Sebelumnya…
Sekarang Alvin telah melepaskan
segalanya, impiannya, cita-citanya, kebebasannya, juga separuh hidupnya. Dan
Alvin rela melakukan semua itu hanya demi Via. Alvin tersenyum kecil, dalam
hati ia berharap semoga pengorbanannya ini akan menjadi pengorbanan termanis
yang pernah ia lakukan.
Alvin menoleh kesamping, dan disana
ia sudah mendapati Via yang saat itu sudah terbaring diatas meja operasi dalam
keadaan tidak sadarkan diri. Tanpa bisa Alvin tahan, sebulir air mata itu
menetes keluar. Air mata itu bukanlah air mata penyesalan, melainkan air mata
bahagia.
Alvin lalu secara perlahan
mengangkat tangan kanannya lalu meraih tangan Via yang jaraknya tidak terlalu
jauh. Alvin menggenggam lembut tangan itu, dan entah kenapa, saat tangan
kokohnya menggenggam lembut jemari-jemari itu, Alvin merasakan sebuah
ketenangan dan kedamaian.
“kamu siap, Alvin?” Tanya Dokter
Aninda untuk yang terakhir kalinya.
Alvin mengangguk pasti seraya
menggumamkan kata “Iya”. Dokter Aninda tersenyum kecil lantas menyuntikkan obat
bius pada tubuh Alvin. Beberapa detik kemudian, efek obat bius mulai bekerja
hingga membuat Alvin tidak sadarkan diri lagi.
***
Part
16
“Thank
you for hurting me, and make me understand that what I feel for you is love…”
Sudah
1 minggu berlalu sejak operasi dilakukan, Alvinpun sudah diperbolehkan pulang
sejak beberapa hari yang lalu. Dan Dokter menyarankan selama sebulan pertama
ini Alvin tidak melakukan olahraga terlalu berat yang nantinya dapat memicu
terbukanya jahitan bekas luka operasi. Jika ingin berolahraga, Alvin hanya
diperbolehkan untuk jalan kaki saja selama 30 menit. Alvin yang memang sudah
sejak awal bersiap dengan segala resiko yang akan ia terima akhirnya hanya bisa
menerima saran dari Dokter. Dan saat ia kembali kesekolah pada hari senin
nanti, Alvin akan mengundurkan diri sebagai kapten sepak bola sekolah sekaligus
juga Alvin akan mengundurkan diri dari tim sepak bola sekolah yang selama ini
menjadi salah satu hoby kecintaan Alvin sekaligus titian menuju impiannya. Ya…
sekarang Alvin telah melepaskan semuanya, semuanya tanpa terkecuali. Tetapi
meski telah melepaskan semuanya, Alvin tidak sedikitpun merasakan sebuah penyesalan
dihatinya.
Ia
bahagia karna dapat melakukan sesuatu untuk Gadis Teddy Bear nya.
“ini
Vin, susu nya! Kamu minum sampe habis, ya?” ujar Ibu Uchie penuh perhatian
seraya menyerahkan segelas susu hangat untuk Alvin. Alvin menerimanya lalu
menyeruputnya sedikit dan kembali meletakkan susu itu diatas meja.
“apa
yang kamu rasakan sekarang, nak? Bekas luka operasinya masih sakit nggak?”
Tanya Bu Uchie sedikit cemas yang memang sudah mengetahui tentang operasi
transplantasi ginjal yang dilakukan oleh Putera Bungsunya itu. Awalnya Bu Uchie
kaget dengan keputusan Alvin itu, tapi setelah Alvin menjelaskan semuanya,
akhirnya Bu Uchie mau mengerti dan dengan sangat berat hati membiarkan Alvin
melakukan operasi itu.
“udah
nggak sakit lagi kok, Mi. udahlah Mi, nggak usah terlalu cemas sama Alvin,
Alvin kan jagoan Mami…” ujar Alvin seraya menyentuh lembut tangan Maminya. Bu
Uchie memegang tangan Alvin lalu tersenyum. Alvin memang selalu bisa membuat
perasaannya terasa jauh lebih baik.
