Alvin melambaikan tangannya saat melihat
penampakan seorang cewek cantik keluar dari gerbang sekolahnya. Cewek
yang ternyata bernama Acha yang tak lain dan tak bukan adalah sepupu
Alvin itu langsung menelan ludah setelah melihat Alvin. Dalam hati Acha
bergumam, “pasti mau nanyain Shilla sama gue…” sudahlah! Acha gak mau
terlalu memikirkan hal itu. Acha pun berjalan pasrah menghampiri Alvin.
“ada
apa? Tumben banget lo kesekolah gue?” Tanya Acha dengan Nada
ogah-ogahan. Alvin mengeluarkan senyum mautnya lantas berkata dengan
Nada yang lumayan menggoda,
“emangnya salah ya kalo gue mau jemput sepupu gue sendiri??” Acha mendegus kesal, ia menampakan wajah bosan lantas berkata,
“gak ada yang salah kecuali lo lagi ada maunya sama gue…”
Alvin terdiam sejenak, ia terlihat berfikir. Gak lama ia kembali tersenyum. Alvinpun menstarter motornya seraya berkata,
“naek yuk!” Acha gak segera mengikuti ucapan Alvin.
“Ayooo!”
kata Alvin sekali lagi dengan Nada setengah memaksa. Mau gak mau
Achapun akhirnya mengikuti ucapan Alvin. Acha menaiki motor Alvin dengan
sangat terpaksa. Tanpa menunggu lagi, Alvin menjalankan motornya dan
membawa Acha entah kemana.
Saat diperjalanan Acha
langsung mengeluarkan ponselnya. Tanpa sepengetahuan Alvin Acha mengetik
sebuah SMS yang ia tujukan buat Via. Acha mengetik SMS dengan gerak
cepat.
=======================
To: Sivia ‘Jutek’
Viaaaa… Alvin jmput
Gw ke skolh nih!
dia psti mau nanya2
Soal Shilla k gw,
Gmna dong?
=======================
Acha
pun mengelik tombol send. Gak butuh waktu lama sms itu udah terkirim ke
nomer Via. Sekitar 10 detik kemudian, ponsel Acha bergetar, ia menerima
balasan dari Via. Secepat itukah?
===================
From: Sivia ‘Jutek’
Gw ykin 1000% si Alvin
Pasti mau nanya-nanyain
Lo tntng Shilla. Pliss
Lo jgn ngomong apa2 yaa?
Plissss…. DEMI SHILLA
Shbt kita :)
===================
===================
To: Sivia ‘Jutek’
Gw sih bisa aja tutup
Mulut, tpi klo Alvinnya maksa
Gimana?
Lo tau sendiri kan
Gimana Alvin??
===================
===================
From: Sivia ‘Jutek’
Pokoknya lo hrus
Tutup mulut. Apapun yg trjdi!
Gue ykin lo bisa Cha… yayaya…
===================
===================
To: Sivia ‘Jutek’
Ok deh!
Gw coba :D
===================
“Lagi Sms-an Cha?” Tanya Alvin tiba-tiba. Acha sontak saja terkejut, ia terlihat gelagapan.
“emmm… enggak, aduh… anu… itu… maksud gue iya.. eh enggak…” Acha menepuk pelan keningnya beberapa kali.
“sms-an sama siapa?” Tanya Alvin lagi.
“aduuh… ama siapa ya? Emmmm….” Belum sempat Acha menjawab, Alvin malah mendahuluinya.
“sama Ozy ya?”
“enggak…”
jawab Acha spontan setelah mendengar nama Ozy. Ozy adalah Mantan pacar
Acha saat masih SMP dulu. Alvin malah tersenyum simpul,
“udaah ngaku aja lagi, sama gue ini juga…” pancing Alvin.
“idih,
sok tau banget sih lo” kata Acha seraya menoyor pelan kepala Alvin.
Alvin yang gak terima kepalanya di toyor oleh Achapun langsung Protes.
“heh… jangan maen toyor-toyor aja dong lo! Gak sopan banget sih?”
“lagian elonya nyebelin sih, sok tau…”
“tapi bener kan?”
