Wednesday, January 8, 2014

0

You're Mine [PROLOG]









Adhirajasa’s House, 2007

                Bagai menerima sebuah hunusan pedang yang sangat tajam tepat diulu hatinya, itu lah yang Dyra rasakan manakala mendengar semua penjelasan suaminya itu. Bahkan Dyra sudah sama sekali enggan menghiraukan rasa bersalah serta rasa berdosa yang entah beberapa kali disampaikan oleh suaminya. Hatinya sudah terlanjur sakit, bahkan untuk mengeluarkan sepatah katapun rasanya begitu sulit, lidah beserta seluruh bagian tubuhnya –tanpa terkecuali- seakan tidak berfungsi lagi.
            Isteri mana yang tidak terluka, jika seorang Suami yang menemani hidupnya selama 10 tahun lamanya ternyata memiliki sebuah rahasia besar yang bahkan ia sembunyikan dengan sangat rapi dan bersih, Isteri mana yang tidak terluka, jika ternyata, seorang suami yang selama ini ia anggap seperti seorang Malaikat tanpa sayap yang dikirimkan oleh Tuhan ternyata membohonginya selama 10 tahun lamanya bahkan tanpa rasa kasihan sedikitpun. Dyra menghirup udara yang ada disekitarnya, berusaha memenuhi ruang didadanya yang entah kenapa sejak tadi terasa hampa, tapi sulit. Bahkan untuk menghirup udarapun, ia harus berusaha keras, apa begini cara suaminya mematikannya secara perlahan?
            “Sivia Andrea Puteri Adhirajasa, mulai detik ini, aku akan menghapus nama belakang Adhirajasa dari nama belakang Puteriku, dan kamu atau siapapun tidak akan pernah bisa menghentikanku, dan mulai detik ini juga, aku dan Rea sudah bukan siapa-siapa mu lagi” susah payah Dyra akhirnya berucap, ia berusaha keras menahan Kristal-kristal bening itu agar tidak ada setitikpun yang menetes keluar membasahi wajahnya. Air matanya terlalu berharga untuk ia keluarkan dihadapan Pria pembohong ini.
            Dan Dyra tersenyum sinis ketika melihat seorang Wanita muda yang terlihat sedikit lusuh berdiri diambang pintu rumahnya seraya memeluk anak laki-lakinya yang seumuran dengan anak perempuannya sekarang. Dyra meyakini bahwa anak laki-laki itu adalah anak hasil hubungan gelap suaminya bersama Wanita itu selama 10 tahun terakhir ini, dan sekarang sudah jelas, suaminya lebih memilih wanita simpanannya daripada dirinya yang bahkan mengenal suaminya selama separuh hidupnya.
            Dengan sangat tenang dan anggun, Dyra bangkit dari Sofa yang sejak tadi ia duduki, ia bahkan melewati suaminya begitu saja yang duduk bersimpuh dihadapannya tanpa sedikitpun melihat wajah sang suami. Dyra berjalan perlahan kearah tangga, disana Puteri kecilnya yang tengah memeluk boneka tedy bear tengah menangis terisak. Ia masih terlalu kecil untuk menerima kenyataan sepahit ini.
            Dyra berlutut dihadapan Puterinya, ia membelai lembut wajah Rea lalu menyeka air matanya. Sebisa mungkin Dyra berusaha menenangkan Rea.
            “Rea ikut sama Mama, ya? Jangan tinggalin Mama, oke?” Rea mengangguk beberapa kali lalu memeluk Mama nya dengan sangat erat. Isakkan Rea kembali pecah dalam dekapan hangat Mamanya.
            Dyra lalu menggendong Puterinya, ia meraih tas pakaian yang tadi disiapkan oleh salah satu asisten rumah tangganya dibawah perintahnya langsung. Dan dengan sangat tenang, Dyra berjalan keluar rumah bahkan tanpa sedikitpun menghiraukan perkataan suaminya yang memintanya untuk tidak membawa Rea. Dyra memilih untuk tetap bergeming. Rea adalah hidupnya, dan setelah merenggut semua kebahagiaannya, apa suaminya juga ingin merebut Rea darinya? Dyra tidak akan pernah membiarkannya.
            Rea yang berada dalam gendongan Sang Mama tanpa sengaja melihat kearah saudara tirinya yang ketika itu ternyata sedang memperhatikannya. Tatapan matanya tidak juga terlepas dari Rea bahkan sampai Rea dan Mamanya menghilang ditengah kegelapan malam.

            ‘REA…’ Gumam anak laki-laki kecil tadi yang kini sudah melepaskan diri dari pelukan sang Ibu.



***

            Dyra dan Puterinya berjalan tanpa tahu harus melangkah kemana. Saat ini system kerja otak Dyra benar-benar lumpuh hingga tidak bisa membuatnya berfikir. Saat ini ia hanya ingin melangkah, kemana langkah kakinya membawa, disana ia akan berhenti.
Tiba-tiba Dyra merasakan rasa sakit dibagian ginjalnya, wajahnya mulai pucat pasi, dan keringat sebesar biji jagung mulai membingkai wajah cantiknya. Tidak, Dyra tidak ingin penyakit sialan itu kambuh disini. Dyra harus kuat demi Puteri semata wayangnya, Rea.
            “Mama kenapa?” Tanya Rea yang mulai merasa bahwa ada yang tidak beres dengan keadaan Mamanya. Dyra tersenyum lalu menggeleng perlahan,
            “nggak sayang, Mama nggak –“
            Dan Bruuk! Dyra jatuh pingsan dipinggir jalan tepat dihadapan Rea. Rea yang mulai panic langsung duduk bersimpuh disamping tubuh Mamanya yang sudah ambruk. Rea menangis sejadi-jadinya seraya menyebut nama sang Mama berkali-kali. Tempat itu benar-benar sepi, bahkan tidak ada satupun kendaraan yang lalu-lalang, lalu kepada siapa Rea harus meminta bantuan?
            Sebuah sedan berwarna silver tahu-tahu berhenti tepat disamping Rea dan Mamanya. Tidak berselang lama, seorang Wanita bersama anak laki-lakinya keluar dari dalam mobil, dan mereka panic ketika melihat sepasang anak-beranak dipinggir jalan yang cukup lengang itu.
            “kamu kenapa sayang?” Tanya Wanita itu pada Rea seraya memegang pundak Rea.
            “hiks… hiks… Tante, tolongin Mama Rea Tante, Mama Rea tiba-tiba pingsan, Rea takut Tante, Rea takut, hiks hiks…”
            “tenang ya sayang, Tante akan telfonin Ambulance, sekarang juga”
            Sementara anak laki-laki tadi hanya bisa diam ditempat sambil menatap Rea yang tengah menangis terisak dengan tatapan perihatin. Entah apa yang sedang difikirkan oleh anak laki-laki itu sekarang.


***

20.15, Rumah Sakit Permata

            Anak laki-laki kecil berwajah oriental itu menatap Rea yang duduk diruang tunggu sambil menangis. Sejak ia dan Mami nya membawa Rea kerumah sakit, Rea tidak henti-hentinya menangis. Ia terus-terusan menyebut nama Mamanya tanpa henti. Anak laki-laki kecil itu menghela nafas beratnya, ia berjalan perlahan menghampiri Rea  lalu duduk disamping Rea yang menangis.
            “H… hay…” sapa anak laki-laki itu dengan ragu-ragu. Tapi Rea bergeming, ia hanya menatap sekilas kearah anak laki-laki itu lalu mengalihkan tatapannya.
            “nggak usah nangis lagi ya? Mama kamu pasti baik-baik aja, dulu Mami aku juga pernah masuk rumah sakit kayak Mama kamu, tapi Mami aku langsung sembuh, jadi kamu jangan sedih lagi ya?” ucapnya polos. Rea masih tetap bergeming, tapi anak laki-laki kecil itu tidak juga menyerah.
            “oya kenalin, aku Alvin, kamu?” anak laki-laki itu mengulurkan tangannya hendak bersalaman dengan Rea. Tapi Rea hanya diam dan masih tidak menunjukan reaksi apapun.
            “kamu nggak mau kenalan sama aku?” Rea akhirnya menatap anak laki-laki yang duduk disampingnya itu. Tapi Rea menatapnya dengan pandangan dingin. Tangan anak laki-laki itu masih terulur menunggu tangan mungil Rea menyambutnya.
            “Andrea…” panggil seorang Wanita yang ternyata adalah Adik kandung dari Mama Rea. Rea yang terkejut langsung menoleh kearah Tante nya. Tidak ingin membuang-buang waktu lagi, Rea langsung bangkit dari duduknya dan berlari kearah Tantenya.
            “Tante Dynaaa….”
            “Rea…” Rea memeluk Dyna seerat mungkin. Dalam pelukan Dyna Rea menangis sejadi-jadinya bahkan sampai terisak.
            Alvin sedikit tersenyum melihat itu. Walaupun tidak sempat berkenalan dengan Rea secara langsung, tapi dalam hati Alvin berjanji, bahwa selamanya ia akan selalu mengingat nama Rea juga wajah manis itu. Dan diam-diam Alvin berharap, bisa bertemu lagi dengannya nanti.

            “ANDREA….” Bathin Alvin lalu melangkah pergi menyusul Mami nya keruang Dokter.




***

            “Mi, itu boneka siapa?” Tanya Alvin pada Maminya yang tengah focus menyetir.
            “Mana?”
            “itu?” Alvin menunjuk kearah kaca spion yang menampakkan kursi belakang, dimana disana terdapat sebuah boneka tedy bear berwarna cokelat. Alvin lalu meraih boneka itu dan melihat-lihatnya.
            “ooo… itu pasti boneka Rea, besok kita balikin ya? Sekalian kita jenguk Mamanya” Alvin hanya mengangguk seraya memeluk boneka itu seerat mungkin, Alvin membuang tatapannya kearah jendela lalu tersenyum.
            “Mi, kenapa sih kita harus pulang? Kenapa kita nggak diem aja dirumah sakit nemenin Rea sama tantenya?”
            “kita belum kasi tau Papi, sayang… emangnya kamu mau apa Papi marah gara-gara kita keluar tanpa minta ijin dulu?”
            Sebagai jawaban atas pertanyaan Maminya itu, Alvin hanya menggeleng. Kedua lengan mungilnya semakin erat memeluk boneka tedy bear itu…



***

23.00, Rumah Sakit Permata

            “Ibu Dyna, maafkan kami, kami sudah berusaha sebisa kami menyelamatkan Ibu Dyra, tapi Tuhan berkehendak lain, Ibu Dyra telah meninggalkan kita semua untuk selama-lamanya…”
            “MAMAAAAAAAA…..” Teriak Rea sekeras-kerasnya setelah mendengarkan perkataan Dokter. Dyna kembali memeluk tubuh mungil itu, berusaha menenangkan perasaannya saat ini. Dyna sebenarnya sama terpukulnya dengan Rea saat ini, hanya saja Dyna harus tetap terlihat tegar dihadapan Rea supaya Rea tidak semakin rapuh. Dyna harus kuat demi keponakannya ini. Dan Dyna berjanji, ia akan menggantikan posisi Kakaknya sebagai Ibu dari Rea.
            “Mamaaaa… kenapa Mama pergi ninggalin Rea?? Rea sama siapa kalo Mama pergi? MAMA, HIKS HIKS HIKSSS…” Semakin lama isakan Rea semakin kuat terdengar.
            “udah ya sayang… disini ada Tante Dyna yang akan selalu ada buat Rea, Rea nggak perlu takut sendiri, Tante yang akan jagain Rea… Tante juga sayang sama Rea seperti Mama sayang sama Rea…” Dyna mengecup puncak kepala Rea lalu semakin mempererat pelukannya.
            Sejak saat itu, Rea tidak percaya lagi dengan apa yang namanya cinta. Dan sejak saat itu juga, rasa kepercayaan Rea terhadap seorang laki-laki juga ikut mati bersama semua kenangan masa lalunya.
            Rea bersumpah, ia tidak ingin lagi melihat wajah Papa nya entah untuk alas an apapun. Selamanya…




                        BERSAMBUNG….

0 comments:

Post a Comment