Saturday, April 5, 2014

0

If Mister Arrogant In Love (Saat Cinta Datang Tanpa Bilang-Bilang) -Chapter 2a&2b-



Rio berdiri didepan gerbang SMA Patuh Karya sambil bersandar pada mobil Sport Hitam nya dengan risau. Ia sudah berdiri disana sekitar 10 menit yang lalu. Tujuannya ke SMA Patuh Karya adalah untuk memenuhi permintaan Via yang tadi memintanya untuk menjemput. Rio yang memang cemas karna tidak biasanya Via minta dijemput akhirnya langsung bergegas ke SMA Patuh Karya dan meninggalkan Ekskul Basketnya. Ya… semua itu Rio lakukan demi Via, Sahabat karibnya sejak ia masih kanak-kanak hingga kini ia menginjak usia remaja.
            Dan Rio sedikit bernapas lega ketika indera pendengarnya menangkap bunyi bel yang berkumandang lumayan keras, itu artinya jam pelajaran telah berakhir dan sebentar lagi Via akan keluar dari gedung sekolahnya.
            Beberapa orang mulai berdesakan keluar dari dalam gedung sekolah, Rio mengangkat lehernya tinggi-tinggi untuk mencari sosok sahabat manisnya, Via.
            “Waaahhh…. Ini cowok cakep banget siiihhhh??”
            “Cool, manis, tinggi…”
            “Gigi gingsulnya itu lho, bikin dia makin keliatan amazing”
            “mobilnya juga keren. Pasti anak tajir”
            “Ini kan anak dari Speranza High School? Udah pasti tajir lah”
            Itulah beberapa pujian yang sempat Rio dengar dari beberapa orang siswi yang mengerubunginya dan menatapnya dengan tatapan memuja. Semakin lama, gerombolan Siswi-siswi itu semakin banyak yang mengerubunginya. Sebenarnya Rio mulai risih dengan semua itu, tapi ia berusaha untuk tetap bersikap tenang.
            5 menit kemudian Rio akhirnya melihat sosok Via yang berjalan keluar dari gedung sekolah sambil dirangkul oleh Ify. Dan Rio sedikit mengernyit ketika melihat Via  berjalan dengan langkah yang pincang. Rasa cemas itu kian menjadi. Merasa ada sesuatu yang tidak beres, Rio langsung berlari kedalam area sekolah dan semakin membuat para sisiwi-siswi yang sejak tadi mengerubunginya semakin histeris tak terkendali.
            “Via lo kenapa? Kok bisa sampe kayak gini?” tanyanya cemas sambil mengambil alih Via dari rangkulan Ify. Seketika Ify langsung mencelos melihat perhatian Rio pada Via.
            “Tadi ada orang gila gak bertanggung jawab yang nyerempet gue. Bukannya minta maaf tuh orang malah marah-marah. Ya udahlah, gue gak mau bahas itu lagi. Sekarang yang terpenting gue mau pulang. Gue udah gak tahan lagi.”
            “Pulang? Gak! Kita kerumah sakit dulu”
            “Tapi –“
            “Gak ada tapi-tapian, Vi… Gue cemas banget sama keadaan lo. Terus sepeda lo kemana?”
            “Sepeda gue rusak. Tuh ada diparkiran. Gue gak mungkin bisa pulang pake sepeda itu, makanya gue minta jemput”
            No Problem! Nanti gue suruh orang buat ambil sepeda lo. Sekarang kita kerumah sakit dulu sebelum luka lo infeksi”
            Via hanya mengangguk. Ia tidak mungkin memiliki alasan lagi untuk menolak ajakan Rio. Rio menatap Ify sejenak, ia mengangkat tangan kananya lalu mengusap puncak kepala Ify.
            “Fy… gue pamit ya?”
            Ify hanya mengangguk dan tidak menjawab. Rio tersenyum kecil lalu menurunkan tangannya dari kepala Ify.
            Tanpa disangka-sangka, Rio mengangkat tubuh Via lalu membopongnya. Semua yang menyaksikan adegan itu kontan tercengang, tidak terkecuali Ify. Bahkan ada beberapa dari sisiwi-sisiwi yang melihat adegan itu secara terang-terangan berteriak histeris, dan ada juga dari mereka yang melemparkan tatapan iri pada Via.
            Ify berusaha menahan sesak didadanya dan berusaha meyakinkan hatinya bahwa hubungan yang terjalin antara Rio dan Via hanya sebatas sahabat. Tidak lebih dari sahabat. Dan meskipun Rio tidak pernah menyatakan perasaannya secara langsung, Ify yakin bahwa sejak lama hati pemuda itu hanya untuknya. Bukan untuk yang lain.
            “Kak Rio! Kenapa gue pake acara dibopong segala sih??” protes Via sambil memukul pelan dada Rio yang sudah berjalan membawanya.
            “Gue gak mau jalan sama siput, jadi udah, gak usah protes lagi!” Via langsung manyun.


