Sebelumnya…
“Pa…
Papa? Re… REA???” ujar Cakka pelan.
Cakka kembali menutup pintu ruang
perawatan Via sebelum Edgar menyadari kehadirannya.
Cakka berjalan perlahan meninggalkan
ruang perawatan Via dengan perasaan yang tidak dapat terjelaskan oleh
kata-kata. Baru beberapa jam yang lalu ia menyatakan perasaannya pada Gadis
itu, tapi sekarang Cakka harus menerima sebuah kenyataan yang benar-benar
membuatnya terpuruk. Cakka berharap bahwa semua ini hanyalah sebuah kesalahan.
Cakka memegangi dadanya yang entah
kenapa terasa sesak. Pandangannya pun mulai mengabur seiring ia merasakan
matanya mulai menghangat. Cakka lalu bersandar pada salah satu pilar, kedua
lulutnya mulai melemas, dan ia merasa seluruh tulang-tulangnya seperti
dipresto. Saat ini Cakka benar-benar tidak memiliki daya untuk sekedar
menggerakan kakinya.
Air mata itu secara perlahan mulai
turun membasahi wajahnya. Ternyata Rea kecil yang selama ini ia cari begitu
dekat dengannya bahkan berada dalam jangkuannya. Cakka sangat menyesal karna
tidak bisa menyadari itu sejak awal.
‘SIVIA ANDREA PUTERI .A.’ Cakka baru
menyadari bahwa huruf ‘A’ yang tersemat dibelakang nama Via adalah kepanjangan
dari ‘ADHIRAJASA’ nama belakang Papanya sekaligus nama belakangnya sendiri.
Secara perlahan Cakka mendudukan
tubuhnya dilantai dengan suara isakkan tertahan, dan Cakka sama sekali tidak
peduli saat perhatian semua orang tertuju padanya dengan tatapan aneh.
Cakka berat mengakui ini, tapi
takdir benar-benar membuktikan bahwa Via adalah Rea, adik yang selama ini ia
cari. Seorang adik yang telah ia rebut kebahagiaan masa kecilnya juga masa
depannya.
“maafin
Kakak, Rea… maaf karna udah ngerusak kebahagiaan kamu selama ini dan bikin kamu
ngejalanin hidup yang bener-bener keras tanpa kehadiran seorang Ayah… Kakak
akan balikin semua yang udah Kakak rebut dari kamu… Kakak janji Andrea…..”
***
Part
15
“Maafkan
kejujuran ku walau menyakitkan
Dan
mungkin takkan bisa kulupakan
Hingga
akhir nanti…
Ku
lepaskan cinta ini ku rela berkorban
Tak
mengapa namun kau harus bahagia….”
(Sammy
Simorangkir ~ Kau Harus Bahagia)
Sebentuk
rasa bernama putus asa mulai menyeruak manakala kenyataan bahwa cinta terlarang
itu mulai terkuak kepermukaan dan mengendap bersama setumpuk rasa kecewa. Dan
disini, tempat dimana ia bahkan belum bisa memperjuangkan cintanya, ia
terlanjur menyerah pada keadaan, melepaskan semua perasaan itu terbang bebas ke
angkasa luas dan menyisakan berbuih-buih luka yang berserakan didada.
Maka disinilah ia berdiri sekarang,
terseok menanti kepastian akan hatinya, berusaha menahan sakit dan sesak itu
sendiri. Satu keyakinan yang selalu ia pegang teguh, bahwa dia yang senantiasa
ia cintai harus hidup penuh kebahagiaan meskipun luka itu menderanya tanpa ampun.
***
Sepulangnya
dari rumah sakit, Cakka langsung memasuki kamar milik Rea kecil yang selalu
mampu membuat perasaannya terasa jauh lebih baik. Cakka duduk dipinggir ranjang
Rea lalu meraih salah satu frame foto berukuran 4R. Dalam foto itu tampak
gambar Rea kecil yang sedang tersenyum manis dengan rambut panjangnya yang
terurai. Tangan Cakka yang gemetar perlahan terangkat lalu menyentuh foto itu.
Air mata itu masih belum mau surut sejak ia dirumah sakit tadi.
Rasa
sesal bercampur sesak menjelma menjadi satu dan seakan menyiksanya tanpa ampun.
Kenapa ia harus sebodoh itu? Kenapa ia bisa dengan mudahnya jatuh cinta pada
adiknya sendiri?
