Saturday, April 5, 2014

0

If Mister Arrogant In Love (Saat Cinta Datang Tanpa Bilang-Bilang) –Prolog & Chapter 1-









                                                                   -Prolog-


                Alvin dan Ariel atau yang lebih akrab dipanggil Iel terduduk dipinggir lapangan dengan desauan napas yang tidak teratur juga dengan keringat yang membanjiri tubuh mereka sesaat setelah mereka memutuskan untuk mengakhiri pertandingan One On One diantara mereka. Setelah selama satu jam bermain basket, anak laki-laki berusia 13 tahun itu akhirnya memilih untuk berhenti setelah sebelumnya merasa bosan dengan hasil seri diantara mereka.

            “payah nih! Masa baru satu jam maen udah nyerah gitu aja?” cibir seorang Gadis yang tiba-tiba saja duduk disamping Iel. Gadis yang berusia satu tahun dibawah  mereka itu hanya memamerkan senyum meremehkannya. Secara bersamaan, Alvin dan Iel melirik kearah Gadis tadi.

            Alvin menatap Gadis itu dengan pandangan menyipit, dan membuat kedua matanya yang semula sipit kini semakin tenggelam. Melihat ekspresi Alvin yang menurutnya sangat lucu malah membuat Gadis itu terkekeh geli.

            “Hahahaha…. Mata lo kemana, Pin?” ledeknya sambil terus terkekeh dan membuat Alvin jengkel. Sementara Iel, ia hanya menatap Gadis itu sambil berusaha menahan tawanya.

            Alvin lalu bangkit dari duduknya dan kembali mendrible bola yang sejak tadi ada ditangannya. Alvin melirik nakal kearah Iel lalu mengalihkan perhatiannya pada Ify. Gadis berdagu tirus yang sejak tadi menertawainya.

            “kalo gue menang ngelawan Abang lo, lo harus panggil gue dengan panggilan KAKAK” ucap Alvin sembari memberi penekanan  pada kata terakhirnya. Ify mengernyit dan langsung melayangkan protes.

            “Ogah! Lebih baik gue disuruh nelen beling daripada manggil lo Kakak”

            “oke, gue ganti! Kalo gue menang, lo jadi cewek gue ya, Fy?”
            Ify dan Iel kontan membelalak secara bersamaan. Dan sebelum Ify sempat mengeluarkan protes untuk yang kedua kalinya, Alvin malah sudah menarik Iel bangkit dari duduknya.

            “ayo Kakak Ipar! Kita lanjutin pertandingan One On One kita…” Ucap Alvin yang sebenarnya hanya ingin menggoda Ify saja. Hanya sebatas menggoda dan tidak lebih dari itu.
            Iel tersenyum dan langsung meladeni tantangan Alvin. Sementara Ify, ia hanya bisa menahan kejengkelannya melihat tingkah Kakak serta Sahabatnya yang sangat amat menyebalkan itu.


            “KALIAN BERDUA RESEEEEE!!!” Teriak Ify dari pinggir lapangan yang malah tidak mendapatkan respon apapun dari Alvin dan Iel.




♥♥♥



                                                                             -Chapter 1-



3 Tahun Kemudian…

Alvin hanya menatap roti isi yang tersedia dimeja makannya dengan tidak berselera. Bagaimana mau berselera, jika pagi ini ia dipaksa oleh Papa nya untuk ikut sarapan bersama dengan Adik serta Mama tirinya. Catat! Adik serta Mamanya yang sama-sama berstatus TIRI. Dan perlu dicatat lagi, Alvin sangat membenci kedua makhluk itu, lebih-lebih Mama tirinya. Bagi Alvin, sepasang Ibu dan Anak itu tidak lebih dari sebuah benalu yang hanya menyusahkan kehidupannya sejak kehadiran mereka dirumah ini 3 tahun yang lalu.

3 tahun yang lalu? Damn! Alvin semakin benci pada sepasang Ibu dan Anak ini jika mengingat kejadian 3 tahun yang lalu, sebuah kejadian yang telah menjungkir balikan  kehidupannya, sebuah kejadian yang telah melemparnya pada posisi yang tidak pernah ia inginkan selama hidupnya. 3 tahun yang lalu, tepatnya setahun setelah kepergian Mamanya, Papa nya memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang janda beranak dua, dan sejak saat itulah Alvin merasa hidupnya benar-benar seperti di neraka.

