“ia adalah sepatah kata tak bersuara
Yang merasuki melalui
setiap celah-celah dinding hatimu
Ia adalah sepatah kata
yang sederhana,
Yang siap melemparkanmu
pada serentetan kisah panjang nan rumit
Dan bahkan terkadang
membuatmu beruari air mata.
Ia adalah sepatah kata
yang tak berwujud,
Namun mampu
menerbangkanmu tinggi-tinggi…
Namun tak jarang juga….
Mengehampaskanmu tanpa ampun
Ia adalah sepatah kata
sederhana
Sebentuk perasaan yang
mengawali sebuah kisah,
Pembentuk segala rupa
cerita yang pasti memiliki akhir
Ia adalah sepatah kata
yang membentuk sebongkah perasaan
Bernamakan…. CINTA…
Yang datang bahkan
tanpa kamu sadari
Yang hadir bahkan tanpa
kamu ingini…
Maka ketika cinta itu
mulai menyapamu
Dan bahkan menyentuhmu
dengan kepakan sayapnya… tersenyumlah…
Sambutlah ia meskipun
nanti ia akan melukaimu
Terima dan rengkuhlah
ia
sekalipun akhir cerita
itu belum mampu tertebak dan terjangkau
oleh intuismu…”
Hari ini suasananya benar-benar
canggung –setidaknya itu buat Via- , dan Via yang biasanya terkenal paling
cerewet didalam kelas hari ini mendadak jadi pendiam dan membuat public X
Multimedia bertanya-tanya. Tidak hanya itu, Ify, Zahra, dan Agni pun tidak
henti-hentinya dibuat bingung oleh sikap Via hari ini yang menurut mereka
benar-benar aneh.
Sejak memasuki kelas sekitar 5 menit
yang lalu, Via tidak sedikitpun buka suara. Yang ia lakukan sejak ia memasuki
kelas tadi hanyalah duduk manis dibangkunya sembari membaca LKS Seni Budayanya.
Kejadian semalam, saat Alvin merenggut first
kiss nya benar-benar membuat pikiran Via kacau dan membuat mood-nya berantakkan. Jika tidak takut akan
kemarahan Papa nya, mungkin hari ini Via lebih memilih untuk bolos dan tidak
menampakkan wajahnya dihadapan Alvin selama beberapa hari, setidaknya sampai
pikirannya kembali membaik dan suasana hatinya kembali seperti semula.
Tepat 3 menit sebelum bel tanda
masuk berkumandang, Alvin memasuki kelas dengan gayanya yang tetap cool. Disaat yang bersamaan secara gak
sengaja Via mengangkat wajah, dan kedua matanya langsung bersibobrokan dengan
kedua manik mata Alvin yang Nampak meneduhkan. Via tercekat, ia lalu buru-buru
mengalihkan perhatiannya pada LKS Seni Budaya yang sejak tadi ia tekuri. Tanpa
ia inginkan, jauh didalam sana jantungnya seakan jumplitan dan seolah ingin
keluar dari tempatnya selama ini. Via berusaha mengontrol diri dan melupakan
kejadian semalam, tapi semakin Via berusaha, bayang-bayang akan kejadian
semalam malah semakin melekat erat dikepalanya. Jika bisa, rasanya Via ingin
menghilang detik ini juga dari hadapan Alvin.
Berbanding terbalik dengan sikap
yang ditunjukan Via, Alvin justru terlihat lebih tenang hari ini. Ia bahkan
bersikap seolah-olah kejadian semalam gak pernah terjadi dalam hidupnya, dan
hal itu pulalah yang membuat Via kembali menanyakan keseriusan cowok oriental
itu.
Dengan santai Alvin melewati Via
lalu duduk dibangkunya yang posisinya ternyata bersebrangan dengan bangku Via.
Alvin hanya melirik Via sejenak lalu mengalihkan perhatiannya kearah Whiteboard yang penuh dengan
coretan-coretan spidol yang tidak jelas. Sama persis seperti suasana hatinya
saat ini.
“stttt… gimana? Udah ada kemajuan
belum?” bisik Rio pelan tepat didepan telinga Alvin. Tapi Alvin nggak
sedikitpun menggubris pertanyaan Rio itu. Ia tetap sibuk dengan pikirannya
sendiri hingga bel tanda masuk pun berkumandang dan membuat semua siswa-siswi
kelas X Multimedia yang tadinya berkumpul
diluar kini berdesakkan masuk kedalam kelas.
Rio mendesah pelan. Rasa
penasarannya ternyata hanya tinggal rasa penasaran.
Tidak berselang lama setelah bel
tanda masuk berbunyi, seorang Guru Muda yang bernama Pak Yaqin memasuki kelas X
Multimedia. Beliau ini adalah seorang Guru Seni Budaya yang terkenal jenaka dan
sangat bersahabat.
