Wednesday, February 5, 2014

0

You’re Mine [Part 8: J E A L O U S]










Sebelumnya…

“kamu kok nggak masuk kelas?” Tanya Via sehati-hati mungkin. Cakka menoleh kearah Via dengan senyuman yang tidak kunjung luntur dari bibirnya.
            “lagi males” jawab Cakka seadanya. Via hanya mengangguk, “kalo kamu?” lanjut Cakka,
            “hah? Aku? Sama lagi males juga, hehehe…” jawab Via dengan suara cengirannya yang khas.
            Kali ini giliran Cakka yang mengangguk. Selepas itu, Cakka dan Via sama-sama larut dalam keheningan. Via tidak tahu harus berkata apalagi, begitu juga dengan Cakka. Cakka tidak mengerti, kenapa setiap kali berada disamping Via ia selalu kehabisan kata-kata seperti ini. Dan yang lebih Cakka tidak mengerti lagi, kenapa ia begitu lembut pada Gadis ini, sementara pada yang lainnya Cakka begitu dingin dan selalu tidak peduli dengan apa yang ada disekitarnya. Ada apa dengannya? Apa yang salah dengan hatinya?
            “Via?”
            “hmmm….” Jawab Via dalam sebuah gumaman,
            “kamu ngerasa bosen nggak disini?!” Tanya Cakka tiba-tiba.
            “maksudnya?” Via tidak paham.
            “iya? Kamu bosen nggak disini?” ulang Cakka. Via yang mulai paham dengan maksud Cakka pun akhirnya mengangguk pelan lalu menjawab,
            “sedikit bosen sih”
            Cakka tersenyum puas, ia bangkit dari sisi Via lalu mengulurkan tangan kananya tepat didepan Via, Cakka sedikit membungkuk agar posisinya tidak terlalu tinggi.
            “ngapain?” Tanya Via dengan kedua alis bertaut.
            “bolos yuk!!”
            “tapi kan –“
            “udah santé aja! Semuanya akan baik-baik aja kok” Cakka berusaha menenangkan Via. Tapi hal itu tidak lantas membuat Via langsung menerima ajakan Cakka. Via terlihat berfikir keras, tidak lama kemudian Via menatap tangan Cakka yang terulur, sesekali juga Via menatap wajah Cakka, lalu tidak lama kemudian…
            “oke deh!” Via menerima uluran tangan Cakka lalu bangkit.
            Cakka dan Via pun berjalan beriringan meninggalkan halaman belakang sekolah setelah sebelumnya mereka berdua saling menatap untuk sejenak seraya melemparkan sebuah senyuman satu sama lain.

            Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang sangat menyenangkan untuk mereka. Tapi bagaimana dengan Alvin…?



***

Part 8


            “elo ngapain aja sih di LA? Kabur ke LA 2 tahun nggak pernah ngasih kabar apapun” kata Angel sedikit sebal pada Febby yang saat itu tengah duduk berhadap-hadapan dengannya disebuah café yang menjadi tempat favorit mereka semasa masih sekolah dulu.
            “yaaahh… Ngel, namanya juga orang kabur. Dimana-mana yang namanya orang kabur itu pasti nggak ngasih kabar lah” kata Febby setelah sebelumnya ia mendesah pelan. Mungkin Angel salah, tapi entah kenapa dia bisa melihat gurat-gurat lelah terpancar diwajah cantik sahabat karibnya itu.
            “Febb!” panggil Angel pelan.
            “yaa?” sahut Febby.
            “hubungan lo sama Rio gimana?” Tanya Angel takut-takut yang memang sudah tau apa yang terjadi sebenarnya selama 2 tahun lamanya Febby menghilang dari peredaran.
            Kali ini Febby menatap Angel dengan pandangan bertanya. Untuk beberapa detik, Febby tidak mengalihkan tatapannya dari kedua mata Angel. Ia seolah tengah mencari sesuatu yang tersembunyi dari kedua pancaran mata sahabat sehidup-sematinya itu.
            “lo kenapa ngeliatin gue kayak gitu?” Tanya Angel dengan kedua alis bertaut satu sama lain.
            “nggak. Cuma aja gue ngerasa kalo seharusnya gue yang nanyain hal itu ke elo”
            “maksud lo?!”
            “Rio berubah”
            “berubah gimana?”
            Febby menoleh kearah Angel, ia menatap Angel sesaat lalu tertawa hambar. Apa yang Febby lakukan itu malah membuat Angel semakin bingung.
            “hahahaha.. come on! Rio itu sahabat deket adek lo, Ngel. Dan gue juga tau kalo Rio sering maen kerumah lo, jadi lo nggak mungkin nggak tau lah sama apa yang terjadi selama gue nggak disini”
            “gue tau lo cerdas, Febb. Dan gue yakin lo bisa baca situasi apa yang sedang terjadi sekarang ini tanpa perlu gue susah-susah ngasih tau lo. Dan kalo menurut gue, lo nggak bisa selamanya terus-terusan pura-pura nggak tau kayak gini”
            “Ngel, gue bukannya sengaja bersikap seolah-olah gue nggak tau apa-apa, gue Cuma mau ngetes seberapa besar kesanggupan mereka buat ngebodohin gue”
            “maksud lo?”
            “nanti lo juga akan ngerti”
            Febby tersenyum penuh misteri dan semakin membuat Angel bertanya-tanya dalam hati. Apalagi yang akan Febby lakukan kali ini?



***

            Bel tanda masuk berbunyi dengan nyaringnya dan memecah keriuhan yang sejak tadi menyelimuti Gedung jurusan IPA SMA Tunas Bangsa. Semua siswa siswi berhamburan memasuki kelas sebelum Kepala Sekolah mereka berpatroli. 5 menit setelah bel tanda masuk berbunyi, biasanya Kepala Sekolah bersama salah seorang Guru BP melakukan Patroli dan tidak segan-segan menangkap siswa siswi yang masih terlihat berkeliaran diluar kelas. Berpatroli 5 menit selepas bel tanda masuk berbunyi adalah hal wajib yang dilakukan oleh Pak Munir, kepala sekolah super killer yang juga adalah Om dari Alvin.
            Alvin terus menatap kearah pintu kelas berharap bisa melihat sosok Via yang memasuki kelas, tapi hingga 3 menit berlalu Via belum juga menampakkan tanda-tanda kehadirannya. Alvin mulai gusar sambil sesekali melirik arloji yang terlingkar dipergelangan tangannya. Kemana Gadis itu? Kenapa hingga sekarang ia belum juga memasuki kelas? Alvin lalu melirik Ify yang duduk dibelakangnya, Alvin menatap Ify untuk beberapa saat dan menangkap seperti ada sesuatu yang tidak beres terjadi pada Ify. Tapi hal itu tidak menyurutkan niat Alvin untuk menanyakan soal Via pada Ify,
            “Fy?”
            “hmmm…” sahut Ify malas.
            “lo liat Via nggak?”
            Ify hanya menggeleng pelan. Alvin berdecak kesal lalu menggebrak meja sedikit keras, baru saja Alvin akan bangkit dari bangkunya dan hendak mencari Via diluar kelas, seorang Guru tiba-tiba saja memasuki kelas. Alvin akhirnya hanya bisa menelan bulat-bulat rasa kesalnya juga rasa cemasnya. Jika Alvin mau, sebenarnya Alvin bisa saja keluar dari kelas seenaknya, tapi mengingat ancaman Papi nya beberapa waktu lalu, Alvin jadi malas membuat ulah lagi disekolah.



***


            Mobil sport milik Cakka keluar dari gerbang sekolah tepat 2 detik sebelum Satpam SMA Patuh Karya menutup pintu gerbang. Via yang sejak tadi duduk disamping Cakka berusaha menahan nafas saat Cakka melakukan tindakan nekad itu. Melihat ekspresi lucu Via itu membuat Cakka tidak kuat menahan tawanya. Tawa itu akhirnya pecah dengan lepas untuk yang pertama kalinya.
            “Hahahahahaha….” Cakka tertawa cukup keras. Tapi Via masih menutup kedua matanya sambil memegang dadanya.
            “Via, kamu bisa bernafas sekarang!” ucapan Cakka itu akhirnya membuat Via membuka kedua matanya. Via pun menghembuskan nafasnya yang sejak tadi ia tahan.
            “kamu kok nekad banget sih ngajakin saya bolos?”
            “kita nggak bolos Via! Kita hanya pulang lebih cepat dari yang lain”
            Via menatap Cakka dengan pandangan bertanya. Memangnya apa bedanya? Cakka melirik kearah Via dan membuat Via langsung mengalihkan tatapannya kearah lain.
            “apa bedanya sama bolos?” Tanya Via pelan.
            “saya nggak sembarangan ngajakin kamu bolos, Vi”
            “ha?”
            “iya! Tadi saya dapet info dari TU. Katanya hari ini ada rapat Guru. KBM Cuma diisi dijam pertama aja, dan setelah Istirahat nanti, sekolah bakalan dibubarin” terang Cakka. Via pun mengangguk paham.
            Perhatian Cakka tahu-tahu tertuju pada bed nama milik Via. Pada bed nama itu tertera nama panjang Via yang membuat pikiran Cakka mendadak kacau.

