Thursday, January 23, 2014

0

You’re Mine [Part3: Love At The First Sight]









Sebelumnya…

Sejak 30 menit yang lalu kedua mata Alvin tidak juga teralihkan dari layar monitor laptop yang ada dihadapannya saat ini. Sedikitpun Alvin merasa tidak bosan menatap keindahan ‘objek mengagumkan’ yang tadi tertangkap oleh mata lensanya secara tidak sengaja itu. Sesekali Alvin tersenyum, Gadis itu benar-benar sangat cantik dengan rambut sebahunya, kulit putih mulusnya, bibir tipisnya yang merah alami tanpa olesan lipstick, juga pipi chubbynya yang menggemaskan, semuanya benar-benar mempesona bagi Alvin. Kalau saja tadi ia tidak kehilangan jejak Gadis itu, mungkin Alvin bisa mengajaknya berkenalan.
            Merasa sedikit pegal karna terlalu lama duduk, Alvin pun merentangkan kedua tangannya keatas sembari menggeliat, Alvin menguap dan kedua matanya mulai terasa berat. Jam didinding kamarnya sudah menunjukan pukul 00.05 WIB, benar-benar tidak terasa. Alvin lalu mematikan laptopnya, dan tepat saat ia menutup laptopnya, tiba-tiba saja perhatiannya tertuju pada Boneka Tedy Bear Cokelat yang terpajang diatas meja belajarnya. Boneka Tedy Bear itupun kembali mengingatkan Alvin pada seseorang dimasa lalunya. Ia adalah cinta pertama Alvin yang sampai saat ini masih ia tunggu. Alvin mendesah pelan lalu meraih boneka itu, untuk beberapa saat Alvin menatap boneka itu, Alvin tersenyum kecil. Entah kenapa ia merasa bahwa penantiannya sebentar lagi akan berakhir.
                                                 
            “Andrea…. Gue masih nungguin lo disini…”



***

Part 3


Sekeras-kerasnya kau mempertahankan hati untuk tidak jatuh pada seseorang, pasti akhirnya akan terjatuh juga…
Akan ada saatnya nanti dimana kau akan jatuh cinta, merasakan dimana hari-harimu bahagia saat berada disampingnya, dan merasakan bagaimana hari-harimu hampa tanpa ada dia disampingmu… saat itu pasti akan tiba, entah esok, lusa, hari ini, atau bahkan detik ini juga…

Kau atau siapapun tidak akan pernah tahu sampai akhirnya kau yang merasakannya sendiri.

Sekuat apapun kau melindungi hatimu dari sebuah perasaan bernama ‘CINTA’
Maka sekuat itu pula, Cinta akan datang dan memporak-porandakan pertahananmu itu…


