Cinta itu datang perlahan, amat perlahan,
mengusik segala hal yang kau tahu awalnya baik-baik saja.
Cinta itu menjamah hatimu dengan sangat lembut,
bahkan karna terlalu lembut kau sampai tidak menyadari bahwa benih-benih cinta
itu mulai tertanam didasar hatimu yang terdalam.
Kau hanya tinggal menunggu waktu saat cinta
itu tumbuh berkembang dan mekar dengan indah, saat itu tiba, kau akan menyadari
bahwa cinta itu memang telah ada sejak lama, jauh sebelum kau menyadarinya.
Saat kau mulai menyadarinya nanti, kau
mungkin akan berusaha membuat sebuah penyangkalan-penyangkalan akan hatimu,
tapi ketahuilah… Kau tidak akan pernah bisa menghindar dari rasa cinta itu.
Ia akan tetap ada dan bersemayam dihatimu
sampai waktu yang kau sendiri tidak bisa menentukannya…
♥♥♥
Setelah
mengantar Shilla pulang, Cakka langsung pulang kerumahnya tanpa perlu
repot-repot mampir ke tempat tongkrongannya seperti yang biasa ia lakukan saat
pulang sekolah.
Seperti
yang Cakka tahu, suasana rumahnya selalu dalam keadaan sepi. Ia hanya ditemani
dengan beberapa pelayannya yang bekerja dirumah mewah bergaya Eropa Klasik itu.
Dan Cakka selalu membenci suasana itu.
Cakka tidak mengerti, setiap kali ia menginjakan kakinya dirumah itu, ia selalu
merasa perih, perih dengan keadaan yang sekarang menghampirinya.
Mama
nya selalu sibuk keluar kota untuk show. Bahkan tidak jarang, Mama nya juga
pergi ke luar negri dalam waktu yang lama demi memenuhi tuntutan pekerjaannya
sebagai salah satu Diva juga aktris di
Indonesia.
Ya…
Mama Kandung Cakka adalah salah seorang penyanyi sekaligus aktris ternama yang
lebih banyak menghabiskan waktunya untuk show dan shooting film ketimang mengurus Cakka yang sangat membutuhkan
perhatian darinya. Mungkin siapapun yang melihat kehidupan yang sedang Cakka
jalani saat ini, mereka akan berkesimpulan bahwa hidup Cakka sangat sempurna.
Tapi tidak, pada kenyataannya tidak seperti itu.
Ia
hanya berpura-pura bahagia didepan kamera saat Mama nya memperkenalkannya
didepan public, sementara dibalik
kamera, Cakka tidak lebih dari seorang anak kesepian yang tidak bisa
mendapatkan perhatian serta limapahan kasih sayang dari Mamanya. Mungkin Mama
nya memberikan segalanya untuk Cakka, ia memfasilitasi Cakka dengan segala
fasilitas-fasilitas super wah yang membuat semua orang iri, tapi tanpa Mama nya
tahu, Cakka tidak pernah sekalipun merasa bahagia dengan semua itu. Yang ia
butuhkan hanyalah kasih sayang serta perhatian Mamanya, cukup itu, bukan yang
lainnya.
Dan
semalam, beberapa saat sebelum Mamanya meninggalkan rumah untuk kemudian
berangkat ke LA selama 2 minggu, sempat terjadi pertengkaran diantara mereka.
Hal itulah yang membuat Cakka selama seharian ini terus murung dan membuat
Shilla serta sahabat-sahabatnya kebingungan.
Cakka
menghela napas panjang untuk mengisi rongga dada nya yang entah kenapa terasa
hampa tanpa udara. Sesak. Ingatan Cakka tentang pertengkaran yang terjadi
antara dirinya dan Mama nya semalam kembali berpendar dikepalanya.
Flashback On ~
“Aku Cuma ingin tahu siapa Papa aku yang
sebenarnya, Ma. Apa aku gak berhak buat tahu itu? Apa aku gak berhak, Ma?”
teriak Cakka penuh emosi sambil berusaha menahan getaran pada nada suaranya
yang terdengar lirih.
