Sebelumnya…
“seenggaknya ijinin gue buat
nunjukin ke elo kalo gue bener-bener serius sama lo dan nggak main-main sama
lo. Anggep aja ini sebagai try out sebelum lo bener-bener jadi milik gue
seutuhnya” kata Alvin sungguh-sungguh.
“kenapa lo begitu yakin kalo lo bisa
bikin gue jatuh cinta sama lo dan jadi milik lo seutuhnya?” Tanya Via. Alvin
menunduk untuk beberapa saat. Tidak lama Alvin meraih tangan kanan Via lalu
meletakkanya tepat didadanya,
“karna ini! Sejak awal gue ngeliat
lo, gue udah yakin kalo lo emang buat gue, kalo lo emang milik gue!”
“hahaha…” Via tertawa sinis dan
terkesan hambar. Bagaimana bisa Alvin begitu yakin dengan dirinya sementara
mereka baru kenal 2 minggu yang lalu, bahkan selama 2 minggu ini hubungan
mereka pun tidak cukup baik. “lo konyol!!” cerca Via.
“gue emang konyol!”
“lo baru kenal gue 2 minggu Alvin!
Bagaimana lo bisa begitu yakin dengan semuanya?”
“hati gue nggak pernah salah dalam
merasa”
“apa lo selalu ngelakuin cara ini
buat macarin korban-korban lo sebelum gue?”
“Cuma lo yang bisa bikin gue
ngelakuin cara ini, Via…” jawab Alvin dengan mantap dan yakin.
Via
langsung bungkam seketika saat mendengar jawaban yang Alvin lemparkan padanya.
Via menatap dalam kedua mata Alvin, berusaha mencari ketidaksungguhan yang
terpancar dari kedua mata cowok yang terkenal sebagai Play Boy ini, tapi
sayang… Via sama sekali tidak menemukan pancaran ketidaksungguhan dari kedua
mata Alvin. Atau apa memang Alvin terlalu pintar menyembunyikan kebusukannya
didepan korban-korbannya? Dan Via merasa terpukul saat ia menemukan pancaran
kesungguhan dan ketulusan terpancar dari sepasang indera pelihat Alvin. Ah… apa
Via telah benar-benar takluk oleh rayuan gombal Play Boy ini?
Setelah cukup lama berfikir dan
berdebat dengan bathinya, Via akhirnya menghela nafas beratnya. Ia bangkit lalu
berjalan perlahan dan sedikit menjauh dari jarak Alvin sekarang.
“oke! Gue mau jadi cewek lo. Tapi
hanya sebulan dan semuanya akan berakhir!”
***
Part
7
Semuanya
dimulai tanpa rasa, dan saat nanti rasa itu mulai menyentuh palung hati, ada
yang perlahan berubah hingga akhirnya menghilang. Dan saat ia tersadar bahwa
cinta itu benar-benar ada menyapa relungnya, semuanya sudah terlambat. Karena
keputusasaan telah lebih dahulu menyapanya…
=====================
From:
+6283**********
10
menit lagi gue jemput.
Tunggu
dirumah lo!
=====================
Itulah
sepenggal pesan singkat yang dikirimkan oleh Alvin ke nomer ponsel Via. Via
mendesah tidak sabar lalu melempar ponselnya tanpa ampun ke ranjangnya. Saking
kesalnya dengan cowok berwajah oriental itu, Via bahkan belum sama sekali
menyimpan nomer ponsel Alvin. Meskipun sekarang ia telah ‘resmi’ menjadi pacar
Alvin, tapi hal itu tidak lantas mengubah apapun, ia tetap membenci Alvin
seperti cowok-cowok lain yang berusaha mendekatinya sebelum-sebelumnya.
Via
turun ke lantai 1 rumahnya dengan lesu. Dyna yang saat itu sedang menyiapkan
sarapan mereka langsung menoleh ketika Via menghempaskan tubuhnya dikursi. Via
menyangga dagunya dengan kedua tangannya. Wajah bad mood tergambar jelas
diwajah manisnya pagi ini.
“keponakan
Tante kenapa? Pagi-pagi gini kok malah keliatan bad mood?” sapa Dyna lalu duduk
dihadapan Via. Via mendesah pelan lalu menjawab,
“nggak
apa-apa. Emang lagi nggak mood aja, Tan” jawab Via sekenanya.
Dyna hanya mengangguk
dan berusaha untuk mengerti. Dyna lalu menyeruput secangkir teh hijau yang
tersedia dimeja makan. Dyna tampak berfikir, ketika sesuatu menyapa memorinya
secara tiba-tiba, Dyna menghentikan sejenak aktifitas menyeruput teh hijaunya,
“Oya,
Re… temen cowok kamu yang kemaren kesini namanya siapa? Tante lupa!”