***

            Hari ini Alvin datang kesekolah dengan wajah yang ceria, sejak dari rumah tadi, senyum yang mengembang diwajah tampannya tidak juga pudar. Alvin merasa hari ini langkahnya begitu ringan, dan semua rasa yang tidak biasa seakan berkumpul memenuhi ruang didadanya, Alvin tidak mengerti dengan segala rasa itu, tapi yang jelas, semenjak kemarin, semenjak ia bertemu dengan Gadis Krisan itu, Alvin merasakan sebuah perasaan semarak dan bahagia. Dan dari semua Gadis-Gadis yang selama ini ia dekati, baru pertama kalinya ia merasakan sebuah perasaan yang berbeda, entah apa namanya, Alvin masih belum bisa menyebutkannya apalagi mendiskripsikannya. Semuanya masih terlalu cepat.
            “ALVIN!!” Panggilan dari Gabriel itu tidak juga membuat langkah Alvin terhenti. Gabriel sedikit berdecak lalu berlari untuk mengejar langkah Alvin. Gabriel merangkul pundak Alvin dan sedikit mengejutkannya,
            “WOYYYYYY…..” Alvin yang terkejut langsung menghentikan langkahnya lalu menatap benci kearah Gabriel.
            “lo kenapa sih pake tereak-tereak segala? Ha?” ucap Alvin sedikit membentak. Gabriel menampakkan raut wajah tak peduli,
            “habisnya elo dari tadi gue panggil malah nggak nengok-nengok, lo kenapa sih? Lo nggak budeg kan?” Tanya Gabriel asal dan membuat Alvin semakin merasa dongkol. Gabriel benar-benar telah merusak pagi yang indah ini.
            “sembarangan lo kalo ngomong” Alvin menoyor kepala Gabriel dengan kekuatan penuh, Gabriel langsung mengerucutkan bibirnya yang malah membuat Alvin merasa geli.
            “hahahaha…. Nggak usah sok imut deh”
            “lo kenapa sih hari ini, Vin?”
            “emang gue kenapa?” Tanya Alvin balik,
            “nggak, gue ngerasa lo beda aja pagi ini, biasanya kalo lo dateng lo selalu tebar pesona kemana-mana, lha hari ini? Lo jalannya anteng banget, gue perhatiin dari gerbang sampe sini, lo senyum terus, lo lagi nggak kesambet kan, Vin?” Tanya Gabriel asal dengan raut wajah yang dibuat sok serius. Dan tepat saat Alvin akan kembali melayangkan sebuah toyoran dikepalanya, dengan sigap Gabriel langsung menahan.
            “eitsss! Nggak ada sesi kedua untuk toyor-menoyor” Alvin berdecak sedikit kesal lalu melangkah perlahan yang kemudian diikuti oleh Gabriel disampingnya.
            “gue lagi jatuh cinta… Love at the first sight…” perkataan Alvin itu langsung membuat Gabriel sedikit berfikir, tidak lama…
            “tiap ketemu cewek cantik juga lo selalu ngomong kayak gitu, udah basi!” kata Gabriel cuek. Ya… Alvin memang selalu seperti itu, setiap kali bertemu dengan Gadis yang menurutnya cantik, ia pasti akan bercerita kesemua sahabat-sahabatnya bahwa ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama, sehari setelahnya, Alvin pasti akan mendekati Gadis itu dan sebisa mungkin memberikannya perhatian lebih, dan besoknya lagi, Alvin pasti akan bercerita pada sahabat-sahabatnya bahwa ia dan Gadis itu telah resmi berpacaran. Gabriel sudah hafal betul dengan tabiat rekan sesama play boy nya ini.
            “tapi kali ini beda Yel… kemaren gue ketemu sama dia secara nggak sengaja, waktu gue lagi motret, tiba-tiba aja kamera gue nangkep muka itu cewek, dan sumpah, itu cewek cantiiiiikkk banget, selama gue hidup gue nggak pernah ngeliat cewek secantik itu, bahkan gue sempet berfikir, itu cewek apa bidadari? Dan semenjak itu, semenjak lensa kamera gue nangkep muka itu cewek secara nggak sengaja, entah kenapa gue ngerasa, kalo dia emang takdir gue” kata Alvin lebay dengan pandangan mata menerawang jauh. Bayangan wajah Gadis itu kembali menari-nari difikirannya.
            Sementara Gabriel yang mendengarkan ucapan Alvin barusan hanya melongo dengan mulut sedikit terbuka. Dalam benaknya ia bertanya, kenapa Alvin mendadak puitis begitu?
            “lo Alvin kan?” Tanya Gabriel dengan raut wajah tidak percaya,
            “menurut lo??”
            “bukan” jawab Gabriel sekenanya, dan kali ini, tanpa bisa Gabriel hindari lagi, Alvin menghadiahi keningnya dengan sebuah toyoran untuk yang kedua kalinya.
            “lo kenapa sih senengnya maen toyor-toyoran?” kata Gabriel sedikit emosi sambil mengusap keningnya dengan raut wajah sebal. Alvin terkekeh geli lalu merangkul pundak Gabriel,
            “hahaha… sorry sorry, habisnya lo rese sih, temen lagi curhat ngeresponnya malah kayak gitu”
