Sebelumnya…
Sudah hampir setengah jam Alvin menunggu
Pricilla diruang tamu, tapi hingga setengah jam berlalu, Pricilla tidak juga
keluar dari dalam kamar Via. Alvin terus mondar-mandir diruang tamu memikirkan
ada hubungan apa sebenarnya antara pacar dan mantan pacarnya itu?
Sudah cukup lama Alvin berfikir
keras, tapi ia tidak juga menemukan sebuah jawaban. Mungkin hanya Pricilla atau
Via yang mampu menjawab rasa penasarannya itu, dan mungkin Alvin harus bisa
sedikit lebih bersabar lagi. Alvin kembali duduk disofa, tapi kali ini
perhatiannya tiba-tiba saja tertuju pada sebuah amplop putih yang tergeletak
diatas meja. Iseng-iseng Alvin mengambil amplop itu dan membuka isinya yang
ternyata adalah sebuah hasil tes laboratorium dari rumah sakit ‘HARAPAN’ –Rumah
sakit milik Kakeknya-
Dada Alvin seakan terhantam keras
oleh sebuah benda berduri saat membaca hasil tes laboratorium itu, ia merasakan
perih bercampur sesak yang luar biasa menyiksa. Itu adalah hasil tes
laboratorium milik Via.
Tangan Alvin yang memegangi hasil
tes lab itu bergemetar hebat. Benarkah? Benarkah Via yang sangat ia sayangi itu
menderita penyakit gagal ginjal stadium akhir?
Belum tuntas semua rasa tidak percayanya,
Pricilla tiba-tiba saja turun dari lantai atas rumah Via. Pricilla berjalan
gontai menghampiri Alvin yang saat itu masih duduk terpaku diruang tamu dengan
pikirannya yang mulai kacau tak karuan.
“Alvin…” panggil Pricilla pelan.
Alvin langsung mengangkat wajahnya dan menatap Pricilla,
“jangan pernah lo sakitin Via.
Tolong jaga dia sebaik mungkin…”
***
Part
13
Pricilla
memilih pulang sendiri tanpa diantarkan oleh Alvin, ia pun pulang ke
Apartemennya dengan menggunakan sebuah taksi. Dan selama diperjalanan pulang,
Pricilla terus saja mengingat semua apa yang Via apa katakan padanya mengenai
masa lalunya, Papa nya, kehidupannya selama tinggal bersama Tante Dyna,
bagaimana perasaannya terhadap Cakka dan Alvin, juga bagaimana selama ini ia melawan
penyakit ginjal yang ia derita. Pricilla merasakan sesak didadanya saat suara
tangisan Via yang begitu memilukan terdengar kembali ditelinganya. Selama ini
ia tidak pernah tahu, bahwa Via cukup menderita menjalani hidupnya, dan
Pricilla sangat menyesal mendapati kenyataan bahwa ia tidak bisa berada
disamping Via untuk menguatkannya saat Via begitu menderita.
“gue
sayang sama Cakka, tapi gue juga nggak bisa ngecewain Alvin yang selama ini gue
tahu begitu tulus sama gue…”
Pricilla
menghela napas panjangnya. Ucapan Via itu seakan menghantam telak dadanya tanpa
ampun. Pricilla baru tahu bahwa Cakka yang selama ini ia kenal ternyata saudara
se-Ayah Via. Pricilla seolah ingin berteriak sekeras yang ia bisa. Bagaimana
mungkin Via bisa mencintai Cakka? Tapi Pricilla juga tidak bisa mengungkapkan
apa yang sebenarnya yang terjadi dihadapan Via, Pricilla tidak bisa tiba-tiba
mengatakan bahwa Cakka yang Via cintai itu adalah saudara se-Ayah nya sendiri
dan Via tidak mungkin menyayangi Cakka melebihi perasaan sayang seorang Adik
terhadap Kakaknya. Untuk itulah Pricilla meminta pada Alvin supaya Alvin tidak
menyakiti perasaannya, supaya Alvin selalu menjaganya. Ya… Pricilla melakukan
semua itu hanya untuk mengalihkan perasaan Via. Pricilla ingin Via bisa mencintai
Alvin supaya ia bisa melupakan Cakka. Hanya itu.
Mungkin
sulit baginya untuk bisa seratus persen rela melepaskan Alvin, tapi hanya
itulah jalan satu-satunya yang bisa Pricilla lakukan untuk menyelamatkan hati
Via nantinya saat ia tahu bahwa Cakka adalah Kakaknya sendiri.