“bersiap
untuk ujian kenaikan kelas 3 bulan kedepan dan dapatkan nilai terbaik” ucap Pak
Duta dengan tenang tapi syarat akan sebuah peringatan keras pada Alvin.
Alvin
menghentikan sejenak aktifitas sarapan paginya. Entah kenapa nafsu makannya
langsung musnah seketika saat mendengarkan ucapan Papinya. Alvin tahu apa
maksud yang tersembunyi dibalik ucapan Papi nya barusan.
“nggak
perlu Papi suruh aku udah pasti ngelakuin hal itu kok. Tenang aja, Pi… aku
bakalan konsisten kok sama perjanjian aku diawal”
***
Via
sedikit terkejut ketika melihat Alvin yang saat itu sudah berdiri didepan
rumahnya bersama Honda Jazz putihnya. Alvin tersenyum amat lebar kearah Via
lalu melambaikan tangannya. Seperti biasa, Alvin tampak begitu ceria. Ia juga
sama sekali tidak menunjukan kekecewaan diraut wajahnya saat seminggu yang lalu
Via resmi memutuskan hubungan mereka.
Via
menghela napas pendek. Ternyata Alvin masih sama seperti ketika ia baru pertama
kali mengenalnya beberapa bulan yang lalu. Dan Alvin sama sekali tidak
menunjukan perubahan apapun padanya meskipun Via sudah menyakitinya.
“hay…
mantan pacar…” sapa Alvin seakan tanpa beban sama sekali.
Via
melangkah mendekati Alvin lalu berhenti tepat dihadapan Alvin.
“kok
gue dijemput? Kan kita udah mantanan…” ujar Via skeptis.
“biarpun
mantan tapi bukan berarti nggak bisa balikan lagi, kan?” ucap Alvin cepat yang
langsung nyelonong memasuki mobilnya tanpa mengajak Via.
Sementara
Via yang mendengarkan ucapan Alvin barusan hanya bisa melongo heran. Ia masih
sulit mencerna ucapan itu. Tapi yang pasti satu pertanyaan timbul dibenaknya
dan menggelitik hati kecilnya: apa Alvin serius dengan ucapannya itu?
Tin
tin tin!! Suara klakson yang sengaja Alvin bunyikan sebanyak 3 kali langsung
menyentak Via dan membuatnya terkesiap. Via lalu menoleh kearah Alvin yang saat
itu sudah duduk dengan manis dibelakang setir.
“ayo
masuk! Mau dihukum Pak Munir gara-gara kita telat? Lagian elo kan baru operasi
usus buntu, kan nggak lucu kalo nanti gue yang ngegantiin hukuman lo jadi 2
kali lipat”
Via
berdecak pelan, ia lalu menggelengkan kepalanya beberapa kali lantas memasuki
mobil Alvin dengan terpaksa. Catat! DENGAN-SANGAT-TERPAKSA.
Alvin
melirik sejenak kearah Via dengan senyuman mematikan yang selalu menjadi
andalannya. Tidak lama setelah itu, Alvin langsung menjalankan mobilnya
membelah jalan menuju kesekolahnya.
***
Semakin
hari Via semakin merasakan perubahan yang Cakka tunjukan. Jika dirinya
berpapasan dengan Cakka disekolah, Cakka pasti akan pura-pura tidak melihatnya.
Atau jika secara tidak sengaja pandangan mata mereka bertemu, Cakka pasti akan
buru-buru mengalihkan pandangannya lalu berjalan dengan santai melewati Via
seolah tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka.
Ada
segelintir rasa kecewa yang bergulir dihati kecilnya, kenapa sikap Cakka
mendadak berubah drastis seperti itu setelah sebelumnya ia sempat menyatakan
perasaannya pada Via? Apa Cakka hanya ingin mempermainkan perasaannya saja?
