“Acha! Sekarang lo jujur sama gue, Alvin
sebenernya punya rencana apa dibalik semua ini?” Tanya Via pada akhirnya
setelah ia menjelaskan semua perubahan aneh yang terjadi pada Alvin sampai
akhirnya Alvin menembaknya secara tiba-tiba dan mengejutkan.
Acha yang sejak tadi hanya duduk dan
mendengarkan diatas ranjangnya tidak kalah bingungnya dengan Via saat ini.
Bingung sekaligus kaget bercampur gak percaya. Itulah yang Acha rasakan
sekarang ini.
“Alvin nembak lo? Lo gak becanda
kan?” Acha akhirnya buka suara setelah cukup lama speechless. Ia lalu bangkit dan menghampiri Via yang ketika itu sedang
berdiri dibalkon kamarnya dengan wajah yang benar-benar kebingungan.
“Vi…. Jawab gue! Lo gak becanda
kan?” Tanya Acha sekali lagi untuk meyakinkan apa yang baru saja ia dengar dari
mulut sahabatnya ini. Acha memegang kedua pundak Via lalu sedikit
mengguncangnya untuk meminta penjelesan.
Via berdecak, ia lalu melepaskan
tangan Acha dari pundaknya dan berjalan menjauhi Acha.
“ck… percuma gue nanya lo! Lo gak
mungkin tau sesuatu. Lo kan sahabat deket gue, jadi mana mungkin Alvin ngasih
tau rencananya ke elo sekalipun lo adalah sepupunya dia”
Via meraih tas yang ada dimeja
belajar Acha lalu mengenakannya.
“gue pamit, Cha! Pulang sekolah gue
langsung kesini tanpa minta ijin Nyokap, takutnya ntar Nyokap nyariin. Bye,
Cha!”
Sebelum Acha sempat menghentikannya,
Via malah sudah kabur duluan dari kamar Acha. Acha sedikit kesal dengan
penjelasan Via yang belum tuntas itu, dan jujur Acha sangat penasaran dengan
semuanya. Tidak lama berpikir, Acha akhirnya menemukan sebuah ide untuk
menghubungi seseorang. Acha buru-buru meraih ponselnya yang terletak diatas
meja lalu segera mencari nomer seseorang pada contact list-nya, setelah menemukan nomer yang ia cari, Acha
langsung menekan tombol hijau yang terdapat disisi kiri ponselnya.
“hallo… Lo dimana sekarang?”
“……”
“gue mau ketemu sama lo. SEKARANG
JUGA!!”
“……”
“gak pake tapi-tapian, Alvin
Jonathan….”
Tuuttt…. Acha langsung mematikan
sambungan telfonnya sebelum mendengarkan penjelasan yang lebih lanjut lagi dari
Alvin. Masa bodoh dengan tanggapan Alvin, yang terpenting sekarang adalah, rasa
penasarannya bisa terjawab.
***
Dari salah satu sudut ruangan dirumah
mewahnya, tampak Alvin yang terlihat sedang memainkan grand pinao kesayangan
milik almarhum Mamanya. Dulu, ketika Shilla masih ada bersamanya, ia sering
mengajak Shilla datang kerumahnya lalu bermain piano bersama. Alvin memejamkan
kedua matanya, sementara jemari-jemari terampil miliknya terus menari diatas
tuts-tuts piano dengan lihainya, memainkan sebuah lagu yang merupakan
penggambaran dari isi hatinya saat ini. Bersamaan dengan lagu yang ia
nyanyikan, memorinya bersama Shilla dulu kembali berputar di otaknya…
“Oceans apart, day after day
And I slowly go insane
I hear your voice, on the line
But it doesn’t stop the pain
If I see you next to never
how can we say forever….”
And I slowly go insane
I hear your voice, on the line
But it doesn’t stop the pain
If I see you next to never
how can we say forever….”
