Sebelumnya….
‘Cakka
bukan alasan kuat buat gue untuk mengakhiri semua ini, Vin… ada alasan lain
yang nggak boleh lo tahu… maafin gue… cewek penyakitan kayak gue nggak pernah
pantes buat cowok yang nyaris sempurna kayak lo….’ Lirih Via dalam hati.
Tanpa bisa ia control, sebulir air matanya terjatuh membasahi pipi mulusnya.
Alvin menunduk lesu beberapa saat
setelah Via pergi terlebih dahulu meninggalkan tempat itu. Semangatnya untuk
mengikuti jam pelajaran mendadak terkuras. Alvin tidak mengerti, kenapa sejak
mengenal Via ia berubah menjadi sosok laki-laki yang cengeng seperti ini. Apa
yang salah?
Yang lebih menyedihkan bagi Alvin
adalah, Andrea yang selama beberapa tahun ini ia tunggu ternyata tidak pernah
sekalipun mengingatnya. Mungkin hanya Alvin saja yang merasakan perasaan ini,
tapi tidak dengan Andrea-nya, atau bahkan mungkin tidak pernah sekalipun Andrea
mengingat Alvin. Alvin tersenyum miris, ternyata ia bukan hanya bodoh, tapi
sangat bodoh. Dan entah untuk yang keberapa milyar kalinya, Cakka lagi-lagi
mengalahkannya. Dan hal itu membuat Alvin berfikir, apa sekarang sudah saatnya
ia membongkar semuanya??
“BODOH!! Masa gitu aja nyerah??!
Dasar pecundang!!” cerca seseorang yang tiba-tiba saja muncul dihadapan Alvin.
Mendengar ada sebuah suara sumbang yang super tajam menganggu indera
pendengarnya, Alvin langsung mengangkat wajahnya dan melihat seseorang yang
baru saja mengeluarkan sindiran super dahsyatnya. Senyuman sinis itu langsung
menyambut Alvin. Kedua mata Alvin memicing, ia sedikit kaget dengan kehadiran
Gadis ini yang secara tiba-tiba muncul dihadapannya…
“Prissy…??”
***
Part
14
Akhirnya kita ada di akhir yang menyakitkan
Ku sadar kita telah melangkah terlalu dalam
Ku sadari bahwa kita sudah taklukkan terlarang
Tak mungkin ku perjuangkan cinta
Yang kita mulai dengan salah…
Ku sadar kita telah melangkah terlalu dalam
Ku sadari bahwa kita sudah taklukkan terlarang
Tak mungkin ku perjuangkan cinta
Yang kita mulai dengan salah…
(Glen Fredly ~ Kisah
Yang Salah)
Sejak awal semuanya memang sudah salah.
Mereka memulai kisah mereka dengan cara yang salah hingga akhirnya berakhir
menyakitkan dan meninggalkan luka yang membekas dalam. Tidak ada jalan lain
bagi mereka selain harus membuat kisah yang baru dengan cara yang benar.
Maka dari sini semuanya dimulai dari
titik nol. Alvin akan bekerja dua kali lebih keras untuk memperjuangkan apa
yang memang seharusnya menjadi miliknya. Mungkin sulit untuk mengulang kembali
semua yang sudah berakhir, tapi jika ingin semuanya kembali lagi, maka Alvin
harus berjuang lagi dari titik nol.
Disinilah
titik itu… titik terkecil dari segala titik yang pernah ada… bukankah cinta
adalah sebuah perjuangan yang harus diperjuangkan entah dengan cara apapun?
Bukankah cinta membutuhkan sebuah pengorbanan yang tidak main-main hingga bisa
disematkan sebagai cinta sejati?
***
“aku
kecewa sama kalian!” tegas Febby dingin tanpa sedikitpun menatap wajah Rio dan
Ify yang beberapa saat lalu telah mengungkapkan tentang hubungan mereka selama
ini. Ify menunduk dalam, rasa takut itu semakin menyelimuti benaknya. Menyadari
akan situasi sulit yang tengah dihadapi oleh kekasihnya, Rio pun semakin erat
mengenggenggam tangan Ify, berusaha menenangkannya dan meyakinkannya bahwa
semuanya akan berjalan dengan baik-baik saja.
Inilah
keputusan yang telah mereka ambil. Dan saat pulang sekolah tadi, mereka langsung
pergi ke Apartemen Febby dan Pricilla dengan niat mereka ingin memberitahukan
semuanya pada Febby. Tidak mudah bagi Rio untuk meyakinkan Ify hingga kini
mereka berdua duduk dihadapan Febby dengan berani dan mengungkapkan apa yang
selama ini ingin mereka ungkapkan.
