Sebelumnya….
Cakka mencium kening Via sekilas tapi penuh
kasih. Seperkesian detik kemudian, Cakka langsung menjauhkan wajahnya dari
wajah Via, saat itulah Via langsung membuka kedua matanya.
“masuk yuk!” ajak Cakka. Via
mengangguk. Mereka berdua pun melangkah bersama dalam jarak yang begitu dekat.
Tapi tanpa mereka berdua sadari,
seseorang dari kejauhan sana tengah memperhatikan mereka dan melihat semua apa
yang mereka lakukan dari dalam Ferarri merahnya. Dia –Alvin- mencengkram
kuat-kuat setir mobilnya untuk meredam emosi yang bergejolak didadanya, dan
ketika semuaya sudah mencapai klimaks, Alvin langsung menghempaskan kedua
tangannya dengan keras diatas setir mobilnya.
Alvin merasakan seolah ada sebuah
benda berduri yang menghantam telak dadanya. Rasanya sesak bercampur perih. Ini
kah yang namanya cemburu??
***
Part
9
“Kadang hidup tak seindah mimpi
Bukan alasan untuk meninggalkanku
Bukan alasan untuk meninggalkanku
Beribu hari kita lewati
Susah senangmu bagian hidupku
Dengar hatiku tak meminta lebih
Oh kekasihku kau harus mencintaiku…”
Susah senangmu bagian hidupku
Dengar hatiku tak meminta lebih
Oh kekasihku kau harus mencintaiku…”
(Rumor ~ Kau Harus Mencintaiku)
Pagi-pagi
sekali, sekitar pukul 06.15 Alvin sudah terlihat dilapangan Futsal sekolahnya.
Sejak 30 menit yang lalu, Alvin sudah ada ditempat itu untuk berlatih Futsal
sendiri. Alvin berlatih bukan untuk menghadapi pertandingan, tapi untuk
melampiaskan emosinya yang hingga saat ini masih belum tersalurkan. Jika tidak
ingat bahwa Cakka adalah sahabatnya, mungkin sudah sejak kemarin Alvin
menghajar Cakka habis-habisan. Dan emosi yang tidak terlampiaskan itu justru
menimbulkan sesak didada Alvin. Alvin terus menendang beberapa bola yang ada
didepannya secara bergantian, begitu seterusnya sampai nafas nya terengah dan
keringat mengucur deras disekujur tubuhnya, tapi Alvin tidak peduli, hatinya
terlalu sakit untuk bisa merasakan lelah yang mendera sekujur tubuhnya.
Bayangan
saat Cakka mengecup kening Via dengan penuh kasih kembali berkelebat dikepala
Alvin dan membuat emosinya semakin naik tak terkendali. Bukan hanya itu,
perkataan-perkataan Papinya yang selalu memuji Cakka dan membanding-bandingkan
Cakka dengan dirinya juga berpendar kembali dikepala Alvin. Kenapa? Kenapa
Cakka selalu lebih segala-galanya dari Alvin? Kenapa Cakka selalu menang dari
Alvin? Dan kenapa Cakka selalu mendapatkan semua apa yang Alvin inginkan?
Jantungnya terasa terbakar, dan Alvin semakin beringas menendang bola-bola
tidak berdosa itu.
“Alvin!”
panggil seseorang tepat dari belakang Alvin.
Merasa
sangat mengenal suara itu, Alvin langsung menghentikan aktifitas menendang
bolanya. Alvin menghela nafas panjang dan menoleh kebalakang. Ia lalu menangkap
sosok Via yang saat itu sedang berjalan kearahnya dengan pandangan heran.
“dari
semalem gue nelfon lo, tapi nomer lo lagi nggak aktif. Lo marah ya gara-gara
kemaren telfon sama sms lo nggak gue respon, kemarin tuh –“
“lo
bolos sama Cakka kan?” sela Alvin dengan suara bergetar.
