“Via…” Panggil Vania pelan dengan seulas senyuman
jahil yang menghiasi wajahnya.
“Hmm”
Jawab Via hanya dalam sebuah gumaman sambil memindahkan beberapa sendok nasi
goreng buatan Bunda nya diatas piring.
“Bunda
suka sama cowok yang semalem nganterin kamu pulang. Siapa itu namanya… Iel
bukan?” ujar Bunda memastikan ketika mengingat perkenalan singkatnya dengan Iel
semalam saat mengantar Via pulang. Iel begitu sopan padanya, bahkan Iel tidak
sungkan mencium punggung tangannya saat mereka berkenalan. Untuk itulah, dalam
sekali lihat saja, Vania yakin bahwa Iel adalah pemuda baik-baik, dan pantas
bersanding dengan puteri semata wayangnya yang ia tahu selama ini tidak pernah
menjalin kedekatan khusus dengan cowok manapun, kecuali Rio –tentu saja.
“Terus?”
Tanya Via malas sambil memasukan sesendok nasi goreng kedalam mulutnya.
“Kalo
kamu pacaran sama Iel, Bunda pasti setuju”
“Uhuk
uhuk uhuk…” Via langsung tersedak saat mendengarkan perkataan Bunda yang seakan
tanpa tedeng aling-aling itu. Vania yang merasa sedikit cemas langsung
mengangsurkan segelas air putih pada Via, dengan sigap Via menerimanya lalu
meneguknya sampai tandas.
“Kalo
makan pelan-pelan aja, Vi” Nasihat Bunda seraya menepuk pelan pundak Via
beberapa kali. Setelah ia merasa sedikit baik, Viapun menghela napas panjang
dan menatap Bunda nya dengan tatapan tidak habis pikir.
“Bunda
ngaco!” tuding Via lumayan sengit.
“Lho
kok ngaco?”
“Udah
ah! Via mau berangkat kerja, makin lama ngobrol sama Bunda malah bikin Via pusing nanti” Via bangkit dari meja makan, ia
menyalami Vania lalu mencium punggung tangannya.
“Via
pamit” Dan sebelum mendapatkan jawaban dari Vania, Via malah sudah kabur
terlebih dahulu. Jadian sama Iel? Heh, yang benar saja? Pikirnya skeptis.
♥♥♥
Arika
–Mama Ify dan Iel- hanya mengaduk-aduk makanan yang tersaji dihadapannya dengan
tidak berselera. Sudah 2 minggu terakhir ini, salah satu dari anaknya yang
tidak lain dan tidak bukan adalah Alvin tidak ikut sarapan pagi bersama mereka
sekeluarga, dan meski Alvin begitu membenci Arika, tetap saja Arika merasa ada
yang kurang saat Alvin tidak ikut berkumpul bersama mereka. Sama seperti Iel
dan Ify, Arika juga begitu menyayangi Alvin seperti anak kandungnya sendiri.
“Mama
kenapa tidak makan?” Tanya Johan tiba-tiba yang memang sejak tadi memperhatikan
apa yang Arika lakukan itu. Mendengar pertanyaan yang Papanya lemparkan pada
Mamanya, Ify dan Iel yang juga ikut sarapan bersama pagi itu langsung
mengangkat wajahnya dan menatap Mama mereka secara bersamaan.
“Mama
lagi tidak berselera, Pa. sudah 2 minggu Alvin keluar dari rumah, dan Mama
merasa ada yang kurang jika Alvin tidak ikut berkumpul dengan kita” ungkap
Arika dengan jujur.
Iel
kontan mengalihkan perhatiannya kearah Papa nya yang saat itu juga kebetulan
melempar tatapan kearahnya. Iel menghela napas beratnya dan kembali focus
dengan sarapannya. Sementara Johan, ia langsung menyentuh tangan Isterinya lalu
menggenggamnya lembut.
“Anak
itu keras kepala, Ma. Mama mikirin dia seperti ini, tapi apa dia juga mikirin
Mama? Tidak, Ma”
“Tapi
Alvin juga tetap adalah anakku, wajar kalau aku merasa rindu kan?”