♥♥♥

3 Tahun Yang Lalu…                                         

            “Alv, kenapa sih lo gak suka Mama gue sama Daddy lo nikah? Bukannya tambah keren kalo kita jadi saudara?” Tanya Iel yang merasa sedikit bingung dengan perubahan sikap Alvin padanya juga pada Ify beberapa hari menjelang hari pernikahan orang tua mereka.
            Alvin menatap Iel tajam dan seakan terganggu oleh pertanyaan yang baru saja Iel lemparkan. Dan Iel tidak pernah mengerti, kenapa hubungan persahabatannya yang dulu begitu dekat dengan Alvin sekarang berubah menjadi seperti ini. Dingin dan penuh dengan aura permusuhan.
            Sejak orang tua mereka memutuskan untuk menikah, entah kenapa Iel mulai merasakan perubahan sikap Alvin yang begitu mencolok, padahal Iel begitu bahagia dengan kabar pernikahan orang tua mereka, karna dengan begitu, ia dan Alvin bisa menjadi sepasang saudara dalam arti yang sebenarnya.
Alvin yang dulunya ramah dan sangat bersahabat mendadak berubah menjadi dingin, apatis, angkuh dan tak banyak bicara. Dan sejak saat itu, Alvin seakan sengaja membentang sekat diantara mereka. Sebentuk sekat, yang rasanya mustahil untuk bisa Iel singkirkan. Iel telah benar-benar kehilangan sahabatnya yang dulu.
            “Lo mau tau jawaban gue apa?” Tanya Alvin dingin. Otot-otot diwajahnya tampak menegang menahan amarah. Iel hanya mengangguk.

            “karna gak ada seorang pun yang berhak ngegantiin posisi Mami termasuk Mama lo. Dan siapapun yang berusaha ngegantiin posisi Mami gue, dia gue anggak musuh. Paham lo? Dan jangan pernah bermimpi gue akan mau jadi saudara lo!” ungkap Alvin penuh kegetiran lalu melangkah pergi meninggalkan Iel tanpa menoleh sedikitpun.
            Diktum yang baru saja Alvin lemparkan padanya seakan memukul telak jantung Iel, tapi Iel tahu persis, bahwa ada banyak luka yang tersirat dari intonasi suara Alvin yang terdengar getir. Ya, Iel dapat merasakan semua itu. Bagaimana tidak, jika ia telah mengenal Alvin lebih dari dia mengenal dirinya sendiri. Dan sejak saat itu, Alvin acapkali mengeluarkan kata-kata pedas yang kadang membuat Iel dan Ify tidak mengenal lagi sahabat mereka. Mereka telah benar-benar kehilangan Alvin sejak hari itu.
           

♥♥♥

            Suara hantaman pintu yang cukup keras membuat Ify dan Iel yang saat itu tengah saling melepas kangen satu sama lain terkejut dan secara bersamaan menoleh kearah pintu. Disana, mereka sama-sama mendapati Alvin yang beku dalam langkahnya ketika melihat mereka berdua. Alvin menatap Iel dan Ify untuk beberapa saat dengan tatapan yang susah diartikan. Alvin lalu membuang napasnya dan kembali melanjutkan langkahnya menyusuri anak tangga.
            Ify dan Iel saling menatap dengan pandangan bertanya. Mereka benar-benar tidak mengerti dengan sikap Alvin selama 3 tahun belakangan ini. Beberapa menit kemudian, Alvin terlihat menuruni anak tangga dengan masih mengenakan seragam sekolahnya juga dengan membawa sebuah ransel yang lumayan besar. Ify dan Iel makin dibuat bingung.
            “Ma-mau kemana, Vin?” Tanya Ify skeptis dan sedikit gugup, takut-takut jika Alvin sama sekali tidak menanggapinya.
            “Bukan urusan lo!” jawab Alvin dingin tanpa sedikitpun menatap lawan bicaranya. Alvin pun keluar dari dalam rumah dan untuk yang kedua kalinya membanting pintu dengan keras.
            Terserah bagaimana tanggapan Papa nya nanti, Alvin tidak peduli. Yang ia inginkan sekarang hanyalah cepat-cepat keluar dari rumah ini. Alvin sudah cukup muak hidup dalam kepura-puraan selama 3 tahun terakhir ini. Dan sekarang saatnyalah bagi Alvin untuk mengambil sebuah keputusan. Apapun resikonya, Alvin telah siap menerimanya.
            “Apa lo berpikir sama dengan gue Kak?” ujar Ify sambil melirik kearah Iel. Iel tampak berpikir, tidak lama Iel pun mengangguk.
            “Tapi itu gak penting sekarang! Yang terpenting adalah gimana cara kita ngelindungin Brengsek Tengik itu dari kemarahan Papa” Ucap Iel dengan menyebut Alvin sebagai ‘Brengsek Tengik’. Dan itu adalah panggilan kesayangannya untuk Alvin dari Iel mulai detik ini.


