“Via….” Merasa namanya dipanggil, Via pun
menghentikan langkahnya. Nggak lama Via menoleh kebelakang dan mendapati
Cakka tengah berlari kecil menghampirinya. Saat tau bahwa Cakka yang
memanggilnya Via kembali melanjutkan langkahnya, tapi kali ini lebih
pelan.Gak butuh waktu yang lama langkah Via dengan
langkah Cakka udah sejajar. Cakka tersenyum sesekali. Tanpa Via sadari
ada yang berbeda dari senyum Cakka, dan tanpa Via tahu, ternyata ada
pancaran yang juga berbeda dari tatapan Cakka padanya.
“ada apa Kka…?” Tanya Via,
“hari ini Mas Gabriel pulang kerumah kan…?”
“emmm…
iya kayanya, tapi gak tau juga! Elo kan punya nomernya Kka, kenapa gak
disms aja?” Via coba ngasih solusi. Cakka terlihat berfikir. Mereka
sama-sama menghentikan langkah mereka, Via dan Cakka membalik badan
hingga mereka berdiri berhadapan.
“tadi Mas Gabriel
udah gue telfon, tapi nomernya gak aktif, lo tau kenapa?” Tanya Cakka
lagi. Via melanjutkan langkahnya seraya mengangkat kedua bahunya tanda
ia nggak tau apa-apa tentang Mas Gabriel, Cakka Cuma mengikuti.
“terus gimana dong?” Cakka mulai terlihat bingung. Hari ini ia benar-benar membutuhkan bantuan Mas Gabriel.
“aduh
Kka, lo kok jadi belaga bego gitu! Rumah kita kan deketan, lo bisa
kerumah gue kapanpun lo mau, entar lo kesana aja kalo-kalo Mas Gabriel
udah pulang…”
“Yaelah Via, lo tau sendirikan, kalo gak ada Mas Gabriel gue mana berani dateng kerumah lo…”
“emangnya kenapa?”
“malu”
“ama siapa?”
“Bokap Nyokap!”
“ngapain
mesti malu?” kali ini Cakka nggak tau harus jawab apa. Cakka bingung
sebingung-bingungnya. Dengan wajah yang payah Cakka menggaruk kepalanya
yang nggak gatal. Via menggeleng berkali-kali. Via kembali menghentikan
langkahnya begitu juga dengan Cakka. Via menepuk pelan pundak Cakka,
yang tanpa Via sadari tepukan pelan itu sudah cukup membuat aliran darah
Cakka berdesir.
“udah entar sore lo dateng aja
kerumah, gue yakin hari ini Mas Gabriel pulang” Cakka Cuma
manggut-manggut gak jelas. Via pun pergi dari hadapan Cakka.
“eh….eh Via…” panggil Cakka lagi setelah ia mengingat sesuatu,
“apa lagi?” Tanya Via seraya menoleh kebalakang,
“lo sama siapa?”
“sendiri”
“gue anter aja yuk!” Via menatap Cakka dengan tatapan penuh Tanya,
“lo mau?” Tanya Cakka sekali lagi. Via mengangguk pelan.
“boleh deh…” jawabnya dengan mantap.
Sebenarnya Via dan Cakka sudah kenal sejak lama. Dari SD hingga
sekarang mereka satu sekolah, tapi Via dan Cakka bisa dekat Baru-Baru
ini sejak mereka sama-sama memutuskan masuk SMK dan mengambil jurusan
yang sama yaitu Multimedia.
Cakka bersahabat akrab
dengan Mas Gabriel, yang nggak lain dan nggak bukan adalah Kakak kandung
dari Via. Cakka dan Mas Gabriel bisa dibilang sangat dekat. Sejak belum
duduk dibangku sekolah, mereka sudah sering main Bareng. Bahkan Mas
Gabriel sudah menganggap Cakka seperti adiknya sendiri.
Via
menaiki motor Cakka. Ia duduk dibelakang Cakka dengan jarak yang gak
terlalu dekat dengan posisi duduk Cakka. Via adalah seorang cewek
baik-baik yang gak suka macem-macem sama cowok, makanya tiap kali
dibonceng sama cowok Via gak pernah yang namanya pegangan apalagi sampe
meluk pinggang cowok yang sedang memboncengnya. Cakka terkagum sejenak,
ternyata Via gak sama dan jauh berbeda dari tipe-tipe cewek yang dia
kenal selama ini. Cakka tersenyum kecil, ia merasa hatinya begitu
bahagia mendapati sekarang cewek yang sudah dia taksir sejak ia masih
kanak-kanak sedang duduk dibelakangnya.
“Kka, by the
way, kok lo bisa sih masuk di Gank Cool Boy’s itu? Ngerasa keren ya lo
sekarang bisa jadi bagian dari cowok-cowok songong itu…?” cibir Via
sedikit bercanda yang sebenarnya hanya ingin menenangkan situasi yang
kaku diantara mereka.
“Alvin yang masukin gue! Lo tau kan gue ama Alvin emang udah jadi temen sejak SMP?”
“Tau sih…” jawab Via seadanya. Entah kenapa ia merasa mood-nya tiba-tiba berantakan setelah Cakka nyebut-nyebut nama Alvin.
“lo sendiri kok malah saling cuekin sama Alvin, bukannya dulu kalian sahabatan ya?”
“biasa aja kok…” Via mencoba berdalih, Cakka tersenyum lagi,
“emangnya kalian ada masalah apa?”
“gak
ada masalah apa-apa…” Via berdalih lagi. Kali ini Cakka benar-benar
paham bahwa Via memang tidak ingin membahas tentang Alvin. Untuk
selanjutnya, nggak terjadi obrolan apa-apa lagi antara Via dan Cakka.
Obrolan singkat seputar Alvin tadi kembali membuat situasi menjadi kaku.
Cakka menyesali diri. Kenapa juga gue mesti bawa-bawa Si Alvin? Fikir Cakka.
****
Sepulang
sekolah, Alvin terlihat tengah duduk sendiri disebuah bangku panjang
yang terdapat disebuah taman yang letaknya gak jauh dari SMP Spendaji,
sekolah SMP Alvin dulu. Alvin merenung. Segelas Es Kelapa muda yang ada
disampingnya belum ia sentuh sedikitpun. Ingatannya kembali kemasa lalu,
setahun silam, saat ia Baru merasakan betapa indahnya cinta, atau lebih
tepatnya Cinta Monyet.
~Flash Back Alvin~
“Shill…”
panggil Alvin pada cewek cantik yang duduk dengan manis disampingnya.
Cewek cantik bernama Shilla itu tengah asyik menikmati segelas Es Kelapa
Mudanya,
“kenapa, Vin…?” Tanyanya lembut, masih dengan meminum Es Kelapa Mudanya.
“makasih ya?”
“buat…?”
“makasih
karna udah ngasih aku kesempatan buat jadi pacar kamu….” Shilla
tersenyum. Ia melepaskan gelasnya lantas berbalik menatap Alvin,
“emangnya harus ya ngucapin makasih?” Alvin hanya mengangguk, senyum Shilla semakin melebar.
“gak
sama-sama…” jawab Shilla dengan candaan, selanjutnya Shilla malah
terkekeh. Alvinpun mengusap puncak kepala Shilla dengan penuh kasih
sayang. Shilla yang masih terkekeh langsung menyingkirkan telapak tangan
Alvin dari atas kepalanya,
“aaa… rambut aku berantakkan tau…” Rageknya manja.
“Alvin sayang sama Shilla” lirih Alvin.
“tapi
Shilla gak sayang sama Alvin, weeks…” Shillapun menjulurkan lidahnya.
Alvin tau, Shilla Cuma bercanda, dan Alvin tau pasti bahwa Shilla juga
sayang padanya.
~Flash Back Off
Alvin
menutup ingatannya tentang si Cinta Pertama yang sampai sekarang masih
sangat Alvin sayangi dan harapkan itu. Kedua mata Alvin masih terpejam,
ia berusaha kuat dengan kenyataan yang harus ia hadapi sekarang.
Kesalahan fatal yang nggak seharusnya Alvin lakukan membuat Alvin harus
kehilangan Shilla.
Alvin
membayangkan sekarang bahwa Shilla sedang duduk disampingnya seraya
meminum Es Kelapa Muda kesukaannya. Alvin juga membayangkan bagaimana
lucunya wajah imut Shilla saat ngambek. Difikiran Alvin terngiang-ngiang
suara manja Shilla yang tengah memanggil-manggil namanya. Namun sayang,
semua itu hanya ada dibayangannya saja. Entah sampai kapan? Alvin gak
pernah tahu.
Alvin membuka
kedua matanya yang sejak tadi terpejam. Saat kedua matanya terbuka,
Alvinpun menatap hampa kesampingnya. Alvin mendesah pelan, ia menarik
nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan, perih itu kembali
ia rasakan.
“Shill, sekarang kamu dimana?” lirih Alvin pelan sambil tetap menatap hampa kesamping.
****
6 Bulan Kemudian…
Saat
sedang berjalan menuju kelas tiba-tiba saja, ‘Bruukk…’ seseorang telah
menabrak Via tanpa sengaja. Alhasil buku paket Biology yang Via bawa
terjatuh kelantai. Dengan suasana hati yang kesal Via memungut buku
Paketnya sambil ngedumuel gak jelas. “isshh… jalan kok gak liat-liat?”
dumel Via tanpa sedikitpun melihat seseorang yang sudah menabraknya.
“Sorry…
gue gak sengaja” kata cowok yang sudah menabrak Via dengan Nada dingin.
Via yang merasa mengenali suara itu segera bangkit. Ia menatap cowok
itu dengan mata memicing. Sementara Si Cowok yang ternyata adalah Alvin
tetap terlihat santai-santai saja. Tanpa menunggu aba-aba lagi, emosi
Via langsung meledak.
“Heh…
Alvin Jonathan yang katanya anak kesayangan Mama, bisa gak kalo jalan
itu pake mata? Jangan pake jidat!” kata Via seraya menunjuk mata dan
jidatnya secra bergantian,
“Heh…
Sivia Azizah yang katanya jutek dan gak ada manis-manisnya, bisa gak
kalo ngomong itu difikir-fikir dulu, jangan asal cablak aja bisanya…
sejak kapan orang ngelitanya pake jidat, dimana-mana juga orang
ngeliatnya pake mata!” Via tersentak, gak nyangka Alvin akan menjawabnya
seperti itu.
“eloo….” Kesal Via. Kali ini Alvin diam. Gak lama Via malah terlihat mengangguk-angguk sambil tersenyum licik.
“oooo….
ternyata bisa ngomong juga lo? Gue fikir setelah kepergian Shilla lo
bakalan jadi gagu seumur hidup… ups… gue salah ngomong ya? O iya, lo kan
udah gak kenal lagi sama yang namanya Shilla…”
Mendengar
Via membawa-bawa nama Shilla, Alvin seolah ingin mengorek-ngorek
masalah Shilla dengan Via, tapi Alvin yakin, Via gak akan segampang itu
ngasih tau ke dia tentang keberadaan Shilla saat ini. Bosan dengan
kediaman Alvin, Via pun menarik nafas panjang, dalam hati Via bergumam
‘Yaah… gagu lagi nih anak…’
Via memutuskan untuk melanjutkan perjalananya. baru beberapa langkah ia pergi dari hadapan Alvin, tiba-tiba saja,
“Sivia!”
Via
nyaris gak percaya saat Alvin memanggil namanya. Tapi meski dalam
keadaan setengah percaya setengah tidak, Via menghentikan langkahnya,
“lo manggil gue?” tanyanya tanpa minat.
“lo
tau kan dimana Shilla sekarang…?” Tanya Alvin tanpa basa basi apapun.
Via menelan ludah dan gak berbalik menatap Alvin. Alvin kembali
mengeluarkan suaranya,
“gue
tahu, lo tahu dimana keberadaan Shilla saat ini, please kasi tau gue
Via, gue harus jelasin apa yang sebenernya terjadi sama Shilla..” pinta
Alvin dengan Nada setengah memohon. Via tersenyum simpul, ekspresinya
benar-benar gak tertebak.
“Via, lo ja…” ucapan Alvin terpotong saat Via secara tiba-tiba menoleh kebalakang lantas berkata pada Alvin,
“terus
lo berharap gue akan ngasih tau lo gitu aja? Enak banget lo… setelah
apa yang lo lakuin sama sahabat gue, sekarang lo malah seenaknya
nanya-nanya gue kaya gitu? Sadar Alvin… lo harusnya bisa sadar kalo itu
udah jahat banget sama Shilla…”
“Via…” Alvin terlihat seperti ingin menjelaskan sesuatu pada Via, tapi Via gak memberi kesempatan sedikitpun.
“cukup deh, gue gak mau denger apa-apa dari lo…”
Keheningan
akhirnya tercipta. Alvin dengan harapan hampanya yang nyaris pupus, dan
Via yang tetap kekeuh pada pendiriannya bahwa dia gak akan pernah
memberi tahukan pada Alvin dimana Shilla sebenarnya.
Saat itulah, seorang cewek tiba-tiba dateng menghampiri Alvin, ia bergelayut manja dipundak Alvin seraya berkata,
“sayang,
kamu kemana aja? Tadi aku cari kekelas kamu gak ada…” Alvin gak
sedikitpun menghiraukan Zevana. Tatapannya tetap tertuju pada Via. Via
tersenyum simpul,
“jadi ini dia cewek lo?” Tanya Via pada Alvin, Alvin gak menjawab. Tapi matanya sudah mengisyaratkan jawaban Tidak.
Via melanjutkan perjalananya. Saat itu Via kembali dikejutkan oleh ucapan Alvin pada Zevana.
“Ze,
mulai sekarang kita putus, kita udah gak ada hubungan apa-apa lagi….”
Itulah ucapan terakhir Alvin sebelum akhirnya dia benar-benar pergi
meninggalkan Zevana. Tanpa sedikitpun menghiraukan perasaan Zevana yang
sudah dia hancurkan dalam sekejab mata, Alvin terus berjalan tanpa
sedikitpun menoleh.
“ALVIIIINNN… LO JAHAT TAU GAK? GUE BENCI SAMA LO….” Teriak Zevana sekencang-kencangnya, tapi Alvin gak sedikitpun peduli.
‘Play Boy Cap Kecoa!’ umpat Via dalam hati.
****
“Errgghh…
gue sebel sama Alvin!” kata Zevana. Mantan pacar Alvin yang Baru saja
ia putuskan pagi tadi tanpa sebab yang jelas. Teman-teman Zevana saling
menatap satu sama lain, heran dengan sikap aneh Zevana. Padahal Baru
seminggu yang lalu Zevana terlihat berbunga-bunga saat Alvin
menembaknya, tapi sekarang, saat seminggu sudah berlalu, mereka malah
mendapati Zevana patah hati.
“kenapa sama Alvin…?” Tanya Dea,
“Alvin mutusin gue, dan gue gak tau kenapa tiba-tiba dia mutusin gue, aneh kan?” Ucap Zevana seraya duduk disamping Dea.
“Elo yang bener??” Tanya Angel dengan Nada gak percaya, Zevana hanya mengangguk pelan dengan wajah yang lumayan memelas.
“makanya
jadi cewek jangan begok-begok banget! Mau-maunya lo dikerjain ama Play
Boy setengah mateng itu” cibir seseorang dengan Nada lumayan sinis dari
belakang Zevana. Sontak saja Zevana, Dea dan Angel tersentak. Mata
mereka terbelalak dan secara bersamaan mereka menoleh kebalakang dan
mendapati Via yang waktu itu berdiri dengan santai dibelakang mereka.
Tak ada sedikitpun raut bersalah diwajah Via karna telah berkata seperti
itu pada Zevana.
“siapa lo?
Kenapa berani-beraninya lo ngomong kaya gitu ke gue?” Tanya Zevana
heran, ia mengamati wajah Via sejenak, gak lama Zevanapun mengangguk, ia
merasa pernah melihat Via sebelumnya “oooo… lo yang tadi pagi sama
Alvin kan? Kenapa lo tiba-tiba ngomong kaya gitu ke gue? Apa lo juga
pernah dimainin sama Alvin?” lanjut Zevana. Via tersenyum simpul, ia
melipat kedua tangannya didada lantas berjalan secara perlahan kearah
Zevana CS.
“Sorry ya, gue
bukan tipe cewek begok kaya lo yang mudah dimainin sama Play Boy murahan
macam Alvin…” sinis Via. Lagi-lagi Zevana CS tersentak. Viapun berlalu
dari hadapan mereka,
“lo
sebenernya siapa sih? Kenapa kayanya lo tau banget tentang Alvin?” Tanya
Zevana yang masih penasaran dengan Via. Namun Via sama sekali gak
menjawab pertanyaan Zevana itu.
Zevana
yang merasa kesal dan merasa tersinggung oleh ucapan Via padanya pun
bangkit dari bangkunya seraya membawa segelas Es Jeruk punya Angel,
“eehh… punya gue itu…” kata Angel berusaha menghentikan Zevana, tapi Dea buru-buru mencegat pergelangan tangannya.
Ketika
Zevana akan menyiramkan Es Jeruk itu dikepala Via tanpa sepengetahuan
Via, tiba-tiba saja sebuah tangan kokoh langsung menghentikan tangan
Zevana yang hendak menyiram kepala Via.
“jangan
macem-macem lo sama Via!” ucap seseorang yang ternyata adalah Cakka.
Mendengar suara Cakka, Via langsung menoleh kebalakang. Ia mendapati
Cakka yang waktu itu tengah mencekal pergelangan tangan Zevana.
“apaan sih lo Kka…?” kata Zevana setengah shock.
“ada apa sih?” Tanya Via bingung,
“cewek ini mau nyiram lo Vi pake es jeruk” jawab Cakka dengan tatapan tajam yang gak lepas dari mata Zevana.
Via mengangguk paham, kali ini ia lebih mendekat kearah Cakka dan Zevana.
“lepasin
aja Kka tangannya!” pinta Via pada Cakka. Tanpa berfikir panjang lagi
dan seolah Cakka begitu mematuhi ucapan Via, Cakka melepaskan
peregelangan tangan Zevana.