Kali
ini Johan tidak terdengar membalas perkataan Arika. Arika benar, biar
bagaimanapun, Alvin juga adalah anaknya, sama seperti Ify dan Iel. Arika saja
yang adalah Mama tiri Alvin begitu memikirkan Alvin, kenapa Johan yang
merupakan Ayah kandungnya sendiri sama sekali tidak peduli?
Disatu
sisi Johan merasa sangat bersyukur karna bisa memiliki Isteri setulus Arika.
Arika bahkan bisa menerima Alvin apa adanya sebagai anaknya sekalipun selama
ini Alvin tidak pernah bersikap baik padanya. Arika juga memperhatikan Alvin,
sekalipun Alvin tidak pernah menganggapnya ada. Tapi disisi lain, Johan merasa
sangat bersalah karna kelemahan Isterinya sendiri. Dan sebagai kepala keluarga,
Johan merasa gagal untuk bisa mempersatukan keluarganya dengan utuh.
Tapi
tentu semua kesulitan ini tidak akan pernah terjadi jika saja Alvin mau bekerja
sama dan menerima kenyataan yang ada sekarang. Masalahnya, hati Alvin saat ini
sudah benar-benar membeku, baik Johan, Arika, Ify ataupun Iel sudah tidak mampu
lagi mencairkannya hanya dengan kasih sayang yang mereka miliki, mereka butuh kekuatan
yang lebih dari itu untuk mencairkan sikap beku Alvin. Entah kekuatan apa itu,
mereka semua tidak pernah tahu dan hanya bisa menunggu, menunggu sebentuk
kekuatan super ajaib yang bisa meluluhkan Alvin dan mencairkan hatinya yang
benar-benar sudah membeku.
Ify
sedikit terlonjak ketika merasakan ponsel yang ada dikantong hotpans-nya bergetar. Ify buru-buru
merogoh kantongnya untuk mengambil ponselnya, dan ia pun segera membuka sebuah
pesan singkat yang ternyata dikirimkan oleh Rio.
Saat
melihat nama Rio tertera pada layar ponselnya, mendadak Ify merasakan getaran
yang cukup hebat didadanya, dan kejadian kemarin, saat ia secara tiba-tiba
menyatakan perasaannya pada Rio berpendar kembali dikepalanya, Ify semakin
gusar dan mulai berpikir, apa yang ia lakukan kemarin itu benar atau justru
merupakan sebuah kesalahan fatal?
Ify
kemudian menggelengkan kepalanya beberapa kali dan berusaha membuang semua
pikiran-pikiran merisaukan itu dari kepalanya. Sekali lagi Ify menghela napas
panjang lalu membaca pesan singkat yang dikirimkan oleh Rio.
=========================
From: Kak Rio ♥
Fy, gue minta maaf soal kemarin.
=========================
Ify sedikit merasa bingung. Rio
meminta maaf? Minta maaf untuk apa? Kesalahan yang mana?
♥♥♥
Rio masih belum mengatakan
apapun pada Via tentang apa yang ia dengar dari Septian kemarin. Rio tidak
ingin memberitahukan Via yang akhirnya hanya akan membuat Via merasa terbebani.
Saat ini, Rio benar-benar merasa tidak berguna sebagai sahabat, seharusnya Rio
bisa menyelamatkan Via dari sitausi ini, tapi kenyataan yang ada sekarang
justru membuatnya tidak bisa melakukan apapun.
Mungkin nanti Rio akan mencoba
berbicara dengan Alvin, meskipun ia sendiri tahu bahwa hasil akhirnya adalah
sia-sia, tapi Rio akan tetap mencoba. Tentu akan sangat jahat kelihatannya,
jika Rio hanya bisa duduk dikursi penonton dan menyaksikan hal tidak mengenakan
yang sekarang sedang dihadapi oleh Via, sahabat manisnya. Untuk itulah, Rio
harus melakukan sesuatu.