“Alvin”
jawab Via ogah-ogahan sambil mengolesi roti yang ada ditangannya dengan selai
cokelat.
Dyna
tampak tersenyum menggoda,
“dia
keren. Dan Tante suka”
“jangan
bilang Tante lagi ngincer berondong!” Dyna langsung melotot tajam ketika
mendengarkan ucapan terakhir Via.
“jangan
sembarangan kamu Andrea!” hardik Dyna berpura-pura terlihat galak. Via tertawa
kecil meskipun sebenarnya dia tidak ingin tertawa.
“ya
terus kenapa?” Tanya Via pada akhirnya.
“yaaa…
gimana ya? Tante ngerasa aja kalo Alvin itu ada rasa sama kamu, dia itu
kayaknya suka sama kamu deh, Re…”
‘EMANG’
sahut Via dalam hati. Tapi Via malah menujukan raut masa bodoh. Dyna yang
memang sudah sejak lama tahu bahwa Via tidak pernah sekalipun ingin membuka
hatinya untuk seorang Pria membuat Dyna malas membahas masalah cowok dengan
Via. Tapi entah kenapa setelah melihat Alvin kemarin, Dyna merasa yakin, bahwa
nantinya Alvinlah yang akan mampu menaklukkan kekerasan hati keponakan
kesayangannya ini.
“kamu
nggak ada niat buat nyari pacar, Re? Tante ngerti kalo kamu masih trauma dengan
pengkhinatan Papa kamu, tapi hal itu tidak seharusnya membuat kamu menyama
ratakan sifat semua cowok. Akan ada saatnya nanti kamu akan jatuh cinta, Rea.
Dan kamu… nggak bisa selamanya terus-terusan seperti ini”
Via
mengangguk berkali-kali meskipun sebenarnya ia merasa tidak setuju dengan
pernyataan Tante nya baru saja. Via mengunyah rotinya untuk beberapa saat,
setelah potongan roti itu tertelan, Via
pun menyeruput segelas susu hangat yang tersaji dihadapannya. Via berdehem
pelan lantas berkata,
“Alvin
itu play boy, asal Tante tau!”
“oya?
Masa sih?”
Tepat
saat Via akan menyahut perkataan Tantenya, tiba-tiba saja terdengar suara
klakson mobil dari luar. Via menoleh sejenak dan sadar bahwa jemputannya telah
datang. Sekali lagi Via mendesah, ia bangkit lalu pamit pada Tante nya.
“jemputan
aku udah dateng, Tan…”
“siapa?
Tumben ada yang jemput??” Tanya Dyna penasaran.
“Alvin”
jawab Via sekenanya.
“WHAAT??
ALVIN?? Kamu yang bener???” Tanya Dyna heboh, ia benar-benar kaget dan nyaris
tidak percaya.
“biasa
aja kali, Tan…” Via lalu berjalan perlahan meninggalkan ruang makan. Seraya
berjalan Via bergumam dengan cukup pelan tapi masih bisa didengarkan oleh Dyna.
“baru
tahu aku dijemput sama Alvin aja hebohnya udah segini, gimana kalo Tante tau
kalo aku udah jadian sama Alvin”
“KAMU
JADIAN SAMA ALVIN??” Dyna semakin heboh. Ia berlari kecil mengejar langkah Via.
“menurut
Tante??” Via bertanya balik dan semakin membuat Dyna penasaran. Dyna tampak
berfikir, tapi tiba-tiba saja…
“Aw…”
ringis Via yang tahu-tahu merasakan sakit dibagian pinggangnya.
“kamu
kenapa, Re?” Tanya Dyna khawatir.
Via
memejamkan kedua matanya untuk beberapa saat dan berusaha meredam rasa sakit
itu. Setelah rasa sakit dibagian pinggangnya lumayan mereda, Via menyunggingkan
sebuah senyuman untuk Tantenya,
“nggak
apa-apa kok, Tan…”
“kamu
yakin?” Tanya Dyna dengan pandangan tidak yakin. Via mengangguk mantap.
“ya
udah, Tan… aku berangkat dulu ya? Nanti telat. Masalah aku jadian sama Alvin,
nanti aku ceritain deh”
“kamu
beneran jadian sama Alvin??”
“pokoknya
nanti aku ceritain deh” Dyna hanya mengangguk pelan. Rasa cemas sedikit
membayanginya ketika tadi Via mengeluh sakit dibagian pinggangnya.
Via
dan Dyna keluar dari dalam rumah secara bersamaan. Dyna segera melempar
senyumnya ketika Alvin melambai lalu menyapannya dengan ramah. Tanpa
mengucapkan sepatah katapun, Via langsung menaiki motor Alvin.
