Sebelumnya…
“Via… bisakan mulai sekarang lo belajar
menyayangi gue?”
Pertanyaan super sederhana yang
hanya membutuhkan jawaban ‘YA’ atau ‘TIDAK’ itu malah membuat Via berada dalam
posisi dilemma. Via bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan itu sementara
detik ini dihatinya hanya ada nama Cakka seorang. Apa Via bisa melupakan Cakka
secepat itu lalu belajar menyayangi Alvin? Tidak, urusan hati tidak pernah
sesederhana itu.
Via melangkah mendekati Alvin, lalu
tanpa berkata apa-apa lagi, Via langsung memeluk Alvin yang saat itu masih
terduduk dipinggir ranjang. Entahlah, Via tidak mengerti dengan semuanya, yang
ia tahu sekarang hanyalah ia ingin memeluk Alvin dan menenangkan hatinya yang
rapuh. Hanya itu.
Alvin lantas bangkit dari duduknya
dan membalas pelukan Via. Meskipun Via tidak memberikannya jawaban apapun, tapi
Alvin dapat merasakan kehangatan dan ketenangan yang menjalar disekujur raganya
saat tubuh itu memeluknya. Alvin merasa beban yang selama ini tanggung sedikit
berkurang. Setidaknya sekarang Gadis ini masih miliknya sampai sebulan yang
akan datang. Sekalipun nanti Via tidak bisa mencintainya, Alvin tetap akan
merasa beruntung karna sempat memiliki Via dan merasakan pelukan hangatnya.
Alvin mengecup puncak kepala Via
lalu dengan lirih berujar…
“gue sayang sama lo, Sivia….”
***
Part 10
Mencintai seseorang yang tidak pernah
sekalipun mencintaimu itu seperti berusaha memeluk bayanganmu sendiri…
Setengah bulan berlalu,
kehidupan mulai terasa berubah drastic. Anggota Gank D’CRAG yang dulunya
terlihat sangat kompak dan nyaris tidak terpisahkan kini pecah menjadi 2.
Gabriel dengan setia menemani Alvin, sementara Rio, ia lebih memilih untuk
tetap berdiri bersama Cakka. Banyak yang menyayangkan pecahnya D’CRAG, tapi mau
bagaimana lagi? Keegoisan Cakka dan kekerasan Alvin telah mengubah semuanya.
Prahara yang dulu nyaris tidak pernah menyentuh persahabatan mereka kini datang
dan tidak hanya menyentuh mereka tapi menghempaskan mereka.
Disaat
semua menyayangkan, Alvin malah tetap bersikap wajar seperti hari-hari
sebelumnya. Ia seakan tidak peduli meskipun saat ini tidak ada yang pernah tahu
apa yang sebenarnya terjadi pada hatinya. Dan setiap kali berpapasan dengan
Cakka, hal yang Alvin lakukan hanyalah menatap Cakka dengan tatapan dinginnya
lantas berlalu dengan tidak pedulinya.
Berbeda
dengan Alvin yang selalu berusaha bersikap wajar, Via justru merasakan hal
sebaliknya. Ia tidak tahu bagaimana harus bersikap sebagaimana mestinya disaat
semua mata-mata sinis mengarah padanya, disaat semua cemoohan hampir setiap
hari terdengar ditelinganya. Via lelah, tapi Via tidak juga bisa mengelak dari
kenyatan yang kini menamparnya. Kenyataan bahwa ia adalah tokoh utama penyebab
hancurnya D’CRAG.
Baru
sebulan tercatat sebagai salah siswi di SMA Tunas Bangsa, tapi Via sudah harus
terlibat dalam masalah sebesar ini. Dan tidak pernah sekalipun Via bermimpi ia
akan berada dalam posisi sesulit ini. Alvin dan Cakka, kenapa mereka berdua
begitu menyusahkan kehidupannya?
Tidak
hanya sikap tidak menyenangkan yang ditunjukan oleh teman-teman sekolahnya yang
membuat Via merasa tidak nyaman menjalani harinya, tapi sikap dingin yang
mendadak ditunjukan Shilla padanya sejak kejadian pertengkaran antara Cakka dan
Alvin 2 minggu yang lalu juga membuat Via tidak ada hentinya bertanya, apa
salahnya? Apa kesalahannya begitu fatal hingga membuat Shilla yang tidak lain
dan tidak bukan adalah sahabatnya sendiri juga ikut berbalik memusuhinya. Via
sering berusaha mengajak Shilla berbicara, tapi tidak pernah sekalipun Shilla
mau diajak berbicara. Ia selalu punya beribu-ribu alasan untuk menolak.
“baru
sebulan disini udah bikin masalah aja. Masalahnya nggak main-main lagi. Dia
bikin D’CRAG bubar!”
“apa
hebatnya sih nih cewek sampe bisa bikin Cakka-Alvin kelepek-kelepek terus sampe
berantem gitu gara-gara ngerebutin dia. Ih…”
“pake
pelet kali. Kalo D’CRAG aja bisa bubar gara-gara dia, nggak menutup kemungkinan
kalo Cakka dan Alvin akan musuhan selamanya”
Dan
masih banyak lagi suara sumbang lainnya yang membuat jantung Via terasa seperti
ditusuk-tusuk. Setiap kali mendengar kata-kata yang tidak mengenakkan itu
rasanya Via ingin mengeluarkan emosinya yang sudah terkumpul diubun-ubun sejak
2 minggu yang lalu. Via ingin menampar satu persatu semua orang yang sudah
membicarakannya tanpa pernah memikirkan perasaannya sekalipun.
Tapi
Via mencoba meredam segala luapan emosinya itu. Akan tiba saatnya nanti semua
keadaan akan berubah dan kembali normal. Via hanya perlu bersabar dan
menyelesaikan kesepakatan yang sudah ia buat bersama Alvin.
“hay
semuaaa….” Sapa Via ketika ia menghampiri Ify, Shilla dan Agni yang saat itu
sedang berkumpul dikantin. Ify dan Agni menjawab sapaan Via tapi tidak dengan
Shilla. Shilla menghela nafas panjangnya lalu beranjak dari tempat duduknya.
“gue
pamit ya?” sebelum mendapat jawaban dari sahabat-sahabatnya, Shilla malah sudah
hengkang dari tempat itu. Ify dan Agni saling berpandangan sejenak. Mereka lalu
menatap Via dengan pandangan bertanya.
“lo
ada masalah apa sih sama Shilla?” Tanya Agni penasaran. Via duduk ditempat
Shilla tadi, ia menopang dagunya lalu menggeleng beberapa kali.
“apa
karna masalah bubarnya D’CRAG? Tapi sejak kapan Shilla peduli sama D’CRAG?”
Agni semakin penasaran.
“gue
nggak tau sih ya… tapi entah kenapa gue ngerasa kalo Shilla itu….” Ify menggantungkan
kalimatnya dan membuat Via dan Agni penasaran.
“Shilla
kenapa?” Tanya Agni dan Via secara bersamaan.
“Shilla
kayaknya suka sama Cakka deh”
Air
muka Via langsung berubah keruh seketika saat mendengarkan ucapan Ify itu,
Shilla suka Cakka? Tapi bagaimana mungkin? Sebulan mengenal Shilla tidak ada
sedikitpun tanda-tanda ketertarikan yang Shilla tunjukan untuk Cakka
didepannya. Tapi Ify lebih dulu mengenal Shilla jauh sebelum Via, jadi tidak
menutup kemungkinan kalau Shilla benar-benar memiliki rasa yang special untuk
Cakka. Mungkin selama ini Shilla yang terlalu cerdik menyembunyikan perasaannya
didepan semua orang.
“ah
nggak mungkin…” kata Agni yakin. Ify dan Via langsung menoleh kearah Agni,
“nggak
mungkin gimana, Ni?” Tanya Ify penasaran. Sementara Via, ia hanya menyimak
obrolan kedua sahabatnya itu.
“realistis
dikitlah kalo ngambil kesimpulan. Shilla suka Cakka itu nggak mungkin, kalo pun
Shilla suka sama Cakka dia pasti ceritalah”
“mungkin
ada sesuatu dan lain hal yang bikin Shilla nggak bisa cerita, misalnya karna
Cakka terlalu dingin dan cuek…” timpal Ify tak mau kalah. Agni menggeleng
berkali-kali, tetap yakin dengan perkiraannya. Shilla menyukai Cakka, itu
adalah hal yang paling mustahil.
“Agni..
Ify, gue pamit ya?” Via bangkit lalu
keluar dari kantin sebelum Ify dan Agni sempat mengeluarkan suara mereka. Ify
dan Agni saling menatap satu sama lain dengan kedua pundak terangkat. Hari ini
Via dan Shilla benar-benar membingungkan.
Via
harus menyelesaikan masalahnya jika tidak ingin terus berlarut-larut seperti
ini.
***
Mendadak
langkah Via langsung terhenti tanpa ia komando saat sebuah tangan kokoh menahan
lengannya. Via berdecak kesal, padahal ia harus buru-buru mengejar Shilla dan
meluruskan masalah yang sekarang sedang mereka hadapi, tapi pria ini malah
datang dan menganggunya. Via menoleh kebelakang lalu menarik lengannya dengan
paksa dari cengkaraman Alvin.
“bisa
kan lo nggak ganggu gue sehariiiii aja, gue lagi ada urusan yang nggak bisa gue
tunda” kata Via sedikit kesal. Alvin tersenyum maklum, ia sudah terlalu biasa
menghadapi sikap cuek ‘pacarnya’ ini.
“bisa
kan lo nggak marah-marahin gue sehariiii aja, gue lagi kangen sama lo dan nggak
bisa gue tunda” kata Alvin menirukan ucapan Via tadi. Via tersenyum sinis, ia
menyilangkan kedua tangannya didepan perut lantas berkata pada Alvin,
“lo
nggak usah gombal! Nggak mempan sama gue. Toh tiap hari kita juga ketemu
dikelas, tiap hari juga lo nganter-jemput gue, seenggaknya biarin gue
sendirilah kalo lagi jam istirahat kayak gini”
“seenggaknya
temenin gue makan dikantin lah walopun Cuma sekali”
“nggak
usah manja! Udah cukup lo buat kerusakan dengan ngeluarin Cakka dari D’CRAG!”
“maksud
lo?” Tanya Alvin tidak paham. Kali ini Via sedikit terkejut lalu menatap Alvin
dengan pandangan heran.
“lo
beneran nggak bisa baca situasi sekarang ini atau lo pura-pura nggak tau sih
sebenernya? Lo liat! Selama 2 minggu ini semua anak-anak ngomong yang
nggak-nggak tentang gue, gue baru sebulan disini, Vin. Tapi lo udah nyeret gue
masuk kedalam masalah seribet ini. Lo nggak pernah sekalipun berfikir bahwa
keputusan lo buat ngeluarin Cakka dari D’CRAG akan berdampak buruk sama reputasi
gue disini”
“Vi…”
“dan
sekarang lo liat Shilla! Shilla itu sahabat gue, tapi sekarang dia berbalik
musuhin gue juga karna masalah yang sama. Apa perlu gue pindah dari sini biar
lo bisa bertindak seenaknya. Gue tau lo sayang sama gue, tapi gue benci cara lo
ini”
Tepat
saat Via akan berbalik dan pergi, Alvin lagi-lagi menahan lengannya dan membuat
Via menghentikan langkahnya.
“maafin
gue, maaf udah bikin lo terlibat dalam masalah yang nggak seharusnya lo
tanggung”
Via
menarik lengannya dari genggaman Alvin, ia menatap Alvin tajam lantas berkata,
“minta
maaf sama Cakka bukan sama gue. Satu lagi, biarin gue sendiri! kasih gue
kesempatan buat ngebersihin nama gue seenggaknya didepan Shilla, sahabat gue”
Alvin
lalu melepaskan lengan Via dan membiarkan Gadis itu pergi tanpa berusaha
mencegahnya lagi. Alvin menghela nafas beratnya ia baru menyadari bahwa
keputusan mengeluarkan Cakka dari D’CRAG bukanlah ide yang bagus. Sekarang
akibatnya, keputusan yang ia buat tanpa fikir panjang itu malah menghancurkan reputasi
Via disekolah ini. Hampir seisi SMA Tunas Bangsa selalu membicarakan yang
bukan-bukan tentang Via. Alvin baru mengakui kesalahannya itu setelah Via
memberitahukannya apa yang sebenarnya terjadi, dan Alvin menyesal.
***
“Shill…”
panggil Via ragu-ragu saat melihat Shilla duduk direrumputan bernaungkan pohon
palem yang rindang dengan posisi membelakanginya. Sebagai jawabannya, Shilla
hanya bergumam pelan. Via yang merasa mendapat respon pun langsung duduk disisi
Shilla seraya menatap Shilla dari samping.
“kalo
memang bubarnya D’CRAG bikin lo marah sama gue, gue minta maaf Shill, gue –“
“lo
nggak salah, Vi… gue yang terlalu berharap sama dia”
“maksud
lo?” Tanya Via kaget.
Dalam
benaknya ia mulai berfikir, apa jangan-jangan apa yang Ify katakan prihal
perasaan Shilla pada Cakka yang sesungguhnya adalah benar?
Shilla
menunduk dalam, ia terlihat berfikir keras. Entah apa yang sedang Shilla
fikirkan saat ini, Via sama sekali tidak bisa membacanya. Via hanya menatap
Shilla dengan pandangan menerawang, berusaha menyelami fikiran Gadis berwajah
cantik itu. Beberapa saat kemudian Shilla lalu mengangkat wajahnya lalu menoleh
kearah Via dengan senyum mirisnya, Shilla pun mengangkat tangan kirinya dan
menunjukan cincin pertunangannya dengan Cakka.
Via
mengernyit. Ia heran, kenapa Shilla menandak menunjukan cincin itu untuknya?
Seakan bisa membaca fikiran Via, Shilla menghela nafas panjangnya lalu mulai
membuka suara,
“ini
cincin pertuangan gue sama Cakka” perkataan super singkat dan super ringkas itu
sukses menohok dada Via. Via mulai merasakan dadanya bergejolak, antara percaya
dan tidak percaya dengan penuturan Shilla barusan.
Shilla
yang bisa menangkap dengan sangat jelas perubahan raut wajah Via langsung
menepuk pelan pundak Via.
“tapi
tenang aja, ini Cuma cincin biasa yang nggak bermakna kok. Gue sama Cakka
dijodohin, dan Cakka nggak bisa nolak sama sekali karna semua ini Papa nya yang
nentuin. Cakka begitu penurut sama Papanya, Cakka bahkan nggak bisa berkata
‘tidak’ untuk sesuatu yang tidak pernah dia inginin kalo hal itu sudah
menyangkut kemauan Papanya, dan Cakka akan ngorbanin apapun demi Papanya”
“tapi
gue ngelakuin sebuah kesalahan dengan jatuh cinta sama Cakka. Gue tau itu salah
dan nggak seharusnya terjadi, tapi gue juga nggak bisa ngontrol hati gue
sendiri”
Via
hanya terdiam dan menyimak. Ia merasakan ngilu dihatinya saat mendengarkan penuturan
Shilla itu. Disatu sisi ia merasa sakit karna mendapati kenyataan bahwa
seseorang yang selama ini diam-diam ia sayangi ternyata telah bertunangan
dengan sahabatnya sendiri. Tapi disisi lain ia merasa kasihan dengan posisi
Shilla saat ini. Tentu sangat berat berada dalam posisi mencintai tapi tidak
dicintai. Apa Alvin juga merasakan hal yang sama selama ini?
“gue
nggak marah sama lo, Vi. Gue Cuma marah sama diri gue sendiri yang selalu
berharap lebih sama seseorang yang bahkan nggak sedikitpun menyimpan rasa ke
gue, gue marah karna gue nggak bisa nerima kenyataan bahwa seseorang yang
‘katanya’ adalah tunangan gue ternyata jatuh cinta sama sahabat gue sendiri,
tapi gue nggak marah sama lo, Vi… sumpah, sedikitpun gue nggak marah sama lo.
Ini semua murni kesalahan gue yang udah lancang jatuh cinta sama Cakka…”
“Shill…”
panggil Via dengan suara bergetar seraya meraih salah satu tangan Shilla dan menggenggamnya
erat,
“gue
sekarang udah punya Alvin, jadi lo masih bisa berusaha untuk bikin Cakka jatuh
cinta sama lo, Shill… gue, gue nggak ada rasa sama Cakka, sekarang ini yang ada
dihati gue Cuma Alvin, Shill…. Bener-bener nggak ada yang lain….” Perkataan itu
benar-benar sangat bertentangan dengan kata hatinya. Via juga tahu bahwa ia
telah berbohong pada dirinya sendiri, tapi mau bagaimana lagi? Via harus tetap
melakukan hal ini. Ini jalan satu-satunya untuk membuat perasaan Shilla sedikit
lebih baik dari sebelumnya. Dalam hati Via berjanji, mulai hari ini ia akan
belajar mencintai Alvin sampai waktu yang mereka tentukan habis. Via akan
berusaha semampunya, Via juga akan berusaha melupakan Cakka dan membuang
jauh-jauh perasaannya pada Cakka.
“tapi
Cakka yang nggak cinta sama gue, Vi… dan selamanya Cakka nggak akan pernah bisa
cinta sama gue”
“tapi
lo masih bisa berusaha untuk bikin Cakka jatuh cinta sama elo, Shill… percaya
sama gue, elo pasti bisa bikin Cakka jatuh cinta sama lo…” Shilla mengangguk beberapa
kali.
Shilla
lalu memeluk Via dan menangis dalam pelukan Via sekeras mungkin. Via menepuk
punggung Shilla beberapa kali untuk memberikannya kekuatan. Tapi Shilla tidak
pernah tahu, bahwa Via yang saat ini sedang berusaha menenangkan perasaannya,
ternyata sama hancurnya dengan dirinya sekarang, bahkan mungkin Via lebih
hancur dari Shilla. Via memejamkan matanya, berusaha menahan sesak didadanya.
Kini ia bisa merasakan apa yang selama ini Alvin rasakan.
‘ternyata
ini yang selama ini elo rasain, Vin… maafin gue….’ Ujar Via dalam hati. Sebulir
air matanya lolos begitu saja membasahi pipi chubby nya.
Dan
tanpa mereka tahu, ada seseorang yang sedang mendengarkan obrolan mereka tepat
dibelakang mereka sekarang ini. Gabriel tersenyum pedih saat mendapati
kenyataan bahwa hati itu sudah bikin miliknya lagi. Gabriel lalu berbalik dan
melangkah pergi. Ia berusaha mengumpulkan serpihan-serpihan hatinya yang
berserakan. Sekarang saatnya ia melepaskan cinta itu dan membiarkannya terbang
tinggi meraih cintanya yang lain.
***
“gue
minta maaf sama lo!” kata Alvin penuh tekanan tanpa sedikitpun menatap Cakka
yang saat itu berdiri dihadapannya. Alvin juga meminta maaf pada Cakka ditempat
yang sama dengan tempat ia menghajar Cakka 2 minggu lalu. Suasananya pun hampir
sama, mereka sama-sama menjadi tontonan halayak banyak. Cakka menatap Alvin
dengan pandangan bingung, ia heran kenapa Alvin tiba-tiba minta maaf begini
padanya.
“kenapa
lo tiba-tiba minta maaf?” Tanya Cakka yang berusaha keras menyembunyikan rasa
penasarannya.
“gue
ngaku salah, dan gue mau ngebersihin nama Via yang udah gue kotorin 2 minggu
yang lalu, gara-gara gue dia jadi bahan omongan disini”
“kenapa
baru sekarang lo sadar?!”
Alvin
menghela nafas beratnya dan berusaha meredam emosinya. Ia tidak ingin melakukan
kesalahan yang sama seperti yang ia lakukan 2 minggu yang lalu. Alvin lalu
mengangkat wajahnya, menantang tatapan elang milik Cakka.
“gue
Cuma mau minta maaf sama lo. Mau maafin apa nggak itu terserah lo”
“tapi
gue nggak bisa segampang itu maafin lo”
“gue
nggak peduli”
Alvin
lalu mengalihkan tatapannya dari Cakka, ia menatap kesekeliling lantas berkata
dengan lantang didepan semua teman-temannya.
“dan
buat kalian semua! Mulai hari ini gue nggak mau denger kalian ngomongin yang
enggak-enggak tentang Via. Biar gimanapun Via itu cewek gue, dan gue nggak
terima kalian ngomongin cewek gue, ngerti kalian? Sekali lagi gue denger ada
salah satu diantara kalian yang ngomongin Via, gue nggak akan segan-segan buat
nendang kalian dari sini. Mungkin selama ini gue nggak pernah membanggakan diri
sebagai anak dari pemilik sekolah ini, tapi kalo kalian sudah bertindak jauh,
gue nggak akan pernah mikir 2 kali buat menyombongkan siapa diri gue yang
sebenarnya didepan kalian…”
Semuanya
terdiam. Ancaman Alvin itu seakan menjelma menjadi sebuah terror yang mencekam
bagi mereka. Memang benar selama ini tidak pernah sekalipun Alvin menyombongkan
dirinya sebagai anak dari pemilik sekolah, Alvin selalu bersikap seperti siswa
biasa pada umumnya, tapi hari ini Alvin telah berubah jauh, dan mereka semua
tidak pernah menyangka bahwa hal itu akan terjadi.
“kalo
ada yang harus disalahin dalam masalah ini, kalian seharusnya nyalahin gue,
bukan Via. Gue yang brengsek, gue yang udah ngeluarin Cakka dari D’CRAG karna
gue cemburu dengan kedekatan antara Cakka dan Via, jadi tolong mulai hari ini
jangan pernah salahin Via. Dan kalo kalian tetep nekad nyalahin Via apalagi
masih suka ngomong yang macem-macem tentang Via, maka seperti apa yang gue
bilang tadi, gue-nggak-akan-segan-segan-buat nendang kalian dari sekolah ini…”
ulang Alvin sekali lagi dengan penuh ketegasan.
Beberapa
saat kemudian Alvin lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu sebelum ia
lepas control dan bertindak lebih jauh lagi dari yang ia duga. Tapi mendadak
Alvin menghentikan langkahnya saat seseorang tiba-tiba muncul lalu menghalangi
jalannya.
“Vi…
Via…?” ucap Alvin yang mendadak gelagapan. Ia takut Via akan marah lagi karna
kesalahan yang telah ia lakukan. Tapi ketakutan Alvin itu langsung sirna saat
Via menyunggingkan seulas senyum diwajah manisnya dan menampakkan lesung
pipinya yang menggemaskan itu.
“makasih
ya, Vin…?”
“buat?”
Cakka
menghela nafas beratnya lalu membuang tatapannya kearah lain. Ia merasa tidak
kuat jika harus melihat kedekatan yang ditunjukan oleh Alvin dan Via.
“for
everything…” Via mengangkat tangan kananya lalu membelai lembut pipi Alvin.
Alvin tersenyum, ia meraih tangan Via yang bertengger diwajahnya lalu
menggenggamnya lembut, Alvin lalu mengecup tangan itu sekilas. Hal itu kontan
saja menerbitkan rasa iri pada semua siswi-siswi yang melihat adegan romantis
itu. Selama menyandang predikat play boy, ini baru pertama kalinya Alvin
menunjukan keromantisannya didepan semua orang. Via memang benar-benar sangat
beruntung.
Merasa
muak dengan pemandangan yang menyesakkan dada itu, Cakka segera hengkang dari
tempat itu. Untuk yang pertama kalinya ia harus mengaku, bahwa Alvin telah
mengalahkannya.
‘saya akan balikin semua yang udah saya
rusak, Kka…. Saya janji sama kamu’ Ujar Via dalam hati seraya diam-diam
memperhatikan kepergian Cakka.
***
Bel
tanda berakhirnya jam pelajaran siang itu menyalak dengan kencang dan membuat
semangat siswa-siswi kelas XI IPA 3 yang tadinya surut kini terpompa kembali.
Bahkan tidak satupun dari mereka yang mendengarkan salam penutup yang
disampaikan oleh Guru Kimia yang sudah cukup berumur itu. Dan mereka semua
segera membubarkan diri beberapa saat setelah Guru Kimia itu keluar dari kelas.
“Vi…
siang ini gue mau hunting, lo bisa nemenin nggak?” Tanya Alvin pada Via yang
duduk tepat dibelakangnya. Via Nampak berfikir sejenak lalu menggeleng. Alvin
langsung mendesah lesu.
Melihat
ekspersi Alvin yang lucu menurutnya, Via langsung terkekeh geli lantas berkata,
“becanda
Vin…. Becanda. Oke gue temenin, tapi sebelumnya kita kerumah gue dulu ya? Tante
ngundang lo makan siang”
“yang
bener??”
“ya
benerlah, masa gue becanda?” Tanya Via balik lalu bangkit dari bangkuya. Via
berjalan melewati Alvin begitu saja yang masih terpaku ditempatnya. Alvin yang
tersadar segera mengejar Via keluar kelas sebelum langkah Gadis itu terlalu
jauh meninggalkannya.
“Via
tungguin gue!!” teriak Alvin tanpa sadar.
“aw…”
Via lagi-lagi mengeluh sakit dibagian pinggangnya. Ia menghentikan langkahnya
lalu mencoba berpegang pada salah satu pilar agar ia tidak ambruk. Via
memejamkan matanya, berusaha meredam rasa nyeri yang semakin lama semakin
terasa menyiksa itu.
Alvin
yang awalnya berniat mengejutkan Via langsung membatalkan niatnya setelah ia
melihat keadaan Via. Wajah Gadis itu memucat dan tergambar jelas bahwa ia
sedang berusaha menahan rasa sakitnya. Alvin lebih mendekati Via lalu memegang
pundaknya,
“Via
lo kenapa?”
Via
tidak langsung menjawab pertanyaan Alvin itu, ia masih berusaha meredam rasa
sakitnya. Melihat keringat Via yang mengucur diwajahnya, Alvinpun mengeluarkan
sapu tangannya dan mengelap keringat itu dengan penuh perhatian.
“gue
nggak apa-apa kok, Vin…” jawab Via pada akhirnya beberapa saat setelah ia
merasakan rasa sakit itu sedikit berkurang dan berangsur menghilang.
“nggak
apa-apa gimana? Muka lo pucet begini” kata Alvin cemas. Ia benar-benar tidak
ingin sesuatu yang buruk menimpa gadis-nya ini.
“gue
beneran nggak apa-apa kok. Udah nggak usah cerewet!”
Merasa
tidak percaya dengan ucapan Via itu, Alvin pun mengenggam lembut jemari tangan
Via lalu menggandengnya.
“apapun
yang terjadi, gue akan selalu pegang tangan lo, Vi… untuk itu gue minta sama
lo, jangan pernah lepasin tangan lo dari genggaman gue…” Via mengangguk, ia
juga sedikit mengerti dengan seuntai makna tersirat dari kalimat yang baru saja
Alvin ucapkan itu.
Mereka
berduapun berjalan beriringan sambil bergandengan tangan satu sama lain. Mulai
hari ini, mereka akan membiarkan semuanya mengalir seperti air…
***
Gadis
berwajah indo itu keluar dari airport seraya menyeret kopernya. Kesan angkuh
yang terpancar dari wajahnya sama sekali tidak mampu menutupi kecantikan yang
ia miliki. Gadis itu menghentikan langkahnya saat ia sudah tiba diluar airport,
ia lalu membuka kaca mata hitam yang sejak tadi membingkai wajah cantiknya lalu
menatap kesekeliling dengan senyuman puas yang menghiasi wajah cantiknya. Gadis
itu tiba-tiba mengingat sesuatu, ia lalu membuka ponselnya dan mencari nomer
seseorang pada contact listnya. Setelah mendapatkan jawaban dari seseorang
disebrang sana, ia pun mengeluarkan suaranya,
“Kak
Febby dimana siiihhh? Aku udah nyampe nih…” rengeknya pada seseorang yang tidak
lain dan tidak bukan adalah Kakak kandungnya sendiri.
“…..”
“siapa
suruh Kakak ninggalin aku di LA? dari jauh hari kan aku udah bilang kalo aku
mau ikut pulang sama Kakak…”
“……”
“Kakak
tuh yang bawel! Ya udah cepetan. Aku keburu gosong nungguin Kakak disini, udah
gitu sendiri lagi….”
Setelah
puas mengomeli Kakaknya yang sedang dalam perjalanan menuju ke airport, Gadis
itu langsung mematikan sambungan telfonnya. Ia menghela nafas panjangnya, sulit
ia percaya bahwa saat ini ia sudah ada di Indonesia. Tempat yang penuh kenangan
baginya, kenangan bersama sahabat kecilnya yang hilang, juga bersama mantan
pacarnya yang sudah mempermainkan perasaannya 2 tahun yang lalu. Ia mendadak
geram saat mengingat mantan pacarnya itu. Ia mengenggam ponselnya kuat-kuat,
berusaha meredam emosinya yang sudah sampai diubun-ubun.
“Alvino
Joshua Aryadinata… gue akan bikin lo bertekuk lutut dikaki gue…” ujarnya dengan
mantap dan penuh keyakinan.
***
Via
terheran-heran ketika melihat mobil Range Rover Sport hitam terparkir dengan
rapi dihalaman depan rumahnya. Sama seperti Via, Alvin juga sama herannya
ketika melihat sebuah mobil yang begitu ia kenal terparkir dihalaman rumah Via.
Alvin memperhatikan plat nomer kendaraan mobil itu, tidak salah lagi, mobil itu
benar-benar milik orang yang begitu Alvin kenal. Tapi Alvin tetap bungkam,
tidak mengeluarkan sepatah katapun.
“sepertinya
Tante lagi ada tamu” kata Via lalu berjalan kearah berandanya dengan diikuti
oleh Alvin yang tetap bungkam dibelakangnya. Sebenarnya Alvin sedikit heran
dengan keberadaan mobil itu dihalaman rumah Via.
Via
lalu membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu, dan betapa terkejutnya ia
saat mendapati seseorang yang tengah berbicara dengan Tantenya diruang tamu
mereka. Via membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangannya, mendadak rasa
takut itu mulai berkecamuk didadanya. Setelah hampir 6 tahun lamanya tidak
pernah melihat wajah Sang Papa, akhirnya hari ini Via melihat wajah itu lagi.
“Ta…
Tante…?” panggil Via yang merasa benar-benar shock.
Secara
bersamaan, Dyna dan Edgar menoleh kearah pintu, dan kedua mata Alvin langsung
membelalak lebar ketika melihat Edgar ada didalam rumah Via. Dalam benaknya Alvin
bertanya, apa hubungannya antara Via, Dyna dan Edgar?
‘Om Edgar…?’ bathin Alvin tanpa
sedikitpun mengalihkan tatapannya dari wajah Edgar.
“Rea…?”
Edgar bangkit dari duduknya lalu berjalan perlahan mendekati Via. Saat langkah
Edgar semakin mendekatinya, Via pun berjalan mundur lalu tanpa sengaja menubruk
tubuh Alvin.
“jangan
mendekat!!” ujar Via dingin.
“Rea…
ini Papa sayang… ini Papa…” kata Edgar seraya menunjuk dirinya sendiri.
Sementara
Alvin, ia langsung terkejut bukan main beberapa saat setelah ia mendengar
pengakuan dari Edgar itu. Edgar bilang dia Papa nya Via? Berarti Cakka adalah…
“aku
bilang jangan mendekat!!” ulang Via sekali lagi dengan suara bergetar. Air
matanya sudah tertahan sempurna dipelupuk matanya.
Kali
ini Edgar menghentikan langkahnya, dan disaat yang bersamaan Via langsung
berbalik dan berlari sekencang mungkin meninggalkan rumah itu. Edgar yang
merasa lengah pun mengejar Via dengan diikuti oleh Dyna dibelakangnya.
“Andrea…
kamu mau kemana??” kata Dyna cemas.
Disaat
Dyna dan Edgar mengejar Via, Alvin malah diam ditempat. Ia masih belum mengerti
dengan semua ini. Dalam benaknya tidak henti-hentinya Alvin bertanya:
‘Apa
benar Cakka dan Via memiliki ikatan persaudaraan? Dan apa benar selama ini
Cakka dan Via tidak mengetahui bahwa mereka adalah Kakak-Adik?’
Alvin
bersumpah akan mencari tahu tentang semua itu.
BERSAMBUNG…



0 comments:
Post a Comment