Sebelumnya…
“kenapa kayaknya susah banget lo
ngejelasin semuanya ke Via?” ucap seseorang yang tiba-tiba saja sudah berdiri
tepat dibelakang Cakka.
Mendengar ada sebuah suara yang
begitu familiar menyapa gendang telinga nya, Cakka langsung menoleh kebelakang
dan mendapati Alvin yang saat itu tengah berdiri dengan santainya sambil
bersandar pada salah satu pilar, Alvin memasukan kedua tangannya pada kedua
sisi kantong celana seragamnya. Cakka menatap Alvin dengan pandangan heran,
bingung apa maksud dari ucapan Alvin itu, apa jangan-jangan….?
“atau apa lo perlu bantuan dari gue
buat bilang yang sebenernya ke Via kalo lo itu –“ jeda Alvin sesaat lalu berjalan
perlahan menghampiri Cakka dengan gayanya yang tetap santai.
“kakak tirinya dia…” bisik Alvin
pelan depan telinga Cakka seakan takut seisi dunia akan mendengarkan
bisikannya.
Cakka tersentak. Darimana Alvin tahu
semuanya? Ia bahkan belum mengatakan hal ini pada siapapun. Tapi Cakka yang
memang tidak mau ambil pusing langsung menatap Alvin dengan tatapannya yang
selalu terlihat tenang.
“lo nggak perlu susah-susah ngasih
tau Via, karna nanti gue pasti akan ngasih tau dia kalo waktunya tepat…”
“waktu yang tepat? Kapan? Lo mau
liat Via mati secara perlahan karna perasaannya ke elo? HAH?!” Kata Alvin mulai
tak tahan.
“Alvin, lo nggak perlu ngelakuin
apapun buat gue. Yang perlu lo lakuin Cuma satu hal, dan itu buat Via!” kata
Cakka seraya mengacungkan jari telunjuknya.
“apa?” Tanya Alvin yang merasa
sedikit penasaran. Alvin juga berusaha keras menahan emosinya agar tidak
terjadi pertengkaran antara dirinya dengan Cakka seperti waktu itu.
“rebut hati Via, dan jadikan dia
milik lo!!”
***
Part 17
Saat rasa menggugah asa, ada
sebentuk benih cinta yang tumbuh dan mengalir selayaknya sungai yang memburu
samudranya. Mereka hanyut mengikuti arus yang membawa mereka. Dan ketika
semuanya mengalir tanpa hambatan, ada seutas keterbatasan yang tak kasat mata
berlalu begitu saja dan hanyut bersama luapan cinta yang terus mengalir bagai
air.
Dan saat satu diantara mereka mulai
membuka mata dalam kehanyutan yang memabukan. Barulah ia sadari bahwa perasaan
itu ternyata telah melampaui batas yang tidak seharusnya mereka lampaui.
Tapi cinta itu sudah terlanjur
mengalir dan hanyut dalam buaian perasaan yang tercipta dengan sempurna. Lalu
bagaimana ia harus menghentikan aliran itu?
Satu pertanyaan yang mengusik nurani
itu lalu ia teriakan keangkasa luas. Dan saat alam raya bergeming enggan
memberikan jawaban, samar-samar hati kecilnya membisikan bahwa hanya kejujuran
hatinya lah yang mampu membendung aliran itu. Kejujuran hati yang nantinya akan
menghadiahkan sebentuk luka yang menganga lebar… Tetapi ia terlempar pada
posisi dilemma yang tidak diinginkannya saat ia tahu, bahwa tidak ada lagi
jalan lain baginya selain harus terluka lebih dulu sebelum mengecap semilir
bahagia dalam setiap hembusan napasnya.
Iya… mereka harus terluka dulu…
***
“Gabriel!”
Merasa ada seseorang yang memanggil namanya, Gabriel
langsung menghentikan sejenak aktifitas mendrible bola basketnya. Ia mengapit
bola itu diantara lengannya lalu menoleh kearah sumber suara. Dan Gabriel
sedikit terkejut ketika melihat Shilla yang saat itu sudah berdiri
dibelakangnya dengan mata sembab dan sedikit memerah. Sepertinya Shilla habis
menangis.
“Shi –“ belum tuntas Gabriel memanggil nama itu, Shilla
malah sudah menubruk tubuh kekarnya lalu memeluknya seerat mungkin. Untuk
beberapa detik Gabriel membeku, bola yang tadinya terapit dilengannya pun kini
terjatuh dan bergulir hingga ke pinggir lapangan.
