“Kak Alvin kenapa??” Tanya Chelsea panic
–Adik Alvin- ketika ia membuka pintu dan melihat Via membawa Kakaknya dalam
keadaan babak belur. Chelsea mendekati Alvin lalu sedikit mengangkat dagu Alvin
untuk melihat keadaan wajahnya dengan lebih jelas lagi. Apa yang Chelsea
lakukan itu justru membuat Alvin meringis kesakitan dan secara otomatis menepis
tangan Chelsea dari dagunya.
“Sakit Chel.
Udah deh gak usah lebay, gue gak apa-apa kok”
“Chelsea
Cuma khawatir sama Kakak” rengeknya dengan manja.
Melihat akan
terjadi perang mulut diantara Kakak-Beradik itu, Via langsung mengambil
inisiatif untuk melerai mereka. 3 tahun bersahabat dekat dengan Alvin, membuat
Via hafal betul bagaimana hubungan antara Chelsea dan Alvin, dan jika sudah
begini, mereka harus buru-buru dilerai.
“Chelsea,
bantu Kak Via bawa Kak Alvin kekamarnya ya?”
“i-iya Kak…”
sahut Chelsea lalu segera meraih tangan Alvin yang bebas dan melingkarkannya
dipundaknya.
“Chel, ada
betadine dan kapas?” Tanya Via pada Chelsea saat mereka baru saja membantu
Alvin merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Chelsea buru-buru mengangguk.
“ada Kak, biar Chelsea yang ambil, Kakak tunggu disini ya?” ujar Chelsea lalu
segera keluar dari kamar Alvin sebelum mendapat persetujuan dari Via. Bagi
Chelsea, sekarang ini keadaan Alvin jauh lebih penting dari apapun juga.
“tapi Chel
–“ baru saja Via akan keluar dari kamar Alvin hendak menyusul Chelsea,
tiba-tiba saja langkahnya terhenti saat tangan kokoh milik Alvin mencekal
pergelangan tangannya.
“temenin gue
disini”
“ta- tapi….”
“please…” pinta Alvin dengan wajah yang
benar-benar memohon. Via akhirnya memilih untuk mengalah.
***
Berkali-kali
Cakka melirik kearah pintu, berharap Via tiba-tiba akan menyembul dari balik
pintu dan tersenyum padanya, tapi hingga jauh waktu, Via gak juga muncul. Dan
yang membuat Cakka semakin cemas adalah, ponsel Via sedang dalam keadaan tidak
aktif. sudah hampir 10 kali Cakka berusaha menghubungi Via, tapi tetap saja gak
ada jawaban apapun.
Hari sudah menjelang sore, tanpa terasa 1 jam
sudah Cakka duduk diruang tamu Via bersama Iel sambil menonton tv. Iel yang
bisa menangkap dengan sangat jelas kekalutan yang kini tengah dirasakan Cakka
hanya bisa memunculkan senyum miringnya seakan mencibir.
“gak usah
terlalu dipikirin, kalo gak lagi sama Deva dan Acha, Via paling lagi ngumpul
bareng sama gank rumpinya, siapa-siapa sih namanya itu, Ify, Zahra dan Agni
bukan?” kata Iel yang seakan mampu membaca jalan pikiran Cakka.
Cakka hanya
mengangguk sekilas. Raut kecemasan itu masih bergelayut diwajah tampannya.
“tadi gue
udah SMS Acha sama Deva, katanya mereka lagi gak bareng. Gitu juga dengan Agni,
Agni bilang, mereka lagi gak ngumpul”
Iel terkekeh
pelan sambil berpikir: ‘segitu sukanya ya lo sama adek gue?’. Iel menepuk pelan
pundak Cakka beberapa kali lantas bangkit dari sofa yang sejak tadi ia duduki
bersama Cakka.
“daripada lo
suntuk mikirin adek gue yang gak jelas juntrungannya itu, mending kita main
basket yuk dilapangan komplek!”
“tapi….”
“gak pake
tapi ya, Kka! Udah ayo, ntar juga Via pulang kok. Percaya deh sama gue, dia gak
bakalan kenapa-napa”
Cakka hanya
menampakan wajah memohon, tapi Iel tetap bertahan dengan senyum meneduhkannya.
