Saturday, April 5, 2014

0

Cinta Bikin Galau 10 –Kesalahan Terindah-






                “Kak Alvin kenapa??” Tanya Chelsea panic –Adik Alvin- ketika ia membuka pintu dan melihat Via membawa Kakaknya dalam keadaan babak belur. Chelsea mendekati Alvin lalu sedikit mengangkat dagu Alvin untuk melihat keadaan wajahnya dengan lebih jelas lagi. Apa yang Chelsea lakukan itu justru membuat Alvin meringis kesakitan dan secara otomatis menepis tangan Chelsea dari dagunya.
            “Sakit Chel. Udah deh gak usah lebay, gue gak apa-apa kok”
            “Chelsea Cuma khawatir sama Kakak” rengeknya dengan manja.
            Melihat akan terjadi perang mulut diantara Kakak-Beradik itu, Via langsung mengambil inisiatif untuk melerai mereka. 3 tahun bersahabat dekat dengan Alvin, membuat Via hafal betul bagaimana hubungan antara Chelsea dan Alvin, dan jika sudah begini, mereka harus buru-buru dilerai.
            “Chelsea, bantu Kak Via bawa Kak Alvin kekamarnya ya?”
            “i-iya Kak…” sahut Chelsea lalu segera meraih tangan Alvin yang bebas dan melingkarkannya dipundaknya.
            “Chel, ada betadine dan kapas?” Tanya Via pada Chelsea saat mereka baru saja membantu Alvin merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Chelsea buru-buru mengangguk. “ada Kak, biar Chelsea yang ambil, Kakak tunggu disini ya?” ujar Chelsea lalu segera keluar dari kamar Alvin sebelum mendapat persetujuan dari Via. Bagi Chelsea, sekarang ini keadaan Alvin jauh lebih penting dari apapun juga.
            “tapi Chel –“ baru saja Via akan keluar dari kamar Alvin hendak menyusul Chelsea, tiba-tiba saja langkahnya terhenti saat tangan kokoh milik Alvin mencekal pergelangan tangannya.
            “temenin gue disini”
            “ta- tapi….”
            please…” pinta Alvin dengan wajah yang benar-benar memohon. Via akhirnya memilih untuk mengalah.




***


            Berkali-kali Cakka melirik kearah pintu, berharap Via tiba-tiba akan menyembul dari balik pintu dan tersenyum padanya, tapi hingga jauh waktu, Via gak juga muncul. Dan yang membuat Cakka semakin cemas adalah, ponsel Via sedang dalam keadaan tidak aktif. sudah hampir 10 kali Cakka berusaha menghubungi Via, tapi tetap saja gak ada jawaban apapun.
 Hari sudah menjelang sore, tanpa terasa 1 jam sudah Cakka duduk diruang tamu Via bersama Iel sambil menonton tv. Iel yang bisa menangkap dengan sangat jelas kekalutan yang kini tengah dirasakan Cakka hanya bisa memunculkan senyum miringnya seakan mencibir.
            “gak usah terlalu dipikirin, kalo gak lagi sama Deva dan Acha, Via paling lagi ngumpul bareng sama gank rumpinya, siapa-siapa sih namanya itu, Ify, Zahra dan Agni bukan?” kata Iel yang seakan mampu membaca jalan pikiran Cakka.
            Cakka hanya mengangguk sekilas. Raut kecemasan itu masih  bergelayut diwajah tampannya.
            “tadi gue udah SMS Acha sama Deva, katanya mereka lagi gak bareng. Gitu juga dengan Agni, Agni bilang, mereka lagi gak ngumpul”
            Iel terkekeh pelan sambil berpikir: ‘segitu sukanya ya lo sama adek gue?’. Iel menepuk pelan pundak Cakka beberapa kali lantas bangkit dari sofa yang sejak tadi ia duduki bersama Cakka.
            “daripada lo suntuk mikirin adek gue yang gak jelas juntrungannya itu, mending kita main basket yuk dilapangan komplek!”
            “tapi….”
            “gak pake tapi ya, Kka! Udah ayo, ntar juga Via pulang kok. Percaya deh sama gue, dia gak bakalan kenapa-napa”
            Cakka hanya menampakan wajah memohon, tapi Iel tetap bertahan dengan senyum meneduhkannya. “trust me…” kata Iel pelan, berusaha meyakinkan dan menenangkan Cakka.
            Cakka lalu mengangguk dan bangkit.




