Sebelumnya…
Sejak
30 menit yang lalu kedua mata Alvin tidak juga teralihkan dari layar monitor
laptop yang ada dihadapannya saat ini. Sedikitpun Alvin merasa tidak bosan
menatap keindahan ‘objek mengagumkan’ yang tadi tertangkap oleh mata lensanya
secara tidak sengaja itu. Sesekali Alvin tersenyum, Gadis itu benar-benar
sangat cantik dengan rambut sebahunya, kulit putih mulusnya, bibir tipisnya
yang merah alami tanpa olesan lipstick, juga pipi chubbynya yang menggemaskan,
semuanya benar-benar mempesona bagi Alvin. Kalau saja tadi ia tidak kehilangan
jejak Gadis itu, mungkin Alvin bisa mengajaknya berkenalan.
Merasa sedikit pegal karna terlalu
lama duduk, Alvin pun merentangkan kedua tangannya keatas sembari menggeliat,
Alvin menguap dan kedua matanya mulai terasa berat. Jam didinding kamarnya
sudah menunjukan pukul 00.05 WIB, benar-benar tidak terasa. Alvin lalu
mematikan laptopnya, dan tepat saat ia menutup laptopnya, tiba-tiba saja
perhatiannya tertuju pada Boneka Tedy Bear Cokelat yang terpajang diatas meja
belajarnya. Boneka Tedy Bear itupun kembali mengingatkan Alvin pada seseorang
dimasa lalunya. Ia adalah cinta pertama Alvin yang sampai saat ini masih ia
tunggu. Alvin mendesah pelan lalu meraih boneka itu, untuk beberapa saat Alvin
menatap boneka itu, Alvin tersenyum kecil. Entah kenapa ia merasa bahwa
penantiannya sebentar lagi akan berakhir.
“Andrea…. Gue masih nungguin lo
disini…”
***
Part
3
Sekeras-kerasnya
kau mempertahankan hati untuk tidak jatuh pada seseorang, pasti akhirnya akan
terjatuh juga…
Akan
ada saatnya nanti dimana kau akan jatuh cinta, merasakan dimana hari-harimu
bahagia saat berada disampingnya, dan merasakan bagaimana hari-harimu hampa
tanpa ada dia disampingmu… saat itu pasti akan tiba, entah esok, lusa, hari
ini, atau bahkan detik ini juga…
Kau
atau siapapun tidak akan pernah tahu sampai akhirnya kau yang merasakannya
sendiri.
Sekuat
apapun kau melindungi hatimu dari sebuah perasaan bernama ‘CINTA’
Maka
sekuat itu pula, Cinta akan datang dan memporak-porandakan pertahananmu itu…
***
Hari
ini Alvin datang kesekolah dengan wajah yang ceria, sejak dari rumah tadi,
senyum yang mengembang diwajah tampannya tidak juga pudar. Alvin merasa hari
ini langkahnya begitu ringan, dan semua rasa yang tidak biasa seakan berkumpul
memenuhi ruang didadanya, Alvin tidak mengerti dengan segala rasa itu, tapi
yang jelas, semenjak kemarin, semenjak ia bertemu dengan Gadis Krisan itu,
Alvin merasakan sebuah perasaan semarak dan bahagia. Dan dari semua Gadis-Gadis
yang selama ini ia dekati, baru pertama kalinya ia merasakan sebuah perasaan
yang berbeda, entah apa namanya, Alvin masih belum bisa menyebutkannya apalagi
mendiskripsikannya. Semuanya masih terlalu cepat.
“ALVIN!!”
Panggilan dari Gabriel itu tidak juga membuat langkah Alvin terhenti. Gabriel
sedikit berdecak lalu berlari untuk mengejar langkah Alvin. Gabriel merangkul
pundak Alvin dan sedikit mengejutkannya,
“WOYYYYYY…..”
Alvin yang terkejut langsung menghentikan langkahnya lalu menatap benci kearah
Gabriel.
“lo
kenapa sih pake tereak-tereak segala? Ha?” ucap Alvin sedikit membentak.