Jika kalian berpikir Alvin disiksa oleh Ibu Tirinya seperti di sinetron-sinetron kebanyakan, maka kalian salah besar. Tidak, Alvin tidak mengalami penyiksaan norak semacam itu. Justru jika ingin jujur, Ibu Tirinya begitu perhatian pada Alvin dan bahkan sangat menyayangi Alvin, begitu juga dengan adik tirinya , tapi Alvin hanya menganggap semua kasih sayang itu hanya sandiwara belaka. Dan hingga detik ini, tidak pernah sekalipun Alvin menganggap mereka ada. Bagi Alvin, Adik bersama Mama tiri nya itu tidak lebih dari semilir angin berlalu. Ya… hanya angin yang berlalu dan tak berarti.

Dan pagi ini, sepulangnya Papa dan Mama tirinya yang menyebalkan itu dari perjalanan bisnis mereka di Eropa selama 1 bulan, Papa nya malah memaksa Alvin untuk ikut sarapan bersama dengan mereka. Diawal Alvin sempat menolak, tapi ancaman dari Papanya yang hendak mencabut semua fasilitas nya selama ini membuat Alvin tidak bisa berkutik sama sekali dan terpaksa mengikuti permintaan Papanya. Toh hanya sarapan, kan?

Pria berkulit putih dan berwajah oriental itu semakin merasa kesal, saat Mama Tirinya menceritakan bagaimana serunya perjalanan mereka di Eropa selama 1 bulan. Dan kelamaan Alvin semakin merasa muak ketika 3 orang yang ada disekelilingnya ini tertawa lepas.

Alvin serta merta melepaskan pisau beserta garpunya dengan kasar diatas meja makan yang terbuat dari kaca itu. Suara dentuman yang cukup keras itu langsung menyentak 3 orang yang sejak tadi asyik bercengkrama tanpa tahu bagaimana muaknya Alvin berada ditengah-tengah mereka.

Johan Bramantya –Papa Alvin- menatap Alvin dengan pandangan bertanya, begitu juga dengan Adik dan Mama nya. Untuk beberapa saat hening menyelimuti keadaan itu. Alvin membuang napasnya kasar lalu balas menatap Papanya.

“aku udah kenyang, Dad. dan aku harus berangkat kesekolah. Sekarang!”

Sebelum mendapat persetujuan dari Papa nya, Alvin malah sudah bangkit dari meja makan lalu berjalan keluar dengan emosi memuncak. Dan Alvin sama sekali tidak menghiraukan panggilan Papa nya yang memintanya untuk berhenti dan kembali ke meja makan.

Alvin sudah tidak ingin peduli lagi.

           


♥♥♥

Shit!!” umpat Alvin sambil membanting kedua tangannya diatas setir. Mood-nya pagi ini benar-benar berantakan gara-gara kepulangan Papa serta Mama tirinya dari perjalanan bisnis mereka. Jika diperbolehkan, Alvin tidak ingin mereka pulang. Selama mereka berada di Eropa, Alvin merasa hidupnya bebas tanpa tekanan apapun dari Papanya, dan sekarang mereka pulang. Itu artinya, kadar kebebasannya akan berkurang, dan Alvin sangat membenci semua ini.

Emosi yang sedang mendekap erat Alvin membuat Alvin sama sekali tidak focus dengan jalanan yang ada didepannya. Dan saat emosi itu semakin mencapai puncak klimaks, Alvin semakin menambahkan kecepatan laju Ferarri merah kesayangannya hingga diatas rata-rata, untunglah kondisi jalanan yang sedikit lengang membuat Alvin merasa bebas. Tapi tiba-tiba saja, sesuatu yang diluar perkiraan Alvin terjadi.

Semuanya terjadi begitu cepat, Alvin menyerempet seorang pengendara sepeda hingga terjatuh bersama sepedanya. Alvin yang kaget langsung mengerem mendadak Ferarri nya. Dengan sigap ia menoleh kebelakang dan mendapati seorang Gadis yang berseragam putih abu terduduk dijalanan dengan sepeda yang menindihnya.

