Wednesday, February 12, 2014

0

You’re Mine [Part 11: Queenshara Apricilla]











Sebelumnya…


            Via lalu membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu, dan betapa terkejutnya ia saat mendapati seseorang yang tengah berbicara dengan Tantenya diruang tamu mereka. Via membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangannya, mendadak rasa takut itu mulai berkecamuk didadanya. Setelah hampir 6 tahun lamanya tidak pernah melihat wajah Sang Papa, akhirnya hari ini Via melihat wajah itu lagi.
            “Ta… Tante…?” panggil Via yang merasa benar-benar shock.
            Secara bersamaan, Dyna dan Edgar menoleh kearah pintu, dan kedua mata Alvin langsung membelalak lebar ketika melihat Edgar ada didalam rumah Via. Dalam benaknya Alvin bertanya, apa hubungannya antara Via, Dyna dan Edgar?
                                          
            ‘Om Edgar…?’ bathin Alvin tanpa sedikitpun mengalihkan tatapannya dari wajah Edgar.

            “Rea…?” Edgar bangkit dari duduknya lalu berjalan perlahan mendekati Via. Saat langkah Edgar semakin mendekatinya, Via pun berjalan mundur lalu tanpa sengaja menubruk tubuh Alvin.
            “jangan mendekat!!” ujar Via dingin.
            “Rea… ini Papa sayang… ini Papa…” kata Edgar seraya menunjuk dirinya sendiri.
            Sementara Alvin ia langsung terkejut bukan main beberapa saat setelah ia mendengar pengakuan dari Edgar itu. Edgar bilang dia Papa nya Via? Berarti Cakka adalah…

            “aku bilang jangan mendekat!!” ulang Via sekali lagi dengan suara bergetar. Air matanya sudah tertahan sempurna dipelupuk matanya.
            Kali ini Edgar menghentikan langkahnya, dan disaat yang bersamaan Via langsung berbalik dan berlari sekencang mungkin meninggalkan rumah itu. Edgar yang merasa lengah pun mengejar Via dengan diikuti oleh Dyna dibelakangnya.

            “Andrea… kamu mau kemana??” kata Dyna cemas.

            Disaat Dyna dan Edgar mengejar Via, Alvin malah diam ditempat. Ia masih belum mengerti dengan semua ini. Dalam benaknya tidak henti-hentinya Alvin bertanya:

            ‘Apa benar Cakka dan Via memiliki ikatan persaudaraan? Dan apa benar selama ini Cakka dan Via tidak mengetahui bahwa mereka adalah Kakak-Adik?’

            Alvin bersumpah akan mencari tahu tentang semua itu.



***

            Siang itu matahari bersinar dengan teriknya dan begitu menyengat. Padahal waktu sudah hampir memasuki jam 3 sore. Tapi cuaca yang begitu terik sama sekali tidak menyurutkan semangat Cakka. Meski latihan sudah dibubarkan sejak 10 menit yang lalu, tapi Cakka tetap bertahan ditengah lapangan dan berlatih sendirian. Bermain basket adalah cara satu-satunya yang Cakka gunakan untuk melampiaskan emosinya. Dan emosi Cakka semakin terbakar manakala mengingat kemesraan yang ditunjukan oleh Alvin dan Via didepan matanya tadi. Cakka semakin keras mendrible bola yang ada ditangannya, dan ketika semuanya sudah mencapai puncak klimaks, Cakka langsung menembakkan bola itu kearah ring dengan kekuatan penuh. Bola itu memantul dipapan ring  dan kembali terlempar dengan sendirinya kearah Cakka. Cakka mendekap bola itu dengan desauan nafas yang tidak teratur. Via… Gadis itu telah benar-benar membuatnya gila karna tidak bisa memilikinya.
            “daripada maen sendiri, mending gue temenin. One on one, gimana?” Tanya seseorang dengan nada menantang yang tiba-tiba muncul dihadapan Cakka. Cakka tetap menunjukan wajah datarnya pada Gadis manis berkulit sedikit gelap itu –Agni-
            “gue nggak ada waktu” kata Cakka dingin. Ia melempar bola yang sejak tadi berada dalam dekapannya kearah Agni, dengan sigap Agni menangkap bola itu. Tidak lama kemudian Cakka langsung berbalik dan melangkah pergi.
            Agni mendesis sinis lantas berkata,
            “nggak ada waktu sama takut emang beda tipis sih ya?” Agni semakin menantang dan membuat Cakka menghentikan langkahnya. Cakka menghela nafas panjangnya, tidak lama berfikir Cakka lalu berbalik dan menatap Agni tajam.
            “lo nantangin gue? Yakin?”
            “menurut lo?!”
            Beberapa saat kemudian Agni lalu mendrible bola yang ada ditangannya seakan mengundang Cakka untuk masuk kedalam permainan. Cakka tersenyum sinis, ia melangkah maju lalu berusaha merebut bola yang ada dalam kekuasaan Agni. Permainan satu lawan satupun telah dimulai…



***

            Via duduk sendiri disebuah bangku panjang yang terdapat disebuah taman. Taman itu sendiri terletak tidak jauh dari komplek perumahan tempat ia tinggal. Setiap senja tiba, Via selalu pergi ketaman itu dan duduk didepan sebuah kolam sambil menikmati senja yang jingga.
            Kedua pundak Via bergetar hebat menahan isak. Seumur hidupnya ia tidak pernah menyangka bahwa ia akan bertemu Papa nya dengan cara seperti ini. Jika ingin jujur, sebenarnya Via sangat merindukan Papanya, Via rindu pelukan hangat Papanya, Via rindu bermanja-manja dan merengek pada Papanya, tapi ia jika mengingat pengkhinatan Papanya 6 tahun lalu yang akhirnya mengakibatkan kematian Mama nya, rasa benci itu seakan merong-rong pertahannya. Segala rasa rindu bercampur benci dan dendam seakan berkumpul menjadi satu memenuhi dan menghimpit ruang didadanya hingga menimbulkan sesak. Maka sekuat apapun ia mencoba menahan isakan itu, Via tetap tidak sanggup. Kenyataan ini terlalu berat dan terlalu menyakitkan untuknya.
            Sontak Via terkaget saat sebuah tangan menyentuh pundaknya. Via yang berfikir bahwa tangan itu adalah tangan milik Papa nya langsung menoleh kebelakang dengan wajah ketakutan juga air mata yang membasahi wajahnya. Tapi Via langsung menghela nafas lega saat tahu bahwa yang ada dibelakangnya bukanlah Papa nya melainkan Alvin.
            Alvin menatap Via dengan pandangan sedih. Ia miris melihat keadaan Via yang seperti ini. Meskipun ia tidak tahu menau soal masalah yang sekarang sedang Via hadapi, tapi Alvin dapat merasakan ketakutan yang Via rasakan saat bertemu dengan Papa nya tadi. Alvin dapat membaca semuanya dengan sangat jelas bahkan sebelum Via berkata apapun.
            “A… Alvin??”
            “iya ini gue… lo jangan takut lagi ya?”
            Alvin lalu duduk disamping Via, ia mengangkat kedua tangannya lalu menyeka air mata Via yang membasahi wajahnya. Via yang sedang dalam keadaan kacau secara reflex membawa dirinya kedalam pelukan Alvin, ia memeluk Alvin seerat mungkin lalu menangis sejadi-jadinya dalam pelukan pria itu. Alvin yang awalnya kaget langsung membalas pelukan Via lalu membelai rambut sebahu milik Via dengan penuh kasih.
            “hiks… hiks… gue nggak mau ketemu sama Papa gue lagi… gue benci sama Papa gue… gue nggak mau liat muka itu lagi, Vin… gue nggak mau, hiks hiks hiks….”
            “udah ya… udah… mending sekarang lo tenangin dulu diri lo, dan kalo lo udah siep, lo boleh cerita sama gue, gue pasti dengerin, Vi… pasti…”
            “6 tahun yang lalu, rahasia besar Papa gue kebongkar. 3 bulan setelah menikahi Mama gue, Papa gue diem-diem menikahi sekertarisnya, dan dari pernikahan yang secara diem-diem itu, Papa gue dianugerahin seorang anak laki-laki tepat 6 bulan sebelum kelahiran gue, dan setelah 10 tahun berlalu, isteri kedua Papa gue dateng kerumah bersama anak laki-lakinya, Mama gue yang shock dengan kenyataan ini akhirnya memutuskan untuk ninggalin Papa gue dan bawa gue pergi dari rumah… tapi…. Tapi hiks… hiks….” Via yang tidak sanggup melanjutkan ucapannya malah semakin menangis histeris. Alvin menggeleng berakali-kali dan meminta Via untuk menghentikan ceritanya jika ia memang merasa tidak sanggup. Alvin sakit melihat Via menangis seperti ini.
            “ssttt… jangan lo lanjutin lagi yaa? Please, gue nggak bisa ngeliat lo nangis seperti ini…” kata Alvin seraya mengusap pundak Via beberapa kali untuk menenangkannya. Bukannya mendengarkan ucapan Alvin itu, Via malah melanjutkan ceritanya,
            “tapi Mama gue meninggal beberapa saat setelah kita keluar dari rumah, Mama gue meninggal karna penyakit gagal ginjal yang dia derita.. hiks… hiks… sejak saat itulah gue benci sama Papa gue, dan kebencian itu akhirnya nimbulin rasa ketidak percayaan gue pada setiap cowok yang berusaha ngedeketin gue, gue selalu nutup pintu hati gue rapat-rapat dan berusaha keras untuk nggak jatuh cinta pada cowok manapun, gue juga udah nggak percaya lagi sama yang namanya cinta… hal itulah Vin yang bikin gue selalu jutek sama lo…  gue Cuma takut pengkhianatan yang sama akan terulang lagi, gue takut… hiks hiks hiks….”
            Via akhirnya mengeluarkan semua apa yang mengganjal dihatinya selama ini. Sama seperti Via, Alvin juga menjadi orang pertama yang tahu semua rahasia besar Via selama ini. Dan kini Alvin pun akhirnya paham apa alasan dibalik semua sikap jutek Via padanya selama ini. Alvin memejamkan matanya, setetes air matanya menetes secara perlahan, dan itu adalah tangisan pertama yang ia keluarkan seumur hidupnya.
            Alvin menghela nafas panjangnya, ia mendaratkan sebuah kecupan dipuncak kepala Via lantas berkata,

            “mulai sekarang lo boleh jutek sama gue, lo juga boleh marah-marahin gue sesuka hati lo, gue nggak akan protes lagi, Via… gue nggak akan protes lagi….”




***

            “Priss… apa yang bakal lo lakuin kalo nanti lo ketemu sama Alvin, tapi ternyata Alvin udah punya cewek lain?” Tanya Febby tiba-tiba sambil tetap focus menyetir pada Sang Adik yang duduk disebelahnya. Pricilla menoleh kearah Kakaknya lalu menatap Febby dengan pandangan bertanya plus sebal.
            “kenapa jadi Alvin sih…?” Tanya Pricilla kesal.
            “ya kali aja lo masih ada rasa sama Alvin”
            “ogah… punya rasa dendem sih iya” sahut Pricilla tidak kalah kesalnya dari sebelumnya. Pricilla melipat kedua tangannya didepan dada lalu membuang wajahnya kearah kaca jendela mobil milik Febby.
            “atau apa jangan-jangan Rio udah punya cewek laen ya?” kata Pricilla tiba-tiba dengan tatapan memicingya. Kali ini giliran Febby yang dibuat kesal.
            “iiih… sok tahu banget sih lo…”
            “Kak, kalo kata gue mending lo jangan ganggu Rio kalo emang Rio udah punya cewek laen. Toh elo juga pergi ninggalin dia selama 2 tahun tanpa kabar apapun kan?”
            “tapi gue kan punya alasan Priss, gue pergi ke LA karna perceraian Papi sama Mami, dan gue tau, gue nggak bisa ceritain masalah itu ke Rio. Kalo gue nggak pergi waktu itu dan lebih milih untuk tetep tinggal disini, terus nasib lo gimana? Mikir dong” kata Febby mulai emosi.
            “tapi itu bukan alasan, Kak… mau kayak apapun masalahnya lo harus ngasih kepercayaan ke Rio dengan nyeritain apa yang sebenernya terjadi, biar Rio nggak salah paham…”
            Febby hanya berdecak dan sedikit membanting tangannya diatas setir. Pricilla hanya menggelengkan kepalanya beberapa kali saat menghadapi tingkah Kakaknya yang ternyata masih sangat kekanak-kanakan.
            “pikirin lagi deh apa yang gue bilang ini Kak… kita boleh cinta sama seseorang, tapi kita harus sadar bahwa nggak semua yang kita cintai bisa kita miliki. Mengerti kan, Febby Kimberly?”
            Febby diam berfikir. Sepertinya perkataan Pricilla itu ada benarnya juga. Tapi kan selama ini Febby sama sekali tidak memiliki niat untuk merebut Rio dari tangan Ify, meskipun pada kenyataan yang sebenarnya ia sangat ingin melakukan hal itu. Febby hanya ingin menguji mereka, sejauh apa mereka sanggup bertahan dibawah bayang-bayang Febby. Febby juga hanya ingin Rio dan Ify berkata yang sejujurnya tanpa perlu Febby minta.
            Pricilla melirik sejenak kearah Kakaknya, tidak lama Pricilla mengalihkan perhatiannya pada wallpaper ponselnya yang menampakkan gambar dirinya semasa kecil bersama seorang sahabat kecilnya yang tengah menggendong boneka teddy bear. Foto itu diambil kira-kira sekitar 8 tahun yang lalu, tepatnya 2 bulan sebelum Pricilla pindah ke LA.
            Saat Pricilla berumur 7 tahun, kedua orang tuanya membawanya pergi ke LA. Tapi kepergian mereka ke LA tidak untuk selamanya, karna 6 tahun kemudian, tepatnya saat Pricilla berusia 13 tahun ia kembali lagi ke Indonesia, tapi sayangnya sahabatnya itu sudah pergi entah kemana.
            Dan setelah menghabiskan masa SMP nya selama 2 tahun di Indonesia dan sempat berpacaran dengan Alvin selama 3 bulan, Pricilla kembali lagi ke LA dan meninggalkan semua kenangan manisnya. Tapi sekarang Pricilla pulang lagi dan memutuskan untuk tidak akan pernah kembali lagi ke LA. Disinilah kehidupannya yang sebenarnya, dan Pricilla akan menjalani kehidupannya disini. Jika ia terus-menerus tinggal di LA, maka selamanya pula kenangan pahit itu akan tetap membayang-bayanginya. Perceraian Papi dan Mami nya sekitar 2 tahun yang lalu cukup membuatnya merasa trauma dengan kota itu.


            ‘Rea… lo sekarang dimana? Udah 3 kali gue bolak-balik Indonesia-LA tapi lo tetep aja nggak ada kabar…’ bathin Pricilla lalu membuang nafas panjangnya.




***


            Alvin membawa Via pulang kerumahnya saat hari sudah gelap. Via juga tertidur dengan pulasnya dalam gendongan Alvin. Ia menempelkan dagunya pada pundak Alvin, seharian ini ia benar-benar lelah. Saat Alvin memasuki gerbang rumah Via, ternyata Dyna sudah menunggu kedatangan mereka diberanda depan. Dyna langsung menghampiri kedua orang itu.
            “Alvin, Via kenapa?” Tanya Dyna cemas. Alvin tersenyum lalu menggeleng,
            “Via nggak apa-apa kok Tante… mungkin seharian ini dia kecapaian makanya sampe ketiduran, aku nggak tega ngebangunin dia…” jawab Alvin apa adanya. Dyna langsung menghela nafas lega sesaat setelah Alvin menyelesaikan jawabannya.
            “ya udah, Tante minta tolong ya kamu bawa Via ke kamarnya. Kamar Via ada dilantai 2”
            “baik Tante…”
            “tapi kamu nggak apa-apa kan, Vin?”
            “nggak apa-apa kok, Tan…” jawab Alvin seraya menggeleng. Ia lalu melanjutkan langkahnya hendak membawa Via kedalam kamarnya. Dyna hanya mengikuti dibelakang.
            Saat Alvin dan Dyna sama-sama menaiki anak tangga, tiba-tiba telfon rumah Dyna berdering, ia pamit pada Alvin untuk mengangkat telfon sebentar lalu meminta Alvin membawa Via kekamarnya dulu. Alvin hanya menurut saja.
            Tidak lama kemudian tibalah Alvin didepan kamar Via, ia mengulurkan salah satu tangannya untuk membuka pintu kamar. Saat pintu kamar terbuka, Alvin langsung meraba tembok yang ada didekatnya untuk mencari sakelar. Beberapa detik kemudian Alvin akhirnya menemukan sakelar dan menyalakan lampu kamar Via.
            Nuansa kamar Via yang serba pink langsung menyambut kedatangan Alvin dan aroma strawberry yang menyegarkan langsung menguar saat Alvin melangkahkan kakinya memasuki kamar Via.
            Secara perlahan Alvin merebahkan tubuh lelah Via diatas ranjangnya yang empuk. Dan dengan perhatian, Alvin membuka sepatu serta kaus kaki Via. Setelah selesai dengan kegiatannya itu, Alvin lalu menaikan selimut Via hingga menutupi tubuh Via sampai ke dada. Untuk beberapa lama Alvin menatap wajah Via yang terlihat letih. Ia tidak pernah menyangka bahwa Via yang selama ini kenal sebagai sosok gadis yang tangguh dan kuat ternyata sangat menderita dengan masa lalu nya yang pahit. Alvin tersenyum miris, tangan kananya terangkat lalu mendarat tepat dipuncak kepala Via. Dengan lembut Alvin membelai rambut Via.
            “lo pasti sangat lelah, Vi… istirahat lah….” Ujar Alvin pelan. Ia lalu menunduk dan mengecup kening Via. Alvin melakukannya agak lama.
            Dan saat Alvin mengangkat wajahnya, ia sedikit terkejut ketika melihat boneka teddy bear yang hampir sama dengan boneka miliknya bertengger disamping Via yang terlelap. Lalu tanpa dikomando, salah satu tangan Alvin bergerak perlahan dan meraih boneka itu. Dan Alvin lagi-lagi terkejut saat melihat sebuah kalung yang terpasang pada leher boneka itu. Kalung itu sama persis dengan kalung  boneka teddy bear milik Andrea kecilnya. Dan pada bandul kalung yang terbuat dari perak itu, bertuliskan sebuah nama yang semakin membuat Alvin meyakini bahwa Via adalah Andrea nya. Alvin semakin mempertajam pengelihatannya, dan jantungnya langsung berdegub kencang saat mendapati bahwa tulisan yang terdapat pada bandul kalung teddy bear itu bertuliskan nama: ‘ANDREA’
            Alvin langsung merasakan gejolak yang sama sekali tidak terjelaskan jauh didalam sana. Ia seolah ingin berteriak sekeras mungkin dan kembali merengkuh gadis ini dengan erat, tapi Alvin berusaha menahan dirinya, karna ini bukan saatnya. Ternyata dugaannya selama ini tepat, Via benar-benar Andrea kecilnya, Andrea yang selalu ia tunggu.
            “Vin…” panggilan dari Dyna itu tiba-tiba mengejutkan Alvin. Alvin langsung menoleh kebelakang tanpa melepaskan boneka itu.
            “kamu masih disini?”
            “i… iya Tante… saya baru aja mau keluar”
            Dyna tersenyum kecil, perhatiannya tahu-tahu tertuju pada boneka teddy bear yang ada ditangan Alvin. Dyna berjalan perlahan menghampiri Alvin lalu mengambil alih boneka itu dari tangan Alvin,
            “ini boneka kesayangan Via. Dulu, saat ulang tahunya yang ke-6, Mama nya pernah ngasih Via hadiah boneka teddy bear, tapi 6 tahun yang lalu, saat Mama nya meninggal, Via malah menghilangkan boneka itu dirumah sakit. Via menangis sampai berhari-hari gara-gara bonekanya hilang juga karna kepergian Mamanya. Dan sebagai gantinya, Tante membelikan boneka yang hampir sama dengan boneka pemberian Mamanya, Via menerima boneka ini meskipun sebenarnya yang dia inginkan hanya boneka pemberian Mama nya…”
            Perasaan Alvin semakin tidak terjelaskan oleh kata-kata manakala mendengarkan penjelasan Dyna. Sekarang genap sudah keyakinannya, bahwa Via yang selama ini mati-matian ia kejar ternyata adalah Andrea kecil yang selama ini ia tunggu-tunggu. Alvin tersenyum lega, dan detik itu juga Alvin bersumpah ia tidak akan pernah melepaskan Via apapun yang terjadi. Via hanya miliknya dan sampai kapanpun tetap akan menjadi miliknya.





***

            Sebuah tamparan langsung mendarat dipipi sebelah kanan Alvin saat ia datang keruang kerja Papi nya untuk memenuhi panggilan beliau. Alvin hanya diam menunduk dan tidak bereaksi apapun. Tadi, saat Alvin baru saja kembali dari rumah Via, Mami nya langsung meminta Alvin untuk pergi keruang kerja Papi nya, Mami bilang, Papi ingin membicarakan sesuatu. Alvin yang bisa menebak apa yang ingin Papi nya sampaikan langsung memenuhi panggilan itu setelah sebelumnya ia memperhitungkan resiko apa yang akan dia dapatkan.
            “Papi dapat kabar, kalo 2 minggu yang lalu kamu bertengkar sama Cakka, benar?”
            Alvin mengangguk tanpa sedikitpun menatap Papinya.
            “kenapa kalian bertengkar? Pasti ini semua karna ulah kamu kan, iya kan?”
            Sekali lagi Alvin mengangguk tanpa berusaha melakukan pembelaan apapun terhadap dirinya. Alvin merasa percuma saja melakukan pembelaan, toh Papinya yang sudah terlanjur menggilai Cakka itu tidak akan pernah mau mempercayainya, dan selamanya juga Alvin akan selalu salah dimata Papinya.
            Dan untuk yang kedua kalinya, tamparan itu kembali mendarat dengan mulus dipipi Alvin. Tanpa bisa dihindari lagi, tamparan yang lumayan keras itu menimbulkan luka ditepi bibir Alvin juga dihatinya. Darah segar menetes dari tepi bibirnya, tapi Alvin masih bertahan dengan kebungkamannya.
            “sampai kapan kamu akan terus-terusan membuat masalah seperti ini, Alvin? Sampai kapan? Hah?”
            “sampai Papi bisa ngasih aku kepercayaan Papi sedikiiiit aja, Cuma itu!” jawab Alvin dengan tegas. Lagi-lagi tamparan itu mendarat untuk yang ke tiga kalinya. Alvin menyentuh pipinya lalu mengusap darahnya.
            “sekali lagi kamu membuat masalah dengan Cakka, Papi tidak akan segan-segan untuk mengirim kamu keluar negri, Alvin”
            “setidaknya itu lebih baik buat aku, Pi… setidaknya kalau aku jauh dari Papi, aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan tanpa takut Papi akan tahu”
            Dan ketika Pak Duta akan melayangkan tamparannya untuk yang keempat kalinya diwajah Alvin, Alvin langsung memejamkan kedua matanya. Tangan Pak Duta menggantung diudara dan perlahan turun. Ia membatalkan niatnya menampar Alvin untuk yang ke empat kalinya.
            “sekarang keluar kamu dari sini!” ucap Pak Duta dengan tegas.
            “kenapa Papi nggak lanjutin nampar aku? Lanjutin, Pi! Lanjutin!”
            “keluar Papi bilang” ulang Pak Duta sekali lagi.

            Kali ini Alvin mengalah, ia menganggukan kepalanya beberapa kali lalu berbalik dan pergi meninggalkan ruang kerja Papinya bersama rasa sakit yang coba ia tahan.

            Kenapa hatinya harus sesakit ini…??