“trust me…” kata Iel pelan, berusaha
meyakinkan dan menenangkan Cakka.
Cakka lalu
mengangguk dan bangkit.
***
“gue minta
maaf karna tadi –“
“gak perlu!”
sanggah Via cepat sebelum Alvin menyelesaikan perkataannya. Untuk sejenak Alvin
terpaku menatap Via, rasa bersalah itu kian menjadi dibenaknya. Tidak
seharusnya Alvin melakukan tindakan bodoh itu hanya untuk mendapat perhatian
Via. “lo gak perlu minta maaf, harusnya gue yang bilang makasih sama lo karna
lo udah nolongin gue” lanjut Via sambil menatap Alvin penuh kesungguhan.
“tapi ponsel
lo, uang lo, semuanya ilang Cuma karna lo pengen nyelametin gue”
“terus gue
harus gimana? Ngebiarin lo mati di keroyok sama preman jelek itu?” cecar Via
dengan suara sedikit bergetar.
“Via lo –“
“Kak Via nih
kotak P3K nya” kehadiran Chelsea yang secara tiba-tiba didalam kamar Alvin
langsung membuat ucapan Alvin tadi terpotong. Dan suasana serba canggung yang
tadi menyelimuti mereka langsung pecah.
Chelsea
berjalan mendekati Via lalu menyerahkan kotak P3K itu pada Via. Via menerimanya
dan dengan sigap langsung menyiapkan segalanya dengan telaten.
“Kak Alvin,
aku biar telfon Ayah sama Bunda ya? Mereka harus tau –“
“jangan!”
sergah Alvin.
“tapi –“
“lo mau liat
gue dibunuh sama Ayah gara-gara ngeliat keadaan gue yang babak belur ini?”
“bukan gitu
Kak”
“sekarang lo
keluar dari kamar gue!”
Tidak mau
bertengkar lagi dengan Alvin, Chelsea pun memilih untuk segera keluar dari
kamar Alvin. Via hanya bisa menatap Chelsea dengan tatapan prihatin.
Beberapa saat setelah kepergian
Chelsea…
“lo terlalu
kasar sama Chelsea, Vin”
“gue gak
akan kasar kalo dia gak keras kepala, gue –“ Alvin tidak melanjutkan
perkataannya ketika Via secara tiba-tiba menyapu luka memar yang ada ditepi
bibirnya dengan secarik kapas yang sudah ditetesi dengan beberapa tetes
betadine.
Untuk
beberapa detik Alvin membeku. Tanpa ia komando, jantungnya malah berdetak 2
kali lebih cepat dari biasanya. Ada apa dengannya? Jarak wajahnya dengan wajah
Via yang hanya berjarak beberapa centi saja semakin membuat perasaan Alvin
tidak karuan, apalagi jika ingatan tentang malam itu terlintas dikepalanya.
Alvin menghembuskan napasnya perlahan untuk mengontrol detak jantungnya, tapi
hasilnya nihil.
Kenapa juga
sekarang Alvin jadi susah mengontrol dirinya sendiri? Dulu saat bersama Shilla,
Alvin bahkan tidak sampai seperti ini. Atau apa jangan-jangan Alvin benar-benar
jatuh cinta pada ‘mantan’ sahabatnya ini?
“Ayah Bunda
lo lagi ngelakuin perjalanan bisnis ya? Kali ini kemana?” Tanya Via setelah ia
selesai mengobati beberapa luka memar diwajah Alvin. Alvin tersentak dan
langsung tertarik dari lamunan panjangnya.
“Ke
Makassar. Emm.. Lo selalu tau ya?” kata Alvin sedikit menggoda. Asli, Via
langsung salah tingkah dibuatnya. Via berpikir cepat, berusaha mencari alibi.
Jika tidak begitu, bisa-bisa ia mati berdiri gara-gara terus digoda oleh player
sengak ini.
“bukannya
dari SMP selalu begitu?” Via berusaha keras menyembunyikan kesalahtingkahannya,
tapi terlanjur. Karna Alvin telah lebih dulu menangkap semuanya diawal.
“bener juga.
Harusnya gue tau kalo daya inget lo itu melebihi Einstein” Alvin terkekeh
pelan. Sementara Via, ia hanya menampakkan senyuman tipisnya.
