Thursday, January 30, 2014

0

You’re Mine [Part 6: Before You Be Mine]








Sebelumnya….

“Rio… aku kangen banget sama kamu…. Sayang….” Kedua mata Rio terbuka maksimal. Apa Rio tidak salah dengar? Apa benar Febby baru saja memanggilnya dengan panggilan ‘Sayang’? perlahan Rio mengangkat kedua tangannya, ragu-ragu ia memegang kedua pundak Febby, Rio memejamkan matanya untuk beberapa saat lalu melepaskan pelukan Febby darinya.
            “sayang….?” Tanya Rio dengan kedua alis bertaut.
            “iya, sayang….” Febby membuka kaca hitam yang sejak tadi membingkai wajah cantiknya lalu kembali membawa dirinya kedalam pelukan Rio. Satu hal yang bisa Rio tangkap saat ini: ternyata Febby masih menganggapnya sebagai pacar!
            “I miss you, Rio… I miss you so much” bisik Febby pelan didepan telinga Rio.
            “maaf, maaf karna aku udah bikin kamu nunggu selama 2 tahun ini. Maaf udah bikin kamu nunggu begitu lama, mulai hari ini aku nggak akan kemana-mana lagi, aku nggak akan ninggalin kamu lagi, Riooooo….” Febby semakin mempererat pelukannya pada Rio. Sementara Rio, ia hanya bisa diam tanpa melakukan apapun. Semua ini terlalu mengejutkan untuknya.
            Ify yang sejak tadi melihat apa yang Rio dan Febby lakukan dari kejauhan langsung bersembunyi dibalik sebuah pilar. Air matanya semakin deras menetes, sementara isakannya semakin kuat terdengar meskipun berkali-kali ia mencoba untuk meredam.

            “selamat datang kembali, Kak Febby…” Lirih Ify pelan.

            Ify berjalan perlahan meninggalkan tempat yang membuat dadanya terasa sesak. Hari ini, ia telah resmi melepas Rio. Seseorang yang selama 3 bulan ini menjadikan dirinya sebagai pilihan terindah, seseorang yang selama beberapa tahun terakhir ini melengkapi hidupnya ditengah-tengah ketidaksempurnaan yang ia rasakan.


***

Part 6

Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku
Meski kau tau cinta…
Beri sedikit waktu biar cinta datang karena telah terbiasa…


(Maha Dewi ~ Risalah Hati)


            Ketika waktu sudah menunjukan pukul 19.00 WIB, Rio dan Febby tiba dikediaman keluarga Ify, tempat dimana Febby akan tinggal selama di Indonesia. Sebenarnya tadi Rio cukup cemas ketika mendapati SMS dari Ify, Ify berkata bahwa ia sudah pulang terlebih dahulu, dan Rio sangat kecewa saat menyadari bahwa semua apa yang terjadi hari ini adalah bagian dari rencana Ify yang sudah ia susun dengan serapih mungkin tanpa sepengetahuan Rio. Dan hal itu membuat Rio merasa bodoh karna telah dikelabui oleh kekasihnya sendiri.
            Rio dan Febby keluar dari Jaguar milik Rio secara bersamaan, kedatangan mereka disambut oleh Pak Aji, supir keluarga Ify. Setelah mengucapkan selamat datang, Pak Aji langsung membantu mengeluarkan koper Febby dari bagasi.
            Febby mengamit lengan Rio lalu berjalan beriringan kearah beranda. Sebenarnya Rio agak risih dengan perlakuan Febby itu, tapi mau bagaimana lagi?
            Tepat saat Febby akan menekan bel, secara tiba-tiba pintu rumah bergaya minimalis itu terbuka. Senyuman manis dari Ify langsung menyambut kedatangan mereka berdua malam itu.
            “selamat datang, Kak Febby….” Ucap Ify penuh semangat. Dan wajah polos Ify yang seakan tanpa dosa itu membuat hati Rio terasa sangat sakit. Belum pernah selama ini Ify membohonginya seperti ini.
            “Ifyyyy…. Kak Febby kangen banget sama kamu” Febby memeluk Ify seerat mungkin. Ify pun menepuk pelan punggung Febby beberapa kali. Tanpa bisa Ify hindari lagi, kedua matanya langsung menangkap tatapan mata Rio yang saat itu terlihat terluka. Ify tahu dan sadar akan kesalahan yang telah ia lakukan, ia telah membuat kekasihnya itu kecewa, dan Ify sama sekali tidak bisa menghindari dirinya dari rasa bersalah yang kelamaan memenuhi ruang didadanya.
            “Ify juga kangen sama Kak Febby…” ucap Ify dengan suara lirih. Ia menatap nanar kedua mata Rio yang semakin dalam menatap kedua matanya.
            “rencana kamu berhasil, Fy. Makasih ya?” bisik Febby pelan. Ify hanya mengangguk lemah.
            “Febby!” panggil Mama Ify dari dalam rumah. Febby segera melepaskan pelukannya dari Ify sesaat setelah ia mendengar panggilan itu.
            “Tanteee…” Febby berjalan kearah Mama Ify lalu memeluk Tante kesayangannya itu dengan penuh kasih.
            Ify hendak menyusul Febby kedalam. Tapi sebelum Ify berbalik dan melangkahkan kakinya, tangan kokoh milik Rio tahu-tahu mencekal pergelangan tangannya. Mau tidak mau Ify akhirnya berbalik menatap Rio.