Sejak
mengenal Via 2 bulan yang lalu, Cakka memang sudah memiliki sebuah firasat
kalau Via memang adalah Rea. Tapi dengan egoisnya, Cakka menepikan semua rasa
itu dan mencari alasan-alasan lain yang membuatnya pada akhirnya jatuh cinta
pada Via yang ternyata adalah Andrea.
Cakka
lalu memeluk frame foto itu, mengeluarkan air matanya sebanyak mungkin bersama
seluruh rasa cintanya yang berusaha ia lepaskan.
‘ini adalah salah satu alasan, kenapa aku
dan kamu nggak pernah bisa bersatu, Via…’
Shanaz
–Mama Cakka- tiba-tiba saja memasuki kamar Rea saat ia melihat pintu kamar yang
sudah lama tidak berpenghuni itu sedikit terbuka. Awalnya Shanaz hanya berniat
untuk menutup pintu kamar itu, tapi Shanaz langsung mengubah niatnya ketika ia
melihat Cakka yang saat itu duduk sendirian ditepi ranjang Rea seraya memeluk
sebuah frame foto.
Shanaz
yang merasa ada yang tidak beres dengan Putera Semata Wayangnya itu pun
berjalan perlahan menghampiri Cakka lalu duduk disamping Cakka. Shanaz memegang
pundak Cakka lalu sedikit menunduk untuk bisa melihat wajah Cakka.
“Cakka…
kamu kenapa, sayang? Kamu nangis??” Tanya Shanaz sedikit cemas. Cakka menyeka
air matanya lalu menghela napas beratnya.
“apa
selama ini Mama sudah tau kalo Papa sudah nemuin Andrea?” ujar Cakka tiba-tiba.
Shanaz langsung terdiam. Selama ini ia memang sudah tahu kalau suaminya sudah
menemukan anak dari isterinya terdahulu, tapi Shanaz belum mempunyai cukup
keberanian untuk mengatakannya pada Cakka.
“kalau
Mama sudah tahu, kenapa Mama nggak pernah mau ngasih tau aku, Ma? Kenapa?” kali
ini Cakka menatap Mama nya dengan pandangan nanar. Dan seumur hidupnya, ini
baru pertama kalinya Shanaz melihat Cakka se-terluka ini.
“maafkan
Mama, Nak… tapi Mama nggak cukup berani buat mengatakan yang sebenarnya sama
kamu” ujar Shanaz penuh dengan rasa sesal. Ia pun hanya bisa menunduk tanpa
berani menatap kedua mata Cakka.
“Mama
sadar nggak sih apa akibat dari ketidakberanian Mama itu?”
Kali
ini Shanaz mengangkat wajahnya, ia terlihat seperti ingin menjelaskan sesuatu
pada Cakka, tapi Cakka seakan tidak memberikannya kesempatan sama sekali.
“aku
jatuh cinta sama adik aku sendiri, Ma… aku jatuh cinta sama Andrea….”
“apa??
Ta… tapi ba… bagaimana bisa??” Tanya Shanaz dengan terbata-bata.
Cakka
tersenyum miris seraya mengangguk beberapa kali. Ia lalu bangkit dari sisi Shanaz
dan berjalan perlahan kearah balkon kamar Rea.
“Mama
pikir aku tahu bagaimana aku bisa jatuh cinta sama Andrea, aku juga nggak tau
Ma, aku juga nggak tau… seandainya sejak awal aku tahu kalo dia adik aku,
mungkin aku… mungkin aku nggak akan pernah, hhh –“ sekali lagi Cakka menghela
nafas beratnya, ia tidak tahu bagaimana harus melanjutkan perkataannya.
Semuanya terlalu berat untuk Cakka. Dan air mata itu kembali turun secara
perlahan. Kali ini Cakka sudah benar-benar putus asa.
“sayang
dengerin Mama…” Shanaz bangkit dari tepi
ranjang Rea lalu berjalan menghampiri Cakka yang berdiri dibalkon. Shanaz
memegang kedua sisi wajah Cakka seraya berusaha keras menahan luapan air
matanya yang sejak tadi tertahan sempurna dikedua pelupuk matanya.
“kamu
jatuh cinta sama Andrea itu bukan sebuah kesalahan, Nak… Cuma mungkin
keadaannya yang salah”
Cakka
menggeleng berkali-kali, berusaha menolak penjelasan Mamanya. Cakka lalu
menurunkan kedua tangan Mamanya dari wajahnya.
“sejak
awal semuanya memang udah salah, Ma. Cakka lahir kedunia ini saja dan merebut
semua kebahagiaan Andrea itu adalah sebuah kesalahan besar, Ma. Harusnya Cakka
nggak pernah ada, harusnya Cakka nggak pernah lahir ke du –“
PLAAAK!
Sebuah tamparan dari tangan Shanaz mendarat tepat dipipi sebelah kanan Cakka
sebelum Cakka menyelesaikan perkataanya. Cakka menyentuh pipinya dan secara
perlahan menatap Sang Mama yang ketika itu sudah berurai air mata.
“kamu
tahu, Kka? Ucapan kamu barusan bener-bener melukai perasaan Mama, Nak… Mama
sakit dengan ucapan kamu itu. Kamu adalah harta paling berharga yang pernah
Mama punya, tapi kamu dengan mudahnya mengatakan bahwa kamu seharusnya nggak
pernah ada. Kamu adalah kekuatan Mama, Nak…”
“Ma…”
“Mama
minta maaf karna sejak awal Mama nggak ngasih tau kamu tentang semua ini, tapi
Mama Cuma mau menjaga perasaan kamu, Nak… Mama nggak mau kamu terluka. Sudah
cukup Mama yang melakukan kesalahan dimasa lalu, dan Mama nggak mau kamu
ikut-ikutan terseret dalam kesalahan yang Mama lakukan. Kamu cukup hidup buat
Mama, itu semua sudah lebih dari cukup, Nak… Mama nggak minta banyak dari
kamu…”
“tapi
disini rasanya sakit Ma…” ujar Cakka seraya memegangi dadanya sendiri. Kali ini
Cakka membiarkan isakkannya pecah.
“sakit
rasanya saat untuk pertama kalinya Cakka jatuh cinta dalam hidup Cakka, tapi
Cakka harus menerima kenyataan bahwa Gadis yang merupakan cinta pertama Cakka
itu ternyata adik Cakka sendiri. Sakit rasanya saat Cakka tahu kalau ternyata
perasaan yang Cakka punya ini hanya sebuah perasaan cinta terlarang yang nggak
seharusnya terjadi… terus Cakka harus gimana setelah ini, Ma? Gimana Cakka
harus menjelaskan semuanya pada Via, Ma… gimana?”
Shanaz
lebih mendekati Cakka lalu membawa Cakka kedalam pelukan hangatnya. Shanaz
membelai lembut rambut Cakka, berusaha memberikannya kekuatan agar ia tetap
bisa bertahan dan berdiri dengan tegak. Shanaz lalu menepuk punggung Cakka
beberapa kali lantas berkata,
“tidak
ada yang salah dengan cinta, Nak… yang salah hanya keadaannya saja… percaya
sama Mama….”
“Cakka
sayang sama Andrea, Ma…. Cakka sangat mencintai dia. Lebih dari apapun itu,
Cakka mau dia jadi milik Cakka, Ma…. Cakka harus bagaimana sekarang, Ma…? Cakka
harus bagaimana? Hiks…”
***
“Manusia
dapat hidup normal hanya atau cukup dengan 1 ginjal yang fungsional. Seseorang
juga dapat beraktivitas seperti sebelum mendonorkan ginjalnya. Akan tetapi,
untuk menjaga agar satu-satunya ginjal yang ada tidak mengalami kejadian yang tidak
diinginkan, kamu perlu menghindari olahraga keras dan yang terpenting, kamu
juga tidak boleh terlalu lelah, Alvin…”
Perkataan
dari Dokter Aninda –Yang tidak lain dan tidak bukan adalah Tantenya- itu
berkelebat dikepala Alvin dan kembali melemparkannya pada posisi dilematis. Jika nanti ia
mendonorkan ginjalnya pada Via, itu artinya ia akan kehilangan separuh
hidupnya. Alvin menghela napas beratnya. Ia menatap Via untuk beberapa saat
yang ketika itu masih sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri. Tangan kanan
Alvin terangkat secara perlahan lalu mendarat tepat dipuncak kepala Via. Sore
tadi Dyna menelponnya dan mengabarkannya bahwa Via sedang dirawat dirumah
sakit. Alvin yang merasa cemas dengan kondisi Via itu langsung bergegas pergi
kerumah sakit.
Dan
disinilah Alvin sekarang, menyaksikan Via yang sedang memejamkan matanya dan
terlelap dalam napasnya yang teratur. Tidak, kenapa Alvin masih harus berfikir
dua kali untuk mendonorkan ginjalnya pada Via? Memang sudah seharusnya Alvin
melakukan hal itu tanpa perlu berfikir. Bukankah Alvin begitu menyayangi Via
dan ingin melihat Via sembuh?
Alvin
tidak peduli jika ia harus memberikan separuh hidupnya untuk Via. Jangankan
separuh hidupnya, Alvin bahkan rela memberikan seluruh hidupnya untuk Gadis ini
jika diperlukan.