***


            “gue minta maaf karna tadi –“
            “gak perlu!” sanggah Via cepat sebelum Alvin menyelesaikan perkataannya. Untuk sejenak Alvin terpaku menatap Via, rasa bersalah itu kian menjadi dibenaknya. Tidak seharusnya Alvin melakukan tindakan bodoh itu hanya untuk mendapat perhatian Via. “lo gak perlu minta maaf, harusnya gue yang bilang makasih sama lo karna lo udah nolongin gue” lanjut Via sambil menatap Alvin penuh kesungguhan.
            “tapi ponsel lo, uang lo, semuanya ilang Cuma karna lo pengen nyelametin gue”
            “terus gue harus gimana? Ngebiarin lo mati di keroyok sama preman jelek itu?” cecar Via dengan suara sedikit bergetar.
            “Via lo –“
            “Kak Via nih kotak P3K nya” kehadiran Chelsea yang secara tiba-tiba didalam kamar Alvin langsung membuat ucapan Alvin tadi terpotong. Dan suasana serba canggung yang tadi menyelimuti mereka langsung pecah.
            Chelsea berjalan mendekati Via lalu menyerahkan kotak P3K itu pada Via. Via menerimanya dan dengan sigap langsung menyiapkan segalanya dengan telaten.
            “Kak Alvin, aku biar telfon Ayah sama Bunda ya? Mereka harus tau –“
            “jangan!” sergah Alvin.
            “tapi –“
            “lo mau liat gue dibunuh sama Ayah gara-gara ngeliat keadaan gue yang babak belur ini?”
            “bukan gitu Kak”
            “sekarang lo keluar dari kamar gue!”
            Tidak mau bertengkar lagi dengan Alvin, Chelsea pun memilih untuk segera keluar dari kamar Alvin. Via hanya bisa menatap Chelsea dengan tatapan prihatin.

Beberapa saat setelah kepergian Chelsea…

            “lo terlalu kasar sama Chelsea, Vin”
            “gue gak akan kasar kalo dia gak keras kepala, gue –“ Alvin tidak melanjutkan perkataannya ketika Via secara tiba-tiba menyapu luka memar yang ada ditepi bibirnya dengan secarik kapas yang sudah ditetesi dengan beberapa tetes betadine.
            Untuk beberapa detik Alvin membeku. Tanpa ia komando, jantungnya malah berdetak 2 kali lebih cepat dari biasanya. Ada apa dengannya? Jarak wajahnya dengan wajah Via yang hanya berjarak beberapa centi saja semakin membuat perasaan Alvin tidak karuan, apalagi jika ingatan tentang malam itu terlintas dikepalanya. Alvin menghembuskan napasnya perlahan untuk mengontrol detak jantungnya, tapi hasilnya nihil.
            Kenapa juga sekarang Alvin jadi susah mengontrol dirinya sendiri? Dulu saat bersama Shilla, Alvin bahkan tidak sampai seperti ini. Atau apa jangan-jangan Alvin benar-benar jatuh cinta pada ‘mantan’ sahabatnya ini?
            “Ayah Bunda lo lagi ngelakuin perjalanan bisnis ya? Kali ini kemana?” Tanya Via setelah ia selesai mengobati beberapa luka memar diwajah Alvin. Alvin tersentak dan langsung tertarik dari lamunan panjangnya.
            “Ke Makassar. Emm.. Lo selalu tau ya?” kata Alvin sedikit menggoda. Asli, Via langsung salah tingkah dibuatnya. Via berpikir cepat, berusaha mencari alibi. Jika tidak begitu, bisa-bisa ia mati berdiri gara-gara terus digoda oleh player sengak ini.
            “bukannya dari SMP selalu begitu?” Via berusaha keras menyembunyikan kesalahtingkahannya, tapi terlanjur. Karna Alvin telah lebih dulu menangkap semuanya diawal.
            “bener juga. Harusnya gue tau kalo daya inget lo itu melebihi Einstein” Alvin terkekeh pelan. Sementara Via, ia hanya menampakkan senyuman tipisnya.
            Bingung harus berkata apalagi, Via pun melirik arloji yang terlingkar dengan manis dipergelangan tangan kirinya. Via lalu menatap Alvin sejenak hendak pamit pulang.
            “udah sore. Gue pulang ya? Takutnya Bokap Nyokap sama Mas Iel nyariin gue”
            Sebelum mendapat persetujuan dari Alvin, Via langsung bangkit dari sisi tempat tidur Alvin. Tapi Alvin dengan sigap mencekal pergelangan tangannya.

