Saturday, March 15, 2014

0

Cinta Bikin Galau 6 -I Love You, Via-



Via berjalan mengendap-endap dikoridor sambil melihat kesekitar, sesekali juga Via menoleh kebelakang dengan tatapan waspada. Pagi ini Via udah kayak artis yang sedang berusaha menghindari kejaran para wartawan. Tapi bedanya Via bukan artis dan Via juga nggak lagi ngehindarin kejaran para wartawan, tapi Via sedang berusaha menghindari Alvin. Yaps, Alvin. Sejak Alvin nembak Via tadi malem, sejak itu juga Via ngerasa nggak aman. Lebay sih kesannya, tapi ya memang itulah Via.
      Tapi percuma juga sih Via usaha mati-matian buat ngehindarin Alvin, ujung-ujungnya juga pasti bakalan ketemu juga. Iyalah, mereka kan sekelas, dasar Via!
      Saat tiba didepan pintu kelas X Multimedia, Via berusaha mengintip kedalam. Kedua matanya memicing. Ia melihat dengan seksama dan memastikan kalo Alvin nggak ada didalam kelas. Saat udah yakin kalo Alvin nggak ada didalam kelas, Via langsung menarik nafas lega. Via menegakkan tubuhnya lalu berusaha bersikap wajar, nggak lupa juga Via menyunggingkan sebuah senyum diwajah imutnya. “aman…!” gumam Via pelan.
      Tapi tiba-tiba saja seseorang menepuk pelan pundak Via dari belakang, Via terkejut setengah mati,
      “hey….” Sapa seorang cowok yang ternyata adalah Alvin. Via yang tau betul bahwa suara itu adalah milik Alvin langsung menepuk pelan keningnya. Sementara jantung Via udah meloncat-loncat heboh.
      Dengan tampang bodoh Via menoleh pelan kearah Alvin. Via berusaha sekeras mungkin supaya Alvin nggak ngeliat raut gugup yang tergambar jelas dimukanya. Tapi sekeras apapun Via usaha, Alvin tetap bisa menangkap dan melihat kegugupan Via dengan sangat jelas.
      “gue tadi liat lo jalan dengan mengendap-endap dikoridor. Udah kayak maling aja lo perasaan….” Sindir Alvin.
      “heh… jaga ya tuh mulut!” semprot Via sinis. Alvin tersenyum meledek, nggak lama Alvin malah mengusap pelan kepala Via beberapa kali,
      “hahaha… lucu juga ya lo…” kata Alvin seolah-olah nggak pernah terjadi apa-apa diantara mereka. Ya… memang itu juga yang Via harapkan. Tapi sentuhan Alvin tadi semakin membuat jantung Via berdegub makin kencang dan tambah kencang.
      Alvin berjalan santai melewati Via. Hufth… Syukur deh Alvin nggak ngebahas soal yang semalam. Lagi-lagi Via mengelus dadanya lega.
      Sekitar beberapa detik kemudian, Via kembali dikejutkan oleh Alvin saat Alvin kembali berbalik dan mendekatinya. Ini anak kenapa pake acara balik segala sih? Gerutu Via dalam hati.
      “soal semalem kapan lo mau jawab?” Tanya Alvin,
      “apaan….?” Tanya Via balik pura-pura lupa. Alvin semakin mendekati Via. Kedua mata Via langsung melotot,
      “jangan macem-macem lo!” ancam Via seraya mengangkat tinjunya. Tapi Alvin nggak peduli. Setelah jarak wajah mereka Cuma beberapa centi, Alvin berbisik pelan ditelinga Via,
      “lo masih ngeraguin kesungguhan gue…?”
      Tanpa berfikir panjang lagi Via langsung mendorong tubuh Alvin hingga menjauh darinya. Muka Via sudah benar-benar merah kayak kepiting rebus. Via berfikir untuk pergi saja dari hadapan Alvin. Tapi sial, Baru saja Via berbalik dan hendak melangkah pergi Alvin malah menarik pergelangan tangannya dan menggenggamnya dengan erat. Jantung Via makin dagdigdug nggak karuan.
      “lepasin tangan gue…!” pinta Via setengah membentak. Kesal, marah, gondok, gugup, dan segala rasa yang nggak Via ngerti bercampur menjadi satu memenuhi ruang didadanya. Via nggak tau musti berbuat apa lagi.
      “nggak sebelum lo jawab pertanyaan gue….”
      “lepasin nggak?” bentak Via lagi. Alvin menggeleng lantas berkata,
      “nggak” tegas Alvin yang tetap kekeuh pada pendiriannya.
      “mau lo apa sih sebenernya…?” Tanya Via yang mulai bosan,
      “sederhana. Cukup lo jawab pertanyaan gue yang semalem”
      “oh… pertanyaan itu?? Kalo lo fikir gue akan nerima lo gitu aja lo salah besar, Alvin…”
      “berarti masih ada kesempatan buat gue kalo gue berjuang buat ngedapetin lo…?”
      “udah deh! Asal lo tau ya, gue nggak sama kayak cewek-cewek begok yang lo mainin selama ini, jadi kalo lo mau main-main, jangan sama gue, karna gue nggak akan nerima lo” jawab Via dengan tegas.
      “jadi lo fikir gue Cuma mau mainin lo…?”
      “udah sewajarnya kan gue berfikir kayak gitu?”
      “tapi gue serius sama elo, Via!”
      “OYA….? Terus gue musti langsung percaya gitu sama lo? MIMPI LO…”
      Genggaman tangan Alvin mulai melonggar. Kesempatan itu Via gunakan untuk buru-buru menarik pergelangan tangannya dari genggaman Alvin. Via pun berhasil. Sementara Alvin, dia Cuma diam tanpa berusaha sedikitpun.
      “gue bukan cewek goblok, Alvin… cukup Shilla yang lo mainin, cukup Shilla yang ngelakuin kesalahan fatal karna udah percaya sama cowok berengsek kayak lo, cukup Shilla yang ngerasain sakit karna kebusukan elo, cukup Shilla yang kemakan sama rayuan gombal murahan lo itu… paham lo…?”
      Via pun akhirnya benar-benar pergi dari hadapan Alvin. Baru sekitar 10 meter jarak antara Via dan Alvin, Via kembali mendengarkan Alvin bersuara.
      “gue nggak akan nyerah, Sivia, gue akan buktiin, kalo gue bener-bener serius sama lo…”
      Via menghentikan langkahnya tapi nggak sedikitpun berbalik menatap Alvin. Via tersenyum meledek lalu melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Kalau boleh jujur, Via merasakan sebuah penyesalan mulai merayapi hati kecilnya. Nggak bisa Via pungkiri, dirinya sudah benar-benar jatuh hati pada Alvin, tapi Via juga nggak mau kalau perasaannya pada Alvin itu akan mengantarkannya pada kesakitan.
      Via memang mulai menyukai Alvin, tapi nggak secepet itu Via percaya sama semua omongan Alvin. Semua tau Alvin itu play boy. Dan sudah menjadi rahasia umum, kalau rayuan Alvin itu bisa bikin cewek tergila-gila setengah mati pada Alvin.



****

   Bel tanda masuk berbunyi. Seluruh siswa siswi yang sedari tadi Nampak berjalan dengan santainya dikoridor langsung berhamburan mencari kelas mereka masing-masing. Disaat semuanya tengah berlari-lari karna takut telat, Via malah diam dan nggak bereaksi apa-apa. Seolah nggak terjadi apa-apa, Via  tetap duduk melamun ditaman sekolah. Saat ini, Via benar-benar nggak peduli sama lingkungan sekitar. Yang ada dibenaknya kini Cuma Alvin. Alvin yang dengan begitu gampangnya merebut hati Via dalam waktu yang lumayan singkat.
      Ucapan Alvin terus terngiang dipendengaran Via. Via bukannya nggak berusaha buat ngusir semua itu, Via udah usaha tapi nggak bisa. Ingatannya tentang semua perkataan Alvin nyatanya jauh lebih kuat dari usaha yang Via lakukan.
      Via tersentak kaget saat tiba-tiba sebuah tangan menepuk pelan pundaknya. Dengan sepontan Via langsung menoleh kebalakang, tanpa sadar mulutnya berucap,
      “ALVIN!!”
      Bukan Via, itu bukan Alvin, tapi Cakka. Kedua alis Cakka langsung bertaut.Cakka Heran setengah mati kenapa Via bisa nyangka kalo dirinya adalah Alvin.
      “Sorry…” kata Via setelah menyadari bahwa yang menepuk pundaknya adalah Cakka dan bukan Alvin.
      “lo nggak denger kalo bel udah bunyi…?” Tanya Cakka yang berusaha tetap terlihat tenang meskipun mungkin hatinya masih bertanya-tanya tentang respon Via tadi.
      “emang iya? Bel udah bunyi gitu…?” Tanya Via dengan tampang begok. Cakka Cuma mengangguk.
      “kok gue bisa nggak sadar gini ya…? Ya udah kita masuk yuk!” ajak Via sembari berjalan mendahului Cakka.
      “lo nggak apa-apa kan, Via…?” Tanya Cakka. Via berbalik menatap Cakka, nggak lama ia menggeleng cepat lalu buru-buru menjawab pertanyaan Cakka.
      “gue nggak apa-apa kok, Kka…” jawab Via sambil berusaha memasang senyum. Cakka yang masih dalam keadaan setengah percaya setengah nggak atas jawaban Via, Cuma bisa mengangguk ragu.


****

            Jam pelajaran pertama dikelas Via hari ini adalah Kompetensi Kejuruan (KK). Semua anak-anak kelas X Multimedia memasuki lab dengan tertib. Tapi ada yang mengejutkan saat Via menyalakan komputernya. Pada layar monitor Via melihat sebuah wallpaper yang bertuliskan ‘I LOVE YOU, VIA’ disertai dengan beberapa foto Via ketika ia masih mengenakan seragam putih-biru.
            Sontak saja Via terkejut. Tanpa berfikir panjang lagi, Via tau kalo itu adalah perbuatan Alvin. Via langsung memplototi Alvin yang duduk bersebrangan dengannya. Sadar kalo Via lagi melihatnya, Alvin langsung mengeluarkan senyum maut andalannya.
            “WAAAAHHH…. SO SWEET!!” Teriak Agni yang sedari tadi berdiri dibelakang Via. Lagi-lagi Via terkejut. Kalo Agni sudah melihat masalahnya pasti akan jadi heboh.
            “apanya yang so sweet…?” Tanya Ify dan Zahra kompak.
            “kalian liat deh semuanya, wallpaper computer Via bertuliskan I love you…!! Terus-terus, ada foto-fotonya Via pas masih SMP lagi… Siapa ya yang ngegantiin wallpaper Via? dia pasti secret admirernya Via, CIEEEEEE…..”
            “CIEEEEEEE……” Sahut seluruh anak-anak kelas X Multimedia dengan kompak. Via langsung menepuk keningnya. Tampang Via sudah benar-benar kelihatan payah.         Malu sekaligus kesal.
            Nggak cukup sampe disitu Via dipermalukan, lagi dan lagi Alvin berdiri seraya berkata,
            “gue yang udah ngeganti wallpapernya Via….” Aku Alvin dengan sangat gantle didepan semuanya. Suasana lab semakin heboh.
            “CIEEEEE…. ADA YANG CINLOK NIH….” Teriak Rio diikuti oleh sorakan anak-anak yang lain.
            Diantara sorakan yang bergemuruh ternyata ada sebuah hati yang tersakiti. Cakka menatap sinis kearah Via dan Alvin. Tapi disisi lain Cakka ngerasa ada yang salah dengan semuanya.
            “CUKUUUPPP!!” Teriak Via sekencang-kencangnya. Seketika suasana langsung hening. Seluruh perhatian kini tertuju pada Via.
            “kalian semua norak tau nggak…?” Via mengalihkan perhatiannya kearah Alvin, ia menatap Alvin tajam lalu melanjutkan perkataannya “dan elo yang paling norak diantara semuanya… GUE BENCI SAMA LO!!” lanjut Via dengan Nada yang lumayan sinis. Via pun berlari keluar dari Lab. Sudah cukup Alvin mempermalukannya didepan kawan-kawannya.
            “Via… tunggu!” ucap Alvin tertahan. Dan tepat saat Cakka akan bangkit dari kursinya dan hendak mengejar Via keluar, Alvin malah mendahuluninya. Cakka pun mengurungkan niatnya untuk mengejar Via.

            Cakka memukulkan tangannya diatas meja computer dengan kekesalan yang sudah mencapai puncak klimaks. Tapi feeling Cakka benar-benar kuat bahwa ada sesuatu yang nggak beres dibalik semua ini, dan Cakka bersumpah akan mencari tahu tentang semua itu. Kalau sampai Cakka tau Alvin memiliki rencana busuk dibalik semua ini, Cakka berjanji akan membuat perhitungan dengannya.


****

      “ALVIN NYEBELIIIINNNNNN…..!!! GUE BENCI SAMA LO ALVIIIINNNNN….” Teriak Via saat ia tiba diluar Lab. Via menjatuhkan tubuh mungilnya disalah satu bangku panjang yang terdapat didepan Lab. ICT. Untung saja waktu itu Lab.ICT lagi dalam keadaan kosong, coba kalo anak-anak TKJ lagi praktik terus ngedenger suara teriakan Via yang lumayan kenceng itu, nggak tau deh apa yang bakalan terjadi sama Via.
            “Sivia…. Maafin gue” ucap Alvin yang tiba-tiba saja nongol disamping Via. Dengan cepat Via menoleh kesamping, ia menatap Alvin dengan sebal.
            “mau lo apa sih sebenernya, Vin? Asal lo tau ya? Candaan lo ini nggak lucu! Garing tau nggak?” omel Via.
            “musti berapa kali lagi sih gue bilang keelo kalo gue itu serius?”
            “dan musti berapa kali lagi sih gue bilang ke elo kalo gue nggak bakal percaya sama lo, dan nggak akan pernah” ketus Via.
            Alvin mengusap wajahnya putus asa. Harus dengan cara apa lagi yang ia gunakan untuk membuat Via percaya dengan kesungguhannya? Tapi mungkin ini ujian buat Alvin. Bukankah sejak awal Alvin tau kalau Via ini bukan tipe cewek yang gampang ditaklukan? Mungkin Alvin harus bisa lebih pelan-pelan lagi, dan mungkin kesabarannya harus lebih ekstra lagi jika ingin misi nya diawal sukses. Misi untuk menemukan kembali cintanya yang hilang. Shilla.
            Alvin berusaha menetralkan pikirannya yang saat ini sedang berada diambang kekacauan. Sebisa mungkin Alvin juga berusaha mengatur emosinya yang sudah benar-benar berantakkan sejak ia menemui Via ditempat ini.
            Alvin lalu menghela napas panjang dan menelan emosinya bulat-bulat.
            “oke. Gue nggak akan paksa-paksa lo lagi buat percaya sama gue. Gue udah nyatain perasaan gue ke elo, dan selanjutnya terserah lo mau nanggepinnya kayak gimana. Gue berusaha jujur sama diri gue juga elo, tapi kalo lo nggak bisa ngehargain itu, gue juga nggak bisa nyalahin lo. Gue cukup tau diri, dan gue sadar kalo kepercayaan lo ke gue sudah bener-bener luntur sejak gue nyelingkuhin Shilla… gue pamit, Sivia….” Ungkap Alvin yang merasa sedikit putus asa, atau lebih tepatnya pura-pura putus asa. Alvin lalu berbalik dan pergi meninggalkan Via sendiri disana.

            ‘damn it!’ umpatnya dalam hati dengan sejuta kekesalan yang mengirinya. Ternyata Via bukan hanya susah ditaklukkan, tapi SANGAT SUSAH untuk bisa ditaklukkan.

            Beberapa saat setelah kepergian Alvin, Via merasakan seluruh tubuhnya seakan tidak bertenaga lagi. Padahal jika dipikir-pikir lagi, Alvin hanya membutuhkan jawaban singkat nan sederhana: YA atau TIDAK! Cuma itu. Dan jika Via benar-benar gak memiliki perasaan apapun pada Alvin, harusnya Via bisa mengambil sikap dengan tegas dan bisa menjawab tidak untuk Alvin. Tapi saat ini kenapa Via justru merasa semuanya terlampau sulit? Kenapa sulit sekali untuk mengatakan tidak pada Alvin juga pada hatinya?
            Satu pertanyaan akhirnya timbul dikepala Via; apa Via benar-benarjatuh cinta pada Alvin?

            “gue nggak mau jatuh cinta sama lo, gue nggak mau….” Isak Via sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.





                                    BERSAMBUNG….

0 comments:

Post a Comment