“gu…
gue… gue –“ ucap Via gelagapan. Sejak awal ia memang sudah mengantisipasi
pertanyaan Alvin ini, dan sejak awal juga Via sudah mempersiapkan diri dengan
sebaik mungkin untuk bisa menjawab pertanyaan Alvin. Tapi entah kenapa saat
dirinya sudah berhadapan langsung dengan Alvin dan melihat tatapan Alvin yang begitu
dingin malah membuat semua apa yang sudah ia persiapkan menghilang hanya dalam
hitungan detik saja.
“apa
lo bisa jelasin semuanya ke gue, Vi? APA LO BISA?!” Bentak Alvin diluar
kendalinya dan membuat Via langsung menunduk karna ketakutan. Hampir sebulan
mengenal Alvin, tidak pernah sekalipun ia melihat Alvin semarah ini.
Tiba-tiba
Via merasakan Alvin mengangkat dagunya. Lalu secara mengejutkan dan tanpa
perkiraan dari Via, Alvin menempelkan bibirnya pada bibir Gadis itu. Via yang
tidak siap langsung tersentak dan merasakan sekujur tubuhnya menegang. Itu
ciuman pertamanya.
2
detik kemudian, Via langsung mendorong tubuh kekar Alvin dan melayangkan sebuah
tamparan tepat dipipi sebelah kanan Alvin. Alvin menyentuh pipinya lalu
tersenyum meremehkan.
“lo
udah gila ya?!” bentak Via.
“kenapa?
lo nggak terima? Gue pacar lo, dan gue berhak untuk itu!”
“elo
–“
“Cakka
aja yang bukan siapa-siapa lo bisa nyium lo, kenapa gue yang pacar lo nggak
bisa?”
“jadi
lo liat semuanya?!” Tanya Via tidak percaya bercampur kaget.
“jangan
lo pikir gue buta! Lo suka kan sama Cakka? Iya kan?”
“lo
jangan sok tahu! Sekalipun gue terpaksa jadi cewek lo, gue akan tetep pegang
kok omongan gue. Apapun keadaannya sekarang, gue tetep cewek lo dan gue nggak
mungkin suka sama cowok lain”
“kalo
lo emang nggak suka sama Cakka, terus kenapa lo terima aja waktu dia nyium
kening lo, dan kalo lo nganggep gue sebagai pacar, kenapa barusan lo harus
marah waktu gue nyium lo? Lo nggak pinter bohong, Vi. Gue liat semuanya dari
mata lo, lo emang suka sama Cakka”
“jadi
itu permasalahannya?”
“maksud
lo?” Tanya Alvin balik.
“lo
cemburu?” Alvin langsung bungkam saat Via mengajukan pertanyaan singkat namun
menusuk itu.
Via
menghela nafas panjang, ia berusaha bersikap wajar dan terlihat setenang mungkin.
Via memejamkan matanya untuk beberapa saat dan berfikir. Tidak lama, ia lalu
melangkah maju dan kembali berdekatan dengan Alvin. Sementara Alvin ia hanya
diam mematung ditempatnya, menanti apa yang hendak Via lakukan.
“gue
kayaknya butuh sedikit aksi biar lo ngerti” ucap Via dingin. Via lalu menangkup
wajah Alvin, menariknya pelan dan mengecup bibirnya lembut dengan kedua mata
terpejam. Alvin melotot lebar. Sulit ia percaya, Via bisa melakukan hal ini.
Tapi jauh didalam sana, Alvin dapat merasakan bahwa Via melakukan itu tanpa
rasa sama sekali.
Beberapa
saat kemudian, Via menjauhkan wajahnya dari Alvin, tapi kedua tangannya masih
memegang kedua sisi wajah Alvin. Via masih memejamkan matanya, ia lalu mengalihkan
wajahnya kearah lain dan berusaha mengatur nafasnya.
“luar
biasa!” ucap Alvin dengan nada meremehkan, “tapi ini semua nggak akan
menyurutkan niat gue buat ngasih pelajaran ke Cakka. Dia harus tetep membayar
untuk kesalahan yang udah dia lakukan karna telah lancang nyium kening CEWEK
GUE!” Lanjut Alvin dengan tegas dan penuh keyakinan.
