Friday, March 21, 2014

0

You’re Mine [Part 18: Finally….]















Sebelumnya…


            Bel tanda masuk berkumandangan dan memberi tanda bahwa pertandingan satu lawan satu antara Alvin dan Cakka telah berakhir. Dan pertandingan sengit dimenangkan oleh Cakka. Pada menit-menit awal sebenarnya Alvin lah yang menguasai permainan, tapi rasa sakit dibagian luka operasinya yang sudah tidak dapat ia tahan lagi akhirnya membuat konsentrasi Alvin berantakkan dan membuatnya kalah menghadapi Cakka, entah untuk yang keberapa kalinya.
            Cakka tersenyum sinis namun penuh kemenangan. Ia melangkah perlahan menghampiri Alvin yang saat itu terduduk ditengah lapangan sambil memegangi pinggangnya.

            “gue salut sama usaha keras lo, Alv!”

            Cakka menepuk pundak Alvin beberapa kali lalu melangkah pergi meninggalkan Alvin sendirian dilapangan.

            Rasa sakit yang sekarang tengah menguasai dirinya membuat Alvin tidak berdaya. Ia juga tidak bisa melakukan apapun saat Cakka akhirnya berhasil mengalahkan dirinya.
            Sekarang tinggalah Alvin sendiri disana. Ia memejamkan matanya, menarik napasnya dalam-dalam untuk meredam rasa sakit itu. Bukannya mereda, rasa sakit itu malah semakin gencar menyiksa dirinya. Alvin berusaha mengumpulkan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki. Dan saat ia rasa ia memiliki sedikit kekuatan, Alvin pun bangkit.

            Tapi sebelum ia sempat melangkahkah kakinya, ia malah sudah jatuh tergeletak ditengah lapangan. Semuanya berangsur gelap, hingga akhirnya Alvin benar-benr tidak sadarkan diri lagi.



***


            Setelah tidak sadarkan diri selama satu jam, akhirnya perlahan Alvin mulai membuka matanya. Dan wajah pertama yang Alvin lihat adalah wajah cemas milik Pricilla yang duduk disampingnya dengan gusar. Menyadari bahwa laki-laki yang sejak tadi ia jaga dan yang sangat ia cemaskan telah syiuman, Pricilla bangkit dari duduknya lalu sedikit menjongkok dan meyentuh puncak kepala Alvin.

            “Alv! Lo udah sadar? Apa yang lo rasain sekarang? Apa ada yang sakit?” Tanya Pricilla bertubi-tubi yang sudah tidak bisa lagi membendung rasa cemasnya pada laki-laki keras kepala ini.
            Alvin tersenyum mengejek lalu menoyor pelan kepala Pricilla, tapi Pricilla tidak sedikitpun merasa kesal dengan apa yang Alvin lakukan itu. Rasa cemasnya pada keadaan Alvin saat ini jauh diatas segalanya.

            “lo nanya satu-satu dong! Jangan sekaligus kayak gitu”

            “kenapa bisa kayak gini sih? Tadi gue nemuin lo dilapangan basket. Dan jangan bilang lo nekad maen basket!” kata Pricilla tanpa sedikitpun menghiraukan ucapan Alvin tadi.
            Alvin mengangguk beberapa kali sambil tersenyum, lalu dengan santainya ia berujar,

            “iya gue abis maen basket!!”

            “APA??” Kaget Pricilla dengan kedua mata yang membelalak lebar, “are you crazy, Alv??” lanjutnya. Alvin hanya terkekeh pelan sambil mengusap lembut puncak kepala Pricilla.

            “udah. Gak usah lebay gitu lah. Lagian gue gak apa-apa kok…”

            “gak apa-apa lo bilang? luka jahitan lo nyaris terbuka lo bilang gak apa-apa?? Lo bener-bener udah gila, sumpah” omel Pricilla habis-habisan lalu kembali duduk dikursi yang sejak tadi ia duduki. Merasa enggan melihat wajah memuakkan Alvin, Pricilla langsung saja membuang tatapannya kearah lain. Alvin hanya tersenyum tipis. Rupanya gadis ini benar-benar mencemaskannya, dan bahkan mungkin sangat mencemaskannya.

            “lo tau??”

            “gak!” sahut Pricilla sewot tanpa sedikitpun melihat kearah Alvin. Alvin tersenyum jahil lalu menjawab sendiri  pertanyaan singkat yang ia ajukan pada Pricilla tadi.

            “sikap lo yang kayak gini ini nih yang bikin gue pengen nyium lo, hahaha….” Ucap Alvin santai dengan diiringi oleh suara tawanya. Kali ini Pricilla melotot tajam kearah Alvin, dan tepat ketika Pricilla akan melayangkan toyorannya dikepala Alvin, secara tiba-tiba pintu ruang perawatan Alvin terbuka. Dengan kompak, Alvin dan Pricilla sama-sama melihat kearah pintu.
            Dan dari balik pintu menyembullah Pak Duta. Pak Duta berjalan santai menghampiri Alvin dengan wajah tenangnya namun sarat akan gurat-gurat keangkuhan yang sama sekali tidak bisa disembunyikan. Pak Duta menatap Pricilla sekilas lalu melempar senyum pada mantan pacar Puteranya itu. Dengan canggung, Pricilla membalas senyuman Pak Duta.

            “kali ini ulah apalagi yang kamu lakukan sampai harus masuk rumah sakit segala?” Tanya Pak Duta dengan intonasi meninggi. Alvin menghela napas panjangnya lalu membalas tatapan tajam yang Papi nya lemparkan.

            “sejak kapan Papi peduli sama aku?” Tanya Alvin dengan nada sarkatis. Pak Duta berusaha untuk tetap tenang dan tidak terpancing emosi.

            “oke. Sepertinya kamu memang tidak perlu untuk Papi peduliin”

            Merasa bahwa ia tidak seharusnya berada ditengah-tengah Alvin dan Papi nya yang tengah bersitegang, Pricilla akhirnya memilih untuk keluar dari ruang perawatan Alvin. Tapi baru saja ia akan mengayunkan langkah pertamanya, tiba-tiba saja Alvin menahan pergelangan tangannya dan menatap Pricilla seolah berkata; ‘jangan tinggalin gue! Tetep disini sama gue’

            Pricilla akhirnya mengalah.

            “ingat Alvin. Waktu kamu tidak kurang 1 bulan lagi. Bersiaplah dari sekarang jika kamu merasa bahwa kamu memang bukan pecundang!” itulah ucapan terakhir Pak Duta sebelum akhirnya ia keluar dari ruang perawatan Alvin dengan emosi tertahan.


Beberapa saat setelah kepergian Pak Duta…

            “maksud ucapan terakhir Bokap lo apa, Vin?” Tanya Pricilla penasaran.

            Alvin menatap Pricilla sejenak lalu menggelengkan kepalanya beberapa kali. Berusaha untuk tetap memegang komitmen awalnya bahwa ia tidak akan memberi tahu kan siapapun tentang perjanjian yang sudah ia sepakati bersama Papinya.

            “nothing!”


            Pricilla tampak berpikir, dan ia terlihat kurang yakin dengan jawaban singkat yang baru saja Alvin ajukan. Dan entah kenapa Pricilla mulai merasa bahwa ada yang tidak beres dibalik semua ini.



***


            “KAK CAKKA!!” Panggil seseorang tepat dari belakang Cakka. Merasa begitu familiar dengan suara itu, Cakka langsung berbalik dan melihat siapa yang sudah memanggilnya. Sivia.
            Cakka menatap Via dengan kedua alis bertaut. Apa maksud Via memanggilnya dengan panggilan Kakak?

            “Kak Cakka??” Tanya Cakka, berusaha meyakinkan apa yang baru saja ia dengar.

            Via berjalan mendekat menghampiri Cakka dengan seulas senyum sinis yang mengotori wajah manisnya.

            “iya, KAK CAKKA!” Kali ini Via berputar perlahan mengelilingi Cakka dengan kedua tangan yang terlipat diperutnya.

            “CAKKA DIMAS PUTERA ADHIRAJASA… bagaimana rasanya jadi Putera Mahkota di keluarga ADHIRAJASA? Bagaimana rasanya jadi anak tunggal dari Edgar Adhirajasa? Bagaimana rasanya hidup dalam kemewahan? Bagaimana rasanya hidup dengan limpahan kasih sayang penuh dari seorang Ayah bernama EDGAR ADHIRAJASA? BAGAIMANA RASANYA??” Bentak Via dengan suara bergetar. Air mata yang sejak tadi berusaha ia tahan akhirnya lolos begitu saja ketika ia menghentikan perputarannya dan berdiri tepat dihadapan Cakka.
            Sebenarnya Cakka ingin sekali bertanya darimana Via tentang semua itu. Tapi saat ia rasa bahwa percuma saja ia menanyakan pertanyaan bodoh itu, Cakka akhirnya melupakan keinginanya. Ia kini hanya bisa diam sambil menatap Via, menunggu apa selanjutnya yang hendak adiknya ingin sampaikan.

            “apa lo ngerasa bahagia setelah lo rebut semua kebahagiaan masa kecil gue? apa lo ngerasa bahagia karna udah berhasil ngerebut hati gue juga? Apa lo ngerasa bahagia dengan semua itu, KAK CAKKA?”

            “Via dengerin aku, Vi… kamu harus tahu, selama 7 tahun kepergian kamu, gak seharipun yang Papa lewati tanpa mikirin kamu. Dan setiap ulang tahun kamu tiba ditanggal 14 Febuari, Papa selalu menyendiri diruang kerjanya sambil meluk poto kamu. Kamu gak pernah tau kan betapa tersiksanya papa selama ini, kamu gak pernah tau betapa aku dan Papa ingin kamu pulang ke rum—“

            “AKU GAK TAU DAN AKU GAK PERNAH MAU TAU!! Dan jangan pernah sebut dia Papa ku! Asal kamu tau, sosok pria yang kamu panggil dengan sebutan Papa itu udah bikin Mama aku meninggal. Dan selamanya, aku gak akan pernah lupa dengan semua itu, bahkan sampai aku mati pun, aku gak akan pernah mau maafin kalian… gak akan pernah”

            “Via…”

            “dan jangan pernah berharap aku akan sudi pulang kerumah neraka itu lagi” ucap Via dengan tegas tanpa menginginkan sebuah bantahan apapun. Via lalu berjalan melewati Cakka dengan sengaja menabrakkan pundaknya dengan pundak Cakka.

            Lalu tanpa sedikitpun menoleh, Via melangkah pergi meninggalkan Cakka bersama bermilyar-milyar rasa bersalah yang kini mulai menggerayangi hatinya tanpa ampun.


            “kamu pasti pulang Via….”




***


            Via memasuki rumahnya lalu membanting pintu sekeras mungkin. Sementara Dyna yang saat itu tengah asyik menonton televise kontan terkejut saat mendengar suara hantaman pintu yang lumayan keras. Dyna menoleh kebelakang dan mendapati keponakan kesayangannya berjalan ke arahnya dengan penuh emosi.

            “Rea kamu kenapa??” tanyanya cemas seraya bangkit dari sofa yang sejak ia duduki.

            “Tante, aku mau balik ke Berlin, dan kalo Tante gak mau, aku bisa sendiri”

            Kaget dengan keinginan mendadak yang Via sampaikan itu, Dyna langsung berjalan mendekat dan meyentuh punak Via perlahan.

            “kenapa tiba-tiba, Andrea?”

            “pokoknya aku mau balik! TITIK. Dan aku gak mau ketemu lagi sama keluarga Adhirajasa itu.”

            “Andrea…”

            “ini salah satu alesan yang bikin aku gak pernah mau pulang lagi, Tan… tapi kenapa Tante harus paksa aku, aku –“ Via tidak tahu lagi bagaimana harus berucap, dan ia tidak bisa lagi menahan bendungan air matanya. Dadanya terasa sangat sesak sekali dengan kenyataan yang sekarang Tuhan hadiahkan padanya.