            “forget it! Lo tau nggak nama itu cewek siapa? Lo sempet kenalan? Tukeran nomer handphone? Atau…” Alvin menggeleng beberapa kali,
            “sekarang gue emang nggak tau nama itu cewek siapa, tapi nanti gue pasti akan tau, dan saat gue ketemu sama itu cewek nanti…” Alvin melangkah lebih cepat lalu berdiri dihadapan Gabriel,
            “gue akan nundukin kepala dan bilang –“ Alvin berbalik hingga membelakangi Gabriel,
            “I LOVE… bugh!” tanpa sengaja Alvin menubruk tubuh seseorang yang saat itu ternyata sedang berdiri dibelakangnya. Kedua mata Alvin terbuka maksimal. Dia? Alvin menubruk dia, Gadis Krisan yang kemarin ia potret secara tidak sengaja, dan sekarang dia ada disini, berdiri dihadapan Alvin dengan raut wajah heran. Inilah dia, Gadis yang bisa membuat Alvin semalaman suntuk tidak bisa tidur karna memikirkan dia, INI DIA! Bathin Alvin berteriak sekeras mungkin.
            “YOU…” Seakan terhipnotis oleh kecantikan Gadis yang ada dihadapannya ini, Alvin melanjutkan perkataannya tadi. Gadis itu semakin heran, keningnya sedikit berkerut karna bingung.
            “maaf?” ucap Gadis pelan. Alvin hanya tersenyum seraya mengangguk, lalu tanpa sadar Alvin kembali berkata,
            “I love you… I love you so much….”
Sementara Gabriel yang berdiri tepat dibelakang Alvin, langsung menepuk keningnya sendiri. Sahabatnya yang satu ini sudah benar-benar gila. “Oh My God, Alviiinnn…..!!!” rutuk Gabriel pelan.
“maksud lo?” Tanya Gadis itu –lagi- dengan salah satu alis terangkat. Ia sempat melirik bed nama milik Alvin yang tertera diseragamnya. Alvin terpaku, pesona Gadis ini benar-benar membiusnya hingga menulikan pendengarannya dan membuat lidahnya terasa kelu dengan senyuman membeku.
            Gabriel yang merasa perlu turun tangan langsung menyelesaikan semua kegilaan ini, langsung merangkul pundak Alvin yang masih terpaku, dan yang lebih gilanya lagi, Alvin sama sekali tidak menyadari bahwa kini lengan Gabriel telah terlingkar dipundaknya dan telah siap membawanya pergi dari hadapan Gadis itu sebelum ia melakukan tindakan-tindakan aneh diluar nalar. Gabriel tersenyum pada Gadis itu lantas berkata,
            “maafin teman gue ya? Dia emang sedikit nggak waras, otaknya lagi rusak dan belum sempat disetting di Dokter Hewan” ucap Gabriel tega, tapi Alvin sama sekali tidak menyadarinya. Gadis itu hanya mengangguk, raut heran masih menghiasi wajah manisnya. 2 orang yang ada dihadapannya ini ternyata sama anehnya, fikirnya.
            “Ayo pergi!” bisik Gabriel didepan telinga Alvin, tapi Alvin malah tidak merespon apapun. Dan tepat saat Gabriel akan menariknya pergi, Gadis itu malah memanggil nama Alvin,
            “ALVINO!!”
            Dia tau nama gue? Bathin Alvin lalu bersorak kegirangan dalam hati. Alvin dan Gabriel terpaku setelah  beberapa detik yang lalu kesadaran Alvin kembali lagi saat Gadis itu memanggil namanya dengan lantang.
            “kenapa?” Tanya Alvin lembut dengan tatapan memuja, Gadis itu sedikit terganggu sebenarnya dengan tatapan Alvin itu, tapi mau bagaimana lagi? Ia perlu menanyakan sesuatu pada Pria yang menurutnya aneh ini.
            “ruang Tata Usaha dimana?”
            “disana, belok kiri, tepat.” jawab Alvin penuh semangat seraya menunjuk ke ujung koridor. Gadis itu mengikuti arah telunjuk Alvin lalu tersenyum dan menggumamkan kata terimakasih.
            “perlu gue anter?” Alvin beratanya penuh harap, berharap Gadis itu akan mengangguk dan berkata ‘YA’ , tapi ternyata…
            “nggak perlu, gue bisa sendiri” katanya lembut lalu melangkah pergi meninggalkan kedua orang itu. Kedua mata Alvin terus menatap punggung Gadis itu hingga menghilang. Gabriel berdecak pelan lalu berteriak sedikit keras tepat didepan telinga Alvin,
            “SADAR WOOOYYY!! DIA UDAH PERGI…”
            “Dia cewek yang kemarin Yel, dia cewek yang kemaren gue potret secara nggak sengaja, dan oh ya ampun… dia tau nama gue, Yel… DIA TAU NAMA GUE” Pekik Alvin kegirangan nyaris melonjak saking gembiranya.
            Gabriel hanya menunjukan raut wajah masa bodoh, Gabriel bersedekap lalu berdecak pelan dan dengan santainya berkata,
            “ck… jelaslah dia tau nama lo! Tuh ada bed nama lo, ‘kan?” Alvin melirik bed namanya sendiri dan seketika mood nya langsung berantakkan. Dasar Gabriel! Benar-benar Sahabat yang tidak pengertian! Gabriel berjalan mendahului Alvin yang masih menampakkan raut bad mood.