Gabriel menampakkan raut wajah tak peduli,
“habisnya
elo dari tadi gue panggil malah nggak nengok-nengok, lo kenapa sih? Lo nggak
budeg kan?” Tanya Gabriel asal dan membuat Alvin semakin merasa dongkol.
Gabriel benar-benar telah merusak pagi yang indah ini.
“sembarangan
lo kalo ngomong” Alvin menoyor kepala Gabriel dengan kekuatan penuh, Gabriel
langsung mengerucutkan bibirnya yang malah membuat Alvin merasa geli.
“hahahaha….
Nggak usah sok imut deh”
“lo
kenapa sih hari ini, Vin?”
“emang
gue kenapa?” Tanya Alvin balik,
“nggak,
gue ngerasa lo beda aja pagi ini, biasanya kalo lo dateng lo selalu tebar
pesona kemana-mana, lha hari ini? Lo jalannya anteng banget, gue perhatiin dari
gerbang sampe sini, lo senyum terus, lo lagi nggak kesambet kan, Vin?” Tanya
Gabriel asal dengan raut wajah yang dibuat sok serius. Dan tepat saat Alvin akan
kembali melayangkan sebuah toyoran dikepalanya, dengan sigap Gabriel langsung
menahan.
“eitsss!
Nggak ada sesi kedua untuk toyor-menoyor” Alvin berdecak sedikit kesal lalu
melangkah perlahan yang kemudian diikuti oleh Gabriel disampingnya.
“gue
lagi jatuh cinta… Love at the first sight…” perkataan Alvin itu langsung
membuat Gabriel sedikit berfikir, tidak lama…
“tiap
ketemu cewek cantik juga lo selalu ngomong kayak gitu, udah basi!” kata Gabriel
cuek. Ya… Alvin memang selalu seperti itu, setiap kali bertemu dengan Gadis
yang menurutnya cantik, ia pasti akan bercerita kesemua sahabat-sahabatnya
bahwa ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama, sehari setelahnya, Alvin
pasti akan mendekati Gadis itu dan sebisa mungkin memberikannya perhatian
lebih, dan besoknya lagi, Alvin pasti akan bercerita pada sahabat-sahabatnya
bahwa ia dan Gadis itu telah resmi berpacaran. Gabriel sudah hafal betul dengan
tabiat rekan sesama play boy nya ini.
“tapi
kali ini beda Yel… kemaren gue ketemu sama dia secara nggak sengaja, waktu gue
lagi motret, tiba-tiba aja kamera gue nangkep muka itu cewek, dan sumpah, itu
cewek cantiiiiikkk banget, selama gue hidup gue nggak pernah ngeliat cewek
secantik itu, bahkan gue sempet berfikir, itu cewek apa bidadari? Dan semenjak
itu, semenjak lensa kamera gue nangkep muka itu cewek secara nggak sengaja,
entah kenapa gue ngerasa, kalo dia emang takdir gue” kata Alvin lebay dengan pandangan
mata menerawang jauh. Bayangan wajah Gadis itu kembali menari-nari
difikirannya.
Sementara
Gabriel yang mendengarkan ucapan Alvin barusan hanya melongo dengan mulut sedikit
terbuka. Dalam benaknya ia bertanya, kenapa Alvin mendadak puitis begitu?
“lo
Alvin kan?” Tanya Gabriel dengan raut wajah tidak percaya,
“menurut
lo??”
“bukan”
jawab Gabriel sekenanya, dan kali ini, tanpa bisa Gabriel hindari lagi, Alvin menghadiahi
keningnya dengan sebuah toyoran untuk yang kedua kalinya.
“lo
kenapa sih senengnya maen toyor-toyoran?” kata Gabriel sedikit emosi sambil
mengusap keningnya dengan raut wajah sebal. Alvin terkekeh geli lalu merangkul
pundak Gabriel,
“hahaha…
sorry sorry, habisnya lo rese sih, temen lagi curhat ngeresponnya malah kayak
gitu”
“forget
it! Lo tau nggak nama itu cewek siapa? Lo sempet kenalan? Tukeran nomer
handphone? Atau…” Alvin menggeleng beberapa kali,
“sekarang
gue emang nggak tau nama itu cewek siapa, tapi nanti gue pasti akan tau, dan
saat gue ketemu sama itu cewek nanti…” Alvin melangkah lebih cepat lalu berdiri
dihadapan Gabriel,
“gue
akan nundukin kepala dan bilang –“ Alvin berbalik hingga membelakangi Gabriel,
“I
LOVE… bugh!” tanpa sengaja Alvin menubruk tubuh seseorang yang saat itu
ternyata sedang berdiri dibelakangnya. Kedua mata Alvin terbuka maksimal. Dia?
