Sunday, June 15, 2014

0

If Mr.Arrogant In Love (Saat Cinta Datang Tanpa Bilang-Bilang) -Chapter 7-









“Via…” Panggil Vania pelan dengan seulas senyuman jahil yang menghiasi wajahnya.
            “Hmm” Jawab Via hanya dalam sebuah gumaman sambil memindahkan beberapa sendok nasi goreng buatan Bunda nya diatas piring.
            “Bunda suka sama cowok yang semalem nganterin kamu pulang. Siapa itu namanya… Iel bukan?” ujar Bunda memastikan ketika mengingat perkenalan singkatnya dengan Iel semalam saat mengantar Via pulang. Iel begitu sopan padanya, bahkan Iel tidak sungkan mencium punggung tangannya saat mereka berkenalan. Untuk itulah, dalam sekali lihat saja, Vania yakin bahwa Iel adalah pemuda baik-baik, dan pantas bersanding dengan puteri semata wayangnya yang ia tahu selama ini tidak pernah menjalin kedekatan khusus dengan cowok manapun, kecuali Rio –tentu saja.
            “Terus?” Tanya Via malas sambil memasukan sesendok nasi goreng kedalam mulutnya.
            “Kalo kamu pacaran sama Iel, Bunda pasti setuju”
            “Uhuk uhuk uhuk…” Via langsung tersedak saat mendengarkan perkataan Bunda yang seakan tanpa tedeng aling-aling itu. Vania yang merasa sedikit cemas langsung mengangsurkan segelas air putih pada Via, dengan sigap Via menerimanya lalu meneguknya sampai tandas.
            “Kalo makan pelan-pelan aja, Vi” Nasihat Bunda seraya menepuk pelan pundak Via beberapa kali. Setelah ia merasa sedikit baik, Viapun menghela napas panjang dan menatap Bunda nya dengan tatapan tidak habis pikir.
            “Bunda ngaco!” tuding Via lumayan sengit.
            “Lho kok ngaco?”
            “Udah ah! Via mau berangkat kerja, makin lama ngobrol sama Bunda malah bikin Via  pusing nanti” Via bangkit dari meja makan, ia menyalami Vania lalu mencium punggung tangannya.
            “Via pamit” Dan sebelum mendapatkan jawaban dari Vania, Via malah sudah kabur terlebih dahulu. Jadian sama Iel? Heh, yang benar saja? Pikirnya skeptis.