            Beberapa saat setelah kepergian Gabriel, Alvin pun mengingat sesuatu dan langsung menepuk keningnya sendiri…

“astaga, gue lupa nanya namanya!!”



***

            Via keluar dari ruang Tata Usaha dengan lesu, hari ini ia telah benar-benar resmi menjadi salah satu siswi di SMA Tunas Bangsa. Kalau bukan karna permintaan Tantenya, mungkin Via tidak akan pernah mau kembali kesekolah lagi. Via mendesah pelan lalu melanjutkan langkahnya. Ia berjalan gontai ditepi lapangan basket. Kedua indera pelihatnya tiba-tiba saja tertuju pada Tim Basket sekolah yang saat itu sedang berlatih, dan satu sosok dari segerombolan cowok itu menarik perhatian Via. Satu sosok cowok bertubuh jangkung dan memiliki wajah tampan dengan mata elangnya. Mendadak Via merasakan jantungnya berdebar pelan. Ada apa ini? Apa yang salah dengan dirinya? Ia bahkan sering melihat Pria yang jauh lebih tampan dari itu selama ia tinggal di German, tapi tidak pernah sekalipun ia merasakan perasaan aneh seperti apa yang ia rasakan detik ini. Apa jangan-jangan… tidak, Via tidak akan pernah sudi mengakuinya.
            Via mendesah lalu menggelengkan kepalanya beberapa kali, ia pun melepaskan perhatiannya dari cowok itu lalu melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Tapi tiba-tiba saja, sebuah bola basket yang tahu-tahu mengarah padanya membuat Via kaget setengah mati, untung kedua tangannya dengan sigap menangkap bola itu, jika tidak, bola itu tentu akan mengenai wajahnya.
            “ups…” wajah Via memucat, ia masih sangat terkejut dengan kejadian tidak terduga itu.
            “Maaf… maaf… kamu nggak apa-apa kan?” salah satu dari Tim Basket itu menghampiri Via, dan Via semakin kaget ketika ia tahu bahwa cowok itu adalah cowok yang sejak tadi ia perhatikan dan membuat jantungnya berdetak tidak karuan hanya dalam sekali tatap.
            Via mendesah tidak kentara dan berusaha menormalkan detak jantungnya yang entah kenapa berpacu lebih cepat dari biasanya. Via menggeleng pelan, lalu tanpa mengucapkan sepatah katapun, Via menyerahkan bola itu kembali pada cowok berwajah tampan itu.
            Via berbalik lalu cepat-cepat hengkang dari hadapan cowok itu sebelum perasaannya semakin tidak menentu. Semua ini benar-benar salah, fikirnya.
            Sementara cowok tadi, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Cakka, merasa pernah melihat sosok Gadis itu sebelumnya. Cakka berfikir dan berusaha mengingat-ingat kapan dan dimana ia pernah melihat Gadis itu sebelumnya, tapi hasilnya nihil. Dan lamat-lamat sebuah suara berbisik pelan dari dalam sana dan mengusik bathin Cakka.

