Tuesday, April 22, 2014

0

If Mr.Arrogant In Love (Saat Cinta Datang Tanpa Bilang-Bilang) -Chapter 5B-



Cinta itu datang perlahan, amat perlahan, mengusik segala hal yang kau tahu awalnya baik-baik saja.
Cinta itu menjamah hatimu dengan sangat lembut, bahkan karna terlalu lembut kau sampai tidak menyadari bahwa benih-benih cinta itu mulai tertanam didasar hatimu yang terdalam.
Kau hanya tinggal menunggu waktu saat cinta itu tumbuh berkembang dan mekar dengan indah, saat itu tiba, kau akan menyadari bahwa cinta itu memang telah ada sejak lama, jauh sebelum kau menyadarinya.
Saat kau mulai menyadarinya nanti, kau mungkin akan berusaha membuat sebuah penyangkalan-penyangkalan akan hatimu, tapi ketahuilah… Kau tidak akan pernah bisa menghindar dari rasa cinta itu.
Ia akan tetap ada dan bersemayam dihatimu sampai waktu yang kau sendiri tidak bisa menentukannya…
                                           
♥♥♥

            Setelah mengantar Shilla pulang, Cakka langsung pulang kerumahnya tanpa perlu repot-repot mampir ke tempat tongkrongannya seperti yang biasa ia lakukan saat pulang sekolah.
            Seperti yang Cakka tahu, suasana rumahnya selalu dalam keadaan sepi. Ia hanya ditemani dengan beberapa pelayannya yang bekerja dirumah mewah bergaya Eropa Klasik itu.  Dan Cakka selalu membenci suasana itu. Cakka tidak mengerti, setiap kali ia menginjakan kakinya dirumah itu, ia selalu merasa perih, perih dengan keadaan yang sekarang menghampirinya.
            Mama nya selalu sibuk keluar kota untuk show. Bahkan tidak jarang, Mama nya juga pergi ke luar negri dalam waktu yang lama demi memenuhi tuntutan pekerjaannya sebagai  salah satu Diva juga aktris di Indonesia.
            Ya… Mama Kandung Cakka adalah salah seorang penyanyi sekaligus aktris ternama yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk show dan shooting film ketimang mengurus Cakka yang sangat membutuhkan perhatian darinya. Mungkin siapapun yang melihat kehidupan yang sedang Cakka jalani saat ini, mereka akan berkesimpulan bahwa hidup Cakka sangat sempurna. Tapi tidak, pada kenyataannya tidak seperti itu.
            Ia hanya berpura-pura bahagia didepan kamera saat Mama nya memperkenalkannya didepan public, sementara dibalik kamera, Cakka tidak lebih dari seorang anak kesepian yang tidak bisa mendapatkan perhatian serta limapahan kasih sayang dari Mamanya. Mungkin Mama nya memberikan segalanya untuk Cakka, ia memfasilitasi Cakka dengan segala fasilitas-fasilitas super wah yang membuat semua orang iri, tapi tanpa Mama nya tahu, Cakka tidak pernah sekalipun merasa bahagia dengan semua itu. Yang ia butuhkan hanyalah kasih sayang serta perhatian Mamanya, cukup itu, bukan yang lainnya.
            Dan semalam, beberapa saat sebelum Mamanya meninggalkan rumah untuk kemudian berangkat ke LA selama 2 minggu, sempat terjadi pertengkaran diantara mereka. Hal itulah yang membuat Cakka selama seharian ini terus murung dan membuat Shilla serta sahabat-sahabatnya kebingungan.
            Cakka menghela napas panjang untuk mengisi rongga dada nya yang entah kenapa terasa hampa tanpa udara. Sesak. Ingatan Cakka tentang pertengkaran yang terjadi antara dirinya dan Mama nya semalam kembali berpendar dikepalanya.

Flashback On ~

            “Aku Cuma ingin tahu siapa Papa aku yang sebenarnya, Ma. Apa aku gak berhak buat tahu itu? Apa aku gak berhak, Ma?” teriak Cakka penuh emosi sambil berusaha menahan getaran pada nada suaranya yang terdengar lirih.
            “Atau apa  issue yang berkembang beberapa tahun yang lalu yang mengatakan bahwa aku adalah anak diluar nikah itu benar? Apa benar aku adalah seorang anak har—“
            PLAK! Belum selesai perkataan Cakka, sebuah tamparan dari tangan Mama nya mendarat untuk yang pertama kalinya diwajahnya. Evelyn –Mama Cakka- terlihat begitu emosi. Cakka memegangi pipinya lalu menatap Mamanya dengan pandangan tidak percaya.
            “Jaga omongan kamu, Cakka! Dan sudah berkali-kali Mama bilang sama kamu untuk jangan pernah bahas masalah Papa kamu, tapi kamu gak pernah mau dengerin Mama dan malah percaya sama issue yang tidak jelas itu”
            “Karna aku gak ada pilihan lain, Ma. Dan karna Mama gak pernah mau ngasih aku pilihan. Aku Cuma butuh kejelasan soal itu, Ma. Aku Cuma mau tahu, siapa Papa aku, gak lebih!”
            “Kamu gak perlu tahu siapa Papa kamu. Karna bagi Mama, itu semua tidak penting! Apa kamu merasa tidak bahagia menjadi seorang Putera Tunggal dari Evelyn Paramitha? Atau apa kamu merasa kurang dengan semua apa yang sudah Mama berikan dan korbankan selama 17 tahun terakhir ini?”
            “Aku gak pernah minta jadi anak dari seorang Diva bernama Evelyn Paramitha, dan aku gak akan pernah minta dilahirin sama Mama, kalo aja sejak awal aku tahu kehidupan aku bakal kayak gini”
            “Cakka!”
            “Cakka sayang sama Mama… tapi Mama gak pernah mau tahu soal itu kan? Iya kan, Ma?”
            Cakka berbalik lalu pergi meninggalkan Evelyn sendirian diruang tamu yang cukup luas itu. Cakka menaiki anak tangga tanpa sekalipun menoleh. Kenapa? Kenapa Mamanya selalu menyembunyikan rapat-rapat prihal Ayah kandungnya? Kenapa Cakka tidak boleh tahu tentang sebuah kebenaran yang mutlak menyangkut soal dirinya dan kejelasan statusnya sebagai seorang anak?

Flashbak off ~

            Cakka mengacak rambutnya dengan frustasi. Ia lelah, benar-benar lelah.


♥♥♥

            Dari dalam mobilnya, Rio memperhatikan Via yang waktu itu sedang menunggu angkutan umum didepan gerbang sekolah. Rio mengetuk-ngetukan jari tangannya diatas setir mobil dengan gusar. Haruskah ia menghampiri Via dan menawarkannya untuk pulang bersama? Tapi…
            Rio menggelengkan kepalanya beberapa kali, ia berusaha menepikan ego nya dan melupakan kemarahannya pada Via untuk sejenak saja. Rio memang marah karna Via tidak mau jujur padanya, tapi masakah Rio tega membiarkan Via pulang sendiri?
            Saat Rio akan menjalankan mobilnya hendak menghampiri Via, tiba-tiba saja sebuah angkot berhenti tepat dihadapan Via. Via lalu menaiki angkot itu dan membuat Rio membuang napasnya dengan kasar. Rio membanting kedua tangannya diatas setir, sekarang ia tidak hanya marah pada Via, tapi Rio juga marah pada dirinya sendiri.