Alvin berdecak kesal, ia membuka sabuk pengamannya dengan kasar lalu keluar dari dalam Ferarri merahnya dan membanting pintu mobil sekeras mungkin.
Alvin melangkah menghampiri gadis itu lalu berdiri dihadapan gadis itu dengan angkuhnya tanpa berniat meminta maaf apalagi menolong.

“Heh! Udik! Lo udah bosen hidup ya?” hardiknya keras dan membuat kedua mata sipit Gadis berpipi chubby dan berlesung pipi itu membelalak maksimal. “kalo mau bunuh diri jangan disini! Cari tempat yang sepi sana!!” lanjutnya sinis lalu mendengus kesal.

Gadis berambut sebahu itu memejamkan matanya untuk beberapa saat. Dalam kecelakaan ini, dia adalah korban, dan Si Arrogant ini adalah pelaku, tapi kenapa malah dia yang kena damprat? Mana pakai dihina-hina segala lagi. Benar-benar keterlaluan dan gak bisa dibiarkan.

Dengan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki, Gadis itu mencoba berdiri meskipun harus bersusah payah, ia juga berusaha menahan rasa sakit pada luka yang terdapat diderah lutut dan sikunya. Tanpa takut, Gadis tadi menantang tatapan angkuh Pria sengak yang ada dihadapannya ini.

“Elo yang salah, kenapa elo yang marah? Bawa mobil kok kayak orang kesetanan? Lain kalo gak bisa nyetir, gak usah sok-sokan bawa mobil deh. Liat nih lutut sama siku gue luka gara-gara ulah lo, dan sepeda gue satu-satunya jadi ancur lebur kayak gini” omel Gadis itu sambil menunjuk kearah sepedanya yang tergeletak malang dipinggir jalan.

Alvin menghela napas beratnya. Seumur hidupnya, ini baru pertama kalinya ia ditentang, oleh seorang cewek pula!

“Berani-beraninya ya lo?!”

“Kenapa gue harus takut sama lo? Jelas-jelas elo yang salah malah nyalahin gue. Dan sekarang bukannya minta maaf malah marah-marah. Dasar cowok gak bertanggung jawab! PENGECUT!!” Cercanya yang sudah benar-benar tidak bisa mengontrol diri lagi.

“Lo bilang apa? Hm? Coba ulangi!”

“lo gak bertanggung jawab. Lo pengecut! Mau apa lo? Hah??” ujarnya semakin
menantang.

Alvin mencoba meredam emosinya dan berusaha menahan diri untuk tidak melayangkan pukulannya pada Gadis ini. Biar bagaimana pun, saat ini yang sedang ia hadapi adalah seorang cewek, dan Alvin tidak boleh seenaknya main tangan jika tidak ingin benar-benar menyandang predikat ‘PENGECUT’ seperti apa yang baru saja diucapkan oleh cewek ini.

“terus lo mau apa sekarang?” putus Alvin pada akhirnya yang tidak ingin memperpanjang perseteruan diantara mereka.

“gue mau lo tanggung jawab dan minta maaf sama gue” jawabnya enteng.

Apa? Minta maaf? Seumur-umur Alvin tidak akan pernah sudi melakukan hal itu. Alvin yang sudah benar-benar buntu akhirnya mengeluarkan dompetnya. Ia mengeluarkan beberapa lembar pecahan uang seratus ribu dan lima puluh ribu. Cewek tadi hanya melihat tanpa berusaha mengeluarkan komentar apapun.

Alvin menatap cewek itu untuk beberapa saat. Sesaat kemudian, dengan tidak berperasaannya Alvin melemparkan uang itu tepat ke muka gadis tadi. Gadis yang ternyata bernama Via itu kaget setengah mati. Jantungnya seakan terbakar ketika menerima perlakuan Alvin yang bisa dibilang benar-benar menghinanya.

“Lo ambil semuanya! Gue rasa itu cukup buat ngobatin luka dan ngeganti sepeda rongsokan lo ini” ujar Alvin penuh dengan nada keangkuhan lalu menendang kecil sepeda milik Via yang tergeletak dipinggir jalan. Via makin sakit hati. Dalam hidupnya, ini pertama kalinya ia merasa seterluka seperti sekarang ini.

Via berusaha keras menahan laju air matanya agar tidak keluar dihadapan Pria Arrogant ini. Tidak, Via tidak ingin menangis dihadapan Pria ini. Tidak setelah pria ini melukai perasaannya dengan cara menghinanya.

