Sebuah
cerita dimulai pada satu titik yang lama kelamaan akan membentuk sebuah kisah
panjang nan rumit namun pasti memiliki sebuah resolusi yang siap untuk
ditemukan. Dan ini lah titik itu, sebuah titik terkecil dari segala titik yang
pernah ada… dari sini semuanya dimulai…
***
SMA
Tunas Bangsa, 2013
“Cakka
Dimas Putera Adhirajasa, lagi-lagi Pak Iqbal meminta kita untuk mewawancarai
dia sebagai Student Of The Month bulan depan” kata Ify putus asa seraya
melemparkan beberapa map diatas meja. Apa yang Ify lakukan itu kontan saja
membuat teman-temannya yang lain sesama anggota Redaksi Sekolah sedikit kaget.
Tapi mereka kaget bukan karena Ify barusan melempar map dengan cukup keras
dihadapan mereka, mereka kaget karna lagi-lagi Pak Iqbal yang bertindak sebagai
Pembina Redaksi Sekolah yang diketuai oleh Ify meminta mereka –entah untuk yang
keberapa kalinya- mewawancarai Cakka sebagai Student Of The Month bulan depan.
Cakka
Dimas Putera Adhirajasa, siapa yang tidak mengenal sosok cowok satu itu? Dia
adalah salah satu siswa yang paling yang berprestasi dalam bidang akademik
ditengah-tengah kesibukannya mengurus ekskul basket. Kesibukannya di ekskul itu
sama sekali tidak menghambat potensi akademik yang ia miliki, dan ia sangat
amat berbeda dengan sahabat-sahabatnya yang lain. Beberapa kali ia sering
mengikuti olimpiade international, dan beberapa kali juga ia berhasil
memenangkan olimpiade itu, itulah mengapa Cakka menjadi sangat berpengaruh di
SMA Tunas Bangsa ini. Selain prestasinya yang amat gilang-gemilang itu, Cakka
juga tergabung dalam Gank D’CRAG, salah satu Gank paling popular di SMA Tunas
Bangsa ini.
Tapi
diantara semua kelebihan yang cowok itu miliki, tentu saja ia memiliki sebuah
titik kekurangan. Yang namanya Cakka Dimas Putera Adhirajasa ini adalah sosok
cowok yang jarang sekali mengeluarkan suaranya kecuali didalam kelas. Didepan
semua orang –kecuali didepan D’CRAG- seorang Cakka tidak akan berbicara jika ia
merasa apa yang dibicarakan itu sama sekali tidak penting. Masalah lainnya
adalah, Cakka ini adalah seorang yang Anti Publikasi, itulah mengapa, tiap kali
Tim Redaksi Sekolah diminta untuk mewawancarai dia, selalu dan selalu saja gagal
dan membuat Ify, Sang Pemimpin Redaksi Sekolah putus asa.
“duuuhh…
kenapa dia lagi dia lagi sih??” timpal Acha yang malah tidak digubris apapun
oleh teman-temannya. Ify dan Shilla hanya diam saja, mereka tenggelam dalam
lamunan mereka masing-masing.
Suara
pintu yang terbuka sedikit keras mengagetkan 3 cewek cantik yang tengah sibuk
dengan fikiran mereka masing-masing itu. Agni, salah satu anggota Tim Redaksi
Sekolah yang juga tergabung dalam Tim Basket Puteri SMA Tunas Bangsa ini
tiba-tiba saja memasuki ruangan Redaksi dengan masih mengenakan kostum
basketnya. Beberapa anak rambutnya yang sedikit terlepas dari kuncirannya
membuat Gadis berkulit sedikit gelap itu semakin terlihat manis.
“hey…
hey… kalian semua kenapa? Kok mukanya ditekuk begitu?” Tanya Agni yang merasa
sedikit heran melihat ekspresi wajah teman-temannya yang beda dari biasanya.
Mereka
semua tidak menjawab, Acha hanya menunjukan foto Cakka yang tertempel diatas
map yang tadi dibawa oleh Ify. Darisana Agni bisa mengerti apa yang sedang
terjadi, Pak Iqbal pasti menyuruh tim nya lagi untuk mewawancarai Makhluk es
yang satu itu.
Setelah
terlihat berfikir lumayan lama, Agni melepaskan tasnya diatas kursi, ia lalu
mengambil map itu dan membukanya. Beberapa saat kemudian, Agni menghela nafas
panjangnya, ia menutup Map itu dengan sedikit kasar lalu melangkah keluar,
“biar
gue yang wawancarai dia”
Kata
Agni dingin seraya berjalan keluar dengan tatapan lurus. Ify, Shilla dan Acha
saling menatap satu sama lain dengan pandangan tidak percaya.
***
Setelah
mencari sosok Cakka hampir disetiap tempat yang ada disekolah ini, Agni tidak
juga menemuinya. Sudah setengah dari jam istirahat yang ia habiskan demi
mencari makhluk es satu itu, tapi hingga sekarang hasilnya tetap nihil, tak ada
hasil. Bahkan Agni juga tidak melihat penampakkan Gank D’CRAG yang menurut Agni
hanyalah perkumpulan sekelompok cowok yang tidak berguna itu, kemana mereka?
Tidak biasanya mereka menghilang seperti ditelan bumi seperti hari ini. Dan
ekor mata Agni tahu-tahu menangkap sebuah penampakkan memuakkan tidak jauh dari
tempat ia berdiri sekarang.
Disana,
disebrang lapangan basket, tepatnya dibawah pohon palem yang terdapat didepan
kelas X, Agni dapat melihat dengan sangat jelas, Alvin –salah satu anggota Gank
D’CRAG- tengah merayu seorang adik kelas berwajah imut yang Agni ketahui
bernama Oik. Agni berkacak pinggang, ia lalu melangkah besar-besar menghampiri
Play Boy yang sedang melancarkan aksinya itu.
“ehem…”
Agni berdehem sedikit keras. Alvin bersama ‘mangsa’ nya yang setengah takluk
itu menoleh secara bersamaan kearah Agni. Alvin tersenyum lebar tanpa
melepaskan genggaman tangannya dari tangan mungil milik Oik.
“Cakka
kemana?” Tanya Agni sedikit ketus,
“wihiii….
Nggak biasanya nih nyariin Cakka. Ada apa?”
“gue
nggak mau ada urusan sama lo, sekarang mending jawab gue, dimana Cakka?” Tanya
Agni sekali lagi dengan seringai tajamnya.
“hahaha…
santé Sister! Santé, selow… Cakka hari ini nggak masuk” jawab Alvin pada
akhirnya. Daripada ia kena amukan Agni yang memang sudah menjadi musuh
bebuyutannya sejak lama, Alvin lebih memilih menjawab pertanyaan Agni dengan
segera.
“jawab
gitu aja lama banget lo!” bentak Agni dan membuat Alvin sedikit kaget. Agni
lalu berbalik dan memilih hengkang dari tempat itu. Tepat ketika Agni berbalik
dan melangkah pergi, Alvin langsung mengibas-ngibaskan kedua tangannya
seolah-olah ia sedang mengusir seekor kucing yang sedang memangsa ikan didapur.
“hus…
hus.. hus… ganggu aja lo!!”
Agni
yang bisa menangkan dengan jalan perkataan Alvin barusan langsung berbalik.
Masih dengan seringai tajamnya, Agni berjalan cepat-cepat kembali menghampiri
kedua orang itu.
“ngapain
balik?” Tanya Alvin, tapi Agni tidak menjawab. Ia hanya menatap Oik dan Alvin
secara bergantian dengan mata memicing. Tatapan mata Agnipun akhirnya terhenti
diwajah Oik, Agni sedikit mencondongkan wajahnya kearah Oik lalu berbisik
dengan suara yang sedikit keras hingga Alvin mendengarkan. Ya… Agni memang sengaja
melakukan itu,
“lo
hati-hati aja! Baru tadi pagi gue ngeliat Alvin ngerayu Zevana, kalo lo nggak
hati-hati, bisa kena lo sama dia”
“eh..
eh… lo apa-apaan sih??” sebelum Alvin sempat menghentikan ulah Agni itu, Agni
malah sudah pergi meninggalkan tempat itu dan tidak sekalipun menoleh
kebelakang. Dalam hati ia merasa puas karna bisa mengerjai Alvin seperti ini.
Oik
menatap Alvin tajam, dan itu menandakan bahwa Oik sedang marah. Sialan! Alvin
mengumpat dalam hati. Agni telah merusak semuanya, bahkan sedikit lagi Oik akan
takluk padanya, tapi Gadis aneh yang menurut Alvin setengah jadi itu malah
datang dan merusak semuanya.
Alvin
berfikir cepat. Mungkin sudah saatnya ia mengeluarkan jurus terakhirnya supaya
cewek imut itu tetap takluk padanya. Alvin lalu mendekat, ia mengangkat kedua
tangannya lalu memegang kedua sisi wajah Oik,
“Sayang…
aku bisa jelasin semuanya, aku… aku –“
PLAK…
sebuah tamparan mendarat dengan sempurna dipipi sebelah kanan Alvin. Alvin yang
meringis kesakitan langsung melepaskan kedua tangannya dari wajah Oik, Alvin
memegang pipi sebelah kananya yang terasa sedikit panas.
“dasar
buaya buntung!”
“hey,
gue bukan buaya buntung, gue Alvin anaknya Bokap Nyokap gue yang paling cakep”
“gue
nggak peduli! Dan gue nggak mau liat muka lo lagi, Kak…” sekali lagi Oik
mendaratkan sebuah tamparan dipipi sebelah kiri Alvin, lalu setelahnya Oik melangkah
pergi meninggalkan Alvin.
“ZEVANA!!…
o bukan, De… Dea… aduuhhh…. O… OKIII, aduuuhhh Siapa sih nama lo? Erghh…!!”
Alvin berusaha memanggil Oik, tapi dalam sekejab saja ia malah melupakan
namanya. Alvin mengacak rambutnya frustasi, ini semua gara-gara Agni. Awas saja
nanti, Alvin akan membalas semuanya.
“HAHAHAHAHA…..”
Suara tawa 2 orang sahabatnya yang datang secara tiba-tiba langsung mengejutkan
Alvin. Ia memegang dadanya lalu menatap benci kearah Gabriel dan Rio yang
sedang tertawa puas seraya berjalan menghampirinya.
Rupanya
sedari tadi, Rio dan Gabriel bersembunyi dibalik pohom palem hingga
mendengarkan semua apa yang telah terjadi disini, dan mereka merasa puas
melihat Alvin menderita seperti ini. Padahal awalnya, Rio dan Gabriel menantang
Alvin untuk bisa mejadikan Oik pacarnya dalam waktu sehari, tapi saat selangkah
lagi Alvin menyelesaikan tantangan itu, Agni malah menghancurkan semuanya, dan
alhasil sekarang Alvin gagal, dan itu membuatnya kesal.
“wow
hebat ya? Seorang Alvino Aryadinata, anak dari pemilik sekolah, gagal merayu
seorang Adik kelas, dan ini baru pertama kalinya terjadi dalam sejarah” ucap
Gabriel dengan nada mengejek sambil menepuk tangannya beberapa kali. Rio hanya
mengangguk saja, menyetujui apa yang baru saja Gabriel ucapkan.
“kayaknya
lo harus pensiun nih jadi Play Boy” Gabriel merangkul pundak Alvin. Alvin
berdecak kesal lalu dalam satu sentakan kuat ia menurunkan tangan Gabriel dari
pundaknya.
“gue
nggak akan pensiun, catet tuh!!”
“kegagalan
lo tadi sudah cukup membuat pamor lo meredup, masa naklukin adik kelas aja lo
nggak sanggup?”
“terserah
deh, pokoknya sekali gue bilang nggak ya nggak, ngerti kalian?” kata Alvin
sedikit sinis. Gabriel tersenyum menyeriangi lalu mendekati Alvin lebih dekat
lagi,
“terus
mau sampai kapan lo bakalan jadi play boy kayak gini? Mending kelas lo naik,
lha ini? Udah bertahun-tahun meyandang predikat play boy, tapi kelasnya tetep
aja sama, nggak pernah berubah, kelas apa Yo??” Gabriel berbalik dan melirik
Rio yang saat itu sedang tersenyum licik.
“kelas
teri, hahahaha….”
Pertanyaan
yang Gabriel lemparkan barusan malah membuat Alvin mengingat seseorang dimasa
lalunya. Alvin tersenyum simpul, ia menatap lurus kedepan, dan bayang-bayang
wajah manis itu seakan menari-nari dalam ingatannya.
“gue
akan berhenti jadi play boy kalo dia kembali”
Gabriel
dan Rio saling menatap satu sama lain dengan pandangan bertanya. Dia? Dia siapa
yang Alvin maksud?
“DIA
SIAPA??” Tanya Rio dan Gabriel serempak.
“seseorang
yang gue tunggu selama ini”
“SIAPA?”
Tanya Rio dan Gabriel –lagi-
Tapi
kali ini Alvin tidak menggubris pertanyaan kedua sahabatnya itu, ia melangkah
pergi dengan senyum mengembang diwajah tampannya.
***
Berlin,
07.30 pm
“Happy
Birthday Rea… Happy birthday Rea… Happy birthday happy birthday… happy birthday
Rea….” Dyna memasuki kamar Via seraya membawa sebuah kue ulang tahun yang
diatasnya tertancap lilin berbentuk 16. Via yang mendengar ada suara seseorang
yang bernyanyi langsung bangkit dari tidurnya, ia tersenyum kecil saat melihat
Tantenya yang meski sudah berusia 35 tahun tapi tetap terlihat muda dan masih
sangat cantik.
“tiup
lilinnya… tiup lilinnya… tiup lilinnya sekarang juga… sekarang juga… sekarang…
ju… ga… Ayo lilinnya ditiup dulu…” Via tersenyum lebar, saat ia bersiap-siap
akan meniup lilin, Dyna malah menghentikannya dengan cara sedikit menjauhkan
kue itu dari Via.
“eitss…
make a wish dulu dong…” Via hanya mengangguk, ia memejamkan matanya untuk
beberapa saat lantas membuat sebuh permohonan. Entah permohonan apa yang sedang
ia buat. Tidak lama kemudian, Via kembali membuka kedua matanya lalu meniup
lilin itu hingga padam. Dyna meletakkan kue itu diatas meja lalu merentangkan
kedua tangannya hendak memeluk Via. Tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi,
Via langsung membawa dirinya kedalam pelukan Dyna.
“happy
birthday ya, sayang…”
“makasih
Tante…”
“oya,
Re….” Dyna melepaskan pelukannya dari Via lalu memegang kedua pundak Via, ia
menatap mata Via lekat-lekat seolah ingin menyampaikan sesuatu.
“kenapa
Tante?” Tanya Via skeptic. Dyna tersenyum kaku lalu membelai rambut sebahu
milik Via.
“Tante
mau ngomong sesuatu sama kamu”
“a..
apa Tante?”
“minggu
depan kita pulang ya?”
“pu…
pulang kemana?”
“ke
Indonesia”
Jawaban
dari Dyna itu kontan saja membuat dada Via terasa bergejolak. Pulang ke
Indonesia? Itu berarti ia akan membuka kembali luka lamanya yang bahkan hingga
detik ini belum menemui obatnya. Apa Via sanggup kembali ke Indonesia setelah
kejadian demi kejadian memilukan yang ia alami 4 tahun yang lalu? Apa Via
sanggup jika suatu saat ia akan bertemu kembali dengan Papa nya dan mengulang
semua masa lalu yang kelam itu? Via menghela nafas beratnya lalu membuang
wajahnya kearah jendela. Entahlah, Via tidak harus menjawab apa. Disatu sisi ia
ingin tetap tinggal di Kota Berlin, tapi disisi lain ia sama sekali tidak bisa
menampik kenyataan bahwa ia dan Tante nya tidak mungkin tinggal untuk selamanya
disini, mereka harus pulang. Karena kehidupan mereka yang sesungguhnya bukanlah
disini, ini bukan rumah mereka, dan kini sudah saatnya bagi mereka untuk
kembali ke tanah air dan keluar dari persembunyian mereka selama ini.
Dyna
yang bisa membaca dengan sangat jelas air muka Via kini mulai mengerti apa yang
sebenarnya tengah difikirkan oleh Via. Dyna tersenyum maklum, sebelum
menyampaikan keputusan ini pada Via, Dyna sudah memikirkan betul-betul apa
konsekuensi yang nantinya akan ia hadapi, tapi Dyna merasa sudah siap dengan
semuanya, dan ia sudah memperhitungkan resiko apa yang nanti akan ia hadapi
bersama Via.
Dyna
tersenyum tenang, ia meraih kedua tangan Via lalu menggenggamnya lembut,
berusaha memberikannya kekuatan agar selau kuat dan tegar seperti apa yang ia
ajarkan selama ini.
“sudah
saatnya Andrea! Kamu harus ingat, bahwa saat ini kamu sedang dalam masalah, dan
kamu harus menyelesaikan masalah ini dengan cara apapun. Tante tidak mendidik
kamu untuk menjadi seorang gadis yang cengeng, tapi Tante selalu mendidikan
kamu untuk menjadi seorang gadis yang kuat dan selalu menang dalam segala hal. Kamu
harus selesaikan masalah kamu dengan Papa kamu…”
“tapi
bagi Rea, masalah Rea sama Papa itu udah selesai, Tante, dan bagi Rea, Rea
sudah tidak punya Papa lagi, Papa Rea sudah mati” sebulir air mata Via terjatuh
dan membasahi pipi chubbynya. Dyna kembali tersenyum lantas menyeka air mata
keponakan kesayangannya itu.
“Tante
nggak pernah didik kamu untuk menjadi seorang pedendam, dan Tante yakin
almarhum Mama kamu setuju dengan Tante. Maafkan kesalahan Papa kamu dan
berdamailah dengan kenyataan”
“tapi
Papa udah nggak sayang lagi sama aku, Tante, kalo Papa emang sayang sama aku
dia pasti akan nyariin aku Tante, tapi sekarang coba lihat apa yang terjadi?
Papa nggak pernah cariin aku…”
“tapi
kita nggak pernah tau apa yang terjadi sama Papa kamu disana, Rea. Dan kita
harus kembali untuk mengetahui keadaannya sekarang, dia mungkin sudah nyari kamu
kemana-mana, tapi dia nggak pernah tau kalo kamu bersembunyi disini. Udah saatnya
untuk kita keluar dari persembunyian kita Rea, udah saatnya kita hadapi semua
kenyataan yang ada, kita tidak mungkin terus-terusan menghindar seperti ini,
Via…”
“tapi
Tante –“
“Tante
mohon, please…”
Melihat
wajah memelas Tantenya, Via akhirnya luluh dan menyerah. Dengan sangat berat
hati ia mengangguk, menyetujui permintaan Tantenya. Ia akan pulang ke Indonesia
dan membuka kembali semua luka lamanya. Via menutup kedua matanya, entah kenapa
hatinya terasa begitu pedih. Sanggupkah ia menghadapi semuanya?
***
Adhirajasa’s
House, 19.00 WIB
Pria
bertubuh jangkung itu berdiri didepan ruang kerja Ayahnya sambil mengintip apa
yang tengah Ayahnya lakukan didalam sana dari celah pintu yang sedikit terbuka.
Setiap tanggal 14 Februari disetiap tahunnya, selama 4 tahun terakhir ini,
Ayahnya selalu mengurung diri selama seharian penuh didalam ruang kerjanya
sambil melihat sebuah frame foto berukuran 5R. Foto itu adalah gambar Puteri
semata wayangnya yang menghilang 4 tahun yang lalu, dan hingga detik ini belum
bisa ia temukan meskipun ia telah mencari kehampir seluruh tempat. Ia mengerti
bahwa Ayahnya sangat merindukan Adik tirinya itu, bahkan ia bisa merasakan apa
yang Ayahnya rasakan, karna pada kenyataannya, Pria bertubuh Jangkung itu juga
merasakan apa yang saat ini Ayahnya rasakan. Hidup ditengah-tengah kerinduan
yang menjerat selama hampir 4 tahun lamanya sangatlah tidak mudah
Dia
–Cakka- menghela nafas beratnya. Ia lalu berbalik dan meninggalkan ruang kerja
Ayahnya dengan perasaan tercabik-cabik, ia sakit tiap kali mendapati Ayahnya
yang apabila dihadapan semua orang selalu berusaha terlihat tegar dan kuat,
tapi dibalik tembok kemunafikkan yang selama beberapa tahun terakhir ini ia
bangun sendiri, ia tidak lebih dari sosok seorang Ayah yang merasa tidak
berdaya karna tidak bisa mempertahankan Puteri kesayangannya. Ya… Ayahnya
sangat lemah dan tidak sekuat seperti apa yang orang-orang lihat selama ini.
Cakka
berjalan gontai, tapi tiba-tiba saja langkahnya terhenti didepan sebuah kamar
yang dipintunya bertuliskan ‘Rea Kingdom’. Cakka tersenyum
kecil, ia terlihat berfikir sejenak, dan beberapa detik kemudian, Cakka melangkah
mendekati kamar itu, tangan kanannya terangkat lalu meraih kenop pintu. Sekali lagi
ia menghela nafas beratnya, dengan perasaan menggebu-gebu, Cakka menarik kenop
pintu itu hingga menampakkan seluruh bagian dalam kamar milik Rea kecil yang
bernuansa serba pink itu.
Cakka
lalu melangkah, memasuki kamar Rea lebih dalam lagi. Entah kenapa Cakka merasa
tidak pernah bosan tiap kali memasuki kamar itu, meskipun hampir setiap malam
Cakka selalu memasuki kamar itu. Dan satu perasaan yang selalu ia rasakan tiap
kali menginjakkan kaki didalam kamar itu; sebuah perasaan semarak dan bahagia,
entah untuk alas an apa.
Cakka
duduk pinggir ranjang milik Rea, ia meraih boneka Winnie The Pooh yang
tergeletak sembarang diatas kasur bersprei tokoh kartun Princess itu. Cakka
melihat boneka itu sejenak lalu memeluknya erat. Dan tiba-tiba saja Cakka
merasakan kedua matanya mulai memanas, entahlah ia seperti ingin menangis.
Mata
Cakka tiba-tiba saja tertuju pada sebuah Frame foto berukuran 4R, dalam foto
itu, tampak Rea kecil yang sedang tertawa lepas sambil memeluk boneka tedy bear
kesayangannya. Cakka tersenyum miris. Ia memejamkan matanya untuk beberapa lama
lalu membuat janji dalam hati,
“aku
janji Rea, suatu saat nanti aku akan bawa kamu pulang kesini, kerumah kamu. Aku
janji aku mengembalikan semua yang udah aku ambil dari kamu, semuanya tanpa
terkecuali… aku berjanji Rea….”
BERSAMBUNG…



0 comments:
Post a Comment