***

Keesokan harinya…


            “RIO!!” Pekik Ify dari kejauhan dan membuat langkah Rio langsung terhenti seketika. Rio menoleh kebelakang dan mendapati sosok Ify yang saat itu tengah berlari kecil menghampirinya. Ada apa? Tidak biasanya Ify seperti ini.
            “kenapa, Fy?” Tanya Rio dingin sesaat setelah Ify berdiri dihadapannya.
            “kamu… masih marah sama aku?” Tanya Ify ragu-ragu. Ia seperti sudah lama ingin menanyakan hal itu pada Rio. Rio langsung mengernyit, heran kenapa Ify tiba-tiba melemparkan pertanyaan itu padanya.
            “maksud ka –“
            “Rio aku minta maaf” ujar Ify dengan cepat sebelum Rio menyelesaikan ucapannya. “aku ngaku salah, Yo… nggak seharusnya aku nyerahin kamu gitu aja ke Kak Febby, kamu benar, seharusnya aku berjuang dulu untuk kita. Kak Febby bahkan belum tau tentang hubungan kita, aku… aku –“
            Sebelum Ify menyelesaikan perkataannya, Rio malah sudah menarik gadis itu kedalam pelukannya. Rio bahkan sama sekali tidak peduli saat semua perhatian teman-temannya tertuju padanya.
            “kamu nggak usah ngomong lagi ya, Fy? Aku yang harusnya minta maaf karna udah bentak-bentak kamu, aku yang seharusnya minta maaf karna nggak bisa ngertiin posisi kamu yang sulit…” Ify mengangguk beberapa kali dengan mata berkaca-kaca seraya menepuk punggung Rio beberapa kali.
            Semalaman suntuk Ify tidak tidur karna memikirkan keputusannya ini. Mungkin nantinya Ify akan menyakiti Febby, tapi setidaknya Ify sempat memperjuangkan cintanya pada Rio. Ify memejamkan matanya, lalu tanpa bisa ia control, Kristal-kristal bening itu mulai berdesakan keluar dari kedua pelupuk matanya. Ia begitu menyayangi Rio, dan ia merasa tidak sanggup jika harus melepaskan Rio untuk orang lain termasuk itu Febby.
            Ify lalu melepaskan pelukan Rio darinya. Dan saat tahu kalau  Ify sedang menangis, Rio langung menyeka air mata Ify dengan kedua tangannya.
            “nggak usah cengeng, jelek tau?!” kata Rio dengan nada meledek. Ify hanya mengangguk beberapa kali sebagai jawabannya.
            “oya, Yo… hari ini sekolah kita kedatangan seseorang yang special?”
            “siapa?” Tanya Rio sedikit penasaran sambil menyelipkan anak rambut Ify dibelakang telinganya. Ify tersenyum misteri lantas menjawab…


            “Queenshara Apricilla”




***


            Hari ini Alvin galau. Pasalnya kekasih hatinya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Via tidak masuk sekolah karna merasa sedikit tidak enak badan. Tadinya Alvin memaksa Via untuk berangkat kesekolah bersamanya, tapi setelah melihat wajah Via yang benar-benar pucat, Alvin akhirnya luluh dan mengalah. Tapi semuanya tidak selesai sampai disitu, tadi Alvin juga sempat memaksa untuk bolos dan ikut membawa Via kerumah sakit bersama Tantenya, tapi Via malah mengomelinya habis-habisan, persis seperti seorang Isteri yang mengomeli suaminya karna ketahuan selingkuh. Akhirnya mau tidak mau, dan dengan perasaan cemas Alvin berangkat kesekolah sendiri tanpa Via.
            Dan prihal kejadian semalam, saat Alvin tahu bahwa Via adalah Andrea kecil yang selama ini ia cari-cari, Alvin lebih memilih bungkam untuk sementara waktu sampai nanti tiba waktunya ia akan mengatakan yang sebenarnya pada Via.
            Alvin berjalan dianak tangga dengan perhatiannya yang tertuju pada layar ponselnya. Alvin bahkan sama sekali tidak sadar dengan suasana riuh yang saat ini terjadi disekitarnya. Alvin tetap berjalan dengan santainya sampai seorang siswa tiba-tiba saja menubruknya dari belakang. Alvin yang tersadar langsung mengangkat wajahnya dan menoleh kearah Rizky.
            “heh! Lo kalo jalan pake mata dong! Lagian ada apa sih? Kok semuanya pada heboh begini? Ada kebakaran ya?” Tanya Alvin dengan wajah polosnya.
            “sorry Vin, gue nggak sengaja! Itu… Prissy kembali lagi kesekolah ini” jawab Rizky yang saat ini terlihat seperti seseorang yang tengah dikejar-kejar setan. Alvin menampakkan wajah berfikir, dan tepat saat Rizky akan melanjutkan langkahnya, Alvin malah menahannya dengan cara menarik kerah bajunya dari belakang.
            “apa lagi sih, Viiinnn?? Gue mau lihat Prissy tau?” kata Rizky tidak sabar.
            “tunggu dulu! Prissy mana maksud lo? Emang do’i pernah sekolah disini?” Tanya Alvin dengan wajah datar tanpa ekspresinya. Bukannya berpura-pura lupa, tapi Alvin memang benar-benar lupa.
            “ya ampuunnn… Prissy, Vin… Queenshara Apricilla, mantan lo pas masih SMP, begok!!” kata Rizky tanpa sadar. Ia akhirnya bisa meloloskan diri dari Alvin dan berlari terbirit-birit seperti yang lainnya hendak menyambut kedatangan Prissy di koridor.
            Sementara Alvin yang awalnya bingung kini semakin bingung. Ia menampakkan wajah berfikir seraya meletakkan salah satu jarinya didagu,