“selama
sisa waktu gue masih ada sama Alvin, gue akan belajar semampu gue untuk bisa
mencintai dia, gue pasti bisa…”
Air
mata itu semakin deras menetes. Ya… Via memang harus bisa mencintai Alvin untuk
kemudian melupakan Cakka. Akan tetapi…
“tapi
satu hal yang harus gue inget, gue nggak bisa memiliki Alvin seutuhnya. Gue
harus ngelepasin dia saat nanti gue udah bisa sayang sama dia. Gue nggak pernah
pantes buat Alvin, Priss… gue nggak pernah pantes. Gue Cuma cewek penyakitan yang
nantinya Cuma akan menyusahkan Alvin….”
Dan
Pricilla bersumpah tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Dia akan
melakukan apapun supaya Via tetap bisa bersama Alvin. Ya.. apapun akan Pricilla
lakukan untuk mereka berdua. Ini bukan hanya untuk Via, tapi ini juga untuk
Alvin. Seseorang yang bahkan hingga detik ini masih sangat ia sayangi.
Bukankah
mencintai berarti melepaskan…??
***
Jari
jemari Gabriel menari dengan indah diatas tuts-tuts piano yang kini berhadapan
langsung dengannya. Saat ini pikirannya hanya tertuju pada seseorang yang entah
apakah juga sedang memikirkan dirinya atau tidak. Dan perlakuan dingin yang ia
tunjukan pada Shilla akhir-akhiran ini justru menyakiti perasaannya sendiri.
Gabriel tahu, bahkan sangat tahu, bagimana selama satu tahun terakhir ini ia
begitu mengharapkan Shilla kembali lagi padanya. Gabriel sadar, bahwa lebih
dari apapun itu Gabriel sangat menginginkan Shilla. Tapi kenyataan bahwa Shilla
adalah tunangan Cakka dan Shilla begitu menyayangi Cakka, membuat Gabriel
terhempas karna angan kosongnya selama ini. Ya… Shilla sudah benar-benar
melupakannya, tidak ada setitikpun tentang Gabriel atau tentang kenangan mereka
dimasa lalu yang tersisa dalam ingatan Shilla. Gabriel harus menyadari itu.
“Ku
tahu ku salah…
Memaksa
kehendaku tuk memilikimu…”
Itu
adalah lagu yang Gabriel ciptakan khusus untuk Shilla, dan Gabriel benar-benar
menyanyikan lagu itu untuk Shilla, ya… hanya untuk Shilla. Jemari terampil
milik Gabriel terus menari dengan lincah diatas tuts-tuts piano, menyanyikan
lagu dari hatinya hanya untuk Shilla seorang.
“Ku
terluka tanpa mu
Sungguh
ku tak bisa membenci dirimu
Oh
dirimu….
Menanti
keajaiban hingga kau buka hatimu
Untuk
diriku….”
Semua
kenangannya bersama Shilla dimasa lalu berpendar kembali dalam ingataannya dan
berputar seperti sebuah film yang diputar ulang. Gabriel merasakan sesak
didadanya, ia menangis bisu tanpa air mata.
“gue suka sama lo, Yel…”
“lo suka sama gue?”
“iya…”
“sejak kapan?”
“sejak pertama kali gue ngeliat lo
pas MOS?”
“Owh… kalo gitu mulai sekarang lo
jadi cewek gue ya??”
“APAA??!”
“Hanya
kisah ini takkan abadi
Namun
kau abadi di hati ini
Meski
pun harus menahan sepi
Menanti
dirimu dihati….”
“ki… kita putus, Yel? Ta.. tapi kenapa?”
“maaf, Shill… tapi akhir-akhir ini
nggak tau kenapa gue ngerasa bosen sama lo”
“hoo…
wo wo…
Hanya
kisah ini tak kan abadi
Namun
kau abadi dihati ini…”
“ooo…
jadi lo mutusin gue karna cewek ini? Apa kurangnya gue, Yel? Apa yang cewek ini
punya dan yang gue nggak punya sampe lo tega mutusin gue demi cewek ini? APA??”
“Gue udah bilang ke lo kalo gue
bosen sama lo! Jadi bisa kan lo nggak usah nyalahin Zahra dalam masalah ini?
Karna sejak awal, sejak lo nyatain suka ke gue, gue nggak pernah sedikitpun
punya rasa ke elo, Ashilla… ngerti lo?!”
“terus kenapa lo minta gue jadi
cewek lo?!”