♥♥♥
B-Café

            Seminggu berlalu semenjak kecelakaan itu, kondisi Via sudah kembali membaik. Minimal sekarang Via tidak perlu melangkah seperti orang pincang. Ia bisa melangkah dan bahkan berlari dengan bebas. Tapi dalam hatinya, Via masih menyimpan dendam yang teramat sangat  pada laki-laki sengak nan angkuh yang sudah menyerempetnya dan berlalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata maaf. Via bersumpah dalam hatinya, jika sekali lagi ia bertemu dengan laki-laki itu, Via akan melempar kepalanya dengan sepatunya sendiri.
            Via terlihat sedang sibuk mondar mandir didalam café melayani setiap tamu yang datang dengan ramah. Hari ini dan untuk seminggu kedepan Via akan menghadapi Liburan Tengah Semester. Dan seperti biasa, Liburan tengah semesternya ia habiskan dengan bekerja.
            Sudah setengah tahun Via bekerja paruh waktu di B-Café ini. Konon kata Rio, B-Café ini adalah Café milik salah satu sahabat dekatnya. Bahkan Rio yang membantu Via hingga bisa masuk dan bekerja paruh waktu di Café ini. Dan Via tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan yang datang padanya.
            Kondisi keluarganya yang amat sederhana membuat Via harus bisa hidup mandiri tanpa perlu menyusahkan Ibu nya. Apalagi akhir-akhir ini Ibu nya sering sakit-sakitan, dan Via harus bekerja ekstra keras demi bisa menutupi kebutuhan keluarganya. Ayahnya meninggal sejak Via masih bayi, dan sejak saat itu, praktis Ibunya menjadi seorang Single parent. Dulu saat Ibu nya masih sehat, Ibunya adalah seorang pekerja keras, sama seperti Via. Tapi semenjak Ibunya sakit-sakitan, beliau tidak lagi bekerja dan dengan terpaksa menjadikan Via sebagai tulang punggung keluarga. Tapi sekalipun Via tidak pernah mengeluh dengan keadaan yang ada sekarang, ia justru selalu bersyukur karna hingga detik ini Tuhan berbaik hati memberikan napas untuknya dan senantiasa mengijinkannya membuka mata dipagi hari saat ia terbangun dan melihat matahari terbit.
            “KAK RIOOOO!!” Pekik Via dari kejauhan saat melihat siluet Rio memasuki Café dengan senyumannya yang selalu terlihat manis.
            Via berlari kecil menghampiri Rio. Rio pun langsung mengusap lembut puncak kepala Via saat Via sudah berdiri dihadapannya.
            “semangat banget, Neng?” kata Rio sedikit mencibir. Tapi Via hanya membalasnya dengan sebuah cengiran.
            “Ayo duduk! Lo mau pesen apa?”
            “gue mesennya nanti aja, soalnya gue mau nunggu temen-temen gue dulu”
            “temen-temen lo cakep gak?”
            “gak usah mulai centil deh” ujar Rio malas lalu duduk disalah satu meja café. Baru saja Via akan menghampiri Rio dan duduk didepannya, tiba-tiba saja Bos nya memanggil.
            “Viana!”
            Via menatap Rio sejenak lalu pamit. Sebagai jawaban Rio hanya menganggukan kepalanya.



♥♥♥

“Masa nyari pembantu satu aja lo gak becus sih?” Omel Alvin pada seseorang ditelfon.
            “Pokoknya gue gak mau tau ya? Besok lo harus udah dapet satu pembantu buat gue. Lo gak mungkin ngarepin gue buat ngebersihin apertement ini sendiri kan? Kalo sampe besok lo gak dapet pembantu, gue pastiin lo yang akan jadi babu gue disini. Paham lo?”
            Alvin lalu memutuskan sambungan telfonnya dengan kepala asisten rumah tangga dikediaman Papanya. Merasa benar-benar kesal atas ketidakbecusan kepalas asisten rumah tangganya, Alvin langsung membanting handphonenya ketempat tidur.
            Alvin mengacak rambutnya Frustasi. Sudah satu minggu terhitung semenjak Alvin memutuskan untuk keluar dari rumahnya dan tinggal sendiri di Apartement milik almarhum Mami nya. Dan selama satu minggu ini juga, tidak tampak oleh Alvin gerak-gerik Papanya. Harusnya Alvin merasa aman dengan itu, tapi Alvin justru merasa sebaliknya. Dan Alvin tahu betul, bahwa diam-diam Papa nya pasti sedang melakukan sesuatu untuk mengirimnya kembali pulang kerumah neraka itu. Untuk saat ini, Alvin hanya perlu waspada.
            Handphone Alvin tiba-tiba bergetar menandakan ada sebuah pesan masuk. Dengan malas Alvin meraih handphonenya lalu membuka pesannya.


=====================

From: Mario Stevano

Gue tunggu lo semua
Di B-Café! Gak pake lama.

=====================

            Alvin mendengus. Sejak kapan Rio berani menyuruh-nyuruhnya seperti ini? Tapi toh Alvin tetap menyeret langkahnya untuk menemui Rio di B-Café. Alvin bangkit dari tepi ranjangnya lalu meraih jaket serta kunci motornya.

            “Gue jadiin pergedel juga lo, Yo…”



♥♥♥

       “Bawa pesenan ini ke meja 8 ya?”
            Via hanya mengangguk lalu mengambil alih nampan itu dari salah seorang rekan kerjanya. Via berjalan dengan gesit kearah meja 8, tapi perhatiannya tiba-tiba saja tertuju pada Rio yang saat itu malah mengedipkan mata sebelah kirinya. Via manyun. Dan karna hal itu, Via jadi tidak memperhatikan jalannya.
            Dan praang! Nampan beserta gelas minuman itu terjatuh ke lantai gara-gara Via menabrak seorang pengunjung. Kali ini semua perhatian seluruh pengunjung Café tertuju pada 2 orang yang sedang berdiri ditengah-tengah sambil saling menatap satu sama lain.
            “Ups!” gumam Via pelan. Dan Via sedikit meringis ketika melihat baju pengunjung itu yang basah akibat ulahnya menumpahkan minuman.
            “Maaf… Maaf… gak sengaja” sesal Via lalu dengan segera mengelap baju pengunjung tadi dengan sapu tangan yang ada dikantongnya.
            “Gak apa-apa. Cuma lain kali hati-hati ya?” Laki-laki berkulit sedikit gelap dan berwajah manis itu mengambil alih sapu tangan tadi dari tangan Via. Dan saat kulit mereka bersentuhan untuk beberapa detik, Laki-laki itu membeku.
            Via lalu mengangkat wajahnya dan melihat kearah laki-laki itu yang ternyata sedang menatap dirinya bahkan tanpa berkedip. Via meneguk ludahnya dalam-dalam, cowok ini manis juga. Pikirnya.
            “Via lo ceroboh banget siiihhh?” Omel Rio yang tiba-tiba saja menghampiri mereka. Via beserta laki-laki tadi langsung terkesiap.
            ‘ooo… jadi namanya Via…’
            “Gue gak sengaja, Kak” Ucap Via dengan nada merajuk. Rio hanya menggelengkan kepalanya beberapa kali lalu mengalihkan perhatiannya pada Iel.
            “Bro, lo gak apa-apa kan?”
            “Gak lah! Kan Cuma basah aja” jawab Iel sambil menunjukan baju kaos putihnya yang sedikit basah.
            “Pesanan saya mana?” Teriak salah seorang dari arah meja 8 dengan nada protes.
            “Maaf, Maaf… akan saya ambilkan lagi” Via buru-buru berbalik, tapi Iel malah mencegat pergelangan tangannya.
            “Ada apa?”
            “Gue Iel” Iel mengulurkan tangan kanannya setelah sebelumnya ia melepaskan pergelangan tangan Via.
            “Via” jawabnya singkat lalu buru-buru melepaskan tangannya dan segera berlari kearah Pantry untuk mengambil pesanan yang baru.
            Iel tersenyum menatap kepergian Via. Sepertinya… Ia menyukai Gadis itu.
            “Lo kenal dia, Yo?”
            “Iya, dia Sahabat gue dari kecil. Ya udah yuk, kita balik ke meja. Bentar lagi Cakka sama Alvin kayaknya bakalan dateng”
            Iel hanya menurut tanpa berkata banyak. Perhatiannya sudah terlanjur tercuri oleh Via.


