Flashback ~
SMP Spendaji, 2009
Alvin berlari mengejar langkah Via yang
tidak jauh dari jaraknya sekarang. Saat cewek berambut panjang itu sudah dekat
dengannya Alvin langsung menarik pergelangan tangannya dan menahannya.
“Via!”
“iii….
Lo apa-apaan sih? Ngagetin aja kerjaannya” protes Via keki sambil narik
pergelangan tangannya dari genggaman Alvin. Via mengelus tangannya seraya
menatap Alvin dengan tatapan benci.
“sekarang
lo jujur sama gue, beneran Shilla balikan lagi sama Riko?”
“Kak
Riko!” ralat Via. Alvin Cuma berdecak kesal dan menampakkan raut wajah masa
bodoh. Dasar nggak sopan! Alvin ini nggak pernah diajarin apa buat manggil
Kakak Kelas dengan panggilan Kakak?
“terserahlah
gue nggak peduli. Sekarang lo jawab aja pertanyaan gue!” Kata Alvin yang udah
benar-benar nggak sabar lagi. Gossip kalau Shilla balikan lagi dengan mantannya
yang nggak lain dan nggak bukan adalah Riko –kakak kelasnya- benar-benar
membuat Alvin ngerasa nggak tenang akhir-akhiran ini.
“kenapa
lo nanya gue?”
“ya
karna lo sahabat deket Shilla”
“kenapa
gak Tanya Shilla langsung?!”
Kali
ini Alvin bungkam. Bener-bener nggak tau harus berkata apalagi. Yang namanya
Via ini benar-benar susah diajak kerja sama. Via nggak tau aja, kalo Cuma dia
harapan satu-satunya Alvin yang bisa ngebantu dia buat ngedeketin Shilla.
Beberapa
saat kemudian Via menghela napas panjang, ia menggelengkan kepalanya beberapa
kali lantas berkata pada Alvin,
“Alvin,
dengerin gue ya! Kalo lo beneran sayang sama Shilla, beneran serius sama Shilla,
harusnya lo usaha dong buat narik perhatian dia. Tunjukin kedia kalo lo
bener-bener serius. Lha, kalo lo terus kayak gini, terus merhatiin dia secara
diem-diem dari jauh, Shilla mana tau kalo lo punya perasaan ke dia”
“emang
menurut lo Shilla suka sama gue?”
Via
tersenyum penuh misteri dan membuat Alvin semakin merasa penasaran. Ya, Via
memang tau tentang perasaan Shilla yang sesungguhnya terhadap Alvin. Via tau
semuanya bahkan secara detail, hanya saja Via maunya Alvin usaha sendiri buat
tau perasaan Shilla tanpa campur tangan yang lebih banyak dari Via. Via pasti
akan bantu mereka, tapi tidak dengan sepenuhnya. Via hanya akan bekerja dengan
secukupnya.
“mendingan
lo Tanya langsung ke Shilla deh… diam nggak akan membuat lo mendapatkan apapun!
Okey?” ucap Via seraya menepuk pelan pundak Alvin. Beberapa saat kemudian, Via
malah ngeloyor pergi meninggalkan Alvin sendirian.
Flashback off~
****
“SIVIA AZIZAH! Errgghhh…. Kenapa sih
susah banget buat sekedar ngerebut perhatian lo?? Ck…” desis Alvin frustasi
seraya mengacak rambutnya sendiri.
Saat ini Alvin sedang berada dalam
kamarnya dan memikirkan cara apa lagi yang harus ia gunakan untuk membuat Via
benar-benar takluk padanya dan jatuh kedalam pelukannya. Jujur aja, sekarang
ini Alvin udah ngerasa kehabisan cara. Meskipun baru beberapa hari memulai
aksinya, tapi Alvin cukup merasa kuwalahan menghadapi cewek galak super cerewet
itu. 3 tahun bersahabat dengan Via selama duduk dibangku SMP nyatanya gak cukup
mampu membantu Alvin untuk mengenal lebih dalam sosok seorang Sivia Azizah.