“enggak!”
“lo masih suka kan sama Ozy?”
“IYA….” Jawab Acha keceplosan. Ia langsung menutup mulutnya dan buru-buru meralat jawabannya tadi.
“enggak kok, siapa bilang gue masih suka sama Ozy?”
“ahahahaha… Mungil, Mungil, ada-ada aja ya lo pake keceplosan segala”
“ALVIINNNNN…. LO ITU RESE BANGET SIH?? SAMA NYEBELINNYA KAYA SIVIA DAN SHILL….”
Ups…
Acha keceplosan lagi. Tapi kali ini ia membawa-bawa nama Shilla. Air
muka Alvin langsung berubah. Sejak itulah gak terjadi obrolan apa-apa
lagi diantara mereka berdua. Alvin dan Acha sama-sama terdiam hingga
akhirnya tibalah mereka disebuah taman. Taman yang terletak tak jauh
dari SMP Spendaji. Taman kenangan Alvin dan Shilla Dimasa lalu.
*****
Alvin
dan Acha jalan beriringan dijalan setapak yang terdapat ditaman itu.
Mereka berjalan seraya membawa segelas Es kelapa muda mereka
masing-masing. Acha berjalan santai disamping Alvin sambil sesekali
melihat-lihat pemandangan sekitar. Alvin mulai berdehem, berusaha
membuka obrolan siang itu.
“eheem…” suara deheman Alvin itu membuat Acha menoleh kesamping.
“kenapa lo? Batuk?” Tanya Acha yang masih belum peka dengan maksud Alvin.
“Cha, gue mau Tanya sesuatu sama lo, boleh?”
“tuh kan bener dugaan gue sama Via” batin Acha dengan mata sedikit melebar.
“mau ngomongin apa? Kok keliatannya serius banget?”
“ini tentang Shilla, lo tau dimana dia sekarang??” Tanya Alvin yang sudah tidak sabar lagi. Acha langsung tersedak,
“uhuk…uhuk…” tanpa menghiraukan Acha sedikitpun, Alvin melanjutkan ucapannya.
“gue
tau Cha, elo sama Via pasti tau keberadaan Shilla sekarang, tapi
masalahnya Via gak mau ngomong sama gue, dan elo Cha, lo harepan gue
satu-satunya sekarang, lo bisakan ngasih tau gue dimana Shilla sekarang,
gue janji deh gak akan ngomong apa-apa ke Via, gue janji sama lo, Cha…”
“Vin…
gini ya, bukannya gue gak mau ngasih tau lo, tapi gue bener-bener gak
tau keberadaan Shilla sekarang, kalo gue tau juga gue gak akan
nyari-nyariin Shilla…” alibi Acha. Ia merasa sangat gugup,
takut-takut kalau alasannya sama sekali gak masuk akal. Acha seolah
ingin berlari dari Alvin sekarang juga, tapi Acha gak mungkin melakukan
itu. Maka ia tetap bertahan dan menanti pertanyaan apalagi yang akan
Alvin hujani padanya.
“lo
bener-bener gak tau dimana Shilla sekarang?” Acha mengangguk ragu, dan
Alvin yang memang gak gampang dibohongipun bisa menangkap dengan jelas
keraguan Acha.
“lo gak
bohongin gue kan Cha…?” sekali lagi Acha menggeleng. Alvin mengangguk
berkali-kali, sepertinya Acha sudah gak bisa diharapkan lagi.
Alvin
menghela nafas panjang, ia menoleh kearah lain. Saat ini Alvin sudah
benar-benar putus asa. Acha menepuk pelan pundak Alvin lantas berkata,
“Alvin,
coba aja gue bisa ngelakuin sesuatu buat lo, tapi gue gak bisa, Vin,
yang tau keberadaan Shilla sekarang ya Cuma Via, bukan yang lainnya…
lagian lo kenapa sih Vin? Semuanya udah berlalu, kenapa sampe sekarang
lo masih aja nungguin Shilla dan masih ngarepin Shilla, ayolah Vin, lo
harus bangkit, jangan stuck disini…”
“karna
rasa bersalah terus ngejer-ngejer gue selama 6 bulan ini, Cha, lo gak
tau rasanya jadi gue, dan lo gak akan pernah ngerti… hhhh..” Alvin
menghela nafas beratnya. Matanya sudah mulai memanas dan sedikit memerah
gara-garamenahan air matanya. Alvin berusaha kuat dan tidak menunjukan
setitikpun kelemahannya dihadapan Acha juga taman yang menjadi
satu-satunya kenangannya bersama Shilla.