            “aku tunggu penjelasan dari kamu mengenai semua ini, dan aku minta pertanggung jawaban kamu!”



***


            Via berjalan gontai kearah pintu ketika ia mendengar ada seseorang yang memencet bel dari luar. Kedua tangan Via terulur untuk membuka pintu, dan kedua matanya langsung membelalak lebar ketika melihat seseorang yang berdiri didepan rumahnya dengan senyuman super lebar dan salah satu tangan melambai. Via yang merasa sangat terkejut melihat kedatangan Alvin yang secara tiba-tiba ini berusaha menyembunyikan rasa keterkejutannya. Via bersedekap, ia mendesah pelan lalu membuang tatapannya kearah lain. Satu pertanyaan timbul dikepalanya; dari mana Alvin tahu rumahnya?
            “selamat hari minggu, Viaaaaa!! Sambutan yang sangat menyenangkan untuk seorang tamu yang baru pertama kali berkunjung” kata Alvin penuh semangat seakan menyindir perlakuan Via padanya yang sama sekali jauh dari harapan. Tapi Alvin tidak peduli, ia sudah kepalang basah menghadapi sikap cuek Gadis beraut manis ini.
            Via menatap Alvin dengan pandangan tidak percaya, lalu tidak lama Via pun buka suara,
            “lo tau darimana rumah gue?!” Tanya Via setengah membentak. Ia terlihat seperti seorang Preman yang tengah menodong korbannya.
            “apa sih yang nggak bisa gue lakuin demi cewek yang udah nyuri hati gue sejak pertama kali ketemu? Nemuin alamat rumah lo bukan hal sulit buat gue” jawab Alvin menyombongkan diri. Via tersenyum sinis.
            “terus mau apa lo kesini?”
            “gue mau nunjukin sesuatu sama lo” jawab Alvin apa adanya seraya mengangkat salah satu alisnya.
            “sorry, gue nggak ada waktu!”
            Tepat ketika Via akan menutup pintu, tiba-tiba saja Dyna muncul lalu berusaha menghentikan Via,
            “eeehhh… Rea! Itu ada tamu, kenapa pintunya malah mau ditutup??” Dyna berjalan kearah pintu dan berdiri tepat disamping Via, ia melempar senyum terbaiknya kearah Alvin. Sepertinya cowok ini teman sekolah Via, fikir Dyna! Dan Dyna merasa sangat senang ketika tahu ada salah satu teman sekolah Via yang datang kerumah, apalagi itu seorang cowok. Yang itu artinya, Via sudah mulai membuka diri dengan pergaulannya disekolah.
            Dyna mengalihkan tatapannya kearah Alvin. Alvin sedikit menunduk lalu tersenyum sungkan pada Dyna,
            “selamat pagi Tante, kenalin saya Alvin, temen sekolah Via” Alvin mengulurkan tangannya dan berusaha bersikap semanis mungkin. Terus terang, Via merasa muak dengan sikap Alvin yang menurutnya sok manis itu.
            Dyna membalas senyuman Alvin lalu menerima uluran tangan Alvin,
            “saya Dyna, Tante nya Via” 2 detik kemudian, Alvin dan Dyna melepaskan jabatan tangan mereka. Tapi tiba-tiba saja, Alvin merasa pernah melihat Dyna sebelumnya. Alvin berusaha memutar kembali memorinya, tapi semuanya seakan abu-abu. Alvin menggeleng pelan, sepertinya Cuma perasaannya saja.
            “kalo boleh Tante tahu, Alvin kesini dalam rangka apa, ya?” Tanya Dyna berusaha terdengar seramah mungkin. Alvin melirik kearah Via yang justru dibalas oleh Via  dengan pelototan tajamnya. Alvin tersenyum geli lalu kembali menatap Dyna yang masih menunggu jawaban darinya,
            “mau ngerjain PR Biology, Tan. Ada beberapa soal  kurang saya mengerti, dan sepertinya Via bisa bantu” Alvin lagi-lagi melirik kearah Via yang saat itu terlihat sangat kaget setengah mati, sedetik kemudian Alvin pun mengedipkan mata sebelah kirinya.