Gabriel merasakan baju seragam bagian depannya mulai
basah oleh air mata Shilla, dan samar-samar Gabriel mendengar sebuah
isakan-isakan kecil mulai keluar. Kini Gabriel benar-benar yakin bahwa mantan
pacarnya ini sedang menangis. Tapi menangis karna apa? Karna siapa? Apa karna
Caka?
Gabriel mencengkram kuat-kuat jemari tangannya, ia
berusaha melawan keinginanya untuk membalas pelukan itu. Hatinya masih
terlanjur sakit saat beberapa waktu yang
lalu Gabriel mengetahui sebuah kenyataan bahwa ternyata Shilla dan Cakka sudah
bertunangan, ditambah lagi, saat tadi Gabriel tanpa sengaja mendengar Shilla
mengungkapkan perasaannya pada Cakka. Gabriel memejamkan kedua matanya, ia lalu
mengangkat kedua tangannya dan menyentuh kedua pundak Shilla yang bergetar
hebat, tepat saat Gabriel akan melepaskan pelukan Shilla, Shilla malah
menggelengkan kepalanya kuat-kuat seraya berkata,
“jangan dilepas, Yel… please! Gue butuh elo, kalo
sekarang lo mau coba ngehindarin gue lagi kayak sebelum-sebelumnya, gue nggak
tau harus kemana lagi, Yel…. Gue nggak tau…” ungkap Shilla lirih disela-sela
isakkannya yang terdengar begitu menyayat hati.
Dan pada akhirnya Gabriel berusaha meredam semua rasa
sakit hatinya dan menelannya bulat-bulat bersama rasa kecewanya. Jika sudah
seperti ini, Gabriel tidak akan pernah bisa menghindari gadis ini. Rasa cintanya
terlampau besar untuk bisa terkalahkan oleh setitik rasa bencinya. Gabriel lalu
menghela napas beratnya, ragu-ragu ia akhirnya membalas pelukan Shilla.
“gue selalu disini buat lo…” lirihnya pelan setelah
berusaha keras melawan ego nya.
***
Alvin memberhentikan mobilnya di halte yang berada tepat
didepan sekolahnya saat ia melihat Via berdiri sendiri disana. Dari dalam
mobilnya, Alvin bisa melihat dengan sangat jelas Via yang ketika itu masih
sesunggukan sedih akibat pertemuannya dengan Cakka. Tadi saat urusannya dengan
Cakka telah selesai, Alvin langsung memutuskan untuk mengejar Via, dan sekarang
untungnya Via masih belum menaiki bus.
“masuk gih! Gue anter” kata Alvin berusaha terdengar
dingin tanpa sedikitpun melihat kearah Via.
Via lalu mengangkat wajahnya dan menatap kearah Alvin
yang berada didalam Ferarri merah kesayangannya. Tidak lama Via lalu
menggeleng, berusaha menolak ajakan Alvin. Alvin menghela napas dalam-dalam dan
membuangnya secara kasar. Alvin selalu benci sikap keras kepala gadis ini.
Jika selama ini Alvin selalu berusaha sabar dalam
menghadapi kekerasan kepala Via, maka hari ini Alvin menunjukan sikap yang
benar-benar berbeda dari sebelum-sebelumnya. Ia muak dengan semuanya, sekarang
saatnya lah ia tegas atas hatinya, juga atas Gadis pemilik hatinya ini.
“lo masuk secara suka rela atau gue seret?!” kali ini
nada bicara Alvin benar-benar terdengar sinis dan sedikit mengancam.
Via terkejut bukan main dengan respon yang Alvin
tunjukan. Tidak biasanya Alvin berkata kasar seperti ini, apalagi pada dirinya.
Atau apa Alvin masih marah dengan pertengkaran kecil yang terjadi diantara
mereka dikelas tadi?
“gue bilang nggak ya nggak! Ngerti lo?” jawab Via yang
benar-benar sudah merasa terpancing emosinya.
Via lalu berjalan menjauhi mobil Alvin tanpa sedikitpun
menoleh kebelakang. Sekali lagi Alvin menghela napas panjangnya. Ia membanting
kedua tangannya diatas setir mobilnya, lalu tanpa perlu berpikir panjang lagi,
Alvin langsung keluar dari dalam mobilnya dan melangkah besar-besar berusaha
mengejar langkah Via.
Saat ia berhasil mendahului langkah gadis itu, Alvin pun
berdiri tepat dihadapannya dan menghalangi jalannya. Via berdecak kesal lalu
menantang tatapan dingin Alvin.
“minggir!” titahnya keras. Alvin menggeleng mantap.
“gue bilang minggir!” ulang Via sekali lagi. Alvin
kembali menggeleng.
Merasa bosan bermain-main dengan Alvin, Via pun
memutuskan untuk berbalik dan memilih jalan lain. Tapi baru saja beberapa
langkah ia menjauhi Alvin, tiba-tiba saja ia merasakan tubuhnya seperti diangkat.
Dan saat ia sadar bahwa ia telah berada dalam bopongan Alvin, Via langsung
menjerit minta diturunkan.
“Alvin turunin gue! Turunin gueeeee!!!”
Alih-alih menghiraukan jeritan Via juga tatapan semua
orang yang kini tertuju pada mereka berdua, Alvin tetap berjalan dengan
santainya tanpa memperdulikan keadaan sekitar. Alvin lalu membuka pintu mobilnya
dan menghempaskan tubuh Via di jok penumpang. Setelah yakin bahwa Via tidak
akan bisa lagi kabur darinya, Alvin langsung menutup pintu mobilnya dan masuk
kedalam mobilnya melalui pintu yang satunya lagi.
“apa sih mau lo?!” Tanya Via sinis seraya menatap Alvin
yang sudah duduk disebelahnya dengan tatapan benci.
Alvin tidak menanggapi pertanyaan yang menurutnya sangat
tidak penting itu. Baru saja ia akan menjalankan mobilnya, tiba-tiba Alvin
merasakan sakit dibagian pinggangnya. Ini pasti bekas luka operasi itu.
Fikirnya. Rasa sakit itu timbul lagi karna baru saja Alvin memaksakan dirinya
mengangkat tubuh Via, dan Alvin seharusnya tidak melakukan hal itu mengingat
bekas luka operasinya yang belum sembuh total.
Alvin memejamkan matanya, dan berusaha meredam rasa sakit
yang kelamaan semakin menyiksa itu. Menangkap ada sesuatu yang aneh dari
gelagat Alvin membuat Via langsung cemas. Ia bahkan lupa kalau beberapa menit
yang lalu ia sempat bertengkar dengan Alvin.
“elo kenapa, Vin….?”
Alvin menggeleng, ia langsung menegakkan tubuhnya saat
rasa sakit itu berangsur menghilang. Semoga akibatnya tidak fatal. Harap Alvin
dalam hati.
“gue mau pulang sendiri!” kata Via tegas beberapa saat
setelah Alvin menggelengkan kepalanya.
“nggak. Lo harus pulang sama gue”
“nggak bisa! Pokoknya gue mau pulang sendiri”
Via sudah bersiap-siap untuk membuka pintu mobil dan
segera keluar dari dalam mobil milik Alvin, tapi sedetik kemudian dan sebelum
ia sempat membuka pintu mobil, Via tahu-tahu merasakan Alvin menarik lengannya
dan menangkup wajahnya. Dengan gerakan cepat dan tidak terduga Alvin
menempelkan bibirnya pada bibir gadis itu. Via membeku dengan kedua mata yang
terbuka maksimal.
Otaknya memerintahkannya untuk segera mendorong Alvin
jauh-jauh dan menjeritkan kata protes, tapi hati kecilnya justru berkata lain
dan seakan mengunci seluruh pergerakannya. Tanpa ia komando, jantungnya
tiba-tiba saja berdegub dengan sangat kencang. Selama ia berada disamping
Alvin, ini baru pertama kalinya jantungnya bekerja diatas batas normal. Ada apa
dengannya?
Dan didetik itu lah, tanpa bisa ia sadari, cinta secara
diam-diam datang mengetuk pintu hatinya dan menulusup masuk tanpa permisi.
Mungkin sekarang ia belum mau menyadarinya, tapi nanti semuanya akan terkuak
disaat keadaan tidak lagi sama dan menyisakan bermilyar-milyar penyesalan
disanubarinya.
Via sedikit merasakan kecewa saat 5 detik kemudian Alvin
menjauhkan wajahnya. Alvin tersenyum kecil pada Via lalu membelai lembut
pipinya.
“jangan berontak kalo lo nggak mau gue cium lagi.
Ngerti?!”
Via mengangguk seolah diperintahkan.