♥♥♥

            “IFY!” Panggil Via dengan cukup keras dan membuat perhatian semua yang ada di Café itu tertuju padanya, tapi Via tidak peduli. Yang ia tahu sekarang adalah ia harus segera menemui Ify, menjelaskan semuanya dan segera kembali ke Apartement Alvin sebelum waktu yang ia tentukan dengan Alvin habis.
            “Via” Panggil Septian saat melihat Via yang berkeliaran di café. Via menghentikan langkahnya lalu menoleh kearah Septian.
            “Pak Septian…”
            “Kamu ngapain disini, Via? Bukanya seharusnya sekarang kamu lagi di –“
            “Saya tau Pak” potong Via buru-buru dan membuat Septian mengernyit. “Tapi sekarang saya lagi ada urusan sama temen saya. Saya udah minta ijin kok sama Alvin” Lanjutnya.
            Septian hanya mengangguk lalu berkata, “Bagus deh kalo kayak gitu” Septian lalu melangkah melewati Via begitu saja, saat itu juga Via langsung menghela napas lega dan segera menghampiri Ify yang duduk dimeja yang terdapat didekat jendela.
            “Lo udah lama, Fy?” Tanya Via seraya menarik kursi lalu duduk berhadapan dengan Ify.
            “Gak juga. Baru 5 menit yang lalu gue dateng” jawab Ify seadanya.
            Setelah minuman pesanannya datang, Via mulai menceritakan semua apa yang ia alami selama 2 minggu belakangan ini pada Ify. Mulai dari Alvin menabraknya, pertengkarannya dengan Alvin di Toilet Café yang menyebabkan ia akhirnya menjadi pembantu Alvin, juga saat Alvin secara mendadak memberikannya beasiswa.
            Ify tidak henti-hentinya dibuat terbengong-bengong oleh cerita yang Via tuturkan. Dan sulit bagi Ify untuk percaya, bahwa Alvin akan melakukan hal ini. Ify tahu Alvin licik, bahkan sangat licik, dan Ify juga tahu bagaimana selama ini Alvin anti mencari masalah apalagi membuat masalah dengan seorang cewek, tapi sekarang, kenapa tiba-tiba Alvin mau repot-repot membuat masalah dengan Via? Apa yang Alvin inginkan sebenarnya dari Via? Itulah dua buah pertanyaan yang tiba-tiba muncul dikepala Ify. Dan entah kenapa, Ify mulai merasa bahwa ada yang tidak beres dibalik semua ini. Tapi apa?
            “Fy, gue boleh minta sesuatu sama lo?” Tanya Via ragu-ragu. Ify langsung membuyarkan lamunanya lalu menatap Via dengan pandangan bertanya.
            “Apa?”
            “Masalah ini cukup kita berdua yang tahu ya? Kak Rio sama Kak Iel atau yang lainnya sama sekali gak boleh tau, oke?”
            Ify hanya mengangguk sebagai tanda setuju. Tapi hal itu tidak lantas membuat pikirannya yang kacau segera membaik. Firasatnya semakin tidak enak. Ia harus segera mencari tahu ada apa dibalik semua ini? Dan Ify akan menanyakannya langsung pada Alvin, tidak peduli apapun resikonya.

♥♥♥

            Alvin melirik jam dinding diruang tamunya, sudah 10 menit berlalu dari waktu 30 menit yang ia berikan pada Via, tapi hingga sekarang Via belum juga menampakkan dirinya. Alvin seharusnya marah karna ketelatan Via itu, tapi ia justru tersenyum licik, karna dengan begitu ia bisa mengerjai cewek itu sesuka hatinya, dan tentu saja ia akan punya alasan lain untuk memarahinya nanti.
            Ting tong… suara bel apartementnya yang berbunyi langsung membuat Alvin menoleh kesamping. Senyumnya semakin melebar, ia lalu bangkit dan berjalan dengan santainya kearah pintu. “Mampus lo sekarang!” gumam Alvin pelan.
            Alvin lantas membuka pintu, tapi yang ia dapati didepan pintu justru sangat mengejutkannya. Bukannya Via yang datang, tapi malah Ayahnya. Senyum itu pun langsung pudar dari wajah orientalnya.
            “Jadi kamu kabur kesini?” Tanya Johan retoris tapi sarat akan emosi juga kemarahan yang meluap. Alvin menghela napas dan memilih untuk tidak menjawab.
            Johan menatap Alvin dengan muak lalu memasuki apartement itu tanpa dipersilahkan. Johan mengedarkan pandangannya ke segala arah, dan ia sama sekali tidak bisa menghindar saat kenangan masa lalunya bersama mendiang isteri terdahulunya langsung merong-rong otaknya tanpa henti. Johan memejamkan matanya sejenak untuk meredam rasa sakit itu dan menepikan semua kenangan yang nyaris membuatnya gila sebelum ia memiliki Ify, Iel juga Isteri barunya sekarang ini.
            ‘Semuanya masih tetap sama’ bathin Johan.
            “Kalau Daddy kesini Cuma untuk nyuruh aku pulang, maka aku bilang sekarang juga kalo itu sia-sia. Aku gak akan pernah pulang” ucap Alvin dengan tegas.
            “Begitu ya?” Johan berbalik lalu menatap Alvin yang langsung membeku ditempat. “Kapan sih kamu bisa bersikap manis sama Daddy seperti Iel? Dan kapan kamu bisa menghormati Daddy sebagai Ayah kandung kamu seperti apa yang Iel lakukan?”
            Telak. Ucapan Johan itu telak menghantam dada Alvin tanpa ampun. Iel, Iel, dan Iel lagi. Dalam segala hal, Ayahnya selalu membandingkan-bandingkannya dengan Iel, hal itu lah yang membuat Alvin muak. Dimata Ayahnya, Iel memang selalu lebih segala-galanya dari Alvin, Iel memang selalu lebih baik dari Alvin, dan Iel memang selalu jadi anak kesayangan. Sedangkan Alvin? Bahkan Alvin tidak pernah tahu apakah Ayahnya masih menganggapnya anak atau tidak. Yang jelas, selama Alvin tinggal bersama Ayah, Mama Tiri, juga Adik tirinya –Ify, Alvin lebih merasa diperlakukan seperti sebuah robot ketimang anak.
            “Karna aku bukan Iel, dan selamanya tidak akan pernah jadi Iel” kata Alvin sambil berusaha menekan getaran pada nada suaranya.
            “Daddy tidak menyuruh kamu untuk jadi seperti Iel, Daddy hanya minta kamu untuk contoh semua sikap Iel. Hanya itu! Tapi kamu selalu salah paham dengan maksud Daddy, kamu selalu merasa seolah-olah kamu adalah seorang anak yang terbuang. Tanpa kamu sadari, kamu lah yang telah membuang diri kamu sendiri, Alvin” ucap Johan penuh amarah. Kali ini ia sudah tidak bisa lagi menahan emosinya.
            Alvin tersenyum perih. Sulit ia percaya bahwa kata-kata itu akan keluar dari bibir Ayahnya. Dulu, saat mereka masih hidup berdua selepas kepergian Aurora –Mami Alvin, Johan begitu perhatian pada Alvin. Dan jika bisa, Johan bahkan rela memberikan nyawanya untuk Alvin. Tapi semenjak kehadiran Iel, Ify juga Mama tirinya ditengah-tengah kehidupan mereka, semuanya mendadak berubah, dan kasih sayang itu mulai terbagi lalu perlahan terkikis. Hal itu lah yang membuat Alvin hingga detik ini belum bisa menerima kehadiran mereka.
            “Oke, Daddy tidak mau berdebat sama kamu. Sekarang intinya kamu mau pulang atau tidak?”
            “Tidak sebelum mereka pergi dari rumah dan ngembaliin Daddy aku yang dulu”
            Johan langsung terhenyak mendengar ucapan Alvin baru saja. Meskipun emosi sama-sama melingkupi mereka saat ini, tapi Johan dapat menangkap dengan sangat jelas ada sebentuk kejujuran dan juga kerinduan dari kalimat itu. Pada akhirnya Johan menelan bulat-bulat segala bentuk kemarahan yang tadinya ingin ia muntahkan. Mungkin Iel benar, Alvin hanya butuh waktu untuk menerima semua ini.
            “Oke, Daddy tidak akan paksa kamu untuk pulang, Daddy akan kasi kamu waktu untuk berpikir dan merenungkan semua apa yang kamu lakukan saat ini, Calvin”
            “Aku gak butuh wak –“
            “ALVIN GUE DATEEENGGG!!!” Pekik seseorang yang tiba-tiba saja muncul dari arah pintu dan memotong pembicaraan yang terjadi antara Ayah dan anak itu. Alvin dan Ayahnya secara bersama-sama menoleh kearah pintu. Alvin menatap Via dengan dingin, sementara Johan lebih menatap Via dengan pandangan bertanya.
            “Dia siapa?” Tanya Johan beberapa saat setelah ia membuyarkan keterpanaannya. Sementara Via, ia hanya berdiri canggung didepan pintu. Tanpa bertanya terlebih dahulu, Via sudah bisa menebak bahwa laki-laki dewasa itu adalah Ayah kandung Alvin. Dan sumpah, rasanya Via ingin mengenyahkan diri dari planet ini sekarang juga.
            “Bukan urusan Daddy”  jawab Alvin cuek. Ia lalu melemparkan tatapannya kearah Via, “Masuk!” titah Alvin pada Via dengan nada tidak ingin dibantah.
            “Ta… tapi…”
            “Gue bilang masuk!” nada bicara Alvin terdengar meninggi dan nyaris terdengar seperti sebuah bentakan keras.
            Tidak ingin membuat Alvin semakin marah, Via pun mengikuti perintah Alvin. Tamat sudah riwayatnya hari ini.


