Sebelumnya….
“Rio…
aku kangen banget sama kamu…. Sayang….” Kedua mata Rio terbuka maksimal. Apa
Rio tidak salah dengar? Apa benar Febby baru saja memanggilnya dengan panggilan
‘Sayang’? perlahan Rio mengangkat kedua tangannya, ragu-ragu ia memegang kedua
pundak Febby, Rio memejamkan matanya untuk beberapa saat lalu melepaskan
pelukan Febby darinya.
“sayang….?” Tanya Rio dengan kedua
alis bertaut.
“iya, sayang….” Febby membuka kaca
hitam yang sejak tadi membingkai wajah cantiknya lalu kembali membawa dirinya
kedalam pelukan Rio. Satu hal yang bisa Rio tangkap saat ini: ternyata Febby
masih menganggapnya sebagai pacar!
“I miss you, Rio… I miss you so
much” bisik Febby pelan didepan telinga Rio.
“maaf, maaf karna aku udah bikin
kamu nunggu selama 2 tahun ini. Maaf udah bikin kamu nunggu begitu lama, mulai
hari ini aku nggak akan kemana-mana lagi, aku nggak akan ninggalin kamu lagi,
Riooooo….” Febby semakin mempererat pelukannya pada Rio. Sementara Rio, ia
hanya bisa diam tanpa melakukan apapun. Semua ini terlalu mengejutkan untuknya.
Ify yang sejak tadi melihat apa yang
Rio dan Febby lakukan dari kejauhan langsung bersembunyi dibalik sebuah pilar.
Air matanya semakin deras menetes, sementara isakannya semakin kuat terdengar
meskipun berkali-kali ia mencoba untuk meredam.
“selamat datang kembali, Kak Febby…”
Lirih Ify pelan.
Ify berjalan perlahan meninggalkan
tempat yang membuat dadanya terasa sesak. Hari ini, ia telah resmi melepas Rio.
Seseorang yang selama 3 bulan ini menjadikan dirinya sebagai pilihan terindah,
seseorang yang selama beberapa tahun terakhir ini melengkapi hidupnya
ditengah-tengah ketidaksempurnaan yang ia rasakan.
***
Part
6
Aku
bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku
Meski
kau tau cinta…
Beri
sedikit waktu biar cinta datang karena telah terbiasa…
(Maha
Dewi ~ Risalah Hati)
Ketika
waktu sudah menunjukan pukul 19.00 WIB, Rio dan Febby tiba dikediaman keluarga
Ify, tempat dimana Febby akan tinggal selama di Indonesia. Sebenarnya tadi Rio
cukup cemas ketika mendapati SMS dari Ify, Ify berkata bahwa ia sudah pulang
terlebih dahulu, dan Rio sangat kecewa saat menyadari bahwa semua apa yang
terjadi hari ini adalah bagian dari rencana Ify yang sudah ia susun dengan
serapih mungkin tanpa sepengetahuan Rio. Dan hal itu membuat Rio merasa bodoh
karna telah dikelabui oleh kekasihnya sendiri.
Rio
dan Febby keluar dari Jaguar milik Rio secara bersamaan, kedatangan mereka
disambut oleh Pak Aji, supir keluarga Ify. Setelah mengucapkan selamat datang,
Pak Aji langsung membantu mengeluarkan koper Febby dari bagasi.
Febby
mengamit lengan Rio lalu berjalan beriringan kearah beranda. Sebenarnya Rio
agak risih dengan perlakuan Febby itu, tapi mau bagaimana lagi?
Tepat
saat Febby akan menekan bel, secara tiba-tiba pintu rumah bergaya minimalis itu
terbuka. Senyuman manis dari Ify langsung menyambut kedatangan mereka berdua
malam itu.
“selamat
datang, Kak Febby….” Ucap Ify penuh semangat. Dan wajah polos Ify yang seakan
tanpa dosa itu membuat hati Rio terasa sangat sakit. Belum pernah selama ini
Ify membohonginya seperti ini.
“Ifyyyy….