            Pria ini benar-benar sinting! Fikir Via.



***

Adhirajasa’s House

            “Shilla, ngapain disini?” Tanya Cakka seraya menuruni anak tangga ketika melihat Shilla yang pagi itu sudah duduk diruang keluarganya.
Shilla terkesiap, dan ia sedikit merasa canggung. Entah kenapa setiap kali Cakka menyebut namanya seperti itu, hatinya selalu berdebar. Mengingat selama disekolah Cakka tidak pernah sekalipun memanggil namanya membuat Shilla sangat merindukan suara Cakka ketika sedang memanggil namanya, dan Shilla selalu mendambakan saat itu, saat dimana Cakka akan memanggil namanya dan mengajaknya mengobrol walaupun hanya sebentar.
            Shilla bangkit dari duduknya ketika Cakka berjalan menghampirinya,
            “Tante Shanaz yang minta aku kesini, katanya Tante minta ditemenin Shoping” jawab Shilla gugup. Cakka hanya mengangguk paham lalu duduk di Sofa panjang yang tadi Shilla duduki.
            “ya udah duduk! Kenapa berdiri?” Tanya Cakka sambil meraih majalah otomotif yang terletak diatas meja. Shilla berusaha mengontrol detak jantungnya semakin tidak beraturan. Shilla lalu duduk disamping Cakka yang ketika itu tengah focus dengan majalah yang ada ditangannya.
            Perhatian Shilla tiba-tiba saja tertuju pada tangan kiri Cakka. Pada jari manisnya bertengger cincin pertunangan mereka. Melihat Cakka yang ternyata masih menggunakan cincin itu membuat hati Shilla berbunga. Meskipun pada kenyataannya, Cakka hanya menggunakan cincin itu karna terpaksa, tapi Shilla sangat bahagia.
            “aku nggak pernah tau kalo ternyata kamu suka otomotif” kata Shilla ragu-ragu berusaha mencairkan suasana beku diantara mereka. Cakka tersenyum tanpa mengalihkan perhatiannya dari majalah yang ia baca. Dan Cakka tidak pernah tahu betapa bahagianya Shilla melihat senyuman itu.
            “nggak bisa dibilang suka juga sih” jawab Cakka seadanya lalu membalik lembar majalah itu. Shilla hanya mengangguk sambil menggumamkan kata ‘oh’, dan setelah itu Shilla tidak tahu harus berkata apalagi.
            Semuanya kembali hening, waktu yang berjalan seakan lambat dan melempar kedua insan ini pada keheningan yang tak dapat terhindarkan lagi.
            “Shill…” panggil Cakka pelan tanpa mengalihkan tatapannya. Keheningan itu akhirnya terpecah,
            “emm?”
            “maaf ya?”
            “buat?”