Rio langsung membuyarkan lamunan panjangnya
saat kedua indera pelihatnya menangkap sosok Ify yang saat itu keluar dari
gerbang rumahnya mengenakan seragam sekolahnya.
Rio berdiri dengan tegak dan berusaha menarik kedua sudut bibirnya
hingga menimbulkan seulas senyuman manis. Detik itu juga, getaran yang sangat
mengganggunya tiba-tiba saja menyapa jantugnya hingga menimbulkan detak yang
tidak beraturan. Ify berjalan menghampiri Rio dengan canggung, ia sama sekali
tidak menyangka bahwa pagi ini Rio akan mejemputnya. Kemarin saat Rio meng-sms nya,
Ify sengaja tidak membalas. Ia ingin menghindari Rio barang beberapa hari saja
untuk memulihkan hatinya, tapi apa yang Ify dapati pagi ini justru
menghancurkan segalanya. Pertahannya runtuh sudah hanya dengan seulas senyuman
dari pemuda itu.
“Pagi Ify” Sapa Rio saat Ify sudah
berdiri dihadapannya. Ify menghela napas panjangnya dan berusaha mengontrol
detak jantungnya sebisa mungkin.
“Tumben jemput gue? Via gimana?”
Tanya Ify tanpa bisa menyembunyikan nada sedikit tidak suka dari suaranya.
“Iel minta gue buat jemput lo hari
ini, katanya dia ada urusan” jawab Rio jujur. Perasaannya mulai tidak enak. Ify
sedikit mengerti dengan urusan apa yang dimaksud kan oleh Iel. Semalam Iel
sudah menceritakan semuanya pada Ify.
“Ooo… jadi kalo bukan Kak Iel yang
minta, lo gak bakalan mau?” Tanya Ify retoris seraya berjalan melewati Rio
begitu saja. Ia lalu membuka pintu mobil Rio dan memasukinya sebelum Rio
mempersilahkan. Perasaan Rio semakin tidak enak, jika sudah begini, itu
tandanya Ify benar-benar marah padanya.
“Kenapa bengong? Ayo jalan! Gue gak
mau telat”
“Sorry, Fy” sesal Rio lalu buru-buru
memasuki mobilnya dan menjalankannya membelah jalanan. Dan selama diperjalanan,
Ify tidak sedikitpun membuka suara, begitu juga dengan Rio. Keheningan
benar-benar mendekap mereka dalam perjalanan yang entah kenapa terasa sangat
panjang itu.
♥♥♥
Via sedikit terkejut ketika
mendapati yang ada didepan rumahnya pagi itu adalah Iel, bukannya Rio yang
biasa mejemputnya. Iel tersenyum begitu manis pada Via sesaat sebelum ia
melambaikan tangannya kearah gadis itu. Via terpaku untuk beberapa saat
dipintu, tidak lama ia kembali mengayunkan langkahnya dan menghampiri Iel
dengan setumpuk kebingungan diotaknya. Rio bahkan tidak mengatakan apapun
padanya.
“Kak Iel?” tegurnya setelah ia
berdiri berhadapan dengan Iel.
“Selamat pagi, Via…”
“Kok Kak Iel yang jemput? Kak Rio
kemana?”
“Rio sama Ify, gak apa-apa kan gue
yang jemput lo pagi ini?”
“Gak apa-apa sih, Kak. Tapi apa
Kakaaak –“
“Gue gak ngerasa direpotin kok”
potong Iel buru-buru sebelum Via menyelesaikan ucapannya. Via kontan
terbelalak. Cowok ini tidak sedang membaca pikirannya kan?
“Hahaha.. kagetnya dilanjutin nanti
aja. Sekarang kita berangkat yuk!”
“I… iya kak”
Iel segera menaiki Ninja Putihnya
yang kemudian disusul oleh Via. Dan ketika mendapati kedua tangan Via hanya
mencengkram jaketnya, Iel tersenyum miring.
“Gak pegangan?”
