Sebelumnya…
Bel tanda
masuk berkumandangan dan memberi tanda bahwa pertandingan satu lawan satu
antara Alvin dan Cakka telah berakhir. Dan pertandingan sengit dimenangkan oleh
Cakka. Pada menit-menit awal sebenarnya Alvin lah yang menguasai permainan,
tapi rasa sakit dibagian luka operasinya yang sudah tidak dapat ia tahan lagi
akhirnya membuat konsentrasi Alvin berantakkan dan membuatnya kalah menghadapi
Cakka, entah untuk yang keberapa kalinya.
Cakka tersenyum sinis namun penuh
kemenangan. Ia melangkah perlahan menghampiri Alvin yang saat itu terduduk
ditengah lapangan sambil memegangi pinggangnya.
“gue salut sama usaha keras lo,
Alv!”
Cakka menepuk pundak Alvin beberapa
kali lalu melangkah pergi meninggalkan Alvin sendirian dilapangan.
Rasa sakit yang sekarang tengah
menguasai dirinya membuat Alvin tidak berdaya. Ia juga tidak bisa melakukan
apapun saat Cakka akhirnya berhasil mengalahkan dirinya.
Sekarang tinggalah Alvin sendiri
disana. Ia memejamkan matanya, menarik napasnya dalam-dalam untuk meredam rasa
sakit itu. Bukannya mereda, rasa sakit itu malah semakin gencar menyiksa
dirinya. Alvin berusaha mengumpulkan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki. Dan
saat ia rasa ia memiliki sedikit kekuatan, Alvin pun bangkit.
Tapi sebelum ia sempat melangkahkah
kakinya, ia malah sudah jatuh tergeletak ditengah lapangan. Semuanya berangsur
gelap, hingga akhirnya Alvin benar-benr tidak sadarkan diri lagi.
***
Setelah
tidak sadarkan diri selama satu jam, akhirnya perlahan Alvin mulai membuka
matanya. Dan wajah pertama yang Alvin lihat adalah wajah cemas milik Pricilla
yang duduk disampingnya dengan gusar. Menyadari bahwa laki-laki yang sejak tadi
ia jaga dan yang sangat ia cemaskan telah syiuman, Pricilla bangkit dari
duduknya lalu sedikit menjongkok dan meyentuh puncak kepala Alvin.
“Alv!
Lo udah sadar? Apa yang lo rasain sekarang? Apa ada yang sakit?” Tanya Pricilla
bertubi-tubi yang sudah tidak bisa lagi membendung rasa cemasnya pada laki-laki
keras kepala ini.
Alvin
tersenyum mengejek lalu menoyor pelan kepala Pricilla, tapi Pricilla tidak
sedikitpun merasa kesal dengan apa yang Alvin lakukan itu. Rasa cemasnya pada
keadaan Alvin saat ini jauh diatas segalanya.
“lo
nanya satu-satu dong! Jangan sekaligus kayak gitu”
“kenapa
bisa kayak gini sih? Tadi gue nemuin lo dilapangan basket. Dan jangan bilang lo
nekad maen basket!” kata Pricilla tanpa sedikitpun menghiraukan ucapan Alvin
tadi.
Alvin
mengangguk beberapa kali sambil tersenyum, lalu dengan santainya ia berujar,
“iya
gue abis maen basket!!”
“APA??”
Kaget Pricilla dengan kedua mata yang membelalak lebar, “are you crazy, Alv??” lanjutnya. Alvin hanya terkekeh pelan sambil
mengusap lembut puncak kepala Pricilla.
“udah.
Gak usah lebay gitu lah. Lagian gue gak apa-apa kok…”
“gak
apa-apa lo bilang? luka jahitan lo nyaris terbuka lo bilang gak apa-apa?? Lo
bener-bener udah gila, sumpah” omel Pricilla habis-habisan lalu kembali duduk
dikursi yang sejak tadi ia duduki. Merasa enggan melihat wajah memuakkan Alvin,
Pricilla langsung saja membuang tatapannya kearah lain. Alvin hanya tersenyum
tipis. Rupanya gadis ini benar-benar mencemaskannya, dan bahkan mungkin sangat
mencemaskannya.