            “gue anter!”

            “tapi lo kan lagi sakit”

            “gue gak peduli”




***


            “Mas Iel” panggil Cakka ditengah-tengah permainan.
            “apa?” sahut Gabriel sambil tetap focus mendrible bola yang ada ditangannya.
            “HP gue ketinggalan dirumah lo nih. Gue ambil bentar ya?”
            “ya udah cepetan. Gue gak mau maen sendiri terlalu lama”
            Cakka hanya mengangguk sambil mengangkat salah satu jempolnya. Cakka lalu berlari meninggalkan lapangan komplek dan menyisakan Gabriel hanya seorang diri disana. Gabriel mendengus menatap kepergian Cakka yang kian menghilang dari pandangannya. Gabriel menghela napas panjang lalu menembakan bola yang ada ditangannya kearah ring dan… masuk!




***


            Via langsung meloncat turun dari Ninja Merah milik Alvin ketika mereka sudah tiba didepan gerbang rumah Via. Hari sudah beranjak senja, matahari pun sudah nyaris menghilang diufuk barat dan menggoreskan jingga yang menakjubkan dibentang cakrawala.
            Via terdiam sejenak, begitu juga dengan Alvin. Mereka saling menatap satu sama lain tanpa tahu harus berkata apa.
            “lo gak masuk?” pertanyaan yang Alvin lemparkan itu tiba-tiba saja membuat Via terkesiap. Ia menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal lalu tersenyum kaku pada Alvin.
            “nih udah mau masuk” baru saja Via akan berbalik, tiba-tiba saja…
            “Via” panggil Alvin pelan.
            “ya?”
            “apa lo…” jeda sesaat. “apa lo bener-bener gak bisa buka pintu hati lo buat gue?” lanjutnya.
            Via menelan ludahnya dalam-dalam ketika Alvin melayangkan sebuah pertanyaan yang benar-benar telak. Dan Via kembali dilanda kebingungan. Jika ingin jujur, sebenarnya ia mulai menyadari bahwa sejak lama ia telah menyukai Alvin. Tapi, ikatan persahabatannya dengan Shilla juga kesanksiannya atas perasaan Alvin membuatnya benar-benar dilemma. Bagaimana jika Alvin tidak sungguh-sungguh? Bagaimana jika Alvin hanya ingin mempermainkan perasaannya saja? Atau bagaimana jika Alvin bersungguh-sungguh padanya, tapi Shilla malah masih menyimpan rasa untuk Alvin? Apa nantinya Via tidak akan menjadi seorang pengkhianat? Lalu apa yang akan ia katakan oleh Acha dan Deva? Itulah sekelebat pertanyaan yang menghantui benaknya. Disatu sisi Via terlalu takut membayangkan kemungkinan buruk yang mungkin akan terjadi padanya juga pada persahabatannya, tapi disisi lain, Via merasa tidak sanggup jika harus terus menerus membohongi perasaannya dan menjadi cewek munafik untuk seterusnya.
            “Via…”
            Via langsung tersentak dari lamunan panjangnya dan buru-buru melihat kearah Alvin.
            “kalo lo gak bisa jawab sekarang, gak perlu lo paksain. Gue gak maksa lo kok” Alvin sangat berharap bahwa ucapannya kali ini benar-benar terdengar sungguh-sungguh.
            Tapi melihat Via yang seakan tidak merespon ucapannya, membuat Alvin sedikit putus asa. Alvin menghela napas beratnya lalu menstarter motornya.
            “gue pamit”
            Tepat saat Alvin akan menjalankan motornya, tiba-tiba saja Via menahan lengannya sembari berkata, “Alvin tunggu!”
            Alvin hanya menatap Via dengan pandangan bertanya. Via memejamkan kedua matanya, ia menarik napas dalam-dalam berusaha meyakinkan hatinya tentang pilihan yang hendak ia ambil. Semoga tidak salah. Harapnya dalam hati.