Via menggeleng pelan seraya
tersenyum, “Gak per –“
Perkataan Via segera terpotong saat
tiba-tiba Iel meng-gas motornya tanpa peringatan. Via yang terkejut kontan saja
memeluk pinggang Iel erat-erat. Iel terkekeh pelan yang malah membuat Via
memanyunkan bibirnya.
“Kalo kayak gini kan enak” komentar
Iel saat motornya sudah berjalan dalam kecepatan standart.
‘Iya,
enak di elu, gue yang jantungan’ sahut Via dalam hati seakan berteriak
menyuarakan protesnya.
♥♥♥
Iel sedang asyik
berdiskusi dengan Debo selaku ketua ekskul photography diaula saat tiba-tiba
Alvin membuka pintu aula, dan membuat Iel serta Debo secara bersamaan menoleh
kearah pintu. Mereka berdua sama-sama menatap Alvin dengan pandangan bertanya.
“Ada apa?” Tanya Iel kemudian seraya
bangkit dari tempat duduknya. Ia memasukannya kedua tangannya pada kedua sisi
kantong celana seragamnya dan berjalan dengan sangat tenang menghampiri Alvin.
Bukannya menjawab pertanyaan yang
Iel lemparkan, Alvin malah semakin mempertajam tatapannya pada Iel. Alvin
sendiri bahkan tidak mengerti, kenapa tiba-tiba ia mau repot-repot menghampiri
Iel seperti ini, setelah tadi pagi ia melihat Via datang kesekolah bersama Iel.
Alvin sama sekali tidak menyadari bahwa ada sebentuk rasa tidak nyaman yang
mengusiknya saat melihat kedatangan Via dan Iel secara bersamaan tadi pagi.
Yang Alvin tahu hanyalah, rasa persaingan dan rasa terkalahkan itu kian gencar merong-rongnya
dari berbagai arah. Dan Alvin sama sekali tidak rela, jika Iel harus
mengalahkannya.
Seperti rencananya diawal, Alvin
akan merebut gadis yang sangat Iel sayangi itu dari tangannya hingga Iel bisa
merasakan rasa kehilangan yang pernah ia rasakan. Iya, Alvin akan merebut Via
dari sisinya, entah dengan cara apapun.
“Gue tunggu dilapangan basket” ucap
Alvin dingin lalu berbalik dan pergi.
Iel membeku ditempat. Kenapa
tiba-tiba Alvin memintanya untuk datang ke lapangan basket? Apa Alvin menantangnya
bermain basket? Tapi dengan alasan apa?
Tidak ingin membuang waktunya lagi,
Iel segera menyeret langkah kakinya hendak menemui Alvin.
♥♥♥
Seisi SMA Patuh Karya digemparkan
oleh pertengkaran yang terjadi antara Alvin dan Iel ditengah lapangan basket.
Awalnya mereka berdua hanya melakukan pertandingan kecil-kecilan saja, tapi
setelah 5 menit berlalu, Alvin justru memulai pertengkaran tanpa ada yang tahu
apa sebabnya.
Via yang saat itu kebetulan melewati
lapangan basket merasa penasaran ketika melihat semua siswa-siswi SMA Patuh
Karya berkerumun ditengah lapangan. Via pun menyelip diantara kerumunan itu.
Cukup keras usaha yang ia lakukan hingga akhirnya ia bisa menerobos kerumunan
itu. Dan kedua mata Via langsung membelalak maksimal saat menyaksikan Alvin
tengah menghajar Iel habis-habisan. Wajah mereka sudah sama-sama babak-belur,
disana juga terlihat Rio dan Cakka yang berusaha melerai mereka, tapi tampaknya
usaha yang dilakukan oleh Rio dan Cakka hanya sia-sia saja, karna hingga jauh
waktu, baik Alvin maupun Iel tidak juga menghentikan perkelahian mereka.
Beberapa saat kemudian, Arika, yang
tidak lain dan tidak bukan adalah Mama Iel yang juga sekaligus menjabat sebagai
kepala sekolah di SMA itu tiba-tiba saja datang menerobos kerumunan bersama 2
orang guru BP.