Alvin menubruk dia, Gadis Krisan yang kemarin ia potret secara tidak sengaja,
dan sekarang dia ada disini, berdiri dihadapan Alvin dengan raut wajah heran.
Inilah dia, Gadis yang bisa membuat Alvin semalaman suntuk tidak bisa tidur
karna memikirkan dia, INI DIA! Bathin Alvin berteriak sekeras mungkin.
“YOU…”
Seakan terhipnotis oleh kecantikan Gadis yang ada dihadapannya ini, Alvin
melanjutkan perkataannya tadi. Gadis itu semakin heran, keningnya sedikit
berkerut karna bingung.
“maaf?”
ucap Gadis pelan. Alvin hanya tersenyum seraya mengangguk, lalu tanpa sadar
Alvin kembali berkata,
“I
love you… I love you so much….”
Sementara Gabriel yang
berdiri tepat dibelakang Alvin, langsung menepuk keningnya sendiri. Sahabatnya
yang satu ini sudah benar-benar gila. “Oh My God, Alviiinnn…..!!!” rutuk
Gabriel pelan.
“maksud lo?” Tanya
Gadis itu –lagi- dengan salah satu alis terangkat. Ia sempat melirik bed nama
milik Alvin yang tertera diseragamnya. Alvin terpaku, pesona Gadis ini
benar-benar membiusnya hingga menulikan pendengarannya dan membuat lidahnya
terasa kelu dengan senyuman membeku.
Gabriel
yang merasa perlu turun tangan langsung menyelesaikan semua kegilaan ini,
langsung merangkul pundak Alvin yang masih terpaku, dan yang lebih gilanya
lagi, Alvin sama sekali tidak menyadari bahwa kini lengan Gabriel telah
terlingkar dipundaknya dan telah siap membawanya pergi dari hadapan Gadis itu
sebelum ia melakukan tindakan-tindakan aneh diluar nalar. Gabriel tersenyum
pada Gadis itu lantas berkata,
“maafin
teman gue ya? Dia emang sedikit nggak waras, otaknya lagi rusak dan belum
sempat disetting di Dokter Hewan” ucap Gabriel tega, tapi Alvin sama sekali
tidak menyadarinya. Gadis itu hanya mengangguk, raut heran masih menghiasi
wajah manisnya. 2 orang yang ada dihadapannya ini ternyata sama anehnya,
fikirnya.
“Ayo
pergi!” bisik Gabriel didepan telinga Alvin, tapi Alvin malah tidak merespon
apapun. Dan tepat saat Gabriel akan menariknya pergi, Gadis itu malah memanggil
nama Alvin,
“ALVINO!!”
Dia
tau nama gue? Bathin Alvin lalu bersorak kegirangan dalam hati. Alvin dan
Gabriel terpaku setelah beberapa detik
yang lalu kesadaran Alvin kembali lagi saat Gadis itu memanggil namanya dengan
lantang.
“kenapa?”
Tanya Alvin lembut dengan tatapan memuja, Gadis itu sedikit terganggu
sebenarnya dengan tatapan Alvin itu, tapi mau bagaimana lagi? Ia perlu
menanyakan sesuatu pada Pria yang menurutnya aneh ini.
“ruang
Tata Usaha dimana?”
“disana,
belok kiri, tepat.” jawab Alvin penuh semangat seraya menunjuk ke ujung koridor.
Gadis itu mengikuti arah telunjuk Alvin lalu tersenyum dan menggumamkan kata
terimakasih.
“perlu
gue anter?” Alvin beratanya penuh harap, berharap Gadis itu akan mengangguk dan
berkata ‘YA’ , tapi ternyata…
“nggak
perlu, gue bisa sendiri” katanya lembut lalu melangkah pergi meninggalkan kedua
orang itu. Kedua mata Alvin terus menatap punggung Gadis itu hingga menghilang.
