Saturday, March 22, 2014

0

You’re Mine [Part 19: Antiklimaks]












Sebelumnya…


            “Papa kena serangan jantung! Gak ada yang dapat memastikan kapan Papa sadar. Dan Dokter Emil meminta aku untuk membawa kamu pulang, Vi. Cuma kamu satu-satunya kekuatan yang Papa miliki supaya ia tetap bertahan hidup… Cuma kamu, Vi… bukan aku, bukan Mama ku, juga bukan yang lainnya…”

            Via langsung membeku ditempatnya. Mungkin selama ini ia berpikir bahwa pintu maaf nya sudah benar-benar tertutup untuk Papanya, tapi entah kenapa, saat mendengar berita bahwa Papa nya terkena serangan jantung, Via justru merasa cemas. Jauh didalam sana hatinya seakan menangis. Dulu ia pernah kehilangan Mamanya, sekarang masakah ia harus kehilangan orang tuanya untuk yang kedua kalinya??

            Via memejamkan matanya, berusaha mencari keputusan terbaik yang bisa segera mungkin ia ambil. Via lalu menghela napas panjangnya dan meyakinkan hatinya bahwa keputusan yang ambil kali ini bukanlah sebuah keputusan yang salah.

            Via lalu berbalik dan menatap Cakka. Kali ini, sudah tidak ada lagi emosi dalam pandangan matanya, dan Cakka bisa menangkap semua itu dengan jelas.


            “aku akan pulang…..”



***

Part 19


            Sebentuk kesadaran menyentak Via kemudian dari lamunan panjangnya saat mobil sport merah milik Cakka memasuki pelataran sebuah rumah mewah yang dulunya adalah rumahnya sendiri. Dari balik kaca jendela, Via menyapu tatapannya pada seluruh penjuru halaman rumah itu. Sudah 7 tahun berlalu, nyatanya tidak ada satupun dari bagian halaman rumah itu yang berubah, semuanya masih tetap sama dengan 7 tahun yang lalu.
            Dan kenangan-kenangan yang dulu pernah ia lewati bersama kedua orang tuanya dihalaman rumah itu seakan menyeret ingatannya kembali. Ditaman yang cukup luas itu, Via seakan melihat bayang-bayang dirinya yang tengah berlari-larian kecil karna dikejar oleh Papanya,  Via lalu naik kepengakuan Mamanya yang tengah duduk sambil merajut diayunan besi bercat putih itu, Via memeluk Mamanya seerat mungkin, berusaha mencari perlindungan agar tidak tertangkap oleh Papanya.
            Tanpa sadar kedua mata Via menghangat, dan Via sama sekali tidak bisa menahan saat laju Kristal-kristal bening itu mulai berjatuhan dan membasahi kedua pipi chubby nya. Ah… kenangan itu terlampau manis itu untuk bisa ia lupakan.

            “ayo, Vi!” ujar Cakka pelan. Via terkesiap, ia menyeka air matanya dan langsung menoleh kearah Cakka. Ia melempar tatapan ‘tidak siap’ nya dan berusaha mengirimkan sinyal-sinyal kegugupannya pada Cakka.
            Mengerti dengan segala rasa yang kini Via rasakan, Cakka lalu tersenyum lembut dan meraih salah sau tangan Via.

            “ada aku. Kamu gak perlu takut…”

