Wednesday, February 12, 2014

0

You’re Mine [Part 10: Let It Flow!]












Sebelumnya…

            “Via… bisakan mulai sekarang lo belajar menyayangi gue?”
            Pertanyaan super sederhana yang hanya membutuhkan jawaban ‘YA’ atau ‘TIDAK’ itu malah membuat Via berada dalam posisi dilemma. Via bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan itu sementara detik ini dihatinya hanya ada nama Cakka seorang. Apa Via bisa melupakan Cakka secepat itu lalu belajar menyayangi Alvin? Tidak, urusan hati tidak pernah sesederhana itu.
            Via melangkah mendekati Alvin, lalu tanpa berkata apa-apa lagi, Via langsung memeluk Alvin yang saat itu masih terduduk dipinggir ranjang. Entahlah, Via tidak mengerti dengan semuanya, yang ia tahu sekarang hanyalah ia ingin memeluk Alvin dan menenangkan hatinya yang rapuh. Hanya itu.
            Alvin lantas bangkit dari duduknya dan membalas pelukan Via. Meskipun Via tidak memberikannya jawaban apapun, tapi Alvin dapat merasakan kehangatan dan ketenangan yang menjalar disekujur raganya saat tubuh itu memeluknya. Alvin merasa beban yang selama ini tanggung sedikit berkurang. Setidaknya sekarang Gadis ini masih miliknya sampai sebulan yang akan datang. Sekalipun nanti Via tidak bisa mencintainya, Alvin tetap akan merasa beruntung karna sempat memiliki Via dan merasakan pelukan hangatnya.
            Alvin mengecup puncak kepala Via lalu dengan lirih berujar…


            “gue sayang sama lo, Sivia….”



***

Part 10

Mencintai seseorang yang tidak pernah sekalipun mencintaimu itu seperti berusaha memeluk bayanganmu sendiri…


            Setengah bulan berlalu, kehidupan mulai terasa berubah drastic. Anggota Gank D’CRAG yang dulunya terlihat sangat kompak dan nyaris tidak terpisahkan kini pecah menjadi 2. Gabriel dengan setia menemani Alvin, sementara Rio, ia lebih memilih untuk tetap berdiri bersama Cakka. Banyak yang menyayangkan pecahnya D’CRAG, tapi mau bagaimana lagi? Keegoisan Cakka dan kekerasan Alvin telah mengubah semuanya. Prahara yang dulu nyaris tidak pernah menyentuh persahabatan mereka kini datang dan tidak hanya menyentuh mereka tapi menghempaskan mereka.
            Disaat semua menyayangkan, Alvin malah tetap bersikap wajar seperti hari-hari sebelumnya. Ia seakan tidak peduli meskipun saat ini tidak ada yang pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada hatinya. Dan setiap kali berpapasan dengan Cakka, hal yang Alvin lakukan hanyalah menatap Cakka dengan tatapan dinginnya lantas berlalu dengan tidak pedulinya.
            Berbeda dengan Alvin yang selalu berusaha bersikap wajar, Via justru merasakan hal sebaliknya. Ia tidak tahu bagaimana harus bersikap sebagaimana mestinya disaat semua mata-mata sinis mengarah padanya, disaat semua cemoohan hampir setiap hari terdengar ditelinganya. Via lelah, tapi Via tidak juga bisa mengelak dari kenyatan yang kini menamparnya. Kenyataan bahwa ia adalah tokoh utama penyebab hancurnya D’CRAG.
            Baru sebulan tercatat sebagai salah siswi di SMA Tunas Bangsa, tapi Via sudah harus terlibat dalam masalah sebesar ini. Dan tidak pernah sekalipun Via bermimpi ia akan berada dalam posisi sesulit ini. Alvin dan Cakka, kenapa mereka berdua begitu menyusahkan kehidupannya?
            Tidak hanya sikap tidak menyenangkan yang ditunjukan oleh teman-teman sekolahnya yang membuat Via merasa tidak nyaman menjalani harinya, tapi sikap dingin yang mendadak ditunjukan Shilla padanya sejak kejadian pertengkaran antara Cakka dan Alvin 2 minggu yang lalu juga membuat Via tidak ada hentinya bertanya, apa salahnya? Apa kesalahannya begitu fatal hingga membuat Shilla yang tidak lain dan tidak bukan adalah sahabatnya sendiri juga ikut berbalik memusuhinya. Via sering berusaha mengajak Shilla berbicara, tapi tidak pernah sekalipun Shilla mau diajak berbicara. Ia selalu punya beribu-ribu alasan untuk menolak.
            “baru sebulan disini udah bikin masalah aja. Masalahnya nggak main-main lagi. Dia bikin D’CRAG bubar!”
            “apa hebatnya sih nih cewek sampe bisa bikin Cakka-Alvin kelepek-kelepek terus sampe berantem gitu gara-gara ngerebutin dia. Ih…”
            “pake pelet kali. Kalo D’CRAG aja bisa bubar gara-gara dia, nggak menutup kemungkinan kalo Cakka dan Alvin akan musuhan selamanya”
            Dan masih banyak lagi suara sumbang lainnya yang membuat jantung Via terasa seperti ditusuk-tusuk. Setiap kali mendengar kata-kata yang tidak mengenakkan itu rasanya Via ingin mengeluarkan emosinya yang sudah terkumpul diubun-ubun sejak 2 minggu yang lalu. Via ingin menampar satu persatu semua orang yang sudah membicarakannya tanpa pernah memikirkan perasaannya sekalipun.
            Tapi Via mencoba meredam segala luapan emosinya itu. Akan tiba saatnya nanti semua keadaan akan berubah dan kembali normal. Via hanya perlu bersabar dan menyelesaikan kesepakatan yang sudah ia buat bersama Alvin.
            “hay semuaaa….” Sapa Via ketika ia menghampiri Ify, Shilla dan Agni yang saat itu sedang berkumpul dikantin. Ify dan Agni menjawab sapaan Via tapi tidak dengan Shilla. Shilla menghela nafas panjangnya lalu beranjak dari tempat duduknya.
            “gue pamit ya?” sebelum mendapat jawaban dari sahabat-sahabatnya, Shilla malah sudah hengkang dari tempat itu. Ify dan Agni saling berpandangan sejenak. Mereka lalu menatap Via dengan pandangan bertanya.
            “lo ada masalah apa sih sama Shilla?” Tanya Agni penasaran. Via duduk ditempat Shilla tadi, ia menopang dagunya lalu menggeleng beberapa kali.
            “apa karna masalah bubarnya D’CRAG? Tapi sejak kapan Shilla peduli sama D’CRAG?” Agni semakin penasaran.
            “gue nggak tau sih ya… tapi entah kenapa gue ngerasa kalo Shilla itu….” Ify menggantungkan kalimatnya dan membuat Via dan Agni penasaran.
            “Shilla kenapa?” Tanya Agni dan Via secara bersamaan.
            “Shilla kayaknya suka sama Cakka deh”
            Air muka Via langsung berubah keruh seketika saat mendengarkan ucapan Ify itu, Shilla suka Cakka? Tapi bagaimana mungkin? Sebulan mengenal Shilla tidak ada sedikitpun tanda-tanda ketertarikan yang Shilla tunjukan untuk Cakka didepannya. Tapi Ify lebih dulu mengenal Shilla jauh sebelum Via, jadi tidak menutup kemungkinan kalau Shilla benar-benar memiliki rasa yang special untuk Cakka. Mungkin selama ini Shilla yang terlalu cerdik menyembunyikan perasaannya didepan semua orang.
            “ah nggak mungkin…” kata Agni yakin. Ify dan Via langsung menoleh kearah Agni,
            “nggak mungkin gimana, Ni?” Tanya Ify penasaran. Sementara Via, ia hanya menyimak obrolan kedua sahabatnya itu.
            “realistis dikitlah kalo ngambil kesimpulan. Shilla suka Cakka itu nggak mungkin, kalo pun Shilla suka sama Cakka dia pasti ceritalah”
            “mungkin ada sesuatu dan lain hal yang bikin Shilla nggak bisa cerita, misalnya karna Cakka terlalu dingin dan cuek…” timpal Ify tak mau kalah. Agni menggeleng berkali-kali, tetap yakin dengan perkiraannya. Shilla menyukai Cakka, itu adalah hal yang paling mustahil.
            “Agni.. Ify,  gue pamit ya?” Via bangkit lalu keluar dari kantin sebelum Ify dan Agni sempat mengeluarkan suara mereka. Ify dan Agni saling menatap satu sama lain dengan kedua pundak terangkat. Hari ini Via dan Shilla benar-benar membingungkan.

            Via harus menyelesaikan masalahnya jika tidak ingin terus berlarut-larut seperti ini.



***

            Mendadak langkah Via langsung terhenti tanpa ia komando saat sebuah tangan kokoh menahan lengannya. Via berdecak kesal, padahal ia harus buru-buru mengejar Shilla dan meluruskan masalah yang sekarang sedang mereka hadapi, tapi pria ini malah datang dan menganggunya. Via menoleh kebelakang lalu menarik lengannya dengan paksa dari cengkaraman Alvin.
            “bisa kan lo nggak ganggu gue sehariiiii aja, gue lagi ada urusan yang nggak bisa gue tunda” kata Via sedikit kesal. Alvin tersenyum maklum, ia sudah terlalu biasa menghadapi sikap cuek ‘pacarnya’ ini.
            “bisa kan lo nggak marah-marahin gue sehariiii aja, gue lagi kangen sama lo dan nggak bisa gue tunda” kata Alvin menirukan ucapan Via tadi. Via tersenyum sinis, ia menyilangkan kedua tangannya didepan perut lantas berkata pada Alvin,
            “lo nggak usah gombal! Nggak mempan sama gue. Toh tiap hari kita juga ketemu dikelas, tiap hari juga lo nganter-jemput gue, seenggaknya biarin gue sendirilah kalo lagi jam istirahat kayak gini”
            “seenggaknya temenin gue makan dikantin lah walopun Cuma sekali”
            “nggak usah manja! Udah cukup lo buat kerusakan dengan ngeluarin Cakka dari D’CRAG!”
            “maksud lo?” Tanya Alvin tidak paham. Kali ini Via sedikit terkejut lalu menatap Alvin dengan pandangan heran.
            “lo beneran nggak bisa baca situasi sekarang ini atau lo pura-pura nggak tau sih sebenernya? Lo liat! Selama 2 minggu ini semua anak-anak ngomong yang nggak-nggak tentang gue, gue baru sebulan disini, Vin. Tapi lo udah nyeret gue masuk kedalam masalah seribet ini. Lo nggak pernah sekalipun berfikir bahwa keputusan lo buat ngeluarin Cakka dari D’CRAG akan berdampak buruk sama reputasi gue disini”
            “Vi…”
            “dan sekarang lo liat Shilla! Shilla itu sahabat gue, tapi sekarang dia berbalik musuhin gue juga karna masalah yang sama. Apa perlu gue pindah dari sini biar lo bisa bertindak seenaknya. Gue tau lo sayang sama gue, tapi gue benci cara lo ini”
            Tepat saat Via akan berbalik dan pergi, Alvin lagi-lagi menahan lengannya dan membuat Via menghentikan langkahnya.
            “maafin gue, maaf udah bikin lo terlibat dalam masalah yang nggak seharusnya lo tanggung”
            Via menarik lengannya dari genggaman Alvin, ia menatap Alvin tajam lantas berkata,
            “minta maaf sama Cakka bukan sama gue. Satu lagi, biarin gue sendiri! kasih gue kesempatan buat ngebersihin nama gue seenggaknya didepan Shilla, sahabat gue”
            Alvin lalu melepaskan lengan Via dan membiarkan Gadis itu pergi tanpa berusaha mencegahnya lagi. Alvin menghela nafas beratnya ia baru menyadari bahwa keputusan mengeluarkan Cakka dari D’CRAG bukanlah ide yang bagus. Sekarang akibatnya, keputusan yang ia buat tanpa fikir panjang itu malah menghancurkan reputasi Via disekolah ini. Hampir seisi SMA Tunas Bangsa selalu membicarakan yang bukan-bukan tentang Via. Alvin baru mengakui kesalahannya itu setelah Via memberitahukannya apa yang sebenarnya terjadi, dan Alvin menyesal.



***

            “Shill…” panggil Via ragu-ragu saat melihat Shilla duduk direrumputan bernaungkan pohon palem yang rindang dengan posisi membelakanginya. Sebagai jawabannya, Shilla hanya bergumam pelan. Via yang merasa mendapat respon pun langsung duduk disisi Shilla seraya menatap Shilla dari samping.
            “kalo memang bubarnya D’CRAG bikin lo marah sama gue, gue minta maaf Shill, gue –“
            “lo nggak salah, Vi… gue yang terlalu berharap sama dia”
            “maksud lo?” Tanya Via kaget.
            Dalam benaknya ia mulai berfikir, apa jangan-jangan apa yang Ify katakan prihal perasaan Shilla pada Cakka yang sesungguhnya adalah benar?
            Shilla menunduk dalam, ia terlihat berfikir keras. Entah apa yang sedang Shilla fikirkan saat ini, Via sama sekali tidak bisa membacanya. Via hanya menatap Shilla dengan pandangan menerawang, berusaha menyelami fikiran Gadis berwajah cantik itu. Beberapa saat kemudian Shilla lalu mengangkat wajahnya lalu menoleh kearah Via dengan senyum mirisnya, Shilla pun mengangkat tangan kirinya dan menunjukan cincin pertunangannya dengan Cakka.
            Via mengernyit. Ia heran, kenapa Shilla menandak menunjukan cincin itu untuknya? Seakan bisa membaca fikiran Via, Shilla menghela nafas panjangnya lalu mulai membuka suara,
            “ini cincin pertuangan gue sama Cakka” perkataan super singkat dan super ringkas itu sukses menohok dada Via. Via mulai merasakan dadanya bergejolak, antara percaya dan tidak percaya dengan penuturan Shilla barusan.
            Shilla yang bisa menangkap dengan sangat jelas perubahan raut wajah Via langsung menepuk pelan pundak Via.
            “tapi tenang aja, ini Cuma cincin biasa yang nggak bermakna kok. Gue sama Cakka dijodohin, dan Cakka nggak bisa nolak sama sekali karna semua ini Papa nya yang nentuin. Cakka begitu penurut sama Papanya, Cakka bahkan nggak bisa berkata ‘tidak’ untuk sesuatu yang tidak pernah dia inginin kalo hal itu sudah menyangkut kemauan Papanya, dan Cakka akan ngorbanin apapun demi Papanya”
            “tapi gue ngelakuin sebuah kesalahan dengan jatuh cinta sama Cakka. Gue tau itu salah dan nggak seharusnya terjadi, tapi gue juga nggak bisa ngontrol hati gue sendiri”
            Via hanya terdiam dan menyimak. Ia merasakan ngilu dihatinya saat mendengarkan penuturan Shilla itu. Disatu sisi ia merasa sakit karna mendapati kenyataan bahwa seseorang yang selama ini diam-diam ia sayangi ternyata telah bertunangan dengan sahabatnya sendiri. Tapi disisi lain ia merasa kasihan dengan posisi Shilla saat ini. Tentu sangat berat berada dalam posisi mencintai tapi tidak dicintai. Apa Alvin juga merasakan hal yang sama selama ini?
            “gue nggak marah sama lo, Vi. Gue Cuma marah sama diri gue sendiri yang selalu berharap lebih sama seseorang yang bahkan nggak sedikitpun menyimpan rasa ke gue, gue marah karna gue nggak bisa nerima kenyataan bahwa seseorang yang ‘katanya’ adalah tunangan gue ternyata jatuh cinta sama sahabat gue sendiri, tapi gue nggak marah sama lo, Vi… sumpah, sedikitpun gue nggak marah sama lo. Ini semua murni kesalahan gue yang udah lancang jatuh cinta sama Cakka…”
            “Shill…” panggil Via dengan suara bergetar seraya meraih salah satu tangan Shilla dan menggenggamnya erat,
            “gue sekarang udah punya Alvin, jadi lo masih bisa berusaha untuk bikin Cakka jatuh cinta sama lo, Shill… gue, gue nggak ada rasa sama Cakka, sekarang ini yang ada dihati gue Cuma Alvin, Shill…. Bener-bener nggak ada yang lain….” Perkataan itu benar-benar sangat bertentangan dengan kata hatinya. Via juga tahu bahwa ia telah berbohong pada dirinya sendiri, tapi mau bagaimana lagi? Via harus tetap melakukan hal ini. Ini jalan satu-satunya untuk membuat perasaan Shilla sedikit lebih baik dari sebelumnya. Dalam hati Via berjanji, mulai hari ini ia akan belajar mencintai Alvin sampai waktu yang mereka tentukan habis. Via akan berusaha semampunya, Via juga akan berusaha melupakan Cakka dan membuang jauh-jauh perasaannya pada Cakka.
            “tapi Cakka yang nggak cinta sama gue, Vi… dan selamanya Cakka nggak akan pernah bisa cinta sama gue”
            “tapi lo masih bisa berusaha untuk bikin Cakka jatuh cinta sama elo, Shill… percaya sama gue, elo pasti bisa bikin Cakka jatuh cinta sama lo…” Shilla mengangguk beberapa kali.
            Shilla lalu memeluk Via dan menangis dalam pelukan Via sekeras mungkin. Via menepuk punggung Shilla beberapa kali untuk memberikannya kekuatan. Tapi Shilla tidak pernah tahu, bahwa Via yang saat ini sedang berusaha menenangkan perasaannya, ternyata sama hancurnya dengan dirinya sekarang, bahkan mungkin Via lebih hancur dari Shilla. Via memejamkan matanya, berusaha menahan sesak didadanya. Kini ia bisa merasakan apa yang selama ini Alvin rasakan.

            ‘ternyata ini yang selama ini elo rasain, Vin… maafin gue….’ Ujar Via dalam hati. Sebulir air matanya lolos begitu saja membasahi pipi chubby nya.

            Dan tanpa mereka tahu, ada seseorang yang sedang mendengarkan obrolan mereka tepat dibelakang mereka sekarang ini. Gabriel tersenyum pedih saat mendapati kenyataan bahwa hati itu sudah bikin miliknya lagi. Gabriel lalu berbalik dan melangkah pergi. Ia berusaha mengumpulkan serpihan-serpihan hatinya yang berserakan. Sekarang saatnya ia melepaskan cinta itu dan membiarkannya terbang tinggi meraih cintanya yang lain.



***


            “gue minta maaf sama lo!” kata Alvin penuh tekanan tanpa sedikitpun menatap Cakka yang saat itu berdiri dihadapannya. Alvin juga meminta maaf pada Cakka ditempat yang sama dengan tempat ia menghajar Cakka 2 minggu lalu. Suasananya pun hampir sama, mereka sama-sama menjadi tontonan halayak banyak. Cakka menatap Alvin dengan pandangan bingung, ia heran kenapa Alvin tiba-tiba minta maaf begini padanya.
            “kenapa lo tiba-tiba minta maaf?” Tanya Cakka yang berusaha keras menyembunyikan rasa penasarannya.
            “gue ngaku salah, dan gue mau ngebersihin nama Via yang udah gue kotorin 2 minggu yang lalu, gara-gara gue dia jadi bahan omongan disini”
            “kenapa baru sekarang lo sadar?!”
            Alvin menghela nafas beratnya dan berusaha meredam emosinya. Ia tidak ingin melakukan kesalahan yang sama seperti yang ia lakukan 2 minggu yang lalu. Alvin lalu mengangkat wajahnya, menantang tatapan elang milik Cakka.
            “gue Cuma mau minta maaf sama lo. Mau maafin apa nggak itu terserah lo”
            “tapi gue nggak bisa segampang itu maafin lo”
            “gue nggak peduli”
            Alvin lalu mengalihkan tatapannya dari Cakka, ia menatap kesekeliling lantas berkata dengan lantang didepan semua teman-temannya.
            “dan buat kalian semua! Mulai hari ini gue nggak mau denger kalian ngomongin yang enggak-enggak tentang Via. Biar gimanapun Via itu cewek gue, dan gue nggak terima kalian ngomongin cewek gue, ngerti kalian? Sekali lagi gue denger ada salah satu diantara kalian yang ngomongin Via, gue nggak akan segan-segan buat nendang kalian dari sini. Mungkin selama ini gue nggak pernah membanggakan diri sebagai anak dari pemilik sekolah ini, tapi kalo kalian sudah bertindak jauh, gue nggak akan pernah mikir 2 kali buat menyombongkan siapa diri gue yang sebenarnya didepan kalian…”
            Semuanya terdiam. Ancaman Alvin itu seakan menjelma menjadi sebuah terror yang mencekam bagi mereka. Memang benar selama ini tidak pernah sekalipun Alvin menyombongkan dirinya sebagai anak dari pemilik sekolah, Alvin selalu bersikap seperti siswa biasa pada umumnya, tapi hari ini Alvin telah berubah jauh, dan mereka semua tidak pernah menyangka bahwa hal itu akan terjadi.
            “kalo ada yang harus disalahin dalam masalah ini, kalian seharusnya nyalahin gue, bukan Via. Gue yang brengsek, gue yang udah ngeluarin Cakka dari D’CRAG karna gue cemburu dengan kedekatan antara Cakka dan Via, jadi tolong mulai hari ini jangan pernah salahin Via. Dan kalo kalian tetep nekad nyalahin Via apalagi masih suka ngomong yang macem-macem tentang Via, maka seperti apa yang gue bilang tadi, gue-nggak-akan-segan-segan-buat nendang kalian dari sekolah ini…” ulang Alvin sekali lagi dengan penuh ketegasan.
            Beberapa saat kemudian Alvin lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu sebelum ia lepas control dan bertindak lebih jauh lagi dari yang ia duga. Tapi mendadak Alvin menghentikan langkahnya saat seseorang tiba-tiba muncul lalu menghalangi jalannya.
            “Vi… Via…?” ucap Alvin yang mendadak gelagapan. Ia takut Via akan marah lagi karna kesalahan yang telah ia lakukan. Tapi ketakutan Alvin itu langsung sirna saat Via menyunggingkan seulas senyum diwajah manisnya dan menampakkan lesung pipinya yang menggemaskan itu.
            “makasih ya, Vin…?”
            “buat?”
            Cakka menghela nafas beratnya lalu membuang tatapannya kearah lain. Ia merasa tidak kuat jika harus melihat kedekatan yang ditunjukan oleh Alvin dan Via.
            “for everything…” Via mengangkat tangan kananya lalu membelai lembut pipi Alvin. Alvin tersenyum, ia meraih tangan Via yang bertengger diwajahnya lalu menggenggamnya lembut, Alvin lalu mengecup tangan itu sekilas. Hal itu kontan saja menerbitkan rasa iri pada semua siswi-siswi yang melihat adegan romantis itu. Selama menyandang predikat play boy, ini baru pertama kalinya Alvin menunjukan keromantisannya didepan semua orang. Via memang benar-benar sangat beruntung.
            Merasa muak dengan pemandangan yang menyesakkan dada itu, Cakka segera hengkang dari tempat itu. Untuk yang pertama kalinya ia harus mengaku, bahwa Alvin telah mengalahkannya.

            ‘saya akan balikin semua yang udah saya rusak, Kka…. Saya janji sama kamu’ Ujar Via dalam hati seraya diam-diam memperhatikan kepergian Cakka.



***

            Bel tanda berakhirnya jam pelajaran siang itu menyalak dengan kencang dan membuat semangat siswa-siswi kelas XI IPA 3 yang tadinya surut kini terpompa kembali. Bahkan tidak satupun dari mereka yang mendengarkan salam penutup yang disampaikan oleh Guru Kimia yang sudah cukup berumur itu. Dan mereka semua segera membubarkan diri beberapa saat setelah Guru Kimia itu keluar dari kelas.
            “Vi… siang ini gue mau hunting, lo bisa nemenin nggak?” Tanya Alvin pada Via yang duduk tepat dibelakangnya. Via Nampak berfikir sejenak lalu menggeleng. Alvin langsung mendesah lesu.
            Melihat ekspersi Alvin yang lucu menurutnya, Via langsung terkekeh geli lantas berkata,
            “becanda Vin…. Becanda. Oke gue temenin, tapi sebelumnya kita kerumah gue dulu ya? Tante ngundang lo makan siang”
            “yang bener??”
            “ya benerlah, masa gue becanda?” Tanya Via balik lalu bangkit dari bangkuya. Via berjalan melewati Alvin begitu saja yang masih terpaku ditempatnya. Alvin yang tersadar segera mengejar Via keluar kelas sebelum langkah Gadis itu terlalu jauh meninggalkannya.

            “Via tungguin gue!!” teriak Alvin tanpa sadar.

            “aw…” Via lagi-lagi mengeluh sakit dibagian pinggangnya. Ia menghentikan langkahnya lalu mencoba berpegang pada salah satu pilar agar ia tidak ambruk. Via memejamkan matanya, berusaha meredam rasa nyeri yang semakin lama semakin terasa menyiksa itu.
            Alvin yang awalnya berniat mengejutkan Via langsung membatalkan niatnya setelah ia melihat keadaan Via. Wajah Gadis itu memucat dan tergambar jelas bahwa ia sedang berusaha menahan rasa sakitnya. Alvin lebih mendekati Via lalu memegang pundaknya,
            “Via lo kenapa?”
            Via tidak langsung menjawab pertanyaan Alvin itu, ia masih berusaha meredam rasa sakitnya. Melihat keringat Via yang mengucur diwajahnya, Alvinpun mengeluarkan sapu tangannya dan mengelap keringat itu dengan penuh perhatian.
            “gue nggak apa-apa kok, Vin…” jawab Via pada akhirnya beberapa saat setelah ia merasakan rasa sakit itu sedikit berkurang dan berangsur menghilang.
            “nggak apa-apa gimana? Muka lo pucet begini” kata Alvin cemas. Ia benar-benar tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa gadis-nya ini.
            “gue beneran nggak apa-apa kok. Udah nggak usah cerewet!”
            Merasa tidak percaya dengan ucapan Via itu, Alvin pun mengenggam lembut jemari tangan Via lalu menggandengnya.
            “apapun yang terjadi, gue akan selalu pegang tangan lo, Vi… untuk itu gue minta sama lo, jangan pernah lepasin tangan lo dari genggaman gue…” Via mengangguk, ia juga sedikit mengerti dengan seuntai makna tersirat dari kalimat yang baru saja Alvin ucapkan itu.

            Mereka berduapun berjalan beriringan sambil bergandengan tangan satu sama lain. Mulai hari ini, mereka akan membiarkan semuanya mengalir seperti air…




***


            Gadis berwajah indo itu keluar dari airport seraya menyeret kopernya. Kesan angkuh yang terpancar dari wajahnya sama sekali tidak mampu menutupi kecantikan yang ia miliki. Gadis itu menghentikan langkahnya saat ia sudah tiba diluar airport, ia lalu membuka kaca mata hitam yang sejak tadi membingkai wajah cantiknya lalu menatap kesekeliling dengan senyuman puas yang menghiasi wajah cantiknya. Gadis itu tiba-tiba mengingat sesuatu, ia lalu membuka ponselnya dan mencari nomer seseorang pada contact listnya. Setelah mendapatkan jawaban dari seseorang disebrang sana, ia pun mengeluarkan suaranya,
            “Kak Febby dimana siiihhh? Aku udah nyampe nih…” rengeknya pada seseorang yang tidak lain dan tidak bukan adalah Kakak kandungnya sendiri.
            “…..”
            “siapa suruh Kakak ninggalin aku di LA? dari jauh hari kan aku udah bilang kalo aku mau ikut pulang sama Kakak…”
            “……”
            “Kakak tuh yang bawel! Ya udah cepetan. Aku keburu gosong nungguin Kakak disini, udah gitu sendiri lagi….”
            Setelah puas mengomeli Kakaknya yang sedang dalam perjalanan menuju ke airport, Gadis itu langsung mematikan sambungan telfonnya. Ia menghela nafas panjangnya, sulit ia percaya bahwa saat ini ia sudah ada di Indonesia. Tempat yang penuh kenangan baginya, kenangan bersama sahabat kecilnya yang hilang, juga bersama mantan pacarnya yang sudah mempermainkan perasaannya 2 tahun yang lalu. Ia mendadak geram saat mengingat mantan pacarnya itu. Ia mengenggam ponselnya kuat-kuat, berusaha meredam emosinya yang sudah sampai diubun-ubun.

            “Alvino Joshua Aryadinata… gue akan bikin lo bertekuk lutut dikaki gue…” ujarnya dengan mantap dan penuh keyakinan.



***


            Via terheran-heran ketika melihat mobil Range Rover Sport hitam terparkir dengan rapi dihalaman depan rumahnya. Sama seperti Via, Alvin juga sama herannya ketika melihat sebuah mobil yang begitu ia kenal terparkir dihalaman rumah Via. Alvin memperhatikan plat nomer kendaraan mobil itu, tidak salah lagi, mobil itu benar-benar milik orang yang begitu Alvin kenal. Tapi Alvin tetap bungkam, tidak mengeluarkan sepatah katapun.
            “sepertinya Tante lagi ada tamu” kata Via lalu berjalan kearah berandanya dengan diikuti oleh Alvin yang tetap bungkam dibelakangnya. Sebenarnya Alvin sedikit heran dengan keberadaan mobil itu dihalaman rumah Via.
            Via lalu membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu, dan betapa terkejutnya ia saat mendapati seseorang yang tengah berbicara dengan Tantenya diruang tamu mereka. Via membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangannya, mendadak rasa takut itu mulai berkecamuk didadanya. Setelah hampir 6 tahun lamanya tidak pernah melihat wajah Sang Papa, akhirnya hari ini Via melihat wajah itu lagi.
            “Ta… Tante…?” panggil Via yang merasa benar-benar shock.
            Secara bersamaan, Dyna dan Edgar menoleh kearah pintu, dan kedua mata Alvin langsung membelalak lebar ketika melihat Edgar ada didalam rumah Via. Dalam benaknya Alvin bertanya, apa hubungannya antara Via, Dyna dan Edgar?

            ‘Om Edgar…?’ bathin Alvin tanpa sedikitpun mengalihkan tatapannya dari wajah Edgar.

            “Rea…?” Edgar bangkit dari duduknya lalu berjalan perlahan mendekati Via. Saat langkah Edgar semakin mendekatinya, Via pun berjalan mundur lalu tanpa sengaja menubruk tubuh Alvin.
            “jangan mendekat!!” ujar Via dingin.
            “Rea… ini Papa sayang… ini Papa…” kata Edgar seraya menunjuk dirinya sendiri.
            Sementara Alvin, ia langsung terkejut bukan main beberapa saat setelah ia mendengar pengakuan dari Edgar itu. Edgar bilang dia Papa nya Via? Berarti Cakka adalah…

            “aku bilang jangan mendekat!!” ulang Via sekali lagi dengan suara bergetar. Air matanya sudah tertahan sempurna dipelupuk matanya.
            Kali ini Edgar menghentikan langkahnya, dan disaat yang bersamaan Via langsung berbalik dan berlari sekencang mungkin meninggalkan rumah itu. Edgar yang merasa lengah pun mengejar Via dengan diikuti oleh Dyna dibelakangnya.

            “Andrea… kamu mau kemana??” kata Dyna cemas.

            Disaat Dyna dan Edgar mengejar Via, Alvin malah diam ditempat. Ia masih belum mengerti dengan semua ini. Dalam benaknya tidak henti-hentinya Alvin bertanya:

            ‘Apa benar Cakka dan Via memiliki ikatan persaudaraan? Dan apa benar selama ini Cakka dan Via tidak mengetahui bahwa mereka adalah Kakak-Adik?’

            Alvin bersumpah akan mencari tahu tentang semua itu.






                                    BERSAMBUNG…



0 comments:

Post a Comment