Sebelumnya…
Via lalu membuka pintu tanpa mengetuk
terlebih dahulu, dan betapa terkejutnya ia saat mendapati seseorang yang tengah
berbicara dengan Tantenya diruang tamu mereka. Via membekap mulutnya sendiri
dengan kedua tangannya, mendadak rasa takut itu mulai berkecamuk didadanya.
Setelah hampir 6 tahun lamanya tidak pernah melihat wajah Sang Papa, akhirnya
hari ini Via melihat wajah itu lagi.
“Ta… Tante…?” panggil Via yang
merasa benar-benar shock.
Secara bersamaan, Dyna dan Edgar
menoleh kearah pintu, dan kedua mata Alvin langsung membelalak lebar ketika
melihat Edgar ada didalam rumah Via. Dalam benaknya Alvin bertanya, apa
hubungannya antara Via, Dyna dan Edgar?
‘Om Edgar…?’ bathin Alvin tanpa
sedikitpun mengalihkan tatapannya dari wajah Edgar.
“Rea…?” Edgar bangkit dari duduknya
lalu berjalan perlahan mendekati Via. Saat langkah Edgar semakin mendekatinya,
Via pun berjalan mundur lalu tanpa sengaja menubruk tubuh Alvin.
“jangan mendekat!!” ujar Via dingin.
“Rea… ini Papa sayang… ini Papa…”
kata Edgar seraya menunjuk dirinya sendiri.
Sementara Alvin ia langsung terkejut
bukan main beberapa saat setelah ia mendengar pengakuan dari Edgar itu. Edgar
bilang dia Papa nya Via? Berarti Cakka adalah…
“aku bilang jangan mendekat!!” ulang
Via sekali lagi dengan suara bergetar. Air matanya sudah tertahan sempurna
dipelupuk matanya.
Kali ini Edgar menghentikan
langkahnya, dan disaat yang bersamaan Via langsung berbalik dan berlari
sekencang mungkin meninggalkan rumah itu. Edgar yang merasa lengah pun mengejar
Via dengan diikuti oleh Dyna dibelakangnya.
“Andrea… kamu mau kemana??” kata
Dyna cemas.
Disaat Dyna dan Edgar mengejar Via,
Alvin malah diam ditempat. Ia masih belum mengerti dengan semua ini. Dalam
benaknya tidak henti-hentinya Alvin bertanya:
‘Apa
benar Cakka dan Via memiliki ikatan persaudaraan? Dan apa benar selama ini
Cakka dan Via tidak mengetahui bahwa mereka adalah Kakak-Adik?’
Alvin bersumpah akan mencari tahu
tentang semua itu.
***
Siang
itu matahari bersinar dengan teriknya dan begitu menyengat. Padahal waktu sudah
hampir memasuki jam 3 sore. Tapi cuaca yang begitu terik sama sekali tidak
menyurutkan semangat Cakka. Meski latihan sudah dibubarkan sejak 10 menit yang
lalu, tapi Cakka tetap bertahan ditengah lapangan dan berlatih sendirian.
Bermain basket adalah cara satu-satunya yang Cakka gunakan untuk melampiaskan
emosinya. Dan emosi Cakka semakin terbakar manakala mengingat kemesraan yang
ditunjukan oleh Alvin dan Via didepan matanya tadi. Cakka semakin keras
mendrible bola yang ada ditangannya, dan ketika semuanya sudah mencapai puncak
klimaks, Cakka langsung menembakkan bola itu kearah ring dengan kekuatan penuh.
Bola itu memantul dipapan ring dan
kembali terlempar dengan sendirinya kearah Cakka. Cakka mendekap bola itu
dengan desauan nafas yang tidak teratur. Via… Gadis itu telah benar-benar
membuatnya gila karna tidak bisa memilikinya.
“daripada
maen sendiri, mending gue temenin. One on one, gimana?” Tanya seseorang dengan
nada menantang yang tiba-tiba muncul dihadapan Cakka. Cakka tetap menunjukan
wajah datarnya pada Gadis manis berkulit sedikit gelap itu –Agni-
“gue
nggak ada waktu” kata Cakka dingin. Ia melempar bola yang sejak tadi berada
dalam dekapannya kearah Agni, dengan sigap Agni menangkap bola itu. Tidak lama
kemudian Cakka langsung berbalik dan melangkah pergi.
Agni
mendesis sinis lantas berkata,
“nggak
ada waktu sama takut emang beda tipis sih ya?” Agni semakin menantang dan
membuat Cakka menghentikan langkahnya. Cakka menghela nafas panjangnya, tidak
lama berfikir Cakka lalu berbalik dan menatap Agni tajam.
“lo
nantangin gue? Yakin?”
“menurut
lo?!”
Beberapa
saat kemudian Agni lalu mendrible bola yang ada ditangannya seakan mengundang
Cakka untuk masuk kedalam permainan. Cakka tersenyum sinis, ia melangkah maju
lalu berusaha merebut bola yang ada dalam kekuasaan Agni. Permainan satu lawan
satupun telah dimulai…
***
Via
duduk sendiri disebuah bangku panjang yang terdapat disebuah taman. Taman itu
sendiri terletak tidak jauh dari komplek perumahan tempat ia tinggal. Setiap
senja tiba, Via selalu pergi ketaman itu dan duduk didepan sebuah kolam sambil
menikmati senja yang jingga.
Kedua
pundak Via bergetar hebat menahan isak. Seumur hidupnya ia tidak pernah
menyangka bahwa ia akan bertemu Papa nya dengan cara seperti ini. Jika ingin
jujur, sebenarnya Via sangat merindukan Papanya, Via rindu pelukan hangat
Papanya, Via rindu bermanja-manja dan merengek pada Papanya, tapi ia jika
mengingat pengkhinatan Papanya 6 tahun lalu yang akhirnya mengakibatkan
kematian Mama nya, rasa benci itu seakan merong-rong pertahannya. Segala rasa rindu
bercampur benci dan dendam seakan berkumpul menjadi satu memenuhi dan
menghimpit ruang didadanya hingga menimbulkan sesak. Maka sekuat apapun ia
mencoba menahan isakan itu, Via tetap tidak sanggup. Kenyataan ini terlalu
berat dan terlalu menyakitkan untuknya.
Sontak
Via terkaget saat sebuah tangan menyentuh pundaknya. Via yang berfikir bahwa
tangan itu adalah tangan milik Papa nya langsung menoleh kebelakang dengan
wajah ketakutan juga air mata yang membasahi wajahnya. Tapi Via langsung
menghela nafas lega saat tahu bahwa yang ada dibelakangnya bukanlah Papa nya
melainkan Alvin.
Alvin
menatap Via dengan pandangan sedih. Ia miris melihat keadaan Via yang seperti
ini. Meskipun ia tidak tahu menau soal masalah yang sekarang sedang Via hadapi,
tapi Alvin dapat merasakan ketakutan yang Via rasakan saat bertemu dengan Papa
nya tadi. Alvin dapat membaca semuanya dengan sangat jelas bahkan sebelum Via
berkata apapun.
“A…
Alvin??”
“iya
ini gue… lo jangan takut lagi ya?”
Alvin
lalu duduk disamping Via, ia mengangkat kedua tangannya lalu menyeka air mata
Via yang membasahi wajahnya. Via yang sedang dalam keadaan kacau secara reflex
membawa dirinya kedalam pelukan Alvin, ia memeluk Alvin seerat mungkin lalu
menangis sejadi-jadinya dalam pelukan pria itu. Alvin yang awalnya kaget
langsung membalas pelukan Via lalu membelai rambut sebahu milik Via dengan
penuh kasih.
“hiks…
hiks… gue nggak mau ketemu sama Papa gue lagi… gue benci sama Papa gue… gue
nggak mau liat muka itu lagi, Vin… gue nggak mau, hiks hiks hiks….”
“udah
ya… udah… mending sekarang lo tenangin dulu diri lo, dan kalo lo udah siep, lo
boleh cerita sama gue, gue pasti dengerin, Vi… pasti…”
“6
tahun yang lalu, rahasia besar Papa gue kebongkar. 3 bulan setelah menikahi
Mama gue, Papa gue diem-diem menikahi sekertarisnya, dan dari pernikahan yang
secara diem-diem itu, Papa gue dianugerahin seorang anak laki-laki tepat 6
bulan sebelum kelahiran gue, dan setelah 10 tahun berlalu, isteri kedua Papa
gue dateng kerumah bersama anak laki-lakinya, Mama gue yang shock dengan
kenyataan ini akhirnya memutuskan untuk ninggalin Papa gue dan bawa gue pergi
dari rumah… tapi…. Tapi hiks… hiks….” Via yang tidak sanggup melanjutkan
ucapannya malah semakin menangis histeris. Alvin menggeleng berakali-kali dan
meminta Via untuk menghentikan ceritanya jika ia memang merasa tidak sanggup.
Alvin sakit melihat Via menangis seperti ini.
“ssttt…
jangan lo lanjutin lagi yaa? Please, gue nggak bisa ngeliat lo nangis seperti
ini…” kata Alvin seraya mengusap pundak Via beberapa kali untuk menenangkannya.
Bukannya mendengarkan ucapan Alvin itu, Via malah melanjutkan ceritanya,
“tapi
Mama gue meninggal beberapa saat setelah kita keluar dari rumah, Mama gue
meninggal karna penyakit gagal ginjal yang dia derita.. hiks… hiks… sejak saat
itulah gue benci sama Papa gue, dan kebencian itu akhirnya nimbulin rasa
ketidak percayaan gue pada setiap cowok yang berusaha ngedeketin gue, gue
selalu nutup pintu hati gue rapat-rapat dan berusaha keras untuk nggak jatuh
cinta pada cowok manapun, gue juga udah nggak percaya lagi sama yang namanya
cinta… hal itulah Vin yang bikin gue selalu jutek sama lo… gue Cuma takut pengkhianatan yang sama akan
terulang lagi, gue takut… hiks hiks hiks….”
Via
akhirnya mengeluarkan semua apa yang mengganjal dihatinya selama ini. Sama
seperti Via, Alvin juga menjadi orang pertama yang tahu semua rahasia besar Via
selama ini. Dan kini Alvin pun akhirnya paham apa alasan dibalik semua sikap
jutek Via padanya selama ini. Alvin memejamkan matanya, setetes air matanya
menetes secara perlahan, dan itu adalah tangisan pertama yang ia keluarkan
seumur hidupnya.
Alvin
menghela nafas panjangnya, ia mendaratkan sebuah kecupan dipuncak kepala Via
lantas berkata,
“mulai
sekarang lo boleh jutek sama gue, lo juga boleh marah-marahin gue sesuka hati
lo, gue nggak akan protes lagi, Via… gue nggak akan protes lagi….”
***
“Priss…
apa yang bakal lo lakuin kalo nanti lo ketemu sama Alvin, tapi ternyata Alvin
udah punya cewek lain?” Tanya Febby tiba-tiba sambil tetap focus menyetir pada
Sang Adik yang duduk disebelahnya. Pricilla menoleh kearah Kakaknya lalu
menatap Febby dengan pandangan bertanya plus sebal.
“kenapa
jadi Alvin sih…?” Tanya Pricilla kesal.
“ya
kali aja lo masih ada rasa sama Alvin”
“ogah…
punya rasa dendem sih iya” sahut Pricilla tidak kalah kesalnya dari sebelumnya.
Pricilla melipat kedua tangannya didepan dada lalu membuang wajahnya kearah
kaca jendela mobil milik Febby.
“atau
apa jangan-jangan Rio udah punya cewek laen ya?” kata Pricilla tiba-tiba dengan
tatapan memicingya. Kali ini giliran Febby yang dibuat kesal.
“iiih…
sok tahu banget sih lo…”
“Kak,
kalo kata gue mending lo jangan ganggu Rio kalo emang Rio udah punya cewek
laen. Toh elo juga pergi ninggalin dia selama 2 tahun tanpa kabar apapun kan?”
“tapi
gue kan punya alasan Priss, gue pergi ke LA karna perceraian Papi sama Mami,
dan gue tau, gue nggak bisa ceritain masalah itu ke Rio. Kalo gue nggak pergi
waktu itu dan lebih milih untuk tetep tinggal disini, terus nasib lo gimana?
Mikir dong” kata Febby mulai emosi.
“tapi
itu bukan alasan, Kak… mau kayak apapun masalahnya lo harus ngasih kepercayaan
ke Rio dengan nyeritain apa yang sebenernya terjadi, biar Rio nggak salah
paham…”
Febby
hanya berdecak dan sedikit membanting tangannya diatas setir. Pricilla hanya
menggelengkan kepalanya beberapa kali saat menghadapi tingkah Kakaknya yang
ternyata masih sangat kekanak-kanakan.