            “tolong! Kasi gue satu bukti yang bisa bikin gue bener-bener yakin kalo lo emang bener-bener serius sama gue”
            “Hey!” Alvin menyentuh kedua sisi wajah Via dengan kedua tangannya. Alvin menatap Via penuh kesungguhan dan untuk sejenak menepikan semua rencana liciknya diawal.
            “buka mata lo dan tatap mata gue!”
            Via mengikuti ucapan Alvin. Dan ketika ia menatap kedua mata Alvin yang penuh dengan sinar kesungguhan tanpa setitikpun sinar kebohongan, Via makin tersesat oleh perasaannya sendiri.
            “sekarang gue mungkin gak bisa ngasih bukti nyata ke elo tentang kesungguhan gue, dan gue rasa untuk seterusnya gue gak akan bisa ngasih bukti ke elo. Tapi… gue serahin semuanya ke elo. Lo boleh nilai gue sesuka hati lo seiring berjalannya waktu, kalo lo ngerasa gue bersungguh-sungguh, lo bisa ngasih kepercayaan ke gue, tapi kalo gak, gue gak akan pernah maksa lo lagi, dan mungkin… gue akan ngelepasin elo, Sivia…”
            “gue akan kasi lo waktu” sergah Via.
            “maksud lo?” Tanya Alvin sedikit bingung. Via menurunkan kedua tangan Alvin dari wajahnya lalu menggenggamnya erat. Tidak lama, Via lalu sedikit mencondongkan wajahnya agar lebih mendekat kearah Alvin, dan… cuuup! Sebuah kecupan hangat mendarat dipipi kanan Alvin.
            “gue mau jadi pacar lo”
            Alvin membeku untuk beberapa saat. Entah kenapa ia merasa bahwa semua ini tidak nyata, bahwa semua ini masih seperti mimpi. Via tersenyum kecil dan melangkah pergi meninggalkan Alvin. Hari ini, egonya benar-benar telah mengalahkannya dan meruntuhkan tembok pertahanan yang selama ini mati-matian ia bangun. Hanya dalam hitungan detik, tembok itu runtuh menjadi kepingan-kepingan tidak bermakna. Mungkin setelah Via akan menjadi seorang pengkhianat, tapi untuk kali ini saja Via mencoba untuk tidak peduli dan mendengarkan kata hatinya. Menerima Alvin menjadi pacarnya adalah kesalahan terindah yang pernah ia lakukan dalam hidupnya. Mungkin nanti Via akan menyesal, tapi untuk kali ini biarkan ia menikmati alur perasaannya sendiri.
            Langkah Via tahu-tahu terhenti saat sebuah tangan milik Alvin menarik lengannya dan membawanya kedalam dekapan hangatnya. Nyaman, itulah hal pertama yang Via rasakan ketika Alvin memeluknya.

            “makasih udah kasi gue kesempatan…” Via tidak menjawab juga tidak mengangguk.
            Dalam diamnya, Ia berusaha mati-matian menahan keinginanya untuk membalas pelukan Alvin. Via mencengkram kedua tangannya kuat-kuat, dan saat tanpa sadar kedua tangan itu terangkat hendak merengkuh tubuh kekar Alvin, Via kembali menurunkannya saat wajah Shilla terlintas diotaknya. Via menghela napas panjangnya, berusaha melawan segala gejolak didadanya.

            ‘maafin gue, Shill….’ Bathinnya. Pada akhirnya Via pun mengurungkan niatnya untuk membalas pelukan Alvin, sekalipun ia sangat ingin membalasnya.


            Dan Cakka yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari jarak Alvin dan Via sekarang merasakan jantungnya terbakar saat melihat adegan menyesakkan itu. Perlahan, Cakka berjalan mundur lalu meninggalkan serpihan-serpihan hatinya disana.


            Via telah memilih Alvin, bukan dirinya.





BERSAMBUNG...

0 comments:

Post a Comment