Sebelumnya…
“kamu
kok nggak masuk kelas?” Tanya Via sehati-hati mungkin. Cakka menoleh kearah Via
dengan senyuman yang tidak kunjung luntur dari bibirnya.
“lagi males” jawab Cakka seadanya.
Via hanya mengangguk, “kalo kamu?” lanjut Cakka,
“hah? Aku? Sama lagi males juga,
hehehe…” jawab Via dengan suara cengirannya yang khas.
Kali ini giliran Cakka yang
mengangguk. Selepas itu, Cakka dan Via sama-sama larut dalam keheningan. Via
tidak tahu harus berkata apalagi, begitu juga dengan Cakka. Cakka tidak
mengerti, kenapa setiap kali berada disamping Via ia selalu kehabisan kata-kata
seperti ini. Dan yang lebih Cakka tidak mengerti lagi, kenapa ia begitu lembut
pada Gadis ini, sementara pada yang lainnya Cakka begitu dingin dan selalu
tidak peduli dengan apa yang ada disekitarnya. Ada apa dengannya? Apa yang
salah dengan hatinya?
“Via?”
“hmmm….” Jawab Via dalam sebuah
gumaman,
“kamu ngerasa bosen nggak disini?!”
Tanya Cakka tiba-tiba.
“maksudnya?” Via tidak paham.
“iya? Kamu bosen nggak disini?”
ulang Cakka. Via yang mulai paham dengan maksud Cakka pun akhirnya mengangguk
pelan lalu menjawab,
“sedikit bosen sih”
Cakka tersenyum puas, ia bangkit
dari sisi Via lalu mengulurkan tangan kananya tepat didepan Via, Cakka sedikit
membungkuk agar posisinya tidak terlalu tinggi.
“ngapain?” Tanya Via dengan kedua
alis bertaut.
“bolos yuk!!”
“tapi kan –“
“udah santé aja! Semuanya akan
baik-baik aja kok” Cakka berusaha menenangkan Via. Tapi hal itu tidak lantas
membuat Via langsung menerima ajakan Cakka. Via terlihat berfikir keras, tidak
lama kemudian Via menatap tangan Cakka yang terulur, sesekali juga Via menatap
wajah Cakka, lalu tidak lama kemudian…
“oke deh!” Via menerima uluran
tangan Cakka lalu bangkit.
Cakka dan Via pun berjalan
beriringan meninggalkan halaman belakang sekolah setelah sebelumnya mereka
berdua saling menatap untuk sejenak seraya melemparkan sebuah senyuman satu
sama lain.
Sepertinya hari ini akan menjadi
hari yang sangat menyenangkan untuk mereka. Tapi bagaimana dengan Alvin…?
***
Part
8
“elo
ngapain aja sih di LA? Kabur ke LA 2 tahun nggak pernah ngasih kabar apapun”
kata Angel sedikit sebal pada Febby yang saat itu tengah duduk berhadap-hadapan
dengannya disebuah café yang menjadi tempat favorit mereka semasa masih sekolah
dulu.
“yaaahh…
Ngel, namanya juga orang kabur. Dimana-mana yang namanya orang kabur itu pasti nggak
ngasih kabar lah” kata Febby setelah sebelumnya ia mendesah pelan. Mungkin
Angel salah, tapi entah kenapa dia bisa melihat gurat-gurat lelah terpancar
diwajah cantik sahabat karibnya itu.
“Febb!”
panggil Angel pelan.
“yaa?”
sahut Febby.
“hubungan
lo sama Rio gimana?” Tanya Angel takut-takut yang memang sudah tau apa yang
terjadi sebenarnya selama 2 tahun lamanya Febby menghilang dari peredaran.
Kali
ini Febby menatap Angel dengan pandangan bertanya. Untuk beberapa detik, Febby
tidak mengalihkan tatapannya dari kedua mata Angel. Ia seolah tengah mencari
sesuatu yang tersembunyi dari kedua pancaran mata sahabat sehidup-sematinya
itu.
“lo
kenapa ngeliatin gue kayak gitu?” Tanya Angel dengan kedua alis bertaut satu
sama lain.
“nggak.
Cuma aja gue ngerasa kalo seharusnya gue yang nanyain hal itu ke elo”
“maksud
lo?!”
“Rio
berubah”
“berubah
gimana?”
Febby
menoleh kearah Angel, ia menatap Angel sesaat lalu tertawa hambar. Apa yang
Febby lakukan itu malah membuat Angel semakin bingung.