♥♥♥

            Via sedang sibuk menyiapkan bahan masakan saat tiba-tiba Alvin memasuki dapur tanpa sepengatahuannya. Alvin berdiri tepat dibelakang Via dengan jarak hanya sekian senti.
            “Ehem” suara deheman Alvin itu langsung membuat Via kaget. Reflex ia membalik tubuhnya seraya mengacungkan pisau tepat dihadapan Alvin. Alvin mengernyit.
            “Lo mau bunuh gue?”
            “Eloo… ih ngagetin gue aja” kata Via setengah kesal. Saat ia akan berbalik dan melanjutkan pekerjaannya, Alvin justru menahannya agar mereka tetap berhadapan.
            “Apa yang lo denger dari pembicaraan gue sama Bokap gue tadi?” Tanya Alvin dingin tanpa melepaskan lengan Via. Dan tatapan Alvin yang begitu dalam dan menghujam malah membuat lidah Via mendadak kelu. Sadar tidak sadar, ia mulai mengagumi betapa indahnya pahatan sempurna ciptaan Tuhan yang sekarang ini sedang berdiri didepannya dalam jarak yang begitu dekat bahkan sangat dekat. Dan aroma maskulin yang menguar dari tubuh Alvin justru membuat Via susah mengambil napas.
            “Gu… gue… gue gak denger apa-apa” jawab Via dengan susah payah. Alvin langsung mengangkat salah satu alisnya.
            “Darimana gue tahu kalo lo lagi gak bohongin gue?” Alvin sedikit mendekatkan wajahnya dengan wajah Via. Dan apa yang Alvin lakukan itu malah membuat jantung Via bekerja diatas batas maksimal. Apa yang salah dengan semua ini?
            “K… Kalau pun gue denger sesuatu, gu… gue akan pura-pura gak denger apapun” jawab Via dengan terbata-bata, dan di akhir kalimatnya ia langsung menghela napas pelan untuk menteralisir detakan jantungnya yang semakin belingsatan.
            “Good!” Alvin semakin mendekat dan membuat Via mau tidak mau semakin terpojokan. Alvin lalu menghempaskan kedua tangannya diatas meja, tepatnya disisi kiri dan kanan tubuh Via, ia seolah memenjara Via agar tidak lari kemanapun.
            “Lo inget tadi lo bilang apa sama gue?” desauan hangat napas Alvin menyapu wajah Via dan semakin membuat perasaannya tidak menentu.
            “E… emang gue bilang apa?”
            “Perlu gue ingetin?”
            Kali ini Via hanya mengangguk. Alvin memalingkan wajahnya kearah lain dengan posisi yang masih tetap sama, ia menarik napas pelan lalu mengucapkan kembali kalimat yang tadi Via ucapkan dikoridor sekolah sesaat sebelum Via kabur.
            “Sampe ketemu di Apartement lo setengah jam lagi. Setelah gue dateng ke Apartement lo nanti, terserah lo mau ngapain aja, gue gak akan ngelawan. TERSERAH LO MAU NGELAKUIN APA AJA” Alvin mengulang beberapa kata dengan penekanan yang kuat untuk menegaskan. Via langsung menelan ludah saat itu juga. Tolol! Bagaimana bisa ia mengucapkan kalimat bodoh itu tanpa pikir panjang?
            “T… Terus lo mau apa sekarang?” Tanya Via dengan gugup. Alvin tersenyum licik dan membuat Via semakin merasakan firasat aneh yang mengganggu.
            “Masuk kamar gue!”
            “WHAAATT???” Kaget Via.