Gabriel berdecak pelan lalu berteriak sedikit keras tepat didepan telinga
Alvin,
“SADAR
WOOOYYY!! DIA UDAH PERGI…”
“Dia
cewek yang kemarin Yel, dia cewek yang kemaren gue potret secara nggak sengaja,
dan oh ya ampun… dia tau nama gue, Yel… DIA TAU NAMA GUE” Pekik Alvin
kegirangan nyaris melonjak saking gembiranya.
Gabriel
hanya menunjukan raut wajah masa bodoh, Gabriel bersedekap lalu berdecak pelan
dan dengan santainya berkata,
“ck…
jelaslah dia tau nama lo! Tuh ada bed nama lo, ‘kan?” Alvin melirik bed namanya
sendiri dan seketika mood nya langsung berantakkan. Dasar Gabriel! Benar-benar
Sahabat yang tidak pengertian! Gabriel berjalan mendahului Alvin yang masih
menampakkan raut bad mood.
Beberapa
saat setelah kepergian Gabriel, Alvin pun mengingat sesuatu dan langsung
menepuk keningnya sendiri…
“astaga, gue lupa nanya
namanya!!”
***
Via
keluar dari ruang Tata Usaha dengan lesu, hari ini ia telah benar-benar resmi
menjadi salah satu siswi di SMA Tunas Bangsa. Kalau bukan karna permintaan
Tantenya, mungkin Via tidak akan pernah mau kembali kesekolah lagi. Via
mendesah pelan lalu melanjutkan langkahnya. Ia berjalan gontai ditepi lapangan
basket. Kedua indera pelihatnya tiba-tiba saja tertuju pada Tim Basket sekolah
yang saat itu sedang berlatih, dan satu sosok dari segerombolan cowok itu
menarik perhatian Via. Satu sosok cowok bertubuh jangkung dan memiliki wajah
tampan dengan mata elangnya. Mendadak Via merasakan jantungnya berdebar pelan.
Ada apa ini? Apa yang salah dengan dirinya? Ia bahkan sering melihat Pria yang
jauh lebih tampan dari itu selama ia tinggal di German, tapi tidak pernah
sekalipun ia merasakan perasaan aneh seperti apa yang ia rasakan detik ini. Apa
jangan-jangan… tidak, Via tidak akan pernah sudi mengakuinya.
Via
mendesah lalu menggelengkan kepalanya beberapa kali, ia pun melepaskan
perhatiannya dari cowok itu lalu melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
Tapi tiba-tiba saja, sebuah bola basket yang tahu-tahu mengarah padanya membuat
Via kaget setengah mati, untung kedua tangannya dengan sigap menangkap bola
itu, jika tidak, bola itu tentu akan mengenai wajahnya.
“ups…”
wajah Via memucat, ia masih sangat terkejut dengan kejadian tidak terduga itu.
“Maaf…
maaf… kamu nggak apa-apa kan?” salah satu dari Tim Basket itu menghampiri Via,
dan Via semakin kaget ketika ia tahu bahwa cowok itu adalah cowok yang sejak
tadi ia perhatikan dan membuat jantungnya berdetak tidak karuan hanya dalam
sekali tatap.
Via
mendesah tidak kentara dan berusaha menormalkan detak jantungnya yang entah
kenapa berpacu lebih cepat dari biasanya. Via menggeleng pelan, lalu tanpa
mengucapkan sepatah katapun, Via menyerahkan bola itu kembali pada cowok
berwajah tampan itu.
Via
berbalik lalu cepat-cepat hengkang dari hadapan cowok itu sebelum perasaannya
semakin tidak menentu. Semua ini benar-benar salah, fikirnya.
Sementara
cowok tadi, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Cakka, merasa pernah melihat
sosok Gadis itu sebelumnya. Cakka berfikir dan berusaha mengingat-ingat kapan
dan dimana ia pernah melihat Gadis itu sebelumnya, tapi hasilnya nihil. Dan
lamat-lamat sebuah suara berbisik pelan dari dalam sana dan mengusik bathin
Cakka.
“REA….”
Itulah
satu nama yang terdengar dari intuisinya, dan untuk yang pertama kalinya, Cakka
membuat sebuah bantahan dalam hatinya.
“tidak
mungkin dia….” Cakka menggeleng pelan lalu kembali ke lapangan dengan perasaan
tidak menentu, persis seperti apa yang Gadis itu rasakan…
***
Via
sudah berdiri didepan kelas barunya dan dihadapan semua ‘teman-teman’ barunya
juga. Menghadapi suasana yang serba baru ini, Via merasa sedikit canggung, ia
menghela nafas panjang sekali dan berusaha menenangkan dirinya.
“ayo
silakan, perkenalkan diri!” ucap seorang Guru wanita yang sudah memasuki usia
paruh baya itu. Via menatap Guru berwajah sabar itu dan tersenyum, tidak lama
Via kembali mengarahkan perhatiannya kearah penjuru kelas, semuanya terdiam,
menanti Via memperkenalkan dirinya.
“hay
semua… perkenalkan, nama saya Sivia Andrea Puteri Adhi –“ ucapan Via tercekat
ditenggorokan, sudah lama ia tidak menyebutkan nama lengkapnya seperti ini, dan
jujur saja, hati Via terasa berat jika harus menambahkan nama ‘ADHIRAJASA’
dibelakang namanya. Via memejamkan matanya untuk beberapa saat, nama Sivia
Andrea Puteri Adhirajasa boleh saja sah dimata hukum, ia juga menggunakan nama
itu pada Ijazah dan akta kelahirannya, tapi walau seperti itu, Via merasa
enggan mengakui nama itu tersemat dibelakang namanya. Via pun mengulang kembali
menyebut namanya tanpa embel-embel ‘Adhirajasa’
“nama
saya, Sivia Andrea Puteri, cukup panggil saya Via, terimakasih sebelumnya…” Via
menghela nafasnya sekali lagi, tapi tanpa ia tahu, sebuah tatapan curiga dari
bangku paling pojok sana tertuju padanya. Zevana.
“Ya,
Via, sekarang silahkan duduk disana!” Guru itu mempersilahkan Via duduk
disebuah bangku kosong yang ada dideretan bangku kedua, dan baru saja Via akan
melangkah ke meja barunya, seseorang tiba-tiba memasuki kelas.
“maaf
Bu, saya telat….” Sesal Alvin dan berdiri tepat disamping Via. Via menatap
Alvin sejenak lalu kembali melangkah ke bangkunya sebelum Cowok berwajah
oriental itu sempat melihatnya.
“ini sudah yang ke-3
kalinya kamu telat dikelas saya, Alvin. Nanti, saat jam istirahat, temui saya
diruang Guru”
“Tapi
Bu –“
“Tidak
ada tapi-tapian, saya sudah terlalu sering mendengar kata ‘tapi’ dari kamu, dan
sekarang saya tidak mau mendengar kata itu. Jangan mentang-mentang sekolah ini
punya orang tua kamu lalu kamu bisa seenaknya, datang terlambat sesuka hati…”
“maaf
Bu…” Alvin menunduk dalam, berusaha keras menyembunyikan rasa kesalnya.
“sekarang
kembali ke bangku kamu”
“ya
Bu…”
Alvin
kembali ke bangkunya tanpa sedikitpun melihat siapa yang saat ini duduk tepat
dibelakang bangkunya. Sivia. Via memperhatikan Alvin sekilas, tidak lama ia
mendesah pelan. Kenapa juga ia harus sekelas dengan cowok Freak ini?
“Hay,
Via… kenalin gue Ify” sapa Ify dengan bersahabat pada Via yang kebetulan duduk
tepat disamping bangkunya. Via melirik kearah Ify untuk beberapa saat, ia pun
menyambut uluran tangan Ify seraya tersenyum.
“Via….”
Ujarnya pelan. Ify menaik-turunkan tangannya yang menjabat tangan Via dengan
penuh semangat. Ify senang karna memiliki seorang teman baru.