Kak Febby kangen banget sama kamu” Febby memeluk Ify seerat mungkin. Ify pun
menepuk pelan punggung Febby beberapa kali. Tanpa bisa Ify hindari lagi, kedua
matanya langsung menangkap tatapan mata Rio yang saat itu terlihat terluka. Ify
tahu dan sadar akan kesalahan yang telah ia lakukan, ia telah membuat
kekasihnya itu kecewa, dan Ify sama sekali tidak bisa menghindari dirinya dari rasa
bersalah yang kelamaan memenuhi ruang didadanya.
“Ify
juga kangen sama Kak Febby…” ucap Ify dengan suara lirih. Ia menatap nanar
kedua mata Rio yang semakin dalam menatap kedua matanya.
“rencana
kamu berhasil, Fy. Makasih ya?” bisik Febby pelan. Ify hanya mengangguk lemah.
“Febby!”
panggil Mama Ify dari dalam rumah. Febby segera melepaskan pelukannya dari Ify
sesaat setelah ia mendengar panggilan itu.
“Tanteee…”
Febby berjalan kearah Mama Ify lalu memeluk Tante kesayangannya itu dengan
penuh kasih.
Ify
hendak menyusul Febby kedalam. Tapi sebelum Ify berbalik dan melangkahkan
kakinya, tangan kokoh milik Rio tahu-tahu mencekal pergelangan tangannya. Mau
tidak mau Ify akhirnya berbalik menatap Rio.
“aku
tunggu penjelasan dari kamu mengenai semua ini, dan aku minta pertanggung
jawaban kamu!”
***
Via
berjalan gontai kearah pintu ketika ia mendengar ada seseorang yang memencet
bel dari luar. Kedua tangan Via terulur untuk membuka pintu, dan kedua matanya
langsung membelalak lebar ketika melihat seseorang yang berdiri didepan
rumahnya dengan senyuman super lebar dan salah satu tangan melambai. Via yang
merasa sangat terkejut melihat kedatangan Alvin yang secara tiba-tiba ini
berusaha menyembunyikan rasa keterkejutannya. Via bersedekap, ia mendesah pelan
lalu membuang tatapannya kearah lain. Satu pertanyaan timbul dikepalanya; dari
mana Alvin tahu rumahnya?
“selamat
hari minggu, Viaaaaa!! Sambutan yang sangat menyenangkan untuk seorang tamu
yang baru pertama kali berkunjung” kata Alvin penuh semangat seakan menyindir
perlakuan Via padanya yang sama sekali jauh dari harapan. Tapi Alvin tidak
peduli, ia sudah kepalang basah menghadapi sikap cuek Gadis beraut manis ini.
Via
menatap Alvin dengan pandangan tidak percaya, lalu tidak lama Via pun buka
suara,
“lo
tau darimana rumah gue?!” Tanya Via setengah membentak. Ia terlihat seperti
seorang Preman yang tengah menodong korbannya.
“apa
sih yang nggak bisa gue lakuin demi cewek yang udah nyuri hati gue sejak
pertama kali ketemu? Nemuin alamat rumah lo bukan hal sulit buat gue” jawab
Alvin menyombongkan diri. Via tersenyum sinis.
“terus
mau apa lo kesini?”
“gue
mau nunjukin sesuatu sama lo” jawab Alvin apa adanya seraya mengangkat salah
satu alisnya.
“sorry,
gue nggak ada waktu!”
Tepat
ketika Via akan menutup pintu, tiba-tiba saja Dyna muncul lalu berusaha
menghentikan Via,
“eeehhh…
Rea! Itu ada tamu, kenapa pintunya malah mau ditutup??” Dyna berjalan kearah
pintu dan berdiri tepat disamping Via, ia melempar senyum terbaiknya kearah
Alvin. Sepertinya cowok ini teman sekolah Via, fikir Dyna! Dan Dyna merasa
sangat senang ketika tahu ada salah satu teman sekolah Via yang datang kerumah,
apalagi itu seorang cowok. Yang itu artinya, Via sudah mulai membuka diri
dengan pergaulannya disekolah.
