Thursday, February 6, 2014

0

You’re Mine [Part 9:Cakka Vs Alvin]











Sebelumnya….



            Cakka mencium kening Via sekilas tapi penuh kasih. Seperkesian detik kemudian, Cakka langsung menjauhkan wajahnya dari wajah Via, saat itulah Via langsung membuka kedua matanya.
            “masuk yuk!” ajak Cakka. Via mengangguk. Mereka berdua pun melangkah bersama dalam jarak yang begitu dekat.
            Tapi tanpa mereka berdua sadari, seseorang dari kejauhan sana tengah memperhatikan mereka dan melihat semua apa yang mereka lakukan dari dalam Ferarri merahnya. Dia –Alvin- mencengkram kuat-kuat setir mobilnya untuk meredam emosi yang bergejolak didadanya, dan ketika semuaya sudah mencapai klimaks, Alvin langsung menghempaskan kedua tangannya dengan keras diatas setir mobilnya.

            Alvin merasakan seolah ada sebuah benda berduri yang menghantam telak dadanya. Rasanya sesak bercampur perih. Ini kah yang namanya cemburu??




***


Part 9


“Kadang hidup tak seindah mimpi
Bukan alasan untuk meninggalkanku
Beribu hari kita lewati
Susah senangmu bagian hidupku
Dengar hatiku tak meminta lebih
Oh kekasihku kau harus mencintaiku…”

(Rumor ~ Kau Harus Mencintaiku)