***
Bel
tanda istirahat menyalak dengan cukup keras. Suasana SMA Tunas Bangsa yang
sejak 3 jam yang lalu hening sekarang berubah riuh. Seluruh siswa keluar dari
kelas mereka masing-masing dengan penuh semangat, terkecuali Alvin. Saat bel
tanda istirahat berbunyi, ia langsung menekuk wajahnya, bagaimana tidak? Pada jam
istirahat ini, Ibu Ana selaku Guru Fisika tengah menunggunya diruang guru. Sudah
pasti Alvin akan kena marah karna sudah 3 kali berturut-turut telat dalam jam
pelajaran Fisika, dan jika sudah begini, masalah ini pasti akan sampai
ditelinga Papinya, dan… ck, Alvin malas membayangkannya.
Alvin
bangkit dari bangkunya, dan tepat saat ia akan mengayunkan langkah pertamanya,
tanpa sengaja tubuhnya menubruk seseorang yang saat itu juga akan berjalan
keluar kelas bersama Ify. Alvin yang sedang diselimuti oleh kekesalan, malah
membentak Gadis itu.
“HEH!
LO KALO JALAN PAKE MA—“ Alvin tidak melanjutkan bentakkannya saat ia melihat
seseorang yang telah ia tubruk secara tidak sengaja. Gadis Krisan itu? Muka Alvin
yang tadinya ditekuk langsung berubah ceria hanya dalam hitungan detik saja. Mimpi
apa Alvin semalam sampai bisa sekelas dengan Gadis Krisannya ini?
“elo?
Kelas lo disini juga??” Alvin mendadak melupakan janjinya dengan Bu Ana. Via
hanya mengangguk sungkan.
“heh
jangan ganggu dia!” kata Ify berusaha menjauhkan Via dari Alvin.
“eh
entar dulu…” reflex Alvin menarik pergelangan tangan Via. Hal itu kontan saja
membuat Via sedikit tersentak.
“tadi
kita belom sempet kenalan ya? Kenalin gue Alvin, cowok terkeren se-jagad raya”
kata Alvin seraya mengulurkan tangannya. Ify langsung pura-pura muntah ketika
mendengarkan pernyataan Alvin itu.
“gue
Via” Via menjabat tangan Alvin, tapi itu tidak lama, karna sedetik kemudian Via
langsung menarik tangannya dari Alvin.
“nama
yang cantik… secantik orangnya…”
Ify
yang mulai mencium bau-bau tidak enak dari gelagat Alvin langsung meraih
pergelangan tangan Via hendak membawanya keluar dari kelas sebelum Alvin
mengeluarkan rayuan gombalnya.
“udah
kenalan kan? Ayo Vi, kita cabut! Gue kenalin sama temen-temen gue yang lain…”
“eh
entar dulu” Alvin berusaha menahan kedua Gadis itu agar tidak buru-buru keluar
dari kelas.
“apaan
lagi sih, Vin?? Lo lupa kalo sekarang lo lagi ada janji sama Bu Ana? Daripada lo
gombalin Via, mendingan lo gombalin sana Bu Ana biar beliau nggak ngelaporin
kelakuan lo ini sama Bokap lo!”
“astaga!
Bu Ana” Alvin baru mengingatnya. Ia pun cepat-cepat memasang langkah seribu
hendak menyusul Bu Ana diruang Guru sebelum Guru senior itu semakin marah
padanya.
Ify
menggeleng beberapa kali, ia sama sekali tidak habis fikir dengan kelakuan
Sahabat Pacarnya yang satu itu.
“ayo,
Vi…”
“hmm…”
Via
dan Ify pun keluar dari kelas tanpa berbicara banyak.
***
Setelah
acara perkenalan singkat yang hangat itu, Via mulai mencoba untuk mengakrabkan
diri dengan teman-teman barunya yang juga adalah sahabat-sahabat Ify. Mereka diantaranya
adalah Shilla dan Agni. Dan jujur saja, meskipun mereka baru berkenalan
beberapa menit yang lalu, Via mulai merasa nyaman berada ditengah-tengah teman
barunya ini.