Dyna
mengalihkan tatapannya kearah Alvin. Alvin sedikit menunduk lalu tersenyum
sungkan pada Dyna,
“selamat
pagi Tante, kenalin saya Alvin, temen sekolah Via” Alvin mengulurkan tangannya
dan berusaha bersikap semanis mungkin. Terus terang, Via merasa muak dengan
sikap Alvin yang menurutnya sok manis itu.
Dyna
membalas senyuman Alvin lalu menerima uluran tangan Alvin,
“saya
Dyna, Tante nya Via” 2 detik kemudian, Alvin dan Dyna melepaskan jabatan tangan
mereka. Tapi tiba-tiba saja, Alvin merasa pernah melihat Dyna sebelumnya. Alvin
berusaha memutar kembali memorinya, tapi semuanya seakan abu-abu. Alvin
menggeleng pelan, sepertinya Cuma perasaannya saja.
“kalo
boleh Tante tahu, Alvin kesini dalam rangka apa, ya?” Tanya Dyna berusaha
terdengar seramah mungkin. Alvin melirik kearah Via yang justru dibalas oleh
Via dengan pelototan tajamnya. Alvin
tersenyum geli lalu kembali menatap Dyna yang masih menunggu jawaban darinya,
“mau
ngerjain PR Biology, Tan. Ada beberapa soal
kurang saya mengerti, dan sepertinya Via bisa bantu” Alvin lagi-lagi
melirik kearah Via yang saat itu terlihat sangat kaget setengah mati, sedetik
kemudian Alvin pun mengedipkan mata sebelah kirinya.
Pria
ini benar-benar sinting! Fikir Via.
***
Adhirajasa’s
House
“Shilla,
ngapain disini?” Tanya Cakka seraya menuruni anak tangga ketika melihat Shilla
yang pagi itu sudah duduk diruang keluarganya.
Shilla terkesiap, dan
ia sedikit merasa canggung. Entah kenapa setiap kali Cakka menyebut namanya
seperti itu, hatinya selalu berdebar. Mengingat selama disekolah Cakka tidak
pernah sekalipun memanggil namanya membuat Shilla sangat merindukan suara Cakka
ketika sedang memanggil namanya, dan Shilla selalu mendambakan saat itu, saat
dimana Cakka akan memanggil namanya dan mengajaknya mengobrol walaupun hanya
sebentar.
Shilla
bangkit dari duduknya ketika Cakka berjalan menghampirinya,
“Tante
Shanaz yang minta aku kesini, katanya Tante minta ditemenin Shoping” jawab
Shilla gugup. Cakka hanya mengangguk paham lalu duduk di Sofa panjang yang tadi
Shilla duduki.
“ya
udah duduk! Kenapa berdiri?” Tanya Cakka sambil meraih majalah otomotif yang
terletak diatas meja. Shilla berusaha mengontrol detak jantungnya semakin tidak
beraturan. Shilla lalu duduk disamping Cakka yang ketika itu tengah focus
dengan majalah yang ada ditangannya.
Perhatian
Shilla tiba-tiba saja tertuju pada tangan kiri Cakka. Pada jari manisnya
bertengger cincin pertunangan mereka. Melihat Cakka yang ternyata masih
menggunakan cincin itu membuat hati Shilla berbunga. Meskipun pada kenyataannya,
Cakka hanya menggunakan cincin itu karna terpaksa, tapi Shilla sangat bahagia.
“aku
nggak pernah tau kalo ternyata kamu suka otomotif” kata Shilla ragu-ragu
berusaha mencairkan suasana beku diantara mereka. Cakka tersenyum tanpa
mengalihkan perhatiannya dari majalah yang ia baca. Dan Cakka tidak pernah tahu
betapa bahagianya Shilla melihat senyuman itu.
“nggak
bisa dibilang suka juga sih” jawab Cakka seadanya lalu membalik lembar majalah
itu. Shilla hanya mengangguk sambil menggumamkan kata ‘oh’, dan setelah itu
Shilla tidak tahu harus berkata apalagi.
Semuanya
kembali hening, waktu yang berjalan seakan lambat dan melempar kedua insan ini pada
keheningan yang tak dapat terhindarkan lagi.
