Sunday, March 16, 2014

0

Cinta Bikin Galau 7 –Perasaan Itu Ternyata Punya Nama… CINTA…-






Flashback ~


SMP Spendaji, 2009


            Alvin berlari mengejar langkah Via yang tidak jauh dari jaraknya sekarang. Saat cewek berambut panjang itu sudah dekat dengannya Alvin langsung menarik pergelangan tangannya dan menahannya.

            “Via!”

            “iii…. Lo apa-apaan sih? Ngagetin aja kerjaannya” protes Via keki sambil narik pergelangan tangannya dari genggaman Alvin. Via mengelus tangannya seraya menatap Alvin dengan tatapan benci.

            “sekarang lo jujur sama gue, beneran Shilla balikan lagi sama Riko?”

            “Kak Riko!” ralat Via. Alvin Cuma berdecak kesal dan menampakkan raut wajah masa bodoh. Dasar nggak sopan! Alvin ini nggak pernah diajarin apa buat manggil Kakak Kelas dengan panggilan Kakak?

            “terserahlah gue nggak peduli. Sekarang lo jawab aja pertanyaan gue!” Kata Alvin yang udah benar-benar nggak sabar lagi. Gossip kalau Shilla balikan lagi dengan mantannya yang nggak lain dan nggak bukan adalah Riko –kakak kelasnya- benar-benar membuat Alvin ngerasa nggak tenang akhir-akhiran ini.

            “kenapa lo nanya gue?”

            “ya karna lo sahabat deket Shilla”

            “kenapa gak Tanya Shilla langsung?!”

            Kali ini Alvin bungkam. Bener-bener nggak tau harus berkata apalagi. Yang namanya Via ini benar-benar susah diajak kerja sama. Via nggak tau aja, kalo Cuma dia harapan satu-satunya Alvin yang bisa ngebantu dia buat ngedeketin Shilla.
            Beberapa saat kemudian Via menghela napas panjang, ia menggelengkan kepalanya beberapa kali lantas berkata pada Alvin,

            “Alvin, dengerin gue ya! Kalo lo beneran sayang sama Shilla, beneran serius sama Shilla, harusnya lo usaha dong buat narik perhatian dia. Tunjukin kedia kalo lo bener-bener serius. Lha, kalo lo terus kayak gini, terus merhatiin dia secara diem-diem dari jauh, Shilla mana tau kalo lo punya perasaan ke dia”

            “emang menurut lo Shilla suka sama gue?”

            Via tersenyum penuh misteri dan membuat Alvin semakin merasa penasaran. Ya, Via memang tau tentang perasaan Shilla yang sesungguhnya terhadap Alvin. Via tau semuanya bahkan secara detail, hanya saja Via maunya Alvin usaha sendiri buat tau perasaan Shilla tanpa campur tangan yang lebih banyak dari Via. Via pasti akan bantu mereka, tapi tidak dengan sepenuhnya. Via hanya akan bekerja dengan secukupnya.

            “mendingan lo Tanya langsung ke Shilla deh… diam nggak akan membuat lo mendapatkan apapun! Okey?” ucap Via seraya menepuk pelan pundak Alvin. Beberapa saat kemudian, Via malah ngeloyor pergi meninggalkan Alvin sendirian.