Keberanian
Ify yang susah payah ditanamkan oleh Rio mendadak merosot drastis saat menerima
respon yang Febby berikan. Sejak awal Rio memang sudah mengantisipasi respon
yang akan Febby tunjukan, tapi tidak dengan Ify. Ify terlalu takut membayangkan
semuanya.
“ma…
maafin Ify, Kak Fe… Febby…” ujar Ify terbata dan berusaha melepaskan tangannya
dari genggaman Rio. Ify telah putus asa dan ingin menyerah saja, tapi Rio sama
sekali tidak mengijinkan Ify untuk melepaskan tangannya. Ia justru semakin mempererat
genggaman tangannya pada Gadis itu.
“buat
apa minta maaf??” sinis Febby yang semakin membuat Ify merasa terpojokan. Rio
menghela napas beberapa kali, ia sudah tidak tahan lagi, ini saatnya ia angkat
bicara.
“gue
sayang sama Ify, dan Ify juga sayang sama gue. Dan asal lo tau, selama lo nggak
ada, Ify yang selalu ada dideket gue. Terus terang, gue udah ngelupain lo….”
Febby
tersenyum miris. Kali ini ia mengalihkan
tatapannya pada Rio dan Ify. Febby menatap mereka berdua dengan pandangan
menerawang, berusaha mencari sesuatu dari riak kedua wajah itu. Tidak lama
Febby mengangguk paham lantas berkata,
“ini
yang bikin aku kecewa sama kalian, karna sejak awal kalian nggak pernah mau
jujur sama aku. Jujur, sejak awal aku udah tau tentang hubungan kalian, tapi
aku berusaha untuk pura-pura nggak tahu… kalian mau tau alasannya apa?”
Kali
ini Ify mengangkat wajahnya dan berusaha memberanikan diri untuk menatap wajah
Febby. Baik Rio dan Ify sama-sama menatap Febby dengan pandangan bertanya,
“karna
aku ingin kalian mengatakannya langsung….”
“Kak
Febby….” Isak Ify perlahan.
“dalam
masalah ini aku yang salah, dan aku bener-bener minta maaf sama kalian. Mungkin
iya aku masih sayang sama kamu Yo, tapi itu bukan alasan buat aku untuk memaksa
kamu supaya tetep sama aku. Hati kamu udah bukan buat aku, aku udah pergi
ninggalin kamu tanpa alasan, dan sekarang wajar kalo kamu mulai berpaling…
maafkan Kak Febby…” lirih Febby dengan suara bergetar, berusaha menahan
isakkannya agar tidak pecah ditempat.
Ify
yang merasa tidak tahan lagi langsung bangkit dari sisi Rio lalu menghampiri
Febby dan memeluk Kakak Sepupu kesayangannya itu. Dalam pelukan Febby Ify
menangis sejadi-jadinya, tapi bukan tangis kesedihan, melainkan tangis
kebahagiaan.
“maafin
Kak Febby, Fy… sekarang Ify bisa sama-sama Rio tanpa perlu takut Kak Febby akan
marah, kecewa atau sakit hati. Kak Febby sudah ikhlas, Kak Febby sudah rela….”
“makasih
Kak Febby…”
“tetep
sama-sama Rio, ya? Kalian nggak boleh pisah…”
“pasti,
Kak… pasti…”
Rio
tersenyum lega detik itu juga. Seumur hidupnya, Rio tidak pernah merasa selega
dan sebebas ini sebelumnya. Kini ia dan Ify benar-benar bisa bersatu tanpa ada
yang menghalangi.
Pricilla
yang sejak tadi berdiri ditangga dan mendengarkan semua apa yang mereka bicarakan
sama sekali tidak bisa menahan air mata harunya. Pricilla membiarkan air
matanya lolos begitu saja. Ia bangga pada keikhlasan dan kerelaan Kakaknya itu.
Dan
saat kedua mata Febby menangkap sosoknya, Pricilla langsung menyeka air
matanya. Ia tersenyum pada Febby lalu mengangkat kedua jempolnya yang langsung
disambut oleh anggukan kepala dari Febby.
‘Kak Febby luar biasa….’ Bathin
Pricilla.
***
Sepulangnya
dari sekolah, Alvin langsung memasuki kamarnya tanpa menghiraukan panggilan
Maminya. Alvin membanting pintu kamarnya sekuat mungkin. Emosi yang ia tahan
sejak ia disekolah tadi akhirnya ia luapkan habis saat ia tiba dirumahnya.
Alvin memberantakkan semua barang-barang yang ada dikamarnya dan membanting apa
saja yang ada dalam jangkuannya.
Saat
Via memutuskan hubungannya secara sepihak tadi, Alvin memang tidak berbuat
banyak selain mengiyakan keputusan yang menurutnya tidak adil itu, belum lagi
waktu yang tersisa untuknya hanya tinggal 2 hari lagi membuat emosi Alvin
benar-benar naik. Tapi Alvin tidak bisa menumpahkan semua kesalahan pada Via.
Alvin juga tahu bahwa saat ini Via sedang berada dalam posisi yang bisa
dibilang sulit, dan Alvin sama sekali tidak ingin membebani Via dengan
menumpahkan semua kesalahan padanya. Biarlah, biarlah ia seperti ini asal Via
tidak merasa disalahkan. Alvin rela menanggung beban seberat apapun asalkan
Gadis Teddy Bear nya bisa terus tersenyum.
Alvin
lalu menatap boneka teddy bear milik Via kecil yang bertengger diatas meja
belajarnya. Alvin bangkit dan mengambil boneka itu. Untuk beberapa saat Alvin
menatap boneka itu. Mendadak semua kenangannya bersama Via berpendar kembali
dikepalanya dan membuat dadanya semakin terasa sesak.
Flashback~
“H…
hay…” sapa Alvinitu dengan ragu-ragu. Tapi Via bergeming, ia hanya menatap sekilas
kearah Alvin lalu mengalihkan tatapannya.
“nggak usah nangis lagi ya? Mama
kamu pasti baik-baik aja, dulu Mami aku juga pernah masuk rumah sakit kayak
Mama kamu, tapi Mami aku langsung sembuh, jadi kamu jangan sedih lagi ya?”
ucapnya polos. Via masih tetap bergeming, tapi anak Alvin tidak juga menyerah.
“oya kenalin, aku Aphin, kamu?”
Alvin mengulurkan tangannya hendak bersalaman dengan Via. Tapi Via hanya diam
dan masih tidak menunjukan reaksi apapun.
“kamu nggak mau kenalan sama aku?”
Flashback
off~
Alvin
menggeram putus asa. Sejak awal pertemuannya dengan gadis itu beberapa tahun
yang lalu, Via memang tidak pernah memperdulikannya sekalipun. Alvin baru
menyadarinya sekarang disaat ia benar-benar terluka. Air mata yang sejak tadi
ia tahan akhirnya lolos begitu saja, dan Alvin sama sekali tidak peduli
seberapa cengengnya ia sekarang. Ingatan itu kembali menyeruak dikepalanya…
Flashback~
“sejak awal gue suka sama lo, dan lo tau itu
meskipun gue nggak pernah nyatain secara langsung sebelum hari ini”
“terus lo berharap gue bakalan suka
rela nerima lo dan jadi korban lo selanjutnya?!”
“gue emang play boy! Dan gue nggak
akan mungkirin itu, tapi satu hal yang harus lo tau, gue bener-bener suka sama
lo dan ini adalah salah satu cara yang bisa gue lakuin buat merjuangin perasaan
gue keelo”
“jadi intinya lo mau gue jadi pacar
lo? Dan kalo gue nggak mau, lo bakalan nyerahin video ini ke Cakka, begitu? Lo
mau coba-coba ngancem gue?!”
“jadi intinya lo mau gue jadi pacar
lo? Dan kalo gue nggak mau, lo bakalan nyerahin video ini ke Cakka, begitu? Lo
mau coba-coba ngancem gue?!”
“gue nggak ngancem lo. Gue Cuma mau
ngelakuin apa yang mau gue lakuin, gue suka sama lo dan gue mau lo jadi cewek
gue. Terserah lo mau nganggep gue ngancem lo atau apapun itu, gue nggak peduli,
yang jelas gue ngelakuin ini buat nunjukin ke elo kalo gue, Alvino Joshua
Aryadinata bener-bener pengen serius sama lo”
“tapi gue nggak suka sama lo!”
“gue tau! Untuk itulah gue mau lo
jadi cewek gue. Kasi gue waktu 1 bulan. Kalo dalem waktu satu bulan gue nggak
bisa bikin lo suka sama gue, lo boleh pergi dan mutusin gue”
oke! Gue mau jadi cewek lo. Tapi
hanya sebulan dan semuanya akan berakhir!”
Flahback
off~
Alvin
mengacak rambutnya frustasi lalu berteriak sekeras mungkin. Sejak awal semuanya
memang sudah salah. Harusnya Alvin menyadari itu lebih awal. Rasa cintanya pada
Via sudah benar-benar membutakannya dan menutupi hatinya hingga ia menjadi
budak resmi egonya sendiri.
Alvin
menatap sebuah frame foto berukuran 10R yang tergantung dengan rapih didinding
kamarnya. Dalam foto itu, tampak gambar Via yang sedang membawa sebuket bunga
krisan dengan pakaian serba hitam. Alvin ingat dengan sangat jelas, ia
mengambil foto itu 2 bulan yang lalu secara tidak sengaja saat ia baru pertama
kali melihat Via dan jatuh cinta pada pandangan pertama dengan gadis itu. Alvin
semakin mempererat pelukannya pada boneka teddy bear itu, air matanya semakin
deras menetes dan mulai terdengar isakan-isakan kecil.
“kenapa
lo nggak bisa menyayangi gue seperti gue sayang sama lo, Via? Kenapa??
KENAPAAAA????!!”
Cklek!
Suara pintu dibuka tiba-tba saja mengejutkan Alvin. Alvin segera mengusap kasar
air matanya lalu menatap kearah pintu. Dan dipintu sana, Pricilla sudah berdiri
dengan angkuhnya seraya menatap Alvin dengan tatapan meremehkan, sama persis
seperti tatapannya disekolah tadi.
“jadi
cowok kok drama banget sih?” sungutnya kesal.
Tapi
Alvin hanya menatapnya dingin. Bagaimana bisa Gadis ini tiba-tiba muncul
dikamarnya seperti ini?
“ngapain
lo disini?”
***
Sudah
2 jam berlalu sejak bel tanda pulang berdering, tapi Via masih betah duduk
bersila direrumputan yang terdapat dihalaman belakang sekolahnya. Via belum
ingin beranjak dari tempat favoritnya itu, Via juga belum ingin pulang sebelum
perasaannya benar-benar tenang.
Seketika
bayangan saat ia memutuskan hubungannya dengan Alvin tadi berkelebat
dikepalanya. Mungkin saat ini Alvin berfikir bahwa Via tengah mengulas senyum
bahagia karna keputusannya itu, tapi sesungguhnya Alvin salah. Tidak sedetik
pun yang Via lewati sejak ia memutuskan hubungannya dengan Alvin tanpa
memikirkannya sedikitpun. Sejak beberapa jam yang lalu, Alvin menjadi penguasa
tunggal dalam pikirannya. Rasa bersalah secara terus-menerus merong-rong hati
kecilnya hingga menimbulkan gejolak yang ia sendiri susah bagaimana untuk
mendiskripsikannya.
Tapi
Via juga tidak tahu harus melakukan apa. Saat ini Via benar-benar tidak punya pilihan lain selain
harus mengakhiri hubungannya dengan Alvin. Via tidak ingin terus-terusan
membohongi perasaannya. Karna selamanya, perasaannya mungkin tidak akan pernah
berubah pada Alvin.
Ditengah-tengah
pikirannya yang sedang kalut, tiba-tiba saja Via merasakan ada seseorang yang
mengisi tempat kosong disampingnya. Via menoleh kesamping, dan senyuman manis
milik Cakka langsung menyambutnya.
“Ca…
Cakka…? Nga.. ngapain disini?” Tanya Via yang mendadak gugup dengan kehadiran
Cakka yang secara tiba-tiba.
“sejak
2 jam yang lalu, saya ngelihat seorang cewek yang sedang duduk sendiri disini.
Karna cewek itu nggak pergi-pergi juga, saya akhirnya memutuskan untuk menyusul
kesini. Kamu terganggu?” Cakka menoleh kearah Via lalu menatap Via dalam jarak
yang sangat dekat.
Deg!
Detakan jantung itu mulai terdengar tidak sabar saat sepasang mata elang itu
mengarah tepat pada kedua manik matanya. Seakan diperintah, Via lalu menggeleng
pelan. Cakka tersenyum kecil lantas berkata,
“kamu
lagi ada masalah?”
Via
menggeleng lagi. Tapi percuma, Cakka sudah terlanjur bisa membaca semuanya.
“kamu
bohong!” ujar Cakka tegas.
Via
menghela napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan.
“kamu
tahu? Saat kamu menggeleng tadi, kamu terlihat seperti seseorang yang
mengucapkan selamat pagi dimalam hari…”
“sekentara
itu ya kalo saya lagi bohong?” Tanya Via sedikit sanksi, tapi ia juga
menyadarinya. Cakka mengangguk dengan mantap tanpa sedikitpun mengalihkan
perhatiannya dari wajah Via.
“kalo
kamu mau, kamu bisa cerita sama sa –“
“saya
putus sama Alvin….” Ucap Via cepat memotong perkataan Cakka.
Cakka
membeku untuk beberapa detik. Apa ia tidak salah dengar?
“a..
apa?” Cakka berusaha meyakinkan apa yang baru saja ia dengar dari mulut Via.
“iya…
saya putus sama Alvin. Dan apa kamu tau itu semua gara-gara siapa?”
Kali
ini giliran Cakka yang menggeleng. Via tersenyum miris, ia memegang kedua
pundak Cakka lalu menatap mata Cakka sedalam mungkin.
“gara-gara
kamu….” Jawab Via singkat. Hati Cakka langsung mencelos ketika mendengar
jawaban singkat yang Via lemparkan padanya. beberapa detik kemudian, Via
melepaskan kedua pundak Cakka lalu mengalihkan tatapannya kearah lain.
“ka…
kamu….?”
Via
mengangguk beberapa kali dengan senyuman yang susah diartikan.
“iya…
saya suka sama kamu, Cakka. Bahkan sejak pertama kali kita bertemu”
“Vi…
Via –“ lidah Cakka mendadak kelu, ditambah lagi tenggorokannya terasa sedikit
tercekat. Semua kata yang ingin ia ucapkan pada Via seakan tertelan kembali.
“tapi,
saya bener-bener nggak butuh jawaban kamu, Kka. Saya juga nggak berharap kalo
kita punya rasa yang sama. Ya… mungkin agak keterlaluan kesannya mengingat saya
baru saja putus dari Alvin dan mengingat kalo kamu sahabat dekat Alvin, tapi
saya Cuma nggak mau bohongin perasaan saya, Cakka… saya… saya –“
Via
tidak tahu harus berkata apa lagi, mendadak ia kehabisan kata-kata. Dalam hati,
ia menyimpan rasa bersalah yang teramat sangat pada Alvin dan Shilla. Ya…
memang pantas Via akui bahwa dia adalah seorang yang jahat. Sangat jahat malah.
Bahkan Via sendiri tidak pernah menduga bahwa hari ini ia akan menyatakan
perasaannya pada Cakka, sekalipun Via tidak pernah berfikir tentang hal ini.
Semuanya terjadi diluar kuasanya.
Via
yang yang tidak sanggup lagi melawan segala gejolak didadanya akhirnya
memutuskan pergi dari tempat itu sebelum perasaannya semakin tidak menentu.
“saya
pamit Cakka… lupain semua apa yang saya katakana tadi. Dan anggap saja kalo
saya nggak pernah ngomong apapun sama kamu….” Ujar Via dengan nada bergetar. Ia
berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.
Via
lalu melangkah pergi. Tapi baru saja beberapa langkah ia meninggalkan tempat
itu dan menjauhi Cakka, tiba-tiba saja ia merasakan ada sepasang lengan kokoh
yang memeluknya dari belakang. Cakka memeluknya, benar-benar memeluknya.
Pelukan
yang Cakka berikan padanya mampu memeberikan kehangatan berbeda yang selama ini
tidak pernah ia rasakan. Dan kehangatan itu justru membuat air matanya jatuh
secara berlomba. Saat itu Via yakin, bahwa Via benar-benar menyayangi Cakka
sepenuh hatinya.
“tapi
sayangnya kita punya rasa yang sama, Via…. Saya juga sayang sama kamu….” Lirih
Cakka pelan didepan telinga Via.
Via
memejamkan kedua matanya lalu membiarkan air mata itu tumpah ruah membasahi
wajahnya. Isakan-isakan kecil itupun mulai terdengar pelan. Via menyentuh
lengan Cakka yang membungkus tubuhnya dan memberikannya rasa hangat sekaligus
nyaman. Lalu dalam satu sentakan kuat, Via melepaskan kedua lengan Cakka begitu
saja dari tubuhnya.
Cakka
langsung mencelos. Tapi beberapa detik kemudian, Cakka langsung dibuat terpana
saat Via tiba-tiba saja berbalik menghadap kearahnya lalu menubruk tubuhnya
dengan kasar. Via memeluk Cakka seerat mungkin lalu menangis dalam pelukan pria
itu, persis seperti apa yang ia lakukan beberapa waktu yang lalu.
Cakka
tersenyum kecil lalu membalas pelukan Via. Cakka pun membelai lembut rambut
sebahu milik Via lalu mendaratkan sebuah kecupan tepat dipuncak kepalanya, dan
Cakka melakukannya agak lama.
‘tapi
kita nggak bisa bersatu, Kka… kamu dan aku diciptakan bukan untuk menjadi
satu….’ Bathin Via seraya mempererat pelukannya pada tubuh pria itu.
***
Alvin
dan Pricilla duduk berdampingan didepan ranjang Alvin. Sejak 10 menit yang
lalu, mereka sama-sama terdiam. Pricilla yang kelamaan merasa bosan dengan
situasi ini akhirnya mendesah pelan. Ia melirik sedikit tidak suka kearah Alvin
lantas mulai membuka suara,
“lo
mau ngamuk sekuat apapun kalo lo nggak ngelakuin aksi buat mempertahankan Via,
maka selamanya Via nggak akan pernah jadi milik lo, Alv. Trust me!” kali ini Pricilla serius dengan ucapannya.
“dia
nggak akan pernah bisa sayang sama gue, dan selamanya Cuma Cakka yang ada
dihatinya dia, dia –“
“hey come on!! Lo dan gue tau kalo mereka
itu saudara se-Ayah, dan elo sama gue tau kalau mereka nggak mungkin bersatu. It was all but impossible, Alv. You can
still fight! Lo masih bisa berjuang untuk mempertahankan dia…” kata
Pricilla berapi-api.
Alvin
lalu menatap Pricilla dengan pandangan bertanya. Seumur hidupnya ia tidak
pernah menyangka bahwa gadis ini akan mendukung penuh dirinya untuk mendapatkan
Via. Tidak bisa Alvin pungkiri, bahwa dari dulu hingga sekarang, yang namanya
Queenshara Apricilla ini selalu penuh dengan kejutan-kejutan tidak terduga.
Alvin
tersenyum penuh arti. Ia merasa semangatnya kembali terbakar saat Pricilla
datang dan membakar semangatnya yang nyaris padam tersiram putus asa.
“Priss, I could hug you?”
“WHAATT?? No… No… No” kaget Pricilla
dengan kedua mata yang terbelalak lebar.
“Why…?”
“nanti
kalo lo meluk gue, yang ada lo malah suka lagi sama gue, dan gue nggak mau.
Asal lo tau ya, I have not had any
feeling to you, jadi nggak usah kepedean lagi lah!” kata Pricilla yang
berusaha keras menyembunyikan gejolak didadanya. Entah kenapa, saat Alvin
meminta untuk memeluknya tadi, jantungnya mendadak berdegub dengan sangat
kencang dalam irama yang tidak beraturan. Pricilla menyadari bahwa rasa itu
masih tersimpan dengan rapi direlungnya untuk Alvin, tapi Pricilla enggan
mengakuinya. Bukan karna gengsi atau apapun itu, tapi Pricilla hanya berusaha
menyadari bahwa Alvin memang bukan untuknya.
“gue
malah berharap supaya rasa itu tumbuh lagi dihati gue” ujar Alvin yang
sebenarnya hanya ingin menggoda Pricilla saja.
“WHAT?? You’ve really crazy, Alv. Lo
pikir gue mau apa jadi pelar –“
Belum
selesai ucapan Pricilla, Alvin malah sudah menarik gadis itu kedalam pelukannya
bahkan sebelum ia mendapatkan ijin langsung dari Pricilla. Saat ini Alvin hanya
ingin memeluk Pricilla, seseorang yang sudah mampu menumbuhkan kembali
semangatnya yang nyaris mati.
Kali
ini Pricilla terdiam dan tidak melakukan perlawanan apapun. Ia menerima pelukan
Alvin itu dengan sepenuh hati. Ragu-ragu Pricilla membalas pelukan Alvin.
Setelah sekian lama merindukan pria ini, pria yang dulu pernah menyakitinya,
akhirnya hari ini Pria itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Alvin
mengantarkan dirinya sendiri kedalam pelukan Pricilla. Pricilla sama sekali
tidak bisa menghindar dari luapan rasa bahagia yang seakan meledak dengan
semarak jauh dilubuk hatinya yang terdalam.
“thank you, Prissy… dan apa gue boleh
jujur?”
Pricilla
mengangguk dalam pelukan Alvin. Alvin tersenyum penuh arti, lalu tanpa
melepaskan pelukannya dari Pricilla, dengan pelan ia berujar,
“I miss you, my ex girlfriend…”
***
Cakka
dan Via sudah bersiap-siap untuk pulang. Tadinya Via memilih untuk tidak
diantarkan pulang oleh Cakka, tapi karna Cakka bersikeras, Via akhirnya
mengalah. Cakka dan Via berjalan beriringan menuju tempat parkir. Tapi
tiba-tiba saja Via merasakan rasa nyeri yang tidak tertahankan pada bagian
pinggangnya. Keringat sebesar biji jagung mulai mengucur didahinya. Semakin
lama rasa nyeri itu semakin terasa menyiksa, langkah Via pun semakin melambat
dan tanpa sadar Cakka sudah berjalan jauh didepannya. Via baru ingat, bahwa
sudah 3 kali ia mangkir dari jadwal cuci darahnya, maka sekarang tidak heran
jika penyakit ini tiba-tiba kambuh ditempat yang tidak ia ingin kan. Via
menghentikan langkahnya sejenak untuk mengambil napas, ia pun berusaha untuk
menguatkan dirinya.
Via
lalu menegakkan tubuhnya, ia menatap punggung Cakka yang sudah berjalan
perlahan menjauhinya. Tapi baru saja ia akan melangkahkan kakinya hendak
mengejar langkah Cakka, Via tiba-tiba merasakan pengelihatan mulai buram dan
berangsur gelap. Tidak lama kemudian…. BRUKK!! Via jatuh pingsan tidak sadarkan
diri tepat didepan areal parkir.
Menyadari
bahwa Via tidak ada disampingnya, Cakka pun menghentikan langkahnya lalu
menoleh kebelakang. Dan betapa terkejutnya Cakka saat mendapati Via sudah
tergeletak tidak sadarkan diri tidak jauh dari tempat ia berdiri sekarang.
“VIAAAA!!!”
Cakka berlari menghampiri Via. Cakka menepuk-nepuk pelan pipi Via dengan
tingkat kecemasan yang sudah mencapai puncak klimaks. Cakka sangat takut
sesuatu yang buruk menimpa Via.
“Via…
kamu kenapa. Via? VIAAA….”
Tanpa
banyak berfikir lagi, Cakka langsung mengangkat tubuh Via dan membawanya ke
mobil. Pikiran Cakka saat ini hanyalah, ia harus segera membawa Via kerumah
sakit.
***
Rumah
Sakit Harapan
Sudah
hampir 10 menit Cakka menunggu didepan ruang ICU. Tapi hingga 10 menit berlalu,
Dokter atau suster belum ada yang keluar untuk memberikan kabar. Cakka juga
sudah mengabarkan pada Dyna bahwa tadi disekolah Via mendadak pingsan dan
sekarang Via sedang berada dirumah sakit. Dyna yang sangat cemas langsung
bergegas kerumah sakit.
15
menit kemudian seorang Dokter keluar dari ruang ICU. Cakka yang sejak tadi
dilanda oleh kecemasan langsung menghampiri Dokter yang sama sekali tidak ia
kenal itu. Yang jelas Dokter itu bukan Dokter Aninda yang biasa menangani Via.
“bagaimana
keadaan Via, Dok?” Tanya Cakka langsung.
Sang
Dokter menatap Cakka dengan pandangan bertanya. Ia tidak bisa sembarangan
memberikan keterangan pada seseorang yang tidak memiliki hubungan keluarga
dengan pasiennya.
“anda
ada hubungan apa dengan saudari Via?”
“sa…
saya…” Cakka mulai bingung harus berkata apa.
“maafkan
saya, tapi saya tidak bisa memberikan keterangan pada seseorang yang tidak
memiliki hubungan keluarga dengan Pasien…”
“saya
Kakaknya Via, Dokter…” ujar Cakka tiba-tiba tanpa berfikir panjang. Saat ini ia
hanya ingin tahu bagaimana kondisi Via. Itu saja.
“anda
Kakaknya saudari Via?” Tanya Dokter itu sedikit sanksi. Cakka hanya mengangguk
dan berusaha terlihat meyakinkan.
“baiklah,
ayo ikut saya!” kata Dokter itu sambil berjalan kearah ruangannya. Cakka hanya
mengikutinya dari belakang dengan setumpuk tanda Tanya yang memenuhi kepalanya.
“Pasien
bernama Via ini biasanya ditangani oleh Dokter Aninda, dan anda tentu tau kan
bahwa Adik anda ini menderita penyakit gagal ginjal stadium akhir?” kata Dokter
itu saat dirinya dan Cakka sudah duduk berhadapan diruangannya.
“ga…
gagal ginjal stadium akhir?” Cakka nyaris tidak percaya dengan apa yang baru
saja disampaikan oleh Sang Dokter. Dokter itu hanya mengangguk lalu melanjutkan
perkataannya.
“menurut
jadwal yang saya terima dari salah seorang suster, sudah 3 kali Via mangkir
dari jadwal cuci darahnya, dan hal itu malah semakin memperburuk keadaannya”
“te…
terus sekarang bagaimana kondisi Via, Dok?”
“Via
sudah melewati masa kritisnya, tapi hingga beberapa jam kedepan ia mungkin
tidak akan sadarkan diri”
Cakka
langsung lemas saat mendengarkan penjelasan dari Dokter yang baru ia ketahui
bernama Dokter Septian itu. Sekarang mulut Cakka benar-benar terkunci rapat.
Setelah Dokter Septian menjelaskan semuanya pada Cakka tanpa rasa curiga sama
sekali, Cakka pun keluar dari ruangan Dokter Septian dan hendak melihat keadaan
Via yang sudah dipindahkan keruang perawatan.
Tibalah
Cakka didepan ruang perawatan Via. Tangan kanan Cakka terangkat dan menyentuh
kenop pintu. Dalam satu gerakan pelan, Cakka sedikit demi sedikit mulai membuka
pintu ruang perawatan Via.
Dan
Cakka langsung terkejut bukan main saat mendapati Papanya ada dalam ruang
perawatan Via. Kedua mata Cakka membelalak lebar, kenapa Papanya bisa ada
disana?
“Rea…
maafkan Papa, Nak… kamu seperti ini gara-gara Papa. Seandainya dulu Papa
mempertahankan kamu, mungkin kamu nggak akan pernah menderita seperti ini…
maafkan Papa Rea… maaf kan Papa…” ucap Edgar pada Via yang saat itu sedang
dalam keadaan tidak sadarkan diri. Sementara Dyna, ia hanya diam mematung
disalah satu sudut ruangan sambil menatap kedua Ayah dan Anak itu dengan
pandangan sedih. Dyna bisa merasakan bagaimana terpukulnya Edgar saat ini,
karna Dyna pun merasakan hal yang sama dengan Edgar.
“Pa…
Papa? Re… REA???” ujar Cakka pelan.
Cakka
kembali menutup pintu ruang perawatan Via sebelum Edgar menyadari kehadirannya.
Cakka
berjalan perlahan meninggalkan ruang perawatan Via dengan perasaan yang tidak
dapat terjelaskan oleh kata-kata. Baru beberapa jam yang lalu ia menyatakan
perasaannya pada Gadis itu, tapi sekarang Cakka harus menerima sebuah kenyataan
yang benar-benar membuatnya terpuruk. Cakka berharap bahwa semua ini hanyalah
sebuah kesalahan.
Cakka
memegangi dadanya yang entah kenapa terasa sesak. Pandangannya pun mulai
mengabur seiring ia merasakan matanya mulai menghangat. Cakka lalu bersandar
pada salah satu pilar, kedua lulutnya mulai melemas, dan ia merasa seluruh
tulang-tulangnya seperti dipresto. Saat ini Cakka benar-benar tidak memiliki
daya untuk sekedar menggerakan kakinya.
Air
mata itu secara perlahan mulai turun membasahi wajahnya. Ternyata Rea kecil
yang selama ini ia cari begitu dekat dengannya bahkan berada dalam jangkuannya.
Cakka sangat menyesal karna tidak bisa menyadari itu sejak awal.
‘SIVIA
ANDREA PUTERI .A.’ Cakka baru menyadari bahwa huruf ‘A’ yang tersemat
dibelakang nama Via adalah kepanjangan dari ‘ADHIRAJASA’ nama belakang Papanya
sekaligus nama belakangnya sendiri.
Secara
perlahan Cakka mendudukan tubuhnya dilantai dengan suara isakkan tertahan, dan
Cakka sama sekali tidak peduli saat perhatian semua orang tertuju padanya dengan
tatapan aneh.
Cakka
berat mengakui ini, tapi takdir benar-benar membuktikan bahwa Via adalah Rea,
adik yang selama ini ia cari. Seorang adik yang telah ia rebut kebahagiaan masa
kecilnya juga masa depannya.
“maafin Kakak, Rea… maaf karna udah ngerusak
kebahagiaan kamu selama ini dan bikin kamu ngejalanin hidup yang bener-bener
keras tanpa kehadiran seorang Ayah… Kakak akan balikin semua yang udah Kakak
rebut dari kamu… Kakak janji Andrea…..”
“Mengapa
cinta ini terlarang….
Saat
ku yakini kaulah milikku
Mengapa
cinta kita tak bisa bersatu
Saat
ku yakin tak ada cinta selain dirimu….”
(Cinta
Terlarang ~ The Virgin)
BERSAMBUNG….



0 comments:
Post a Comment