            Entah kekuatan magis apa yang terkandung dalam ucapan Cakka itu, yang jelas Via merasakan sebuah perasaan tenang dan kuat beberapa saat setelah Cakka mengeluarkan kata-kata itu.
            Mereka keluar dari dalam mobil secara bersamaan. Dan saat kedua tangan Cakka membuka pintu utama rumah itu dan memperlihatkan seluruh bagian dalamnya, Via seakan limbung. Semua kenangan-kenangan itu kembali menyerang otaknya. Via menggenggam erat kedua jemari tangannya dan berusaha mengumpulkan segala kekuatannya yang masih tersisa.
            Mata Via tahu-tahu tertuju pada sebuah bingkai foto yang lumayan besar yang terdapat pada dinding sebelah tangga. Dalam foto itu, tampak gambar Via kecil yang sedang mengenakan gaun putih tengah duduk dipangkuan sang Mama yang juga mengenakan gaun putih. Dalam foto itu, tampak juga gambar Via kecil yang sedang mendekap boneka teddy bearnya yang kini sudah menghilang entah kemana. Sekali lagi, Kristal-kristal bening kembali berjatuhan tanpa henti. Ternyata selama 7 tahun terakhir ini, Papa nya tidak benar-benar ‘membuangnya’
            Via merasakan kuota udara yang ada disekitarnya seakan menipis. Tanpa ia inginkan, sesak itu malah menyerangnya dan semakin menciptakan rasa tidak berdaya. Tapi toh pada akhirnya, Via tetap menyeret langkahnya bersama Cakka disampingnya menaiki satu persatu anak tangga.
            Kali ini Cakka dan Via sudah berdiri didepan sebuah kamar berpintu dua. Dari  sudut matanya, Cakka bisa melihat dengan sangat jelas sosok Via yang saat itu tengah menunduk dalam, melihat Via yang begitu rapuh saat ini, ingin sekali rasanya Cakka menariknya kedalam pelukannya untuk menenangkan perasaannya dan mengurangi sedikit saja bebannya, tapi Cakka sadar, ia tidak akan bisa lakukan itu setelah ia tahu bahwa Via begitu membencinya. Cakka menghela napas panjangnya, berusaha melupakan keinginan konyolnya tadi. Cakka lalu menepuk pelan pundak Via lantas berkata,

            “kamu masuk sendiri ya, Vi?”

            Tidak terdengar jawaban apapun dari Via. Cakka hanya tersenyum kecil dan mundur secara perlahan meninggalkan Via sendiri.



***


            “gue tau lo udah tunangan sama Cakka, Shill…” ucap Gabriel pelan sebelum Shilla keluar dari dalam mobilnya. Shilla yang tadinya hendak keluar dari mobil milik Gabriel langsung membeku ditempat. Sebentuk perasaan takut tiba-tiba saja menghantam telak dadanya. Darimana Gabriel tahu tentang semua itu? Ya… itulah sekelumit pertanyaan yang timbul diotak Shilla.

            “ gue juga tau gimana sayangnya lo sama Cakka…”

            Shilla masih terdiam ditempatnya tanpa sedikitpun menoleh kearah Gabriel. Tapi didalam kediamannya itu, Shilla berusaha menyimak ucapan Gabriel dengan sebaik mungin.

            “dan gue juga sadar, kalo gue emang udah gak ada tempat lagi dihati lo. Tempat gue dihati lo udah bener-bener tergeser oleh Cakka. Tapi gue… gue gak bisa nyalahin lo, ini salah gue dimasa lalu yang udah nyakitin perasaan lo. Dan kalo lo mau tau… gue… gue sangat menyesal dengan semua itu, Ashilla….”

            Shilla menghela napas panjangnya, berusaha menahan laju air matanya yang sudah berdesakkan ingin keluar dipelupuk matanya.

            “mungkin ini salah satu alesan lo yang bikin lo tetep kekeuh buat gak ngasih gue kesempatan kedua, ya mungkin juga karna gue emang gak berhak buat dikasih kesempatan, tap—“

            Ucapan Gabriel langsung terpotong seketika saat Shilla tiba-tiba berbalik lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat dipipi kanannya. Shilla melakukannya agak lama dan membuat kedua mata Gabriel terbelalak maksimal. Kebingungan juga mulai melingkupi diri Gabriel, apa yang salah dengan semua ini?
            Beberapa detik kemudian, Shilla menjauhkan dirinya dari Gabriel, ia tersenyum lalu membiarkan air matanya lolos begitu saja.

            “gue udah mutusin pertunangan gue sama Cakka, Yel…”

            “a.. apa?”

            “Cakka gak cinta sama gue, dan gue juga gak bisa maksain hati dia buat bisa bales perasaan gue. Dan… apa gue boleh minta sesuatu sama lo, Yel?”

            “apapun itu!” sahut Gabriel dengan mantap dan yakin. Hatinya seakan menghangat saat tahu bahwa Shilla telah memutuskan hubungan pertunangannya dengan Cakka.


            “apa lo bisa mengajari gue untuk bisa menyayangi lo lagi? Seperti dulu…”





***


            Alvin merenung didalam kamarnya dengan boneka teddy bear milik Rea kecil dalam dekapannya. Tatapan Alvin seakan menerawang jauh, dan pikirannya kali ini benar-benar merembet kemana-mana. Perjanjiannya dengan Papinya, rasa cintanya pada Via, ucapan-ucapan sinis Via yang menghujam jantungnya, kesemua itu benar-benar membuat Alvin tidak tahu harus berbuat apa. Apa Alvin tidak seberarti itu hingga cintanya sama sekali tidak bisa terbalaskan?
            “mulai sekarang, mulai detik ini, anggep aja kalo kita berdua gak pernah saling kenal satu sama lain. Gue gak mau lagi kenal sama cowok pembohong kayak lo, ngerti lo?” ucapan Via itu kembali berpendar diotaknya. Dan rasanya, Alvin ingin berteriak sekeras mungkin. Ia ingin berteriak sekeras-kerasnya dan mengatakan bahwa semua ini sama sekali tidak adil baginya.
            Alvin lalu mengangkat boneka teddy bear yang ada dalam dekapannya. Alvin menatap boneka itu untuk beberapa lama lalu tersenyum miris.

            “apa sosok Aphin kecil sama sekali gak pernah terlintas dikepala lo, Vi? Apa benar begitu?” Alvin berucap lirih pada boneka itu seolah-olah ia tengah berhadapan dengan pemiliknya langsung.
            “apa gak ada sedikit pun tentang gue, tentang perasaan gue, tentang pengorbanan gue yang bermakna  dihati lo? apa dihati lo bener-bener gak ada tempet buat gue? Apa gak ada sedikit pun ruang dihati lo buat gue? Sedikiiittt aja apa gak ada sama sekali? Yang sedikit itu bahkan bisa buat gue bertahan disisi lo, Vi… tapi kalo bener-bener gak ada seperti ini terus gue harus gimana? Gue bisa apa??”
            Alvin lalu memeluk boneka itu seerat mungkin. Ia berusaha meredam tangisannya dan berusaha tetap kuat apapun yang terjadi kini. Ia tidak boleh lemah. Saat semua bayang-bayang Via mulai tertepiskan dari kepalanya, kini gantian perjanjiannya dengan Papinya yang menyeruak hingga menimbulkan sesak tak tertahankan didada.

            “saat kenaikan kelas nanti, Papi mau kamu pindah ke London. Dan Papi mau kamu tinggal di London sampai nanti kamu bisa menjadi seorang Dokter yang terkenal seperti almarhum Opa mu. Dan jika kamu menolak atau berusaha menghindar, Papi anggap kamu membatalkan niat mu mendonorkan ginjal mu pada Gadis bernama Via itu, paham?”

            Dan Alvin langsung menjerit sekeras-kerasnya saat tahu bahwa saat ini ia sudah tidak memiliki sedikitpun harapan. Ia telah mengorbankan segalanya, cita-citanya, impiannya, dan  separuh hidupnya hanya untuk seorang gadis yang bahkan menoleh kearahnya pun untuk sejenak tidak pernah ingin. Tapi Alvin sama sekali tidak menyesal dengan semua pengorbanan itu. Yang ia sesali sekarang hanyalah, ia tidak memiliki daya lagi untuk membantah setiap ucapan Papinya.

            Akan tetapi… mungkin pergi dari kehidupan Via adalah yang terbaik baginya juga untuk gadis itu. Bukankah selama ini Via memang tidak pernah menginginkan kehadirannya? Lalu kenapa Alvin masih harus bertahan disini?