Flashback off~




****



            “SIVIA AZIZAH! Errgghhh…. Kenapa sih susah banget buat sekedar ngerebut perhatian lo?? Ck…” desis Alvin frustasi seraya mengacak rambutnya sendiri.
            Saat ini Alvin sedang berada dalam kamarnya dan memikirkan cara apa lagi yang harus ia gunakan untuk membuat Via benar-benar takluk padanya dan jatuh kedalam pelukannya. Jujur aja, sekarang ini Alvin udah ngerasa kehabisan cara. Meskipun baru beberapa hari memulai aksinya, tapi Alvin cukup merasa kuwalahan menghadapi cewek galak super cerewet itu. 3 tahun bersahabat dengan Via selama duduk dibangku SMP nyatanya gak cukup mampu membantu Alvin untuk mengenal lebih dalam sosok seorang Sivia Azizah.
            Alvin duduk merenung dipinggir ranjangnya. Entah kenapa tiba-tiba saja ia mulai merasa, bahwa menarik hati Via ternyata jauh lebih sulit saat dulu ia berusaha mati-matian menarik hati Shilla. Jika dulu, ia bisa dengan begitu mudahnya mendapatkan Shilla, si cinta pertamanya, lalu kenapa sekarang ia harus merasa kesulitan untuk mendapatkan Via. Padahal kan tujuan Alvin hanya ingin mempermainkannya saja. Apa yang salah?
            Setelah cukup lama merenung, akhirnya sebuah ide brilian menyapa otak Alvin setelah ia mengingat ucapan Via padanya 2 tahun yang lalu, saat mereka masih menjadi sahabat dekat.

            “diam nggak akan membuat lo mendapatkan apapun!”

            Alvin tersenyum penuh kelicikan setelah mengingat itu. Duduk dan merenung dikamarnya seperti ini gak akan bisa membuatnya mendapatkan apapun. Ya, harus Alvin akui bahwa ucapan Via itu adalah benar adanya. Alvin lalu bangkit dari pinggir ranjangnya, ia memasang jaketnya lalu mengambil kunci motornya yang terletak diatas meja belajarnya.

            Ya… Alvin gak akan menyerah sampai disini! Dan dia gak akan diam saja sebelum ia mendapatkan apa yang dia mau.






***


            Gak berbeda jauh dengan apa yang Alvin lakukan dirumahnya, malam ini Via juga terlihat sedang duduk termenung disebuah ayunan yang terdapat dihalaman depan rumahnyanya. Via duduk sambil menatap jutaan bintang-bintang yang bertaburan diatas langit luas. Dulu, ketika SMP, ia  sering sekali melakukan hal yang sama bersama Alvin, Shilla, Deva dan Acha. Tapi semenjak Shilla pergi karna kekecewaannya terhadap Alvin, mereka nggak lagi melakukan hal itu secara bersama-sama. Mereka seakan memiliki dunia masing-masing. Dan terkadang Via merasa pedih saat mendapati kenyataan bahwa hubungannya yang dulu begitu dekat dengan Alvin berubah menjadi seperti ini.
            Jika boleh jujur, sebenarnya Via sangat merindukan masa-masa kebersamaan mereka dulu. Tapi keadaan yang ada sekarang membuat mereka tidak bisa lagi melewati kebersamaan itu.
            Via tahu-tahu merasakan ayunan yang sedang ia duduki sekarang ini bergoyang. Via yang terkesiap langsung menoleh kesamping dan mendapati Cakka yang saat itu sudah duduk manis didekatnya sambil membawa gitarnya.

            “hay, Via… boleh gabung kan?”

            Via menghela napas panjang. Ia menatap Cakka sejenak lalu berkata,

            “lo udah terlanjur duduk, telat kalo lo minta ijin sekarang” kata Via tanpa semangat lalu pura-pura manyun. Dan Cakka selalu merasa gemas sendiri jika melihat Via manyun seperti itu.

            “lo kenapa? Kok mukanya suntuk begitu?” Tanya Cakka beberapa saat setelah ia membenahi posisi duduknya. Via Cuma menggeleng pertanda tidak sedang terjadi apa-apa padanya. tapi Cakka sudah terlanjur mengetahui semuanya.

            “masih kepikiran soal di Lab tadi?” Tanya Cakka skeptic, namun ia juga tidak bisa menyembunyikan nada kesal dari suaranya.