Alvin mendengus lalu berbalik dan berjalan kearah Ferarri merahnya. Dan tepat saat tangan Alvin akan membuka pintu mobil, seseorang tiba-tiba menahan lengannya dengan kasar hingga tubuh Alvin berbalik dan berhadapan langsung dengan si Pelaku yang telah menarik lengan Alvin. Via.

Via menatap Alvin tajam dengan mata memerah.

“GUE-GAK-BUTUH-UANG-LO!!” Ucap Via penuh penekanan disetiap kata. Lalu tanpa babibu lagi, Via langsung melemparkan uang tadi ke muka Alvin, persis seperti apa yang Alvin lakukan padanya.

Alvin membeku ditempat. Viapun melepaskan lengan Alvin. Dengan langkah yang pincang, Via menuntun sepedanya dan berjalan perlahan menjauhi Alvin.

Alvin menatap kepergian Via dengan pandangan yang susah diartikan. Dan entah kenapa saat melihat tatapan mata Via yang penuh dengan luka… Alvin mulai merasakan semilir sesal yang bertiup pelan bahkan sangat pelan jauh didalam sana. Apa Alvin yang keterlaluan?


“Ck, bodo!” decak Alvin yang tak mau ambil pusing dan langsung memasuki mobilnya.


♥♥♥
SMA Patuh Karya…


            “Via!” panggil seseorang dari kejauhan saat melihat Via memasuki gerbang sekolah dengan langkah pincang dan sambil menuntun sepedanya.

            Via menghentikan langkahnya ketika Ify –sahabat terdekatnya- sudah berdiri dihadapannya dan melempar tatapannya dari ujung rambut hingga ujung kaki Via. Ify sedikit mengernyit. “Lo kenapa, Vi? Kok luka? Sakit gak?” Tanya Ify bertubi-tubi yang benar-benar merasa sangat cemas dengan keadaan sahabatnya.

            “Ini masih gak ada apa-apanya, Fy. Ada yang lebih sakit dari ini” ucap Via sambil berusaha menekan getaran itu agar tidak terdengar diintonasi suaranya yang lirih.

            “Apa?” Tanya Ify penasaran.

            Via menghela napas beratnya untuk mengurangi sedikit saja rasa sesak yang menjejali dadanya. Via lalu menatap Ify sambil tersenyum, ia menyentuh pundak Ify lembut lantas menjawab pertanyaan Ify tadi.

            “Hati gue” Via berlalu dari hadapan Ify tanpa mengucapkan apa-apa lagi. Via harus segera ke UKS untuk mengobati lukanya, dan Via juga harus segera mencari Alasan mengenai luka dan kerusakan sepedanya agar Ibu nya tidak cemas saat nanti Via pulang dari sekolah.


♥♥♥
Speranza High School…


            Konsentrasi Alvin benar-benar pecah ketika bayangan kejadian tadi pagi berkelebat tanpa henti di otaknya. Ia mendrible bola yang ada ditangannya dengan tidak berperasaan, dan saat Alvin sudah tidak bisa lagi mengontrol dirinya, tanpa ampun Alvin melemparkan bola itu sampai terpental hingga ke pinggir lapangan.

            Haap! Seseorang yang sejak tadi berdiri dipinggir lapangan dan memperhatikan Alvin secara diam-diam dengan sigap menangkap bola yang tadi Alvin lemparkan tanpa ampun. Ia tersenyum mencibir kearah Alvin yang sama sekali belum menyadari kehadirannya.

            Laki-laki berkulit sedikit gelap dan memiliki Smile Evil itu berjalan perlahan ketengah lapangan sambil mendrible bola yang tadi ia tangkap.

            Suara hentakan bola yang beradu dengan lapangan membuat Alvin tersentak dan secara otomatis menoleh kebelakang…

            One On One…?” Tanya laki-laki berwajah manis itu dengan nada menantang.


            Ariel Nata Pratama. Dia telah kembali.



♥♥♥

            “Bakalan seru nih kayaknya” komentar Cakka yang menyaksikan pertemuan antara Alvin dan Iel untuk yang pertama kalinya setelah selama 2 tahun lamanya Iel menghilang dari peredaran. Saat itu, Cakka berdiri dibalkon gedung sekolahnya. Tidak lupa Cakka juga membubuhkan senyum meremehkannya pada kedua orang itu.

