“Kekanan dikit Vi, dikittt aja…!” Agni memberi instruksi pada Via
yang waktu itu sedang menempel foto seorang pahlawan wanita yang pernah
menulis Buku Habis Gelap Terbitlah Terang. Ya… Wanita hebat yang ada
dalam gambar itu adalah RA Kartini. Via mengikuti instruksi Agni tanpa
banyak bicara.
“Eh… kayanya tengahan dikit deh!” kata Agni
lagi. Via masih belum berkomentar apa-apa. Tapi kakinya sudah gemetaran
hebat gara-gara tangga yang ia naiki untuk membantunya memasang Foto RA
KRatini mulai bergoyang-goyang. Tinggi badan Via yang gak cukup memadai
akhirnya membuatnya harus menggunakan tangga untuk bisa mencapai dinding
kelas. “Adduuh Via, jangan terlalu tengah …” celoteh Agni lagi. Via
mulai kesal. Ia berdecak lantas menoleh kebawah. Saat itu Via mendapati
Agni tangah asyik berkaca. Pantas saja dari tadi kerjaaan Via gak
kelar-kelar.
“AGNIIIIII…. Sebenernya dari tadi lo merhatiin
gue apa gak sih? Liat nih, kerjaan satu aja gak kelar-kelar gara-garalo
sibuk ngaca, lo gak tau apa kaki udah gemetaran banget ini…” Protes Via
dari atas. Agni langsung menyimpan kacanya dibelakang punggungnya lalu
nyengir tanpa dosa.
“hehehehe….”
“nyengir aja lo
bisanya. Ini udah pas belom?” omel Via. Tanpa berkata apa-apa Agni
langsung mengangkat kedua jempolnya. Via menggelengkan kepala beberapa
kali. Saat itulah Ify dan Zahra memasuki kelas.
“Waaah ….
Ada foto Ibu gue nih…” kata Ify seraya menatap kagum kearah gambar RA
kartini. Zahra langsung menoyor kepala Ify dengan kekuatan penuh, tawa
Agnipun langsung pecah seketika melihat kelakukan Zahra yang seenak
jidat noyor kepala Ify.
“Ibu… Ibu…? Gak pantes lo ngaku-ngaku jadi anaknya RA Kartini” sinis Zahra.
“apaan sih lo, Ra? Sirik aja kerjaannya ama temen… oya, lain kali bisa
gak lo jangan maen toyor-toyor aja? LO FIKIR KEPALA GUE GAK SAKIT APA?”
Teriak Ify pada akhirnya. Zahra sampai kaget.
“gak usah nyolot kali…”
“lo sih, nyebelin!” kata Ify.
“Eeehhh… kutu-kutu sampe kapan lo semua pada mau berantem disana? Bantuin gue kek turun dari sini” ucap Via tiba-tiba.
“oiya gue lupa kalo Via masih diatas” kata Agni seraya menepuk keningnya sendiri.
Ketika Via sudah memasang posisi untuk turun dan saat Via sudah
bersiap-siap turun, Tiba-tiba saja secara tidak sengaja Agni menyenggol
tangga yang dinaiki oleh Via. Alhasil tangga itu sedikit bergoyang, Via
yang semakin gemetar sudah gak bisa lagi mengontrol diri. Hingga
akhrinya ‘BRRUUKKK….’ Kontan saja Ify, Zahra dan Agni menutup kedua
mata mereka masing-masing. Via telah jatuh tepat dipelukan seseorang.
Via memejamkan kedua matanya dan belum menyadari bahwa saat ini Alvin
sedang menggendongnya dengan kedua tangannya.
“Tuhan, Via
masih idup kan, Via belom mati kan…?” ucap Via gak jelas. Kedua matanya
masih terpejam. Alvin menatap Via dengan tatapan mata sedalam mungkin.
Ify, Zahra dan Agni secara perlahan membuka kedua mata mereka. Mereka
terkejut ketika mendapati Via yang saat itu sudah berada dalam gendongan
Alvin.
“Buka mata lo!” kata Alvin sedingin mungkin, tapi suara itu terdengar begitu tenang dipendengeran Via.
“ini yang punya suara malaikat ya?” Tanya Via. Alvin menghela nafas panjang, sekali lagi ia berkata,
“lo masih hidup. Sekarang buka mata lo!”
Via pun membuka kedua matanya secara perlahan. Saat membuka mata,
tatapannya langsung tertuju pada kedua mata Alvin yang waktu itu juga
tengah menatapnya dengan tatapan yang sangat meneduhkan. Tanpa sadar Via
terhanyut dalam tatapan Alvin. Via melihat dengan jelas, sebuah
senyuman kecil tergambar diwajah tampan Alvin, senyuman kecil yang tanpa
sadar telah berhasil mencuri perhatian Via.
Gak lama kemudian Via tersadar. Ia mengerjapkan matanya lantas menggelengkan kepalanya beberapa kali.
“ELOOO….??” Kata Via setengah berteriak. Alvin diam dan gak mengeluarkan sepatah katapun.
“lepasin gue sekarang!” sinis Via. Alvin mengangkat bahunya lalu
melepaskan Via begitu saja. Alhasil Via terjatuh dilantai. Ia merasakan
sakit yang menjalar disekujur tubuhnya.
“AWWW… Pinggang gue!” rintih Via seraya memegangi pinggangnya.
“ELOOOO….!!! Dasar cowok gak punya perasaan!”
“gue yang gak punya perasaan ato emang elo yang begok? Tadi kan lo
nyuruh gue buat ngelepasin lo, ya gue lepas…” jawab Alvin sesantai
mungkin.
“tapi gak gitu juga kali caranya.. elo tuh yang begok, elo yang gak punya perasaan….”
“WHATEVER….” Kata Alvin cuek lalu berjalan santai menuju bangkunya. Jelas saja Via makin kesal pada Alvin.
Agni segera mengulurkan tangannya untuk membantu Via berdiri. Bukannya
menerima uluran tangan Agni, Via malah berdecak kesal sembil menepis
tangan Agni dari hadapannya.
“Ck… gue masih bisa sendiri…”
kata Via yang sudah benar-benarkesal atas perlakuan Alvin padanya. Tanpa
menghiraukan kawan-kawannya Via berjalan keluar kelas sambil sesekali
mencuri pandang kearah Alvin yang waktu itu tengah sibuk dengan LKS
Biology nya.
Ify, Zahra, dan Agni saling menatap heran satu
sama lain. Mereka mengangkat bahu mereka masing-masing sambil memasang
mimic wajah heran. Beberapa saat setelah Via keluar dari kelas, Alvinpun
mengalihkan perhatiannya kearah pintu sejenak.
“kena lo, Via…” kata Alvin pelan seraya menaikkan salah satu alisnya.
***
“Huuh…. Dia fikir dia siapa coba? Cakep juga kaga, sok kecakepan sih
iya…” dumel Via sepanjang jalan. Via benar-benar masih sangat kesal
dengan perlakuan Alvin tadi padanya, Alvin udah menginjak-injak martabat
Via didepan kawan-kawannya, Alvin gak tau aja gimana malunya Via.
Untung aja disana Cuma ada sahabat-sahabatnya Via, coba kalau ada yang
lainnya, mungkin Via gak akan lagi menampakkan mukanya dikelas X
Multimedia.
Via duduk disalah satu bangku panjang yang terdapat didepan perpustakaan. Via memasang muka secemberut mungkin.
“iihhh… Alvin rese, Alvin gila, Alvin nyebelin, Alvin jelek… gue muaaakkkk semuak-muaknya sama makhluk satu itu…”
“elo yang gila!” cibir seseorang yang sedari tadi berdiri didekat pilar
depan perpustakaan. Via buru-buru mengangkat wajahnya dan mendapati
sosok Deva.
“eergghh… elo lagi..” kata Via sebal. Deva tertawa kecil lantas duduk didekat Via,
“lo ngapain marah-marah sendiri disini? Orang yang gak tau bisa
nyangkain lo gila tau…” khotbah Deva didepan Via, namun meski begitu Via
enggak sedikitpun menggubris Deva. Via tahu Deva menghampirinya hanya
ingin menyindir dirinya. Via jadi malas.
“kalo lo
kesini Cuma ngeledek gue, mending lo pergi sono jauh-jauh, lo emang gak
ada bedanya tau ama Alvin yang super duper nyebelin itu, kalian sama
aja….”
“perasaan dari pas pertama masuk SMK sampe sekarang masalah lo sama Alvin kok gak kelar-kelar ya, kelarin kek…”
Via menatap Deva tajam, Via gak suka sama omongan Deva tadi. Masalah
Via sama Alvin gak akan kelar, dan gak akan pernah kelar.
“dan lo fikir gue bakal mau gitu ngelarin masalah gue sama Alvin? Gak
akan…” balas Via seraya menatap Deva dengan garang.
“dan kalo lo lebih ngebelain Alvin silahkan, gue tetep ada dipihak
Shilla…” lanjutnya lantas hengkang dari samping Deva.
Deva bingung setengah mati, kenapa tiba-tiba Via jadi nyalahin dia?