“nah lo kenapa waktu itu malah nyelingkuhin Shilla? padahal saat itu Shilla yang bener-bener sayang banget sama lo dan nyerahin seluruh kepercayaannya sama lo..”
“gue
juga gak ngerti Cha, setan apa yang ngerasukin gue saat itu… gue marah
sama Shilla karna dia berani-beraninya jalan sama mantan pacarnya…”
“semarah-marahnya
lo apa lo harus nyelingkuhin dia untuk ngebales sakit hati lo? Alvin,
cukup lo tau Shilla sayang sama lo, dan cukup dengan lo ngasih sedikit
aja kepercayaan lo buat Shilla sebagaimana dia berusaha ngasih
kepercayaannya buat lo gue yakin hubungan kalian pasti akan tetap
terjaga… tapi elo yang udah ngancurin semuanya dengan keegoisan lo…”
“gue…” Alvin gak tau harus berkata apa lagi. Pernyataan dari Acha sukses membuatnya kehabisan kata-kata.
“lagian lo harusnya tau kalo Shilla gak mungkin nyelingkuhin lo… Shilla bukan tipe cewek gampangan yang gampang mendua”
Alvin
terduduk ditanah. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes
juga. Alvin sudah benar-benar gak sanggup menahan kesakitannya selama 6
bulan terakhir ini. Adakalanya Alvin akan menyerah, dan hari ini pun
Alvin telah kalah, tapi tekadnya tetap, ia harus tetap menemukan Shilla
apapun dan bagaimanapun caranya. Acha membiarkan Alvin larut dalam
tangisannya, setidaknya sampai Alvin bisa merasa sedikit lebih baik.
“gue butuh Shilla, gue mau Shilla, gue kangen Shilla, gue mau minta maaf sama Shilla…” lirih Alvin disela-sela tangisannya.
Tanpa
Alvin dan Acha sadari ternyata ada seseorang yang mendengar semua isi
pembicaraan mereka dari balik sebuah pohon yang terletak tak jauh dari
posisi mereka sekarang. Seseorang itu tak lain dan tak bukan adalah Via.
Kalau
boleh jujur, Via juga merasa kasihan pada Alvin. Tapi mau bagaimana
lagi? Semua ini adalah permintaan dari Shilla sendiri untuk tidak
memberitaukan Alvin tentang keberadaannya saat ini. Melihat Alvin
menangis untuk yang pertama kalinya, rasa bersalahpun timbul dihati
kecil Via. Coba aja gue bisa ngasih tau Alvin… fikir Via.
“lo
udah nantangin gue Via… Fine kalo itu yang lo mau! Gue penuhi tantangan
lo! Kalo Acha gak mau ngomong sama gue tentang Shilla, berarti elo yang
harus ngomong langsung ke gue, gue janji gue akan bikin elo sendiri
yang ngomong ke gue… permainan telah dimulai Via, dan elo sendiri yang
menabuh genderang perang itu…”
Alvin
telah memulai permainannya sendiri. Tapi Alvin gak pernah tau, bahwa
permainan yang telah ia buat ini adalah awal dari semua kisahnya. Kisah
Alvin yang sesungguhnya. Dan dari sinilah kisah Alvin dimulai, berawal
dari sebuah permainan yang ia anggap remeh. Tapi sesungguhnya permainan
remeh itulah yang kelak akan menjebaknya dan membuatnya tersesat dalam
ruang cinta. Waktu yang akan membuatnya belajar melupakan Shilla, dan
waktu pulalah yang akan membuat cintanya pada Shilla secara perlahan
namun pasti menghilang bersama kenangan-kenangan indahnya.
Saturday, March 15, 2014
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment