Rio berdiri didepan gerbang SMA Patuh Karya
sambil bersandar pada mobil Sport Hitam nya dengan risau. Ia sudah berdiri
disana sekitar 10 menit yang lalu. Tujuannya ke SMA Patuh Karya adalah untuk
memenuhi permintaan Via yang tadi memintanya untuk menjemput. Rio yang memang
cemas karna tidak biasanya Via minta dijemput akhirnya langsung bergegas ke SMA
Patuh Karya dan meninggalkan Ekskul Basketnya. Ya… semua itu Rio lakukan demi
Via, Sahabat karibnya sejak ia masih kanak-kanak hingga kini ia menginjak usia
remaja.
Dan Rio sedikit bernapas lega ketika
indera pendengarnya menangkap bunyi bel yang berkumandang lumayan keras, itu
artinya jam pelajaran telah berakhir dan sebentar lagi Via akan keluar dari
gedung sekolahnya.
Beberapa orang mulai berdesakan
keluar dari dalam gedung sekolah, Rio mengangkat lehernya tinggi-tinggi untuk
mencari sosok sahabat manisnya, Via.
“Waaahhh…. Ini cowok cakep banget siiihhhh??”
“Cool, manis, tinggi…”
“Gigi gingsulnya itu lho, bikin dia
makin keliatan amazing”
“mobilnya juga keren. Pasti anak
tajir”
“Ini kan anak dari Speranza High
School? Udah pasti tajir lah”
Itulah beberapa pujian yang sempat
Rio dengar dari beberapa orang siswi yang mengerubunginya dan menatapnya dengan
tatapan memuja. Semakin lama, gerombolan Siswi-siswi itu semakin banyak yang
mengerubunginya. Sebenarnya Rio mulai risih dengan semua itu, tapi ia berusaha
untuk tetap bersikap tenang.
5 menit kemudian Rio akhirnya
melihat sosok Via yang berjalan keluar dari gedung sekolah sambil dirangkul
oleh Ify. Dan Rio sedikit mengernyit ketika melihat Via berjalan dengan langkah yang pincang. Rasa
cemas itu kian menjadi. Merasa ada sesuatu yang tidak beres, Rio langsung
berlari kedalam area sekolah dan semakin membuat para sisiwi-siswi yang sejak
tadi mengerubunginya semakin histeris tak terkendali.
“Via lo kenapa? Kok bisa sampe kayak
gini?” tanyanya cemas sambil mengambil alih Via dari rangkulan Ify. Seketika Ify
langsung mencelos melihat perhatian Rio pada Via.
“Tadi ada orang gila gak bertanggung
jawab yang nyerempet gue. Bukannya minta maaf tuh orang malah marah-marah. Ya
udahlah, gue gak mau bahas itu lagi. Sekarang yang terpenting gue mau pulang.
Gue udah gak tahan lagi.”
“Pulang? Gak! Kita kerumah sakit
dulu”
“Tapi –“
“Gak ada tapi-tapian, Vi… Gue cemas
banget sama keadaan lo. Terus sepeda lo kemana?”
“Sepeda gue rusak. Tuh ada
diparkiran. Gue gak mungkin bisa pulang pake sepeda itu, makanya gue minta
jemput”
“No
Problem! Nanti gue suruh orang buat ambil sepeda lo. Sekarang kita kerumah
sakit dulu sebelum luka lo infeksi”
Via hanya mengangguk. Ia tidak
mungkin memiliki alasan lagi untuk menolak ajakan Rio. Rio menatap Ify sejenak,
ia mengangkat tangan kananya lalu mengusap puncak kepala Ify.
“Fy… gue pamit ya?”
Ify hanya mengangguk dan tidak menjawab.
Rio tersenyum kecil lalu menurunkan tangannya dari kepala Ify.
Tanpa disangka-sangka, Rio
mengangkat tubuh Via lalu membopongnya. Semua yang menyaksikan adegan itu
kontan tercengang, tidak terkecuali Ify. Bahkan ada beberapa dari sisiwi-sisiwi
yang melihat adegan itu secara terang-terangan berteriak histeris, dan ada juga
dari mereka yang melemparkan tatapan iri pada Via.
Ify berusaha menahan sesak didadanya
dan berusaha meyakinkan hatinya bahwa hubungan yang terjalin antara Rio dan Via
hanya sebatas sahabat. Tidak lebih dari sahabat. Dan meskipun Rio tidak pernah
menyatakan perasaannya secara langsung, Ify yakin bahwa sejak lama hati pemuda
itu hanya untuknya. Bukan untuk yang lain.
“Kak Rio! Kenapa gue pake acara
dibopong segala sih??” protes Via sambil memukul pelan dada Rio yang sudah
berjalan membawanya.
“Gue gak mau jalan sama siput, jadi
udah, gak usah protes lagi!” Via langsung manyun.
♥♥♥
3
Tahun Yang Lalu…
“Alv,
kenapa sih lo gak suka Mama gue sama Daddy lo nikah? Bukannya tambah keren kalo
kita jadi saudara?” Tanya Iel yang merasa sedikit bingung dengan perubahan
sikap Alvin padanya juga pada Ify beberapa hari menjelang hari pernikahan orang
tua mereka.
Alvin
menatap Iel tajam dan seakan terganggu oleh pertanyaan yang baru saja Iel
lemparkan. Dan Iel tidak pernah mengerti, kenapa hubungan persahabatannya yang
dulu begitu dekat dengan Alvin sekarang berubah menjadi seperti ini. Dingin dan
penuh dengan aura permusuhan.
Sejak
orang tua mereka memutuskan untuk menikah, entah kenapa Iel mulai merasakan
perubahan sikap Alvin yang begitu mencolok, padahal Iel begitu bahagia dengan
kabar pernikahan orang tua mereka, karna dengan begitu, ia dan Alvin bisa
menjadi sepasang saudara dalam arti yang sebenarnya.
Alvin yang
dulunya ramah dan sangat bersahabat mendadak berubah menjadi dingin, apatis, angkuh
dan tak banyak bicara. Dan sejak saat itu, Alvin seakan sengaja membentang
sekat diantara mereka. Sebentuk sekat, yang rasanya mustahil untuk bisa Iel
singkirkan. Iel telah benar-benar kehilangan sahabatnya yang dulu.
“Lo
mau tau jawaban gue apa?” Tanya Alvin dingin. Otot-otot diwajahnya tampak
menegang menahan amarah. Iel hanya mengangguk.
“karna
gak ada seorang pun yang berhak ngegantiin posisi Mami termasuk Mama lo. Dan
siapapun yang berusaha ngegantiin posisi Mami gue, dia gue anggak musuh. Paham
lo? Dan jangan pernah bermimpi gue akan mau jadi saudara lo!” ungkap Alvin
penuh kegetiran lalu melangkah pergi meninggalkan Iel tanpa menoleh sedikitpun.
Diktum
yang baru saja Alvin lemparkan padanya seakan memukul telak jantung Iel, tapi
Iel tahu persis, bahwa ada banyak luka yang tersirat dari intonasi suara Alvin
yang terdengar getir. Ya, Iel dapat merasakan semua itu. Bagaimana tidak, jika
ia telah mengenal Alvin lebih dari dia mengenal dirinya sendiri. Dan sejak saat
itu, Alvin acapkali mengeluarkan kata-kata pedas yang kadang membuat Iel dan
Ify tidak mengenal lagi sahabat mereka. Mereka telah benar-benar kehilangan
Alvin sejak hari itu.
♥♥♥
Suara hantaman pintu yang cukup
keras membuat Ify dan Iel yang saat itu tengah saling melepas kangen satu sama
lain terkejut dan secara bersamaan menoleh kearah pintu. Disana, mereka sama-sama
mendapati Alvin yang beku dalam langkahnya ketika melihat mereka berdua. Alvin
menatap Iel dan Ify untuk beberapa saat dengan tatapan yang susah diartikan.
Alvin lalu membuang napasnya dan kembali melanjutkan langkahnya menyusuri anak
tangga.
Ify dan Iel saling menatap dengan
pandangan bertanya. Mereka benar-benar tidak mengerti dengan sikap Alvin selama
3 tahun belakangan ini. Beberapa menit kemudian, Alvin terlihat menuruni anak
tangga dengan masih mengenakan seragam sekolahnya juga dengan membawa sebuah
ransel yang lumayan besar. Ify dan Iel makin dibuat bingung.
“Ma-mau kemana, Vin?” Tanya Ify skeptis
dan sedikit gugup, takut-takut jika Alvin sama sekali tidak menanggapinya.
“Bukan urusan lo!” jawab Alvin
dingin tanpa sedikitpun menatap lawan bicaranya. Alvin pun keluar dari dalam
rumah dan untuk yang kedua kalinya membanting pintu dengan keras.