“selamat pagi, Guys….” Sapa nya
hangat pada semua penghuni kelas X Multimedia. Semuanya pun menjawab sapaan Pak
Yaqin dengan penuh semangat. Sementara Alvin dan Via, entah kenapa mereka
berdua kompak tidak menjawab sapaan Pak Yaqin.
Pak Yaqin yang bisa menangkap
kekompakan mereka langsung tersenyum tipis. Dalam otaknya, beliau sudah punya
rencana brilian untuk menggoda kedua siswa siswi nya ini.
“Alvin dan Via kok kompak nggak
jawab? Janjian ya??” tegurnya yang langsung membuat Alvin dan Via mencelat dan
mengangkat wajah mereka secara bersamaan.
“bukan janjian, Pak. Tapi
JA-DI-AN….” Celetuk Rio yang tiba-tiba saja mulai cari penyakit. Semua penghuni
kelas X Multimedia minus Alvin, Cakka dan Via langsung dibuat heboh. Celetukan
Rio yang seakan tanpa pikir panjang itu langsung mendapatkan 2 pelototan tajam
dari 2 pasang mata. Alvin dan Via. Sementara Cakka yang duduk tepat dibelakang
Via, hanya berusaha untuk meredam emosinya dan menahan sesak didadanya.
“lo udah bosen hidup ya, Yo?” desis
Alvin tajam dengan suara pelan. Menanggapi ucapan Alvin itu, Rio Cuma
meng’V’kan kedua jarinya sebagai tanda rasa menyesalnya.
“ooo… jadi acara penembakkan di Lab
kemaren sukses ya, Vin?” timpal Pak Yaqin yang lagi-lagi membuat Alvin dan Via
sama-sama melotot tajam. Darimana Pak Yaqin tau tentang hal itu?
“Bapak tau darimana??” Tanya dua
suara sekaligus secara bersamaan. Untuk beberapa detik semuanya hening. Ups…
itu suara Alvin dan Via ternyata. Kali ini Alvin dan Via saling melemparkan
tatapan satu sama lain.
“taulah… gossip kayak gini gampang
nyebarnya, adik-adikku…” kata Pak Yaqin sok manis dan diiringi oleh teriakan
heboh dari anak-anak kelas X Multimedia –minus Alvin, Cakka dan Via-
Alvin dan Via langsung melengos.
Mereka benar-benar pasrah jadi bulan-bulanan teman-teman mereka juga Pak Yaqin
selama 2 jam mata pelajaran seni budaya berlangsung.
Dan menurut mereka, ini adalah 2 jam
terberat yang pernah mereka lalui.
***
“Cakka!!” panggil seorang cewek dari
kejauhan seraya berlari kecil menghampiri Cakka. Merasa ada yang memanggil
namanya, Cakka langsung menghentikan langkahnya. Ia berbalik lalu mendapati
Agni yang saat itu ternyata sudah berdiri sejajar dengannya.
“eh, elo Ag… ada apa ya?”
“elo dipanggil Pak Bambang. Katanya ada
urusan dadakan gitu yang harus kita rapatin sama anak-anak OSIS lain” terang
Agni sambil berusaha menteralkan deguban jantungnya yang sudah menari-nari
heboh didalam sana.
Cakka mengangguk paham, baru saja ia
akan buka suara menanggapi kabar yang Agni sampaikan padanya, tiba-tiba saja
mereka dikejutkan oleh kehebohan beberapa teman-teman mereka yang berlari
kearah MADING. Cakka dan Agni sama-sama dibuat bingung. Ada apa sih sebenarnya?
Gak biasanya deh.
“ada apa ya?” Tanya Cakka sambil
menatap Agni dengan pandangan bertanya. Agni Cuma mengedikkan kedua bahunya
tanda ia gak tau apapun.
“ya udah. Kita ikutin mereka! Mendadak
feeling gue gak enak nih” ajak Cakka. Dan sebelum Agni membuka mulut hendak
mengingatkan Cakka akan panggilan Pak Bambang, Cakka malah sudah ngeloyor pergi
duluan. Sementara Agni? Ia Cuma bisa mengkuti Cakka dengan pasrah dari belakang.
***
Kedua mata Via terbuka maksimal
ketika di MADING ia melihat beberapa fotonya bersama Alvin yang tengah duduk
berdua di ayunan rumahnya tertempel dengan rapi di Mading sekolah. Bukan hanya
foto saat mereka duduk berdua saja, tapi foto saat Alvin nyaris mencium Via
juga ada disana. Via makin panic, siapa sebenarnya yang sudah berani-beraninya
mengikuti mereka dan dengan lancangnya mengambil gambar-gambarnya? Yang Via
syukuri adalah, untung saja si Fotografer gelap itu tidak mengambil gambarnya
yang sedang berciuman dengan Alvin. Via sempat menghela napas lega disana. Tapi
tetap saja ia merasa ia tidak terima karna foto-foto nya dipublikasikan seperti
ini!
Siapa yang sudah melakukan semua ini?
Sekali lagi pertanyaan itu timbul
dikepala Via. Dari titik focus foto-foto itu, Via dapat menyimpulkan bahwa
pasti yang mengambil gambar-gambar ini adalah seorang Fotografer professional. Dan
Via langsung mencengkram kuat-kuat tangannya saat sebuah nama terbersit
dikepalanya. Ya… ini pasti ulah cowok nyebelin itu. Siapa lagi kalau bukan
dia??
Dengan emosi yang sudah mencapai
puncak klimaks, Via mencabut kasar semua foto-foto itu lalu meremasnya. Dan telinganya
semakin panas saat menangkap cemoohan-cemoohan super pedas dari beberapa fans
Alvin.
‘GILA
YA? APA COBA YANG ALVIN LIAT DARI CEWEK INI?’
‘CEWEK
BIASA KAYAK GINI KOK BISA YA BIKIN ALVIN TERTARIK?’
‘KAYAK
NYA ALVIN KENA PELET DEH’
‘DIA
KAN GAK CANTIK-CANTIK AMAT! MUKANYA JUGA MASIH MASUK KATEGORI STANDAR’
‘DIIHHH….
SELERANYA ALVIN JONATHAN GAK BANGET DEH!!’
Dan masih banyak lagi
kalimat-kalimat super pedas lainnya yang membuat Via merasa muak semuak-muaknya.
Belum reda rasa kesal nya karna foto-foto itu juga karna cemoohan-cemoohan
pedas yang dihujani padanya, tiba-tiba saja, salah seorang cewek dari kerumunan
itu bersama kedua antek-antek nya maju menghampiri Via dan menatap Via dengan
tatapan meremehkan. Dia adalah Zevana CS.
“Ternyata bener ya lo emang ada
hubungan sama Alvin? Ckckck… elo nya aja yang waktu itu sok jual mahal! Sok-sok
ngatain Alvin play boy padahal sebenernya elo juga tergila-gila sama dia! Heh, Dasar
PHO!!” Cerca Zevana dan nyaris saja melayangkan sebuah tamparan diwajah Via.
Via yang merasa gak bisa berbuat apa-apa lagi langsung menunduk dan memejamkan
matanya. Tapi tepat, saat tangan Zevana akan mendarat dipipi mulus Via, sebuah
tangan kokoh langsung menghentikannya.
“jangan sentuh cewek gue!!” kecam
nya dengan nada dingin dan tegas. Sumpah demi apapun, Zevana langsung menciut
ditempat saat mendengarkan perkataan dingin Alvin plus tatapan tajamnya yang
benar-benar bikin siapa saja yang melihatnya jadi merinding karna takut.
Alvin melepaskan tangan Zevana dengan
kasar lalu beralih kesamping Via yang saat itu masih menunduk dalam, menahan
malu.
“Via lo nggak apa-apa?” Tanya Alvin
lembut, berusaha menyentuh pundak Via. Tapi belum-belum tangan Alvin menyentuh
pundaknya, Via malah menepis tangan itu dengan kasar.
Alvin hanya menghela napas
panjangnya. Ini sudah setengah jalan. Dan Alvin gak akan menyerah dengan
mudahnya.
Alvin lalu merangkul pundak Via. Hal
itu kontan saja membuat beberapa fans nya mendesah kecewa. Bahkan ada diantara
mereka yang terang-terangan menatap Via dengan tatapan ingin menerkam
hidup-hidup. Tapi Alvin gak peduli dengan semua itu. Yang terpenting sekarang
adalah, rencananya harus berjalan dengan mulus dan sesuai keinginanya.
Via berusaha membebaskan dirinya
dari rangkulan Alvin, tapi Alvin justru semakin mempererat rangkulannya. Disaat
yang bersamaan, datanglah Cakka bersama
Agni. Pemandangan Via yang sedang tertunduk sedih dalam rangkulan Alvin justru
membuatnya merasakan sesak didadanya.
“buat lo semua yang ada disini,
dengerin gue!!” tegas Alvin dihadapan semuanya. Cakka hanya menyaksikan dengan
emosi yang sudah benar-benar berantakkan.
“VIA ADALAH CEWEK GUE! Dan mulai
sekarang, gue gak mau denger kalian ngomong yang gak-gak tentang CEWEK GUE!!”
Via yang tersentak dengan pengakuan
Alvin yang jelas-jelas adalah sebuah kebohongan itu langsung mengangkat
wajahnya dan menatap Alvin tajam. Ia baru saja akan mengajukan protes saat
tiba-tiba Alvin mengecup keningnya dengan lembut dihadapan semua teman-teman
mereka. Kedua mata Via melotot lebar. Apa lagi ini? Merasa tidak tahan dengan
pemandangan menyesakkan itu, Cakka langsung melangkah pergi tanpa mengeluarkan
sepatah katapun dengan diikuti oleh Agni dibelakangnya.
Belum tuntas kebingungan Via dengan
apa yang terjadi baru saja, Alvin langsung menggenggam tangannya erat lalu membawanya
pergi dari tempat itu, menyisakan tatapan-tatapan kecewa dan beberapa hati yang
terluka dibelakang mereka.
***
“Lepasin tangan gue!!” sinis Via
tajam seraya melepaskan tangannya dengan kasar dari kungkungan Alvin.
“lo tau? Semua apa yang lo lakuin
dari kemaren-kemaren udah cukup bikin gue gak punya muka lagi didepan semuanya.
Apa sih mau lo sebenernya? Hah?” Tanya Via dengan emosi yang meledak. Suaranya terdengar
serak dan parau, menandakan sebuah kelelahan yang ingin segera diistirahatkan
sejenak.
“kalo aja lo ngasih gue jawaban dari
kemaren, mungkin kita gak akan pernah berada dalam posisi yang menyebalkan ini”
bela Alvin yang tidak juga mau mengalah.
“APA?? Lo bilang KITA? KITA?” jerit
Via histeris, berusaha mencari sebuah penegasan pada ‘KITA’ yang baru saja
meluncur dengan tidak tahu malunya dari bibir Alvin.
“bukan kita, Alvin… BUKAN KITA, TAPI
GUE” Ujar Via seraya menunjuk dirinya sendiri. Alvin hanya menghela napas
panjangnya, sudah tidak tahu lagi harus berkata apa.
“kalo emang lo mau jawaban…. Fine,
gue akan jawab sekarang pertanyaan lo!!” Via menarik napasnya dalam-dalam,
berusaha melawan segala gejolak didadanya dan segala bisikan-bisikan berisik dari
dasar hatinya yang terdalam yang seakan meneriakan kata ‘IYA’ untuk Alvin.
“gue….” Via menggantungkan
kalimatnya dan berusaha menahan laju air matanya yang seakan berdesakan keluar.
Gak, Via gak boleh menangis apapun dan bagaimana pun kedaannya sekarang. “sama
sekali GAK TERTARIK sama lo! Dan gue GAK MAU jadi pacar lo! JELAS KAN??” lanjut
Via dengan beberapa penegasan di beberapa kata.
Perlahan ada yang luruh disana
seiring dengan kebohongan yang meluncur dengan sempurna dari bibirnya. Entah untuk
yang keberapa kalinya, lagi-lagi Via berhasil mengelabui hatinya sendiri. Dan sangat
menyesakkan rasanya disaat ia harus dengan terpaksa membohongi dirinya sendiri
juga Alvin hanya karna sebuah ikatan persahabatan yang menjerat. Via tidak
ingin jadi seorang pengkhianat yang menjilat ludahnya sendiri. Biarlah untuk
sekarang ini ia menjadi seorang pembohong daripada ia harus mengkhianati
persahabatannya dengan Shilla yang sudah terjalin sejak lama. Toh dia sendiri
juga tidak mampu memastikan apakah Alvin benar-benar tulus padanya atau hanya
ingin menjadikannya mainan saja. Dan Via tidak ingin terjebak dengan semua itu.
Tidak pernah ingin.
Via lalu berbalik dan pergi
meninggalkan Alvin sendiri. Saat itulah, butir-butir bening yang sejak tadi
mati-matian ia tahan akhirnya berdesakan keluar berasama rasa sesak didadanya.
‘lo
tau, Vin…? Gue bohong sama lo…..’
Sementara Alvin, ia langsung
mencelos setelah beberapa saat Via mengeluarkan penolakan yang begitu keras dan
menghantam telak dadanya. Dan seumur hidupnya, ini baru pertama kalinya Alvin
menerima sebuah penolakan yang lumayan tegas. Tidak bisa ia gambarkan apa yang
kini ia rasakan. Tapi yang jelas, ada segelintir rasa kecewa yang menghiasi
hatinya, yang muncul bahkan tanpa dia sadari. Ego telah menutup segalanya termasuk itu…. Hatinya.
“permainan belum selesai, Sivia
Azizah…..”
BERSAMBUNG…..


0 comments:
Post a Comment