“Shill…”
panggil Cakka pelan tanpa mengalihkan tatapannya. Keheningan itu akhirnya
terpecah,
“emm?”
“maaf
ya?”
“buat?”
Cakka
menutup majalah yang sejak tadi menjadi titik fokusnya, ia lalu menghadap
Shilla hingga kini mereka duduk berhadapan. Deg… tatapan Cakka yang begitu
lembut membuat Shilla luluh, dan detakan jantungnya semakin lama semakin kuat
,semakin tidak dapat juga ia kendalikan.
“buat
semua yang udah terjadi sama kamu selama 1 bulan ini”
“maksudnya?”
Tanya Shilla tak paham.
Cakka
menghela nafas beratnya lalu meraih salah satu tangan Shilla. Perasaan Shilla
semakin tidak menentu, itu sentuhan pertama Cakka yang sukses membuat aliran
darahnya berdesir.
“maaf
udah bikin kamu terjebak dalam pertunangan yang tidak pernah kamu inginkan ini,
aku janji Shill… suatu saat nanti aku akan bebasin kamu dari keadaan ini, aku
janji sama kamu, Ashilla…” kata Cakka sungguh-sungguh sambil menatap mata
Shilla sedalam-dalamnya.
Mendengar
ucapan Cakka barusan, Shilla merasa jantungnya seperti dihantam. Jadi selama
ini Cakka tidak hanya menganggap bahwa pertunangan mereka tidak pernah ada,
tapi Cakka juga menganggap bahwa Shilla tidak pernah menginginkan adanya pertunangan
ini. Rasanya Shilla ingin berteriak sekeras mungkin, Shilla ingin Cakka tahu
bahwa dia sangat bahagia dengan pertunangan ini, sekalipun Cakka tidak
merasakan hal yang sama.
Shilla
merasakan kedua matanya mulai memanas dan telah siap mengeluarkan air mata.
Sebisa mungkin Shilla menahan, Shilla tidak ingin menangis dihadapan Cakka,
tidak setelah Cakka mengatakan prasangkanya beberapa detik yang lalu, prasangka
yang Shilla tahu sangat bertentangan dengan hatinya.
Cakka
semakin mempererat genggaman tangannya pada tangan Shilla, Cakka lalu tersenyum
dan mengusap pundak Shilla beberapa kali untuk menguatkan hatinya. Beberapa
saat kemudian Cakka bangkit dari samping Shilla lantas berkata,
“aku
harus kerumah singgah, Shill. Kamu tunggu aja Mama disini, paling bentar lagi
turun” Cakka mengusap lembut puncak kepala Shilla lalu pergi meninggalkan
Shilla seorang diri diruang keluarga itu. Beberapa saat setelah Cakka pergi
dari tempat itu, air mata yang sejak tadi Shilla tahan akhirnya berdesakan
keluar.
“aku tidak pernah berharap kamu akan bebasin
aku dari keadaan ini, Kka. Aku justru ingin selamanya terjebak dalam keadaan
ini sama kamu, dan itu semua karna aku sayang sama kamu, Cakka… kapan kamu mau
ngerti??” lirih Shilla pelan.
***
“tadi
katanya lo mau nunjukin sesuatu sama gue, apa yang mau lo tunjukin?” Tanya Via
pada Alvin yang saat itu tengah sibuk –lebih tepatnya berpura-pura sibuk-
dengan PR Biologynya.
“yakin
lo mau tau?” Tanya Alvin meyakinkan. Via menghela nafas kesal lalu membuang
mukanya kearah lain.
“nggak
usah banyak omong deh!” bentak Via. Alvin tersenyum lalu mengkat wajahnya dari
buku tulisnya. Awalnya Via berfikir bahwa Alvin akan menjawab pertanyaannya
tadi, tapi ternyata…
“soal
nomer 2 gimana nih?” Tanya Alvin dengan wajah sok polos. Via menelan
bulat-bulat kekesalannya pada cowok menyebalkan ini.