♥♥♥

Sebagai hukuman atas keteledorannya tadi, maka oleh Bos nya Via diperintahkan membersihkan toilet Wanita dan Pria sekaligus. Dan selama membersihkan toilet, Via terus-terusan menggerutu tidak jelas.
            Setelah usai membersihkan toilet wanita, kini tiba saatnya Via membersihkan Toilet pria. Dengan setengah hati Via membuka pintu toilet Pria lalu mulai membersihkannya.
            Dan saat sedang mengelap cermin, tiba-tiba saja Via melihat bayangan seseorang terpantul dicermin. Via mengamati wajah itu baik-baik, dan kelamaan Via mulai mengingat. Laki-laki ini adalah laki-laki yang seminggu yang lalu menyerempetnya lalu pergi tanpa meminta maaf dan menghinanya.
            Via menghela napas panjangnya. Ia berbalik lalu berjalan kearah Alvin yang justru tidak menyadari kehadirannya disana karna tengah sibuk berkutat dengan layar ponsel touch screen nya. Via tersenyum miring. Sekarang saatnya lah ia membalas dendan pada Laki-laki arrogant yang sengak ini.
            “HEH LO!!”
            Alvin serta merta mengangkat wajahnya saat indera pendengarnya menangkap ada sebuah suara dengan nada tidak mengenakan menyapa gendang telinganya. Alvin menatap Via yang berdiri dengan menantang dihadapannya. Alvin lalu menatap kesekelilingnya, berusaha memastikan bahwa ditempat itu hanya ada dirinya dan Gadis yang tidak ia kenal ini.
            “Lo manggil gue?!” Tanya Alvin sedikit sanksi sambil menunjuk dirinya sendiri.
            “Iya elo! Cowok arrogant gak bertanggung jawab yang udah nyerempet gue, ngehina gue dan pergi tanpa minta maaf”
            “owh? Elo lagi?” kata Alvin seakan tak peduli lalu melangkah begitu saja melewati Via. Alvin tidak ingin waktunya terbuang sia-sia hanya untuk menghadapi cewek bergengsi selangit yang menurutnya sangat tidak penting ini.
            Sakit hati karna diacuhkan oleh Alvin, Via kembali membuka suara tapi kali ini dengan nada meninggi.
            “Dari kelakuan lo aja, gue bisa nebak. Lo gak lebih dari seorang anak kaya manja yang selalu mengandalkan kekayaan orang tuanya hanya untuk hal-hal yang gak penting. Asal lo tau ya, TUAN ARROGANT …” Jeda sesaat, Via lalu berjalan mendekati Alvin yang terdiam dibelakang pintu tanpa sedikitpun menoleh kearahnya.
            Lalu dengan berani, Via berdiri dihadapan Alvin, tepatnya dibelakang pintu. Via melipat kedua tangannya diperut lalu menatap Alvin dengan pandangan meremehkan. Via tersenyum mencibir saat melihat otot-otot diwajah Alvin yang mulai menegang.
            “Uang bukan segalanya. Lo mungkin punya banyak uang, tapi gue bisa nebak bahwa hidup lo selama ini gak pernah mengecap yang namanya bahagia. Gue bener kan?”
            Alvin yang awalnya tidak ingin meladeni Gadis ini akhirnya mau tidak mau merasa terpancing juga atas ke-sok-tahu-an gadis ini. Sekalipun itu benar, tapi Alvin enggan mengakuinya.
            Secara mengejutkan, Alvin meraih salah satu tangan Via lalu sedikit mendorong dan memojokannya ke pintu. Alvin menatap Via dengan tatapan paling tajam dan mengerikan yang pernah ia punya. Jarak wajahnya dengan wajah Via yang hanya berjarak sekian senti justru membuat Via bisa melihat dengan jelas lekuk-lekuk keangkuhan yang menghiasi wajah tampan cowok arrogant ini. Via membeku ditempatnya, mendadak jantungnya bekerja diatas normal. Bukan karna pesona Alvin yang begitu membius, tapi karna rasa takut yang perlahan mulai melingkupi sebagian dirinya.
            “Gue akan tunjukin ke elo gimana selama ini gue hidup bermanja-manja hanya dengan mengandalkan kekayaan orang tua gue, dan gue juga akan tunjukin ke elo, bahwa uang memang adalah segalanya… NONA SOK TAHU!” ucap Alvin dengan tenang namun sarat akan emosi yang menggelegak disetiap kalimatnya. Dan perkataan Alvin itu malah membuat Via merinding.
            Alvin lalu sedikit melonggarkan pegangannya pada tangan Via tapi tidak melepaskan seutuhnya. Dan entah kenapa, keberanian yang sejak tadi terpatri dalam diri Via mendadak menciut ketika melihat tatapan angkuh Pria ini. Via seakan bisu.
            “Septian!” Panggil Alvin dengan tegas pada seseorang ditelfon. Kedua mata Via langsung membelalak maksimal. Septian? Itu kan nama Bos nya? Tamat sudah riwayatnya. “Lo sekarang ke toilet. Secepetnya!” titah Alvin dengan nada tidak ingin dibantah. Beberapa saat kemudian, Alvin kembali memasukan ponselnya kedalam kantong. Alvin kembali menatap Via.
            “Elo… Elo kenal Pak Septian?” Tanya Via sedikit terbata.
            “Gue pemilik Café ini, dan dia bawahan gue”
            “APA??”
            “Tapi tenang aja, gue gak akan mecat lo kok” ucap Alvin dengan nada yang sengaja dimanis-maniskan. Dan darisana Via bisa merasakan sebuah firasat buruk.
            3 menit kemudian, seseorang tiba-tiba membuka pintu toilet dan secara otomatis membuat Alvin dan Via langsung menyingkir dari belakang pintu.
            Dari balik pintu, menyembullah Septian, Bos Café ini yang katanya adalah bawahan Alvin.
            “Ada apa, Mas Alvin?” Tanya Septian sedikit sungkan.
            Alvin tersenyum licik sambil menatap Via.