Alvin duduk merenung dipinggir
ranjangnya. Entah kenapa tiba-tiba saja ia mulai merasa, bahwa menarik hati Via
ternyata jauh lebih sulit saat dulu ia berusaha mati-matian menarik hati
Shilla. Jika dulu, ia bisa dengan begitu mudahnya mendapatkan Shilla, si cinta
pertamanya, lalu kenapa sekarang ia harus merasa kesulitan untuk mendapatkan
Via. Padahal kan tujuan Alvin hanya ingin mempermainkannya saja. Apa yang
salah?
Setelah cukup lama merenung,
akhirnya sebuah ide brilian menyapa otak Alvin setelah ia mengingat ucapan Via
padanya 2 tahun yang lalu, saat mereka masih menjadi sahabat dekat.
“diam nggak akan membuat lo mendapatkan
apapun!”
Alvin tersenyum penuh kelicikan
setelah mengingat itu. Duduk dan merenung dikamarnya seperti ini gak akan bisa
membuatnya mendapatkan apapun. Ya, harus Alvin akui bahwa ucapan Via itu adalah
benar adanya. Alvin lalu bangkit dari pinggir ranjangnya, ia memasang jaketnya
lalu mengambil kunci motornya yang terletak diatas meja belajarnya.
Ya… Alvin gak akan menyerah sampai
disini! Dan dia gak akan diam saja sebelum ia mendapatkan apa yang dia mau.
***
Gak berbeda jauh dengan apa yang
Alvin lakukan dirumahnya, malam ini Via juga terlihat sedang duduk termenung
disebuah ayunan yang terdapat dihalaman depan rumahnyanya. Via duduk sambil
menatap jutaan bintang-bintang yang bertaburan diatas langit luas. Dulu, ketika
SMP, ia sering sekali melakukan hal yang
sama bersama Alvin, Shilla, Deva dan Acha. Tapi semenjak Shilla pergi karna
kekecewaannya terhadap Alvin, mereka nggak lagi melakukan hal itu secara
bersama-sama. Mereka seakan memiliki dunia masing-masing. Dan terkadang Via
merasa pedih saat mendapati kenyataan bahwa hubungannya yang dulu begitu dekat
dengan Alvin berubah menjadi seperti ini.
Jika boleh jujur, sebenarnya Via
sangat merindukan masa-masa kebersamaan mereka dulu. Tapi keadaan yang ada
sekarang membuat mereka tidak bisa lagi melewati kebersamaan itu.
Via tahu-tahu merasakan ayunan yang
sedang ia duduki sekarang ini bergoyang. Via yang terkesiap langsung menoleh
kesamping dan mendapati Cakka yang saat itu sudah duduk manis didekatnya sambil
membawa gitarnya.
“hay, Via… boleh gabung kan?”
Via menghela napas panjang. Ia
menatap Cakka sejenak lalu berkata,
“lo udah terlanjur duduk, telat kalo
lo minta ijin sekarang” kata Via tanpa semangat lalu pura-pura manyun. Dan
Cakka selalu merasa gemas sendiri jika melihat Via manyun seperti itu.
“lo kenapa? Kok mukanya suntuk
begitu?” Tanya Cakka beberapa saat setelah ia membenahi posisi duduknya. Via
Cuma menggeleng pertanda tidak sedang terjadi apa-apa padanya. tapi Cakka sudah
terlanjur mengetahui semuanya.
“masih kepikiran soal di Lab tadi?”
Tanya Cakka skeptic, namun ia juga tidak bisa menyembunyikan nada kesal dari
suaranya.
“Kka…” panggil Via pelan tanpa
menggubris pertanyaan Cakka barusan.
“hmm?” sahut Cakka.
“menurut lo… Alvin punya rencana apa
dibalik semua ini? Lo kan sahabatnya Alvin, jadi nggak menutup kemungkinan kalo
lo nggak tau apa-apa tentang rencana Alvin”
Cakka menghela napas berat. Justru
itu dia permasalahannya sekarang, Cakka juga sedang dalam proses mencari tahu
tentang rencana Alvin. Dan jika sudah begini, lalu apa yang harus dia katakan
pada Via?