“Atau apa issue yang berkembang beberapa tahun yang
lalu yang mengatakan bahwa aku adalah anak diluar nikah itu benar? Apa benar
aku adalah seorang anak har—“
PLAK! Belum selesai perkataan Cakka,
sebuah tamparan dari tangan Mama nya mendarat untuk yang pertama kalinya
diwajahnya. Evelyn –Mama Cakka- terlihat begitu emosi. Cakka memegangi pipinya
lalu menatap Mamanya dengan pandangan tidak percaya.
“Jaga omongan kamu, Cakka! Dan sudah
berkali-kali Mama bilang sama kamu untuk jangan pernah bahas masalah Papa kamu,
tapi kamu gak pernah mau dengerin Mama dan malah percaya sama issue yang tidak
jelas itu”
“Karna aku gak ada pilihan lain, Ma.
Dan karna Mama gak pernah mau ngasih aku pilihan. Aku Cuma butuh kejelasan soal
itu, Ma. Aku Cuma mau tahu, siapa Papa aku, gak lebih!”
“Kamu gak perlu tahu siapa Papa
kamu. Karna bagi Mama, itu semua tidak penting! Apa kamu merasa tidak bahagia
menjadi seorang Putera Tunggal dari Evelyn Paramitha? Atau apa kamu merasa
kurang dengan semua apa yang sudah Mama berikan dan korbankan selama 17 tahun
terakhir ini?”
“Aku gak pernah minta jadi anak dari
seorang Diva bernama Evelyn Paramitha, dan aku gak akan pernah minta dilahirin
sama Mama, kalo aja sejak awal aku tahu kehidupan aku bakal kayak gini”
“Cakka!”
“Cakka sayang sama Mama… tapi Mama
gak pernah mau tahu soal itu kan? Iya kan, Ma?”
Cakka berbalik lalu pergi
meninggalkan Evelyn sendirian diruang tamu yang cukup luas itu. Cakka menaiki
anak tangga tanpa sekalipun menoleh. Kenapa? Kenapa Mamanya selalu
menyembunyikan rapat-rapat prihal Ayah kandungnya? Kenapa Cakka tidak boleh
tahu tentang sebuah kebenaran yang mutlak menyangkut soal dirinya dan kejelasan
statusnya sebagai seorang anak?
Flashbak off ~
Cakka mengacak rambutnya dengan frustasi. Ia lelah,
benar-benar lelah.
♥♥♥
Dari dalam mobilnya, Rio memperhatikan Via yang waktu itu
sedang menunggu angkutan umum didepan gerbang sekolah. Rio mengetuk-ngetukan
jari tangannya diatas setir mobil dengan gusar. Haruskah ia menghampiri Via dan
menawarkannya untuk pulang bersama? Tapi…
Rio menggelengkan kepalanya beberapa kali, ia berusaha
menepikan ego nya dan melupakan kemarahannya pada Via untuk sejenak saja. Rio
memang marah karna Via tidak mau jujur padanya, tapi masakah Rio tega
membiarkan Via pulang sendiri?
Saat Rio akan menjalankan mobilnya hendak menghampiri
Via, tiba-tiba saja sebuah angkot berhenti tepat dihadapan Via. Via lalu
menaiki angkot itu dan membuat Rio membuang napasnya dengan kasar. Rio
membanting kedua tangannya diatas setir, sekarang ia tidak hanya marah pada
Via, tapi Rio juga marah pada dirinya sendiri.
♥♥♥
“IFY!” Panggil Via dengan cukup keras dan membuat
perhatian semua yang ada di Café itu tertuju padanya, tapi Via tidak peduli.
Yang ia tahu sekarang adalah ia harus segera menemui Ify, menjelaskan semuanya
dan segera kembali ke Apartement Alvin sebelum waktu yang ia tentukan dengan
Alvin habis.
“Via” Panggil Septian saat melihat Via yang berkeliaran
di café. Via menghentikan langkahnya lalu menoleh kearah Septian.
“Pak Septian…”
“Kamu ngapain disini, Via? Bukanya seharusnya sekarang
kamu lagi di –“
“Saya tau Pak” potong Via buru-buru dan membuat Septian
mengernyit. “Tapi sekarang saya lagi ada urusan sama temen saya. Saya udah
minta ijin kok sama Alvin” Lanjutnya.