Bingung
harus berkata apalagi, Via pun melirik arloji yang terlingkar dengan manis dipergelangan
tangan kirinya. Via lalu menatap Alvin sejenak hendak pamit pulang.
“udah sore.
Gue pulang ya? Takutnya Bokap Nyokap sama Mas Iel nyariin gue”
Sebelum
mendapat persetujuan dari Alvin, Via langsung bangkit dari sisi tempat tidur
Alvin. Tapi Alvin dengan sigap mencekal pergelangan tangannya.
“gue anter!”
“tapi lo kan
lagi sakit”
“gue gak
peduli”
***
“Mas Iel”
panggil Cakka ditengah-tengah permainan.
“apa?” sahut
Gabriel sambil tetap focus mendrible bola yang ada ditangannya.
“HP gue
ketinggalan dirumah lo nih. Gue ambil bentar ya?”
“ya udah
cepetan. Gue gak mau maen sendiri terlalu lama”
Cakka hanya
mengangguk sambil mengangkat salah satu jempolnya. Cakka lalu berlari
meninggalkan lapangan komplek dan menyisakan Gabriel hanya seorang diri disana.
Gabriel mendengus menatap kepergian Cakka yang kian menghilang dari
pandangannya. Gabriel menghela napas panjang lalu menembakan bola yang ada
ditangannya kearah ring dan… masuk!
***
Via langsung
meloncat turun dari Ninja Merah milik Alvin ketika mereka sudah tiba didepan
gerbang rumah Via. Hari sudah beranjak senja, matahari pun sudah nyaris
menghilang diufuk barat dan menggoreskan jingga yang menakjubkan dibentang
cakrawala.
Via terdiam
sejenak, begitu juga dengan Alvin. Mereka saling menatap satu sama lain tanpa
tahu harus berkata apa.
“lo gak
masuk?” pertanyaan yang Alvin lemparkan itu tiba-tiba saja membuat Via
terkesiap. Ia menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal lalu tersenyum
kaku pada Alvin.
“nih udah
mau masuk” baru saja Via akan berbalik, tiba-tiba saja…
“Via”
panggil Alvin pelan.
“ya?”
“apa lo…”
jeda sesaat. “apa lo bener-bener gak bisa buka pintu hati lo buat gue?”
lanjutnya.
Via menelan
ludahnya dalam-dalam ketika Alvin melayangkan sebuah pertanyaan yang
benar-benar telak. Dan Via kembali dilanda kebingungan. Jika ingin jujur,
sebenarnya ia mulai menyadari bahwa sejak lama ia telah menyukai Alvin. Tapi,
ikatan persahabatannya dengan Shilla juga kesanksiannya atas perasaan Alvin
membuatnya benar-benar dilemma. Bagaimana jika Alvin tidak sungguh-sungguh?
Bagaimana jika Alvin hanya ingin mempermainkan perasaannya saja? Atau bagaimana
jika Alvin bersungguh-sungguh padanya, tapi Shilla malah masih menyimpan rasa
untuk Alvin? Apa nantinya Via tidak akan menjadi seorang pengkhianat? Lalu apa
yang akan ia katakan oleh Acha dan Deva? Itulah sekelebat pertanyaan yang
menghantui benaknya. Disatu sisi Via terlalu takut membayangkan kemungkinan
buruk yang mungkin akan terjadi padanya juga pada persahabatannya, tapi disisi
lain, Via merasa tidak sanggup jika harus terus menerus membohongi perasaannya
dan menjadi cewek munafik untuk seterusnya.
“Via…”
Via langsung
tersentak dari lamunan panjangnya dan buru-buru melihat kearah Alvin.
“kalo lo gak
bisa jawab sekarang, gak perlu lo paksain. Gue gak maksa lo kok” Alvin sangat
berharap bahwa ucapannya kali ini benar-benar terdengar sungguh-sungguh.
Tapi melihat
Via yang seakan tidak merespon ucapannya, membuat Alvin sedikit putus asa.
Alvin menghela napas beratnya lalu menstarter motornya.
“gue pamit”
Tepat saat
Alvin akan menjalankan motornya, tiba-tiba saja Via menahan lengannya sembari
berkata, “Alvin tunggu!”
