Via berjalan
mengendap-endap dikoridor sambil melihat kesekitar, sesekali juga Via menoleh
kebelakang dengan tatapan waspada. Pagi ini Via udah kayak artis yang sedang
berusaha menghindari kejaran para wartawan. Tapi bedanya Via bukan artis dan Via
juga nggak lagi ngehindarin kejaran para wartawan, tapi Via sedang berusaha
menghindari Alvin. Yaps, Alvin. Sejak Alvin nembak Via tadi malem, sejak itu
juga Via ngerasa nggak aman. Lebay sih kesannya, tapi ya memang itulah Via.
Tapi percuma juga sih Via usaha
mati-matian buat ngehindarin Alvin, ujung-ujungnya juga pasti bakalan ketemu
juga. Iyalah, mereka kan sekelas, dasar Via!
Saat tiba didepan pintu kelas X
Multimedia, Via berusaha mengintip kedalam. Kedua matanya memicing. Ia melihat
dengan seksama dan memastikan kalo Alvin nggak ada didalam kelas. Saat udah
yakin kalo Alvin nggak ada didalam kelas, Via langsung menarik nafas lega. Via
menegakkan tubuhnya lalu berusaha bersikap wajar, nggak lupa juga Via
menyunggingkan sebuah senyum diwajah imutnya. “aman…!” gumam Via pelan.
Tapi tiba-tiba saja seseorang menepuk
pelan pundak Via dari belakang, Via terkejut setengah mati,
“hey….” Sapa seorang cowok yang ternyata
adalah Alvin. Via yang tau betul bahwa suara itu adalah milik Alvin langsung
menepuk pelan keningnya. Sementara jantung Via udah meloncat-loncat heboh.
Dengan tampang bodoh Via menoleh pelan kearah
Alvin. Via berusaha sekeras mungkin supaya Alvin nggak ngeliat raut gugup yang
tergambar jelas dimukanya. Tapi sekeras apapun Via usaha, Alvin tetap bisa
menangkap dan melihat kegugupan Via dengan sangat jelas.
“gue tadi liat lo jalan dengan
mengendap-endap dikoridor. Udah kayak maling aja lo perasaan….” Sindir Alvin.
“heh… jaga ya tuh mulut!” semprot Via
sinis. Alvin tersenyum meledek, nggak lama Alvin malah mengusap pelan kepala Via
beberapa kali,
“hahaha… lucu juga ya lo…” kata Alvin
seolah-olah nggak pernah terjadi apa-apa diantara mereka. Ya… memang itu juga
yang Via harapkan. Tapi sentuhan Alvin tadi semakin membuat jantung Via
berdegub makin kencang dan tambah kencang.
Alvin berjalan santai melewati Via. Hufth…
Syukur deh Alvin nggak ngebahas soal yang semalam. Lagi-lagi Via mengelus
dadanya lega.
Sekitar beberapa detik kemudian, Via kembali
dikejutkan oleh Alvin saat Alvin kembali berbalik dan mendekatinya. Ini anak kenapa pake acara balik segala
sih? Gerutu Via dalam hati.
“soal semalem kapan lo mau jawab?” Tanya Alvin,
“apaan….?” Tanya Via balik pura-pura lupa.
Alvin semakin mendekati Via. Kedua mata Via langsung melotot,
“jangan macem-macem lo!” ancam Via seraya
mengangkat tinjunya. Tapi Alvin nggak peduli. Setelah jarak wajah mereka Cuma
beberapa centi, Alvin berbisik pelan ditelinga Via,
“lo masih ngeraguin kesungguhan gue…?”
Tanpa berfikir panjang lagi Via langsung
mendorong tubuh Alvin hingga menjauh darinya. Muka Via sudah benar-benar merah
kayak kepiting rebus. Via berfikir untuk pergi saja dari hadapan Alvin. Tapi
sial, Baru saja Via berbalik dan hendak melangkah pergi Alvin malah menarik
pergelangan tangannya dan menggenggamnya dengan erat. Jantung Via makin
dagdigdug nggak karuan.
“lepasin tangan gue…!” pinta Via setengah
membentak. Kesal, marah, gondok, gugup, dan segala rasa yang nggak Via ngerti
bercampur menjadi satu memenuhi ruang didadanya. Via nggak tau musti berbuat
apa lagi.
“nggak sebelum lo jawab pertanyaan gue….”
“lepasin nggak?” bentak Via lagi. Alvin
menggeleng lantas berkata,
“nggak” tegas Alvin yang tetap kekeuh pada
pendiriannya.
“mau lo apa sih sebenernya…?” Tanya Via
yang mulai bosan,
“sederhana. Cukup lo jawab pertanyaan gue
yang semalem”
“oh… pertanyaan itu?? Kalo lo fikir gue
akan nerima lo gitu aja lo salah besar, Alvin…”
“berarti masih ada kesempatan buat gue
kalo gue berjuang buat ngedapetin lo…?”
“udah deh! Asal lo tau ya, gue nggak sama
kayak cewek-cewek begok yang lo mainin selama ini, jadi kalo lo mau main-main,
jangan sama gue, karna gue nggak akan nerima lo” jawab Via dengan tegas.
“jadi lo fikir gue Cuma mau mainin lo…?”
“udah sewajarnya kan gue berfikir kayak
gitu?”
“tapi gue serius sama elo, Via!”
“OYA….? Terus gue musti langsung percaya
gitu sama lo? MIMPI LO…”
Genggaman tangan Alvin mulai melonggar.
Kesempatan itu Via gunakan untuk buru-buru menarik pergelangan tangannya dari
genggaman Alvin. Via pun berhasil. Sementara Alvin, dia Cuma diam tanpa berusaha
sedikitpun.
“gue bukan cewek goblok, Alvin… cukup Shilla
yang lo mainin, cukup Shilla yang ngelakuin kesalahan fatal karna udah percaya
sama cowok berengsek kayak lo, cukup Shilla yang ngerasain sakit karna
kebusukan elo, cukup Shilla yang kemakan sama rayuan gombal murahan lo itu…
paham lo…?”
Via pun akhirnya benar-benar pergi dari
hadapan Alvin. Baru sekitar 10 meter jarak antara Via dan Alvin, Via kembali mendengarkan
Alvin bersuara.
“gue nggak akan nyerah, Sivia, gue akan
buktiin, kalo gue bener-bener serius sama lo…”
Via menghentikan langkahnya tapi nggak
sedikitpun berbalik menatap Alvin. Via tersenyum meledek lalu melanjutkan
langkahnya yang sempat terhenti. Kalau boleh jujur, Via merasakan sebuah
penyesalan mulai merayapi hati kecilnya. Nggak bisa Via pungkiri, dirinya sudah
benar-benar jatuh hati pada Alvin, tapi Via juga nggak mau kalau perasaannya
pada Alvin itu akan mengantarkannya pada kesakitan.
Via memang mulai menyukai Alvin, tapi
nggak secepet itu Via percaya sama semua omongan Alvin. Semua tau Alvin itu
play boy. Dan sudah menjadi rahasia umum, kalau rayuan Alvin itu bisa bikin
cewek tergila-gila setengah mati pada Alvin.
****
Bel tanda masuk berbunyi. Seluruh siswa siswi
yang sedari tadi Nampak berjalan dengan santainya dikoridor langsung
berhamburan mencari kelas mereka masing-masing. Disaat semuanya tengah berlari-lari
karna takut telat, Via malah diam dan nggak bereaksi apa-apa. Seolah nggak
terjadi apa-apa, Via tetap duduk melamun
ditaman sekolah. Saat ini, Via benar-benar nggak peduli sama lingkungan sekitar.
Yang ada dibenaknya kini Cuma Alvin. Alvin yang dengan begitu gampangnya
merebut hati Via dalam waktu yang lumayan singkat.
Ucapan Alvin terus terngiang dipendengaran
Via. Via bukannya nggak berusaha buat ngusir semua itu, Via udah usaha tapi
nggak bisa. Ingatannya tentang semua perkataan Alvin nyatanya jauh lebih kuat dari
usaha yang Via lakukan.
Via tersentak kaget saat tiba-tiba sebuah
tangan menepuk pelan pundaknya. Dengan sepontan Via langsung menoleh
kebalakang, tanpa sadar mulutnya berucap,
“ALVIN!!”
Bukan Via, itu bukan Alvin, tapi Cakka.
Kedua alis Cakka langsung bertaut.Cakka Heran setengah mati kenapa Via bisa
nyangka kalo dirinya adalah Alvin.
“Sorry…” kata Via setelah menyadari bahwa
yang menepuk pundaknya adalah Cakka dan bukan Alvin.
“lo nggak denger kalo bel udah bunyi…?”
Tanya Cakka yang berusaha tetap terlihat tenang meskipun mungkin hatinya masih
bertanya-tanya tentang respon Via tadi.
“emang iya? Bel udah bunyi gitu…?” Tanya Via
dengan tampang begok. Cakka Cuma mengangguk.
“kok gue bisa nggak sadar gini ya…? Ya
udah kita masuk yuk!” ajak Via sembari berjalan mendahului Cakka.
“lo nggak apa-apa kan, Via…?” Tanya Cakka.
Via berbalik menatap Cakka, nggak lama ia menggeleng cepat lalu buru-buru
menjawab pertanyaan Cakka.
“gue nggak apa-apa kok, Kka…” jawab Via
sambil berusaha memasang senyum. Cakka yang masih dalam keadaan setengah
percaya setengah nggak atas jawaban Via, Cuma bisa mengangguk ragu.
****
Jam
pelajaran pertama dikelas Via hari ini adalah Kompetensi Kejuruan (KK). Semua
anak-anak kelas X Multimedia memasuki lab dengan tertib. Tapi ada yang
mengejutkan saat Via menyalakan komputernya. Pada layar monitor Via melihat
sebuah wallpaper yang bertuliskan ‘I LOVE YOU, VIA’ disertai dengan beberapa
foto Via ketika ia masih mengenakan seragam putih-biru.
Sontak
saja Via terkejut. Tanpa berfikir panjang lagi, Via tau kalo itu adalah
perbuatan Alvin. Via langsung memplototi Alvin yang duduk bersebrangan
dengannya. Sadar kalo Via lagi melihatnya, Alvin langsung mengeluarkan senyum
maut andalannya.
“WAAAAHHH….
SO SWEET!!” Teriak Agni yang sedari tadi berdiri dibelakang Via. Lagi-lagi Via
terkejut. Kalo Agni sudah melihat masalahnya pasti akan jadi heboh.
“apanya
yang so sweet…?” Tanya Ify dan Zahra kompak.
“kalian
liat deh semuanya, wallpaper computer Via bertuliskan I love you…!! Terus-terus,
ada foto-fotonya Via pas masih SMP lagi… Siapa ya yang ngegantiin wallpaper Via?
dia pasti secret admirernya Via, CIEEEEEE…..”
“CIEEEEEEE……”
Sahut seluruh anak-anak kelas X Multimedia dengan kompak. Via langsung menepuk
keningnya. Tampang Via sudah benar-benar kelihatan payah. Malu sekaligus kesal.
Nggak
cukup sampe disitu Via dipermalukan, lagi dan lagi Alvin berdiri seraya
berkata,
“gue
yang udah ngeganti wallpapernya Via….” Aku Alvin dengan sangat gantle didepan semuanya. Suasana lab
semakin heboh.
“CIEEEEE….
ADA YANG CINLOK NIH….” Teriak Rio diikuti oleh sorakan anak-anak yang lain.
Diantara
sorakan yang bergemuruh ternyata ada sebuah hati yang tersakiti. Cakka menatap
sinis kearah Via dan Alvin. Tapi disisi lain Cakka ngerasa ada yang salah
dengan semuanya.
“CUKUUUPPP!!”
Teriak Via sekencang-kencangnya. Seketika suasana langsung hening. Seluruh
perhatian kini tertuju pada Via.
“kalian
semua norak tau nggak…?” Via mengalihkan perhatiannya kearah Alvin, ia menatap
Alvin tajam lalu melanjutkan perkataannya “dan elo yang paling norak diantara
semuanya… GUE BENCI SAMA LO!!” lanjut Via dengan Nada yang lumayan sinis. Via
pun berlari keluar dari Lab. Sudah cukup Alvin mempermalukannya didepan
kawan-kawannya.
“Via…
tunggu!” ucap Alvin tertahan. Dan tepat saat Cakka akan bangkit dari kursinya
dan hendak mengejar Via keluar, Alvin malah mendahuluninya. Cakka pun
mengurungkan niatnya untuk mengejar Via.
Cakka
memukulkan tangannya diatas meja computer dengan kekesalan yang sudah mencapai
puncak klimaks. Tapi feeling Cakka benar-benar kuat bahwa ada sesuatu yang
nggak beres dibalik semua ini, dan Cakka bersumpah akan mencari tahu tentang
semua itu. Kalau sampai Cakka tau Alvin memiliki rencana busuk dibalik semua
ini, Cakka berjanji akan membuat perhitungan dengannya.
****
“ALVIN NYEBELIIIINNNNNN…..!!! GUE BENCI
SAMA LO ALVIIIINNNNN….” Teriak Via saat ia tiba diluar Lab. Via menjatuhkan
tubuh mungilnya disalah satu bangku panjang yang terdapat didepan Lab. ICT.
Untung saja waktu itu Lab.ICT lagi dalam keadaan kosong, coba kalo anak-anak
TKJ lagi praktik terus ngedenger suara teriakan Via yang lumayan kenceng itu,
nggak tau deh apa yang bakalan terjadi sama Via.
“Sivia….
Maafin gue” ucap Alvin yang tiba-tiba saja nongol disamping Via. Dengan cepat Via
menoleh kesamping, ia menatap Alvin dengan sebal.
“mau
lo apa sih sebenernya, Vin? Asal lo tau ya? Candaan lo ini nggak lucu! Garing
tau nggak?” omel Via.
“musti
berapa kali lagi sih gue bilang keelo kalo gue itu serius?”
“dan
musti berapa kali lagi sih gue bilang ke elo kalo gue nggak bakal percaya sama
lo, dan nggak akan pernah” ketus Via.
Alvin
mengusap wajahnya putus asa. Harus dengan cara apa lagi yang ia gunakan untuk
membuat Via percaya dengan kesungguhannya? Tapi mungkin ini ujian buat Alvin.
Bukankah sejak awal Alvin tau kalau Via ini bukan tipe cewek yang gampang
ditaklukan? Mungkin Alvin harus bisa lebih pelan-pelan lagi, dan mungkin kesabarannya
harus lebih ekstra lagi jika ingin misi nya diawal sukses. Misi untuk menemukan
kembali cintanya yang hilang. Shilla.
Alvin
berusaha menetralkan pikirannya yang saat ini sedang berada diambang kekacauan.
Sebisa mungkin Alvin juga berusaha mengatur emosinya yang sudah benar-benar berantakkan
sejak ia menemui Via ditempat ini.
Alvin
lalu menghela napas panjang dan menelan emosinya bulat-bulat.
“oke.
Gue nggak akan paksa-paksa lo lagi buat percaya sama gue. Gue udah nyatain
perasaan gue ke elo, dan selanjutnya terserah lo mau nanggepinnya kayak gimana.
Gue berusaha jujur sama diri gue juga elo, tapi kalo lo nggak bisa ngehargain
itu, gue juga nggak bisa nyalahin lo. Gue cukup tau diri, dan gue sadar kalo
kepercayaan lo ke gue sudah bener-bener luntur sejak gue nyelingkuhin Shilla…
gue pamit, Sivia….” Ungkap Alvin yang merasa sedikit putus asa, atau lebih
tepatnya pura-pura putus asa. Alvin lalu berbalik dan pergi meninggalkan Via
sendiri disana.
‘damn it!’ umpatnya dalam hati dengan
sejuta kekesalan yang mengirinya. Ternyata Via bukan hanya susah ditaklukkan,
tapi SANGAT SUSAH untuk bisa ditaklukkan.
Beberapa
saat setelah kepergian Alvin, Via merasakan seluruh tubuhnya seakan tidak
bertenaga lagi. Padahal jika dipikir-pikir lagi, Alvin hanya membutuhkan
jawaban singkat nan sederhana: YA atau TIDAK! Cuma itu. Dan jika Via benar-benar
gak memiliki perasaan apapun pada Alvin, harusnya Via bisa mengambil sikap
dengan tegas dan bisa menjawab tidak untuk Alvin. Tapi saat ini kenapa Via
justru merasa semuanya terlampau sulit? Kenapa sulit sekali untuk mengatakan
tidak pada Alvin juga pada hatinya?
Satu
pertanyaan akhirnya timbul dikepala Via; apa Via benar-benarjatuh cinta pada Alvin?
“gue
nggak mau jatuh cinta sama lo, gue nggak mau….” Isak Via sambil menutupi
wajahnya dengan kedua tangannya.
BERSAMBUNG….


0 comments:
Post a Comment