Friday, March 14, 2014

0

You’re Mine [Part 17:Seutas Keterbatasan]












Sebelumnya…


“kenapa kayaknya susah banget lo ngejelasin semuanya ke Via?” ucap seseorang yang tiba-tiba saja sudah berdiri tepat dibelakang Cakka.

            Mendengar ada sebuah suara yang begitu familiar menyapa gendang telinga nya, Cakka langsung menoleh kebelakang dan mendapati Alvin yang saat itu tengah berdiri dengan santainya sambil bersandar pada salah satu pilar, Alvin memasukan kedua tangannya pada kedua sisi kantong celana seragamnya. Cakka menatap Alvin dengan pandangan heran, bingung apa maksud dari ucapan Alvin itu, apa jangan-jangan….?

            “atau apa lo perlu bantuan dari gue buat bilang yang sebenernya ke Via kalo lo itu –“ jeda Alvin sesaat lalu berjalan perlahan menghampiri Cakka dengan gayanya yang tetap santai.

            “kakak tirinya dia…” bisik Alvin pelan depan telinga Cakka seakan takut seisi dunia akan mendengarkan bisikannya.

            Cakka tersentak. Darimana Alvin tahu semuanya? Ia bahkan belum mengatakan hal ini pada siapapun. Tapi Cakka yang memang tidak mau ambil pusing langsung menatap Alvin dengan tatapannya yang selalu terlihat tenang.

            “lo nggak perlu susah-susah ngasih tau Via, karna nanti gue pasti akan ngasih tau dia kalo waktunya tepat…”

            “waktu yang tepat? Kapan? Lo mau liat Via mati secara perlahan karna perasaannya ke elo? HAH?!” Kata Alvin mulai tak tahan.

            “Alvin, lo nggak perlu ngelakuin apapun buat gue. Yang perlu lo lakuin Cuma satu hal, dan itu buat Via!” kata Cakka seraya mengacungkan jari telunjuknya.

            “apa?” Tanya Alvin yang merasa sedikit penasaran. Alvin juga berusaha keras menahan emosinya agar tidak terjadi pertengkaran antara dirinya dengan Cakka seperti waktu itu.



            “rebut hati Via, dan jadikan dia milik lo!!”




***

Part 17


            Saat rasa menggugah asa, ada sebentuk benih cinta yang tumbuh dan mengalir selayaknya sungai yang memburu samudranya. Mereka hanyut mengikuti arus yang membawa mereka. Dan ketika semuanya mengalir tanpa hambatan, ada seutas keterbatasan yang tak kasat mata berlalu begitu saja dan hanyut bersama luapan cinta yang terus mengalir bagai air.
            Dan saat satu diantara mereka mulai membuka mata dalam kehanyutan yang memabukan. Barulah ia sadari bahwa perasaan itu ternyata telah melampaui batas yang tidak seharusnya mereka lampaui.
            Tapi cinta itu sudah terlanjur mengalir dan hanyut dalam buaian perasaan yang tercipta dengan sempurna. Lalu bagaimana ia harus menghentikan aliran itu?
            Satu pertanyaan yang mengusik nurani itu lalu ia teriakan keangkasa luas. Dan saat alam raya bergeming enggan memberikan jawaban, samar-samar hati kecilnya membisikan bahwa hanya kejujuran hatinya lah yang mampu membendung aliran itu. Kejujuran hati yang nantinya akan menghadiahkan sebentuk luka yang menganga lebar… Tetapi ia terlempar pada posisi dilemma yang tidak diinginkannya saat ia tahu, bahwa tidak ada lagi jalan lain baginya selain harus terluka lebih dulu sebelum mengecap semilir bahagia dalam setiap hembusan napasnya.

            Iya… mereka harus terluka dulu…




***


            “Gabriel!”

            Merasa ada seseorang yang memanggil namanya, Gabriel langsung menghentikan sejenak aktifitas mendrible bola basketnya. Ia mengapit bola itu diantara lengannya lalu menoleh kearah sumber suara. Dan Gabriel sedikit terkejut ketika melihat Shilla yang saat itu sudah berdiri dibelakangnya dengan mata sembab dan sedikit memerah. Sepertinya Shilla habis menangis.

            “Shi –“ belum tuntas Gabriel memanggil nama itu, Shilla malah sudah menubruk tubuh kekarnya lalu memeluknya seerat mungkin. Untuk beberapa detik Gabriel membeku, bola yang tadinya terapit dilengannya pun kini terjatuh dan bergulir hingga ke pinggir lapangan.
            Gabriel merasakan baju seragam bagian depannya mulai basah oleh air mata Shilla, dan samar-samar Gabriel mendengar sebuah isakan-isakan kecil mulai keluar. Kini Gabriel benar-benar yakin bahwa mantan pacarnya ini sedang menangis. Tapi menangis karna apa? Karna siapa? Apa karna Caka?
            Gabriel mencengkram kuat-kuat jemari tangannya, ia berusaha melawan keinginanya untuk membalas pelukan itu. Hatinya masih terlanjur  sakit saat beberapa waktu yang lalu Gabriel mengetahui sebuah kenyataan bahwa ternyata Shilla dan Cakka sudah bertunangan, ditambah lagi, saat tadi Gabriel tanpa sengaja mendengar Shilla mengungkapkan perasaannya pada Cakka. Gabriel memejamkan kedua matanya, ia lalu mengangkat kedua tangannya dan menyentuh kedua pundak Shilla yang bergetar hebat, tepat saat Gabriel akan melepaskan pelukan Shilla, Shilla malah menggelengkan kepalanya kuat-kuat seraya berkata,

            “jangan dilepas, Yel… please! Gue butuh elo, kalo sekarang lo mau coba ngehindarin gue lagi kayak sebelum-sebelumnya, gue nggak tau harus kemana lagi, Yel…. Gue nggak tau…” ungkap Shilla lirih disela-sela isakkannya yang terdengar begitu menyayat hati.

            Dan pada akhirnya Gabriel berusaha meredam semua rasa sakit hatinya dan menelannya bulat-bulat bersama rasa kecewanya. Jika sudah seperti ini, Gabriel tidak akan pernah bisa menghindari gadis ini. Rasa cintanya terlampau besar untuk bisa terkalahkan oleh setitik rasa bencinya. Gabriel lalu menghela napas beratnya, ragu-ragu ia akhirnya membalas pelukan Shilla.


            “gue selalu disini buat lo…” lirihnya pelan setelah berusaha keras melawan ego nya.






***


            Alvin memberhentikan mobilnya di halte yang berada tepat didepan sekolahnya saat ia melihat Via berdiri sendiri disana. Dari dalam mobilnya, Alvin bisa melihat dengan sangat jelas Via yang ketika itu masih sesunggukan sedih akibat pertemuannya dengan Cakka. Tadi saat urusannya dengan Cakka telah selesai, Alvin langsung memutuskan untuk mengejar Via, dan sekarang untungnya Via masih belum menaiki bus.

            “masuk gih! Gue anter” kata Alvin berusaha terdengar dingin tanpa sedikitpun melihat kearah Via.

            Via lalu mengangkat wajahnya dan menatap kearah Alvin yang berada didalam Ferarri merah kesayangannya. Tidak lama Via lalu menggeleng, berusaha menolak ajakan Alvin. Alvin menghela napas dalam-dalam dan membuangnya secara kasar. Alvin selalu benci sikap keras kepala gadis ini.
            Jika selama ini Alvin selalu berusaha sabar dalam menghadapi kekerasan kepala Via, maka hari ini Alvin menunjukan sikap yang benar-benar berbeda dari sebelum-sebelumnya. Ia muak dengan semuanya, sekarang saatnya lah ia tegas atas hatinya, juga atas Gadis pemilik hatinya ini.

            “lo masuk secara suka rela atau gue seret?!” kali ini nada bicara Alvin benar-benar terdengar sinis dan sedikit mengancam.

            Via terkejut bukan main dengan respon yang Alvin tunjukan. Tidak biasanya Alvin berkata kasar seperti ini, apalagi pada dirinya. Atau apa Alvin masih marah dengan pertengkaran kecil yang terjadi diantara mereka dikelas tadi?

            “gue bilang nggak ya nggak! Ngerti lo?” jawab Via yang benar-benar sudah merasa terpancing emosinya.

            Via lalu berjalan menjauhi mobil Alvin tanpa sedikitpun menoleh kebelakang. Sekali lagi Alvin menghela napas panjangnya. Ia membanting kedua tangannya diatas setir mobilnya, lalu tanpa perlu berpikir panjang lagi, Alvin langsung keluar dari dalam mobilnya dan melangkah besar-besar berusaha mengejar langkah Via.
            Saat ia berhasil mendahului langkah gadis itu, Alvin pun berdiri tepat dihadapannya dan menghalangi jalannya. Via berdecak kesal lalu menantang tatapan dingin Alvin.

