Monday, March 3, 2014

0

You’re Mine [Part 16: Thank You For Hurting Me]













Sebelumnya…


            Sekarang Alvin telah melepaskan segalanya, impiannya, cita-citanya, kebebasannya, juga separuh hidupnya. Dan Alvin rela melakukan semua itu hanya demi Via. Alvin tersenyum kecil, dalam hati ia berharap semoga pengorbanannya ini akan menjadi pengorbanan termanis yang pernah ia lakukan.
            Alvin menoleh kesamping, dan disana ia sudah mendapati Via yang saat itu sudah terbaring diatas meja operasi dalam keadaan tidak sadarkan diri. Tanpa bisa Alvin tahan, sebulir air mata itu menetes keluar. Air mata itu bukanlah air mata penyesalan, melainkan air mata bahagia.
            Alvin lalu secara perlahan mengangkat tangan kanannya lalu meraih tangan Via yang jaraknya tidak terlalu jauh. Alvin menggenggam lembut tangan itu, dan entah kenapa, saat tangan kokohnya menggenggam lembut jemari-jemari itu, Alvin merasakan sebuah ketenangan dan kedamaian.

            “kamu siap, Alvin?” Tanya Dokter Aninda untuk yang terakhir kalinya.

            Alvin mengangguk pasti seraya menggumamkan kata “Iya”. Dokter Aninda tersenyum kecil lantas menyuntikkan obat bius pada tubuh Alvin. Beberapa detik kemudian, efek obat bius mulai bekerja hingga membuat Alvin tidak sadarkan diri lagi.



***

Part 16


“Thank you for hurting me, and make me understand that what I feel for you is love…”


            Sudah 1 minggu berlalu sejak operasi dilakukan, Alvinpun sudah diperbolehkan pulang sejak beberapa hari yang lalu. Dan Dokter menyarankan selama sebulan pertama ini Alvin tidak melakukan olahraga terlalu berat yang nantinya dapat memicu terbukanya jahitan bekas luka operasi. Jika ingin berolahraga, Alvin hanya diperbolehkan untuk jalan kaki saja selama 30 menit. Alvin yang memang sudah sejak awal bersiap dengan segala resiko yang akan ia terima akhirnya hanya bisa menerima saran dari Dokter. Dan saat ia kembali kesekolah pada hari senin nanti, Alvin akan mengundurkan diri sebagai kapten sepak bola sekolah sekaligus juga Alvin akan mengundurkan diri dari tim sepak bola sekolah yang selama ini menjadi salah satu hoby kecintaan Alvin sekaligus titian menuju impiannya. Ya… sekarang Alvin telah melepaskan semuanya, semuanya tanpa terkecuali. Tetapi meski telah melepaskan semuanya, Alvin tidak sedikitpun merasakan sebuah penyesalan dihatinya.
            Ia bahagia karna dapat melakukan sesuatu untuk Gadis Teddy Bear nya.

            “ini Vin, susu nya! Kamu minum sampe habis, ya?” ujar Ibu Uchie penuh perhatian seraya menyerahkan segelas susu hangat untuk Alvin. Alvin menerimanya lalu menyeruputnya sedikit dan kembali meletakkan susu itu diatas meja.

            “apa yang kamu rasakan sekarang, nak? Bekas luka operasinya masih sakit nggak?” Tanya Bu Uchie sedikit cemas yang memang sudah mengetahui tentang operasi transplantasi ginjal yang dilakukan oleh Putera Bungsunya itu. Awalnya Bu Uchie kaget dengan keputusan Alvin itu, tapi setelah Alvin menjelaskan semuanya, akhirnya Bu Uchie mau mengerti dan dengan sangat berat hati membiarkan Alvin melakukan operasi itu.

            “udah nggak sakit lagi kok, Mi. udahlah Mi, nggak usah terlalu cemas sama Alvin, Alvin kan jagoan Mami…” ujar Alvin seraya menyentuh lembut tangan Maminya. Bu Uchie memegang tangan Alvin lalu tersenyum. Alvin memang selalu bisa membuat perasaannya terasa jauh lebih baik.