“kamu
yakin nggak apa-apa, Rea? Pinggang kamu masih sakit?” Tanya Dyna yang
benar-benar merasa cemas.
Rasa cemas Dyna ini
bukan tanpa alasan, karena dulu, almarhum Kakaknya Dyra yang juga adalah Mama
dari Via pernah mengeluh sakit pinggang yang sama. Awalnya Dyna fikir bahwa itu
adalah sakit pinggang biasa karna Dyra terlalu lelah mengurus Via yang saat itu
masih kecil, belum lagi Dyra tidak mempercayai Baby sitter untuk mengurus Via
membuat Dyna harus bekerja 2 kali lebih keras dalam mengurus Via juga pekerjaan
rumah lainnya.
Beberapa bulan lamanya,
Dyra terus mengeluh sakit dan nyeri dibagian pinggangnya, dan setelah Dyna
membawanya ke Dokter dan memeriksa keadaan Dyra, ternyata Dyra menderita sakit
Gagal Ginjal, penyakit yang hingga saat ini mereka rahasiakan dari siapapun
termasuk itu dari Papa Via. Itulah alasan kenapa Dyna begitu cemas melihat Via
mengalami sakit dipinggangnya seperti ini.
“nggak
apa-apa kok, Tan… ini Cuma sakit pinggang biasa. Tadi pagi aku jatuh dari
tempat tidur, makanya pinggang aku jadi sakit begini”
Dyna
mengangguk berusaha mempercayai alasan yang Via berikan. Alvin yang sejak tadi
mendengar obrolan yang terjadi antara Via dan Tante nya juga tidak bisa
menghindari diri dari rasa cemasnya. Sekalipun Via sudah menjelaskan penyebab
sakit pada pinggangnya, tapi tetap saja Alvin merasa sedikit sanksi. Gerak
tubuh Via yang tidak biasa membuat Alvin dapat membaca dengan sangat jelas
bahwa ada sesuatu yang sedang Via sembunyikan.
Dyna
lalu mengalihkan perhatiannya pada Alvin, ia menyentuh pundak Alvin lantas
berkata,
“Vin,
Tante titip Rea ya?” Alvin mengangguk lalu menggumamkan kata “iya”
“dan
buat kamu, Andrea… kalo sakitnya dateng lagi, tolong kasi tau Tante…”
Alvin
terkejut bukan main ketika mendengar
Dyna memanggil Via dengan nama Andrea. Andrea? Bukannya itu nama Gadis Teddy
Bear nya yang ia temui 6 tahun yang lalu? Gadis Teddy Bear yang sampai sekarang
bahkan masih ia tunggui. Alvin menatap Via yang ada dibelakangnya dengan
pandangan yang susah diartikan, benarkah? Benarkah Via adalah Andrea-nya?
“ya
udah sekarang kalian jalan gih! Hati-hati dijalan ya?” nasihat Dyna sebelum
Alvin menjalankan Ninja Merahnya.
“iya
Tante ku baweeeeelllll” kata Via gemas.
“dan
inget, Rea!! Kamu ada utang cerita sama Tante” Dyna melirik sejenak kearah
Alvin dan menunjukan apa maksudnya pada Via. Via hanya memutar kedua bola
matanya.
“jalan
sekarang!” Via menepuk pundak Alvin yang akibatnya membuat Alvin sedikit
terkejut lalu tertarik dari lamunannya.
“eh?”
“jalan
sekarang!!” titah Via dengan malas.
“ba..
baik…” jawab Alvin sedikit gelagapan lalu berusaha bersikap normal. Alvin pun
menstarter motornya setelah sebelumnya pamit pada Dyna. Alvin menghela nafas
panjang lantas berkata pada Via yang duduk dibelakangnya.
“yakin
nggak mau pegangan?”
Via
menggeleng lalu dengan mantap menjawab, “yakin!”
Alvin
tersenyum menyeriangi, lalu tanpa aba-aba Alvin langsung menggas motornya yang
akibtanya membuat Via sedikit terlonjak lalu reflex memeluk pinggang Alvin.
Dengan senyum kemenangannya Alvin menjalankan motornya.
***
“Jadi
gimana, Ag? Bener-bener belum ada kemajuan dari Cakka? 5 hari lagi lho!
Deadlinenya hari sabtu” Kata Acha pada Agni yang saat itu sedang menopang dagu.
Bukan hanya Acha yang bingung, tapi Agni juga. Dan bukan hanya anak-anak dari meja redaksi yang merasa
dikejar waktu, tapi Agni juga. Agni menghela nafas beratnya. Mungkin sudah
saatnya ia menemui Pak Iqbal dan berkata langsung pada beliau bahwa ia sudah
menyerah dalam menghadapi kecuekan Cakka. Tapi bagaimana dengan Ify? Ify pasti
tidak akan membiarkannya begitu saja.