            “minggir!” titahnya keras. Alvin menggeleng mantap.

            “gue bilang minggir!” ulang Via sekali lagi. Alvin kembali menggeleng.

            Merasa bosan bermain-main dengan Alvin, Via pun memutuskan untuk berbalik dan memilih jalan lain. Tapi baru saja beberapa langkah ia menjauhi Alvin, tiba-tiba saja ia merasakan tubuhnya seperti diangkat. Dan saat ia sadar bahwa ia telah berada dalam bopongan Alvin, Via langsung menjerit minta diturunkan.

            “Alvin turunin gue! Turunin gueeeee!!!”

            Alih-alih menghiraukan jeritan Via juga tatapan semua orang yang kini tertuju pada mereka berdua, Alvin tetap berjalan dengan santainya tanpa memperdulikan keadaan sekitar. Alvin lalu membuka pintu mobilnya dan menghempaskan tubuh Via di jok penumpang. Setelah yakin bahwa Via tidak akan bisa lagi kabur darinya, Alvin langsung menutup pintu mobilnya dan masuk kedalam mobilnya melalui pintu yang satunya lagi.

            “apa sih mau lo?!” Tanya Via sinis seraya menatap Alvin yang sudah duduk disebelahnya dengan tatapan benci.

            Alvin tidak menanggapi pertanyaan yang menurutnya sangat tidak penting itu. Baru saja ia akan menjalankan mobilnya, tiba-tiba Alvin merasakan sakit dibagian pinggangnya. Ini pasti bekas luka operasi itu. Fikirnya. Rasa sakit itu timbul lagi karna baru saja Alvin memaksakan dirinya mengangkat tubuh Via, dan Alvin seharusnya tidak melakukan hal itu mengingat bekas luka operasinya yang belum sembuh total.
            Alvin memejamkan matanya, dan berusaha meredam rasa sakit yang kelamaan semakin menyiksa itu. Menangkap ada sesuatu yang aneh dari gelagat Alvin membuat Via langsung cemas. Ia bahkan lupa kalau beberapa menit yang lalu ia sempat bertengkar dengan Alvin.

            “elo kenapa, Vin….?”

            Alvin menggeleng, ia langsung menegakkan tubuhnya saat rasa sakit itu berangsur menghilang. Semoga akibatnya tidak fatal. Harap Alvin dalam hati.

            “gue mau pulang sendiri!” kata Via tegas beberapa saat setelah Alvin menggelengkan kepalanya.

            “nggak. Lo harus pulang sama gue”

            “nggak bisa! Pokoknya gue mau pulang sendiri”

            Via sudah bersiap-siap untuk membuka pintu mobil dan segera keluar dari dalam mobil milik Alvin, tapi sedetik kemudian dan sebelum ia sempat membuka pintu mobil, Via tahu-tahu merasakan Alvin menarik lengannya dan menangkup wajahnya. Dengan gerakan cepat dan tidak terduga Alvin menempelkan bibirnya pada bibir gadis itu. Via membeku dengan kedua mata yang terbuka maksimal.
            Otaknya memerintahkannya untuk segera mendorong Alvin jauh-jauh dan menjeritkan kata protes, tapi hati kecilnya justru berkata lain dan seakan mengunci seluruh pergerakannya. Tanpa ia komando, jantungnya tiba-tiba saja berdegub dengan sangat kencang. Selama ia berada disamping Alvin, ini baru pertama kalinya jantungnya bekerja diatas batas normal. Ada apa dengannya?

            Dan didetik itu lah, tanpa bisa ia sadari, cinta secara diam-diam datang mengetuk pintu hatinya dan menulusup masuk tanpa permisi. Mungkin sekarang ia belum mau menyadarinya, tapi nanti semuanya akan terkuak disaat keadaan tidak lagi sama dan menyisakan bermilyar-milyar penyesalan disanubarinya.

            Via sedikit merasakan kecewa saat 5 detik kemudian Alvin menjauhkan wajahnya. Alvin tersenyum kecil pada Via lalu membelai lembut pipinya.

            “jangan berontak kalo lo nggak mau gue cium lagi. Ngerti?!”

            Via mengangguk seolah diperintahkan.

