Sebelumnya…
“hay
Alvin!” sapa Pricilla dingin seraya melambaikan tangannya. Ia berusaha bersikap
sewajar mungkin dan terlihat se-antagonis mungkin dihadapan pria ini.
“hay juga… ummmm… lo kenal gue?”
Pertanyaan yang Alvin lontarkan itu
sukses membuat Pricilla merasa seperti dilempar dari lantai 17. Air muka
Pricilla yang tadinya memancarkan kesan angkuh kini perlahan meredup. Dari dulu
Alvin memang selalu tahu bagaimana cara menghempaskannya.
“oooo… lo Queen… hmmm… Queensha
Apricilia yang katanya mantan gue itu ya? By the way, lo mantan gue yang
keberapa?” Tanya Alvin tanpa sedikitpun merasa berdosa. Tapi memangnya mau
bagaimana lagi? Alvin benar-benar lupa.
“gue Queenshara Apricilla, bukan Queensha
Apricilia. Dan gue pacar pertama lo!” ujar Pricilla sinis lalu berjalan
melewati Alvin dengan perasaan yang benar-benar keki. Apa begini cara Alvin
menyambutnya setelah hampir selama 2 tahun lamanya mereka tidak pernah bertemu?
Apa Alvin hanya pura-pura melupakannya untuk menyakitinya lagi? Benar-benar
tidak bisa dimaafkan.
“Queenshara Apricilla? Pacar pertama
gue??” Tanya Alvin pada dirinya sendiri dengan raut wajah yang benar-benar
terlihat bodoh.
***
Part
12
Pertemuan demi pertemuannya yang terjadi secara
beruntun dengan beberapa orang dari masa lalu membuat pertahanan itu sedikit
demi sedikit akhirnya runtuh. Hati yang sudah sejak lama hacur dan sedikit demi
sedikit tertata kembali juga lagi-lagi hancur bahkan remuk hanya dalam sekejab
mata.
Semua yang sedikit demi sedikit itu
kini akhirnya berubah semu, membentang kemustahilan yang menyeruak diantara
senja yang menggoreskan jingga.
Ia yang selama ini tegar bagaikan
sebentuk karang yang berdiri angkuh ditepi lautan luas dengan menantang kini
secara perlahan terkikis oleh deburan ombak yang menghempas setiap menitnya.
Dan saat deburan ombak itu mulai surut ketika sang kegelapan memanggil dan
mulai menyelimuti setiap denyut kehidupan, ia terlempar kembali pada sebuah
kenyataan yang menyakitkan.
Mungkin sudah saatnya ia melepaskan
semua dan berhenti berpura-pura tegar selayaknya karang yang sebenarnya amat
rapuh. Ini saatnya ia keluar dari persembunyian dan mulai mencoba berdamai
dengan kenyataan.
Inilah kehidupan yang seharusnya dia
hadapi dengan anggun selayaknya senja yang jingga dan bukan dengan angkuh
selayaknya karang yang rapuh dan gampang terkikis…
***
“Gagal
ginjal yang Andrea derita sudah mencapai tingkat gagal ginjal kronis atau yang
dalam bahasa Kedokterannya disebut Chronic
Kidney disease. Ini adalah proses kerusakan ginjal dalam rentang waktu
lebih dari 3 bulan” terang Dokter Aninda dengan raut wajah yang benar-benar
menyesal. Sementara Dyna yang mendengarkan penjelasan dari Dokter Aninda itu
berusaha bersikap setenang mungkin. Beberapa tahun yang lalu ia juga pernah
mendengar vonis yang sama untuk Kakaknya. Dyna memang sangat terpukul saat
vonis itu harus terulang kembali pada keponakan kesayangannya, tapi keadaannya
sekarang mengharuskan Dyna untuk tetap kuat.
Dyna
melirik sejenak kearah Via yang ketika itu duduk disampingnya. Via hanya
menunduk dalam tanpa mampu mengucapkan sepatah katapun. Lidahnya terlanjur kelu
saat Dokter Aninda membeberkan semuanya didepan Dyna.
Dokter
Aninda menghela napas panjang sebelum akhirnya melanjutkan penjelasannya yang
mungkin akan semakin memperburuk keadaan. Tapi mau tidak mau, Dokter Aninda
harus tetap menyampaikan semuanya.
“tidak
ada pengobatan khusus untuk memperlambat memburuknya penyakit ginjal kronis.
Penyakit ginjal kronis parah yang dialami Andrea memerlukan salah satu bentuk
terapi penggantian ginjal, ini mungkin merupakan bentuk cuci darah atau dialysis, tetapi idealnya merupakan
transplantasi ginjal”
“jadi
intinya Andrea butuh pendonor ginjal?” Tanya Dyna langsung tanpa basa-basi
apapun, sementara Via, ia tetap bergeming dan menunduk.
Dokter
Aninda menatap Via sekilas lalu setelahnya ia mengangguk menyetujui ucapan Dyna
barusan. Dyna memejamkan kedua matanya sejenak, sebulir air matanya terjatuh
dan membasahi wajahnya.