            “Gue mau dia jadi pembantu di Apartement gue sampe gue bisa dapetin pembantu baru. Dan ini perintah!” ucap Alvin pada Septian tanpa sedikitpun mengalihkan tatapannya dari Via.
            Via kontan terkejut, dan saat ia sudah siap-siap melayangkan protes, Alvin malah sudah pergi dari toilet dan meninggalkan Via bersama Septian.
            “Elo… elo…” Via sudah bersiap membuka sepatunya dan melempar kepala Alvin, tapi Septian buru-buru menghentikannya.
            “Via saya mohon jangan!”
            “Tapi Pak… dia… dia….”
            “Kamu sudah buat dia marah dan itu salah. Selama ini gak pernah ada yang berani buat dia marah, tapi kamu? Sekarang begini saja, dari Rio saya tahu kamu sangat butuh pekerjaan ini, Via. Dan jika kamu ingin tetap bekerja disini dan mendapatkan uang, tolong ikuti kemauan dia…”
            “Tapi Pak…”
            “Viana, kamu gak punya pilihan lain selain menerima. Asal kamu tahu, seorang Calvin Bramantya bisa melakukan apapun yang dia mau, dan hal yang akan dia lakukan tidak akan pernah terpikirkan oleh siapapun”
            Itulah ucapan terakhir Septian sebelum akhirnya ia meninggalkan Via sendiri ditempat itu. Seketika Via langsung merasakan kedua lututnya lemah, dan Via merasa sudah tidak mampu lagi berdiri diatas kedua kakinya sendiri. Secara perlahan, tubuh Via merosot, ia pun terduduk dilantai dengan pikiran yang benar-benar kacau.
            Jika ia melepaskan pekerjaan ini, lalu bagaimana ia harus mencari pekerjaan lagi sementara Ibu nya sedang sakit-sakitan? Via memejamkan kedua matanya sejenak dan sedikit menyesali diri karna tadi ia sudah menentang si Mister Arrogant itu.

            “masa gue jadi pembantunya dia siiihhh?? Gak sudi! Gak sudiiiii!!!




To Be Continued…

0 comments:

Post a Comment