Sunday, February 2, 2014

0

You’re Mine [Part 7: Tanpa Rasa, Tanpa Hati]











Sebelumnya…

                “seenggaknya ijinin gue buat nunjukin ke elo kalo gue bener-bener serius sama lo dan nggak main-main sama lo. Anggep aja ini sebagai try out sebelum lo bener-bener jadi milik gue seutuhnya” kata Alvin sungguh-sungguh.
            “kenapa lo begitu yakin kalo lo bisa bikin gue jatuh cinta sama lo dan jadi milik lo seutuhnya?” Tanya Via. Alvin menunduk untuk beberapa saat. Tidak lama Alvin meraih tangan kanan Via lalu meletakkanya tepat didadanya,
            “karna ini! Sejak awal gue ngeliat lo, gue udah yakin kalo lo emang buat gue, kalo lo emang milik gue!”
            “hahaha…” Via tertawa sinis dan terkesan hambar. Bagaimana bisa Alvin begitu yakin dengan dirinya sementara mereka baru kenal 2 minggu yang lalu, bahkan selama 2 minggu ini hubungan mereka pun tidak cukup baik. “lo konyol!!” cerca Via.
            “gue emang konyol!”
            “lo baru kenal gue 2 minggu Alvin! Bagaimana lo bisa begitu yakin dengan semuanya?”
            “hati gue nggak pernah salah dalam merasa”
            “apa lo selalu ngelakuin cara ini buat macarin korban-korban lo sebelum gue?”
            “Cuma lo yang bisa bikin gue ngelakuin cara ini, Via…” jawab Alvin dengan mantap dan yakin.
Via langsung bungkam seketika saat mendengar jawaban yang Alvin lemparkan padanya. Via menatap dalam kedua mata Alvin, berusaha mencari ketidaksungguhan yang terpancar dari kedua mata cowok yang terkenal sebagai Play Boy ini, tapi sayang… Via sama sekali tidak menemukan pancaran ketidaksungguhan dari kedua mata Alvin. Atau apa memang Alvin terlalu pintar menyembunyikan kebusukannya didepan korban-korbannya? Dan Via merasa terpukul saat ia menemukan pancaran kesungguhan dan ketulusan terpancar dari sepasang indera pelihat Alvin. Ah… apa Via telah benar-benar takluk oleh rayuan gombal Play Boy ini?
            Setelah cukup lama berfikir dan berdebat dengan bathinya, Via akhirnya menghela nafas beratnya. Ia bangkit lalu berjalan perlahan dan sedikit menjauh dari jarak Alvin sekarang.
                                      
            “oke! Gue mau jadi cewek lo. Tapi hanya sebulan dan semuanya akan berakhir!”



***

Part 7

Semuanya dimulai tanpa rasa, dan saat nanti rasa itu mulai menyentuh palung hati, ada yang perlahan berubah hingga akhirnya menghilang. Dan saat ia tersadar bahwa cinta itu benar-benar ada menyapa relungnya, semuanya sudah terlambat. Karena keputusasaan telah lebih dahulu menyapanya…


