Wednesday, February 19, 2014

0

You’re Mine [Part 12:Girlfriend And ex-Girlfriend]












Sebelumnya…


“hay Alvin!” sapa Pricilla dingin seraya melambaikan tangannya. Ia berusaha bersikap sewajar mungkin dan terlihat se-antagonis mungkin dihadapan pria ini.
                      
            “hay juga… ummmm… lo kenal gue?”

            Pertanyaan yang Alvin lontarkan itu sukses membuat Pricilla merasa seperti dilempar dari lantai 17. Air muka Pricilla yang tadinya memancarkan kesan angkuh kini perlahan meredup. Dari dulu Alvin memang selalu tahu bagaimana cara menghempaskannya.

            “oooo… lo Queen… hmmm… Queensha Apricilia yang katanya mantan gue itu ya? By the way, lo mantan gue yang keberapa?” Tanya Alvin tanpa sedikitpun merasa berdosa. Tapi memangnya mau bagaimana lagi? Alvin benar-benar lupa.

            “gue Queenshara Apricilla, bukan Queensha Apricilia. Dan gue pacar pertama lo!” ujar Pricilla sinis lalu berjalan melewati Alvin dengan perasaan yang benar-benar keki. Apa begini cara Alvin menyambutnya setelah hampir selama 2 tahun lamanya mereka tidak pernah bertemu? Apa Alvin hanya pura-pura melupakannya untuk menyakitinya lagi? Benar-benar tidak bisa dimaafkan.


            “Queenshara Apricilla? Pacar pertama gue??” Tanya Alvin pada dirinya sendiri dengan raut wajah yang benar-benar terlihat bodoh.


***

Part 12


            Pertemuan demi pertemuannya yang terjadi secara beruntun dengan beberapa orang dari masa lalu membuat pertahanan itu sedikit demi sedikit akhirnya runtuh. Hati yang sudah sejak lama hacur dan sedikit demi sedikit tertata kembali juga lagi-lagi hancur bahkan remuk hanya dalam sekejab mata.
            Semua yang sedikit demi sedikit itu kini akhirnya berubah semu, membentang kemustahilan yang menyeruak diantara senja yang menggoreskan jingga.
            Ia yang selama ini tegar bagaikan sebentuk karang yang berdiri angkuh ditepi lautan luas dengan menantang kini secara perlahan terkikis oleh deburan ombak yang menghempas setiap menitnya. Dan saat deburan ombak itu mulai surut ketika sang kegelapan memanggil dan mulai menyelimuti setiap denyut kehidupan, ia terlempar kembali pada sebuah kenyataan yang menyakitkan.
            Mungkin sudah saatnya ia melepaskan semua dan berhenti berpura-pura tegar selayaknya karang yang sebenarnya amat rapuh. Ini saatnya ia keluar dari persembunyian dan mulai mencoba berdamai dengan kenyataan.
            Inilah kehidupan yang seharusnya dia hadapi dengan anggun selayaknya senja yang jingga dan bukan dengan angkuh selayaknya karang yang rapuh dan gampang terkikis…



