Monday, March 17, 2014

0

Cinta Bikin Galau 8 –Permainan Belum Selesai-





“ia adalah sepatah kata tak bersuara
Yang merasuki melalui setiap celah-celah dinding hatimu
Ia adalah sepatah kata yang sederhana,
Yang siap melemparkanmu pada serentetan kisah panjang nan rumit
Dan bahkan terkadang membuatmu beruari air mata.
Ia adalah sepatah kata yang tak berwujud,
Namun mampu menerbangkanmu tinggi-tinggi…
Namun tak jarang juga…. Mengehampaskanmu tanpa ampun

Ia adalah sepatah kata sederhana
Sebentuk perasaan yang mengawali sebuah kisah,
Pembentuk segala rupa cerita yang pasti memiliki akhir

Ia adalah sepatah kata yang membentuk sebongkah perasaan
Bernamakan…. CINTA…

Yang datang bahkan tanpa kamu sadari
Yang hadir bahkan tanpa kamu ingini…

Maka ketika cinta itu mulai menyapamu
Dan bahkan menyentuhmu dengan kepakan sayapnya… tersenyumlah…
Sambutlah ia meskipun nanti ia akan melukaimu
Terima dan rengkuhlah ia
sekalipun akhir cerita itu belum mampu tertebak dan terjangkau
oleh intuismu…”



            Hari ini suasananya benar-benar canggung –setidaknya itu buat Via- , dan Via yang biasanya terkenal paling cerewet didalam kelas hari ini mendadak jadi pendiam dan membuat public X Multimedia bertanya-tanya. Tidak hanya itu, Ify, Zahra, dan Agni pun tidak henti-hentinya dibuat bingung oleh sikap Via hari ini yang menurut mereka benar-benar aneh.
            Sejak memasuki kelas sekitar 5 menit yang lalu, Via tidak sedikitpun buka suara. Yang ia lakukan sejak ia memasuki kelas tadi hanyalah duduk manis dibangkunya sembari membaca LKS Seni Budayanya. Kejadian semalam, saat Alvin merenggut first kiss nya benar-benar membuat pikiran Via kacau dan membuat mood-nya berantakkan. Jika tidak takut akan kemarahan Papa nya, mungkin hari ini Via lebih memilih untuk bolos dan tidak menampakkan wajahnya dihadapan Alvin selama beberapa hari, setidaknya sampai pikirannya kembali membaik dan suasana hatinya kembali seperti semula.
            Tepat 3 menit sebelum bel tanda masuk berkumandang, Alvin memasuki kelas dengan gayanya yang tetap cool. Disaat yang bersamaan secara gak sengaja Via mengangkat wajah, dan kedua matanya langsung bersibobrokan dengan kedua manik mata Alvin yang Nampak meneduhkan. Via tercekat, ia lalu buru-buru mengalihkan perhatiannya pada LKS Seni Budaya yang sejak tadi ia tekuri. Tanpa ia inginkan, jauh didalam sana jantungnya seakan jumplitan dan seolah ingin keluar dari tempatnya selama ini. Via berusaha mengontrol diri dan melupakan kejadian semalam, tapi semakin Via berusaha, bayang-bayang akan kejadian semalam malah semakin melekat erat dikepalanya. Jika bisa, rasanya Via ingin menghilang detik ini juga dari hadapan Alvin.
            Berbanding terbalik dengan sikap yang ditunjukan Via, Alvin justru terlihat lebih tenang hari ini. Ia bahkan bersikap seolah-olah kejadian semalam gak pernah terjadi dalam hidupnya, dan hal itu pulalah yang membuat Via kembali menanyakan keseriusan cowok oriental itu.
            Dengan santai Alvin melewati Via lalu duduk dibangkunya yang posisinya ternyata bersebrangan dengan bangku Via. Alvin hanya melirik Via sejenak lalu mengalihkan perhatiannya kearah Whiteboard yang penuh dengan coretan-coretan spidol yang tidak jelas. Sama persis seperti suasana hatinya saat ini.

            “stttt… gimana? Udah ada kemajuan belum?” bisik Rio pelan tepat didepan telinga Alvin. Tapi Alvin nggak sedikitpun menggubris pertanyaan Rio itu. Ia tetap sibuk dengan pikirannya sendiri hingga bel tanda masuk pun berkumandang dan membuat semua siswa-siswi kelas  X Multimedia yang tadinya berkumpul diluar kini berdesakkan masuk kedalam kelas.

            Rio mendesah pelan. Rasa penasarannya ternyata hanya tinggal rasa penasaran.