Via
menatap Alvin sekilas dengan tatapan pembunuh, ia sudah tidak tahan lagi dengan
kelakuan cowok yang hampir selalu membuatnya kesal ini. Setelah berfikir
sejenak, Via pun memutuskan untuk meninggalkan Alvin dan masuk kekamarnya. Via
bangkit dari sofa yang sejak tadi ia duduki, dan saat ia berjalan melewati
Alvin, Alvin langsung mencekal pergelangan tangannya hingga membuat langkah Via
terhenti seketika. Via memejamkan matanya dan berusaha untuk sabar dalam
menghadapi tingkah cowok ini.
“kenapa
sih lo selalu jutek tiap kali berhadapan sama gue? Tapi nggak masalah sih buat
gue, justru hal itu semakin membuat tergila-gila sama lo” kata Alvin lembut,
tapi justru Via merasa muak dengan ucapan Alvin barusan.
2 minggu bersekolah di
SMA Patuh Karya sudah cukup membuat Via tahu bagaimana reputasi cowok yang
terkenal sebagai Cassanova disekolahnya ini. Dan Alvin pasti tidak hanya
mengucapkan kalimat itu pada dirinya seorang. Entah Via gadis keberapa yang
sudah Alvin gombali seperti ini.
“lepasin-tangan-gue!”
pinta Via dengan tegas. Alvin menggeleng pasti. Via berdecak kesal lalu
berusaha menarik pergelangan tangannya dari cengkraman Alvin, tapi sia-sia.
Alvin justru semakin erat mencekal pergelangan tangan Gadis itu.
“lo
bener-bener pengen tau apa yang mau gue tunjukin sama lo?” Tanya Alvin sekali
lagi. Via tampak berfikir, tidak lama Via pun mengangguk pelan. Saat itulah
Alvin langsung melepaskan cengkramannya dari pergelangan tangan Via.
“duduk!”
perintah Alvin dengan nada yang mendadak dingin. Via diam ditempatnya dan
berusaha untuk mengabaikan perintah Alvin. Merasa tidak mendapatkan respon dari
Via, Alvin kembali berkata,
“duduk
kalo lo bener-bener pengen tau apa yang mau gue tunjukin ke elo”
“elo
–“ ucap Via kesal dengan nada tertahan. Alvin menampakkan raut masa bodoh. Ia
kembali focus dengan PR Biology nya, tapi sebelum itu Alvin sempat berkata,
“ya
udah kalo lo nggak mau”
Via
yang sudah benar-benar merasa berada dipuncak kekesalannya pun akhirnya memilih
–dengan sangat terpaksa- untuk mengikuti perintah Alvin. Via kembali duduk
dihadapan Alvin. Dan tanpa Via tahu, Alvin tersenyum menang saat itu juga.
Ternyata menaklukkan Gadis ini tidak sesulit seperti apa yang ia bayangkan
diawal.
“apa
yang mau lo tunjukin?!”
Tanpa
banyak bicara Alvin mengeluarkan ponselnya lalu menyerahkannya pada Via,
“liat
video yang ada di Gallery!”
Via
menatap Alvin dengan pandangan bertanya. Buat apa juga Alvin memintanya untuk
melihat ponselnya?
“buat
apa??”
“lo
masih pengen tau kan apa yang mau gue tunjukin sama lo?! Ya udah liat ini!
Jangan bawel!!” kata Alvin sedikit ketus sambil menirukan gaya jutek yang
biasanya Via tunjukan padanya. Via melotot, tapi Alvin bergeming.
Dengan
ogah-ogahan Via menerima ponsel Alvin. Ia pun mengikuti perintah Alvin tadi
untuk membuka Gallery dan melihat video yang ada disana. Sementara Via tengah
sibuk berkutat dengan ponsel miliknya, Alvin kembali focus dengan PR Biology
nya.
Via
akhirnya membuka video yang tadi Alvin maksudkan. Dan Via langsung kaget
setengah mati ketika melihat bahwa itu adalah video dirinya yang sedang mengendap-endap
masuk keruang ganti lalu membuka loker milik Cakka dan mengambil sesuatu dari
sana.