“kalo
begitu ambil ginjal saya, Dokter… lakukan apa saja supaya keponakan saya bisa
sembuh, lakukan apa saja supaya keponakan saya bisa dapat bertahan hidup, say
–“
“aku
lebih baik mati karna penyakit ini daripada aku harus ngelihat Tante hidup
dengan organ tubuh yang tidak lengkap…” sela Via sebelum Dyna menyelesaikan
ucapannya. Via lalu bangkit dari tempat duduknya dan keluar dari ruangan Dokter
Aninda tanpa pamit sama sekali. Via sudah cukup merasa sesak berada dalam
ruangan itu dan mendengar vonis-vonis mematikan yang Dokter Aninda ucapkan.
Dyna
dan Dokter Aninda menatap kepergian Via dengan tatapan sedih. Mungkin mereka
tidak bisa merasakan apa yang saat ini Via rasakan, tapi setidaknya mereka
mengerti bahwa berada dalam posisi saat ini sangatlah tidak mudah.
Tidak
lama kemudian, Dyna kembali mengalihkan tatapannya pada Dokter Aninda. Sorot
mata Dyna seakan memancarkan permohonan yang sangat ingin terkabulkan.
“saya
mohon Dok… tolong saya. Saya hanya ingin Andrea tetap hidup. Jangankan ginjal
saya, saya bahkan rela menyerahkan hidup saya untuk Andrea, Dokter, saya mohon…
dulu saya pernah kehilangan Kakak saya karna penyakit gagal ginjal, dan
sekarang saya tidak mau kehilangan keponakan saya karna penyakit yang sama
Dokter, saya tidak mau….” Ucap Dyna dengan nada bicara yang terdengar sedikit
bergetar. Ia bahkan mati-matian menahan Kristal-kristal bening itu agar tidak
berdesakan keluar. Dyna harus kuat bagaimanapun keadaannya sekarang. Karena
jika ia lemah dan akhirnya lengah, hal itu tentu akan sangat berdampak buruk
bagi Via.
“Ibu
Dyna, tidak semua orang dan tidak sembarangan orang bisa menjadi pendonor
ginjal, meski keluarga dan sedarah sekalipun. Akan ada beberapa tahap
pemeriksaan yang harus dilakukan, jika hasil pemeriksaannya menunjukan
kecocokan, maka baru transplantasi ginjal bisa dilakukan”
“kalau
begitu lakukan pemeriksaan itu terhadap saya secepat mungkin!” ujar Dyna dengan
yakin dan tegas.
***
Pricilla
dan Shilla duduk berhadapan dikantin sambil menikmati makanan mereka
masing-masing. Bedanya Shilla dengan begitu lahapnya memakan makanan
pesanannya. Sementara Pricilla, sejak pesanannya datang, yang ia lakukan malah
mengucek-ucek makannya tanpa sedikitpun berniat memakannya.
Shilla
mengangkat wajahnya lalu menatap Sahabat lamanya yang kini telah kembali itu
dengan pandangan penuh tanda Tanya. Dulu sebelum pindah ke LA atau tepatnya
saat ia duduk dibangku SMP, Pricilla begitu dekat dengan Shilla, Agni, dan Ify
yang tidak lain dan tidak bukan adalah sepupunya sendiri. Shilla melepaskan
sendok beserta garpunya, ia lalu melipat kedua tangannya diatas meja dan mulai
membuka suara,
“lo
kenapa, Priss? Ini kan hari pertama lo kembali kesekolah setelah 2 tahun
hibernasi di LA, tapi sekarang kenapa setelah balik lo malah kayak gini? There was a problem?” Tanya Shilla
penasaran.
Pricilla
membalas tatapan Shilla dengan muka ditekuk. Dan dari wajah Pricilla yang
seperti itu, Shilla bisa membaca dengan sangat jelas bahwa sahabatnya ini telah
ketiban masalah dihari pertamanya kembali kesekolah. Pricilla menggeleng pelan.
Shilla tersenyum kecil lantas berkata,
“really? Gue siep jadi pendengar kok kalo
emang lo lagi ada masalah…”
Sekali
lagi Pricilla menggeleng. Ia bukannya tidak mau menceritakan masalahnya pada
Shilla. Tapi ia hanya sedikit malu jika harus membongkar aib nya sendiri
–setidaknya itu menurut Pricilla-
“I don’t believe you. Dan lo harus tahu,
kalo lo bukan seorang pembohong yang baik” kata Shilla dengan nada mengejek.
Pricilla terkekeh pelan tapi juga kagum. Dari dulu hingga sekarang Shilla
memang paling mengerti dirinya.
“oke,
oke… Ashilla, lo emang pinter dan susah dibohongi”
“lalu?”
“dan
lalu… I have a little problem”
“udah
gue duga. Terus masalahnya apa?” Shilla membenahi posisi duduknya supaya ia
bisa lebih nyaman mendengarkan cerita Pricilla.
“Guess what!!” pekik Pricilla dengan
senyum jahilnya yang penuh misteri.
Shilla
mendesah pelan, ia berfikir sejenak lalu tidak lama kemudian menjawab,
“emmm…
Alvin, Maybe…??”
Dengan
lesu Pricilla mengangguk, “iya Alvin, siapa lagi??”
Shilla
mengangguk paham. Dan tanpa Pricilla ketahui, jauh didasar hatinya yang
terdalam Shilla sedang menyimpan cemas. Ia cemas bagaimana nanti kalau Pricilla
tahu bahwa Alvin telah memiliki seorang pacar. Shilla menggelengkan kepalanya
beberapa kali, biarlah ini menjadi urusan Pricilla bersama Alvin, dan Shilla
tidak ingin turut campur didalamnya. Shilla memang tipe orang yang tidak mau
ikut campur masalah siapapun termasuk itu sahabatnya sendiri, cukuplah bagi
Shilla untuk menjadi seorang pendengar yang baik, dan bila diperlukan Shilla
akan mencoba memberikan saran. Tapi jika dituntut untuk ikut campur, Shilla
akan angkat tangan terlebih dahulu.
“Shit!
Itu cowok bener-bener brengsek tau?! Masa pas tadi gue ketemu dia terus gue
nyapa dia, dia malah bilang, ‘elo mantan gue yang keberapa, ya?’ brengsek nggak
tuh?!”
“hahahahaha…”
Shilla hanya bisa tertawa mendengar cerita Pricilla itu. Dan Pricilla langsung
manyun seketika saat menerima respon dari Shilla yang menurutnya sangatlah
tidak lucu itu.
“Shillaaaa!!
Kenapa lo malah ketawa?? Ini nggak lucu tau?” kata Pricilla sebal.
“Apanya
yang nggak lucu?!” ucap seseorang yang tiba-tiba saja muncul dari belakang
Pricilla lalu mengambil posisi disamping Pricilla. Pricilla langsung menoleh
kesampingnya dan mendapati Agni yang sudah duduk santai meminum jus mangga
pesanan Pricilla. Pricilla mendengus kesal, apa begini cara Agni menyambut
kedatangannya setelah hampir 2 tahun dia pergi? Ternyata sahabatnya yang satu
ini sama saja dengan cowok brengsek itu, mereka berdua sama sekali tidak ada
bedanya.
Ify
hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali melihat kelakuan
kedua sahabatnya itu, Ify lalu duduk disamping Shilla dan tepat dihadapan Agni.
“udah
Priss, nggak usah manyun gitu, tambah jelek tau?” sindir Ify. Mendengar itu
Shilla langsung terkekeh pelan.
“kayaknya
hari ini semua orang sengkokol deh buat bikin gue kesel..” ujar Pricilla keki.
“PINTER!”
Celetuk Agni tiba-tiba dan membuat Pricilla semakin manyun.
“gue
nggak minta komentar lo! Lo itu sama aja kayak Alvin tau nggak? Kenapa lo nggak
jadian aja sama dia??”
Agni
melirik sengit kearah Pricilla, tapi Pricilla malah menunjukan raut tidak
pedulinya. Beberapa saat kemudian Agni tersenyum jahil, ia menganggukan
kepalanya beberapa kali lantas berkata,
“oooo…
I know, I know… jadi masalahnya Alvin
toh? Emmmm… gue denger dari anak-anak katanya Alvin udah nggak kenal lo lagi
ya?”
Pricilla
membelalak lebar mendengarkan ucapan Agni barusan, tapi ia berusaha bersikap
tenang. Ia tidak ingin reputasinya sebagai cewek ‘antagonis’ jatuh juga
dihadapan Agni.
“I don’t care!” ujar Pricilla seraya
membuang mukanya kearah lain.
“Priss…”
panggil Ify tiba-tiba, Pricilla langsung menatap Ify tanpa menjawab panggilan
Ify.
“lo
jangan percaya deh sama acting kampungannya si Alvin, dia itu Cuma boongin lo doang,
dia nggak bener-bener ngelupain lo”
“I know!” ucap Pricilla yang memang sudah
meyakini hal itu sejak awal. Lagipula, mana mungkin Alvin melupakannya begitu
saja? Dia kan pacar pertama Alvin. Pricilla tersenyum miring dan mulai
menyombongkan diri.
“dan
lo tau kenapa Alvin melakukan itu?” kali ini giliran Agni yang bertanya.
Sedangkan Shilla yang sejak tadi mendengar obrolan ketiga sahabatnya itu
langsung menepuk keningnya sendiri. Kalau Agni memberitahukan Pricilla bahwa
Alvin sudah memiliki pacar dan pacaranya adalah sahabat mereka sendiri,
urusannya pasti akan runyam.
“kenapa?”
Tanya Pricilla yang kali ini sudah tidak bisa lagi menutupi rasa penasarannya.
“tapi
sebelum gue kasih tau ke elo, gue mau nanya dulu nih…”
Pricilla
menghembuskan napasnya dengan tidak sabar. Gadis tomboy ini sudah benar-benar
membuatnya kesal setengah mati ditengah puncak rasa penasarannya.
“lo
mau nanya apa?” Tanya Pricilla penuh tekanan disetiap kata. Sekali lagi ia
berusaha untuk tetap sabar.
“emmm…..”
Agni tampak berfikir. Tidak lama kemudian, “lo masih suka sama Alvin?”
PLETAKKK!!
Tidak perlu menunggu lama-lama, sebuah jitakan dari Pricilla mendarat dengan
mulus dikening Agni. Agni meringis pelan seraya memegangi keningnya.
“aw…
sakit begok!!”
“ya
habisnya lo… nanya kok nggak dipikir-pikir dulu”
“ya
lo jawab aja apa susahnya sih? Kalo emang udah nggak suka lagi, ya bilang aja
lo udah nggak suka lagi, nggak perlu tuh pake acara ngejitak segala. Hmmm…
kecuali kalo emang ada sesuatu yang lo sembunyiin dari kita… misalnya…”
Pricilla
langsung mengangkat garpu yang ada ditangannya sebelum Agni melanjutkan
perkataannya. Pricilla menodongkan garpu itu kearah Agni,
“lo
tentu nggak mau kan garpu ini gue colokin ke mata lo gara-gara lo rese?” kata
Pricilla seakan mengancam.
“ya
terus intinya apa? Masih suka apa nggak?”
“ya
nggak lah!” jawab Pricilla seraya melepaskan garpu itu dengan gerakan kasar
diatas meja.
“are you sure?”
Kali
ini Pricilla menatap Agni dengan seringai tajamnya. Agni langsung tertawa kecil
sambil mengangkat kedua tangannya didepan Pricilla,
“hahaha…
selow Mbak, selow… lo nggak usah melotot gitu, bikin gue parno aja!”
“jadiiii….?”
“Alvin
udah punya cewek. Dia masuk geng kita juga, namanya Via. Tapi hari ini Via
nggak masuk, besok kalo masuk kita kenalin deh…” ucap Agni dengan enteng.
Shilla dan Ify langsung menatap Pricilla dengan pandangan harap-harap cemas.
Air
muka Pricilla langsung berubah drastic, tapi Agni sama sekali tidak
menyadarinya, berbeda dengan Ify dan Shilla yang langsung menangkap perubahan
air muka Pricilla. Tidak lama kemudian, Pricilla langsung tersenyum dan
berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
“ooh…
bagus!” komentarnya pendek.
“lo
nggak apa-apa?” Tanya Ify cemas.
“nggak
apa-apa. Emangnya gue harus apa-apa gitu? Yang ada gue cemas sama cewek bernama
Via itu, gue takutnya nasibnya bakalan sama kayak mantan-mantan Alvin yang
laen…”
“kayak
elo juga dong…” celetuk Agni tiba-tiba yang langsung membuat Pricilla melotot
tajam kearahnya. Tapi Agni yang seolah tidak peduli malah tertawa
sekeras-kerasnya dan semakin membuat Pricilla kesal setengah mati.
“tuh
orang yang lagi kita omongin” ujar Shilla seraya mengedikan dagunya kearah
pintu kantin. Pricilla, Ify dan Shilla langsung menoleh kearah pintu dan
mendapati Alvin dan Gabriel yang saat itu tengah berjalan memasuki kantin.
Alvin
terlihat canggung dan sedikit kikuk saat kedua matanya bertemu dengan kedua
mata Pricilla. Alvin berusaha keras menutupi kecanggungannya, tapi gesture
tubuhnya sama sekali tidak bisa diajak kompromi saat ini. Alvin menghela
napasnya, ia berusaha stay cool lalu
melambai kearah Pricilla.
“hay…”
sapanya dengan cool yang malah membuat Agni langsung ingin muntah saja.
Tidak
ingin membuang-buang waktunya lagi, Pricilla langsung membuang tatapannya
kearah lain. Diam-diam ia sudah memiliki rencana licik diotaknya. Dan saat
pulang sekolah nanti, ia akan langsung melakukan eksekusi.
‘Kena
lo, Alvin….’ Bathin Pricilla seraya tersenyum licik.
***
Via
berjalan dengan gontai dan tatapan kosong. Perkataan Dokter Aninda tadi terus
berputar dikepalanya dan membuat pikirannya kacau. Dan tanpa Via sadari, Via
sudah berjalan terlalu jauh meninggalkan rumah sakit. Via lalu menghentikan
langkahnya dan menatap jalanan yang ramai oleh kendaraan yang lalu-lalang. Via
menghela napas panjang, dan rasa perih itu kembali terasa. Via memegangi
dadanya yang entah kenapa terasa sesak, pandangannya mulai mengabur karna air
mata yang tertahan dipelupuk matanya.
Via
memejamkan matanya, berusaha meredam segala rasa sakit yang menderanya, air
mata itu akhirnya lolos. Kenapa? Kenapa Tuhan menghadiahkannya dengan
penderitaan yang bertubu-tubi seperti ini? Air mata itu semakin deras menetes,
dalam hati Via berdoa…
‘Tuhan… bisakah kau kirimkan aku seorang
Malaikat yang akan menguatkan aku disetiap aku membuka mata? Aku tidak kuat
lagi Tuhan… aku butuh seorang Malaikat… aku lelah… bantu aku Tuhan….’
Via
membuka kedua matanya, ia menyeka air matanya dan berusaha menguatkan hatinya
yang rapuh. Via lalu berbalik, tapi waktu seakan membeku saat ia melihat satu
sosok yang begitu ia kenal berdiri tepat dibelakangnya dan menatapnya dengan
pandangan sendu.
Entah
kekuatan magis apa yang dimiliki oleh Pria itu, dalam sekejab Via langsung
merasa kuat. Ia tersenyum kecil dan tanpa ia sadari air mata itu kembali
menetes membasahi wajah manisnya.
Dia
–Cakka- berjalan perlahan mendekati Via, dan ketika jaraknya dengan Via hanya
berjarak beberapa centi, Cakka langsung menghentikan langkahnya. Ia menatap Via
dengan pandangan yang susah diartikan, Cakka bahkan tidak mengeluarkan sepatah
katapun dan membuat Via malah semakin ingin menghamburkan air matanya sebanyak
mungkin.
Tangan
kanan Cakka terangkat lalu menyentuh wajah Via perlahan. Dengan penuh kasih
Cakka menyeka air mata Via. Rasa nyaman itu secara perlahan menjalar ke sekujur
raga Via. Tapi rasa nyaman yang sekarang ini ia rasakan sama sekali berbeda
dengan rasa nyaman yang ia rasakan ketika ia berada disamping Alvin. Rasa
nyaman ini seperti rasa nyaman yang ia rasakan dengan orang terdekatnya,
seperti….
“kamu
kenapa bolos lagi?” Tanya Via seraya tersenyum. Tangan kanan Cakka masih
bertengger diwajahnya. Cakka menggeleng pelan lantas berkata,
“kamu
kenapa nggak masuk sekolah? Saya nyariin kamu…”
Via
yang sudah tidak bisa lagi menahan gejolak didadanya langsung menghambur
kedalam pelukan Cakka. Dengan sigap Cakka membalas pelukan Via dan mencoba
menenangkan Via yang mulai mengisak pelan. Cakka memang tidak tahu apa yang
sedang terjadi pada Via saat ini, tapi entah kenapa Cakka dapat merasakan
segala kesedihan juga kesakitan yang saat ini Via rasakan.
“terimakasih,
Cakka…” ujar Via pelan ditengah-tengah isakkannya.
***
Alvin
kaget setengah mati saat Pricilla tiba-tiba nyelonong memasuki mobilnya. Dengan
cepat Alvin menoleh kesamping lalu menatap Pricilla dengan pandangan bertanya.
“lo
ngapain disini?” Tanya Alvin tak habis pikir.
Dengan
sangat tenang dan dengan senyum yang merekah indah diwajah cantiknya Pricilla
menjawab pertanyaan Alvin,
“gue
mau ikut sama lo, MANTAN PACAR KESAYANGAN gue…” jawab Pricilla dengan penekanan
yang kuat pada beberapa kata.
Alvin
berdecak kesal. Padahal ia sudah mati-matian melakukan segala cara termasuk
berpura-pura melupakan Pricilla supaya Gadis ini tidak mengejarnya, tapi apa
yang ia lakukan itu malah berakhir sia-sia. Mungkin Alvin lupa bahwa Pricilla
ini begitu cerdik dan licin.
“dan
oh ya… acting lo tadi pagi oke juga, tapi sorry, acting murahan lo itu nggak
mempan sama gue, lo pikir lo bisa ngebodohin gue? Lo salah, Alvino Joshua
Aryadinata….” Kata Pricilla seraya mencolek dagu Alvin. Alvin lalu berdecak,
dan dengan sigap Alvin langsung menepis tangan Pricilla dari dagunya.
Alvin
membuang napas kesal lalu mengalihkan tatapannya kearah lain. Alvin berusaha
mengontrol emosinya sekuat ia mampu.
“jadi
lo mau nantangin gue?!” Tanya Alvin dengan berapi-api, tapi ia tidak sedikitpun
menatap kearah Pricilla.
“lo
ngerasa tertantang?” Tanya Pricilla balik. Kali ini Alvin menatap Pricilla
dengan tatapan yang penuh dengan intrik kelicikan, Alvin tersenyum miring dan
seakan meremehkan Pricilla.
Perlahan-lahan
Alvin mendekatkan wajahnya dengan wajah Pricilla. Pricilla yang sedikit kaget
langsung memundurkan wajahnya, dan tanpa bisa Pricilla kendalikan lagi,
jantungnya berdegub dengan sangat kencang saat wajah Alvin semakin lama semakin
mendekati wajahnya, belum lagi ruang gerak Pricilla yang lumayan sempit semakin
membuatnya tidak leluasa dalam bergerak.
“lo
memang pacar pertama gue, Beib… tapi, lo belom sempet ngerasain ciuman gue
kan?” kata Alvin dengan nada yang amat pelan dan membuat bulu roma Pricilla
berdiri. Tatapan Alvin kali ini benar-benar mematikan dan menakutkan, belum
lagi senyumannya yang lumayan menggoda itu semakin membuat perasaannya tidak
menentu. Pricilla menelan ludahnya dalam-dalam sembari berusaha mengontrol
detakan jantungnya.
Dan
saat Pricilla rasa ia tidak bisa menghindar lagi, Pricilla akhirnya memutuskan
untuk memejamkan kedua matanya, saat itulah Alvin langsung tersenyum penuh
kemenangan. Pricilla bisa merasakan dengan sangat jelas hangat desauan nafas
Alvin menerpa wajahnya. Dan tanpa Pricilla duga sebelumnya, Alvin meraih sabuk
pengaman yang terdapat tepat dibelakang Pricilla lalu menyampirkannya pada
tubuh ramping Gadis itu, Alvin lalu segera menjauhkan dirinya dari
Pricilla, disaat yang bersamaan Pricilla
membuka kedua matanya dan langsung menghela nafas lega. Hufth… hampir saja.
“permainan
baru akan dimulai, BEIB…” kali ini giliran Alvin yang mencolek balik dagu
Pricilla. Tidak lama kemudian, Alvin pun menjalankan mobilnya hendak membawa
Pricilla pergi ke suatu tempat. Pricilla tidak bertanya dan hanya mengikuti
kemana Alvin akan membawanya pergi.
***
“Cakka
kenapa? Kok nggak masuk hari ini?” Tanya Gabriel pada Rio yang memang sekelas
dengan Cakka. Rio yang saat itu sedang sibuk mengikat tali sepatu basketnya
hanya bisa mengedikan bahu dengan wajah tidak peduli. Bahkan saking tertutupnya
seorang Cakka, Rio sama sekali tidak tahu menau alasan kenapa Cakka tidak
masuk.
“ck…
bentar lagi kita mau tanding, kalo dia terus-terusan seenaknya mangkir dari
latihan kayak gini gimana kita mau menang coba?” keluh Gabriel yang benar-benar
tidak habis pikir dengan kelakuan sahabatnya itu akhir-akhiran ini.
Agni
yang kebetulan lewat dilapangan basket bersama beberapa anggota tim nya
langsung menghentikan langkahnya ketika ia mendengar nama Cakka dibawa-bawa.
Agni duduk disebuah bangku panjang yang terletak tidak jauh dari posisi Gabriel
dan Rio berada sekarang.
“udahlah
Yel, lo nggak perlu cemas berlebihan kayak gitu. Cakka pasti bisa nge-handle
semuanya, lo cukup percaya sama Cakka. Mungkin hari ini Cakka lagi ada urusan
yang nggak bisa dia tinggalin, lo tau kan gimana tertutupnya seorang Cakka? Ya
udahlah, ngertiin aja…”
Gabriel
berdecak sedikit kesal lalu bangkit dari sisi Rio. Gabriel berjalan ketengah
lapangan untuk bersiap-siap menghadapi latihan hari ini. Tapi sebelum Gabriel
tiba ditengah lapangan, ia tahu-tahu berpapasan dengan Shilla yang saat itu
sudah menggunakan kostum cheerleadernya dengan pom-pom ditangannya. Shilla
tersenyum pada Gabriel, dan baru saja Shilla akan membuka mulut hendak menyapa
Gabriel, Gabriel malah berjalan begitu saja melewati Shilla dan membuat Shilla
tidak henti-hentinya bertanya, kesalahan apa yang telah ia lakukan
sampai-sampai Gabriel menghindarinya seperti itu. Sudah 2 hari terakhir ini
Gabriel selalu saja menghindarinya, dan selama 2 hari ini juga Gabriel tidak
pernah lagi menghubungi Shilla. Shilla menghembuskan napas panjangnya dan
berusaha pasrah dengan sikap cuek Gabriel itu.
Rio yang memang mengetahui tentang perasaan
Gabriel pada Shilla hanya bisa menggelengkan kepalanya beberapa kali melihat
tingkah kedua orang itu. Dan tepat saat Rio akan menyusul Gabriel ketengah
lapangan, seseorang tiba-tiba saja menahannya dengan cara memeluk pundaknya
dari belakang.
“yang
semangatnya latihannya?” ucap Ify pelan tepat didepan telinga Rio. Rio
tersenyum geli lalu menoleh kebelakang,
“aku
pasti makin semangat latihan kalo kamu ngasih hadiah” kata Rio seraya tersenyum
jahil. Ify menampakkan wajah berfikir,
“hadiah
apa?”
“ini….”
Jawab Rio singkat seraya menunjuk pipinya. Ify langsung melepaskan pelukannya
dari Rio lalu duduk disamping Rio.
“enak
aja! Itu sih maunya kamu” kata Ify dengan wajah cemberutnya yang malah membuat
Rio merasa gemas.
Rio
tidak membalas ucapan Ify itu. Ia hanya terdiam seraya menatapi wajah Ify dari
samping dengan senyum yang merekah dibibirnya. Rio tidak menyangka bahwa hari
ini Ify datang minta maaf padanya hingga akhirnya mereka baikan lagi. Terus
terang, disetiap menitnya, rasa sayang Rio pada Gadis ini semakin bertambah
saja.
“RIO!!
AYO LATIHAN! JANGAN PACARAN MULU” Teriak Irsyad dari tengah lapangan yang
langsung membuat Rio membuyarkan keterpanaannya.
“OKE!”
Balas Rio dengan teriakan juga seraya mengangkat jempolnya kearah Irsyad. Rio
kembali mengalihkan perhatiannya pada Ify dan pamit.
“Fy…
aku latihan dulu ya? Kamu tunggu disini, kasi aku semangat…”
“iya
baweeelll….” Kata Ify gemas. Baru saja Rio berdiri dari tempat duduknya dan
hendak menyusul kawan-kawannya yang lain, lagi-lagi Ify menahannya, tapi kali
ini Ify menahannya dengan cara mencekal pergelangan tangannya.
“apa
lagi, Bieee??”
Ify
tersenyum lalu bangkit hingga posisinya sejajar dengan Rio. Ia menatap Rio
untuk beberapa saat lalu setelahnya…
“Itu
apa, Yo?” ucap Ify seraya menunjuk kearah samping Rio. Rio menoleh mengikuti
arah telunjuk tangan Ify,
“mana?”
Cuup!…
sebuah kecupan kilat dari Ify mendarat dengan mulus dipipi sebelah kiri Rio.
Rio yang kaget bercampur senang langsung menyentuh pipinya dan menoleh kearah
Ify,
“kamu??