Septian hanya mengangguk lalu berkata, “Bagus deh kalo
kayak gitu” Septian lalu melangkah melewati Via begitu saja, saat itu juga Via
langsung menghela napas lega dan segera menghampiri Ify yang duduk dimeja yang
terdapat didekat jendela.
“Lo udah lama, Fy?” Tanya Via seraya menarik kursi lalu
duduk berhadapan dengan Ify.
“Gak juga. Baru 5 menit yang lalu gue dateng” jawab Ify
seadanya.
Setelah minuman pesanannya datang, Via mulai menceritakan
semua apa yang ia alami selama 2 minggu belakangan ini pada Ify. Mulai dari
Alvin menabraknya, pertengkarannya dengan Alvin di Toilet Café yang menyebabkan
ia akhirnya menjadi pembantu Alvin, juga saat Alvin secara mendadak
memberikannya beasiswa.
Ify tidak henti-hentinya dibuat terbengong-bengong oleh
cerita yang Via tuturkan. Dan sulit bagi Ify untuk percaya, bahwa Alvin akan
melakukan hal ini. Ify tahu Alvin licik, bahkan sangat licik, dan Ify juga tahu
bagaimana selama ini Alvin anti mencari masalah apalagi membuat masalah dengan
seorang cewek, tapi sekarang, kenapa tiba-tiba Alvin mau repot-repot membuat
masalah dengan Via? Apa yang Alvin inginkan sebenarnya dari Via? Itulah dua
buah pertanyaan yang tiba-tiba muncul dikepala Ify. Dan entah kenapa, Ify mulai
merasa bahwa ada yang tidak beres dibalik semua ini. Tapi apa?
“Fy, gue boleh minta sesuatu sama lo?” Tanya Via
ragu-ragu. Ify langsung membuyarkan lamunanya lalu menatap Via dengan pandangan
bertanya.
“Apa?”
“Masalah ini cukup kita berdua yang tahu ya? Kak Rio sama
Kak Iel atau yang lainnya sama sekali gak boleh tau, oke?”
Ify hanya mengangguk sebagai tanda setuju. Tapi hal itu
tidak lantas membuat pikirannya yang kacau segera membaik. Firasatnya semakin
tidak enak. Ia harus segera mencari tahu ada apa dibalik semua ini? Dan Ify
akan menanyakannya langsung pada Alvin, tidak peduli apapun resikonya.
♥♥♥
Alvin melirik jam dinding diruang tamunya, sudah 10 menit
berlalu dari waktu 30 menit yang ia berikan pada Via, tapi hingga sekarang Via
belum juga menampakkan dirinya. Alvin seharusnya marah karna ketelatan Via itu,
tapi ia justru tersenyum licik, karna dengan begitu ia bisa mengerjai cewek itu
sesuka hatinya, dan tentu saja ia akan punya alasan lain untuk memarahinya
nanti.
Ting tong… suara bel apartementnya yang berbunyi langsung
membuat Alvin menoleh kesamping. Senyumnya semakin melebar, ia lalu bangkit dan
berjalan dengan santainya kearah pintu. “Mampus lo sekarang!” gumam Alvin
pelan.
Alvin lantas membuka pintu, tapi yang ia dapati didepan
pintu justru sangat mengejutkannya. Bukannya Via yang datang, tapi malah
Ayahnya. Senyum itu pun langsung pudar dari wajah orientalnya.
“Jadi kamu kabur kesini?” Tanya Johan retoris tapi sarat
akan emosi juga kemarahan yang meluap. Alvin menghela napas dan memilih untuk
tidak menjawab.
Johan menatap Alvin dengan muak lalu memasuki apartement
itu tanpa dipersilahkan. Johan mengedarkan pandangannya ke segala arah, dan ia
sama sekali tidak bisa menghindar saat kenangan masa lalunya bersama mendiang isteri
terdahulunya langsung merong-rong otaknya tanpa henti. Johan memejamkan matanya
sejenak untuk meredam rasa sakit itu dan menepikan semua kenangan yang nyaris
membuatnya gila sebelum ia memiliki Ify, Iel juga Isteri barunya sekarang ini.