Alvin
menunduk dalam sambil mengenggenggam lembut jemari tangan Via. Apapun akan
Alvin lakukan asalkan dia tidak kehilangan Via. Itu janjinya dalam hati.
Tahu-tahu
Alvin merasakan tangan Via yang terbungkus oleh tangannya bergerak secara perlahan.
Alvin yang kaget langsung mengangkat wajahnya dan melihat kearah Via.
Dan
akhirnya setelah hampir selama 4 jam tidak sadarkan diri, Viapun membuka matanya.
Dan orang pertama yang Via lihat adalah Alvin.
“Vi…
Via…? Kamu udah sadar??” kata Alvin yang akhirnya bisa menghela napas lega.
“A…
Alvin…” panggil Via dengan susah payah. Kondisinya masih terlalu lemah setelah
hampir selama 5 jam ia tidak sadarkan diri.
“aku
panggilin Dokter Aninda, ya? Kamu tunggu disini!”
Tepat
saat Alvin akan melangkah pergi, Via buru-buru mencekal pergelangan tangannya.
Alvin langsung menoleh kearah Via dan menatapnya dengan pandangan heran.
“jangan
pergi” pinta Via seraya menggelengkan kepalanya.
“ta…
tapi…”
“gue
mohon jangan pergi…” pinta Via sekali lagi. Alvin akhirnya luluh dan kembali
duduk disamping Via.
Selama
beberapa menit kedepan, baik Alvin maupun Via sama-sama terdiam. Mereka juga
sama-sama tidak tau harus mengatakan apa setelah tadi siang mereka resmi putus.
“Alvin…
maafin gue ya? Gue janji, nanti saat gue udah bisa masuk sekolah, gue akan
bersikap seolah-olah gue udah dicampakkin sama lo, biar reputasi lo nggak
rusak, Vin. Gue juga akan bilang kesemua, kalo sebenernya elo yang mutusin gue,
gue –“ Alvin yang paham akan kemana arah pembicaraan Via langsung menggelengkan
kepalanya beberapa kali seraya tersenyum penuh kerelaan sebelum Via
menyelesaikan ucapannya. Ia hanya ingin menunjukan pada Via bahwa ia selalu
baik-baik saja, meskipun sebenarnya hatinya sama sekali tidak demikian.
“nggak
apa-apa, Via… lo nggak perlu ngelakuin hal bodoh itu Cuma untuk nyelametin
reputasi gue, beneran deh… dan toh kita masih bisa jadi temen kan?”
Via
mengangguk beberapa kali, menyetujui dengan apa yang baru saja Alvin ucapkan.
“gimana
keadaan lo sekarang? Apa yang lo rasain?” Tanya Alvin sehati-hati mungkin dan
berusaha mengalihkan arah pembicaraan tadi.
“gue
nggak apa-apa kok, Vin… udah lama sih gue menderita penyakit usus buntu, dan
penyakit gue emang kadang-kadang suka kambuh…” ujar Via berbohong yang sejujurnya
hanya ingin menyembunyikan penyakitnya dari Alvin. Tapi percuma saja Via
berbohong seperti itu, karna toh Alvin sudah mengetahui penyakit gagal ginjal
yang ia derita jauh hari sebelum hari ini.
Alvin
mengangguk, pura-pura mempercayai ucapan Via itu. Alvin juga tidak ingin Via
tahu bahwa sebenarnya dia lah yang nantinya akan mendonorkan ginjalnya untuk
Via.
“terus
kapan lo akan operasi?” ada sedikit getaran dalam nada bicara Alvin, tapi Alvin
mati-matian menyembunyikannya. Ia juga berusaha keras menahan agar air matanya
tidak terjatuh walaupun itu hanya setetes saja.
“gue
nggak tau. Dokter Aninda yang tau…”
“lo
harus operasi secepetnya ya? Dan lo harus janji sesuatu sama gue…”
“apa?”
Tanya Via singkat seraya menatap dalam ke manik mata Alvin.
“lo
harus sembuh. Lo harus baik-baik aja…”
Via
mengangguk beberapa kali sambil mengulas senyuman termanis yang pernah ia
miliki.
“pasti…”
Merasa
tidak tahan lagi dengan segala kebohongan yang tercipta diantara mereka, Alvin
pun memutuskan untuk keluar dari ruang perawatan Via. Tapi sebelum keluar,
Alvin sempat pamit pada Via.
“Vi…
gue ke toilet bentar ya?”
Via
hanya mengangguk. Alvin segera bergegas keluar dari ruang perawatan Via. Setibanya
diluar Alvin langsung menumpahkan habis tangisannya. Rasanya sesak bercampur
pedih. Jika bisa, Alvin ingin menggantinkan posisi Via sekarang ini. Dan jika
bisa, Alvin juga mau semua kesakitan yang Via derita saat ini ditanggung
sepenuhnya oleh Alvin. Alvin tidak kuat melihat Via seperti itu, dan Alvin
sakit saat setiap waktu Via selalu berusaha membohonginya demi menyembunyikan
sakit yang ia derita.
“gue
janji lo akan sembuh, Vi… apapun akan gue lakuin demi lo termasuk itu
memberikan separuh dari hidup gue buat lo…” ujar Alvin dengan isakkan
tertahannya.
Beberapa
detik setelah kepergian Alvin, Via langsung meneteskan air mata yang memang
sejak tadi ia tahan. Ia sedikit merasa bersalah karna telah membohongi Alvin.
Via lalu menyeka air matanya dan berusaha tersenyum.
“kalo aja gue bisa buat permohonan, gue Cuma
mau memohon supaya gue bisa menyayangi lo seperti lo menyayangi gue Alvin… kalo
aja gue bisa….” Lirih Via pelan.
***
“Alvin”
panggil Pricilla saat Alvin baru saja selesai mengusap air matanya dan
bersiap-siap untuk hengkang dari ruang perawatan Via.
“apa?”
jawab Alvin seadanya,
Pricilla
berjalan mendekati Alvin seraya menatap Alvin dengan pandangan yang penuh
dengan ketidak sukaan. Sementara Alvin, ia hanya bisa membalas tatapan Pricilla
itu dengan pandangan bertanya.
“tell me, bener elo yang donorin ginjal
buat Via?”
Alvin
terdiam untuk beberapa saat dan mulai berfikir darimana Pricilla tau tentang
semua ini. Tidak lama Alvin lalu menghela napas panjangnya dan menatap mata
Pricilla dalam,
“dari
mana lo tau?!”
“berarti
bener elo yang donorin?”
“Priss
–“
“you can't do that, Alv! you can't, apa
lo pernah berpikir itu artinya apa?” ada getaran dalam nada bicara Pricilla itu.
Ia hanya takut sesuatu yang buruk akan menimpa Alvin setelah nanti ia
mendonorkan ginjalnya untuk Via, Pricilla hanya mencemaskannya.
Alvin
menunduk lalu mengangguk. Ia tahu, bahkan sangat tahu resiko apa yang nantinya
akan ia terima, tapi Alvin sudah siap dengan semuanya. Toh ia tidak akan peduli
pada apapun jika itu menyangkut Via, seseorang yang selama beberapa tahun
terakhir ini menjadi penguasa tunggal hatinya.
“kalo
lo tau kenapa lo lakuin??” kata Pricilla sedikit tak sabar.
“but I will not die, Priss. Lo nggak perlu takut, trust me, everything will be fine.
Gue Cuma butuh support dan kerja sama dari lo, itu aja”
“kerja
sama apa maksud lo?” tanya Pricilla sedikit bingung.
Alvin
mengusap wajahnya, ia berusaha bersikap setenang mungkin lalu memegang kedua
pundak Pricilla.
“tolong
lo jangan kasi tau siapapun. Yang tahu masalah ini Cuma gue, elo dan Tante
Aninda. Gue mohon banget kerja sama lo disini, Priss… dan satu hal yang harus
lo tau, I believe in you…” kata
Alvin penuh kesungguhan.
“ta…
tapi…”
“please…
gue Cuma mau ngelakuin sesuatu buat Via, dan gue ingin bener-bener ngerasain
gimana rasanya berkorban buat orang yang gue sayang. Ini baru separuh hidup gue
yang gue kasih ke Via, malah kalo lo mau tau, gue rela ngasih seluruh hidup gue
buat dia, Cuma buat dia… gue bener-bener sayang sama Via, Priss… gue
bener-bener sayang sama dia…”
Pricilla
berusaha keras menahan air matanya agar tidak terjatuh setetes pun. Sekuat
apapun ia meyakinkan dirinya untuk tidak cemburu, tapi tetap saja ia tidak
bisa. Dan akan sangat munafik kedengarannya jika Pricilla mengatakan bahwa ia
tidak cemburu sama sekali. Rasa cemburu itu seakan membakar jantungnya.
Pricilla tidak habis pikir, kenapa Alvin begitu menyayangi Via dan rela
melakukan apapun demi Via. Andai Pricilla yang berada dalam posisi Via saat
ini, apa Alvin juga akan melakukan hal yang sama?
Pricilla
mengigit bibir bagian bawahnya agar isakan itu tidak terdengar. Pricilla
menyentuh tangan Alvin yang masih berada diatas kedua pundaknya, tidak lama
kemudian, Pricilla pun akhirnya menurunkan kedua tangan itu dari pundaknya.
“up to you” ujar Pricilla putus asa.
Pricilla
lalu pergi dari hadapan Alvin tanpa berkata apapun. Sekarang terserah Alvin mau
melakukan apapun itu, Pricilla tidak ingin menghalanginya. Pricilla juga tidak
boleh egois, ini jalan satu-satunya supaya Via bisa sembuh kembali. Pricilla
harus bisa ikhlas.
***
Seingat Via tadi
Cakka yang membawnya kerumah sakit, tapi kenapa hingga sekarang Cakka tidak
menampakkan batang hidungnya dihadapan Via. Kemana Cakka? Via tidak
henti-hentinya bertanya tentang keberadaan Cakka. Via juga sudah beberapa kali
mencoba menghubunginya, tapi Cakka malah tidak mengangkat telfonnya. Via mulai
gusar, apa Cakka baik-baik saja?
Via
sedikit terkejut saat tiba-tiba Dyna dan Dokter Aninda memasuki ruangannya.
Mereka berdua menghampiri Via dan berdiri disamping kiri dan kanan Via.
“apa
yang kamu rasakan sekarang, Vi?” Tanya Dokter Aninda yang hendak memastikan
keadaan Via saat ini.
Via
tersenyum lalu menggeleng pelan,
“saya
ngerasa udah baikan kok, Dok… rasa nyeri dipinggang saya juga udah ilang” ujar
Via dengan mantap. Dyna dan Dokter Aninda hanya bisa tersenyum seraya
menggumamkan kata syukur.
“oya,
Vi… Tante ada kabar gembira buat kamu”
“kabar
apa, Tan?”
Sebelum
menjawab pertanyaan Via, Dyna sempat melirik sejenak kearah Dokter Aninda yang
saat itu sedang melempar senyum kearahnya, Dyna pun mengangguk lalu menyentuh
pundak Via.
“kamu
udah dapet pendonor ginjal, dan besok kamu udah bisa ngelakuin operasi sayang”
“Tante
yang bener??” Tanya Via antusias. Kali ini Via sudah tidak bisa lagi
menggambarkan rasa bahagia serta harunya. Bahkan saking terharunya, air matanya
sampai terjatuh membasahi wajahnya.
Dyna
hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Via tadi . Via yang sudah tidak bisa lagi menahan segala
luapan perasaannya langsung menghambur kedalam pelukan Tantenya.
‘kamu sangat beruntung Via karna
dicintai oleh orang setulus Alvin….’ Bathin Dokter Aninda
seraya membelai lembut rambut Via yang ketika itu sedang tenggelam dalam luapan rasa
bahagianya.
***
Cakka
hanya memandangi ponselnya tanpa melakukan apapun. Sudah 5 kali Via mencoba
menghubunginya, tapi hingga 5 kali juga ia tidak merespon panggilan itu. Bukan
keinginannya untuk menghindar dari Via seperti ini, tapi kenyataan yang saat
ini tengah ia hadapi benar-benar harus membuatnya mundur secara perlahan dari
perasaan cintanya pada Via. Ia tidak mungkin bisa mencintai Via selamanya.
Kali
ini ponsel milik Cakka bergetar menandakan ada sebuah pesan singkat yang masuk
ke nomornya. Cakka lalu meraih ponselnya dan membuka pesannya,
======================
From:
VIA
Kamu
kemana aja?
Aku
nyariin kmu saat aku
Buka
mata tadi. Tapi dimana pun
Kamu
skrg, aku Cuma mau ngucapin
Makasih
sama kamu :)
======================
Cakka
berusaha keras melawan keinginanya untuk tidak membalas pesan singkat itu. Bagi
Cakka, menghindari Via adalah jalan terbaik satu-satunya yang bisa ia lakukan
saat ini. Tapi hal yang menurutnya adalah jalan terbaik satu-satunya justru
melemparkannya pada posisi paling menyesakkan seumur hidupnya. Tidak mudah bagi
Cakka berada dalam posisi ini. Posisi yang ia tahu adalah posisi yang paling
sulit dalam hidupnya, posisi yang ia tahu akan selalu menyakitkannya disetiap
helaan nafas nya, posisi yang ia tahu akan selalu mengguratkan luka didinding
hatinya pada setiap menitnya.
Tapi
Cakka lebih sakit lagi saat harus menerima kenyatan bahwa ini hanya jalan
satu-satunya dan ia harus melaluinya.
Cakka
lalu menghela napas panjangnya, dan entah kenapa itu justru semakin mengundang
rasa perih dihatinya. Kenapa kenyataan yang ia hadapi harus seberat ini? Jika
bisa ia berlari dan menghindari diri dari kenyataan ini, mungkin sudah sejak
lama Cakka akan melakukannya.
Dan
saat Cakka sudah tidak bisa lagi menahan segala bentuk rasa sakit yang
menderanya, Cakka pun melemparkan ponsel malang itu dengan kasar ke lantai
hingga ponsel itu hancur. Cakka mengacak rambutnya frustasi lantas berteriak
sekeras mungkin,
“AAAAAAAAAAA………”
Shilla
yang sedari tadi memperhatikan Cakka dari depan kamarnya secara diam-diam hanya
bisa memegangi dadanya menahan sesak yang menyiksa. Shilla tau persis apa yang
Cakka rasakan saat ini. Dan Shilla dapat mengerti semuanya sebagaimana ia
berusaha mengerti Cakka selama ini.
Shilla
lalu melepaskan cincin pertunangannya dengan Cakka yang masih tersemat dengan
manis di tangannya. Shilla menggenggam erat-erat cincin itu dan telah mengambil
sebuah keputusan terberat seumur hidupnya. Dan Shilla berusaha meyakini hatinya
bahwa semuanya akan tetap berjalan baik-baik saja setelah hari ini.
Sekarang
saatnya lah bagi Shilla untuk melepaskan ikatan ini.
***
PLAAKK!
Sebuah tamparan yang cukup keras dihadiahkan oleh Pak Duta tepat dipipi sebelah
kanan Alvin. Alvin memegangi pipinya dan berusaha menahan rasa perih dari luka
yang sudah tercetak dengan sempurna ditepi bibirnya. Alvin memejamkan matanya,
berusaha menahan sesak didadanya. Kali ini salah apa lagi yang ia lakukan
hingga membuat Papi nya marah seperti ini? Apa Papi nya sudah tahu kalau ia telah
mengeluarkan Cakka dari D’CRAG? Kalau memang itu alasannya, rasanya sangat
janggal mengingat selama ini Papi nya tidak pernah mau tahu dengan segala
urusan menyangkut D’CRAG.
“Kamu
benar-benar sudah tidak punya otak lagi, Alvin Joshua Aryadinata…” ujar Pak
Duta dingin. Tapi Alvin tetap memilih bergeming dan menyimak semua perkataan
Papinya. Bukan karna Alvin tidak mau melawan, tapi ia hanya merasa bahwa ia
sudah tidak memiliki daya apapun lagi untuk melawan.
“kamu
mendonorkan ginjal mu untuk seorang Gadis yang sama sekali tidak jelas
asal-usulnya, kamu mau jadi apa? HAH?” Bentak Pak Duta yang sudah benar-benar
murka.
Alvin
yang sangat terkejut bagaimana cara Papi nya mengetahui semua itu langsung
menatap Papinya.
“da…
darimana Papi tau?”
“jangan
kamu pikir Papi tidak pernah mengawasi segala tindak tanduk kamu selama ini,
dan jika kamu berpikir kamu bisa mengelabui Papi, kamu salah besar. Dari semua
‘KEJUTAN’ yang sudah kamu berikan sama Papi, ini ‘KEJUTAN’ paling mengharukan
bagi Papi”
“Papi…”
“kamu
batalkan sendiri pendonoran ginjal itu atau Papi yang akan turun tangan
langsung untuk membatalkannya?”
“Papi
nggak bisa gitu dong, Pi… Via butuh banget ginjal Alvin untuk tetap bisa
bertahan hidup…”
“ooo…
jadi namanya Via?”
“Papi….”
“Papi
sudah tidak mau denger apa-apa lagi dari kamu. Dan Papi tidak mau tau, besok,
Papi harus sudah menerima kabar dari kamu kalau kamu sudah membatalkan
pendonoran ginjal itu!”
Final.
Itu adalah keputusan akhir yang bersifat mutlak dari Pak Duta, dan siapapun
itu, termasuk Alvin tidak akan pernah bisa mengubahnya. Pak Duta lalu berbalik
dan pergi meninggalkan Alvin sendirian diruang keluarga. Tapi tepat saat Pak
Duta akan melangkahkan kakinya menaiki anak tangga, Alvin langsung bertekuk
lutut dilantai lalu kembali buka suara dan membuat langkah Pak Duta terhenti.
“mulai
sekarang, aku akan ikutin semua kemuan Papi tanpa terkecuali, aku juga akan
melepaskan semua impian dan cita-cita aku demi mengikuti keinginan Papi yang
menginginkan aku untuk menjadi seorang Dokter mengikuti jejak Opa. Aku akan
lepaskan semua demi Papi, tapi tolong, untuk sekali ini saja ijinkan aku
menyelamatkan Via… aku rela kehilangan apapun termasuk impian aku, tapi tidak
dengan Via… tidak hanya itu, mulai detik ini aku akan mengikuti semua kemuan
Papi, aku akan benar-benar jadi penurut sama Papi seperti Cakka yang selalu
penurut dengan Papa nya. Dan jika Papi mau, aku akan menjadi seperti Cakka…”
Pak
Duta menatap Alvin dengan salah satu alis terangkat. Ia tidak pernah berfikir sebelumnya
bahwa Alvin akan rela memohon sampai bertekuk lutut seperti ini hanya demi
seorang Gadis bernama Via itu. Pap Duta menganggukan kepalanya beberapa kali
lalu melontarkan sebuah pertanyaan untuk Alvin,
“kamu
sangat mencintai dia?”
Kali
ini Alvin terdiam, bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan yang dilemparkan
oleh Papinya. Pak Duta yang bisa menangkap dengan sangat jelas respon yang
Alvin berikan langsung tersenyum sinis. Dari air muka Alvin saja, Pak Duta
sudah tahu jawaban dari pertanyaannya itu.
“oke,
kamu boleh mendonorkan ginjal mu untuk gadis itu, tapi Papi punya satu syarat
untuk kamu disamping semua apa yang sudah kamu lepaskan tadi….”
“apapun
syaratnya akan aku penuhi…” ujar Alvin mantap tanpa perlu berfikir. Tapi itu bukan
karna Alvin tidak mau berfikir lagi, melainkan karna Alvin sudah tidak punya
pilihan lain lagi.
***
Keesokan
harinya, Ruang Operasi…
Alvin
yang sedang terbaring diatas meja operasi melihat keatas langit-langit dengan
pandangan menerawang jauh. Hari ini Alvin akan kehilangan salah satu organ
tubuhnya yang bisa dibilang memiliki peran yang cukup vital. Dan setelah
operasi selesai, aktifitas yang akan Alvin lakukan mungkin tidak sebanyak dulu.
Ia juga mungkin akan menjalani kehidupan yang berbeda dengan satu ginjal yang
ia miliki dan hidup diatas keterbatasan-keterbatasan yang telah ditentukan.
Tapi Alvin telah siap menerima segala resiko itu. Bukankah ia sendiri pernah berkata
bahwa ia rela memberikan separuh hidupnya untuk Via, dan jika diperlukan Alvin
akan memberikan seluruh hidupnya untuk Gadis itu, hanya untuk gadis itu.
Sekarang
Alvin telah melepaskan segalanya, impiannya, cita-citanya, kebebasannya, juga
separuh hidupnya. Dan Alvin rela melakukan semua itu hanya demi Via. Alvin
tersenyum kecil, dalam hati ia berharap semoga pengorbanannya ini akan menjadi
pengorbanan termanis yang pernah ia lakukan.
Alvin
menoleh kesamping, dan disana ia sudah mendapati Via yang saat itu sudah
terbaring diatas meja operasi dalam keadaan tidak sadarkan diri. Tanpa bisa
Alvin tahan, sebulir air mata itu menetes keluar. Air mata itu bukanlah air
mata penyesalan, melainkan air mata bahagia.
Alvin
lalu secara perlahan mengangkat tangan kanannya lalu meraih tangan Via yang
jaraknya tidak terlalu jauh. Alvin menggenggam lembut tangan itu, dan entah
kenapa, saat tangan kokohnya menggenggam lembut jemari-jemari itu, Alvin merasakan
sebuah ketenangan dan kedamaian.
“kamu
siap, Alvin?” Tanya Dokter Aninda untuk yang terakhir kalinya.
Alvin
mengangguk pasti seraya menggumamkan kata “Iya”. Dokter Aninda tersenyum kecil
lantas menyuntikkan obat bius pada tubuh Alvin. Beberapa detik kemudian, efek
obat bius mulai bekerja hingga membuat Alvin tidak sadarkan diri lagi.
BERSAMBUNG….



0 comments:
Post a Comment