            “dan satu hal yang harus lo tau, Vi! Mulai detik ini, gue nggak akan lagi ngejer-ngejer lo, dan bahkan kalo lo minta gue buat ngejauhin lo, gue akan ngejauhin lo. Gue nggak mau terus-terusan berusaha ngerebut hati yang jelas-jelas bukan milik gue… sekarang gue udah ngelepasin lo, Sivia…”

            Via merasakan jantungnya seperti dipukul saat mendengarkan ucapan Alvin. Apa benar yang Alvin katakan itu? Apa Alvin sungguh-sungguh ingin menyerah disaat cinta itu mulai mengetuk pintu hatinya?

            “Vin –“

            “ini terakhir gue maksa-maksa lo, ini terakhir gue bisa sedeket ini sama lo. Dan gue minta maaf kalo selama ini gue lebih banyak nyakitin perasaan lo. Dan lo juga musti tau, gue ngelakuin semua ini bukan karna gue nggak cinta lagi sama, tapi gue ngelakuin semua ini semata-mata karna gue nggak mau terus-terusan maksain hati lo buat bisa sayang sama gue…”

            Kali ini Via membuang wajahnya kearah lain, berusaha menekan segala gejolak didadanya. Kenapa rasanya harus semenyesakkan ini?

            “mencintai lo adalah hal yang paling indah yang pernah gue rasain, mencintai lo juga membuat gue sadar bahwa cinta itu emang nggak selamanya harus saling memiliki. Mungkin munafik kedengerannya, tapi memang itulah kenyataan. Pahit memang, tapi gue harus tetep ngejalaninnya, kan? Sampai kapanpun gue akan tetep simpen perasaan ini buat, gue janji sama lo…  hanya saja sekarang keadaannya mungkin nggak akan sama kayak dulu lagi” Alvin tersenyum kecil, berusaha menutupi sakit bertubi-tubi yang kini ia rasakan.

            Memangnya apalagi yang lebih menyesakkan dari ini? Memangnya apalagi yang lebih menyakitkan bagi seorang Alvin saat ia harus dengan terpaksa melepaskan dan merelakan cintanya terbang jauh darinya?

            Alvin tahu ini menyakitkannya, sangat menyakitkannya malah. Tapi Alvin harus tetap merelakannya.

            “satu lagi Via! Segimanapun kerasnya lo berusaha nolak gue selama ini, tapi nggak pernah sedikit pun terbersit rasa sesal dihati gue karna telah memilih lo… dan gue akan tetep milih lo sekalipun lo nggak milih gue…”



***


“jika ada sesuatu yang membuatmu gelisah…
Yang kau ingin katakanlah…
Yang kau mau katakanlah padaku…

Ku tak ingin kau mengubah keadaan ini
Aku merindukan kamu yang dulu…”


            Seperti yang telah tertuliskan oleh takdir, semuanya berjalan sesuai apa yang direncanakan, semuanya berjalan dijalur masing-masing tanpa berpegangan tangan, juga tanpa saling menguatkan satu sama lain. Jalan mereka telah berbeda sejak hari itu, tapi akankah tujuan mereka tetap satu? Biarkan akhir cerita ini yang akan menjawabnya.
            Alvin bukan lagi Alvin yang dulu, disaat Via secara perlahan-lahan mulai menyadari adanya benih-benih cinta yang mulai bertebaran dihatinya. Alvin bukan lagi Alvin yang dulu, disaat Via tidak sedikitpun menampik rasa yang kini mulai mewarnai hari-harinya. Dan Alvin bukan lagi Alvin yang dulu, disaat Via mulai mengijinkan perasaan indah bernama cinta itu merasuki relungnya. Disaat Via maju secara pasti, hendak membalas rasa yang dulu pernah ia abaikan, Alvin malah mundur secara teratur dan melepaskan semuanya.
            Ya… kini semuanya telah berubah begitu Via menyadari ada hal berbeda yang ia rasakan. Semuanya berubah begitu cepat bahkan sebelum Via masih tidak begitu yakin dengan hatinya.
            Dan ada rasa sedikit nyeri ketika untuk setiap harinya Via harus menghadapi Alvin bersama sikap cuek dan dinginnya. Diam-diam, Via sangat merindukan Alvin yang dulu. Dan diam-diam juga Via merasakan bahwa ia telah kehilangan Alvin yang dulu.
            Dan pagi ini, saat ia kembali berhadapan dengan Alvin, mereka sama-sama menghentikan langkah mereka untuk sejenak dan saling menatap satu sama lain. Via tersenyum kecil, tapi ia langsung mencelos, ketika mulutnya baru saja akan terbuka menyebut nama pemuda itu, Alvin malah berlalu begitu saja, bahkan tanpa seulas senyum sama sekali.
            Hari ini, Alvin telah benar-benar membuktikan perkataannya tempo hari. Ia telah menyerah. Mungkin dulu Via sangat menginginkan hal itu, tapi tidak dengan sekarang. Hatinya seakan menolak keras segala perubahan Alvin sekarang ini.


            ‘gue kangen Alvin yang dulu….’ Lirihnya dalam hati lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu.

            Cakka yang sejak tadi memperhatikan mereka secara diam-diam, hanya bisa menahan emosi melihat pemandangan itu. Mendadak Cakka merasa perlu menyelesaikan sesuatu dengan Alvin.
            Cakka segera mengambil langkahnya dan ingin cepat-cepat menyelesaikan segala ‘urusannya’ hari ini juga.




***



            Ketika jam istirahat tiba, Alvin langsung pergi ke lapangan basket memenuhi panggilan Cakka begitu ia menerima sebuah pesan singkat dari Cakka saat bel tanda istirahat tadi berkumandang.
            Alvin sudah berdiri dilapangan basket dan menyaksikan Cakka yang saat itu sudah stay ditengah lapangan dengan kostum basketnya juga bola basket dalam dribble-annya. Kedua alis Alvin bertemu, dalam hati ia bertanya-tanya, apa maksud Cakka mengundangnya ke tempat ini? Apa Cakka ingin mengajaknya bertengkar lagi seperti waktu itu?
            Menyadari bahwa ia tidak sedang sendiri ditempat itu, Cakka langsung menembakkan bola itu kearah ring lalu berbalik dan menatap Alvin yang ternyata sudah berdiri dibelakangnya. Tatapan Cakka begitu tajam, dan sedetik kemudian Cakka tersenyum sinis pada sahabatnya yang sekarang telah menjadi rival nya itu.

            “ada apa, Kka?” Tanya Alvin tanpa basa basi apapun. Ia hanya ingin cepat-cepat menyelesaikan urusannya dengan Cakka dan segera pergi dari tempat ini.

            “lo lupa dengan pembicaraan kita waktu itu?” Tanya Cakka dingin.

            Alvin terdiam sejenak lalu memutar ingatannya. Potongan sebuah kejadian saat Cakka memintanya untuk merebut hati Via dan memilikinya menyeruak dikepala Alvin. Tapi apa semua itu sekarang penting? Apa semua itu masih harus ia lakukan disaat hati Via tidak pernah untuknya?

            “gue inget. Tapi gue udah mutusin buat ngelepasin dia. Gue nggak mau maksain hati yang sebenarnya nggak pernah buat gue…”

            “dan lo nyerah gitu aja? Hm?” desis Cakka tajam.

            “memangnya apa yang harus gue perjuangin lagi?” Alvin tidak mau kalah.

            Kali ini Cakka tidak terdengar menjawab pertanyaan Alvin. Cakka hanya tersenyum sinis, lalu beberapa detik kemudian Cakka segera mengambil bola basket yang ada disamping kakinya. Cakka menunjukan bola itu kearah Alvin lantas bertanya,

            “lo masih inget cara maen basket?” Cakka seakan menantang.

            Alvin terkejut bukan main. Kenapa Cakka tiba-tiba menanyakan hal itu setelah sekian lama Alvin vacuum dari basket karna lebih memilih sepak bola. Apa Cakka ingin menantangnya main basket sekarang?
            Masalah yang sebenarnya bukanlah karna  Alvin sudah tidak bisa bermain basket lagi. Tapi luka bekas operasinya yang masih belum sembuh total mau tidak mau harus membuat Alvin meninggalkan olahraga berat seperti bermain basket, sepak bola dan lain sebagainya.
            Dan sebelum Alvin menjawab pertanyaan Cakka yang sebenarnya menjurus kearah sebuah tantangan itu, Cakka malah sudah melemparkan bola itu kearah Alvin yang kemudian ditangkap secara reflex  oleh Alvin.

            “kalahin gue sekarang! Itu pun kalo lo bisa” ujar Cakka dengan nada meremehkan.

            Alvin yang dapat merasakan dengan sangat jelas sikap meremehkan yang Cakka tunjukan itu langsung mendrible bola yang tadi Cakka lemparkan itu, lalu dalam sebuah tembakan jarak jauh, Alvin menembakkan bola itu hingga menembus ring. Bola itu terpental kearah Alvin, dan Alvin pun kembali menangkapnya dengan baik.

            “oke. Gue terima tantangan lo!!” ucap Alvin mantap tanpa sedikitpun memikirkan resiko yang akan ia terima nanti. “kalo gue menang, lo harus bilang sendiri ke Via hari ini juga, kalo lo adalah Kakak tirinya, kakak tiri yang udah ngerebut segalanya dari dia…” sinis Alvin tajam dan penuh dengan api emosi yang meledak-ledak. Ia merasa muak karna terus-menerus diremehkan oleh Cakka.

            Kali ini giliran Cakka yang bungkam. Dan sebelum Cakka membuka suara menjawab tantangannya, Alvin langsung memulai permainannya dan diam-diam menahan rasa sakit yang mulai terasa didaerah belakang pinggangnya. Persetan dengan rasa sakit itu. Ia harus bisa mengalahkan Cakka!



***


            “kalo gue menang, lo harus bilang sendiri ke Via hari ini juga, kalo lo adalah Kakak tirinya, kakak tiri yang udah ngerebut segalanya dari dia…”

            Perkataan Alvin yang ia dengarkan beberapa menit yang lalu terus berputar diotak Via tanpa henti. ia pun berbalik dan melangkah pergi meninggalkan lapangan indoor bahkan sebelum Cakka dan Alvin menyadari kehadirannya. Benarkah? Benarkah apa yang Alvin katakan itu? Benarkah Cakka adalah Kakak tirinya?
            Jika semua itu benar dan Alvin telah mengetahui semuanya, lalu kenapa Alvin harus menyembunyikannya dari Via selama ini? Dan Cakka… kenapa Cakka tidak pernah mau jujur padanya?
            Via merasa sudah tidak bisa lagi menghirup udara yang ada disekitarnya. Semua ini terlalu menyesakkan baginya. Ini kah alasan Cakka dibalik segala penolakannya selama ini?

            Kenyataan ini benar-benar menohoknya tanpa ampun. Disaat semua masa lalunya yang menyimpan luka itu kembali mengobrak-abrik kehidupannya, disaat semua masa lalu kelam yang telah ia kubur dalam-dalam itu kembali bangkit dan membuka luka lama itu.

            Via memegangi dadanya kuat-kuat, berusaha meredam rasa sesak yang kian menyiksanya tanpa ampun. Sekarang saatnyalah ia berlari dan menghindari dari kenyataan ini.





***



            Bel tanda masuk berkumandangan dan memberi tanda bahwa pertandingan satu lawan satu antara Alvin dan Cakka telah berakhir. Dan pertandingan sengit dimenangkan oleh Cakka. Pada menit-menit awal sebenarnya Alvin lah yang menguasai permainan, tapi rasa sakit dibagian luka operasinya yang sudah tidak dapat ia tahan lagi akhirnya membuat konsentrasi Alvin berantakkan dan membuatnya kalah menghadapi Cakka, entah untuk yang keberapa kalinya.
            Cakka tersenyum sinis namun penuh kemenangan. Ia melangkah perlahan menghampiri Alvin yang saat itu terduduk ditengah lapangan sambil memegangi pinggangnya.

            “gue salut sama usaha keras lo, Alv!”

            Cakka menepuk pundak Alvin beberapa kali lalu melangkah pergi meninggalkan Alvin sendirian dilapangan.

            Rasa sakit yang sekarang tengah menguasai dirinya membuat Alvin tidak berdaya. Ia juga tidak bisa melakukan apapun saat Cakka akhirnya berhasil mengalahkan dirinya.
            Sekarang tinggalah Alvin sendiri disana. Ia memejamkan matanya, menarik napasnya dalam-dalam untuk meredam rasa sakit itu. Bukannya mereda, rasa sakit itu malah semakin gencar menyiksa dirinya. Alvin berusaha mengumpulkan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki. Dan saat ia rasa ia memiliki sedikit kekuatan, Alvin pun bangkit.

            Tapi sebelum ia sempat melangkahkah kakinya, ia malah sudah jatuh tergeletak ditengah lapangan. Semuanya berangsur gelap, hingga akhirnya Alvin benar-benr tidak sadarkan diri lagi.






                                    BERSAMBUNG….

           



0 comments:

Post a Comment