Monday, February 24, 2014

0

You’re Mine [Part 13: Semuanya Selesai??]













Sebelumnya…


            Sudah hampir setengah jam Alvin menunggu Pricilla diruang tamu, tapi hingga setengah jam berlalu, Pricilla tidak juga keluar dari dalam kamar Via. Alvin terus mondar-mandir diruang tamu memikirkan ada hubungan apa sebenarnya antara pacar dan mantan pacarnya itu?
            Sudah cukup lama Alvin berfikir keras, tapi ia tidak juga menemukan sebuah jawaban. Mungkin hanya Pricilla atau Via yang mampu menjawab rasa penasarannya itu, dan mungkin Alvin harus bisa sedikit lebih bersabar lagi. Alvin kembali duduk disofa, tapi kali ini perhatiannya tiba-tiba saja tertuju pada sebuah amplop putih yang tergeletak diatas meja. Iseng-iseng Alvin mengambil amplop itu dan membuka isinya yang ternyata adalah sebuah hasil tes laboratorium dari rumah sakit ‘HARAPAN’ –Rumah sakit milik Kakeknya-
            Dada Alvin seakan terhantam keras oleh sebuah benda berduri saat membaca hasil tes laboratorium itu, ia merasakan perih bercampur sesak yang luar biasa menyiksa. Itu adalah hasil tes laboratorium milik Via.
            Tangan Alvin yang memegangi hasil tes lab itu bergemetar hebat. Benarkah? Benarkah Via yang sangat ia sayangi itu menderita penyakit gagal ginjal stadium akhir?
            Belum tuntas semua rasa tidak percayanya, Pricilla tiba-tiba saja turun dari lantai atas rumah Via. Pricilla berjalan gontai menghampiri Alvin yang saat itu masih duduk terpaku diruang tamu dengan pikirannya yang mulai kacau tak karuan.
                               
            “Alvin…” panggil Pricilla pelan. Alvin langsung mengangkat wajahnya dan menatap Pricilla,


            “jangan pernah lo sakitin Via. Tolong jaga dia sebaik mungkin…”





***


Part 13


            Pricilla memilih pulang sendiri tanpa diantarkan oleh Alvin, ia pun pulang ke Apartemennya dengan menggunakan sebuah taksi. Dan selama diperjalanan pulang, Pricilla terus saja mengingat semua apa yang Via apa katakan padanya mengenai masa lalunya, Papa nya, kehidupannya selama tinggal bersama Tante Dyna, bagaimana perasaannya terhadap Cakka dan Alvin, juga bagaimana selama ini ia melawan penyakit ginjal yang ia derita. Pricilla merasakan sesak didadanya saat suara tangisan Via yang begitu memilukan terdengar kembali ditelinganya. Selama ini ia tidak pernah tahu, bahwa Via cukup menderita menjalani hidupnya, dan Pricilla sangat menyesal mendapati kenyataan bahwa ia tidak bisa berada disamping Via untuk menguatkannya saat Via begitu menderita.

            “gue sayang sama Cakka, tapi gue juga nggak bisa ngecewain Alvin yang selama ini gue tahu begitu tulus sama gue…”

            Pricilla menghela napas panjangnya. Ucapan Via itu seakan menghantam telak dadanya tanpa ampun. Pricilla baru tahu bahwa Cakka yang selama ini ia kenal ternyata saudara se-Ayah Via. Pricilla seolah ingin berteriak sekeras yang ia bisa. Bagaimana mungkin Via bisa mencintai Cakka? Tapi Pricilla juga tidak bisa mengungkapkan apa yang sebenarnya yang terjadi dihadapan Via, Pricilla tidak bisa tiba-tiba mengatakan bahwa Cakka yang Via cintai itu adalah saudara se-Ayah nya sendiri dan Via tidak mungkin menyayangi Cakka melebihi perasaan sayang seorang Adik terhadap Kakaknya. Untuk itulah Pricilla meminta pada Alvin supaya Alvin tidak menyakiti perasaannya, supaya Alvin selalu menjaganya. Ya… Pricilla melakukan semua itu hanya untuk mengalihkan perasaan Via. Pricilla ingin Via bisa mencintai Alvin supaya ia bisa melupakan Cakka. Hanya itu.
            Mungkin sulit baginya untuk bisa seratus persen rela melepaskan Alvin, tapi hanya itulah jalan satu-satunya yang bisa Pricilla lakukan untuk menyelamatkan hati Via nantinya saat ia tahu bahwa Cakka adalah Kakaknya sendiri.

            “selama sisa waktu gue masih ada sama Alvin, gue akan belajar semampu gue untuk bisa mencintai dia, gue pasti bisa…”


            Air mata itu semakin deras menetes. Ya… Via memang harus bisa mencintai Alvin untuk kemudian melupakan Cakka. Akan tetapi…


            “tapi satu hal yang harus gue inget, gue nggak bisa memiliki Alvin seutuhnya. Gue harus ngelepasin dia saat nanti gue udah bisa sayang sama dia. Gue nggak pernah pantes buat Alvin, Priss… gue nggak pernah pantes. Gue Cuma cewek penyakitan yang nantinya Cuma akan menyusahkan Alvin….”


            Dan Pricilla bersumpah tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Dia akan melakukan apapun supaya Via tetap bisa bersama Alvin. Ya.. apapun akan Pricilla lakukan untuk mereka berdua. Ini bukan hanya untuk Via, tapi ini juga untuk Alvin. Seseorang yang bahkan hingga detik ini masih sangat ia sayangi.

            Bukankah mencintai berarti melepaskan…??




***


            Jari jemari Gabriel menari dengan indah diatas tuts-tuts piano yang kini berhadapan langsung dengannya. Saat ini pikirannya hanya tertuju pada seseorang yang entah apakah juga sedang memikirkan dirinya atau tidak. Dan perlakuan dingin yang ia tunjukan pada Shilla akhir-akhiran ini justru menyakiti perasaannya sendiri. Gabriel tahu, bahkan sangat tahu, bagimana selama satu tahun terakhir ini ia begitu mengharapkan Shilla kembali lagi padanya. Gabriel sadar, bahwa lebih dari apapun itu Gabriel sangat menginginkan Shilla. Tapi kenyataan bahwa Shilla adalah tunangan Cakka dan Shilla begitu menyayangi Cakka, membuat Gabriel terhempas karna angan kosongnya selama ini. Ya… Shilla sudah benar-benar melupakannya, tidak ada setitikpun tentang Gabriel atau tentang kenangan mereka dimasa lalu yang tersisa dalam ingatan Shilla. Gabriel harus menyadari itu.


“Ku tahu ku salah…
Memaksa kehendaku tuk memilikimu…”

            Itu adalah lagu yang Gabriel ciptakan khusus untuk Shilla, dan Gabriel benar-benar menyanyikan lagu itu untuk Shilla, ya… hanya untuk Shilla. Jemari terampil milik Gabriel terus menari dengan lincah diatas tuts-tuts piano, menyanyikan lagu dari hatinya hanya untuk Shilla seorang.


“Ku terluka tanpa mu
Sungguh ku tak bisa membenci dirimu
Oh dirimu….
Menanti keajaiban hingga kau buka hatimu
Untuk diriku….”


            Semua kenangannya bersama Shilla dimasa lalu berpendar kembali dalam ingataannya dan berputar seperti sebuah film yang diputar ulang. Gabriel merasakan sesak didadanya, ia menangis bisu tanpa air mata.

            “gue suka sama lo, Yel…”
            “lo suka sama gue?”
            “iya…”
            “sejak kapan?”
            “sejak pertama kali gue ngeliat lo pas MOS?”
            “Owh… kalo gitu mulai sekarang lo jadi cewek gue ya??”

            “APAA??!”


“Hanya kisah ini takkan abadi
Namun kau abadi di hati ini
Meski pun harus menahan sepi
Menanti dirimu dihati….”


            “ki… kita putus, Yel? Ta.. tapi kenapa?”
            “maaf, Shill… tapi akhir-akhir ini nggak tau kenapa gue ngerasa bosen sama lo”


“hoo… wo wo…
Hanya kisah ini tak kan abadi
Namun kau abadi dihati ini…”


            “ooo… jadi lo mutusin gue karna cewek ini? Apa kurangnya gue, Yel? Apa yang cewek ini punya dan yang gue nggak punya sampe lo tega mutusin gue demi cewek ini? APA??”
            “Gue udah bilang ke lo kalo gue bosen sama lo! Jadi bisa kan lo nggak usah nyalahin Zahra dalam masalah ini? Karna sejak awal, sejak lo nyatain suka ke gue, gue nggak pernah sedikitpun punya rasa ke elo, Ashilla… ngerti lo?!”
            “terus kenapa lo minta gue jadi cewek lo?!”