Atau apa Via pernah melakukan sebuah kesalahan fatal yang akhirnya membuat
Cakka marah besar hingga mendiamkannya seperti ini? Dan masih banyak lagi
ribuan tanda Tanya lainnya yang bergumul diotak Via. Jujur, ia merasa ada yang
berbeda jika Cakka terus-terusan mendiamkannya seperti ini. Dan entah kenapa,
Via merasa ada bagian dari hidupnya yang menghilang. Seberartikah itu Cakka
dalam hidupnya?
Disaat
ribuan tanda Tanya itu menggerayangi otaknya tanpa ampun, ada yang luput dari
kepekaan hatinya. Via tidak pernah tahu bahwa perasaan Cakka saat ini sama
hancurnya dengan perasaannya, atau bahkan mungkin lebih dari apa yang dapat Via
rasakan. Via tidak pernah tahu, bahwa Cakka selalu merasa sakit saat setiap
hari ia harus berusaha menghindari Via dan membohongi perasaannya sendiri.
Semuanya memang terasa serba sulit akhir-akhiran ini.
“Alvin
mengundurkan dari tim sepak bola sekolah” kata Agni dengan begitu hebohnya lalu
mengambil tempat duduk tepat disamping Via.
Via
yang kaget langsung menoleh kearah Agni. Apa Via tidak salah dengar? Masakah
Alvin mengundurkan diri dari tim sepak bola sekolah? Selama berpacaran dengan
Alvin, Via sangat tahu bagaimana besarnya kecintaan Alvin pada dunia sepak
bola, lantas kenapa sekarang Alvin malah mengundurkan diri dari hoby yang
menurutnya adalah dunianya itu?
Disaat
semuanya menampakkan respon kaget, Pricilla malah menunjukn respon sebaliknya. Ia
terlihat biasa saja dan seolah-olah ia
adalah orang pertama yang mengetahui kabar itu.
“elo
yang bener, Ag?” Tanya Via sedikit sanksi. Agni berdecak kecil, ia sama sekali
tidak habis pikir dengan sahabatnya yang satu ini. Bukan karna apapun, tapi mengingat
Via pernah berpacaran dengan Alvin rasa-rasanya sangat janggal jika Via tidak
tahu-menau soal kabar hengkangnya Alvin dari tim sepak bola sekolah.
“harusnya
gue yang nanya, elo yang bener nggak tau apa-apa soal kabar ini? Justru
sekarang gue minta konfirmasi lo tentang kebenaran kabar ini” kata Agni sedikit
kesal.
“gue
–“
“ya,
Alvin beneran keluar dari tim sepak bola sekolah, sejak 2 hari yang lalu”
potong Pricilla ditengah-tengah kebingungan Via yang tidak tahu harus
memberikan jawaban apa pada Agni. Kali ini semuanya menatap Pricilla dengan
pandangan menuntut jawaban yang lebih jelas lagi.
Pricilla
menghela nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. Menyimpan rahasia
sebesar ini bukanlah perkara gampang bagi Pricilla.
“kenapa,
Priss?” kali ini Via yang terdengar bertanya.
Pricilla
terdiam sejenak. Ia menatap wajah Via dengan pandangan menerawang, ia seakan
mencari sesuatu dari kedua mata itu. Dan ketika Pricilla tidak menemukan apa
yang ia cari disana, ia akhirnya buka suara.
“terkadang
kita harus mengorbankan sesuatu yang sangat berharga demi mencapai apa yang
kita inginkan”
Bukannya
mendapatkan jawaban diinginkan, mereka
malah semakin kebingungan dengan jawaban yang Pricilla berikan itu.
“maksud
lo?” Tanya Agni mewakili rasa penasaran teman-temannya yang lain.
Pricilla
mendesah, ia lalu mengedikkan kedua bahunya lantas dengan santainya menyedot
jus jeruk pesanannya.
Mendengar
jawaban yang tadi Pricilla lemparkan justru membuat perasaan Via menjadi tak
enak. Entah kenapa ia memiliki firasat buruk soal hengkangnya Alvin dari tim
sepak bola sekolah. Untuk saat ini, Via mungkin belum bisa membaca sebab
pastinya, tapi jauh didalam sana, hati kecilnya seakan membisikan bahwa semua
ini sangat berkaitan dengan dirinya. Via harus menanyakannya langsung pada
Alvin nanti.