***

            “Gagal ginjal yang Andrea derita sudah mencapai tingkat gagal ginjal kronis atau yang dalam bahasa Kedokterannya disebut Chronic Kidney disease. Ini adalah proses kerusakan ginjal dalam rentang waktu lebih dari 3 bulan” terang Dokter Aninda dengan raut wajah yang benar-benar menyesal. Sementara Dyna yang mendengarkan penjelasan dari Dokter Aninda itu berusaha bersikap setenang mungkin. Beberapa tahun yang lalu ia juga pernah mendengar vonis yang sama untuk Kakaknya. Dyna memang sangat terpukul saat vonis itu harus terulang kembali pada keponakan kesayangannya, tapi keadaannya sekarang mengharuskan Dyna untuk tetap kuat.
            Dyna melirik sejenak kearah Via yang ketika itu duduk disampingnya. Via hanya menunduk dalam tanpa mampu mengucapkan sepatah katapun. Lidahnya terlanjur kelu saat Dokter Aninda membeberkan semuanya didepan Dyna.
            Dokter Aninda menghela napas panjang sebelum akhirnya melanjutkan penjelasannya yang mungkin akan semakin memperburuk keadaan. Tapi mau tidak mau, Dokter Aninda harus tetap menyampaikan semuanya.
            “tidak ada pengobatan khusus untuk memperlambat memburuknya penyakit ginjal kronis. Penyakit ginjal kronis parah yang dialami Andrea memerlukan salah satu bentuk terapi penggantian ginjal, ini mungkin merupakan bentuk cuci darah atau dialysis, tetapi idealnya merupakan transplantasi ginjal”
            “jadi intinya Andrea butuh pendonor ginjal?” Tanya Dyna langsung tanpa basa-basi apapun, sementara Via, ia tetap bergeming dan menunduk.
            Dokter Aninda menatap Via sekilas lalu setelahnya ia mengangguk menyetujui ucapan Dyna barusan. Dyna memejamkan kedua matanya sejenak, sebulir air matanya terjatuh dan membasahi wajahnya.
            “kalo begitu ambil ginjal saya, Dokter… lakukan apa saja supaya keponakan saya bisa sembuh, lakukan apa saja supaya keponakan saya bisa dapat bertahan hidup, say –“
            “aku lebih baik mati karna penyakit ini daripada aku harus ngelihat Tante hidup dengan organ tubuh yang tidak lengkap…” sela Via sebelum Dyna menyelesaikan ucapannya. Via lalu bangkit dari tempat duduknya dan keluar dari ruangan Dokter Aninda tanpa pamit sama sekali. Via sudah cukup merasa sesak berada dalam ruangan itu dan mendengar vonis-vonis mematikan yang Dokter Aninda ucapkan.
            Dyna dan Dokter Aninda menatap kepergian Via dengan tatapan sedih. Mungkin mereka tidak bisa merasakan apa yang saat ini Via rasakan, tapi setidaknya mereka mengerti bahwa berada dalam posisi saat ini sangatlah tidak mudah.
            Tidak lama kemudian, Dyna kembali mengalihkan tatapannya pada Dokter Aninda. Sorot mata Dyna seakan memancarkan permohonan yang sangat ingin terkabulkan.
            “saya mohon Dok… tolong saya. Saya hanya ingin Andrea tetap hidup. Jangankan ginjal saya, saya bahkan rela menyerahkan hidup saya untuk Andrea, Dokter, saya mohon… dulu saya pernah kehilangan Kakak saya karna penyakit gagal ginjal, dan sekarang saya tidak mau kehilangan keponakan saya karna penyakit yang sama Dokter, saya tidak mau….” Ucap Dyna dengan nada bicara yang terdengar sedikit bergetar. Ia bahkan mati-matian menahan Kristal-kristal bening itu agar tidak berdesakan keluar. Dyna harus kuat bagaimanapun keadaannya sekarang. Karena jika ia lemah dan akhirnya lengah, hal itu tentu akan sangat berdampak buruk bagi Via.
            “Ibu Dyna, tidak semua orang dan tidak sembarangan orang bisa menjadi pendonor ginjal, meski keluarga dan sedarah sekalipun. Akan ada beberapa tahap pemeriksaan yang harus dilakukan, jika hasil pemeriksaannya menunjukan kecocokan, maka baru transplantasi ginjal bisa dilakukan”

            “kalau begitu lakukan pemeriksaan itu terhadap saya secepat mungkin!” ujar Dyna dengan yakin dan tegas.





***


            Pricilla dan Shilla duduk berhadapan dikantin sambil menikmati makanan mereka masing-masing. Bedanya Shilla dengan begitu lahapnya memakan makanan pesanannya. Sementara Pricilla, sejak pesanannya datang, yang ia lakukan malah mengucek-ucek makannya tanpa sedikitpun berniat memakannya.
            Shilla mengangkat wajahnya lalu menatap Sahabat lamanya yang kini telah kembali itu dengan pandangan penuh tanda Tanya. Dulu sebelum pindah ke LA atau tepatnya saat ia duduk dibangku SMP, Pricilla begitu dekat dengan Shilla, Agni, dan Ify yang tidak lain dan tidak bukan adalah sepupunya sendiri. Shilla melepaskan sendok beserta garpunya, ia lalu melipat kedua tangannya diatas meja dan mulai membuka suara,
            “lo kenapa, Priss? Ini kan hari pertama lo kembali kesekolah setelah 2 tahun hibernasi di LA, tapi sekarang kenapa setelah balik lo malah kayak gini? There was a problem?” Tanya Shilla penasaran.
            Pricilla membalas tatapan Shilla dengan muka ditekuk. Dan dari wajah Pricilla yang seperti itu, Shilla bisa membaca dengan sangat jelas bahwa sahabatnya ini telah ketiban masalah dihari pertamanya kembali kesekolah. Pricilla menggeleng pelan. Shilla tersenyum kecil lantas berkata,
            really? Gue siep jadi pendengar kok kalo emang lo lagi ada masalah…”
            Sekali lagi Pricilla menggeleng. Ia bukannya tidak mau menceritakan masalahnya pada Shilla. Tapi ia hanya sedikit malu jika harus membongkar aib nya sendiri –setidaknya itu menurut Pricilla-
            I don’t believe you. Dan lo harus tahu, kalo lo bukan seorang pembohong yang baik” kata Shilla dengan nada mengejek. Pricilla terkekeh pelan tapi juga kagum. Dari dulu hingga sekarang Shilla memang paling mengerti dirinya.
            “oke, oke… Ashilla, lo emang pinter dan susah dibohongi”
            “lalu?”
            “dan lalu… I have a little problem
            “udah gue duga. Terus masalahnya apa?” Shilla membenahi posisi duduknya supaya ia bisa lebih nyaman mendengarkan cerita Pricilla.
            Guess what!!” pekik Pricilla dengan senyum jahilnya yang penuh misteri.
            Shilla mendesah pelan, ia berfikir sejenak lalu tidak lama kemudian menjawab,
            “emmm… Alvin, Maybe…??”
            Dengan lesu Pricilla mengangguk, “iya Alvin, siapa lagi??”
            Shilla mengangguk paham. Dan tanpa Pricilla ketahui, jauh didasar hatinya yang terdalam Shilla sedang menyimpan cemas. Ia cemas bagaimana nanti kalau Pricilla tahu bahwa Alvin telah memiliki seorang pacar. Shilla menggelengkan kepalanya beberapa kali, biarlah ini menjadi urusan Pricilla bersama Alvin, dan Shilla tidak ingin turut campur didalamnya. Shilla memang tipe orang yang tidak mau ikut campur masalah siapapun termasuk itu sahabatnya sendiri, cukuplah bagi Shilla untuk menjadi seorang pendengar yang baik, dan bila diperlukan Shilla akan mencoba memberikan saran. Tapi jika dituntut untuk ikut campur, Shilla akan angkat tangan terlebih dahulu.
            “Shit! Itu cowok bener-bener brengsek tau?! Masa pas tadi gue ketemu dia terus gue nyapa dia, dia malah bilang, ‘elo mantan gue yang keberapa, ya?’ brengsek nggak tuh?!”
            “hahahahaha…” Shilla hanya bisa tertawa mendengar cerita Pricilla itu. Dan Pricilla langsung manyun seketika saat menerima respon dari Shilla yang menurutnya sangatlah tidak lucu itu.
            “Shillaaaa!! Kenapa lo malah ketawa?? Ini nggak lucu tau?” kata Pricilla sebal.
            “Apanya yang nggak lucu?!” ucap seseorang yang tiba-tiba saja muncul dari belakang Pricilla lalu mengambil posisi disamping Pricilla. Pricilla langsung menoleh kesampingnya dan mendapati Agni yang sudah duduk santai meminum jus mangga pesanan Pricilla. Pricilla mendengus kesal, apa begini cara Agni menyambut kedatangannya setelah hampir 2 tahun dia pergi? Ternyata sahabatnya yang satu ini sama saja dengan cowok brengsek itu, mereka berdua sama sekali tidak ada bedanya.
            Ify hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali melihat kelakuan kedua sahabatnya itu, Ify lalu duduk disamping Shilla dan tepat dihadapan Agni.
            “udah Priss, nggak usah manyun gitu, tambah jelek tau?” sindir Ify. Mendengar itu Shilla langsung terkekeh pelan.
            “kayaknya hari ini semua orang sengkokol deh buat bikin gue kesel..” ujar Pricilla keki.
            “PINTER!” Celetuk Agni tiba-tiba dan membuat Pricilla semakin manyun.
            “gue nggak minta komentar lo! Lo itu sama aja kayak Alvin tau nggak? Kenapa lo nggak jadian aja sama dia??”
            Agni melirik sengit kearah Pricilla, tapi Pricilla malah menunjukan raut tidak pedulinya. Beberapa saat kemudian Agni tersenyum jahil, ia menganggukan kepalanya beberapa kali lantas berkata,
            “oooo… I know, I know… jadi masalahnya Alvin toh? Emmmm… gue denger dari anak-anak katanya Alvin udah nggak kenal lo lagi ya?”