            Pagi-pagi sekali, sekitar pukul 06.15 Alvin sudah terlihat dilapangan Futsal sekolahnya. Sejak 30 menit yang lalu, Alvin sudah ada ditempat itu untuk berlatih Futsal sendiri. Alvin berlatih bukan untuk menghadapi pertandingan, tapi untuk melampiaskan emosinya yang hingga saat ini masih belum tersalurkan. Jika tidak ingat bahwa Cakka adalah sahabatnya, mungkin sudah sejak kemarin Alvin menghajar Cakka habis-habisan. Dan emosi yang tidak terlampiaskan itu justru menimbulkan sesak didada Alvin. Alvin terus menendang beberapa bola yang ada didepannya secara bergantian, begitu seterusnya sampai nafas nya terengah dan keringat mengucur deras disekujur tubuhnya, tapi Alvin tidak peduli, hatinya terlalu sakit untuk bisa merasakan lelah yang mendera sekujur tubuhnya.
            Bayangan saat Cakka mengecup kening Via dengan penuh kasih kembali berkelebat dikepala Alvin dan membuat emosinya semakin naik tak terkendali. Bukan hanya itu, perkataan-perkataan Papinya yang selalu memuji Cakka dan membanding-bandingkan Cakka dengan dirinya juga berpendar kembali dikepala Alvin. Kenapa? Kenapa Cakka selalu lebih segala-galanya dari Alvin? Kenapa Cakka selalu menang dari Alvin? Dan kenapa Cakka selalu mendapatkan semua apa yang Alvin inginkan? Jantungnya terasa terbakar, dan Alvin semakin beringas menendang bola-bola tidak berdosa itu.
            “Alvin!” panggil seseorang tepat dari belakang Alvin.
            Merasa sangat mengenal suara itu, Alvin langsung menghentikan aktifitas menendang bolanya. Alvin menghela nafas panjang dan menoleh kebalakang. Ia lalu menangkap sosok Via yang saat itu sedang berjalan kearahnya dengan pandangan heran.
            “dari semalem gue nelfon lo, tapi nomer lo lagi nggak aktif. Lo marah ya gara-gara kemaren telfon sama sms lo nggak gue respon, kemarin tuh –“
            “lo bolos sama Cakka kan?” sela Alvin dengan suara bergetar.
            “gu… gue… gue –“ ucap Via gelagapan. Sejak awal ia memang sudah mengantisipasi pertanyaan Alvin ini, dan sejak awal juga Via sudah mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin untuk bisa menjawab pertanyaan Alvin. Tapi entah kenapa saat dirinya sudah berhadapan langsung dengan Alvin dan melihat tatapan Alvin yang begitu dingin malah membuat semua apa yang sudah ia persiapkan menghilang hanya dalam hitungan detik saja.
            “apa lo bisa jelasin semuanya ke gue, Vi? APA LO BISA?!” Bentak Alvin diluar kendalinya dan membuat Via langsung menunduk karna ketakutan. Hampir sebulan mengenal Alvin, tidak pernah sekalipun ia melihat Alvin semarah ini.
            Tiba-tiba Via merasakan Alvin mengangkat dagunya. Lalu secara mengejutkan dan tanpa perkiraan dari Via, Alvin menempelkan bibirnya pada bibir Gadis itu. Via yang tidak siap langsung tersentak dan merasakan sekujur tubuhnya menegang. Itu ciuman pertamanya.
            2 detik kemudian, Via langsung mendorong tubuh kekar Alvin dan melayangkan sebuah tamparan tepat dipipi sebelah kanan Alvin. Alvin menyentuh pipinya lalu tersenyum meremehkan.
            “lo udah gila ya?!” bentak Via.
            “kenapa? lo nggak terima? Gue pacar lo, dan gue berhak untuk itu!”
            “elo –“
            “Cakka aja yang bukan siapa-siapa lo bisa nyium lo, kenapa gue yang pacar lo nggak bisa?”
            “jadi lo liat semuanya?!” Tanya Via tidak percaya bercampur kaget.
            “jangan lo pikir gue buta! Lo suka kan sama Cakka? Iya kan?”
            “lo jangan sok tahu! Sekalipun gue terpaksa jadi cewek lo, gue akan tetep pegang kok omongan gue. Apapun keadaannya sekarang, gue tetep cewek lo dan gue nggak mungkin suka sama cowok lain”
            “kalo lo emang nggak suka sama Cakka, terus kenapa lo terima aja waktu dia nyium kening lo, dan kalo lo nganggep gue sebagai pacar, kenapa barusan lo harus marah waktu gue nyium lo? Lo nggak pinter bohong, Vi. Gue liat semuanya dari mata lo, lo emang suka sama Cakka”
            “jadi itu permasalahannya?”
            “maksud lo?” Tanya Alvin balik.
            “lo cemburu?” Alvin langsung bungkam saat Via mengajukan pertanyaan singkat namun menusuk itu.
            Via menghela nafas panjang, ia berusaha bersikap wajar dan terlihat setenang mungkin. Via memejamkan matanya untuk beberapa saat dan berfikir. Tidak lama, ia lalu melangkah maju dan kembali berdekatan dengan Alvin. Sementara Alvin ia hanya diam mematung ditempatnya, menanti apa yang hendak Via lakukan.
            “gue kayaknya butuh sedikit aksi biar lo ngerti” ucap Via dingin. Via lalu menangkup wajah Alvin, menariknya pelan dan mengecup bibirnya lembut dengan kedua mata terpejam. Alvin melotot lebar. Sulit ia percaya, Via bisa melakukan hal ini. Tapi jauh didalam sana, Alvin dapat merasakan bahwa Via melakukan itu tanpa rasa sama sekali.
            Beberapa saat kemudian, Via menjauhkan wajahnya dari Alvin, tapi kedua tangannya masih memegang kedua sisi wajah Alvin. Via masih memejamkan matanya, ia lalu mengalihkan wajahnya kearah lain dan berusaha mengatur nafasnya.
            “luar biasa!” ucap Alvin dengan nada meremehkan, “tapi ini semua nggak akan menyurutkan niat gue buat ngasih pelajaran ke Cakka. Dia harus tetep membayar untuk kesalahan yang udah dia lakukan karna telah lancang nyium kening CEWEK GUE!” Lanjut Alvin dengan tegas dan penuh keyakinan.
            Via lalu menurunkan tangannya dari kedua sisi wajah Alvin, ia menatap Alvin lantas berkata,
            “jangan sentuh Cakka!!” Via lalu berbalik dan pergi meninggalkan Alvin sendiri dilapangan itu.
            Alvin tersenyum miring menatapi punggung Via yang semakin lama semakin jauh dan semakin menghilang dari pandangannya. Dengan pelan Alvin bergumam,


            “lo emang suka sama Cakka, Vi… gue tau itu!”