Via
menghela napas lega saat ia akhirnya menemukan sebuah solusi. Tapi baru saja ia
dapat menghela napas lega, napasnya kembali tercekat saat kedua indera
pelihatnya menangkap sosok Cakka yang saat itu tengah berjalan menghampiri
mejanya dan teman-temannya. Dan Via nyaris tidak bisa bernapas saat kedua
langkah kaki itu semakin mendekat kearahnya. Diawal Via sempat berpikir bahwa
Cakka akan menghampirinya, tapi ternyata… Cakka berhenti tepat disamping Shilla
lalu merangkul Shilla dengan santainya. Hal ‘tak biasa’ yang Cakka lakukan itu
justru membuat beberapa pasang mata yang melihat adegan super langka itu terbelalak
maksimal, tidak terkecuali dirinya, Ify, Agni, Pricilla, dan yang pasti Shilla.
“Shill…
aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Ini tentang…. Kita…” sadar atau tidak sadar,
saat Cakka mengucapkan 3 kata terakhirnya, pandangan matanya justru tertuju
pada Via. Ia bersikap seolah-olah ia sengaja melakukan hal itu, dan Via dapat
menangkap semuanya dengan sangat kentara. Via lalu menunduk dalam, rasanya ada
yang terbakar jauh didalam sana.
“a…
apa?” Tanya Shilla gugup sambil sesekali melirik takut-takut kearah Via.
“nggak
disini, Shill. Aku Cuma mau ngomong berdua sama kamu, bisa?”
“bi…
bisa…” jawab Shilla pendek yang masih belum bisa menteralisir rasa gugupnya.
Sial! Umpatnya dalam hati.
“ya
udah yuk!” Cakka menuntun Shilla untuk berdiri. Ia pun menggandeng lengan
Shilla lalu membawanya keluar dari kantin.
Rasa
sesak itu semakin jelas terasa. Via pun merasakan kedua matanya mulai menghangat.
Dari sikap yang Cakka tunjukan barusan, Via bisa menarik kesimpulan bahwa
ternyata Cakka hanya ingin mempermainkan perasaannya saja.
Tidak
hanya hati Via seorang yang tersakiti disana, ada sebentuk hati lain yang juga
sama-sama tersakiti. Tapi ia merasa tersakiti bukan karna adegan super romantis
yang ditunjukan oleh Cakka pada Shilla untuk yang pertama kalinya itu, ia sakit
karna mendapati kenyataan bahwa ia ternyata benar-benar jatuh cinta pada
makhluk es itu dan ia tidak bisa mengungkapkan perasaannya apalagi memilikinya.
Tanpa
sadar Agni menggebrak meja kantin dan membuat beberapa orang yang berada
disekelilingnya merasa sedikit terkejut. Agni lalu bangkit dari kursinya dan
memilih untuk hengkang dari tempat itu.
“damn it!!” umpatnya dalam hati sambil
berlalu pergi.
***
Tidak
jauh setelah mereka meninggalkan kantin, Shilla langsung melepaskan tangannya
dari genggaman Cakka dengan sedikit kasar. Shilla lalu menghentikan langkahnya
dan membuat Cakka menyadari bahwa tangannya sudah tidak ada lagi dalam
genggaman Cakka. Dan saat Cakka menyadari bahwa tangan itu sudah terlepas
dengan setengah paksa dari genggamannya, Cakka langsung menghentikan langkahnya
dan menoleh kebelakang, menatap Shilla dengan pandangan bertanya.
“kenapa,
Shill?” Tanya Cakka tidak mengerti.
Shilla
tersenyum miris. Lama-lama ia merasa muak juga dengan tingkah tidak berdosa
yang selalu ditunjukan Cakka.
“kamu
masih Tanya kenapa? Masih bisa kamu nanya kayak gitu?” Tanya Shilla dengan nada
meninggi. Dan Shilla sama sekali tidak pandai menyembunyikan getaran dalam nada
suaranya yang lirih.