            Pricilla membelalak lebar mendengarkan ucapan Agni barusan, tapi ia berusaha bersikap tenang. Ia tidak ingin reputasinya sebagai cewek ‘antagonis’ jatuh juga dihadapan Agni.
            I don’t care!” ujar Pricilla seraya membuang mukanya kearah lain.
            “Priss…” panggil Ify tiba-tiba, Pricilla langsung menatap Ify tanpa menjawab panggilan Ify.
            “lo jangan percaya deh sama acting kampungannya si Alvin, dia itu Cuma boongin lo doang, dia nggak bener-bener ngelupain lo”
            I know!” ucap Pricilla yang memang sudah meyakini hal itu sejak awal. Lagipula, mana mungkin Alvin melupakannya begitu saja? Dia kan pacar pertama Alvin. Pricilla tersenyum miring dan mulai menyombongkan diri.
            “dan lo tau kenapa Alvin melakukan itu?” kali ini giliran Agni yang bertanya. Sedangkan Shilla yang sejak tadi mendengar obrolan ketiga sahabatnya itu langsung menepuk keningnya sendiri. Kalau Agni memberitahukan Pricilla bahwa Alvin sudah memiliki pacar dan pacaranya adalah sahabat mereka sendiri, urusannya pasti akan runyam.
            “kenapa?” Tanya Pricilla yang kali ini sudah tidak bisa lagi menutupi rasa penasarannya.
            “tapi sebelum gue kasih tau ke elo, gue mau nanya dulu nih…”
            Pricilla menghembuskan napasnya dengan tidak sabar. Gadis tomboy ini sudah benar-benar membuatnya kesal setengah mati ditengah puncak rasa penasarannya.
            “lo mau nanya apa?” Tanya Pricilla penuh tekanan disetiap kata. Sekali lagi ia berusaha untuk tetap sabar.
            “emmm…..” Agni tampak berfikir. Tidak lama kemudian, “lo masih suka sama Alvin?”
            PLETAKKK!! Tidak perlu menunggu lama-lama, sebuah jitakan dari Pricilla mendarat dengan mulus dikening Agni. Agni meringis pelan seraya memegangi keningnya.
            “aw… sakit begok!!”
            “ya habisnya lo… nanya kok nggak dipikir-pikir dulu”
            “ya lo jawab aja apa susahnya sih? Kalo emang udah nggak suka lagi, ya bilang aja lo udah nggak suka lagi, nggak perlu tuh pake acara ngejitak segala. Hmmm… kecuali kalo emang ada sesuatu yang lo sembunyiin dari kita… misalnya…”
            Pricilla langsung mengangkat garpu yang ada ditangannya sebelum Agni melanjutkan perkataannya. Pricilla menodongkan garpu itu kearah Agni,
            “lo tentu nggak mau kan garpu ini gue colokin ke mata lo gara-gara lo rese?” kata Pricilla seakan mengancam.
            “ya terus intinya apa? Masih suka apa nggak?”
            “ya nggak lah!” jawab Pricilla seraya melepaskan garpu itu dengan gerakan kasar diatas meja.
            are you sure?”
            Kali ini Pricilla menatap Agni dengan seringai tajamnya. Agni langsung tertawa kecil sambil mengangkat kedua tangannya didepan Pricilla,
            “hahaha… selow Mbak, selow… lo nggak usah melotot gitu, bikin gue parno aja!”
            “jadiiii….?”
            “Alvin udah punya cewek. Dia masuk geng kita juga, namanya Via. Tapi hari ini Via nggak masuk, besok kalo masuk kita kenalin deh…” ucap Agni dengan enteng. Shilla dan Ify langsung menatap Pricilla dengan pandangan harap-harap cemas.
            Air muka Pricilla langsung berubah drastic, tapi Agni sama sekali tidak menyadarinya, berbeda dengan Ify dan Shilla yang langsung menangkap perubahan air muka Pricilla. Tidak lama kemudian, Pricilla langsung tersenyum dan berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
            “ooh… bagus!” komentarnya pendek.
            “lo nggak apa-apa?” Tanya Ify cemas.
            “nggak apa-apa. Emangnya gue harus apa-apa gitu? Yang ada gue cemas sama cewek bernama Via itu, gue takutnya nasibnya bakalan sama kayak mantan-mantan Alvin yang laen…”
            “kayak elo juga dong…” celetuk Agni tiba-tiba yang langsung membuat Pricilla melotot tajam kearahnya. Tapi Agni yang seolah tidak peduli malah tertawa sekeras-kerasnya dan semakin membuat Pricilla kesal setengah mati.
            “tuh orang yang lagi kita omongin” ujar Shilla seraya mengedikan dagunya kearah pintu kantin. Pricilla, Ify dan Shilla langsung menoleh kearah pintu dan mendapati Alvin dan Gabriel yang saat itu tengah berjalan memasuki kantin.
            Alvin terlihat canggung dan sedikit kikuk saat kedua matanya bertemu dengan kedua mata Pricilla. Alvin berusaha keras menutupi kecanggungannya, tapi gesture tubuhnya sama sekali tidak bisa diajak kompromi saat ini. Alvin menghela napasnya, ia berusaha stay cool lalu melambai kearah Pricilla.
            “hay…” sapanya dengan cool yang malah membuat Agni langsung ingin muntah saja.
            Tidak ingin membuang-buang waktunya lagi, Pricilla langsung membuang tatapannya kearah lain. Diam-diam ia sudah memiliki rencana licik diotaknya. Dan saat pulang sekolah nanti, ia akan langsung melakukan eksekusi.