            “Queenshara Apricilla? Mantan gue? Mantan yang mana??” Tanya Alvin pada dirinya sendiri. Merasa penasaran, ia lalu memutuskan untuk mengikuti teman-temannya yang lain.




***

            Pricilla berjalan dikoridor dengan santainya dan tanpa menghiraukan tatapan-tatapan memuja yang kini hanya tertuju padanya. Dan Pricilla bahkan sama sekali tidak peduli dengan beberapa orang siswa yang berusaha menyapanya. Pricilla tetap cuek dan melangkah dengan pasti. Dulu Pricilla pernah mengenyam pendidikan SMP disekolah ini selama 2 tahun lamanya sebelum akhirnya ia dibawa ke LA oleh kedua orang tuanya. Dan 2 tahun setelahnya lagi yang bertepatan dengan hari ini, Pricilla akhirnya kembali lagi. Dan ternyata tidak ada satupun yang berubah dari sekolah ini. Semuanya masih tetap sama dengan 2 tahun yang lalu. Dan meskipun sudah lumayan menghilang dari sekolah ini, nyatanya pesona Pricilla tidak pernah meredup. Ia tetap menjadi bintang disekolah ini.
            Pricilla mendadak menghentikan langkahnya saat Alvin tiba-tiba muncul lalu menghalangi jalannya. Tanpa Pricilla duga sebelumnya, dan tanpa Pricilla inginkan, jantungnya malah berdegub 2 kali lebih kencang dari sebelumnya. Sialan! Apa sampai sekarang Pricilla belum bisa melupakan cowok berengsek ini?
            “hay Alvin!” sapa Pricilla dingin seraya melambaikan tangannya. Ia berusaha bersikap sewajar mungkin dan terlihat se-antagonis mungkin dihadapan pria ini.

            “hay juga… ummmm… lo kenal gue?”

            Pertanyaan yang Alvin lontarkan itu sukses membuat Pricilla merasa seperti dilempar dari lantai 17. Air muka Pricilla yang tadinya memancarkan kesan angkuh kini perlahan meredup. Dari dulu Alvin memang selalu tahu bagaimana cara menghempaskannya.

            “oooo… lo Queen… hmmm… Queensha Apricilia yang katanya mantan gue itu ya? Bay the way, lo mantan gue yang keberapa?” Tanya Alvin tanpa sedikitpun merasa berdosa. Tapi memangnya mau bagaimana lagi? Alvin benar-benar lupa.

            “gue Queenshara Apricilla, bukan Queensha Apricilia. Dan gue pacar pertama lo!” ujar Pricilla sinis lalu berjalan melewati Alvin dengan perasaan yang benar-benar keki. Apa begini cara Alvin menyambutnya setelah hampir selama 2 tahun lamanya mereka tidak pernah bertemu? Apa Alvin hanya pura-pura melupakannya untuk menyakitinya lagi? Benar-benar tidak bisa dimaafkan.


            “Queenshara Apricilla? Pacar pertama gue??” Tanya Alvin pada dirinya sendiri dengan raut wajah yang benar-benar terlihat bodoh.




                                                BERSAMBUNG….

0 comments:

Post a Comment