“karna gue Cuma mau mainin lo aja!
Dan karna gue Cuma NGANGGEP LO SEBAGAI MAINAN GUE, NGGAK LEBIH!!”
===================
“Shill… setelah putus dari lo, gue baru
sadar kalo ternyata gue sayang sama lo”
“terus?”
“gue mau balikan sama lo? Apa lo
bisa?”
“maaf Yel, gue nggak bisa. Hati gue
udah terlanjur sakit…”
“apa bener-bener nggak ada
kesempatan buat gue?”
“ADA! Tapi bukan untuk balikan lagi”
“terus?”
“elo sama gue bisa jadi sahabat
mulai saat ini. Tapi hanya sebatas sahabat, nggak lebih!”
“Meskipun
harus menahan sepi
Menanti
dirimu dihati yee…
Menanti
dirimu dihati…
Menanti
dirimu dihati….
Ooo…
woo…”
“ini cincin pertuangan gue sama Cakka”
“tapi gue ngelakuin sebuah kesalahan
dengan jatuh cinta sama Cakka. Gue tau itu salah dan nggak seharusnya terjadi,
tapi gue juga nggak bisa ngontrol hati gue sendiri”
“tapi Cakka yang nggak cinta sama
gue, Vi… dan selamanya Cakka nggak akan pernah bisa cinta sama gue”
Hati
Gabriel seolah tersayat oleh sembilu saat kata-kata yang Shilla ucapkan pada
Via beberapa waktu yang lalu juga ikut ambil bagian dalam ingatannya dan
semakin memporak-porandakan hatinya.
Rasanya
perih berampur sesak. Dan sesal itu kembali hadir dalam benaknya. Ia menyesal
karna dulu ia telah menyia-nyiakan cinta tulus yang Shilla berikan padanya, ia
menyesal karna telah mengakhiri hubungannya dengan Shilla dan menyakiti
perasaan Gadis itu hingga sekarang justru perasaannya lah yang terbalik.
Andai
Gabriel punya kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya…
***
“kalo
seandainya nanti waktu yang kita tentuin habis tapi gue nggak bisa sayang sama lo…
kira-kira lo bakal tetep memperjuangkan gue atau nggak?” pertanyaan itu
tiba-tiba saja keluar dari mulut Via dan membuat Alvin yang duduk tepat
disampingnya dengan segala pikirannya yang tengah kacau langsung menoleh dan
menatapnya heran. Saat itu Alvin dan Via tengah duduk berdampingan ditepi kolam
renang milik Via dengan kedua kaki mereka yang masing-masing tercebur kedalam
kolam.
Via
tersenyum, wajahnya yang tampak pucat sama sekali tidak mengurangi sedikitpun
kecantikannya dimata seorang Alvin. Setelah cukup lama saling menatap satu sama
lain, Alvin akhirnya membuang tatapannya kearah lain. Ia menggaruk tengkunya
yang sama sekali tidak gatal, bingung juga bagaimana harus menjawab pertanyaan
yang menurutnya sangat menyebalkan itu.
“hey…”
Via meraih dagu Alvin lalu memutar wajahnya hingga berhadapan kembali
dengannya. “gue minta jawaban lo” ucap Via dengan nada setengah berbisik.
Alvin
berdecak kecil, ia meraih tangan Via yang menyentuh dagunya lalu menggenggamnya
dengan lembut.
“itu
tergantung lo! Kalo lo minta buat gue perjuangin, gue pasti bakalan
memperjuangkan lo sampai titik darah penghabisan” ucap Alvin penuh kesungguhan
sambil menatap kedua manik mata Via sedalam mungkin.
Via
menyelami tatapan mata Alvin yang begitu dalam, berusaha mencari sinar
kebohongan disana, tapi hasilnya nihil. Via sama sekali tidak menemukan sinar
kebohongan dari kedua mata yang begitu meneduhkan itu.
“kalo
gue nggak mau diperjuangin…?!”
“gue
akan ngelepasin lo” jawab Alvin to the point. Via mendesah pelan bahkan nyaris
tidak kentara. Entah kenapa, hatinya terasa sedikit nyeri saat mendengarkan
jawaban Alvin baru saja.
“lo
bakal ngelepasin gue gitu aja?” Tanya Via yang merasa sedikit sanksi atas
jawaban Alvin. Alvin mengangguk pasti, tapi tanpa Via tahu, ada sebentuk luka
yang mulai timbul jauh didalam sana, luka yang lambat laun akan semakin
menganga lebar dan susah untuk disembuhkan.