            “Andrea… dengerin Tante sayang… kamu harus tenang, jangan kebawa emosi dulu, kamu –“

            “selama kita ada disini aku gak akan pernah bisa tenang, Tante… gak akan pernah bisa. Pokoknya aku mau balik ke Berlin, aku udah gak tahan lagi disini…”

            “kamu jangan tinggalin Papa lagi, Nak…”

            Ucap seseorang yang tiba-tiba saja muncul dari arah pintu. Mendengar suara itu, Via dan Dyna langsung menoleh kearah pintu dan sama-sama mendapati Edgar yang sedang berjalan perlahan menghampiri mereka.

            “tolong jangan pergi lagi! Apapun akan Papa lakukan supaya kamu tetap disini dan mau pulang sama Papa. Tolong Nak… tolong…” ujar Edgar dengan nada yang terdengar benar-benar memohon. Untuk sejenak Via tersenyum penuh kesinisan. Ia menyeka air matanya, lalu menatap pria paruh baya itu dengan sorot mata yang terlihat sedikit lebih tenang.

            “benar anda mau melakukan apapun supaya saya tetap disini? APAPUN?”

            Edgar hanya mengangguk, tapi perlahan hatinya  menghangat saat mendengarkan ucapan Via itu. Setidaknya ia masih memiliki sedikit harapan lagi untuk mengembalikan Puteri Kecilnya ini kerumahnya, kerumah mereka.

            “kalau begitu…. Hidupkan Mama saya kembali!!”

            Kontan Edgar tersentak kaget saat mendengarkan permintaan puterinya yang sangat tidak mungkin untuk ia lakukan itu. Dan baru saja Edgar akan membuka mulut, Via malah sudah mendahuluinya.

            “gak bisa kan anda lakukan itu? Gak mungkin kan? Begitu juga dengan saya, saya gak bisa lagi kembali pada anda… gak bisa dan gak mungkin…” tutur Via pelan namun penuh dengan emosi didalamnya. Via lalu berbalik dan menaiki anak tangga untuk mencapai kamarnya tanpa sedikitpun menoleh, meninggalkan Edgar dengan sejuta rasa penyesalan yang mungkin tidak akan pernah mampu menggapai kata maaf yang selama ini ia impikan.

            Kesalahan yang ia lakukan dimasa lalu ternyata sangat fatal. Bahkan lebih fatal dari apa yang mampu terpikirkan olehnya selama ini.





***


            Sudah 3 hari ini Via tidak menampakkan dirinya disekolah, dan hal itu tentu saja membuat Alvin merasa cemas. Sebenarnya Alvin ingin sekali menghubungi gadis itu dan menanyakan bagaimana keadaannya sekarang, tapi kenyataan bahwa ia telah melepaskan Via beberapa hari yang lalu akhirnya dengan terpaksa membuat Alvin melupakan sejenak keinginanya.
            Tidak ada satu hal pun yang lebih menyakitkan bagi seorang Alvin, selain ia harus pura-pura bersikap dingin dan tak acuh pada Gadis Teddy Bear-nya itu. Alvin selalu ingin menghukum dirinya saat setiap hari dia harus bersikap dingin pada Via dan menorehkan sebentuk luka tidak kasat mata pada dinding hati Gadis itu.
            Dan semakin kesini, Alvin semakin berpikir, apa keputusannya untuk melepaskan Via beberapa hari yang lalu adalah benar? Apa tidak ada yang salah dengan hal itu mengingat selama ini bagaimana besarnya usaha Alvin dalam menarik perhatian Gadis itu.
            Dan untuk pertama kalinya, Alvin akhirnya mempertanyakan kembali keputusannya itu.


            “lo tau gak sih Via kemana akhir-akhiran ini? Udah 3 hari dia gak masuk sekolah, Priss….”

            Pricilla terlihat berpikir sejenak. Dan tidak lama kemudian…

            “gue juga gak tau, Vin… nanti deh gue coba cari tau kerumahnya”

            Dan baru saja Pricilla menuntaskan ucapannya, tiba-tiba saja kedua manik mata Alvin menangkap sosok Via yang sedang berjalan sendirian di koridor dengan tatapan hampanya. Alvin tersenyum kecil, ia berlari melewati Pricilla begitu saja dan segera menghampiri Via. Untuk sejenak, Alvin berusaha menepikan ingatannya bahwa beberapa hari yang lalu ia telah memutuskan untuk melepaskan Via. Yang terpenting sekarang baginya adalah, Alvin harus tau bagaimana keadaan Via.

            “Via…” panggil Alvin seraya menghalangi jalan Gadis itu. Seketika Via langsung menghentikan langkahnya dan menatap Alvin dengan tatapannya yang masih terlihat hampa tak bercahaya.

            “kenapa lo gak masuk selama 3 hari ini, Vi? Apa lo sakit? Lo baik-baik aja kan??” Tanya Alvin bertubi-tubi dengan nada yang terdengar cemas. Sementara Pricilla, ia hanya memperhatikan kedua orang itu dari kejauhan.
            Saat kedua tangan Alvin meraih salah satu tangannya, Via buru-buru menepis tangan Alvin lalu menatapnya tajam. Alvin mencelos dengan apa yang terjadi baru saja.

            “apa peduli lo?” Tanya Via dingin. Mendadak Alvin gelagapan, bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan itu.

            “gu… gue… gue Cuma cemas sama keadaan lo, Vi… gue… gue –“

            “kalo lo emang cemas sama keadaan gue terus kenapa dari awal lo gak bilang kalo Cakka itu Kakak Tiri gue, KENAPA LO GAK BILANG ALVIN??”

            Kali ini Alvin kaget sekagetnya kagetnya. Darimana Via tau tentang semua itu? Apa Cakka sudah memberitahukannya? Dan baru saja Alvin akan membuka mulut hendak menanyakan hal itu pada Via, Via malah sudah mendahuluinya.

            “bingung gimana gue bisa tau semua ini? LO BINGUNG??”

            “Vi… tolong kasi gue kesempatan buat ngejelasin dulu, ini semua gak seperti apa yang ada dibayangan lo. Gue Cuma mau Cakka sendiri yang langsung ngasih tau lo, dan gue… gue Cuma ngerasa gak perlu ikut campur dalam urusan internal keluarga kalian, itu aja…”

            “mereka bukan keluarga gue. Asal lo tau itu!”

            “Via….”

            “mulai sekarang, mulai detik ini, anggep aja kalo kita berdua gak pernah saling kenal satu sama lain. Gue gak mau lagi kenal sama cowok pembohong kayak lo, ngerti lo?”

            “kenapa tiba-tiba lo nyalahin Alvin kayak gini?” kata seseorang yang tiba-tiba saja berdiri disamping Alvin lalu menatap Via dengan pandangan menentang keras. Via sedikit terkejut dengan kehadiran Pricilla yang secara tiba-tiba lalu membela Alvin.

            “gak seharusnya lo nyalahin Alvin kayak gini, harusnya lo berterimakasih sama Alvin karna Alvin udah ngasih separuh hi –“

            “PRICILLA CUKUP!!!” intonasi suara Alvin yang cukup tinggi itu langsung membuat Pricilla terdiam dalam sekejab dan menelan bulat-bulat sesuatu yang mengganjal dihatinya selama ini. Alvin menatap Pricilla tajam namun sarat akan sebuah permohonan. Alvin tidak pernah berharap bahwa Pricilla akan membongkar semuanya disini. Dan Alvin tidak pernah ingin Via tahu bahwa dirinyalah yang telah mengorbankan satu ginjalnya untuk Via.

            “lo gak perlu lagi lanjutin semuanya, gak perlu, Priss…” kali ini nada bicara Alvin terdengar melembut. Beberapa saat kemudian ia langsung mengalihkan perhatiannya pada Via. Alvin tersenyum penuh pengertian lantas berujar.

            “oke, kalo itu mau lo! Mulai sekarang, mulai detik ini, gue akan bersikap seolah-olah gue gak pernah kenal lo. Gue akan ikutin semua permintaan lo, Via… semuanya tanpa terkecuali…”

            Dan saat itu juga Via merasa bahwa ada sepasang tangan raksasa yang sedang meremas jantungnya tanpa ampun. Ternyata Alvin benar-benar telah melepaskannya.
            Merasa bahwa Via tidak ingin lagi melemparkan komentar atas ucapannya baru saja, Alvin pun meraih pergelangan tangan Pricilla lalu membawanya setengah paksa untuk pergi dari tempat itu dan meninggalkan Via sendiri.


            ‘akhirnya lo bener-bener ngelepasin gue, Vin….’






***

           
            Dan Alvin benar-benar membuktikan perkataannya sejak hari itu. Setiap hari, meskipun berada disatu kelas yang sama, Alvin selalu berusaha menganggap bahwa Via tidak pernah ada. Jangan tanyakan bagaimana hancurnya perasaan Alvin. Karna siapapun tidak akan pernah bisa menggambarkan bagaimana hancurnya perasaan Alvin saat ini. Bukankah hal ini yang Via ingin sejak lama? Dan bukankah sejak awal pertemuan mereka Alvin sama sekali tidak pernah memiliki tempat yang istimewa dihatinya?
            Dan disaat Alvin berusaha mati-matian menahan segalanya, Via malah merasa ada sebagian dari dirinya yang menghilang. Dan tidak bisa Via pungkiri, bahwa ia sangat merindukan Alvin yang dulu hampir setiap hari mengejarnya hanya untuk menarik perhatiannya. Tapi sekarang…?? Via benar-benar kehilangan Alvin yang dulu.

            “Via…”

            Via langsung menghentikan langkahnya saat tiba-iba Cakka muncul dihadapannya lalu menghalangi jalannya.

            “mau apa lagi, kamu??” Tanya Via dingin lalu membuang tatapannya kearah lain.

            “aku mohon sama kamu, sekarang kamu harus ikut pulang sama aku!”

            “buat apa??” Tanya Via lagi dengan nada setengah membentak.

            Cakka menghela napas panjangnya. Bagaimana ia harus memulai menjelaskan semuanya? Bagimana ia harus menjelaskan apa yang sedang terjadi pada Papa nya saat ini? Via tersenyum sinis, merasa bahwa Cakka tidak memiliki alasan yang kuat untuk membawanya pulang, Via pun melangkah pergi meninggalkan Cakka. Tapi baru beberapa langkah ia bergerak, suara Cakka kembali terdengar.

            “Papa kena serangan jantung! Gak ada yang dapat memastikan kapan Papa sadar. Dan Dokter Emil meminta aku untuk membawa kamu pulang, Vi. Cuma kamu satu-satunya kekuatan yang Papa miliki supaya ia tetap bertahan hidup… Cuma kamu, Vi… bukan aku, bukan Mama ku, juga bukan yang lainnya…”

            Via langsung membeku ditempatnya. Mungkin selama ini ia berpikir bahwa pintu maaf nya sudah benar-benar tertutup untuk Papanya, tapi entah kenapa, saat mendengar berita bahwa Papa nya terkena serangan jantung, Via justru merasa cemas. Jauh didalam sana hatinya seakan menangis. Dulu ia pernah kehilangan Mamanya, sekarang masakah ia harus kehilangan orang tuanya untuk yang kedua kalinya??

            Via memejamkan matanya, berusaha mencari keputusan terbaik yang bisa segera mungkin ia ambil. Via lalu menghela napas panjangnya dan meyakinkan hatinya bahwa keputusan yang ambil kali ini bukanlah sebuah keputusan yang salah.

            Via lalu berbalik dan menatap Cakka. Kali ini, sudah tidak ada lagi emosi dalam pandangan matanya, dan Cakka bisa menangkap semua itu dengan jelas.


            “aku akan pulang…..”






                                    BERSAMBUNG…

0 comments:

Post a Comment