“I…
ini? Kok bisa??” Tanya Via yang benar-benar shock, tapi Alvin malah terlihat
santai-santai saja dan tidak menunjukan reaksi yang berarti.
“dari
mana lo dapetin ini? Lo rekam sendiri?!” Tanya Via lagi. Dan Via benar-benar
tidak bisa menyembunyikan nada takut yang terdengar dari cara bicaranya.
Alvin
akhirnya mengangkat wajahnya lalu menatap Via dengan senyuman mematikan yang
selalu menjadi andalannya.
“ya!
Gue rekam sendiri.”
“elo…”
“gue
tau lo ngelakuin ini buat ngebantu sahabat-sahabat lo untuk wawancarai Cakka,
tapi tetep aja cara lo ini salah dan nggak sportif”
“tapi
–“
“lo
nggak bisa ngelak lagi, Via! Sekarang kita lihat, seberapa tinggi rasa
solidaritas lo sama sahabat-sahabat lo itu”
“maksud
lo?”
Alvin
tersenyum licik lalu menjawab pertanyaan Via.
“lo
bisa bayangin apa yang akan terjadi kalo sampe video ini sampai ditangan
Cakka?” Alvin sebenarnya tidak sungguh-sungguh dengan perkataannya itu, ia
hanya ingin menggertak Via saja untuk mencapai satu tujuannya. Semalaman penuh
Alvin memikirkan hal ini, dan pagi ini, saat ia tiba dirumah Via, ia sudah
yakin bahwa ia benar-benar akan melakukan semua ini.
“elo
–“
“lo
perlu inget, kalo Cakka itu juga sahabat gue, dan gue nggak terima sahabat gue
diperlakuin dengan cara dibodohin seperti ini”
“terus
lo mau apa?”
Alvin
bangkit dari duduknya, ia berjalan perlahan lalu berlutut dihadapan Via yang
saat itu duduk disofa. Alvin menatap kedua manik Via mata seintens mungkin.
Sekali lagi Alvin memamerkan senyuman mematikannya dan membuat Via menelan
ludah.
“sejak
awal gue suka sama lo, dan lo tau itu meskipun gue nggak pernah nyatain secara
langsung sebelum hari ini”
Via
mengangguk paham beberapa kali. Sedikit demi sedikit Via mulai paham dengan apa
yang Alvin inginkan.
“terus
lo berharap gue bakalan suka rela nerima lo dan jadi korban lo selanjutnya?!”
senyum Alvin perlahan menghilang. Ternyata status play boy yang selama ini ia
pegang justru membuatnya terlihat tidak baik dimata Via, seorang Gadis yang
untuk pertama kalinya membuatnya berjuang mati-matian demi mendapatkan sebuah
perhatian selama 2 minggu terakhir ini.
“gue
emang play boy! Dan gue nggak akan mungkirin itu, tapi satu hal yang harus lo
tau, gue bener-bener suka sama lo dan ini adalah salah satu cara yang bisa gue
lakuin buat merjuangin perasaan gue keelo”
“jadi
intinya lo mau gue jadi pacar lo? Dan kalo gue nggak mau, lo bakalan nyerahin
video ini ke Cakka, begitu? Lo mau coba-coba ngancem gue?!” kata Via dengan
nada meninggi. Alvin menggeleng pelan, berusaha menyangkal apa yang Via
tuduhkan padanya.
“gue
nggak ngancem lo. Gue Cuma mau ngelakuin apa yang mau gue lakuin, gue suka sama
lo dan gue mau lo jadi cewek gue. Terserah lo mau nganggep gue ngancem lo atau
apapun itu, gue nggak peduli, yang jelas gue ngelakuin ini buat nunjukin ke elo
kalo gue, Alvino Joshua Aryadinata bener-bener pengen serius sama lo”
“tapi
gue nggak suka sama lo!” kata Via dengan tegas. Ucapan Via itu akhirnya telak
menohok dada Alvin.