“kayaknya
gue nggak cukup pantes untuk diperjuangin” Via menarik tangannya dari genggaman
Alvin lalu menatap lurus kedepan dengan pandangan menerawang jauh.
Alvin
menghela napas panjang, pikirannya saat ini benar-benar kacau. Dalam hati ia
bertanya-tanya, bagaimana mungkin Via bisa terlihat setegar ini sementara ia
sedang mengidap penyakit yang begitu parah dan sewaktu-waktu dapat merenggut
nyawanya? Bagaimana bisa Via terus tersenyum seperti ini sementara Alvin begitu
mengkhawatirkannya?
Sekali
lagi Alvin menghela napas panjang. Setelah cukup lama menunggu Andrea kecilnya
kembali lagi, ia justru harus menerima kenyataan sepahit ini. Alvin menatap Via
lekat-lekat dari samping dan berusaha menahan gejolak didadanya untuk tidak
menarik gadis ini kedalam pelukannya. Alvin lalu mengikuti arah pandangan Via,
tapi beberapa detik kemudian, Alvin tahu-tahu merasakan Via menunbruk tubuhnya
lalu memeluknya dengan erat.
“tetep
disamping gue sampe waktu yang kita tentuin habis. Jangan pernah kemana-mana!”
Alvin mengangguk pelan lalu membalas pelukan Via.
“dan
jangan pernah lo deket-deket sama Cakka sampe waktu yang kita tentuin habis,
karna gue nggak suka” ujar Alvin dengan tegas, berusaha menyembunyikan
getaran-getaran dalam suaranya.
“kenapa?
Lo cemburu?” Tanya Via dengan nada suara yang terdengar sedikit manja. Alvin
mengangguk mantap, mengiyakan pertanyaan yang baru saja Via lemparkan padanya.
“tapi
gue suka sama Cakka” ucap Via polos.
Degh!
Ucapan Via yang kelewat polos situ sukses memukul telak dada Alvin. Tanpa Alvin
sadari, pelukannya pada tubuh Via mulai melonggar dan secara perlahan terlepas.
Via pun menarik dirinya lalu menatap Alvin seraya tersenyum.
“kok
mukanya tegang gitu, Vin…? Gue Cuma becanda kok”
Alvin
menggelengkan kepalanya beberapa kali, berusaha menghalau segala
pikiran-pikiran aneh yang memenuhi ruang dikepalanya. Sekalipun Via mengatakan
bahwa ia hanya bercanda saja, tapi Alvin dapat merasakan apa yang sesungguhnya
Via rasakan terhadap Cakka, Alvin dapat membaca semuanya dengan jelas, akan
tetapi ia juga tahu bahwa Cakka dan Via itu Kakak-Beradik, dan ia juga tahu
bahwa mereka berdua tidak mungkin bersatu, jadi apa yang harus Alvin takuti?
Alvin
tersenyum, ia mengusap lembut puncak kepala Via lantas berkata,
“kalo
pun beneran juga, itu tetep nggak akan ngubah apapun” ucap Alvin tanpa sadar.
“maksudnya?”
Alvin
terkesiap, ia baru sadar akan ucapannya tadi. Tidak, tidak seharusnya Alvin
berkata seperti itu dan membuat Via curiga. Alvin menggeleng dan segera mencari
alibi yang pas untuk menghindar.
“yaaa…
walo pun lo beneran suka sama Cakka, itu semua nggak akan ngubah apapun kalo lo
Cuma milik gue dan gue Cuma milik lo… paham Nona Jutek?” kata Alvin lalu
menjitak pelan kening Via.
“awww…”
Via meringis sambil manyun. Tapi hal itu justru membuat Alvin merasa gemas. Ia
lalu menjawil hidung Via dan semakin membuat Via kesal.
“ALVIIINNNN….”
“Hahahaha…
gue paling suka Via yang manja kayak gini…”
Ada
nada penuh harap yang tersirat dari ucapan Alvin baru saja. Alvin hanya
tersenyum penuh arti sambil menatap Via dengan pandangan yang susah diartikan.
Merasa salah tingkah ditatap seperti itu, Via langsung mengalihkan tatapannya
kearah lain.
“oya,
Vin… lo kok bisa sih bawa Prissy kesini?”
“bisalah!
Apa sih yang nggak bisa Alvin lakuin? Oya… lo sama Prissy udah saling kenal?