=====================
From: +6283**********

10 menit lagi gue jemput.
Tunggu dirumah lo!
=====================

            Itulah sepenggal pesan singkat yang dikirimkan oleh Alvin ke nomer ponsel Via. Via mendesah tidak sabar lalu melempar ponselnya tanpa ampun ke ranjangnya. Saking kesalnya dengan cowok berwajah oriental itu, Via bahkan belum sama sekali menyimpan nomer ponsel Alvin. Meskipun sekarang ia telah ‘resmi’ menjadi pacar Alvin, tapi hal itu tidak lantas mengubah apapun, ia tetap membenci Alvin seperti cowok-cowok lain yang berusaha mendekatinya sebelum-sebelumnya.
            Via turun ke lantai 1 rumahnya dengan lesu. Dyna yang saat itu sedang menyiapkan sarapan mereka langsung menoleh ketika Via menghempaskan tubuhnya dikursi. Via menyangga dagunya dengan kedua tangannya. Wajah bad mood tergambar jelas diwajah manisnya pagi ini.
            “keponakan Tante kenapa? Pagi-pagi gini kok malah keliatan bad mood?” sapa Dyna lalu duduk dihadapan Via. Via mendesah pelan lalu menjawab,
            “nggak apa-apa. Emang lagi nggak mood aja, Tan” jawab Via sekenanya.
Dyna hanya mengangguk dan berusaha untuk mengerti. Dyna lalu menyeruput secangkir teh hijau yang tersedia dimeja makan. Dyna tampak berfikir, ketika sesuatu menyapa memorinya secara tiba-tiba, Dyna menghentikan sejenak aktifitas menyeruput teh hijaunya,
            “Oya, Re… temen cowok kamu yang kemaren kesini namanya siapa? Tante lupa!”
            “Alvin” jawab Via ogah-ogahan sambil mengolesi roti yang ada ditangannya dengan selai cokelat.
            Dyna tampak tersenyum menggoda,
            “dia keren. Dan Tante suka”
            “jangan bilang Tante lagi ngincer berondong!” Dyna langsung melotot tajam ketika mendengarkan ucapan terakhir Via.
            “jangan sembarangan kamu Andrea!” hardik Dyna berpura-pura terlihat galak. Via tertawa kecil meskipun sebenarnya dia tidak ingin tertawa.
            “ya terus kenapa?” Tanya Via pada akhirnya.
            “yaaa… gimana ya? Tante ngerasa aja kalo Alvin itu ada rasa sama kamu, dia itu kayaknya suka sama kamu deh, Re…”
            ‘EMANG’ sahut Via dalam hati. Tapi Via malah menujukan raut masa bodoh. Dyna yang memang sudah sejak lama tahu bahwa Via tidak pernah sekalipun ingin membuka hatinya untuk seorang Pria membuat Dyna malas membahas masalah cowok dengan Via. Tapi entah kenapa setelah melihat Alvin kemarin, Dyna merasa yakin, bahwa nantinya Alvinlah yang akan mampu menaklukkan kekerasan hati keponakan kesayangannya ini.
            “kamu nggak ada niat buat nyari pacar, Re? Tante ngerti kalo kamu masih trauma dengan pengkhinatan Papa kamu, tapi hal itu tidak seharusnya membuat kamu menyama ratakan sifat semua cowok. Akan ada saatnya nanti kamu akan jatuh cinta, Rea. Dan kamu… nggak bisa selamanya terus-terusan seperti ini”
            Via mengangguk berkali-kali meskipun sebenarnya ia merasa tidak setuju dengan pernyataan Tante nya baru saja. Via mengunyah rotinya untuk beberapa saat, setelah  potongan roti itu tertelan, Via pun menyeruput segelas susu hangat yang tersaji dihadapannya. Via berdehem pelan lantas berkata,
            “Alvin itu play boy, asal Tante tau!”
            “oya? Masa sih?”
            Tepat saat Via akan menyahut perkataan Tantenya, tiba-tiba saja terdengar suara klakson mobil dari luar. Via menoleh sejenak dan sadar bahwa jemputannya telah datang. Sekali lagi Via mendesah, ia bangkit lalu pamit pada Tante nya.
            “jemputan aku udah dateng, Tan…”
            “siapa? Tumben ada yang jemput??” Tanya Dyna penasaran.
            “Alvin” jawab Via sekenanya.
            “WHAAT?? ALVIN?? Kamu yang bener???” Tanya Dyna heboh, ia benar-benar kaget dan nyaris tidak percaya.
            “biasa aja kali, Tan…” Via lalu berjalan perlahan meninggalkan ruang makan. Seraya berjalan Via bergumam dengan cukup pelan tapi masih bisa didengarkan oleh Dyna.
            “baru tahu aku dijemput sama Alvin aja hebohnya udah segini, gimana kalo Tante tau kalo aku udah jadian sama Alvin”
            “KAMU JADIAN SAMA ALVIN??” Dyna semakin heboh. Ia berlari kecil mengejar langkah Via.
            “menurut Tante??” Via bertanya balik dan semakin membuat Dyna penasaran. Dyna tampak berfikir, tapi tiba-tiba saja…
