Adhirajasa’s
House, 2007
Bagai
menerima sebuah hunusan pedang yang sangat tajam tepat diulu hatinya, itu lah
yang Dyra rasakan manakala mendengar semua penjelasan suaminya itu. Bahkan Dyra
sudah sama sekali enggan menghiraukan rasa bersalah serta rasa berdosa yang
entah beberapa kali disampaikan oleh suaminya. Hatinya sudah terlanjur sakit,
bahkan untuk mengeluarkan sepatah katapun rasanya begitu sulit, lidah beserta
seluruh bagian tubuhnya –tanpa terkecuali- seakan tidak berfungsi lagi.
Isteri
mana yang tidak terluka, jika seorang Suami yang menemani hidupnya selama 10
tahun lamanya ternyata memiliki sebuah rahasia besar yang bahkan ia sembunyikan
dengan sangat rapi dan bersih, Isteri mana yang tidak terluka, jika ternyata,
seorang suami yang selama ini ia anggap seperti seorang Malaikat tanpa sayap
yang dikirimkan oleh Tuhan ternyata membohonginya selama 10 tahun lamanya
bahkan tanpa rasa kasihan sedikitpun. Dyra menghirup udara yang ada
disekitarnya, berusaha memenuhi ruang didadanya yang entah kenapa sejak tadi
terasa hampa, tapi sulit. Bahkan untuk menghirup udarapun, ia harus berusaha
keras, apa begini cara suaminya mematikannya secara perlahan?
“Sivia
Andrea Puteri Adhirajasa, mulai detik ini, aku akan menghapus nama belakang
Adhirajasa dari nama belakang Puteriku, dan kamu atau siapapun tidak akan
pernah bisa menghentikanku, dan mulai detik ini juga, aku dan Rea sudah bukan
siapa-siapa mu lagi” susah payah Dyra akhirnya berucap, ia berusaha keras
menahan Kristal-kristal bening itu agar tidak ada setitikpun yang menetes
keluar membasahi wajahnya. Air matanya terlalu berharga untuk ia keluarkan
dihadapan Pria pembohong ini.
Dan
Dyra tersenyum sinis ketika melihat seorang Wanita muda yang terlihat sedikit
lusuh berdiri diambang pintu rumahnya seraya memeluk anak laki-lakinya yang
seumuran dengan anak perempuannya sekarang. Dyra meyakini bahwa anak laki-laki
itu adalah anak hasil hubungan gelap suaminya bersama Wanita itu selama 10
tahun terakhir ini, dan sekarang sudah jelas, suaminya lebih memilih wanita
simpanannya daripada dirinya yang bahkan mengenal suaminya selama separuh
hidupnya.
Dengan
sangat tenang dan anggun, Dyra bangkit dari Sofa yang sejak tadi ia duduki, ia
bahkan melewati suaminya begitu saja yang duduk bersimpuh dihadapannya tanpa
sedikitpun melihat wajah sang suami. Dyra berjalan perlahan kearah tangga,
disana Puteri kecilnya yang tengah memeluk boneka tedy bear tengah menangis
terisak. Ia masih terlalu kecil untuk menerima kenyataan sepahit ini.
Dyra
berlutut dihadapan Puterinya, ia membelai lembut wajah Rea lalu menyeka air
matanya. Sebisa mungkin Dyra berusaha menenangkan Rea.
“Rea
ikut sama Mama, ya? Jangan tinggalin Mama, oke?” Rea mengangguk beberapa kali
lalu memeluk Mama nya dengan sangat erat. Isakkan Rea kembali pecah dalam
dekapan hangat Mamanya.
Dyra
lalu menggendong Puterinya, ia meraih tas pakaian yang tadi disiapkan oleh
salah satu asisten rumah tangganya dibawah perintahnya langsung. Dan dengan
sangat tenang, Dyra berjalan keluar rumah bahkan tanpa sedikitpun menghiraukan
perkataan suaminya yang memintanya untuk tidak membawa Rea. Dyra memilih untuk
tetap bergeming. Rea adalah hidupnya, dan setelah merenggut semua kebahagiaannya,
apa suaminya juga ingin merebut Rea darinya? Dyra tidak akan pernah
membiarkannya.
Rea
yang berada dalam gendongan Sang Mama tanpa sengaja melihat kearah saudara
tirinya yang ketika itu ternyata sedang memperhatikannya. Tatapan matanya tidak
juga terlepas dari Rea bahkan sampai Rea dan Mamanya menghilang ditengah
kegelapan malam.
‘REA…’
Gumam anak laki-laki kecil tadi yang kini sudah melepaskan diri dari pelukan
sang Ibu.
***
Dyra
dan Puterinya berjalan tanpa tahu harus melangkah kemana. Saat ini system kerja
otak Dyra benar-benar lumpuh hingga tidak bisa membuatnya berfikir. Saat ini ia
hanya ingin melangkah, kemana langkah kakinya membawa, disana ia akan berhenti.
Tiba-tiba Dyra
merasakan rasa sakit dibagian ginjalnya, wajahnya mulai pucat pasi, dan
keringat sebesar biji jagung mulai membingkai wajah cantiknya. Tidak, Dyra
tidak ingin penyakit sialan itu kambuh disini. Dyra harus kuat demi Puteri
semata wayangnya, Rea.
“Mama
kenapa?” Tanya Rea yang mulai merasa bahwa ada yang tidak beres dengan keadaan
Mamanya. Dyra tersenyum lalu menggeleng perlahan,
“nggak
sayang, Mama nggak –“
Dan
Bruuk! Dyra jatuh pingsan dipinggir jalan tepat dihadapan Rea. Rea yang mulai
panic langsung duduk bersimpuh disamping tubuh Mamanya yang sudah ambruk. Rea menangis
sejadi-jadinya seraya menyebut nama sang Mama berkali-kali. Tempat itu
benar-benar sepi, bahkan tidak ada satupun kendaraan yang lalu-lalang, lalu
kepada siapa Rea harus meminta bantuan?
Sebuah
sedan berwarna silver tahu-tahu berhenti tepat disamping Rea dan Mamanya. Tidak
berselang lama, seorang Wanita bersama anak laki-lakinya keluar dari dalam
mobil, dan mereka panic ketika melihat sepasang anak-beranak dipinggir jalan
yang cukup lengang itu.
“kamu
kenapa sayang?” Tanya Wanita itu pada Rea seraya memegang pundak Rea.
“hiks…
hiks… Tante, tolongin Mama Rea Tante, Mama Rea tiba-tiba pingsan, Rea takut
Tante, Rea takut, hiks hiks…”
“tenang
ya sayang, Tante akan telfonin Ambulance, sekarang juga”
Sementara
anak laki-laki tadi hanya bisa diam ditempat sambil menatap Rea yang tengah
menangis terisak dengan tatapan perihatin. Entah apa yang sedang difikirkan
oleh anak laki-laki itu sekarang.
***
20.15,
Rumah Sakit Permata
Anak
laki-laki kecil berwajah oriental itu menatap Rea yang duduk diruang tunggu
sambil menangis. Sejak ia dan Mami nya membawa Rea kerumah sakit, Rea tidak
henti-hentinya menangis. Ia terus-terusan menyebut nama Mamanya tanpa henti.
Anak laki-laki kecil itu menghela nafas beratnya, ia berjalan perlahan
menghampiri Rea lalu duduk disamping Rea
yang menangis.
“H…
hay…” sapa anak laki-laki itu dengan ragu-ragu. Tapi Rea bergeming, ia hanya
menatap sekilas kearah anak laki-laki itu lalu mengalihkan tatapannya.
“nggak
usah nangis lagi ya? Mama kamu pasti baik-baik aja, dulu Mami aku juga pernah
masuk rumah sakit kayak Mama kamu, tapi Mami aku langsung sembuh, jadi kamu
jangan sedih lagi ya?” ucapnya polos. Rea masih tetap bergeming, tapi anak
laki-laki kecil itu tidak juga menyerah.
“oya
kenalin, aku Alvin, kamu?” anak laki-laki itu mengulurkan tangannya hendak
bersalaman dengan Rea. Tapi Rea hanya diam dan masih tidak menunjukan reaksi
apapun.
“kamu
nggak mau kenalan sama aku?” Rea akhirnya menatap anak laki-laki yang duduk
disampingnya itu. Tapi Rea menatapnya dengan pandangan dingin. Tangan anak
laki-laki itu masih terulur menunggu tangan mungil Rea menyambutnya.
“Andrea…”
panggil seorang Wanita yang ternyata adalah Adik kandung dari Mama Rea. Rea
yang terkejut langsung menoleh kearah Tante nya. Tidak ingin membuang-buang
waktu lagi, Rea langsung bangkit dari duduknya dan berlari kearah Tantenya.
“Tante
Dynaaa….”
“Rea…”
Rea memeluk Dyna seerat mungkin. Dalam pelukan Dyna Rea menangis sejadi-jadinya
bahkan sampai terisak.
Alvin
sedikit tersenyum melihat itu. Walaupun tidak sempat berkenalan dengan Rea
secara langsung, tapi dalam hati Alvin berjanji, bahwa selamanya ia akan selalu
mengingat nama Rea juga wajah manis itu. Dan diam-diam Alvin berharap, bisa
bertemu lagi dengannya nanti.
“ANDREA….”
Bathin Alvin lalu melangkah pergi menyusul Mami nya keruang Dokter.
***
“Mi,
itu boneka siapa?” Tanya Alvin pada Maminya yang tengah focus menyetir.
“Mana?”
“itu?”
Alvin menunjuk kearah kaca spion yang menampakkan kursi belakang, dimana disana
terdapat sebuah boneka tedy bear berwarna cokelat. Alvin lalu meraih boneka itu
dan melihat-lihatnya.
“ooo…
itu pasti boneka Rea, besok kita balikin ya? Sekalian kita jenguk Mamanya”
Alvin hanya mengangguk seraya memeluk boneka itu seerat mungkin, Alvin membuang
tatapannya kearah jendela lalu tersenyum.
“Mi,
kenapa sih kita harus pulang? Kenapa kita nggak diem aja dirumah sakit nemenin
Rea sama tantenya?”
“kita
belum kasi tau Papi, sayang… emangnya kamu mau apa Papi marah gara-gara kita
keluar tanpa minta ijin dulu?”
Sebagai
jawaban atas pertanyaan Maminya itu, Alvin hanya menggeleng. Kedua lengan
mungilnya semakin erat memeluk boneka tedy bear itu…
***
23.00,
Rumah Sakit Permata
“Ibu
Dyna, maafkan kami, kami sudah berusaha sebisa kami menyelamatkan Ibu Dyra,
tapi Tuhan berkehendak lain, Ibu Dyra telah meninggalkan kita semua untuk
selama-lamanya…”
“MAMAAAAAAAA…..”
Teriak Rea sekeras-kerasnya setelah mendengarkan perkataan Dokter. Dyna kembali
memeluk tubuh mungil itu, berusaha menenangkan perasaannya saat ini. Dyna sebenarnya
sama terpukulnya dengan Rea saat ini, hanya saja Dyna harus tetap terlihat
tegar dihadapan Rea supaya Rea tidak semakin rapuh. Dyna harus kuat demi keponakannya
ini. Dan Dyna berjanji, ia akan menggantikan posisi Kakaknya sebagai Ibu dari
Rea.
“Mamaaaa…
kenapa Mama pergi ninggalin Rea?? Rea sama siapa kalo Mama pergi? MAMA, HIKS
HIKS HIKSSS…” Semakin lama isakan Rea semakin kuat terdengar.
“udah
ya sayang… disini ada Tante Dyna yang akan selalu ada buat Rea, Rea nggak perlu
takut sendiri, Tante yang akan jagain Rea… Tante juga sayang sama Rea seperti
Mama sayang sama Rea…” Dyna mengecup puncak kepala Rea lalu semakin mempererat
pelukannya.
Sejak
saat itu, Rea tidak percaya lagi dengan apa yang namanya cinta. Dan sejak saat
itu juga, rasa kepercayaan Rea terhadap seorang laki-laki juga ikut mati
bersama semua kenangan masa lalunya.
Rea
bersumpah, ia tidak ingin lagi melihat wajah Papa nya entah untuk alas an
apapun. Selamanya…
BERSAMBUNG….



0 comments:
Post a Comment