Via
lalu menurunkan tangannya dari kedua sisi wajah Alvin, ia menatap Alvin lantas
berkata,
“jangan
sentuh Cakka!!” Via lalu berbalik dan pergi meninggalkan Alvin sendiri
dilapangan itu.
Alvin
tersenyum miring menatapi punggung Via yang semakin lama semakin jauh dan
semakin menghilang dari pandangannya. Dengan pelan Alvin bergumam,
“lo
emang suka sama Cakka, Vi… gue tau itu!”
***
Ify
melirik arloji yang terlingkar dengan manis dipergelangan tangannya. Waktu saat
itu sudah menunjukan pukul 07.45, Ify makin uring-uringan, ia pasti telat! Ify
menuruni anak tangga dengan terburu-buru. Dan tepat saat Ify akan membuka
pintu, Febby yang saat itu bersiap-siap masuk kuliah tiba-tiba datang.
“udah
nggak usah buru-buru gitu! Hari ini kita ada yang jemput kok”
“siapa,
Kak?” Tanya Ify ragu-ragu.
“Rio”
jawab Febby singkat. Sebelum Ify mengeluarkan penolakan, Febby malah sudah
menarik pergelangan tangannya dan membawanya keluar dari rumah.
Dan
ternyata benar saja, jaguar hitam milik Rio sudah menanti didepan gerbang. Ify
menelan ludahnya saat melihat Rio yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam
dari dalam mobilnya.
“Kak
Febby, aku biar naik taksi aja ya?” tawar Ify, tapi Febby malah menggeleng
tidak setuju.
“buat
apa naik taksi, Fy? Toh jemputan lo udah disini kok, ya… kecuali kalo lagi mau
ngehindarin seseorang” kata Rio dengan nada sedikit menyindir.
Ify
menelan bulat-bulat kekesalannya. Tidak ingin memperpanjang masalah lagi, Ify
langsung membuka pintu belakang mobil Rio lalu duduk di kursi belakang. Rio
tersenyum puas detik itu juga. Setelah Febby duduk disampingnya, Rio pun mulai
menjalankan mobilnya dan perlahan menjauh meninggalkan rumah Ify.
‘kali ini lo kalah, Fy…’ ujar Rio dalam
hati.
***
Setelah
wawancara bersama Agni dan Shilla selesai, Cakka langsung meninggalkan kantin
sekolah tanpa mengucapkan sepatah katapun. Hal itu kontan saja membuat Agni
merasa terseinggung. Dasar tidak tahu aturan! Bukannya pamit dulu, eehh ini dia
malah nyelonong seenaknya. Agni berdecak kesal, dan tepat saat ia akan bangkit
dari tempat duduknya hendak mengejar Cakka dan melabraknya, Shilla langsung
menahan lengannya.
“udah
Ag… nggak usah! Sukur-sukur dia mau diwawancara” Agni berdecak lagi. Kalau saja
Shilla tidak menahannya, mungkin sekarang Agni sudah menghajar Cakka
habis-habisan. Toh tidak ada lagi yang perlu Agni takutkan, hasil wawancara nya
bersama Cakka sudah ada ditangan. Jadi jikapun ia menghajar Cakka habis-habisan
hal itu tetap tidak akan berpengaruh apapun pada hasil wawancara.
Shilla
berfikir sejenak, sepertinya ia perlu bicara dengan Cakka. Shilla lalu pamit
pada Agni dengan alasan ia ingin ke toilet sebentar, dan tanpa menunggu jawaban
dari Agni, Shilla langsung melangkah keluar meninggalkan kantin, hendak
menyusul Cakka.
Tapi
mendadak Shilla menghentikan langkahnya ketika melihat Cakka menghampiri
seseorang yang sangat ia kenal. Dia Sivia, sahabat baru Shilla. Dan Shilla
tercengang saat mendapati bahwa Cakka tidak hanya menghampiri Via, tapi juga
mengajaknya berbicara. Hal yang tidak biasa pun ditangkap oleh Shilla dari
gelagat Cakka yang benar-benar ‘langka’ menurutnya. Cakka tersenyum pada Via
dan terlihat begitu nyaman berbicara dengan Gadis itu. Shilla bahkan tidak
pernah melihat Cakka seramah itu pada cewek manapun, kecuali, Via. Shilla
bersembunyi dibelakang salah satu pilar lalu menguping pembicaraan kedua orang
itu.
“gimana
wawancaranya?”
“sukses
kok” jawab Cakka sekenanya.
“makasih
ya karna kamu udah mau diwawancara?”
“nggak
usah bilang makasih lah, ini kan sebagai tanda permintaan maaf saya ke kamu
karna waktu itu saya ngelempar kamu pake bola basket, dan ini juga sebagai
tanda terimakasih saya karna kamu udah nemuin kunci mobil pemberian Papa saya”
Dan
ini sangat ajaib! Fikir Shilla. Sebelumnya mana pernah ia melihat Cakka
berbicara sepanjang itu dengan seorang cewek kecuali Mamanya. Shilla semakin
mencium aroma ketidakberesan dari Cakka dan Via. Dan tunggu dulu, tadi Cakka
berkata apa? Dia mengucapkan terimakasih karna Cakka mau diwawancara? Atau apa
jangan-jangan Cakka mau diwawancara karena… Via? Shilla semakin memasang
pendengarannya sebaik mungkin.
“oya,
Vi? Nanti kamu pulang sama siapa?”
Sebelum
Via menjawab pertanyaan itu, Alvin tiba-tiba datang dari belakang Cakka. Ia
membalik tubuh Cakka hingga berhadapan dengannya. Lalu tanpa mengucapkan
sepatah katapun, Alvin langsung melayangkan sebuah pukulan yang cukup keras
diwajah Cakka. Darah segar menetes dari tepi bibir Cakka karna pukulan yang
Alvin hadiahkan itu.
“Alvin,
lo apa-apaan sih?” bentak Via sambil berusaha menjauhkan Alvin dari Cakka. Kali
ini Alvin menatap Via tajam. Ada kilat-kilat kemarahan yang terpancar dari
tatapan tajam itu.
“gue
kan udah bilang sama lo, kalo gue akan ngasih pelajaran sama cowok yang udah
lancang nyium kening cewek gue”
“nggak
usah childish bisa kan?”
“apa
lo bilang? Via cewek lo?” Tanya Cakka heran beberapa saat setelah ia menghapus
darah yang menetes ditepi bibirnya.
“iya,
Via cewek gue. Lo mau apa?” tantang Alvin.
Tanpa
mereka sadari, semua teman-teman mereka yang tadinya berlalu-lalang kini mulai
berkumpul dan menonton pertengkaran yang super langka itu. Diantara kerumuman
itu, tampak Zevana yang sedang menatap kearah mereka dengan tatapan benci.
Bagaimana tidak? Alvin yang selama ini susah payah ia kejar ternyata takluk
pada anak baru itu. Benar-benar sulit dipercaya!
Cakka
tersenyum meremehkan sambil sesekali melirik Via yang saat itu tengah menunduk
dalam. Senyumnnya itu menunjukan bahwa ia sama sekali tidak mempercayai dengan
apa yang baru saja Alvin katakan.
“lo
pikir gue percaya?!” kata Cakka beberapa saat kemudian.
Alvin
berdecak kesal dan kembali menghadiahkan pukulan yang membabi buta disekujur
tubuh Cakka. Cakka yang merasa tidak tahan lagi akhirnya membalas pukulan Alvin.
Pukulan Cakka yang amat sangat keras itu sukses membuat Alvin jatuh tersungkur.
“Alvin!!”
reflex Via menjerit seraya menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
“oke!
Kalo Via emang cewek lo, bisakan mulai sekarang gue minta lo serahin Via ke
gue?!” pinta Cakka dengan tegas sambil menujuk kearah Alvin yang saat itu masih
tergeletak dilantai. Dan ucapan Cakka itu sukses membuat seisi SMA Tunas Bangsa
terkejut bukan main. Bagaimana tidak, selama ini mana pernah Cakka mau
susah-susah memperebutkan seorang cewek, apalagi sampai harus bertengkar
seperti ini dengan Alvin yang notabene adalah Sahabat Kental nya sendiri.
Alvin
geram. Ucapan Cakka yang terakhir benar-benar membuat hatinya panas. Alvin lalu
bangkit dan kembali melayangkan pukulan bertubi-tubi pada Cakka. Cakka yang
tidak ingin mengalahpun balas memukul Alvin. Via yang sejak tadi berusaha
melerai mereka malah tidak mereka hiraukan sama sekali.
“sampe
mati pun gue nggak akan pernah rela nyerahin Via ke elo”
“sampe
mati pun gue nggak akan rela ngeliat Via jadi milik cowok brengsek kayak lo!”
“elo…”
Saat
Alvin akan kembali melayangkan pukulannya, tiba-tiba Rio dan Gabriel datang
lalu memisahkan mereka berdua. Gabriel membawa Cakka, sementara Rio membawa
Alvin. Dalam hati via bersyukur.
“kalian
berdua apa-apaan sih?” Tanya Gabriel emosi. Tapi baik Alvin maupun Cakka yang
sudah sama-sama babak-belur tidak ada yang menjawab pertanyaan Gabriel.
“Lepasin
gue Yo! Gue mau hajar dia!! Gue mau bunuh dia” Alvin memberontak dalam
kungkungan Rio. Rio menggeleng beberapa kali. Dan karna Alvin terus
memberontak, Rio akhirnya berteriak keras dan membuat semuanya kaget.
“GUE
BILANG BERHENTI!! Seenggaknya hargain gue sebagai ketua Osis kalian!” Alvin
kali ini terdiam, begitu juga dengan Cakka. Sebagai ketua Osis Rio memang
terkenal dan ketegasan juga kedisplinannya. Dan jika sudah begini, tidak ada
satupun yang berani membantah Rio.
“untung
gue yang liat. Coba kalo kepala sekolah yang liat, kalian berdua bisa di DO,
sekalipun keluarga kalian sangat berpengaruh disekolah ini”
Alvin
melepaskan dirinya dari kungkungan Rio, tapi kali ini Alvin tidak melakukan
apapun.
“ato
lo berdua mau gue laporin langsung ke kepsek?! Lagian masalah kalian apa sih?
Masalah cewek??” Tanya Rio dengan nada membentak. Kesabarannya sudah
benar-benar habis kali ini. “dan buat kalian semua… BUBAR!!” Ucap Rio dengan
tegas pada semua teman-temannya yang sejak tadi menyaksikan pertengkaran antara
Cakka dan Alvin. Mereka semua yang tidak ingin berurusan dengan sang ketua Osis
langsung membubarkan diri.
“mulai
sekarang, elo –“ Alvin menunjuk wajah Cakka sambil menatap Cakka dengan
pandangan dinginnya, Cakka diam dan tidak memberikan respon apapun, “mulai
sekarang, elo gue keluarin dari D’CRAG”
“Alvin…”
kaget Rio dan Gabriel secara berbarengan. Alvin berbalik, ia lalu meraih tangan
Via dan membawa Via pergi dari tempat itu. Tapi saat mereka melewati Cakka,
Cakka malah menarik pergelangan tangan Via yang lainnya.
“gue
keluar dari D’CRAG, tapi ini sebagai gantinya”
Entah
bagaimana caranya, pergelangan tangan Via terlepas begitu saja dari genggaman
Alvin. Alvin terdiam sejenak. Sementara Cakka, ia berjalan dengan santainya
membawa Via pergi dari tempat itu. Alvin menggenggam erat jemari tangannya
sekuat mungkin. Dan ia perih saat mendapati kenyataan, bahwa Via ternyata lebih
memilih Cakka.
Shilla
tersenyum miris setelah melihat adegan super dramatis yang terhampar didepan
matanya. Ternyata dia yang selama ini berusaha mati-matian untuk bisa
mendapatkan hati Cakka tidak mendapatkan apapun kecuali kesia-siaan dan
kekecewaan. Dan yang lebih menyakitkan lagi, ternyata Via lah yang mampu
menaklukan hati tunangannya itu. Shilla menangis bisu tanpa air mata, dan itu
terasa sangat perih.
Alvin
dan Shilla, mereka berdua adalah dua hati yang sama-sama tersakiti.
***
“Alvin
emang pacar saya, Kka…” ucap Via pelan. Mendengar pengakuan Via itu, Cakka
langsung menghentikan langkahnya dan menatap Via dengan tatapan bingung.
“kamu
nggak lagi becanda kan, Vi?” Tanya Cakka yang merasa sanksi atas pengakuan itu.
Via menggeleng beberapa kali, berusaha menolak kesanksian Cakka.
“tapi
sayangnya saya lagi nggak becanda! Alvin emang pacar saya” tegas Via sekali
lagi. Cakka mulai frustasi. Ia mengusap wajahnya, lalu tidak lama kemudian
Cakka memegang kedua pundak Via dan berkata,
“tapi
bagaimana bisa? Alvin itu… Alvin itu play boy, Via…”
Via
mengangguk sekali, “saya tau. Tapi Alvin udah janji kalo dia bakalan berubah.
Saya Cuma berusaha percaya sama Alvin dan ngasih dia kesempatan, setiap orang
bisa berubah kan, Kka?”
“tapi,
Vi…”
“sssssstttt….”
Via meletakkan jari telunjuknya tepat didepan bibir Cakka. Ia menggeleng beberapa
kali dengan isyarat ia tidak ingin mendengar Cakka berbicara lagi. Beberapa
detik kemudian Via menurunkan telunjuk tangannya dari bibir Cakka. “maafin saya
Cakka… saya harus lihat keadaan Alvin sekarang” lanjut Via.
Dengan
sangat berat hati, Via melepaskan kedua tangan Cakka dari pundaknya lalu
berbalik pergi. Via bahkan mengabaikan panggilan Cakka yang memintanya untuk
kembali. Via berusaha menahan segala rasa yang bergejolak didadanya. Jika ingin
jujur, sebenarnya Via merasa sangat berat meninggalkan Cakka seperti ini. Via
tahu sejak awal hatinya tidak pernah berbohong, Cakka lah yang pertama kali
membuatnya merasakan cinta, Cakka lah orang pertama yang kembali menumbuhkan
kepercayaannya pada cinta setelah sebelumnya Papanya memporak-porandakan
kehidupan Mama nya dengan berkhianat. Cakka orang pertama yang membuatnya yakin
dengan kata hatinya, tapi yang memiriskan sekarang, Via tidak bisa memiliki
Cakka, seseorang yang begitu ia sayangi.
Ikatannya
dengan Alvin membuatnya merasa berat. Mungkin Via tidak sedikitpun memiliki
rasa pada Alvin, tapi Via hanya ingin memenuhi kesepakatannya, itu saja. Via
tidak ingin melanggar kesepatan yang ia sendiri buat.
‘satu bulan lagi… satu bulan lagi aku akan
terlepas dari ikatan ini. Aku harap nanti rasa itu masih ada dihati kamu buat
aku… aku sayang sama kamu, Cakka…’ lirih Via dalam hati. Setetes air
matanya terjatuh membasahi wajahnya. Kenapa jatuh cinta harus serumit ini?
***
“Lepaskanlah… ikatan mu
Dengan aku… biar kamu senang
Bila berat… melupakan aku…
Pelan-pelan saja…”
Alvin
sedang mengompres lukanya sendiri di UKS dengan menggunakan Es yang tadi
Gabriel bawakan. Sesekali Alvin meringis karna kesakitan, tapi rasa sakit karna
luka memar itu sama sekali tidak sebanding dengan rasa sakit hatinya kali ini.
Apa selamanya Alvin akan terus seperti ini? Apa seumur hidupnya Alvin sudah
ditakdirkan untuk selalu kalah dari Cakka? Alvin melepas Es batu yang dibalut
oleh handuk kecil itu, ia lalu memukulkan tangannya diatas meja dengan kesal.
Tidak Via, tidak Papinya, tidak Cakka, mereka semua sama saja.
“bisa
kan lain kali lo nggak usah ngelakuin hal-hal aneh yang Cuma akan bikin lo
sendiri terluka?” kata seseorang yang tiba-tiba saja muncul di UKS. Alvin langsung
menoleh kearah pintu setelah mendengar suara milik Via. Alvin menatap Via
sejenak lalu tersenyum sinis.
“buat
apa lo nyusul gue kesini? Bukannya tadi lo lebih milih Cakka dari gue?”
“karna
gue cewek lo, dan lo cowok gue” jawab Via yang sama sekali tidak sesuai dengan
pertanyaan Alvin itu. Kali ini Alvin mendesis lalu kembali melanjutkan
mengompres luka memarnya.
Via
berjalan mendekati Alvin, ia lalu mengambil kotak P3K yang tersedia diatas meja
dan duduk disamping Alvin, tapi Alvin bergeming. Via menghela nafas panjang
sebelum ia membuka kotak P3K itu. Via pun mengambil secarik kapas lalu
meneteskannya dengan beberapa tetes betadine. Via memalingkan wajah Alvin
dengan sebelah tangannya, Alvin berdecak kesal tapi juga tidak bisa melakukan
penolakan apapun. Lalu dengan sangat hati-hati, Via menyapu pelan luka Alvin
yang terdapat disudut bibirnya dengan secarik kapas tadi. Dan Via tidak pernah
tahu betapa senangnya hati Alvin saat Via datang menemuinya ke UKS.
“aw…”
ringis Alvin saat Via terlalu menekan kapas itu pada lukanya.
“pelan-pelan,
Vi…” pinta Alvin dengan nada memelas.
“nggak
usah cengeng bisa kan? Toh ini juga karna ulah lo sendiri” kata Via sedikit
sebal.
Alvin
langsung bungkam dan membiarkan Via berkonsentrasi dengan luka-luka memarnya
itu. Wajah focus Via yang tampak serius malah membuat jantung Alvin berdegub
kencang dalam irama yang tidak beraturan, belum lagi jarak Via yang begitu
dekat dengannya mampu membuat indera pencium Alvin menangkap aroma orange yang
menguar dari parfume yang Via gunakan. Alvin tersenyum dalam hati apalagi saat
kejadian pagi tadi kembali terlintas dikepalanya, dan tekadnya untuk bisa
membuat Via jatuh cinta padanya dalam waktu sebulan semakin kuat saja.
Setelah
usai mengobati luka memar Alvin, Via menutup kotak P3K itu dan mengembalikannya
ketempat semula. Via menatap Alvin dan berkata,
“mulai
sekarang lo nggak perlu takut lagi Cakka akan ngerebut gue dari lo, karna mulai
sekarang dan sampai sebulan yang akan datang gue akan selalu ada disamping lo,
gue Cuma milik lo” Via menggenggam tangan Alvin sekilas untuk meyakinkannya. 2
detik kemudian Via bangkit dari sisi Alvin dan berniat keluar dari UKS.
“dari
dulu Cakka memang selalu lebih segala-galanya dari gue, dia selalu bisa
ngedapetin apa yang nggak bisa gue dapetin…”
Ucapan
Alvin itu sukses membuat Via menghentikan langkahnya. Via berhenti tapi tidak
menoleh kebelakang.
“gue
selalu kalah dari Cakka, dan yang nyakitin buat gue, Papi gue selalu
ngebanding-bandingin gue sama Cakka, Papi gue selalu minta supaya gue bisa
seperti Cakka. Selama ini nggak ada satupun yang tahu, kalo seorang Alvin yang
selalu terlihat kuat dan tidak terkalahkan hanya hidup dibawah kendali Papi nya.
Rasanya sakit… Gue pernah bermimpi, suatu saat nanti gue bisa keliling dunia
untuk mengabadikan setiap moment yang berharga dengan kamera gue, gue pengen
jadi seorang Fotografer, tapi Papi gue nggak pernah sekalipun mendukung. Papi
Cuma pengen gue jadi Dokter…” Alvin menghela nafas panjang, dan saat ia
menghembuskannya rasanya begitu perih. Ini kali pertamanya Alvin mengeluarkan
isi hatinya didepan seseorang, dan Via adalah orang pertama yang tahu tentang
kerapuhan Alvin selama ini.
Alvin
tersenyum miris dan berusaha keras menahan air matanya. Apapun keadaannya
sekarang, Alvin tidak akan pernah meneteskan air mata. Menangis adalah hal yang
paling pantang untuk ia lakukan.
“dan
saat gue bener-bener jatuh cinta pada seorang cewek untuk yang pertama kalinya,
cewek itu malah lebih milih Cakka dari gue, hhhh…. Ya, mungkin selamanya gue
nggak akan pernah bisa ngalahin Cakka, mungkin selamanya Cakka akan selalu
lebih segala-galanya dari gue.. tapi seenggaknya –“ Alvin menggantungkan
kalimatnya untuk menghela nafasnya sejenak.
Via
yang masih memunggungi Alvin memejamkan matanya untuk beberapa saat, lalu tanpa
bisa Via control, air mata itu lolos begitu saja dari kedua pelupuk matanya. Ia
tidak pernah tahu selama ini kalau Alvin ternyata juga menjalani hidup yang
sangat keras, sama seperti dirinya.
“tapi
seenggaknya ijinin gue buat berusaha untuk bikin lo jatuh cinta sama gue, dan
kalo lo nggak ngijinin gue, maka untuk yang kesekian kalinya, lagi-lagi Cakka
bakalan ngalahin gue. Gue udah bosen kalah dari Cakka, rasanya sakit…”
Via
yang merasa tidak tahan lagi melawan gejolak didadanya langsung berbalik dan
menatap Alvin. Via menyeka air matanya dan membiarkan Alvin tahu bahwa ia
sedang menangis. Alvin menatap Via dengan pandangan bingung. Untuk pertama kali
dalam hidupnya, ia akhirnya melihat seseorang menangis karna dirinya. Jika
tidak ingat bahwa saat ini ia mereka masih berada di lingkungan sekolah,
mungkin sudah sejak tadi Alvin menarik gadis itu kedalam pelukannya. Alvin
tersenyum kecil…
“Via…
bisakan mulai sekarang lo belajar menyayangi gue?”
Pertanyaan
super sederhana yang hanya membutuhkan jawaban ‘YA’ atau ‘TIDAK’ itu malah
membuat Via berada dalam posisi dilemma. Via bingung bagaimana harus menjawab
pertanyaan itu sementara detik ini dihatinya hanya ada nama Cakka seorang. Apa
Via bisa melupakan Cakka secepat itu lalu belajar menyayangi Alvin? Tidak,
urusan hati tidak pernah sesederhana itu.
Via
melangkah mendekati Alvin, lalu tanpa berkata apa-apa lagi, Via langsung
memeluk Alvin yang saat itu masih terduduk dipinggir ranjang. Entahlah, Via
tidak mengerti dengan semuanya, yang ia tahu sekarang hanyalah ia ingin memeluk
Alvin dan menenangkan hatinya yang rapuh. Hanya itu.
Alvin
lantas bangkit dari duduknya dan membalas pelukan Via. Meskipun Via tidak
memberikannya jawaban apapun, tapi Alvin dapat merasakan kehangatan dan
ketenangan yang menjalar disekujur raganya saat tubuh itu memeluknya. Alvin
merasa beban yang selama ini tanggung sedikit berkurang. Setidaknya sekarang
Gadis ini masih miliknya sampai sebulan yang akan datang. Sekalipun nanti Via
tidak bisa mencintainya, Alvin tetap akan merasa beruntung karna sempat
memiliki Via dan merasakan pelukan hangatnya.
Alvin
mengecup puncak kepala Via lalu dengan lirih berujar…
“gue
sayang sama lo, Sivia….”
BERSAMBUNG….



0 comments:
Post a Comment