♥♥♥

            Arika –Mama Ify dan Iel- hanya mengaduk-aduk makanan yang tersaji dihadapannya dengan tidak berselera. Sudah 2 minggu terakhir ini, salah satu dari anaknya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Alvin tidak ikut sarapan pagi bersama mereka sekeluarga, dan meski Alvin begitu membenci Arika, tetap saja Arika merasa ada yang kurang saat Alvin tidak ikut berkumpul bersama mereka. Sama seperti Iel dan Ify, Arika juga begitu menyayangi Alvin seperti anak kandungnya sendiri.
            “Mama kenapa tidak makan?” Tanya Johan tiba-tiba yang memang sejak tadi memperhatikan apa yang Arika lakukan itu. Mendengar pertanyaan yang Papanya lemparkan pada Mamanya, Ify dan Iel yang juga ikut sarapan bersama pagi itu langsung mengangkat wajahnya dan menatap Mama mereka secara bersamaan.
            “Mama lagi tidak berselera, Pa. sudah 2 minggu Alvin keluar dari rumah, dan Mama merasa ada yang kurang jika Alvin tidak ikut berkumpul dengan kita” ungkap Arika dengan jujur.
            Iel kontan mengalihkan perhatiannya kearah Papa nya yang saat itu juga kebetulan melempar tatapan kearahnya. Iel menghela napas beratnya dan kembali focus dengan sarapannya. Sementara Johan, ia langsung menyentuh tangan Isterinya lalu menggenggamnya lembut.
            “Anak itu keras kepala, Ma. Mama mikirin dia seperti ini, tapi apa dia juga mikirin Mama? Tidak, Ma”
            “Tapi Alvin juga tetap adalah anakku, wajar kalau aku merasa rindu kan?”
            Kali ini Johan tidak terdengar membalas perkataan Arika. Arika benar, biar bagaimanapun, Alvin juga adalah anaknya, sama seperti Ify dan Iel. Arika saja yang adalah Mama tiri Alvin begitu memikirkan Alvin, kenapa Johan yang merupakan Ayah kandungnya sendiri sama sekali tidak peduli?
            Disatu sisi Johan merasa sangat bersyukur karna bisa memiliki Isteri setulus Arika. Arika bahkan bisa menerima Alvin apa adanya sebagai anaknya sekalipun selama ini Alvin tidak pernah bersikap baik padanya. Arika juga memperhatikan Alvin, sekalipun Alvin tidak pernah menganggapnya ada. Tapi disisi lain, Johan merasa sangat bersalah karna kelemahan Isterinya sendiri. Dan sebagai kepala keluarga, Johan merasa gagal untuk bisa mempersatukan keluarganya dengan utuh.
            Tapi tentu semua kesulitan ini tidak akan pernah terjadi jika saja Alvin mau bekerja sama dan menerima kenyataan yang ada sekarang. Masalahnya, hati Alvin saat ini sudah benar-benar membeku, baik Johan, Arika, Ify ataupun Iel sudah tidak mampu lagi mencairkannya hanya dengan kasih sayang yang mereka miliki, mereka butuh kekuatan yang lebih dari itu untuk mencairkan sikap beku Alvin. Entah kekuatan apa itu, mereka semua tidak pernah tahu dan hanya bisa menunggu, menunggu sebentuk kekuatan super ajaib yang bisa meluluhkan Alvin dan mencairkan hatinya yang benar-benar sudah membeku.
            Ify sedikit terlonjak ketika merasakan ponsel yang ada dikantong hotpans-nya bergetar. Ify buru-buru merogoh kantongnya untuk mengambil ponselnya, dan ia pun segera membuka sebuah pesan singkat yang ternyata dikirimkan oleh Rio.
            Saat melihat nama Rio tertera pada layar ponselnya, mendadak Ify merasakan getaran yang cukup hebat didadanya, dan kejadian kemarin, saat ia secara tiba-tiba menyatakan perasaannya pada Rio berpendar kembali dikepalanya, Ify semakin gusar dan mulai berpikir, apa yang ia lakukan kemarin itu benar atau justru merupakan sebuah kesalahan fatal?
            Ify kemudian menggelengkan kepalanya beberapa kali dan berusaha membuang semua pikiran-pikiran merisaukan itu dari kepalanya. Sekali lagi Ify menghela napas panjang lalu membaca pesan singkat yang dikirimkan oleh Rio.

=========================
From: Kak Rio
Fy, gue minta maaf soal kemarin.
=========================

            Ify sedikit merasa bingung. Rio meminta maaf? Minta maaf untuk apa? Kesalahan yang mana?