            Cakka menutup majalah yang sejak tadi menjadi titik fokusnya, ia lalu menghadap Shilla hingga kini mereka duduk berhadapan. Deg… tatapan Cakka yang begitu lembut membuat Shilla luluh, dan detakan jantungnya semakin lama semakin kuat ,semakin tidak  dapat juga ia kendalikan.
            “buat semua yang udah terjadi sama kamu selama 1 bulan ini”
            “maksudnya?” Tanya Shilla tak paham.
            Cakka menghela nafas beratnya lalu meraih salah satu tangan Shilla. Perasaan Shilla semakin tidak menentu, itu sentuhan pertama Cakka yang sukses membuat aliran darahnya berdesir.
            “maaf udah bikin kamu terjebak dalam pertunangan yang tidak pernah kamu inginkan ini, aku janji Shill… suatu saat nanti aku akan bebasin kamu dari keadaan ini, aku janji sama kamu, Ashilla…” kata Cakka sungguh-sungguh sambil menatap mata Shilla sedalam-dalamnya.
            Mendengar ucapan Cakka barusan, Shilla merasa jantungnya seperti dihantam. Jadi selama ini Cakka tidak hanya menganggap bahwa pertunangan mereka tidak pernah ada, tapi Cakka juga menganggap bahwa Shilla tidak pernah menginginkan adanya pertunangan ini. Rasanya Shilla ingin berteriak sekeras mungkin, Shilla ingin Cakka tahu bahwa dia sangat bahagia dengan pertunangan ini, sekalipun Cakka tidak merasakan hal yang sama.
            Shilla merasakan kedua matanya mulai memanas dan telah siap mengeluarkan air mata. Sebisa mungkin Shilla menahan, Shilla tidak ingin menangis dihadapan Cakka, tidak setelah Cakka mengatakan prasangkanya beberapa detik yang lalu, prasangka yang Shilla tahu sangat bertentangan dengan hatinya.
            Cakka semakin mempererat genggaman tangannya pada tangan Shilla, Cakka lalu tersenyum dan mengusap pundak Shilla beberapa kali untuk menguatkan hatinya. Beberapa saat kemudian Cakka bangkit dari samping Shilla lantas berkata,
            “aku harus kerumah singgah, Shill. Kamu tunggu aja Mama disini, paling bentar lagi turun” Cakka mengusap lembut puncak kepala Shilla lalu pergi meninggalkan Shilla seorang diri diruang keluarga itu. Beberapa saat setelah Cakka pergi dari tempat itu, air mata yang sejak tadi Shilla tahan akhirnya berdesakan keluar.

            “aku tidak pernah berharap kamu akan bebasin aku dari keadaan ini, Kka. Aku justru ingin selamanya terjebak dalam keadaan ini sama kamu, dan itu semua karna aku sayang sama kamu, Cakka… kapan kamu mau ngerti??” lirih Shilla pelan.