“main
piano bareng aku, Yuk!!” ajak Alvin sambil menarik pergelangan tangan Shilla
yang berdiri disampingnya. Dengan sedikit ogah-ogahan Shilla duduk disamping
Alvin dan berusaha memperhatikan Alvin sebaik mungkin.
“aku
gak bisa main piano” aku Shilla dengan jujur juga dengan sedikit cemberut.
Alvin terkekeh pelan. Ia menggunakan sebelah tangannya untuk mengacak lembut
puncak kepala Shilla.
“nanti
aku ajarin. Mama aku pasti seneng banget kalo ngeliat kamu mainin pianonya…”
“tapi….
Aku gak bisa, Vin…”
“kan
ada aku, Ashilla sayang….”
“Wherever you go, whatever you do
I will be right here, waiting for you
Whatever it takes, or how my heart breaks
I will be right here waiting for you…”
I will be right here, waiting for you
Whatever it takes, or how my heart breaks
I will be right here waiting for you…”
“Acha
sama Ozy pacarannya so sweet banget, Sivia sama Dayat juga gitu, tapi gue kok
malah punya pacar yang sama sekali gak ada so sweet so sweet-nya, tiap hari
ngomeeeelll terus kerjaannya…” gerutu Alvin pelan.
Shilla
yang mendengar dengan sangat jelas ucapan Alvin itu langsung mendelik tajam
kearah Alvin.
“oooo…
jadi kamu nyesel pacaran sama aku? Kamu gak suka punya pacar yang gak so sweet
kayak aku?”
“gak
gitu…”
“terussss…???”
“aku
Cuma becanda Shill… abis dari tadi kamu marah-marah terus sih…”
“ya
kamu nya sih….”
Alvin
menggeser posisi duduknya hingga dekat dengan Shilla. Alvin pun merangkul
pundak Shilla lantas berkata.
“justru
semua sifat galak dan jutek kamu itu yang bikin aku suka sama kamu, Shill…”
Shilla
tersenyum malu-malu dan berusaha menyembunyikan rona merah yang mulai terbit
dikedua pipi putihnya.
“I took for granted, all The times
That I thought would last somehow
I hear the laughter, I taste the tears
But I can’t get near you now
Oh can’t you see it baby,
You’ve got me going crazy…”
That I thought would last somehow
I hear the laughter, I taste the tears
But I can’t get near you now
Oh can’t you see it baby,
You’ve got me going crazy…”
Semua ingatan itu seakan membuka
kembali luka lama Alvin yang akhir-akhiran ini entah kenapa sedikit terlupakan.
Tidak bisa Alvin pungkiri, bahwa sosok Via yang selama beberapa hari terakhir
ini berusaha ia dekati ternyata mampu membuatnya melupakan segala ambisinya.
Tapi ketika hari ini ia duduk didepan piano dan menyanyikan lagu yang
menggambarkan isi hatinya untuk Shilla, ia malah kembali mengingat semuanya dan
kembali membuka luka lama itu. Apakah sekarang ruang dihatinya mulai terbagi
dua? Alvin tidak pernah tahu. Yang ia tahu hanyalah, saat ia berada disamping
Via, ia bisa melupakan semua masa lalunya bersama Shilla.
“Wherever you go, whatever you do
I will be right here, waiting for you
Whatever it takes, or how my heart breaks
I will be right here waiting for you….”
I will be right here, waiting for you
Whatever it takes, or how my heart breaks
I will be right here waiting for you….”
PLAK!!
Sebuah tamparan dari tangan Shilla mendarat dengan mulus dipipi kiri Alvin.
Alvin memegangi pipinya tanpa mengucapkan sepatah kalimatpun. Yang ada sekarang
hanya rasa bersalah yang secara perlahan menggerayangi hatinya.
“aku
tau aku bukan pacar yang baik buat kamu, aku tau aku gak pernah bisa kamu ajak
romantis, aku tau aku bukan pacar yang bisa ngasih segalanya buat kamu kayak
sosok pacar-pacar yang lain, tapi satu hal, Alvin…. Aku sayang sama kamu. Dan
gak pernah sedikitpun terbersit dikepala aku buat balikan lagi sama Kak Riko
apalagi selingkuh sama mantan aku sendiri. Aku udah ngerasa cukup seneng bisa
ada dideket kamu…”
“tapi
kamu… kamu malah duain aku tanpa mau ngedengerin penjelesan aku… SAKIT RASANYA,
SAKIT ALVIN!!”
“Mulai
sekarang kita selesai. KITA PUTUS! Dan aku gak mau ngeliat muka kamu lagi”
Shilla
berbalik dan berlari pergi meninggalkan Alvin sendiri.
“I wonder how we can survive, this romance
But in the end if I’m with you, I’ll take the chance
But in the end if I’m with you, I’ll take the chance
Oh you can’t see it baby
You’ve got me going crazy …
You’ve got me going crazy …
Wherever you go, whatever you do
I will be right here, waiting for you
Whatever it takes, or how my heart breaks
I will be right here waiting for you…
I will be right here, waiting for you
Whatever it takes, or how my heart breaks
I will be right here waiting for you…
Waiting for you….”
Tepat ketika Alvin menyelesaikan lagu itu dan menutup semua ingatannya, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi dan menandakan ada sebuah panggilan masuk. Alvin segera merogoh kantong celana seragamnya dan melihat ada nama Acha yang tertera pada layar ponselnya. Alvin menghela napas panjangnya sebelum akhirnya ia mengangkat panggilan itu.
“iya hallo…”
“gue? Lagi dirumah nih. Kenapa?”
“……”
“ketemu gue? Tapi gue gak bisa Cha, gue –“
“……..”
Dan baru saja Alvin akan membuka mulut hendak melayangkan sebuah alasan, Acha malah sudah memutuskan sambungan telfonnya. Sekali lagi Alvin menghela napas panjangnya. Acha mau apa sih??
***
Sepulangnya dari rumah Acha, Via langsung memasuki kamarnya tanpa sedikitpun menghiraukan panggilan Mama nya yang saat itu sedang duduk bersama Gabriel dimeja makan. Saat ini pikirannya sedang benar-benar kacau, Via butuh waktu sendiri dan dia tidak ingin diganggu dulu.
Via mengunci pintu kamarnya, ia melemparkan tasnya kesembarang tempat lalu menghempaskan tubuhnya diatas kasurnya yang empuk. Via memeluk erat-erat boneka tweety yang dulu pernah Alvin berikan padanya sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke-13. Dan Via ingat jelas, dulu ketika Alvin memberikan boneka itu, mereka baru-baru menjalin hubungan persahabatan. Via tersenyum tipis ditengah kekalutannya. Kenapa bisa hubungan persahabatan yang dulunya begitu dekat sekarang berubah menjadi sekacau ini? Apa yang salah?
“lo tau kenapa gue kasih boneka tweety?”
“kenapa?”
“karna lo sama bawel nya kayak tweety…”
Tanpa terasa, air mata Via lolos begitu saja saat mengingat ucapan Alvin padanya beberapa tahun yang lalu. Dan tanpa sadar, Via makin erat-erat memeluk boneka pemberian Alvin itu. Via berusaha menahan sesak didadanya dan segala gejolak yang kini membelenggunya.
Tatapan mata Via tiba-tiba saja tertuju pada sebuah figura foto. Dalam foto itu, tampak gambar Via, Alvin dan Shilla yang sedang duduk bersama di ayunan yang terdapat dihalaman depan rumah Via. Posisi Alvin ada ditengah-tengah antara Sivia dan Shilla, Alvin tersenyum begitu manis sambil merangkul Sivia dan Shilla yang menatapnya dengan tatapan sebal.
Via lalu meraih foto itu, ia tersenyum kecil seraya menghapus air matanya yang mengalir. Dan kali ini, focus Via tertuju pada gambar Shilla. Setelah cukup lama menatap gambar Shilla dalam foto itu, Via pun bergumam pelan…
“maafin gue, Shill…. Maaf karna gue udah jatuh cinta beneran sama Alvin…. Gue emang pengkhianat….”
***
“kenapa sih lo ngajak gue ketemuan mendadakk gini? Pake dipaksa lagi. Lo gak tau apa kalo sore ini gue lagi ada urusan” kata Alvin sedikit tak suka pada Acha yang sedang duduk manis didepannya. Sekitar 10 menit setelah Acha menelpon Alvin tadi, mereka berdua langsung ketemuan di Café yang letaknya gak jauh dari SMA Bintang Bangsa, sekolah Acha.
“bodo sama urusan lo! Yang terpenting sekarang adalah, lo jawab pertanyaan gue dengan jujur!”
“pe… pertanyaan apa?” Tanya Alvin sedikit ragu saat ia sudah mampu membaca jalan pikiran Acha. Ya.. Via pasti langsung cerita sama Acha tentang apa yang terjadi selama beberapa hari terakhir ini. Dan sudah pasti Acha mengajak Alvin ketemuan secara mendadak gini karna Acha mau mempertanyakan lagi apa yang selama ini Via pertanyakan padanya.
“gak usah belaga begok deh! Lo bikin gue muak tau gak?” tandas Acha dengan gak sabarnya.
“ya terus lo ma –“
“kenapa mendadak lo nembak Via? Apa ini ada hubungannya sama kepergian Shilla?” selidik Acha dengan emosi yang sudah benar-benar memuncak tak terkendali.
“lo kok bisa berpikir sejelek itu sih? Hey, Raissa Arif… gue ini Alvin Jonathan, sepupu lo!”
“justru karna lo sepupu gue dan Via adalah sahabat gue. Asal lo tau ya? Gue gak akan pernah biarin lo nyakitin Via sedikitpun, lagian apa maksud lo sih dibalik semua ini? Kalo alesan lo karna lo bener-bener suka sama Via, gue anggep itu alesan BULSHIT!”
“Gue bener-bener suka sama Sivia. Terserah lo mau percaya apa gak. TITIK!” Tegas Alvin yang langsung membuat Acha tersenyum meledek.
“oh ya? Really?”
Alvin hanya mengangguk dan berusaha terlihat meyakinkan. Intinya adalah, Alvin tidak mau gagal! Ini sudah setengah perjalanan. Rasanya gak seru aja kalo Alvin tiba-tiba berhenti ditengah permainan dan mundur begitu saja.
“kalo gitu buktiin sama gue” tantang Acha dengan berapi-api. Alvin hanya mengangguk pasti sebagai jawaban atas tantangan yang Acha lemparkan padanya.
“dan inget ya lo? Gue sama Deva gak akan tinggal diem kalo sampe kita tau ternyata lo Cuma ngelakuin sandiwara Cuma buat Menuhin ambisi lo. Menuhin ambisi dari dari cowok merana yang gagal move on!” sindir Acha dengan pedas pada kalimat akhirnya.
Kedua mata Alvin membelalak lebar dan sangat merasa tersentil oleh sindiran Acha itu. Dan sebelum Alvin sempat mengeluarkan protes, Acha malah sudah hengkang meninggalkan Alvin bersama sejuta rasa kesalnya. Dasar, Sepupu gak pengertian!!
‘siapapun gak akan bisa menghentikan gue, termasuk elo, Cha…’
***
Satu minggu berlalu semenjak Via
nolak Alvin mentah-mentah, dan sejak saat itu juga, Alvin gak terlihat lagi
mengejar-ngejar Via. Dan jujur, Via merasa seperti ada bagian dari dirinya yang
menghilang. Via enggan mengakui ini, tapi jauh didasar hatinya yang terdalam,
ia sangat merindukan sosok Alvin yang jail dan selalu menggoda dirinya hampir
tiap hari. Bukan hanya Alvin yang terkesan menjauhi Via, tapi Cakka juga. Setiap
Via mengajak Cakka ngobrol, Cakka pasti gak akan terlalu menanggapi dirinya,
dan bahkan tidak jarang juga Via sering memergoki Cakka menghindarinya. Dan sikap
Cakka itu membuat Via bertanya-tanya, sebenarnya kesalahan apa yang sudah dia
lakukan sampai Cakka berubah dingin seperti itu padanya?
“Vi…” panggil Deva pelan saat
dirinya dan Via sedang makan siang bersama di kantin sekolah ketika jam
istirahat.
“hmmm…” sahut Via malas sambil
mengaduk-aduk mie goreng pesanannya tanpa selera.
“kalo boleh gue kasih saran ke elo…
kenapa lo gak coba nerima Alvin jadi pacar lo, kan –“
“lo udah gila apa?!” potong Via
cepat dengan nada protes keras. Ia menatap Deva tajam. Dan tatapan Via itu
langsung membuat nyali Deva ciut seketika, tapi Deva enggan menyerah. Belum juga
selesai ucapannya Via malah sudah memotong seenak jidatnya.
“belom juga selese omongan gue lo
malah maen nyamber aja dan bikin gue keder” gerutu Deva yang sama sekali gak
digubris oleh Via. Via kembali melamun dan bersikap seolah-olah ia tidak pernah
membentak Deva seperti apa yang dia lakukan barusan.
“dengerin gue! Lo gak sepenuhnya
nerima dia, tapi lo Cuma pura-pura nerima dia. Sekali lagi gue tekankan ke elo,
elo-Cuma-pura-pura-nerima dia, da –“
“terus?” potong Via yang sedikit
banyak mulai merasa tertarik dengan ide Deva.
“jangan lo potong lagi kek omongan
gue”
“iya… iya sorry… ya udah lanjutin!”
“kan dalem otak lo, lo mikir kalo
Alvin nembak lo Cuma buat manfaatin lo. Nah, gak ada salahnya lo terima dia dan
nyari tau balik tentang rencananya dia yang sebenernya. Kali-kali aja kan kalo
Alvin serius sama lo, kalian bisa jadian beneran, dan minimal gue dapet peje,
hehehe…” ujar Deva dengan diiringi oleh suara cengirannya yang khas.
Kali ini Via melayangkan sebuah
toyoran tepat dikening Deva. Deva langsung meringis sambil memegangi keningnya.
“lo kalo ngasih saran yang bener
kek! Sekalipun Cuma buat pura-pura, gue gak akan pernah sudi nerima Play Cap
Kecoa itu! Ngerti lo??”
“gak usah terlalu optimis. Nanti kalo
lo kemakan sama omongan lo sendiri tau rasa lo!”
“DEVAAAAAAA!!!!!!” Teriak Via
sekencang-kencangnya yang sukses membuat Deva harus dengan terpaksa menutup
kedua telinganya jika tidak ingin gendang telinganya rusak saat itu juga.
***
Tidak jauh dari sebuah halte bus,
terlihat seorang cowok yang sedang mengawasi seorang cewek yang sedang berdiri
dihalte dari dalam jaguar hitamnya. Cowok itu langsung tersenyum licik saat ia
merasa kalau rencananya kali ini pasti akan berhasil. Setelah memastikan bahwa
keadaan aman terkendali, ia segera merogoh kantongnya untuk mengambil
ponselnya.
“waktunya eksekusi!!” titahnya
dengan sangat tegas namun tenang pada seseorang ditelfon. Setelah mendapatkan
jawaban, ia pun segera memutuskan sambungan telfonnya dan kembali memasukan
ponselnya kedalam kantong.
“selamat datang di Jebakan batman,
Sivia Azizah….”