“gue
minta maaf kalo seandainya tadi lo sakit hati sama ucapan gue, tapi
asal lo tau, gue gak ada niat sedikitpun buat bikin lo sakit hati ato
apa sama gue, gue Cuma mau ngasih tau lo, KALO COWOK BERNAMA ALVIN ITU
BUSUK, dan lo mesti hati-hati, jangan terlalu ngarep sama dia…” Via pun
pergi dari hadapan Zevana diikuti oleh Cakka. Sementara Zevana, dia Cuma
bisa nahan kekesalannya pada Via, tapi Zevana juga berfikir bahwa
ucapan Via ada benernya juga dan gak seratus persen salah.
****
Ray
dan Ozy memasuki ruang kelas dengan nafas yang ngos-ngosan. Setibanya
dikelas Ray dan Ozy langsung menghampiri Alvin yang waktu itu sedang
asyik berdiskusi dengan Rio seputar Ekskul Basket.
“Vin, Vin… ada sesuatu yang pengen kita tunjukin ke elo” kata Ozy seraya mengeluarkan Ponselnya dari saku bajunya.
“apaan?” malah Rio yang terlihat penasaran, sementara Alvin ia tetap terlihat biasa-biasa saja.
“pokoknya lo mesti liat!” kata Ray berusaha meyakinkan Alvin yang masih Nampak biasa saja.
“nih
lo liat dan lo dengerin sendiri omongannya Si Via sama Si Zevana” kata
Ozy yang Baru saja memutar Video obrolan yang terjadi antara Via dan
Zevana dikantin tadi.
Jika diawal Alvin terlihat biasa saja, maka setelah melihat video itu Alvin sedikit tersentak dengan ucapan Via.
“gue
minta maaf kalo seandainya tadi lo sakit hati sama ucapan gue, tapi
asal lo tau, gue gak ada niat sedikitpun buat bikin lo sakit hati ato
apa sama gue, gue Cuma mau ngasih tau lo, KALO COWOK BERNAMA ALVIN ITU
BUSUK, dan lo mesti hati-hati, jangan terlalu ngarep sama dia…” Via pun
pergi dari hadapan Zevana diikuti oleh Cakka.
Kelopak
mata Alvin melebar. Kini Alvinpun tau bahwa ternyata Via begitu
membencinya. Dari ucapan Via tadi Alvin sudah bisa merasakan kebencian
Via, dan Alvin terima semua itu dengan lapang dada. Ia mengakui bahwa
dia memang busuk seperti apa yang Via bilang. Tapi kawan-kawan Alvin
yang tidak tau apa-apa malah berusaha memanasi Alvin terutama Rio yang
memang sejak awal sudah gak suka dengan kelakuan Via yang jutek.
“parah,
Vin… ini cewek bener-bener nantangin lo, lo harus kasi dia pelajaran,
Vin, lo jangan diem aja… Si Cakka juga ngapain pake ikut-ikutan di Video
itu?”
“bener apa yang Rio
bilang! Ini bukan pertama kalinya itu cewek kaya gini ke elo, lo harus
bales dia Alvin, lo harus segera bertindak, dan lo jangan diem aja…” Ray
menambahkan dan kali ini Ozy menimpali,
“lo harus jadiin dia korban lo selanjutnya setelah Zevana!”
Mendengar
ucapan Ozy, Alvin langsung tersentak. Apa Ozy gak salah ngomong? Korban
disini yang mereka maksud adalah, menjadikan Via sebagai Barang taruhan
mereka. Itu Artinya, Alvin harus menjadikan Via sebagai pacarnya lantas
memutuskan Via begitu saja dan membuat Via patah hati. Mana
mungkin Alvin tega melakukan hal itu sekalipun dia tau bahwa Via begitu
membencinya. Alvin juga tau, Via itu bukan tipe cewek yang gampang
ditaklukkan, Via berbeda dari semua cewek-cewek yang ia kenal selama ini
dan yang pastinya Via bukan cewek gampangan yang mudah percaya sama
rayuan cowok.
“bener apa
yang Ozy bilang! Dan gue setuju, Alvin…” kata Rio seraya menepuk pelan
pundak Alvin. Secara perlahan Alvin menurunkan tangan Rio dari pundaknya
lantas bangkit dari tempat duduknya. Tanpa berkata apa-apa Alvin
meninggalkan kawan-kawannya. Entah apa yang ada dalam fikiran Alvin saat
ini, gak ada satupun yang bisa menebak.
BERSAMBUNG....
Saturday, March 15, 2014
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment