Sebelumnya…
“Papa kena
serangan jantung! Gak ada yang dapat memastikan kapan Papa sadar. Dan Dokter
Emil meminta aku untuk membawa kamu pulang, Vi. Cuma kamu satu-satunya kekuatan
yang Papa miliki supaya ia tetap bertahan hidup… Cuma kamu, Vi… bukan aku,
bukan Mama ku, juga bukan yang lainnya…”
Via
langsung membeku ditempatnya. Mungkin selama ini ia berpikir bahwa pintu maaf
nya sudah benar-benar tertutup untuk Papanya, tapi entah kenapa, saat mendengar
berita bahwa Papa nya terkena serangan jantung, Via justru merasa cemas. Jauh
didalam sana hatinya seakan menangis. Dulu ia pernah kehilangan Mamanya,
sekarang masakah ia harus kehilangan orang tuanya untuk yang kedua kalinya??
Via
memejamkan matanya, berusaha mencari keputusan terbaik yang bisa segera mungkin
ia ambil. Via lalu menghela napas panjangnya dan meyakinkan hatinya bahwa
keputusan yang ambil kali ini bukanlah sebuah keputusan yang salah.
Via
lalu berbalik dan menatap Cakka. Kali ini, sudah tidak ada lagi emosi dalam
pandangan matanya, dan Cakka bisa menangkap semua itu dengan jelas.
“aku
akan pulang…..”
***
Part 19
Sebentuk kesadaran menyentak Via
kemudian dari lamunan panjangnya saat mobil sport merah milik Cakka memasuki
pelataran sebuah rumah mewah yang dulunya adalah rumahnya sendiri. Dari balik
kaca jendela, Via menyapu tatapannya pada seluruh penjuru halaman rumah itu.
Sudah 7 tahun berlalu, nyatanya tidak ada satupun dari bagian halaman rumah itu
yang berubah, semuanya masih tetap sama dengan 7 tahun yang lalu.
Dan kenangan-kenangan yang dulu
pernah ia lewati bersama kedua orang tuanya dihalaman rumah itu seakan menyeret
ingatannya kembali. Ditaman yang cukup luas itu, Via seakan melihat
bayang-bayang dirinya yang tengah berlari-larian kecil karna dikejar oleh Papanya,
Via lalu naik kepengakuan Mamanya yang
tengah duduk sambil merajut diayunan besi bercat putih itu, Via memeluk Mamanya
seerat mungkin, berusaha mencari perlindungan agar tidak tertangkap oleh
Papanya.
Tanpa sadar kedua mata Via
menghangat, dan Via sama sekali tidak bisa menahan saat laju Kristal-kristal
bening itu mulai berjatuhan dan membasahi kedua pipi chubby nya. Ah… kenangan
itu terlampau manis itu untuk bisa ia lupakan.
“ayo, Vi!” ujar Cakka pelan. Via
terkesiap, ia menyeka air matanya dan langsung menoleh kearah Cakka. Ia
melempar tatapan ‘tidak siap’ nya dan berusaha mengirimkan sinyal-sinyal
kegugupannya pada Cakka.
Mengerti dengan segala rasa yang
kini Via rasakan, Cakka lalu tersenyum lembut dan meraih salah sau tangan Via.
“ada aku. Kamu gak perlu takut…”
Entah kekuatan magis apa yang
terkandung dalam ucapan Cakka itu, yang jelas Via merasakan sebuah perasaan
tenang dan kuat beberapa saat setelah Cakka mengeluarkan kata-kata itu.
Mereka keluar dari dalam mobil
secara bersamaan. Dan saat kedua tangan Cakka membuka pintu utama rumah itu dan
memperlihatkan seluruh bagian dalamnya, Via seakan limbung. Semua
kenangan-kenangan itu kembali menyerang otaknya. Via menggenggam erat kedua
jemari tangannya dan berusaha mengumpulkan segala kekuatannya yang masih
tersisa.
Mata Via tahu-tahu tertuju pada
sebuah bingkai foto yang lumayan besar yang terdapat pada dinding sebelah
tangga. Dalam foto itu, tampak gambar Via kecil yang sedang mengenakan gaun
putih tengah duduk dipangkuan sang Mama yang juga mengenakan gaun putih. Dalam
foto itu, tampak juga gambar Via kecil yang sedang mendekap boneka teddy
bearnya yang kini sudah menghilang entah kemana. Sekali lagi, Kristal-kristal
bening kembali berjatuhan tanpa henti. Ternyata selama 7 tahun terakhir ini,
Papa nya tidak benar-benar ‘membuangnya’
Via merasakan kuota udara yang ada
disekitarnya seakan menipis. Tanpa ia inginkan, sesak itu malah menyerangnya
dan semakin menciptakan rasa tidak berdaya. Tapi toh pada akhirnya, Via tetap
menyeret langkahnya bersama Cakka disampingnya menaiki satu persatu anak
tangga.
Kali ini Cakka dan Via sudah berdiri
didepan sebuah kamar berpintu dua. Dari
sudut matanya, Cakka bisa melihat dengan sangat jelas sosok Via yang
saat itu tengah menunduk dalam, melihat Via yang begitu rapuh saat ini, ingin
sekali rasanya Cakka menariknya kedalam pelukannya untuk menenangkan
perasaannya dan mengurangi sedikit saja bebannya, tapi Cakka sadar, ia tidak
akan bisa lakukan itu setelah ia tahu bahwa Via begitu membencinya. Cakka
menghela napas panjangnya, berusaha melupakan keinginan konyolnya tadi. Cakka
lalu menepuk pelan pundak Via lantas berkata,
“kamu masuk sendiri ya, Vi?”
Tidak terdengar jawaban apapun dari
Via. Cakka hanya tersenyum kecil dan mundur secara perlahan meninggalkan Via
sendiri.
***
“gue tau lo udah tunangan sama
Cakka, Shill…” ucap Gabriel pelan sebelum Shilla keluar dari dalam mobilnya.
Shilla yang tadinya hendak keluar dari mobil milik Gabriel langsung membeku
ditempat. Sebentuk perasaan takut tiba-tiba saja menghantam telak dadanya. Darimana
Gabriel tahu tentang semua itu? Ya… itulah sekelumit pertanyaan yang timbul
diotak Shilla.
“ gue juga tau gimana sayangnya lo
sama Cakka…”
Shilla masih terdiam ditempatnya
tanpa sedikitpun menoleh kearah Gabriel. Tapi didalam kediamannya itu, Shilla
berusaha menyimak ucapan Gabriel dengan sebaik mungin.
“dan gue juga sadar, kalo gue emang
udah gak ada tempat lagi dihati lo. Tempat gue dihati lo udah bener-bener
tergeser oleh Cakka. Tapi gue… gue gak bisa nyalahin lo, ini salah gue dimasa
lalu yang udah nyakitin perasaan lo. Dan kalo lo mau tau… gue… gue sangat
menyesal dengan semua itu, Ashilla….”
Shilla menghela napas panjangnya,
berusaha menahan laju air matanya yang sudah berdesakkan ingin keluar dipelupuk
matanya.
“mungkin ini salah satu alesan lo
yang bikin lo tetep kekeuh buat gak ngasih gue kesempatan kedua, ya mungkin
juga karna gue emang gak berhak buat dikasih kesempatan, tap—“
Ucapan Gabriel langsung terpotong
seketika saat Shilla tiba-tiba berbalik lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat
dipipi kanannya. Shilla melakukannya agak lama dan membuat kedua mata Gabriel
terbelalak maksimal. Kebingungan juga mulai melingkupi diri Gabriel, apa yang
salah dengan semua ini?
Beberapa detik kemudian, Shilla
menjauhkan dirinya dari Gabriel, ia tersenyum lalu membiarkan air matanya lolos
begitu saja.
“gue udah mutusin pertunangan gue
sama Cakka, Yel…”
“a.. apa?”