“Ariel, Alvin, apa yang kalian
berdua lakukan?” Teriak Arika yang sukses membuat Iel dan Alvin menghentikan
pertengkaran mereka. 2 orang guru BP yang tadi datang bersama Arika langsung
melerai Alvin dan Iel.
Arika merasa sedikit ngilu saat
melihat luka lebam menghiasi wajah kedua Puteranya. Arika sebenarnya sangat
cemas dengan kondisi kedua anak itu, tapi jabatannya sebagai kepala sekolah di
SMA itu membuatnya harus professional dan tetap bersikap tegas pada keduanya.
Iel menunduk dalam saat Mama nya
menangkap basah dirinya yang sedang baku hantam dengan Alvin, Iel merasa
benar-benar malu segaligus bersalah pada Mama nya. Sementara Iel begitu
menyesalinya perbuatannya, Alvin justru menunjukan sikap sebaliknya. Ia menatap
Arika dengan sinis.
“Kalian berdua, ikut Mama keruangan”
Arika berbalik lalu melangkah pergi.
Tanpa berkata banyak, Alvin langsung mengikuti Arika dibelakang yang kemudian
disusul oleh Iel.
“Vin, lo gak apa-apa?” Alvin sedikit
kaget saat tiba-tiba Via mencekal pergelangan tangannya dan membuat langkahnya
terhenti. Via menatap Alvin dengan pandangan yang benar-benar cemas. Sementara
Alvin, ia hanya menatap Via sekilas sebelum akhirnya ia berdecak dan menarik
pergelangan tangannya dari kungkungan Via. Seketika Via mencelos, ada yang
tiba-tiba luruh jauh didalam sana.
Alvin kembali melanjutkan langkahnya
dengan tidak peduli.
“Iel, apa yang terjadi?” Tanya Via
kali ini pada Iel yang juga melewatinya. Iel tersenyum tenang, ia mengusap
pundak Via beberapa kali lantas berkata,
“Gak apa-apa. Semuanya akan
baik-baik aja…”
♥♥♥
Alvin dan Iel keluar dari ruang
kepala sekolah secara bersamaan. Mereka tidak mengatakan apapun juga tidak
melakukan apapun satu sama lain. Hukuman skorsing yang dijatuhkan oleh kepala
sekolah cukup membuat mereka terpukul. Tadi bahkan Alvin tidak bisa berkata
apapun, untuk sekedar mengeluarkan penyangkalan ataupun pembelaan saja Alvin
merasa tidak mampu, bukan karna ia tidak mau, tapi ia hanya merasa, bahwa apa
saja yang ia katakan akan tetap percuma.
Alvin dan Iel saling menatap sejenak
lalu berpisah. Mereka melangkah pergi dengan arah yang berlawanan.
“Alvin, gimana keadaan lo? Lo
baik-baik aja kan?” Tanya Via cemas yang ternyata sudah menunggu Alvin didepan
kelasnya. Alvin bergeming, ia melangkah melewati Via lalu memasuki kelasnya dan
mengambil tasnya. Via makin bingung dengan apa yang Alvin lakukan. Sementara
Rio yang berada tidak jauh dari kelas Alvin, memilih untuk menghentikan
langkahnya sejenak dan melihat apa yang dilakukan oleh Alvin dan Via.
“Alvin lo mau kemana? Lo mau bolos?”
Alvin masih tidak menanggapi Via.
“Alvin” Via akhirnya berdiri tepat
dihadapan Alvin dan menghalangi jalannya.
“Minggir!”
Via menggeleng dengan mantap. Alvin
berdecak kesal, lalu dengan sekali dorong saja, ia berhasil menyingkirkan Via
yang menghalangi jalannya. Kali ini Via menyerah, ia tidak lagi menghalangi
Alvin. Ia pikir, saat ini Alvin sedang butuh waktu untuk sendiri.
“untuk hari ini, lo jangan dateng ke
Apartemen gue!” ucap Alvin dingin tanpa sedikitpun menoleh kebelakang.