Alvin hanya
menatap Via dengan pandangan bertanya. Via memejamkan kedua matanya, ia menarik
napas dalam-dalam berusaha meyakinkan hatinya tentang pilihan yang hendak ia
ambil. Semoga tidak salah. Harapnya dalam hati.
“tolong!
Kasi gue satu bukti yang bisa bikin gue bener-bener yakin kalo lo emang
bener-bener serius sama gue”
“Hey!” Alvin
menyentuh kedua sisi wajah Via dengan kedua tangannya. Alvin menatap Via penuh
kesungguhan dan untuk sejenak menepikan semua rencana liciknya diawal.
“buka mata
lo dan tatap mata gue!”
Via
mengikuti ucapan Alvin. Dan ketika ia menatap kedua mata Alvin yang penuh
dengan sinar kesungguhan tanpa setitikpun sinar kebohongan, Via makin tersesat
oleh perasaannya sendiri.
“sekarang
gue mungkin gak bisa ngasih bukti nyata ke elo tentang kesungguhan gue, dan gue
rasa untuk seterusnya gue gak akan bisa ngasih bukti ke elo. Tapi… gue serahin
semuanya ke elo. Lo boleh nilai gue sesuka hati lo seiring berjalannya waktu,
kalo lo ngerasa gue bersungguh-sungguh, lo bisa ngasih kepercayaan ke gue, tapi
kalo gak, gue gak akan pernah maksa lo lagi, dan mungkin… gue akan ngelepasin
elo, Sivia…”
“gue akan
kasi lo waktu” sergah Via.
“maksud lo?”
Tanya Alvin sedikit bingung. Via menurunkan kedua tangan Alvin dari wajahnya
lalu menggenggamnya erat. Tidak lama, Via lalu sedikit mencondongkan wajahnya
agar lebih mendekat kearah Alvin, dan… cuuup! Sebuah kecupan hangat mendarat
dipipi kanan Alvin.
“gue mau
jadi pacar lo”
Alvin
membeku untuk beberapa saat. Entah kenapa ia merasa bahwa semua ini tidak
nyata, bahwa semua ini masih seperti mimpi. Via tersenyum kecil dan melangkah pergi
meninggalkan Alvin. Hari ini, egonya benar-benar telah mengalahkannya dan
meruntuhkan tembok pertahanan yang selama ini mati-matian ia bangun. Hanya
dalam hitungan detik, tembok itu runtuh menjadi kepingan-kepingan tidak
bermakna. Mungkin setelah Via akan menjadi seorang pengkhianat, tapi untuk kali
ini saja Via mencoba untuk tidak peduli dan mendengarkan kata hatinya. Menerima
Alvin menjadi pacarnya adalah kesalahan terindah yang pernah ia lakukan dalam
hidupnya. Mungkin nanti Via akan menyesal, tapi untuk kali ini biarkan ia
menikmati alur perasaannya sendiri.
Langkah Via
tahu-tahu terhenti saat sebuah tangan milik Alvin menarik lengannya dan
membawanya kedalam dekapan hangatnya. Nyaman, itulah hal pertama yang Via
rasakan ketika Alvin memeluknya.
“makasih
udah kasi gue kesempatan…” Via tidak menjawab juga tidak mengangguk.
Dalam
diamnya, Ia berusaha mati-matian menahan keinginanya untuk membalas pelukan
Alvin. Via mencengkram kedua tangannya kuat-kuat, dan saat tanpa sadar kedua
tangan itu terangkat hendak merengkuh tubuh kekar Alvin, Via kembali
menurunkannya saat wajah Shilla terlintas diotaknya. Via menghela napas
panjangnya, berusaha melawan segala gejolak didadanya.
‘maafin gue, Shill….’ Bathinnya. Pada
akhirnya Via pun mengurungkan niatnya untuk membalas pelukan Alvin, sekalipun
ia sangat ingin membalasnya.
Dan Cakka
yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari jarak Alvin dan Via sekarang merasakan
jantungnya terbakar saat melihat adegan menyesakkan itu. Perlahan, Cakka berjalan
mundur lalu meninggalkan serpihan-serpihan hatinya disana.
Via telah
memilih Alvin, bukan dirinya.
BERSAMBUNG...


0 comments:
Post a Comment