            “Apanya yang seru?” Tanya Rio yang tiba-tiba muncul disamping Cakka. Senyum Cakka semakin melebar, ia lalu mengedikan dagunya kearah Alvin dan Iel ditengah lapangan yang langsung diikuti oleh Rio.

            Rio menganggukan kepalanya beberapa kali. Kini ia sudah mengerti apa maksud Cakka. Dan Rio merasa sepakat dengan  apa yang Cakka katakan tadi. Ya… semuanya pasti akan seru.

            Ponsel Rio tahu-tahu bergetar, menandakan ada sebuah pesan singkat yang masuk ke nomernya. Rio mengalihkan sejenak perhatiannya dari Alvin dan Iel lalu membuka pesannya.

===================
From: Viana Aurora

Kak Rio, lo bisa jemput gue gak
nanti sepulang sekolah?
===================

            ada apa ya? Tumben nih anak minta jemput?’ Bathin Rio yang mulai merasa cemas. Ada apa dengan sahabat manisnya itu? Kenapa Rio mendadak cemas begini? Rasanya Rio ingin kabur dari sekolah sekarang juga dan melihat keadaan Via disekolahnya. Rio sangat mencemaskannya.



♥♥♥


            Alvin kaget, benar-benar kaget ketika melihat kedatangan Iel yang secara tiba-tiba ini. Tapi sebisa mungkin, Alvin berusaha menyembunyikan rasa kagetnya dengan bersikap setenang mungkin. Ia tidak ingin Iel menangkap keterkejutannya itu dan semakin membuat laki-laki berwajah manis itu berada diatas angin.

            Beberapa detik Alvin langsung mencairkan kebekuannya saat Iel sudah berdiri dihadapannya dan memainkan bola basket itu ditangannya. Alvin tersenyum miring.
            “Masih inget jalan pulang, lo? Gue pikir lo udah mati di Paris”
            “Lo berharap seperti itu?”
            “sepertinya” jawab Alvin dingin.

            Sekali lagi Iel menampakkan Smile Evil nya, tapi Alvin malah bergeming.

            Fine. Kayaknya lo gak mau kangen-kangenan sama gue. Tapi itu gak penting! Yang terpenting sekarang adalah, apa selama gue gak ada disini, lo jagain Mama sama Adik gue baik-baik?” Tanya Iel dengan nada setenang mungkin tapi sarat akan makna tersembunyi dibalik pertanyaan itu.

            Alvin terdiam sejenak dan berusaha membaca kilat-kilat dimata Iel. Tidak lama…

            “Kenapa lo bisa berpikir gue akan jagain mereka? Jangan mimpi!”
            Alvin lalu melangkah melewati Iel sambil menabrakkan kasar pundaknya dengan pundak Iel. Iel menghela napas panjangnya dan berusaha menenangkan dirinya. Untuk saat ini, Iel tidak boleh terpancing emosi.

            “Apa begini cara lo menyambut kedatangan KAKAK TIRI lo setelah selama 2 tahun kita gak ketemu? GUE SANGAT TERKESAN CALVIN ADRYAN BRAMANTYA” Ucap Iel dengen beberapa penekanan pada kata yang di Caps Lock.

            Alvin menghentikan langkahnya tapi tidak menoleh kebelakang. Sedikit saja ia menoleh kebelakang, maka dapat dipastikan Alvin tidak akan bisa menghentikan dirinya sendiri untuk membunuh laki-laki yang dulu pernah menjadi sahabat terdekatnya itu.

            Selama 2 tahun terakhir ini, Alvin selalu benci mendengar jika ada yang mengungkit-ungkit bahwa Iel adalah Kakak Tirinya. Tapi sekarang, detik ini, Iel yang bahkan dulu tidak pernah berani mengungkit hal itu sekarang malah mengungkitnya secara terang-terangan.

            Apa Iel mulai menantangnya? Entahlah, Alvin berusaha untuk tidak peduli. Lalu dengan emosi yang coba ia redam, Alvin kembali melanjutkan langkahnya tanpa sedikitpun menoleh kebelakang. Hari ini, adalah hari tersial dalam hidupnya.


            “Apapun keadaannya sekarang, bagi gue, lo tetep sahabat  terbaik yang pernah gue punya, Alvin…”



To Be Continued…

0 comments:

Post a Comment