            “Kka…” panggil Via pelan tanpa menggubris pertanyaan Cakka barusan.
            “hmm?” sahut Cakka.
            “menurut lo… Alvin punya rencana apa dibalik semua ini? Lo kan sahabatnya Alvin, jadi nggak menutup kemungkinan kalo lo nggak tau apa-apa tentang rencana Alvin”

            Cakka menghela napas berat. Justru itu dia permasalahannya sekarang, Cakka juga sedang dalam proses mencari tahu tentang rencana Alvin. Dan jika sudah begini, lalu apa yang harus dia katakan pada Via?

            “gue…. Gue –“

            Menangkap adanya keraguan dari nada bicara Cakka akhirnya membuat Via menarik kembali pertanyaannya tadi. Ya… gak mungkinlah Cakka membongkar kartu sahabatnya sendiri didepan Via. Itu mustahil!
            Via menggelengkan kepalanya beberapa kali sambil tersenyum tipis, ia lalu menoleh kearah Cakka.

            “lupakan pertanyaan gue tadi! Sekarang mending lo hibur gue deh” pinta Via berusaha terdengar baik-baik saja.

            “ha?” Cakka malah kaget.

            “iya hibur gue! Lo nyanyi ya buat gue sambil maen gitar. Gue pengen tau dinyanyiin sama lo”

            “ta –“

            “please…” potong Via dengan nada memelas sebelum Cakka menuntaskan ucapannya.

            Melihat wajah memelas Via, Cakka akhirnya luluh juga. Ia membenahi posisi duduknya, lalu mulai memetik gitarnya.

            “lo mau lagu apa?”

            “terserah lo”

            Cakka hanya mengangguk seraya terus memetik gitarnya. Beberapa saat kemudian, Cakka pun mulai lagunya.


“Tak pernah berhenti…. Mencari cinta
Selalu saja ada yang tak kamu suka
Terlalu jauh engkau melihat….
Coba rasakan yang ada disekitarmu

Sesungguhnya dia ada didekat mu
Tapi kau tak pernah menyadari itu
Dia selalu menunggumu untuk nyatakan cinta

Sesungguhnya dia adalah diriku
Lebih dari sekedar teman dekatmu
Berhentilah mencari karna kau telah menemukannya…”

            Cakka tiba-tiba berhenti bernyanyi saat Via secara tiba-tiba ikut bernyanyi dengannya. Cakka hanya terdiam sambil tetap memainkan gitarnya.


“dia mungkin bukan manusia sempurna
Tapi dia selalu ada untukmu…

Sesungguhnya dia ada didekatmu
Tapi kau tak pernah menyadari itu
Dia selalu menunggumu
Untuk nyatakan cinta
Sesungguhnya dia adalah diriku
Lebih dari sekedar teman dekatmu
Berhentilah mencari                     
Karna kau telah menemukannya…”

            Tepat saat Via menyelesaikan lagunya dan Cakka menyelesaikan permainan gitarnya, terdengar sebuah suara tepuk tangan dari belakang mereka. Cakka dan Via kontan menoleh kebelakang dan mendapati Alvin yang saat itu sedang bertepuk tangan sambil berjalan perlahan menghampiri mereka. Kedua alis Via saling bertaut, ngapain juga cowok ini dateng kerumahnya malem-malem begini?

            “ELO???!!” Pekik Via nyaris gak percaya dengan kedatangan Alvin.

            Seperti biasa, Alvin hanya menampakkan raut wajah tak berdosanya. Lalu dengan nggak tau malunya, Alvin duduk dan mengambil posisi ditengah-tengah antara Cakka dan Via. Saat itu juga, Cakka langsung membuang mukanya kearah lain.

            “waahh… bakalan ada yang nyaingin duet mautnya Anang-Syahrini nih…” goda Alvin sambil sesekali melirik kearah Cakka dan Via secara bergantian.

            “ngapain lo kerumah gue? Malem-malem begini lagi…” Tanya Via ketus.

            “wihiii… nyante dong, Vi… kok kayaknya lo anti gitu sih sama gue?”

            “EMANG!” Sahut Via malas seraya melipat kedua tangannya didepan dada lalu membuang mukanya kearah lain, hampir sama seperti apa yang Cakka lakukan.