Terserah bagaimana tanggapan Papa
nya nanti, Alvin tidak peduli. Yang ia inginkan sekarang hanyalah cepat-cepat
keluar dari rumah ini. Alvin sudah cukup muak hidup dalam kepura-puraan selama
3 tahun terakhir ini. Dan sekarang saatnyalah bagi Alvin untuk mengambil sebuah
keputusan. Apapun resikonya, Alvin telah siap menerimanya.
“Apa lo berpikir sama dengan gue
Kak?” ujar Ify sambil melirik kearah Iel. Iel tampak berpikir, tidak lama Iel
pun mengangguk.
“Tapi itu gak penting sekarang! Yang
terpenting adalah gimana cara kita ngelindungin Brengsek Tengik itu dari
kemarahan Papa” Ucap Iel dengan menyebut Alvin sebagai ‘Brengsek Tengik’. Dan
itu adalah panggilan kesayangannya untuk Alvin dari Iel mulai detik ini.
♥♥♥
B-Café
Seminggu berlalu semenjak kecelakaan
itu, kondisi Via sudah kembali membaik. Minimal sekarang Via tidak perlu
melangkah seperti orang pincang. Ia bisa melangkah dan bahkan berlari dengan
bebas. Tapi dalam hatinya, Via masih menyimpan dendam yang teramat sangat pada laki-laki sengak nan angkuh yang sudah
menyerempetnya dan berlalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata maaf. Via
bersumpah dalam hatinya, jika sekali lagi ia bertemu dengan laki-laki itu, Via
akan melempar kepalanya dengan sepatunya sendiri.
Via terlihat sedang sibuk mondar
mandir didalam café melayani setiap tamu yang datang dengan ramah. Hari ini dan
untuk seminggu kedepan Via akan menghadapi Liburan Tengah Semester. Dan seperti
biasa, Liburan tengah semesternya ia habiskan dengan bekerja.
Sudah setengah tahun Via bekerja
paruh waktu di B-Café ini. Konon kata Rio, B-Café ini adalah Café milik salah
satu sahabat dekatnya. Bahkan Rio yang membantu Via hingga bisa masuk dan
bekerja paruh waktu di Café ini. Dan Via tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan
yang datang padanya.
Kondisi keluarganya yang amat
sederhana membuat Via harus bisa hidup mandiri tanpa perlu menyusahkan Ibu nya.
Apalagi akhir-akhir ini Ibu nya sering sakit-sakitan, dan Via harus bekerja
ekstra keras demi bisa menutupi kebutuhan keluarganya. Ayahnya meninggal sejak
Via masih bayi, dan sejak saat itu, praktis Ibunya menjadi seorang Single parent. Dulu saat Ibu nya masih
sehat, Ibunya adalah seorang pekerja keras, sama seperti Via. Tapi semenjak
Ibunya sakit-sakitan, beliau tidak lagi bekerja dan dengan terpaksa menjadikan
Via sebagai tulang punggung keluarga. Tapi sekalipun Via tidak pernah mengeluh
dengan keadaan yang ada sekarang, ia justru selalu bersyukur karna hingga detik
ini Tuhan berbaik hati memberikan napas untuknya dan senantiasa mengijinkannya
membuka mata dipagi hari saat ia terbangun dan melihat matahari terbit.
“KAK RIOOOO!!” Pekik Via dari
kejauhan saat melihat siluet Rio memasuki Café dengan senyumannya yang selalu
terlihat manis.
Via berlari kecil menghampiri Rio.
Rio pun langsung mengusap lembut puncak kepala Via saat Via sudah berdiri
dihadapannya.
“semangat banget, Neng?” kata Rio
sedikit mencibir. Tapi Via hanya membalasnya dengan sebuah cengiran.
“Ayo duduk! Lo mau pesen apa?”
“gue mesennya nanti aja, soalnya gue
mau nunggu temen-temen gue dulu”
“temen-temen lo cakep gak?”
“gak usah mulai centil deh” ujar Rio
malas lalu duduk disalah satu meja café. Baru saja Via akan menghampiri Rio dan
duduk didepannya, tiba-tiba saja Bos nya memanggil.
“Viana!”
Via menatap Rio sejenak lalu pamit.
Sebagai jawaban Rio hanya menganggukan kepalanya.
♥♥♥
“Masa
nyari pembantu satu aja lo gak becus sih?” Omel Alvin pada seseorang ditelfon.
“Pokoknya gue gak mau tau ya? Besok lo harus udah dapet
satu pembantu buat gue. Lo gak mungkin ngarepin gue buat ngebersihin apertement
ini sendiri kan? Kalo sampe besok lo gak dapet pembantu, gue pastiin lo yang
akan jadi babu gue disini. Paham lo?”
Alvin lalu memutuskan sambungan telfonnya dengan kepala
asisten rumah tangga dikediaman Papanya. Merasa benar-benar kesal atas
ketidakbecusan kepalas asisten rumah tangganya, Alvin langsung membanting
handphonenya ketempat tidur.
Alvin mengacak rambutnya Frustasi. Sudah satu minggu
terhitung semenjak Alvin memutuskan untuk keluar dari rumahnya dan tinggal
sendiri di Apartement milik almarhum Mami nya. Dan selama satu minggu ini juga,
tidak tampak oleh Alvin gerak-gerik Papanya. Harusnya Alvin merasa aman dengan
itu, tapi Alvin justru merasa sebaliknya. Dan Alvin tahu betul, bahwa diam-diam
Papa nya pasti sedang melakukan sesuatu untuk mengirimnya kembali pulang
kerumah neraka itu. Untuk saat ini, Alvin hanya perlu waspada.
Handphone Alvin tiba-tiba bergetar menandakan ada sebuah
pesan masuk. Dengan malas Alvin meraih handphonenya lalu membuka pesannya.
=====================
From: Mario Stevano
Gue tunggu lo semua
Di B-Café! Gak pake lama.
=====================
Alvin mendengus. Sejak kapan Rio
berani menyuruh-nyuruhnya seperti ini? Tapi toh Alvin tetap menyeret langkahnya
untuk menemui Rio di B-Café. Alvin bangkit dari tepi ranjangnya lalu meraih
jaket serta kunci motornya.
“Gue jadiin pergedel juga lo, Yo…”
♥♥♥
“Bawa pesenan ini
ke meja 8 ya?”
Via hanya mengangguk lalu mengambil
alih nampan itu dari salah seorang rekan kerjanya. Via berjalan dengan gesit
kearah meja 8, tapi perhatiannya tiba-tiba saja tertuju pada Rio yang saat itu
malah mengedipkan mata sebelah kirinya. Via manyun. Dan karna hal itu, Via jadi
tidak memperhatikan jalannya.
Dan praang! Nampan beserta gelas
minuman itu terjatuh ke lantai gara-gara Via menabrak seorang pengunjung. Kali ini
semua perhatian seluruh pengunjung Café tertuju pada 2 orang yang sedang
berdiri ditengah-tengah sambil saling menatap satu sama lain.
“Ups!” gumam Via pelan. Dan Via
sedikit meringis ketika melihat baju pengunjung itu yang basah akibat ulahnya
menumpahkan minuman.
“Maaf… Maaf… gak sengaja” sesal Via
lalu dengan segera mengelap baju pengunjung tadi dengan sapu tangan yang ada
dikantongnya.
“Gak apa-apa. Cuma lain kali
hati-hati ya?” Laki-laki berkulit sedikit gelap dan berwajah manis itu
mengambil alih sapu tangan tadi dari tangan Via. Dan saat kulit mereka
bersentuhan untuk beberapa detik, Laki-laki itu membeku.
Via lalu mengangkat wajahnya dan
melihat kearah laki-laki itu yang ternyata sedang menatap dirinya bahkan tanpa
berkedip. Via meneguk ludahnya dalam-dalam, cowok ini manis juga. Pikirnya.
“Via lo ceroboh banget siiihhh?”
Omel Rio yang tiba-tiba saja menghampiri mereka. Via beserta laki-laki tadi
langsung terkesiap.
‘ooo…
jadi namanya Via…’
“Gue gak sengaja, Kak” Ucap Via dengan nada
merajuk. Rio hanya menggelengkan kepalanya beberapa kali lalu mengalihkan
perhatiannya pada Iel.
“Bro, lo gak apa-apa kan?”
“Gak lah! Kan Cuma basah aja” jawab
Iel sambil menunjukan baju kaos putihnya yang sedikit basah.
“Pesanan saya mana?” Teriak salah
seorang dari arah meja 8 dengan nada protes.
“Maaf, Maaf… akan saya ambilkan lagi”
Via buru-buru berbalik, tapi Iel malah mencegat pergelangan tangannya.
“Ada apa?”
“Gue Iel” Iel mengulurkan tangan
kanannya setelah sebelumnya ia melepaskan pergelangan tangan Via.