“gue
tau! Untuk itulah gue mau lo jadi cewek gue. Kasi gue waktu 1 bulan. Kalo dalem
waktu satu bulan gue nggak bisa bikin lo suka sama gue, lo boleh pergi dan
mutusin gue”
Via
menggeleng beberapa kali. Ternyata Alvin ini benar-benar licik, ia juga tahu
apa yang harus ia lakukan untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Via tidak
bisa membohongi dirinya sendiri, dia memang tidak pernah ada rasa pada Alvin
bahkan sejak awal, tapi jika Via menolak Alvin, Alvin pasti akan menyerahkan
video itu pada Cakka, dan kalau sampai video itu sampai ditangan Cakka, Cakka
pasti akan membatalkan wawancaranya dengan Agni besok. Tapi bukan hanya itu
masalahnya, masalah lainnya adalah, Cakka pasti akan membencinya kalau sampai
Cakka tahu Via melakukan cara yang tidak sportif hanya untuk membuat Cakka mau
diwawancarai, dan jika sudah begitu, Cakka pasti akan membencinya, dan Via
tidak mau Cakka membencinya.
“seenggaknya
ijinin gue buat nunjukin ke elo kalo gue bener-bener serius sama lo dan nggak
main-main sama lo. Anggep aja ini sebagai try
out sebelum lo bener-bener jadi milik gue seutuhnya” kata Alvin
sungguh-sungguh.
“kenapa
lo begitu yakin kalo lo bisa bikin gue jatuh cinta sama lo dan jadi milik lo
seutuhnya?” Tanya Via. Alvin menunduk untuk beberapa saat. Tidak lama Alvin
meraih tangan kanan Via lalu meletakkanya tepat didadanya,
“karna
ini! Sejak awal gue ngeliat lo, gue udah yakin kalo lo emang buat gue, kalo lo emang
milik gue!”
“hahaha…”
Via tertawa sinis dan terkesan hambar. Bagaimana bisa Alvin begitu yakin dengan
dirinya sementara mereka baru kenal 2 minggu yang lalu, bahkan selama 2 minggu
ini hubungan mereka pun tidak cukup baik. “lo konyol!!” cerca Via.
“gue
emang konyol!”
“lo
baru kenal gue 2 minggu Alvin! Bagaimana lo bisa begitu yakin dengan semuanya?”
“hati
gue nggak pernah salah dalam merasa”
“apa
lo selalu ngelakuin cara ini buat macarin korban-korban lo sebelum gue?”
“Cuma
lo yang bisa bikin gue ngelakuin cara ini, Via…” jawab Alvin dengan mantap dan
yakin.
Via langsung bungkam
seketika saat mendengar jawaban yang Alvin lemparkan padanya. Via menatap dalam
kedua mata Alvin, berusaha mencari ketidaksungguhan yang terpancar dari kedua
mata cowok yang terkenal sebagai Play Boy ini, tapi sayang… Via sama sekali
tidak menemukan pancaran ketidaksungguhan dari kedua mata Alvin. Atau apa
memang Alvin terlalu pintar menyembunyikan kebusukannya didepan
korban-korbannya? Dan Via merasa terpukul saat ia menemukan pancaran
kesungguhan dan ketulusan terpancar dari sepasang indera pelihat Alvin. Ah… apa
Via telah benar-benar takluk oleh rayuan gombal Play Boy ini?
Setelah
cukup lama berfikir dan berdebat dengan bathinya, Via akhirnya menghela nafas
beratnya. Ia bangkit lalu berjalan perlahan dan sedikit menjauh dari jarak
Alvin sekarang.
“oke!
Gue mau jadi cewek lo. Tapi hanya sebulan dan semuanya akan berakhir!”
Awalnya
Via ingin menjebak Cakka supaya Cakka mau diwawancarai dengan cara mengambil
kunci mobilnya dan berpura-pura menjadi pahlawan. Tapi sekarang, cara yang Via
gunakan itu malah berubah menjadi senjata yang balik menyerangnya. Senjata
makan tuan, itulah yang Via rasakan sekarang. Dan hari ini, hingga sebulan yang
akan datang, ia akan menjadi pacar Alvin dan akan menjadi salah satu korban
Alvin selanjutnya. Alvin boleh tertawa puas setelah ini.
BERSAMBUNG…



0 comments:
Post a Comment