“Tapi ke –“ tepat saat Via berbalik,
Alvin malah sudah melangkah pergi tanpa sekalipun menoleh kebelakang. Via
menghela napas panjangnya dan menatap punggung Alvin yang kelamaan semakin
menghilang dari pandangannya.
“errgh… kenapa gue harus cemas sama
keadaan lo?” Tanya Via pada dirinya sendiri dengan sedikit frustasi.
♥♥♥
“LO PIKIR LO SIAPA BISA SKORSING GUE
SEENAKNYA? HAH? LO PIKIR LO SIAPA BISA SEENAKNYA NGEGANTIIN JABATAN NYOKAP GUE
SEBAGAI KEPSEK? LO BUKAN SIAPA-SIAPA, LO BUKAN APA-APA….” Teriak Alvin
sekeras-kerasnya setibanya ia di apartemennya. Karena emosinya yang sudah
benar-benar mencapai puncak klimaks membuat Alvin tidak bisa lagi mengontrol
dirinya sendiri, Alvin bahkan memberantakkan semua barang-barang yang ada dirumahnya.
Keadaan apartemen Alvin saat ini
benar-benar berantakkan, bahkan Alvin tidak segan-segan mendaratkan tinjunya
pada cermin besar yang ada diruang tamunya. Karna ulah Alvin yang seakan tanpa
perhitungan itu, alhasil tangannya terluka dan mengeluarkan banyak darah. Tapi
Alvin tidak peduli, ia bahkan tidak merasakan sakit sedikitpun.
Perasaannya benar-benar terluka.
Banyak alasan yang selama ini membuatnya berpura-pura terlihat kuat dihadapan
orang banyak. Tapi tidak ada satupun yang tahu, bahwa Alvin menyimpan luka yang
begitu dalam, dan Alvin benar-benar butuh penawar atas lukanya itu.
Hari menjelang senja, Via tiba-tiba
saja muncul diapartemen Alvin. Tahu bahwa pintu apartemen Alvin tidak terkunci,
Via langsung masuk tanpa memencet bel terlebih dahulu. Dan Via kaget setengah
mati saat melihat kondisi apartemen Alvin yang benar-benar berantakan. Tapi
bukan itu permasalahannya sekarang. Permasalahannya yang sebenarnya ada pada
Alvin. Via benar-benar mengkhawatirkan kondisi pria arrogant itu setelah tadi
ia melihat keadaan Alvin disekolah.
Via lalu memberanikan dirinya
memasuki kamar Alvin. Disana, diranjang besar itu, Via melihat Alvin yang
tertidur dengan masih mengenakan seragam serta sepatunya. Dan Via semakin kaget
saat melihat darah yang hampir mengering pada buku-buku jari Alvin. Via
membekap mulutnya dengan kedua tangannya lalu semakin mendekat kearah Alvin.
“Lo ada masalah apa sih sebenernya?”
bisik Via pelan. Tiba-tiba ia merasakan kedua matanya memanas saat melihat
kondisi Alvin yang benar-benar menyedihkan.
Via bangkit, ia keluar dari kamar
Alvin untuk mengambil kotak P3K juga beberapa Es batu beserta handuk kecil
untuk mengompres luka memar Alvin. Beberapa saat kemudian, Via kembali lagi.
Lalu dengan penuh perhatian, Via melepaskan sepatu beserta kaus kaki yang masih
Alvin kenakan. Dengan tingkat kehati-hatian yang tinggi, Via membersihkan luka
Alvin, ia mengenakan sebuah pinset yang sudah diseterilkan untuk mencabut
beberapa serpihan kaca yang masih menancap pada buku-buku jari Alvin, Via
melakukannya dengan sangat hati-hati. Dan sepertinya Alvin begitu pulas hingga
ia tidak menyadari setiap gerak-gerik yang Via lakukan.