“hahahaha..
come on! Rio itu sahabat deket adek lo, Ngel. Dan gue juga tau kalo Rio sering
maen kerumah lo, jadi lo nggak mungkin nggak tau lah sama apa yang terjadi
selama gue nggak disini”
“gue
tau lo cerdas, Febb. Dan gue yakin lo bisa baca situasi apa yang sedang terjadi
sekarang ini tanpa perlu gue susah-susah ngasih tau lo. Dan kalo menurut gue,
lo nggak bisa selamanya terus-terusan pura-pura nggak tau kayak gini”
“Ngel,
gue bukannya sengaja bersikap seolah-olah gue nggak tau apa-apa, gue Cuma mau
ngetes seberapa besar kesanggupan mereka buat ngebodohin gue”
“maksud
lo?”
“nanti
lo juga akan ngerti”
Febby
tersenyum penuh misteri dan semakin membuat Angel bertanya-tanya dalam hati.
Apalagi yang akan Febby lakukan kali ini?
***
Bel
tanda masuk berbunyi dengan nyaringnya dan memecah keriuhan yang sejak tadi
menyelimuti Gedung jurusan IPA SMA Tunas Bangsa. Semua siswa siswi berhamburan
memasuki kelas sebelum Kepala Sekolah mereka berpatroli. 5 menit setelah bel
tanda masuk berbunyi, biasanya Kepala Sekolah bersama salah seorang Guru BP
melakukan Patroli dan tidak segan-segan menangkap siswa siswi yang masih
terlihat berkeliaran diluar kelas. Berpatroli 5 menit selepas bel tanda masuk
berbunyi adalah hal wajib yang dilakukan oleh Pak Munir, kepala sekolah super
killer yang juga adalah Om dari Alvin.
Alvin
terus menatap kearah pintu kelas berharap bisa melihat sosok Via yang memasuki
kelas, tapi hingga 3 menit berlalu Via belum juga menampakkan tanda-tanda
kehadirannya. Alvin mulai gusar sambil sesekali melirik arloji yang terlingkar
dipergelangan tangannya. Kemana Gadis itu? Kenapa hingga sekarang ia belum juga
memasuki kelas? Alvin lalu melirik Ify yang duduk dibelakangnya, Alvin menatap
Ify untuk beberapa saat dan menangkap seperti ada sesuatu yang tidak beres
terjadi pada Ify. Tapi hal itu tidak menyurutkan niat Alvin untuk menanyakan
soal Via pada Ify,
“Fy?”
“hmmm…”
sahut Ify malas.
“lo
liat Via nggak?”
Ify
hanya menggeleng pelan. Alvin berdecak kesal lalu menggebrak meja sedikit
keras, baru saja Alvin akan bangkit dari bangkunya dan hendak mencari Via
diluar kelas, seorang Guru tiba-tiba saja memasuki kelas. Alvin akhirnya hanya
bisa menelan bulat-bulat rasa kesalnya juga rasa cemasnya. Jika Alvin mau,
sebenarnya Alvin bisa saja keluar dari kelas seenaknya, tapi mengingat ancaman
Papi nya beberapa waktu lalu, Alvin jadi malas membuat ulah lagi disekolah.
***
Mobil
sport milik Cakka keluar dari gerbang sekolah tepat 2 detik sebelum Satpam SMA
Patuh Karya menutup pintu gerbang. Via yang sejak tadi duduk disamping Cakka
berusaha menahan nafas saat Cakka melakukan tindakan nekad itu. Melihat
ekspresi lucu Via itu membuat Cakka tidak kuat menahan tawanya. Tawa itu
akhirnya pecah dengan lepas untuk yang pertama kalinya.
“Hahahahahaha….”
Cakka tertawa cukup keras. Tapi Via masih menutup kedua matanya sambil memegang
dadanya.
“Via,
kamu bisa bernafas sekarang!” ucapan Cakka itu akhirnya membuat Via membuka
kedua matanya. Via pun menghembuskan nafasnya yang sejak tadi ia tahan.
“kamu
kok nekad banget sih ngajakin saya bolos?”
“kita
nggak bolos Via! Kita hanya pulang lebih cepat dari yang lain”
Via
menatap Cakka dengan pandangan bertanya. Memangnya apa bedanya? Cakka melirik
kearah Via dan membuat Via langsung mengalihkan tatapannya kearah lain.
“apa
bedanya sama bolos?” Tanya Via pelan.
“saya
nggak sembarangan ngajakin kamu bolos, Vi”
“ha?”
“iya!
Tadi saya dapet info dari TU. Katanya hari ini ada rapat Guru. KBM Cuma diisi
dijam pertama aja, dan setelah Istirahat nanti, sekolah bakalan dibubarin” terang
Cakka. Via pun mengangguk paham.
Perhatian
Cakka tahu-tahu tertuju pada bed nama milik Via. Pada bed nama itu tertera nama
panjang Via yang membuat pikiran Cakka mendadak kacau.
‘SIVIA ANDREA PUTERI. A’ ujar Cakka dalam
hati. Ia lalu melirik bed nama miliknya sendiri.
‘CAKKA DIMAS PUTERA. A’
Apa
ini hanya kebetulan semata? Atau jangan-jangan…
***
Dyna
berjalan cepat kearah pintu ketika ia mendengar suara bel. Dan saat Dyna
membuka pintu, betapa terkejutnya Dyna melihat seseorang yang berdiri didepan
rumahnya. Dyna akhirnya kembali melihat wajah angkuh itu setelah hampir selama
6 tahun lamanya Dyna tidak pernah melihatnya. Dia Edgar Adhirajasa, Ayah
Kandung dari Via sekaligus suami dari Almarhum Kakak kesayangannya.
“Mas
Edgar??” ucap Dyna pelan. Rasa shock kini mulai melingkupi dirinya.
“Dyna…!”
Dyna
menghela nafas panjang, berusaha mengontrol segala rasa yang kini mulai
berkecamuk didadanya. Dyna belum melakukan persiapan apapun untuk menyambut
kedatangan Kakak Iparnya ini, untuk itu sekarang Dyna bingung harus melakukan
apa, karena memang sejak awal ia tidak pernah membayangkan hari ini akan
terjadi. Disaat dia dan Via mati-matian bersembunyi dari Edgar, Edgar malah
dengan mudahnya menemukan mereka. Tapi bukan kah hal ini yang menjadi alasan
kuat Dyna yang ingin kembali ke Indonesia? Dyna ingin mengembalikan Via pada
Ayah kandungnya, Dyna ingin membantu kedua Ayah dan Anak ini menyelesaikan
permasalahan mereka. Lalu sekarang kenapa Dyna harus takut saat Edgar
menemukannya?
“da…
darimana Mas tau aku tinggal disini?” Tanya Dyna sedikit gugup, tapi Edgar
malah menampakkan wajah tanpa riaknya.
“dimana
Dyra dan Puteri ku?” Tanya Edgar dengan tegas.
“apa
Mas masih peduli dengan mereka?!”
“katakan
saja dimana Dyra dan Puteri ku? Aku tidak ingin banyak bi –“
“Mbak
Dyra sudah meninggal 6 tahun yang lalu” sela Dyna dengan suara bergetar sebelum
Edgar menyelesaikan ucapannya.
Edgar
tersentak bukan main, tapi hati kecilnya seakan belum bisa mempercayai perkataan
Dyna itu. Edgar merasakan penolakan yang keras dilubuk hatinya yang terdalam.
Dyra masih hidup, Dyra baik-baik saja, ini hanya bagian dari sekenario yang
Dyra dan Dyna susun untuk memisahkan dirinya dengan Rea, puteri kecil yang
sangat ia rindukan. Fikir Edgar.
Edgar
lalu menggeleng beberapa kali untuk memberikan penolakan yang lebih kentara
lagi.
“kalian
jangan coba-coba membohongiku. Biar bagaimana pun Rea itu Puteri ku, dan kalian
tidak akan pernah bisa memisahkan aku dan Puteriku dengan sekenario murahan
ini! Aku tau, ini semua bagian dari sekenario kalian kan? Iya kan?” tuduh Edgar
sengit. Kedua alis Dyna saling bertaut karna bingung. Bagaimana bisa Edgar
menuduhnya sekeji ini setelah apa yang ia lakukan pada Kakak dan keponakannya 6
tahun yang lalu?
“bagaimana
bisa Mas Edgar berfikir sepicik itu? Aku tidak berbohong Mas, Mbak Dyra sudah
meninggal 6 tahun yang lalu, beberapa saat setelah Mbak Dyra dan Rea keluar
dari rumah Mas Edgar. Mbak Dyra meninggal karna penyakit Gagal Ginjal yang dia
derita. Dan aku yakin, Mas Edgar pasti tidak tau apa-apa kan tentang penyakit
ginjal yang Mbak Dyra derita. Iya kan Mas?” Dyna mulai tidak tahan lagi. Sudah
cukup ia bersabar dalam persembunyiannya selama 6 tahun terakhir ini. Kini saatnya
Dyna keluar dan membeberkan apa yang selama ini terpendam didadanya. Edgar
harus diberikan pelajaran.
“ja…
jadi?”
“dan
sekarang Mas Edgar tiba-tiba dateng dan minta supaya Rea kembali sama Mas? Mas
jangan salah! Selama 6 tahun ini aku dan Rea bersembunyi di Jerman, selama 6
tahun persembunyian kami, nggak pernah sekalipun aku nggak ngebujuk Rea supaya
Rea mau kembali ke Indonesia dan pulang kerumah Mas, tapi Mas tau apa yang Rea
katakan?”
Edgar
bergeming, tapi raut wajahnya menampakkan rasa penasaran yang sudah tidak dapat
ditahan lagi.
“Rea
bilang, dia udah nggak punya Papa lagi”
‘REA
BILANG, DIA UDAH NGGAK PUNYA PAPA LAGI’ Ucapan Dyna yang terakhir itu seakan
menjelma menjadi sebuah sembilu yang mengiris hati Edgar. Apa lagi yang lebih
menyakitkan dari ini? Edgar tahu dan sadar akan kesalahan yang ia lakukan
dimasa lalu, tapi Edgar tidak pernah menyangka bahwa Tuhan akan memberikannya
hukuman seberat ini.
“aku
mohon Mas, untuk kali ini aja Mas Edgar jangan ganggu Rea dulu. Aku janji nanti
setelah waktunya tiba, aku akan bawa Rea pulang ke rumah Mas, tapi untuk kali
ini tolong kasi Rea waktu lagi. Rea hanya butuh
sedikit waktu saja Mas, tolong… aku minta kepercayaan Mas kali ini”
Edgar
tidak membalas perkataan Dyna. Ia hanya terdiam tanpa mampu berucap. Lidahnya
seakan kelu, dan kenyataannya ini benar-benar menghantam telak pertahananya
selama ini. Edgar berusaha keras menahan air mata yang hendak menetes dari
kedua pelupuk matanya. Dyra, isteri yang hingga saat ini masih sangat ia cintai
ternyata sudah pergi meninggalkannya, dan yang lebih menyakitkan lagi, 10 tahun
mereka hidup sebagai sepasang suami isteri, tidak pernah sekalipun Edgar tahu
bahwa Dyra menderita penyakit gagal ginjal. Edgar merasakan sesak yang teramat
sangat, ia seakan tidak bisa menghela udara yang ada disekitarnya. Apalagi saat
Edgar tahu bahwa Rea, Puteri kecil yang sangat ia rindukan selama 6 tahun ini
sudah tidak mau menganggapnya lagi sebagai Papa.
“Mas
Edgar kenapa? Mas Edgar baik-baik aja kan?” Tanya Dyna sedikit cemas beberapa
saat setelah ia menyadari bahwa ada yang tidak beres dari gelagat Kakak Iparnya
ini.
“kamu
bisa antar saya ke makam Dyra, Dyn?” kata Edgar yang mendadak lembut. Dyna
terlihat berfikir lalu mengangguk.
***
Cakka
memberhentikan mobil sportnya dihalaman sebuah rumah singgah. Untuk sejenak Via
terpana melihat pemandangan yang ada dihadapannya. Sepenggal pertanyaan timbul
diotaknya: buat apa Cakka membawanya ketempat ini?
Seakan
bisa membaca fikiran Via, Cakka tersenyum kecil melihat Via yang waktu itu
masih terpana, bahkan Via sama sekali tidak menyadari bahwa saat itu Cakka
tengah menatapnya. Cakka lalu melepaskan sabuk pengaman yang sejak tadi
tersampir ditubuhnya, ia membuka pintu mobilnya lantas berkata,
“let’s
go, Vi!”
Cakka
terkesiap, ia mengerjap lalu segera menyusul Cakka yang saat itu tengah menunggunya
didepan mobil. Via berjalan perlahan mendekati Cakka lalu berdiri disamping
Cakka.
“kamu
kok bawa saya kesini sih, Kka?” Tanya Via sedikit heran.
“kenapa?
Kamu nggak suka saya ajak bolos kesini?” Cakka menoleh kearah Via lalu
menangkap basah Via yang ketika itu sedang menatapnya dengan pandangan
bertanya. Via buru-buru membuang tatapannya kearah lain sebelum kedua pipinya
memerah. Via menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Dan ia mulai
merasakan satu perasaan yang paling ia benci sejagad raya; salah tingkah!
“bukan
gitu! Saya heran aja kenapa saya kamu bawa kesini”
Cakka
terkekeh pelan. Entah kenapa ia merasa senang sekali melihat Via salah tingkah
seperti ini.