Gabriel
yang saat itu kebetulan lewat secara tidak sengaja melihat Cakka dan Shilla
yang terlihat sedang mengobrol serius. Gabriel langsung menghentikan langkahnya
dan memilih untuk bersembunyi dibelakang salah satu pilar dan berusaha
menguping obrolan kedua orang itu.
“kamu
selama ini emang nggak pernah tau atau pura-pura nggak tau sih, Kka?”
“maksud
kamu apa?!” Tanya Cakka tak paham. Sementara Gabriel, ia semakin mempertajam
pendengarannya.
“disini,
Kka… disini! Disini rasanya sakit, apa kamu pernah tahu? Pura-pura nggak tahu
atau kamu emang nggak pernah mau tau tahu??” kali ini Shilla membiarkan air
matanya lolos begitu saja.
Hari
ini pertahannya telah rubuh, dan hari ini juga dia akan mengatakan yang
sebenarnya pada Cakka, tak peduli tentang bagaimana nantinya tanggapan Cakka.
Yang jelas, Shilla ingin mengatakan semuanya dan mengakhiri segalanya. Disini.
Ditempat ini. Didetik ini juga.
“Seakan
rasaku
Semua perhatianku
Hanya berlalu
Kau pergi tinggalkanku
Meski kudisini masih menanti mu
Hanya dirimu…”
Semua perhatianku
Hanya berlalu
Kau pergi tinggalkanku
Meski kudisini masih menanti mu
Hanya dirimu…”
“aku
sayang sama kamu, Cakka… aku sangat sayaaang sama kamu. Tapi kamu… tapi kamu
nggak pernah mau tahu dan berusaha untuk tahu…” sama-samar isakkan itu mulai
terdengar pelan.
Perih.
Itulah hal pertama yang Gabriel rasakan manakala indera pendengarnya menangkap
pengakuan Shilla. Pengakuan yang selama ini selalu ia tunggu, tapi saat Shilla
mengeluarkan pengakuan itu, pengakuan itu malah bukan untuknnya, melainkan
untuk Cakka, sahabat kentalnya sendiri. Gabriel merasakan seolah ada jutaan
silet yang menyayat hatinya tanpa ampun. Rongga pernapasannya pun seakan terasa
ada yang menghimpit hingga menimbulkan sesak.
“Tak adakah sedikit ruang bagiku
Untuk mu kembali disini…”
Ternyata
ruang dihati Shilla yang dulu hanya untuknya kini ada yang mengganti. Kesempatan
untuk kembali meraih cinta Shilla sudah tidak ada lagi untuknya. Final, semuanya
berakhir sampai disini tanpa kejelasan. Gabriel tersenyum miris lalu melangkah
pergi meninggalkan tempat itu, tempat yang telah membuatnya merasa kehilangan
separuh nyawanya.
Cakka
berusaha mencerna baik-baik apa yang baru saja ia dengar dari Shilla. Pengakuan
gadis itu benar-benar membuat otaknya berhenti bekerja dalam beberapa detik.
“ka…
kamu…?”
“sulit
kan untuk kamu mempercayai ini? Iya kan? Aku tahu kalo hati kamu itu nggak
pernah buat aku, aku tau mustahil buat bisa bikin kamu sayang sama aku seperti
aku sayang sama kamu, tapi seenggaknya kamu hargain perasaan aku sedikiit aja.
Kalo kamu nggak bisa hargain perasaan aku, minimal kamu jangan lakuin sesuatu
yang bikin aku sakit, Kka…”
“Shilla
–“
“aku
tahu yang kamu sayang itu Via, aku tahu betul gimana besarnya perasaan kamu
untuk Via, tapi kalo kamu nggak bisa menggapai dia seperti apa yang kamu
impiin, bukan berarti kamu harus segera berlari ke aku dan jadiin aku sebagai
pelarian kan, Kka? Iya kan? Aku udah cukup sakit dengan perasaan bertepuk
sebelah tangan ini, jadi tolong aku minta jangan tambah lagi rasa sakit ini.