Curang yaa… awas nanti aku bales….” Ancam Rio.
“udah
sana latihaaannn….!!!” Suruh Ify seraya mendorong pelan tubuh kekar Rio.
***
Alvin
memberhentikan mobilnya didepan sebuah rumah bergaya minimalis dengan halaman
yang cukup luas beserta kolam ikan yang terdapat dihalaman rumah itu. Pricilla
menatap rumah itu dengan pandangan bertanya, seingatnya ini bukan rumah Alvin,
rumah Alvin yang ia tahu 2 kali lebih besar dari rumah ini. Lalu ini rumah
siapa jika ini bukan rumah Alvin?
“i…
ini rumah siapa?” Tanya Pricilla yang sudah tidak bisa lagi menahan rasa
penasarannya.
“ini
rumah cewek gue, dan gue mau ngenalin lo sama cewek gue”
“WHAT??
LO UDAH GILA??” Pekik Pricilla seolah tidak habis pikir dengan apa yang hendak
Alvin lakukan.
“terserah
lo mau nganggep gue apa, gue nggak peduli. Elo sendiri kan yang nantangin gue
tadi?”
Tidak
ingin membuang-buang waktu lagi Alvin langsung melepaskan sabuk pengamannya
lalu keluar dari dalam mobilnya. Sementara Pricilla, amarahnya sudah
benar-benar mencapai puncak klimaks kali ini. Apa pria ini benar-benar tidak
punya perasaan? Atau apa hatinya sudah keluar dari tempatnya hingga ia tidak
bisa merasa lagi? Benar-benar keterlaluan!
“ayo
turun! Sampe kapan lo mau disitu?!” Tanya Alvin yang seakan-akan tanpa dosa.
Pricilla
berdecak kesal lalu memukulkan tangannya pada dashboard yang ada dihadapannya.
Rasanya ia ingin sekali membunuh mantan pacarnya itu. Mau tidak mau, suka tidak
suka, akhirnya Pricilla keluar dari dalam mobil Alvin. Ia menatap benci Alvin
yang saat itu justru terlihat santai-santai saja.
“lo
masih sayang nyawa lo kan?” Tanya Pricilla pelan dengan nada yang sarat akan
ancaman. Alvin terlihat berfikir sejenak lantas berkata,
“bukannya
elo yang nantangin gue tadi dan mau coba-coba main sama gue? Ya udah terima
aja… justru ini kesempatan emas lo buat ngerusak hubungan gue sama cewek gue
kan?” ujar Alvin dengan santai yang seakan bisa membaca jalan pikiran Pricilla.
Mendengar
ucapan Alvin yang terakhir itu, Pricilla langsung menatap tajam kearah Alvin,
bagaimana mungkin Alvin bisa membaca pikirannya dengan begitu benar? Alvin
terkekeh pelan, ia mengacak poni Pricilla lantas berkata,
“ayo
masuk! Pacar gue pasti udah nungguin…”
***
Dyna
berjalan cepat kearah pintu saat ia mendengar ada seseorang yang memencet bel
rumahnya. Dyna merapikan rambutnya sebentar lalu setelahnya membuka pintu. Dan
Dyna langsung tersenyum semuringah saat mendapati bahwa Alvin lah yang datang
kerumahnya.
“siang
Tante… keadaan Via gimana? Udah agak baikan?” Tanya Alvin langsung. Dyna
terdiam sebentar, tidak lama ia akhirnya mengangguk.
“iya,
Via baik-baik aja kok, Vin. Besok juga udah bisa masuk sekolah”
“sukurlah,
Tante…” jawab Alvin dengan perasaan yang benar-benar lega.
Dyna
sedikit merasa bersalah karna telah membohongi Alvin dan tidak jujur dengan
kondisi Via yang sebenarnya. Jika diperbolehkan, sebenarnya Dyna sangat ingin
memberitahukan Alvin prihal penyakit yang sekarang ini Via derita, Dyna juga
percaya bahwa Alvin akan menerima Via apa adanya dan Alvin akan mampu
menguatkan Via, tapi mengingat permintaan Via padanya yang melarangnya
memberitahukan Alvin tentang penyakitnya ini, Dyna jadi tidak bisa melakukan
apapun, ia pun akhirnya terlempar pada posisi serba salah.
“itu
siapa, Vin?” Tanya Dyna ketika menyadari bahwa Alvin tidak datang sendiri
kerumahnya.
Alvin
langsung terkesiap, ia menoleh kebelakang dan memanggil Pricilla yang saat itu
sedang membelakanginya.
“heh
Priss, sini!”
Pricilla
berbalik dan dengan ragu-ragu melangkah mendekati Alvin dan Dyna. Dyna
memperhatikan wajah Pricilla sebaik mungkin, dan tiba-tiba saja ia merasa
pernah bertemu dengan Pricilla sebelumnya, tapi dimana?
Tidak
hanya Dyna yang merasa seperti itu, tapi Pricilla juga. Sama seperti yang Dyna
lakukan, Pricilla juga memperhatikan wajah Dyna baik-baik, berusaha memutar
kembali memori diotaknya. Dan setelah yakin dengan ingatannya Pricilla akhirnya
buka suara,
“Tante
Dyna….?”
“kamu…?”
“ini
aku Prissy, Tante… aku Prissy, Queenshara Apricilla…”
“Prissy??”
Pricilla
hampir menangis. Bagaimana tidak, ia sangat mengenal Dyna. Dulu semasa ia masih
kecil, Dyna sering mengajaknya jalan-jalan bersama Rea, dan dulu Pricilla juga
begitu dekat dengan Dyna, sama seperti Rea. Pricilla lalu menghambur kedalam
pelukan Dyna yang langsung disambut dengan senang hati oleh Dyna. Sementara
Alvin, ia hanya bisa melongo heran melihat adegan super mengharukan yang
terhampar dihadapannya kali ini.
“Tante…
udah lama aku nyariin Tante, Tante selama ini kemana aja? Aku juga nyariin Rea,
Tante. Udah 3 kali aku bolak-balik Indonesia-LA, tapi aku tetep aja nggak bisa
ketemu sama Rea…. Rea dimana Tante…??”
Dyna
melepaskan pelukannya lalu menatap Pricilla seraya tersenyum, Dyna lalu
membelai lembut rambut panjang Pricilla dan mendaratkan sebuah kecupan dikening
gadis itu,
“Rea
ada sama Tante, sayang….”
“terus
Tante Dyra? Om Edgar? Mereka semua dimana?” Tanya Pricilla bertubi-tubi seakan
tak sabar.
“nanti
biar Rea yang cerita semuanya sama kamu, ya? Sekarang ayo kita temui Rea… Rea
ada dikamarnya…”
Dyna
menggandeng lengan Pricilla lalu membawa Pricilla kekamar Via. Sementara Alvin
yang masih sangat bingung dengan semuanya hanya mengikuti kedua orang itu dari
belakang tanpa mengeluarkan komentar apapun. Satu hal yang dapat Alvin cerna;
ternyata Pricilla dan Rea atau Via saling mengenal satu sama lain.
Saat
tiba didepan kamar Rea, Dyna meminta Pricilla untuk masuk dan menemui Rea
sendiri. Pricilla yang memang sudah sejak lama merindukan Via langsung
menyetujui permintaan Dyna itu, ia memasuki kamar Rea sendiri tanpa ditemani
Dyna.
Dengan
perlahan Pricilla membuka pintu kamar Rea, dan saat pintu kamar itu terbuka
Pricilla langsung mendapati Rea yang saat itu tengah focus dengan novel yang
ada ditangannya. Perasaan Pricilla mulai tidak menentu, akhirnya setelah
bertahun-tahun mencari Rea, hari ini ia menemukannya juga. Tanpa bisa Pricilla
tahan lagi, air mata itu akhirnya berdesakkan keluar dari kedua pelupuk
matanya. Dia benar-benar Rea, sahabat kecilnya. Dan Pricilla sangat berharap
bahwa semua ini bukanlah mimpi yang akan lenyap saat ia terbangun nanti.
“A….
An… Drea…” panggil Pricilla dengan terbata-bata. Merasa namanya dipanggil oleh
seseorang, Via langsung menoleh kearah sumber suara.
Via
menatap wajah Pricilla dengan seksama dan dengan pandangan menerawang.
Sementara Pricilla ia terus melangkah mendekati Via dengan linangan air mata
yang mengalir deras diwajahnya.
“Prissy??”
***
Sudah
hampir setengah jam Alvin menunggu Pricilla diruang tamu, tapi hingga setengah
jam berlalu, Pricilla tidak juga keluar dari dalam kamar Via. Alvin terus
mondar-mandir diruang tamu memikirkan ada hubungan apa sebenarnya antara pacar
dan mantan pacarnya itu?
Sudah
cukup lama Alvin berfikir keras, tapi ia tidak juga menemukan sebuah jawaban.
Mungkin hanya Pricilla atau Via yang mampu menjawab rasa penasarannya itu, dan
mungkin Alvin harus bisa sedikit lebih bersabar lagi. Alvin kembali duduk
disofa, tapi kali ini perhatiannya tiba-tiba saja tertuju pada sebuah amplop
putih yang tergeletak diatas meja. Iseng-iseng Alvin mengambil amplop itu dan
membuka isinya yang ternyata adalah sebuah hasil tes laboratorium dari rumah
sakit ‘HARAPAN’ –Rumah sakit milik Kakeknya-
Dada
Alvin seakan terhantam keras oleh sebuah benda berduri saat membaca hasil tes
laboratorium itu, ia merasakan perih bercampur sesak yang luar biasa menyiksa.
Itu adalah hasil tes laboratorium milik Via.
Tangan
Alvin yang memegangi hasil tes lab itu bergemetar hebat. Benarkah? Benarkah Via
yang sangat ia sayangi itu menderita penyakit gagal ginjal stadium akhir?
Belum
tuntas semua rasa tidak percayanya, Pricilla tiba-tiba saja turun dari lantai
atas rumah Via. Pricilla berjalan gontai menghampiri Alvin yang saat itu masih
duduk terpaku diruang tamu dengan pikirannya yang mulai kacau tak karuan.
“Alvin…”
panggil Pricilla pelan. Alvin langsung mengangkat wajahnya dan menatap
Pricilla,
“jangan
pernah lo sakitin Via. Tolong jaga dia sebaik mungkin…”
BERSAMBUNG…



0 comments:
Post a Comment