“nggak
usah pake acara salah tingkah bisa kali, ya?” goda Cakka. Kedua mata Via
melotot lebar. Ia lalu segera menoleh kearah Cakka dan menatap Cakka dengan
segalak mungkin. Hal itu bukannya membuat Cakka takut tapi malah membuat Cakka
ingin menghamburkan tawa. Bagaimana tidak? Melihat Via berpura-pura galak
begitu membuat Cakka seperti melihat seekor anak kucing yang sedang berusaha
supaya bisa terlihat seperti seekor macan yang sedang kelaparan. Tanpa bisa
Cakka tahan lagi, ia menghamburkan tawanya untuk yang kedua kalinya.
Via
berfikir sejenak dan mendadak heran dengan tanggapan sahabat-sahabatnya yang
menganggap bahwa Cakka ini adalah sosok yang cuek dan dingin, karna pada
kenyataannya, saat ini Via tidak menangkap kedua sikap itu dari Cakka. Apa yang
salah dengan tanggapan teman-temannya itu?
Menyadari
bahwa Via sedang menatapnya, Cakka pun menghentikan tawanya lalu menoleh
kesamping. Saat itulah, tanpa bisa Via hindari lagi, kedua manik matanya
tertangkap oleh tatapan lembut dari Cakka, tatapan lembut yang bisa membuat Via
luluh hanya dalam beberapa detik saja. Tanpa mereka sadari, mereka larut dan
tenggelam dalam tatapan satu sama lain, waktu seakan berhenti berdetak dan
membekukan tatapan itu. Via ingin menghindar, tapi sepertinya tatapan mata
Cakka itu memiliki kekuatan yang lebih besar dari keinginan Via.
“ehem…
mau sampai kapan berdiri disini?” Tanya Cakka tiba-tiba.
Via
langsung terkesiap dan mengalihkan tatapannya. Kali ini Via sudah benar-benar
buntu dan tidak tahu harus melakukan apa. Dalam hati ia merutuki kebodohannya
sendiri.
“masuk
yuk! Saya yakin kamu bakalan suka sama tempat ini” ajak Cakka sambil berlalu
dari hadapan Via dan meninggalkan Via yang masih terpaku. Cakka berjalan santai
melewati Via begitu saja.
Via
terus menatap Cakka yang berjalan perlahan mendahuluinya. Penampakkan punggung
Cakka seolah menjadi objek paling mengagumkan yang enggan ia lewatkan begitu
saja. Menatap Pria itu dari belakang seperti ini saja sudah cukup mampu membuat
jantungnya berdetak cepat tak terkendali.
‘bodoh!’
rutuk Via dalam hati.
Lalu
tanpa Via sadari, Cakka menghentikan langkahnya lalu menoleh kebelakang. Ia
menatap Via yang masih terdiam ditempatnya semula untuk beberapa saat, tidak
lama Cakkapun berkata dengan nada setengah berteriak,
“HEH
ANAK KUCING!! Ayo! Kenapa diam disitu?”
Via
langsung melotot tidak suka ketika Cakka memanggilnya dengan panggilan ‘Anak
Kucing’. Via menghela nafas kesal lalu berjalan menghampiri Cakka sambil
menyilangkan kedua tangannya didepan perut juga dengan bibir yang ia sengaja
manyunkan karena kesal.
“kalo
saya anak kucing terus kamu apa? Anak macan??” gerutu Via.
***
Sejak
jam istirahat tadi, sudah hampir 15 kali Alvin mencoba menghubungi nomer ponsel
Via, tapi hingga 15 kali juga tidak ada jawaban apapun dari Via. Alvin juga
sudah mengiriminya pesan sebanyak 5 kali, tapi tetap tidak ada jawaban apapun
dari Via. Sebenarnya ada apa dengan Gadis Jutek itu? Bukankah tadi pagi mereka
berangkat bersama? Tapi kenapa sekarang Via malah menghilang? Apa Via bolos?
Tapi untuk apa?
Itulah
rentetan pertanyaan yang timbul dibenak Alvin tanpa henti. Ia juga sudah tidak
bisa menghindari dirinya dari rasa cemas yang kelamaan memenuhi sanubarinya.
Alvin hanya khawatir pada Gadis itu, dan Alvin takut sesuatu hal buruk akan
terjadi pada Via. Hanya itu.