***

            “tadi katanya lo mau nunjukin sesuatu sama gue, apa yang mau lo tunjukin?” Tanya Via pada Alvin yang saat itu tengah sibuk –lebih tepatnya berpura-pura sibuk- dengan PR Biologynya.
            “yakin lo mau tau?” Tanya Alvin meyakinkan. Via menghela nafas kesal lalu membuang mukanya kearah lain.
            “nggak usah banyak omong deh!” bentak Via. Alvin tersenyum lalu mengkat wajahnya dari buku tulisnya. Awalnya Via berfikir bahwa Alvin akan menjawab pertanyaannya tadi, tapi ternyata…
            “soal nomer 2 gimana nih?” Tanya Alvin dengan wajah sok polos. Via menelan bulat-bulat kekesalannya pada cowok menyebalkan ini.
            Via menatap Alvin sekilas dengan tatapan pembunuh, ia sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan cowok yang hampir selalu membuatnya kesal ini. Setelah berfikir sejenak, Via pun memutuskan untuk meninggalkan Alvin dan masuk kekamarnya. Via bangkit dari sofa yang sejak tadi ia duduki, dan saat ia berjalan melewati Alvin, Alvin langsung mencekal pergelangan tangannya hingga membuat langkah Via terhenti seketika. Via memejamkan matanya dan berusaha untuk sabar dalam menghadapi tingkah cowok ini.
            “kenapa sih lo selalu jutek tiap kali berhadapan sama gue? Tapi nggak masalah sih buat gue, justru hal itu semakin membuat tergila-gila sama lo” kata Alvin lembut, tapi justru Via merasa muak dengan ucapan Alvin barusan.
2 minggu bersekolah di SMA Patuh Karya sudah cukup membuat Via tahu bagaimana reputasi cowok yang terkenal sebagai Cassanova disekolahnya ini. Dan Alvin pasti tidak hanya mengucapkan kalimat itu pada dirinya seorang. Entah Via gadis keberapa yang sudah Alvin gombali seperti ini.
            “lepasin-tangan-gue!” pinta Via dengan tegas. Alvin menggeleng pasti. Via berdecak kesal lalu berusaha menarik pergelangan tangannya dari cengkraman Alvin, tapi sia-sia. Alvin justru semakin erat mencekal pergelangan tangan Gadis itu.
            “lo bener-bener pengen tau apa yang mau gue tunjukin sama lo?” Tanya Alvin sekali lagi. Via tampak berfikir, tidak lama Via pun mengangguk pelan. Saat itulah Alvin langsung melepaskan cengkramannya dari pergelangan tangan Via.
            “duduk!” perintah Alvin dengan nada yang mendadak dingin. Via diam ditempatnya dan berusaha untuk mengabaikan perintah Alvin. Merasa tidak mendapatkan respon dari Via, Alvin kembali berkata,
            “duduk kalo lo bener-bener pengen tau apa yang mau gue tunjukin ke elo”
            “elo –“ ucap Via kesal dengan nada tertahan. Alvin menampakkan raut masa bodoh. Ia kembali focus dengan PR Biology nya, tapi sebelum itu Alvin sempat berkata,
            “ya udah kalo lo nggak mau”
            Via yang sudah benar-benar merasa berada dipuncak kekesalannya pun akhirnya memilih –dengan sangat terpaksa- untuk mengikuti perintah Alvin. Via kembali duduk dihadapan Alvin. Dan tanpa Via tahu, Alvin tersenyum menang saat itu juga. Ternyata menaklukkan Gadis ini tidak sesulit seperti apa yang ia bayangkan diawal.
            “apa yang mau lo tunjukin?!”
            Tanpa banyak bicara Alvin mengeluarkan ponselnya lalu menyerahkannya pada Via,
            “liat video yang ada di Gallery!”
            Via menatap Alvin dengan pandangan bertanya. Buat apa juga Alvin memintanya untuk melihat ponselnya?
            “buat apa??”
            “lo masih pengen tau kan apa yang mau gue tunjukin sama lo?! Ya udah liat ini! Jangan bawel!!” kata Alvin sedikit ketus sambil menirukan gaya jutek yang biasanya Via tunjukan padanya. Via melotot, tapi Alvin bergeming.