Setelah selesai mengobati luka pada
tangan Alvin, kini Via beralih pada luka-luka memar Alvin yang ada disekujur
wajahnya. Via mengompresnya dengan sangat hati-hati. Saat menemepelkan sebuah
plester pada luka yang terdapat tepat disamping alis sebelah kanan Alvin, Alvin
sedikit mengernyit, dan secara perlahan Alvin membuka kedua matanya. Via
membeku ditempat, tapi sepersekian detik kemudian, ia buru-buru menyingkirkan
tangannya dari kening Alvin.
“kenapa lo gak denger omongan gue?”
ujar Alvin setengan berbisik. Via mencelat dan sedikit menjauhkan posisinya
dari Alvin, ia tidak tahu harus berkata apa.
“Gue kan tadi udah bilang kalo hari
ini lo gak perlu dateng kesini, tapi kenapa lo dateng?”
“Gu… gue… gue Cuma… Cuma –“ Via
memejamkan kedua matanya untuk beberapa saat, ia lalu menghela napas panjang
dan memberanikan dirinya menatap kedua mata Alvin.
“Kalo gitu gue pulang”
Tepat saat Via bangkit dari tepi
ranjangnya dan hendak melangkah keluar dari kamar itu, secara mengejutkan Alvin
malah menarik pergelangan tangannya dengan keras. Via yang hilang
keseimbangannya akhirnya limbung dan jatuh tepat diatas tubuh Alvin, wajah mereka
nyaris bersentuhan. Tanpa bisa Via tahan lagi, kedua pipinya langsung
memancarkan warna merah merona. Jantungnya pun berdegub dengan sangat kencang.
“Cuma lo satu-satunya orang yang
cemas sama keadaan gue setelah Nyokap gue. Makasih…” bisik Alvin pelan tepat
didepan wajah gadis itu. Perasaan Via semakin tidak menentu dibuatnya. Apa pria
ini sedang kerasukan? Kenapa mendadak lembut begini? Atau apa jangan-jangan
Alvin sama sekali tidak sadar bahwa saat ini yang sedang berada dalam
pelukannya adalah Via?
“e.. elo kenapa?”
Alvin tersenyum lembut, sangat
lembut. Dan seumur hidupnya, ini kali pertamanya bagi Via melihat senyum yang
begitu tulus terpancar diwajah Alvin.
“Makasih…” ulangnya sekali lagi. Via
mengangguk kaku, dan saat ia akan bangkit dari atas tubuh Alvin, Alvin justru
semakin mempererat pelukannya dan seakan tidak mengijinkan Via untuk jauh
darinya.
“Vin….”
“Gue capek. Lo tau? Disini rasanya
sakiiitt banget” ungkap Alvin perih seraya menunjuk dadanya.
“elo… elo sebenernya kenapa sih? Kalo
lo mau cerita sama gue… gue siep jadi pendengar lo” ucap Via penuh kesungguhan.
Alvin menggeleng dan malah menarik Via kedalam pelukannya.
“Gue gak mau cerita, gue gak mau
apapun. Gue mau seperti ini, sebentaaar aja” pinta Alvin. Via yang tidak tahu
harus berbuat apa saat ini akhirnya menerima perlakuan Alvin tanpa mengucapkan
apapun.
Alvin memindahkan posisi Via hingga
kini berbaring tepat disampingnya, ia menggunakan lengan kanan sebagai
penyangga untuk kepala Via, sementara tangan kirinya melingkari pinggang Via.
Alvin menatap Via nanar lalu kembali memeluk gadis itu dengan erat.
Via memejamkan matanya, entah datang darimana
keberaniannya hingga membuatnya berani membalas pelukan Alvin. Berada dalam
pelukan gadis itu entah kenapa membuat perasaan Alvin terasa jauh lebih baik
dari sebelumnya.
Kenapa justru gadis yang sangat ia
benci ini yang bisa menenangkan perasaannya? Apa yang salah dengan hatinya?
“Apa
ini yang namanya jatuh cinta?”
bathin Via seraya bersandar nyaman pada dada bidang milik Alvin.
To
Be Continued…



0 comments:
Post a Comment