            “gue Cuma perlu ngerasa nyelesein sesuatu sama lo. Emmm… soal tadi….” Ucap Alvin mendadak serius.

            “apa penolakan gue tadi kurang jelas?!” sinis Via tanpa sedikitpun melihat kearah Alvin.

            Baru saja Alvin akan membuka mulut dan hendak menjawab perkataan Via, ia langsung menyadari bahwa ada tokoh lain diantara mereka. Cakka.
            Alvin menarik napas panjang lalu melirik kearah Cakka.

            “Kka….” Panggil Alvin pelan. Cakka menoleh kearah Alvin tanpa menyahut.

            “gue boleh pinjem Via bentar nggak? Gue perlu ngomong berdua sama Via…”

            Cakka masih tetap dengan kebisuannya. Tapi tatapan matanya menunjukan penolakan yang teramat keras. Alvin yang mengerti dengan makna tatapan itu, langsung menepuk pelan pundak Cakka.

            “gue janji nggak akan macem-macem. Dan lo boleh ngehajar gue habis-habisan kalo sampe gue macem-macem sama Via, gue nggak akan ngelawan. Gue Cuma butuh waktu berdua sama Via. Okey?”

            Cakka menghela napas berat. Sepertinya ucapan Alvin kali ini bisa ia pegang. Cakka lalu bangkit dari ayunan itu dan bersiap-siap untuk pergi.

            “Cakka, Lo diem disini!!” ujar Via tegas dan malah membuat Cakka kebingungan harus mengikuti perkataan siapa.

            Alvin mendesah tidak kentara lalu menatap Via,

            “please Via, sebentar aja”

            Tidak terdengar jawaban apapun dari Via. Beberapa saat kemudian, Cakka memutuskan untuk benar-benar hengkang dari tempat itu. Tapi sebelum ia melangkah pergi, ia sempat pamit pada Via.

            “ya udah, Vi… gue mendingan masuk aja. Gue juga mau ketemu sama Mas Iel…”

            “ta –“ belum sempat Via mengeluarkan protes, Cakka malah sudah melangkah pergi. Tapi lagi-lagi Alvin memanggilnya.

            “Kka!”

            “apa lagi?” sahut Cakka malas lalu berbalik.

            “gue boleh pinjem gitar lo?”

            Cakka terdiam berpikir. Sebenarnya Alvin mau apa sih? Apa jangan-jangan dia mau menembak Via lagi seperti tadi? Cakka berdecak pelan dan akhirnya menyerahkan gitarnya dengan terpaksa pada Alvin. Alvin tersenyum senang seraya menggumamkan kata terimakasih. “thanks ya, Bro!” tanpa menjawab ucapan terimakasih Alvin, Cakka langsung memasuki rumah Via hendak menemui Gabriel.




***


            “Kok masuk, Kka…?!” Tanya Gabriel pada Cakka saat Cakka baru saja menjatuhkan dirinya di sofa yang sejak tadi Gabriel duduki.
            Cakka tidak menjawab pertanyaan yang Gabriel lemparkan padanya. Gabriel lalu melihat kearah jendela dan melihat Via yang saat itu tengah duduk berdua bersama Alvin. Tidak lama Gabriel lalu mengangguk paham seraya tersenyum penuh arti.

            “oh? Itu? Bukannya tambah bagus kalo lo ada saingan?” Gabriel mulai memanas-manasi.

            “ck… apaan sih lo, Mas…”

            “hahaha… ya udah ya udah… gak usah suntuk gitu dong”

            “oya, tadi katanya lo mau dibikinin desain baju. Ayo!” kata Cakka yang berusaha mengalihkan topic. Gabriel mengangguk lalu bangkit.

            “kita kerjain diatas!”

            Gabriel melangkah dengan diikuti oleh Cakka dibelakangnya.





***


            “duluuuu banget… sekitar 2 tahun yang lalu, ada yang pernah bilang ke gue, kalo diem nggak akan membuat gue mendapatkan apapun”

            Via sedikit terkejut. Dia sangat ingat kalau dulu dia pernah mengucapkan kata-kata itu pada Alvin, tapi yang Via gak abis pikir adalah, ternyata Alvin masih mengingat kata-katanya itu dengan jelas. Untuk sejenak Via terkesima.

            “dan lo tau?” kali ini Alvin menoleh kearah Via. Via hanya diam lalu buru-buru membuang tatapannya kearah lain. “kata-kata itu lah yang bikin gue ada disini sekarang. Disamping lo!”

            “bukan urusan gue” kata Via berusaha cuek. Tapi sebenarnya Via Cuma ingin menyembunyikan segala gejolak didadanya sekarang ini.

            “well…. Semua ini memang bukan urusan lo, tapi gue tetep akan berusaha ngeyakinin lo kalo gue, Alvin Jonathan, bener-bener serius sama lo”

            “lo gak perlu susah-susah ngeyakinin gue, karna gue –“

            “dan ini bukan urusan lo!” potong Alvin cepat yang sukses membungkam Via. “bukan urusan lo kalo gue tetep mau berjuang. Iya kan?” lanjutnya.

            “jelas ini ada urusannya sama gue. Lo jangan ngaco deh”

            “dan gue nggak peduli”

            “LO GILA!!” Cerca Via yang sudah benar-benar merasa muak. Via sudah berinisiatif untuk meninggalkan Alvin, tapi baru saja Via bangkit dari samping Alvin, Alvin malah menarik tangannya dengan keras hingga membuat Via kembali terduduk disampingnya.
            Alvin berusaha menahan Via dan mengunci segala pergerakkannya agar Via gak bisa kabur lagi darinya. Alvin lalu mendekatkan wajahnya dengan wajah Via hingga membuat Via gak bisa berkutik lagi ditempatnya.

            “ma… mau apa lo?” Tanya Via yang sudah benar-benar merasa gugup ketika Alvin menghentikan pergerakan wajahnya. Jarak wajah mereka kini hanya berjarak 3 cm saja. Baik Alvin maupun Via sama-sama bisa merasakan hangat desauan napas mereka yang menerpa wajah mereka masing-masing. Dan perasaan Via makin nggak karuan saat Alvin mengaluarkan senyuman maut andalannya. Sial! Kenapa baru sekarang Via sadar kalo cowok bermata sipit dan berwajah oriental ini ternyata begitu mempesona. Pantas saja Shilla cinta mati padanya, dan pantas saja dia menjadi incaran banyak cewek.

            “sedikit aja lo melangkah pergi, lo akan gue cium!” goda Alvin yang akibatnya langsung  menimbulkan rona merah dikedua pipi chubby Via. Via akhirnya nggak bisa berbuat apa-apa lagi bagitu Alvin melepaskan pergelangan tangannya dan kembali membuat jarak diantara mereka.
            Seperti tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka, Alvin kembali bersikap tenang lalu memetik gitar hasil palakannya dari Cakka beberapa saat yang lalu. Alvin memulai intro sebuah lagu yang begitu Via kenal. Dan lagu itu adalah lagu favorit Via! Bagaimana bisa Alvin masih mengingatnya?

            “gue mau nyanyi buat lo. Dengerin ya??”

            Via malah tak acuh lalu kembali membuang tatapannya kearah lain. Alvin hanya tersenyum dengan seringai iblis yang tergambar jelas diwajah tampannya. Alvin lalu mulai bernyanyi dan menyanyikan sebuah lagu yang ia tahu adalah lagu favorit Via sejak lama.



No one ever saw me like you do
All the things that I could add up too
I never knew just what a smile was worth
But your eyes say everything
Without a single word

'Cause there's somethin' in the way you look at me
It's as if my heart knows
You're the missing piece
You make me believe
That there's nothing in this world I can't be
I never know what you see
But there's somethin' in the way you look at me

If I could freeze a moment to my mind
It'll be the second that you touch your lips to mine
I'd like to stop the clock make time stands still
'Cause, baby, this is just the way
I always wanna feel

'Cause there's somethin' in the way you look at me
It's as if my heart knows
You're the missing piece
You make me believe
That there's nothing in this world I can't be
I never know what you see
But there's somethin' in the way you look at me

I don't know how or why
I feel different in your eyes
All I know is it happens every time

'Cause there's somethin' in the way you look at me
It's as if my heart knows
You're the missing piece
You make me believe
That there's nothing in this world I can't be
I never know what you see
But there's somethin' in the way you look at me

The way you look at me …”



            Suara Alvin begitu lembut dan  mampu menghipnotis Via dalam sebuah keterpanaan. Mungkin mereka tidak menyadarinya –begitu juga dengan Alvin- bahwa Alvin benar-benar menyanyikan lagu itu dari hatinya, terlepas dari niat awalnya yang ingin mempermainkan gadis yang ada dihadapannya. Dan tanpa bisa Alvin sadari, ia mulai larut dalam buaian lembut perasaan yang mengalir seperti air.
            Sadar akan keterpanaan Via beberapa saat setelah ia menyelesaikan lagu itu, Alvin meraih salah satu tangan Via. Dan anehnya, Via menerima begitu saja tangan Alvin yang meraih tangannya. Dan kini, bahkan tanpa mereka sendiri sadari, tangan mereka sudah saling bertaut satu sama lain, mengalirkan sebuah perasaan yang ternyata punya nama… CINTA.
            Perasaan-perasaan yang belum mampu mereka jelaskan dalam serangakain kata-kata itu justru menutup akal sehat mereka dan membuat mereka lupa akan ego masing-masing. Dan tanpa dikomando, wajah Alvin perlahan mendekati wajah Via yang justru tidak mendapatkan penolakan apapun dari Via. Ketika jarak diantara mereka nyaris terhapus, Via pun memejamkan matanya. Dan ia seakan melayang saat sesuatu yang lembab menyentuh bibirnya dengan lembut. Via membeku. Sesuatu seakan menariknya dari keterhanyunatannya dan mengembalikan seluruh akal sehatnya dalam beberapa detik. Via membuka kedua matanya lalu segera mendorong pelan dada Alvin hingga sedikit menjauh darinya.
            Napasnya terdengar tidak teratur. Bukan hanya Via yang terlihat kaget, tapi juga Alvin. Sungguh, ini semua diluar kuasa dan kehendaknya. Tidak pernah sekalipun terbersit dikepala Alvin untuk melakukan hal bodoh itu bahkan saat rencana licik untuk mempermainkan gadis ini timbul dikepalanya. Semuanya terjadi secara natural, mengikuti perintah hatinya dan seakan betarung keras melawan egonya.

            “semua ini bener-bener salah… lo dan gue, nggak seharusnya… nggak seharusnya –“ isak Via yang sudah tidak mampu lagi menahan bendungan air matanya. Sulit ia percaya bahwa baru saja ia melakukan first kiss nya dengan seorang cowok yang sudah mengkhinati sahabatnya. Lalu sekarang, apa bedanya Via dengan Alvin? Bukankah ia juga telah mengkhinati persahabatannya dengan Shilla? Bodoh!
            Via lalu bangkit dari sisi Alvin dan berlari memasuki rumahnya, meninggalkan Alvin sendirian dengan berjuta-juta perasaan bersalah yang menyerangnya secara mebabi buta. Alvin baru menyadari bahwa apa yang telah ia lakukan baru saja benar-benar salah. Benar apa yang Via katakan, mereka tidak seharusnya melakukan itu.


            “SHIT!!! Apa sih yang ada di otak lo, Vin…? Semua ini bener-bener gak beres”




“I don't know how or why I feel different in your eyes
All I know is it happens every time…”





                                    BERSAMBUNG…


0 comments:

Post a Comment