♥♥♥

            Rio masih belum mengatakan apapun pada Via tentang apa yang ia dengar dari Septian kemarin. Rio tidak ingin memberitahukan Via yang akhirnya hanya akan membuat Via merasa terbebani. Saat ini, Rio benar-benar merasa tidak berguna sebagai sahabat, seharusnya Rio bisa menyelamatkan Via dari sitausi ini, tapi kenyataan yang ada sekarang justru membuatnya tidak bisa melakukan apapun.
            Mungkin nanti Rio akan mencoba berbicara dengan Alvin, meskipun ia sendiri tahu bahwa hasil akhirnya adalah sia-sia, tapi Rio akan tetap mencoba. Tentu akan sangat jahat kelihatannya, jika Rio hanya bisa duduk dikursi penonton dan menyaksikan hal tidak mengenakan yang sekarang sedang dihadapi oleh Via, sahabat manisnya. Untuk itulah, Rio harus melakukan sesuatu.
            Rio langsung membuyarkan lamunan panjangnya saat kedua indera pelihatnya menangkap sosok Ify yang saat itu keluar dari gerbang rumahnya mengenakan seragam sekolahnya.  Rio berdiri dengan tegak dan berusaha menarik kedua sudut bibirnya hingga menimbulkan seulas senyuman manis. Detik itu juga, getaran yang sangat mengganggunya tiba-tiba saja menyapa jantugnya hingga menimbulkan detak yang tidak beraturan. Ify berjalan menghampiri Rio dengan canggung, ia sama sekali tidak menyangka bahwa pagi ini Rio akan mejemputnya. Kemarin saat Rio meng-sms nya, Ify sengaja tidak membalas. Ia ingin menghindari Rio barang beberapa hari saja untuk memulihkan hatinya, tapi apa yang Ify dapati pagi ini justru menghancurkan segalanya. Pertahannya runtuh sudah hanya dengan seulas senyuman dari pemuda itu.
            “Pagi Ify” Sapa Rio saat Ify sudah berdiri dihadapannya. Ify menghela napas panjangnya dan berusaha mengontrol detak jantungnya sebisa mungkin.
            “Tumben jemput gue? Via gimana?” Tanya Ify tanpa bisa menyembunyikan nada sedikit tidak suka dari suaranya.
            “Iel minta gue buat jemput lo hari ini, katanya dia ada urusan” jawab Rio jujur. Perasaannya mulai tidak enak. Ify sedikit mengerti dengan urusan apa yang dimaksud kan oleh Iel. Semalam Iel sudah menceritakan semuanya pada Ify.
            “Ooo… jadi kalo bukan Kak Iel yang minta, lo gak bakalan mau?” Tanya Ify retoris seraya berjalan melewati Rio begitu saja. Ia lalu membuka pintu mobil Rio dan memasukinya sebelum Rio mempersilahkan. Perasaan Rio semakin tidak enak, jika sudah begini, itu tandanya Ify benar-benar marah padanya.

            “Kenapa bengong? Ayo jalan! Gue gak mau telat”
            “Sorry, Fy” sesal Rio lalu buru-buru memasuki mobilnya dan menjalankannya membelah jalanan. Dan selama diperjalanan, Ify tidak sedikitpun membuka suara, begitu juga dengan Rio. Keheningan benar-benar mendekap mereka dalam perjalanan yang entah kenapa terasa sangat panjang itu.

♥♥♥

            Via sedikit terkejut ketika mendapati yang ada didepan rumahnya pagi itu adalah Iel, bukannya Rio yang biasa mejemputnya. Iel tersenyum begitu manis pada Via sesaat sebelum ia melambaikan tangannya kearah gadis itu. Via terpaku untuk beberapa saat dipintu, tidak lama ia kembali mengayunkan langkahnya dan menghampiri Iel dengan setumpuk kebingungan diotaknya. Rio bahkan tidak mengatakan apapun padanya.
            “Kak Iel?” tegurnya setelah ia berdiri berhadapan dengan Iel.
            “Selamat pagi, Via…”
            “Kok Kak Iel yang jemput? Kak Rio kemana?”
            “Rio sama Ify, gak apa-apa kan gue yang jemput lo pagi ini?”
            “Gak apa-apa sih, Kak. Tapi apa Kakaaak –“
            “Gue gak ngerasa direpotin kok” potong Iel buru-buru sebelum Via menyelesaikan ucapannya. Via kontan terbelalak. Cowok ini tidak sedang membaca pikirannya kan?
            “Hahaha.. kagetnya dilanjutin nanti aja. Sekarang kita berangkat yuk!”
            “I… iya kak”
            Iel segera menaiki Ninja Putihnya yang kemudian disusul oleh Via. Dan ketika mendapati kedua tangan Via hanya mencengkram jaketnya, Iel tersenyum miring.
            “Gak pegangan?”
            Via menggeleng pelan seraya tersenyum, “Gak per –“
            Perkataan Via segera terpotong saat tiba-tiba Iel meng-gas motornya tanpa peringatan. Via yang terkejut kontan saja memeluk pinggang Iel erat-erat. Iel terkekeh pelan yang malah membuat Via memanyunkan bibirnya.
            “Kalo kayak gini kan enak” komentar Iel saat motornya sudah berjalan dalam kecepatan standart.
            ‘Iya, enak di elu, gue yang jantungan’ sahut Via dalam hati seakan berteriak menyuarakan protesnya.


♥♥♥

            Iel sedang asyik berdiskusi dengan Debo selaku ketua ekskul photography diaula saat tiba-tiba Alvin membuka pintu aula, dan membuat Iel serta Debo secara bersamaan menoleh kearah pintu. Mereka berdua sama-sama menatap Alvin dengan pandangan bertanya.
            “Ada apa?” Tanya Iel kemudian seraya bangkit dari tempat duduknya. Ia memasukannya kedua tangannya pada kedua sisi kantong celana seragamnya dan berjalan dengan sangat tenang menghampiri Alvin.
            Bukannya menjawab pertanyaan yang Iel lemparkan, Alvin malah semakin mempertajam tatapannya pada Iel. Alvin sendiri bahkan tidak mengerti, kenapa tiba-tiba ia mau repot-repot menghampiri Iel seperti ini, setelah tadi pagi ia melihat Via datang kesekolah bersama Iel. Alvin sama sekali tidak menyadari bahwa ada sebentuk rasa tidak nyaman yang mengusiknya saat melihat kedatangan Via dan Iel secara bersamaan tadi pagi. Yang Alvin tahu hanyalah, rasa persaingan dan rasa terkalahkan itu kian gencar merong-rongnya dari berbagai arah. Dan Alvin sama sekali tidak rela, jika Iel harus mengalahkannya.
            Seperti rencananya diawal, Alvin akan merebut gadis yang sangat Iel sayangi itu dari tangannya hingga Iel bisa merasakan rasa kehilangan yang pernah ia rasakan. Iya, Alvin akan merebut Via dari sisinya, entah dengan cara apapun.
            “Gue tunggu dilapangan basket” ucap Alvin dingin lalu berbalik dan pergi.
            Iel membeku ditempat. Kenapa tiba-tiba Alvin memintanya untuk datang ke lapangan basket? Apa Alvin menantangnya bermain basket? Tapi dengan alasan apa?
            Tidak ingin membuang waktunya lagi, Iel segera menyeret langkah kakinya hendak menemui Alvin.