            ‘mungkin gue memang harus pergi dari hidup lo….’






***


            Dada Via seakan terhantam saat melihat keadaan Papanya saat ini. Papa yang selama ini ia tahu adalah sosok yang kuat dan angkuh sekarang hanya bisa terbaring lemah diatas tempat tidurnya, dalam keadaan tidak sadarkan diri dan dengan beberapa alat medis yang menempel ditubuhnya sebagai penopang hidupnya untuk sementara ini. Via makin mendekat kearah Papanya. Dan perasaannya semakin tidak karuan saat mendapati beberapa foto masa kecilnya tergantung dengan rapi disetiap dinding kamar Papanya.
            Via lalu mengambil tempat disamping Papa nya. Tangan Via yang gemetar terangkat secara perlahan dan berusaha sekuat tenaga untuk meraih tangan ringkih itu. Dan saat tangan milik Papanya yang terasa hangat sudah berada dalam genggamannya, air mata itu malah turun mewakili jutaan rasa sesal didadanya, ini semua terjadi pasti karna  kekerasan kepalanya.

            “ma… maafin Andrea, Pa… Rea gak benci sama Papa… Rea Cuma marah.. Rea minta maaf dan Rea mau Papa bangun… Rea udah maafin Papa. Dan tolong jangan tinggalin Rea, Pa… cukup Mama yang ninggalin Rea, Papa gak usah… Rea tau, Rea banyak salah sama Papa, untuk itu bangun Pa, ijinin Rea menebus semua kesalahan Rea sama Papa… bangun Pa… bangun… hiks…”

            Via mengecup lembut tangan Papanya lalu menyimpannya didada. Beberapa saat kemudian Via bangkit lalu merebahkan kepalanya diatas dada Papanya. Dan jujur, selama 7 tahun terakhir ini, Via tidak pernah merasa senyaman dan seaman ini.

            “Andrea kangen sama Papa…. Kangeeeennn banget Pa….”

            Dan tanpa Via sadari, sepasang Ibu dan Anak sedang memperhatikannya dari pintu. Mereka berdua –Cakka dan Mamanya- merasa tergetar mendengar perkataan Via. Mereka berdua sama-sama tersenyum. Cakka lalu menoleh sejenak kearah Mama nya dan mendapati Mama nya yang saat itu tengah berusaha menyeka air matanya.

            “kenapa Mama nangis? Mama sedih?” Tanya Cakka seraya membantu Mamanya menyeka air matanya.

            Shanaz menggeleng, ia menyentuh wajah Cakka dengan lembut sambil tersenyum.

            “Mama nangis bukan karna sedih sayang… tapi Mama nangis karna bahagia, karna sebentar lagi Puteri Kecil Mama akan pulang…” ucap Shanaz dengan bersungguh-sungguh. Ya, meskipun Via bukanlah anak kandungnya, tapi Shanaz begitu menyayangi Via dan menganggap Via seperti Puteri kandungnya sendiri. Dan selama 7 tahun terakhir ini, Shanaz merasakan rindu yang sama seperti yang dirasakan oleh Cakka juga suaminya.

            Cakka tersenyum bangga lalu menghambur kedalam pelukan Mamanya.


            “terimakasih karna kamu sudah bawa Puteri Kecil Mama pulang, Nak…”






***


            Sejak hari itu, Via benar-benar pulang kerumahnya dan memulai cerita barunya disana. Dengan lapang dada, Via juga berusaha menerima kehadiran Shanaz yang begitu menyayanginya sebagai sosok Mama barunya. Saat ini, mungkin semuanya terasa sangat sulit bagi Via, tapi Via percaya, jika ia berusaha membiasakan diri dengan keadaannya sekarang ini, pasti secara berangsur-angusur ia akan seratus persen bisa menerima kenyataan ini.
            Dan Dyna begitu bahagia menerima perubahan Via saat ini. Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi Dyna selain melihat Via bisa memaafkan kesalahan Papa nya dan kembali pulang kesisi Papanya. Sejak awal Via memang seharusnya berada dalam pelukan Papanya. Dan memang sepantasnya lah Via mengecap bahagianya sendiri.

            Semenjak kehadiran Via kembali dirumah itu, keadaan Papa nya yang sebelumnya tidak menunjukan perubahan apapun sekarang berangsur membaik. Bahkan Papa nya sudah sadarkan diri  setelah selama hampir 2 minggu dalam keadaan koma. Dokter Emil mengatakan, bahwa kepulangan Via kerumah itu adalah sebuah keajaiban yang benar-benar luar biasa.

            “Andrea…” panggil Edgar pelan saat mereka sekeluarga tengah sarapan bersama pagi itu. Meskipun masih harus duduk dikursi roda untuk beberapa waktu, Edgar tetap terlihat sehat seperti sebelum ia mengalami serangan jantung, dan semua itu tentu saja karna kepulangan malaikat kecil yang sangat ia rindukan. Andrea.

            “hm…” sahut Via pelan.

            “terimakasih untuk semuanya, Nak…”

            Via menghela napas panjangnya setelah sebelumnya ia mengangkat wajahnya dan menatap Papa nya dengan seulas senyuman yang berusaha terlihat tulus.

            “terimakasih juga untuk segalanya, Pa…”

            Dan Edgar merasa sangat-sangat bahagia saat ia kembali mendengar Via memanggilnya dengan panggilan Papa. Dan tidak ada lagi hal yang lebih indah dalam hidupnya selain itu. Tangan kanan Edgar terangkat lalu secara perlahan mengusap lembut puncak kepala Via. Via hanya tersenyum sambil sesekali melemparkan tatapannya kearah Shanaz.
            Tanpa sengaja, ekor mata Via tiba-tiba menangkap sosok Cakka yang saat itu sedang menatapnya sambil tersenyum. Dan degh… debaran aneh itu kembali ia rasakan setelah cukup lama ia tidak merasakannya. Apa jangan-jangan rasa itu masih tertinggal? Tidak, Via pasti salah. Sudah jelas-jelas Cakka adalah Kakaknya, lalu bagaimana ia bisa menyimpan perasaan lebih pada Cakka? Dan Via sangat yakin, bahwa rasa sayang yang kini ia rasakan untuk Cakka hanyalah sebatas rasa sayang seorang adik terhadap Kakaknya, dan tidak akan pernah lebih dari itu.

            Sadar atau tidak sadar, saat ini dihati Via hanya terukir satu nama saja. Nama itu tidak lain dan tidak bukan adalah nama milik…. ALVIN.




***

            Kabar bahwa Edgar Adhirajasa yang telah menemukan kembali Puterinya yang menghilang selama 7 tahun lamanya berhembus kencang hingga sampai ditelinga Duta Aryadinata, Papi Alvin. Dan Pak Duta merasa terkejut saat tau bahwa Puteri Edgar Adhirajasa adalah Via, seorang Gadis pilihan Alvin, seorang Gadis yang begitu Alvin sayangi, seorang Gadis yang membuat Alvin rela melepaskan segalanya. Dan saat mengetahui itu, Pak Duta seketika goyah dengan perjanjiannya bersama Alvin yang selalu ia jadikan senjata untuk melumpuhkan Alvin.

            “Vin…” panggil Pak Duta sebelum Alvin menaiki ninja merahnya hendak kesekolah. Alvin menoleh dengan malas kearah Papinya.

            “apa Pi?” sahutnya.

            “kamu masih bisa membatalkan kepindahan kamu ke London. Dan jika kamu ingin tetap bersama Via, Papi tidak akan menghalangi kamu lagi”

            Alvin tersenyum sinis saat itu juga.

            “kenapa mendadak, Pi?”

            Pak Duta bungkam. Ia tidak tahu harus memberi jawaban apa pada Alvin.

            “apa karna sekarang Papi udah tau kalo Via adalah Puteri dari Edgar Adhirajasa, kolega bisnis sekaligus sahabat dekat Papi?”

            Edgar masih memilih diam.

            “tapi sayangnya tawaran Papi udah gak berlaku buat aku. Jika dulu Papi berkata seperti ini, mungkin ceritanya akan lain lagi. Tapi sekarang… aku bener-bener gak akan membatalkan kepergian aku ke London. TOH JUGA…. Gak ada seorang pun yang menginginkan kehadiran aku disini…”

            Ada luka yang tersirat pada kata-kata terakhir yang Alvin ucapkan. Dan entah kenapa, saat ia mengucapkan kata-kata terakhirnya, bayang-bayang Via tiba-tiba saja muncul dan dan seakan menari-nari dikepalanya. Dan perih itu kembali menyerangnya. Ya… Via memang tidak pernah mengharapkan kehadirannya, dan mungkin selamanya akan tetap seperti itu.

            “aku pamit, Pi… aku mau belajar serius supaya dapet nilai bagus di UKK nanti dan supaya aku bisa cepet-cepet berangkat ke London, SEPERTI APA YANG PAPI MAU!!”





***


            “gimana pertunangan kamu sama Shilla?” Tanya Via tiba-tiba saat Cakka baru saja memberhentikan mobilnya dilampu merah.
            Cakka menghela napasnya yang terdengar berat, lalu tanpa sedikitpun menoleh kearah Via, ia berkata,

            “Shilla sudah memutuskan pertunangan itu. Gak ada lagi ikatan pertuangan diantara kita”

            “Papa udah tau?”

            Kali ini Cakka hanya mengangguk.

            “terus responnya?”

            “untungnya Papa mau ngerti. Gak tau kenapa…” Cakka menggantungkan kalimatnya lalu menatap Via yang duduk disampingnya, “Papa jadi lebih pengertian semenjak kepulangan kamu ke rumah…”

            Via hanya terdiam tanpa mampu membalas ucapan Cakka. Via lalu membuang tatapannya kearah luar jendela mobil milik Cakka, dan disaat yang bersamaan, sebuah ninja merah yang begitu Via kenali berhenti tepat disamping mobil Cakka.
            Via sedikit menelan ludahnya saat cowok yang menunggangi ninja merah itu membuka kaca helm full face nya lalu menoleh kearah Via. Saat itu juga, sepasang mata mereka sama-sama saling bertubrukan satu sama lain, bahkan tanpa bisa mereka hindari.
            Dan Via bisa menangkap dengan sangat jelas, bahwa ada sebentuk luka yang tersirat  dari sorot mata Alvin. Luka itu sudah pasti disebabkan oleh Via, memangnya siapa lagi? Pergantian dari lampu merah ke lampu hijau langsung membuyarkan tatapan mereka. Lalu tanpa berkata apapun pada Via yang sudah jelas-jelas berada didepan matanya, Alvin kembali melajukan motornya dengan kecepatan maksimal. Memecah jalanan yang padat merayap dan meninggalkan setitik luka yang lambat laun akan semakin bertambah dihati yang amat rapuh itu.

            Ternyata Alvin sudah benar-benar melepaskannya.


            “kamu sendiri sama Alvin gimana??”

            Pertanyaan yang Cakka ajukan itu seakan menyentak lamunan Via. Via yang terkesiap langsung menoleh kearah Cakka dengan pandangan bertanya.

            “iya. Kamu sama Alvin gimana?”

            “aku sama Alvin?” Via menghela napas dan berusaha mengubur dalam-dalam perih itu.  “sepertinya Alvin udah bener-bener ngelepasin aku…” lanjut Via dengan seulas senyuman miris juga semilir luka yang menghiasi dinding hatinya.



            ‘kenapa rasanya harus semenyakitkan ini saat mendapati lo yang berbeda? Alvin…. Terus terang gue kangen sama lo….’








                                    BERSAMBUNG….

0 comments:

Post a Comment