“gue…. Gue –“
Menangkap adanya keraguan dari nada
bicara Cakka akhirnya membuat Via menarik kembali pertanyaannya tadi. Ya… gak
mungkinlah Cakka membongkar kartu sahabatnya sendiri didepan Via. Itu mustahil!
Via menggelengkan kepalanya beberapa
kali sambil tersenyum tipis, ia lalu menoleh kearah Cakka.
“lupakan pertanyaan gue tadi!
Sekarang mending lo hibur gue deh” pinta Via berusaha terdengar baik-baik saja.
“ha?” Cakka malah kaget.
“iya hibur gue! Lo nyanyi ya buat
gue sambil maen gitar. Gue pengen tau dinyanyiin sama lo”
“ta –“
“please…” potong Via dengan nada
memelas sebelum Cakka menuntaskan ucapannya.
Melihat wajah memelas Via, Cakka
akhirnya luluh juga. Ia membenahi posisi duduknya, lalu mulai memetik gitarnya.
“lo mau lagu apa?”
“terserah lo”
Cakka hanya mengangguk seraya terus
memetik gitarnya. Beberapa saat kemudian, Cakka pun mulai lagunya.
“Tak pernah berhenti….
Mencari cinta
Selalu saja ada yang
tak kamu suka
Terlalu jauh engkau
melihat….
Coba rasakan yang ada
disekitarmu
Sesungguhnya dia ada
didekat mu
Tapi kau tak pernah
menyadari itu
Dia selalu menunggumu
untuk nyatakan cinta
Sesungguhnya dia adalah
diriku
Lebih dari sekedar
teman dekatmu
Berhentilah mencari
karna kau telah menemukannya…”
Cakka tiba-tiba berhenti bernyanyi
saat Via secara tiba-tiba ikut bernyanyi dengannya. Cakka hanya terdiam sambil
tetap memainkan gitarnya.
“dia mungkin
bukan manusia sempurna
Tapi dia
selalu ada untukmu…
Sesungguhnya dia ada
didekatmu
Tapi kau tak pernah
menyadari itu
Dia selalu menunggumu
Untuk nyatakan cinta
Sesungguhnya dia adalah
diriku
Lebih dari sekedar
teman dekatmu
Berhentilah mencari
Karna kau telah
menemukannya…”
Tepat saat Via menyelesaikan lagunya
dan Cakka menyelesaikan permainan gitarnya, terdengar sebuah suara tepuk tangan
dari belakang mereka. Cakka dan Via kontan menoleh kebelakang dan mendapati
Alvin yang saat itu sedang bertepuk tangan sambil berjalan perlahan menghampiri
mereka. Kedua alis Via saling bertaut, ngapain juga cowok ini dateng kerumahnya
malem-malem begini?
“ELO???!!” Pekik Via nyaris gak
percaya dengan kedatangan Alvin.
Seperti biasa, Alvin hanya
menampakkan raut wajah tak berdosanya. Lalu dengan nggak tau malunya, Alvin
duduk dan mengambil posisi ditengah-tengah antara Cakka dan Via. Saat itu juga,
Cakka langsung membuang mukanya kearah lain.
“waahh… bakalan ada yang nyaingin
duet mautnya Anang-Syahrini nih…” goda Alvin sambil sesekali melirik kearah
Cakka dan Via secara bergantian.
“ngapain lo kerumah gue? Malem-malem
begini lagi…” Tanya Via ketus.
“wihiii… nyante dong, Vi… kok
kayaknya lo anti gitu sih sama gue?”
“EMANG!” Sahut Via malas seraya
melipat kedua tangannya didepan dada lalu membuang mukanya kearah lain, hampir
sama seperti apa yang Cakka lakukan.
“gue Cuma perlu ngerasa nyelesein
sesuatu sama lo. Emmm… soal tadi….” Ucap Alvin mendadak serius.
“apa penolakan gue tadi kurang
jelas?!” sinis Via tanpa sedikitpun melihat kearah Alvin.
Baru saja Alvin akan membuka mulut
dan hendak menjawab perkataan Via, ia langsung menyadari bahwa ada tokoh lain
diantara mereka. Cakka.
Alvin menarik napas panjang lalu
melirik kearah Cakka.