            “Masuk kamar gue!” Alvin mengulang perkataannya dengan penuh penegasan yang justru membuat Via merinding. Apa Alvin setega itu?
            “Nga… ngapain?”
            “Apa masih perlu gue jawab?” bisik Alvin pelan.
            “T… Tentu”
            “Menurut lo, apa yang dilakukan seorang cewek dan cowok jika sedang berada dalam satu kamar yang sama?”
            “Ma… maksud lo?” Via pura-pura tidak paham. Alvin mengangkat salah satu alisnya, secara mengejutkan Alvin melingkarkan salah satu tangannya dipinggang Via lalu menariknya hingga dekat dengannya.
            “Lo mau apa siiihhhhh??” Tanya Via frustasi.
            “Lo mau tau gue mau apa?” Via terdiam sambil berusaha mengontrol detak jantungnya. “MASUK-KAMAR-GUE!” Lanjut Alvin.
            “Ya tapi buat apa???” Alvin tersenyum miring. Ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Via, semakin lama semakin dekat. Kali ini Via pasrah, ia memejamkan kedua matanya rapat-rapat sambil merapalkan doa dalam hati. Alvin tersenyum penuh kemenangan detik itu juga.
            “Masuk kamar gue DAN BERSIHIN BEGOK!” Alvin melepaskan Via dari kungkungannya. Via membuka kedua matanya lalu menatap Alvin dengan sebal.
            “Apa?”
            “Iya. Kamar gue berantakan, dan lo harus rapihin. Gak Cuma kamar gue, tapi lo harus bersihin semua ruangan sampe kinclong tanpa ada sedikitpun debu. Dan jam kerja lo nambah 2 jam. Itu hukuman karna lo berani-beraninya telat dan ngebantah gue”
            Alvin lalu meninggalkan dapur setelah merasa puas mengerjai Via. Kekesalan Via yang sudah benar-benar mencapai ambang maksimal nyaris membuatnya melemparkan pisau yang ada ditangannya kearah Alvin. Jika membunuh orang itu tidak dosa, maka orang pertama yang ingin Via bunuh adalah Alvin.
            “ALVIN RESEEEEEEEE!!!” Teriak Via sekeras mungkin yang justru tidak digubris oleh Alvin.
            Tapi kemudian Via tiba-tiba tertegun dan bertanya-tanya dalam hati, kenapa mendadak jantungnya berdetak kencang saat sedang berada disamping Alvin? Dan kenapa tiba-tiba Via merasakan ada getaran-getaran aneh yang mengiringi setiak detak jantungnya? Apa yang salah dengan hatinya? Mungkinkah ia mulai jatuh cinta pada Pria Arrogant itu? Jika iya, kenapa harus secepat ini?
            “Gak, gak, gak… Gue gak mungkin jatuh cinta sama cowok songong itu. Kalo pun dia cowok terakhir yang ada diplanet ini, gue gak akan pernah sudi jatuh cinta sama dia…”
            Via membuang semua pikiran-pikiran anehnya dan berusaha untuk tidak memikirkan Alvin meskipun mereka berada ditempat yang sama. Via juga berusaha menganggap Alvin seakan tidak ada disekitarnya.
            Dan hari itu, hingga malam menjelang, Via menghabiskan waktunya untuk membersihkan apartement Alvin, menjalankan hukuman yang menurutnya sangat menyebalkan. Awas saja nanti! Alvin harus membayar untuk semua ini.




                                                To Be Continued…   

0 comments:

Post a Comment