‘Semuanya masih tetap sama’ bathin Johan.
“Kalau Daddy kesini Cuma untuk nyuruh aku pulang, maka
aku bilang sekarang juga kalo itu sia-sia. Aku gak akan pernah pulang” ucap
Alvin dengan tegas.
“Begitu ya?” Johan berbalik lalu menatap Alvin yang
langsung membeku ditempat. “Kapan sih kamu bisa bersikap manis sama Daddy
seperti Iel? Dan kapan kamu bisa menghormati Daddy sebagai Ayah kandung kamu
seperti apa yang Iel lakukan?”
Telak. Ucapan Johan itu telak menghantam dada Alvin tanpa
ampun. Iel, Iel, dan Iel lagi. Dalam segala hal, Ayahnya selalu
membandingkan-bandingkannya dengan Iel, hal itu lah yang membuat Alvin muak. Dimata
Ayahnya, Iel memang selalu lebih segala-galanya dari Alvin, Iel memang selalu
lebih baik dari Alvin, dan Iel memang selalu jadi anak kesayangan. Sedangkan Alvin?
Bahkan Alvin tidak pernah tahu apakah Ayahnya masih menganggapnya anak atau
tidak. Yang jelas, selama Alvin tinggal bersama Ayah, Mama Tiri, juga Adik
tirinya –Ify, Alvin lebih merasa diperlakukan seperti sebuah robot ketimang
anak.
“Karna aku bukan Iel, dan selamanya tidak akan pernah
jadi Iel” kata Alvin sambil berusaha menekan getaran pada nada suaranya.
“Daddy tidak menyuruh kamu untuk jadi seperti Iel, Daddy
hanya minta kamu untuk contoh semua sikap Iel. Hanya itu! Tapi kamu selalu
salah paham dengan maksud Daddy, kamu selalu merasa seolah-olah kamu adalah
seorang anak yang terbuang. Tanpa kamu sadari, kamu lah yang telah membuang
diri kamu sendiri, Alvin” ucap Johan penuh amarah. Kali ini ia sudah tidak bisa
lagi menahan emosinya.
Alvin tersenyum perih. Sulit ia percaya bahwa kata-kata
itu akan keluar dari bibir Ayahnya. Dulu, saat mereka masih hidup berdua
selepas kepergian Aurora –Mami Alvin, Johan begitu perhatian pada Alvin. Dan
jika bisa, Johan bahkan rela memberikan nyawanya untuk Alvin. Tapi semenjak
kehadiran Iel, Ify juga Mama tirinya ditengah-tengah kehidupan mereka, semuanya
mendadak berubah, dan kasih sayang itu mulai terbagi lalu perlahan terkikis. Hal
itu lah yang membuat Alvin hingga detik ini belum bisa menerima kehadiran
mereka.
“Oke, Daddy tidak mau berdebat sama kamu. Sekarang intinya
kamu mau pulang atau tidak?”
“Tidak sebelum mereka pergi dari rumah dan ngembaliin
Daddy aku yang dulu”
Johan langsung terhenyak mendengar ucapan Alvin baru
saja. Meskipun emosi sama-sama melingkupi mereka saat ini, tapi Johan dapat
menangkap dengan sangat jelas ada sebentuk kejujuran dan juga kerinduan dari
kalimat itu. Pada akhirnya Johan menelan bulat-bulat segala bentuk kemarahan
yang tadinya ingin ia muntahkan. Mungkin Iel benar, Alvin hanya butuh waktu
untuk menerima semua ini.
“Oke, Daddy tidak akan paksa kamu untuk pulang, Daddy
akan kasi kamu waktu untuk berpikir dan merenungkan semua apa yang kamu lakukan
saat ini, Calvin”
“Aku gak butuh wak –“
“ALVIN GUE DATEEENGGG!!!” Pekik seseorang yang tiba-tiba
saja muncul dari arah pintu dan memotong pembicaraan yang terjadi antara Ayah
dan anak itu. Alvin dan Ayahnya secara bersama-sama menoleh kearah pintu. Alvin
menatap Via dengan dingin, sementara Johan lebih menatap Via dengan pandangan
bertanya.