Terus kalian ada hubungan apa?”
“lo
penasaran?!”
“dibilang
penasaran sih nggak, tapiiii…. Gue Cuma pengen tau aja!”
“kepo
dong berarti??”
Alvin
menatap tak suka kearah Via. Sepertinya ia harus melakukan jurus terakhirnya
untuk membuat Gadis ini menyerah dan mau bercerita. Alvin lalu mendekatkan
wajahnya kearah Via, Via yang kaget kontan saja menjauhkan wajahnya dari Alvin.
“mau
apa lo?!”
“mau
nyium pacar gue” jawab Alvin sesantai mungkin.
Dalam
satu sentakan kuat, Alvin menarik lengan Via hingga membuat jaraknya dengan
jarak Via semakin dekat saja.
“jangan
macem-macem! Nanti Tante gue liat…” Via mulai ketakutan.
“berarti
kalo Tante lo nggak liat boleh dong” Alvin semakin mendekatkan wajahnya dengan
wajah Via lalu sedikit memiringkan posisi wajahnya.
“Alvin…
please nggak usah!!” pinta Via dengan memelas. Alvin akhirnya melepaskan Via
dan berkata,
“ya
udah makanya cerita”
“oke,
oke… gue cerita”
“anak
manis!”
Via
lalu memulai ceritanya dan menceritakan semuanya pada Alvin tentang hubungan
persahabatannya dengan Pricilla semasa ia masih kecil dulu.
***
12
hari kemudian…
Waktu
yang tersisa untuk Alvin tidak kurang dari 2 hari lagi, tapi hingga hari ini
Via belum juga menampakkan tanda-tanda bahwa ia jatuh cinta pada Alvin.
Semuanya berjalan seperti biasa, mereka berangkat sekolah bersama, pulang
sekolah bersama, tiap malam minggu keluar bersama, dan banyak lagi
aktifitas-aktifitas yang mereka lakukan berdua. Bahkan tidak jarang juga, Via
menunggu Alvin yang sedang melakukan latihan futsal dilapangan sekolah.
Dan
Via benar-benar professional menjalankan perannya sebagai pacar Alvin selama
hampir satu bulan ini. Dan sebisa mungkin Via berusaha untuk menjadi seorang
pacar yang baik buat Alvin meskipun sebenarnya hingga detik ini hatinya masih
tertaut pada Cakka seorang.
Hubungan
persahabatan yang terjalin antara Via, Shilla, Pricilla, Ify dan Agni pun
semakin hari semakin lengket saja. Tapi disaat semuanya berjalan dengan begitu
lancar dan seakan tanpa hambatan, Pricilla dan yang lainnya masih menyimpan
rapat-rapat sebuah rahasia dari Via, rahasia bahwa dulu Pricilla pernah
menjalin kisah dengan Alvin. Pricilla tidak ingin Via merasa tidak enak hati
padanya hingga rela mengorbankan Alvin demi dirinya. Tidak, Pricilla tidak
ingin melakukan hal itu setelah ia tahu bahwa selama beberapa tahun ini Via
sudah cukup menderita menjalani hidupnya yang keras dengan setumpuk kenangan
pahit yang menyesakkan dada. Dan Pricilla percaya bahwa hanya Alvin lah yang
akan mampu membuat Via bahagia, Pricilla juga yakin, bahwa seorang Alvin akan
mampu membebaskan Via dari penderitaannya selama ini.
“Via”
panggil Alvin yang tiba-tiba saja muncul dibelakang Via, ia memegang kedua
pundak Via lalu menatap wajah Via dengan senyuman jahil khasnya.
“apaan?”
Tanya Via jutek lalu melepaskan tangan Alvin dari kedua pundaknya.
“ikut
gue bentar yuk” pinta Alvin. Via terlihat berfikir keras, sementara
teman-temannya yang lain sudah saling lirik satu sama lain sambil menyenggol lengan masing-masing.
“lo
nggak liat gue lagi makan?”
“please
sekali ini aja!!” kali ini Alvin benar-benar menampakkan wajah memohonya. Via
yang tidak tega lantas mengangguk. Via pun bangkit dari tempat duduknya setelah
sebelumnya ia pamit pada sahabat-sahabatnya.
Dengan
santainya Alvin merangkul pundak Via, dan yang ajaibnya lagi, Via membiarkan
Alvin merangkulnya seperti itu. Mereka berdua berjalan beriringan dan
mengabaikan tatapan-tatapan iri yang mengarah pada mereka.