“lo
tau??”
“gak!”
sahut Pricilla sewot tanpa sedikitpun melihat kearah Alvin. Alvin tersenyum
jahil lalu menjawab sendiri pertanyaan
singkat yang ia ajukan pada Pricilla tadi.
“sikap
lo yang kayak gini ini nih yang bikin gue pengen nyium lo, hahaha….” Ucap Alvin
santai dengan diiringi oleh suara tawanya. Kali ini Pricilla melotot tajam
kearah Alvin, dan tepat ketika Pricilla akan melayangkan toyorannya dikepala
Alvin, secara tiba-tiba pintu ruang perawatan Alvin terbuka. Dengan kompak,
Alvin dan Pricilla sama-sama melihat kearah pintu.
Dan
dari balik pintu menyembullah Pak Duta. Pak Duta berjalan santai menghampiri
Alvin dengan wajah tenangnya namun sarat akan gurat-gurat keangkuhan yang sama
sekali tidak bisa disembunyikan. Pak Duta menatap Pricilla sekilas lalu
melempar senyum pada mantan pacar Puteranya itu. Dengan canggung, Pricilla
membalas senyuman Pak Duta.
“kali
ini ulah apalagi yang kamu lakukan sampai harus masuk rumah sakit segala?”
Tanya Pak Duta dengan intonasi meninggi. Alvin menghela napas panjangnya lalu
membalas tatapan tajam yang Papi nya lemparkan.
“sejak
kapan Papi peduli sama aku?” Tanya Alvin dengan nada sarkatis. Pak Duta
berusaha untuk tetap tenang dan tidak terpancing emosi.
“oke.
Sepertinya kamu memang tidak perlu untuk Papi peduliin”
Merasa
bahwa ia tidak seharusnya berada ditengah-tengah Alvin dan Papi nya yang tengah
bersitegang, Pricilla akhirnya memilih untuk keluar dari ruang perawatan Alvin.
Tapi baru saja ia akan mengayunkan langkah pertamanya, tiba-tiba saja Alvin
menahan pergelangan tangannya dan menatap Pricilla seolah berkata; ‘jangan tinggalin gue! Tetep disini sama
gue’
Pricilla
akhirnya mengalah.
“ingat
Alvin. Waktu kamu tidak kurang 1 bulan lagi. Bersiaplah dari sekarang jika kamu
merasa bahwa kamu memang bukan pecundang!” itulah ucapan terakhir Pak Duta
sebelum akhirnya ia keluar dari ruang perawatan Alvin dengan emosi tertahan.
Beberapa
saat setelah kepergian Pak Duta…
“maksud
ucapan terakhir Bokap lo apa, Vin?” Tanya Pricilla penasaran.
Alvin
menatap Pricilla sejenak lalu menggelengkan kepalanya beberapa kali. Berusaha
untuk tetap memegang komitmen awalnya bahwa ia tidak akan memberi tahu kan
siapapun tentang perjanjian yang sudah ia sepakati bersama Papinya.
“nothing!”
Pricilla
tampak berpikir, dan ia terlihat kurang yakin dengan jawaban singkat yang baru
saja Alvin ajukan. Dan entah kenapa Pricilla mulai merasa bahwa ada yang tidak
beres dibalik semua ini.
***
“KAK
CAKKA!!” Panggil seseorang tepat dari belakang Cakka. Merasa begitu familiar
dengan suara itu, Cakka langsung berbalik dan melihat siapa yang sudah
memanggilnya. Sivia.
Cakka
menatap Via dengan kedua alis bertaut. Apa maksud Via memanggilnya dengan
panggilan Kakak?
“Kak
Cakka??” Tanya Cakka, berusaha meyakinkan apa yang baru saja ia dengar.
Via
berjalan mendekat menghampiri Cakka dengan seulas senyum sinis yang mengotori
wajah manisnya.
“iya,
KAK CAKKA!” Kali ini Via berputar perlahan mengelilingi Cakka dengan kedua
tangan yang terlipat diperutnya.
“CAKKA
DIMAS PUTERA ADHIRAJASA… bagaimana rasanya jadi Putera Mahkota di keluarga
ADHIRAJASA? Bagaimana rasanya jadi anak tunggal dari Edgar Adhirajasa?
Bagaimana rasanya hidup dalam kemewahan? Bagaimana rasanya hidup dengan
limpahan kasih sayang penuh dari seorang Ayah bernama EDGAR ADHIRAJASA?
BAGAIMANA RASANYA??” Bentak Via dengan suara bergetar. Air mata yang sejak tadi
berusaha ia tahan akhirnya lolos begitu saja ketika ia menghentikan
perputarannya dan berdiri tepat dihadapan Cakka.
Sebenarnya
Cakka ingin sekali bertanya darimana Via tentang semua itu. Tapi saat ia rasa
bahwa percuma saja ia menanyakan pertanyaan bodoh itu, Cakka akhirnya melupakan
keinginanya. Ia kini hanya bisa diam sambil menatap Via, menunggu apa
selanjutnya yang hendak adiknya ingin sampaikan.
“apa
lo ngerasa bahagia setelah lo rebut semua kebahagiaan masa kecil gue? apa lo
ngerasa bahagia karna udah berhasil ngerebut hati gue juga? Apa lo ngerasa
bahagia dengan semua itu, KAK CAKKA?”
“Via
dengerin aku, Vi… kamu harus tahu, selama 7 tahun kepergian kamu, gak seharipun
yang Papa lewati tanpa mikirin kamu. Dan setiap ulang tahun kamu tiba ditanggal
14 Febuari, Papa selalu menyendiri diruang kerjanya sambil meluk poto kamu.
Kamu gak pernah tau kan betapa tersiksanya papa selama ini, kamu gak pernah tau
betapa aku dan Papa ingin kamu pulang ke rum—“
“AKU
GAK TAU DAN AKU GAK PERNAH MAU TAU!! Dan jangan pernah sebut dia Papa ku! Asal
kamu tau, sosok pria yang kamu panggil dengan sebutan Papa itu udah bikin Mama
aku meninggal. Dan selamanya, aku gak akan pernah lupa dengan semua itu, bahkan
sampai aku mati pun, aku gak akan pernah mau maafin kalian… gak akan pernah”
“Via…”
“dan
jangan pernah berharap aku akan sudi pulang kerumah neraka itu lagi” ucap Via
dengan tegas tanpa menginginkan sebuah bantahan apapun. Via lalu berjalan
melewati Cakka dengan sengaja menabrakkan pundaknya dengan pundak Cakka.
Lalu
tanpa sedikitpun menoleh, Via melangkah pergi meninggalkan Cakka bersama
bermilyar-milyar rasa bersalah yang kini mulai menggerayangi hatinya tanpa
ampun.
“kamu pasti pulang Via….”
***
Via
memasuki rumahnya lalu membanting pintu sekeras mungkin. Sementara Dyna yang
saat itu tengah asyik menonton televise kontan terkejut saat mendengar suara
hantaman pintu yang lumayan keras. Dyna menoleh kebelakang dan mendapati
keponakan kesayangannya berjalan ke arahnya dengan penuh emosi.
“Rea
kamu kenapa??” tanyanya cemas seraya bangkit dari sofa yang sejak ia duduki.
“Tante,
aku mau balik ke Berlin, dan kalo Tante gak mau, aku bisa sendiri”
Kaget
dengan keinginan mendadak yang Via sampaikan itu, Dyna langsung berjalan
mendekat dan meyentuh punak Via perlahan.
“kenapa
tiba-tiba, Andrea?”
“pokoknya
aku mau balik! TITIK. Dan aku gak mau ketemu lagi sama keluarga Adhirajasa
itu.”
“Andrea…”
“ini
salah satu alesan yang bikin aku gak pernah mau pulang lagi, Tan… tapi kenapa
Tante harus paksa aku, aku –“ Via tidak tahu lagi bagaimana harus berucap, dan
ia tidak bisa lagi menahan bendungan air matanya. Dadanya terasa sangat sesak
sekali dengan kenyataan yang sekarang Tuhan hadiahkan padanya.
“Andrea…
dengerin Tante sayang… kamu harus tenang, jangan kebawa emosi dulu, kamu –“
“selama
kita ada disini aku gak akan pernah bisa tenang, Tante… gak akan pernah bisa.
Pokoknya aku mau balik ke Berlin, aku udah gak tahan lagi disini…”
“kamu
jangan tinggalin Papa lagi, Nak…”
Ucap
seseorang yang tiba-tiba saja muncul dari arah pintu. Mendengar suara itu, Via
dan Dyna langsung menoleh kearah pintu dan sama-sama mendapati Edgar yang
sedang berjalan perlahan menghampiri mereka.
“tolong
jangan pergi lagi! Apapun akan Papa lakukan supaya kamu tetap disini dan mau
pulang sama Papa. Tolong Nak… tolong…” ujar Edgar dengan nada yang terdengar benar-benar
memohon. Untuk sejenak Via tersenyum penuh kesinisan. Ia menyeka air matanya,
lalu menatap pria paruh baya itu dengan sorot mata yang terlihat sedikit lebih
tenang.
“benar
anda mau melakukan apapun supaya saya tetap disini? APAPUN?”
Edgar
hanya mengangguk, tapi perlahan hatinya
menghangat saat mendengarkan ucapan Via itu. Setidaknya ia masih
memiliki sedikit harapan lagi untuk mengembalikan Puteri Kecilnya ini
kerumahnya, kerumah mereka.
“kalau
begitu…. Hidupkan Mama saya kembali!!”
Kontan
Edgar tersentak kaget saat mendengarkan permintaan puterinya yang sangat tidak
mungkin untuk ia lakukan itu. Dan baru saja Edgar akan membuka mulut, Via malah
sudah mendahuluinya.
“gak
bisa kan anda lakukan itu? Gak mungkin kan? Begitu juga dengan saya, saya gak
bisa lagi kembali pada anda… gak bisa dan gak mungkin…” tutur Via pelan namun
penuh dengan emosi didalamnya. Via lalu berbalik dan menaiki anak tangga untuk
mencapai kamarnya tanpa sedikitpun menoleh, meninggalkan Edgar dengan sejuta
rasa penyesalan yang mungkin tidak akan pernah mampu menggapai kata maaf yang
selama ini ia impikan.
Kesalahan
yang ia lakukan dimasa lalu ternyata sangat fatal. Bahkan lebih fatal dari apa
yang mampu terpikirkan olehnya selama ini.
***
Sudah
3 hari ini Via tidak menampakkan dirinya disekolah, dan hal itu tentu saja
membuat Alvin merasa cemas. Sebenarnya Alvin ingin sekali menghubungi gadis itu
dan menanyakan bagaimana keadaannya sekarang, tapi kenyataan bahwa ia telah
melepaskan Via beberapa hari yang lalu akhirnya dengan terpaksa membuat Alvin
melupakan sejenak keinginanya.
Tidak
ada satu hal pun yang lebih menyakitkan bagi seorang Alvin, selain ia harus
pura-pura bersikap dingin dan tak acuh pada Gadis Teddy Bear-nya itu. Alvin
selalu ingin menghukum dirinya saat setiap hari dia harus bersikap dingin pada
Via dan menorehkan sebentuk luka tidak kasat mata pada dinding hati Gadis itu.
Dan
semakin kesini, Alvin semakin berpikir, apa keputusannya untuk melepaskan Via
beberapa hari yang lalu adalah benar? Apa tidak ada yang salah dengan hal itu
mengingat selama ini bagaimana besarnya usaha Alvin dalam menarik perhatian
Gadis itu.
Dan
untuk pertama kalinya, Alvin akhirnya mempertanyakan kembali keputusannya itu.
“lo
tau gak sih Via kemana akhir-akhiran ini? Udah 3 hari dia gak masuk sekolah,
Priss….”