            “karna gue Cuma mau mainin lo aja! Dan karna gue Cuma NGANGGEP LO SEBAGAI MAINAN GUE, NGGAK LEBIH!!”


===================


            “Shill… setelah putus dari lo, gue baru sadar kalo ternyata gue sayang sama lo”
            “terus?”
            “gue mau balikan sama lo? Apa lo bisa?”
            “maaf Yel, gue nggak bisa. Hati gue udah terlanjur sakit…”
            “apa bener-bener nggak ada kesempatan buat gue?”
            “ADA! Tapi bukan untuk balikan lagi”
            “terus?”            
            “elo sama gue bisa jadi sahabat mulai saat ini. Tapi hanya sebatas sahabat, nggak lebih!”


“Meskipun harus menahan sepi
Menanti dirimu dihati yee…
Menanti dirimu dihati…
Menanti dirimu dihati….
Ooo… woo…”


            “ini cincin pertuangan gue sama Cakka”


            “tapi gue ngelakuin sebuah kesalahan dengan jatuh cinta sama Cakka. Gue tau itu salah dan nggak seharusnya terjadi, tapi gue juga nggak bisa ngontrol hati gue sendiri”


            “tapi Cakka yang nggak cinta sama gue, Vi… dan selamanya Cakka nggak akan pernah bisa cinta sama gue”


            Hati Gabriel seolah tersayat oleh sembilu saat kata-kata yang Shilla ucapkan pada Via beberapa waktu yang lalu juga ikut ambil bagian dalam ingatannya dan semakin memporak-porandakan hatinya.
            Rasanya perih berampur sesak. Dan sesal itu kembali hadir dalam benaknya. Ia menyesal karna dulu ia telah menyia-nyiakan cinta tulus yang Shilla berikan padanya, ia menyesal karna telah mengakhiri hubungannya dengan Shilla dan menyakiti perasaan Gadis itu hingga sekarang justru perasaannya lah yang terbalik.