♥♥♥

            Seisi SMA Patuh Karya digemparkan oleh pertengkaran yang terjadi antara Alvin dan Iel ditengah lapangan basket. Awalnya mereka berdua hanya melakukan pertandingan kecil-kecilan saja, tapi setelah 5 menit berlalu, Alvin justru memulai pertengkaran tanpa ada yang tahu apa sebabnya.
            Via yang saat itu kebetulan melewati lapangan basket merasa penasaran ketika melihat semua siswa-siswi SMA Patuh Karya berkerumun ditengah lapangan. Via pun menyelip diantara kerumunan itu. Cukup keras usaha yang ia lakukan hingga akhirnya ia bisa menerobos kerumunan itu. Dan kedua mata Via langsung membelalak maksimal saat menyaksikan Alvin tengah menghajar Iel habis-habisan. Wajah mereka sudah sama-sama babak-belur, disana juga terlihat Rio dan Cakka yang berusaha melerai mereka, tapi tampaknya usaha yang dilakukan oleh Rio dan Cakka hanya sia-sia saja, karna hingga jauh waktu, baik Alvin maupun Iel tidak juga menghentikan perkelahian mereka.
            Beberapa saat kemudian, Arika, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Mama Iel yang juga sekaligus menjabat sebagai kepala sekolah di SMA itu tiba-tiba saja datang menerobos kerumunan bersama 2 orang guru BP.
            “Ariel, Alvin, apa yang kalian berdua lakukan?” Teriak Arika yang sukses membuat Iel dan Alvin menghentikan pertengkaran mereka. 2 orang guru BP yang tadi datang bersama Arika langsung melerai Alvin dan Iel.
            Arika merasa sedikit ngilu saat melihat luka lebam menghiasi wajah kedua Puteranya. Arika sebenarnya sangat cemas dengan kondisi kedua anak itu, tapi jabatannya sebagai kepala sekolah di SMA itu membuatnya harus professional dan tetap bersikap tegas pada keduanya.
            Iel menunduk dalam saat Mama nya menangkap basah dirinya yang sedang baku hantam dengan Alvin, Iel merasa benar-benar malu segaligus bersalah pada Mama nya. Sementara Iel begitu menyesalinya perbuatannya, Alvin justru menunjukan sikap sebaliknya. Ia menatap Arika dengan sinis.
            “Kalian berdua, ikut Mama keruangan”
            Arika berbalik lalu melangkah pergi. Tanpa berkata banyak, Alvin langsung mengikuti Arika dibelakang yang kemudian disusul oleh Iel.
            “Vin, lo gak apa-apa?” Alvin sedikit kaget saat tiba-tiba Via mencekal pergelangan tangannya dan membuat langkahnya terhenti. Via menatap Alvin dengan pandangan yang benar-benar cemas. Sementara Alvin, ia hanya menatap Via sekilas sebelum akhirnya ia berdecak dan menarik pergelangan tangannya dari kungkungan Via. Seketika Via mencelos, ada yang tiba-tiba luruh jauh didalam sana.
            Alvin kembali melanjutkan langkahnya dengan tidak peduli.
            “Iel, apa yang terjadi?” Tanya Via kali ini pada Iel yang juga melewatinya. Iel tersenyum tenang, ia mengusap pundak Via beberapa kali lantas berkata,
            “Gak apa-apa. Semuanya akan baik-baik aja…”

♥♥♥

            Alvin dan Iel keluar dari ruang kepala sekolah secara bersamaan. Mereka tidak mengatakan apapun juga tidak melakukan apapun satu sama lain. Hukuman skorsing yang dijatuhkan oleh kepala sekolah cukup membuat mereka terpukul. Tadi bahkan Alvin tidak bisa berkata apapun, untuk sekedar mengeluarkan penyangkalan ataupun pembelaan saja Alvin merasa tidak mampu, bukan karna ia tidak mau, tapi ia hanya merasa, bahwa apa saja yang ia katakan akan tetap percuma.
            Alvin dan Iel saling menatap sejenak lalu berpisah. Mereka melangkah pergi dengan arah yang berlawanan.
            “Alvin, gimana keadaan lo? Lo baik-baik aja kan?” Tanya Via cemas yang ternyata sudah menunggu Alvin didepan kelasnya. Alvin bergeming, ia melangkah melewati Via lalu memasuki kelasnya dan mengambil tasnya. Via makin bingung dengan apa yang Alvin lakukan. Sementara Rio yang berada tidak jauh dari kelas Alvin, memilih untuk menghentikan langkahnya sejenak dan melihat apa yang dilakukan oleh Alvin dan Via.
            “Alvin lo mau kemana? Lo mau bolos?”
            Alvin masih tidak menanggapi Via.
            “Alvin” Via akhirnya berdiri tepat dihadapan Alvin dan menghalangi jalannya.
            “Minggir!”
            Via menggeleng dengan mantap. Alvin berdecak kesal, lalu dengan sekali dorong saja, ia berhasil menyingkirkan Via yang menghalangi jalannya. Kali ini Via menyerah, ia tidak lagi menghalangi Alvin. Ia pikir, saat ini Alvin sedang butuh waktu untuk sendiri.
            “untuk hari ini, lo jangan dateng ke Apartemen gue!” ucap Alvin dingin tanpa sedikitpun menoleh kebelakang.
            “Tapi ke –“ tepat saat Via berbalik, Alvin malah sudah melangkah pergi tanpa sekalipun menoleh kebelakang. Via menghela napas panjangnya dan menatap punggung Alvin yang kelamaan semakin menghilang dari pandangannya.

            “errgh… kenapa gue harus cemas sama keadaan lo?” Tanya Via pada dirinya sendiri dengan sedikit frustasi.


♥♥♥

            “LO PIKIR LO SIAPA BISA SKORSING GUE SEENAKNYA? HAH? LO PIKIR LO SIAPA BISA SEENAKNYA NGEGANTIIN JABATAN NYOKAP GUE SEBAGAI KEPSEK? LO BUKAN SIAPA-SIAPA, LO BUKAN APA-APA….” Teriak Alvin sekeras-kerasnya setibanya ia di apartemennya. Karena emosinya yang sudah benar-benar mencapai puncak klimaks membuat Alvin tidak bisa lagi mengontrol dirinya sendiri, Alvin bahkan memberantakkan semua barang-barang yang ada dirumahnya.
            Keadaan apartemen Alvin saat ini benar-benar berantakkan, bahkan Alvin tidak segan-segan mendaratkan tinjunya pada cermin besar yang ada diruang tamunya. Karna ulah Alvin yang seakan tanpa perhitungan itu, alhasil tangannya terluka dan mengeluarkan banyak darah. Tapi Alvin tidak peduli, ia bahkan tidak merasakan sakit sedikitpun.
            Perasaannya benar-benar terluka. Banyak alasan yang selama ini membuatnya berpura-pura terlihat kuat dihadapan orang banyak. Tapi tidak ada satupun yang tahu, bahwa Alvin menyimpan luka yang begitu dalam, dan Alvin benar-benar butuh penawar atas lukanya itu.
            Hari menjelang senja, Via tiba-tiba saja muncul diapartemen Alvin. Tahu bahwa pintu apartemen Alvin tidak terkunci, Via langsung masuk tanpa memencet bel terlebih dahulu. Dan Via kaget setengah mati saat melihat kondisi apartemen Alvin yang benar-benar berantakan. Tapi bukan itu permasalahannya sekarang. Permasalahannya yang sebenarnya ada pada Alvin. Via benar-benar mengkhawatirkan kondisi pria arrogant itu setelah tadi ia melihat keadaan Alvin disekolah.
            Via lalu memberanikan dirinya memasuki kamar Alvin. Disana, diranjang besar itu, Via melihat Alvin yang tertidur dengan masih mengenakan seragam serta sepatunya. Dan Via semakin kaget saat melihat darah yang hampir mengering pada buku-buku jari Alvin. Via membekap mulutnya dengan kedua tangannya lalu semakin mendekat kearah Alvin.
            “Lo ada masalah apa sih sebenernya?” bisik Via pelan. Tiba-tiba ia merasakan kedua matanya memanas saat melihat kondisi Alvin yang benar-benar menyedihkan.
            Via bangkit, ia keluar dari kamar Alvin untuk mengambil kotak P3K juga beberapa Es batu beserta handuk kecil untuk mengompres luka memar Alvin. Beberapa saat kemudian, Via kembali lagi. Lalu dengan penuh perhatian, Via melepaskan sepatu beserta kaus kaki yang masih Alvin kenakan. Dengan tingkat kehati-hatian yang tinggi, Via membersihkan luka Alvin, ia mengenakan sebuah pinset yang sudah diseterilkan untuk mencabut beberapa serpihan kaca yang masih menancap pada buku-buku jari Alvin, Via melakukannya dengan sangat hati-hati. Dan sepertinya Alvin begitu pulas hingga ia tidak menyadari setiap gerak-gerik yang Via lakukan.
            Setelah selesai mengobati luka pada tangan Alvin, kini Via beralih pada luka-luka memar Alvin yang ada disekujur wajahnya. Via mengompresnya dengan sangat hati-hati. Saat menemepelkan sebuah plester pada luka yang terdapat tepat disamping alis sebelah kanan Alvin, Alvin sedikit mengernyit, dan secara perlahan Alvin membuka kedua matanya. Via membeku ditempat, tapi sepersekian detik kemudian, ia buru-buru menyingkirkan tangannya dari kening Alvin.
            “kenapa lo gak denger omongan gue?” ujar Alvin setengan berbisik. Via mencelat dan sedikit menjauhkan posisinya dari Alvin, ia tidak tahu harus berkata apa.
            “Gue kan tadi udah bilang kalo hari ini lo gak perlu dateng kesini, tapi kenapa lo dateng?”
            “Gu… gue… gue Cuma… Cuma –“ Via memejamkan kedua matanya untuk beberapa saat, ia lalu menghela napas panjang dan memberanikan dirinya menatap kedua mata Alvin.
            “Kalo gitu gue pulang”
            Tepat saat Via bangkit dari tepi ranjangnya dan hendak melangkah keluar dari kamar itu, secara mengejutkan Alvin malah menarik pergelangan tangannya dengan keras. Via yang hilang keseimbangannya akhirnya limbung dan jatuh tepat diatas tubuh Alvin, wajah mereka nyaris bersentuhan. Tanpa bisa Via tahan lagi, kedua pipinya langsung memancarkan warna merah merona. Jantungnya pun berdegub dengan sangat kencang.
            “Cuma lo satu-satunya orang yang cemas sama keadaan gue setelah Nyokap gue. Makasih…” bisik Alvin pelan tepat didepan wajah gadis itu. Perasaan Via semakin tidak menentu dibuatnya. Apa pria ini sedang kerasukan? Kenapa mendadak lembut begini? Atau apa jangan-jangan Alvin sama sekali tidak sadar bahwa saat ini yang sedang berada dalam pelukannya adalah Via?
            “e.. elo kenapa?”
            Alvin tersenyum lembut, sangat lembut. Dan seumur hidupnya, ini kali pertamanya bagi Via melihat senyum yang begitu tulus terpancar diwajah Alvin.
            “Makasih…” ulangnya sekali lagi. Via mengangguk kaku, dan saat ia akan bangkit dari atas tubuh Alvin, Alvin justru semakin mempererat pelukannya dan seakan tidak mengijinkan Via untuk jauh darinya.
            “Vin….”
            “Gue capek. Lo tau? Disini rasanya sakiiitt banget” ungkap Alvin perih seraya menunjuk dadanya.
            “elo… elo sebenernya kenapa sih? Kalo lo mau cerita sama gue… gue siep jadi pendengar lo” ucap Via penuh kesungguhan. Alvin menggeleng dan malah menarik Via kedalam pelukannya.
            “Gue gak mau cerita, gue gak mau apapun. Gue mau seperti ini, sebentaaar aja” pinta Alvin. Via yang tidak tahu harus berbuat apa saat ini akhirnya menerima perlakuan Alvin tanpa mengucapkan apapun.
            Alvin memindahkan posisi Via hingga kini berbaring tepat disampingnya, ia menggunakan lengan kanan sebagai penyangga untuk kepala Via, sementara tangan kirinya melingkari pinggang Via. Alvin menatap Via nanar lalu kembali memeluk gadis itu dengan erat.
Via memejamkan matanya, entah datang darimana keberaniannya hingga membuatnya berani membalas pelukan Alvin. Berada dalam pelukan gadis itu entah kenapa membuat perasaan Alvin terasa jauh lebih baik dari sebelumnya.
            Kenapa justru gadis yang sangat ia benci ini yang bisa menenangkan perasaannya? Apa yang salah dengan hatinya?

            “Apa ini yang namanya jatuh cinta?” bathin Via seraya bersandar nyaman pada dada bidang milik Alvin.



To Be Continued…



0 comments:

Post a Comment