuk ke
sekolah ini. Tapi diam-diam Iel pasti akan mencari tahu alasan yang sebenarnya.
“Lo udah cerita
sama Ify?” Tanya Iel –lagi-
“Udah kok, Kak…
udah”
Dan selanjutnya,
Via yang awalnya agak risih dengan Iel akhirnya terlihat begitu menikmati
kebersamaannya dengan Iel karna obrolan-obrolan menyenangkan yang Iel suguhkan.
Via yang tadinya hanya cemberut kini bisa tertawa lepas karna kehadiran Iel. Dan
Alvin yang sejak tadi diam-diam memperhatikan mereka dari meja pojok langsung
mencengkram kuat salah satu tangannya, menahan emosi. Alvin telah merasa, bahwa
Iel selangkah lebih maju dari dirinya, dan Alvin tidak akan pernah membiarkan
hal itu bertahan lama.
♥♥♥
“ALVIN!” Panggil
Via dari kejauhan saat melihat Alvin yang berjalan di koridor ketika jam pulang
sekolah tiba. Merasa ada yang memanggil namanya, Alvin menghentikan langkahnya
lalu menoleh kebelakang, tepat saat itu juga, Via sudah berdiri dihadapannya
dengan desauan napas yang tidak teratur.
“Gue mau ngomong
sama lo” jeda sesaat untuk mengambil napas. “Ini penting!” lanjutnya kemudian.
Alvin mengernyit,
ia menatap kesekeliling untuk beberapa saat lalu kembali menatap Via.
“Gue Kakak kelas
lo disini. Jadi bisa kan lo lebih sopan dikit?”
“Whatever! Gue gak peduli. Gue udah
terlanjur kesel sama semua kelakuan lo yang suka seenaknya itu. Lagian gue jadi
babu Cuma di Apartement lo aja, diluar itu? Gue bebas, dan sekarang gue perlu
ngomong sama lo!”
Alvin mengangkat
salah satu alisnya, sepertinya Gadis ini benar-benar ingin menantangnya.
“Apa?” Tanya Alvin
dingin sambil melipat kedua tangannya didepan dada.
“Gue ijin telat
setengah jam. Ada urusan yang harus gue selesein”
“Gak bisa!” jawab
Alvin tegas tanpa perlu berpikir. Via Nampak terkejut, tapi ia berusaha
bersikap senormal mungkin. Via menghela napas beberapa kali lalu menatap Alvin
dengan muak.
“Terserah mau lo
ijinin apa gak, gue gak peduli! Dengan atau tanpa ijin dari lo gue tetep pergi”
“Elo –“
“Sampe ketemu di
Apartement lo setengah jam lagi. Kalo lo mau marah, sebaiknya lo tahan dulu
selama setengah jam. Setelah gue dateng ke Apartement lo nanti, terserah lo mau
ngapain aja, gue gak akan ngelawan. Oke, Bye KAK ALVIN!” Kata Via dengan
penekanan penuh pada dua kata terakhirnya. Via lalu berlari dan pergi
meninggalkan Alvin dengan berjuta-juta emosi yang sudah siap untuk ia
muntahkan.
“VIA! LO KEMBALI
SEKARANG JUGA! INI PERINTAH” Teriak Alvin yang malah tidak gubris apapun oleh
Via. Dan saat Via benar-benar menghilang dari pandangannya, Alvin langsung
meninju udara untuk melampiaskan kekesalannya.
Tapi ditengah-tengah
kemarahannya pada Via, Alvin tiba-tiba mengingat ucapan Via tadi.
“Sampe
ketemu di Apartement lo setengah jam lagi. Kalo lo mau marah, sebaiknya lo
tahan dulu selama setengah jam. Setelah gue dateng ke Apartement lo nanti,
terserah lo mau ngapain aja, gue gak akan ngelawan. Oke, Bye KAK ALVIN!”
Seringai licik
langsung menghiasi wajah tampannya detik itu juga. Alvin tersenyum penuh
kemenangan.
“Oke, gue akan
ngelakuin apapun yang gue mau tanpa perlu susah-susah ngadepin elo yang keras
kepala. Elo kan yang mau ini semua?”
To Be Continued…


0 comments:
Post a Comment