            Dengan ogah-ogahan Via menerima ponsel Alvin. Ia pun mengikuti perintah Alvin tadi untuk membuka Gallery dan melihat video yang ada disana. Sementara Via tengah sibuk berkutat dengan ponsel miliknya, Alvin kembali focus dengan PR Biology nya.
            Via akhirnya membuka video yang tadi Alvin maksudkan. Dan Via langsung kaget setengah mati ketika melihat bahwa itu adalah video dirinya yang sedang mengendap-endap masuk keruang ganti lalu membuka loker milik Cakka dan mengambil sesuatu dari sana.
            “I… ini? Kok bisa??” Tanya Via yang benar-benar shock, tapi Alvin malah terlihat santai-santai saja dan tidak menunjukan reaksi yang berarti.
            “dari mana lo dapetin ini? Lo rekam sendiri?!” Tanya Via lagi. Dan Via benar-benar tidak bisa menyembunyikan nada takut yang terdengar dari cara bicaranya.
            Alvin akhirnya mengangkat wajahnya lalu menatap Via dengan senyuman mematikan yang selalu menjadi andalannya.
            “ya! Gue rekam sendiri.”
            “elo…”
            “gue tau lo ngelakuin ini buat ngebantu sahabat-sahabat lo untuk wawancarai Cakka, tapi tetep aja cara lo ini salah dan nggak sportif”
            “tapi –“
            “lo nggak bisa ngelak lagi, Via! Sekarang kita lihat, seberapa tinggi rasa solidaritas lo sama sahabat-sahabat lo itu”
            “maksud lo?”
            Alvin tersenyum licik lalu menjawab pertanyaan Via.
            “lo bisa bayangin apa yang akan terjadi kalo sampe video ini sampai ditangan Cakka?” Alvin sebenarnya tidak sungguh-sungguh dengan perkataannya itu, ia hanya ingin menggertak Via saja untuk mencapai satu tujuannya. Semalaman penuh Alvin memikirkan hal ini, dan pagi ini, saat ia tiba dirumah Via, ia sudah yakin bahwa ia benar-benar akan melakukan semua ini.
            “elo –“
            “lo perlu inget, kalo Cakka itu juga sahabat gue, dan gue nggak terima sahabat gue diperlakuin dengan cara dibodohin seperti ini”
            “terus lo mau apa?”
            Alvin bangkit dari duduknya, ia berjalan perlahan lalu berlutut dihadapan Via yang saat itu duduk disofa. Alvin menatap kedua manik Via mata seintens mungkin. Sekali lagi Alvin memamerkan senyuman mematikannya dan membuat Via menelan ludah.
            “sejak awal gue suka sama lo, dan lo tau itu meskipun gue nggak pernah nyatain secara langsung sebelum hari ini”
            Via mengangguk paham beberapa kali. Sedikit demi sedikit Via mulai paham dengan apa yang Alvin inginkan.
            “terus lo berharap gue bakalan suka rela nerima lo dan jadi korban lo selanjutnya?!” senyum Alvin perlahan menghilang. Ternyata status play boy yang selama ini ia pegang justru membuatnya terlihat tidak baik dimata Via, seorang Gadis yang untuk pertama kalinya membuatnya berjuang mati-matian demi mendapatkan sebuah perhatian selama 2 minggu terakhir ini.
            “gue emang play boy! Dan gue nggak akan mungkirin itu, tapi satu hal yang harus lo tau, gue bener-bener suka sama lo dan ini adalah salah satu cara yang bisa gue lakuin buat merjuangin perasaan gue keelo”
            “jadi intinya lo mau gue jadi pacar lo? Dan kalo gue nggak mau, lo bakalan nyerahin video ini ke Cakka, begitu? Lo mau coba-coba ngancem gue?!” kata Via dengan nada meninggi. Alvin menggeleng pelan, berusaha menyangkal apa yang Via tuduhkan padanya.
            “gue nggak ngancem lo. Gue Cuma mau ngelakuin apa yang mau gue lakuin, gue suka sama lo dan gue mau lo jadi cewek gue. Terserah lo mau nganggep gue ngancem lo atau apapun itu, gue nggak peduli, yang jelas gue ngelakuin ini buat nunjukin ke elo kalo gue, Alvino Joshua Aryadinata bener-bener pengen serius sama lo”