Selama
Alvin menjalani hubungan dengan cewek lain selain Via, tidak pernah sekalipun
Alvin mencemaskan pacar-pacarnya itu walaupun mereka hilang kabar hingga
beberapa hari lamanya. Tapi pada Via entah kenapa Alvin merasa lain. Sejam
tanpa kabar dari Via sudah cukup membuat uring-uringan seharian.
Gabriel
tiba-tiba datang lalu duduk dihadapan Alvin. Dan tanpa meminta ijin terlebih
dahulu, Gabriel langsung meneguk Jus Jeruk pesanan Alvin yang terdampar diatas
meja. Alvin melirik Gabriel dengan pandangan tidak suka.
“lo
minta gue bunuh?” Tanya Alvin sinis. Gabriel hanya nyengir sambil mengacungkan
kedua jarinya membentuk huruf ‘V’.
“Rio
kemana? Kok gue nggak ngeliat dari tadi pagi?”
“tau
tuh! Kata Lintar sejak jam pertama tadi Rio ngurung diri di UKS, pas gue mau
susul Lintar langsung ngelarang. Kata dia Rio udah pesen duluan kalo dia lagi
nggak mau diganggu sama siapapun termasuk kita”
“kenapa
lagi tuh anak?” Tanya Alvin heran.
“jangan
Tanya gue deh! Gue nggak tau apa-apa. Nanti juga kalo udah baikan dia pasti
bakalan cerita sendiri” jelas Gabriel yang merasa tidak ingin ambil pusing
dengan urusan Rio.
Mendadak
Alvin mengingat sikap Ify yang mendadak jadi pendiam hari ini. Alvin pun
berusaha membandingkan sikap aneh Ify hari ini dengan cerita Gabriel barusan.
Dan darisana Alvin akhirnya menarik sebuah kesimpulan; Rio dan Ify pasti sedang
bermasalah!
Tapi
Alvin tidak ingin memusingkan masalah itu sekarang, karena saat ini ia juga
sedang dibuat pusing oleh pacar barunya yang kelewat aneh itu. Sekali lagi
Alvin mendesah, rasa cemas itu tidak juga mau pergi. Baru Alvin sadari, bahwa
Gadis bernama Via itu telah benar-benar membuatnya gila. Ditengah-tengah rasa
cemasnya itu, Alvin tiba-tiba menyadari sesuatu…
“Cakka
kemana? Gue juga nggak ngeliat dia dari tadi”
“itu
dia masalahnya”
“maksud
lo?!”
“itu
anak bolos lagi untuk yang ke-3 kalinya, dan untuk yang ke-3 kalinya juga dia
bebas dari pengetahuan Pak Munir, untung itu anak pinter, coba kalo nggak, gue
nggak bisa bayangin deh gimana nasibnya disekolah ini, ckckck…” Gabriel
menggeleng beberapa kali, ia merasa tidak habis fikir dengan kelakuan
sahabatnya yang satu itu.
“lo
tau nggak? Kali ini Cakka bolos bawa-bawa cewek lho!”
“bagus!
Itu tandanya dia ada kemajuan” jawab Alvin cuek sambil memainkan ponselnya.
“kalo
lo tau siapa ceweknya lo pasti kaget”
“emang
siapa?” Tanya Alvin masih dengan kecuekannya. Dan ia masih belum merasa
tertarik dengan ucapan Gabriel itu.
“cewek
yang lo taksir dan lo kejer-kejer selama 2 minggu ini” jawab Gabriel dengan
santainya. Kenapa begitu santai dan seolah tanpa beban? Karna Gabriel memang
belum tahu menau soal hubungan Alvin dengan Via.
Alvin
langsung terkejut bukan main. Cakka bolos bersama Via? Apa Alvin tidak salah
dengar?
“apa
lo bilang? Lo nggak salah bicara kan??” Tanya Alvin sedikit sanksi tapi juga
marah. Gabriel menggeleng mantap.
“ya
enggak lah! Orang gue liat pake mata kepala gue sendiri. Tadi pagi sebelum bel,
gue liat Cakka narik-narik tangan Via dan bawa Via kearah parkiran. Karna gue
curiga, gue ikutin mereka ke parkiran, nah terus gue liat mereka masuk ke mobil
Cakka barengan”
Kali
ini Alvin terdiam dan lebih memilih untuk tidak menanggapi perkataan Gabriel.
Alvin mengepalkan tangannya lalu mencengkramnya kuat. Jantungnya seakan
terbakar. Kedua orang itu… apa benar?
Selama
ini Alvin menduga bahwa Via memang memiliki sebuah rasa yang special untuk
Cakka. Dan Alvin selalu takut jika dugaannya itu adalah sebuah kenyataan. Tapi
kini apa yang Alvin takutkan itu justru semakin dekat menghampirinya.
“Vin,
kalo saran gue lo mending hati-hati sama Cakka deh. Selama ini kita semua kan
tau kalo Cakka itu nggak pernah deketin cewek, dan nggak tau kenapa gue ngerasa
aja kalo Cakka itu suka sama Via. Dan kalo lo nggak mau kalah langkah dari
Cakka, ya lo harus cepet bertindak. Kalo sekarang aja lo udah kecolongan,
gimana ntar?” ujar Gabriel memanasi.
Tanpa
berkata apa-apa lagi, Alvin langsung bangkit dari tempat duduknya dan berjalan
keluar dari kantin dengan tatapan dinginnya. Sebelumnya, Alvin tidak pernah
terlihat semarah ini. Alvin lalu kembali membuka ponselnya dan mencoba
menghubungi Cakka, tapi ternyata hasilnya… Nihil.
Genap
sudah kecurigaan Alvin. Saat ini mereka pasti sedang bersama. Cakka dan Via.
***
“saat
kau ada didekatku
Hatiku
berdegub kencang
Cukup
buatku melayang-layang
Oh…
ini baru benar kurasakan
Terpesona
aku saat pertama melihatmu
Ku
kali ini jatuh cinta
Jatuh
cinta yang pertama
Saat
ku lihat dirimu
Ku
benar-benar jatuh cinta
Jatuh
cinta yang pertama
Tuhan
tolonglah diriku…”
Via
menyanyikan lagu itu dengan diiringi oleh permainan gitar dari Cakka. Beberapa
saat setelah Via menyelesaikan lagu itu, Via pun mendapatkan tepuk tangan yang
sangat meriah dari anak-anak dirumah singgah itu. Via tersipu malu, ia menunduk
lalu mengucapkan kata terimakasih. Sesekali Via melirik Cakka, dan saat itulah
Via langsung menangkap basah Cakka yang sedang menatapnya sambil tersenyum.
“kamu
kenapa sih suka banget ngeliatin saya kayak gitu? Keinget sama anak kucing
piaraan kamu?”
Cakka
menggeleng tanpa sedikitpun mengalihkan tatapannya dari Via. Hal itu semakin
membuat Via salah tingkah dan tidak tahu harus melakukan apa.
“kamu
kayaknya nyanyiin lagu itu dari hati banget sih? Lagi jatuh cinta ya?”
Pertanyaan
asal yang Cakka lemparkan malah semakin membuat perasaan Via tidak menentu. Apa
maksud Cakka sih sampai harus menanyakan pertanyaan bodoh itu? Via hanya
bernyanyi, dimana-mana orang bernyanyi memang harus pakai hati kan?
Bingung
harus berkata apa, Via pun bangkit dari kursi yang sejak ia duduki lantas
berkata pada Cakka,
“udah
siang Kka, pulang yuk! saya tadi lupa bawa handphone, takutnya ntar Tante
cemas”
Cakka
berfikir sejenak, ia lalu mengangguk dan berdiri.
“ya
udah yuk!” Cakka melirik Adik-adik asuhnya satu persatu lalu melemparkan
senyuman, “Adik-adik, Kak Cakka pulang dulu ya? Nanti hari minggu Kak Cakka
balik lagi kesini. Okey?”
“tapi
Kak Via bakalan ikut lagi kan, Kak?” Tanya salah seorang anak perempuan beraut
wajah manis.
Kali
ini Cakka mengalihkan tatapannya kearah Via yang dibalas oleh Via dengan
tatapan bertanya. Cakka terkekeh pelan lalu menjawab pertanyaan anak perempuan
tadi.
“Kak
Via pasti bakalan ikut. Iya kan, Via?”
“ha?”
Via hanya melongo, tapi kemudian mengangguk dengan sangat terpaksa.
Setelah
pamit, Cakka dan Via pun berjalan beriringan keluar dari rumah singgah. Selama
diperjalanan menuju halaman, tempat dimana Cakka memarkirkan mobilnya, mereka
berdua sama-sama terdiam. Segala perasaan aneh yang Via rasakan sekarang malah
membuatnya merasa tidak nyaman. Bukan, Via bukannya merasa tidak nyaman berada
disamping Cakka, ia justru merasa sangat nyaman. Tapi hanya saja,
perasaan-perasaan aneh itu yang membuat Via sedikit merasa tidak nyaman.
“Via!”
panggil Cakka pelan tepat saat Via akan memasuki mobilnya,
“iya?”
Via berbalik dan menatap Cakka yang berdiri dihadapannya.
“makasih
ya buat hari ini? Makasih karna kamu udah mau nemenin saya bolos”
Via
tersenyum lalu berkata,
“justru
aku seneng karna kamu ajakin kesini, kapan-kapan ajakin lagi ya?”
Cakka
mengangguk mantap, “pasti!”
Baru
saja Via berbalik dan hendak memasuki mobil, tangan kokoh milik Cakka tahu-tahu
meraih lengannya. Cakka menarik pelan Via hingga jarak diantara mereka begitu
dekat. Jantung Via semakin berdegub kencang tanpa bisa ia kendalikan lagi.
“apa
lagi?” Tanya Via yang berusaha tetap terlihat tenang. Tapi tanpa Cakka tahu,
jauh didalam sana perasaan Via semakin tidak menentu ketika kedua pasang mata
mereka bertemu satu sama lain apalagi dalam jarak yang sangat dekat seperti sekarang
ini.
“aku
rasa… aku mulai suka sama kamu, Via…”
***
Tepat
saat Cakka dan Via tiba dirumah Via, hujan malah turun dengan begitu lebatnya.
Via mendesah kecewa. Bagaimana ia harus memasuki rumahnya jika sudah sudah
begini? Tidak lama berfikir, Via pun akhirnya menemukan sebuah keputusan. Via
memutuskan untuk menembus hujan, toh jarak gerbang dari rumahnya tidak terlalu
jauh bukan? Basah sedikit tentu tidak akan menjadi masalah apapun.
Baru
saja tangan kanan Via terulur untuk membuka pintu mobil, Cakka langsung
menghentikannya dengan cara memegang tangannya,
“tunggu
dulu, Vi!”
Via
menatap Cakka dengan tatapan bingung.
“kenapa?”
Cakka
langsung membuka jaket kulit yang sejak tadi ia kenakan tanpa menjawab
pertanyaan Via. Cakka lalu keluar dari dalam mobilnya setelah sebelumnya ia
membentangkan jaketnya dan menggunakan jaket itu sebagai payung.
Cakka
membuka pintu mobilnya lalu mempersilahkan Via keluar.
“ayo
keluar!”
“Kka…
nggak usah kayak gini? Nanti jaket kamu basah lho!”
“udah
terlanjur basah, Vi. Ayo!” kali ini Cakka mengulurkan tangan kananya. Ragu-ragu
Via menyambut uluran tangan Cakka.
Dan
saat Via berdiri, jarak diantara mereka malah nyaris terhapus saking dekatnya.
Bahkan mereka bisa merasakan hangat desauan nafas masing-masing. Kedua mata
mereka bertemu dalam tatapan yang intens. Perasaan Via yang awalnya tidak
menentu kini semakin tidak menentu saat Cakka tanpa sadar mendekatkan wajahnya
dengan wajah Via. Jantung Via seakan berhenti berdetak saat itu. Semuanya
seakan hening. Bahkan suara rintik hujanpun tidak terdengar.
Dan
saat jarak diantara mereka semakin dekat, Via memejamkan kedua matanya, begitu
juga dengan Cakka. Tapi mendadak Cakka menghentikan pergerakan wajahnya. Ia
menatap Via sejenak yang saat itu sedang memejamkan matanya, Cakka tersenyum
kecil, ia tidak pernah menyangka bahwa Gadis inilah yang pertama kali mampu
menaklukkan kekerasan hatinya.
Cakka
mencium kening Via sekilas tapi penuh kasih. Seperkesian detik kemudian, Cakka
langsung menjauhkan wajahnya dari wajah Via, saat itulah Via langsung membuka
kedua matanya.
“masuk
yuk!” ajak Cakka. Via mengangguk. Mereka berdua pun melangkah bersama dalam
jarak yang begitu dekat.
Tapi
tanpa mereka berdua sadari, seseorang dari kejauhan sana tengah memperhatikan
mereka dan melihat semua apa yang mereka lakukan dari dalam Ferarri merahnya.
Dia –Alvin- mencengkram kuat-kuat setir mobilnya untuk meredam emosi yang
bergejolak didadanya, dan ketika semuaya sudah mencapai klimaks, Alvin langsung
menghempaskan kedua tangannya dengan keras diatas setir mobilnya.
Alvin
merasakan seolah ada sebuah benda berduri yang menghantam telak dadanya.
Rasanya sesak bercampur perih. Ini kah yang namanya cemburu??
BERSAMBUNG….



0 comments:
Post a Comment