            “REA….”
            Itulah satu nama yang terdengar dari intuisinya, dan untuk yang pertama kalinya, Cakka membuat sebuah bantahan dalam hatinya.

            “tidak mungkin dia….” Cakka menggeleng pelan lalu kembali ke lapangan dengan perasaan tidak menentu, persis seperti apa yang Gadis itu rasakan…


***

            Via sudah berdiri didepan kelas barunya dan dihadapan semua ‘teman-teman’ barunya juga. Menghadapi suasana yang serba baru ini, Via merasa sedikit canggung, ia menghela nafas panjang sekali dan berusaha menenangkan dirinya.
            “ayo silakan, perkenalkan diri!” ucap seorang Guru wanita yang sudah memasuki usia paruh baya itu. Via menatap Guru berwajah sabar itu dan tersenyum, tidak lama Via kembali mengarahkan perhatiannya kearah penjuru kelas, semuanya terdiam, menanti Via memperkenalkan dirinya.
            “hay semua… perkenalkan, nama saya Sivia Andrea Puteri Adhi –“ ucapan Via tercekat ditenggorokan, sudah lama ia tidak menyebutkan nama lengkapnya seperti ini, dan jujur saja, hati Via terasa berat jika harus menambahkan nama ‘ADHIRAJASA’ dibelakang namanya. Via memejamkan matanya untuk beberapa saat, nama Sivia Andrea Puteri Adhirajasa boleh saja sah dimata hukum, ia juga menggunakan nama itu pada Ijazah dan akta kelahirannya, tapi walau seperti itu, Via merasa enggan mengakui nama itu tersemat dibelakang namanya. Via pun mengulang kembali menyebut namanya tanpa embel-embel ‘Adhirajasa’
            “nama saya, Sivia Andrea Puteri, cukup panggil saya Via, terimakasih sebelumnya…” Via menghela nafasnya sekali lagi, tapi tanpa ia tahu, sebuah tatapan curiga dari bangku paling pojok sana tertuju padanya. Zevana.
            “Ya, Via, sekarang silahkan duduk disana!” Guru itu mempersilahkan Via duduk disebuah bangku kosong yang ada dideretan bangku kedua, dan baru saja Via akan melangkah ke meja barunya, seseorang tiba-tiba memasuki kelas.
            “maaf Bu, saya telat….” Sesal Alvin dan berdiri tepat disamping Via. Via menatap Alvin sejenak lalu kembali melangkah ke bangkunya sebelum Cowok berwajah oriental itu sempat melihatnya.
“ini sudah yang ke-3 kalinya kamu telat dikelas saya, Alvin. Nanti, saat jam istirahat, temui saya diruang Guru”
            “Tapi Bu –“
            “Tidak ada tapi-tapian, saya sudah terlalu sering mendengar kata ‘tapi’ dari kamu, dan sekarang saya tidak mau mendengar kata itu. Jangan mentang-mentang sekolah ini punya orang tua kamu lalu kamu bisa seenaknya, datang terlambat sesuka hati…”
            “maaf Bu…” Alvin menunduk dalam, berusaha keras menyembunyikan rasa kesalnya.
            “sekarang kembali ke bangku kamu”
            “ya Bu…”
            Alvin kembali ke bangkunya tanpa sedikitpun melihat siapa yang saat ini duduk tepat dibelakang bangkunya. Sivia. Via memperhatikan Alvin sekilas, tidak lama ia mendesah pelan. Kenapa juga ia harus sekelas dengan cowok Freak ini?
            “Hay, Via… kenalin gue Ify” sapa Ify dengan bersahabat pada Via yang kebetulan duduk tepat disamping bangkunya. Via melirik kearah Ify untuk beberapa saat, ia pun menyambut uluran tangan Ify seraya tersenyum.
            “Via….” Ujarnya pelan. Ify menaik-turunkan tangannya yang menjabat tangan Via dengan penuh semangat. Ify senang karna memiliki seorang teman baru.