“Dia siapa?” Tanya Johan beberapa saat setelah ia membuyarkan
keterpanaannya. Sementara Via, ia hanya berdiri canggung didepan pintu. Tanpa bertanya
terlebih dahulu, Via sudah bisa menebak bahwa laki-laki dewasa itu adalah Ayah
kandung Alvin. Dan sumpah, rasanya Via ingin mengenyahkan diri dari planet ini
sekarang juga.
“Bukan urusan Daddy” jawab Alvin cuek. Ia lalu melemparkan
tatapannya kearah Via, “Masuk!” titah Alvin pada Via dengan nada tidak ingin
dibantah.
“Ta… tapi…”
“Gue bilang masuk!” nada bicara Alvin terdengar meninggi
dan nyaris terdengar seperti sebuah bentakan keras.
Tidak ingin membuat Alvin semakin marah, Via pun
mengikuti perintah Alvin. Tamat sudah riwayatnya hari ini.
♥♥♥
Via sedang sibuk menyiapkan bahan masakan saat tiba-tiba
Alvin memasuki dapur tanpa sepengatahuannya. Alvin berdiri tepat dibelakang Via
dengan jarak hanya sekian senti.
“Ehem” suara deheman Alvin itu langsung membuat Via kaget.
Reflex ia membalik tubuhnya seraya mengacungkan pisau tepat dihadapan Alvin.
Alvin mengernyit.
“Lo mau bunuh gue?”
“Eloo… ih ngagetin gue aja” kata Via setengah kesal. Saat
ia akan berbalik dan melanjutkan pekerjaannya, Alvin justru menahannya agar
mereka tetap berhadapan.
“Apa yang lo denger dari pembicaraan gue sama Bokap gue
tadi?” Tanya Alvin dingin tanpa melepaskan lengan Via. Dan tatapan Alvin yang
begitu dalam dan menghujam malah membuat lidah Via mendadak kelu. Sadar tidak
sadar, ia mulai mengagumi betapa indahnya pahatan sempurna ciptaan Tuhan yang
sekarang ini sedang berdiri didepannya dalam jarak yang begitu dekat bahkan
sangat dekat. Dan aroma maskulin yang menguar dari tubuh Alvin justru membuat
Via susah mengambil napas.
“Gu… gue… gue gak denger apa-apa” jawab Via dengan susah
payah. Alvin langsung mengangkat salah satu alisnya.
“Darimana gue tahu kalo lo lagi gak bohongin gue?” Alvin
sedikit mendekatkan wajahnya dengan wajah Via. Dan apa yang Alvin lakukan itu
malah membuat jantung Via bekerja diatas batas maksimal. Apa yang salah dengan
semua ini?
“K… Kalau pun gue denger sesuatu, gu… gue akan pura-pura
gak denger apapun” jawab Via dengan terbata-bata, dan di akhir kalimatnya ia
langsung menghela napas pelan untuk menteralisir detakan jantungnya yang
semakin belingsatan.
“Good!” Alvin semakin mendekat dan membuat Via mau tidak
mau semakin terpojokan. Alvin lalu menghempaskan kedua tangannya diatas meja,
tepatnya disisi kiri dan kanan tubuh Via, ia seolah memenjara Via agar tidak
lari kemanapun.
“Lo inget tadi lo bilang apa sama gue?” desauan hangat
napas Alvin menyapu wajah Via dan semakin membuat perasaannya tidak menentu.
“E… emang gue bilang apa?”
“Perlu gue ingetin?”
Kali ini Via hanya mengangguk. Alvin memalingkan wajahnya
kearah lain dengan posisi yang masih tetap sama, ia menarik napas pelan lalu
mengucapkan kembali kalimat yang tadi Via ucapkan dikoridor sekolah sesaat
sebelum Via kabur.