“Via” jawabnya singkat lalu
buru-buru melepaskan tangannya dan segera berlari kearah Pantry untuk mengambil
pesanan yang baru.
Iel tersenyum menatap kepergian Via.
Sepertinya… Ia menyukai Gadis itu.
“Lo kenal dia, Yo?”
“Iya, dia Sahabat gue dari kecil. Ya
udah yuk, kita balik ke meja. Bentar lagi Cakka sama Alvin kayaknya bakalan
dateng”
Iel hanya menurut tanpa berkata
banyak. Perhatiannya sudah terlanjur tercuri oleh Via.
♥♥♥
Sebagai hukuman atas keteledorannya tadi, maka
oleh Bos nya Via diperintahkan membersihkan toilet Wanita dan Pria sekaligus. Dan
selama membersihkan toilet, Via terus-terusan menggerutu tidak jelas.
Setelah usai membersihkan toilet
wanita, kini tiba saatnya Via membersihkan Toilet pria. Dengan setengah hati
Via membuka pintu toilet Pria lalu mulai membersihkannya.
Dan saat sedang mengelap cermin,
tiba-tiba saja Via melihat bayangan seseorang terpantul dicermin. Via mengamati
wajah itu baik-baik, dan kelamaan Via mulai mengingat. Laki-laki ini adalah
laki-laki yang seminggu yang lalu menyerempetnya lalu pergi tanpa meminta maaf
dan menghinanya.
Via menghela napas panjangnya. Ia berbalik
lalu berjalan kearah Alvin yang justru tidak menyadari kehadirannya disana
karna tengah sibuk berkutat dengan layar ponsel touch screen nya. Via tersenyum miring. Sekarang saatnya lah ia
membalas dendan pada Laki-laki arrogant yang sengak ini.
“HEH LO!!”
Alvin serta merta mengangkat
wajahnya saat indera pendengarnya menangkap ada sebuah suara dengan nada tidak
mengenakan menyapa gendang telinganya. Alvin menatap Via yang berdiri dengan
menantang dihadapannya. Alvin lalu menatap kesekelilingnya, berusaha memastikan
bahwa ditempat itu hanya ada dirinya dan Gadis yang tidak ia kenal ini.
“Lo manggil gue?!” Tanya Alvin
sedikit sanksi sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Iya elo! Cowok arrogant gak
bertanggung jawab yang udah nyerempet gue, ngehina gue dan pergi tanpa minta
maaf”
“owh? Elo lagi?” kata Alvin seakan
tak peduli lalu melangkah begitu saja melewati Via. Alvin tidak ingin waktunya
terbuang sia-sia hanya untuk menghadapi cewek bergengsi selangit yang
menurutnya sangat tidak penting ini.
Sakit hati karna diacuhkan oleh
Alvin, Via kembali membuka suara tapi kali ini dengan nada meninggi.
“Dari kelakuan lo aja, gue bisa
nebak. Lo gak lebih dari seorang anak kaya manja yang selalu mengandalkan
kekayaan orang tuanya hanya untuk hal-hal yang gak penting. Asal lo tau ya,
TUAN ARROGANT …” Jeda sesaat, Via lalu berjalan mendekati Alvin yang terdiam
dibelakang pintu tanpa sedikitpun menoleh kearahnya.
Lalu dengan berani, Via berdiri
dihadapan Alvin, tepatnya dibelakang pintu. Via melipat kedua tangannya diperut
lalu menatap Alvin dengan pandangan meremehkan. Via tersenyum mencibir saat
melihat otot-otot diwajah Alvin yang mulai menegang.
“Uang bukan segalanya. Lo mungkin
punya banyak uang, tapi gue bisa nebak bahwa hidup lo selama ini gak pernah
mengecap yang namanya bahagia. Gue bener kan?”
Alvin yang awalnya tidak ingin
meladeni Gadis ini akhirnya mau tidak mau merasa terpancing juga atas
ke-sok-tahu-an gadis ini. Sekalipun itu benar, tapi Alvin enggan mengakuinya.
Secara mengejutkan, Alvin meraih
salah satu tangan Via lalu sedikit mendorong dan memojokannya ke pintu. Alvin
menatap Via dengan tatapan paling tajam dan mengerikan yang pernah ia punya. Jarak
wajahnya dengan wajah Via yang hanya berjarak sekian senti justru membuat Via
bisa melihat dengan jelas lekuk-lekuk keangkuhan yang menghiasi wajah tampan
cowok arrogant ini. Via membeku ditempatnya, mendadak jantungnya bekerja diatas
normal. Bukan karna pesona Alvin yang begitu membius, tapi karna rasa takut
yang perlahan mulai melingkupi sebagian dirinya.