“Kka….” Panggil Alvin pelan. Cakka
menoleh kearah Alvin tanpa menyahut.
“gue boleh pinjem Via bentar nggak?
Gue perlu ngomong berdua sama Via…”
Cakka masih tetap dengan
kebisuannya. Tapi tatapan matanya menunjukan penolakan yang teramat keras.
Alvin yang mengerti dengan makna tatapan itu, langsung menepuk pelan pundak
Cakka.
“gue janji nggak akan macem-macem.
Dan lo boleh ngehajar gue habis-habisan kalo sampe gue macem-macem sama Via,
gue nggak akan ngelawan. Gue Cuma butuh waktu berdua sama Via. Okey?”
Cakka menghela napas berat.
Sepertinya ucapan Alvin kali ini bisa ia pegang. Cakka lalu bangkit dari ayunan
itu dan bersiap-siap untuk pergi.
“Cakka, Lo diem disini!!” ujar Via
tegas dan malah membuat Cakka kebingungan harus mengikuti perkataan siapa.
Alvin mendesah tidak kentara lalu
menatap Via,
“please Via, sebentar aja”
Tidak terdengar jawaban apapun dari
Via. Beberapa saat kemudian, Cakka memutuskan untuk benar-benar hengkang dari
tempat itu. Tapi sebelum ia melangkah pergi, ia sempat pamit pada Via.
“ya udah, Vi… gue mendingan masuk
aja. Gue juga mau ketemu sama Mas Iel…”
“ta –“ belum sempat Via mengeluarkan
protes, Cakka malah sudah melangkah pergi. Tapi lagi-lagi Alvin memanggilnya.
“Kka!”
“apa lagi?” sahut Cakka malas lalu
berbalik.
“gue boleh pinjem gitar lo?”
Cakka terdiam berpikir. Sebenarnya
Alvin mau apa sih? Apa jangan-jangan dia mau menembak Via lagi seperti tadi?
Cakka berdecak pelan dan akhirnya menyerahkan gitarnya dengan terpaksa pada
Alvin. Alvin tersenyum senang seraya menggumamkan kata terimakasih. “thanks ya,
Bro!” tanpa menjawab ucapan terimakasih Alvin, Cakka langsung memasuki rumah
Via hendak menemui Gabriel.
***
“Kok masuk, Kka…?!” Tanya Gabriel
pada Cakka saat Cakka baru saja menjatuhkan dirinya di sofa yang sejak tadi
Gabriel duduki.
Cakka tidak menjawab pertanyaan yang
Gabriel lemparkan padanya. Gabriel lalu melihat kearah jendela dan melihat Via
yang saat itu tengah duduk berdua bersama Alvin. Tidak lama Gabriel lalu
mengangguk paham seraya tersenyum penuh arti.
“oh? Itu? Bukannya tambah bagus kalo
lo ada saingan?” Gabriel mulai memanas-manasi.
“ck… apaan sih lo, Mas…”
“hahaha… ya udah ya udah… gak usah
suntuk gitu dong”
“oya, tadi katanya lo mau dibikinin
desain baju. Ayo!” kata Cakka yang berusaha mengalihkan topic. Gabriel
mengangguk lalu bangkit.
“kita kerjain diatas!”
Gabriel melangkah dengan diikuti
oleh Cakka dibelakangnya.
***
“duluuuu banget… sekitar 2 tahun
yang lalu, ada yang pernah bilang ke gue, kalo diem nggak akan membuat gue
mendapatkan apapun”
Via sedikit terkejut. Dia sangat
ingat kalau dulu dia pernah mengucapkan kata-kata itu pada Alvin, tapi yang Via
gak abis pikir adalah, ternyata Alvin masih mengingat kata-katanya itu dengan
jelas. Untuk sejenak Via terkesima.
“dan lo tau?” kali ini Alvin menoleh
kearah Via. Via hanya diam lalu buru-buru membuang tatapannya kearah lain.
“kata-kata itu lah yang bikin gue ada disini sekarang. Disamping lo!”
“bukan urusan gue” kata Via berusaha
cuek. Tapi sebenarnya Via Cuma ingin menyembunyikan segala gejolak didadanya
sekarang ini.