“Sampe ketemu di Apartement lo setengah jam lagi. Setelah
gue dateng ke Apartement lo nanti, terserah lo mau ngapain aja, gue gak akan
ngelawan. TERSERAH LO MAU NGELAKUIN APA AJA” Alvin mengulang beberapa kata
dengan penekanan yang kuat untuk menegaskan. Via langsung menelan ludah saat
itu juga. Tolol! Bagaimana bisa ia mengucapkan kalimat bodoh itu tanpa pikir
panjang?
“T… Terus lo mau apa sekarang?” Tanya Via dengan gugup.
Alvin tersenyum licik dan membuat Via semakin merasakan firasat aneh yang
mengganggu.
“Masuk kamar gue!”
“WHAAATT???” Kaget Via.
“Masuk kamar gue!” Alvin mengulang perkataannya dengan
penuh penegasan yang justru membuat Via merinding. Apa Alvin setega itu?
“Nga… ngapain?”
“Apa masih perlu gue jawab?” bisik Alvin pelan.
“T… Tentu”
“Menurut lo, apa yang dilakukan seorang cewek dan cowok
jika sedang berada dalam satu kamar yang sama?”
“Ma… maksud lo?” Via pura-pura tidak paham. Alvin
mengangkat salah satu alisnya, secara mengejutkan Alvin melingkarkan salah satu
tangannya dipinggang Via lalu menariknya hingga dekat dengannya.
“Lo mau apa siiihhhhh??” Tanya Via frustasi.
“Lo mau tau gue mau apa?” Via terdiam sambil berusaha
mengontrol detak jantungnya. “MASUK-KAMAR-GUE!” Lanjut Alvin.
“Ya tapi buat apa???” Alvin tersenyum miring. Ia mendekatkan
wajahnya dengan wajah Via, semakin lama semakin dekat. Kali ini Via pasrah, ia
memejamkan kedua matanya rapat-rapat sambil merapalkan doa dalam hati. Alvin
tersenyum penuh kemenangan detik itu juga.
“Masuk kamar gue DAN BERSIHIN BEGOK!” Alvin melepaskan
Via dari kungkungannya. Via membuka kedua matanya lalu menatap Alvin dengan
sebal.
“Apa?”
“Iya. Kamar gue berantakan, dan lo harus rapihin. Gak Cuma
kamar gue, tapi lo harus bersihin semua ruangan sampe kinclong tanpa ada
sedikitpun debu. Dan jam kerja lo nambah 2 jam. Itu hukuman karna lo
berani-beraninya telat dan ngebantah gue”
Alvin lalu meninggalkan dapur setelah merasa puas
mengerjai Via. Kekesalan Via yang sudah benar-benar mencapai ambang maksimal
nyaris membuatnya melemparkan pisau yang ada ditangannya kearah Alvin. Jika membunuh
orang itu tidak dosa, maka orang pertama yang ingin Via bunuh adalah Alvin.
“ALVIN RESEEEEEEEE!!!” Teriak Via sekeras mungkin yang
justru tidak digubris oleh Alvin.
Tapi kemudian Via tiba-tiba tertegun dan bertanya-tanya
dalam hati, kenapa mendadak jantungnya berdetak kencang saat sedang berada
disamping Alvin? Dan kenapa tiba-tiba Via merasakan ada getaran-getaran aneh
yang mengiringi setiak detak jantungnya? Apa yang salah dengan hatinya? Mungkinkah
ia mulai jatuh cinta pada Pria Arrogant itu? Jika iya, kenapa harus secepat
ini?
“Gak, gak, gak… Gue gak mungkin jatuh cinta sama cowok
songong itu. Kalo pun dia cowok terakhir yang ada diplanet ini, gue gak akan
pernah sudi jatuh cinta sama dia…”
Via membuang semua pikiran-pikiran anehnya dan berusaha
untuk tidak memikirkan Alvin meskipun mereka berada ditempat yang sama. Via
juga berusaha menganggap Alvin seakan tidak ada disekitarnya.
Dan hari itu, hingga malam menjelang, Via menghabiskan
waktunya untuk membersihkan apartement Alvin, menjalankan hukuman yang
menurutnya sangat menyebalkan. Awas saja nanti! Alvin harus membayar untuk
semua ini.
To
Be Continued…


0 comments:
Post a Comment