            “bersiap untuk ujian kenaikan kelas 3 bulan kedepan dan dapatkan nilai terbaik” ucap Pak Duta dengan tenang tapi syarat akan sebuah peringatan keras pada Alvin.

            Alvin menghentikan sejenak aktifitas sarapan paginya. Entah kenapa nafsu makannya langsung musnah seketika saat mendengarkan ucapan Papinya. Alvin tahu apa maksud yang tersembunyi dibalik ucapan Papi nya barusan.

            “nggak perlu Papi suruh aku udah pasti ngelakuin hal itu kok. Tenang aja, Pi… aku bakalan konsisten kok sama perjanjian aku diawal”




***

            Via sedikit terkejut ketika melihat Alvin yang saat itu sudah berdiri didepan rumahnya bersama Honda Jazz putihnya. Alvin tersenyum amat lebar kearah Via lalu melambaikan tangannya. Seperti biasa, Alvin tampak begitu ceria. Ia juga sama sekali tidak menunjukan kekecewaan diraut wajahnya saat seminggu yang lalu Via resmi memutuskan hubungan mereka.
            Via menghela napas pendek. Ternyata Alvin masih sama seperti ketika ia baru pertama kali mengenalnya beberapa bulan yang lalu. Dan Alvin sama sekali tidak menunjukan perubahan apapun padanya meskipun Via sudah menyakitinya.

            “hay… mantan pacar…” sapa Alvin seakan tanpa beban sama sekali.

            Via melangkah mendekati Alvin lalu berhenti tepat dihadapan Alvin.

            “kok gue dijemput? Kan kita udah mantanan…” ujar Via skeptis.

            “biarpun mantan tapi bukan berarti nggak bisa balikan lagi, kan?” ucap Alvin cepat yang langsung nyelonong memasuki mobilnya tanpa mengajak Via.

            Sementara Via yang mendengarkan ucapan Alvin barusan hanya bisa melongo heran. Ia masih sulit mencerna ucapan itu. Tapi yang pasti satu pertanyaan timbul dibenaknya dan menggelitik hati kecilnya: apa Alvin serius dengan ucapannya itu?

            Tin tin tin!! Suara klakson yang sengaja Alvin bunyikan sebanyak 3 kali langsung menyentak Via dan membuatnya terkesiap. Via lalu menoleh kearah Alvin yang saat itu sudah duduk dengan manis dibelakang setir.

            “ayo masuk! Mau dihukum Pak Munir gara-gara kita telat? Lagian elo kan baru operasi usus buntu, kan nggak lucu kalo nanti gue yang ngegantiin hukuman lo jadi 2 kali lipat”

            Via berdecak pelan, ia lalu menggelengkan kepalanya beberapa kali lantas memasuki mobil Alvin dengan terpaksa. Catat! DENGAN-SANGAT-TERPAKSA.
            Alvin melirik sejenak kearah Via dengan senyuman mematikan yang selalu menjadi andalannya. Tidak lama setelah itu, Alvin langsung menjalankan mobilnya membelah jalan menuju kesekolahnya.



***

           
            Semakin hari Via semakin merasakan perubahan yang Cakka tunjukan. Jika dirinya berpapasan dengan Cakka disekolah, Cakka pasti akan pura-pura tidak melihatnya. Atau jika secara tidak sengaja pandangan mata mereka bertemu, Cakka pasti akan buru-buru mengalihkan pandangannya lalu berjalan dengan santai melewati Via seolah tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka.
            Ada segelintir rasa kecewa yang bergulir dihati kecilnya, kenapa sikap Cakka mendadak berubah drastis seperti itu setelah sebelumnya ia sempat menyatakan perasaannya pada Via? Apa Cakka hanya ingin mempermainkan perasaannya saja? Atau apa Via pernah melakukan sebuah kesalahan fatal yang akhirnya membuat Cakka marah besar hingga mendiamkannya seperti ini? Dan masih banyak lagi ribuan tanda Tanya lainnya yang bergumul diotak Via. Jujur, ia merasa ada yang berbeda jika Cakka terus-terusan mendiamkannya seperti ini. Dan entah kenapa, Via merasa ada bagian dari hidupnya yang menghilang. Seberartikah itu Cakka dalam hidupnya?
            Disaat ribuan tanda Tanya itu menggerayangi otaknya tanpa ampun, ada yang luput dari kepekaan hatinya. Via tidak pernah tahu bahwa perasaan Cakka saat ini sama hancurnya dengan perasaannya, atau bahkan mungkin lebih dari apa yang dapat Via rasakan. Via tidak pernah tahu, bahwa Cakka selalu merasa sakit saat setiap hari ia harus berusaha menghindari Via dan membohongi perasaannya sendiri. Semuanya memang terasa serba sulit akhir-akhiran ini.

            “Alvin mengundurkan dari tim sepak bola sekolah” kata Agni dengan begitu hebohnya lalu mengambil tempat duduk tepat disamping Via.

            Via yang kaget langsung menoleh kearah Agni. Apa Via tidak salah dengar? Masakah Alvin mengundurkan diri dari tim sepak bola sekolah? Selama berpacaran dengan Alvin, Via sangat tahu bagaimana besarnya kecintaan Alvin pada dunia sepak bola, lantas kenapa sekarang Alvin malah mengundurkan diri dari hoby yang menurutnya adalah dunianya itu?
            Disaat semuanya menampakkan respon kaget, Pricilla malah menunjukn respon sebaliknya. Ia terlihat biasa saja dan  seolah-olah ia adalah orang pertama yang mengetahui kabar itu.

            “elo yang bener, Ag?” Tanya Via sedikit sanksi. Agni berdecak kecil, ia sama sekali tidak habis pikir dengan sahabatnya yang satu ini. Bukan karna apapun, tapi mengingat Via pernah berpacaran dengan Alvin rasa-rasanya sangat janggal jika Via tidak tahu-menau soal kabar hengkangnya Alvin dari tim sepak bola sekolah.

            “harusnya gue yang nanya, elo yang bener nggak tau apa-apa soal kabar ini? Justru sekarang gue minta konfirmasi lo tentang kebenaran kabar ini” kata Agni sedikit kesal.

            “gue –“

            “ya, Alvin beneran keluar dari tim sepak bola sekolah, sejak 2 hari yang lalu” potong Pricilla ditengah-tengah kebingungan Via yang tidak tahu harus memberikan jawaban apa pada Agni. Kali ini semuanya menatap Pricilla dengan pandangan menuntut jawaban yang lebih jelas lagi.
            Pricilla menghela nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. Menyimpan rahasia sebesar ini bukanlah perkara gampang bagi Pricilla.

            “kenapa, Priss?” kali ini Via yang terdengar bertanya.

            Pricilla terdiam sejenak. Ia menatap wajah Via dengan pandangan menerawang, ia seakan mencari sesuatu dari kedua mata itu. Dan ketika Pricilla tidak menemukan apa yang ia cari disana, ia akhirnya buka suara.

            “terkadang kita harus mengorbankan sesuatu yang sangat berharga demi mencapai apa yang kita inginkan”

            Bukannya mendapatkan jawaban  diinginkan, mereka malah semakin kebingungan dengan jawaban yang Pricilla berikan itu.

            “maksud lo?” Tanya Agni mewakili rasa penasaran teman-temannya yang lain.

            Pricilla mendesah, ia lalu mengedikkan kedua bahunya lantas dengan santainya menyedot jus jeruk pesanannya.
            Mendengar jawaban yang tadi Pricilla lemparkan justru membuat perasaan Via menjadi tak enak. Entah kenapa ia memiliki firasat buruk soal hengkangnya Alvin dari tim sepak bola sekolah. Untuk saat ini, Via mungkin belum bisa membaca sebab pastinya, tapi jauh didalam sana, hati kecilnya seakan membisikan bahwa semua ini sangat berkaitan dengan dirinya. Via harus menanyakannya langsung pada Alvin nanti.
            Via menghela napas lega saat ia akhirnya menemukan sebuah solusi. Tapi baru saja ia dapat menghela napas lega, napasnya kembali tercekat saat kedua indera pelihatnya menangkap sosok Cakka yang saat itu tengah berjalan menghampiri mejanya dan teman-temannya. Dan Via nyaris tidak bisa bernapas saat kedua langkah kaki itu semakin mendekat kearahnya. Diawal Via sempat berpikir bahwa Cakka akan menghampirinya, tapi ternyata… Cakka berhenti tepat disamping Shilla lalu merangkul Shilla dengan santainya. Hal ‘tak biasa’ yang Cakka lakukan itu justru membuat beberapa pasang mata yang melihat adegan super langka itu terbelalak maksimal, tidak terkecuali dirinya, Ify, Agni, Pricilla, dan yang pasti Shilla.

            “Shill… aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Ini tentang…. Kita…” sadar atau tidak sadar, saat Cakka mengucapkan 3 kata terakhirnya, pandangan matanya justru tertuju pada Via. Ia bersikap seolah-olah ia sengaja melakukan hal itu, dan Via dapat menangkap semuanya dengan sangat kentara. Via lalu menunduk dalam, rasanya ada yang terbakar jauh didalam sana.

            “a… apa?” Tanya Shilla gugup sambil sesekali melirik takut-takut kearah Via.

            “nggak disini, Shill. Aku Cuma mau ngomong berdua sama kamu, bisa?”

            “bi… bisa…” jawab Shilla pendek yang masih belum bisa menteralisir rasa gugupnya. Sial! Umpatnya dalam hati.

            “ya udah yuk!” Cakka menuntun Shilla untuk berdiri. Ia pun menggandeng lengan Shilla lalu membawanya keluar dari kantin.

            Rasa sesak itu semakin jelas terasa. Via pun merasakan kedua matanya mulai menghangat. Dari sikap yang Cakka tunjukan barusan, Via bisa menarik kesimpulan bahwa ternyata Cakka hanya ingin mempermainkan perasaannya saja.
            Tidak hanya hati Via seorang yang tersakiti disana, ada sebentuk hati lain yang juga sama-sama tersakiti. Tapi ia merasa tersakiti bukan karna adegan super romantis yang ditunjukan oleh Cakka pada Shilla untuk yang pertama kalinya itu, ia sakit karna mendapati kenyataan bahwa ia ternyata benar-benar jatuh cinta pada makhluk es itu dan ia tidak bisa mengungkapkan perasaannya apalagi memilikinya.
            Tanpa sadar Agni menggebrak meja kantin dan membuat beberapa orang yang berada disekelilingnya merasa sedikit terkejut. Agni lalu bangkit dari kursinya dan memilih untuk hengkang dari tempat itu.

            “damn it!!” umpatnya dalam hati sambil berlalu pergi.




***


            Tidak jauh setelah mereka meninggalkan kantin, Shilla langsung melepaskan tangannya dari genggaman Cakka dengan sedikit kasar. Shilla lalu menghentikan langkahnya dan membuat Cakka menyadari bahwa tangannya sudah tidak ada lagi dalam genggaman Cakka. Dan saat Cakka menyadari bahwa tangan itu sudah terlepas dengan setengah paksa dari genggamannya, Cakka langsung menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang, menatap Shilla dengan pandangan bertanya.

            “kenapa, Shill?” Tanya Cakka tidak mengerti.

            Shilla tersenyum miris. Lama-lama ia merasa muak juga dengan tingkah tidak berdosa yang selalu ditunjukan Cakka.

            “kamu masih Tanya kenapa? Masih bisa kamu nanya kayak gitu?” Tanya Shilla dengan nada meninggi. Dan Shilla sama sekali tidak pandai menyembunyikan getaran dalam nada suaranya yang lirih.

            Gabriel yang saat itu kebetulan lewat secara tidak sengaja melihat Cakka dan Shilla yang terlihat sedang mengobrol serius. Gabriel langsung menghentikan langkahnya dan memilih untuk bersembunyi dibelakang salah satu pilar dan berusaha menguping obrolan kedua orang itu.

            “kamu selama ini emang nggak pernah tau atau pura-pura nggak tau sih, Kka?”

            “maksud kamu apa?!” Tanya Cakka tak paham. Sementara Gabriel, ia semakin mempertajam pendengarannya.

            “disini, Kka… disini! Disini rasanya sakit, apa kamu pernah tahu? Pura-pura nggak tahu atau kamu emang nggak pernah mau tau tahu??” kali ini Shilla membiarkan air matanya lolos begitu saja.

            Hari ini pertahannya telah rubuh, dan hari ini juga dia akan mengatakan yang sebenarnya pada Cakka, tak peduli tentang bagaimana nantinya tanggapan Cakka. Yang jelas, Shilla ingin mengatakan semuanya dan mengakhiri segalanya. Disini. Ditempat ini. Didetik ini juga.

“Seakan rasaku
Semua perhatianku
Hanya berlalu
Kau pergi tinggalkanku
Meski kudisini masih menanti mu
Hanya dirimu…”

            “aku sayang sama kamu, Cakka… aku sangat sayaaang sama kamu. Tapi kamu… tapi kamu nggak pernah mau tahu dan berusaha untuk tahu…” sama-samar isakkan itu mulai terdengar pelan.

            Perih. Itulah hal pertama yang Gabriel rasakan manakala indera pendengarnya menangkap pengakuan Shilla. Pengakuan yang selama ini selalu ia tunggu, tapi saat Shilla mengeluarkan pengakuan itu, pengakuan itu malah bukan untuknnya, melainkan untuk Cakka, sahabat kentalnya sendiri. Gabriel merasakan seolah ada jutaan silet yang menyayat hatinya tanpa ampun. Rongga pernapasannya pun seakan terasa ada yang menghimpit hingga menimbulkan sesak.


“Tak adakah sedikit ruang bagiku
Untuk mu kembali disini…”


            Ternyata ruang dihati Shilla yang dulu hanya untuknya kini ada yang mengganti. Kesempatan untuk kembali meraih cinta Shilla sudah tidak ada lagi untuknya. Final, semuanya berakhir sampai disini tanpa kejelasan. Gabriel tersenyum miris lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu, tempat yang telah membuatnya merasa kehilangan separuh nyawanya.

            Cakka berusaha mencerna baik-baik apa yang baru saja ia dengar dari Shilla. Pengakuan gadis itu benar-benar membuat otaknya berhenti bekerja dalam beberapa detik.

            “ka… kamu…?”

            “sulit kan untuk kamu mempercayai ini? Iya kan? Aku tahu kalo hati kamu itu nggak pernah buat aku, aku tau mustahil buat bisa bikin kamu sayang sama aku seperti aku sayang sama kamu, tapi seenggaknya kamu hargain perasaan aku sedikiit aja. Kalo kamu nggak bisa hargain perasaan aku, minimal kamu jangan lakuin sesuatu yang bikin aku sakit, Kka…”

            “Shilla –“

            “aku tahu yang kamu sayang itu Via, aku tahu betul gimana besarnya perasaan kamu untuk Via, tapi kalo kamu nggak bisa menggapai dia seperti apa yang kamu impiin, bukan berarti kamu harus segera berlari ke aku dan jadiin aku sebagai pelarian kan, Kka? Iya kan? Aku udah cukup sakit dengan perasaan bertepuk sebelah tangan ini, jadi tolong aku minta jangan tambah lagi rasa sakit ini. Aku capek, Kka…. Aku capek…”

            “Shill… nggak pernah sedetik pun terlintas dikepala aku buat sengaja nyakitin kamu kayak gini, nggak ada sedikitpun niat yang terbersit dihati aku buat jadiin kamu pelarian. Aku Cuma… aku Cuma –“

            “kamu Cuma nggak tau tentang perasaan aku kan, Kka? Iya kan?”

            “Shilla dengerin aku, aku –“

            “cukup, Kka… cukup! Aku udah nggak mau denger apa-apa lagi, dan aku bener-bener nggak mau nambah beban pikiran kamu. Aku tahu saat ini kamu sedang kalut, dan aku nggak seharusnya aku kayak gini. Aku minta maaf. lupain semua apa yang aku katakan tadi… lupain semuanya.. dan ini …” Shilla membuka cincin pertunangannya dari jari manisnya, ia lalu meraih tangan kanan Cakka lalu menyerahkan cincin itu secara paksa. “ cincin ini kamu ambil. Ikatan ini kita putuskan saja, dan masalah orang tua kita, kamu nggak perlu cemas, aku udah jelasin semuanya ke Mama Papa aku dan Tante Shanaz, Cuma Om Edgar yang belum tau, dan itu tugas kamu untuk ngasih tau Om…”

            “Shill… jangan kayak gini Shill…”

            “kamu dulu pernah janji kan, kalo kamu akan ngebebasin aku dari ikatan ini? Dan sekarang aku mau tagih janji itu…”

            Itulah ucapan terakhir Shilla sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan Cakka dengan hatinya yang sudah hancur berkeping-keping. Tentu akan sangat sulit bagi Shilla untuk menyatukan kembali kepingan-kepingan yang telah berserakan itu, tapi Shilla percaya, bahwa badai akan selalu berlalu dan tergantikan oleh sinar matahari yang menenangkan. Semua ini hanya sebagian dari proses yang harus ia lewati.

            Shilla menyeka air matanya, lalu berusaha untuk tersenyum. Entah kenapa hatinya seakan berbisik dan memintanya untuk segera menemui seseorang yang pastinya akan bisa menenangkan perasaannya. Shilla sudah benar-benar tidak sabar untuk segera menemuinya. Gabriel.





***


            “kenapa lo mengundurkan diri dari ekskul bola?” ujar Via tegas dihadapan Alvin yang saat itu sedang menyendiri dibangkunya sambil membaca sebuah buku paket biology. Via berusaha keras melupakan rasa sakitnya saat bayang-bayang Cakka yang sedang menarik tangan Shilla kembali menari-nari dalam otaknya. Focus Via sekarang ini adalah Alvin, bukannya Cakka.

            “nanyanya yang nyante dong, Mbak! Jangan kayak ngintrogasi tersangka pemubunhan gitu? Jadi ngeri gue…” jawab Alvin dengan sebuah candaan yang malah membuat Via merasa kesal.

            “gue serius, Alvino Joshua Aryadinata!”

            Alvin memejamkan matanya sejenak lalu menutup buku yang sejak tadi menjadi titik fokusnya. Jawaban apa yang harus ia berikan pada Via jika sudah seperti ini?

            “oke, gue ngundurin diri dari ekskul bola karna gue mau focus belajar. Lo tau? Gue udah muak sama tingkah Bokap gue yang selalu dan selalu aja ngebanding-bandingin gue sama Cakka dalam segala hal. Dan sekarang ini, gue berusaha focus belajar dan ninggalin bola demi bisa ngebuktiin sama Bokap gue kalo gue bisa lebih dari Cakka, dan gue mau supaya Bokap gue nggak meremehkan gue lagi. Dan gue pikir, jadi Dokter itu lebih banyak duitnya dari pada jadi pemain bola ataupun photographer…”

            Setelah mendengarkan penjelasan Alvin, Via langsung menggelengkan kepalanya beberapa kali. Ia seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja Alvin ucapkan. Ia tahu, bahkan sangat tahu, bahwa Alvin yang selama ini kenal tidak seperti ini. Ini jelas bukan diri Alvin.
“ini bukan Alvin yang gue kenal. Alvin yang gue kenal selama ini adalah Alvin yang pantang menyerah dan selalu melakukan apapun demi keinginanya, Alvin yang selama gue kenal adalah Alvin yang keras kepala dan nggak lemah kayak gini… ini bukan Alvin yang gue kenal.”

            “sejauh apa lo ngenal Alvin yang dulu? Gue pikir lo nggak pernah mau ngenal gue selama ini”

            Telak. Perkataan Alvin itu benar-benar telak menghantam dada Via tanpa ampun. Tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa kata-kata itu akan meluncur dengan sempurna dari bibir Alvin.

            “Alvin –“

            “faktanya selama ini Cakka selalu lebih segala-galanya dari gue. Cakka bukan hanya bisa menarik hati Bokap gue, tapi Cakka juga bisa menarik hati cewek yang gue sayang. Dan dalam segala hal, Cakka selalu jadi pemenangnya, sementara gue, gue selalu jadi pihak yang terkalahkan. Dan lo tau? Gue nggak mau terus-terusan seperti itu dan gue nggak mau terus-terusan jadi pihak yang selalu terkalahkan…”

            “elo masih bisa ngelakuin sebuah pembuktian tanpa harus mengubah jati diri lo!”

            “memangnya siapa yang mau peduli sama jati diri gue? Elo? Bokap gue? Atau bahkan Cakka? Gue rasa nggak satupun dari kalian yang mau peduli sama jati dari gue…”

            “Alvin cukup!!”

            Alvin tersenyum miris. Ia menatap kedua mata Via sedalam mungkin lantas berucap dengan nada yang terdengar sangat tenang namun menghanyutkan.

            “dan buat elo, Vi. apa nggak ada sedikitpun ruang dihati lo buat gue, Vi? Sedikiiittt aja apa nggak ada sama sekali??”

            Via berusaha memberanikan dirinya untuk membalas tatapan Alvin. Untuk beberapa saat mereka sama-sama terdiam sambil saling menatap satu sama lain. Tidak lama kemudian…


            “maafin gue… tapi gue nggak bisa ngasih tempat dihati gue untuk seseorang yang udah kehilangan jati dirinya…”


            “gue tau!” jawab Alvin pasrah.




***


“Kini maafkanlah aku
Bila ku menjadi bisu kepada dirimu
Bukan santunku terbungkam
Hanya hatiku berbatas tuk mengerti kamu
Maafkanlah aku….”


            Via kembali berpapasan dengan Cakka saat jam pulang sekolah tiba. Seperti biasa, Cakka menghentikan langkahnya sejenak, menatap Via dalam beberapa detik dengan canggung lantas kembali melanjutkan langkahnya dan bersikap seolah-olah Via tidak pernah ada didepan matanya.
            Merasa muak dengan sikap Cakka itu, Via apun akhirnya memilih untuk buka suara dan menyampaikan isi hatinya yang sebenarnya.

            “kenapa harus seperti ini, Cakka? Kenapa kamu harus bersikap seolah-olah kamu nggak pernah ngeliat saya kayak gini?? Apa salah saya??” ujar Via lirih tanpa menoleh kearah Cakka. Saat itu Cakka dan Via berada dalam posisi yang sama-sama saling membelakangi satu sama lain.
           
            Cakka memejamkan matanya, ia menghela napas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. Cakka berusaha menahan sesak didadanya, saat ini Cakka merasa ada ribuan tangan raksasa yang sedang meremas jantungnya tanpa ampun.

            “terus apa artinya kata cinta yang pernah kamu ucapin ke saya? Apa kamu Cuma mainin perasaan saya? Apa kamu Cuma mau main-main sama saya tanpa mikirin perasaan saya??”

            Cakka masih bergeming dan belum mau buka suara.

            “kalo emang itu tujuan kamu, KAMU BERHASIL CAKKA. KAMU BERHASIL MAININ PERASAAN SAYA. Makasih buat semuanya, makasih buat luka yang udah kamu toreh…” sebulir air mata Via jatuh tanpa bisa ia tahan.

            Dan Cakka semakin perih saat mendengarkan perkataan Via itu. Tidak, Cakka sama sekali tidak memiliki niat sedikitpun untuk menyakiti perasaan Via apalagi melukainya. Cakka hanya ingin membuang jauh-jauh perasaannya pada Via, itu saja. Dan Cakka hanya tidak bisa menemukan cara yang pas untuk melepaskan gadis ini selain harus menghindarinya. Hanya cara itu yang bisa ia lakukan tanpa harus mengatakan apa yang sebenarnya disaat yang tidak tepat seperti ini.

            “apa kamu mau tahu satu hal, Cakka?” kali ini Via menoleh kearah Cakka yang saat itu masih membelaknginya. Cakka masih tetap bertahan dengan kebisuannya.

            Via menghela napas panjangnya sebelum akhirnya ia melanjutkan ucapannya.

            “saya menyesal karna sudah menyayangi kamu dan memberikan seluruh hati saya buat kamu. SAYA-SANGAT-MENYESAL….” Ujar Via dengan tegas lalu berbalik pergi dengan isakkan yang sudah tidak kuasa ia tahan lagi. Kenyataan ini terlalu menyesakkan baginya.

            Dan beberapa saat setelah kepergian Via, Cakka langsung memutar tubuhnya dan menatap kepergian Via sambil meratap.


            “tapi saya Kakak kamu, Via… saya Kakak tiri kamu yang sudah merebut segalanya dari kamu dan menghancurkan hidup kamu. Bagaimana saya harus menjelaskan semuanya? Bagaimana…?” lirih Cakka pelan tanpa bisa menahan sesak didadanya.

            “kenapa kayaknya susah banget lo ngejelasin semuanya ke Via?” ucap seseorang yang tiba-tiba saja sudah berdiri tepat dibelakang Cakka.

            Mendengar ada sebuah suara yang begitu familiar menyapa gendang telinga nya, Cakka langsung menoleh kebelakang dan mendapati Alvin yang saat itu tengah berdiri dengan santainya sambil bersandar pada salah satu pilar, Alvin memasukan kedua tangannya pada kedua sisi kantong celana seragamnya. Cakka menatap Alvin dengan pandangan heran, bingung apa maksud dari ucapan Alvin itu, apa jangan-jangan….?

            “atau apa lo perlu bantuan dari gue buat bilang yang sebenernya ke Via kalo lo itu –“ jeda Alvin sesaat lalu berjalan perlahan menghampiri Cakka dengan gayanya yang tetap santai.

            “kakak tirinya dia…” bisik Alvin pelan depan telinga Cakka seakan takut seisi dunia akan mendengarkan bisikannya.

            Cakka tersentak. Darimana Alvin tahu semuanya? Ia bahkan belum mengatakan hal ini pada siapapun. Tapi Cakka yang memang tidak mau ambil pusing langsung menatap Alvin dengan tatapannya yang selalu terlihat tenang.

            “lo nggak perlu susah-susah ngasih tau Via, karna nanti gue pasti akan ngasih tau dia kalo waktunya tepat…”

            “waktu yang tepat? Kapan? Lo mau liat Via mati secara perlahan karna perasaannya ke elo? HAH?!” Kata Alvin mulai tak tahan.

            “Alvin, lo nggak perlu ngelakuin apapun buat gue. Yang perlu lo lakuin Cuma satu hal, dan itu buat Via!” kata Cakka seraya mengacungkan jari telunjuknya.

            “apa?” Tanya Alvin yang merasa sedikit penasaran. Alvin juga berusaha keras menahan emosinya agar tidak terjadi pertengkaran antara dirinya dengan Cakka seperti waktu itu.



            “rebut hati Via, dan jadikan dia milik lo!!”







                                    BERSAMBUNG….
           



0 comments:

Post a Comment