“pikirin
lagi deh apa yang gue bilang ini Kak… kita boleh cinta sama seseorang, tapi
kita harus sadar bahwa nggak semua yang kita cintai bisa kita miliki. Mengerti
kan, Febby Kimberly?”
Febby
diam berfikir. Sepertinya perkataan Pricilla itu ada benarnya juga. Tapi kan
selama ini Febby sama sekali tidak memiliki niat untuk merebut Rio dari tangan
Ify, meskipun pada kenyataan yang sebenarnya ia sangat ingin melakukan hal itu.
Febby hanya ingin menguji mereka, sejauh apa mereka sanggup bertahan dibawah bayang-bayang
Febby. Febby juga hanya ingin Rio dan Ify berkata yang sejujurnya tanpa perlu
Febby minta.
Pricilla
melirik sejenak kearah Kakaknya, tidak lama Pricilla mengalihkan perhatiannya
pada wallpaper ponselnya yang menampakkan gambar dirinya semasa kecil bersama
seorang sahabat kecilnya yang tengah menggendong boneka teddy bear. Foto itu
diambil kira-kira sekitar 8 tahun yang lalu, tepatnya 2 bulan sebelum Pricilla
pindah ke LA.
Saat
Pricilla berumur 7 tahun, kedua orang tuanya membawanya pergi ke LA. Tapi
kepergian mereka ke LA tidak untuk selamanya, karna 6 tahun kemudian, tepatnya
saat Pricilla berusia 13 tahun ia kembali lagi ke Indonesia, tapi sayangnya
sahabatnya itu sudah pergi entah kemana.
Dan
setelah menghabiskan masa SMP nya selama 2 tahun di Indonesia dan sempat berpacaran
dengan Alvin selama 3 bulan, Pricilla kembali lagi ke LA dan meninggalkan semua
kenangan manisnya. Tapi sekarang Pricilla pulang lagi dan memutuskan untuk
tidak akan pernah kembali lagi ke LA. Disinilah kehidupannya yang sebenarnya,
dan Pricilla akan menjalani kehidupannya disini. Jika ia terus-menerus tinggal
di LA, maka selamanya pula kenangan pahit itu akan tetap membayang-bayanginya.
Perceraian Papi dan Mami nya sekitar 2 tahun yang lalu cukup membuatnya merasa
trauma dengan kota itu.
‘Rea… lo sekarang dimana? Udah 3 kali gue
bolak-balik Indonesia-LA tapi lo tetep aja nggak ada kabar…’ bathin
Pricilla lalu membuang nafas panjangnya.
***
Alvin
membawa Via pulang kerumahnya saat hari sudah gelap. Via juga tertidur dengan
pulasnya dalam gendongan Alvin. Ia menempelkan dagunya pada pundak Alvin,
seharian ini ia benar-benar lelah. Saat Alvin memasuki gerbang rumah Via,
ternyata Dyna sudah menunggu kedatangan mereka diberanda depan. Dyna langsung
menghampiri kedua orang itu.
“Alvin,
Via kenapa?” Tanya Dyna cemas. Alvin tersenyum lalu menggeleng,
“Via
nggak apa-apa kok Tante… mungkin seharian ini dia kecapaian makanya sampe
ketiduran, aku nggak tega ngebangunin dia…” jawab Alvin apa adanya. Dyna
langsung menghela nafas lega sesaat setelah Alvin menyelesaikan jawabannya.
“ya
udah, Tante minta tolong ya kamu bawa Via ke kamarnya. Kamar Via ada dilantai
2”
“baik
Tante…”
“tapi
kamu nggak apa-apa kan, Vin?”
“nggak
apa-apa kok, Tan…” jawab Alvin seraya menggeleng. Ia lalu melanjutkan
langkahnya hendak membawa Via kedalam kamarnya. Dyna hanya mengikuti
dibelakang.
Saat
Alvin dan Dyna sama-sama menaiki anak tangga, tiba-tiba telfon rumah Dyna
berdering, ia pamit pada Alvin untuk mengangkat telfon sebentar lalu meminta
Alvin membawa Via kekamarnya dulu. Alvin hanya menurut saja.
Tidak
lama kemudian tibalah Alvin didepan kamar Via, ia mengulurkan salah satu
tangannya untuk membuka pintu kamar. Saat pintu kamar terbuka, Alvin langsung
meraba tembok yang ada didekatnya untuk mencari sakelar. Beberapa detik
kemudian Alvin akhirnya menemukan sakelar dan menyalakan lampu kamar Via.
Nuansa
kamar Via yang serba pink langsung menyambut kedatangan Alvin dan aroma
strawberry yang menyegarkan langsung menguar saat Alvin melangkahkan kakinya
memasuki kamar Via.
Secara
perlahan Alvin merebahkan tubuh lelah Via diatas ranjangnya yang empuk. Dan
dengan perhatian, Alvin membuka sepatu serta kaus kaki Via. Setelah selesai
dengan kegiatannya itu, Alvin lalu menaikan selimut Via hingga menutupi tubuh
Via sampai ke dada. Untuk beberapa lama Alvin menatap wajah Via yang terlihat
letih. Ia tidak pernah menyangka bahwa Via yang selama ini kenal sebagai sosok
gadis yang tangguh dan kuat ternyata sangat menderita dengan masa lalu nya yang
pahit. Alvin tersenyum miris, tangan kananya terangkat lalu mendarat tepat
dipuncak kepala Via. Dengan lembut Alvin membelai rambut Via.
“lo
pasti sangat lelah, Vi… istirahat lah….” Ujar Alvin pelan. Ia lalu menunduk dan
mengecup kening Via. Alvin melakukannya agak lama.
Dan
saat Alvin mengangkat wajahnya, ia sedikit terkejut ketika melihat boneka teddy
bear yang hampir sama dengan boneka miliknya bertengger disamping Via yang
terlelap. Lalu tanpa dikomando, salah satu tangan Alvin bergerak perlahan dan meraih
boneka itu. Dan Alvin lagi-lagi terkejut saat melihat sebuah kalung yang
terpasang pada leher boneka itu. Kalung itu sama persis dengan kalung boneka teddy bear milik Andrea kecilnya. Dan pada
bandul kalung yang terbuat dari perak itu, bertuliskan sebuah nama yang semakin
membuat Alvin meyakini bahwa Via adalah Andrea nya. Alvin semakin mempertajam
pengelihatannya, dan jantungnya langsung berdegub kencang saat mendapati bahwa
tulisan yang terdapat pada bandul kalung teddy bear itu bertuliskan nama:
‘ANDREA’
Alvin
langsung merasakan gejolak yang sama sekali tidak terjelaskan jauh didalam
sana. Ia seolah ingin berteriak sekeras mungkin dan kembali merengkuh gadis ini
dengan erat, tapi Alvin berusaha menahan dirinya, karna ini bukan saatnya.
Ternyata dugaannya selama ini tepat, Via benar-benar Andrea kecilnya, Andrea
yang selalu ia tunggu.
“Vin…”
panggilan dari Dyna itu tiba-tiba mengejutkan Alvin. Alvin langsung menoleh
kebelakang tanpa melepaskan boneka itu.
“kamu
masih disini?”
“i…
iya Tante… saya baru aja mau keluar”
Dyna
tersenyum kecil, perhatiannya tahu-tahu tertuju pada boneka teddy bear yang ada
ditangan Alvin. Dyna berjalan perlahan menghampiri Alvin lalu mengambil alih
boneka itu dari tangan Alvin,
“ini
boneka kesayangan Via. Dulu, saat ulang tahunya yang ke-6, Mama nya pernah
ngasih Via hadiah boneka teddy bear, tapi 6 tahun yang lalu, saat Mama nya
meninggal, Via malah menghilangkan boneka itu dirumah sakit. Via menangis
sampai berhari-hari gara-gara bonekanya hilang juga karna kepergian Mamanya.
Dan sebagai gantinya, Tante membelikan boneka yang hampir sama dengan boneka
pemberian Mamanya, Via menerima boneka ini meskipun sebenarnya yang dia
inginkan hanya boneka pemberian Mama nya…”
Perasaan
Alvin semakin tidak terjelaskan oleh kata-kata manakala mendengarkan penjelasan
Dyna. Sekarang genap sudah keyakinannya, bahwa Via yang selama ini mati-matian
ia kejar ternyata adalah Andrea kecil yang selama ini ia tunggu-tunggu. Alvin
tersenyum lega, dan detik itu juga Alvin bersumpah ia tidak akan pernah
melepaskan Via apapun yang terjadi. Via hanya miliknya dan sampai kapanpun
tetap akan menjadi miliknya.
***
Sebuah
tamparan langsung mendarat dipipi sebelah kanan Alvin saat ia datang keruang
kerja Papi nya untuk memenuhi panggilan beliau. Alvin hanya diam menunduk dan
tidak bereaksi apapun. Tadi, saat Alvin baru saja kembali dari rumah Via, Mami
nya langsung meminta Alvin untuk pergi keruang kerja Papi nya, Mami bilang,
Papi ingin membicarakan sesuatu. Alvin yang bisa menebak apa yang ingin Papi
nya sampaikan langsung memenuhi panggilan itu setelah sebelumnya ia
memperhitungkan resiko apa yang akan dia dapatkan.
“Papi
dapat kabar, kalo 2 minggu yang lalu kamu bertengkar sama Cakka, benar?”
Alvin
mengangguk tanpa sedikitpun menatap Papinya.
“kenapa
kalian bertengkar? Pasti ini semua karna ulah kamu kan, iya kan?”
Sekali
lagi Alvin mengangguk tanpa berusaha melakukan pembelaan apapun terhadap
dirinya. Alvin merasa percuma saja melakukan pembelaan, toh Papinya yang sudah
terlanjur menggilai Cakka itu tidak akan pernah mau mempercayainya, dan selamanya
juga Alvin akan selalu salah dimata Papinya.
Dan
untuk yang kedua kalinya, tamparan itu kembali mendarat dengan mulus dipipi
Alvin. Tanpa bisa dihindari lagi, tamparan yang lumayan keras itu menimbulkan
luka ditepi bibir Alvin juga dihatinya. Darah segar menetes dari tepi bibirnya,
tapi Alvin masih bertahan dengan kebungkamannya.
“sampai
kapan kamu akan terus-terusan membuat masalah seperti ini, Alvin? Sampai kapan?
Hah?”
“sampai
Papi bisa ngasih aku kepercayaan Papi sedikiiiit aja, Cuma itu!” jawab Alvin
dengan tegas. Lagi-lagi tamparan itu mendarat untuk yang ke tiga kalinya. Alvin
menyentuh pipinya lalu mengusap darahnya.
“sekali
lagi kamu membuat masalah dengan Cakka, Papi tidak akan segan-segan untuk
mengirim kamu keluar negri, Alvin”
“setidaknya
itu lebih baik buat aku, Pi… setidaknya kalau aku jauh dari Papi, aku bisa
melakukan apapun yang aku inginkan tanpa takut Papi akan tahu”
Dan
ketika Pak Duta akan melayangkan tamparannya untuk yang keempat kalinya diwajah
Alvin, Alvin langsung memejamkan kedua matanya. Tangan Pak Duta menggantung
diudara dan perlahan turun. Ia membatalkan niatnya menampar Alvin untuk yang ke
empat kalinya.
“sekarang
keluar kamu dari sini!” ucap Pak Duta dengan tegas.
“kenapa
Papi nggak lanjutin nampar aku? Lanjutin, Pi! Lanjutin!”
“keluar
Papi bilang” ulang Pak Duta sekali lagi.
Kali
ini Alvin mengalah, ia menganggukan kepalanya beberapa kali lalu berbalik dan
pergi meninggalkan ruang kerja Papinya bersama rasa sakit yang coba ia tahan.
Kenapa
hatinya harus sesakit ini…??
***
Keesokan
harinya…
“RIO!!”
Pekik Ify dari kejauhan dan membuat langkah Rio langsung terhenti seketika. Rio
menoleh kebelakang dan mendapati sosok Ify yang saat itu tengah berlari kecil
menghampirinya. Ada apa? Tidak biasanya Ify seperti ini.
“kenapa,
Fy?” Tanya Rio dingin sesaat setelah Ify berdiri dihadapannya.
“kamu…
masih marah sama aku?” Tanya Ify ragu-ragu. Ia seperti sudah lama ingin
menanyakan hal itu pada Rio. Rio langsung mengernyit, heran kenapa Ify
tiba-tiba melemparkan pertanyaan itu padanya.
“maksud
ka –“
“Rio
aku minta maaf” ujar Ify dengan cepat sebelum Rio menyelesaikan ucapannya. “aku
ngaku salah, Yo… nggak seharusnya aku nyerahin kamu gitu aja ke Kak Febby, kamu
benar, seharusnya aku berjuang dulu untuk kita. Kak Febby bahkan belum tau
tentang hubungan kita, aku… aku –“
Sebelum
Ify menyelesaikan perkataannya, Rio malah sudah menarik gadis itu kedalam
pelukannya. Rio bahkan sama sekali tidak peduli saat semua perhatian
teman-temannya tertuju padanya.
“kamu
nggak usah ngomong lagi ya, Fy? Aku yang harusnya minta maaf karna udah
bentak-bentak kamu, aku yang seharusnya minta maaf karna nggak bisa ngertiin
posisi kamu yang sulit…” Ify mengangguk beberapa kali dengan mata berkaca-kaca
seraya menepuk punggung Rio beberapa kali.
Semalaman
suntuk Ify tidak tidur karna memikirkan keputusannya ini. Mungkin nantinya Ify
akan menyakiti Febby, tapi setidaknya Ify sempat memperjuangkan cintanya pada
Rio. Ify memejamkan matanya, lalu tanpa bisa ia control, Kristal-kristal bening
itu mulai berdesakan keluar dari kedua pelupuk matanya. Ia begitu menyayangi
Rio, dan ia merasa tidak sanggup jika harus melepaskan Rio untuk orang lain
termasuk itu Febby.
Ify
lalu melepaskan pelukan Rio darinya. Dan saat tahu kalau Ify sedang menangis, Rio langung menyeka air
mata Ify dengan kedua tangannya.
“nggak
usah cengeng, jelek tau?!” kata Rio dengan nada meledek. Ify hanya mengangguk
beberapa kali sebagai jawabannya.
“oya,
Yo… hari ini sekolah kita kedatangan seseorang yang special?”
“siapa?”
Tanya Rio sedikit penasaran sambil menyelipkan anak rambut Ify dibelakang
telinganya. Ify tersenyum misteri lantas menjawab…
“Queenshara
Apricilla”
***
Hari
ini Alvin galau. Pasalnya kekasih hatinya yang tidak lain dan tidak bukan
adalah Via tidak masuk sekolah karna merasa sedikit tidak enak badan. Tadinya
Alvin memaksa Via untuk berangkat kesekolah bersamanya, tapi setelah melihat
wajah Via yang benar-benar pucat, Alvin akhirnya luluh dan mengalah. Tapi
semuanya tidak selesai sampai disitu, tadi Alvin juga sempat memaksa untuk
bolos dan ikut membawa Via kerumah sakit bersama Tantenya, tapi Via malah
mengomelinya habis-habisan, persis seperti seorang Isteri yang mengomeli
suaminya karna ketahuan selingkuh. Akhirnya mau tidak mau, dan dengan perasaan
cemas Alvin berangkat kesekolah sendiri tanpa Via.
Dan
prihal kejadian semalam, saat Alvin tahu bahwa Via adalah Andrea kecil yang
selama ini ia cari-cari, Alvin lebih memilih bungkam untuk sementara waktu
sampai nanti tiba waktunya ia akan mengatakan yang sebenarnya pada Via.
Alvin
berjalan dianak tangga dengan perhatiannya yang tertuju pada layar ponselnya.
Alvin bahkan sama sekali tidak sadar dengan suasana riuh yang saat ini terjadi
disekitarnya. Alvin tetap berjalan dengan santainya sampai seorang siswa
tiba-tiba saja menubruknya dari belakang. Alvin yang tersadar langsung
mengangkat wajahnya dan menoleh kearah Rizky.
“heh!
Lo kalo jalan pake mata dong! Lagian ada apa sih? Kok semuanya pada heboh begini?
Ada kebakaran ya?” Tanya Alvin dengan wajah polosnya.
“sorry
Vin, gue nggak sengaja! Itu… Prissy kembali lagi kesekolah ini” jawab Rizky
yang saat ini terlihat seperti seseorang yang tengah dikejar-kejar setan. Alvin
menampakkan wajah berfikir, dan tepat saat Rizky akan melanjutkan langkahnya,
Alvin malah menahannya dengan cara menarik kerah bajunya dari belakang.
“apa
lagi sih, Viiinnn?? Gue mau lihat Prissy tau?” kata Rizky tidak sabar.
“tunggu
dulu! Prissy mana maksud lo? Emang do’i pernah sekolah disini?” Tanya Alvin
dengan wajah datar tanpa ekspresinya. Bukannya berpura-pura lupa, tapi Alvin
memang benar-benar lupa.
“ya
ampuunnn… Prissy, Vin… Queenshara Apricilla, mantan lo pas masih SMP, begok!!”
kata Rizky tanpa sadar. Ia akhirnya bisa meloloskan diri dari Alvin dan berlari
terbirit-birit seperti yang lainnya hendak menyambut kedatangan Prissy di
koridor.
Sementara
Alvin yang awalnya bingung kini semakin bingung. Ia menampakkan wajah berfikir
seraya meletakkan salah satu jarinya didagu,
“Queenshara
Apricilla? Mantan gue? Mantan yang mana??” Tanya Alvin pada dirinya sendiri.
Merasa penasaran, ia lalu memutuskan untuk mengikuti teman-temannya yang lain.
***
Pricilla
berjalan dikoridor dengan santainya dan tanpa menghiraukan tatapan-tatapan
memuja yang kini hanya tertuju padanya. Dan Pricilla bahkan sama sekali tidak
peduli dengan beberapa orang siswa yang berusaha menyapanya. Pricilla tetap
cuek dan melangkah dengan pasti. Dulu Pricilla pernah mengenyam pendidikan SMP
disekolah ini selama 2 tahun lamanya sebelum akhirnya ia dibawa ke LA oleh
kedua orang tuanya. Dan 2 tahun setelahnya lagi yang bertepatan dengan hari
ini, Pricilla akhirnya kembali lagi. Dan ternyata tidak ada satupun yang
berubah dari sekolah ini. Semuanya masih tetap sama dengan 2 tahun yang lalu.
Dan meskipun sudah lumayan menghilang dari sekolah ini, nyatanya pesona
Pricilla tidak pernah meredup. Ia tetap menjadi bintang disekolah ini.
Pricilla
mendadak menghentikan langkahnya saat Alvin tiba-tiba muncul lalu menghalangi
jalannya. Tanpa Pricilla duga sebelumnya, dan tanpa Pricilla inginkan,
jantungnya malah berdegub 2 kali lebih kencang dari sebelumnya. Sialan! Apa
sampai sekarang Pricilla belum bisa melupakan cowok berengsek ini?
“hay
Alvin!” sapa Pricilla dingin seraya melambaikan tangannya. Ia berusaha bersikap
sewajar mungkin dan terlihat se-antagonis mungkin dihadapan pria ini.
“hay
juga… ummmm… lo kenal gue?”
Pertanyaan
yang Alvin lontarkan itu sukses membuat Pricilla merasa seperti dilempar dari
lantai 17. Air muka Pricilla yang tadinya memancarkan kesan angkuh kini
perlahan meredup. Dari dulu Alvin memang selalu tahu bagaimana cara
menghempaskannya.
“oooo…
lo Queen… hmmm… Queensha Apricilia yang katanya mantan gue itu ya? Bay the way,
lo mantan gue yang keberapa?” Tanya Alvin tanpa sedikitpun merasa berdosa. Tapi
memangnya mau bagaimana lagi? Alvin benar-benar lupa.
“gue
Queenshara Apricilla, bukan Queensha Apricilia. Dan gue pacar pertama lo!” ujar
Pricilla sinis lalu berjalan melewati Alvin dengan perasaan yang benar-benar
keki. Apa begini cara Alvin menyambutnya setelah hampir selama 2 tahun lamanya
mereka tidak pernah bertemu? Apa Alvin hanya pura-pura melupakannya untuk
menyakitinya lagi? Benar-benar tidak bisa dimaafkan.
“Queenshara
Apricilla? Pacar pertama gue??” Tanya Alvin pada dirinya sendiri dengan raut
wajah yang benar-benar terlihat bodoh.
BERSAMBUNG….



0 comments:
Post a Comment