***
Via mengusap peluh yang mengalir
dikeningnya sambil sesekali mengeluh kelelahan. Sudah hampir 10 menit ia
berdiri di halte, tapi hingga sekarang belum tampak kedatangan sebuah bus yang
dia tunggu-tunggu.
Via lalu duduk dibangku halte sambil
memainkan sebuah game menggunakan ponselnya. Kalau saja Cakka tidak sedang
marah padanya, mungkin Via tidak perlu susah-susah menunggu bus seperti ini,
karna sudah dapat dipastikan, Cakka pasti mau mengantarkannya pulang. Ya iyalah,
orang mereka tentanggaan. Tapi masalahnya sekarang, Cakka sedang mendiamkan
Via, dan parahnya, Via gak tau menau kenapa Cakka mendadak berubah cuek seperti
itu.
3 orang bertubuh kekar dan salah
satu diantara mereka berambut gondrong tiba-tiba saja datang menghampiri lalu
merebut begitu saja ponsel milik Via. Via yang terkejut langsung mendongak dan
melihat orang yang sudah dengan lancangnya merebut ponsel miliknya. Dan kedua
mata membelalak lebar saat tahu bahwa dirinya kini sedang dikeliling oleh 3
orang preman jelek dan dekil.
“ka… kalian mau apa? Balikin ponsel
gue…” pinta nya yang sudah mulai merasa ketakutan.
“adek manis mau ponselnya balik??” Tanya
salah satu diantara mereka seraya mencolek dagu Via. Reflex, Via langsung
menepis tangan preman itu dari dagunya.
“BALIKIN PONSEL GUE!!” Pintanya
sekali lagi. Tapi kali ini dengan nada yang meninggi. Ke tiga preman itu saling
melirik satu sama lain lalu tertawa bersama. Via semakin ketakutan. Apa yang
harus dia lakukan sekarang?
“adek manis kalo mau ponselnya
balik, temenin kita-kita main dulu yuk!!”
“gue gak sudi!! Balikin ponsel gue
atau kalo gak gue tereak” ancam Via. Tapi bukannya mengalah, preman itu malah
semakin mengencangkan suara tawanya.
“udah, gak usah galak-galak gitu! Mending
temenin kita main dulu yuk!”
Saat salah satu dari preman itu
hendak menarik lengan Via, tiba-tiba saja secara mengejutkan seseorang datang
lalu dengan sigap menendang salah satu preman itu hingga jatuh tersungkur.
“lepasin cewek itu!!” ujarnya penuh
ketegasan. Via langsung terkejut saat tahu bahwa Alvin datang menyelamatkannya.
“ooo… rupa-rupanya ada anak ingusan
yang mau jadi pahlawan kesiangan disini” ucap salah satu dari preman itu yang
Alvin yakini adalah boss nya.
“gue gak peduli! Sekarang lepasin
cewek itu kalo kalian masih sayang sama nyawa kalian” ancam Alvin serius.
‘kok ada 3? Bukannya seharusnya 2? Apa
preman busuk itu bawa temennya lagi? Tapiiiii….. kenapa mendadak gue ngerasa
ada yang gak beres ya??’ bathin Alvin sambil memasang ancang-ancang.
Tanpa pikir panjang lagi, Alvin
langsung melawan ketiga preman itu. Dan Alvin semakin merasakan ketidakberesan
yang tadi ia maksud saat ketiga preman itu tidak juga mengalah. Dan kali ini
Alvin meyakini, bahwa ada yang salah dengan semua ini, dan semuanya benar-benar
tidak beres. Alvin pun mengerahkan segala kekuatannya untuk melawan ketidak
preman itu saat menyadari bahwa apa yang terjadi sekarang ini bukanlah scenario
yang tadi ia susun. Sementara Via yang jadi penonton dalam pertengkaran itu
sama sekali tidak bisa melakukan apapun selain menangis.
Alvin yang merasa kuwalahan akhirnya
kehabisan tenaga dalam menghadapi ketiga preman yang ternyata kuat-kuat itu.
Alvin akhirnya kalah, sama seperti Via, ia sama sekali tidak bisa melakukan
apapun saat ketiga preman itu mengeroyokinya habis-habisan.
“CUKUUUPPPP!!! JANGAN PUKUL ALVIN
LAGI!!! CUKUUUPPPP….” Teriak Via dengan isakkan yang sudah tidak kuasa ia tahan
lagi. Dengan nekadnya, Via mendekati Alvin lalu memeluk tubuh Alvin yang sudah
penuh dengan luka disekujur tubuhnya. Isakkan Via makin menjadi, dan ketiga
preman itu tidak lagi mengeroyok Alvin saat Via tiba-tiba datang lalu
memeluknya.
“kalian boleh ambil ponsel dan uang
gue, tapi plisss…. Jangan pukul Alvin lagi!”
Sambil tetap memeluk Alvin dengan
sebelah tangannya, Via mengambil dompetnya dan menyerahkannya beserta ponselnya
pada ketiga preman itu.
“kalian ambil itu semua! Tapi sekarang
pergi!!”
“anak manis!!” ucap salah seorang
preman itu lalu pergi meninggalkan Alvin dan Via berdua ditempat itu.
Beberapa
saat setelah kepergian preman itu….
“Alvin… lo gak apa-apa kan, Vin??” Tanya
Via cemas dengan isakkan kuatnya sambil memegangi wajah Alvin yang penuh dengan
luka memar. Alvin hanya menggeleng lemah sambil tersenyum.
“lo sendiri gimana? Lo gak apa-apa
kan? Preman-preman busuk itu gak ngelukain lo kan?”
“bodoh! Kenapa lo malah Tanya keadaan
gue sih?? Hiks hiks…” isakan Via makin menjadi. Kenapa disaat dirinya sedang
terluka parah seperti ini, Alvin masih sempat mengkhawatirkan dirinya yang
sudah jelas-jelas tidak terluka sedikitpun.
“maafin gue ya, Vi…..” lirih Alvin
sambil berusaha menahan rasa sakitnya. Via hanya mengangguk beberapa kali lalu
memapah Alvin untuk berdiri.
“lo masih kuat nyetir mobil? Sekarang
kita kerumah sakit ya?? Ato gue panggilin taksi aja?”
Alvin hanya menggeleng sebagai
jawaban atas rujukan Via.
“gak usah kerumah sakitlah. Gue gak
apa-apa. Gue mau pulang aja…”
“ya udah gue ikut lo! Gue yang akan obtain
luka-luka lo!!”
Alvin hanya mengangguk sambil
tersenyum kecil. Mereka berdua pun lalu berjalan beriringan kearah mobil Alvin
yang terpakir didepan halte.
Saat akan menjalankan mobilnya,
tiba-tiba saja Alvin merasakan ponselnya bergetar. Ia lalu membuka ponselnya, ternyata
Alvin menerima SMS dari preman bayarannya tadi.
=============================
From: 087*********
Maafkan kami Bos. Tadi saat kami
Akan melakukan eksekusi polisi
Tiba-tiba datang melakukan razia.
Dgn sangat terpaksa kami kabur
Sebelum melakukan apa yang bos minta.
Tapi kalo bos mau, akan kita
Kembali kan semua bayaran yang sudah
Bos kasi!
=============================
Alvin langsung menghapus pesan itu
dan memilih untuk tidak membalasnya. Entah kenapa, melihat Via begitu
mencemaskannya seperti ini, Alvin malah merasa bersalah pada cewek jutek ini. Apa
caranya yang ia lakukan sudah sangat keterlaluan hanya untuk menarik perhatian
Via…??
“Vi….” Panggil Alvin pelan sambil
tetap focus dengan jalanan.
“hmmm….”
“maaf….”
BERSAMBUNG….


0 comments:
Post a Comment