Pricilla
terlihat berpikir sejenak. Dan tidak lama kemudian…
“gue
juga gak tau, Vin… nanti deh gue coba cari tau kerumahnya”
Dan
baru saja Pricilla menuntaskan ucapannya, tiba-tiba saja kedua manik mata Alvin
menangkap sosok Via yang sedang berjalan sendirian di koridor dengan tatapan
hampanya. Alvin tersenyum kecil, ia berlari melewati Pricilla begitu saja dan
segera menghampiri Via. Untuk sejenak, Alvin berusaha menepikan ingatannya
bahwa beberapa hari yang lalu ia telah memutuskan untuk melepaskan Via. Yang
terpenting sekarang baginya adalah, Alvin harus tau bagaimana keadaan Via.
“Via…”
panggil Alvin seraya menghalangi jalan Gadis itu. Seketika Via langsung
menghentikan langkahnya dan menatap Alvin dengan tatapannya yang masih terlihat
hampa tak bercahaya.
“kenapa
lo gak masuk selama 3 hari ini, Vi? Apa lo sakit? Lo baik-baik aja kan??” Tanya
Alvin bertubi-tubi dengan nada yang terdengar cemas. Sementara Pricilla, ia
hanya memperhatikan kedua orang itu dari kejauhan.
Saat
kedua tangan Alvin meraih salah satu tangannya, Via buru-buru menepis tangan
Alvin lalu menatapnya tajam. Alvin mencelos dengan apa yang terjadi baru saja.
“apa
peduli lo?” Tanya Via dingin. Mendadak Alvin gelagapan, bingung bagaimana harus
menjawab pertanyaan itu.
“gu…
gue… gue Cuma cemas sama keadaan lo, Vi… gue… gue –“
“kalo
lo emang cemas sama keadaan gue terus kenapa dari awal lo gak bilang kalo Cakka
itu Kakak Tiri gue, KENAPA LO GAK BILANG ALVIN??”
Kali
ini Alvin kaget sekagetnya kagetnya. Darimana Via tau tentang semua itu? Apa
Cakka sudah memberitahukannya? Dan baru saja Alvin akan membuka mulut hendak
menanyakan hal itu pada Via, Via malah sudah mendahuluinya.
“bingung
gimana gue bisa tau semua ini? LO BINGUNG??”
“Vi…
tolong kasi gue kesempatan buat ngejelasin dulu, ini semua gak seperti apa yang
ada dibayangan lo. Gue Cuma mau Cakka sendiri yang langsung ngasih tau lo, dan
gue… gue Cuma ngerasa gak perlu ikut campur dalam urusan internal keluarga
kalian, itu aja…”
“mereka
bukan keluarga gue. Asal lo tau itu!”
“Via….”
“mulai
sekarang, mulai detik ini, anggep aja kalo kita berdua gak pernah saling kenal
satu sama lain. Gue gak mau lagi kenal sama cowok pembohong kayak lo, ngerti
lo?”
“kenapa
tiba-tiba lo nyalahin Alvin kayak gini?” kata seseorang yang tiba-tiba saja
berdiri disamping Alvin lalu menatap Via dengan pandangan menentang keras. Via
sedikit terkejut dengan kehadiran Pricilla yang secara tiba-tiba lalu membela
Alvin.
“gak
seharusnya lo nyalahin Alvin kayak gini, harusnya lo berterimakasih sama Alvin
karna Alvin udah ngasih separuh hi –“
“PRICILLA
CUKUP!!!” intonasi suara Alvin yang cukup tinggi itu langsung membuat Pricilla
terdiam dalam sekejab dan menelan bulat-bulat sesuatu yang mengganjal dihatinya
selama ini. Alvin menatap Pricilla tajam namun sarat akan sebuah permohonan.
Alvin tidak pernah berharap bahwa Pricilla akan membongkar semuanya disini. Dan
Alvin tidak pernah ingin Via tahu bahwa dirinyalah yang telah mengorbankan satu
ginjalnya untuk Via.
“lo
gak perlu lagi lanjutin semuanya, gak perlu, Priss…” kali ini nada bicara Alvin
terdengar melembut. Beberapa saat kemudian ia langsung mengalihkan perhatiannya
pada Via. Alvin tersenyum penuh pengertian lantas berujar.
“oke,
kalo itu mau lo! Mulai sekarang, mulai detik ini, gue akan bersikap seolah-olah
gue gak pernah kenal lo. Gue akan ikutin semua permintaan lo, Via… semuanya
tanpa terkecuali…”
Dan
saat itu juga Via merasa bahwa ada sepasang tangan raksasa yang sedang meremas
jantungnya tanpa ampun. Ternyata Alvin benar-benar telah melepaskannya.
Merasa
bahwa Via tidak ingin lagi melemparkan komentar atas ucapannya baru saja, Alvin
pun meraih pergelangan tangan Pricilla lalu membawanya setengah paksa untuk
pergi dari tempat itu dan meninggalkan Via sendiri.
‘akhirnya lo bener-bener ngelepasin gue,
Vin….’
***
Dan
Alvin benar-benar membuktikan perkataannya sejak hari itu. Setiap hari,
meskipun berada disatu kelas yang sama, Alvin selalu berusaha menganggap bahwa
Via tidak pernah ada. Jangan tanyakan bagaimana hancurnya perasaan Alvin. Karna
siapapun tidak akan pernah bisa menggambarkan bagaimana hancurnya perasaan
Alvin saat ini. Bukankah hal ini yang Via ingin sejak lama? Dan bukankah sejak
awal pertemuan mereka Alvin sama sekali tidak pernah memiliki tempat yang
istimewa dihatinya?
Dan
disaat Alvin berusaha mati-matian menahan segalanya, Via malah merasa ada
sebagian dari dirinya yang menghilang. Dan tidak bisa Via pungkiri, bahwa ia
sangat merindukan Alvin yang dulu hampir setiap hari mengejarnya hanya untuk
menarik perhatiannya. Tapi sekarang…?? Via benar-benar kehilangan Alvin yang
dulu.
“Via…”
Via
langsung menghentikan langkahnya saat tiba-iba Cakka muncul dihadapannya lalu
menghalangi jalannya.
“mau
apa lagi, kamu??” Tanya Via dingin lalu membuang tatapannya kearah lain.
“aku
mohon sama kamu, sekarang kamu harus ikut pulang sama aku!”
“buat
apa??” Tanya Via lagi dengan nada setengah membentak.
Cakka
menghela napas panjangnya. Bagaimana ia harus memulai menjelaskan semuanya?
Bagimana ia harus menjelaskan apa yang sedang terjadi pada Papa nya saat ini?
Via tersenyum sinis, merasa bahwa Cakka tidak memiliki alasan yang kuat untuk
membawanya pulang, Via pun melangkah pergi meninggalkan Cakka. Tapi baru
beberapa langkah ia bergerak, suara Cakka kembali terdengar.
“Papa
kena serangan jantung! Gak ada yang dapat memastikan kapan Papa sadar. Dan
Dokter Emil meminta aku untuk membawa kamu pulang, Vi. Cuma kamu satu-satunya
kekuatan yang Papa miliki supaya ia tetap bertahan hidup… Cuma kamu, Vi… bukan
aku, bukan Mama ku, juga bukan yang lainnya…”
Via
langsung membeku ditempatnya. Mungkin selama ini ia berpikir bahwa pintu maaf
nya sudah benar-benar tertutup untuk Papanya, tapi entah kenapa, saat mendengar
berita bahwa Papa nya terkena serangan jantung, Via justru merasa cemas. Jauh
didalam sana hatinya seakan menangis. Dulu ia pernah kehilangan Mamanya,
sekarang masakah ia harus kehilangan orang tuanya untuk yang kedua kalinya??
Via
memejamkan matanya, berusaha mencari keputusan terbaik yang bisa segera mungkin
ia ambil. Via lalu menghela napas panjangnya dan meyakinkan hatinya bahwa
keputusan yang ambil kali ini bukanlah sebuah keputusan yang salah.
Via
lalu berbalik dan menatap Cakka. Kali ini, sudah tidak ada lagi emosi dalam
pandangan matanya, dan Cakka bisa menangkap semua itu dengan jelas.
“aku
akan pulang…..”
BERSAMBUNG…



0 comments:
Post a Comment