            ‘Kena lo, Alvin….’ Bathin Pricilla seraya tersenyum licik.





***


            Via berjalan dengan gontai dan tatapan kosong. Perkataan Dokter Aninda tadi terus berputar dikepalanya dan membuat pikirannya kacau. Dan tanpa Via sadari, Via sudah berjalan terlalu jauh meninggalkan rumah sakit. Via lalu menghentikan langkahnya dan menatap jalanan yang ramai oleh kendaraan yang lalu-lalang. Via menghela napas panjang, dan rasa perih itu kembali terasa. Via memegangi dadanya yang entah kenapa terasa sesak, pandangannya mulai mengabur karna air mata yang tertahan dipelupuk matanya.
            Via memejamkan matanya, berusaha meredam segala rasa sakit yang menderanya, air mata itu akhirnya lolos. Kenapa? Kenapa Tuhan menghadiahkannya dengan penderitaan yang bertubu-tubi seperti ini? Air mata itu semakin deras menetes, dalam hati Via berdoa…

            ‘Tuhan… bisakah kau kirimkan aku seorang Malaikat yang akan menguatkan aku disetiap aku membuka mata? Aku tidak kuat lagi Tuhan… aku butuh seorang Malaikat… aku lelah… bantu aku Tuhan….’
            Via membuka kedua matanya, ia menyeka air matanya dan berusaha menguatkan hatinya yang rapuh. Via lalu berbalik, tapi waktu seakan membeku saat ia melihat satu sosok yang begitu ia kenal berdiri tepat dibelakangnya dan menatapnya dengan pandangan sendu.
            Entah kekuatan magis apa yang dimiliki oleh Pria itu, dalam sekejab Via langsung merasa kuat. Ia tersenyum kecil dan tanpa ia sadari air mata itu kembali menetes membasahi wajah manisnya.
            Dia –Cakka- berjalan perlahan mendekati Via, dan ketika jaraknya dengan Via hanya berjarak beberapa centi, Cakka langsung menghentikan langkahnya. Ia menatap Via dengan pandangan yang susah diartikan, Cakka bahkan tidak mengeluarkan sepatah katapun dan membuat Via malah semakin ingin menghamburkan air matanya sebanyak mungkin.
            Tangan kanan Cakka terangkat lalu menyentuh wajah Via perlahan. Dengan penuh kasih Cakka menyeka air mata Via. Rasa nyaman itu secara perlahan menjalar ke sekujur raga Via. Tapi rasa nyaman yang sekarang ini ia rasakan sama sekali berbeda dengan rasa nyaman yang ia rasakan ketika ia berada disamping Alvin. Rasa nyaman ini seperti rasa nyaman yang ia rasakan dengan orang terdekatnya, seperti….
            “kamu kenapa bolos lagi?” Tanya Via seraya tersenyum. Tangan kanan Cakka masih bertengger diwajahnya. Cakka menggeleng pelan lantas berkata,
            “kamu kenapa nggak masuk sekolah? Saya nyariin kamu…”
            Via yang sudah tidak bisa lagi menahan gejolak didadanya langsung menghambur kedalam pelukan Cakka. Dengan sigap Cakka membalas pelukan Via dan mencoba menenangkan Via yang mulai mengisak pelan. Cakka memang tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Via saat ini, tapi entah kenapa Cakka dapat merasakan segala kesedihan juga kesakitan yang saat ini Via rasakan.

            “terimakasih, Cakka…” ujar Via pelan ditengah-tengah isakkannya.




***

            Alvin kaget setengah mati saat Pricilla tiba-tiba nyelonong memasuki mobilnya. Dengan cepat Alvin menoleh kesamping lalu menatap Pricilla dengan pandangan bertanya.
            “lo ngapain disini?” Tanya Alvin tak habis pikir.
            Dengan sangat tenang dan dengan senyum yang merekah indah diwajah cantiknya Pricilla menjawab pertanyaan Alvin,
            “gue mau ikut sama lo, MANTAN PACAR KESAYANGAN gue…” jawab Pricilla dengan penekanan yang kuat pada beberapa kata.
            Alvin berdecak kesal. Padahal ia sudah mati-matian melakukan segala cara termasuk berpura-pura melupakan Pricilla supaya Gadis ini tidak mengejarnya, tapi apa yang ia lakukan itu malah berakhir sia-sia. Mungkin Alvin lupa bahwa Pricilla ini begitu cerdik dan licin.
            “dan oh ya… acting lo tadi pagi oke juga, tapi sorry, acting murahan lo itu nggak mempan sama gue, lo pikir lo bisa ngebodohin gue? Lo salah, Alvino Joshua Aryadinata….” Kata Pricilla seraya mencolek dagu Alvin. Alvin lalu berdecak, dan dengan sigap Alvin langsung menepis tangan Pricilla dari dagunya.
            Alvin membuang napas kesal lalu mengalihkan tatapannya kearah lain. Alvin berusaha mengontrol emosinya sekuat ia mampu.
            “jadi lo mau nantangin gue?!” Tanya Alvin dengan berapi-api, tapi ia tidak sedikitpun menatap kearah Pricilla.
            “lo ngerasa tertantang?” Tanya Pricilla balik. Kali ini Alvin menatap Pricilla dengan tatapan yang penuh dengan intrik kelicikan, Alvin tersenyum miring dan seakan meremehkan Pricilla.
            Perlahan-lahan Alvin mendekatkan wajahnya dengan wajah Pricilla. Pricilla yang sedikit kaget langsung memundurkan wajahnya, dan tanpa bisa Pricilla kendalikan lagi, jantungnya berdegub dengan sangat kencang saat wajah Alvin semakin lama semakin mendekati wajahnya, belum lagi ruang gerak Pricilla yang lumayan sempit semakin membuatnya tidak leluasa dalam bergerak.
            “lo memang pacar pertama gue, Beib… tapi, lo belom sempet ngerasain ciuman gue kan?” kata Alvin dengan nada yang amat pelan dan membuat bulu roma Pricilla berdiri. Tatapan Alvin kali ini benar-benar mematikan dan menakutkan, belum lagi senyumannya yang lumayan menggoda itu semakin membuat perasaannya tidak menentu. Pricilla menelan ludahnya dalam-dalam sembari berusaha mengontrol detakan jantungnya.
            Dan saat Pricilla rasa ia tidak bisa menghindar lagi, Pricilla akhirnya memutuskan untuk memejamkan kedua matanya, saat itulah Alvin langsung tersenyum penuh kemenangan. Pricilla bisa merasakan dengan sangat jelas hangat desauan nafas Alvin menerpa wajahnya. Dan tanpa Pricilla duga sebelumnya, Alvin meraih sabuk pengaman yang terdapat tepat dibelakang Pricilla lalu menyampirkannya pada tubuh ramping Gadis itu, Alvin lalu segera menjauhkan dirinya dari Pricilla,  disaat yang bersamaan Pricilla membuka kedua matanya dan langsung menghela nafas lega. Hufth… hampir saja.
            “permainan baru akan dimulai, BEIB…” kali ini giliran Alvin yang mencolek balik dagu Pricilla. Tidak lama kemudian, Alvin pun menjalankan mobilnya hendak membawa Pricilla pergi ke suatu tempat. Pricilla tidak bertanya dan hanya mengikuti kemana Alvin akan membawanya pergi.




***


            “Cakka kenapa? Kok nggak masuk hari ini?” Tanya Gabriel pada Rio yang memang sekelas dengan Cakka. Rio yang saat itu sedang sibuk mengikat tali sepatu basketnya hanya bisa mengedikan bahu dengan wajah tidak peduli. Bahkan saking tertutupnya seorang Cakka, Rio sama sekali tidak tahu menau alasan kenapa Cakka tidak masuk.
            “ck… bentar lagi kita mau tanding, kalo dia terus-terusan seenaknya mangkir dari latihan kayak gini gimana kita mau menang coba?” keluh Gabriel yang benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan sahabatnya itu akhir-akhiran ini.
            Agni yang kebetulan lewat dilapangan basket bersama beberapa anggota tim nya langsung menghentikan langkahnya ketika ia mendengar nama Cakka dibawa-bawa. Agni duduk disebuah bangku panjang yang terletak tidak jauh dari posisi Gabriel dan  Rio berada sekarang.
            “udahlah Yel, lo nggak perlu cemas berlebihan kayak gitu. Cakka pasti bisa nge-handle semuanya, lo cukup percaya sama Cakka. Mungkin hari ini Cakka lagi ada urusan yang nggak bisa dia tinggalin, lo tau kan gimana tertutupnya seorang Cakka? Ya udahlah, ngertiin aja…”
            Gabriel berdecak sedikit kesal lalu bangkit dari sisi Rio. Gabriel berjalan ketengah lapangan untuk bersiap-siap menghadapi latihan hari ini. Tapi sebelum Gabriel tiba ditengah lapangan, ia tahu-tahu berpapasan dengan Shilla yang saat itu sudah menggunakan kostum cheerleadernya dengan pom-pom ditangannya. Shilla tersenyum pada Gabriel, dan baru saja Shilla akan membuka mulut hendak menyapa Gabriel, Gabriel malah berjalan begitu saja melewati Shilla dan membuat Shilla tidak henti-hentinya bertanya, kesalahan apa yang telah ia lakukan sampai-sampai Gabriel menghindarinya seperti itu. Sudah 2 hari terakhir ini Gabriel selalu saja menghindarinya, dan selama 2 hari ini juga Gabriel tidak pernah lagi menghubungi Shilla. Shilla menghembuskan napas panjangnya dan berusaha pasrah dengan sikap cuek Gabriel itu.
 Rio yang memang mengetahui tentang perasaan Gabriel pada Shilla hanya bisa menggelengkan kepalanya beberapa kali melihat tingkah kedua orang itu. Dan tepat saat Rio akan menyusul Gabriel ketengah lapangan, seseorang tiba-tiba saja menahannya dengan cara memeluk pundaknya dari belakang.
            “yang semangatnya latihannya?” ucap Ify pelan tepat didepan telinga Rio. Rio tersenyum geli lalu menoleh kebelakang,
            “aku pasti makin semangat latihan kalo kamu ngasih hadiah” kata Rio seraya tersenyum jahil. Ify menampakkan wajah berfikir,
            “hadiah apa?”
            “ini….” Jawab Rio singkat seraya menunjuk pipinya. Ify langsung melepaskan pelukannya dari Rio lalu duduk disamping Rio.
            “enak aja! Itu sih maunya kamu” kata Ify dengan wajah cemberutnya yang malah membuat Rio merasa gemas.
            Rio tidak membalas ucapan Ify itu. Ia hanya terdiam seraya menatapi wajah Ify dari samping dengan senyum yang merekah dibibirnya. Rio tidak menyangka bahwa hari ini Ify datang minta maaf padanya hingga akhirnya mereka baikan lagi. Terus terang, disetiap menitnya, rasa sayang Rio pada Gadis ini semakin bertambah saja.
            “RIO!! AYO LATIHAN! JANGAN PACARAN MULU” Teriak Irsyad dari tengah lapangan yang langsung membuat Rio membuyarkan keterpanaannya.
            “OKE!” Balas Rio dengan teriakan juga seraya mengangkat jempolnya kearah Irsyad. Rio kembali mengalihkan perhatiannya pada Ify dan pamit.
            “Fy… aku latihan dulu ya? Kamu tunggu disini, kasi aku semangat…”
            “iya baweeelll….” Kata Ify gemas. Baru saja Rio berdiri dari tempat duduknya dan hendak menyusul kawan-kawannya yang lain, lagi-lagi Ify menahannya, tapi kali ini Ify menahannya dengan cara mencekal pergelangan tangannya.
            “apa lagi, Bieee??”
            Ify tersenyum lalu bangkit hingga posisinya sejajar dengan Rio. Ia menatap Rio untuk beberapa saat lalu setelahnya…
            “Itu apa, Yo?” ucap Ify seraya menunjuk kearah samping Rio. Rio menoleh mengikuti arah telunjuk tangan Ify,
            “mana?”
            Cuup!… sebuah kecupan kilat dari Ify mendarat dengan mulus dipipi sebelah kiri Rio. Rio yang kaget bercampur senang langsung menyentuh pipinya dan menoleh kearah Ify,
            “kamu?? Curang yaa… awas nanti aku bales….” Ancam Rio.
            “udah sana latihaaannn….!!!” Suruh Ify seraya mendorong pelan tubuh kekar Rio.



***


            Alvin memberhentikan mobilnya didepan sebuah rumah bergaya minimalis dengan halaman yang cukup luas beserta kolam ikan yang terdapat dihalaman rumah itu. Pricilla menatap rumah itu dengan pandangan bertanya, seingatnya ini bukan rumah Alvin, rumah Alvin yang ia tahu 2 kali lebih besar dari rumah ini. Lalu ini rumah siapa jika ini bukan rumah Alvin?
            “i… ini rumah siapa?” Tanya Pricilla yang sudah tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya.
            “ini rumah cewek gue, dan gue mau ngenalin lo sama cewek gue”
            “WHAT?? LO UDAH GILA??” Pekik Pricilla seolah tidak habis pikir dengan apa yang hendak Alvin lakukan.
            “terserah lo mau nganggep gue apa, gue nggak peduli. Elo sendiri kan yang nantangin gue tadi?”
            Tidak ingin membuang-buang waktu lagi Alvin langsung melepaskan sabuk pengamannya lalu keluar dari dalam mobilnya. Sementara Pricilla, amarahnya sudah benar-benar mencapai puncak klimaks kali ini. Apa pria ini benar-benar tidak punya perasaan? Atau apa hatinya sudah keluar dari tempatnya hingga ia tidak bisa merasa lagi? Benar-benar keterlaluan!
            “ayo turun! Sampe kapan lo mau disitu?!” Tanya Alvin yang seakan-akan tanpa dosa.
            Pricilla berdecak kesal lalu memukulkan tangannya pada dashboard yang ada dihadapannya. Rasanya ia ingin sekali membunuh mantan pacarnya itu. Mau tidak mau, suka tidak suka, akhirnya Pricilla keluar dari dalam mobil Alvin. Ia menatap benci Alvin yang saat itu justru terlihat santai-santai saja.
            “lo masih sayang nyawa lo kan?” Tanya Pricilla pelan dengan nada yang sarat akan ancaman. Alvin terlihat berfikir sejenak lantas berkata,
            “bukannya elo yang nantangin gue tadi dan mau coba-coba main sama gue? Ya udah terima aja… justru ini kesempatan emas lo buat ngerusak hubungan gue sama cewek gue kan?” ujar Alvin dengan santai yang seakan bisa membaca jalan pikiran Pricilla.
            Mendengar ucapan Alvin yang terakhir itu, Pricilla langsung menatap tajam kearah Alvin, bagaimana mungkin Alvin bisa membaca pikirannya dengan begitu benar? Alvin terkekeh pelan, ia mengacak poni Pricilla lantas berkata,

            “ayo masuk! Pacar gue pasti udah nungguin…”




***


            Dyna berjalan cepat kearah pintu saat ia mendengar ada seseorang yang memencet bel rumahnya. Dyna merapikan rambutnya sebentar lalu setelahnya membuka pintu. Dan Dyna langsung tersenyum semuringah saat mendapati bahwa Alvin lah yang datang kerumahnya.
            “siang Tante… keadaan Via gimana? Udah agak baikan?” Tanya Alvin langsung. Dyna terdiam sebentar, tidak lama ia akhirnya mengangguk.
            “iya, Via baik-baik aja kok, Vin. Besok juga udah bisa masuk sekolah”
            “sukurlah, Tante…” jawab Alvin dengan perasaan yang benar-benar lega.
            Dyna sedikit merasa bersalah karna telah membohongi Alvin dan tidak jujur dengan kondisi Via yang sebenarnya. Jika diperbolehkan, sebenarnya Dyna sangat ingin memberitahukan Alvin prihal penyakit yang sekarang ini Via derita, Dyna juga percaya bahwa Alvin akan menerima Via apa adanya dan Alvin akan mampu menguatkan Via, tapi mengingat permintaan Via padanya yang melarangnya memberitahukan Alvin tentang penyakitnya ini, Dyna jadi tidak bisa melakukan apapun, ia pun akhirnya terlempar pada posisi serba salah.
            “itu siapa, Vin?” Tanya Dyna ketika menyadari bahwa Alvin tidak datang sendiri kerumahnya.
            Alvin langsung terkesiap, ia menoleh kebelakang dan memanggil Pricilla yang saat itu sedang membelakanginya.
            “heh Priss, sini!”
            Pricilla berbalik dan dengan ragu-ragu melangkah mendekati Alvin dan Dyna. Dyna memperhatikan wajah Pricilla sebaik mungkin, dan tiba-tiba saja ia merasa pernah bertemu dengan Pricilla sebelumnya, tapi dimana?
            Tidak hanya Dyna yang merasa seperti itu, tapi Pricilla juga. Sama seperti yang Dyna lakukan, Pricilla juga memperhatikan wajah Dyna baik-baik, berusaha memutar kembali memori diotaknya. Dan setelah yakin dengan ingatannya Pricilla akhirnya buka suara,

            “Tante Dyna….?”
            “kamu…?”
            “ini aku Prissy, Tante… aku Prissy, Queenshara Apricilla…”
            “Prissy??”
            Pricilla hampir menangis. Bagaimana tidak, ia sangat mengenal Dyna. Dulu semasa ia masih kecil, Dyna sering mengajaknya jalan-jalan bersama Rea, dan dulu Pricilla juga begitu dekat dengan Dyna, sama seperti Rea. Pricilla lalu menghambur kedalam pelukan Dyna yang langsung disambut dengan senang hati oleh Dyna. Sementara Alvin, ia hanya bisa melongo heran melihat adegan super mengharukan yang terhampar dihadapannya kali ini.
            “Tante… udah lama aku nyariin Tante, Tante selama ini kemana aja? Aku juga nyariin Rea, Tante. Udah 3 kali aku bolak-balik Indonesia-LA, tapi aku tetep aja nggak bisa ketemu sama Rea…. Rea dimana Tante…??”
            Dyna melepaskan pelukannya lalu menatap Pricilla seraya tersenyum, Dyna lalu membelai lembut rambut panjang Pricilla dan mendaratkan sebuah kecupan dikening gadis itu,
            “Rea ada sama Tante, sayang….”
            “terus Tante Dyra? Om Edgar? Mereka semua dimana?” Tanya Pricilla bertubi-tubi seakan tak sabar.
            “nanti biar Rea yang cerita semuanya sama kamu, ya? Sekarang ayo kita temui Rea… Rea ada dikamarnya…”

            Dyna menggandeng lengan Pricilla lalu membawa Pricilla kekamar Via. Sementara Alvin yang masih sangat bingung dengan semuanya hanya mengikuti kedua orang itu dari belakang tanpa mengeluarkan komentar apapun. Satu hal yang dapat Alvin cerna; ternyata Pricilla dan Rea atau Via saling mengenal satu sama lain.
            Saat tiba didepan kamar Rea, Dyna meminta Pricilla untuk masuk dan menemui Rea sendiri. Pricilla yang memang sudah sejak lama merindukan Via langsung menyetujui permintaan Dyna itu, ia memasuki kamar Rea sendiri tanpa ditemani Dyna.
            Dengan perlahan Pricilla membuka pintu kamar Rea, dan saat pintu kamar itu terbuka Pricilla langsung mendapati Rea yang saat itu tengah focus dengan novel yang ada ditangannya. Perasaan Pricilla mulai tidak menentu, akhirnya setelah bertahun-tahun mencari Rea, hari ini ia menemukannya juga. Tanpa bisa Pricilla tahan lagi, air mata itu akhirnya berdesakkan keluar dari kedua pelupuk matanya. Dia benar-benar Rea, sahabat kecilnya. Dan Pricilla sangat berharap bahwa semua ini bukanlah mimpi yang akan lenyap saat ia terbangun nanti.

            “A…. An… Drea…” panggil Pricilla dengan terbata-bata. Merasa namanya dipanggil oleh seseorang, Via langsung menoleh kearah sumber suara.
            Via menatap wajah Pricilla dengan seksama dan dengan pandangan menerawang. Sementara Pricilla ia terus melangkah mendekati Via dengan linangan air mata yang mengalir deras diwajahnya.


            “Prissy??”



***


            Sudah hampir setengah jam Alvin menunggu Pricilla diruang tamu, tapi hingga setengah jam berlalu, Pricilla tidak juga keluar dari dalam kamar Via. Alvin terus mondar-mandir diruang tamu memikirkan ada hubungan apa sebenarnya antara pacar dan mantan pacarnya itu?
            Sudah cukup lama Alvin berfikir keras, tapi ia tidak juga menemukan sebuah jawaban. Mungkin hanya Pricilla atau Via yang mampu menjawab rasa penasarannya itu, dan mungkin Alvin harus bisa sedikit lebih bersabar lagi. Alvin kembali duduk disofa, tapi kali ini perhatiannya tiba-tiba saja tertuju pada sebuah amplop putih yang tergeletak diatas meja. Iseng-iseng Alvin mengambil amplop itu dan membuka isinya yang ternyata adalah sebuah hasil tes laboratorium dari rumah sakit ‘HARAPAN’ –Rumah sakit milik Kakeknya-
            Dada Alvin seakan terhantam keras oleh sebuah benda berduri saat membaca hasil tes laboratorium itu, ia merasakan perih bercampur sesak yang luar biasa menyiksa. Itu adalah hasil tes laboratorium milik Via.
            Tangan Alvin yang memegangi hasil tes lab itu bergemetar hebat. Benarkah? Benarkah Via yang sangat ia sayangi itu menderita penyakit gagal ginjal stadium akhir?
            Belum tuntas semua rasa tidak percayanya, Pricilla tiba-tiba saja turun dari lantai atas rumah Via. Pricilla berjalan gontai menghampiri Alvin yang saat itu masih duduk terpaku diruang tamu dengan pikirannya yang mulai kacau tak karuan.

            “Alvin…” panggil Pricilla pelan. Alvin langsung mengangkat wajahnya dan menatap Pricilla,


            “jangan pernah lo sakitin Via. Tolong jaga dia sebaik mungkin…”








           

                                    BERSAMBUNG…


           

0 comments:

Post a Comment