“Agni!
Lo jangan diem aja dong”
“ini
gue juga lagi mikir Chaaaa…. Shilla juga kayaknya udah nyerah duluan” kata Agni
putus asa. Acha langsung mendesah kecewa. Kenapa rasanya susah sekali
mewawancarai Cakka? Waktu sudah hampir habis dan mendekati deadline, tapi
hingga sekarang belum ada kemajuan apapun dari reporter sekolah.
Acha
melipat kedua tangannya didepan dada lalu membuang mukanya kearah jendela dan
kembali berfikir. Cukup lama Agni dan Acha tenggelam dalam fikiran mereka
masing-masing. Mereka berdua sama-sama sibuk mencari cara untuk bisa
mewawancarai Cakka. Tapi sekarang pertanyaannya adalah, apa masih penting
memikirkan bagaimana cara mewawancarai Cakka? Rasanya semuanya sia-sia saja.
Tidak
lama Agni menghembuskan nafas gusarnya, ia bangkit dari duduknya lantas
berkata,
“gue
kekantin dulu, Cha. Gue laper, tadi belom sempet sarapan”
Tanpa
menunggu jawaban dari Acha, Agni langsung berjalan keluar dengan santainya. Dan
tepat saat ia membuka pintu ruang redaksi, seseorang yang tiba-tiba saja muncul
mengagetkan Agni,
“elo??”
ucap Agni seraya menunjuk kearah Cakka.
“lo
bisa wawancarai gue besok saat jam istirahat” kata Cakka dingin lalu berbalik
dan pergi begitu saja tanpa pamit.
Agni
menatap Cakka dengan pandangan tidak percaya. Apa Agni tidak salah dengar? Atau
apa dia tidak sedang bermimpi? Acha lalu keluar dan berdiri disamping Agni,
“tadi
Cakka bilang apa, Ag?” Tanya Acha bingung. Agni tersadar dari lamunannya lalu
segera mengejar langkah Cakka yang jaraknya belum terlalu jauh dari jaraknya
sekarang.
“Cakka!!”
panggil Agni sedikit keras. Cakka menghentikan langkahnya saat Agni sudah
berdiri dihadapannya.
“tadi
lo bilang apa? Bisa lo ulang?” kata Agni sedikit sanksi.
Cakka
menatap Agni dengan tatapan matanya yang selalu terlihat dingin, tapi Agni
tidak peduli dan justru menantang tatapan dingin Cakka itu.
“sebelum
lo wawancarai gue, lo harus tau kalo gue bukan tipe orang yang suka ngulang
ucapannya”
“maksud
lo?” Tanya Agni tidak paham.
Sebelum
menjawab pertanyaan Agni, Cakka malah melanjutkan langkahnya dan meninggalkan
jutaan tanda Tanya dibenak Agni. Agni mengembuskan nafasnya dengan kesal.
Sebisa mungkin Agni berusaha menahan dirinya minimal untuk tidak melayangkan
bogem mentah diwajah tampan Cakka. Agni berkacak pinggang lalu menatap dengan
kesal punggung Cakka yang nyaris menghilang dari pandangannya.
“oke
terserah lo! Yang penting kerjaan gue selese” kata Agni berusaha masa bodoh
lalu kembali keruang redaksi. Agni merasa tidak sabar ingin segera
memberitahukan Ify kabar baik ini.
***
“segalanya
telah kuberikan
Tapi
kau tak pernah ada pengertian
Mungkin
kita harus jalani
Cinta
memang cukup sampai disini….”
Ify
langsung menunduk lesu saat melihat Rio
yang waktu itu sedang menunggunya didepan koridor. Kedua mata Rio tidak
henti-hentinya mengikuti pergerakan demi pergerakan yang Ify lakukan, hingga
tidak lama kemudian tibalah Ify dikoridor. Pagi ini Ify memang sengaja
menghindari Rio, dan tadi pagi-pagi sekali sebelum Rio datang menjemputnya, Ify
berangkat kesekolah terlebih dulu tanpa menunggu Rio. Yang Ify tidak menyangka
adalah, ternyata Rio lebih dulu tiba kesekolah dari dirinya.
“tadi
aku nggak kerumah” kata Rio tiba-tiba saat Ify berhenti tepat dihadapannya.
Berbanding terbalik dengan sikap yang ditunjukan Ify, Rio jauh lebih terlihat
tenang.
“aku
tau!” gumam Ify pelan.
“kamu
nggak tau! Aku yang tau” sahut Rio cepat. Perasaan Ify semakin tidak karuan.
“sejak
awal aku udah ngeduga kalo kamu pasti bakalan ngehindarin aku, dan sekarang
ternyata dugaan aku terbukti kan? Bukan satu bulan dua bulan aku ngenal kamu,
Fy… aku ngenal kamu hampir 4 tahun, aku hapal semua sikap kamu, jadi jangan
pernah berfikir kalo kamu akan bisa mengelabui aku, ngerti kamu?”
“maksud
kamu apa, Yo?” Tanya Ify pura-pura tidak paham. Rio tersenyum sinis lantas
berkata,
“nggak
usah pura-pura begok! Kamu sengaja kan mau menghindar dari aku? Iya kan?”
“Yo,
nggak gitu, aku…. Aku Cuma –“
“aku
kecewa sama kamu, aku sakit hati, Ify!”
“Yo
–“
“kamu
udah bohongin aku, Fy… kamu udah mainin perasaan aku. Aku tau Febby sepupu kamu
dan kamu sangat sayang sama Febby, tapi bukan berarti kamu bisa mainin perasaan
aku seenak hati kamu kayak gini, Fy”
Ify
hanya menunduk dan memilih untuk mendengarkan perkataan Rio tanpa mengeluarkan
komentar apapun. Toh percuma saja mengeluarkan komentar, Rio tidak akan pernah mau
mendengarkannya. Rio sudah terlanjur kecewa dan Ify mengerti dengan hal itu.
“kalo
kamu minta aku buat ngejauhin kamu, aku akan jauhin kamu seperti apa yang kamu
mau. Tapi kalo kamu minta aku buat balikan lagi sama Febby, jangan harap aku
akan ngikutin permintaan kamu. Asal kamu tau, aku lebih baik kehilangan kamu
daripada aku harus kembali sama Febby lagi” ucap Rio tegas. Ify langsung
mengangkat wajahnya, ia sama sekali tidak menyangka bahwa Rio akan berkata
seperti itu padanya. Ternyata Rio benar-benar marah, benar-benar kecewa dan
benar-benar sakit hati, dan Ify lah pelaku utama dari semua kekecawaan ini.
“ketidak
jujuran kamu sama aku bikin aku mempertanyakan lagi tentang apa yang udah kita
jalani selama 3 bulan ini”
“Rio….”
Ify berusaha keras menahan air matanya agar tidak menetes keluar.
“kamu
emang nggak pernah sayang sama aku, Fy… nggak pernah” ujar Rio seraya
menggeleng beberapa kali.
“Yo
dengerin aku! Kak Febby punya alasan atas kepergiannya 2 tahun yang lalu, Kak
Febby –“
“aku
nggak peduli apapun alasannya dia, Fy. Yang aku tahu dia udah pergi ninggalin aku
tanpa alasan, dan selama dia pergi dia nggak pernah ngasih kabar apapun, dan
sekarang setelah 2 tahun ngilang tanpa kabar, dia balik lagi dan masih nganggep aku pacarnya. Dan kamu, sekalipun
kamu nggak pernah mau jujur sama aku tentang kepulangan Febby, sampe kemaren
kamu bawa aku yang berstatus sebagai pacar kamu ke dia. Apalagi namanya kalo
bukan mainin perasaan aku?!”
“Yo,
please dengerin aku!!”
“terakhir,
jangan harap aku mau balikan lagi sama Febby. Kalo kamu mau pergi dari aku,
silahkan!! Kita lebih baik putus daripada aku harus bohongin perasaan aku
dengan kembali lagi sama Febby dan bersikap seolah-olah aku masih sangat
menyayangi dia. Kamu egois, aku bisa lebih egois lagi!!”
Rio
melangkah pergi, tapi Ify mengejarnya lalu mencekal pergelangan tangannya,
“Yo…”
“….”
“apa
kamu udah nggak sayang lagi sama aku?” Tanya Ify penuh harap. Tatapan Rio yang
sejak tadi tajam kini tiba-tiba melembut.
“aku
sayang sama kamu, Ify… sangat sayang. Tapi buat apa aku mempertahankan
seseorang yang nggak mau dipertahankan?! Kamu udah nggak jujur sama aku, dan
sekarang kamu mau nyerahin aku gitu aja ke Febby tanpa berjuang dulu? sakit Fy…
sakit!!”
Dengan
berat hati Rio melepaskan pergelangan tangannya dari genggaman Ify lalu
melanjutkan langkahnya yang tadi sempat terhenti. Ify sudah tidak bisa berbuat
apa-apa lagi dan membiarkan Rio pergi begitu saja. Apa benar hubungan mereka
telah berakhir sampai disini??
***
Saat
tiba diparkiran sekolah, Via langsung meloncat turun dari motor Alvin. Dan tepat
saat Via akan pergi tanpa permisi, Alvin langsung meraih pergelangan tangan
Gadis itu dan menahannya. Mau tidak mau Via akhirnya menoleh kearah Alvin,
“apalagi
sih?” Tanya Via sedikit kesal.
“gue
mau nanya sesuatu boleh nggak?”
“apa?”
todong Via langsung tanpa basa-basi. Alvin melepaskan pergelangan tangan Via
lalu turun dari atas motornya.
“tadi
kok Tante manggil lo Andrea sih? Nama lo kan Via…” Tanya Alvin langsung ke
point, ia malas jika harus berbelit-belit.
“Cuma
mau nanya itu doang?? Lo pacar gue apa bukan sih?” bukannya menjawab, tapi Via
malah menodong Alvin kembali dengan pertanyaan. Dan hal itu kontan saja membuat
kening Alvin sedikit berkerut karna kebingungan. “maksud lo?” Alvin tidak
paham.
“nama
panjang gue Sivia Andrea Puteri, tapi Tante gue biasanya manggil gue Rea atau
Andrea. Katanya pacar, tapi masa nama panjang gue aja nggak tau sih?” ucap Via
skeptis. Alvin hanya mengangguk, perasaannyapun semakin bercampur aduk. Antara
yakin dan tidak yakin bahwa Via yang saat ini berstatus sebagai pacarnya adalah
Andrea-nya, seorang Gadis dari masa lalunya.
“oh?
Gitu??” Tanya Alvin tanpa semangat. Alvin masih belum yakin dengan perasaannya
ini. Tapi entah kenapa Alvin tiba-tiba merasa bahwa Via ini adalah Andrea.
Alvin tidak ingin memberitahukan pada Via prihal dugaannya itu, Alvin ingin
mencari tahu lagi lebih lanjut tentang Via dan Andrea, jika nanti Alvin sudah
benar-benar yakin bahwa Via adalah Andrea yang selama 6 tahun ini Alvin tunggu,
barulah Alvin akan memberitahukannya pada Via. Alvin hanya tidak ingin salah
paham saja, lagipula cewek bernama Andrea didunia ini pasti banyak sekali
bukan?
“respon
lo nggak ngenakin banget sih??” kata Via sedikit kesal. Ia berdecak dan
memutuskan untuk pergi dari tempat itu tanpa menunggu Alvin. Tapi Alvin
lagi-lagi menahannya dengan cara mencekal pergelangan tangannya.
“lo
mau apalagi??”
“sorry
ya soal tadi?”
“nggak
perlu minta maaf. gue nggak serius kok ngomongnya, lagian nggak penting juga lo
tau nama panjang gue siapa. Lo kan bukan tukang sensus”
Jawaban
Via yang kelewat polos justru membuat Alvin merasa sedikit lucu dengan Gadis
yang ‘katanya’ adalah pacarnya ini. Alvin terkekeh pelan karena merasa geli.
“lo
kenapa ketawa? Ada yang lucu??”
Alvin
menggeleng beberapa kali lantas berkata,
“hahaha…
nggak, nggak apa-apa kok. Cuma aja gue nggak nyangka, kalo ternyata Via yang
jutek bisa ngelucu juga, hahaha….”
“terserah
lo!” Via akhirnya melangkah pergi hendak meninggalkan parkiran.
Alvin
yang sigap langsung mengeluarkan setangkai Bunga Krisan yang sengaja ia
sembunyikan sejak tadi didalam jaketnya. Alvin berlari kecil mengejar langkah
Via. Dan ketika Alvin berhasil sedikit mendahuluinya, Alvin langsung berhenti
tepat dihadapan Via dan membuat Via sedikit terlonjak.
“tunggu
dulu dong! Lo buru-buru amat sih? Ini masih pagi”
“tapi
gue mau masuk kelas. SE-KA-RANG!!”
“lo
boleh masuk kelas, tapi setelah gue kasi –“ Alvin menggantungkan kalimatnya
lalu menunjukan setangkai Bunga Krisan Putih yang tadi ia simpan dibelakang
punggungnya, “ini” lanjut Alvin dengan senyum terbaik yang pernah ia miliki.
Untuk
beberapa saat Via terpana lalu menerima bunga dari Alvin itu. Via tidak pernah
tahu betapa senangnya Alvin ketika ia untuk yang pertama kalinya menerima bunga
pemberian Alvin. Saking senangnya, Alvin bahkan merasa seperti melayang jauh
hingga nyaris menyentuh langit ke-7.
“thanks”
gumam Via pelan dengan seulas senyuman yang terkesan dipaksakan. Via lalu
berjalan mendahului Alvin. ‘Harusnya gue
yang bilang makasih, bukan elo’ bathin Alvin.
Tidak
berselang lama setelah kepergian Via, Alvin malah tersenyum sendiri. Ia terus
memandangi punggung Via yang nyaris menghilang dari pandangannya. Sedikit demi
sedikit, sepertinya Alvin mulai bisa mengikis sikap cuek Gadis jutek itu.
“pelan-pelan aja, Vi….” Gumam Alvin
pelan lalu melangkah menyusul Via.
***
“sorry
ya Shill, lo jadi nunggu lama” sesal Gabriel seraya duduk disamping Shilla saat
ia baru saja menyelesaikan latihan Karatenya. Shilla hanya menggeleng pelan
sambil tersenyum, ia lalu menyerahkan sebotol air mineral pada Gabriel yang
saat itu tengah mengelap keringatnya dengan sebuah handuk kecil.
“thanks”
ucap Gabriel, kali ini Shilla mengangguk.
“pertandingan
lo kapan?” Tanya Shilla yang berusaha membuka obrolan. Gabriel tampak berfikir
sejenak lalu menoleh kearah Shilla dan menjawab,
“3
hari lagi” jawab Gabriel singkat.
“oooo…
kalo gitu lo harus janji sesuatu sama gue”
“apa?”
Tanya Gabriel penasaran.
“lo
harus menang dan jadi student of the month bulan depan, gimana?”
Gabriel
pura-pura berfikir keras lalu bergumam,
“emmmm….
Gimana yaaa??”
“yaahh…
pake mikir lagi” sahut Shilla lalu mengerucutkan bibirnya yang justru terlihat
sangat menggemaskan dimata Gabriel. Gabriel tertawa kecil, ia mengusap puncak
kepala Shilla lalu merangkul mantan pacarnya yang kini resmi menjadi sahabat
terdekatnya setelah Alvin, Rio dan Cakka tentunya.
“nggak
usah manyun gitu! Jelek tau” ejek Gabriel. Shilla berdecak lalu melepaskan
lengan Gabriel dari pundaknya.
“jelek-jelek
begini juga lo tetep susah move on dari gue kan?” kata Shilla pede. Mendengar
ucapan Shilla barusan membuat Gabriel tersenyum penuh misteri seraya menatap
wajah cantik Shilla lekat-lekat. Seperti dulu, ketika mereka masih bersama,
Shilla selalu merasa sebal jika Gabriel sudah menatapnya seperti itu.
“jadi
lo mau kan jadi student of the month bulan depan kalo nanti lo menang
dipertandingan?” Tanya Shilla sekali lagi.
“kalo
gue menang dan mau jadi student of the month hadiahnya apa dari lo??”
Shilla
tampak berfikir, Gabriel menunggu dengan sabar.
“ummm…
lo maunya apa?” Shilla melirik Gabriel dengan pandangan bertanya.
Gabriel
tersenyum nakal, tidak lama ia menjawab, “kalo hadiahnya kita balikan lagi
gimana?”
Shilla
terkejut bukan main dan langsung menoleh ke arah Gabriel yang saat itu sedang berusaha keras
menahan tawanya. Tanpa bisa Shilla kendalikan lagi, ia mendadak salah tingkah
dan merasakan kedua pipinya mulai memanas seiring dengan semburat merah yang
mulai terbit dikedua pipinya. Hal itu terjadi bukan karna Shilla masih memiliki
rasa terhadap Gabriel, hal itu terjadi hanya karna semata-mata Shilla masih
merasa malu tiap kali Gabriel menyebut kata balikan. Saat ini hati Shilla hanya
milik Cakka seorang, bukan Gabriel yang kini hanya ia anggap sebagai sahabat,
tidak lebih!
Gabriel
lalu mengedipkan mata sebelah kirinya, dan tanpa bisa ia tahan, tawa itu
akhirnya meledak. Lagi-lagi Shilla manyun saat menyadari bahwa Gabriel hanya
menggodanya saja.
“cieeee….
Yang mukanya langsung merah aja! Gue Cuma becanda kali, Shill, HAHAHAHAHAHAHA…..”
“Iiiiii….
Gabriel jahaaaattttttt!!!” jerit Shilla histeris.
***
Kurang
dari 10 menit lagi bel tanda mulainya jam pelajaran akan segera dimulai, tapi
hingga sekarang Via belum juga memasuki kelas. Ia malah duduk bersila dengan
santainya direrumputan yang terdapat dihalaman belakang sekolah sambil
mendengarkan music melalu i-pod nya. Kepala Via bergerak kekiri dan kekanan
menikmati alunan music yang mengalun dengan lembut ditelinganya. Akhir ini
banyak sekali masalah yang harus ia hadapi, belum lagi statusnya dengan Alvin
saat ini semakin membuatnya bingung. Tapi Via berusaha melupakan semua masalah
itu. Biarkanlah ia menghadapi hari ini dengan tenang tanpa perlu banyak
berfikir. Ya, setidaknya beginilah cara Via untuk lari dari masalahnya.
Tapi
bukan itu yang menjadi masalah utamanya sekarang. Masalah utamanya adalah… Via
menghela nafas panjangnya saat sebuah ingatan menyapa kepalanya,
“kamu
menderita penyakit Gagal Ginjal Kronik, Via. Dan kamu harus segera mendapatkan
pendonor ginjal sebelum ginjal kamu kehilangan fungsi”
Vonis
dari Dokter Aninda itu tiba-tiba berkelebat dikepala Via. Rasanya sesak tiap
kali mengingat vonis itu. Penyakit Gagal Ginjal Kronik, apalagi yang lebih
menyakitkan bagi seorang Via saat ia harus divonis menderita penyakit itu,
penyakit yang sama dengan penyakit yang Mama nya derita, dan penyakit yang
telah merenggut nyawa Mamanya. Satu pertanyaan timbul dikepala Via; apa nanti
dia juga akan bernasib sama dengan Mamanya??
“hay…
boleh gabung nggak?” ujar seseorang yang tiba-tiba saja sudah berdiri dihadapan
Via. Via membuka kedua matanya lalu melihat penampakkan satu sosok pemuda
tampan bermata elang tengah berdiri dengan tegak didepannya –Cakka- Deg..
jantung Via berdegub kencang saat senyuman itu terukir diwajah Cakka.
“h…
hay” balas Via dengan senyuman kakunya.
“saya boleh duduk
disini?” Tanya Cakka meminta ijin pada Via. Via membuka headphone nya lalu
mengangguk. Cakka tersenyum dan langsung mengambil posisi disamping Via.
“kamu
kok nggak masuk kelas?” Tanya Via sehati-hati mungkin. Cakka menoleh kearah Via
dengan senyuman yang tidak kunjung luntur dari bibirnya.
“lagi
males” jawab Cakka seadanya. Via hanya mengangguk, “kalo kamu?” lanjut Cakka,
“hah?
Aku? Sama lagi males juga, hehehe…” jawab Via dengan suara cengirannya yang
khas.
Kali
ini giliran Cakka yang mengangguk. Selepas itu, Cakka dan Via sama-sama larut
dalam keheningan. Via tidak tahu harus berkata apalagi, begitu juga dengan
Cakka. Cakka tidak mengerti, kenapa setiap kali berada disamping Via ia selalu
kehabisan kata-kata seperti ini. Dan yang lebih Cakka tidak mengerti lagi,
kenapa ia begitu lembut pada Gadis ini, sementara pada yang lainnya Cakka
begitu dingin dan selalu tidak peduli dengan apa yang ada disekitarnya. Ada apa
dengannya? Apa yang salah dengan hatinya?
“Via?”
“hmmm….”
Jawab Via dalam sebuah gumaman,
“kamu
ngerasa bosen nggak disini?!” Tanya Cakka tiba-tiba.
“maksudnya?”
Via tidak paham.
“iya?
Kamu bosen nggak disini?” ulang Cakka. Via yang mulai paham dengan maksud Cakka
pun akhirnya mengangguk pelan lalu menjawab,
“sedikit
bosen sih”
Cakka
tersenyum puas, ia bangkit dari sisi Via lalu mengulurkan tangan kananya tepat
didepan Via, Cakka sedikit membungkuk agar posisinya tidak terlalu tinggi.
“ngapain?”
Tanya Via dengan kedua alis bertaut.
“bolos
yuk!!”
“tapi
kan –“
“udah
santé aja! Semuanya akan baik-baik aja kok” Cakka berusaha menenangkan Via. Tapi
hal itu tidak lantas membuat Via langsung menerima ajakan Cakka. Via terlihat
berfikir keras, tidak lama kemudian Via menatap tangan Cakka yang terulur,
sesekali juga Via menatap wajah Cakka, lalu tidak lama kemudian…
“oke
deh!” Via menerima uluran tangan Cakka lalu bangkit.
Cakka
dan Via pun berjalan beriringan meninggalkan halaman belakang sekolah setelah
sebelumnya mereka berdua saling menatap untuk sejenak seraya melemparkan sebuah
senyuman satu sama lain.
Sepertinya
hari ini akan menjadi hari yang sangat menyenangkan untuk mereka. Tapi bagaimana
dengan Alvin…?
BERSAMBUNG….



0 comments:
Post a Comment