Sejak
tadi, Agni tidak henti-hentinya berceloteh tentang latihan basketnya tadi pagi
juga kejengkelan-kejengkelannya pada Cakka yang ia sebut ‘Makhluk Es’. Sesekali
mereka terlihat tertawa ketika mendengar cerita-cerita Agni yang menurut mereka
sangat konyol. Sementara Via, yang ikut andil dalam obrolan itu belum begitu
mengerti kenapa Agni sampai menamai Cakka dengan ‘Makhluk Es’, Via juga belum
tau siapa yang namanya Cakka Cakka itu, tapi yang jelas, Via berusaha
mendengarkan cerita-cerita itu meskipun ia sendiri tidak begitu mengerti.
Dan
ditengah-tengah obrolan mereka yang hangat itu, tiba-tiba saja Dea, yang merupakan
Rival abadi Ify datang bersama kedua sahabatnya, Zevana dan Aren. Wajah-wajah
sinis itu seakan mengintimidasi Ify. Dea tersenyum licik, lantas dengan sinis
berkata,
“lo
kalo nggak becus jadi ketua redaksi, mending nggak usah jadi ketua deh”
“maksud
lo?” Tanya Ify yang memang merasa tidak paham dengan duduk perkaranya. Sejak Ify
berhasil mengalahkan Dea dalam pemilihan ketua redaksi tahun lalu, dan sejak
Rio menjatuhkan pilihan hatinya pada Ify dan bukan pada Dea yang memang sudah
mengejar-ngejar Rio sejak SMP, Dea jadi semakin membenci Ify. Dea selalu
berusaha mencari-cari kesalahn Ify sekecil apapun lalu membesar-besarkannya. Tapi
untung selama ini Ify tidak terlalu menanggapi Dea.
“lo
masih nanya maksud gue apaan? Lo tentu nggak lupa kan, kalo Pak Iqbal ngasih
kita tugas buat wawancara Cakka. Udah tau Cakka itu anaknya susah diajak kerja
sama, kenapa lo malah enak-enakan duduk disini dan ketawa-ketawa nggak jelas. Ketua
macam apaan lo? Bukannya cari cara juga…”
Agni
mulai tidak tahan, ia menggebrak meja kantin sedikit keras hingga menimbulkan
perhatian halayak banyak, Agni bangkit lalu menantang Dea dengan tatapan
tajamnya.
“lo
kalo ngomong bisa biasa aja nggak sih? Lo fikir kita selama ini nggak kerja? Kita
semua disini, kerja pontang-panting nguber-nguber Cakka Cuma untuk wawancara
dia, puluhan kali kita ngejer-ngejer dia, puluhan kali juga dia ngedamprat
kita, lo nggak pernah terjun ke lapangan langsung dan lihat apa yang terjadi
kan, jadi tolong berhenti sok tau!”
“lo
–“
“tugas
lo itu dimeja redaksi, jadi bisa kan lo nggak ganggu pekerjaan gue? Kalo lo mau
marah, marah sama gue, jangan sama Ify. Lo duduk yang manis aja, dan tunggu
hasil wawancara gue. Lo fikir gue nggak sanggup apa wawancara si Cakka itu? Toh
masih ada setengah bulan kan?” kata Agni tak sabar. Dea yang mulai jengah langsung
memberi isyarat pada kedua sahabatnya untuk segera hengkang dari tempat itu.
Agni tersenyum sinis, dasar Mak Lampir! Umpatnya dalam hati.
Via
yang sejak tadi menyimak pertengkaran itu mulai berfikir dan mulai merasa
penasaran dengan sosok Cakka yang baru saja mereka ributkan. Seperti apa sih
Cakka itu? Itulah sepenggal pertanyaan yang timbul dikepala Via.
Ify
menghela nafas beratnya, dan baru saja ia merasa sedikit tenang, tiba-tiba saja
ponselnya bergetar., menandakan ada pesan masuk ke nomernya. Ify tersentak ketika melihat nama yang tertera
dilayar ponselnya. Perasaannya mulai tidak karuan. Apa lagi ini?
====================
From:
Kak Febby
Ifyyyyy….
Minggu
Depan
aku pulang :)
Miss
you :*
====================
Mendadak
Ify merasa gusar. Febby. Dia telah kembali.
BERSAMBUNG…



0 comments:
Post a Comment