“well…. Semua ini memang bukan
urusan lo, tapi gue tetep akan berusaha ngeyakinin lo kalo gue, Alvin Jonathan,
bener-bener serius sama lo”
“lo gak perlu susah-susah ngeyakinin
gue, karna gue –“
“dan ini bukan urusan lo!” potong
Alvin cepat yang sukses membungkam Via. “bukan urusan lo kalo gue tetep mau
berjuang. Iya kan?” lanjutnya.
“jelas ini ada urusannya sama gue.
Lo jangan ngaco deh”
“dan gue nggak peduli”
“LO GILA!!” Cerca Via yang sudah
benar-benar merasa muak. Via sudah berinisiatif untuk meninggalkan Alvin, tapi
baru saja Via bangkit dari samping Alvin, Alvin malah menarik tangannya dengan
keras hingga membuat Via kembali terduduk disampingnya.
Alvin berusaha menahan Via dan
mengunci segala pergerakkannya agar Via gak bisa kabur lagi darinya. Alvin lalu
mendekatkan wajahnya dengan wajah Via hingga membuat Via gak bisa berkutik lagi
ditempatnya.
“ma… mau apa lo?” Tanya Via yang
sudah benar-benar merasa gugup ketika Alvin menghentikan pergerakan wajahnya.
Jarak wajah mereka kini hanya berjarak 3 cm saja. Baik Alvin maupun Via
sama-sama bisa merasakan hangat desauan napas mereka yang menerpa wajah mereka
masing-masing. Dan perasaan Via makin nggak karuan saat Alvin mengaluarkan
senyuman maut andalannya. Sial! Kenapa baru sekarang Via sadar kalo cowok
bermata sipit dan berwajah oriental ini ternyata begitu mempesona. Pantas saja
Shilla cinta mati padanya, dan pantas saja dia menjadi incaran banyak cewek.
“sedikit aja lo melangkah pergi, lo
akan gue cium!” goda Alvin yang akibatnya langsung menimbulkan rona merah dikedua pipi chubby
Via. Via akhirnya nggak bisa berbuat apa-apa lagi bagitu Alvin melepaskan
pergelangan tangannya dan kembali membuat jarak diantara mereka.
Seperti tidak pernah terjadi apa-apa
diantara mereka, Alvin kembali bersikap tenang lalu memetik gitar hasil
palakannya dari Cakka beberapa saat yang lalu. Alvin memulai intro sebuah lagu
yang begitu Via kenal. Dan lagu itu adalah lagu favorit Via! Bagaimana bisa
Alvin masih mengingatnya?
“gue mau nyanyi buat lo. Dengerin
ya??”
Via malah tak acuh lalu kembali
membuang tatapannya kearah lain. Alvin hanya tersenyum dengan seringai iblis
yang tergambar jelas diwajah tampannya. Alvin lalu mulai bernyanyi dan
menyanyikan sebuah lagu yang ia tahu adalah lagu favorit Via sejak lama.
“No one ever saw me like you do
All the things that I could add up too
I never knew just what a smile was worth
But your eyes say everything
Without a single word
'Cause there's somethin' in the way you look at me
It's as if my heart knows
You're the missing piece
You make me believe
That there's nothing in this world I can't be
I never know what you see
But there's somethin' in the way you look at me
If I could freeze a moment to my mind
It'll be the second that you touch your lips to mine
I'd like to stop the clock make time stands still
'Cause, baby, this is just the way
I always wanna feel
'Cause there's somethin' in the way you look at me
It's as if my heart knows
You're the missing piece
You make me believe
That there's nothing in this world I can't be
I never know what you see
But there's somethin' in the way you look at me
I don't know how or why
I feel different in your eyes
All I know is it happens every time
'Cause there's somethin' in the way you look at me
It's as if my heart knows
You're the missing piece
You make me believe
That there's nothing in this world I can't be
I never know what you see
But there's somethin' in the way you look at me
The way you look at me …”
All the things that I could add up too
I never knew just what a smile was worth
But your eyes say everything
Without a single word
'Cause there's somethin' in the way you look at me
It's as if my heart knows
You're the missing piece
You make me believe
That there's nothing in this world I can't be
I never know what you see
But there's somethin' in the way you look at me
If I could freeze a moment to my mind
It'll be the second that you touch your lips to mine
I'd like to stop the clock make time stands still
'Cause, baby, this is just the way
I always wanna feel
'Cause there's somethin' in the way you look at me
It's as if my heart knows
You're the missing piece
You make me believe
That there's nothing in this world I can't be
I never know what you see
But there's somethin' in the way you look at me
I don't know how or why
I feel different in your eyes
All I know is it happens every time
'Cause there's somethin' in the way you look at me
It's as if my heart knows
You're the missing piece
You make me believe
That there's nothing in this world I can't be
I never know what you see
But there's somethin' in the way you look at me
The way you look at me …”
Suara Alvin begitu lembut dan mampu menghipnotis Via dalam sebuah
keterpanaan. Mungkin mereka tidak menyadarinya –begitu juga dengan Alvin- bahwa
Alvin benar-benar menyanyikan lagu itu dari hatinya, terlepas dari niat awalnya
yang ingin mempermainkan gadis yang ada dihadapannya. Dan tanpa bisa Alvin
sadari, ia mulai larut dalam buaian lembut perasaan yang mengalir seperti air.
Sadar akan keterpanaan Via beberapa
saat setelah ia menyelesaikan lagu itu, Alvin meraih salah satu tangan Via. Dan
anehnya, Via menerima begitu saja tangan Alvin yang meraih tangannya. Dan kini,
bahkan tanpa mereka sendiri sadari, tangan mereka sudah saling bertaut satu
sama lain, mengalirkan sebuah perasaan yang ternyata punya nama… CINTA.
Perasaan-perasaan yang belum mampu
mereka jelaskan dalam serangakain kata-kata itu justru menutup akal sehat
mereka dan membuat mereka lupa akan ego masing-masing. Dan tanpa dikomando,
wajah Alvin perlahan mendekati wajah Via yang justru tidak mendapatkan
penolakan apapun dari Via. Ketika jarak diantara mereka nyaris terhapus, Via
pun memejamkan matanya. Dan ia seakan melayang saat sesuatu yang lembab
menyentuh bibirnya dengan lembut. Via membeku. Sesuatu seakan menariknya dari keterhanyunatannya
dan mengembalikan seluruh akal sehatnya dalam beberapa detik. Via membuka kedua
matanya lalu segera mendorong pelan dada Alvin hingga sedikit menjauh darinya.
Napasnya terdengar tidak teratur.
Bukan hanya Via yang terlihat kaget, tapi juga Alvin. Sungguh, ini semua diluar
kuasa dan kehendaknya. Tidak pernah sekalipun terbersit dikepala Alvin untuk
melakukan hal bodoh itu bahkan saat rencana licik untuk mempermainkan gadis ini
timbul dikepalanya. Semuanya terjadi secara natural, mengikuti perintah hatinya
dan seakan betarung keras melawan egonya.
“semua ini bener-bener salah… lo dan
gue, nggak seharusnya… nggak seharusnya –“ isak Via yang sudah tidak mampu lagi
menahan bendungan air matanya. Sulit ia percaya bahwa baru saja ia melakukan first kiss nya dengan seorang cowok yang
sudah mengkhinati sahabatnya. Lalu sekarang, apa bedanya Via dengan Alvin?
Bukankah ia juga telah mengkhinati persahabatannya dengan Shilla? Bodoh!
Via lalu bangkit dari sisi Alvin dan
berlari memasuki rumahnya, meninggalkan Alvin sendirian dengan berjuta-juta
perasaan bersalah yang menyerangnya secara mebabi buta. Alvin baru menyadari
bahwa apa yang telah ia lakukan baru saja benar-benar salah. Benar apa yang Via
katakan, mereka tidak seharusnya melakukan itu.
“SHIT!!! Apa sih yang ada di otak
lo, Vin…? Semua ini bener-bener gak beres”
“I don't know how or why I feel different in your eyes
All I know is it happens every time…”
BERSAMBUNG…


0 comments:
Post a Comment