“dan satu hal yang harus lo tau, Vi! Mulai detik ini, gue
nggak akan lagi ngejer-ngejer lo, dan bahkan kalo lo minta gue buat ngejauhin
lo, gue akan ngejauhin lo. Gue nggak mau terus-terusan berusaha ngerebut hati
yang jelas-jelas bukan milik gue… sekarang gue udah ngelepasin lo, Sivia…”
Via merasakan jantungnya seperti dipukul saat
mendengarkan ucapan Alvin. Apa benar yang Alvin katakan itu? Apa Alvin
sungguh-sungguh ingin menyerah disaat cinta itu mulai mengetuk pintu hatinya?
“Vin –“
“ini terakhir gue maksa-maksa lo, ini terakhir gue bisa
sedeket ini sama lo. Dan gue minta maaf kalo selama ini gue lebih banyak
nyakitin perasaan lo. Dan lo juga musti tau, gue ngelakuin semua ini bukan
karna gue nggak cinta lagi sama, tapi gue ngelakuin semua ini semata-mata karna
gue nggak mau terus-terusan maksain hati lo buat bisa sayang sama gue…”
Kali ini Via membuang wajahnya kearah lain, berusaha
menekan segala gejolak didadanya. Kenapa rasanya harus semenyesakkan ini?
“mencintai lo adalah hal yang paling indah yang pernah
gue rasain, mencintai lo juga membuat gue sadar bahwa cinta itu emang nggak
selamanya harus saling memiliki. Mungkin munafik kedengerannya, tapi memang
itulah kenyataan. Pahit memang, tapi gue harus tetep ngejalaninnya, kan? Sampai
kapanpun gue akan tetep simpen perasaan ini buat, gue janji sama lo… hanya saja sekarang keadaannya mungkin nggak
akan sama kayak dulu lagi” Alvin tersenyum kecil, berusaha menutupi sakit
bertubi-tubi yang kini ia rasakan.
Memangnya apalagi yang lebih menyesakkan dari ini?
Memangnya apalagi yang lebih menyakitkan bagi seorang Alvin saat ia harus
dengan terpaksa melepaskan dan merelakan cintanya terbang jauh darinya?
Alvin tahu ini menyakitkannya, sangat menyakitkannya
malah. Tapi Alvin harus tetap merelakannya.
“satu lagi Via! Segimanapun kerasnya lo berusaha nolak
gue selama ini, tapi nggak pernah sedikit pun terbersit rasa sesal dihati gue
karna telah memilih lo… dan gue akan tetep milih lo sekalipun lo nggak milih
gue…”
***
“jika ada sesuatu yang membuatmu
gelisah…
Yang kau ingin katakanlah…
Yang kau mau katakanlah padaku…
Ku tak ingin kau mengubah keadaan
ini
Aku merindukan kamu yang dulu…”
Seperti yang telah tertuliskan oleh takdir, semuanya
berjalan sesuai apa yang direncanakan, semuanya berjalan dijalur masing-masing
tanpa berpegangan tangan, juga tanpa saling menguatkan satu sama lain. Jalan
mereka telah berbeda sejak hari itu, tapi akankah tujuan mereka tetap satu?
Biarkan akhir cerita ini yang akan menjawabnya.
Alvin bukan lagi Alvin yang dulu, disaat Via secara
perlahan-lahan mulai menyadari adanya benih-benih cinta yang mulai bertebaran
dihatinya. Alvin bukan lagi Alvin yang dulu, disaat Via tidak sedikitpun
menampik rasa yang kini mulai mewarnai hari-harinya. Dan Alvin bukan lagi Alvin
yang dulu, disaat Via mulai mengijinkan perasaan indah bernama cinta itu
merasuki relungnya. Disaat Via maju secara pasti, hendak membalas rasa yang
dulu pernah ia abaikan, Alvin malah mundur secara teratur dan melepaskan semuanya.
Ya… kini semuanya telah berubah begitu Via menyadari ada
hal berbeda yang ia rasakan. Semuanya berubah begitu cepat bahkan sebelum Via
masih tidak begitu yakin dengan hatinya.
Dan ada rasa sedikit nyeri ketika untuk setiap harinya
Via harus menghadapi Alvin bersama sikap cuek dan dinginnya. Diam-diam, Via
sangat merindukan Alvin yang dulu. Dan diam-diam juga Via merasakan bahwa ia
telah kehilangan Alvin yang dulu.
Dan pagi ini, saat ia kembali berhadapan dengan Alvin,
mereka sama-sama menghentikan langkah mereka untuk sejenak dan saling menatap
satu sama lain. Via tersenyum kecil, tapi ia langsung mencelos, ketika mulutnya
baru saja akan terbuka menyebut nama pemuda itu, Alvin malah berlalu begitu
saja, bahkan tanpa seulas senyum sama sekali.