            ‘SIVIA ANDREA PUTERI. A’ ujar Cakka dalam hati. Ia lalu melirik bed nama miliknya sendiri.

            ‘CAKKA DIMAS PUTERA. A’

            Apa ini hanya kebetulan semata? Atau jangan-jangan…



***


            Dyna berjalan cepat kearah pintu ketika ia mendengar suara bel. Dan saat Dyna membuka pintu, betapa terkejutnya Dyna melihat seseorang yang berdiri didepan rumahnya. Dyna akhirnya kembali melihat wajah angkuh itu setelah hampir selama 6 tahun lamanya Dyna tidak pernah melihatnya. Dia Edgar Adhirajasa, Ayah Kandung dari Via sekaligus suami dari Almarhum Kakak kesayangannya.
            “Mas Edgar??” ucap Dyna pelan. Rasa shock kini mulai melingkupi dirinya.
            “Dyna…!”
            Dyna menghela nafas panjang, berusaha mengontrol segala rasa yang kini mulai berkecamuk didadanya. Dyna belum melakukan persiapan apapun untuk menyambut kedatangan Kakak Iparnya ini, untuk itu sekarang Dyna bingung harus melakukan apa, karena memang sejak awal ia tidak pernah membayangkan hari ini akan terjadi. Disaat dia dan Via mati-matian bersembunyi dari Edgar, Edgar malah dengan mudahnya menemukan mereka. Tapi bukan kah hal ini yang menjadi alasan kuat Dyna yang ingin kembali ke Indonesia? Dyna ingin mengembalikan Via pada Ayah kandungnya, Dyna ingin membantu kedua Ayah dan Anak ini menyelesaikan permasalahan mereka. Lalu sekarang kenapa Dyna harus takut saat Edgar menemukannya?
            “da… darimana Mas tau aku tinggal disini?” Tanya Dyna sedikit gugup, tapi Edgar malah menampakkan wajah tanpa riaknya.
            “dimana Dyra dan Puteri ku?” Tanya Edgar dengan tegas.
            “apa Mas masih peduli dengan mereka?!”
            “katakan saja dimana Dyra dan Puteri ku? Aku tidak ingin banyak bi –“
            “Mbak Dyra sudah meninggal 6 tahun yang lalu” sela Dyna dengan suara bergetar sebelum Edgar menyelesaikan ucapannya.
            Edgar tersentak bukan main, tapi hati kecilnya seakan belum bisa mempercayai perkataan Dyna itu. Edgar merasakan penolakan yang keras dilubuk hatinya yang terdalam. Dyra masih hidup, Dyra baik-baik saja, ini hanya bagian dari sekenario yang Dyra dan Dyna susun untuk memisahkan dirinya dengan Rea, puteri kecil yang sangat ia rindukan. Fikir Edgar.
            Edgar lalu menggeleng beberapa kali untuk memberikan penolakan yang lebih kentara lagi.
            “kalian jangan coba-coba membohongiku. Biar bagaimana pun Rea itu Puteri ku, dan kalian tidak akan pernah bisa memisahkan aku dan Puteriku dengan sekenario murahan ini! Aku tau, ini semua bagian dari sekenario kalian kan? Iya kan?” tuduh Edgar sengit. Kedua alis Dyna saling bertaut karna bingung. Bagaimana bisa Edgar menuduhnya sekeji ini setelah apa yang ia lakukan pada Kakak dan keponakannya 6 tahun yang lalu?
            “bagaimana bisa Mas Edgar berfikir sepicik itu? Aku tidak berbohong Mas, Mbak Dyra sudah meninggal 6 tahun yang lalu, beberapa saat setelah Mbak Dyra dan Rea keluar dari rumah Mas Edgar. Mbak Dyra meninggal karna penyakit Gagal Ginjal yang dia derita. Dan aku yakin, Mas Edgar pasti tidak tau apa-apa kan tentang penyakit ginjal yang Mbak Dyra derita. Iya kan Mas?” Dyna mulai tidak tahan lagi. Sudah cukup ia bersabar dalam persembunyiannya selama 6 tahun terakhir ini. Kini saatnya Dyna keluar dan membeberkan apa yang selama ini terpendam didadanya. Edgar harus diberikan pelajaran.
            “ja… jadi?”
            “dan sekarang Mas Edgar tiba-tiba dateng dan minta supaya Rea kembali sama Mas? Mas jangan salah! Selama 6 tahun ini aku dan Rea bersembunyi di Jerman, selama 6 tahun persembunyian kami, nggak pernah sekalipun aku nggak ngebujuk Rea supaya Rea mau kembali ke Indonesia dan pulang kerumah Mas, tapi Mas tau apa yang Rea katakan?”
            Edgar bergeming, tapi raut wajahnya menampakkan rasa penasaran yang sudah tidak dapat ditahan lagi.
            “Rea bilang, dia udah nggak punya Papa lagi”
            ‘REA BILANG, DIA UDAH NGGAK PUNYA PAPA LAGI’ Ucapan Dyna yang terakhir itu seakan menjelma menjadi sebuah sembilu yang mengiris hati Edgar. Apa lagi yang lebih menyakitkan dari ini? Edgar tahu dan sadar akan kesalahan yang ia lakukan dimasa lalu, tapi Edgar tidak pernah menyangka bahwa Tuhan akan memberikannya hukuman seberat ini.
            “aku mohon Mas, untuk kali ini aja Mas Edgar jangan ganggu Rea dulu. Aku janji nanti setelah waktunya tiba, aku akan bawa Rea pulang ke rumah Mas, tapi untuk kali ini tolong kasi Rea waktu lagi. Rea hanya butuh  sedikit waktu saja Mas, tolong… aku minta kepercayaan Mas kali ini”
            Edgar tidak membalas perkataan Dyna. Ia hanya terdiam tanpa mampu berucap. Lidahnya seakan kelu, dan kenyataannya ini benar-benar menghantam telak pertahananya selama ini. Edgar berusaha keras menahan air mata yang hendak menetes dari kedua pelupuk matanya. Dyra, isteri yang hingga saat ini masih sangat ia cintai ternyata sudah pergi meninggalkannya, dan yang lebih menyakitkan lagi, 10 tahun mereka hidup sebagai sepasang suami isteri, tidak pernah sekalipun Edgar tahu bahwa Dyra menderita penyakit gagal ginjal. Edgar merasakan sesak yang teramat sangat, ia seakan tidak bisa menghela udara yang ada disekitarnya. Apalagi saat Edgar tahu bahwa Rea, Puteri kecil yang sangat ia rindukan selama 6 tahun ini sudah tidak mau menganggapnya lagi sebagai Papa.
            “Mas Edgar kenapa? Mas Edgar baik-baik aja kan?” Tanya Dyna sedikit cemas beberapa saat setelah ia menyadari bahwa ada yang tidak beres dari gelagat Kakak Iparnya ini.