“Cakka gak cinta sama gue, dan gue
juga gak bisa maksain hati dia buat bisa bales perasaan gue. Dan… apa gue boleh
minta sesuatu sama lo, Yel?”
“apapun itu!” sahut Gabriel dengan
mantap dan yakin. Hatinya seakan menghangat saat tahu bahwa Shilla telah
memutuskan hubungan pertunangannya dengan Cakka.
“apa lo bisa mengajari gue untuk
bisa menyayangi lo lagi? Seperti dulu…”
***
Alvin merenung didalam kamarnya
dengan boneka teddy bear milik Rea kecil dalam dekapannya. Tatapan Alvin seakan
menerawang jauh, dan pikirannya kali ini benar-benar merembet kemana-mana.
Perjanjiannya dengan Papinya, rasa cintanya pada Via, ucapan-ucapan sinis Via
yang menghujam jantungnya, kesemua itu benar-benar membuat Alvin tidak tahu
harus berbuat apa. Apa Alvin tidak seberarti itu hingga cintanya sama sekali
tidak bisa terbalaskan?
“mulai
sekarang, mulai detik ini, anggep aja kalo kita berdua gak pernah saling kenal
satu sama lain. Gue gak mau lagi kenal sama cowok pembohong kayak lo, ngerti
lo?” ucapan Via itu kembali berpendar diotaknya.
Dan rasanya, Alvin ingin berteriak sekeras mungkin. Ia ingin berteriak
sekeras-kerasnya dan mengatakan bahwa semua ini sama sekali tidak adil baginya.
Alvin
lalu mengangkat boneka teddy bear yang ada dalam dekapannya. Alvin menatap
boneka itu untuk beberapa lama lalu tersenyum miris.
“apa
sosok Aphin kecil sama sekali gak pernah terlintas dikepala lo, Vi? Apa benar
begitu?” Alvin berucap lirih pada boneka itu seolah-olah ia tengah berhadapan
dengan pemiliknya langsung.
“apa
gak ada sedikit pun tentang gue, tentang perasaan gue, tentang pengorbanan gue
yang bermakna dihati lo? apa dihati lo
bener-bener gak ada tempet buat gue? Apa gak ada sedikit pun ruang dihati lo
buat gue? Sedikiiittt aja apa gak ada sama sekali? Yang sedikit itu bahkan bisa
buat gue bertahan disisi lo, Vi… tapi kalo bener-bener gak ada seperti ini
terus gue harus gimana? Gue bisa apa??”
Alvin
lalu memeluk boneka itu seerat mungkin. Ia berusaha meredam tangisannya dan
berusaha tetap kuat apapun yang terjadi kini. Ia tidak boleh lemah. Saat semua
bayang-bayang Via mulai tertepiskan dari kepalanya, kini gantian perjanjiannya
dengan Papinya yang menyeruak hingga menimbulkan sesak tak tertahankan didada.
“saat
kenaikan kelas nanti, Papi mau kamu pindah ke London. Dan Papi mau kamu tinggal
di London sampai nanti kamu bisa menjadi seorang Dokter yang terkenal seperti
almarhum Opa mu. Dan jika kamu menolak atau berusaha menghindar, Papi anggap
kamu membatalkan niat mu mendonorkan ginjal mu pada Gadis bernama Via itu,
paham?”
Dan
Alvin langsung menjerit sekeras-kerasnya saat tahu bahwa saat ini ia sudah
tidak memiliki sedikitpun harapan. Ia telah mengorbankan segalanya,
cita-citanya, impiannya, dan separuh
hidupnya hanya untuk seorang gadis yang bahkan menoleh kearahnya pun untuk
sejenak tidak pernah ingin. Tapi Alvin sama sekali tidak menyesal dengan semua
pengorbanan itu. Yang ia sesali sekarang hanyalah, ia tidak memiliki daya lagi
untuk membantah setiap ucapan Papinya.
Akan
tetapi… mungkin pergi dari kehidupan Via adalah yang terbaik baginya juga untuk
gadis itu. Bukankah selama ini Via memang tidak pernah menginginkan
kehadirannya? Lalu kenapa Alvin masih harus bertahan disini?
‘mungkin gue memang harus pergi dari hidup
lo….’
***
Dada
Via seakan terhantam saat melihat keadaan Papanya saat ini. Papa yang selama
ini ia tahu adalah sosok yang kuat dan angkuh sekarang hanya bisa terbaring
lemah diatas tempat tidurnya, dalam keadaan tidak sadarkan diri dan dengan
beberapa alat medis yang menempel ditubuhnya sebagai penopang hidupnya untuk
sementara ini. Via makin mendekat kearah Papanya. Dan perasaannya semakin tidak
karuan saat mendapati beberapa foto masa kecilnya tergantung dengan rapi
disetiap dinding kamar Papanya.
Via
lalu mengambil tempat disamping Papa nya. Tangan Via yang gemetar terangkat
secara perlahan dan berusaha sekuat tenaga untuk meraih tangan ringkih itu. Dan
saat tangan milik Papanya yang terasa hangat sudah berada dalam genggamannya,
air mata itu malah turun mewakili jutaan rasa sesal didadanya, ini semua
terjadi pasti karna kekerasan kepalanya.
“ma…
maafin Andrea, Pa… Rea gak benci sama Papa… Rea Cuma marah.. Rea minta maaf dan
Rea mau Papa bangun… Rea udah maafin Papa. Dan tolong jangan tinggalin Rea, Pa…
cukup Mama yang ninggalin Rea, Papa gak usah… Rea tau, Rea banyak salah sama
Papa, untuk itu bangun Pa, ijinin Rea menebus semua kesalahan Rea sama Papa…
bangun Pa… bangun… hiks…”
Via
mengecup lembut tangan Papanya lalu menyimpannya didada. Beberapa saat kemudian
Via bangkit lalu merebahkan kepalanya diatas dada Papanya. Dan jujur, selama 7
tahun terakhir ini, Via tidak pernah merasa senyaman dan seaman ini.
“Andrea
kangen sama Papa…. Kangeeeennn banget Pa….”
Dan
tanpa Via sadari, sepasang Ibu dan Anak sedang memperhatikannya dari pintu.
Mereka berdua –Cakka dan Mamanya- merasa tergetar mendengar perkataan Via.
Mereka berdua sama-sama tersenyum. Cakka lalu menoleh sejenak kearah Mama nya
dan mendapati Mama nya yang saat itu tengah berusaha menyeka air matanya.
“kenapa
Mama nangis? Mama sedih?” Tanya Cakka seraya membantu Mamanya menyeka air
matanya.
Shanaz
menggeleng, ia menyentuh wajah Cakka dengan lembut sambil tersenyum.
“Mama
nangis bukan karna sedih sayang… tapi Mama nangis karna bahagia, karna sebentar
lagi Puteri Kecil Mama akan pulang…” ucap Shanaz dengan bersungguh-sungguh. Ya,
meskipun Via bukanlah anak kandungnya, tapi Shanaz begitu menyayangi Via dan
menganggap Via seperti Puteri kandungnya sendiri. Dan selama 7 tahun terakhir
ini, Shanaz merasakan rindu yang sama seperti yang dirasakan oleh Cakka juga
suaminya.
Cakka
tersenyum bangga lalu menghambur kedalam pelukan Mamanya.
“terimakasih
karna kamu sudah bawa Puteri Kecil Mama pulang, Nak…”
***
Sejak
hari itu, Via benar-benar pulang kerumahnya dan memulai cerita barunya disana.
Dengan lapang dada, Via juga berusaha menerima kehadiran Shanaz yang begitu
menyayanginya sebagai sosok Mama barunya. Saat ini, mungkin semuanya terasa
sangat sulit bagi Via, tapi Via percaya, jika ia berusaha membiasakan diri
dengan keadaannya sekarang ini, pasti secara berangsur-angusur ia akan seratus
persen bisa menerima kenyataan ini.
Dan
Dyna begitu bahagia menerima perubahan Via saat ini. Tidak ada yang lebih
membahagiakan bagi Dyna selain melihat Via bisa memaafkan kesalahan Papa nya
dan kembali pulang kesisi Papanya. Sejak awal Via memang seharusnya berada
dalam pelukan Papanya. Dan memang sepantasnya lah Via mengecap bahagianya
sendiri.
Semenjak
kehadiran Via kembali dirumah itu, keadaan Papa nya yang sebelumnya tidak
menunjukan perubahan apapun sekarang berangsur membaik. Bahkan Papa nya sudah
sadarkan diri setelah selama hampir 2
minggu dalam keadaan koma. Dokter Emil mengatakan, bahwa kepulangan Via kerumah
itu adalah sebuah keajaiban yang benar-benar luar biasa.
“Andrea…”
panggil Edgar pelan saat mereka sekeluarga tengah sarapan bersama pagi itu.
Meskipun masih harus duduk dikursi roda untuk beberapa waktu, Edgar tetap
terlihat sehat seperti sebelum ia mengalami serangan jantung, dan semua itu
tentu saja karna kepulangan malaikat kecil yang sangat ia rindukan. Andrea.
“hm…”
sahut Via pelan.
“terimakasih
untuk semuanya, Nak…”
Via
menghela napas panjangnya setelah sebelumnya ia mengangkat wajahnya dan menatap
Papa nya dengan seulas senyuman yang berusaha terlihat tulus.
“terimakasih
juga untuk segalanya, Pa…”
Dan
Edgar merasa sangat-sangat bahagia saat ia kembali mendengar Via memanggilnya
dengan panggilan Papa. Dan tidak ada lagi hal yang lebih indah dalam hidupnya
selain itu. Tangan kanan Edgar terangkat lalu secara perlahan mengusap lembut
puncak kepala Via. Via hanya tersenyum sambil sesekali melemparkan tatapannya
kearah Shanaz.
Tanpa
sengaja, ekor mata Via tiba-tiba menangkap sosok Cakka yang saat itu sedang
menatapnya sambil tersenyum. Dan degh… debaran aneh itu kembali ia rasakan
setelah cukup lama ia tidak merasakannya. Apa jangan-jangan rasa itu masih
tertinggal? Tidak, Via pasti salah. Sudah jelas-jelas Cakka adalah Kakaknya,
lalu bagaimana ia bisa menyimpan perasaan lebih pada Cakka? Dan Via sangat
yakin, bahwa rasa sayang yang kini ia rasakan untuk Cakka hanyalah sebatas rasa
sayang seorang adik terhadap Kakaknya, dan tidak akan pernah lebih dari itu.
Sadar
atau tidak sadar, saat ini dihati Via hanya terukir satu nama saja. Nama itu
tidak lain dan tidak bukan adalah nama milik…. ALVIN.
***
Kabar
bahwa Edgar Adhirajasa yang telah menemukan kembali Puterinya yang menghilang
selama 7 tahun lamanya berhembus kencang hingga sampai ditelinga Duta
Aryadinata, Papi Alvin. Dan Pak Duta merasa terkejut saat tau bahwa Puteri
Edgar Adhirajasa adalah Via, seorang Gadis pilihan Alvin, seorang Gadis yang
begitu Alvin sayangi, seorang Gadis yang membuat Alvin rela melepaskan
segalanya. Dan saat mengetahui itu, Pak Duta seketika goyah dengan
perjanjiannya bersama Alvin yang selalu ia jadikan senjata untuk melumpuhkan
Alvin.
“Vin…”
panggil Pak Duta sebelum Alvin menaiki ninja merahnya hendak kesekolah. Alvin
menoleh dengan malas kearah Papinya.
“apa
Pi?” sahutnya.
“kamu
masih bisa membatalkan kepindahan kamu ke London. Dan jika kamu ingin tetap
bersama Via, Papi tidak akan menghalangi kamu lagi”
Alvin
tersenyum sinis saat itu juga.
“kenapa
mendadak, Pi?”
Pak
Duta bungkam. Ia tidak tahu harus memberi jawaban apa pada Alvin.
“apa
karna sekarang Papi udah tau kalo Via adalah Puteri dari Edgar Adhirajasa,
kolega bisnis sekaligus sahabat dekat Papi?”
Edgar
masih memilih diam.
“tapi
sayangnya tawaran Papi udah gak berlaku buat aku. Jika dulu Papi berkata
seperti ini, mungkin ceritanya akan lain lagi. Tapi sekarang… aku bener-bener
gak akan membatalkan kepergian aku ke London. TOH JUGA…. Gak ada seorang pun
yang menginginkan kehadiran aku disini…”
Ada
luka yang tersirat pada kata-kata terakhir yang Alvin ucapkan. Dan entah
kenapa, saat ia mengucapkan kata-kata terakhirnya, bayang-bayang Via tiba-tiba
saja muncul dan dan seakan menari-nari dikepalanya. Dan perih itu kembali
menyerangnya. Ya… Via memang tidak pernah mengharapkan kehadirannya, dan
mungkin selamanya akan tetap seperti itu.
“aku
pamit, Pi… aku mau belajar serius supaya dapet nilai bagus di UKK nanti dan
supaya aku bisa cepet-cepet berangkat ke London, SEPERTI APA YANG PAPI MAU!!”
***
“gimana
pertunangan kamu sama Shilla?” Tanya Via tiba-tiba saat Cakka baru saja
memberhentikan mobilnya dilampu merah.
Cakka
menghela napasnya yang terdengar berat, lalu tanpa sedikitpun menoleh kearah
Via, ia berkata,
“Shilla
sudah memutuskan pertunangan itu. Gak ada lagi ikatan pertuangan diantara kita”
“Papa
udah tau?”
Kali
ini Cakka hanya mengangguk.
“terus
responnya?”
“untungnya
Papa mau ngerti. Gak tau kenapa…” Cakka menggantungkan kalimatnya lalu menatap
Via yang duduk disampingnya, “Papa jadi lebih pengertian semenjak kepulangan
kamu ke rumah…”
Via
hanya terdiam tanpa mampu membalas ucapan Cakka. Via lalu membuang tatapannya
kearah luar jendela mobil milik Cakka, dan disaat yang bersamaan, sebuah ninja
merah yang begitu Via kenali berhenti tepat disamping mobil Cakka.
Via
sedikit menelan ludahnya saat cowok yang menunggangi ninja merah itu membuka
kaca helm full face nya lalu menoleh kearah Via. Saat itu juga, sepasang mata
mereka sama-sama saling bertubrukan satu sama lain, bahkan tanpa bisa mereka
hindari.
Dan
Via bisa menangkap dengan sangat jelas, bahwa ada sebentuk luka yang tersirat dari sorot mata Alvin. Luka itu sudah pasti
disebabkan oleh Via, memangnya siapa lagi? Pergantian dari lampu merah ke lampu
hijau langsung membuyarkan tatapan mereka. Lalu tanpa berkata apapun pada Via
yang sudah jelas-jelas berada didepan matanya, Alvin kembali melajukan motornya
dengan kecepatan maksimal. Memecah jalanan yang padat merayap dan meninggalkan
setitik luka yang lambat laun akan semakin bertambah dihati yang amat rapuh
itu.
Ternyata
Alvin sudah benar-benar melepaskannya.
“kamu
sendiri sama Alvin gimana??”
Pertanyaan
yang Cakka ajukan itu seakan menyentak lamunan Via. Via yang terkesiap langsung
menoleh kearah Cakka dengan pandangan bertanya.
“iya.
Kamu sama Alvin gimana?”
“aku
sama Alvin?” Via menghela napas dan berusaha mengubur dalam-dalam perih
itu. “sepertinya Alvin udah bener-bener
ngelepasin aku…” lanjut Via dengan seulas senyuman miris juga semilir luka yang
menghiasi dinding hatinya.
‘kenapa
rasanya harus semenyakitkan ini saat mendapati lo yang berbeda? Alvin…. Terus
terang gue kangen sama lo….’
BERSAMBUNG….



0 comments:
Post a Comment