            Andai Gabriel punya kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya…





***


            “kalo seandainya nanti waktu yang kita tentuin  habis tapi gue nggak bisa sayang sama lo… kira-kira lo bakal tetep memperjuangkan gue atau nggak?” pertanyaan itu tiba-tiba saja keluar dari mulut Via dan membuat Alvin yang duduk tepat disampingnya dengan segala pikirannya yang tengah kacau langsung menoleh dan menatapnya heran. Saat itu Alvin dan Via tengah duduk berdampingan ditepi kolam renang milik Via dengan kedua kaki mereka yang masing-masing tercebur kedalam kolam.
            Via tersenyum, wajahnya yang tampak pucat sama sekali tidak mengurangi sedikitpun kecantikannya dimata seorang Alvin. Setelah cukup lama saling menatap satu sama lain, Alvin akhirnya membuang tatapannya kearah lain. Ia menggaruk tengkunya yang sama sekali tidak gatal, bingung juga bagaimana harus menjawab pertanyaan yang menurutnya sangat menyebalkan itu.
            “hey…” Via meraih dagu Alvin lalu memutar wajahnya hingga berhadapan kembali dengannya. “gue minta jawaban lo” ucap Via dengan nada setengah berbisik.
            Alvin berdecak kecil, ia meraih tangan Via yang menyentuh dagunya lalu menggenggamnya dengan lembut.
            “itu tergantung lo! Kalo lo minta buat gue perjuangin, gue pasti bakalan memperjuangkan lo sampai titik darah penghabisan” ucap Alvin penuh kesungguhan sambil menatap kedua manik mata Via sedalam mungkin.
            Via menyelami tatapan mata Alvin yang begitu dalam, berusaha mencari sinar kebohongan disana, tapi hasilnya nihil. Via sama sekali tidak menemukan sinar kebohongan dari kedua mata yang begitu meneduhkan itu.
            “kalo gue nggak mau diperjuangin…?!”
            “gue akan ngelepasin lo” jawab Alvin to the point. Via mendesah pelan bahkan nyaris tidak kentara. Entah kenapa, hatinya terasa sedikit nyeri saat mendengarkan jawaban Alvin baru saja.
            “lo bakal ngelepasin gue gitu aja?” Tanya Via yang merasa sedikit sanksi atas jawaban Alvin. Alvin mengangguk pasti, tapi tanpa Via tahu, ada sebentuk luka yang mulai timbul jauh didalam sana, luka yang lambat laun akan semakin menganga lebar dan susah untuk disembuhkan.
            “kayaknya gue nggak cukup pantes untuk diperjuangin” Via menarik tangannya dari genggaman Alvin lalu menatap lurus kedepan dengan pandangan menerawang jauh.
            Alvin menghela napas panjang, pikirannya saat ini benar-benar kacau. Dalam hati ia bertanya-tanya, bagaimana mungkin Via bisa terlihat setegar ini sementara ia sedang mengidap penyakit yang begitu parah dan sewaktu-waktu dapat merenggut nyawanya? Bagaimana bisa Via terus tersenyum seperti ini sementara Alvin begitu mengkhawatirkannya?
            Sekali lagi Alvin menghela napas panjang. Setelah cukup lama menunggu Andrea kecilnya kembali lagi, ia justru harus menerima kenyataan sepahit ini. Alvin menatap Via lekat-lekat dari samping dan berusaha menahan gejolak didadanya untuk tidak menarik gadis ini kedalam pelukannya. Alvin lalu mengikuti arah pandangan Via, tapi beberapa detik kemudian, Alvin tahu-tahu merasakan Via menunbruk tubuhnya lalu memeluknya dengan erat.
            “tetep disamping gue sampe waktu yang kita tentuin habis. Jangan pernah kemana-mana!” Alvin mengangguk pelan lalu membalas pelukan Via.
            “dan jangan pernah lo deket-deket sama Cakka sampe waktu yang kita tentuin habis, karna gue nggak suka” ujar Alvin dengan tegas, berusaha menyembunyikan getaran-getaran dalam suaranya.
            “kenapa? Lo cemburu?” Tanya Via dengan nada suara yang terdengar sedikit manja. Alvin mengangguk mantap, mengiyakan pertanyaan yang baru saja Via lemparkan padanya.
            “tapi gue suka sama Cakka” ucap Via polos.
            Degh! Ucapan Via yang kelewat polos situ sukses memukul telak dada Alvin. Tanpa Alvin sadari, pelukannya pada tubuh Via mulai melonggar dan secara perlahan terlepas. Via pun menarik dirinya lalu menatap Alvin seraya tersenyum.
            “kok mukanya tegang gitu, Vin…? Gue Cuma becanda kok”
            Alvin menggelengkan kepalanya beberapa kali, berusaha menghalau segala pikiran-pikiran aneh yang memenuhi ruang dikepalanya. Sekalipun Via mengatakan bahwa ia hanya bercanda saja, tapi Alvin dapat merasakan apa yang sesungguhnya Via rasakan terhadap Cakka, Alvin dapat membaca semuanya dengan jelas, akan tetapi ia juga tahu bahwa Cakka dan Via itu Kakak-Beradik, dan ia juga tahu bahwa mereka berdua tidak mungkin bersatu, jadi apa yang harus Alvin takuti?
            Alvin tersenyum, ia mengusap lembut puncak kepala Via lantas berkata,
            “kalo pun beneran juga, itu tetep nggak akan ngubah apapun” ucap Alvin tanpa sadar.
            “maksudnya?”
            Alvin terkesiap, ia baru sadar akan ucapannya tadi. Tidak, tidak seharusnya Alvin berkata seperti itu dan membuat Via curiga. Alvin menggeleng dan segera mencari alibi yang pas untuk menghindar.

            “yaaa… walo pun lo beneran suka sama Cakka, itu semua nggak akan ngubah apapun kalo lo Cuma milik gue dan gue Cuma milik lo… paham Nona Jutek?” kata Alvin lalu menjitak pelan kening Via.

            “awww…” Via meringis sambil manyun. Tapi hal itu justru membuat Alvin merasa gemas. Ia lalu menjawil hidung Via dan semakin membuat Via kesal.
            “ALVIIINNNN….”
            “Hahahaha… gue paling suka Via yang manja kayak gini…”
            Ada nada penuh harap yang tersirat dari ucapan Alvin baru saja. Alvin hanya tersenyum penuh arti sambil menatap Via dengan pandangan yang susah diartikan. Merasa salah tingkah ditatap seperti itu, Via langsung mengalihkan tatapannya kearah lain.

            “oya, Vin… lo kok bisa sih bawa Prissy kesini?”
            “bisalah! Apa sih yang nggak bisa Alvin lakuin? Oya… lo sama Prissy udah saling kenal? Terus kalian ada hubungan apa?”
            “lo penasaran?!”
            “dibilang penasaran sih nggak, tapiiii…. Gue Cuma pengen tau aja!”
            “kepo dong berarti??”
            Alvin menatap tak suka kearah Via. Sepertinya ia harus melakukan jurus terakhirnya untuk membuat Gadis ini menyerah dan mau bercerita. Alvin lalu mendekatkan wajahnya kearah Via, Via yang kaget kontan saja menjauhkan wajahnya dari Alvin.
            “mau apa lo?!”
            “mau nyium pacar gue” jawab Alvin sesantai mungkin.
            Dalam satu sentakan kuat, Alvin menarik lengan Via hingga membuat jaraknya dengan jarak Via semakin dekat saja.
            “jangan macem-macem! Nanti Tante gue liat…” Via mulai ketakutan.
            “berarti kalo Tante lo nggak liat boleh dong” Alvin semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Via lalu sedikit memiringkan posisi wajahnya.
            “Alvin… please nggak usah!!” pinta Via dengan memelas. Alvin akhirnya melepaskan Via dan berkata,

            “ya udah makanya cerita”

            “oke, oke… gue cerita”

            “anak manis!”


            Via lalu memulai ceritanya dan menceritakan semuanya pada Alvin tentang hubungan persahabatannya dengan Pricilla semasa ia masih kecil dulu.




***


12 hari kemudian…


            Waktu yang tersisa untuk Alvin tidak kurang dari 2 hari lagi, tapi hingga hari ini Via belum juga menampakkan tanda-tanda bahwa ia jatuh cinta pada Alvin. Semuanya berjalan seperti biasa, mereka berangkat sekolah bersama, pulang sekolah bersama, tiap malam minggu keluar bersama, dan banyak lagi aktifitas-aktifitas yang mereka lakukan berdua. Bahkan tidak jarang juga, Via menunggu Alvin yang sedang melakukan latihan futsal dilapangan sekolah.
            Dan Via benar-benar professional menjalankan perannya sebagai pacar Alvin selama hampir satu bulan ini. Dan sebisa mungkin Via berusaha untuk menjadi seorang pacar yang baik buat Alvin meskipun sebenarnya hingga detik ini hatinya masih tertaut pada Cakka seorang.
            Hubungan persahabatan yang terjalin antara Via, Shilla, Pricilla, Ify dan Agni pun semakin hari semakin lengket saja. Tapi disaat semuanya berjalan dengan begitu lancar dan seakan tanpa hambatan, Pricilla dan yang lainnya masih menyimpan rapat-rapat sebuah rahasia dari Via, rahasia bahwa dulu Pricilla pernah menjalin kisah dengan Alvin. Pricilla tidak ingin Via merasa tidak enak hati padanya hingga rela mengorbankan Alvin demi dirinya. Tidak, Pricilla tidak ingin melakukan hal itu setelah ia tahu bahwa selama beberapa tahun ini Via sudah cukup menderita menjalani hidupnya yang keras dengan setumpuk kenangan pahit yang menyesakkan dada. Dan Pricilla percaya bahwa hanya Alvin lah yang akan mampu membuat Via bahagia, Pricilla juga yakin, bahwa seorang Alvin akan mampu membebaskan Via dari penderitaannya selama ini.
            “Via” panggil Alvin yang tiba-tiba saja muncul dibelakang Via, ia memegang kedua pundak Via lalu menatap wajah Via dengan senyuman jahil khasnya.
            “apaan?” Tanya Via jutek lalu melepaskan tangan Alvin dari kedua pundaknya.
            “ikut gue bentar yuk” pinta Alvin. Via terlihat berfikir keras, sementara teman-temannya yang lain sudah saling lirik satu sama  lain sambil menyenggol lengan masing-masing.
            “lo nggak liat gue lagi makan?”
            “please sekali ini aja!!” kali ini Alvin benar-benar menampakkan wajah memohonya. Via yang tidak tega lantas mengangguk. Via pun bangkit dari tempat duduknya setelah sebelumnya ia pamit pada sahabat-sahabatnya.
            Dengan santainya Alvin merangkul pundak Via, dan yang ajaibnya lagi, Via membiarkan Alvin merangkulnya seperti itu. Mereka berdua berjalan beriringan dan mengabaikan tatapan-tatapan iri yang mengarah pada mereka.

            Beberapa saat setelah Alvin dan Via pergi…

            “lo beneran nggak apa-apa, Priss?” Tanya Agni seraya menatap Pricilla dengan tatapan cemas.
            “nggak apa-apa gimana?”
            “lo nggak usah belaga begok deh, apa perlu gue nanyanya gini, apa lo nggak cemb –“
            “gue baik-baik aja” sambar Pricilla cepat sebelum Agni menyelesaikan ucapannya.

            ‘boong banget….’ Bathin Agni seraya menatap Pricilla dengan tatapan meremehkan. Sementara yang lainnya hanya diam tanpa berniat memberikan komentar apapun.





***


            Dyna segera mengangkat telfon yang ada disampingnya beberapa saat setelah telfon itu berdering dan sedikit menganggu dirinya yang tengah berselonjor santai ditepi kolam renang. Dyna mendekatkan telfon itu ketelinganya lalu menyapa orang disebrang sana yang ternyata adalah Dokter Aninda,
            “hallo Ibu Dyna… ini saya Dokter Aninda”
            “Dokter Aninda??” Dyna bangkit dari sofa lalu membenahi posisinya, berharap Dokter Aninda akan memberikan kabar baik tentang hasil pemeriksaan yang ia lakukan kemarin.
            “bagaimana hasil pemeriksaannya, Dok?” Tanya Dyna yang sudah benar-benar tidak sabar dengan hasil pemeriksaannya. Dokter Aninda terdengar mendesah kecil sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan Dyna.
            “hasil yang kita lakukan kemarin menunjukan kecocokan sebesar 90% …”
            Dyna menghela napas lega saat itu juga. “akan tetapi –“ Dokter Aninda buru-buru melanjutkan ucapannya, Dyna yang tadinya sudah bernapas lega kini kembali didera oleh rasa was-was.
            “tapi kenapa, Dok?”

            “Andrea sudah mendapatkan pendonor ginjalnya”
            “hah? Siapa Dok?”
            “maafkan saya Ibu Dyna, tapi Si Pendonor tidak ingin identitasnya disebutkan”
            Dalam hatinya Dyna bersyukur karna masih ada orang baik yang mau mendonorkan ginjalnya untuk Via. Tapi disisi lain, Dyna merasa sangat penasaran dengan siapa orang yang sebenarnya rela mengorbankan ginjalnya untuk Via. Tapi siapapun itu, Dyna sangat berterimakasih pada Si Pendonor itu. Dan Dyna jadi tidak sabar ingin cepat-cepat menyampaikan kabar gembira ini pada Via.

            “terimakasih, Dok… lalu kapan operasinya bisa dilakukan?!”

            “Si Pendonor minta secepatnya”





***



            Saat sedang berjalan dengan Alvin sambil saling merangkul satu sama lain, tiba-tiba mereka berdua berpapasan dengan Cakka yang saat itu berjalan dari arah yang berlawanan dengan mereka. Langkah Via semakin melambat, sementara lengannya yang sejak tadi melingkar dipinggang Alvin tiba-tiba terlepas begitu saja saat kedua matanya saling bertubrukan dengan kedua mata elang Cakka.
            Menyadari ada gelagat tidak beres yang ditunjukan Via setelah melihat Cakka, Alvin langsung menghentikan langkahnya dan menatap kedua orang yang saling berpandangan satu sama lain itu dengan pandangan yang susah diartikan. Tidak hanya Alvin dan Via yang menghentikan langkah mereka, tapi Cakka juga.
            “kenapa berhenti, Vi…?”
            Mendengar pertanyaan yang Alvin lontarkan itu, Via langsung terkesiap, ia menggelengkan kepalanya beberapa kali lalu mengalihkan tatapannya dari Cakka.
            “nggak apa-apa. Ayo jalan lagi!”
            Via kembali melingkarkan tangannya dipinggang Alvin. Alvin hanya menampakkan raut wajah masa bodoh lalu mengikuti langkah Via.
            Cakka merasakan seperti ada sebuah cambuk berduri yang mencambuk hatinya. Rasanya benar-benar menyakitkan saat Via yang begitu ia cintai sekarang sudah tidak peduli lagi padanya. dan sepertinya Via benar-benar memilih Alvin sebagai pilihan hatinya.
            Tapi tanpa Cakka tahu, perasaan Via terasa lebih menyakitkan dari apa yang Cakka rasakan sekarang. Semuanya benar-benar sulit untuk Via sekarang ini. Jika ingin jujur, sebenarnya ia sangat menyayangi Cakka, dan jika boleh memilih tentu Via akan lebih memilih Cakka dari Alvin, tapi kenyataan bahwa Cakka adalah tunangan Shilla dan Shilla begitu menyayangi Cakka akhirnya membuat Via terpukul mundur sebelum ia benar-benar bisa memperjuangkan Cakka.
            “gue mau ngomong sesuatu sama lo” kata Alvin saat dirinya dan Via sudah duduk berdampingan disalah satu bangku panjang yang terdapat dipinggir lapangan basket.
            “gue juga” sahut Via tanpa sedikitpun menoleh kearah Alvin.
            “ya udah. Kalo gitu lo duluan”
            Via menoleh kearah Alvin, begitu juga dengan Alvin, ia menoleh kearah Via hingga kini mereka saling berhadapan satu sama lain.
            Via menatap wajah Alvin lekat-lekat, berusaha mencari sesuatu yang mungkin akan semakin menguatkan keputusan yang sudah ia ambil dan yang sudah ia pikirkan selama semalaman suntuk. Via menghela napas panjang saat rasa tidak tega itu kembali mengusik keputusan yang sudah ia ambil. Via lalu membuang wajahnya kearah lain, ia menutup kedua matanya untuk beberapa saat lantas dengan pelan berujar,

            “semuanya kita cukupkan sampai disini….”

            Jleb! Ucapan Via barusan seakan menjelma menjadi sebuah tombak yang langsung menusuk telak dadanya. Begitu tajam dan dalam. Disaat Alvin berusaha mati-matian melupakan bahwa waktu yang ia miliki hanya tinggal 2 hari lagi, Via malah dengan mudahnya mengakhiri semuanya bahkan disaat sisa-sisa waktu itu masih ada. Apa perjuangan Alvin selama sebulan terakhir ini sama sekali tidak berarti dimata Via?

            “Elo… serius?” Alvin berusaha keras menyembunyikan getar-getar dalam nada suaranya. Dan diatas serpihan-serpihan hatinya Alvin masih berharap bahwa Via tidak serius dengan ucapannya dan hanya berniat untuk mengerjainya saja. Tapi harapan Alvin itu langsung musnah seketika saat Via menggelengkan kepalanya dengan mantap.

            “gue sayang sama Cakka, dan gue nggak bisa nyakitin dia terus-terusan kayak gini. Toh waktu yang kita punya Cuma tinggal 2 hari lagi. Dan lo musti tau, Vin… gue nggak bisa sayang sama lo meski sekeras apapun gue berusaha, karna sejak awal hati gue udah nggak disini… hati gue… hati gue Cuma untuk Cakka…”
            Via memejamkan matanya, berusaha meredam rasa perih yang kian gencar menyiksanya. Ia hanya ingin jujur pada dirinya sendiri dan tidak ingin membohongi hatinya. Yang ia cintai itu Cakka, bukan Alvin.

            “gue tahu… tapi apa lo nggak mau ngasih gue waktu lagi? Seenggaknya gue masih punya 2 hari lagi Via untuk mengubah arah hati lo, seenggaknya gue masih punya waktu… gue –“
            “tapi gue yang nggak bisa, Alvin. Gue bener-bener udah capek, tolong ngertiin gue…”
            Alvin memejamkan matanya, ia menghela napas panjang dan berusaha mengisi rongga dadanya dengan udara sebanyak mungkin. Keputusan yang Via ambil secara sepihak ini benar-benar menyesakkan bagi Alvin.

            “oke kalo itu mau lo…” Alvin akhirnya menyerah. Ia sadar, sekeras apapun ia berusaha ia tetap tidak akan pernah bisa memaksakan kehendaknya pada Via. Sekarang Alvin boleh menyerah, tapi itu bukan berarti dia kalah. Alvin tetap akan memperjuangkan Via bagaimanapun caranya, Alvin tahu dan yakin bahwa Via hanya miliknya, dan siapapun termasuk Cakka tidak akan pernah bisa memiliki Via. Bagaimana bisa memiliki, kalau diantara Via dan Cakka masih ada hubungan sedarah yang selamanya tidak akan pernah terputuskan.
            Alvin tersenyum miris. Ia hanya perlu sedikit bersabar dan semuanya akan baik-baik saja.

            “terimakasih untuk semuanya Alvin… terimakasih udah ngelakuin banyak hal buat gue selama ini.. elo, elo cowok yang baik, dan gue yakin lo akan dapetin seseorang yang jauh lebih baik dari gue, elo –“
            “nggak ada yang sebaik lo yang pantes buat gue. Cuma elo yang gue mau” ucap Alvin dengan tegas. Via mencelos dengan ucapan Alvin barusan. Kenapa cowok ini begitu menyayanginya?
            Via menggelengkan kepalanya beberapa kali lalu berusaha bersikap wajar dihadapan Alvin. Via menatap Alvin seraya tersenyum begitu manis,
            “oya, tadi katanya lo mau ngomong sesuatu sama gue. Apa?”
            Alvin menoleh kearah Via, ia menatap Via dengan tatapan tajamnya. Setelah cukup lama diam dan saling menatap satu sama lain tanpa bicara, Alvin akhirnya buka mulut, menjawab pertanyaan Via tadi.

            “gue Cuma mau bilang kalo gue nggak mau putus sama lo, dan gue Cuma mau minta supaya lo tetep bertahan sama gue sekalipun waktu kita udah habis. Tapi… lo malah mengakhiri semuanya bahkan sebelum gue bilang apapun…”

            Sebelum Via membalas ucapan Alvin, bel tanda masuk berdering dengan nyaring. Via mendesah pelan lalu bangkit dari sisi Alvin. Ia merasa bahwa sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan antara mereka. Via juga merasa, semakin lama ia berada disamping Alvin, maka semakin besar juga rasa bersalahnya pada Pria ini. Sudah cukup Via menggoreskan semilir luka dihati Alvin, Via tidak ingin lagi menambah luka itu, tidak pernah ingin.

            “kita lanjutin nanti…”

            Via akhirnya melangkah pergi meninggalkan Alvin bersama lukanya. Sia-sia sudah apa yang Alvin lakukan selama ini. Tapi hal itu tidak lantas membuat Alvin menyerah. Ia akan berjuang sekali lagi, dan Alvin tidak akan pernah menyerah sebelum Via benar-benar bisa menjadi miliknya seutuhnya.

            ‘Cakka bukan alasan kuat buat gue untuk mengakhiri semua ini, Vin… ada alasan lain yang nggak boleh lo tahu… maafin gue… cewek penyakitan kayak gue nggak pernah pantes buat cowok yang nyaris sempurna kayak lo….’ Lirih Via dalam hati. Tanpa bisa ia control, sebulir air matanya terjatuh membasahi pipi mulusnya.

            Alvin menunduk lesu beberapa saat setelah Via pergi terlebih dahulu meninggalkan tempat itu. Semangatnya untuk mengikuti jam pelajaran mendadak terkuras. Alvin tidak mengerti, kenapa sejak mengenal Via ia berubah menjadi sosok laki-laki yang cengeng seperti ini. Apa yang salah?
            Yang lebih menyedihkan bagi Alvin adalah, Andrea yang selama beberapa tahun ini ia tunggu ternyata tidak pernah sekalipun mengingatnya. Mungkin hanya Alvin saja yang merasakan perasaan ini, tapi tidak dengan Andrea-nya, atau bahkan mungkin tidak pernah sekalipun Andrea mengingat Alvin. Alvin tersenyum miris, ternyata ia bukan hanya bodoh, tapi sangat bodoh. Dan entah untuk yang keberapa milyar kalinya, Cakka lagi-lagi mengalahkannya. Dan hal itu membuat Alvin berfikir, apa sekarang sudah saatnya ia membongkar semuanya??


            “BODOH!! Masa gitu aja nyerah??! Dasar pecundang!!” cerca seseorang yang tiba-tiba saja muncul dihadapan Alvin. Mendengar ada sebuah suara sumbang yang super tajam menganggu indera pendengarnya, Alvin langsung mengangkat wajahnya dan melihat seseorang yang baru saja mengeluarkan sindiran super dahsyatnya. Senyuman sinis itu langsung menyambut Alvin. Kedua mata Alvin memicing, ia sedikit kaget dengan kehadiran Gadis ini yang secara tiba-tiba muncul dihadapannya…




            “Prissy…??”






                                                BERSAMBUNG…

0 comments:

Post a Comment