            “kamu bisa antar saya ke makam Dyra, Dyn?” kata Edgar yang mendadak lembut. Dyna terlihat berfikir lalu mengangguk.




***

            Cakka memberhentikan mobil sportnya dihalaman sebuah rumah singgah. Untuk sejenak Via terpana melihat pemandangan yang ada dihadapannya. Sepenggal pertanyaan timbul diotaknya: buat apa Cakka membawanya ketempat ini?
            Seakan bisa membaca fikiran Via, Cakka tersenyum kecil melihat Via yang waktu itu masih terpana, bahkan Via sama sekali tidak menyadari bahwa saat itu Cakka tengah menatapnya. Cakka lalu melepaskan sabuk pengaman yang sejak tadi tersampir ditubuhnya, ia membuka pintu mobilnya lantas berkata,
            “let’s go, Vi!”
            Cakka terkesiap, ia mengerjap lalu segera menyusul Cakka yang saat itu tengah menunggunya didepan mobil. Via berjalan perlahan mendekati Cakka lalu berdiri disamping Cakka.
            “kamu kok bawa saya kesini sih, Kka?” Tanya Via sedikit heran.
            “kenapa? Kamu nggak suka saya ajak bolos kesini?” Cakka menoleh kearah Via lalu menangkap basah Via yang ketika itu sedang menatapnya dengan pandangan bertanya. Via buru-buru membuang tatapannya kearah lain sebelum kedua pipinya memerah. Via menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Dan ia mulai merasakan satu perasaan yang paling ia benci sejagad raya; salah tingkah!
            “bukan gitu! Saya heran aja kenapa saya kamu bawa kesini”
            Cakka terkekeh pelan. Entah kenapa ia merasa senang sekali melihat Via salah tingkah seperti ini.
            “nggak usah pake acara salah tingkah bisa kali, ya?” goda Cakka. Kedua mata Via melotot lebar. Ia lalu segera menoleh kearah Cakka dan menatap Cakka dengan segalak mungkin. Hal itu bukannya membuat Cakka takut tapi malah membuat Cakka ingin menghamburkan tawa. Bagaimana tidak? Melihat Via berpura-pura galak begitu membuat Cakka seperti melihat seekor anak kucing yang sedang berusaha supaya bisa terlihat seperti seekor macan yang sedang kelaparan. Tanpa bisa Cakka tahan lagi, ia menghamburkan tawanya untuk yang kedua kalinya.
            Via berfikir sejenak dan mendadak heran dengan tanggapan sahabat-sahabatnya yang menganggap bahwa Cakka ini adalah sosok yang cuek dan dingin, karna pada kenyataannya, saat ini Via tidak menangkap kedua sikap itu dari Cakka. Apa yang salah dengan tanggapan teman-temannya itu?
            Menyadari bahwa Via sedang menatapnya, Cakka pun menghentikan tawanya lalu menoleh kesamping. Saat itulah, tanpa bisa Via hindari lagi, kedua manik matanya tertangkap oleh tatapan lembut dari Cakka, tatapan lembut yang bisa membuat Via luluh hanya dalam beberapa detik saja. Tanpa mereka sadari, mereka larut dan tenggelam dalam tatapan satu sama lain, waktu seakan berhenti berdetak dan membekukan tatapan itu. Via ingin menghindar, tapi sepertinya tatapan mata Cakka itu memiliki kekuatan yang lebih besar dari keinginan Via.
            “ehem… mau sampai kapan berdiri disini?” Tanya Cakka tiba-tiba.
            Via langsung terkesiap dan mengalihkan tatapannya. Kali ini Via sudah benar-benar buntu dan tidak tahu harus melakukan apa. Dalam hati ia merutuki kebodohannya sendiri.
            “masuk yuk! Saya yakin kamu bakalan suka sama tempat ini” ajak Cakka sambil berlalu dari hadapan Via dan meninggalkan Via yang masih terpaku. Cakka berjalan santai melewati Via begitu saja.
            Via terus menatap Cakka yang berjalan perlahan mendahuluinya. Penampakkan punggung Cakka seolah menjadi objek paling mengagumkan yang enggan ia lewatkan begitu saja. Menatap Pria itu dari belakang seperti ini saja sudah cukup mampu membuat jantungnya berdetak cepat tak terkendali.
            ‘bodoh!’ rutuk Via dalam hati.
            Lalu tanpa Via sadari, Cakka menghentikan langkahnya lalu menoleh kebelakang. Ia menatap Via yang masih terdiam ditempatnya semula untuk beberapa saat, tidak lama Cakkapun berkata dengan nada setengah berteriak,

            “HEH ANAK KUCING!! Ayo! Kenapa diam disitu?”
            Via langsung melotot tidak suka ketika Cakka memanggilnya dengan panggilan ‘Anak Kucing’. Via menghela nafas kesal lalu berjalan menghampiri Cakka sambil menyilangkan kedua tangannya didepan perut juga dengan bibir yang ia sengaja manyunkan karena kesal.

            “kalo saya anak kucing terus kamu apa? Anak macan??” gerutu Via.




***

            Sejak jam istirahat tadi, sudah hampir 15 kali Alvin mencoba menghubungi nomer ponsel Via, tapi hingga 15 kali juga tidak ada jawaban apapun dari Via. Alvin juga sudah mengiriminya pesan sebanyak 5 kali, tapi tetap tidak ada jawaban apapun dari Via. Sebenarnya ada apa dengan Gadis Jutek itu? Bukankah tadi pagi mereka berangkat bersama? Tapi kenapa sekarang Via malah menghilang? Apa Via bolos? Tapi untuk apa?
            Itulah rentetan pertanyaan yang timbul dibenak Alvin tanpa henti. Ia juga sudah tidak bisa menghindari dirinya dari rasa cemas yang kelamaan memenuhi sanubarinya. Alvin hanya khawatir pada Gadis itu, dan Alvin takut sesuatu hal buruk akan terjadi pada Via. Hanya itu.
            Selama Alvin menjalani hubungan dengan cewek lain selain Via, tidak pernah sekalipun Alvin mencemaskan pacar-pacarnya itu walaupun mereka hilang kabar hingga beberapa hari lamanya. Tapi pada Via entah kenapa Alvin merasa lain. Sejam tanpa kabar dari Via sudah cukup membuat uring-uringan seharian.
            Gabriel tiba-tiba datang lalu duduk dihadapan Alvin. Dan tanpa meminta ijin terlebih dahulu, Gabriel langsung meneguk Jus Jeruk pesanan Alvin yang terdampar diatas meja. Alvin melirik Gabriel dengan pandangan tidak suka.
            “lo minta gue bunuh?” Tanya Alvin sinis. Gabriel hanya nyengir sambil mengacungkan kedua jarinya membentuk huruf ‘V’.
            “Rio kemana? Kok gue nggak ngeliat dari tadi pagi?”
            “tau tuh! Kata Lintar sejak jam pertama tadi Rio ngurung diri di UKS, pas gue mau susul Lintar langsung ngelarang. Kata dia Rio udah pesen duluan kalo dia lagi nggak mau diganggu sama siapapun termasuk kita”
            “kenapa lagi tuh anak?” Tanya Alvin heran.
            “jangan Tanya gue deh! Gue nggak tau apa-apa. Nanti juga kalo udah baikan dia pasti bakalan cerita sendiri” jelas Gabriel yang merasa tidak ingin ambil pusing dengan urusan Rio.
            Mendadak Alvin mengingat sikap Ify yang mendadak jadi pendiam hari ini. Alvin pun berusaha membandingkan sikap aneh Ify hari ini dengan cerita Gabriel barusan. Dan darisana Alvin akhirnya menarik sebuah kesimpulan; Rio dan Ify pasti sedang bermasalah!
            Tapi Alvin tidak ingin memusingkan masalah itu sekarang, karena saat ini ia juga sedang dibuat pusing oleh pacar barunya yang kelewat aneh itu. Sekali lagi Alvin mendesah, rasa cemas itu tidak juga mau pergi. Baru Alvin sadari, bahwa Gadis bernama Via itu telah benar-benar membuatnya gila. Ditengah-tengah rasa cemasnya itu, Alvin tiba-tiba menyadari sesuatu…
            “Cakka kemana? Gue juga nggak ngeliat dia dari tadi”
            “itu dia masalahnya”
            “maksud lo?!”
            “itu anak bolos lagi untuk yang ke-3 kalinya, dan untuk yang ke-3 kalinya juga dia bebas dari pengetahuan Pak Munir, untung itu anak pinter, coba kalo nggak, gue nggak bisa bayangin deh gimana nasibnya disekolah ini, ckckck…” Gabriel menggeleng beberapa kali, ia merasa tidak habis fikir dengan kelakuan sahabatnya yang satu itu.
            “lo tau nggak? Kali ini Cakka bolos bawa-bawa cewek lho!”
            “bagus! Itu tandanya dia ada kemajuan” jawab Alvin cuek sambil memainkan ponselnya.
            “kalo lo tau siapa ceweknya lo pasti kaget”
            “emang siapa?” Tanya Alvin masih dengan kecuekannya. Dan ia masih belum merasa tertarik dengan ucapan Gabriel itu.
            “cewek yang lo taksir dan lo kejer-kejer selama 2 minggu ini” jawab Gabriel dengan santainya. Kenapa begitu santai dan seolah tanpa beban? Karna Gabriel memang belum tahu menau soal hubungan Alvin dengan Via.
            Alvin langsung terkejut bukan main. Cakka bolos bersama Via? Apa Alvin tidak salah dengar?
            “apa lo bilang? Lo nggak salah bicara kan??” Tanya Alvin sedikit sanksi tapi juga marah. Gabriel menggeleng mantap.
            “ya enggak lah! Orang gue liat pake mata kepala gue sendiri. Tadi pagi sebelum bel, gue liat Cakka narik-narik tangan Via dan bawa Via kearah parkiran. Karna gue curiga, gue ikutin mereka ke parkiran, nah terus gue liat mereka masuk ke mobil Cakka barengan”
            Kali ini Alvin terdiam dan lebih memilih untuk tidak menanggapi perkataan Gabriel. Alvin mengepalkan tangannya lalu mencengkramnya kuat. Jantungnya seakan terbakar. Kedua orang itu… apa benar?
            Selama ini Alvin menduga bahwa Via memang memiliki sebuah rasa yang special untuk Cakka. Dan Alvin selalu takut jika dugaannya itu adalah sebuah kenyataan. Tapi kini apa yang Alvin takutkan itu justru semakin dekat menghampirinya.
            “Vin, kalo saran gue lo mending hati-hati sama Cakka deh. Selama ini kita semua kan tau kalo Cakka itu nggak pernah deketin cewek, dan nggak tau kenapa gue ngerasa aja kalo Cakka itu suka sama Via. Dan kalo lo nggak mau kalah langkah dari Cakka, ya lo harus cepet bertindak. Kalo sekarang aja lo udah kecolongan, gimana ntar?” ujar Gabriel memanasi.
            Tanpa berkata apa-apa lagi, Alvin langsung bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari kantin dengan tatapan dinginnya. Sebelumnya, Alvin tidak pernah terlihat semarah ini. Alvin lalu kembali membuka ponselnya dan mencoba menghubungi Cakka, tapi ternyata hasilnya… Nihil.

            Genap sudah kecurigaan Alvin. Saat ini mereka pasti sedang bersama. Cakka dan Via.




***


“saat kau ada didekatku
Hatiku berdegub kencang
Cukup buatku melayang-layang

Oh… ini baru benar kurasakan
Terpesona aku saat pertama melihatmu

Ku kali ini jatuh cinta
Jatuh cinta yang pertama
Saat ku lihat dirimu

Ku benar-benar jatuh cinta
Jatuh cinta yang pertama
Tuhan tolonglah diriku…”

            Via menyanyikan lagu itu dengan diiringi oleh permainan gitar dari Cakka. Beberapa saat setelah Via menyelesaikan lagu itu, Via pun mendapatkan tepuk tangan yang sangat meriah dari anak-anak dirumah singgah itu. Via tersipu malu, ia menunduk lalu mengucapkan kata terimakasih. Sesekali Via melirik Cakka, dan saat itulah Via langsung menangkap basah Cakka yang sedang menatapnya sambil tersenyum.
            “kamu kenapa sih suka banget ngeliatin saya kayak gitu? Keinget sama anak kucing piaraan kamu?”
            Cakka menggeleng tanpa sedikitpun mengalihkan tatapannya dari Via. Hal itu semakin membuat Via salah tingkah dan tidak tahu harus melakukan apa.
            “kamu kayaknya nyanyiin lagu itu dari hati banget sih? Lagi jatuh cinta ya?”
            Pertanyaan asal yang Cakka lemparkan malah semakin membuat perasaan Via tidak menentu. Apa maksud Cakka sih sampai harus menanyakan pertanyaan bodoh itu? Via hanya bernyanyi, dimana-mana orang bernyanyi memang harus pakai hati kan?
            Bingung harus berkata apa, Via pun bangkit dari kursi yang sejak ia duduki lantas berkata pada Cakka,
            “udah siang Kka, pulang yuk! saya tadi lupa bawa handphone, takutnya ntar Tante cemas”
            Cakka berfikir sejenak, ia lalu mengangguk dan berdiri.
            “ya udah yuk!” Cakka melirik Adik-adik asuhnya satu persatu lalu melemparkan senyuman, “Adik-adik, Kak Cakka pulang dulu ya? Nanti hari minggu Kak Cakka balik lagi kesini. Okey?”
            “tapi Kak Via bakalan ikut lagi kan, Kak?” Tanya salah seorang anak perempuan beraut wajah manis.
            Kali ini Cakka mengalihkan tatapannya kearah Via yang dibalas oleh Via dengan tatapan bertanya. Cakka terkekeh pelan lalu menjawab pertanyaan anak perempuan tadi.
            “Kak Via pasti bakalan ikut. Iya kan, Via?”
            “ha?” Via hanya melongo, tapi kemudian mengangguk dengan sangat terpaksa.
            Setelah pamit, Cakka dan Via pun berjalan beriringan keluar dari rumah singgah. Selama diperjalanan menuju halaman, tempat dimana Cakka memarkirkan mobilnya, mereka berdua sama-sama terdiam. Segala perasaan aneh yang Via rasakan sekarang malah membuatnya merasa tidak nyaman. Bukan, Via bukannya merasa tidak nyaman berada disamping Cakka, ia justru merasa sangat nyaman. Tapi hanya saja, perasaan-perasaan aneh itu yang membuat Via sedikit merasa tidak nyaman.
            “Via!” panggil Cakka pelan tepat saat Via akan memasuki mobilnya,
            “iya?” Via berbalik dan menatap Cakka yang berdiri dihadapannya.
            “makasih ya buat hari ini? Makasih karna kamu udah mau nemenin saya bolos”
            Via tersenyum lalu berkata,
            “justru aku seneng karna kamu ajakin kesini, kapan-kapan ajakin lagi ya?”
            Cakka mengangguk mantap, “pasti!”
            Baru saja Via berbalik dan hendak memasuki mobil, tangan kokoh milik Cakka tahu-tahu meraih lengannya. Cakka menarik pelan Via hingga jarak diantara mereka begitu dekat. Jantung Via semakin berdegub kencang tanpa bisa ia kendalikan lagi.
            “apa lagi?” Tanya Via yang berusaha tetap terlihat tenang. Tapi tanpa Cakka tahu, jauh didalam sana perasaan Via semakin tidak menentu ketika kedua pasang mata mereka bertemu satu sama lain apalagi dalam jarak yang sangat dekat seperti sekarang ini.


            “aku rasa… aku mulai suka sama kamu, Via…”





***


            Tepat saat Cakka dan Via tiba dirumah Via, hujan malah turun dengan begitu lebatnya. Via mendesah kecewa. Bagaimana ia harus memasuki rumahnya jika sudah sudah begini? Tidak lama berfikir, Via pun akhirnya menemukan sebuah keputusan. Via memutuskan untuk menembus hujan, toh jarak gerbang dari rumahnya tidak terlalu jauh bukan? Basah sedikit tentu tidak akan menjadi masalah apapun.
            Baru saja tangan kanan Via terulur untuk membuka pintu mobil, Cakka langsung menghentikannya dengan cara memegang tangannya,
            “tunggu dulu, Vi!”
            Via menatap Cakka dengan tatapan bingung.
            “kenapa?”
            Cakka langsung membuka jaket kulit yang sejak tadi ia kenakan tanpa menjawab pertanyaan Via. Cakka lalu keluar dari dalam mobilnya setelah sebelumnya ia membentangkan jaketnya dan menggunakan jaket itu sebagai payung.
            Cakka membuka pintu mobilnya lalu mempersilahkan Via keluar.
            “ayo keluar!”
            “Kka… nggak usah kayak gini? Nanti jaket kamu basah lho!”
            “udah terlanjur basah, Vi. Ayo!” kali ini Cakka mengulurkan tangan kananya. Ragu-ragu Via menyambut uluran tangan Cakka.
            Dan saat Via berdiri, jarak diantara mereka malah nyaris terhapus saking dekatnya. Bahkan mereka bisa merasakan hangat desauan nafas masing-masing. Kedua mata mereka bertemu dalam tatapan yang intens. Perasaan Via yang awalnya tidak menentu kini semakin tidak menentu saat Cakka tanpa sadar mendekatkan wajahnya dengan wajah Via. Jantung Via seakan berhenti berdetak saat itu. Semuanya seakan hening. Bahkan suara rintik hujanpun tidak terdengar.
            Dan saat jarak diantara mereka semakin dekat, Via memejamkan kedua matanya, begitu juga dengan Cakka. Tapi mendadak Cakka menghentikan pergerakan wajahnya. Ia menatap Via sejenak yang saat itu sedang memejamkan matanya, Cakka tersenyum kecil, ia tidak pernah menyangka bahwa Gadis inilah yang pertama kali mampu menaklukkan kekerasan hatinya.
            Cakka mencium kening Via sekilas tapi penuh kasih. Seperkesian detik kemudian, Cakka langsung menjauhkan wajahnya dari wajah Via, saat itulah Via langsung membuka kedua matanya.
            “masuk yuk!” ajak Cakka. Via mengangguk. Mereka berdua pun melangkah bersama dalam jarak yang begitu dekat.
            Tapi tanpa mereka berdua sadari, seseorang dari kejauhan sana tengah memperhatikan mereka dan melihat semua apa yang mereka lakukan dari dalam Ferarri merahnya. Dia –Alvin- mencengkram kuat-kuat setir mobilnya untuk meredam emosi yang bergejolak didadanya, dan ketika semuaya sudah mencapai klimaks, Alvin langsung menghempaskan kedua tangannya dengan keras diatas setir mobilnya.

            Alvin merasakan seolah ada sebuah benda berduri yang menghantam telak dadanya. Rasanya sesak bercampur perih. Ini kah yang namanya cemburu??




                                                            BERSAMBUNG….

0 comments:

Post a Comment