***

            Ify melirik arloji yang terlingkar dengan manis dipergelangan tangannya. Waktu saat itu sudah menunjukan pukul 07.45, Ify makin uring-uringan, ia pasti telat! Ify menuruni anak tangga dengan terburu-buru. Dan tepat saat Ify akan membuka pintu, Febby yang saat itu bersiap-siap masuk kuliah tiba-tiba datang.
            “udah nggak usah buru-buru gitu! Hari ini kita ada yang jemput kok”
            “siapa, Kak?” Tanya Ify ragu-ragu.
            “Rio” jawab Febby singkat. Sebelum Ify mengeluarkan penolakan, Febby malah sudah menarik pergelangan tangannya dan membawanya keluar dari rumah.
            Dan ternyata benar saja, jaguar hitam milik Rio sudah menanti didepan gerbang. Ify menelan ludahnya saat melihat Rio yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam dari dalam mobilnya.
            “Kak Febby, aku biar naik taksi aja ya?” tawar Ify, tapi Febby malah menggeleng tidak setuju.
            “buat apa naik taksi, Fy? Toh jemputan lo udah disini kok, ya… kecuali kalo lagi mau ngehindarin seseorang” kata Rio dengan nada sedikit menyindir.
            Ify menelan bulat-bulat kekesalannya. Tidak ingin memperpanjang masalah lagi, Ify langsung membuka pintu belakang mobil Rio lalu duduk di kursi belakang. Rio tersenyum puas detik itu juga. Setelah Febby duduk disampingnya, Rio pun mulai menjalankan mobilnya dan perlahan menjauh meninggalkan rumah Ify.

            ‘kali ini lo kalah, Fy…’ ujar Rio dalam hati.