Aku capek, Kka…. Aku capek…”
“Shill…
nggak pernah sedetik pun terlintas dikepala aku buat sengaja nyakitin kamu
kayak gini, nggak ada sedikitpun niat yang terbersit dihati aku buat jadiin
kamu pelarian. Aku Cuma… aku Cuma –“
“kamu
Cuma nggak tau tentang perasaan aku kan, Kka? Iya kan?”
“Shilla
dengerin aku, aku –“
“cukup,
Kka… cukup! Aku udah nggak mau denger apa-apa lagi, dan aku bener-bener nggak
mau nambah beban pikiran kamu. Aku tahu saat ini kamu sedang kalut, dan aku
nggak seharusnya aku kayak gini. Aku minta maaf. lupain semua apa yang aku
katakan tadi… lupain semuanya.. dan ini …” Shilla membuka cincin pertunangannya
dari jari manisnya, ia lalu meraih tangan kanan Cakka lalu menyerahkan cincin
itu secara paksa. “ cincin ini kamu ambil. Ikatan ini kita putuskan saja, dan
masalah orang tua kita, kamu nggak perlu cemas, aku udah jelasin semuanya ke
Mama Papa aku dan Tante Shanaz, Cuma Om Edgar yang belum tau, dan itu tugas
kamu untuk ngasih tau Om…”
“Shill…
jangan kayak gini Shill…”
“kamu
dulu pernah janji kan, kalo kamu akan ngebebasin aku dari ikatan ini? Dan
sekarang aku mau tagih janji itu…”
Itulah
ucapan terakhir Shilla sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan Cakka dengan
hatinya yang sudah hancur berkeping-keping. Tentu akan sangat sulit bagi Shilla
untuk menyatukan kembali kepingan-kepingan yang telah berserakan itu, tapi
Shilla percaya, bahwa badai akan selalu berlalu dan tergantikan oleh sinar
matahari yang menenangkan. Semua ini hanya sebagian dari proses yang harus ia
lewati.
Shilla
menyeka air matanya, lalu berusaha untuk tersenyum. Entah kenapa hatinya seakan
berbisik dan memintanya untuk segera menemui seseorang yang pastinya akan bisa
menenangkan perasaannya. Shilla sudah benar-benar tidak sabar untuk segera
menemuinya. Gabriel.
***
“kenapa
lo mengundurkan diri dari ekskul bola?” ujar Via tegas dihadapan Alvin yang
saat itu sedang menyendiri dibangkunya sambil membaca sebuah buku paket biology.
Via berusaha keras melupakan rasa sakitnya saat bayang-bayang Cakka yang sedang
menarik tangan Shilla kembali menari-nari dalam otaknya. Focus Via sekarang ini
adalah Alvin, bukannya Cakka.
“nanyanya
yang nyante dong, Mbak! Jangan kayak ngintrogasi tersangka pemubunhan gitu?
Jadi ngeri gue…” jawab Alvin dengan sebuah candaan yang malah membuat Via
merasa kesal.
“gue
serius, Alvino Joshua Aryadinata!”
Alvin
memejamkan matanya sejenak lalu menutup buku yang sejak tadi menjadi titik
fokusnya. Jawaban apa yang harus ia berikan pada Via jika sudah seperti ini?
“oke,
gue ngundurin diri dari ekskul bola karna gue mau focus belajar. Lo tau? Gue
udah muak sama tingkah Bokap gue yang selalu dan selalu aja
ngebanding-bandingin gue sama Cakka dalam segala hal. Dan sekarang ini, gue
berusaha focus belajar dan ninggalin bola demi bisa ngebuktiin sama Bokap gue
kalo gue bisa lebih dari Cakka, dan gue mau supaya Bokap gue nggak meremehkan
gue lagi. Dan gue pikir, jadi Dokter itu lebih banyak duitnya dari pada jadi
pemain bola ataupun photographer…”
Setelah
mendengarkan penjelasan Alvin, Via langsung menggelengkan kepalanya beberapa
kali. Ia seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja Alvin ucapkan. Ia tahu,
bahkan sangat tahu, bahwa Alvin yang selama ini kenal tidak seperti ini. Ini
jelas bukan diri Alvin.
“ini bukan Alvin yang
gue kenal. Alvin yang gue kenal selama ini adalah Alvin yang pantang menyerah
dan selalu melakukan apapun demi keinginanya, Alvin yang selama gue kenal
adalah Alvin yang keras kepala dan nggak lemah kayak gini… ini bukan Alvin yang
gue kenal.”
“sejauh
apa lo ngenal Alvin yang dulu? Gue pikir lo nggak pernah mau ngenal gue selama
ini”
Telak.
Perkataan Alvin itu benar-benar telak menghantam dada Via tanpa ampun. Tidak pernah
terpikirkan olehnya bahwa kata-kata itu akan meluncur dengan sempurna dari
bibir Alvin.
“Alvin
–“
“faktanya
selama ini Cakka selalu lebih segala-galanya dari gue. Cakka bukan hanya bisa
menarik hati Bokap gue, tapi Cakka juga bisa menarik hati cewek yang gue
sayang. Dan dalam segala hal, Cakka selalu jadi pemenangnya, sementara gue, gue
selalu jadi pihak yang terkalahkan. Dan lo tau? Gue nggak mau terus-terusan
seperti itu dan gue nggak mau terus-terusan jadi pihak yang selalu
terkalahkan…”
“elo
masih bisa ngelakuin sebuah pembuktian tanpa harus mengubah jati diri lo!”
“memangnya
siapa yang mau peduli sama jati diri gue? Elo? Bokap gue? Atau bahkan Cakka?
Gue rasa nggak satupun dari kalian yang mau peduli sama jati dari gue…”
“Alvin
cukup!!”
Alvin
tersenyum miris. Ia menatap kedua mata Via sedalam mungkin lantas berucap
dengan nada yang terdengar sangat tenang namun menghanyutkan.
“dan
buat elo, Vi. apa nggak ada sedikitpun ruang dihati lo
buat gue, Vi? Sedikiiittt aja apa nggak ada sama sekali??”
Via berusaha memberanikan dirinya untuk membalas tatapan
Alvin. Untuk beberapa saat mereka sama-sama terdiam sambil saling menatap satu
sama lain. Tidak lama kemudian…
“maafin gue… tapi gue nggak bisa ngasih tempat dihati gue
untuk seseorang yang udah kehilangan jati dirinya…”
“gue tau!” jawab Alvin pasrah.
***
“Kini maafkanlah aku
Bila ku menjadi bisu kepada dirimu
Bukan santunku terbungkam
Hanya hatiku berbatas tuk mengerti
kamu
Maafkanlah aku….”
Via kembali berpapasan dengan Cakka saat jam pulang
sekolah tiba. Seperti biasa, Cakka menghentikan langkahnya sejenak, menatap Via
dalam beberapa detik dengan canggung lantas kembali melanjutkan langkahnya dan
bersikap seolah-olah Via tidak pernah ada didepan matanya.
Merasa muak dengan sikap Cakka itu, Via apun akhirnya
memilih untuk buka suara dan menyampaikan isi hatinya yang sebenarnya.
“kenapa harus seperti ini, Cakka? Kenapa kamu harus
bersikap seolah-olah kamu nggak pernah ngeliat saya kayak gini?? Apa salah saya??”
ujar Via lirih tanpa menoleh kearah Cakka. Saat itu Cakka dan Via berada dalam
posisi yang sama-sama saling membelakangi satu sama lain.
Cakka memejamkan matanya, ia menghela napas dalam-dalam
lalu menghembuskannya secara perlahan. Cakka berusaha menahan sesak didadanya,
saat ini Cakka merasa ada ribuan tangan raksasa yang sedang meremas jantungnya
tanpa ampun.
“terus apa artinya kata cinta yang pernah kamu ucapin ke
saya? Apa kamu Cuma mainin perasaan saya? Apa kamu Cuma mau main-main sama saya
tanpa mikirin perasaan saya??”
Cakka masih bergeming dan belum mau buka suara.
“kalo emang itu tujuan kamu, KAMU BERHASIL CAKKA. KAMU
BERHASIL MAININ PERASAAN SAYA. Makasih buat semuanya, makasih buat luka yang
udah kamu toreh…” sebulir air mata Via jatuh tanpa bisa ia tahan.
Dan Cakka semakin perih saat mendengarkan perkataan Via
itu. Tidak, Cakka sama sekali tidak memiliki niat sedikitpun untuk menyakiti
perasaan Via apalagi melukainya. Cakka hanya ingin membuang jauh-jauh
perasaannya pada Via, itu saja. Dan Cakka hanya tidak bisa menemukan cara yang
pas untuk melepaskan gadis ini selain harus menghindarinya. Hanya cara itu yang
bisa ia lakukan tanpa harus mengatakan apa yang sebenarnya disaat yang tidak
tepat seperti ini.
“apa kamu mau tahu satu hal, Cakka?” kali ini Via menoleh
kearah Cakka yang saat itu masih membelaknginya. Cakka masih tetap bertahan
dengan kebisuannya.
Via menghela napas panjangnya sebelum akhirnya ia
melanjutkan ucapannya.
“saya menyesal karna sudah menyayangi kamu dan memberikan
seluruh hati saya buat kamu. SAYA-SANGAT-MENYESAL….” Ujar Via dengan tegas lalu
berbalik pergi dengan isakkan yang sudah tidak kuasa ia tahan lagi. Kenyataan
ini terlalu menyesakkan baginya.
Dan beberapa saat setelah kepergian Via, Cakka langsung
memutar tubuhnya dan menatap kepergian Via sambil meratap.
“tapi saya Kakak kamu, Via… saya Kakak tiri kamu yang
sudah merebut segalanya dari kamu dan menghancurkan hidup kamu. Bagaimana saya
harus menjelaskan semuanya? Bagaimana…?” lirih Cakka pelan tanpa bisa menahan
sesak didadanya.
“kenapa kayaknya susah banget lo ngejelasin semuanya ke
Via?” ucap seseorang yang tiba-tiba saja sudah berdiri tepat dibelakang Cakka.
Mendengar ada sebuah suara yang begitu familiar menyapa
gendang telinga nya, Cakka langsung menoleh kebelakang dan mendapati Alvin yang
saat itu tengah berdiri dengan santainya sambil bersandar pada salah satu
pilar, Alvin memasukan kedua tangannya pada kedua sisi kantong celana
seragamnya. Cakka menatap Alvin dengan pandangan heran, bingung apa maksud dari
ucapan Alvin itu, apa jangan-jangan….?
“atau apa lo perlu bantuan dari gue buat bilang yang
sebenernya ke Via kalo lo itu –“ jeda Alvin sesaat lalu berjalan perlahan
menghampiri Cakka dengan gayanya yang tetap santai.
“kakak tirinya dia…” bisik Alvin pelan depan telinga
Cakka seakan takut seisi dunia akan mendengarkan bisikannya.
Cakka tersentak. Darimana Alvin tahu semuanya? Ia bahkan
belum mengatakan hal ini pada siapapun. Tapi Cakka yang memang tidak mau ambil
pusing langsung menatap Alvin dengan tatapannya yang selalu terlihat tenang.
“lo nggak perlu susah-susah ngasih tau Via, karna nanti
gue pasti akan ngasih tau dia kalo waktunya tepat…”
“waktu yang tepat? Kapan? Lo mau liat Via mati secara
perlahan karna perasaannya ke elo? HAH?!” Kata Alvin mulai tak tahan.
“Alvin, lo nggak perlu ngelakuin apapun buat gue. Yang
perlu lo lakuin Cuma satu hal, dan itu buat Via!” kata Cakka seraya
mengacungkan jari telunjuknya.
“apa?” Tanya Alvin yang merasa sedikit penasaran. Alvin
juga berusaha keras menahan emosinya agar tidak terjadi pertengkaran antara
dirinya dengan Cakka seperti waktu itu.
“rebut hati Via, dan jadikan dia milik lo!!”
BERSAMBUNG….



0 comments:
Post a Comment