            “Aw…” ringis Via yang tahu-tahu merasakan sakit dibagian pinggangnya.
            “kamu kenapa, Re?” Tanya Dyna khawatir.
            Via memejamkan kedua matanya untuk beberapa saat dan berusaha meredam rasa sakit itu. Setelah rasa sakit dibagian pinggangnya lumayan mereda, Via menyunggingkan sebuah senyuman untuk Tantenya,
            “nggak apa-apa kok, Tan…”
            “kamu yakin?” Tanya Dyna dengan pandangan tidak yakin. Via mengangguk mantap.
            “ya udah, Tan… aku berangkat dulu ya? Nanti telat. Masalah aku jadian sama Alvin, nanti aku ceritain deh”
            “kamu beneran jadian sama Alvin??”
            “pokoknya nanti aku ceritain deh” Dyna hanya mengangguk pelan. Rasa cemas sedikit membayanginya ketika tadi Via mengeluh sakit dibagian pinggangnya.
            Via dan Dyna keluar dari dalam rumah secara bersamaan. Dyna segera melempar senyumnya ketika Alvin melambai lalu menyapannya dengan ramah. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Via langsung menaiki motor Alvin.
            “kamu yakin nggak apa-apa, Rea? Pinggang kamu masih sakit?” Tanya Dyna yang benar-benar merasa cemas.
Rasa cemas Dyna ini bukan tanpa alasan, karena dulu, almarhum Kakaknya Dyra yang juga adalah Mama dari Via pernah mengeluh sakit pinggang yang sama. Awalnya Dyna fikir bahwa itu adalah sakit pinggang biasa karna Dyra terlalu lelah mengurus Via yang saat itu masih kecil, belum lagi Dyra tidak mempercayai Baby sitter untuk mengurus Via membuat Dyna harus bekerja 2 kali lebih keras dalam mengurus Via juga pekerjaan rumah lainnya.
Beberapa bulan lamanya, Dyra terus mengeluh sakit dan nyeri dibagian pinggangnya, dan setelah Dyna membawanya ke Dokter dan memeriksa keadaan Dyra, ternyata Dyra menderita sakit Gagal Ginjal, penyakit yang hingga saat ini mereka rahasiakan dari siapapun termasuk itu dari Papa Via. Itulah alasan kenapa Dyna begitu cemas melihat Via mengalami sakit dipinggangnya seperti ini.
            “nggak apa-apa kok, Tan… ini Cuma sakit pinggang biasa. Tadi pagi aku jatuh dari tempat tidur, makanya pinggang aku jadi sakit begini”
            Dyna mengangguk berusaha mempercayai alasan yang Via berikan. Alvin yang sejak tadi mendengar obrolan yang terjadi antara Via dan Tante nya juga tidak bisa menghindari diri dari rasa cemasnya. Sekalipun Via sudah menjelaskan penyebab sakit pada pinggangnya, tapi tetap saja Alvin merasa sedikit sanksi. Gerak tubuh Via yang tidak biasa membuat Alvin dapat membaca dengan sangat jelas bahwa ada sesuatu yang sedang Via sembunyikan.
            Dyna lalu mengalihkan perhatiannya pada Alvin, ia menyentuh pundak Alvin lantas berkata,
            “Vin, Tante titip Rea ya?” Alvin mengangguk lalu menggumamkan kata “iya”
            “dan buat kamu, Andrea… kalo sakitnya dateng lagi, tolong kasi tau Tante…”
            Alvin  terkejut bukan main ketika mendengar Dyna memanggil Via dengan nama Andrea. Andrea? Bukannya itu nama Gadis Teddy Bear nya yang ia temui 6 tahun yang lalu? Gadis Teddy Bear yang sampai sekarang bahkan masih ia tunggui. Alvin menatap Via yang ada dibelakangnya dengan pandangan yang susah diartikan, benarkah? Benarkah Via adalah Andrea-nya?
            “ya udah sekarang kalian jalan gih! Hati-hati dijalan ya?” nasihat Dyna sebelum Alvin menjalankan Ninja Merahnya.
            “iya Tante ku baweeeeelllll” kata Via gemas.
            “dan inget, Rea!! Kamu ada utang cerita sama Tante” Dyna melirik sejenak kearah Alvin dan menunjukan apa maksudnya pada Via. Via hanya memutar kedua bola matanya.
            “jalan sekarang!” Via menepuk pundak Alvin yang akibatnya membuat Alvin sedikit terkejut lalu tertarik dari lamunannya.
            “eh?”
            “jalan sekarang!!” titah Via dengan malas.
            “ba.. baik…” jawab Alvin sedikit gelagapan lalu berusaha bersikap normal. Alvin pun menstarter motornya setelah sebelumnya pamit pada Dyna. Alvin menghela nafas panjang lantas berkata pada Via yang duduk dibelakangnya.
            “yakin nggak mau pegangan?”
            Via menggeleng lalu dengan mantap menjawab, “yakin!”
            Alvin tersenyum menyeriangi, lalu tanpa aba-aba Alvin langsung menggas motornya yang akibtanya membuat Via sedikit terlonjak lalu reflex memeluk pinggang Alvin. Dengan senyum kemenangannya Alvin menjalankan motornya.



***

            “Jadi gimana, Ag? Bener-bener belum ada kemajuan dari Cakka? 5 hari lagi lho! Deadlinenya hari sabtu” Kata Acha pada Agni yang saat itu sedang menopang dagu. Bukan hanya Acha yang bingung, tapi Agni juga. Dan bukan hanya  anak-anak dari meja redaksi yang merasa dikejar waktu, tapi Agni juga. Agni menghela nafas beratnya. Mungkin sudah saatnya ia menemui Pak Iqbal dan berkata langsung pada beliau bahwa ia sudah menyerah dalam menghadapi kecuekan Cakka. Tapi bagaimana dengan Ify? Ify pasti tidak akan membiarkannya begitu saja.
            “Agni! Lo jangan diem aja dong”
            “ini gue juga lagi mikir Chaaaa…. Shilla juga kayaknya udah nyerah duluan” kata Agni putus asa. Acha langsung mendesah kecewa. Kenapa rasanya susah sekali mewawancarai Cakka? Waktu sudah hampir habis dan mendekati deadline, tapi hingga sekarang belum ada kemajuan apapun dari reporter sekolah.
            Acha melipat kedua tangannya didepan dada lalu membuang mukanya kearah jendela dan kembali berfikir. Cukup lama Agni dan Acha tenggelam dalam fikiran mereka masing-masing. Mereka berdua sama-sama sibuk mencari cara untuk bisa mewawancarai Cakka. Tapi sekarang pertanyaannya adalah, apa masih penting memikirkan bagaimana cara mewawancarai Cakka? Rasanya semuanya sia-sia saja.
            Tidak lama Agni menghembuskan nafas gusarnya, ia bangkit dari duduknya lantas berkata,
            “gue kekantin dulu, Cha. Gue laper, tadi belom sempet sarapan”
            Tanpa menunggu jawaban dari Acha, Agni langsung berjalan keluar dengan santainya. Dan tepat saat ia membuka pintu ruang redaksi, seseorang yang tiba-tiba saja muncul mengagetkan Agni,
            “elo??” ucap Agni seraya menunjuk kearah Cakka.
            “lo bisa wawancarai gue besok saat jam istirahat” kata Cakka dingin lalu berbalik dan pergi begitu saja tanpa pamit.
            Agni menatap Cakka dengan pandangan tidak percaya. Apa Agni tidak salah dengar? Atau apa dia tidak sedang bermimpi? Acha lalu keluar dan berdiri disamping Agni,
            “tadi Cakka bilang apa, Ag?” Tanya Acha bingung. Agni tersadar dari lamunannya lalu segera mengejar langkah Cakka yang jaraknya belum terlalu jauh dari jaraknya sekarang.
            “Cakka!!” panggil Agni sedikit keras. Cakka menghentikan langkahnya saat Agni sudah berdiri dihadapannya.
            “tadi lo bilang apa? Bisa lo ulang?” kata Agni sedikit sanksi.
            Cakka menatap Agni dengan tatapan matanya yang selalu terlihat dingin, tapi Agni tidak peduli dan justru menantang tatapan dingin Cakka itu.
            “sebelum lo wawancarai gue, lo harus tau kalo gue bukan tipe orang yang suka ngulang ucapannya”
            “maksud lo?” Tanya Agni tidak paham.
            Sebelum menjawab pertanyaan Agni, Cakka malah melanjutkan langkahnya dan meninggalkan jutaan tanda Tanya dibenak Agni. Agni mengembuskan nafasnya dengan kesal. Sebisa mungkin Agni berusaha menahan dirinya minimal untuk tidak melayangkan bogem mentah diwajah tampan Cakka. Agni berkacak pinggang lalu menatap dengan kesal punggung Cakka yang nyaris menghilang dari pandangannya.

            “oke terserah lo! Yang penting kerjaan gue selese” kata Agni berusaha masa bodoh lalu kembali keruang redaksi. Agni merasa tidak sabar ingin segera memberitahukan Ify kabar baik ini.



***

“segalanya telah kuberikan
Tapi kau tak pernah ada pengertian
Mungkin kita harus jalani
Cinta memang cukup sampai disini….”

            Ify langsung menunduk  lesu saat melihat Rio yang waktu itu sedang menunggunya didepan koridor. Kedua mata Rio tidak henti-hentinya mengikuti pergerakan demi pergerakan yang Ify lakukan, hingga tidak lama kemudian tibalah Ify dikoridor. Pagi ini Ify memang sengaja menghindari Rio, dan tadi pagi-pagi sekali sebelum Rio datang menjemputnya, Ify berangkat kesekolah terlebih dulu tanpa menunggu Rio. Yang Ify tidak menyangka adalah, ternyata Rio lebih dulu tiba kesekolah dari dirinya.
            “tadi aku nggak kerumah” kata Rio tiba-tiba saat Ify berhenti tepat dihadapannya. Berbanding terbalik dengan sikap yang ditunjukan Ify, Rio jauh lebih terlihat tenang.
            “aku tau!” gumam Ify pelan.
            “kamu nggak tau! Aku yang tau” sahut Rio cepat. Perasaan Ify semakin tidak karuan.
            “sejak awal aku udah ngeduga kalo kamu pasti bakalan ngehindarin aku, dan sekarang ternyata dugaan aku terbukti kan? Bukan satu bulan dua bulan aku ngenal kamu, Fy… aku ngenal kamu hampir 4 tahun, aku hapal semua sikap kamu, jadi jangan pernah berfikir kalo kamu akan bisa mengelabui aku, ngerti kamu?”
            “maksud kamu apa, Yo?” Tanya Ify pura-pura tidak paham. Rio tersenyum sinis lantas berkata,
            “nggak usah pura-pura begok! Kamu sengaja kan mau menghindar dari aku? Iya kan?”
            “Yo, nggak gitu, aku…. Aku Cuma –“
            “aku kecewa sama kamu, aku sakit hati, Ify!”
            “Yo –“
            “kamu udah bohongin aku, Fy… kamu udah mainin perasaan aku. Aku tau Febby sepupu kamu dan kamu sangat sayang sama Febby, tapi bukan berarti kamu bisa mainin perasaan aku seenak hati kamu kayak gini, Fy”
            Ify hanya menunduk dan memilih untuk mendengarkan perkataan Rio tanpa mengeluarkan komentar apapun. Toh percuma saja mengeluarkan komentar, Rio tidak akan pernah mau mendengarkannya. Rio sudah terlanjur kecewa dan Ify mengerti dengan hal itu.
            “kalo kamu minta aku buat ngejauhin kamu, aku akan jauhin kamu seperti apa yang kamu mau. Tapi kalo kamu minta aku buat balikan lagi sama Febby, jangan harap aku akan ngikutin permintaan kamu. Asal kamu tau, aku lebih baik kehilangan kamu daripada aku harus kembali sama Febby lagi” ucap Rio tegas. Ify langsung mengangkat wajahnya, ia sama sekali tidak menyangka bahwa Rio akan berkata seperti itu padanya. Ternyata Rio benar-benar marah, benar-benar kecewa dan benar-benar sakit hati, dan Ify lah pelaku utama dari semua kekecawaan ini.
            “ketidak jujuran kamu sama aku bikin aku mempertanyakan lagi tentang apa yang udah kita jalani selama 3 bulan ini”
            “Rio….” Ify berusaha keras menahan air matanya agar tidak menetes keluar.
            “kamu emang nggak pernah sayang sama aku, Fy… nggak pernah” ujar Rio seraya menggeleng beberapa kali.
            “Yo dengerin aku! Kak Febby punya alasan atas kepergiannya 2 tahun yang lalu, Kak Febby –“
            “aku nggak peduli apapun alasannya dia, Fy. Yang aku tahu dia udah pergi ninggalin aku tanpa alasan, dan selama dia pergi dia nggak pernah ngasih kabar apapun, dan sekarang setelah 2 tahun ngilang tanpa kabar, dia balik lagi dan masih  nganggep aku pacarnya. Dan kamu, sekalipun kamu nggak pernah mau jujur sama aku tentang kepulangan Febby, sampe kemaren kamu bawa aku yang berstatus sebagai pacar kamu ke dia. Apalagi namanya kalo bukan mainin perasaan aku?!”
            “Yo, please dengerin aku!!”
            “terakhir, jangan harap aku mau balikan lagi sama Febby. Kalo kamu mau pergi dari aku, silahkan!! Kita lebih baik putus daripada aku harus bohongin perasaan aku dengan kembali lagi sama Febby dan bersikap seolah-olah aku masih sangat menyayangi dia. Kamu egois, aku bisa lebih egois lagi!!”
            Rio melangkah pergi, tapi Ify mengejarnya lalu mencekal pergelangan tangannya,
            “Yo…”
            “….”
            “apa kamu udah nggak sayang lagi sama aku?” Tanya Ify penuh harap. Tatapan Rio yang sejak tadi tajam kini tiba-tiba melembut.
            “aku sayang sama kamu, Ify… sangat sayang. Tapi buat apa aku mempertahankan seseorang yang nggak mau dipertahankan?! Kamu udah nggak jujur sama aku, dan sekarang kamu mau nyerahin aku gitu aja ke Febby tanpa berjuang dulu? sakit Fy… sakit!!”
            Dengan berat hati Rio melepaskan pergelangan tangannya dari genggaman Ify lalu melanjutkan langkahnya yang tadi sempat terhenti. Ify sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi dan membiarkan Rio pergi begitu saja. Apa benar hubungan mereka telah  berakhir sampai disini??



***

            Saat tiba diparkiran sekolah, Via langsung meloncat turun dari motor Alvin. Dan tepat saat Via akan pergi tanpa permisi, Alvin langsung meraih pergelangan tangan Gadis itu dan menahannya. Mau tidak mau Via akhirnya menoleh kearah Alvin,
            “apalagi sih?” Tanya Via sedikit kesal.
            “gue mau nanya sesuatu boleh nggak?”
            “apa?” todong Via langsung tanpa basa-basi. Alvin melepaskan pergelangan tangan Via lalu turun dari atas motornya.
            “tadi kok Tante manggil lo Andrea sih? Nama lo kan Via…” Tanya Alvin langsung ke point, ia malas jika harus berbelit-belit.
            “Cuma mau nanya itu doang?? Lo pacar gue apa bukan sih?” bukannya menjawab, tapi Via malah menodong Alvin kembali dengan pertanyaan. Dan hal itu kontan saja membuat kening Alvin sedikit berkerut karna kebingungan. “maksud lo?” Alvin tidak paham.
            “nama panjang gue Sivia Andrea Puteri, tapi Tante gue biasanya manggil gue Rea atau Andrea. Katanya pacar, tapi masa nama panjang gue aja nggak tau sih?” ucap Via skeptis. Alvin hanya mengangguk, perasaannyapun semakin bercampur aduk. Antara yakin dan tidak yakin bahwa Via yang saat ini berstatus sebagai pacarnya adalah Andrea-nya, seorang Gadis dari masa lalunya.
            “oh? Gitu??” Tanya Alvin tanpa semangat. Alvin masih belum yakin dengan perasaannya ini. Tapi entah kenapa Alvin tiba-tiba merasa bahwa Via ini adalah Andrea. Alvin tidak ingin memberitahukan pada Via prihal dugaannya itu, Alvin ingin mencari tahu lagi lebih lanjut tentang Via dan Andrea, jika nanti Alvin sudah benar-benar yakin bahwa Via adalah Andrea yang selama 6 tahun ini Alvin tunggu, barulah Alvin akan memberitahukannya pada Via. Alvin hanya tidak ingin salah paham saja, lagipula cewek bernama Andrea didunia ini pasti banyak sekali bukan?
            “respon lo nggak ngenakin banget sih??” kata Via sedikit kesal. Ia berdecak dan memutuskan untuk pergi dari tempat itu tanpa menunggu Alvin. Tapi Alvin lagi-lagi menahannya dengan cara mencekal pergelangan tangannya.
            “lo mau apalagi??”
            “sorry ya soal tadi?”
            “nggak perlu minta maaf. gue nggak serius kok ngomongnya, lagian nggak penting juga lo tau nama panjang gue siapa. Lo kan bukan tukang sensus”
            Jawaban Via yang kelewat polos justru membuat Alvin merasa sedikit lucu dengan Gadis yang ‘katanya’ adalah pacarnya ini. Alvin terkekeh pelan karena merasa geli.
            “lo kenapa ketawa? Ada yang lucu??”
            Alvin menggeleng beberapa kali lantas berkata,
            “hahaha… nggak, nggak apa-apa kok. Cuma aja gue nggak nyangka, kalo ternyata Via yang jutek bisa ngelucu juga, hahaha….”
            “terserah lo!” Via akhirnya melangkah pergi hendak meninggalkan parkiran.
            Alvin yang sigap langsung mengeluarkan setangkai Bunga Krisan yang sengaja ia sembunyikan sejak tadi didalam jaketnya. Alvin berlari kecil mengejar langkah Via. Dan ketika Alvin berhasil sedikit mendahuluinya, Alvin langsung berhenti tepat dihadapan Via dan membuat Via sedikit terlonjak.
            “tunggu dulu dong! Lo buru-buru amat sih? Ini masih pagi”
            “tapi gue mau masuk kelas. SE-KA-RANG!!”
            “lo boleh masuk kelas, tapi setelah gue kasi –“ Alvin menggantungkan kalimatnya lalu menunjukan setangkai Bunga Krisan Putih yang tadi ia simpan dibelakang punggungnya, “ini” lanjut Alvin dengan senyum terbaik yang pernah ia miliki.
            Untuk beberapa saat Via terpana lalu menerima bunga dari Alvin itu. Via tidak pernah tahu betapa senangnya Alvin ketika ia untuk yang pertama kalinya menerima bunga pemberian Alvin. Saking senangnya, Alvin bahkan merasa seperti melayang jauh hingga nyaris menyentuh langit ke-7.
            “thanks” gumam Via pelan dengan seulas senyuman yang terkesan dipaksakan. Via lalu berjalan mendahului Alvin. ‘Harusnya gue yang bilang makasih, bukan elo’ bathin Alvin.
            Tidak berselang lama setelah kepergian Via, Alvin malah tersenyum sendiri. Ia terus memandangi punggung Via yang nyaris menghilang dari pandangannya. Sedikit demi sedikit, sepertinya Alvin mulai bisa mengikis sikap cuek Gadis jutek itu.

            “pelan-pelan aja, Vi….” Gumam Alvin pelan lalu melangkah menyusul Via.




***


            “sorry ya Shill, lo jadi nunggu lama” sesal Gabriel seraya duduk disamping Shilla saat ia baru saja menyelesaikan latihan Karatenya. Shilla hanya menggeleng pelan sambil tersenyum, ia lalu menyerahkan sebotol air mineral pada Gabriel yang saat itu tengah mengelap keringatnya dengan sebuah handuk kecil.
            “thanks” ucap Gabriel, kali ini Shilla mengangguk.
            “pertandingan lo kapan?” Tanya Shilla yang berusaha membuka obrolan. Gabriel tampak berfikir sejenak lalu menoleh kearah Shilla dan menjawab,
            “3 hari lagi” jawab Gabriel singkat.
            “oooo… kalo gitu lo harus janji sesuatu sama gue”
            “apa?” Tanya Gabriel penasaran.
            “lo harus menang dan jadi student of the month bulan depan, gimana?”
            Gabriel pura-pura berfikir keras lalu bergumam,
            “emmmm…. Gimana yaaa??”
            “yaahh… pake mikir lagi” sahut Shilla lalu mengerucutkan bibirnya yang justru terlihat sangat menggemaskan dimata Gabriel. Gabriel tertawa kecil, ia mengusap puncak kepala Shilla lalu merangkul mantan pacarnya yang kini resmi menjadi sahabat terdekatnya setelah Alvin, Rio dan Cakka tentunya.
            “nggak usah manyun gitu! Jelek tau” ejek Gabriel. Shilla berdecak lalu melepaskan lengan Gabriel dari pundaknya.
            “jelek-jelek begini juga lo tetep susah move on dari gue kan?” kata Shilla pede. Mendengar ucapan Shilla barusan membuat Gabriel tersenyum penuh misteri seraya menatap wajah cantik Shilla lekat-lekat. Seperti dulu, ketika mereka masih bersama, Shilla selalu merasa sebal jika Gabriel sudah menatapnya seperti itu.
            “jadi lo mau kan jadi student of the month bulan depan kalo nanti lo menang dipertandingan?” Tanya Shilla sekali lagi.
            “kalo gue menang dan mau jadi student of the month hadiahnya apa dari lo??”
            Shilla tampak berfikir, Gabriel menunggu dengan sabar.
            “ummm… lo maunya apa?” Shilla melirik Gabriel dengan pandangan bertanya.
            Gabriel tersenyum nakal, tidak lama ia menjawab, “kalo hadiahnya kita balikan lagi gimana?”
            Shilla terkejut bukan main dan langsung menoleh ke arah  Gabriel yang saat itu sedang berusaha keras menahan tawanya. Tanpa bisa Shilla kendalikan lagi, ia mendadak salah tingkah dan merasakan kedua pipinya mulai memanas seiring dengan semburat merah yang mulai terbit dikedua pipinya. Hal itu terjadi bukan karna Shilla masih memiliki rasa terhadap Gabriel, hal itu terjadi hanya karna semata-mata Shilla masih merasa malu tiap kali Gabriel menyebut kata balikan. Saat ini hati Shilla hanya milik Cakka seorang, bukan Gabriel yang kini hanya ia anggap sebagai sahabat, tidak lebih!
            Gabriel lalu mengedipkan mata sebelah kirinya, dan tanpa bisa ia tahan, tawa itu akhirnya meledak. Lagi-lagi Shilla manyun saat menyadari bahwa Gabriel hanya menggodanya saja.
            “cieeee…. Yang mukanya langsung merah aja! Gue Cuma becanda kali, Shill, HAHAHAHAHAHAHA…..”

            “Iiiiii…. Gabriel jahaaaattttttt!!!” jerit Shilla histeris.




***


            Kurang dari 10 menit lagi bel tanda mulainya jam pelajaran akan segera dimulai, tapi hingga sekarang Via belum juga memasuki kelas. Ia malah duduk bersila dengan santainya direrumputan yang terdapat dihalaman belakang sekolah sambil mendengarkan music melalu i-pod nya. Kepala Via bergerak kekiri dan kekanan menikmati alunan music yang mengalun dengan lembut ditelinganya. Akhir ini banyak sekali masalah yang harus ia hadapi, belum lagi statusnya dengan Alvin saat ini semakin membuatnya bingung. Tapi Via berusaha melupakan semua masalah itu. Biarkanlah ia menghadapi hari ini dengan tenang tanpa perlu banyak berfikir. Ya, setidaknya beginilah cara Via untuk lari dari masalahnya.
            Tapi bukan itu yang menjadi masalah utamanya sekarang. Masalah utamanya adalah… Via menghela nafas panjangnya saat sebuah ingatan menyapa kepalanya,
            “kamu menderita penyakit Gagal Ginjal Kronik, Via. Dan kamu harus segera mendapatkan pendonor ginjal sebelum ginjal kamu kehilangan fungsi”
            Vonis dari Dokter Aninda itu tiba-tiba berkelebat dikepala Via. Rasanya sesak tiap kali mengingat vonis itu. Penyakit Gagal Ginjal Kronik, apalagi yang lebih menyakitkan bagi seorang Via saat ia harus divonis menderita penyakit itu, penyakit yang sama dengan penyakit yang Mama nya derita, dan penyakit yang telah merenggut nyawa Mamanya. Satu pertanyaan timbul dikepala Via; apa nanti dia juga akan bernasib sama dengan Mamanya??
            “hay… boleh gabung nggak?” ujar seseorang yang tiba-tiba saja sudah berdiri dihadapan Via. Via membuka kedua matanya lalu melihat penampakkan satu sosok pemuda tampan bermata elang tengah berdiri dengan tegak didepannya –Cakka- Deg.. jantung Via berdegub kencang saat senyuman itu terukir diwajah Cakka.
            “h… hay” balas Via dengan senyuman kakunya.      
“saya boleh duduk disini?” Tanya Cakka meminta ijin pada Via. Via membuka headphone nya lalu mengangguk. Cakka tersenyum dan langsung mengambil posisi disamping Via.
            “kamu kok nggak masuk kelas?” Tanya Via sehati-hati mungkin. Cakka menoleh kearah Via dengan senyuman yang tidak kunjung luntur dari bibirnya.
            “lagi males” jawab Cakka seadanya. Via hanya mengangguk, “kalo kamu?” lanjut Cakka,
            “hah? Aku? Sama lagi males juga, hehehe…” jawab Via dengan suara cengirannya yang khas.
            Kali ini giliran Cakka yang mengangguk. Selepas itu, Cakka dan Via sama-sama larut dalam keheningan. Via tidak tahu harus berkata apalagi, begitu juga dengan Cakka. Cakka tidak mengerti, kenapa setiap kali berada disamping Via ia selalu kehabisan kata-kata seperti ini. Dan yang lebih Cakka tidak mengerti lagi, kenapa ia begitu lembut pada Gadis ini, sementara pada yang lainnya Cakka begitu dingin dan selalu tidak peduli dengan apa yang ada disekitarnya. Ada apa dengannya? Apa yang salah dengan hatinya?
            “Via?”
            “hmmm….” Jawab Via dalam sebuah gumaman,
            “kamu ngerasa bosen nggak disini?!” Tanya Cakka tiba-tiba.
            “maksudnya?” Via tidak paham.
            “iya? Kamu bosen nggak disini?” ulang Cakka. Via yang mulai paham dengan maksud Cakka pun akhirnya mengangguk pelan lalu menjawab,
            “sedikit bosen sih”
            Cakka tersenyum puas, ia bangkit dari sisi Via lalu mengulurkan tangan kananya tepat didepan Via, Cakka sedikit membungkuk agar posisinya tidak terlalu tinggi.
            “ngapain?” Tanya Via dengan kedua alis bertaut.
            “bolos yuk!!”
            “tapi kan –“
            “udah santé aja! Semuanya akan baik-baik aja kok” Cakka berusaha menenangkan Via. Tapi hal itu tidak lantas membuat Via langsung menerima ajakan Cakka. Via terlihat berfikir keras, tidak lama kemudian Via menatap tangan Cakka yang terulur, sesekali juga Via menatap wajah Cakka, lalu tidak lama kemudian…
            “oke deh!” Via menerima uluran tangan Cakka lalu bangkit.
            Cakka dan Via pun berjalan beriringan meninggalkan halaman belakang sekolah setelah sebelumnya mereka berdua saling menatap untuk sejenak seraya melemparkan sebuah senyuman satu sama lain.

            Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang sangat menyenangkan untuk mereka. Tapi bagaimana dengan Alvin…?




                        BERSAMBUNG….





                       

0 comments:

Post a Comment