Beberapa
saat setelah Alvin dan Via pergi…
“lo
beneran nggak apa-apa, Priss?” Tanya Agni seraya menatap Pricilla dengan
tatapan cemas.
“nggak
apa-apa gimana?”
“lo
nggak usah belaga begok deh, apa perlu gue nanyanya gini, apa lo nggak cemb –“
“gue
baik-baik aja” sambar Pricilla cepat sebelum Agni menyelesaikan ucapannya.
‘boong banget….’ Bathin Agni seraya
menatap Pricilla dengan tatapan meremehkan. Sementara yang lainnya hanya diam
tanpa berniat memberikan komentar apapun.
***
Dyna
segera mengangkat telfon yang ada disampingnya beberapa saat setelah telfon itu
berdering dan sedikit menganggu dirinya yang tengah berselonjor santai ditepi
kolam renang. Dyna mendekatkan telfon itu ketelinganya lalu menyapa orang
disebrang sana yang ternyata adalah Dokter Aninda,
“hallo
Ibu Dyna… ini saya Dokter Aninda”
“Dokter
Aninda??” Dyna bangkit dari sofa lalu membenahi posisinya, berharap Dokter
Aninda akan memberikan kabar baik tentang hasil pemeriksaan yang ia lakukan
kemarin.
“bagaimana
hasil pemeriksaannya, Dok?” Tanya Dyna yang sudah benar-benar tidak sabar
dengan hasil pemeriksaannya. Dokter Aninda terdengar mendesah kecil sebelum
akhirnya ia menjawab pertanyaan Dyna.
“hasil
yang kita lakukan kemarin menunjukan kecocokan sebesar 90% …”
Dyna
menghela napas lega saat itu juga. “akan tetapi –“ Dokter Aninda buru-buru
melanjutkan ucapannya, Dyna yang tadinya sudah bernapas lega kini kembali
didera oleh rasa was-was.
“tapi
kenapa, Dok?”
“Andrea
sudah mendapatkan pendonor ginjalnya”
“hah?
Siapa Dok?”
“maafkan
saya Ibu Dyna, tapi Si Pendonor tidak ingin identitasnya disebutkan”
Dalam
hatinya Dyna bersyukur karna masih ada orang baik yang mau mendonorkan
ginjalnya untuk Via. Tapi disisi lain, Dyna merasa sangat penasaran dengan
siapa orang yang sebenarnya rela mengorbankan ginjalnya untuk Via. Tapi
siapapun itu, Dyna sangat berterimakasih pada Si Pendonor itu. Dan Dyna jadi
tidak sabar ingin cepat-cepat menyampaikan kabar gembira ini pada Via.
“terimakasih,
Dok… lalu kapan operasinya bisa dilakukan?!”
“Si
Pendonor minta secepatnya”
***
Saat
sedang berjalan dengan Alvin sambil saling merangkul satu sama lain, tiba-tiba
mereka berdua berpapasan dengan Cakka yang saat itu berjalan dari arah yang
berlawanan dengan mereka. Langkah Via semakin melambat, sementara lengannya
yang sejak tadi melingkar dipinggang Alvin tiba-tiba terlepas begitu saja saat
kedua matanya saling bertubrukan dengan kedua mata elang Cakka.
Menyadari
ada gelagat tidak beres yang ditunjukan Via setelah melihat Cakka, Alvin
langsung menghentikan langkahnya dan menatap kedua orang yang saling
berpandangan satu sama lain itu dengan pandangan yang susah diartikan. Tidak
hanya Alvin dan Via yang menghentikan langkah mereka, tapi Cakka juga.
“kenapa
berhenti, Vi…?”
Mendengar
pertanyaan yang Alvin lontarkan itu, Via langsung terkesiap, ia menggelengkan
kepalanya beberapa kali lalu mengalihkan tatapannya dari Cakka.
“nggak
apa-apa. Ayo jalan lagi!”
Via
kembali melingkarkan tangannya dipinggang Alvin. Alvin hanya menampakkan raut
wajah masa bodoh lalu mengikuti langkah Via.
Cakka
merasakan seperti ada sebuah cambuk berduri yang mencambuk hatinya. Rasanya
benar-benar menyakitkan saat Via yang begitu ia cintai sekarang sudah tidak
peduli lagi padanya. dan sepertinya Via benar-benar memilih Alvin sebagai
pilihan hatinya.
