Wednesday, February 26, 2014

0

You’re Mine [Part 14: Sepenggal Kisah Yang Salah]











Sebelumnya….


            ‘Cakka bukan alasan kuat buat gue untuk mengakhiri semua ini, Vin… ada alasan lain yang nggak boleh lo tahu… maafin gue… cewek penyakitan kayak gue nggak pernah pantes buat cowok yang nyaris sempurna kayak lo….’ Lirih Via dalam hati. Tanpa bisa ia control, sebulir air matanya terjatuh membasahi pipi mulusnya.
                   
            Alvin menunduk lesu beberapa saat setelah Via pergi terlebih dahulu meninggalkan tempat itu. Semangatnya untuk mengikuti jam pelajaran mendadak terkuras. Alvin tidak mengerti, kenapa sejak mengenal Via ia berubah menjadi sosok laki-laki yang cengeng seperti ini. Apa yang salah?
            Yang lebih menyedihkan bagi Alvin adalah, Andrea yang selama beberapa tahun ini ia tunggu ternyata tidak pernah sekalipun mengingatnya. Mungkin hanya Alvin saja yang merasakan perasaan ini, tapi tidak dengan Andrea-nya, atau bahkan mungkin tidak pernah sekalipun Andrea mengingat Alvin. Alvin tersenyum miris, ternyata ia bukan hanya bodoh, tapi sangat bodoh. Dan entah untuk yang keberapa milyar kalinya, Cakka lagi-lagi mengalahkannya. Dan hal itu membuat Alvin berfikir, apa sekarang sudah saatnya ia membongkar semuanya??


            “BODOH!! Masa gitu aja nyerah??! Dasar pecundang!!” cerca seseorang yang tiba-tiba saja muncul dihadapan Alvin. Mendengar ada sebuah suara sumbang yang super tajam menganggu indera pendengarnya, Alvin langsung mengangkat wajahnya dan melihat seseorang yang baru saja mengeluarkan sindiran super dahsyatnya. Senyuman sinis itu langsung menyambut Alvin. Kedua mata Alvin memicing, ia sedikit kaget dengan kehadiran Gadis ini yang secara tiba-tiba muncul dihadapannya…




            “Prissy…??”




***


Part 14


Akhirnya kita ada di akhir yang menyakitkan
Ku sadar kita telah melangkah terlalu dalam
Ku sadari bahwa kita sudah taklukkan terlarang
Tak mungkin ku perjuangkan cinta
Yang kita mulai dengan salah…


(Glen Fredly ~ Kisah Yang Salah)


            Sejak awal semuanya memang sudah salah. Mereka memulai kisah mereka dengan cara yang salah hingga akhirnya berakhir menyakitkan dan meninggalkan luka yang membekas dalam. Tidak ada jalan lain bagi mereka selain harus membuat kisah yang baru dengan cara yang benar.
            Maka dari sini semuanya dimulai dari titik nol. Alvin akan bekerja dua kali lebih keras untuk memperjuangkan apa yang memang seharusnya menjadi miliknya. Mungkin sulit untuk mengulang kembali semua yang sudah berakhir, tapi jika ingin semuanya kembali lagi, maka Alvin harus berjuang lagi dari titik nol.
Disinilah titik itu… titik terkecil dari segala titik yang pernah ada… bukankah cinta adalah sebuah perjuangan yang harus diperjuangkan entah dengan cara apapun? Bukankah cinta membutuhkan sebuah pengorbanan yang tidak main-main hingga bisa disematkan sebagai cinta sejati?



***


            “aku kecewa sama kalian!” tegas Febby dingin tanpa sedikitpun menatap wajah Rio dan Ify yang beberapa saat lalu telah mengungkapkan tentang hubungan mereka selama ini. Ify menunduk dalam, rasa takut itu semakin menyelimuti benaknya. Menyadari akan situasi sulit yang tengah dihadapi oleh kekasihnya, Rio pun semakin erat mengenggenggam tangan Ify, berusaha menenangkannya dan meyakinkannya bahwa semuanya akan berjalan dengan baik-baik saja.
            Inilah keputusan yang telah mereka ambil. Dan saat pulang sekolah tadi, mereka langsung pergi ke Apartemen Febby dan Pricilla dengan niat mereka ingin memberitahukan semuanya pada Febby. Tidak mudah bagi Rio untuk meyakinkan Ify hingga kini mereka berdua duduk dihadapan Febby dengan berani dan mengungkapkan apa yang selama ini ingin mereka ungkapkan.
            Keberanian Ify yang susah payah ditanamkan oleh Rio mendadak merosot drastis saat menerima respon yang Febby berikan. Sejak awal Rio memang sudah mengantisipasi respon yang akan Febby tunjukan, tapi tidak dengan Ify. Ify terlalu takut membayangkan semuanya.
            “ma… maafin Ify, Kak Fe… Febby…” ujar Ify terbata dan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Rio. Ify telah putus asa dan ingin menyerah saja, tapi Rio sama sekali tidak mengijinkan Ify untuk melepaskan tangannya. Ia justru semakin mempererat genggaman tangannya pada Gadis itu.
            “buat apa minta maaf??” sinis Febby yang semakin membuat Ify merasa terpojokan. Rio menghela napas beberapa kali, ia sudah tidak tahan lagi, ini saatnya ia angkat bicara.
            “gue sayang sama Ify, dan Ify juga sayang sama gue. Dan asal lo tau, selama lo nggak ada, Ify yang selalu ada dideket gue. Terus terang, gue udah ngelupain lo….”
            Febby tersenyum miris. Kali ini  ia mengalihkan tatapannya pada Rio dan Ify. Febby menatap mereka berdua dengan pandangan menerawang, berusaha mencari sesuatu dari riak kedua wajah itu. Tidak lama Febby mengangguk paham lantas berkata,
            “ini yang bikin aku kecewa sama kalian, karna sejak awal kalian nggak pernah mau jujur sama aku. Jujur, sejak awal aku udah tau tentang hubungan kalian, tapi aku berusaha untuk pura-pura nggak tahu… kalian mau tau alasannya apa?”
            Kali ini Ify mengangkat wajahnya dan berusaha memberanikan diri untuk menatap wajah Febby. Baik Rio dan Ify sama-sama menatap Febby dengan pandangan bertanya,
            “karna aku ingin kalian mengatakannya langsung….”
            “Kak Febby….” Isak Ify perlahan.
            “dalam masalah ini aku yang salah, dan aku bener-bener minta maaf sama kalian. Mungkin iya aku masih sayang sama kamu Yo, tapi itu bukan alasan buat aku untuk memaksa kamu supaya tetep sama aku. Hati kamu udah bukan buat aku, aku udah pergi ninggalin kamu tanpa alasan, dan sekarang wajar kalo kamu mulai berpaling… maafkan Kak Febby…” lirih Febby dengan suara bergetar, berusaha menahan isakkannya agar tidak pecah ditempat.
            Ify yang merasa tidak tahan lagi langsung bangkit dari sisi Rio lalu menghampiri Febby dan memeluk Kakak Sepupu kesayangannya itu. Dalam pelukan Febby Ify menangis sejadi-jadinya, tapi bukan tangis kesedihan, melainkan tangis kebahagiaan.

            “maafin Kak Febby, Fy… sekarang Ify bisa sama-sama Rio tanpa perlu takut Kak Febby akan marah, kecewa atau sakit hati. Kak Febby sudah ikhlas, Kak Febby sudah rela….”

            “makasih Kak Febby…”

            “tetep sama-sama Rio, ya? Kalian nggak boleh pisah…”

            “pasti, Kak… pasti…”

            Rio tersenyum lega detik itu juga. Seumur hidupnya, Rio tidak pernah merasa selega dan sebebas ini sebelumnya. Kini ia dan Ify benar-benar bisa bersatu tanpa ada yang menghalangi.

            Pricilla yang sejak tadi berdiri ditangga dan mendengarkan semua apa yang mereka bicarakan sama sekali tidak bisa menahan air mata harunya. Pricilla membiarkan air matanya lolos begitu saja. Ia bangga pada keikhlasan dan kerelaan Kakaknya itu.
            Dan saat kedua mata Febby menangkap sosoknya, Pricilla langsung menyeka air matanya. Ia tersenyum pada Febby lalu mengangkat kedua jempolnya yang langsung disambut oleh anggukan kepala dari Febby.

            ‘Kak Febby luar biasa….’ Bathin Pricilla.





***


            Sepulangnya dari sekolah, Alvin langsung memasuki kamarnya tanpa menghiraukan panggilan Maminya. Alvin membanting pintu kamarnya sekuat mungkin. Emosi yang ia tahan sejak ia disekolah tadi akhirnya ia luapkan habis saat ia tiba dirumahnya. Alvin memberantakkan semua barang-barang yang ada dikamarnya dan membanting apa saja yang ada dalam jangkuannya.
            Saat Via memutuskan hubungannya secara sepihak tadi, Alvin memang tidak berbuat banyak selain mengiyakan keputusan yang menurutnya tidak adil itu, belum lagi waktu yang tersisa untuknya hanya tinggal 2 hari lagi membuat emosi Alvin benar-benar naik. Tapi Alvin tidak bisa menumpahkan semua kesalahan pada Via. Alvin juga tahu bahwa saat ini Via sedang berada dalam posisi yang bisa dibilang sulit, dan Alvin sama sekali tidak ingin membebani Via dengan menumpahkan semua kesalahan padanya. Biarlah, biarlah ia seperti ini asal Via tidak merasa disalahkan. Alvin rela menanggung beban seberat apapun asalkan Gadis Teddy Bear nya bisa terus tersenyum.
            Alvin lalu menatap boneka teddy bear milik Via kecil yang bertengger diatas meja belajarnya. Alvin bangkit dan mengambil boneka itu. Untuk beberapa saat Alvin menatap boneka itu. Mendadak semua kenangannya bersama Via berpendar kembali dikepalanya dan membuat dadanya semakin terasa sesak.


Flashback~

“H… hay…” sapa Alvinitu dengan ragu-ragu. Tapi Via bergeming, ia hanya menatap sekilas kearah Alvin lalu mengalihkan tatapannya.
            “nggak usah nangis lagi ya? Mama kamu pasti baik-baik aja, dulu Mami aku juga pernah masuk rumah sakit kayak Mama kamu, tapi Mami aku langsung sembuh, jadi kamu jangan sedih lagi ya?” ucapnya polos. Via masih tetap bergeming, tapi anak Alvin tidak juga menyerah.
            “oya kenalin, aku Aphin, kamu?” Alvin mengulurkan tangannya hendak bersalaman dengan Via. Tapi Via hanya diam dan masih tidak menunjukan reaksi apapun.
            “kamu nggak mau kenalan sama aku?”


Flashback off~

           
            Alvin menggeram putus asa. Sejak awal pertemuannya dengan gadis itu beberapa tahun yang lalu, Via memang tidak pernah memperdulikannya sekalipun. Alvin baru menyadarinya sekarang disaat ia benar-benar terluka. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya lolos begitu saja, dan Alvin sama sekali tidak peduli seberapa cengengnya ia sekarang. Ingatan itu kembali menyeruak dikepalanya…



Flashback~

            “sejak awal gue suka sama lo, dan lo tau itu meskipun gue nggak pernah nyatain secara langsung sebelum hari ini”

            “terus lo berharap gue bakalan suka rela nerima lo dan jadi korban lo selanjutnya?!”

            “gue emang play boy! Dan gue nggak akan mungkirin itu, tapi satu hal yang harus lo tau, gue bener-bener suka sama lo dan ini adalah salah satu cara yang bisa gue lakuin buat merjuangin perasaan gue keelo”

            “jadi intinya lo mau gue jadi pacar lo? Dan kalo gue nggak mau, lo bakalan nyerahin video ini ke Cakka, begitu? Lo mau coba-coba ngancem gue?!”

            “jadi intinya lo mau gue jadi pacar lo? Dan kalo gue nggak mau, lo bakalan nyerahin video ini ke Cakka, begitu? Lo mau coba-coba ngancem gue?!”

            “gue nggak ngancem lo. Gue Cuma mau ngelakuin apa yang mau gue lakuin, gue suka sama lo dan gue mau lo jadi cewek gue. Terserah lo mau nganggep gue ngancem lo atau apapun itu, gue nggak peduli, yang jelas gue ngelakuin ini buat nunjukin ke elo kalo gue, Alvino Joshua Aryadinata bener-bener pengen serius sama lo”

            “tapi gue nggak suka sama lo!”

            “gue tau! Untuk itulah gue mau lo jadi cewek gue. Kasi gue waktu 1 bulan. Kalo dalem waktu satu bulan gue nggak bisa bikin lo suka sama gue, lo boleh pergi dan mutusin gue”

            oke! Gue mau jadi cewek lo. Tapi hanya sebulan dan semuanya akan berakhir!”


Flahback off~


            Alvin mengacak rambutnya frustasi lalu berteriak sekeras mungkin. Sejak awal semuanya memang sudah salah. Harusnya Alvin menyadari itu lebih awal. Rasa cintanya pada Via sudah benar-benar membutakannya dan menutupi hatinya hingga ia menjadi budak resmi egonya sendiri.
            Alvin menatap sebuah frame foto berukuran 10R yang tergantung dengan rapih didinding kamarnya. Dalam foto itu, tampak gambar Via yang sedang membawa sebuket bunga krisan dengan pakaian serba hitam. Alvin ingat dengan sangat jelas, ia mengambil foto itu 2 bulan yang lalu secara tidak sengaja saat ia baru pertama kali melihat Via dan jatuh cinta pada pandangan pertama dengan gadis itu. Alvin semakin mempererat pelukannya pada boneka teddy bear itu, air matanya semakin deras menetes dan mulai terdengar isakan-isakan kecil.

            “kenapa lo nggak bisa menyayangi gue seperti gue sayang sama lo, Via? Kenapa?? KENAPAAAA????!!”

            Cklek! Suara pintu dibuka tiba-tba saja mengejutkan Alvin. Alvin segera mengusap kasar air matanya lalu menatap kearah pintu. Dan dipintu sana, Pricilla sudah berdiri dengan angkuhnya seraya menatap Alvin dengan tatapan meremehkan, sama persis seperti tatapannya disekolah tadi.

            “jadi cowok kok drama banget sih?” sungutnya kesal.
            Tapi Alvin hanya menatapnya dingin. Bagaimana bisa Gadis ini tiba-tiba muncul dikamarnya seperti ini?

            “ngapain lo disini?”





***


            Sudah 2 jam berlalu sejak bel tanda pulang berdering, tapi Via masih betah duduk bersila direrumputan yang terdapat dihalaman belakang sekolahnya. Via belum ingin beranjak dari tempat favoritnya itu, Via juga belum ingin pulang sebelum perasaannya benar-benar tenang.
            Seketika bayangan saat ia memutuskan hubungannya dengan Alvin tadi berkelebat dikepalanya. Mungkin saat ini Alvin berfikir bahwa Via tengah mengulas senyum bahagia karna keputusannya itu, tapi sesungguhnya Alvin salah. Tidak sedetik pun yang Via lewati sejak ia memutuskan hubungannya dengan Alvin tanpa memikirkannya sedikitpun. Sejak beberapa jam yang lalu, Alvin menjadi penguasa tunggal dalam pikirannya. Rasa bersalah secara terus-menerus merong-rong hati kecilnya hingga menimbulkan gejolak yang ia sendiri susah bagaimana untuk mendiskripsikannya.
            Tapi Via juga tidak tahu harus melakukan apa. Saat ini Via  benar-benar tidak punya pilihan lain selain harus mengakhiri hubungannya dengan Alvin. Via tidak ingin terus-terusan membohongi perasaannya. Karna selamanya, perasaannya mungkin tidak akan pernah berubah pada Alvin.
            Ditengah-tengah pikirannya yang sedang kalut, tiba-tiba saja Via merasakan ada seseorang yang mengisi tempat kosong disampingnya. Via menoleh kesamping, dan senyuman manis milik Cakka langsung menyambutnya.

            “Ca… Cakka…? Nga.. ngapain disini?” Tanya Via yang mendadak gugup dengan kehadiran Cakka yang secara tiba-tiba.
            “sejak 2 jam yang lalu, saya ngelihat seorang cewek yang sedang duduk sendiri disini. Karna cewek itu nggak pergi-pergi juga, saya akhirnya memutuskan untuk menyusul kesini. Kamu terganggu?” Cakka menoleh kearah Via lalu menatap Via dalam jarak yang sangat dekat.
            Deg! Detakan jantung itu mulai terdengar tidak sabar saat sepasang mata elang itu mengarah tepat pada kedua manik matanya. Seakan diperintah, Via lalu menggeleng pelan. Cakka tersenyum kecil lantas berkata,
            “kamu lagi ada masalah?”
            Via menggeleng lagi. Tapi percuma, Cakka sudah terlanjur bisa membaca semuanya.
            “kamu bohong!” ujar Cakka tegas.
            Via menghela napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan.
            “kamu tahu? Saat kamu menggeleng tadi, kamu terlihat seperti seseorang yang mengucapkan selamat pagi dimalam hari…”
            “sekentara itu ya kalo saya lagi bohong?” Tanya Via sedikit sanksi, tapi ia juga menyadarinya. Cakka mengangguk dengan mantap tanpa sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari wajah Via.
            “kalo kamu mau, kamu bisa cerita sama sa –“
            “saya putus sama Alvin….” Ucap Via cepat memotong perkataan Cakka.

            Cakka membeku untuk beberapa detik. Apa ia tidak salah dengar?

            “a.. apa?” Cakka berusaha meyakinkan apa yang baru saja ia dengar dari mulut Via.

            “iya… saya putus sama Alvin. Dan apa kamu tau itu semua gara-gara siapa?”
            Kali ini giliran Cakka yang menggeleng. Via tersenyum miris, ia memegang kedua pundak Cakka lalu menatap mata Cakka sedalam mungkin.

            “gara-gara kamu….” Jawab Via singkat. Hati Cakka langsung mencelos ketika mendengar jawaban singkat yang Via lemparkan padanya. beberapa detik kemudian, Via melepaskan kedua pundak Cakka lalu mengalihkan tatapannya kearah lain.

            “ka… kamu….?”
            Via mengangguk beberapa kali dengan senyuman yang susah diartikan.

            “iya… saya suka sama kamu, Cakka. Bahkan sejak pertama kali kita bertemu”

            “Vi… Via –“ lidah Cakka mendadak kelu, ditambah lagi tenggorokannya terasa sedikit tercekat. Semua kata yang ingin ia ucapkan pada Via seakan tertelan kembali.

            “tapi, saya bener-bener nggak butuh jawaban kamu, Kka. Saya juga nggak berharap kalo kita punya rasa yang sama. Ya… mungkin agak keterlaluan kesannya mengingat saya baru saja putus dari Alvin dan mengingat kalo kamu sahabat dekat Alvin, tapi saya Cuma nggak mau bohongin perasaan saya, Cakka… saya… saya –“

            Via tidak tahu harus berkata apa lagi, mendadak ia kehabisan kata-kata. Dalam hati, ia menyimpan rasa bersalah yang teramat sangat pada Alvin dan Shilla. Ya… memang pantas Via akui bahwa dia adalah seorang yang jahat. Sangat jahat malah. Bahkan Via sendiri tidak pernah menduga bahwa hari ini ia akan menyatakan perasaannya pada Cakka, sekalipun Via tidak pernah berfikir tentang hal ini. Semuanya terjadi diluar kuasanya.
            Via yang yang tidak sanggup lagi melawan segala gejolak didadanya akhirnya memutuskan pergi dari tempat itu sebelum perasaannya semakin tidak menentu.

            “saya pamit Cakka… lupain semua apa yang saya katakana tadi. Dan anggap saja kalo saya nggak pernah ngomong apapun sama kamu….” Ujar Via dengan nada bergetar. Ia berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.
            Via lalu melangkah pergi. Tapi baru saja beberapa langkah ia meninggalkan tempat itu dan menjauhi Cakka, tiba-tiba saja ia merasakan ada sepasang lengan kokoh yang memeluknya dari belakang. Cakka memeluknya, benar-benar memeluknya.
            Pelukan yang Cakka berikan padanya mampu memeberikan kehangatan berbeda yang selama ini tidak pernah ia rasakan. Dan kehangatan itu justru membuat air matanya jatuh secara berlomba. Saat itu Via yakin, bahwa Via benar-benar menyayangi Cakka sepenuh hatinya.

            “tapi sayangnya kita punya rasa yang sama, Via…. Saya juga sayang sama kamu….” Lirih Cakka pelan didepan telinga Via.

            Via memejamkan kedua matanya lalu membiarkan air mata itu tumpah ruah membasahi wajahnya. Isakan-isakan kecil itupun mulai terdengar pelan. Via menyentuh lengan Cakka yang membungkus tubuhnya dan memberikannya rasa hangat sekaligus nyaman. Lalu dalam satu sentakan kuat, Via melepaskan kedua lengan Cakka begitu saja dari tubuhnya.
            Cakka langsung mencelos. Tapi beberapa detik kemudian, Cakka langsung dibuat terpana saat Via tiba-tiba saja berbalik menghadap kearahnya lalu menubruk tubuhnya dengan kasar. Via memeluk Cakka seerat mungkin lalu menangis dalam pelukan pria itu, persis seperti apa yang ia lakukan beberapa waktu yang lalu.
            Cakka tersenyum kecil lalu membalas pelukan Via. Cakka pun membelai lembut rambut sebahu milik Via lalu mendaratkan sebuah kecupan tepat dipuncak kepalanya, dan Cakka melakukannya agak lama.


            ‘tapi kita nggak bisa bersatu, Kka… kamu dan aku diciptakan bukan untuk menjadi satu….’ Bathin Via seraya mempererat pelukannya pada tubuh pria itu.





***


            Alvin dan Pricilla duduk berdampingan didepan ranjang Alvin. Sejak 10 menit yang lalu, mereka sama-sama terdiam. Pricilla yang kelamaan merasa bosan dengan situasi ini akhirnya mendesah pelan. Ia melirik sedikit tidak suka kearah Alvin lantas mulai membuka suara,

            “lo mau ngamuk sekuat apapun kalo lo nggak ngelakuin aksi buat mempertahankan Via, maka selamanya Via nggak akan pernah jadi milik lo, Alv. Trust me!” kali ini Pricilla serius dengan ucapannya.

            “dia nggak akan pernah bisa sayang sama gue, dan selamanya Cuma Cakka yang ada dihatinya dia, dia –“
            hey come on!! Lo dan gue tau kalo mereka itu saudara se-Ayah, dan elo sama gue tau kalau mereka nggak mungkin bersatu. It was all but impossible, Alv. You can still fight! Lo masih bisa berjuang untuk mempertahankan dia…” kata Pricilla berapi-api.
            Alvin lalu menatap Pricilla dengan pandangan bertanya. Seumur hidupnya ia tidak pernah menyangka bahwa gadis ini akan mendukung penuh dirinya untuk mendapatkan Via. Tidak bisa Alvin pungkiri, bahwa dari dulu hingga sekarang, yang namanya Queenshara Apricilla ini selalu penuh dengan kejutan-kejutan tidak terduga.
            Alvin tersenyum penuh arti. Ia merasa semangatnya kembali terbakar saat Pricilla datang dan membakar semangatnya yang nyaris padam tersiram putus asa.
            “Priss, I could hug you?”
            “WHAATT?? No… No… No” kaget Pricilla dengan kedua mata yang terbelalak lebar.
            “Why…?”
            “nanti kalo lo meluk gue, yang ada lo malah suka lagi sama gue, dan gue nggak mau. Asal lo tau ya, I have not had any feeling to you, jadi nggak usah kepedean lagi lah!” kata Pricilla yang berusaha keras menyembunyikan gejolak didadanya. Entah kenapa, saat Alvin meminta untuk memeluknya tadi, jantungnya mendadak berdegub dengan sangat kencang dalam irama yang tidak beraturan. Pricilla menyadari bahwa rasa itu masih tersimpan dengan rapi direlungnya untuk Alvin, tapi Pricilla enggan mengakuinya. Bukan karna gengsi atau apapun itu, tapi Pricilla hanya berusaha menyadari bahwa Alvin memang bukan untuknya.
            “gue malah berharap supaya rasa itu tumbuh lagi dihati gue” ujar Alvin yang sebenarnya hanya ingin menggoda Pricilla saja.
            WHAT?? You’ve really crazy, Alv. Lo pikir gue mau apa jadi pelar –“
            Belum selesai ucapan Pricilla, Alvin malah sudah menarik gadis itu kedalam pelukannya bahkan sebelum ia mendapatkan ijin langsung dari Pricilla. Saat ini Alvin hanya ingin memeluk Pricilla, seseorang yang sudah mampu menumbuhkan kembali semangatnya yang nyaris mati.
            Kali ini Pricilla terdiam dan tidak melakukan perlawanan apapun. Ia menerima pelukan Alvin itu dengan sepenuh hati. Ragu-ragu Pricilla membalas pelukan Alvin. Setelah sekian lama merindukan pria ini, pria yang dulu pernah menyakitinya, akhirnya hari ini Pria itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Alvin mengantarkan dirinya sendiri kedalam pelukan Pricilla. Pricilla sama sekali tidak bisa menghindar dari luapan rasa bahagia yang seakan meledak dengan semarak jauh dilubuk hatinya yang terdalam.

            thank you, Prissy… dan apa gue boleh jujur?”
            Pricilla mengangguk dalam pelukan Alvin. Alvin tersenyum penuh arti, lalu tanpa melepaskan pelukannya dari Pricilla, dengan pelan ia berujar,


            “I miss you, my ex girlfriend…”




***


            Cakka dan Via sudah bersiap-siap untuk pulang. Tadinya Via memilih untuk tidak diantarkan pulang oleh Cakka, tapi karna Cakka bersikeras, Via akhirnya mengalah. Cakka dan Via berjalan beriringan menuju tempat parkir. Tapi tiba-tiba saja Via merasakan rasa nyeri yang tidak tertahankan pada bagian pinggangnya. Keringat sebesar biji jagung mulai mengucur didahinya. Semakin lama rasa nyeri itu semakin terasa menyiksa, langkah Via pun semakin melambat dan tanpa sadar Cakka sudah berjalan jauh didepannya. Via baru ingat, bahwa sudah 3 kali ia mangkir dari jadwal cuci darahnya, maka sekarang tidak heran jika penyakit ini tiba-tiba kambuh ditempat yang tidak ia ingin kan. Via menghentikan langkahnya sejenak untuk mengambil napas, ia pun berusaha untuk menguatkan dirinya.
            Via lalu menegakkan tubuhnya, ia menatap punggung Cakka yang sudah berjalan perlahan menjauhinya. Tapi baru saja ia akan melangkahkan kakinya hendak mengejar langkah Cakka, Via tiba-tiba merasakan pengelihatan mulai buram dan berangsur gelap. Tidak lama kemudian…. BRUKK!! Via jatuh pingsan tidak sadarkan diri tepat didepan areal parkir.
            Menyadari bahwa Via tidak ada disampingnya, Cakka pun menghentikan langkahnya lalu menoleh kebelakang. Dan betapa terkejutnya Cakka saat mendapati Via sudah tergeletak tidak sadarkan diri tidak jauh dari tempat ia berdiri sekarang.

            “VIAAAA!!!” Cakka berlari menghampiri Via. Cakka menepuk-nepuk pelan pipi Via dengan tingkat kecemasan yang sudah mencapai puncak klimaks. Cakka sangat takut sesuatu yang buruk menimpa Via.

            “Via… kamu kenapa. Via? VIAAA….”

            Tanpa banyak berfikir lagi, Cakka langsung mengangkat tubuh Via dan membawanya ke mobil. Pikiran Cakka saat ini hanyalah, ia harus segera membawa Via kerumah sakit.





***


Rumah Sakit Harapan


            Sudah hampir 10 menit Cakka menunggu didepan ruang ICU. Tapi hingga 10 menit berlalu, Dokter atau suster belum ada yang keluar untuk memberikan kabar. Cakka juga sudah mengabarkan pada Dyna bahwa tadi disekolah Via mendadak pingsan dan sekarang Via sedang berada dirumah sakit. Dyna yang sangat cemas langsung bergegas kerumah sakit.
            15 menit kemudian seorang Dokter keluar dari ruang ICU. Cakka yang sejak tadi dilanda oleh kecemasan langsung menghampiri Dokter yang sama sekali tidak ia kenal itu. Yang jelas Dokter itu bukan Dokter Aninda yang biasa menangani Via.
            “bagaimana keadaan Via, Dok?” Tanya Cakka langsung.
            Sang Dokter menatap Cakka dengan pandangan bertanya. Ia tidak bisa sembarangan memberikan keterangan pada seseorang yang tidak memiliki hubungan keluarga dengan pasiennya.
            “anda ada hubungan apa dengan saudari Via?”
            “sa… saya…” Cakka mulai bingung harus berkata apa.
            “maafkan saya, tapi saya tidak bisa memberikan keterangan pada seseorang yang tidak memiliki hubungan keluarga dengan Pasien…”
            “saya Kakaknya Via, Dokter…” ujar Cakka tiba-tiba tanpa berfikir panjang. Saat ini ia hanya ingin tahu bagaimana kondisi Via. Itu saja.
            “anda Kakaknya saudari Via?” Tanya Dokter itu sedikit sanksi. Cakka hanya mengangguk dan berusaha terlihat meyakinkan.

            “baiklah, ayo ikut saya!” kata Dokter itu sambil berjalan kearah ruangannya. Cakka hanya mengikutinya dari belakang dengan setumpuk tanda Tanya yang memenuhi kepalanya.

            “Pasien bernama Via ini biasanya ditangani oleh Dokter Aninda, dan anda tentu tau kan bahwa Adik anda ini menderita penyakit gagal ginjal stadium akhir?” kata Dokter itu saat dirinya dan Cakka sudah duduk berhadapan diruangannya.
            “ga… gagal ginjal stadium akhir?” Cakka nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja disampaikan oleh Sang Dokter. Dokter itu hanya mengangguk lalu melanjutkan perkataannya.
            “menurut jadwal yang saya terima dari salah seorang suster, sudah 3 kali Via mangkir dari jadwal cuci darahnya, dan hal itu malah semakin memperburuk keadaannya”
            “te… terus sekarang bagaimana kondisi Via, Dok?”
            “Via sudah melewati masa kritisnya, tapi hingga beberapa jam kedepan ia mungkin tidak akan sadarkan diri”
            Cakka langsung lemas saat mendengarkan penjelasan dari Dokter yang baru ia ketahui bernama Dokter Septian itu. Sekarang mulut Cakka benar-benar terkunci rapat. Setelah Dokter Septian menjelaskan semuanya pada Cakka tanpa rasa curiga sama sekali, Cakka pun keluar dari ruangan Dokter Septian dan hendak melihat keadaan Via yang sudah dipindahkan keruang perawatan.
            Tibalah Cakka didepan ruang perawatan Via. Tangan kanan Cakka terangkat dan menyentuh kenop pintu. Dalam satu gerakan pelan, Cakka sedikit demi sedikit mulai membuka pintu ruang perawatan Via.
            Dan Cakka langsung terkejut bukan main saat mendapati Papanya ada dalam ruang perawatan Via. Kedua mata Cakka membelalak lebar, kenapa Papanya bisa ada disana?

            “Rea… maafkan Papa, Nak… kamu seperti ini gara-gara Papa. Seandainya dulu Papa mempertahankan kamu, mungkin kamu nggak akan pernah menderita seperti ini… maafkan Papa Rea… maaf kan Papa…” ucap Edgar pada Via yang saat itu sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri. Sementara Dyna, ia hanya diam mematung disalah satu sudut ruangan sambil menatap kedua Ayah dan Anak itu dengan pandangan sedih. Dyna bisa merasakan bagaimana terpukulnya Edgar saat ini, karna Dyna pun merasakan hal yang sama dengan Edgar.


            “Pa… Papa? Re… REA???” ujar Cakka pelan.

            Cakka kembali menutup pintu ruang perawatan Via sebelum Edgar menyadari kehadirannya.
            Cakka berjalan perlahan meninggalkan ruang perawatan Via dengan perasaan yang tidak dapat terjelaskan oleh kata-kata. Baru beberapa jam yang lalu ia menyatakan perasaannya pada Gadis itu, tapi sekarang Cakka harus menerima sebuah kenyataan yang benar-benar membuatnya terpuruk. Cakka berharap bahwa semua ini hanyalah sebuah kesalahan.
            Cakka memegangi dadanya yang entah kenapa terasa sesak. Pandangannya pun mulai mengabur seiring ia merasakan matanya mulai menghangat. Cakka lalu bersandar pada salah satu pilar, kedua lulutnya mulai melemas, dan ia merasa seluruh tulang-tulangnya seperti dipresto. Saat ini Cakka benar-benar tidak memiliki daya untuk sekedar menggerakan kakinya.
            Air mata itu secara perlahan mulai turun membasahi wajahnya. Ternyata Rea kecil yang selama ini ia cari begitu dekat dengannya bahkan berada dalam jangkuannya. Cakka sangat menyesal karna tidak bisa menyadari itu sejak awal.

            ‘SIVIA ANDREA PUTERI .A.’ Cakka baru menyadari bahwa huruf ‘A’ yang tersemat dibelakang nama Via adalah kepanjangan dari ‘ADHIRAJASA’ nama belakang Papanya sekaligus nama belakangnya sendiri.
            Secara perlahan Cakka mendudukan tubuhnya dilantai dengan suara isakkan tertahan, dan Cakka sama sekali tidak peduli saat perhatian semua orang tertuju padanya dengan tatapan aneh.
            Cakka berat mengakui ini, tapi takdir benar-benar membuktikan bahwa Via adalah Rea, adik yang selama ini ia cari. Seorang adik yang telah ia rebut kebahagiaan masa kecilnya juga masa depannya.

            “maafin Kakak, Rea… maaf karna udah ngerusak kebahagiaan kamu selama ini dan bikin kamu ngejalanin hidup yang bener-bener keras tanpa kehadiran seorang Ayah… Kakak akan balikin semua yang udah Kakak rebut dari kamu… Kakak janji Andrea…..”





“Mengapa cinta ini terlarang….
Saat ku yakini kaulah milikku
Mengapa cinta kita tak bisa bersatu
Saat ku yakin tak ada cinta selain dirimu….”

(Cinta Terlarang ~ The Virgin)




                                   

BERSAMBUNG….





0 comments:

Post a Comment