Perasaan tadi Deva sama sekali gak salah ngomong deh. Ah… emang dasar
Via aja yang sensi. Fikir Deva.
***
Konsentarsi Via tiba-tiba buyar waktu tau kalau Alvin lagi merhatiin
dia. Via bingung, kenapa hari ini Alvin berubah aneh, hari ini Alvin
lebih sering merhatiin dia. Walaupun berkali-kali Via memplototi Alvin,
tapi Alvin gak juga ngalihin perhatiannya dari Via. Via jadi salah
tingkah dan gak tau harus ngelakuin apa, tapi Via udah bisa nyium
gelagat aneh Alvin, pasti terjadi sesuatu. Via kan hapal gimana
sifat-sifat Alvin.
Via kembali berusaha focus pada
catatan Fisikanya, tapi tetep aja gak bisa. Konsentarsinya sudah
benar-benar berantakkan gara-gara Alvin.
Disaat
kekesalan Via udah sampai diubun-ubun, Via pun membanting pulpennya
lantas berdiri dari bangkunya, tanpa sadar Via berteriak,
“LO KENAPA SIH NGELIATIN GUE TERUS? KURANG KERJAAN AMAT….”
Tawa seisi kelas langsung pecah, tapi Alvin buru-buru ngalihin
perhatiannya dari Via dan malah pura-pura sibuk dengan catatan
Fisikanya. Untung aja waktu itu Bu Juh lagi gak ada ditempat.
Menyadari bahwa kini dirinya menjadi bahan tawa seluruh anak-anak kelas
X Multimedia membuat Via malu. Tanpa sadar ternyata Cakka juga lagi
merhatiin Via. Via menggaruk kepalanya yang gak gatal lantas kembali
duduk dibangkunya.
“lo apa-apaan sih?” bisik Ify pelan,
“gak apa-apa….” Jawab Via sesingkat-singkatnya. Baik Via, Ify maupun
semua anak-anak kelas X Multimedia kembali melanjutkan catatan mereka.
Sesekali Via mencuri pandang kearah Alvin, kalau Alvin ketangkap basah
lagi merhatiin Via, maka jangan salahin siapa-siapa kalau tiba-tiba
sepatu Via akan mendarat dikepala Alvin. Via tersenyum menang saat tahu
kalau Alvin udah gak merhatiin dia lagi.
“Cakka…” panggil Via pelan pada Cakka yang duduk didepannya. Cakka langsung menoleh kebalakang,
“kenapa Via..?”
“lo udah nyatet…?”
“udah, kenapa?”
“entar catetan lo gue pinjem ya? Gue ketinggalan jauh nih…” jelas Via
pada Cakka. Cakka terlihat berfikir, gak lama Cakkapun berkata,
“buku catetan lo boleh gue liat…?” Tanya Cakka seraya mengulurkan
tangannya, Via mengangguk dan langsung aja nyerahin bukunya ke Cakka,
“gue catetin aja ya…?” Ozy yang duduk sebangku dengan Cakka langsung
terkejut mendengarkan ucapan Cakka. Apa-apaan Cakka, Via itu kan musuh
abadi Cool Boy’s lalu kenapa sekarang Cakka malah nawarin bantuan ke
Via?
“gak usah Kka, entar yang ada malah ngerepotin lo lagi…” tolak Via lembut yang memang merasa gak enak pada Cakka,
“gak apa-apa kali Via, mumpung waktu masih banyak gue catetin aja ya…?”
Kali ini giliran Via yang berfikir, beberapa detik kemudian Cakka berkata pada Via,
“gue anggep itu jawaban iya….”
“Kka….”
Tanpa menunggu persetujuan dari Via, Cakka langsung aja mencatat buat Via. Via semakin ngerasa gak enak.
Sementara itu tanpa Via dan Cakka sadari, ada sebuah pandangan sinis
yang tengah memperhatikan mereka. Agni membanting pelan pulpennya diatas
buku catatannya, Zahra yang merasa heran pada Agnipun bertanya,
“Lo kenapa Ag…?” Agni menghela nafas panjang dan berusaha meredam segala emosinya,
“gak apa-apa kok Ra… Cuma aja catatannya panjang banget, tangan gue pegel…”
“ooo… gitu..?” jawab Zahra paham lantas kembali melanjutkan catatannya.
***
Malam minggu ini Via memutuskan buat nginep dirumah Acha. Sudah
seminggu terakhir ini Via gak pernah ketemu dengan sahabatnya yang satu
itu, Via kangen dengan kecerewatan dan keluguan Acha.
“yaaah… minuman gue abis Cha…” kata Via seraya membalikan gelas minumannya. Acha tersenyum,
“ya udah, biar gue panggilin Bi Inah aja…”
“gak usah Cha, Cuma ngambil minuman doang gue bisa kali….” Kata Via
seraya bangkit dari samping Acha. Acha hanya mengangguk beberapa kali,
“It’s Ok…” gumam Acha pelan.
Via membuka kulkas lalu
mengambil sebuah botol berisi air. Via menuangkan sedikit air digelas
minumannya lalu mengambil beberapa makanan kecil buat dia dan Acha. Baru
saja Via menutup kulkas dan hendak berbalik ia malah dikejutkan oleh
kehadiran Alvin yang secara tiba-tiba,
“astaga!!” kaget Via sambil mengusap dadanya beberapa kali, Alvin tersenyum simpul,
“ngapain lo disini…?” Via berusaha menyembunyikan keterkejutannya dihadapan Alvin.
“harusnya gue yang nanya lo ngapain dirumah Tante gue…?” semprot Alvin,
Via langsung menepuk keningnya, ia Baru ingat kalau Alvin sama Acha itu sepupuan.
“gu… gue… ya ngineplah, apalagi coba?”
“oooo….” Respon Alvin bikin Via semakin gondok.
Via hendak melangkah dan meninggalkan dapur, tapi Alvin buru-buru memanggil namanya,
“Sivia….”
Via meringis tak kentara, ia tahu betul Alvin pasti mau nanya-nanya soal Shilla lagi.
“boleh ngomong bentar…?”
“gak kalo soal Shilla…” jawab Via dengan tegas. Alvin menggeleng beberapa kali,
“ini bukan soal Shilla kok, ya walopun nyangkut-nyangkut dikit ama Shilla…”
Via memejamkan matanya berusaha pasrah. Dengan sangat berat hati Via mengangguk. Alvin tersenyum menang,
“ikut gue…” kata Alvin sambil melangkah mendahului Via.
***
Alvin dan Via berdiri dibalkon rumah Acha. Kelaman Via ngerasa semakin
gak tenang aja. Sumpah demi apapun, Via rasanya mau kabur aja dari Alvin
detik ini juga. Baik Via maupun Alvin masih sama-sama bungkam. Sesekali
Alvin menatap Via, tatapan Alvin itu bikin jantung Via makin dagdigdug
gak karuan aja. Ada Racana licik apa yang sebenarnya disusun Alvin?
“Via, gue udah mutusin buat ngelupain Shilla…” akhirnya Alvin buka suara juga.
Kontan saja Via tersentak hebat, gak nyangka banget kalau Alvin bakal
ngomong seperti itu. Tapi, apa ucapan Alvin bisa dipercaya? Via menatap
Alvin tajam, tapi justru Alvin tersenyum sangat santai,
“gue tau lo gak akan percaya, dan gue gak akan minta lo buat percaya.
Cuma perlu lo tau aja, kalo gue udah bener-bener mutusin buat ngelupain
Shilla. Bener apa yang dibilang Acha, gue gak boleh stuck disini, gue
harus move on dan percaya gue bisa…”
“dan kenapa gue
harus tau? Lo mau mutusin buat ngelupain Shilla apa gak emang apa
urusannya sama gue…?” kata Via dengan Nada lumayan ketus. Alvin berusaha
buat gak kaget. Sebenarnya Via gak mau ngomong kayak gitu, tapi entah
darimana datangnya keberanian Via hingga bikin Via berani ngomong
seketus itu pada Alvin.
“SANGAT ada hubungannya sama
lo…” tegas Alvin seraya memberikan penekanan pada kata Sangat. Kening
Via langsung berkerut, bingung dengan apa yang Baru saja Alvin omongin,
“gue gak ngerti maksud lo….”
Saat Via akan hengkang dari samping Alvin, tiba-tiba saja Alvin
mencekal pergelangan tangannya lalu menarik Via hingga dekat dengannya,
“ini semua karna lo…” bisik Alvin pelan.
Alvinpun melepaskan tangan Via. Jantung Via semakin berdegup kencang,
gak percaya sama apa yang Baru aja terjadi, Via juga semakin bingung
dengan ucapan Alvin, tapi satu yang pasti, semenjak kejadian malam itu,
Via ngerasa gak pernah tenang, ada perasaan aneh yang tiba-tiba timbul
lantas menyerang hatinya, Via gak tau pasti itu perasaan apa. Dan Via
gak pernah mau tau
Tanpa Via sadari, dirinya sudah benar-benar jatuh dalam pesona mematikan Alvin.
BERSAMBUNG….
Saturday, March 15, 2014
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment