Wednesday, January 8, 2014

0

You’re Mine [Part 1: Introduce Him, An extraordinary Boy]




    


                                                                                                                                                                     

Sebuah cerita dimulai pada satu titik yang lama kelamaan akan membentuk sebuah kisah panjang nan rumit namun pasti memiliki sebuah resolusi yang siap untuk ditemukan. Dan ini lah titik itu, sebuah titik terkecil dari segala titik yang pernah ada… dari sini semuanya dimulai…


***

SMA Tunas Bangsa, 2013


            “Cakka Dimas Putera Adhirajasa, lagi-lagi Pak Iqbal meminta kita untuk mewawancarai dia sebagai Student Of The Month bulan depan” kata Ify putus asa seraya melemparkan beberapa map diatas meja. Apa yang Ify lakukan itu kontan saja membuat teman-temannya yang lain sesama anggota Redaksi Sekolah sedikit kaget. Tapi mereka kaget bukan karena Ify barusan melempar map dengan cukup keras dihadapan mereka, mereka kaget karna lagi-lagi Pak Iqbal yang bertindak sebagai Pembina Redaksi Sekolah yang diketuai oleh Ify meminta mereka –entah untuk yang keberapa kalinya- mewawancarai Cakka sebagai Student Of The Month bulan depan.
            Cakka Dimas Putera Adhirajasa, siapa yang tidak mengenal sosok cowok satu itu? Dia adalah salah satu siswa yang paling yang berprestasi dalam bidang akademik ditengah-tengah kesibukannya mengurus ekskul basket. Kesibukannya di ekskul itu sama sekali tidak menghambat potensi akademik yang ia miliki, dan ia sangat amat berbeda dengan sahabat-sahabatnya yang lain. Beberapa kali ia sering mengikuti olimpiade international, dan beberapa kali juga ia berhasil memenangkan olimpiade itu, itulah mengapa Cakka menjadi sangat berpengaruh di SMA Tunas Bangsa ini. Selain prestasinya yang amat gilang-gemilang itu, Cakka juga tergabung dalam Gank D’CRAG, salah satu Gank paling popular di SMA Tunas Bangsa ini.
            Tapi diantara semua kelebihan yang cowok itu miliki, tentu saja ia memiliki sebuah titik kekurangan. Yang namanya Cakka Dimas Putera Adhirajasa ini adalah sosok cowok yang jarang sekali mengeluarkan suaranya kecuali didalam kelas. Didepan semua orang –kecuali didepan D’CRAG- seorang Cakka tidak akan berbicara jika ia merasa apa yang dibicarakan itu sama sekali tidak penting. Masalah lainnya adalah, Cakka ini adalah seorang yang Anti Publikasi, itulah mengapa, tiap kali Tim Redaksi Sekolah diminta untuk mewawancarai dia, selalu dan selalu saja gagal dan membuat Ify, Sang Pemimpin Redaksi Sekolah putus asa.
            “duuuhh… kenapa dia lagi dia lagi sih??” timpal Acha yang malah tidak digubris apapun oleh teman-temannya. Ify dan Shilla hanya diam saja, mereka tenggelam dalam lamunan mereka masing-masing.
            Suara pintu yang terbuka sedikit keras mengagetkan 3 cewek cantik yang tengah sibuk dengan fikiran mereka masing-masing itu. Agni, salah satu anggota Tim Redaksi Sekolah yang juga tergabung dalam Tim Basket Puteri SMA Tunas Bangsa ini tiba-tiba saja memasuki ruangan Redaksi dengan masih mengenakan kostum basketnya. Beberapa anak rambutnya yang sedikit terlepas dari kuncirannya membuat Gadis berkulit sedikit gelap itu semakin terlihat manis.
            “hey… hey… kalian semua kenapa? Kok mukanya ditekuk begitu?” Tanya Agni yang merasa sedikit heran melihat ekspresi wajah teman-temannya yang beda dari biasanya.
            Mereka semua tidak menjawab, Acha hanya menunjukan foto Cakka yang tertempel diatas map yang tadi dibawa oleh Ify. Darisana Agni bisa mengerti apa yang sedang terjadi, Pak Iqbal pasti menyuruh tim nya lagi untuk mewawancarai Makhluk es yang satu itu.
            Setelah terlihat berfikir lumayan lama, Agni melepaskan tasnya diatas kursi, ia lalu mengambil map itu dan membukanya. Beberapa saat kemudian, Agni menghela nafas panjangnya, ia menutup Map itu dengan sedikit kasar lalu melangkah keluar,
            “biar gue yang wawancarai dia”
            Kata Agni dingin seraya berjalan keluar dengan tatapan lurus. Ify, Shilla dan Acha saling menatap satu sama lain dengan pandangan tidak percaya.



***

            Setelah mencari sosok Cakka hampir disetiap tempat yang ada disekolah ini, Agni tidak juga menemuinya. Sudah setengah dari jam istirahat yang ia habiskan demi mencari makhluk es satu itu, tapi hingga sekarang hasilnya tetap nihil, tak ada hasil. Bahkan Agni juga tidak melihat penampakkan Gank D’CRAG yang menurut Agni hanyalah perkumpulan sekelompok cowok yang tidak berguna itu, kemana mereka? Tidak biasanya mereka menghilang seperti ditelan bumi seperti hari ini. Dan ekor mata Agni tahu-tahu menangkap sebuah penampakkan memuakkan tidak jauh dari tempat ia berdiri sekarang.
            Disana, disebrang lapangan basket, tepatnya dibawah pohon palem yang terdapat didepan kelas X, Agni dapat melihat dengan sangat jelas, Alvin –salah satu anggota Gank D’CRAG- tengah merayu seorang adik kelas berwajah imut yang Agni ketahui bernama Oik. Agni berkacak pinggang, ia lalu melangkah besar-besar menghampiri Play Boy yang sedang melancarkan aksinya itu.
            “ehem…” Agni berdehem sedikit keras. Alvin bersama ‘mangsa’ nya yang setengah takluk itu menoleh secara bersamaan kearah Agni. Alvin tersenyum lebar tanpa melepaskan genggaman tangannya dari tangan mungil milik Oik.
            “Cakka kemana?” Tanya Agni sedikit ketus,
            “wihiii…. Nggak biasanya nih nyariin Cakka. Ada apa?”
            “gue nggak mau ada urusan sama lo, sekarang mending jawab gue, dimana Cakka?” Tanya Agni sekali lagi dengan seringai tajamnya.
            “hahaha… santé Sister! Santé, selow… Cakka hari ini nggak masuk” jawab Alvin pada akhirnya. Daripada ia kena amukan Agni yang memang sudah menjadi musuh bebuyutannya sejak lama, Alvin lebih memilih menjawab pertanyaan Agni dengan segera.
            “jawab gitu aja lama banget lo!” bentak Agni dan membuat Alvin sedikit kaget. Agni lalu berbalik dan memilih hengkang dari tempat itu. Tepat ketika Agni berbalik dan melangkah pergi, Alvin langsung mengibas-ngibaskan kedua tangannya seolah-olah ia sedang mengusir seekor kucing yang sedang memangsa ikan didapur.
            “hus… hus.. hus… ganggu aja lo!!”
            Agni yang bisa menangkan dengan jalan perkataan Alvin barusan langsung berbalik. Masih dengan seringai tajamnya, Agni berjalan cepat-cepat kembali menghampiri kedua orang itu.
            “ngapain balik?” Tanya Alvin, tapi Agni tidak menjawab. Ia hanya menatap Oik dan Alvin secara bergantian dengan mata memicing. Tatapan mata Agnipun akhirnya terhenti diwajah Oik, Agni sedikit mencondongkan wajahnya kearah Oik lalu berbisik dengan suara yang sedikit keras hingga Alvin mendengarkan. Ya… Agni memang sengaja melakukan itu,
            “lo hati-hati aja! Baru tadi pagi gue ngeliat Alvin ngerayu Zevana, kalo lo nggak hati-hati, bisa kena lo sama dia”
            “eh.. eh… lo apa-apaan sih??” sebelum Alvin sempat menghentikan ulah Agni itu, Agni malah sudah pergi meninggalkan tempat itu dan tidak sekalipun menoleh kebelakang. Dalam hati ia merasa puas karna bisa mengerjai Alvin seperti ini.
            Oik menatap Alvin tajam, dan itu menandakan bahwa Oik sedang marah. Sialan! Alvin mengumpat dalam hati. Agni telah merusak semuanya, bahkan sedikit lagi Oik akan takluk padanya, tapi Gadis aneh yang menurut Alvin setengah jadi itu malah datang dan merusak semuanya.
            Alvin berfikir cepat. Mungkin sudah saatnya ia mengeluarkan jurus terakhirnya supaya cewek imut itu tetap takluk padanya. Alvin lalu mendekat, ia mengangkat kedua tangannya lalu memegang kedua sisi wajah Oik,
            “Sayang… aku bisa jelasin semuanya, aku… aku –“
            PLAK… sebuah tamparan mendarat dengan sempurna dipipi sebelah kanan Alvin. Alvin yang meringis kesakitan langsung melepaskan kedua tangannya dari wajah Oik, Alvin memegang pipi sebelah kananya yang terasa sedikit panas.
            “dasar buaya buntung!”
            “hey, gue bukan buaya buntung, gue Alvin anaknya Bokap Nyokap gue yang paling cakep”
            “gue nggak peduli! Dan gue nggak mau liat muka lo lagi, Kak…” sekali lagi Oik mendaratkan sebuah tamparan dipipi sebelah kiri Alvin, lalu setelahnya Oik melangkah pergi meninggalkan Alvin.
            “ZEVANA!!… o bukan, De… Dea… aduuhhh…. O… OKIII, aduuuhhh Siapa sih nama lo? Erghh…!!” Alvin berusaha memanggil Oik, tapi dalam sekejab saja ia malah melupakan namanya. Alvin mengacak rambutnya frustasi, ini semua gara-gara Agni. Awas saja nanti, Alvin akan membalas semuanya.
            “HAHAHAHAHA…..” Suara tawa 2 orang sahabatnya yang datang secara tiba-tiba langsung mengejutkan Alvin. Ia memegang dadanya lalu menatap benci kearah Gabriel dan Rio yang sedang tertawa puas seraya berjalan menghampirinya.
            Rupanya sedari tadi, Rio dan Gabriel bersembunyi dibalik pohom palem hingga mendengarkan semua apa yang telah terjadi disini, dan mereka merasa puas melihat Alvin menderita seperti ini. Padahal awalnya, Rio dan Gabriel menantang Alvin untuk bisa mejadikan Oik pacarnya dalam waktu sehari, tapi saat selangkah lagi Alvin menyelesaikan tantangan itu, Agni malah menghancurkan semuanya, dan alhasil sekarang Alvin gagal, dan itu membuatnya kesal.
            “wow hebat ya? Seorang Alvino Aryadinata, anak dari pemilik sekolah, gagal merayu seorang Adik kelas, dan ini baru pertama kalinya terjadi dalam sejarah” ucap Gabriel dengan nada mengejek sambil menepuk tangannya beberapa kali. Rio hanya mengangguk saja, menyetujui apa yang baru saja Gabriel ucapkan.
            “kayaknya lo harus pensiun nih jadi Play Boy” Gabriel merangkul pundak Alvin. Alvin berdecak kesal lalu dalam satu sentakan kuat ia menurunkan tangan Gabriel dari pundaknya.
            “gue nggak akan pensiun, catet tuh!!”
            “kegagalan lo tadi sudah cukup membuat pamor lo meredup, masa naklukin adik kelas aja lo nggak sanggup?”
            “terserah deh, pokoknya sekali gue bilang nggak ya nggak, ngerti kalian?” kata Alvin sedikit sinis. Gabriel tersenyum menyeriangi lalu mendekati Alvin lebih dekat lagi,
            “terus mau sampai kapan lo bakalan jadi play boy kayak gini? Mending kelas lo naik, lha ini? Udah bertahun-tahun meyandang predikat play boy, tapi kelasnya tetep aja sama, nggak pernah berubah, kelas apa Yo??” Gabriel berbalik dan melirik Rio yang saat itu sedang tersenyum licik.
            “kelas teri, hahahaha….”
            Pertanyaan yang Gabriel lemparkan barusan malah membuat Alvin mengingat seseorang dimasa lalunya. Alvin tersenyum simpul, ia menatap lurus kedepan, dan bayang-bayang wajah manis itu seakan menari-nari dalam ingatannya.
            “gue akan berhenti jadi play boy kalo dia kembali”
            Gabriel dan Rio saling menatap satu sama lain dengan pandangan bertanya. Dia? Dia siapa yang Alvin maksud?
            “DIA SIAPA??” Tanya Rio dan Gabriel serempak.
            “seseorang yang gue tunggu selama ini”
            “SIAPA?” Tanya Rio dan Gabriel –lagi-
            Tapi kali ini Alvin tidak menggubris pertanyaan kedua sahabatnya itu, ia melangkah pergi dengan senyum mengembang diwajah tampannya.



***

Berlin, 07.30 pm


            “Happy Birthday Rea… Happy birthday Rea… Happy birthday happy birthday… happy birthday Rea….” Dyna memasuki kamar Via seraya membawa sebuah kue ulang tahun yang diatasnya tertancap lilin berbentuk 16. Via yang mendengar ada suara seseorang yang bernyanyi langsung bangkit dari tidurnya, ia tersenyum kecil saat melihat Tantenya yang meski sudah berusia 35 tahun tapi tetap terlihat muda dan masih sangat cantik.
            “tiup lilinnya… tiup lilinnya… tiup lilinnya sekarang juga… sekarang juga… sekarang… ju… ga… Ayo lilinnya ditiup dulu…” Via tersenyum lebar, saat ia bersiap-siap akan meniup lilin, Dyna malah menghentikannya dengan cara sedikit menjauhkan kue itu dari Via.
            “eitss… make a wish dulu dong…” Via hanya mengangguk, ia memejamkan matanya untuk beberapa saat lantas membuat sebuh permohonan. Entah permohonan apa yang sedang ia buat. Tidak lama kemudian, Via kembali membuka kedua matanya lalu meniup lilin itu hingga padam. Dyna meletakkan kue itu diatas meja lalu merentangkan kedua tangannya hendak memeluk Via. Tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi, Via langsung membawa dirinya kedalam pelukan Dyna.
            “happy birthday ya, sayang…”
            “makasih Tante…”
            “oya, Re….” Dyna melepaskan pelukannya dari Via lalu memegang kedua pundak Via, ia menatap mata Via lekat-lekat seolah ingin menyampaikan sesuatu.
            “kenapa Tante?” Tanya Via skeptic. Dyna tersenyum kaku lalu membelai rambut sebahu milik Via.
            “Tante mau ngomong sesuatu sama kamu”
            “a.. apa Tante?”
            “minggu depan kita pulang ya?”
            “pu… pulang kemana?”
            “ke Indonesia”
            Jawaban dari Dyna itu kontan saja membuat dada Via terasa bergejolak. Pulang ke Indonesia? Itu berarti ia akan membuka kembali luka lamanya yang bahkan hingga detik ini belum menemui obatnya. Apa Via sanggup kembali ke Indonesia setelah kejadian demi kejadian memilukan yang ia alami 4 tahun yang lalu? Apa Via sanggup jika suatu saat ia akan bertemu kembali dengan Papa nya dan mengulang semua masa lalu yang kelam itu? Via menghela nafas beratnya lalu membuang wajahnya kearah jendela. Entahlah, Via tidak harus menjawab apa. Disatu sisi ia ingin tetap tinggal di Kota Berlin, tapi disisi lain ia sama sekali tidak bisa menampik kenyataan bahwa ia dan Tante nya tidak mungkin tinggal untuk selamanya disini, mereka harus pulang. Karena kehidupan mereka yang sesungguhnya bukanlah disini, ini bukan rumah mereka, dan kini sudah saatnya bagi mereka untuk kembali ke tanah air dan keluar dari persembunyian mereka selama ini.
            Dyna yang bisa membaca dengan sangat jelas air muka Via kini mulai mengerti apa yang sebenarnya tengah difikirkan oleh Via. Dyna tersenyum maklum, sebelum menyampaikan keputusan ini pada Via, Dyna sudah memikirkan betul-betul apa konsekuensi yang nantinya akan ia hadapi, tapi Dyna merasa sudah siap dengan semuanya, dan ia sudah memperhitungkan resiko apa yang nanti akan ia hadapi bersama Via.
            Dyna tersenyum tenang, ia meraih kedua tangan Via lalu menggenggamnya lembut, berusaha memberikannya kekuatan agar selau kuat dan tegar seperti apa yang ia ajarkan selama ini.
            “sudah saatnya Andrea! Kamu harus ingat, bahwa saat ini kamu sedang dalam masalah, dan kamu harus menyelesaikan masalah ini dengan cara apapun. Tante tidak mendidik kamu untuk menjadi seorang gadis yang cengeng, tapi Tante selalu mendidikan kamu untuk menjadi seorang gadis yang kuat dan selalu menang dalam segala hal. Kamu harus selesaikan masalah kamu dengan Papa kamu…”
            “tapi bagi Rea, masalah Rea sama Papa itu udah selesai, Tante, dan bagi Rea, Rea sudah tidak punya Papa lagi, Papa Rea sudah mati” sebulir air mata Via terjatuh dan membasahi pipi chubbynya. Dyna kembali tersenyum lantas menyeka air mata keponakan kesayangannya itu.
            “Tante nggak pernah didik kamu untuk menjadi seorang pedendam, dan Tante yakin almarhum Mama kamu setuju dengan Tante. Maafkan kesalahan Papa kamu dan berdamailah dengan kenyataan”
            “tapi Papa udah nggak sayang lagi sama aku, Tante, kalo Papa emang sayang sama aku dia pasti akan nyariin aku Tante, tapi sekarang coba lihat apa yang terjadi? Papa nggak pernah cariin aku…”
            “tapi kita nggak pernah tau apa yang terjadi sama Papa kamu disana, Rea. Dan kita harus kembali untuk mengetahui keadaannya sekarang, dia mungkin sudah nyari kamu kemana-mana, tapi dia nggak pernah tau kalo kamu bersembunyi disini. Udah saatnya untuk kita keluar dari persembunyian kita Rea, udah saatnya kita hadapi semua kenyataan yang ada, kita tidak mungkin terus-terusan menghindar seperti ini, Via…”
            “tapi Tante –“
            “Tante mohon, please…”
            Melihat wajah memelas Tantenya, Via akhirnya luluh dan menyerah. Dengan sangat berat hati ia mengangguk, menyetujui permintaan Tantenya. Ia akan pulang ke Indonesia dan membuka kembali semua luka lamanya. Via menutup kedua matanya, entah kenapa hatinya terasa begitu pedih. Sanggupkah ia menghadapi semuanya?


***

Adhirajasa’s House, 19.00 WIB


            Pria bertubuh jangkung itu berdiri didepan ruang kerja Ayahnya sambil mengintip apa yang tengah Ayahnya lakukan didalam sana dari celah pintu yang sedikit terbuka. Setiap tanggal 14 Februari disetiap tahunnya, selama 4 tahun terakhir ini, Ayahnya selalu mengurung diri selama seharian penuh didalam ruang kerjanya sambil melihat sebuah frame foto berukuran 5R. Foto itu adalah gambar Puteri semata wayangnya yang menghilang 4 tahun yang lalu, dan hingga detik ini belum bisa ia temukan meskipun ia telah mencari kehampir seluruh tempat. Ia mengerti bahwa Ayahnya sangat merindukan Adik tirinya itu, bahkan ia bisa merasakan apa yang Ayahnya rasakan, karna pada kenyataannya, Pria bertubuh Jangkung itu juga merasakan apa yang saat ini Ayahnya rasakan. Hidup ditengah-tengah kerinduan yang menjerat selama hampir 4 tahun lamanya sangatlah tidak mudah
            Dia –Cakka- menghela nafas beratnya. Ia lalu berbalik dan meninggalkan ruang kerja Ayahnya dengan perasaan tercabik-cabik, ia sakit tiap kali mendapati Ayahnya yang apabila dihadapan semua orang selalu berusaha terlihat tegar dan kuat, tapi dibalik tembok kemunafikkan yang selama beberapa tahun terakhir ini ia bangun sendiri, ia tidak lebih dari sosok seorang Ayah yang merasa tidak berdaya karna tidak bisa mempertahankan Puteri kesayangannya. Ya… Ayahnya sangat lemah dan tidak sekuat seperti apa yang orang-orang lihat selama ini.
            Cakka berjalan gontai, tapi tiba-tiba saja langkahnya terhenti didepan sebuah kamar yang dipintunya bertuliskan ‘Rea Kingdom’. Cakka tersenyum kecil, ia terlihat berfikir sejenak, dan beberapa detik kemudian, Cakka melangkah mendekati kamar itu, tangan kanannya terangkat lalu meraih kenop pintu. Sekali lagi ia menghela nafas beratnya, dengan perasaan menggebu-gebu, Cakka menarik kenop pintu itu hingga menampakkan seluruh bagian dalam kamar milik Rea kecil yang bernuansa serba pink itu.
            Cakka lalu melangkah, memasuki kamar Rea lebih dalam lagi. Entah kenapa Cakka merasa tidak pernah bosan tiap kali memasuki kamar itu, meskipun hampir setiap malam Cakka selalu memasuki kamar itu. Dan satu perasaan yang selalu ia rasakan tiap kali menginjakkan kaki didalam kamar itu; sebuah perasaan semarak dan bahagia, entah untuk alas an apa.
            Cakka duduk pinggir ranjang milik Rea, ia meraih boneka Winnie The Pooh yang tergeletak sembarang diatas kasur bersprei tokoh kartun Princess itu. Cakka melihat boneka itu sejenak lalu memeluknya erat. Dan tiba-tiba saja Cakka merasakan kedua matanya mulai memanas, entahlah ia seperti ingin menangis.
            Mata Cakka tiba-tiba saja tertuju pada sebuah Frame foto berukuran 4R, dalam foto itu, tampak Rea kecil yang sedang tertawa lepas sambil memeluk boneka tedy bear kesayangannya. Cakka tersenyum miris. Ia memejamkan matanya untuk beberapa lama lalu membuat janji dalam hati,

            “aku janji Rea, suatu saat nanti aku akan bawa kamu pulang kesini, kerumah kamu. Aku janji aku mengembalikan semua yang udah aku ambil dari kamu, semuanya tanpa terkecuali… aku berjanji Rea….”




                                    BERSAMBUNG…
           

0 comments:

Post a Comment