            Tidak berselang lama setelah bel tanda masuk berbunyi, seorang Guru Muda yang bernama Pak Yaqin memasuki kelas X Multimedia. Beliau ini adalah seorang Guru Seni Budaya yang terkenal jenaka dan sangat bersahabat.

            “selamat pagi, Guys….” Sapa nya hangat pada semua penghuni kelas X Multimedia. Semuanya pun menjawab sapaan Pak Yaqin dengan penuh semangat. Sementara Alvin dan Via, entah kenapa mereka berdua kompak tidak menjawab sapaan Pak Yaqin.
            Pak Yaqin yang bisa menangkap kekompakan mereka langsung tersenyum tipis. Dalam otaknya, beliau sudah punya rencana brilian untuk menggoda kedua siswa siswi nya ini.

            “Alvin dan Via kok kompak nggak jawab? Janjian ya??” tegurnya yang langsung membuat Alvin dan Via mencelat dan mengangkat wajah mereka secara bersamaan.

            “bukan janjian, Pak. Tapi JA-DI-AN….” Celetuk Rio yang tiba-tiba saja mulai cari penyakit. Semua penghuni kelas X Multimedia minus Alvin, Cakka dan Via langsung dibuat heboh. Celetukan Rio yang seakan tanpa pikir panjang itu langsung mendapatkan 2 pelototan tajam dari 2 pasang mata. Alvin dan Via. Sementara Cakka yang duduk tepat dibelakang Via, hanya berusaha untuk meredam emosinya dan menahan sesak didadanya.

            “lo udah bosen hidup ya, Yo?” desis Alvin tajam dengan suara pelan. Menanggapi ucapan Alvin itu, Rio Cuma meng’V’kan kedua jarinya sebagai tanda rasa menyesalnya.

            “ooo… jadi acara penembakkan di Lab kemaren sukses ya, Vin?” timpal Pak Yaqin yang lagi-lagi membuat Alvin dan Via sama-sama melotot tajam. Darimana Pak Yaqin tau tentang hal itu?

            “Bapak tau darimana??” Tanya dua suara sekaligus secara bersamaan. Untuk beberapa detik semuanya hening. Ups… itu suara Alvin dan Via ternyata. Kali ini Alvin dan Via saling melemparkan tatapan satu sama lain.

            “taulah… gossip kayak gini gampang nyebarnya, adik-adikku…” kata Pak Yaqin sok manis dan diiringi oleh teriakan heboh dari anak-anak kelas X Multimedia –minus Alvin, Cakka dan Via-


            Alvin dan Via langsung melengos. Mereka benar-benar pasrah jadi bulan-bulanan teman-teman mereka juga Pak Yaqin selama 2 jam mata pelajaran seni budaya berlangsung.

            Dan menurut mereka, ini adalah 2 jam terberat yang pernah mereka lalui.






***


            “Cakka!!” panggil seorang cewek dari kejauhan seraya berlari kecil menghampiri Cakka. Merasa ada yang memanggil namanya, Cakka langsung menghentikan langkahnya. Ia berbalik lalu mendapati Agni yang saat itu ternyata sudah berdiri sejajar dengannya.

            “eh, elo Ag… ada apa ya?”

            “elo dipanggil Pak Bambang. Katanya ada urusan dadakan gitu yang harus kita rapatin sama anak-anak OSIS lain” terang Agni sambil berusaha menteralkan deguban jantungnya yang sudah menari-nari heboh didalam sana.

            Cakka mengangguk paham, baru saja ia akan buka suara menanggapi kabar yang Agni sampaikan padanya, tiba-tiba saja mereka dikejutkan oleh kehebohan beberapa teman-teman mereka yang berlari kearah MADING. Cakka dan Agni sama-sama dibuat bingung. Ada apa sih sebenarnya? Gak biasanya deh.

            “ada apa ya?” Tanya Cakka sambil menatap Agni dengan pandangan bertanya. Agni Cuma mengedikkan kedua bahunya tanda ia gak tau apapun.

            “ya udah. Kita ikutin mereka! Mendadak feeling gue gak enak nih” ajak Cakka. Dan sebelum Agni membuka mulut hendak mengingatkan Cakka akan panggilan Pak Bambang, Cakka malah sudah ngeloyor pergi duluan. Sementara Agni? Ia Cuma bisa mengkuti Cakka dengan pasrah dari belakang.



***


            Kedua mata Via terbuka maksimal ketika di MADING ia melihat beberapa fotonya bersama Alvin yang tengah duduk berdua di ayunan rumahnya tertempel dengan rapi di Mading sekolah. Bukan hanya foto saat mereka duduk berdua saja, tapi foto saat Alvin nyaris mencium Via juga ada disana. Via makin panic, siapa sebenarnya yang sudah berani-beraninya mengikuti mereka dan dengan lancangnya mengambil gambar-gambarnya? Yang Via syukuri adalah, untung saja si Fotografer gelap itu tidak mengambil gambarnya yang sedang berciuman dengan Alvin. Via sempat menghela napas lega disana. Tapi tetap saja ia merasa ia tidak terima karna foto-foto nya dipublikasikan seperti ini!
            Siapa yang sudah melakukan semua ini?  Sekali lagi pertanyaan itu timbul dikepala Via. Dari titik focus foto-foto itu, Via dapat menyimpulkan bahwa pasti yang mengambil gambar-gambar ini adalah seorang Fotografer professional. Dan Via langsung mencengkram kuat-kuat tangannya saat sebuah nama terbersit dikepalanya. Ya… ini pasti ulah cowok nyebelin itu. Siapa lagi kalau bukan dia??
            Dengan emosi yang sudah mencapai puncak klimaks, Via mencabut kasar semua foto-foto itu lalu meremasnya. Dan telinganya semakin panas saat menangkap cemoohan-cemoohan super pedas dari beberapa fans Alvin.

            ‘GILA YA? APA COBA YANG ALVIN LIAT DARI CEWEK INI?’
            ‘CEWEK BIASA KAYAK GINI KOK BISA YA BIKIN ALVIN TERTARIK?’
            ‘KAYAK NYA ALVIN KENA PELET DEH’
            ‘DIA KAN GAK CANTIK-CANTIK AMAT! MUKANYA JUGA MASIH MASUK KATEGORI STANDAR’
            ‘DIIHHH…. SELERANYA ALVIN JONATHAN GAK BANGET DEH!!’

            Dan masih banyak lagi kalimat-kalimat super pedas lainnya yang membuat Via merasa muak semuak-muaknya. Belum reda rasa kesal nya karna foto-foto itu juga karna cemoohan-cemoohan pedas yang dihujani padanya, tiba-tiba saja, salah seorang cewek dari kerumunan itu bersama kedua antek-antek nya maju menghampiri Via dan menatap Via dengan tatapan meremehkan. Dia adalah Zevana CS.

            “Ternyata bener ya lo emang ada hubungan sama Alvin? Ckckck… elo nya aja yang waktu itu sok jual mahal! Sok-sok ngatain Alvin play boy padahal sebenernya elo juga tergila-gila sama dia! Heh, Dasar PHO!!” Cerca Zevana dan nyaris saja melayangkan sebuah tamparan diwajah Via. Via yang merasa gak bisa berbuat apa-apa lagi langsung menunduk dan memejamkan matanya. Tapi tepat, saat tangan Zevana akan mendarat dipipi mulus Via, sebuah tangan kokoh langsung menghentikannya.

            “jangan sentuh cewek gue!!” kecam nya dengan nada dingin dan tegas. Sumpah demi apapun, Zevana langsung menciut ditempat saat mendengarkan perkataan dingin Alvin plus tatapan tajamnya yang benar-benar bikin siapa saja yang melihatnya jadi merinding karna takut.
            Alvin melepaskan tangan Zevana dengan kasar lalu beralih kesamping Via yang saat itu masih menunduk dalam, menahan malu.

            “Via lo nggak apa-apa?” Tanya Alvin lembut, berusaha menyentuh pundak Via. Tapi belum-belum tangan Alvin menyentuh pundaknya, Via malah menepis tangan itu dengan kasar.
            Alvin hanya menghela napas panjangnya. Ini sudah setengah jalan. Dan Alvin gak akan menyerah dengan mudahnya.

            Alvin lalu merangkul pundak Via. Hal itu kontan saja membuat beberapa fans nya mendesah kecewa. Bahkan ada diantara mereka yang terang-terangan menatap Via dengan tatapan ingin menerkam hidup-hidup. Tapi Alvin gak peduli dengan semua itu. Yang terpenting sekarang adalah, rencananya harus berjalan dengan mulus dan sesuai keinginanya.
            Via berusaha membebaskan dirinya dari rangkulan Alvin, tapi Alvin justru semakin mempererat rangkulannya. Disaat yang bersamaan, datanglah Cakka  bersama Agni. Pemandangan Via yang sedang tertunduk sedih dalam rangkulan Alvin justru membuatnya merasakan sesak didadanya.

            “buat lo semua yang ada disini, dengerin gue!!” tegas Alvin dihadapan semuanya. Cakka hanya menyaksikan dengan emosi yang sudah benar-benar berantakkan.

            “VIA ADALAH CEWEK GUE! Dan mulai sekarang, gue gak mau denger kalian ngomong yang gak-gak tentang CEWEK GUE!!”

            Via yang tersentak dengan pengakuan Alvin yang jelas-jelas adalah sebuah kebohongan itu langsung mengangkat wajahnya dan menatap Alvin tajam. Ia baru saja akan mengajukan protes saat tiba-tiba Alvin mengecup keningnya dengan lembut dihadapan semua teman-teman mereka. Kedua mata Via melotot lebar. Apa lagi ini? Merasa tidak tahan dengan pemandangan menyesakkan itu, Cakka langsung melangkah pergi tanpa mengeluarkan sepatah katapun dengan diikuti oleh Agni dibelakangnya.

            Belum tuntas kebingungan Via dengan apa yang terjadi baru saja, Alvin langsung menggenggam tangannya erat lalu membawanya pergi dari tempat itu, menyisakan tatapan-tatapan kecewa dan beberapa hati yang terluka dibelakang mereka.




***


            “Lepasin tangan gue!!” sinis Via tajam seraya melepaskan tangannya dengan kasar dari kungkungan Alvin.

            “lo tau? Semua apa yang lo lakuin dari kemaren-kemaren udah cukup bikin gue gak punya muka lagi didepan semuanya. Apa sih mau lo sebenernya? Hah?” Tanya Via dengan emosi yang meledak. Suaranya terdengar serak dan parau, menandakan sebuah kelelahan yang ingin segera diistirahatkan sejenak.

            “kalo aja lo ngasih gue jawaban dari kemaren, mungkin kita gak akan pernah berada dalam posisi yang menyebalkan ini” bela Alvin yang tidak juga mau mengalah.

            “APA?? Lo bilang KITA? KITA?” jerit Via histeris, berusaha mencari sebuah penegasan pada ‘KITA’ yang baru saja meluncur dengan tidak tahu malunya dari bibir Alvin.

            “bukan kita, Alvin… BUKAN KITA, TAPI GUE” Ujar Via seraya menunjuk dirinya sendiri. Alvin hanya menghela napas panjangnya, sudah tidak tahu lagi harus berkata apa.

            “kalo emang lo mau jawaban…. Fine, gue akan jawab sekarang pertanyaan lo!!” Via menarik napasnya dalam-dalam, berusaha melawan segala gejolak didadanya dan segala bisikan-bisikan berisik dari dasar hatinya yang terdalam yang seakan meneriakan kata ‘IYA’ untuk Alvin.

            “gue….” Via menggantungkan kalimatnya dan berusaha menahan laju air matanya yang seakan berdesakan keluar. Gak, Via gak boleh menangis apapun dan bagaimana pun kedaannya sekarang. “sama sekali GAK TERTARIK sama lo! Dan gue GAK MAU jadi pacar lo! JELAS KAN??” lanjut Via dengan beberapa penegasan di beberapa kata.
            Perlahan ada yang luruh disana seiring dengan kebohongan yang meluncur dengan sempurna dari bibirnya. Entah untuk yang keberapa kalinya, lagi-lagi Via berhasil mengelabui hatinya sendiri. Dan sangat menyesakkan rasanya disaat ia harus dengan terpaksa membohongi dirinya sendiri juga Alvin hanya karna sebuah ikatan persahabatan yang menjerat. Via tidak ingin jadi seorang pengkhianat yang menjilat ludahnya sendiri. Biarlah untuk sekarang ini ia menjadi seorang pembohong daripada ia harus mengkhianati persahabatannya dengan Shilla yang sudah terjalin sejak lama. Toh dia sendiri juga tidak mampu memastikan apakah Alvin benar-benar tulus padanya atau hanya ingin menjadikannya mainan saja. Dan Via tidak ingin terjebak dengan semua itu. Tidak pernah ingin.

            Via lalu berbalik dan pergi meninggalkan Alvin sendiri. Saat itulah, butir-butir bening yang sejak tadi mati-matian ia tahan akhirnya berdesakan keluar berasama rasa sesak didadanya.


            ‘lo tau, Vin…? Gue bohong sama lo…..’



            Sementara Alvin, ia langsung mencelos setelah beberapa saat Via mengeluarkan penolakan yang begitu keras dan menghantam telak dadanya. Dan seumur hidupnya, ini baru pertama kalinya Alvin menerima sebuah penolakan yang lumayan tegas. Tidak bisa ia gambarkan apa yang kini ia rasakan. Tapi yang jelas, ada segelintir rasa kecewa yang menghiasi hatinya, yang muncul bahkan tanpa dia sadari. Ego  telah menutup segalanya termasuk itu…. Hatinya.



            “permainan belum selesai, Sivia Azizah…..”









                                    BERSAMBUNG…..

0 comments:

Post a Comment