***

            Setelah wawancara bersama Agni dan Shilla selesai, Cakka langsung meninggalkan kantin sekolah tanpa mengucapkan sepatah katapun. Hal itu kontan saja membuat Agni merasa terseinggung. Dasar tidak tahu aturan! Bukannya pamit dulu, eehh ini dia malah nyelonong seenaknya. Agni berdecak kesal, dan tepat saat ia akan bangkit dari tempat duduknya hendak mengejar Cakka dan melabraknya, Shilla langsung menahan lengannya.
            “udah Ag… nggak usah! Sukur-sukur dia mau diwawancara” Agni berdecak lagi. Kalau saja Shilla tidak menahannya, mungkin sekarang Agni sudah menghajar Cakka habis-habisan. Toh tidak ada lagi yang perlu Agni takutkan, hasil wawancara nya bersama Cakka sudah ada ditangan. Jadi jikapun ia menghajar Cakka habis-habisan hal itu tetap tidak akan berpengaruh apapun pada hasil wawancara.
            Shilla berfikir sejenak, sepertinya ia perlu bicara dengan Cakka. Shilla lalu pamit pada Agni dengan alasan ia ingin ke toilet sebentar, dan tanpa menunggu jawaban dari Agni, Shilla langsung melangkah keluar meninggalkan kantin, hendak menyusul Cakka.
            Tapi mendadak Shilla menghentikan langkahnya ketika melihat Cakka menghampiri seseorang yang sangat ia kenal. Dia Sivia, sahabat baru Shilla. Dan Shilla tercengang saat mendapati bahwa Cakka tidak hanya menghampiri Via, tapi juga mengajaknya berbicara. Hal yang tidak biasa pun ditangkap oleh Shilla dari gelagat Cakka yang benar-benar ‘langka’ menurutnya. Cakka tersenyum pada Via dan terlihat begitu nyaman berbicara dengan Gadis itu. Shilla bahkan tidak pernah melihat Cakka seramah itu pada cewek manapun, kecuali, Via. Shilla bersembunyi dibelakang salah satu pilar lalu menguping pembicaraan kedua orang itu.
            “gimana wawancaranya?”
            “sukses kok” jawab Cakka sekenanya.
            “makasih ya karna kamu udah mau diwawancara?”
            “nggak usah bilang makasih lah, ini kan sebagai tanda permintaan maaf saya ke kamu karna waktu itu saya ngelempar kamu pake bola basket, dan ini juga sebagai tanda terimakasih saya karna kamu udah nemuin kunci mobil pemberian Papa saya”
            Dan ini sangat ajaib! Fikir Shilla. Sebelumnya mana pernah ia melihat Cakka berbicara sepanjang itu dengan seorang cewek kecuali Mamanya. Shilla semakin mencium aroma ketidakberesan dari Cakka dan Via. Dan tunggu dulu, tadi Cakka berkata apa? Dia mengucapkan terimakasih karna Cakka mau diwawancara? Atau apa jangan-jangan Cakka mau diwawancara karena… Via? Shilla semakin memasang pendengarannya sebaik mungkin.
            “oya, Vi? Nanti kamu pulang sama siapa?”
            Sebelum Via menjawab pertanyaan itu, Alvin tiba-tiba datang dari belakang Cakka. Ia membalik tubuh Cakka hingga berhadapan dengannya. Lalu tanpa mengucapkan sepatah katapun, Alvin langsung melayangkan sebuah pukulan yang cukup keras diwajah Cakka. Darah segar menetes dari tepi bibir Cakka karna pukulan yang Alvin hadiahkan itu.
            “Alvin, lo apa-apaan sih?” bentak Via sambil berusaha menjauhkan Alvin dari Cakka. Kali ini Alvin menatap Via tajam. Ada kilat-kilat kemarahan yang terpancar dari tatapan tajam itu.
            “gue kan udah bilang sama lo, kalo gue akan ngasih pelajaran sama cowok yang udah lancang nyium kening cewek gue”
            “nggak usah childish bisa kan?”
            “apa lo bilang? Via cewek lo?” Tanya Cakka heran beberapa saat setelah ia menghapus darah yang menetes ditepi bibirnya.
            “iya, Via cewek gue. Lo mau apa?” tantang Alvin.
            Tanpa mereka sadari, semua teman-teman mereka yang tadinya berlalu-lalang kini mulai berkumpul dan menonton pertengkaran yang super langka itu. Diantara kerumuman itu, tampak Zevana yang sedang menatap kearah mereka dengan tatapan benci. Bagaimana tidak? Alvin yang selama ini susah payah ia kejar ternyata takluk pada anak baru itu. Benar-benar sulit dipercaya!
            Cakka tersenyum meremehkan sambil sesekali melirik Via yang saat itu tengah menunduk dalam. Senyumnnya itu menunjukan bahwa ia sama sekali tidak mempercayai dengan apa yang baru saja Alvin katakan.
            “lo pikir gue percaya?!” kata Cakka beberapa saat kemudian.
            Alvin berdecak kesal dan kembali menghadiahkan pukulan yang membabi buta disekujur tubuh Cakka. Cakka yang merasa tidak tahan lagi akhirnya membalas pukulan Alvin. Pukulan Cakka yang amat sangat keras itu sukses membuat Alvin jatuh tersungkur.
            “Alvin!!” reflex Via menjerit seraya menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
            “oke! Kalo Via emang cewek lo, bisakan mulai sekarang gue minta lo serahin Via ke gue?!” pinta Cakka dengan tegas sambil menujuk kearah Alvin yang saat itu masih tergeletak dilantai. Dan ucapan Cakka itu sukses membuat seisi SMA Tunas Bangsa terkejut bukan main. Bagaimana tidak, selama ini mana pernah Cakka mau susah-susah memperebutkan seorang cewek, apalagi sampai harus bertengkar seperti ini dengan Alvin yang notabene adalah Sahabat Kental nya sendiri.
            Alvin geram. Ucapan Cakka yang terakhir benar-benar membuat hatinya panas. Alvin lalu bangkit dan kembali melayangkan pukulan bertubi-tubi pada Cakka. Cakka yang tidak ingin mengalahpun balas memukul Alvin. Via yang sejak tadi berusaha melerai mereka malah tidak mereka hiraukan sama sekali.
            “sampe mati pun gue nggak akan pernah rela nyerahin Via ke elo”
            “sampe mati pun gue nggak akan rela ngeliat Via jadi milik cowok brengsek kayak lo!”
            “elo…”
            Saat Alvin akan kembali melayangkan pukulannya, tiba-tiba Rio dan Gabriel datang lalu memisahkan mereka berdua. Gabriel membawa Cakka, sementara Rio membawa Alvin. Dalam hati via bersyukur.
            “kalian berdua apa-apaan sih?” Tanya Gabriel emosi. Tapi baik Alvin maupun Cakka yang sudah sama-sama babak-belur tidak ada yang menjawab pertanyaan Gabriel.
            “Lepasin gue Yo! Gue mau hajar dia!! Gue mau bunuh dia” Alvin memberontak dalam kungkungan Rio. Rio menggeleng beberapa kali. Dan karna Alvin terus memberontak, Rio akhirnya berteriak keras dan membuat semuanya kaget.

            “GUE BILANG BERHENTI!! Seenggaknya hargain gue sebagai ketua Osis kalian!” Alvin kali ini terdiam, begitu juga dengan Cakka. Sebagai ketua Osis Rio memang terkenal dan ketegasan juga kedisplinannya. Dan jika sudah begini, tidak ada satupun yang berani membantah Rio.
            “untung gue yang liat. Coba kalo kepala sekolah yang liat, kalian berdua bisa di DO, sekalipun keluarga kalian sangat berpengaruh disekolah ini”
            Alvin melepaskan dirinya dari kungkungan Rio, tapi kali ini Alvin tidak melakukan apapun.
            “ato lo berdua mau gue laporin langsung ke kepsek?! Lagian masalah kalian apa sih? Masalah cewek??” Tanya Rio dengan nada membentak. Kesabarannya sudah benar-benar habis kali ini. “dan buat kalian semua… BUBAR!!” Ucap Rio dengan tegas pada semua teman-temannya yang sejak tadi menyaksikan pertengkaran antara Cakka dan Alvin. Mereka semua yang tidak ingin berurusan dengan sang ketua Osis langsung membubarkan diri.

            “mulai sekarang, elo –“ Alvin menunjuk wajah Cakka sambil menatap Cakka dengan pandangan dinginnya, Cakka diam dan tidak memberikan respon apapun, “mulai sekarang, elo gue keluarin dari D’CRAG”
            “Alvin…” kaget Rio dan Gabriel secara berbarengan. Alvin berbalik, ia lalu meraih tangan Via dan membawa Via pergi dari tempat itu. Tapi saat mereka melewati Cakka, Cakka malah menarik pergelangan tangan Via yang lainnya.
            “gue keluar dari D’CRAG, tapi ini sebagai gantinya”
            Entah bagaimana caranya, pergelangan tangan Via terlepas begitu saja dari genggaman Alvin. Alvin terdiam sejenak. Sementara Cakka, ia berjalan dengan santainya membawa Via pergi dari tempat itu. Alvin menggenggam erat jemari tangannya sekuat mungkin. Dan ia perih saat mendapati kenyataan, bahwa Via ternyata lebih memilih Cakka.
            Shilla tersenyum miris setelah melihat adegan super dramatis yang terhampar didepan matanya. Ternyata dia yang selama ini berusaha mati-matian untuk bisa mendapatkan hati Cakka tidak mendapatkan apapun kecuali kesia-siaan dan kekecewaan. Dan yang lebih menyakitkan lagi, ternyata Via lah yang mampu menaklukan hati tunangannya itu. Shilla menangis bisu tanpa air mata, dan itu terasa sangat perih.

            Alvin dan Shilla, mereka berdua adalah dua hati yang sama-sama tersakiti.



***


            “Alvin emang pacar saya, Kka…” ucap Via pelan. Mendengar pengakuan Via itu, Cakka langsung menghentikan langkahnya dan menatap Via dengan tatapan bingung.
            “kamu nggak lagi becanda kan, Vi?” Tanya Cakka yang merasa sanksi atas pengakuan itu. Via menggeleng beberapa kali, berusaha menolak kesanksian Cakka.
            “tapi sayangnya saya lagi nggak becanda! Alvin emang pacar saya” tegas Via sekali lagi. Cakka mulai frustasi. Ia mengusap wajahnya, lalu tidak lama kemudian Cakka memegang kedua pundak Via dan berkata,
            “tapi bagaimana bisa? Alvin itu… Alvin itu play boy, Via…”
            Via mengangguk sekali, “saya tau. Tapi Alvin udah janji kalo dia bakalan berubah. Saya Cuma berusaha percaya sama Alvin dan ngasih dia kesempatan, setiap orang bisa berubah kan, Kka?”
            “tapi, Vi…”
            “sssssstttt….” Via meletakkan jari telunjuknya tepat didepan bibir Cakka. Ia menggeleng beberapa kali dengan isyarat ia tidak ingin mendengar Cakka berbicara lagi. Beberapa detik kemudian Via menurunkan telunjuk tangannya dari bibir Cakka. “maafin saya Cakka… saya harus lihat keadaan Alvin sekarang” lanjut Via.
            Dengan sangat berat hati, Via melepaskan kedua tangan Cakka dari pundaknya lalu berbalik pergi. Via bahkan mengabaikan panggilan Cakka yang memintanya untuk kembali. Via berusaha menahan segala rasa yang bergejolak didadanya. Jika ingin jujur, sebenarnya Via merasa sangat berat meninggalkan Cakka seperti ini. Via tahu sejak awal hatinya tidak pernah berbohong, Cakka lah yang pertama kali membuatnya merasakan cinta, Cakka lah orang pertama yang kembali menumbuhkan kepercayaannya pada cinta setelah sebelumnya Papanya memporak-porandakan kehidupan Mama nya dengan berkhianat. Cakka orang pertama yang membuatnya yakin dengan kata hatinya, tapi yang memiriskan sekarang, Via tidak bisa memiliki Cakka, seseorang yang begitu ia sayangi.
            Ikatannya dengan Alvin membuatnya merasa berat. Mungkin Via tidak sedikitpun memiliki rasa pada Alvin, tapi Via hanya ingin memenuhi kesepakatannya, itu saja. Via tidak ingin melanggar kesepatan yang ia sendiri buat.

            ‘satu bulan lagi… satu bulan lagi aku akan terlepas dari ikatan ini. Aku harap nanti rasa itu masih ada dihati kamu buat aku… aku sayang sama kamu, Cakka…’ lirih Via dalam hati. Setetes air matanya terjatuh membasahi wajahnya. Kenapa jatuh cinta harus serumit ini?



***

“Lepaskanlah… ikatan mu
Dengan aku… biar kamu senang
Bila berat… melupakan aku…
Pelan-pelan saja…”


            Alvin sedang mengompres lukanya sendiri di UKS dengan menggunakan Es yang tadi Gabriel bawakan. Sesekali Alvin meringis karna kesakitan, tapi rasa sakit karna luka memar itu sama sekali tidak sebanding dengan rasa sakit hatinya kali ini. Apa selamanya Alvin akan terus seperti ini? Apa seumur hidupnya Alvin sudah ditakdirkan untuk selalu kalah dari Cakka? Alvin melepas Es batu yang dibalut oleh handuk kecil itu, ia lalu memukulkan tangannya diatas meja dengan kesal. Tidak Via, tidak Papinya, tidak Cakka, mereka semua sama saja.
            “bisa kan lain kali lo nggak usah ngelakuin hal-hal aneh yang Cuma akan bikin lo sendiri terluka?” kata seseorang yang tiba-tiba saja muncul di UKS. Alvin langsung menoleh kearah pintu setelah mendengar suara milik Via. Alvin menatap Via sejenak lalu tersenyum sinis.
            “buat apa lo nyusul gue kesini? Bukannya tadi lo lebih milih Cakka dari gue?”
            “karna gue cewek lo, dan lo cowok gue” jawab Via yang sama sekali tidak sesuai dengan pertanyaan Alvin itu. Kali ini Alvin mendesis lalu kembali melanjutkan mengompres luka memarnya.
            Via berjalan mendekati Alvin, ia lalu mengambil kotak P3K yang tersedia diatas meja dan duduk disamping Alvin, tapi Alvin bergeming. Via menghela nafas panjang sebelum ia membuka kotak P3K itu. Via pun mengambil secarik kapas lalu meneteskannya dengan beberapa tetes betadine. Via memalingkan wajah Alvin dengan sebelah tangannya, Alvin berdecak kesal tapi juga tidak bisa melakukan penolakan apapun. Lalu dengan sangat hati-hati, Via menyapu pelan luka Alvin yang terdapat disudut bibirnya dengan secarik kapas tadi. Dan Via tidak pernah tahu betapa senangnya hati Alvin saat Via datang menemuinya ke UKS.
            “aw…” ringis Alvin saat Via terlalu menekan kapas itu pada lukanya.
            “pelan-pelan, Vi…” pinta Alvin dengan nada memelas.
            “nggak usah cengeng bisa kan? Toh ini juga karna ulah lo sendiri” kata Via sedikit sebal.
            Alvin langsung bungkam dan membiarkan Via berkonsentrasi dengan luka-luka memarnya itu. Wajah focus Via yang tampak serius malah membuat jantung Alvin berdegub kencang dalam irama yang tidak beraturan, belum lagi jarak Via yang begitu dekat dengannya mampu membuat indera pencium Alvin menangkap aroma orange yang menguar dari parfume yang Via gunakan. Alvin tersenyum dalam hati apalagi saat kejadian pagi tadi kembali terlintas dikepalanya, dan tekadnya untuk bisa membuat Via jatuh cinta padanya dalam waktu sebulan semakin kuat saja.
            Setelah usai mengobati luka memar Alvin, Via menutup kotak P3K itu dan mengembalikannya ketempat semula. Via menatap Alvin dan berkata,
            “mulai sekarang lo nggak perlu takut lagi Cakka akan ngerebut gue dari lo, karna mulai sekarang dan sampai sebulan yang akan datang gue akan selalu ada disamping lo, gue Cuma milik lo” Via menggenggam tangan Alvin sekilas untuk meyakinkannya. 2 detik kemudian Via bangkit dari sisi Alvin dan berniat keluar dari UKS.
            “dari dulu Cakka memang selalu lebih segala-galanya dari gue, dia selalu bisa ngedapetin apa yang nggak bisa gue dapetin…”
            Ucapan Alvin itu sukses membuat Via menghentikan langkahnya. Via berhenti tapi tidak menoleh kebelakang.
            “gue selalu kalah dari Cakka, dan yang nyakitin buat gue, Papi gue selalu ngebanding-bandingin gue sama Cakka, Papi gue selalu minta supaya gue bisa seperti Cakka. Selama ini nggak ada satupun yang tahu, kalo seorang Alvin yang selalu terlihat kuat dan tidak terkalahkan hanya hidup dibawah kendali Papi nya. Rasanya sakit… Gue pernah bermimpi, suatu saat nanti gue bisa keliling dunia untuk mengabadikan setiap moment yang berharga dengan kamera gue, gue pengen jadi seorang Fotografer, tapi Papi gue nggak pernah sekalipun mendukung. Papi Cuma pengen gue jadi Dokter…” Alvin menghela nafas panjang, dan saat ia menghembuskannya rasanya begitu perih. Ini kali pertamanya Alvin mengeluarkan isi hatinya didepan seseorang, dan Via adalah orang pertama yang tahu tentang kerapuhan Alvin selama ini.
            Alvin tersenyum miris dan berusaha keras menahan air matanya. Apapun keadaannya sekarang, Alvin tidak akan pernah meneteskan air mata. Menangis adalah hal yang paling pantang untuk ia lakukan.
            “dan saat gue bener-bener jatuh cinta pada seorang cewek untuk yang pertama kalinya, cewek itu malah lebih milih Cakka dari gue, hhhh…. Ya, mungkin selamanya gue nggak akan pernah bisa ngalahin Cakka, mungkin selamanya Cakka akan selalu lebih segala-galanya dari gue.. tapi seenggaknya –“ Alvin menggantungkan kalimatnya untuk menghela nafasnya sejenak.
            Via yang masih memunggungi Alvin memejamkan matanya untuk beberapa saat, lalu tanpa bisa Via control, air mata itu lolos begitu saja dari kedua pelupuk matanya. Ia tidak pernah tahu selama ini kalau Alvin ternyata juga menjalani hidup yang sangat keras, sama seperti dirinya.
            “tapi seenggaknya ijinin gue buat berusaha untuk bikin lo jatuh cinta sama gue, dan kalo lo nggak ngijinin gue, maka untuk yang kesekian kalinya, lagi-lagi Cakka bakalan ngalahin gue. Gue udah bosen kalah dari Cakka, rasanya sakit…”
            Via yang merasa tidak tahan lagi melawan gejolak didadanya langsung berbalik dan menatap Alvin. Via menyeka air matanya dan membiarkan Alvin tahu bahwa ia sedang menangis. Alvin menatap Via dengan pandangan bingung. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia akhirnya melihat seseorang menangis karna dirinya. Jika tidak ingat bahwa saat ini ia mereka masih berada di lingkungan sekolah, mungkin sudah sejak tadi Alvin menarik gadis itu kedalam pelukannya. Alvin tersenyum kecil…
            “Via… bisakan mulai sekarang lo belajar menyayangi gue?”
            Pertanyaan super sederhana yang hanya membutuhkan jawaban ‘YA’ atau ‘TIDAK’ itu malah membuat Via berada dalam posisi dilemma. Via bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan itu sementara detik ini dihatinya hanya ada nama Cakka seorang. Apa Via bisa melupakan Cakka secepat itu lalu belajar menyayangi Alvin? Tidak, urusan hati tidak pernah sesederhana itu.
            Via melangkah mendekati Alvin, lalu tanpa berkata apa-apa lagi, Via langsung memeluk Alvin yang saat itu masih terduduk dipinggir ranjang. Entahlah, Via tidak mengerti dengan semuanya, yang ia tahu sekarang hanyalah ia ingin memeluk Alvin dan menenangkan hatinya yang rapuh. Hanya itu.
            Alvin lantas bangkit dari duduknya dan membalas pelukan Via. Meskipun Via tidak memberikannya jawaban apapun, tapi Alvin dapat merasakan kehangatan dan ketenangan yang menjalar disekujur raganya saat tubuh itu memeluknya. Alvin merasa beban yang selama ini tanggung sedikit berkurang. Setidaknya sekarang Gadis ini masih miliknya sampai sebulan yang akan datang. Sekalipun nanti Via tidak bisa mencintainya, Alvin tetap akan merasa beruntung karna sempat memiliki Via dan merasakan pelukan hangatnya.
            Alvin mengecup puncak kepala Via lalu dengan lirih berujar…


            “gue sayang sama lo, Sivia….”






                                                BERSAMBUNG….
                                                                                                                                                           

0 comments:

Post a Comment