            “tapi gue nggak suka sama lo!” kata Via dengan tegas. Ucapan Via itu akhirnya telak menohok dada Alvin.
            “gue tau! Untuk itulah gue mau lo jadi cewek gue. Kasi gue waktu 1 bulan. Kalo dalem waktu satu bulan gue nggak bisa bikin lo suka sama gue, lo boleh pergi dan mutusin gue”
            Via menggeleng beberapa kali. Ternyata Alvin ini benar-benar licik, ia juga tahu apa yang harus ia lakukan untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Via tidak bisa membohongi dirinya sendiri, dia memang tidak pernah ada rasa pada Alvin bahkan sejak awal, tapi jika Via menolak Alvin, Alvin pasti akan menyerahkan video itu pada Cakka, dan kalau sampai video itu sampai ditangan Cakka, Cakka pasti akan membatalkan wawancaranya dengan Agni besok. Tapi bukan hanya itu masalahnya, masalah lainnya adalah, Cakka pasti akan membencinya kalau sampai Cakka tahu Via melakukan cara yang tidak sportif hanya untuk membuat Cakka mau diwawancarai, dan jika sudah begitu, Cakka pasti akan membencinya, dan Via tidak mau Cakka membencinya.
            “seenggaknya ijinin gue buat nunjukin ke elo kalo gue bener-bener serius sama lo dan nggak main-main sama lo. Anggep aja ini sebagai try out sebelum lo bener-bener jadi milik gue seutuhnya” kata Alvin sungguh-sungguh.
            “kenapa lo begitu yakin kalo lo bisa bikin gue jatuh cinta sama lo dan jadi milik lo seutuhnya?” Tanya Via. Alvin menunduk untuk beberapa saat. Tidak lama Alvin meraih tangan kanan Via lalu meletakkanya tepat didadanya,
            “karna ini! Sejak awal gue ngeliat lo, gue udah yakin kalo lo emang buat gue, kalo lo emang milik gue!”
            “hahaha…” Via tertawa sinis dan terkesan hambar. Bagaimana bisa Alvin begitu yakin dengan dirinya sementara mereka baru kenal 2 minggu yang lalu, bahkan selama 2 minggu ini hubungan mereka pun tidak cukup baik. “lo konyol!!” cerca Via.
            “gue emang konyol!”
            “lo baru kenal gue 2 minggu Alvin! Bagaimana lo bisa begitu yakin dengan semuanya?”
            “hati gue nggak pernah salah dalam merasa”
            “apa lo selalu ngelakuin cara ini buat macarin korban-korban lo sebelum gue?”
            “Cuma lo yang bisa bikin gue ngelakuin cara ini, Via…” jawab Alvin dengan mantap dan yakin.
Via langsung bungkam seketika saat mendengar jawaban yang Alvin lemparkan padanya. Via menatap dalam kedua mata Alvin, berusaha mencari ketidaksungguhan yang terpancar dari kedua mata cowok yang terkenal sebagai Play Boy ini, tapi sayang… Via sama sekali tidak menemukan pancaran ketidaksungguhan dari kedua mata Alvin. Atau apa memang Alvin terlalu pintar menyembunyikan kebusukannya didepan korban-korbannya? Dan Via merasa terpukul saat ia menemukan pancaran kesungguhan dan ketulusan terpancar dari sepasang indera pelihat Alvin. Ah… apa Via telah benar-benar takluk oleh rayuan gombal Play Boy ini?
            Setelah cukup lama berfikir dan berdebat dengan bathinya, Via akhirnya menghela nafas beratnya. Ia bangkit lalu berjalan perlahan dan sedikit menjauh dari jarak Alvin sekarang.

            “oke! Gue mau jadi cewek lo. Tapi hanya sebulan dan semuanya akan berakhir!”

            Awalnya Via ingin menjebak Cakka supaya Cakka mau diwawancarai dengan cara mengambil kunci mobilnya dan berpura-pura menjadi pahlawan. Tapi sekarang, cara yang Via gunakan itu malah berubah menjadi senjata yang balik menyerangnya. Senjata makan tuan, itulah yang Via rasakan sekarang. Dan hari ini, hingga sebulan yang akan datang, ia akan menjadi pacar Alvin dan akan menjadi salah satu korban Alvin selanjutnya. Alvin boleh tertawa puas setelah ini.





                        BERSAMBUNG…

0 comments:

Post a Comment