“Gue akan tunjukin ke elo gimana selama
ini gue hidup bermanja-manja hanya dengan mengandalkan kekayaan orang tua gue,
dan gue juga akan tunjukin ke elo, bahwa uang memang adalah segalanya… NONA SOK
TAHU!” ucap Alvin dengan tenang namun sarat akan emosi yang menggelegak
disetiap kalimatnya. Dan perkataan Alvin itu malah membuat Via merinding.
Alvin lalu sedikit melonggarkan
pegangannya pada tangan Via tapi tidak melepaskan seutuhnya. Dan entah kenapa,
keberanian yang sejak tadi terpatri dalam diri Via mendadak menciut ketika
melihat tatapan angkuh Pria ini. Via seakan bisu.
“Septian!” Panggil Alvin dengan
tegas pada seseorang ditelfon. Kedua mata Via langsung membelalak maksimal.
Septian? Itu kan nama Bos nya? Tamat sudah riwayatnya. “Lo sekarang ke toilet. Secepetnya!”
titah Alvin dengan nada tidak ingin dibantah. Beberapa saat kemudian, Alvin
kembali memasukan ponselnya kedalam kantong. Alvin kembali menatap Via.
“Elo… Elo kenal Pak Septian?” Tanya Via
sedikit terbata.
“Gue pemilik Café ini, dan dia
bawahan gue”
“APA??”
“Tapi tenang aja, gue gak akan mecat
lo kok” ucap Alvin dengan nada yang sengaja dimanis-maniskan. Dan darisana Via bisa
merasakan sebuah firasat buruk.
3 menit kemudian, seseorang
tiba-tiba membuka pintu toilet dan secara otomatis membuat Alvin dan Via
langsung menyingkir dari belakang pintu.
Dari balik pintu, menyembullah
Septian, Bos Café ini yang katanya adalah bawahan Alvin.
“Ada apa, Mas Alvin?” Tanya Septian
sedikit sungkan.
Alvin tersenyum licik sambil menatap
Via.
“Gue mau dia jadi pembantu di
Apartement gue sampe gue bisa dapetin pembantu baru. Dan ini perintah!” ucap
Alvin pada Septian tanpa sedikitpun mengalihkan tatapannya dari Via.
Via kontan terkejut, dan saat ia
sudah siap-siap melayangkan protes, Alvin malah sudah pergi dari toilet dan
meninggalkan Via bersama Septian.
“Elo… elo…” Via sudah bersiap membuka
sepatunya dan melempar kepala Alvin, tapi Septian buru-buru menghentikannya.
“Via saya mohon jangan!”
“Tapi Pak… dia… dia….”
“Kamu sudah buat dia marah dan itu
salah. Selama ini gak pernah ada yang berani buat dia marah, tapi kamu? Sekarang
begini saja, dari Rio saya tahu kamu sangat butuh pekerjaan ini, Via. Dan jika
kamu ingin tetap bekerja disini dan mendapatkan uang, tolong ikuti kemauan dia…”
“Tapi Pak…”
“Viana, kamu gak punya pilihan lain
selain menerima. Asal kamu tahu, seorang Calvin Bramantya bisa melakukan apapun
yang dia mau, dan hal yang akan dia lakukan tidak akan pernah terpikirkan oleh
siapapun”
Itulah ucapan terakhir Septian
sebelum akhirnya ia meninggalkan Via sendiri ditempat itu. Seketika Via langsung
merasakan kedua lututnya lemah, dan Via merasa sudah tidak mampu lagi berdiri
diatas kedua kakinya sendiri. Secara perlahan, tubuh Via merosot, ia pun
terduduk dilantai dengan pikiran yang benar-benar kacau.
Jika ia melepaskan pekerjaan ini,
lalu bagaimana ia harus mencari pekerjaan lagi sementara Ibu nya sedang
sakit-sakitan? Via memejamkan kedua matanya sejenak dan sedikit menyesali diri
karna tadi ia sudah menentang si Mister Arrogant itu.
“masa gue jadi pembantunya dia
siiihhh?? Gak sudi! Gak sudiiiii!!!
To Be Continued…


0 comments:
Post a Comment