Tapi
tanpa Cakka tahu, perasaan Via terasa lebih menyakitkan dari apa yang Cakka
rasakan sekarang. Semuanya benar-benar sulit untuk Via sekarang ini. Jika ingin
jujur, sebenarnya ia sangat menyayangi Cakka, dan jika boleh memilih tentu Via
akan lebih memilih Cakka dari Alvin, tapi kenyataan bahwa Cakka adalah tunangan
Shilla dan Shilla begitu menyayangi Cakka akhirnya membuat Via terpukul mundur
sebelum ia benar-benar bisa memperjuangkan Cakka.
“gue
mau ngomong sesuatu sama lo” kata Alvin saat dirinya dan Via sudah duduk
berdampingan disalah satu bangku panjang yang terdapat dipinggir lapangan
basket.
“gue
juga” sahut Via tanpa sedikitpun menoleh kearah Alvin.
“ya
udah. Kalo gitu lo duluan”
Via
menoleh kearah Alvin, begitu juga dengan Alvin, ia menoleh kearah Via hingga
kini mereka saling berhadapan satu sama lain.
Via
menatap wajah Alvin lekat-lekat, berusaha mencari sesuatu yang mungkin akan
semakin menguatkan keputusan yang sudah ia ambil dan yang sudah ia pikirkan
selama semalaman suntuk. Via menghela napas panjang saat rasa tidak tega itu
kembali mengusik keputusan yang sudah ia ambil. Via lalu membuang wajahnya
kearah lain, ia menutup kedua matanya untuk beberapa saat lantas dengan pelan
berujar,
“semuanya
kita cukupkan sampai disini….”
Jleb!
Ucapan Via barusan seakan menjelma menjadi sebuah tombak yang langsung menusuk
telak dadanya. Begitu tajam dan dalam. Disaat Alvin berusaha mati-matian
melupakan bahwa waktu yang ia miliki hanya tinggal 2 hari lagi, Via malah
dengan mudahnya mengakhiri semuanya bahkan disaat sisa-sisa waktu itu masih
ada. Apa perjuangan Alvin selama sebulan terakhir ini sama sekali tidak berarti
dimata Via?
“Elo…
serius?” Alvin berusaha keras menyembunyikan getar-getar dalam nada suaranya.
Dan diatas serpihan-serpihan hatinya Alvin masih berharap bahwa Via tidak
serius dengan ucapannya dan hanya berniat untuk mengerjainya saja. Tapi harapan
Alvin itu langsung musnah seketika saat Via menggelengkan kepalanya dengan
mantap.
“gue
sayang sama Cakka, dan gue nggak bisa nyakitin dia terus-terusan kayak gini.
Toh waktu yang kita punya Cuma tinggal 2 hari lagi. Dan lo musti tau, Vin… gue
nggak bisa sayang sama lo meski sekeras apapun gue berusaha, karna sejak awal
hati gue udah nggak disini… hati gue… hati gue Cuma untuk Cakka…”
Via
memejamkan matanya, berusaha meredam rasa perih yang kian gencar menyiksanya.
Ia hanya ingin jujur pada dirinya sendiri dan tidak ingin membohongi hatinya.
Yang ia cintai itu Cakka, bukan Alvin.
“gue
tahu… tapi apa lo nggak mau ngasih gue waktu lagi? Seenggaknya gue masih punya
2 hari lagi Via untuk mengubah arah hati lo, seenggaknya gue masih punya waktu…
gue –“
“tapi
gue yang nggak bisa, Alvin. Gue bener-bener udah capek, tolong ngertiin gue…”
Alvin
memejamkan matanya, ia menghela napas panjang dan berusaha mengisi rongga
dadanya dengan udara sebanyak mungkin. Keputusan yang Via ambil secara sepihak
ini benar-benar menyesakkan bagi Alvin.
“oke
kalo itu mau lo…” Alvin akhirnya menyerah. Ia sadar, sekeras apapun ia berusaha
ia tetap tidak akan pernah bisa memaksakan kehendaknya pada Via. Sekarang Alvin
boleh menyerah, tapi itu bukan berarti dia kalah. Alvin tetap akan
memperjuangkan Via bagaimanapun caranya, Alvin tahu dan yakin bahwa Via hanya
miliknya, dan siapapun termasuk Cakka tidak akan pernah bisa memiliki Via.
Bagaimana bisa memiliki, kalau diantara Via dan Cakka masih ada hubungan
sedarah yang selamanya tidak akan pernah terputuskan.
Alvin
tersenyum miris. Ia hanya perlu sedikit bersabar dan semuanya akan baik-baik
saja.
“terimakasih
untuk semuanya Alvin… terimakasih udah ngelakuin banyak hal buat gue selama
ini.. elo, elo cowok yang baik, dan gue yakin lo akan dapetin seseorang yang
jauh lebih baik dari gue, elo –“
“nggak
ada yang sebaik lo yang pantes buat gue. Cuma elo yang gue mau” ucap Alvin
dengan tegas. Via mencelos dengan ucapan Alvin barusan. Kenapa cowok ini begitu
menyayanginya?
Via
menggelengkan kepalanya beberapa kali lalu berusaha bersikap wajar dihadapan
Alvin. Via menatap Alvin seraya tersenyum begitu manis,
“oya,
tadi katanya lo mau ngomong sesuatu sama gue. Apa?”
Alvin
menoleh kearah Via, ia menatap Via dengan tatapan tajamnya. Setelah cukup lama
diam dan saling menatap satu sama lain tanpa bicara, Alvin akhirnya buka mulut,
menjawab pertanyaan Via tadi.
“gue
Cuma mau bilang kalo gue nggak mau putus sama lo, dan gue Cuma mau minta supaya
lo tetep bertahan sama gue sekalipun waktu kita udah habis. Tapi… lo malah
mengakhiri semuanya bahkan sebelum gue bilang apapun…”
Sebelum
Via membalas ucapan Alvin, bel tanda masuk berdering dengan nyaring. Via
mendesah pelan lalu bangkit dari sisi Alvin. Ia merasa bahwa sudah tidak ada
lagi yang perlu dibicarakan antara mereka. Via juga merasa, semakin lama ia
berada disamping Alvin, maka semakin besar juga rasa bersalahnya pada Pria ini.
Sudah cukup Via menggoreskan semilir luka dihati Alvin, Via tidak ingin lagi
menambah luka itu, tidak pernah ingin.
“kita
lanjutin nanti…”
Via
akhirnya melangkah pergi meninggalkan Alvin bersama lukanya. Sia-sia sudah apa
yang Alvin lakukan selama ini. Tapi hal itu tidak lantas membuat Alvin
menyerah. Ia akan berjuang sekali lagi, dan Alvin tidak akan pernah menyerah
sebelum Via benar-benar bisa menjadi miliknya seutuhnya.
‘Cakka
bukan alasan kuat buat gue untuk mengakhiri semua ini, Vin… ada alasan lain
yang nggak boleh lo tahu… maafin gue… cewek penyakitan kayak gue nggak pernah
pantes buat cowok yang nyaris sempurna kayak lo….’ Lirih Via dalam
hati. Tanpa bisa ia control, sebulir air matanya terjatuh membasahi pipi
mulusnya.
Alvin
menunduk lesu beberapa saat setelah Via pergi terlebih dahulu meninggalkan
tempat itu. Semangatnya untuk mengikuti jam pelajaran mendadak terkuras. Alvin
tidak mengerti, kenapa sejak mengenal Via ia berubah menjadi sosok laki-laki
yang cengeng seperti ini. Apa yang salah?
Yang
lebih menyedihkan bagi Alvin adalah, Andrea yang selama beberapa tahun ini ia
tunggu ternyata tidak pernah sekalipun mengingatnya. Mungkin hanya Alvin saja
yang merasakan perasaan ini, tapi tidak dengan Andrea-nya, atau bahkan mungkin
tidak pernah sekalipun Andrea mengingat Alvin. Alvin tersenyum miris, ternyata
ia bukan hanya bodoh, tapi sangat bodoh. Dan entah untuk yang keberapa milyar
kalinya, Cakka lagi-lagi mengalahkannya. Dan hal itu membuat Alvin berfikir,
apa sekarang sudah saatnya ia membongkar semuanya??
“BODOH!!
Masa gitu aja nyerah??! Dasar pecundang!!” cerca seseorang yang tiba-tiba saja
muncul dihadapan Alvin. Mendengar ada sebuah suara sumbang yang super tajam
menganggu indera pendengarnya, Alvin langsung mengangkat wajahnya dan melihat
seseorang yang baru saja mengeluarkan sindiran super dahsyatnya. Senyuman sinis
itu langsung menyambut Alvin. Kedua mata Alvin memicing, ia sedikit kaget
dengan kehadiran Gadis ini yang secara tiba-tiba muncul dihadapannya…
“Prissy…??”
BERSAMBUNG…



0 comments:
Post a Comment