Hari ini, Alvin telah benar-benar membuktikan
perkataannya tempo hari. Ia telah menyerah. Mungkin dulu Via sangat
menginginkan hal itu, tapi tidak dengan sekarang. Hatinya seakan menolak keras segala
perubahan Alvin sekarang ini.
‘gue kangen Alvin
yang dulu….’ Lirihnya dalam hati lalu melangkah pergi meninggalkan tempat
itu.
Cakka yang sejak tadi memperhatikan mereka secara
diam-diam, hanya bisa menahan emosi melihat pemandangan itu. Mendadak Cakka
merasa perlu menyelesaikan sesuatu dengan Alvin.
Cakka segera mengambil langkahnya dan ingin cepat-cepat
menyelesaikan segala ‘urusannya’ hari ini juga.
***
Ketika jam istirahat tiba, Alvin langsung pergi ke
lapangan basket memenuhi panggilan Cakka begitu ia menerima sebuah pesan
singkat dari Cakka saat bel tanda istirahat tadi berkumandang.
Alvin sudah berdiri dilapangan basket dan menyaksikan
Cakka yang saat itu sudah stay ditengah lapangan dengan kostum basketnya juga
bola basket dalam dribble-annya. Kedua alis Alvin bertemu, dalam hati ia
bertanya-tanya, apa maksud Cakka mengundangnya ke tempat ini? Apa Cakka ingin
mengajaknya bertengkar lagi seperti waktu itu?
Menyadari bahwa ia tidak sedang sendiri ditempat itu,
Cakka langsung menembakkan bola itu kearah ring lalu berbalik dan menatap Alvin
yang ternyata sudah berdiri dibelakangnya. Tatapan Cakka begitu tajam, dan
sedetik kemudian Cakka tersenyum sinis pada sahabatnya yang sekarang telah
menjadi rival nya itu.
“ada apa, Kka?” Tanya Alvin tanpa basa basi apapun. Ia
hanya ingin cepat-cepat menyelesaikan urusannya dengan Cakka dan segera pergi
dari tempat ini.
“lo lupa dengan pembicaraan kita waktu itu?” Tanya Cakka
dingin.
Alvin terdiam sejenak lalu memutar ingatannya. Potongan
sebuah kejadian saat Cakka memintanya untuk merebut hati Via dan memilikinya
menyeruak dikepala Alvin. Tapi apa semua itu sekarang penting? Apa semua itu
masih harus ia lakukan disaat hati Via tidak pernah untuknya?
“gue inget. Tapi gue udah mutusin buat ngelepasin dia.
Gue nggak mau maksain hati yang sebenarnya nggak pernah buat gue…”
“dan lo nyerah gitu aja? Hm?” desis Cakka tajam.
“memangnya apa yang harus gue perjuangin lagi?” Alvin
tidak mau kalah.
Kali ini Cakka tidak terdengar menjawab pertanyaan Alvin.
Cakka hanya tersenyum sinis, lalu beberapa detik kemudian Cakka segera
mengambil bola basket yang ada disamping kakinya. Cakka menunjukan bola itu
kearah Alvin lantas bertanya,
“lo masih inget cara maen basket?” Cakka seakan
menantang.
Alvin terkejut bukan main. Kenapa Cakka tiba-tiba
menanyakan hal itu setelah sekian lama Alvin vacuum dari basket karna lebih
memilih sepak bola. Apa Cakka ingin menantangnya main basket sekarang?
Masalah yang sebenarnya bukanlah karna Alvin sudah tidak bisa bermain basket lagi.
Tapi luka bekas operasinya yang masih belum sembuh total mau tidak mau harus
membuat Alvin meninggalkan olahraga berat seperti bermain basket, sepak bola
dan lain sebagainya.
Dan sebelum Alvin menjawab pertanyaan Cakka yang
sebenarnya menjurus kearah sebuah tantangan itu, Cakka malah sudah melemparkan
bola itu kearah Alvin yang kemudian ditangkap secara reflex oleh Alvin.
“kalahin gue sekarang! Itu pun kalo lo bisa” ujar Cakka
dengan nada meremehkan.