***

            Bel tanda istirahat menyalak dengan cukup keras. Suasana SMA Tunas Bangsa yang sejak 3 jam yang lalu hening sekarang berubah riuh. Seluruh siswa keluar dari kelas mereka masing-masing dengan penuh semangat, terkecuali Alvin. Saat bel tanda istirahat berbunyi, ia langsung menekuk wajahnya, bagaimana tidak? Pada jam istirahat ini, Ibu Ana selaku Guru Fisika tengah menunggunya diruang guru. Sudah pasti Alvin akan kena marah karna sudah 3 kali berturut-turut telat dalam jam pelajaran Fisika, dan jika sudah begini, masalah ini pasti akan sampai ditelinga Papinya, dan… ck, Alvin malas membayangkannya.
            Alvin bangkit dari bangkunya, dan tepat saat ia akan mengayunkan langkah pertamanya, tanpa sengaja tubuhnya menubruk seseorang yang saat itu juga akan berjalan keluar kelas bersama Ify. Alvin yang sedang diselimuti oleh kekesalan, malah membentak Gadis itu.
            “HEH! LO KALO JALAN PAKE MA—“ Alvin tidak melanjutkan bentakkannya saat ia melihat seseorang yang telah ia tubruk secara tidak sengaja. Gadis Krisan itu? Muka Alvin yang tadinya ditekuk langsung berubah ceria hanya dalam hitungan detik saja. Mimpi apa Alvin semalam sampai bisa sekelas dengan Gadis Krisannya ini?
            “elo? Kelas lo disini juga??” Alvin mendadak melupakan janjinya dengan Bu Ana. Via hanya mengangguk sungkan.
            “heh jangan ganggu dia!” kata Ify berusaha menjauhkan Via dari Alvin.
            “eh entar dulu…” reflex Alvin menarik pergelangan tangan Via. Hal itu kontan saja membuat Via sedikit tersentak.
            “tadi kita belom sempet kenalan ya? Kenalin gue Alvin, cowok terkeren se-jagad raya” kata Alvin seraya mengulurkan tangannya. Ify langsung pura-pura muntah ketika mendengarkan pernyataan Alvin itu.
            “gue Via” Via menjabat tangan Alvin, tapi itu tidak lama, karna sedetik kemudian Via langsung menarik tangannya dari Alvin.
            “nama yang cantik… secantik orangnya…”
            Ify yang mulai mencium bau-bau tidak enak dari gelagat Alvin langsung meraih pergelangan tangan Via hendak membawanya keluar dari kelas sebelum Alvin mengeluarkan rayuan gombalnya.
            “udah kenalan kan? Ayo Vi, kita cabut! Gue kenalin sama temen-temen gue yang lain…”
            “eh entar dulu” Alvin berusaha menahan kedua Gadis itu agar tidak buru-buru keluar dari kelas.
            “apaan lagi sih, Vin?? Lo lupa kalo sekarang lo lagi ada janji sama Bu Ana? Daripada lo gombalin Via, mendingan lo gombalin sana Bu Ana biar beliau nggak ngelaporin kelakuan lo ini sama Bokap lo!”
            “astaga! Bu Ana” Alvin baru mengingatnya. Ia pun cepat-cepat memasang langkah seribu hendak menyusul Bu Ana diruang Guru sebelum Guru senior itu semakin marah padanya.
            Ify menggeleng beberapa kali, ia sama sekali tidak habis fikir dengan kelakuan Sahabat Pacarnya yang satu itu.
            “ayo, Vi…”
            “hmm…”
            Via dan Ify pun keluar dari kelas tanpa berbicara banyak.


***

            Setelah acara perkenalan singkat yang hangat itu, Via mulai mencoba untuk mengakrabkan diri dengan teman-teman barunya yang juga adalah sahabat-sahabat Ify. Mereka diantaranya adalah Shilla dan Agni. Dan jujur saja, meskipun mereka baru berkenalan beberapa menit yang lalu, Via mulai merasa nyaman berada ditengah-tengah teman barunya ini.
            Sejak tadi, Agni tidak henti-hentinya berceloteh tentang latihan basketnya tadi pagi juga kejengkelan-kejengkelannya pada Cakka yang ia sebut ‘Makhluk Es’. Sesekali mereka terlihat tertawa ketika mendengar cerita-cerita Agni yang menurut mereka sangat konyol. Sementara Via, yang ikut andil dalam obrolan itu belum begitu mengerti kenapa Agni sampai menamai Cakka dengan ‘Makhluk Es’, Via juga belum tau siapa yang namanya Cakka Cakka itu, tapi yang jelas, Via berusaha mendengarkan cerita-cerita itu meskipun ia sendiri tidak begitu mengerti.
            Dan ditengah-tengah obrolan mereka yang hangat itu, tiba-tiba saja Dea, yang merupakan Rival abadi Ify datang bersama kedua sahabatnya, Zevana dan Aren. Wajah-wajah sinis itu seakan mengintimidasi Ify. Dea tersenyum licik, lantas dengan sinis berkata,
            “lo kalo nggak becus jadi ketua redaksi, mending nggak usah jadi ketua deh”
            “maksud lo?” Tanya Ify yang memang merasa tidak paham dengan duduk perkaranya. Sejak Ify berhasil mengalahkan Dea dalam pemilihan ketua redaksi tahun lalu, dan sejak Rio menjatuhkan pilihan hatinya pada Ify dan bukan pada Dea yang memang sudah mengejar-ngejar Rio sejak SMP, Dea jadi semakin membenci Ify. Dea selalu berusaha mencari-cari kesalahn Ify sekecil apapun lalu membesar-besarkannya. Tapi untung selama ini Ify tidak terlalu menanggapi Dea.
            “lo masih nanya maksud gue apaan? Lo tentu nggak lupa kan, kalo Pak Iqbal ngasih kita tugas buat wawancara Cakka. Udah tau Cakka itu anaknya susah diajak kerja sama, kenapa lo malah enak-enakan duduk disini dan ketawa-ketawa nggak jelas. Ketua macam apaan lo? Bukannya cari cara juga…”
            Agni mulai tidak tahan, ia menggebrak meja kantin sedikit keras hingga menimbulkan perhatian halayak banyak, Agni bangkit lalu menantang Dea dengan tatapan tajamnya.
            “lo kalo ngomong bisa biasa aja nggak sih? Lo fikir kita selama ini nggak kerja? Kita semua disini, kerja pontang-panting nguber-nguber Cakka Cuma untuk wawancara dia, puluhan kali kita ngejer-ngejer dia, puluhan kali juga dia ngedamprat kita, lo nggak pernah terjun ke lapangan langsung dan lihat apa yang terjadi kan, jadi tolong berhenti sok tau!”
            “lo –“
            “tugas lo itu dimeja redaksi, jadi bisa kan lo nggak ganggu pekerjaan gue? Kalo lo mau marah, marah sama gue, jangan sama Ify. Lo duduk yang manis aja, dan tunggu hasil wawancara gue. Lo fikir gue nggak sanggup apa wawancara si Cakka itu? Toh masih ada setengah bulan kan?” kata Agni tak sabar. Dea yang mulai jengah langsung memberi isyarat pada kedua sahabatnya untuk segera hengkang dari tempat itu. Agni tersenyum sinis, dasar Mak Lampir! Umpatnya dalam hati.
            Via yang sejak tadi menyimak pertengkaran itu mulai berfikir dan mulai merasa penasaran dengan sosok Cakka yang baru saja mereka ributkan. Seperti apa sih Cakka itu? Itulah sepenggal pertanyaan yang timbul dikepala Via.
            Ify menghela nafas beratnya, dan baru saja ia merasa sedikit tenang, tiba-tiba saja ponselnya bergetar., menandakan ada pesan masuk ke nomernya.  Ify tersentak ketika melihat nama yang tertera dilayar ponselnya. Perasaannya mulai tidak karuan. Apa lagi ini?

====================

From: Kak Febby

Ifyyyyy…. Minggu
Depan aku pulang :)
Miss you :*

====================

            Mendadak Ify merasa gusar. Febby. Dia telah kembali.





                                    BERSAMBUNG…

0 comments:

Post a Comment