Alvin yang dapat merasakan dengan sangat jelas sikap meremehkan
yang Cakka tunjukan itu langsung mendrible bola yang tadi Cakka lemparkan itu,
lalu dalam sebuah tembakan jarak jauh, Alvin menembakkan bola itu hingga
menembus ring. Bola itu terpental kearah Alvin, dan Alvin pun kembali
menangkapnya dengan baik.
“oke. Gue terima tantangan lo!!” ucap Alvin mantap tanpa
sedikitpun memikirkan resiko yang akan ia terima nanti. “kalo gue menang, lo
harus bilang sendiri ke Via hari ini juga, kalo lo adalah Kakak tirinya, kakak
tiri yang udah ngerebut segalanya dari dia…” sinis Alvin tajam dan penuh dengan
api emosi yang meledak-ledak. Ia merasa muak karna terus-menerus diremehkan
oleh Cakka.
Kali ini giliran Cakka yang bungkam. Dan sebelum Cakka
membuka suara menjawab tantangannya, Alvin langsung memulai permainannya dan
diam-diam menahan rasa sakit yang mulai terasa didaerah belakang pinggangnya.
Persetan dengan rasa sakit itu. Ia harus bisa mengalahkan Cakka!
***
“kalo gue menang, lo harus bilang sendiri ke
Via hari ini juga, kalo lo adalah Kakak tirinya, kakak tiri yang udah ngerebut
segalanya dari dia…”
Perkataan Alvin yang ia dengarkan beberapa menit yang
lalu terus berputar diotak Via tanpa henti. ia pun berbalik dan melangkah pergi
meninggalkan lapangan indoor bahkan sebelum Cakka dan Alvin menyadari
kehadirannya. Benarkah? Benarkah apa yang Alvin katakan itu? Benarkah Cakka
adalah Kakak tirinya?
Jika semua itu benar dan Alvin telah mengetahui semuanya,
lalu kenapa Alvin harus menyembunyikannya dari Via selama ini? Dan Cakka…
kenapa Cakka tidak pernah mau jujur padanya?
Via merasa sudah tidak bisa lagi menghirup udara yang ada
disekitarnya. Semua ini terlalu menyesakkan baginya. Ini kah alasan Cakka
dibalik segala penolakannya selama ini?
Kenyataan ini benar-benar menohoknya tanpa ampun. Disaat
semua masa lalunya yang menyimpan luka itu kembali mengobrak-abrik
kehidupannya, disaat semua masa lalu kelam yang telah ia kubur dalam-dalam itu
kembali bangkit dan membuka luka lama itu.
Via memegangi dadanya kuat-kuat, berusaha meredam rasa
sesak yang kian menyiksanya tanpa ampun. Sekarang saatnyalah ia berlari dan
menghindari dari kenyataan ini.
***
Bel tanda masuk berkumandangan dan memberi tanda bahwa
pertandingan satu lawan satu antara Alvin dan Cakka telah berakhir. Dan
pertandingan sengit dimenangkan oleh Cakka. Pada menit-menit awal sebenarnya
Alvin lah yang menguasai permainan, tapi rasa sakit dibagian luka operasinya
yang sudah tidak dapat ia tahan lagi akhirnya membuat konsentrasi Alvin
berantakkan dan membuatnya kalah menghadapi Cakka, entah untuk yang keberapa
kalinya.
Cakka tersenyum sinis namun penuh kemenangan. Ia
melangkah perlahan menghampiri Alvin yang saat itu terduduk ditengah lapangan
sambil memegangi pinggangnya.
“gue salut sama usaha keras lo, Alv!”
Cakka menepuk pundak Alvin beberapa kali lalu melangkah
pergi meninggalkan Alvin sendirian dilapangan.
Rasa sakit yang sekarang tengah menguasai dirinya membuat
Alvin tidak berdaya. Ia juga tidak bisa melakukan apapun saat Cakka akhirnya
berhasil mengalahkan dirinya.
Sekarang tinggalah Alvin sendiri disana. Ia memejamkan
matanya, menarik napasnya dalam-dalam untuk meredam rasa sakit itu. Bukannya
mereda, rasa sakit itu malah semakin gencar menyiksa dirinya. Alvin berusaha
mengumpulkan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki. Dan saat ia rasa ia memiliki
sedikit kekuatan, Alvin pun bangkit.
Tapi sebelum ia sempat melangkahkah kakinya, ia malah
sudah jatuh tergeletak ditengah lapangan. Semuanya berangsur gelap, hingga
akhirnya Alvin benar-benr tidak sadarkan diri lagi.
BERSAMBUNG….



0 comments:
Post a Comment